• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN SKRIPSI. Disusun Oleh: DENI EVIANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RINGKASAN SKRIPSI. Disusun Oleh: DENI EVIANA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA BERBASIS MASALAH PADA MATERI INTERAKSI MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN

UNTUK SISWA KELAS VII SMP

RINGKASAN SKRIPSI

Disusun Oleh: DENI EVIANA

10416241018

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2014

(2)

1

PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN SISWA BERBASIS MASALAH PADA MATERI INTERAKSI MANUSIA DENGAN LINGKUNGAN

UNTUK SISWA KELAS VII SMP

OLEH:

Deni Eviana dan Supardi, M.Pd ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Lembar Kegiatan Siswa (LKS) berbasis masalah serta mengetahui tingkat kelayakan LKS berbasis masalah berdasarkan validasi dari ahli materi, ahli media, dan guru IPS, serta mengetahui tanggapan siswa kelas VII melalui uji coba lapangan. Penelitian ini dilatarbelakangi karena LKS berbasis masalah belum banyak dikembangkan di sekolah. Selain itu belum banyak dikembangkan bahan ajar sesuai dengan kurikulum 2013 yang menerapkan pendekatan saintifik.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and

Development). Tahapan pengembangan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk (desain produk), serta uji lapangan dan revisi produk akhir. Pada tahap uji lapangan dan revisi produk akhir, produk LKS berbasis masalah divalidasi oleh ahli materi dan ahli media kemudian dilakukan revisi tahap I, selanjutnya divalidasi oleh Guru IPS, kemudian dilakukan revisi tahap II. Setelah revisi tahap II, kemudian dilakukan uji coba lapangan pada siswa kelas VII di SMPN 1 Wonosari. Uji coba lapangan terbatas pada kelas VIIF yang berjumlah 20 siswa. SMPN 1 Wonosari dijadikan sasaran penelitian dan pengembangan ini karena SMP tersebut sudah menerapkan Kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah instrumen berupa angket. Data hasil penilaian tersebut dikonversikan dengan skala likert, untuk menentukan kategori kelayakan LKS berbasis masalah.

Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk berupa LKS berbasis masalah dengan judul “Memecahkan Masalah Lingkungan”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKS berbasis masalah dengan judul “Memecahkan Masalah Lingkungan” pada materi Interaksi Manusia dengan Lingkungan untuk Siswa kelas VII SMP layak untuk digunakan. Hasil tersebut berdasarkan pada hasil validasi a) ahli materi sebesar 4,36 atau Sangat Baik, b) ahli media sebesar 3,725 atau Baik, c) Guru sebesar 3,96 atau Baik, dan d) respon siswa sebesar 4,244 atau Sangat Baik. Berdasarkan penjelasan tersebut, secara umum LKS berbasis masalah pada materi Interaksi Manusia dengan Lingkungan untuk siswa kelas VII telah layak digunakan.

(3)

2

A. PENDAHULUAN

Kehidupan manusia dalam masyarakat yang semakin modern mendorong adanya perubahan sosial. Taraf kehidupan yang semakin berkembang dalam hal teknologi, pendidikan, seni, sosial, dan budaya menyebabkan banyak ketimpangan terjadi, terutama pada masyarakat yang belum siap menerima perubahan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan sosial tersebut dapat menyebabkan adanya permasalahan sosial. Permasalahan sosial sering timbul jika tidak ada keselarasan dalam kehidupan masyarakat. Semakin cepatnya perubahan sosial maka akan semakin kompleks pula permasalahan sosial jika perubahan sosial tersebut tidak disertai dengan sikap yang kritis dan bijaksana.

Perubahan sosial berdampak salah satunya pada dunia pendidikan di sekolah. Sekolah yang merupakan lembaga pendidikan harus menjadi filter adanya pengaruh-pengaruh dari luar yang menyebabkan perubahan sosial. Selain itu pendidikan di sekolah harus mampu melatih siswa untuk mengatasi permasalahan sosial yang sering terjadi karena adanya perubahan sosial. Oleh karena itu, diperlukan suatu strategi untuk mengembangkan kepekaan sosial sehingga siswa memiliki sikap kritis dalam memecahkan permasalahan sosial.

Salah satu strategi untuk mengembangkan kepekaan sosial tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Menurut Supardi (2011: 187) tujuan pembelajaran IPS adalah untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan inkuiry, serta mampu memecahkan permasalahan sosial.

Tujuan IPS tidak akan tercapai dengan pembelajaran yang hanya diisi dengan kegiatan membaca dan menghafal. Pembelajaran IPS harus memfokuskan perannya pada upaya melahirkan perilaku-perilaku sosial yang berdimensi personal, dimensi sosiokultural, dimensi spiritual, dan dimensi intelektual (Supardi, 2011: 190).

Pencapaian tujuan IPS tersebut memerlukan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Pembelajaran yang awalnya terpusat pada guru (teacher centre) diubah menjadi pembelajaran yang terpusat pada siswa (student centre). Hal tersebut dapat membiasakan siswa peka terhadap lingkungannya. Selain itu untuk melatih kepekaan sosial sebaiknya dalam pembelajaran IPS disajikan materi-materi yang selalu berhubungan dengan permasalahan sosial yang dapat dipecahkan oleh siswa.

Berdasarkan uraian di atas sangat diperlukan suatu pembelajaran yang dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah. Siswa harus dibiasakan mengkaji suatu

(4)

3

masalah yang ada di lingkungannya. Hal tersebut akan melatih kepekaan sosial siswa, sehingga mampu mengkritisi setiap keadaan yang ada.

Pembelajaran yang dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah perlu didukung oleh semua komponen yang terlibat dalam pembelajaran. Salah satu komponen tersebut adalah bahan ajar. Guru harus menggunakan bahan ajar yang mampu melatih siswa untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah. Selain itu, siswa harus aktif di dalam kelas, sehingga pembelajaran tidak terpusat pada guru. Namun kenyataan yang terjadi di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tingkat sekolah menengah pertama, kurang menyediakan bahan ajar yang dapat mengaktivasi siswa. Siswa jarang dikenalkan dengan pemecahan masalah.

Sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah menengah pertama, IPS harus disampaikan semenarik mungkin dengan bahan ajar yang berbeda. Bahan ajar IPS yang seharusnya dikembangkan di sekolah adalah bahan ajar yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Selain itu disesuaikan dengan kurikulum yang diberlakukan saat ini yaitu Kurikulum 2013. Kurikulum tersebut mengamanatkan, pembelajaran harus dilaksanakan dengan pendekatan saintifik.

Di dalam Kurikulum 2013 menekankan tiga model pembelajaran yaitu

Problem Based Learning (PBL), Project Based Learning (PjBL), dan discovery learning. Problem Based Learning (PBL) merupakan suatu model dalam pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah. Pembelajaran dapat dirancang untuk melatih siswa berfikir kritis dan memecahkan masalah.

Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik serta fokus pada pengembangan kemampuan siswa memecahkan masalah dapat menjadi suatu pertimbangan dalam penyusunan bahan ajar IPS. LKS berbasis masalah dapat dijadikan sebagai inovasi bahan ajar baru dalam pembelajaran IPS. Karena LKS berbasis masalah dapat didesain dengan pendekatan saintifik serta dapat menyajikan topik berupa permasalahan pada setiap kegiatan di dalamnya. Setiap kegiatan dapat disesuaikan dengan alur berfikir siswa, yaitu mulai dari mengamati, menanya, mencari informasi, berdiskusi, dan mengkomunikasikan. Hal tersebut sangat sesuai dalam Kurikulum 2013.

Saat ini sudah banyak LKS yang digunakan sebagai bahan ajar IPS di sekolah menengah pertama. Namun masih jarang yang berbasis pada masalah, padahal

(5)

4

pembelajaran IPS sangat berkaitan dengan permasalahan sosial. Pada umumnya LKS yang digunakan sebagai bahan ajar saat ini masih berisi ringkasan dan latihan soal. Latihan soal sebagian besar merupakan soal objektif dalam bentuk pilihan ganda dan isian singkat yang belum mengaktivasi siswa untuk belajar memecahkan masalah.

