• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG YOGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG YOGA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

GAMBARAN UMUM TENTANG YOGA A. Pengertian Yoga

Sebelum membahas pengertian yoga, perlu dikaji terlebih dahulu mengenai apa yang tersirat dalam ajaran yoga tersebut. Bahwa ajaran yoga adalah anugrah yang luar biasa besarnya dari Resi Patanjali kepada siapa saja yang melakukan dan tidak terbatas pada umur yang mampu melakukan hidup kerohanian. Ajaran ini merupakan bantuan kepada mereka yang ingin menginsafi kenyataan adanya roh sebagai azas yang bebas, dalam artian bebas dari indera dan pikiran yang terbatas.1

Mengenai arti dan pengertian yoga adalah yoga berasal dari kata “Yuj”

yang berarti hubungan, hubungan antara roh yang pribadi dan roh yang universal yaitu yang tidak berpribadi.2 Tetapi Resi Patanjali mengartikan

“Cittawwriti Nirodhah”. “Cittawwriti Nirodhah” yaitu pengendalian gerakan pikiran dalam alam pikiran.3Sebagaimana diungkapkan oleh Nyoman S.Pendit di dalam Bhagavadgita, VI : 36 disebutkan dalam kalimat sebagai berikut :

Asmyatatmana yago Dusprada itime matih Vasyatmana tu yatata Sakyo vaptum upayatah

Artinya : “Yoga adalah sukar dicapai, aku sependapat oleh orang yang dapat menguasai dirinya, akan tetapi bagi orang yang dapat menguasai dapat dicapai dengan berusaha melalui jalan yang sebenarnya.”4

Dalam buku “8 Tahapan Menuju Yoga” karya Aditya I..R.S.S, Yoga adalah suatu sistem pembangkitan energi metafisika spiritual dan energi metafisika material yang seimbang dan selaras yang ada pada tubuh manusia

1

Jam’annuri, Agama Kita: Perspektif Sejarah Agama-Agama, (Yogyakarta : Kurnia Kalam Semesta, 2000), hlm. 57

2

Sri Swami Sivananda, Intisari Ajaran Hindu, (Surabaya : Paramitha, 1993), hlm. 136

3

I. Gede Sura, Pengendalian Diri dan Etika Dalam Ajaran Hindu, (Denpasar : Hanoman Sakti, 2001), hlm. 47

4

Nyoman S. Pendit, Bhagavadgita, (Jakarta : PT. Ikrar Mandiri, 2002), hlm. 136

(2)

melalui pembangkitan cakra-cakra (kekuatan-kekuatan) pada tubuh untuk menuju ke suatu pencerahan tertinggi.5

Kita harus ingat bahwa setiap usaha pasti ada kegagalannya, tetapi harus ingat pula ia yang memulai dengan baik akhirnya akan mencapai tujuannya. Tiap-tiap yoga mempunyai cara tersendiri dan sifat tersendiri pula yang dapat diikuti atau dijalankan oleh setiap orang, sesuai dengan sifat, bakat dan kemampuannya. Setiap orang bebas memilihnya tergantung kepada bakat dan kemampuannya masing-masing, dengan catatan semua akan sampai pada tujuan yang utama yaitu bersatunya kembali Jiwatman (atman) dengan Brahman (Sanghyang Widhi Wasa). Hal ini bisa terwujud tergantung pada kesungguhan dan ketekunan serta kemampuan setiap Yogi (orang yang menjalankan yoga) tersebut. Jadi dengan jalan apa saja seorang Yogi pasti akan sampai pada tujuan tersebut.6

Secara umum pengertian yoga yaitu pegendalian diri serta disiplin dalam pemikiran (citta) merupakan hasil pertama dalam prakerti, untuk mendapatkan kebahagiaan yang dapat dirasakan oleh diri sendiri, kesadaran dalam kehidupan sehari-hari yang akan menemukan kasadaran sucinya.7

B. Sejaran Perkembangan Yoga

Yoga sebagai suatu cara untuk mengawasi pikiran, supaya kesadaran dapat diganti dengan yang luar biasa sebagai bukti bahwa orang dapat pengamatan mistis yang sungguh-sungguh telah dikenal orang India sejak zaman kuno. Di zaman kemudian, yoga menghubungkan diri dengan aliran agama dan filsafat yang bermacam-macam, atau mungkin lebih dapat dikatakan bahwa tiap aliran mencoba memberikan dasar yang teoritis kepada yoganya. Pada abad kelima masehi, Patanjali meningkatkan praktek yoga

5

Aditya I..R.S.S, 8 Tahapan Menuju Yoga, (Jakarta : Penerbit Elek Media Komputindo Kelompok Gramedia, 2003), hlm. 13

