III. KERANGKA TEORI Model Pembangunan Dua Sektor. Industrialisasi pertanian merupakan media transmisi yang tepat bagi proses

Teks penuh

(1)

3.1. Model Pembangunan Dua Sektor

Industrialisasi pertanian merupakan media transmisi yang tepat bagi proses transformasi struktural suatu perekonomian subsisten ke perekonomian modern. Hal ini tidak terlepas dari model pembangunan ekonomi dua sektor yang pertama dirumuskan oleh Lewis (1954) yang selanjutnya dikembangkan oleh Ranis (1964). Menurut model pembangunan dua sektor Lewis perekonomian terdiri dari dua sektor, yaitu: (1) sektor tradisional yaitu sektor pertanian subsisten yang surplus tenaga kerja, dan (2) sektor industri perkotaan modern yang tingkat produktivitasnya tinggi dan menjadi penampungan transfer tenaga kerja dari sektor tradisional.

Model Lewis memfokuskan pada terjadinya proses penyerapan surplus tenaga kerja yang memberikan kontribusi terhadap output sektor pertanian ke sektor industri dimana diasumsikan sektor industri memiliki teknik inovasi untuk memanfaatkan surplus tenaga kerja. Asumsi dasar model surplus tenaga kerja tersebut adalah transfer tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri terjadi tanpa mengakibatkan penurunan output sektor pertanian. Hal ini dapat diartikan produk marginal tenaga kerja di sektor pertanian adalah nol sehingga dengan berkurangnya tenaga kerja, output sektor pertanian tidak akan berkurang. Dalam merumuskan modelnya Lewis mengasumsikan pula bahwa keuntungan sektor modern dari selisih upah diinvestasikan kembali seluruhnya dan tingkat upah di sektor industri perkotaan diasumsikan konstan dan jumlahnya ditetapkan melebihi tingkat rata-rata upah disektor pertanian. Oleh karena itu laju dari proses transfer tenaga kerja tersebut ditentukan oleh tingkat investasi dan akumulasi modal secara keseluruhan di sektor modern. Pada tingkat upah sektor industri yang konstan, kurva penawaran tenaga kerja perdesaan dianggap elastis sempurna.

(2)

Sepanjang nilai produk marginal tenaga kerja pertanian berada di bawah tingkat upah sektor industri, maka nilai oputput sektor pertanian yang hilang dari tenaga kerja yang pindah, akan lebih rendah dari upah di sektor industri. Sektor pertanian tidak dapat bersaing dengan sektor industri, sampai surplus tenaga kerja dihilangkan dan nilai produk marginal tenaga kerja meningkat lebih tinggi dari tingkat upah. Dengan produk maginal tenaga kerja pertanian yang rendah, sektor industri dapat menarik tenaga kerja sektor pertanian tanpa ada perubahan biaya.

Sektor industri akan terus menyerap tenaga kerja sampai pada titik dimana tingkat upah sama dengan nilai produk marginal tenaga kerja sektor industri. Karena model Lewis mengasumsikan bahwa keuntungan sektor industri dari selisih upah diinvestasikan kembali seluruhnya, maka kurva produk marginal tenaga kerja akan bergeser ke luar dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Pergeseran kurva produk marginal tenaga kerja tersebut akan meningkatkan rasio tenaga kerja terhadap modal, perluasan industri dan peningkatan penyerapan tenaga kerja.

Proses pertumbuhan seperti diuraikan di atas disebut sebagai pertumbuhan berkesinambungan (self-sustaining growth) dari sektor industri dan perluasan kesempatan tenaga kerja tersebut diasumsikan akan terus berlangsung sampai semua surplus tenaga kerja perdesaan diserap habis oleh sektor industri. Tenaga kerja tambahan yang berikutnya hanya dapat ditarik dari sektor pertanian tradisional dengan biaya yang lebih tinggi. Dengan demikian ketika tingkat upah dan penyerapan tenaga kerja di sektor industri terus mengalami pertumbuhan, maka kemiringan kurva penawaran tenaga kerja berslope positif. Transformasi struktural perekonomian akan terjadi dari perekonomian pertanian tradisional ke perekonomian industri yang modern.

Model pertumbuhan dua sektor Lewis pada kenyataannya mengandung beberapa kelemahan karena asumsi-asumsi yang digunakan, khususnya untuk sebagian besar negara

(3)

berkembang (Todaro, 2000). Kelemahan pertama menyangkut reinvestasi modal dimana model tersebut mengasumsikan bahwa tingkat pengalihan tenaga kerja dan penciptaan kesempatan kerja disektor industri sebanding dengan tingkat akumulasi modal. Namun fenomena menunjukkan bahwa sebagian besar reinvestasi justru dilakukan untuk mengembangkan industri dengan teknologi yang hemat tenaga kerja. Dengan demikian penyerapan tenaga kerja dari sektor pertanian tradisional akan berjalan lamban. Belum lagi kenyataan bahwa akumulasi modal tidak seluruhnya ditanamkan kembali di dalam negeri. Pelarian modal (capital flight) ke luar negeri sering terjadi karena alasan faktor keamanan di dalam negeri. Kelemahan kedua menyangkut asumsi surplus tenaga kerja yang terjadi di perdesaan. Kenyataan menunjukkan bahwa kelangkaan tenaga kerja pertanian di perdesaan sudah mulai dirasakan, sementara pengangguran banyak terjadi di perkotaan. (Donaldson, 1984; Kao et al., 1964) Kelemahan ketiga menyangkut asumsi tentang pasar tenaga kerja yang kompetitif di sektor industri sehingga menjamin upah riil di perkotaan yang konstan sampai pada suatu titik dimana surplus tenaga kerja habis terpakai. Pada kenyataannya upah di pasar tenaga kerja di sektor industri cenderung meningkat dari waktu ke waktu baik secara absolut maupun ril.

Dengan beberapa kelemahan tersebut, maka konsep pembangunan dengan berbasis pada perubahan sektoral seperti dalam model Lewis memerlukan beberapa penyempurnaan sesuai dengan fenomena ekonomi yang ada. Dalam hal ini Fei dan Ranis (1964) memperbaiki kelemahan model Lewis dengan penekanan pada masalah surplus tenaga kerja yang tak terbatas dari model Lewis. Penyempurnaan tersebut terutama pada pentahapan perubahan tenaga kerja, dimana model Fei-Ranis membagi tahap perubahan transfer tenaga kerja dari sektor pertanian tradisional ke sektor industri menjadi tiga tahap berdasarkan pada produktivitas marjinal tenaga kerja dengan tingkat upah dianggap konstan dan ditetapkan secara eksogenus (Sukirno, 1985).

