DAFTAR ISI. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv KATA PENGANTAR ... v ABSTRAK ... vii ABSTRACT ... viii DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xv BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 6 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.4 Manfaat Penelitian ... 6

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendidikan Kesehatan ... 8

2.2 ASI Eksklusif... ... 12

2.3 Konsep dasar pengaruh pendidikan ASI eksklusif dengan booklet terhadap pemberian ASI eksklusif ... 28

BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep... ... 30

(2)

3.3 Hipotesis... ... 32

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian... ... 33

4.2 Kerangka Kerja... ... 34

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 35

4.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling Penelitian ... 35

4.5 Teknik Pengumpulan Data ... 37

4.6 Instrumen Pengumpulan Data ... 39

4.7 Pengolahan dan Analisa Data ... 40

4.8 Etika Penelitian... ... 42

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 43

5.2 Pembahasan Hasil Penelitian ... 48

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 53 BAB 6 PENUTUP 6.1 Simpulan ... 54 6.2 Saran ... 54 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(3)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian ... 32 Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur ... 45 Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden ... 45 Tabel 5.3 Presentase Pelaksanaan ASI pada kelompok kontrol dan perlakuan satu bulan setelah kelahiran bayi ... 47

(4)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Posisi menyusui Crandle Hold ... 21

Gambar 2.2 Posisi menyusui Cross Crandle Hold ... 22

Gambar 2.3 Posisi menyusui Site-lying ... 22

Gambar 2.4 Posisi menyusui Football Hold ... 23

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual ... 30

Gambar 4.1 Desain Penelitian ... 33

Gambar 4.2 Kerangka Kerja ... 34

Gambar 5.1 Pelaksanaan ASI Kelompok Kontrol... 46

(5)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Jadwal Penelitian Lampiran 2 : Penjelasan Penelitian

Lampiran 3 : Surat Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 : Lembar Pengkajian Data Umum Lampiran 5 : Lembar Wawancara

Lampiran 6 : Lembar Balik dan Booklet

Lampiran 7 : Satuan Operasional Prosedur (SOP) Pendidikan Kesehatan Lampiran 8 : Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

Lampiran 9 : Anggaran Dana Penelitian

Lampiran 10 : Master Tabel Responden Penelitian Lampiran 11 : Hasil Uji chi squre

Lampiran 12 : Surat Permohonan Izin Melakukan Studi Pendahuluan ke Puskesmas I dan II Denpasar Timur

Lampiran 13 : Surat Keterangan Kelaikan Etik (Ethical Clearance)

Lampiran 14 : Surat Rekomendasi Melakukan Penelitian oleh Badan Penanaman Modal dan Perizinan Provinsi Bali

Lampiran 15 : Surat Rekomendasi Melakukan Penelitian oleh Pemerintah Kota Denpasar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik

Lampiran 16 : Surat Ijin Melakukan Penelitian oleh Kepala Puskesmas I Denpasar Timur

Lampiran 17 : Surat Ijin Melakukan Penelitian oleh Kepala Puskesmas II Denpasar Timur

Lampiran 18 : Surat keterangan mengakhiri Penelitian oleh Kepala Puskesmas I Denpasar Timur

(6)

Lampiran 19 : Surat keterangan mengakhiri Penelitian oleh Kepela Puskesmas II Denpasar Timur

Lampiran 20 : Lembar Konsultasi Lampiran 21 : Biodata Peneliti

(7)

DAFTAR SINGKATAN

AA : Arachidonic Acid

AKB : Angka Kematian Bayi

ANC : Antenatal Care

ASI : Air Susu Ibu

BPA : Bisphenol A

CD : Compact Disc

DEPKES RI : Departemen Kesehatan Republik Indonesia Dinkes : Dinas Kesehatan

DHA : Decosahexaenoic Acid DVD : Digital Versatile Disc

HIV : Human Immunodeficiency Virus

HPL : Hari Perkiraan Lahir

IgA : Immunoglobulin A

KEMENKES RI : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia LCPUFAs : Long Chain Polyunsaturated Fatty Acids

MAL : Metode Amenorea Laktasi

MDGs : Millenium Development Goals MPASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu PHBS : Perilaku Hidup Bersih Sehat

PUSTU : Puskesmas Pembantu

RIKESDAS : Riset Kesehatan Dasar

(8)

UNICEF : United Nation Children Found

UPT : Unit Pelaksaan Teknis

VCD : Video Compact Disc

(9)