6

Upadeca, (Bali : Parisada Hindu Darma, 1968), hlm. 32

7

Ida Bagus Mantra, Bhagavatgita, (Denpasar : Parisada Hindu Darma Pusat, 1989), hlm. 101

(3)

hingga mencapai taraf yang tinggi. Dengan menulis kitab “Yoga Sutra” yang memberikan dasar filsafat kepada yoga. Kira-kira pada tahun 650-850 Wiyasa menulis keterangan tentang isi buku itu dengan memberikan tekanan pada perenungan.8

Seluruh kitab Yoga Sutra karya Resi Patanjali di bagi menjadi empat bagian dengan 194 sutra, bagian pertama disebut samadhi, isinya ialah tentang sifat, tujuan, dan bentuk ajaran yoga serta menerangkan tentang pikiran dan ajaran pelaksanaan ajaran yoga. Bagaian kedua disebut sadhana pada, isinya tentang pelaksanaan yoga seperti cara mencapai samadhi, tentang kedudukan karmapala dan sebagainya. Bagian ketiga disebut wibhuti pada,

mengajarkan tentang segi batiniah ajaran yoga dan juga tentang kekuatan gaib yang didapat karena melaksanakan praktek yoga. Bagian keempat

kaiwalya pada, melukiskan tentang alam kelepasan dan kenyataan roh yang mengatasi alam dunia. Kemudian muncullah buku-buku komentar atas ajaran beliau seperti Byasabhasya tulisan Byasa, Nithi tulisan Bhajaraja dan lain-lain.9

C. Ajaran dan Tujuan Yoga

Pada dasarnya yoga terdiri dari tiga bagian yakni, bagaian pertama merupakan bagian wujud kerja (karma), kedua bhakti, merupakan landasan dalam melakukan kerja, dan yang ketiga (jnana), kebijaksanaan merupakan pengetahuan makna kerja yang dilakukan. Ketiga bagian tersebut dinamakan

Tri Yoga Marga. Pada sumber lain dijumpai adanya ajaran yang menambahkan satu sampai dua jalan yang terhimpun dalam konsep Catur Yoga Marga dan Panca Yoga Marga.

Dari ketiga konsep tersebut Tri Yoga merupakan ajaran yang paling umum dijumpai. Ajaran ini masih cukup relevan dan dapat mendukung dalam

8

I Gst. Md. Ngurah, Buku Pendidikan Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, (Surabaya : Paramitha, 1998), hlm. 122

9

Jam’annuri, op. cit.,hlm. 57

(4)

usaha mengikuti pekembangan hidup manusia pada zaman sekarang ini, karena ajaran ini memberikan tempat dan mengikuti adanya perbedaan intelek, perbedaan kemampuan, perbedaan profesi dan hal-hal yang rutin dalam kehidupan sehari-hari dalam usaha mencapai penyatuan spiritual dengan TuhanYang Maha Esa (Brahman).10

Menyimak uraian tersebut di atas tampak jelas usaha-usaha yang diajarkan kepada kita untuk dapat menyadari jatidiri dan usaha untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah suatu cita-cita yang diharapkan oleh umat Hindu.11 Menyadari pentingnya penyatuan diri dengan Brahman mendorong setiap umat Hindu untuk melaksanakan ajaran

dharma dengan tetap memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa dengan penuh cinta dan semangat yang menyala dan usaha yang tidak mengenal lelah demi keselamatan dan keberhasilan dalam menjalani kehidupan dunia ini. Dengan adanya dharma maka manusia akan befikir dan berperilaku baik, tekun dan sabar. Ajaran yoga adalah suatu ajaran yang memberikan pandangan dan mengharapkan kepada semua manusia khususnya umat Hindu untuk dapat melaksanakan dharma dengan suatu tujuan untuk mencapai kelepasan yakni melepaskan diri dari benda-benda duniawi. Dalam hidup ini manusia senantiasa berjuang untuk mencapai tujuan hidupnya.Yoga memberikan kekuatan iman dan kesejahteraan hidup.12

Dalam pelaksanaan ajaran yoga sebagai jalan memperoleh penyatuan yang paling penting adalah penyatuan untuk membeda-bedakan antara yang salah dan yang benar sebagai kondisi kelepasan. Hampir semua filsafat Hindu mengenal ajaran yoga karena ajaran yoga sudah tua umurnya. Hal ini juga terdapat dalam Upanesad, serta dalam ajaran Smrti dan Purana. Untuk dapat mengerti dan menghayati ajaran filsafat dan agama, pikiran itu harus bersih dan tenang hanya pikiran yang tenang yang dapat mewujudkan kebenaran

10

Harun Hadiwijoyo, Agama Hindu dan Buddha, (Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 2001), hlm. 38