(4)

Tahap pertama tenaga kerja diasumsikan melimpah sehingga produktivitas marjinal tenaga kerja mendekati nol. Dalam hal ini surplus tenaga kerja yang ditransfer dari sektor pertanian tradisional ke sektor industri memiliki kurva penawaran elastis sempurna. Pada tahap ini walaupun terjadi transfer tenaga kerja, total produksi di sektor pertanian tidak menurun, produktivitas tenaga kerja meningkat dan sektor industri tumbuh karena tambahan tenaga kerja dari sektor pertanian. Dengan demikian transfer tenaga kerja menguntungkan kedua sektor ekonomi.

Tahap kedua adalah kondisi dimana produk marginal tenaga kerja sudah positip namun besarnya masih lebih kecil dari tingkat upah. Artinya setiap pengurangan satu satuan tenaga kerja di sektor pertanian akan menurunkan total produksi. Pada tahap ini transfer tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri memiliki biaya imbangan positip, sehingga kurva penawaran tenaga kerja memiliki elastisitas positip. Transfer tenaga kerja terus terjadi yang mengakibatkan penurunan produksi, namun penurunan tersebut masih lebih rendah dari besarnya tingkat upah yang tidak jadi dibayarkan. Di sisi lain karena surplus produksi yang ditawarkan ke sektor industri menurun sementara permintaan meningkat yang diakibatkan oleh adanya penambahan tenaga kerja, maka harga relatif komoditas pertanian akan meningkat.

Tahap ketiga adalah tahap komersialisasi di kedua sektor ekonomi. Pada tahap ini produk marginal tenaga kerja sudah lebih tinggi dari tingkat upah. Produsen pertanian mulai mempertahankan tenaga kerjanya. Transfer masih akan terjadi jika inovasi teknologi di sektor pertanian dapat meningkatkan produk marginal tenaga kerja. Sementara karena adanya asumsi pembentukan modal di sektor industri di reinvestasi, permintaan tenaga kerja di sektor ini juga akan terus meningkat.

(5)

3.2. Teori Pembangunan Ekonomi: Pertumbuhan vs Ketidakmerataan

Esensi pembangunan selain peningkatan pertumbuhan ekonomi, mengandung implikasi yang lebih luas yaitu perubahan fundamental struktur ekonomi dan sosial masyarakat yang kesemuanya mempengaruhi gaya dan kualitas hidup masyarakat. Terdapat dua perubahan struktural yang terpenting yaitu pertama, peningkatan pangsa sektor industri yang diikuti dengan penurunan pangsa sektor pertanian terhadap produksi nasional yang juga berimplikasi terhadap peningkatan urbanisasi dan banyaknya penduduk yang bekerja di sektor industri dibandingkan dengan bekerja di sektor pertanian. Kedua adalah perubahan pola konsumsi dimana masyarakat lebih banyak membelanjakan pendapatan mereka ke barang-barang tahan lama dibandingkan barang-barang kebutuhan pokok (Gillis et al., 1987). Di negara-negara maju orientasi pembangunan telah bergeser dari pertumbuhan ekonomi ke usaha yang lebih memperhatikan kualitas hidup. Sedangkan di negara-negara miskin dan negara yang sedang berkembang, perhatian utama ditujukan kepada masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan.

Masalah ketidakmerataan pendapatan dan kemiskinan sampai sekarang masih tetap menjadi pembahasan terutama di negara-negara berkembang. Dampak dari pembangunan ekonomi terhadap golongan miskin masih menjadi perdebatan. Sebagian berasumsi bahwa meningkatnya pendapatan per kapita akibat pembangunan akan menjadikan setiap orang lebih sejahtera. Apabila sekelompok masyarakat belum memperoleh manfaat, hal itu hanya masalah waktu sampai manfaat pembangunan tersebut betul-betul menetes kepada mereka. Namun sebaliknya ada pihak lain tetap meragukan apakah dampak pembangunan betul-betul dapat dinikmati oleh kelompok miskin.

Secara umum hubungan antara pertumbuhan dan pemerataan dapat dinyatakan melalui Gambar 2. Gambar tersebut menunjukkan pendapatan masyarakat dibedakan menjadi dua, yaitu pendapatan kelompok kaya (50 persen populasi dengan pendapatan

(6)

tertinggi) dan pendapatan kelompok miskin (50 persen pupulasi dengan pendapatan lebih rendah). Distribusi awal berada di titik L yang bias kepada kelompok kaya. Kebijakan dilakukan agar distribusi mengarah pada garis pemerataan pendapatan. Namun kebijakan redistribusi pada umumnya juga akan mengubah total pendapatan. Kebijakan yang mengakibatkan distribusi pendapatan berada di wilayah A adalah kebijakan yang tidak diinginkan karena kelompok kaya akan menjadi miskin dan kelompok miskin menjadi semakin miskin. Pada wilayah B, kelompok miskin akan memperoleh manfaat yang lebih rendah dibanding kerugian yang dialami kelompok kaya sehingga total pendapatan menurun.

Rp

Pendapatan L D Pemerataan

gol kaya sempurna

C

B

A

Rp Pendapatan gol miskin Gambar 2. Pertumbuhan Pendapatan vs Ketidakmerataan Sumber : Kasliwal (1995)

Jika redistribusi bergerak ke wilayah C, yaitu diatas garis pendapatan konstan, terdapat peluang mengalami pertumbuhan diikuti pemerataan karena total pendapatan meningkat. Pada wilayah D, redistribusi akan mengalami pareto superior karena masing-masing kelompok memperoleh peningkatan pendapatan.

(7)

Perbedaan teori pembangunan yang terkait dengan masalah distribusi pendapatan dapat dibedakan menurut dua aliran ekonomi, yaitu aliran Klasik (Orthodox) dan aliran Strukturalis.

3.2.1. Aliran Klasik

Aliran ini menggunakan konsep Adam Smith1 tentang proses pembangunan yang berpegang pada konsep keseimbangan alokasi sumberdaya dan konsep pasar bebas dimana harga menjadi acuan dalam proses pertukaran. Perbedaan kondisi antar sektor akan menyebabkan pertukaran dan alokasi sumberdaya secara efisien tanpa ada campur tangan pemerintah (konsep pasar bebas) hingga mencapai kondisi pareto optimal. Pertukaran tersebut pada hakekatnya merupakan proses pembangunan (Herrick dan Kindleberger, 1988; Arndt, 1987; Gillis et al., 1987; Djojohadikusumo, 1994 dan Deliarnov, 1995).

