• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN ANTARA PELATIHAN DAN MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KASIH IBU MANADO TAHUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HUBUNGAN ANTARA PELATIHAN DAN MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KASIH IBU MANADO TAHUN"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

HUBUNGAN ANTARA PELATIHAN DAN MOTIVASI KERJA DENGAN KINERJA TENAGA KEPERAWATAN DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK KASIH IBU MANADO TAHUN 2017

Agrivani A. Soleman*, F.J.O. Pelealu*, Franckie R.R. Maramis* *Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado ABSTRAK

Pelayanan tenaga keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan ditunjukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Rumah sakit dituntut memiliki kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama pasien sebagai objek layanan. Untuk meningkatkan kinerja tenaga keperawatan di rumah sakit, dibutuhkan pelatihan. Selain pelatihan, motivasi juga sangat berpengaruh untuk meningkatkan kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui hubungan antara pelatihan dan motivasi kerja dengan kinerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Manado. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional atau studi potong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga keperawatan yang ada di RSIA Kasih Ibu Manado yang berjumlah 33 orang. Penelitian ini menggunakan uji chi square. Alat ukur menggunakan kuesioner yang sudah di uji validitas dan realibilitas. Cara pengukuran dengan menggunakan wawancara. Hasil uji menggunakan Uji Chi Square menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pelatihan dan kinerja tenaga keperawatan, dimana nilai p =0.520 lebih besar dari 0,05. Hasil uji menggunakan Uji Chi Square menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara motivasi dan kinerja tenaga keperawatan, dimana nilai p =0.611 lebih besar dari 0,05.

Kata Kunci: Pelatihan, Motivasi, Kinerja

ABSTRACT

The service of nursing is a form of a professional service which is an integral part of health service that is based on the science and trick of nursing that is pointed to the individual, family, group, or society, either healthy or sick. The hospital is demanded to have the performance in giving the service for the society particularly for the medical patient as the service object. For increasing the performance of nursing in the hospital, it needs the training. In addition to the training, the motivation also gives the big impact for increasing the performance. This research has a purpose to know the correlation between training and work motivation and performance of nursing in Kasih Ibu Hospital of Mother and Children in Manado. This research is a quantitative research that has the observational analytic characteristic with the cross sectional approach or studi potong lintang. The population in this research is the entire nurses who are in Kasih Ibu Hospital of Mother and Children in Manado that amount to 33 people. This research uses Chi Square testing. The measuring instrument is the questionnaire that has been tested its validity and reliability. The measure way uses the interview. The testing result by using Chi Square Testing shows that there is no meaning correlation between the training and the performance of nursing, where the value p = 0.520 is bigger than 0,05. The testing result by using Chi Square Testing shows that there is no meaning correlation between motivation and performance of nursing, where the value p = 0.611 is bigger than 0,05.

(2)

2 PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Hal ini merupakan upaya yang harus dilaksanakan oleh seluruh komponen bangsa Indonesia, agar pembangunan kesehatan dapat menjadi investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (Renstra Kemenkes RI, 2015). Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang ditetapkan dan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat (Departemen Kesehatan RI, 2015). Pelayanan yang bermutu dapat diberikan oleh rumah sakit kepada masyarakat, dengan mempersiapkan pelayanan yang ada dirumah sakit, diantaranya adalah pelayanan tenaga keperawatan. Pelayanan tenaga keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan

ditunjukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit (UUK NO 38 2014). Menghadapi era globalisasi saat ini, Rumah sakit dituntut memiliki kinerja dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terutama pasien sebagai objek layanan. Dalam rangka meningkatkan kinerja tenaga keperawatan di rumah sakit, dibutuhkan pelatihan. Menurut Mangkuprawira dan Hubies (2007) dalam buku Hamali (2016) pelatihan dibutuhkan agar meningkatkan keahlian karyawan/tenaga keperawatan agar semakin trampil dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, sesuai dengan standar kerja. Selain pelatihan, motivasi juga sangat berpengaruh untuk meningkatkan kinerja. Motivasi kerja penting karena dengan adanya motivasi kerja kepada individu maupun karyawan/tenaga keperawatan akan membuat mereka mau bekerja keras dan antusias untuk mencapai produktivitas kerja yang tinggi (Hasibuan, 2016). Dunia Keperawatan saat ini telah memperlihatkan paradigma keperawatan dimana profesi perawat dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang professional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2015) tentang Hubungan

(3)

3 Pendidikan Dan Pelatihan Dengan Kinerja Perawat Di Ruang Rawat Inap RSUD Cideras Kabupaten Majalengka Tahun 2015 menunjukan bahwa terdapat hubungan antara pelatihan dengan kinerja (p = 0,018 < 0,05).