ABSTRAK

Pelaksanaan pemberian ASI eksklusif saat ini masih rendah. Hal ini disebabkan oleh pemahaman ibu mengenai ASI eksklusif yang kurang, terbatasnya pemberian informasi dikalangan masyarakat, serta aktivitas ibu yang sibuk bekerja sehingga harus mengesampingkan pemberian ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan pada ibu hamil menjelang persalinan dalam upaya mendukung pelaksanaan ASI eksklusif. Jenis penelitian quasi experiment dengan menggunakan rancangan penelitian post test only control group design. Pada penelitian ini dilakukan pemberian pendidikan kesehatan pada kelompok perlakuan satu sampai dua minggu menjelang hari perkiraan lahir (HPL) dengan menggunakan media lembar balik dan booklet. Evaluasi dilakukan pada kedua kelompok saat bayi berusia tujuh hari dan satu bulan. Hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan uji statistik chi square. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan presentase ASI eksklusif pada kelompok kontrol 25 % dan kelompok perlakuan 91,7 % , dengan nilai p value 0,001. Saran kepada petugas kesehatan untuk melakukan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif.

Kata kunci : ASI Eksklusif, Ibu Hamil, Pendidikan Kesehatan Refrensi (69 : 2005 – 2015)

(10)

ABSTRACT

The Low Implementation of exclusive breastfeeding is caused by mothers on exclusive breastfeeding less understanding, limited information among on public, as well as the mother activity very busy so that should be put aside exclusive breastfeeding. This study aimed to determine the effect of health education to pregnant before birth for support the implementation exclusive breastfeeding. Type of quasi experimental study using research design post test only control

group design. In this research, the health education give in the treatment group on

one until two weeks before the due date of birth (HPL) using a media flipchart and booklet. The evaluation was done in two groups when the baby was seven days and one month. Results were analyzed using the chi-square test. The results showed a significant difference between the control group and the treatment group with a percentage of exclusive breastfeeding at 25% of the control group and the treatment group 91.7%, with a p value 0.001. Advice to health workers to conduct health education to pregnant mothers to support exclusive breastfeeding.

Keywords : Exclusive Breastfeeding, Pregnant, Health Education Reference (69 : 2005 – 2015)

(11)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Indikator Millenium Development Goals (MDG’s) pada tahun 2015 di bidang kesehatan salah satunya adalah diharapkan mampu menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB). Target tahun 2015 diharapkan mampu menurunkan AKB menjadi 23/1.000 angka kelahiran hidup dibandingkan pada tahun 2014 AKB 32/1.000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Sebagian besar penyebab kematian bayi dan balita adalah masalah yang terjadi pada bayi baru lahir atau neonatal (umur 0-28 hari). Masalah neonatal ini meliputi asfiksia (kesulitan bernafas saat lahir), Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), infeksi, Diare dan pneumonia serta dikontribusi oleh masalah gizi (Depkes RI, 2011). Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menurunkan AKB yaitu dengan menggiatkan program pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif (Kemenkes RI, 2014).

Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi (Harnowo, 2012). Menurut Rinaningsih (dalam Hikmawati, 2008) ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan selama enam bulan, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air gula, air putih, serta tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur susu, biskuit, bubur nasi, nasi tim kecuali obat dan imunisasi atau vaksin. United Nation Children Found (UNICEF) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi, sebaiknya dilakukan pemberian ASI paling sedikit selama enam bulan untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan otak secara optimal (Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).

Berdasarkan profil data kesehatan Indonesia persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan pada tahun 2013 sebesar 54,3%, sedikit meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu sebesar 48,6%, namun masih rendah dari target yang ditetapkan yaitu sebesar 80% (Kemenkes RI, 2014). Data dari Dinas

(12)

Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, pada tahun 2013 pemberian ASI eksklusif sebesar 67,4%. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Denpasar tahun 2013 cakupan ASI eksklusif sebesar 71,12% dan pada data terakhir di bulan Februari tahun 2015 cakupan ASI eksklusif sebesar 76,59%, dari presentase di Kota Denpasar tersebut di Puskesmas Denpasar Timur memiliki presentase paling rendah diantara Puskesmas lainnya dengan cakupan 73,23% (Dinkes Kota Denpasar, 2015).

Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2010 presentase pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0 sampai 5 bulan, yaitu pada usia 0 bulan 39,8%, usia 1 bulan 32,5%, usia 2 bulan 30,7%, usia 3 bulan 25,2%, usia 4 bulan 26,3%, dan usia 5 bulan 15,3%. Berdasarkan data terakhir Rikesdas tahun 2013 presentase pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0 bulan 52,7%, usia 1 bulan 48,7%, usia 2 bulan 46,0%, usia 3 bulan 42,2%, usia 4 bulan 41,9%, usia 5 bulan 36,6% dan usia 6 bulan 30,2%. Berdasarkan dua data tersebut menunjukan bahwa pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0 sampai 6 bulan cenderung mengalami penurunan.