Aspek distribusi pendapatan dibahas dengan penekanan pada masalah pembagian hasil produksi antara pemilik modal dan pemilik tanah. Lewis membahas aspek ketidakmerataan (inequality) melalui model ekonomi dua sektor. Dengan menggunakan konsep-konsep mahzab Klasik dan teori Malthus Lewis mengasumsikan tenaga kerja tersedia dengan jumlah berlebih dan pada tingkat upah subsisten yang tetap. Teori ini menyatakan bahwa ketidakmerataan pendapatan akan muncul pada awalnya dan akan menghilang setelah dicapai hasil pembangunan. Ada dua alasan meningkatnya ketidakmerataan pendapatan pada awal pertumbuhan. Pertama, kontribusi pemilik kapital meningkat pada saat peran sektor modern meningkat sehingga meningkatkan kesenjangan pendapatan antara pemilik modal dan buruh. Kedua, kesenjangan distribusi buruh sendiri juga meningkat dengan bertambahnya tenaga kerja (namun masih dalam jumlah yang masih sedikit) yang pindah dari tingkat upah sektor subsisten ke tingkat upah sektor modern yang lebih tinggi. Namun ketidakmerataan tersebut berubah manakala seluruh

(8)

surplus tenaga kerja diserap oleh sektor modern yang menyebabkan tenaga kerja berubah menjadi faktor produksi yang langka. Tingkat upah kemudian meningkat yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat ketidakmerataan sekaligus mengurangi tingkat kemiskinan. Setiap orang akan memperoleh manfaat apabila mereka menunggu proses pembangunan tersebut berlangsung sampai selesai. Peningkatan sementara dalam ketidakmerataan pendapatan hanya merupakan biaya untuk memperoleh manfaat proses pembangunan tersebut. Tanpa adanya campur tangan pemerintah pemerataan akan terjadi dengan sendirinya pada saat negara telah mencapai tingkat pembangunan dan pendapatan per kapita yang tinggi.

Teori diatas konsisten dengan konsep pemikiran Kuznets (1955) yang dituangkan dalam bentuk kurva U terbalik, yaitu sewaktu pendapatan per kapita naik, ketidakmerataan mulai muncul dan mencapai maksimum pada saat pendapatan berada pada tingkat menengah dan kemudian menurun sewaktu telah dicapai tingkat pendapatan yang sama dengan karakteristik negara industri. Peningkatan pertumbuhan dimungkinkan dengan berkembangnya sektor pemimpin (leading sector). Ketidakmerataan pendapatan akan memburuk pada tahap awal disebabkan upah buruh masih relatif rendah. Dengan demikian pertumbuhan tidak banyak memberikan manfaat bagi golongan miskin atau golongan buruh. Namun dengan semakin meningkatnya pendapatan per kapita, maka permintaan terhadap sarana publik (transportasi, komunikasi, pendidikan dsb) juga meningkat. Kondisi ini akan memunculkan trickle-down effect bagi golongan miskin dengan meningkatnya upah buruh melalui sektor lain. (Gillis et al., 1987; Todaro, 2000). Menurut Hogendorn (1992) fenomena kurva Kuznets tersebut dapat dilihat pada masyarakat, dimana distribusi pendapatan yang merata pada awalnya dijumpai di sektor pertanian. Namun begitu sebagian masyarakat berpindah ke sektor industri yang memiliki upah lebih tinggi, maka ketidakmerataan pendapatan masyarakat segera muncul

(9)

Konsep distribusi pendapatan menurut Lewis tersebut memunculkan beberapa argumen tandingan. Pertama, ketimpangan menciptakan kondisi dimana hanya orang-orang kaya yang bisa menginvestasikan kembali sebagian besar pendapatannya untuk memperoleh hasil yang lebih besar lagi, sementara orang-orang miskin membelanjakan pendapatannya untuk barang konsumsi. Semakin lama hal ini akan menciptakan ketimpangan lagi yang semakin lebar. Kedua, ketiadaan akses investasi golongan miskin secara akumulatif akan menyebabkan rendahnya pertumbuhan GNP dibandingkan apabila terdapat pemerataan pendapatan yang lebih besar. Ketiga, asumsi hasil produksi golongan kaya akan diinvestasikan kembali secara empiris meragukan. Yang terjadi adalah pengalihan modal ke luar negeri karena alasan keamanan dan tingginya tingkat konsumsi barang-barang mewah oleh golongan kaya. Keempat, rendahnya taraf hidup golongan miskin mengakibatkan rendahnya produktivitas ekonomi mereka yang secara akumulatif mengakibatkan rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional (Todaro, 2000).

3.2.2. Aliran Strukturalis2

Sesuai dengan namanya, teori Strukturalis memfokuskan pada masalah struktur atau komposisi makroekonomi dengan sektor produksinya, juga komposisi tenaga kerja dan investasi yang merupakan input produksi. Pendekatan terhadap pembangunan ekonomi dipandang sebagai transisi yang ditandai oleh suatu transformasi yang mengandung perubahan mendasar pada perubahan ekomomi yang disebut sebagai perubahan struktural. Perubahan struktural tersebut merupakan masa ketidakseimbangan yang dapat menyebabkan kesenjangan penyesuaian yang panjang (Arndt, 1987; Gillis et al., 1987; Herrick dan Kindleberger, 1988 dan Djojohadikusumo, 1994). Aliran Strukturalis skeptis terhadap efektifitas mekanisme kekuatan harga dan meyakini bahwa perencanaan dan

2

Pemikir Strukturalisme bukan mewakili suatu mahzab pemikiran yang homogen karena walaupun aliran tersebut sebagai mainstream, tetapi memiliki banyak perbedaan dalam garis haluan maupun pendekatan (Djojohadikusumo,1994). Pemikir ekonomi menurut mahzab ini banyak sekali, tetapi yang terkenal sebagi penganut faham kapitalis dengan pondasi strukturalisme diantaranya A.G. Frank (Arndt, 1987)

(10)

kontrol pemerintah dapat menanggulangi kegagalan pasar. Oleh karena itu pembangunan ekonomi negara-negara kurang maju tidak dapat diserahkan kepada mekanisme kekuatan pasar, tetapi pemerintah harus mengambil peranan aktif dengan menjalankan kebijakan untuk menanggulangi ketimpangan yang melekat pada keadaan ketidakseimbangan tersebut agar sistem pasar dan perkembangan harga dapat berjalan secara memadai

Berbeda dengan aliran Klasik yang percaya bahwa pemerataan pendapatan akan terjadi dengan sendirinya dengan meningkatnya pendapatan per kapita, aliran Strukturalis menganggap bahwa masalah distribusi pendapatan dan pemerataan harus dilakukan melalui intervensi pemerintah. Dalam hal ini terdapat dua pendekatan ekstrim dalam mencapai pertumbuhan dan pemerataan, yaitu Aliran Ekstrim (Radikal) Kanan atau aliran yang menganut faham kapitalis yang memfokuskan pada pertumbuhan (“grow first, then redistribute”) dan Aliran Ekstrim Kiri atau aliran yang menganut faham Sosialis, yang

memfokuskan pada masalah pemerataan (“redistribute first, then grow”). Sebagai alternatif dari dua aliran ekstrim tersebut, terdapat satu strategi yang beraliran moderat untuk mencapai pertumbuhan dan pemerataan secara bersama, yaitu redistribusi dengan pertumbuhan (“redistribution with growth /RWG”) yang dikembangkan oleh Bank Dunia (Gillis et al., 1987).