11

Ibid., hlm. 39

12

Hilman Hadikusumo, Antropologi Agama,bag. I (Bandung : Citra Aditya bakti, 1997), hlm. 171

(5)

ajaran agama. Pelaksanaan ajaran yoga ajalah ajaran yang sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan itu. Yoga mengajarkan bahwa pelepasan dapat dicapai melalui pengetahuan tentang perbedaan ruh dengan dunia jasmani ini termasuk badan, pikiran dan sifat. Hal ini dapat diwujudkan melalui pengendalian fungsi badan, indera, pikiran, rasa dan sebagainya. Menyadari adanya roh yang mengatasi segalanya, roh yang demikian itulah purusa

namanya, menyatakan bahwa roh itu kekal, abadi bebas dari penderitaan dan kematian. Yoga menunjukkan jalan yang praktis untuk mengalami kenyataan roh yang demikian. Jalan itu adalah dalam bentuk penyucian diri dan pemusatan pikiran yang mengantar orang untuk dapat membedakan roh dan dunia jasmani.

Begitu luas dan padat ajaran yoga, maka sedikit tidaknya kita dalam menginsafi sebagian dari ajaran yoga tersebut, yang mengingatkan semua umat Hindu untuk dapat mencapai “Mokhsartam Jagadhitaya Caiti Darma”

yaitu untuk mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan ruhani serta kelepasan hidup menuju kepada-Nya.13 Jalan yang menuju kelepasan ada tiga, menurut Bhagavadgita sama nilainya yaitu jnana marga atau jalan kelepasan melalui pengetahuan, orang akan mendapat kelepasan jika ia tahu bahwa atman adalah Brahman, karma marga yaitu jalan perbuatan yang melalui atau perbuatan, amalan-amalan dan bhakti marga atas jalan kelepasan yang melalui bhakti yaitu kasih dan penyembahan kepada Tuhan .14

Segala jalan ini dapat sampai tujuannya, yaitu menjadi satu dengan

Brahman, kepada orang yang mencari kelepasan dengan melalui pengetahuan

(jnana marga), Tuhan menyatakan diri sebagai terang yang kekal, yang jernih, yang bersinar seperti matahari pada tengah hari. Kepada mereka yang mencari kelepasan dengan melalui amalan-amalan tanpa pamrih (karma marga), Tuhan menyatakan diri sebagai keadilan yang kekal, yang teguh dan tidak memihak. Akhirnya kepada mereka yang melalui bhakti, Tuhan

13

Upadeca, op. cit., hlm. 31

14

I. Wayan Masniwara, Bhagavadgita, Dalam Bahasa Inggris dan Indonesia, (Surabaya : Paramita, 1997), hlm. 40

(6)

menyatakan sebagai hasil yang kekal dan sebagai keindahan dan kesucian serta mempunyai ketekunan dalam menuju Shang Hyang Widhi. Dari ajaran yoga inilah kita dapat mengambil nilai-nilainya untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.15

Ajaran filsafat yoga yang terpenting adalah citta (pikiran). citta di pandang sebagai hasil pertama dari prakerti. Di dalam citta ini purusa

dipantulkan, dengan penerima pantulan purusa, citta menjadi sadar dan berfungsi. Tiap citta berhubungan dengan satu citta, yang disebut karana citta. Jika karana citta berhubungan dengan satu tubuh maka disebut karya citta. Tujuan yoga untuk mengembalikan citta dalam keadaan semula, murni, tanpa perubahan, sehingga purusa dibebaskan dari belenggu badan. Dalam kehidupan sehari-hari citta disamakan dengan wrtti, yaitu bentuk-bentuk perubahan citta dalam penyesuaian diri dengan bentuk pengamatan. Melalui aktifitas citta ini, purusa tampak bertindak, bergirang dan menderita. Aktifitas

citta menimbulkan kecenderungan-kecenderungan yang terpendam, yang selanjutnya menimbulkan kecenderungan yang lain. Demikian perputaran samsara berkembang, dan manusia ditaklukkan oleh lima klesa atau godaan /siksaan yang asasi, yaitu : ketidaktahuan (awidya), sangka diri (yakni rasa salah yang menyamakan purusa dan citta), tubuh dan lain-lain (asnita), terikat pada nafsu (raga), keengganan untuk menderita (duesa), dan keinginan hidup

(abhiniwesa).