Penelitian yang dilakukan oleh Rongkonusa (2015) tentang hubungan antara pendidikan, pelatihan dan motivasi kerja dengan kinerja perawat di RSUD kabupaten kepulauan talaud dengan kesimpulan ada hubungan antara pelatihan dan motivasi dengan kinerja perawat di RSUD Kabupaten Kepulauan Talaud.

Survei awal yang di lakukan di RSIA Kasih Ibu Kota Manado sampai saat ini belum ada penelitian tentang pelatihan dan motivasi kerja yang berhubungan dengan kinerja tenaga keperawatan. Penelitian ini seharusnya dibutuhkan karena kinerja pegawai akan sangat memengaruhi pelayanan kesehatan yang ada di rumah sakit. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang hubungan antara pelatihan dan motivasi kerja dengan kinerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Kota Manado.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang diambil merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional atau study potong lintang. Waktu penelitian

dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu bulan Maret-Mei 2017. Tempat Penelitian mengambil tempat di RSIA Kasih Ibu Manado. Populasi penelitian ini adalah seluruh tenaga keperawatan yang bekerja di RSIA Kasih Ibu Manado berdasarkan data kepegawaian yaitu berjumlah 33 orang. Sampel seluruh populasi tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu yang berjumlah 33 orang yang sudah memenuhi kritera Inklusi dan Eksklusi.

a. Kriteria Inklusi

1. Bersedia menjadi responden 2. Merupakan tenaga keperawatan

tetap RSIA Kasih Ibu Manado 3. Masa Kerja ≥ 1 Tahun

b. Kriteria Eksklusi

1. Tenaga keperawatan yang mengambil cuti dan sakit di RSIA Kasih ibu saat penelitian dilakukan Variabel dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel bebas:

- Pelatihan - Motivasi kerja

2. Variabel terikat: Kinerja Pegawai Instrumen penelitian dengan menggunakan:

1. Kuesioner: kuesioner yang sudah di uji validitas dan realibilitas

2. Alat Tulis Menulis 3. Kamera (Dokumentasi

Pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu:

(4)

4 1. Data primer yaitu data yang

diperoleh langsung dari responden berdasarkan kuesioner yang dibagikan untuk diisi.

2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari RSIA Kasih Ibu Manado berupa gambaran umum tempat penelitian dan data jumlah pegawai RSIA Kasih Ibu.

HASIL PENELITIAN

Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu diresmikan pada tanggal 16 Juli 2010, berlokasi di Jl. R. W. Monginsidi No.1 Kompkleks Bahu Mall Blok C.23 Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang Manado. Dengan lokasi yang sangat strategis, menjadikan Rumah Sakit Ibu dan Anak mudah untuk diakses oleh masyarakat yang membutuhkan jasa pelayanan kesehatan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Ibu Manado. Sebagian besar responden pernah mengikuti pelatihan yaitu berjumlah 23 orang (69,7%) dan responden yang tidak pernah mengikuti pelatihan berjumlah 10 orang (30,3%). Selanjutnya untuk motivasi, responden yang memiliki motivasi kerja baik ada 18 orang (54,5%) dan yang memiliki motivasi kerja kurang baik berjumlah 15 orang (45,5%). Distribusi responden menurut kinerja menunjukan bahwa yang memiliki kinerja yang baik berjumlah 17

orang (51,5%) dan kinerja kurang baik berjumlah 16 orang (48,5%)

Hasil analisis hubungan antara pelatihan dan kinerja tenaga keperawatan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hubungan antara Pelatihan dan Kinerja tenaga keperawatan

Pelatihan Kinerja Pegawai P value Kurang n % Baik n % Tidak Mengikuti Pelatihan Mengikuti Pelatihan 4 40 12 52,2 6 60 11 47,8 0.520 Total 16 48,49 17 51,51 Hasil penelitian menggunakan Uji Chi Square menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara pelatihan dan kinerja tenaga keperawatan, dimana nilai p = 0.520 > 0,05.

Hasil analisis hubungan antara motivasi dan kinerja tenaga keperawatan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hubungan antara Motivasi dan Kinerja tenaga keperawatan

Motivasi Kinerja Pegawai P value Kurang n % Baik n % Motivasi Kurang Baik Motivasi Baik 8 53 8 44 7 47 10 56 0.611 Total 16 48,49 17 51,51 Hasil penelitian menggunakan Uji Chi Square menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara Motivasi dan kinerja tenaga

(5)

5 keperawatan, dimana nilai p = 0.611 > 0,05.

PEMBAHASAN

Hubungan Antara Pelatihan Dan Kinerja Di RSIA Kasih Ibu Manado Hasil perhitungan statistik menggunakan chi square dalam penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pelatihan dengan kinerja tenaga keperawatan (nilai p = 0,520 > 0,05).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kasenda (2013) tentang hubungan antara pelatihan dan motivasi dengan kinerja perawat di ruang rawat inap RSUD Liunkendage Tahuna bahwa tidak terdapat hubungan antara pelatihan dan kinerja di Ruang Rawat Inap RSUD Liunkendage Tahuna dengan diperoleh hasil p = 0,748 > 0,05, Sejalan juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dai (2007) di ruang rawat inap Rumah Sakit Pancaran Kasih Manado dimana tidak terdapat hubungan antara pelatihan dengan kinerja perawat. Dengan demikian penelitian diatas dapat membuktikan bahwa tidak selamanya pelatihan, diklat yang dilaksanakan oleh suatu instansi/organisasi dapat merubah kinerja dari pegawai atau petugas. Penelitian diatas berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasanah (2015) tentang hubungan pendidikan

dan pelatihan dengan kinerja perawat dalam pelayanan kesehatan di RSUD Muntilan Regency Magelang yang menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pelatihan dan kinerja perawat yang ada di RSUD tersebut. Secara logika akan membenarkan bahwa sebenarnya pelatihan memiliki hubungan yang signifikan dan positif dengan kinerja karena ketika seseorang mengikuti pelatihan ia menginginkan dirinya untuk dilatih agar kinerjanya semakin baik apalagi jika pelatihan tersebut diberikan dari intsansi atau organisasi pasti dari instansi/organisasi tersebut menginginkan kinerja pegawai atau petugas mereka meningkat dan menjadi lebih baik.

Pada kenyataan juga dalam hasil penelitian di atas menunjukan bahwa sebagian besar tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu sudah mengikuti pelatihan yaitu 23 orang (69,7%) dan yang tidak pernah mengikuti pelatihan 10 orang (30,3%). Akan tetapi jika dihubungkan dengan hasil penelitian kinerja maka akan di dapati hasil yaitu yang tidak pernah mengikuti pelatihan kinerja kurang baik berjumlah 4 orang (40%), yang tidak pernah mengikuti pelatihan kinerja baik berjumlah 6 orang (60%), yang pernah mengikuti pelatihan kinerja kurang baik berjumlah 12 orang (52,2%) dan yang pernah mengikuti pelatihan kinerja baik berjumlah 11

(6)

6 orang (47,8%). Dari hasil ini bisa dilihat masih ada 12 orang (52,2%) tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Manado yang sudah mengikuti pelatihan tetapi memiliki kinerja yang kurang baik sehingga mempengaruhi ada tidaknya hubungan yang signifikan antara pelatihan dan kinerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu tersebut.

Dari hasil observasi dan wawancara dengan tenaga keperawatan dan kepala rumah sakit RSIA Kasih Ibu didapati bahwa sebagian besar tenaga keperawatan mengikuti pelatihan kesehatan pada umumnya. Seharusnya mereka harus mengikuti pelatihan yang sesuai dengan instansi tempat dimana mereka bekerja yaitu pelatihan seputar tentang ibu dan anak. Hal ini bisa terjadi juga karena ada faktor lain yang mempengaruhi kinerja dari tenaga keperawatan tersebut. Seperti faktor lingkungan kerja, rekan kerja, kepemimpinan/organisasi, atau faktor dari diri sendiri yang menganggap remeh pelatihan yang diikuti dan tetap memakai cara lama dalam bekerja dan memberikan pelayanan.

Hubungan Antara Motivasi Dan Kinerja di RSIA Kasih Ibu Manado Hasil perhitungan statistik menggunakan chi square dalam penelitian ini

menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara pelatihan dengan kinerja tenaga keperawatan (nilai p = 0,611 > 0,05). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sagala dan Fathi (2012) tentang motivasi dan kinerja perawat pelaksana dalam memberikan asuhan keperawatan di RSUP H. Adam Malik Medan yang menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dan kinerja dengan hasil penelitian p = 0,182 > 0,05.

Penelitian ini memiliki hasil yang sama juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Mulyono dkk (2013) yaitu faktor yang mempengaruhi terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Tingkat III Ambon bahwa motivasi tidak ada pengaruh yang signifikan dengan kinerja perawat yang ada di rumah sakit tersebut dengan hasil penelitian p value: 0,615 > 0,05. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasniah (2013) yaitu hubungan motivasi kerja dengan kinerja perawat di unit rawat inap RSUD Salewangan Maros menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja. Secara logika juga membenarkan bahwa motivasi memiliki pengaruh dalam peningkatan kinerja. Orang yang memiliki motivasi kurang baik pasti kinerjanya kurang dan orang yang

(7)

7 memiliki motivasi yang baik pasti kinerjanya juga baik. Tapi perlu diingat bahwa berbicara tentang motivasi kita akan dapat melihat berbagai varian yang terlibat dalamnya seperti karakter individu (tingkat kebutuhan), sikap dan minat, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik lingkungan kerja yang akan mempengaruhinya. Sehingga tidak selamanya orang yang memiliki motivasi kurang, kinerjanya tidak baik begitupun sebaliknya. RSIA Kasih Ibu sendiri adalah Rumah Sakit swasta yang memiliki manajemen yang cukup teratur dan memiliki Standard Operation Procedure (SOP) yang jelas. Oleh sebab itu setiap tenaga keperawatan yang bekerja di RSIA Kasih Ibu sudah punya patokan yang jelas, yaitu bekerja sesuai dengan SOP yang berlaku. Sehingga tidak memerlukan motivasi yang kuat dari dalam diri mereka untuk memiliki kinerja yang baik. Karena jika mereka sudah bekerja sesuai dengan SOP maka kinerja mereka sudah bisa dikatakan baik. Dari hal tersebut memperkuat data dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa tidak ada hubungannya motivasi kerja mereka dengan kinerja. Hasil penelitian dari data di atas juga menunjukan bahwa yang memiliki motivasi kurang baik kinerja kurang berjumlah 8 orang (53%), yang memiliki motivasi kurang tapi kinerja baik berjumlah 7 orang (47%), yang memiliki

motivasi baik tapi kinerja kurang berjumlah 8 orang (44%) dan yang memiliki motivasi baik kinerja baik berjumlah 10 orang (56%). Bisa dilihat tidak ada perbedaan yang signifikan antara orang-orang atau tenaga keperawatan yang memiliki motivasi kerja yang kurang baik dan memiliki motivasi kerja yang baik sehinnga membuat motivasi dan kinerja tidak memiliki hubungan yang signifikan.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Sebagian besar tenaga keperawatan

di RSIA Kasih Ibu Manado sudah mengikuti pelatihan (69,7%).

2. Motivasi Kerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Manado sudah cukup baik (54,5%).

3. Kinerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Manado sudah cukup baik (51,5%).

4. Hasil penelitian antara pelatihan dengan kinerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Manado tidak terdapat hubungan yang signifikan/bermakna p = 0.520 > 0.05.

5. Hasil penelitian antara motivasi dengan kinerja tenaga keperawatan di RSIA Kasih Ibu Manado tidak

(8)

8 terdapat hubungan yang signifikan/ bermakna p = 0.611 > 0.05.

SARAN

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, maka saran yang dapat dikemukakan oleh penulis adalah sebagai berikut:

1. Kepada pihak pimpinan RSIA Kasih Ibu, dalam rangka untuk meningkatkan kinerja tenaga keperawatan disarankan agar dapat memberikan pengarahan kepada setiap tenaga keperawatan yang ada untuk memilih dan mengambil pelatihan yang sesuai dengan tempat instansi mereka bekerja dan memberi kesempatan kepada tenaga keperawatan yang belum mengikuti pelatihan untuk mengikuti pelatihan. Serta memberikan motivasi bagi tenaga keperawatan yang motivasi kerjanya masih kurang baik.

2. Menambah jumlah tenaga keperawatan

3. Perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui faktor-faktor lain yang berhubungan dengan kinerja tenaga keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2017. Profil RSIA Kasih Ibu Manado Tahun 2017

Duminggu F. 2015. Hubungan antara pendidikan dan pelatihan serta penghargaan dengan kinerja perawat di ruang rawat inap RSU Pancaran Kasih GMIM Manado. Skripsi tidak diterbitkan. Manado: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi

Fahmi I. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia Teori dan Aplikasi. Bandung: CV. Alfabeta

Feriyanto A. dan Triana E.S. 2015. Pengantar Manajemen (3 in 1). Jakarta: Mediatara

Hamali A.Y. 2016. Pemahaman Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogykarta: CAPS (Center for Academik Publishing Service)

Hasanah L. 2015. Hubungan Pendidikan Dan Peelatihan Dengan Kinerja Perawat Dalam Pelayanan Kesehatan Di RS UD Muntilan Kabupaten Magelang. Diakses Pada 17 Juli 2017.

Hasibuan H.M.S.P. 2016. Organisasi dan Motivasi. Dasar Peningkatan Produktivitas. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Hasniah dkk. 2013. Hubungan Motivasi Kerja Dengan Kinerja Perawat Di Unit Rawat Inap RSUD Salewengan Maros. Diakses pada 17 Juli 2017.

(9)

9 Kasenda A. 2013. Hubungan Antara

Pelatihan Dan Motivasi Dengan Kinerja Perawat Di Ruang Rawat Inap Rsud Liunkendage Tahuna. Jurnal. Diakses pada 1 April 2017. Kaswan. 2013. Pelatihan dan

Pengembangan untuk

Meningkatkan kinerja SDM. Bandung: CV. Alfabeta

Kereh H.M. 2015. Hubungan Antara Pelatihan dan Motivasi dengan kinerja perawat diruang rawat inap Rumah Sakit Tingkat II Robert Wolter Monginsidi Manado 2015. Skripi tidak diterbitkan. Manado: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sam Ratulangi Kurniawan. W. 2015. Hubungan

Pendidikan Dan Pelatihan Dengan Kinerja Perawat Di Ruang Rawat Inap RSUD Cideres Kabupaten Majalengka Tahun 2015. Diakses pada 23 Juli 2017. Mangkunegara A. 2014. Evaluasi

Kinerja SDM. Bandung: Refika Aditama Mulyono dkk. 2013. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Tingkat III 16.06.01 Ambon. Diakses pada 17 Juli 2017.

Notoatmodjo S. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Rongkonusa P.M. 2015. Hubungan Antara Pendidikan, Pelatihan Dan Motivasi Kerja Dengan Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Umum Daerah (Rsud) Kabupaten Kepulauan Talaud. Jurnal:

http://medkesfkm.unsrat.ac.id/wpc ontent/uploads/2015/11/Paulini-Merry-Rongkonusa.pdf. Diakses pada 1 April 2017.

Sagala. N. S dan Fathi.A. 2012. Motivasi Dan Kinerja Perawat Pelaksana Dalam Memberikan Asuhan Keperawatan Di RSUP. H. Adam Malik Medan. Diakses pada 23 juli 2017

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat di simpulkan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan metode kooperatif jigsaw mata pelajaran Ekonomi pada

Pada saat pemberitaan yang dilakukan pers telah memenuhi unsur-unsur tindak pidana pencemaran nama baik, maka yang akan digunakan adalah Pasal yang mengatur

Selaras dengan rumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) untuk mengetahui pemahaman wirausahawan kecil dan mene- ngah

Penelitian mini ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud tindak tutur berupa lokusi, ilokusi, dan perlokusi yang terdapat dalam wawancara wartawan RCTI, Putra

Pengamatan panjang akar dilakukan pada saat akhir pengamatan 90 HST, dengan cara membongkar bibit dari polibeg dan membersihkan akar dari tanah. Pengukuran dilakukan

Content Creation , Content Sharing , Connecting, dan Word or mouth adalah dimensi dari social media marketing yang paling memengaruhi niat beli konsumen Mboktaya

Selanjutnya, pengambilan telur dan sperma 1) Ikan mas (Cyprinus carpio L) betina dan jantan diletakkan dalam satu kolam pemijahan sampai memijah kemudian dilakukan stripping.

2. Guru mempersiapkan alat media seperti laptop, proyektor, layar, dll. Guru menyiapkan video yang akan ditampilkan sesuai dengan tema yang diajarkan dan memastikan