Sasaran pembangunan ekonomi bagi aliran ekstrim kanan bukan mengarah pada pemerataan yang lebih besar melalui mekanisme trickle-down, tetapi melalui pemusatan pendapatan pada masyarakat yang telah kaya. Produksi diatur secara efisien, kemudian baru diredistribusi untuk memperoleh distribusi pendapatan yang diinginkan melalui transfer atau pajak yang diyakini tidak akan mendistorsi ekonomi. Namun aliran ini telah gagal. Contoh empiris kegagalan tersebut adalah kebijakan pembangunan ekonomi di

(11)

Brazil3, dimana pertumbuhan ekonomi meningkat sangat cepat namun disertai dengan tingkat ketidakmerataan sangat tinggi dan perkembangan pengurangan tingkat kemiskinan yang sangat lambat. Pemilikan aset sangat terkonsentrasi, akses terhadap pendidikan sangat tidak merata, pembangunan industri maupun pertanian diutamakan pada skala usaha besar dan teknologi padat kapital.

Sebaliknya aliran Ekstrim Kiri memiliki kebijakan “redistribute first, then grow”. Pemerintah mengambil alih pemilik modal dan pemilik tanah dengan membagikan aset mereka ke produsen skala kecil, yang seringkali melalui sistem pemilikan bersama. Kebijakan tersebut membawa dua dampak terhadap distribusi pendapatan. Pertama, dampak secara langsung, yaitu tingkat kemerataan pendapatan akan segera meningkat secara nyata. Kedua adalah dampak dalam jangka panjang. Apabila usaha-usaha berskala lebih kecil dan melalui pemilikan bersama tersebut dapat menghasilkan keuntungan besar dan dikelola secara efisien dan produktif, maka efek redistribusi tersebut akan meningkat. Namun apabila tidak dikelola secara produktif, pemilik awal akan kehilangan aset mereka dan pemilik baru tidak akan memperoleh manfaat secara proporsional. Negara yang termasuk dalam aliran ini adalah negara-negara Uni Soviet dan RRC4. Kebijakan pembangunan berbasis industri yang dilakukan Uni Soviet adalah adalah mengambil alih kekayaan yang seharusnya menjadi hak masyarakat secara umum terutama petani dan menekan konsumsi yang hasilnya diinvestasikan kembali ke sektor produktif. Dengan kebijakan tersebut ketidakmerataan pendapatan masyarakat memang mengecil karena hasil pendapatan diambil oleh pemerintah.

3 India memiliki pola pemerataan yang sama dengan Brazil yang memiliki wilayah dengan pertumbuhan sangat tinggi, seperti Punjab dan Bombay, tetapi sebaliknya juga banyak wilayah-wilayah yang sangat miskin.

4 Cina, meskipun merupakan negara lebih miskin dibanding Uni Sovyet, namun memiliki pola pemerataan yang lebih baik, dengan cara menyeimbangkan industri-industri besar dengan industri-industri kecil yang padat tenaga kerja namun tanpa melakukan penghematan terhadap kebutuhan pokok masyarakat seperti yang dilakukan oleh Uni Soviet.

(12)

Strategi mencapai pertumbuhan dan pemerataan pendapatan dewasa ini mengalami pergeseran paradigma, karena dua aliran ekstrim yang telah diuraikan diatas kurang disukai. Di banyak negara penganut aliran ekstrim kanan, meskipun terjadi pertumbuhan pesat, masalah kemiskinan dan ketidakmerataan pendapatan juga masih menjadi masalah besar. Argumen bahwa ketimpangan pendapatan merupakan kondisi sementara yang tak terelakkan guna mencapai akumulasi kapital, memang memungkinkan terakumulasinya tabungan dan investasi yang lebih besar sehingga menciptakan laju pertumbuhan yang lebih cepat dan pada akhirnya menciptakan pendapatan nasional dan pendapatan per kapita tinggi untuk diredistribusikan ke masyarakat melalui program-program perpajakan dan subsidi. Namun bila waktu distribusi tiba, setiap usaha pendistribusian kembali pendapatan akan menurunkan laju pertumbuhan secara tajam. Karena perlambatan dianggap negatif, maka saat pendistribusian terpaksa ditunda dan terjadi penundaan secara terus menerus. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi akan terus melaju sementara ketimpangan pendapatan tidak membaik.

Sementara negara-negara penganut aliran ekstrim kiri pada umumnya mengalami tingkat pertumbuhan yang rendah, karena setiap usaha redistribusi akan menurunkan stok modal yang pada akhirnya menurunkan laju pertumbuhan. Oleh karena itu harus ada cara, bagaimana manfaat pertumbuhan ekonomi dapat didistribusikan sehingga distribusi pendapatan meningkat sepanjang waktu dengan meningkatnya pertumbuhan. Konsep tersebut dikembangkan oleh World Bank, dinamakan redistribusi dengan pertumbuhan atau “redistribution with growth/ RWG” (Chenery and Syrquin, 1975; Gillis et al., 1987). Hanya melalui peningkatan GNP akan ada sesuatu yang berarti untuk bisa didistribusikan. Distribusi tidak dapat diharapkan sebagai produk sampingan dari pertumbuhan melainkan harus diciptakan dari unsur kebijakan. Ide dasar dari RWG adalah kebijakan pemerintah harus mempengaruhi pola pembangunan sedemikian rupa sehingga produsen

(13)

berpendapatan rendah (yang pada umumnya berlokasi terutama di sektor pertanian dan industri perdesaan berskala kecil) akan melihat peluang untuk meningkatkan pendapatan.

Terdapat tujuh instrumen kebijakan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut (Gillis et al., 1987) yaitu : (1) mengubah harga tenaga kerja dan kapital untuk memberi dorongan pada tenaga kerja tidak berpendidikan, (2) melakukan redistribusi aset melalui investasi yang memungkinkan dimiliki oleh kelompok miskin, (3) melalui pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, (4) menerapkan pajak progresif, (5) melengkapi sarana publik untuk kebutuhan makanan pokok penduduk miskin, (6) melakukan intervensi pada pasar komoditi untuk membantu produsen dan konsumen, dan (7) mengembangkan teknologi baru yang membuat pekerja berpendapatan rendah lebih produktif.