Berdasarkan permasalahan yang muncul tentang pembelajaran IPS di atas, maka peneliti tertarik untuk mengembangkan bahan ajar berupa LKS berbasis masalah. Materi yang akan diterapkan adalah interaksi manusia dengan lingkungan dan penyajian permasalahan disusun dengan menyesuaikan materi yang akan disampaikan. Penelitian yang akan dilaksanakan berjudul “Pengembangan LKS Berbasis Masalah pada Materi Interaksi Manusia dengan Lingkungan untuk Siswa Kelas VII SMP”. Dalam kegiatan pengembangan tersebut akan diketahui bagaimana cara mendesain LKS berbasis masalah serta mengetahui LKS berbasis masalah yang layak digunakan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran IPS berdasarkan validasi ahli materi, ahli media, dan guru IPS, serta uji coba lapangan yang dilakukan pada siswa kelas VII SMP.

B. KAJIAN TEORI

1. Hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan mata pelajaran yang terintegrasi dari berbagai Ilmu Sosial. Numan Somantri (2001: 44), menjelaskan Pendidikan IPS adalah suatu integrasi disiplin Ilmu-Ilmu Sosial, Psikologi, Filsafat, Ideologi Negara, dan Agama yang diorganisasikan serta disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan. Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang merupakan integrasi dari Ilmu-Ilmu Sosial yang dibutuhkan oleh siswa untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya serta mampu memecahkan masalah dengan pendekatan interdisipliner.

IPS di tingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan siswa sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai, serta tindakan (Sapriya, 2011: 12). Pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta tindakan tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Numan Somantri (2001: 44) menjelaskan bahwa tujuan Pendidikan IPS pada tingkat sekolah adalah menekankan tumbuhnya nilai kewarganegaraan, moral,

(6)

5

ideologi negara, dan agama; menekankan pada isi dan metode berfikir ilmuwan serta reflective inquiry. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa IPS memiliki tujuan untuk menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, serta keberanian siswa untuk berpartisipasi aktif sesuai norma dalam kehidupan mereka. Supardi (2011: 186) menjelaskan karakteristik IPS dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, di antaranya adalah menurut sifat dan statusnya, materi, tujuan, serta menurut prinsip pengembangan program pembelajaran. IPS dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritis melalui kegiatan memahami, mengidentifikasi, menganalisis, dan kemudian memiliki keterampilan sosial. Berdasarkan karakteristiknya, pembelajaran IPS menyangkut permasalahan sosial, sehingga harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih memecahkan masalah. Kemampuan berfikir kritis dapat dikembangkan dalam proses memecahkan masalah melalui kegiatan memahami, mengidentifikasi, menganalisis, dan pada akhirnya siswa memiliki keterampilan sosial. Selain itu karakteristik tersebut menuntut guru untuk menciptakan suasana belajar menyerupai lingkungan aslinya yaitu masyarakat. Guru dapat menyajikan permasalahan yang dekat dengan siswa sehingga siswa dapat merasakan pembelajaran yang lebih konstektual. 2. Bahan Ajar dalam Pembelajaran IPS

Bahan ajar merupakan salah satu perangkat dalam pembelajaran. Bahan ajar mampu mendorong siswa untuk belajar mandiri dan tidak hanya mengandalkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi dalam pembelajaran. Menurut Abdul Majid (2008: 173) bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Bahan ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi secara runtut dan sistematis sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh.

Trianto (2010: 188) menjelaskan bahan ajar adalah bahan material/sumber belajar yang mengandung substansi kemampuan tertentu yang akan dicapai oleh siswa. Secara garis besar bahan ajar mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dipelajari oleh siswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Berdasarkan pendapat yang dikemukakan ahli di atas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar adalah segala sarana atau alat pembelajaran baik tertulis maupun

(7)

6

tidak tertulis yang mengandung substansi kompetensi tertentu serta evaluasi untuk dicapai oleh siswa. Selain itu bahan ajar juga berperan untuk mendukung pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa.

Bahan ajar yang berperan sebagai perangkat pembelajaran terbagi dalam beberapa jenis. Menurut Abdul Majid (2008) jenis-jenis bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran diantaranya: 1) bahan ajar cetak yang meliputi

handout, buku, modul, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), brosur, leaflet, wallchart,

foto/gambar, dan model atau maket; 2) bahan ajar audio meliputi kaset/piringan hitam/compact disk, tape recorder, dan radio; 3) bahan ajar audio visual; 3) bahan ajar interaktif.

Muhammad Yaumi (2013: 250) menjelaskan bahwa berdasarkan format atau bentuknya bahan ajar terbagi menjadi tiga jenis yaitu bahan cetak, bahan bukan cetak, dan kombinasi cetak dan bukan cetak. Bentuk bahan cetak biasanya dalam bentuk buku kerja modular, sedangkan bentuk bukan cetak dapat berupa audio, video, dan komputer. Selanjutnya juga dikenal bahan ajar kombinasi bahan cetak dan bukan cetak seperti buku audio dan teks yang banyak digunakan dalam situs jejaring dalam bentuk digital namun dapat dicetak melalui mesin cetak.

Berdasarkan beberapa pendapat dari ahli di atas terdapat berbagai jenis bahan ajar diantaranya bahan ajar cetak, bahan ajar bukan cetak, serta bahan ajar kombinasi cetak dan bukan cetak. Namun suatu bahan ajar dapat digolongkan pula dalam bahan ajar visual, bahan ajar audio, bahan ajar audio visual, serta bahan ajar interaktif. Berdasarkan beberapa jenis bahan ajar di atas, bahan ajar yang dikembangkan pada penelitian ini adalah jenis bahan ajar cetak berupa LKS.

Bahan ajar dipersiapkan dan dikonstruksi secara sengaja oleh guru untuk dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditentukan dalam kurikulum. Chomsin (2008: 40) menjelaskan manfaat dari adanya bahan ajar di antaranya adalah: 1) digunakan oleh guru untuk membantu tugas mereka dalam proses belajar mengajar; 2) kegiatan belajar mengajar akan lebih efektif; 3) guru akan lebih banyak waktu untuk membimbing siswa dalam pembelajaran; dan 4) siswa memperoleh pengetahuan baru dari sumber lain selain guru.

Muhammad Yaumi (2013: 246) menjelaskan manfaat bahan ajar adalah sebagai representasi sajian guru; sebagai sarana pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran; dan sebagai optimalisasi pelayanan terhadap siswa. Berdasarkan

(8)

7

uraian di atas, manfaat adanya bahan ajar adalah meningkatkan produktifitas pendidikan. Kehadiran bahan ajar akan memberikan manfaat bagi siswa maupun guru. Bagi siswa adanya bahan ajar akan mendukung proses belajar mandiri tanpa tergantung dengan kehadiran guru. Bahan ajar akan mempermudah siswa untuk memahami kompetensi yang harus mereka kuasai, sedangkan bagi guru kegiatan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar akan membantu mengatur penggunaan waktu. Selain itu guru dapat melatih siswa untuk belajar mandiri.

Memilih bahan ajar hendaknya harus didasarkan atas kriteria tertentu. Pemilihan bahan ajar juga harus disesuaikan dengan beberapa hal dalam pembelajaran. Menurut Azhar Arsyad (2011: 75) dalam memilih bahan ajar harus memperhatikan beberapa kriteria, di antaranya: kesesuaian dengan tujuan yang ingin dicapai; tepat untuk mendukung isi pelajaran yang sifatnya fakta; konsep; prinsip atau generalisasi; bahan ajar harus bersifat praktis, luwes, dan dapat bertahan dalam situasi dan kondisi apapun; guru terampil untuk menggunakannya; sesuai dengan sasaran (perorangan, kelompok kecil, atau kelompok besar); serta bahan ajar harus memiliki mutu teknis. Dengan kata lain kriteria yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan bahan ajar diuraikan sebagai berikut: 1) kesesuaian dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi yang akan dicapai; 2) subjek dari pembelajaran yaitu siswa yang mencakup karakteristik, jumlah, dan latar belakang sosial siswa; 3) Karakteristik bahan ajar yang bersangkutan menyangkut kelebihan dan kekurangan suatu bahan ajar; 4) sesuai dengan waktu pelajaran; 5) sesuai dengan ketersediaan biaya; 6) kemudahan dalam memperoleh bahan ajar; 7) konteks penggunaan bahan ajar dalam pembelajaran; 8) ketersediaan bahan ajar serta sarana dan prasarana pendukungnya.