Penurunan cakupan ASI eksklusif disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa penelitian membuktikan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif yaitu motivasi, kampanye ASI eksklusif, fasilitas pelayanan kesehatan, peranan petugas kesehatan, dukungan keluarga, kebiasaan yang keliru, promosi susu formula, kondisi ibu dan anak (Afifah, 2007; Roesli 2008; mamonto, 2015). Faktor lain yang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif adalah pengetahuan ibu, dan pekerjaan (Damayanti, 2010)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fransisca (2014) menunjukkan bahwa lamanya cuti bersalin menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kelangsungan pemberian ASI, karena saat ibu kembali mulai bekerja hal ini menjadi risiko tinggi terhadap tidak optimalnya pemberian ASI karena pola makan ibu menjadi tidak teratur, ibu mengalami kelelahan, stres, produksi ASI mulai berkurang dan ibu tidak sempat memerah ASI, akibatnya ibu mulai memberikan susu formula atau MP-ASI (Makanan Pendamping-ASI) pada bayi dibawah enam bulan.

(13)

Menurut Yuli, dkk (2013) Kurangnya pengetahuan ibu tentang cara menyimpan ASI berdampak pada kurangnya asupan ASI bagi bayi yang Ibunya bekerja atau berpergian dalam waktu lama. Ibu rumah tangga dan ibu yang menjadi pekerja di rumahnya sendiri menyusui tidak terjadwal tidak merupakan masalah, namun bagi ibu yang bekerja di luar rumah dan harus meninggalkan anaknya lebih dari tujuh jam sangat memberatkan. Jadi dapat disimpulkan apabila ibu bekerja dan ibu tidak tahu cara menyimpan ASI maka akan menjadi permasalahan besar dalam menjalankan program ASI eksklusif.

Penelitian Try, dkk (2013) menyatakan bahwa keberhasilan pemberian ASI satu bulan pertama sangat didukung oleh pengetahuan ibu tentang ASI dan ASI eksklusif serta dukungan dari keluarga terdekat. Sedangkan kegagalan pemberian ASI satu bulan pertama disebabkan oleh produksi ASI yang kurang terutama pada malam hari, bayi tidak mau menyedot / menghisap ASI serta dukungan dari keluarga yang menyarankan untuk memberikan makanan lain kepada bayi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Penelitian Lindawati, dkk (2007) yang menyatakan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI dalam satu jam pertama setelah lahir adalah pendidikan, pengetahuan, penolong persalinan dan dukungan suami/keluarga. Pengetahuan ibu tentang pemberian ASI Segera merupakan faktor yang paling dominan dalam Pemberian ASI satu jam setelah lahir.

Penelitian Fikawati dan Syafiq (2003), menyatakan bahwa kegagalan pelaksanaan ASI eksklusif telah dimulai sejak 3 hari pertama kelahiran yaitu lebih dari 80% responden yang tidak ASI eksklusif, telah memberikan makanan/minuman pralakteal dalam tiga hari pertama kepada bayinya. Artinya kegagalan utama dari ASI eksklusif adalah terjadi pada hari-hari pertama setelah persalinan yaitu pada saat makanan/minuman pralakteal diberikan.

Maharani dan Sidiartha (2012) menyatakan bahwa penghentian ASI eksklusif pada bayi mengakibatkan bayi berisiko empat kali lebih besar menderita pneumonia dan dua kali menderita infeksi telinga tengah. Tidak optimalnya pemberian ASI selama enam bulan tentunya akan berdampak pada pertumbuhan

(14)

serta perkembangan bayi itu sendiri sehingga keluarga akan mengalami kendala-kendala dalam menghadapi hal tersebut baik dari segi psikologis, ekonomi, maupun sosial. Penyebab terbesar penghentian tersebut terkait produksi ASI yang tidak cukup dan bayi tidak puas dengan ASI saja.