3.3. Strategi Pembangunan Ekonomi Melalui Industrialisasi

Dalam proses transformasi struktur ekonomi menuju industrialisasi, pemerintah mempunyai peran penting dalam mengatur strategi yang mengarah pada keunggulan komparatif. Menurut Anggarwal dan Tamir (1990) tindakan yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan mengubah harga relatif tenaga kerja dan modal sehingga dalam jangka panjang mengubah proporsi harga faktor. Dengan kata lain pemerintah berusaha mengubah keunggulan kompartif dari produk yang intensif tenaga kerja menjadi intensif modal. Hal ini dicapai melalui tahapan sebagai berikut. Tahap pertama adalah tahap substitusi impor. Peran pemerintah melalui intervensi pasar untuk mengubah harga-harga relatif melalui tarifikasi atau melalui pembatasan kuantitatif impor. Tahap substitusi impor bukan bertujuan untuk menciptakan keunggulan komparatif produk yang dihasilkan, tetapi mempengaruhi proporsi harga faktor. Pada tahap ini pemerintah lebih memegang peranan sementara sektor korporasi tinggal mengikuti, karena pemerintahlah yang menciptakan profit bagi sektor korporasi melalui proteksi tarif. Tahap kedua adalah tahap promosi

(14)

ekspor. Pada tahap ini produksi berada dalam pasar yang diproteksi sedangkan penjualan ekspor berada pada pasar kompetitif. Transisi dari bentuk proteksi ke pasar yang bebas seringkali tidak mudah. Tahap promosi ekspor juga dicirikan semakin berkurangnya peran pemerintah terhadap sektor korporasi. Tahap berikutnya adalah tahap investasi asing secara langsung. Pada tahap ini pemerintah hanya sebagai partner pasif. Motivasi utama pada tahap ini adalah untuk mempertahankan serta ekspansi pasar ekspor.

Di Indonesia strategi pembangunan industri dapat digolongkan menjadi tiga kelompok. Pertama adalah strategi industrialisasi substitusi impor yang berorientasi ke dalam (inward looking) dan pada pemenuhan pasar dalam negeri. Kedua adalah strategi industrialisasi yang berorientasi ekspor (export-led industrialization strategy) yang berorientasi keluar (outward looking). Ketiga adalah strategi industrialisasi dengan sektor pertanian sebagai sektor pemimpin, disebut Agricultural-Demand-Led Industrialization (ADLI Strategy). Relevansi kedua strategi terdahulu dalam membangkitkan ekonomi

negara berkembang masih dalam perdebatan. Perdebatan seputar keunggulan dan kelemahan dua strategi tersebut dan peranannya dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dan distribusi pendapatan.

3.3.1. Kebijakan Substitusi Impor

Dalih melakukan strategi substitusi impor didasarkan pada alasan bahwa secara historis perdagangan berlangsung sebagai mekanisme ketimpangan internasional yang merugikan negara berkembang dan menguntungkan negara maju. Ketimpangan tersebut muncul karena semakin lebarnya nilai tukar perdagangan (Term of Trade/TOT) antara komoditas pertanian dari negara-negara berkembang dengan komoditas industri dari negara-negara maju. Hal tersebut diatasi dengan membangun industri substitusi impor yang diproteksi melalui fasilitas bea masuk terhadap bahan-bahan mentah dan barang-barang modal. Sebagai alasan utama penerapan strategi substitusi impor adalah untuk mencukupi

(15)

kebutuhan domestik dalam jangka panjang dan menghemat devisa melalui penggantian barang-barang impor dengan produksi dalam negeri.

Oleh karena itu pembangunan industri substitusi impor melandaskan pada argumen industri muda (infant–industry argument) dimana industri semacam ini dilakukan hanya untuk kasus negara-negara yang baru berkembang dalam upaya mengatasi keterbatasan mereka sampai dapat tumbuh bersaing secara efektif di pasar internasional (Chacholiades, 1990). Gambar 3 menerangkan, pada kondisi awal, Kurva Kemungkinan Produksi (KKP) dinyatakan sebagai kurva UV dengan TOT dunia konstan pada L1P1, produksi berada di P1 dan konsumsi di C1.

Dengan adanya proteksi dan subsidi terhadap industri substitusi impor, KKP akan bergeser keluar ke kurva U1V dan produksi meningkat ke P2 dan konsumsi ke C2 yang menunjukkan terjadinya pertumbuhan ekonomi.

Salah satu ciri strategi industri substitusi impor yang dilakukan di negara-negara berkembang adalah bersifat padat modal sehingga perannya dalam penyerapan tenaga kerja sangat minimal. Hal ini sebagai konsekuensi dari adanya distorsi dalam harga relatif faktor produksi, terutama faktor modal dan tenaga kerja, yang timbul akibat kebijakan pemberian fasilitas bea masuk dan perlindungan tarif terhadap faktor modal sehingga membuat harga relatif faktor modal menjadi lebih murah dari harga relatif tenaga kerja. Dengan demikian proses pembangunan melalui strategi industrialisasi substitusi impor akan menghasilkan peningkatan produk-produk industri yang bias ke arah padat modal

Dengan kebijakan tersebut maka industri yang berkembang adalah industri padat modal skala menengah dan besar sementara industri kecil dan industri rumah tanggga yang banyak terdapat di perdesaan tidak akan dapat bersaing di pasaran. Fasilitas subsidi dan proteksi banyak dinikmati oleh pemilik modal sementara buruh sebagai faktor produksi utama pada industri-industri kecil di perdesaan tidak banyak memperoleh manfaat dan

(16)

Produk substitusi impor L2 U2 P2 L1 C2 C1 U1 P1 0 V Produk lokal

Gambar 3. Argumen Industri Muda (The Infant–Industry Argument) Sumber: Chacholiades (1990)

memunculkan kesenjangan antara industri besar dan menengah dengan industri kecil di perdesaan.

Dengan demikian strategi substitusi impor tersebut pada hakikatnya merupakan proses redistribusi pendapatan yang menguntungkan pemilik modal yang dipandang sebagai pencipta surplus (Gillis et al., 1987; Arif, 1990; Todaro, 2000). Dapat dikatakan pembangunan ekonomi melalui strategi substitusi impor pada dasarnya lebih berorientasi kepada pertumbuhan dibanding pemerataan.

Menurut Krugman dan Obsteld (1991) negara-negara yang menerapkan strategi Industri Substitusi Impor tidak menyebabkan negara-negara menjadi lebih maju karena pada dasarnya tidak memiliki keunggulan komparatif di sektor industri. Pengembangan basis industri domestik untuk beberapa negara justru mengakibatkan stagnasi pendapatan per kapita, bukan perekonomian yang tinggal landas (takeoff). Sebagai contoh adalah negara-negara India, Argentina, Meksiko, Brazil dan Pakistan.