3. Lembar Kegiatan Siswa Sebagai Bahan Ajar

Salah satu bahan ajar yang dapat membantu siswa maupun guru dalam proses pembelajaran adalah Lembar Kegiatan Siswa yang selanjutnya disebut LKS. LKS adalah bahan ajar cetak yang merupakan panduan siswa untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah (Trianto, 2010: 111). LKS dapat dijadikan sebagai bahan ajar bagi siswa untuk belajar memecahkan masalah. LKS merupakan lembar kerja atau lembar kegiatan dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler yang mendukung siswa untuk lebih memahami materi pelajaran yang diperoleh selama pembelajaran (Lalu Muhammad Azhar, 1993 :79).

(9)

8

Berdasarkan uraian di atas, LKS merupakan bahan ajar cetak yang berfungsi untuk memandu siswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. LKS harus merangkum kegiatan-kegiatan yang mampu membimbing siswa mencapai tujuan pembelajaran.

Sebagai bahan ajar LKS memberikan manfaat bagi siswa maupun guru, karena mendukung proses pembelajaran. Trianto (2010:111) menjelaskan manfaat LKS yaitu dapat memandu siswa dalam melakukan kegiatan penyelidikan. Setiap langkah kegiatan yang tersusun membantu siswa berfikir lebih runtut. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran mandiri, karena dapat digunakan di dalam kelas maupun di rumah.

Lalu Muhammad Azhar (1993: 79) mempertegas bahwa LKS berperan untuk mengaktivasi siswa dalam pembelajaran yang berproses. LKS dapat digunakan dalam pembelajaran yang mencerminkan banyak kegiatan misalnya mulai dari kegiatan pengamatan sampai penerapan dan mengkomunikasikan hasil. Dapat disimpulkan LKS dapat membimbing siswa untuk belajar mandiri. Seorang guru hanya sebagai fasilitator tidak harus menjadi satu-satunya sumber informasi. Selain itu siswa akan terlatih untuk berfikir lebih runtut dengan mengikuti tahap kegiatan dalam LKS. Bagi guru, LKS membantu menyajikan berbagai kegiatan serta mempertimbangkan proses berfikir yang akan ditumbuhkan pada diri siswa. Namun, sebagai bahan ajar cetak atau visual LKS memiliki beberapa keterbatasan. Azhar Arsyad (2011: 39) menjelaskan beberapa keterbatasan LKS ialah: 1) sulit menampilkan gerak dalam halaman LKS; 2) biaya percetakanakan bertambah mahal jika semakin banyak menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna; 3) proses percetakan lama; 4) pembagian tiap unit materi harus dirancang ssemenarik mungkin agar tidak terlalu panjang, karena itu akan menyebabkan siswa cepat bosan; 5) cenderung menekankan tujuan pembelajaran yang bersifat kognitif.

Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa LKS memiliki banyak kekurangan diantaranya kurang efektif dan efisien dalam hal waktu percetakan dan pembiayaan, cenderung membosankan, dan mudah rusak. Namun pengembangan LKS berbasis masalah yang mempertimbangkan kebutuhan siswa serta meminimalisir setiap keterbatasan yang ada akan terwujud bahan ajar cetak yang layak digunakan.

(10)

9

Menurut Abdul Majid (2006: 174) dalam penyusunan bahan ajar minimal mencakup beberapa hal, di antaranya adalah petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja dapat berupa Lembar Kerja (LK), serta evaluasi. LKS sebagai bahan ajar minimal harus memiliki unsur-unsur tersebut. Salah satu bagian penting dari unsur LKS adalah latihan-latihan. Latihan-latihan tersebut harus mampu mendorong terwujudnya tujuan pembelajaran melalui beberapa kegiatan. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam LKS meliputi kegiatan untuk melakukan, mengamati, dan menganalisis materi pembelajaran (Martiyono, 2012: 136). Menurut Trianto (2010: 112) LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh. Komponen-komponen LKS meliputi judul eksperimen, teori singkat tentang materi, alat dan bahan, prosedur eksperimen, data pengamatan serta pertanyaan dan kesimpulan untuk bahan diskusi.

Berdasarkan uraian di atas, unsur-unsur yang harus terpenuhi dalam LKS sebagai bahan ajar IPS adalah judul atau tema, petunjuk belajar (petunjuk untuk siswa dan guru), kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja dapat berupa Lembar Kerja (LK), serta evaluasi. Evaluasi yang disajikan dalam LKS harus memuat evaluasi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap (sosial dan spiritual) siswa selama proses mencapai kompetensi yang ada dalam LKS tersebut. Sedangkan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam LKS meliputi mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan. Hal ini disesuaikan dengan pendekatan saintifik dalam Kurikulum 2013.

Penyusunan LKS memerlukan ketelitian. Hal tersebut karena LKS harus disesuaikan dengan beberapa hal yang terlibat dalam proses pembelajaran. Menurut Lalu Muhammad Azhar (1993:78) dalam menyusun LKS, harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: 1) siswa; 2) alokasi waktu; 3) urutan bahan yang akan disajikan dalam pembelajaran; 4) rangkaian perkembangan proses berfikir yang akan dikembangkan pada siswa; 5) ketrampilan-ketrampilan yang akan dikembangkan; serta 6) penilaian (evaluasi).

(11)

10

Menurut Martiyono (2012: 126) secara garis besar ada tiga langkah dalam penyusunan bahan ajar yaitu: 1) analisis kebutuhan bahan ajar yang meliputi analisis kurikulum, analisis sumber belajar, serta pemilihan dan penyusunan bahan ajar, 2) penyusunan peta bahan ajar, dan 3) pengembangan struktur bahan ajar. Proses penyusunan dimulai dari identifikasi seluruh kompetensi, menurunkan kompetensi ke dalam indikator, mengidentifikasi jenis isi materi pembelajaran, mencari sumber-sumber materi pembelajaran, dan penyusunan naskah (Martiyono, 2012: 126). Hasil akhir dari penyusunan ini dapat berupa modul, lembar kerja, buku, e-book, diktat, hand out, dan sebagainya.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, penyusunan LKS dapat dilakukan melalui analisis kebutuhan bahan ajar; analisis kurikulum; kemudian menganalisis Kurikulum Inti dan Kurikulum Dasar; analisis materi, menyusun peta kebutuhan bahan ajar, menentukan judul LKS, kemudian menyusun LKS.

4. Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based Learning (PBL)

Pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning yang selanjutnya disebut PBL merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan. PBL adalah seperangkat model mengajar yang menggunakan masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, dan pengaturan diri (Hmelo-Silver (2004) dalam Paul Eggen dan Don Kauchak, 2012: 307).

PBL merupakan proses pembelajaran yang menggunakan suatu permasalah sebagai topik utamanya. Penyajian permasalahan tersebut diharapkan dapat mendorong siswa berfikir kritis dan berlatih memecahkan permasalahan yang ada. Secara tegas Yatim Rianto (2010: 285) menjelaskan PBL adalah suatu model pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Berdasarkan pendapat dari para ahli dapat disimpulkan bahwa PBL adalah pendekatan pembelajaran yang didasarkan pada sebuah masalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berfikir kritis dan memecahkan masalah.