Agar purusa dapat dilepaskan dari ikatan prakerti, orang harus menindas wrtti yaitu dengan meniadakan klesa-klesa itu mewujudkan suatu fungsi yang menjadi dasar pembentukan karma, yang menimbulkan ketidaktahuan. Jadi dalam kehidupan manusia terdapat suatu perputaran yang tidak putus-putusnya, yaitu perputaran wrtti, kecenderungan-kecenderungan, ketidaktahuan dan sebagainya.16

15

Parisada Hindu Darma, op. cit., hlm. 32

16

I. Gst. Md. Ngurah, op. cit., hlm. 123

(7)

Mengutip dari Bhagavan Patanjali dalam “Yoga Sutra” menyebutkan tujuan yoga adalah samadhi, dan samadhi itu suatu tingkat kesadaran di mana yang memperhatikan dan diperhatikan itu sendiri melebur jadi satu. Pada tingkat kesadaran “samadhi”, seseorang yang sedang bersamadhi akan bersatu dengan samadhi itu sendiri. Rasa kedamaian, ketentraman dan ketenangan yang diperoleh dalam tingkat kesadaran samadhi tidak dapat dinaikkan dengan menggunakan perantara tata bahasa yang ada.17

Dalam filsafat India menyebutkan sistem tujuan yoga, ialah mengembalikan citta (alam pikiran) menyamakan diri dengan obyek pengamatan.

Dalam Bhagavadgita, VI : 2 diterangkan dengan ucapan kalimat seperti :

Yam samnyasan iti prahur Yogam tam viddhi pandava Na hy asamnyastasamkalpo Yogi bavati kascana

Artinya : “Apa yang dinamakan pembebasan diri, ketahuilah itu adalah suatu disiplin dari perbuatan, O, Arjuna, karena tiada seorang menjadi seorang Yogin yang tidak melepaskan tujuannya.”18

Melaksanakan ajaran yoga, adalah penting selalu waspada atas badan dan pikiran, diterangkan dalam Bhagawadgita VI : 10 dengan kalimat seperti :

Yogi yunjita satatam Atnanam rahasi sthitoh Ekaki yatattama Nrasir aparirahah

artinya : “Seorang Yogin harus tetap memusatkan pikirannya (kepada atman Yang Maha Besar), tinggal dalam kesunyian tersendiri, menguasai dirinya sendiri, bebas dari angan-angan dan keinginan untuk memiliki.”19

17

Irmansyah Effendi, Kesadaran Jiwa Tekhnik Efektif untuk Mencapai Kesadaran Yang Lebih Tinggi, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2002), hlm. 7

18

Nyoman S. Pendit, op. cit., hlm. 123

19

Ibid., hlm. 7

(8)

Disini tujuannya adalah menggabungkan disiplin mental atas dasar ajaran dari Yoga sutra dan Patanjali, tujuan pokok dari ajaran yoga adalah meningkatkan kesadaran yang biasa ke arah kesadaran yang lebih tinggi sampai persatuan dengan Tuhan. Untuk mendapatkan sabda, mendengarkan suara yang sunyi, orang harus membersihkan dan hidup bebas dari kehidupan bentuk luar sebagai mesin.20

Dari uraian tersebut dapat dijelaskan tentang tujuan yoga yang umum, sebagai pandangan hidup pada masa sekarang ini, bahwasannya yoga itu bertujuan untuk dapat meningkatkan disiplin hidup baik mental, pikiran, badan dan jiwa. Yang berusaha mencapai kebebasan yang suci murni dari Tuhan dan dapat membebaskan dari ikatan untuk menuju kepada-Nya.

Jadi tujuan yoga adalah untuk mendapatkan kebahagiaan lahir batin, bebas dari kesengsaraan dan dapat menikmati kebahagiaan yang abadi untuk bersatu dengan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari yoga memberikan tujuan hidup pada kesejahteraan jasmani maupun rohani, serta dapat menyinari upaya hidup yang damai untuk lebih dekat kepada Ida Sang Hyang Widhiwasa.

D. Jalan Dalam Yoga 1. Bhakti Yoga

Berasal dari akar kata : “bhaj” artinya melayani atau yang melayani Tuhan, artinya : hormat, taat, sujud, menyembah, persembahan dan cinta kasih.21”Bhakti Yoga” artinya jalan cinta kasih, jalan persembahan ; jadi suatu jalan atau cara dengan melaksanakan bhakti, cinta kasih, penyerahan diri lahir dan batin kepada Sanghyang Widhiwasa, untuk mencapai kesempurnaan (dharma dan mokhsa atau nirwana).22

20

Irmansyah Effendi, op. cit., hlm. 51

21

I. Wayan Masniwara, op. cit., hlm. 51

22

Parisada Hindu Dharma, Pedoman Sederhana Pelaksanaan Agama Hindu dalam Masa Pembangunan, (Jakarta : Yayasan Mertasari, hlm. 101

(9)

Seorang Bhakte (orang yang menjalankan bhakti) dengan sujud dan cinta, menyembah dan berdo’a dengan pasrah mempersembahkan jiwa raganya kepada Sang Hyang Widhiwasa dan memperbesar cinta kasihnya yang universal kepada semua makhluk agar sampai pada kesempurnaan itu. Memuatkan pikiran kepada Sang Hyang Widhi dan kecintaan yang teguh, keyakinan yang kuat kepada-Nya, seorang Bhakte akan memperoleh kebahagiaan dan kesempurnaan . dalam Bhagavadgita XII : 2 dijelaskan sebagai berikut :

Mayy avecya mano yo mam Nitya yukte upasate

Craddhaya parayo petas Te me yuk be tama mata

Artinya : “Mereka yang memusatkan pikiran –ku Menyembah aku dengan rasa kecintaan teguh

Dan dengan kepercayaan tinggi, mereka aku pandang sebagai yang tersempurna di dalam Yoga.”23

Seorang Bhakte yang sejati berusaha untuk melenyapkan kebenciannya kepada semua makhluk, sebaliknya akan berusaha akan memupuk dan mengembangkan cinta kasihnya yang universal, ramah tamah dan kasih sayangnya sangat besar, berusaha membebaskan dirinya dari belenggu keangkuhannya dan mengangggap sama kesukaan dan tidak berlebihan dalam kesukaan. Batinnya sabar seimbang, tenang dan sabar selalu, hatinya selalu merasa puas, keseimbangan yang telah dimiliki, pandangannya menjadi terang, tidak akan merasa sedih terhadap dunia, tidak pamrih, bebas dari ras inta dan benci, nafsu tidak terikat oleh gelombang pasang surutnya gejolak masyarakat disekitarnya.

Menurut agama Hindu, setiap orang sebenarnya telah mempunyai sifat-sifat bhakti tersebut, namum sifat-sifat bhaktinya sering tidak dapat menampakkan diri karena diselimuti oleh hawa nafsu dan tamak yang ada pada diri setiap manusia. Karena agama senantiasa mengajarkan supaya

23

Ibid., hlm. 102

(10)

setiap orang berulang-ulang membaca kitab suci, lalu melagukan lagu- lagu kebesaran Ida Sang Hyang Widi Wasa. Disamping itu agama juga mengajarkan supaya setiap orang memilih pergaulan, bergaullah dengan orang-orang yang suci, orang-orang yang bijaksana, orang-orang yang melakukan bhakti Yoga itu sendiri. Jika orang telah dapat melaksanakan ajaran bhakti Yoga merupakan ajaran untuk menyerah diri secara bulat kepada-Nya dan diwujudkan oleh adanya perasaan yang mendalam dan terus menerus dengan penuh rasa bhakti.

Jika bhakti yang sejati telah terwujud pada diri seseorang, sudah pasti segala tingkah lakunya akan mewujudkan rasa kasih sayang terhadap semua makhluk terlebih lagi pada manusia. Ajaran bhakti Yoga adalah ajaran yang langsung dari riil untuk mencari Tuhan, ajaran yang alamiah, ajaran yang mudah diterima dan dilaksanakan oleh orang awam, ajaran yang sejak permulaan, pertengahan dan akhir, tetap bergerak didalam getaran cinta kasih.24 Menurut ajaran agama Hindu Tuhan dipuja dalam aspek, yaitu Tuhan dalam bentuk abstrak (inpersonal) dan Tuhan dalam nyata (personal). Menyenbah Tuhan dalam bentuk abstrak artinya menyembah Tuhan tanpa menggunakan sarana, sedangkan menyembah Tuhan dengan sarana obyek yang dijadikan sarana dalam pemujaan merupakan wujud yang nyata.

Penggambaran Tuhan yang demikian, untuk menunjukkan betapa besar rasa bhakti para pemujaannya kepada Tuhan. Dalam bhakti yoga

dikenal dengan bhakti, yaitu apara bhakti dan para bhakti. “Apara bhakti” adalah cinta kasih yang perwujudannya dipraktekkan oleh mereka yang tingkat kerohaniaannya lebih tinggi dan sudah mendalam tentang ajaran Weda. Kedua, baik apara atau para bhakti mempunyai tujuan yang sama yakni menuju baik ataupun buruk, dengan kata lain semua penganut ajaran bhakti yoga (bhakta) dimaksudkan untuk memuliakan dan memuja

24

Cudemani, Pengantar Agama Hindu untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta : Yayasan Wisma Karma, 1997), hlm. 18

(11)

kebesaran Tuhan. Nilai yang dapat diambil dari ajaran bhakti yoga,

berdominasi atas cinta, mencari kebenaran (dharma) dalam kehidupan, memperbaiki mental serta spiritual.25

2. Karma Yoga

Karma Yoga berasal dari kata “kr” yang berarti bekerja atau kerja. Kerja yang dimaksud adalah tidak mengutamakan kepentingan pribadi, tetapi untuk mengabdi demi kesejahtaraan masyarakat, bangsa dan negara, dan Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini. Ajaran ini mengutamakan pada rasa pengabdian yang tanpa mengharapkan balasan. Karma yoga berarti suatu jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup yang berdasarkan

cubhakarma (perbuatan baik) dan tidak mengikatkan dirinya pada hasil yang dicapai maka inialkan menghasilkan suatu keterikatan, ituakanmenyebabkan seseorang akan mengalami kelahiran yang berulang-ulang.

Pengabdian kerja dalam Bhagavadgita III. 5 disebutkan sebagai berikut :

“Tanpa kerja seseorang tidak akan mencapai kebebasanpun juga, ia tak akan mencapai kesempurnaan, karenamnghindari kegiatan kerja.”26

Usaha untuk mencapai kelepasan, di dalam Bhagavadgita dijelaskan tiga kerja yang harus dimengerti yaitu kerja (karma) yang lazim dilaksanakan tanpa mengharapkan buahnya, tidak mengikat (vikarma)

kerja yang salah satu kejahatan pembunuhan, berbohong, yang pada dasarnya mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang pasti sifatnya mengikat,

(akarma) tanpa bekerja atau tidak bekerja yang dilakukan baik jasmani

25

Ida Bagus Mantra, op. cit., hlm. 16

26

Nyoman S. Pendit, op. cit., hlm. 63

(12)

maupun ruhani tanpa keinginan atu motif lain yang tidak mengikat sama sekali. Uraian ini dapat dijumpai dalam Bhagavadgita IV. 17

Artinya : “Orang harus tahu arti kerja Demikian pula kerja yang salah Dan juga makna arti tak kerja Sungguh dalam artiannya kerja”

Seorang karma Yogin akan selalu bekerja yang dijadikan kehadapan Ida Sang Hyang Wiidhiwasa dengan tidak mengharapkan keuntungan diri pribadi demi kesejahteran dan kebahagiaan umat manusia, yang jelas seorang karmaYogin akan selalu bekerja dan berbuat kebajikan. Seseorang tidak akan mencapai kebebasan dengan diam tidak bekerja ia tidak mencapai kesempurnaan dengan menghindari kegiatan keji.27

Karma Yogin mengajarkan setiap manusia haruslah bekerja sesuai dengan swadharmanya (kewajibannya) masing-masing. Salah bila anggapan orang, bahwa dengan tidak bekerja dapat dicapai kesempurnaan, karena pada hakikatnya dunia ini dikuasai oleh hukum karma Yogin cinta dengan kerja. Dengan menganggap bahwa setiap pekerjaan (karma) itu sebagai cinta kepada Tuhan dan membebaskan diri dari semua ikatan yang timbul oleh karma.

Seseorang dapat mencapai ketenangan batinnya dan kebahagiaan dengan menjalankan karma Yoga itu, dan seorang karma Yogin sejati yang benar-benar mempergunakan karmanya sebagai yajna kepada-Nya dan demi kesejahteraan, kemakmuran, ia akan berhasil mencapai kesempurnaan sejati atau (mokhsa) sebagai makhluk hidup manusia tidak dapat melepaskan diri dari kerja, karena dunia ini dibelenggu oleh hukum kerja.28

Dalam Bhagavadgita dijelaskan :

27

Nyoman S. Pendit., op. cit., hlm. 93

28

I. Wayan Masniwara, op. cit., hlm.63

(13)

“Walaupun untuk sesaat jua, tidak seorangpun untuk tidak berbuat, karena setiap manusia dibuat untuk tidak berdaya oleh hukum alam, yang memaksanya bertindak.”29

Dalam ajaran karma yoga, kita mengenal panca Yadnya yang terdiri dari :

1. Dewa Padnya yaitu Yadnya pada Tuhan.

2. Resi Dewa Yadnya yaitu berbakti kepada dewata mengajar dan membaca kitab suci sebagai Yadnya pada Resi.

3. Pitri Yadnya yaitu pemberian kepada leluhur.

4. Manusia Yadnya yaitu memberikan pertolongan pada orang-orang yang memerlukan atau orang-orang miskin.

5. Buta Yadnya yaitu memelihara dan memberikan makanan pada binatangnya.

Hal ini bermaksud melakukan kewajiban kerja untuk manusia, serta semua makhluk karena melakukan kerja sebagai Yadnya adalah pekerjaan yang paling mulia dan merupakan kesempurnaan hidup.30

3. Jnana Yoga

Jnana Yoga adalah pengetahuan suci yang dijalankan untuk mencapai hubungan atau kesatuan antara atman (jiwatman) dengan

Brahman (parama Tuhan) dengan menggunakan ilmu pengetahuan (kebijakdanaan).31 Seorang Jnanin menghubungkan dirinya (jiwatman) dengan Shang Hyang Widhi, untuk mencapai kesempurnanan yaitu kebahagiaan yang kekal dan abadi, yang bebas dari samsara (lahir berulang kali atau purnabawa) yang disebut mokhsa atau nirwana. Orang yang mengetahui sebenarnya kelahiran suci dan karya Tuhan, maka ia telah meninggalkan badannya (jiwatman) akan bersatu dengan Tuhan.32

29

Ibid. hlm. 63

30

Anak Agung Gde Oka Netra, Tuntunan Dasar Agama Hindu, (Jakarta : Hanoman Sakti, 1997), hlm. 50

31

Huston Smith, Agama-agama Manusia , (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1985), hlm. 67

32

Hilman Hadikusuma, op. cit., hlm. 168-169

(14)

Kebijaksanaan (ilmu pengetahuan) tertinggi itu ada pada Tuhan sendiri yang diberi gelar “Shanghyang Saraswati” Tuhan adalah serba tahu. Pengetahuan suci yang merupakan anugerah Tuhan itu, pahitlah dipakai jalan untuk menuju dan memusatkan pikiran kepada Tuhan yang cinta.

Bhagavadgita, IV: 28 menyebutkan sebagai berikut :

“Persembahan korban berupa pengetahuan adalah lebih agung sifatnya dari korban yang berupa apa juapun, O Arjuna, sebab segala pekerjaan dengan tak terkecuali memuncak di dalam kebijaksanaan.”

Banyak cara dan jalan dipakai persembahan kepada Tuhan untuk mencapai kesempurnaan, tetapi diantara sekian cara, persembahan-persembahan dengan ilmu pengetahuan yang paling utama dan mulia. Dengan maksud untuk mencapai kelepasan dan kebebasan jiwatman dari karma, karena itusudah seharusnya kita rajin mendengarkan fatwa-fatwa orang-orang suci dan bacaan kitab-kitab suci sehingga orang dapat mengenal apa yang telah diketahui dalam pusat lingkungan hidup ilmu pengetahuan suci adalah pelebur (kegelapan) menuntun ke arah dharma dan kebahagiaan yang kekal abadi (mokhsa).33

Orang yang tekun menjalankan yoga akan mencapai jnana

(kebijaksanaan) itu. Orang yang telah memiliki kebijaksanaan itu segera akan menemukan kedamaian yang abadi. Semua keragu-raguan dan kebimbangan terkikis habis oleh jnana (kebijaksanaan). Jiwatman bisa menemukan keasliannya, sehingga hukum karma dapat ditinggalkannya, maka terbebas dari perputaran purnabawa (reinkarnasi).

Jalan ini dimaksudkan untuk para pencari rohani yang mempunyai kecenderungan intelektual yang kuat, pada tingkatannya harus dapat meningkatkan pengatahuannya, karena dengan ilmu pengetahuan manusia

33

H.M, Arifin, Menguak Misteri Ajaran Agama Besar, (Jakarta : Golden Terayon Press, 1994), hlm. 70

(15)

akan menjadi pandai, bersikap terbuka dan memiliki cakrawala berfikir yang luas sehingga ia dengan mudah menyelesaikan problem yang dihadapi dalam hidupnya. Tujuan ini dilakukan dengan penuh pengorbanan, bahwa tiap-tiap pengorbanan mencari dasarnya pada keikhlasan untuk berbuat dengan tujuan yang lebih mulia.

4. Raja Yoga

Raja Yoga adalah jalan atau cara untuk mencapai Tuhan dengan melakukan samadhi yang sebenar-benarnya. Yoga dan samadhi adalah latihan untuk menghubungkan dan menyatukan atman dengan Brahman. Orang telah dapat menumbuhkan kesadaran diri serta mengabdikan diri sepenuhnya kepada Sang Widhiwasa akan mengetahui hakikat kebesaran

Brahman. Orang yang seperti itu yang disebut raja yoga.

Seseorang yang menempuh raja yoga untuk mendapatkan kebahagiaan akan melalui disiplin yang keras, baik secara jasmani maupun rohani.34

Langkah-langkah untuk menjalankan yoga ada delapan tahap yang disebut astanga yoga yaitu : pengekangan diri (yama), pengamatan

(niyama), sikap tubuh (asana), pengaturan nafas (pranayama), penarikan obyek-obyeknya (pratahara), pemusatan perhatian (dharana), Perenungan atau meditasi (dhyana), dan pemusatan yang sempurna (samadhi).