(17)

Kebijakan substitusi impor di Indonesia dinilai tidak akan mendorong pengembangan sektor agroindustri. Industri pertanian (agroindustri) adalah industri yang sebagian besar merupakan industri menengah dan berskala kecil yang dibangun dengan teknologi padat tenaga kerja serta memiliki keterkaitan yamg kuat dengan sektor pertanian. Kebijakan substitusi impor menjadikan agroindustri menjadi inferior yang kalah bersaing dengan industri padat modal dan cenderung akan memperlambat pengembangan transformasi ekonomi perdesaan Hal ini didasarkan pada beberapa argumen. Pertama, industri substitusi impor umumnya bersifat footloose industry yang memiliki keterkaitan kebelakang (backward linkage) lemah karena menggunakan sebagian besar bahan baku impor sehingga peningkatan kapasitas produksi dalam negeri tidak menambah permintaan efektif dalam negeri dalam jumlah yang sama. Kedua, komposisi produksi industri substitusi impor lebih banyak menghasilkan barang-barang konsumsi sekunder yang dikonsumsi oleh seluruh strata masyarakat dibandingkan barang-barang produktif yang dapat menstimulir peningkatan kapasitas produksi industri pertanian. Ketiga, industri substitusi impor adalah industri padat modal sehingga penyerapan surplus tenaga kerja perdesaan kecil.

3.3.2. Kebijakan Promosi Ekspor

Kebijakan Substitusi Impor pada kenyataannya tidak dapat mendorong pembangunan ekonomi perdesaan dan pengembangan agroindustri, baik dilihat dari keterkaitannya dengan sektor pertanian maupun penyerapan tenaga kerja. Strategi tersebut juga telah menyebabkan tekanan devisa nasional semakin berat karena meningkatnya impor barang modal. Sementara itu pasar dalam negeri telah jenuh dengan barang-barang konsumsi yang selami ini diproduksi. Kondisi tersebut menyebabkan pemerintah pada tahun 1980-an mengambil kebijakan untuk menggalakkan ekspor barang-barang industri untuk tujuan langsung yang berorientasi ekspor dengan membuka investasi asing.

(18)

Pertimbangan pemerintah melakukan strategi Promosi Ekspor diantaranya adalah strategi tersebut memungkinkan terciptanya arus modal internasional dan jaringan pertukaran ketrampilan, teknologi dan manajemen. Strategi tersebut juga akan menciptakan kesempatan kerja lebih besar dibandingkan dengan strategi substitusi impor (Gillis et al., 1987; Azis, 1989). Di sisi lain mengalirnya arus modal internasional ke negara-negara berkembang karena: (1) modal internasional mencari daerah investasi di negara-negara dimana upah buruh masih murah, dan (2) adanya teknologi pada proses produksi untuk barang-barang tertentu yang memungkinkan pembagian kerja internasional (internasional division of labour) dibawah suatu atap produksi (Arif, 1990). Oleh karena di negara berkembang nilai tenaga kerja lebih rendah dibandingkan negara maju (pentransfer modal dan teknologi), untuk mempertahankan daya saing maka teknologi tersebut di realokasi ke negara berkembang. Strategi promosi ekspor dengan demikian berada dalam lingkaran bisnis multinasional yang bersifat footlose industry dengan model principle-agent, dimana principlenya tetap berada di negara penyedia teknologi sedangkan agent-nya di negara berkembang. Dengan demikian pertimbangan realokasi industri tersebut bukan didorong oleh faktor bahan baku, melainkan dengan pertimbangan terutama tenaga kerja murah dan tuntutan lingkungan yang rendah.

Mekanisme strategi promosi ekspor adalah melalui kebijakan perdagangan luar negeri yang netral, yang mengandung pengertian suatu liberalisasi perdagangan. Pembatasan impor barang jadi yang dilakukan untuk merangsang perkembangan industri substitusi impor dianggap suatu hal yang menimbulkan distorsi alokasi sumber-sumber ekonomi, karena negara akan kehilangan peluang untuk mengambil manfaat dari keunggulan komparatif (comparative advantage) dari produksi yang dapat diekspor. Oleh karena itu inti dari kebijakan promosi ekspor adalah untuk menaikkan ekspor dengan memberikan perangsang pada sektor ekspor dan bersamaan dengan itu dilakukan

(19)

liberalisasi impor untuk menghilangkan distorsi dalam alokasi sumberdaya ekonomi. Kebijakan tersebut dapat dikatakan merupakan kebijakan yang didasarkan pada pemikiran klasik atau neoklasik yang berlandaskan pada konsep perdagangan bebas.

Dengan demikian bagi negara-negara pengekspor, dasar teori melakukan strategi promosi ekspor adalah mengambil manfaat dari keuntungan komparatif tenaga kerja melalui perdagangan internasional. Teori Keunggulan Komparatif memiliki implikasi bahwa negara akan mengekspor secara intensif produk yang menggunakan faktor produksi yang melimpah dan mengimpor produk yang memerlukan faktor produksi yang relatif langka. Menurut Klein (1971), sumber keunggulan komparatif suatu negara dalam memproduksi suatu produk baru ada dua macam, yaitu: (1) keunggulan komparatif dari faktor pengetahuan (learning factor) disebut sebagai keunggualan dinamis, dan (2) keunggulan komparatif dalam proses produksi dengan memanfaatkan tenaga kerja dan atau modal yang disebut sebagai keunggulan statis. Dalam pelaksanaan strategi Promosi Ekspor, Indonesia sebagai negara berkembang memiliki keunggulan statis berupa tenaga kerja sementara negara-negara maju penyedia teknologi memiliki keunggulan dinamis teknologi Implikasi teori keunggulan komparatif tersebut dijelaskan melalui Gambar 4.

Sebelum melakukan perdagangan, suatu negara (yang diasumsikan memiliki kelimpahan sumberdaya tenaga kerja) memperoleh utilitas terbesar dengan memproduksi dan mengkonsumsi di titik A Slope pada titik A tersebut menunjukkan term of trade (TOT) produk yang intensif tenaga kerja relatif terhadap produk yang intensif kapital. Jika di negara lain memiliki sumberdaya kapital yang lebih baik dibandingkan sumberdaya tenaga kerja, maka TOT produk yang intensif tenaga kerja akan lebih tinggi dibandingkan produk yang intensif modal.