Tan (2003) dalam Taufiq Amir, 2010: 22) menjelaskan proses PBL memiliki beberapa karakteristik: 1) masalah terjadi di dunia nyata digunakan sebagai awal pembelajaran; 2) masalah menuntut perspektif majemuk (multiple persective), 3) membuat siswa tertantang untuk mendapatkan pembelajaran di ranah pembelajaran

(12)

11

yang baru; 4) mengutamakan belajar mandiri (self directed learning); 5) memanfaatkan sumber pengetahuan yang bervariasi, tidak terbatas pada satu sumber saja; 6) pembelajarannya kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa karakteristik PBL adalah penyajian pembelajaran dengan masalah yang autentik (nyata terjadi dan dekat dengan siswa); pemecahan masalah menggunakan pendekatan interdisipliner; masalah yang disajikan menjadikan pembelajaran lebih menantang bagi siswa; mengutamakan belajar mandiri tanpa harus tergantung pada guru; menggunakan sumber informasi yang bervariasi, sehingga guru bukanlah satu-satunya sumber; serta PBL mendorong siswa untuk belajar secara kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif dengan teman sebaya maupun guru mereka.

Keunggulan utama dalam PBL adalah pada perancangan masalah yang menjadi fokus dalam pembelajaran. Adanya penyajian permasalahan siswa akan terbiasa untuk berfikir kritis dan akan berusaha mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

Wina Sanjaya (2010: 220) yang menjelaskan beberapa keunggulan PBL sehingga penting untuk diterapkan dalam pembelajaran, keunggulan tersebut di antaranya:

a) Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa serta dapat mempermudah memahami isi pelajaran.

b) Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa, mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata. Siswa akan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

c) Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis menyesuaikan dengan pengetahuan baru.

d) Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa PBL sangat sesuai diterapkan dalam proses pembelajaran IPS. Pembelajaran PBL memiliki fokus pada permasalahan nyata yang terjadi di lingkungan siswa. Kemudian siswa dilatih untuk memecahkan permasalahan tersebut. Selain itu PBL mampu

(13)

12

mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah, sehingga memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki.

Pembelajaran berbasis masalah melibatkan presentasi situasi-situasi autentik dan bermakna yang berfungsi sebagai landasan bagi penyelidikan oleh siswa. Unsur-unsur PBL menurut Arens (Agus Suprijono, 2012: 71) adalah permasalahan autentik, fokus interdisipliner, investigasi autentik, adanya produk, dan kolaborasi.

Unsur yang harus ada dalam PBL adalah permasalahan yang nyata dan dekat serta sesuai dengan taraf berfikir siswa. Masalah yang disajikan harus diselesaikan dengan pendekatan interdisipliner yaitu siswa didorong untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan berbagai perspektif keilmuan. Siswa harus memberikan solusi yang nyata pada masalah yang disajikan. Kegiatan pemecahan masalah dapat diakhiri dengan penyajian produk, yaitu berupa paper ataupun laporan kegiatan. Selain itu dalam proses PBL, siswa di dorong untuk saling berkolaborasi dengan teman sebaya sehingga mereka dapat belajar untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan.

5. Desain LKS berbasis masalah

LKS yang ideal untuk bahan ajar tidak sekedar hanya berisi materi dan latihan soal serta mampu mencapai tujuannya sebagai bahan ajar. Martiyono (2012: 136) menjelaskan tujuan LKS sebagai bahan ajar, di antaranya: 1) membantu siswa menentukan suatu konsep; 2) mampu membantu telah ditemukan dalam kehidupan nyata; 3) sebagai penuntun belajar; dan 4) sebagai penguatan.

Penyusunan LKS berbasis masalah harus disesuaikan dengan karakter LKS dan PBL. Berdasarkan pertimbangan karakteristik LKS dan PBL pada bahasan sebelumnya, maka dapat diketahui ciri-ciri LKS yang ideal dengan pendekatan PBL, yaitu: 1) penyusunan LKS didasarkan pada suatu masalah; 2) LKS didesain untuk belajar mandiri; 3) Pembelajaran menggunakan LKS berbasis masalah dapat didesain dalam pembelajaran yang kolaboratif, komunikatif, dan kooperatif; 4) mampu mengeksplorasi pengetahuan siswa; 5) mampu mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan memecahkan masalah.

Selain itu kegiatan-kegiatan yang ada di dalam LKS berbasis masalah harus mendorong siswa berfikir kritis dan belajar mandiri. LKS berbasis masalah harus sesuai dengan Kurikulum 2013, sehingga dalam kegiatan-kegiatan LKS dapat

(14)

13

didesain dengan pendekatan saintifik. Kegiatan tersebut meliputi mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan.

C. METODE PENELITIAN

1. Model Pengembangan

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan pendidikan (educational research and development) yang mengembangkan bahan ajar pada mata pelajaran IPS di SMP. Penelitian dan pengembangan adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan (Nana Syaodih, 2009: 164). Produk yang akan dihasilkan dalam penelitian ini berupa LKS berbasis masalah. Borg dan Gall dalam Emzir (2011: 271) mengemukakan langkah-langkah dalam penelitian dan pengembangan yang bersifat siklus seperti yang terlihat dalam tabel berikut:

Tabel 1. Langkah-Langkah Penelitian dan Pengembangan Borg dan Gall dalam Emzir (2011: 271)

Langkah Utama Borg & Gall Langkah Borg & Gall Penelitian dan Pengumpulan Informasi

(Research and information Collecting)

1. Penelitian dan Pengumpulan informasi

Perencanaan (Planning) 2. Perencanaan

Pengembangan bentuk awal produk (Develop Preliminary Form of Product)

3. Pengembangan Bentuk Awal Produk Uji lapangan dan Revisi Produk (Field

Testing and Product Revision)

4. Uji Lapangan Awal 5. Revisi Produk 6. Uji Lapangan Utama 7. Revisi Produk Operasional 8. Uji Lapangan Operasional Revisi Produk Akhir (Final Product Revision) 9. Revisi Produk Akhir Diseminasi dan Implementasi (Dissemination

and Implementation)

10.Diseminasi dan Implemetasi

2. Prosedur Pengembangan

Prosedur penelitian yang digunakan peneliti dalam pengembangan ini diadaptasi dari langkah-langkah pengembangan yang dikembangkan oleh Bord & Gall. Mengingat keterbatasan waktu dan biaya yang dimiliki peneliti, secara garis besar langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang telah dikemukakan sebelumnya, disederhanakan sesuai kebutuhan penelitian. Mengambil langkah utama Borg and Gall sampai pada tahap keempat, prosedur pengembangan LKS berbasis masalah meliputi: pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan bentuk awal produk (desain produk), dan uji lapangan dan revisi produk akhir

(15)

14 3. Definisi Operasional

a. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang merupakan integrasi dari ilmu-ilmu sosial yang dibutuhkan oleh siswa untuk berpartisipasi dalam lingkungan sosialnya serta mampu memecahkan masalah dengan pendekatan interdisipliner.

b. Bahan Ajar adalah segala sarana atau alat pembelajaran baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengandung substansi kemampuan tertentu untuk dicapai oleh siswa serta mampu mendukung pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa.

c. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah bahan ajar cetak yang berfungsi untuk memandu siswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. LKS harus merangkum kegiatan-kegiatan yang mampu membimbing siswa mencapai tujuan pembelajaran.

d. Pembelajaran berbasis masalah atau Pendekatan Problem Based Learning

(PBL) adalah model pembelajaran yang didasarkan pada sebuah masalah untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam berfikir kritis dan memecahkan masalah.

4. Uji Coba Produk

Uji coba produk dilakukan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar cetak yang dihasilkan agar dapat digunakan dalam pembelajaran. Proses Uji coba produk itu sendiri, meliputi: 1) Validasi ahli materi, 2) Validasi ahli media, 3) Analisis I, 4) Revisi tahap I, 5) Validasi Guru IPS SMP, 6) Analisis II, 7) Revisi tahap II, 8) Ujicoba lapangan, 9) Analisis tahap III, 10) Revisi produk akhir, 11) Produk Akhir LKS berbasis masalah.