Delapan anggota yoga ini dapat dibagi lagi menjadi dua bagian yang besar, yaitu mulai pengekangan diri (yama) sampai penarikan indera dari obyek-obyeknya (pratahara), yang disebut pertolongan tidak langsung dari luar (bahiranga), dan mulai pemusatan perhatian (dharana),

sampai pemusatan yang sempurna (samadhi), yang disebut pertolongan-pertolongan dari dalam (antaranga). Bagian pertama dapat dibagi lagi

34

HM. Arifin, Belajar Memahami Agama-agama Besar, (Jakarta : CV. Sanjaya, 1996), hlm. 63

(16)

menjadi dua bagian, yaitu : persiapan etis, yang terdiri dari pengekangan diri (yama), pengamatan (niyama), dan persiapan badan yang terdiri dari sikap tubuh (asana), pengaturan nafas (pranayama), penarikan obyek-obyeknya (pratyahara). Bagian kedua dapat dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu perenungan atau meditasi (dhiyana) dan pemusatan yang terdiri dari samadhi.35

Dari bagian di atas bahwa cukup jelas untuk mewujudkan azas etis yoga yang lima tingkatan, pertama bersifat amal-amal lahiriyah dan yang ketiga bersifat amal-amal batiniyah, yang semua tingkatan itu mempunyai peraturan-peraturan yaitu :

1. Yama

Yama merupakan pengendalian diri dalam tahap pertama (permulaan) untuk tidak melakukan perbuatan yang bersifat negatif atau dosa seperti membunuh, mencuri, berzina, dengki, ria, tamak, dan segala jenis perbuatan yang dipandang dosa.

2. Niyama

Niyama adalah latihan berbuat kebaikan dengan jalan melakukan azas-azas kebaikan seperti kemurnian, kesucian, kesentosaan, keteguhan, selalu giat belajar, kebaktian kepada Shang Hyang Widhi.

3. Asana

Adalah latihan melakukan berbagai sikap badan untuk meditasi atau olah raga batin. Jika sikap badan disiplin, mantap dan reflek, pikiran dapt ditenangkan.

4. Pranayama

Yaitu pengontrol pernapasan dibuat teratur, pikiran mudah dikontrol. Proses pengaturan dan pengekangan nafas ada tiga macam, penghiasan nafas, pengeluaran nafas dan penghentian nafas.

35

Harun Hadiwijono, Sari Filsafat India, (Jakarta : Gunung Mulia, 1998), hlm. 73

(17)

5. Pratyahara

Yaitu penarikan indriya dan obyek. Ketidakterikatan indriya pada obyek yang sempurna, hanya bisa dilakukan bila pikiran telah dapat dikontrol sepenuhnya. Tujuan untuk menjinakkan pikiran.

6. Dharana

Yaitu konsentrasi pikiran pada suatu obyek (diperlukan konsentrasi yang mantap)

7. Dhyana yaitu perenungan pada suatu obyek.

8. Samadhi yaitu merupakan meditasi taraf tinggi, sehingga pada saat itu bersatulah atman dengan Brahman.36

36

Joesoep Su’aib, Agama-agama Besar di Dunia, (Jakarta : Al-Husna Zikra, 1996), hlm. 55-56

Referensi

Dokumen terkait

INKAFA adalah perguruan tinggi Islam, INKAFA ini bagian yang tidak terpisahkan dari Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin Suci Manyar Gresik, secara historis pendiriannya pada

Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.. Struktur organisasi

Selain itu, Menurut Armstrong dan Taylor (2015), tujuan manajemen sumber daya manusia adalah untuk mendukung organisasi mencapai tujuannya dengan menerapkan strategi sumber

Kitab ini kemudian di perbaiki oleh Adz-Dzahaby (747 H) dalam kitab At-Tajrid. Pada abad ke-9 Hijriyah, Ibnu Hajar al-Asqalani menyusun kitab yang terkenal bernama Al- Ishabah,

Kemampuan untuk memahami, berkomunikasi maupun memotivasi, dan mendukung orang lain, baik secara individu maupun dalam kelompok, Banyak orang yang secara teknis mahir

Sehubungan hal tersebut, pihak manajemen perseroan akan melakukan program-program pengembangan pelabuhan untuk mencapai sasaran perusahaan, yang meliputi, Pelabuhan Belawan, Unit

Disisi lain juga, santri dikatakan berasal dari bahasa India, yang berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana kitab suci agama

Memastikan terlaksananya kegiatan operasional Outlet sesuai ketentuan yang berlaku untuk mencapai target yang telah ditentukan bersama antara Area Manager dengan Area Outlet