Jika yang diimpor adalah barang modal dan teknologi, maka setelah perdagangan, kemampuan produksi meningkat ke titik B dan selain itu dapat mengkonsumsi kedua

(20)

barang di titik C yang merupakan persinggungan antara TOT dunia dengan kurva indiferen yang baru, yang lebih tinggi dibanding titik semula di A. Negara akan dapat mengekspor sebesar BD dan mengimpor barang modal dan kapital sebesar CD. Dengan memanfaatkan keunggulan komparatif berupa tenaga kerja dalam melakukan perdagangan, maka dapat dicapai pertumbuhan produksi dan konsumsi yang lebih tinggi

Barang impor (padat kapital)

TOT dunia

C

TOT sebelum perdagangan A

B D

Barang ekspor (padat tenaga kerja)

Gambar 4. Keuntungan Perdagangan melalui Konsep Keunggulan Komparatif Sumber: Gillis et al.(1987)

Untuk menampung masuknya perusahaan-perusahaan mancanegara yang akan mengekspor barang-barang yang sudah dirakit, negara-negara berkembang membuka kawasan perdagangan bebas (free trade zones) atau kawasan proses ekspor (export procesing zones). Dalam prakteknya penerimaan yang dihasilkan oleh

perusahaan-perusahaan ekspor hanya berupa nilai ekivalen pembayaran terhadap pekerja-pekerja lokal dan pembelian-pembelian lokal oleh perusahaan tersebut, karena ekspor yang dilakukan

(21)

sebetulnya merupakan subcontracting export dari perusahaan luar negeri kepada afiliasinya di negara-negara lain

Dengan demikian manfaat nilai ekspor yang dinikmati negara-negara tersebut sangat minimal. Meskipun penciptaan tenaga kerja secara langsung cukup besar karena operasi perusahaan bersifat padat karya tetapi penggunaan input lokal secara umum tidak berarti sehingga keterkaitan dengan ekonomi lokal sangat kecil (Arief, 1990; Krugman dan Obsteld, 1991; Pack dan Westpal, 1986). Satu-satunya manfaat yang cukup nyata terhadap perekonomian lokal adalah pembayaran upah terhadap pekerja-pekerja lokal, namun untuk setiap pekerja pembayaran tersebut relatif rendah karena sebagian besar tenaga kerja terdiri dari pekerja-pekerja wanita yang dalam soal upah umumnya mengalami diskriminasi.

Oleh karena syarat utama pelaksanaan operasi perusahaan promosi ekspor adalah upah buruh yang rendah, maka tidak akan ada kenaikan upah riil buruh industri karena akan mempertinggi biaya produksi sehingga mengurangi daya saing barang-barang industri yang diekspor. Oleh karena itu insentif bagi perusahaan ekspor pada dasarnya menimbulkan proses redistribusi pendapatan yang menguntungkan bagi kelompok pemodal, seperti halnya pada industri substitusi impor (Gillis et.al,. 1987; Arief, 1990).

. Mekanisme kerja strategi industrialisasi promosi ekspor cenderung memerlukan adanya hubungan kedekatan antara pengusaha dan pemerintah setempat sehingga bagi pemerintah seringkali sulit untuk bertindak obyektif. Hal ini cenderung menyuburkan rent seeking dan menimbulkan distorsi harga (Gillis et al., 1987)

3.3.3. Strategi Agricultural-Demand-Led Industrialization

Baik strategi Substitusi Impor maupun strategi Promosi Ekspor dipandang tidak berhasil digunakan sebagai pendekatan pembangunan di negara-negara yang sedang

(22)

berkembang. Hal ini didasarkan pada dua faktor, yaitu pertama, kedua proses industrialisasi tersebut tidak terintegrasi dengan sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat. Kedua, kedua strategi tersebut menghasilkan redistribusi pendapatan yang cenderung menguntungkan pemilik modal. Atas dasar tersebut strategi industrialisasi yang sesuai dikembangkan di negara-negara berkembang haruslah industrialisasi yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan masyarakat luas dan meningkatkan pendapatan masyarakat luas serta memberikan efek positif terhadap kesejahteraan masyarakat luas. Mengingat sebagian besar masyarakat di negara-negara berkembang berada di sektor pertanian, maka strategi industrialisasi yang sesuai adalah strategi yang menitikberatkan program pembanguan di sektor pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak pembangunan sektor industri dan sektor-sektor lain. Strategi tersebut dinamakan strategi Agricultural Demand-Led Industrialization (ADLI Strategy). Ide dasar strategi ADLI dikemukakan oleh Adelman (1984). Pengertian strategi

tersebut dikemukakan sebagai berikut:

“The development strategy consist of public investment programme designed to induce a progressive downward shift in the supply curve of the domestic agricultural sector. The argument in favour of this strategy rest both on its linkage effect, in creating a domestic mass market for industrial product through intermediate and final demand linkages, and on its distributional impact, poor members of society. The proposed strategy is stimultaniously a growth programme, and employment programme since agriculture is considerably more labour intensive than even labour-intensive manufacturing, a basic needs, food security and income distribution programe and industrialization programme.”5

Dapat disimpulkan bahwa startegi industrialisasi ADLI merupakan program investasi masyarakat untuk mendorong kurva suplai produk pertanian menjadi lebih elastis. Permintaan dalam negeri dikembangkan melalui pembangunan sektor pertanian sehingga sektor pertanian menjadi pasar yang efektif untuk produk-produk sektor industri melalui keterkaitan permintaan barang-barang antara (intermediate demand) dengan permintaan

5

Adelman, 1984. Beyond Export-Led Growth. Institution and Development Strategies. The Selected Essay of Adelman, 1995, hal 291.

(23)

akhir (final demand). Proses pembangunan industri melalui strategi ADLI bukan hanya merupakan proses pembangunan yang didasarkan atas teknologi padat karya dengan sektor pertanian sebagai sektor pemimpin yang akan menciptakan pertumbuhan seiring dengan perluasan kesempatan kerja, namun juga merupakan program industrialisasi yang dapat mendukung program ketahanan pangan dan pemerataan pendapatan. Dengan uraian demikian, jelas bahwa strategi ADLI merupakan strategi industrialisasi yang akan dapat mendukung pengembangan sektor agroindustri.

Paradigma baru pembangunan pertanian menempatkan strategi Agricultural Demand-Led Industrialization (ADLI) sebagai strategi industrialisasi yang menitikberatkan

program pembangunan di sektor pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai penggerak pembangunan sektor industri dan sektor-sektor lain (Adelman, 1984; DeJanvry, 1984). Strategi ini berperan penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui peningkatan investasi dan inovasi teknologi, serta meningkatkan pendapatan masyarakat di perdesaan. Mengacu teori keterkaitan, keterkaitan ke belakang merangsang investasi pada industri yang mensuplai input, dan keterkaitan ke depan mendorong investasi untuk tahapan produksi lebih lanjut. Peningkatan produktivitas pertanian melalui keterkaitan ke belakang akan menstimulus permintaan input pertanian (pupuk, pestisida dan benih unggul) dan barang-barang kapital (jaringan irigasi, mesin pertanian, transportasi dan infrastruktur lain) serta meningkatkan permintaan tenaga kerja. Sedangkan keterkaitan ke depan akan mendorong pengembangan industri yang menggunakan bahan baku sektor pertanian yaitu sektor agroindustri.