Setelah LKS berbasis masalah mendapatkan vaidasi dari ahli materi, ahli media di UNY, dan validasi dari guru IPS SMPN 1 Wonosari yang di lakukan pada bulan Februari 2014. Kemudian dilanjutkan uji coba lapangan pada siswa yang dilakukan bulan Maret 2014.

5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah metode kuesioner (angket). Metode ini digunakan untuk memperoleh data-data yang lebih lengkap tentang validasi ahli materi, ahli media, dan guru IPS, serta

(16)

15

pendapat dan pengalaman siswa selama menggunakan LKS berbasis masalah dalam proses pembelajaran IPS.

6. Metode Pengumpulan Data

a. Penggunaan LKS berbasis masalah pada proses pembelajaran IPS b. Memberikan Kuesioner (angket)

Setelah LKS berbasis masalah digunakan, selanjutnya siswa diberikan alat pengukur (instrumen) berupa kuesioner. Instrumen penelitian yang berupa kuesioner disusun dan dikembangkan sendiri berdasarkan uraian ahli yang ada pada kajian teori. Lembar angket penilaian LKS ditujukan untuk ahli materi, ahli media, guru IPS SMP dan siswa. Aspek yang akan diukur adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Kisi-kisi Lembar Validasi Ahli Materi terhadap LKS Berbasis Masalah

No. Aspek Indikator No.

Item

Jml 1. Kesesuaian Tujuan a. Kesesuaian materi dengan Kompetensi

Inti dan Kompetensi Dasar

b.Kejelasan indikator dan tujuan pembelajaran

1-4 4

2. Kelayakan Isi a. LKS disajikan dengan penyajian masalah b.LKS mendorong siswa belajar mandiri

5-14 10 3. Kelengkapan materi a. Kedalaman materi yang disajikan dalam

informasi pendukung

b.Keluasan materi yang disajikan dalam informasi pendukung 15-21 7 4. Kelengkapan Evaluasi atau tes a. Penilaian pengetahuan b.Penilaian sikap c. Penilaian keterampilan 22-25 4

(17)

16

Tabel 3. Kisi-kisi Lembar Validasi Ahli Media terhadap LKS Berbasis Masalah No

.

Aspek Indikator No.

Item Jml

1. Komponen LKS

berbasis masalah

LKS memuat petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja, dan evaluasi

1-6 6

2. Kesesuaian Kegiatan a. Penyajian kegiatan sesuai dengan siswa. b. LKS menyajikan kegiatan yang mampu

memberikan pengalaman belajar pada siswa.

7-12 6

3. Kejelasan Petunjuk Penggunaan

Kejelasan petunjuk penggunaan LKS 13 1 4. Kelayakan Bahasa a. Bahasa yang digunakan sesuai dengan

siswa

b. Ketepatan penggunaan bahasa

14-19 6

5. Kejelasan Teks Keterbacaan teks atau tulisan LKS 20-21 2 6. Kualitas Layout Desain dan tata letak (layout) menarik 22-26 5 7. Anatomi LKS a. Desain dan unsur tata letak pada sampul

depan LKS terlihat harmonis

b. Desain dan unsur tata letak pada sampul belakang LKS terlihat harmonis c. Pengaturan unsur tata letak pada sampul

muka dan belakang, secara harmonis memiliki irama dan kesatuan secara konsisten

d. Menggambarkan isi/materi ajar

27-30 4

8. Kualitas Gambar a. Kesesuaian gambar dengan materi b. Gambar mendukung proses pembelajaran

31-35 5 9. Kesesuian LKS

dengan pendekatan PBL (Problem Based Learning)

a. LKS menyajikan permasalahan yang autentik

b. LKS mendorong siswa memecahkan masalah dengan pendekatan interdisipliner c. LKS mendorong siswa untuk mencari

solusi nyata suatu masalah

d. LKS memuat kegiatan yang menghasikan produk hasil investigasi

e. LKS mengembangkan keterampilan sosial siswa melalui kerja kelompok

(18)

17

Tabel 4. Kisi-kisi Validasi Guru IPS SMP terhadap LKS Berbasis Masalah

No. Aspek Indikator No.

Item Jml 1. Kesesuaian Tujuan a. Kesesuaian materi dengan Kompetensi

Inti dan Kompetensi Dasar

b. Kejelasan indikator dan tujuan pembelajaran

1-3 3

2. Kelayakan Isi a. LKS disajikan dengan penyajian masalah b. LKS mendorong siswa belajar mandiri

4-12 9 3. Kelengkapan materi a. Kedalaman materi yang disajikan dalam

informasi pendukung

b. Keluasan materi yang disajikan dalam informasi pendukung

13-18 6

4. Kelengkapan Evaluasi a. Penilaian pengetahuan b. Penilaian sikap c. Penilaian keterampilan

19-22 4

5. Komponen LKS

berbasis masalah

LKS memuat petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, informasi pendukung, latihan-latihan, petunjuk kerja, evaluasi

23-28 6

6. Kesesuaian Kegiatan a. LKS menyajikan kegiatan yang mampu memberikan pengalaman belajar pada siswa

b. Penyajian kegiatan sesuai dengan siswa

29-34 6

7. Kejelasan Petunjuk Kejelasan petunjuk penggunaan LKS 35 1

8. Kelayakan Bahasa

dan kalimat

a. Bahasa yang digunakan sesuai dengan siswa

b. Ketepatan penggunaan bahasa

36-40 5

9. Kejelasan Teks Keterbacaan teks atau tulisan LKS 41-42 2 10. Kualitas Layout Desain dan tata letak (layout) menarik 43-45 3

11. Kesesuian LKS

dengan

pendekatan PBL (Problem Based Learning)

a. LKS menyajikan permasalahan yang autentik

b. LKS mendorong siswa memecahkan masalah dengan pendekatan interdisipliner c. LKS mendorong siswa untuk melakukan

investigasi autentik

d. LKS memuat kegiatan yang menghasikan produk

e. LKS mengembangkan keterampilan sosial siswa melalui kerja kelompok

(19)

18

Tabel 5.Kisi-kisi Uji Coba LapanganSiswa terhadap LKS Berbasis Masalah

No. Aspek Indikator No.

Item Jml 1. Kelayakan Isi a. LKS disajikan dengan penyajian masalah

b. LKS mendorong siswa belajar mandiri

1-8 8

2. Kelengkapan materi a. Kedalaman materi yang disajikan dalam informasi pendukung

b. Keluasan materi yang disajikan dalam informasi pendukung

9-12 4

3. Kesesuaian Kegiatan a. LKS menyajikan kegiatan yang mampu memberikan pengalaman belajar pada siswa

b. Penyajian kegiatan sesuai dengan siswa

13-15 3

4. Kejelasan Petunjuk Kejelasan petunjuk penggunaan LKS 16 1 5. Kelayakan Bahasa dan

kalimat

a. Ketepatan penggunaan bahasa dan kalimat b. Bahasa dan kalimat yang digunakan sesuai

dengan siswa

17-18 2

6. Kejelasan Teks Keterbacaan teks atau tulisan LKS 19-20 2 7. Kualitas Layout Desain dan tata letak (layout) menarik 21-23 3 8. Kualitas Gambar a. Kesesuaian gambar dengan materi

b. Gambar mendukung proses pembelajaran

24-25 2

7. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis secara deskriptif, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Pengumpulan data kasar yang diperoleh dari validasi ahli materi, ahli media, dan guru, serta uji coba lapangan pada siswa.

b. Tabulasi semua data yang diperoleh dari penilaian menggunakan skala

likert.Skala likert dikembangkan oleh Rensis Likert (1932) yang sering digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, persepsi dari responden terhadap suatu objek (Husaini Usman dan Purnomo, 2004:69). Pada tahap ini penilaian data dalam bentuk kualitatif menjadi kuantitatif.

Tabel 6. Skala Likert

Skor Nilai 1 Sangat Kurang 2 Kurang 3 Cukup 4 Baik 5 Sangat Baik

c. Menghitung skor total rata-rata dari setiap komponen menggunakan rumus: 𝑋𝑋𝑋𝑋 = 𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽ℎ 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠𝑠 𝑦𝑦𝐽𝐽𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑋𝑋𝑑𝑑𝐽𝐽𝑑𝑑𝐽𝐽𝑑𝑑 𝑑𝑑𝑋𝑋𝐽𝐽𝑑𝑑 𝐽𝐽𝑠𝑠𝑑𝑑𝑎𝑎𝑠𝑠𝑗𝑗𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽𝐽ℎ 𝐽𝐽𝑠𝑠𝑑𝑑𝑎𝑎𝑠𝑠 𝑦𝑦𝐽𝐽𝑦𝑦𝑦𝑦 𝑑𝑑𝑋𝑋𝑦𝑦𝑋𝑋𝐽𝐽𝐽𝐽𝑋𝑋

(20)

19

Kualitas hasil pengembangan LKS IPS berbasis masalah dari data yang mula-mula berupa skor, diubah menjadi data kualitatif (data interval) dengan skala likert. Adapun acuan pengubah skor tersebut menurut Eko P. Widoyoko (2009:238) adalah sebagai berikut :

Tabel 7. Klasifikasi Penilaian Ideal untuk Tiap Komponen

Rumus Rerata Skor Kategori

𝑋𝑋 > 𝑋𝑋� + 1,8 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 > 4,2 Sangat Baik 𝑋𝑋� + 0,6 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 < 𝑋𝑋 ≤ 𝑋𝑋�𝑋𝑋 + 1,8 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 > 3,4 − 4,2 Baik 𝑋𝑋� − 0,6 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 < 𝑋𝑋 ≤ 𝑋𝑋�𝑋𝑋 + 0,6 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 > 2,6 − 3,4 Cukup 𝑋𝑋� − 1,8 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 < 𝑋𝑋 ≤ 𝑋𝑋�𝑋𝑋 − 0,6 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 > 1,8 − 2,6 Kurang 𝑋𝑋 ≤ 𝑋𝑋�𝑋𝑋 − 1,8 × 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 ≤ 1,8 Sangat Kurang Keterangan 𝑋𝑋�𝑋𝑋 (Rerata Ideal) = 1

2 (skor maksimum ideal + skor minimum ideal). 𝑠𝑠𝑠𝑠𝑋𝑋 (simpangan baku ideal) = 1

6 (skor maksimum ideal - skor minimum ideal).

𝑋𝑋 = skor empiris.

Dalam penelitian ini nilai kelayakan ditentukan dengan nilai minimum “B” dengan kategori cukup baik.

D. HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

1. Hasil Penelitian

Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa bahan ajar LKS (Lembar Kegiatan Siswa) berbasis masalah yang di dalamnya terdapatmateri “Interaksi Manusia dan Lingkungan”. Pengumpulan informasi dilakukan dalam beberapa tahap. Langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah studi pustaka dan studi lapangan. Pelaksanaan studi pustaka menghasilkan informasi mengenai karakteristik LKS berbasis masalah, sedangkan pada tahap studi lapangan diperoleh informasi bahwa kurikulum yang berlaku adalah Kurikulum 2013 yang saat ini baru diterapkan di beberapa sekolah. Namun, pada waktu yang akan datang Kurikulum 2013 inilah yang akan digunakan dalam dunia pendidikan. Siswa yang menjadi sasaran pengembangan LKS adalah siswa kelas VII. Materi untuk LKS berbasis masalah adalah “Interaksi Manusia dan Lingkungan”. Setelah dilakukan pengumpulan informasi, maka didapatkan gambaran umum mengenai LKS yang akan dikembangkan.

Tahap perencanaan pengembangan LKS tetap mengacu pada tahap pengumpulan informasi. Sasaran sudah ditetapkan yaitu siswa kelas VII. Langkah-langkah yang ada pada tahap perencanaan meliputi: analisis kompetensi

(21)

20

inti dan kompetensi dasar; analisis materi pembelajaran; menyusun peta kebutuhan; menentukan judul LKS, dan membuat kisi-kisi penilaian produk.

Berdasarkan gambaran konsep pada tahap perencanaan, maka pada tahap pengembangan dilakukan beberapa tahap sebagai berikut:

a. Pengumpulan referensi materi mengenai materi IPS yaitu interaksi manusia dengan lingkungan selanjutnya peneliti membuat pemetaan materi.

b. Perancangan perangkat LKS berbasis masalah untuk bahan ajar IPS. Hasil Revisi

Revisi pertama yang dilakukan mengacu pada saran dan komentar dari ahli materi dan ahli media. Saran dari ahli materi adalah menghilangkan beberapa substansi materi yang kurang sesuai untuk diterapkan dalam materi interaksi manusia dan lingkungan. Soal latihan yang ada pada LKS berbasis masalah sebelumnya kurang menyediakan penilaian untuk sikap sosial. Saran dan komentar dari ahli media secara terperinci dapat dilihat pada tabel 8.

Tabel 8. Hasil Revisi Ahli Media

No. Aspek yang diperbaiki Saran Tindakan

1. Sampul depan Halaman sampul depan belum jelas keterangan penyusunnya

Ditambahkan keterangan penyusun pada sampul depan 2. Sampul dalam Halaman sampul dalam tidak

harus sama dengan sampul depan

Halaman sampul dalam direvisi dengan menghilangkan gambar

3. Halaman Pengantar Penempatan halaman pengantar dipindah setelah sajian isi LKS atau setelah petunjuk

penggunaan

Halaman pengantar

dipindahkan setelah halaman petunjuk penggunaan

4. Video dalam CD Suplemen

Video kurang tepat Mengganti video dan

memperbaiki video sebelumnya

Revisi II mengacu pada saran dan komentar dari guru mata pelajaran IPS secara terperinci dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Hasil Revisi Guru IPS

No. Aspek yang diperbaiki Saran Tindakan

1. Aktivitas siswa Aktivitas siswa untuk mencari sumber informasi masih kurang

Menambahkan aktivitas siswa untuk mencari sumber informasi lain pada saat kegiatan eksplorasi dan asosiasi 2. Gambar Penyebab

Banjir dan Tanah Longsor

Gambar yang menunjukkan Penyebab Banjir dan Tanah Longsor masih kurang

Menambahkan dua gambar penyebab banjir dan tanah longsor sehingga menjadi empat gambar

Revisi tahap akhir didasarkan pada saran dari siswa yaitu menambah ruang kosong untuk menulis hasil kerja siswa. Karena beberapa siswa

(22)

21

memberikan komentar dan saran yang berkaitan dengan ruang kosong tersebut tidak cukup untuk menulis hasil kerja.

Hasil Pengumpulan Data

Ahli materi untuk menjadi validator produk yang dikembangkan adalah Drs. Sugiharyanto, M.Si. Beliau adalah dosen Pendidikan IPS yang berkompeten sesuai dengan materi yang ada pada LKS berbasis masalah. Hasil validasi yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 10. Data Validasi Ahli Materi pada Tahap Pertama dan Kedua

No. Aspek yang dinilai Skor yang diperoleh

Tahap 1 Tahap II 1. Kesesuian Tujuan 17 20 2. Kelayakan Isi 41 44 3. Kelengkapan Materi 28 29 4. Kelengkapan Evaluasi 15 16 Jumlah Skor (∑ 𝑥𝑥) 101 109 Persentase Skor 80,8 % 87,2 % Interval Skor 85,002< 𝑋𝑋 ≤ 105,006 𝑋𝑋 > 105,006 Rerata Skor (𝑥𝑥̅) 4,04 4,36

Kategori Baik Sangat Baik

Sumber: Data primer yang diolah peneliti sesuai hasil penelitian

Ahli media untuk menjadi validator produk yang dikembangkan adalah Satriyo Wibowo, S.Pd. Beliau adalah dosen Pendidikan IPS yang berkompeten dalam hal media. Hasil validasi yang dilakukan dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Data Validasi Ahli Media pada Tahap Pertama dan Kedua

No. Aspek yang dinilai Skor yang diperoleh

Tahap I Tahap II

1. Komponen LKS Berbasis Masalah 20 24

2. Kesesuaian Kegiatan 18 21

3. Kejelasan Petunjuk Penggunaan 4 4

4. Kelayakan Bahasa 18 22

5. Kejelasan Teks 8 8

6. Kualitas Layout 17 18

7. Anatomi Buku 11 14

8. Kualitas Gambar 16 19

9. Kesesuaian LKS dengan pendekatan PBL (Problem Based Learning) 16 19 Jumlah Skor (∑ 𝑥𝑥) 128 149 Persentase Skor 64 % 74,5 Interval Skor 103,998< 𝑋𝑋 ≤ 136,002 6,002< 𝑋𝑋 ≤168,006 Rerata Skor (𝑥𝑥̅) 3,2 3,725

Kategori Cukup Baik

(23)

22

Guru IPS yang memberikan penilaian terhadap bahan ajar berupa LKS adalah ibu Yati Siti Alinah, M.Pd. Beliau adalah Guru IPS di SMPN 1 Wonosari. Adapun penilaian dari Guru IPSterhadap LKS dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12. Data Validasi Guru IPS

No. Aspek yang dinilai Skor

1. Kesesuaian Tujuan 15

2. Kelayakan Isi 35

3. Kelengkapan Materi 21

4. Kelengkapan Evaluasi 15

5. Komponen LKS Berbasis Masalah 24

6. Kesesuaian Kegiatan 24

7. Kejelasan Petuntuk Penggunaan 4

8. Kelayakan Bahasa 20

9. Kejelasan Teks 8

10. Kualitas Layout 12

11. Kesesuaian LKS dengan pendekatan PBL (Problem Based Learning) 20 Jumlah Skor(∑ 𝑥𝑥) 198

Persentase Skor 79,2 % Interval Skor 9,998<𝑋𝑋≤209,99 Rerata Skor (𝑥𝑥̅) 3,96

Kategori Baik

Sumber: Data primer yang diolah peneliti sesuai hasil penelitian

Data uji coba lapangan yang diperoleh dari siswa berupa angket. Pengambilan data tersebut bertujuan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap bahan ajar berupa LKS berbasis masalah.

Tabel 13. Hasil Uji Coba Lapangan

No. Angket Pesera Didik Total Skor Rerata Skor Persentase Kriteria

1 101 4,04 80,8 % Baik 2 107 4,28 85,6 % Sangat Baik 3 104 4,16 83,2 % Baik 4 97 3,88 77,6 % Baik 5 93 3,72 74,4 % Baik 6 107 4,28 85,6 % Sangat Baik 7 100 4 80 % Baik 8 100 4 80 % Baik 9 122 4,88 97,6 % Sangat Baik 10 120 4,8 96 % Sangat Baik 11 107 4,28 85,6 % Sangat Baik 12 112 4,48 89,6 % Sangat Baik 13 101 4,04 80,8 % Baik 14 115 4,6 92 % Sangat Baik 15 88 3,52 70,4 % Baik 16 95 3,8 76 % Baik 17 110 4,4 88 % Sangat Baik 18 104 4,16 83,2 % Baik 19 124 4,96 99,2 % Sangat Baik 20 115 4,6 92% Sangat Baik N = 20 2122 20 = 106,1 84,88 20 = 4,244 84,88 % Sangat Baik Sumber: Data primer yang di olah peneliti sesuai hasil penelitian

(24)

23 2. Pembahasan

a. Analisis Pengembangan Produk

Hasil penelitian dan pengembangan adalah produk bahan ajar IPS berupa LKS berbasis masalah. Setelah melalui beberapa tahap penelitian dan pengembangan LKS berbasis masalah disusun berdasarkan Kurikulum 2013 serta menerapkan pendeekatan saintifik dalam setiap kegiatannya. Dalam setiap kegiatan pada LKS didasarkan pada permasalahan yang harus diselesaikan melalui pendekatan saintifik yaitu mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

b. Analisis Kelayakan Produk

Analisis Data Hasil Validasi Ahli Materi

Jumlah skor yang diperoleh pada validasi tahap pertama adalah 101 dengan rerata skor 4,04. Sedangkan pada validasi tahap kedua jumlah skor yang diperoleh adalah 109 dengan rerata skor 4,36. Rerata skor penilaian tersebut kemudian dikonversikan ke dalam skala likert sehingga diketahui penilaian tahap pertama dan kedua dari ahli materi terhadap LKS berbasis masalah termasuk dalam kategori Sangat Baik. Jumlah skor akhir yang diperoleh adalah 109 dengan rerata 4,36.

a. Analisis Data Hasil Validasi Ahli Media

Jumlah skor yang diperoleh pada validasi tahap pertama adalah 128 dengan rerata skor 3,2, sedangkan pada validasi tahap kedua sesuai dengan tabel 13, jumlah skor yang diperoleh adalah 149 dengan rerata skor 3,725. Rerata skor penilaian tersebut kemudian dikonversikan ke dalam skala likert sehingga diketahui penilaian tahap pertama dan kedua dari ahli media terhadap LKS berbasis masalah termasuk dalam kategori Baik. Jumlah skor akhir yang diperoleh adalah 149 dengan rerata 3,72.

b. Analisis Data Hasil Validasi Guru IPS

Jumlah skor yang diperoleh adalah 198 dengan rerata skor 3,96. Rerata skor penilaian tersebut kemudian dikonversikan ke dalam skala likert sehingga diketahui penilaian guru IPS terhadap LKS berbasis masalah.

Tabel 16. Penilaian LKS Berbasis Masalah Menurut Guru IPS

No. Tahap Penilaian Jumlah Skor Rerata Rentang Skor Kategori

1. I 198 3,96 > 3,4- 4,2 Baik

(25)

24 c. Analisis Data Uji Coba Lapangan

Berdasarkan data uji coba lapangan dengan dengan jumlah 8 aspek, 25 indikator, dan jumlah responden 20 anak diperoleh skor 106,1 dan rerata skor 4,244. Rerata skor penilaian tersebut kemudian dikonversikan ke dalam skala likert sehingga diketahui tanggapan siswa terhadap LKS berbasis masalah.

Tabel 17. Tanggapan Siswa terhadap LKS Berbasis Masalah

Tahap Penilaian

Jumlah Skor

Rerata Rentang Skor Kategori

I 106,1 4,244 > 4,2 Sangat Baik

Sumber: Data primer yang diolah peneliti sesuai hasil penelitian

Tanggapan siswa yang terlihat pada tabel 21 dapat disimpulkan bahwa LKS berbasis masalah setelah melalui revisi tahap II termasuk dalam kategori Sangat Baik.

Berdasarkan analisis data validasi ahli materi, analisis data validasi ahli media, analisis data validasi guru, dan analisis data uji lapangan terhadap tanggapan siswa, dapat dilihat pada histogram sebagai berikut:

Gambar Histogram Kelayakan LKS Berbasis Masalah

Berdasarkan Histogram di atas dapat disimpulkan bahwa seluruh aspek penilaian dari ahli materi, ahli media, guru IPS, dan tanggapan dari

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5

Ahli Materi Ahli Media Guru IPS Peserta Didik

Peserta Didik Guru IPS Ahli Media Ahli Materi Keterangan: > 4,2 = Sangat Baik > 3,4 - 4,2 = Baik > 2,6 - 3,4 = Cukup > 1,8 - 2,6 = Kurang ≤ 1,8 = Sangat Kurang

(26)

25

siswa berada pada rentang 3,725-4,36 dengan kategori baik dan sangat baik. Sehingga LKS berbasis masalah pada mata pelajaran IPS untuk siswa kelas VII SMP yang telah dikembangkan dinyatakan layak untuk digunakan.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

a. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk berupa LKS berbasis masalah berjudul “Memecahkan Masalah Lingkungan”. Di dalam LKS terdapat materi Interaksi Manusia dan Lingkungan. LKS ini didesain dengan pendekatan saintifik yang sesuai dengan kurikulum 2013. Kegiatan dalam LKS terbagi menjadi empat Kegiatan. Di dalam setiap kegiatan memuat permasalahan yang harus dipecahkan oleh siswa. Pada akhir kegiatan terdapat soal latihan yang merupakan evaluasi untuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Setiap kegiatan dalam LKS juga disertai dengan informasi pendukung. LKS berbasis masalah yang menyajikan permasalahan untuk dipecahkan siswa mampu mendorong siswa berfikir kritis dan memecahkan masalah.

b. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba lapangan pada siswa LKS berbasis masalah, dapat diketahui validasi ahli materi sebesar 4,36 atau Sangat Baik, validasi ahli media sebesar 3,725 atau Baik, validasi guru IPS 3,96 atau Baik, dan tanggapan siswa sebesar 4,244 atau Sangat Baik. Semua berada pada rentang antara 3,725-4,36. Sehingga bahan ajar berupa LKS berbasis masalah pada materi Interaksi Manusia dengan Lingkungan untuk siswa kelas VII yang telah dikembangkan dinyatakan layak untuk digunakan.

2. Keterbatasan Penelitian

a. Terbatasnya waktu dan tenaga, sehingga pengembangan bahan ajar berupa LKS berbasis masalah ini hanya terbatas pada materi interaksi manusia dan lingkungan.

b. Tempat uji coba dilakukan hanya di satu sekolah yaitu SMPN 1 Wonosari, Gunungkidul, sehingga belum mampu menjangkau beberapa sekolah dan melibatkan siswa dalam jumlah besar.hal ini karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dan dana.

(27)

26

3. Saran Pemanfaatan, Diseminasi, dan Pengembangan Produk Lebih Lanjut a. Penggunaan LKS berbasis masalah pada mata pelajaran IPS dapat mendorong

siswa untuk berfikir kritis dan memecahkan masalah. Pemanfaatan LKS berbasis masalah dapat melibatkan siswa untuk lebih aktif dalam pembelajaran, sehingga pembelajaran tidak berpusat pada guru. Namun, pembelajaran yang melibatkan siswa untuk lebih aktif membutuhkan persiapan yang ekstra. Siswa juga harus dibiasakan untuk aktif di kelas. Pembelajaran dengan memanfaatkan LKS berbasis masalah dengan menggunakan pendekatan saintifik dalam setiap kegiatannya akan memakan waktu yang cukup lama, sehingga diperlukan alokasi waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan dalam LKS. Selain itu beberapa langkah pada kegiatan dapat dijadikan penugasan rumah. Karena LKS dapat menjadi bahan ajar di kelas, maupun bahan ajar mandiri untuk belajar di rumah.

b. Untuk pemanfaatan secara luas dan memotivasi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, hasil penelitian dan pengembangan ini kiranya dapat disampaikan kepada guru-guru IPS melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang ada di kabupaten masing-masing.

c. Mengingat produk hasil penelitian dan pengembangan dapat memberikan manfaat bagi pembelajaran, maka disarankan kepada guru untuk mengembangkan produk ini dengan cakupan yang lebih luas ataupun pada materi lain, bahkan pada mata pelajaran lain pada waktu yang akan datang. d. Berdasarkan hasil validasi ahli materi, ahli media, Guru IPS, serta uji coba

lapangan pada siswa kelas VII SMPN 1 Wonosari, LKS berbasis masalah ini layak digunakan dengan penilaian Baik dan Sangat Baik. Namun, dalam pengembangan ini harga LKS berbasis masalah mahal, sehingga untuk pengembangan secara luas dan diterapkan sebagai bahan ajar di sekolah dapat dilakukan dengan mengganti kertas dengan kualitas kertas yang lebih rendah, serta bisa dilakukan dengan mengembangkan LKS berbasis masalah tanpa menggunakan sampul. Selain itu untuk skala produksi lebih besar dapat dilakukan pada percetakan agar harga cetak dapat diminimalisasikan.

(28)

27

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid. (2008). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Agus Suprijono. (2012). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Andi Prastowo. (2013). Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Yogyakkarta: Diva Press. Azhar Arsyad. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Chomsin S. Widodo. (2008). Panduan Penyusunan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi.

Jakarta: Elex Media Komputindo.

Dimyati dan Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

E. Mulyasa. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Eggen Paul adn Kauchak Don. (2012). Strategi dan Model Pembelajaran. Jakarta: Indeks. Eko Putro Widoyoko. (2009). Evaluasi Program Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Emzir. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan : Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Haris Mudjiman. (2007). Belajar Mandiri. Surakarta: Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) UNS dan UPT Penerbitan dan Percetakan UNS (UNS Press).

Husaini Usman, & Purnomo Setiady Akbar. (2004). Metodologi Penelitian Sosial.

Jakarta:Bumi Aksara.

Lalu Muhammad Azhar. (1933). Proses Belajar Mengajar CBSA. Surabaya: Usaha Nasional.

Martinis Yamin. (2007). Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan.

Jakarta: Gaung Persada Press.

Martiyono. (2012). Perencanaan Pembelajaran. Yogyakarta: Aswaja Pressindo.

Muhammad Numan Somantri. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS.

Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa. (2013). Belajar dan Pembelajaran

Pengembangan Wacana dan Praktik Pembelajaran dalam Pembangunan Nasional. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Nana Syaodih Sukmadinata. (2009). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

(29)

28

Rudi Susilana dan Cepi Riyana. (2008). Media Pembelajaran. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP-Universitas Pendidikan Indonesia.

Sapriya. (2011). Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya. Supardi. (2011). Dasar-dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta : Ombak.

Taufiq Amir. (2010). Inovasi Pendidikan Melalui Problema Based Learning: Bagaimana Pendidik Memberdayakan Pemelajar di Era Pengetahuan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Trianto. (2010). Model Pembelajaran terpadu: Konsep Strategi, dan Implementasinya dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta : Bumi Aksara.

Wina Sanjaya. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Prenada Media Group.

Yamin Riyanto. (2010). Paradigma Baru Pembelajaran: Sebagai Referensi

Guru/Pendidik dalam Implementasi Pembelajaran yang Efektif dan Berkualitas.

Gambar

Tabel 2. Kisi-kisi Lembar Validasi Ahli Materi terhadap LKS Berbasis Masalah
Tabel 3. Kisi-kisi Lembar Validasi Ahli Media terhadap LKS Berbasis Masalah
Tabel 4. Kisi-kisi Validasi Guru IPS SMP terhadap LKS Berbasis Masalah
Tabel 5.Kisi-kisi Uji Coba LapanganSiswa terhadap LKS Berbasis Masalah
+4

Referensi

Dokumen terkait

Rangkaian penelitian dan pengembangan yang dilakukan dimulai dari identifikasi potensi dan masalah, pengumpulan data, desain produk, validasi desain dan revisi produk, uji coba

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini sampai dihasilkan produk akhir yaitu tahap pengumpulan informasi, tahap perencanaan, tahap pengembangan draft

dari produk awal, 6) Penerapan uji coba lapangan skala terbatas, 7) Revisi produk berdasarkan uji coba lapangan terbatas, 8) Ujicoba lapangan skala luas, 9) Revisi produk, dengan

4) Setelah dilakukan pengembangan produk awal tahapan selanjutnya adalah Uji coba lapangan awal. Kegiatan ini digunakan untuk menguji produk awal yang telah

2) Perencanaan Pengembangan Produk. Tahap II dalam penelitian ini adalah perencanaan dan pengembangan produk dengan membuat desain produk awal model latihan shooting

Ana Lailatul Fitriyah 25 langkah awal saja, yaitu (a) penelitian dan pengumpulan data; (b) perencanaan; (c) pengembangan draf produk; (d) uji coba lapangan awal; dan

Model pengembangan produk awal dilakukan dengan mengadaptasi model ADDIE (Analyze, Design, Develop, Implement, dan Evaluate). Subjek yang digunakan pada uji

menggunakan sembilan tahapan pengembangan, yaitu potensi dan masalah, pengumpulan informasi, desain produk, validasi produk, perbaikan desain, pembuatan produk, uji