Hasil wawancara kepada 10 orang ibu menyusui di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Timur terdapat 8 orang ibu yang mengalami kendala saat pemberian ASI yaitu karena ASI yang keluar sedikit, tidak sempat memerah ASI sehingga produksi ASI berkurang, Ibu yang mulai bekerja, ibu yang melahirkan di rumah sakit dengan sectio caesarea biasanya bayi akan mendapat susu formula, kurang dukungan dari pihak keluarga baik suami atau anggota keluarga yang lain yang tinggal dalam satu rumah, serta pemberian MP-ASI yang terlalu dini. Berdasarkan permasalahan tersebut diperlukan upaya untuk meningkatkan pelaksanaan pemberiaan ASI eksklusif salah satunya dengan cara memberikan pendidikan kesehatan (Pusdatin, 2014). Penelitian yang dilakukan Wulansari dan Wijayanti, (2009) tingginya presentase bayi pada hari pertama yaitu sebesar 96,3% bayi tidak memperoleh ASI disebabkan karena berbagai faktor seperti kurangnay informasi, teknik menyusui yang salah dan maraknya promosi susu formula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bimbingan tehnik menyusui pada ibu post partum lebih meningkatkan kemandirian ibu post partum dalam menyusui sehingga kegagalan pemberian ASI pada hari-hari pertama dapat diatasi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh penelitian Clin, (2007) menyatakan bahwa MP-ASI dini secara signifikan berkaitan dengan kematian neonatal dan menyusui sejak dini dapat mengurangi risiko infeksi sejak dini pada kasus kegagalan-kegagalan ini upaya yang dapat dilakukan yaitu dilakukannya program promosi pemberian ASI yang berfokus pada inisiasi menyusui dini dan ASI eksklusif di periode neonatal dengan bantuan pemberian pendidikan kesehatan sejak dini.

Pendidikan kesehatan merupakan upaya untuk mengubah perilaku individu, kelompok atau masyarakat yang dilakukan oleh pelaku pendidik. Pendidikan kesehatan sejak dini penting diberikan untuk mencegah terjadinya kegagalan dalam pemberian ASI eksklusif (Rahmawati, 2010). Selain terkait pencegahan penghentian ASI, pendidikan kesehatan perlu diberikan pada ibu guna

(15)

meningkatkan kesiapan dalam memberikan ASI eksklusif. Pendidikan kesehatan pada ibu hamil trimester tiga atau dengan usia kehamilan 29 sampai 40 minggu dapat diberikan karena pada usia kehamilan ini ibu sudah leluasa mengendalikan kehamilannya dan mulai berfokus pada persalinan dan perkembangan bayi selanjutnya, terkait perawatan, menyusui, imunisasi serta tumbuh kembang bayinya (Merinta, 2014).

Hasil studi pendahuluan pada bulan Juli 2015 di Puskesmas 1 Denpasar Timur dengan cara melihat laporan kunjungan Antenatal Care (ANC), jumlah bayi yang berusia 6 bulan ke bawah adalah 64 orang. Berdasarkan data tersebut, 36% tidak mendapatkan ASI eksklusif dengan berbagai alasan dan digantikan dengan susu formula ataupun langsung pemberian MP-ASI. Data ibu hamil dengan usia kandungan pada trimester pertama adalah sebanyak 27 orang hendaknya diberikan perhatian dan dipersiapkan sedini mungkin dalam pelaksanaan ASI eksklusif pada bayinya saat kelahiran nanti sampai satu bulan berikutnya dengan harapan setelah diberikan pendidikan kesehatan pada ibu, mampu mencapai pemberian ASI secara eksklusif di bulan pertama sehingga pada bulan kedua dan seterusnya kegagalan dalam pemberian ASI dapat teratasi.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian dengan cara memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil guna memberikan informasi, motivasi, dan meningkatkan kesiapan untuk memberikan ASI secara eksklusif.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian, yaitu “Apakah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan pada ibu hamil terhadap pelaksanaan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Timur”?

(16)

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan pada ibu hamil terhadap pelaksanaan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Timur.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui pelaksanaan ASI eksklusif pada kelompok kontrol di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Timur.

b. Mengetahui pelaksanaan ASI eksklusif pada kelompok perlakuan di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Timur.

c. Mengetahui perbedaan pengaruh pemberian pendidikan Kesehatan pada Ibu Hamil dalam pelaksanaan ASI eksklusif.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfat Teoritis

a. Hasil penelitian ini dapat memperkaya dan mengembangkan ilmu pengetahuan keperawatan khususnya bidang keperawatan maternitas serta keperawatan komunitas mengenai pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan ASI eksklusif.

b. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan referensi penunjang bagi peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan pemberian pendidikan kesehatan terhadap pelaksanaan ASI eksklusif.

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Manfaat penelitian ini bagi pelayanan keperawatan yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap program-program terkait pemberian pendidikan kesehatan dalam pelaksaan ASI eksklusif di pelayanan keperawatan khususnya keperawatan maternitas dan keperawatan komunitas. Sehingga, pendidikan kesehatan yang diberikan dapat diterapkan dan mampu mempengaruhi perilaku serta pelaksanaan ASI eksklusif.

(17)

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan meningkatkan motivasi serta keterampilan para ibu yang sedang menyusui.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :