• Tidak ada hasil yang ditemukan

LATAR BELAKANG. Millennium Development Goals (MDGs) Penyebab utama kematian balita di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LATAR BELAKANG. Millennium Development Goals (MDGs) Penyebab utama kematian balita di Indonesia"

Copied!
49
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

LATAR BELAKANG

Penyebab utama kematian

balita di Indonesia

Millennium Development

Goals

(MDGs)

Indonesia sendiri pada tahun 2011

tercatat sebagai Negara dengan

(4)

PENELITIAN SEBELUMNYA

Yulianti (2003) meneliti tentang faktor risiko kejadian pneumonia pada anak balita di

kota Banjarmasin menggunakan analisis univariat dan regresi logistik, diperoleh

kesimpulan bahwa pemberian ASI tidak eksklusif, status gizi kurang, kepadatan

hunian tinggi, dapur tanpa lubang asap, dan kebiasaan merokok merupakan faktor

risiko kejadian pneumonia pada anak balita di kota Banjarmasin.

Yuwono (2008) meneliti tentang faktor-faktor lingkungan fisik rumah yang

berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak balita di wilayah kerja

Puskesmas Kawunganten Kabupaten Cilacap menggunakan analisis univariat, bivariat

dan regresi logistik. Dari penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa jenis lantai,

kondisi dinding rumah, 3 luas ventilasi rumah, tingkat kepadatan hunian, tingkat

kelembaban, penggunaan jenis bahan bakar kayu dan kebiasaan anggota keluarga

(5)

PENELITIAN SEBELUMNYA

Hartanto (2010) meneliti tentang pemetaan penderita pneumonia di Surabaya

dengan menggunakan geostatistik. Dari hasil penelitiannya diperoleh kesimpulan

bahwa berdasarkan analisa kriging, pusat penyebaran pneumonia berada di

daerah Tubanan dan Sukomanunggal. Keduanya terletak di wilayah Surabaya

Barat dan radius penyebaran penyakit ini sekitar 600 meter persegi.

Fitriarma (2012) meneliti tentang faktor eksternal pneumonia pada balita di Jawa

Timur dengan pendekatan Geographically Weighted Regression

(GWR). Dari hasil

penelitiannya diperoleh kesimpulan bahwa berdasarkan analisa Geographically

Weighted Regression

(GWR), faktor eksternal yang berpengaruh pada kejadian

pneumonia balita di Jawa Timur adalah pemberian vitamin A (X

2

) dan balita

(6)

RUMUSAN MASALAH

1. Karakteristik penderita penyakit

Pneumonia pada balita di Provinsi

Jawa Timur.

2. Pengelompokkan Kabupaten/Kota

berdasarkan faktor-faktor yang

mempengaruhi penyakit Pneumonia

pada balita di Provinsi Jawa Timur

(7)

TUJUAN

1. Mendeskripsikan karakteristik

penderita penyakit Pneumonia

pada balita di Provinsi

Jawa

Timur.

2. Mengetahui pengelompokkan

Kabupaten/Kota

berdasarkan

faktor-faktor yang mempengaruhi

penyakit Pneumonia pada balita

di Provinsi Jawa Timur.

(8)

MANFAAT

Bagi Akademis :

Sebagai bahan pemahaman &

pengaplikasian

metode

statistika

terutama

analisis

multivariat

dalam

upaya

mengatasi

permasalahan

dalam bidang kesehatan.

Bagi Pemerintah :

Sebagai kontribusi langkah-langkah

antisipasi yang harus dipertimbangkan

oleh Dinas Kesehatan Jawa Timur

dalam upaya pencegahan serta

peningkatan pemahaman masyarakat

tentang

pentingnya

penyakit

Pneumonia terutama pada balita.

(9)
(10)

Tinjauan STATISTIK

STATISTIKA DESKRIPTIF

Statistika deskriptif merupakan ilmu

statistika yang hanya mengolah,

menyajikan data tanpa mengambil

keputusan untuk populasi.

Statistika deskriptif dapat

membahas cara-cara

pengumpulan data,

penyederhanaan angka-angka

pengamatan yang diperoleh

(meringkas dan menyajikan)

serta melakukan pengukuran

pemusatan dan penyebaran

untuk memperoleh informasi

yang lebih menarik, berguna,

dan mudah dipahami.

(11)

TINJAUAN STATISTIK

ANALISIS CLUSTER

Analisis kelompok (kluster

analysis

) adalah

analisis statistika yang bertujuan untuk

mengelompokkan data sedemikian hingga

data yang berada dalam kelompok yang

sama mempunyai sifat yang relatif homogen

daripada data yang berada dalam kelompok

yang berbeda

a. Metode hierarki adalah hasil pengelompokkannya disajikan secara hierarki atau berjenjang dari n, (n-1) sampai 1 kelompok. Macam-macam metode hierarki adalah single linkage, complete linkage, average linkage, median linkage dan

centroid linkage.

b. Metode non hierarki adalah metode ini dipakai jika banyaknya kelompok sudah diketahui. Metode ini biasa

dipakai untuk

mengelompokkan data yang berukuran besar, yang termasuk dalam metode ini adalah metode K’means.

(12)

Tinjauan STATISTIK

ANALISIS CLUSTER HIERARKI

Metode Ward

Pada metode ward, jarak antara dua cluster adalah jumlah kuadrat antara dua cluster untuk seluruh variabel. Pengelompokkan metode ward adalah menimumkan peningkatan kriteria error sum of square (ESS). Dua cluster yang memiliki peningkatan ESS paling minimum akan berkelompok. Jika cluster sebanyak K maka ESS sebagai jumlahan dari atau . Sehingga untuk menghitung jarak antara dua cluster menggunakan metode ward. Rumus yang digunakan pada metodewardadalah

' 1

(

) (

)

n j j j

ESS

x

x

x

x

Langkah-langkah pengelompokan data dengan menggunakan metode hierarki adalah sebagai berikut :

1. Tentukan matriks jarak antar data yang dikelompokkan.

2. Tentukan dua data yang mempunyai jarak terkecil kemudian gabungkan dua data tersebut ke dalam satu kelompok. 3. Modifikasi matriks jarak sesuai aturan

jarak antar kelompok yang sesuai dengan metode pengelompokan yang dipakai.

(13)

Tinjauan STATISTIK

1. Menghitung jarak kaudarat dengan rumus

d

2j

x

j

x

 

'

S

1

x

j

x

2. Mengurutkan nilai dari yang terkecil sampai yang terbesar.

3. Mencari nilai dari tabel chi-squa

4. Membuat scatter plot antara pasangan ( ,q

j

).

j n j p

q

       2 5 . 0 ,

2 j

d

Uji normalitas adalah uji untuk mengukur apakah data berdistribusi normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik (statistik inferensial). Cara yang biasa dipakai untuk menghitung masalah ini adalah Chi-Square. Tapi karena tes ini memiliki kelemahan, maka yang kita pakai adalah Kolmogorov-Smirnov. Kedua tes dinamakan masuk dalam kategori Goodness Of Fit Tes.

(14)

Tinjauan STATISTIK

Pengujian Homogenitas Variansi

Uji Bartlett untuk menguji apakah matriks korelasi sama dengan matriks identitas atau tidak. Pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut.

Hipotesis :

H0: Matriks korelasi = matriks identitas) H1: Matriks korelasi ≠ matriks identitas) Taraf Signifikan : α = 0,05

Statistik Uji yang digunakan adalah

dimana : rij = Koefisien korelasi antara variabel i dan j N = Jumlah data

p = Jumlah variabel

Daerah Kritis : Tolak H0, jika p-value < α atau



j i ij hitung

r

p

N

2 2

)

6

5

2

1

(

2 2 / ) 1 ( , 2 

p p hitung

(15)

Tinjauan STATISTIK

Pengujian Kecukupan Data

Uji Kaiser-Meyer-Olkin (KMO Test) merupakan nilai korelasi antar variabel yang digunakan untuk menguji apakah data layak untuk dianalisis atau tidak, dimana yang diharapkan nilai KMO lebih besar dari 0,5 (nilai korelasi minimal agar data dapat diolah). Pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut.

H0: Jumlah data cukup untuk difaktorkan

H1 : Jumlah data tidak cukup untuk difaktorkan Taraf Signifikan : α = 0,05

Statistik Uji :

Daerah Kritis : Tolak H0, jika nilai KMO < 0,5 j i a r r KMO p i p i p j ij p j ij p i p j ij             , 1 1 1 2 1 2 1 1 2

(16)

Tinjauan STATISTIK

Analisis Faktor

Analisis faktor adalah analisis statistika yang bertujuan untuk

mereduksi dimensi data dengan cara menyatakan variabel asal

sebagai kombinasi linear sejumlah faktor sedemikian hingga,

sejumlah faktor tersebut mampu menjelaskan sebesar mungkin

keragaman data yang dijelaskan oleh variabel asal (Johnson,1998)

) ( ) ( ) ( ) ( ) (pxl pxl

l

pxm

F

mxl pxl

X

p m p m p p l p p m m m m F l F l F l X F l F l F l X F l F l F l X                         ... . . ... ... 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1

(17)

TINJAUAN NON STATISTIK

Pneumonia adalah proses infeksi akut yang

mengenai jaringan paru-paru (alveoli).

Terjadinya pneumonia pada anak seringkali

bersamaan dengan proses infeksi akut pada

bronkus ( biasanya siebut bronchopneumonia).

Pengertian

Pneumonia

Dalam banyak penelitian menyebutkan bahwa

pneumonia pada anak disebabkan oleh dua jenis bakteri,

yaitu: Haemophilus Influenzae tipe B (Hib) dan

Streptococcus pneumoniae. Kedua bakteri ini juga dapat

menyebabkan meningitis akut (infeksi pada selaput yang

menutupi otak) pada anak-anak. Selain kesulitan dalam

bernapas, batuk rejan merupakan salah satu gejala

umum pada anak ketika ia terkena pnemonia.

Penyebab

Pneumonia

(18)

TINJAUAN NON STATISTIK

a. Pneumonia oleh Bakteri.

Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siap saja dari bayi sampai usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah Streptococcus pneumonia sudah ada di kerongkongan manusia sehat.

b. Pneumonia oleh Virus.

Virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas terutama pada anak-anak gangguan ini bisa memicu pneumonia. Bila infeksi terjadi

bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat dan kadang menyebabkan kematian.

c. Pneumonia Mikoplasma

Pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering juga disebut pneumonia yang tidak tipikal (Atypical Pneumonia). Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski mamiliki karakteristik keduanya.

d. Pneumonia Jenis Lain

Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii pnumonia (PCP) yang diduga disebabkan oleh jamur, PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit pada pengidap HIV/AIDS. PCP bisa diobati pada banyak kasus.

Klasifikasi

Pneumonia

(19)

TINJAUAN NON STATISTIK

Gejala khususnya adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan pada bagian

paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan kuman. Tapi akibatnya fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang

untuk oksigen.

Tanda &

Gejala

Pneumonia

1

. Memberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama, hal

tersebut merupakan langkah penting untuk memastikan bayi

anda mendapatkan gizi yang cukup serta membangun

kekebalan alami terhadap bakteri maupun virus.

2. Memberikan vaksin yang disarankan oleh dokter dalam

satu tahun pertama kelahiran.

3. Menjaga kebersihan lingkungan.

4. Membiasakan anak untuk hidup sehat seperti tidak jajan

sembarangan dan mencuci tangan sebelum makan

Pengobatan

Pneumonia

(20)

TINJAUAN NON STATISTIK

a. Penanggulangan penyakit pneumonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA (Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Program ini

mengupayakan agar istilah pneumonia lebih dikenal masyarakat, sehingga mumudahkan kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang

penanggulannya Program P2ISPA mengklasifikasi penderita ke dalam 2 kelompok usia. Yaitu, usai di bawah 2 bulan (Pneumonia Berat atau Bukan Pneumonia) dan usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun.

b. Pencegahan penyakit IPD, termasuk pneumonia, dapat dilakukan dengan cara vaksinasi pneumokokus atau sering juga disebut sebagai vaksin IPD. Peluang

mencegah Pneumonia dengan vaksin IPD adalah sekitar 80-90%. Adapun mengenai waktu ideal pemberian vaksin IPD, adalah sebanyak 4 kali, yakni pada saat bayi berusia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan dan diulang lagi pada usai 12 bulan.

c. Selain imunisasi, pencegahan pneumonia dengan menjaga keseimbangan nutrisi anak dan mengupayakan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang baik, antara lain

dengan cara istirahat yang cukup juga olahraga.

Pencegahan

Pneumonia

(21)

metodologi

Sumber

Data

• Data sekunder yang diperoleh dari Dinas

Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang bersumber

pada Profil Kesehatan Jawa Timur pada tahun

2011.

Unit

Sampling

• Sampling : Balita yang terjangkit penyakit

Pneumonia di Provinsi Jawa Timur.

• Populasi : Seluruh anggota keluarga di Provinsi

Jawa Timur.

(22)

METODOLOGI

No

Variabel

Definisi Operasional

1.

Balita mendapat imunisasi

Jumlah balita yang mendapatkan

Imunisasi

2.

Balita mendapatkan vitamin A

Jumlah balita yang mendapatkan

Vitamin A

3.

Balita gizi buruk

Jumlah balita yang menderita

gizi buruk

4.

Perilaku Hidup Bersih & Sehat

Jumlah keluarga yang

menerapkan Perilaku Hidup

Bersih & Sehat

5.

Rumah Sehat

Jumlah keluarga yang memiliki

(23)

METODOLOGI

No

Variabel

Definisi Operasional

6.

Keluarga memiliki tempat

sampah yang sehat

Jumlah keluarga yang memiliki

tempat sampah yang sehat

7.

Keluarga memiliki pengolahan

air limbah

Jumlah keluarga yang memiliki

pengelolaan air limbah

8.

Jumlah Posyandu

Jumlah Posyandu di Jawa Timur

9.

Jumlah Rumah Sakit

Jumlah Rumah Sakit di Jawa

Timur

(24)

metodologi

Melakukan Statistika Deskriptif dengan

Pemetaan.

1

Melakukan Pengujian Normal Multivariat

2

Melakukan Uji Homogenitas Variansi

3

Melakukan Uji Kecukupan Data Serentak & Individu

4

Melakukan Analisis Faktor

5

Melakukan Analisis Cluster berdasarkan faktor yang

terbentuk dari hasil analisis faktor

6

Pemetaan berdasarkan hasil klaster faktor yang terbentuk

dari hasil analisis faktor.

(25)

Analisis & pembahasan

Statistika Deskriptif

Variabel Rataan Standar Deviasi Varians Minimum Maksimum Balita mendapat

Imunisasi 15173 9103 82866216 1957 40422 Balita mendapat

Vitamin A 52630 35331 1248310469 6891 149498 Balita Gizi Buruk 639 906 820164 14 4608

PHBS 15049 17077 291629551 0 83143 Rumah Sehat 70484 95555 9130789085 1134 529669 Tempat Sampah 58209 70764 5007513954 0 271023 Air Limbah 44900 57539 3310779094 0 271023 Posyandu 1200 700 490375 161 2819 Rumah Sakit 8,53 9,77 95,5 1 56 Puskesmas 115,55 52,28 2732,74 19 231

(26)

Analisis & pembahasan

1,68 1,08 1,07 1,55 1,71 0,91 3,95 1,36 3,24 2,81 3,60 0,58 0,95 3,86 7,36 0,68 4,35 1,37 1,45 1,25 3,25 2,70 7,00 9,42 4,16 1,22 2,06 1,84 3,78 1,53 1,95 3,49 4,17 3,41 5,54 1,18 0,03 KAB. PONOROGO KAB. TRENGGALEK KAB. TULUNGAGUNG KAB. BLITAR KAB. KEDIRI KAB. MALANG KAB. LUMAJANG KAB. JEMBER KAB. BANYUWANGI KAB. BONDOWOSO KAB. SITUBONDO KAB. PROBOLINGGO KAB. PASURUAN KAB. SIDOARJO KAB. MOJOKERTO KAB. JOMBANG KAB. NGANJUK KAB. MADIUN KAB. MAGETAN KAB. NGAWI KAB. BOJONEGORO KAB. TUBAN KAB. LAMONGAN KAB. GRESIK KAB. BANGKALAN KAB. SAMPANG KAB. PAMEKASAN KAB. SUMENEP KOTA KEDIRI KOTA BLITAR KOTA MALANG KOTA PROBOLINGGO KOTA PASURUAN KOTA MOJOKERTO KOTA MADIUN KOTA SURABAYA KOTA BATU

(27)
(28)
(29)
(30)
(31)

Analisis & pembahasan

Kriteria

P-value

T

0,657895

Pengujian Normal Multivariat

Hipotesis :

H

0

: Data berdistribusi normal multivariat

H

1

: Data tidak berdistribusi normal

multivariat

Taraf signifikan : α = 0,05

Daerah kritis : Tolak H

0

jika P-

value <

α

Data Berdistribusi

Normal Multivariat

35 30 25 20 15 10 5 0 25 20 15 10 5 0 dd q Scatterplot of q vs dd

(32)

Analisis & pembahasan

Identifikasi Korelasi Antar Variabel

Hipotesis:

H

0

: Matriks korelasi adalah matriks identitas

H

1

: Matriks korelasi bukan matriks identitas

Taraf Signifikansi : α = 0,05

Daerah Kritis : Tolak H

0

jika nilai P_value < α

Nilai Chi-Square

df

P-value

(33)

Analisis & pembahasan

Identifikasi Kecukupan Data Serentak & Individu

Hipotesis :

H

0

: Jumlah data cukup untuk difaktorkan

H

1

: Jumlah data tidak cukup untuk difaktorkan

Nilai KMO

0,698

Variabel Nilai Korelasi Anti-image Balita mendapat imunisasi 0,671

Balita mendapatkan vitamin A 0,733 Balita gizi buruk 0,750 Perilaku Hidup Bersih & Sehat 0,594

Rumah Sehat 0,819

Keluarga memiliki tempat sampah yang sehat 0,629 Keluarga memiliki pengolahan air limbah 0,706 Jumlah Posyandu 0,725 Jumlah Rumah Sakit 0,529 Jumlah Puskesmas 0,729

Data Cukup

Difaktorkan

(34)

Analisis & pembahasan

Penentuan Banyak Faktor Dengan Eigenvalue

Variabel

Eigen Value

Total Varians (%)

Kumulatif (%) Balita mendapat imunisasi 5,884 58,842 58,842

Balita mendapatkan

vitamin A 1,293 12,926 71,768 Balita gizi buruk 1,171 11,712 83.480 Perilaku Hidup Bersih &

Sehat 0,835 8,346 91.826 Rumah Sehat 0,412 4,116 95.942 Keluarga memiliki tempat

sampah yang sehat 0,180 1,800 97,742 Keluarga memiliki

pengolahan air limbah 0,111 1,109 98,851 Jumlah Posyandu 0,083 0,829 99,680 Jumlah Rumah Sakit 0,021 0,214 99,895 Jumlah Puskesmas 0,011 0,105 100,000

(35)

Analisis & pembahasan

Pengelompokan Variabel Kedalam Faktor 1, Faktor 2 dan Faktor 3

Variabel Komponen

1 2 3

Balita mendapat imunisasi 0,926 0,246 0,167 Balita mendapatkan vitamin A 0,859 0,307 0,297 Balita gizi buruk 0,555 0,421 -0,567 Perilaku Hidup Bersih & Sehat 0,216 0,064 0,690

Rumah Sehat 0,409 0,840 -0,050 Keluarga memiliki tempat sampah

yang sehat 0,181 0,888 0,229 Keluarga memiliki pengolahan air

limbah 0,317 0,897 0,111

Jumlah Posyandu 0,907 0,321 0,212 Jumlah Rumah Sakit 0,302 0,390 0,640 Jumlah Puskesmas 0,880 0,276 0,102

(36)

Analisis & pembahasan

Faktor 1 (Kebutuhan Balita) Faktor 2 (Sanitasi Lingkungan) Faktor 3 (Pelayanan Kesehatan) Balita mendapat

imunisasi Rumah Sehat Perilaku Hidup Bersih Sehat Balita mendapatkan

vitamin A

Keluarga memiliki tempat

sampah yang sehat Jumlah Rumah Sakit Balita gizi buruk Keluarga memiliki pengolahan

air limbah Jumlah Posyandu

Jumlah Puskesmas

(37)

Analisis & pembahasan

Analisis Komponen Berdasarkan Tiga Kelompok Faktor Skor

Komponen

1

2

3

1

0,765

0,609

0,208

2

0,266

-0,593

0,760

(38)

Analisis & pembahasan

(39)

Analisis & pembahasan

(40)

Analisis & pembahasan

(41)

Analisis & pembahasan

Pemetaan Kabupaten/Kota di Jawa Timur Berdasarkan Klasifikasi

Faktor 1 (Balita Mendapat Imunisasi, Balita Mendapatkan Vitamin

(42)

Analisis & pembahasan

Pemetaan Kabupaten/Kota di Jawa Timur Berdasarkan Klasifikasi

Faktor 2 (Rumah Sehat, Keluarga Memiliki Tempat Sampah Yang

(43)

Analisis & pembahasan

Pemetaan Kabupaten/Kota di Jawa Timur Berdasarkan Klasifikasi

Faktor 3 (Perilaku Hidup Bersih Sehat dan Jumlah Rumah Sakit)

(44)

Kesimpulan & saran

1. Prosentase balita penderita pneumonia terbesar terdapat di Kota Gresik sebesar 9,42 kemudian terbesar kedua yaitu Kota Mojokerto sebesar 7,36 dan terbesar ketiga yaitu Kota Lamongan sebesar 7,00. Sedangkan prosentase balita penderita pneumonia terkecil berada di Kota Batu sebesar 0,03.

2. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dengan menggunakan analisis faktor diperoleh kesimpulan bahwa pengelompokkan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Pneumonia pada balita di Jawa Timur terbagi menjadi 3 faktor. Faktor 1 (kebutuhan balita) meliputi balita mendapat imunisasi, balita mendapatkan vitamin A, balita gizi buruk, jumlah Posyandu dan jumlah Puskesmas. Faktor 2 (sanitasi lingkungan) meliputi rumah sehat, keluarga memiliki tempat sampah yang sehat dan keluarga memiliki pengolahan air limbah. Faktor 3 (pelayanan kesehatan) meliputi perilaku hidup bersih sehat dan jumlah rumah sakit.

3. Berdasarkan hasil pemetaan kabupaten/kota dengan hasil analissi faktor yang kemudian digunakan analisis cluster per faktor diperoleh kesimpulan bahwa pengelompokkan kabupaten/kota di Jawa Timur terbagi menjadi 3 klasifikasi tiap faktor.

Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu adanya perluasan

faktor-faktor yang mempengaruhi penderita Pneumonia pada

balita di Jawa Timur sehingga pengelompokkan faktor dapat

lebih representatif.

(45)

Anderson, Rolph E dan JR, Joseph F. Hair. 1984.

Multivariat Data Analysis

.

Prentice-Hall, New Jersey

Anonim_1 .(2013).

Penyakit Pneumonia

. http://

www.putraprabu.wordpress.com

(11

Januari 2013, 15.43 WIB)

Anonim_2 .(2011). Penyakit

Pneumonia.

http://

id.wikipedia.org

/

wiki

/

Pneumonia

(11 Januari 2012, 15.43 WIB)

Anonim_3 .(2010). Sanitasi

.

http://

sanitasimakanan.blogspot.com

(9 Maret 2013,

10.00 WIB)

Depkes, (2002).

Pedoman Pelaksanaan Program Pemberantasan Penyakit ISPA untuk

Petugas Kesehatan.

Dirjen PPL & PLP, Jakarta.

Depkes RI, Oktober (2005).

Rencana Kerja Jangka Menengah

nasional Dalam

Penaggulangan Pneumonia Balita

Tahun 2005-2009.

Depkes RI. Jakarta.

DEPKES. (2007).

Laporan Riset Kesehatan Dasar tahun

2007 Provinsi Jawa Timur.

Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan, Depkes RI : Jakarta

DEPKES. (2007).

Survei Demografi dan Kesehatan

Indonesia tahun 2007.

BPS, Depkes : Jakarta

(46)

Daftar pustaka

Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. (2009).

Tabel Lampiran Profil Kesehatan

Provinsi Jawa Timur 2009.

http://dinkes.jatimprov.go.id/dokumen/dokumen

publikasi.html. (25

April 2012, 09.00 WIB)

Kementerian

Kesehatan

RI.

(2010).

Buletin

Pneumonia.

www.depkes.go.id/.../buletin/BULETIN%20PNEU

MONIA .pdf. (25

April 2013, 15.00 WIB)

MDGs. (2008).

Let Speak Out for MDGs.

www.bappenas.go.id/get-file-server/.../2592/

.

(26 April 2013, 21.00 WIB)

Sharma, S. 1996.

Applied Multivariat Techniques

. New York: John Wiley & Sons,

Inc.

Walpole, E. (1988).

Pengantar Statistika edisi ke-3

. PT.Gramedia Utama. Jakarta.

WHO. (2002)

Penanganan ISPA Pada Anak di Rumah Sakit

Kecil

Negara

Berkembang. Pedoman Untuk Dokter Dan Petugas Kesehatan Senior

. Alih

Bahasa; C. Anton Wijawa. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

(47)

lampiran

KABUPATEN/KOTA X1 X2 X3 X4 X5 KAB. PACITAN 7089 25126 80 11150 35729 KAB. PONOROGO 11750 27360 242 28692 115210 KAB. TRENGGALEK 10219 34084 692 4324 4236 KAB. TULUNGAGUNG 15158 42418 369 15666,9433 71499 KAB. BLITAR 20808 58345 89 2255 19913 KAB. KEDIRI 26485 85186 1043 11916 20298 KAB. MALANG 40422 137033 1710 2225 82281 KAB. LUMAJANG 15309 54799 428 1646 67513 KAB. JEMBER 31441 114577 4608 6508 529669 KAB. BANYUWANGI 23574 76312 1406 58018,08 216672 KAB. BONDOWOSO 11312 35806 357 14754 29197 KAB. SITUBONDO 8731 28427 1329 2560 17607 KAB. PROBOLINGGO 17820 64476 1585 21788 28474 KAB. PASURUAN 23134 96461 116 33723 26901 KAB. SIDOARJO 29816 106817 1420 39162 192182 KAB. MOJOKERTO 17277 48819 775 9738 5548 KAB. JOMBANG 21042 82580 35 15789 111834 KAB. NGANJUK 16976 47945 501 8773 52770,36815 KAB. MADIUN 9585 31740 256 5159 62483 KAB. MAGETAN 8432 29763 117 15477 119029 KAB. NGAWI 12074 37712 579 21756 12485 KAB. BOJONEGORO 18840 68122 110 83143 94973 KAB. TUBAN 18461 68340 1010 6177 56979

(48)

lampiran

KABUPATEN/KOTA X6 X7 X8 X9 X10 KAB. PACITAN 10515 15337 799 1 96 KAB. PONOROGO 114010 0 1130 6 138 KAB. TRENGGALEK 5980 5781 849 4 111 KAB. TULUNGAGUNG 223449 101173 1236 11 129 KAB. BLITAR 0 0 1459 8 116 KAB. KEDIRI 6118 21571 1722 9 154 KAB. MALANG 67885 64579 2775 21 187 KAB. LUMAJANG 21454 62920 1284 5 117 KAB. JEMBER 271023 271023 2819 12 231 KAB. BANYUWANGI 3735 65710 2224 11 212 KAB. BONDOWOSO 24765 18227 1048 3 113 KAB. SITUBONDO 55 4974 916 2 108 KAB. PROBOLINGGO 29228 34401 1312 5 153 KAB. PASURUAN 5306 18603 1863 5 160 KAB. SIDOARJO 192182 82094 1721 25 134 KAB. MOJOKERTO 7319 6738 1271 11 109 KAB. JOMBANG 48765 41695 1536 12 141 KAB. NGANJUK 70324 0 1301 6 123 KAB. MADIUN 72929 53721 868 2 110 KAB. MAGETAN 81388 39149 920 5 103 KAB. NGAWI 5733 5237 1176 2 120 KAB. BOJONEGORO 116315 50091 1576 10 140 KAB. TUBAN 40207 32029 1421 4 150

(49)

Gambar

Tabel Diagram Grafik

Referensi

Dokumen terkait

The aim of this study are to analyze the text of female sexuality articles that realized in the women magazines (i.e. vocabulary, grammar, cohesion and text

Kebiasaan dalam pengelolaan pembuatan kue rumahan di Desa Lampanah memiliki kebiasaan kurang baik, hal ini di sebabkan karena pengelolaan kue rumahan oleh

a) Lingkungan perumahan merupakan bagian dari kawasan perkotaan sehingga dalam perencanaannya harus mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat atau dokumen

Error Lower Bound Upper Bound 95% Confidence Interval

1) Mathematics as a changing body of knowledge. Pandangan ini berfokus pada pendapat bahwa matematika adalah pengetahuan yang dinamis dan senantiasa berkembang. Perubahan

PEGADUNGAN I KALI DERES Peta Utara Rt.. PEGADUNGAN II KALI

Variabel penelitian ini terdiri dari tiga variabel yaitu variabel bebas (Produk Domestik Regional Bruto digambarkan dengan simbol PDB dan Tingkat suku

Hospital/health post (Tools: secondary data review, transect walk) Infrastructure types Types of Health Centre Numbe rs of Health Center s Numb er of Health worke rs