Peningkatan kesempatan kerja bukan hanya di sektor pertanian, juga akan menciptakan kesempatan kerja non pertanian maupun jasa. Melalui keterkaitan ke depan, investasi di sektor pertanian tersebut akan menstimulus investasi di sektor industri pengolahan pertanian dan industri non pertanian lain serta jasa. Di sisi lain peningkatan

(24)

produktivitas pertanian akan meningkatkan pendapatan rumah tangga yang pada akhirnya menstimulus peningkatan konsumsi pangan, baik bahan pangan primer maupun olahan serta konsumsi non pertanian lain. Oleh karena itu kunci keberhasilan strategi ADLI adalah keterkaitan yang kuat antara sektor pertanian dengan sektor industri pengolahan pertanian dan keterkaitan dengan industri pemasok input sektor pertanian.

Di negara-negara yang sedang berkembang, konsumsi domestik merupakan faktor utama pertumbuhan ekonomi, dan mengingat sebagian besar penduduk tinggal dan bekerja di sektor pertanian dan menggantungkan hidup mereka di sektor pertanian, maka strategi ADLI merupakan strategi pembangunan pertanian yang memanfaatkan kekuatan permintaan rumah tangga perdesaan dalam rangka meningkatkan barang industri dan jasa yang padat tenaga kerja. Dalam hal ini sektor agroindustri atau industri pengolahan yang berbasis pertanian serta sektor pertanian primer merupakan sektor andalan pembangunan pertanian melalui strategi ADLI.

Menurut Adelman (1984) strategi ADLI memiliki potensi untuk bisa mencapai pertumbuhan yang sama cepat dengan strategi Export- Led, tetapi memiliki kelebihan-kelebihan lain, yaitu menghasilkan tingkat penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi, distribusi pendapatan yang lebih baik, menghasilkan Balance of Payment (BOP) yang lebih baik serta mengurangi kemiskinan.

Ide dasar strategi ADLI adalah keterkaitan antar sektor yang telah dikemukakan sebelumnya oleh Hirschman (1958). Hirschman memandang sektor pertanian tidak memiliki keterkaitan yang kuat (khususnya kaitan ke belakang) untuk dapat menstimulir pembentukan kapital sehingga sektor pertanian tidak dapat dijadikan sebagai sektor andalan. Pandangan Hirschman tentang sektor pertanian yang hanya berdasarkan atas keterkaitan produk tersebut menempatkan sektor pertanian sebagai sektor yang pasif dan inferior.

(25)

Perbedaan konsep keterkaitan yang dikembangkan oleh Adelman melalui strategi ADLI dengan konsep keterkaitan sektor sebelumnya (Hirchman, 1958; Panchamukti, 1975; Bulmer dan Thomas, 1982) adalah bahwa penekanan keterkaitan pada strategi ADLI bukan hanya melalui keterkaitan produk tetapi juga pada keterkaitan konsumsi dan investasi. Ranis (1984), De Janvry (1984), Singer (1979), Mellor (1976) dan Adelman (1984) menyatakan bahwa sektor pertanian memiliki potensi untuk menghasilkan permintaan yang menstimulir industrialisasi. Pemikiran tersebut kemudian ditegaskan oleh Adelman (1984) melalui konsep strategi ADLI yang mengutamakan peningkatan produkivitas pertanian melalui inovasi teknologi dan peningkatan investasi dalam upaya meningkatkan pendapatan rumah tangga perdesaan.

Tujuan industrialisasi menurut konsep ADLI dicapai bukan hanya melalui peningkatan output tetapi juga dengan memperluas permintaan domestik terhadap barang-barang antara dan konsumsi akhir yang diproduksi oleh industri domestik. Keterkaitan antara input antara dengan konsumsi akhir akan memperluas permintaan domestik terhadap barang-barang antara yang diproduksi oleh sektor pertanian dan lebih lanjut akan mendorong investasi pada industri pengolahan. Dengan memfokuskan pada keterkaitan produksi, pendapatan dan konsumsi secara bersama-sama, strategi ADLI bertujuan untuk meningkatkan ekonomi berpendapatan rendah menuju jalur pertumbuhan yang lebih merata dan berkelanjutan. Berdasarkan penjabaran konsep ADLI tersebut, sektor pertanian primer dapat disebut sebagai dasar atau fondasi sedangkan sektor agroindustri sebagai pilar bagi pengembangan strategi ADLI.

Strategi ADLI diimplementasikan melalui investasi infrastruktur di sektor pertanian primer dan agroindustri baik secara fisik maupun kelembagaan melalui diseminasi teknologi pertanian yang sesuai dan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan (research and development) yang difokuskan pada produksi pangan skala

(26)

kecil. Dua tujuan kebijakan yaitu mengatasi hambatan teknologi dan institusi pada produksi pangan sektor pertanian, merupakan inti dari strategi ADLI (Singer, 1979; Adelman, 1984; Mellor, 1986).

Mekanisme strategi ADLI adalah dengan mendorong permintaan output industri melalui peningkatan permintaan input industri dan melalui peningkatan konsumsi barang-barang industri, khususnya industri pangan oleh petani. Oleh karena itu kunci keberhasilan strategi ADLI adalah pada pengaruh keterkaitan antara sektor pertanian dengan sektor agroindustri. Model simulasi yang dilakukan oleh Adelman (1984) di beberapa negara industri baru (NICs) seperti Korea menunjukkan bahwa strategi ADLI berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, industrialisasi dan memperbaiki BOP selain juga berhasil meningkatkan distribusi pendapatan dan meningkatkan suplai kebutuhan bahan pokok bagi masyarakat miskin maupun kaya. Dalam konteks indikator ekonomi seperti tersebut strategi ADLI mengungguli strategi industri export-led growh.

Keberhasilan strategi ADLI mensyaratkan beberapa asumsi, pertama: (1) adanya keterkaitan yang kuat antar sektor, (2) suplai produk pertanian maupun industri bersifat responsif, dan (3) ketersediaan teknologi pertanian yang sesuai secara spesific dengan komoditas yang dikembangkan, keadaan lahan dan iklim setempat. Kedua, manajemen nilai tukar pertanian dilakukan secara hati-hati sehingga dapat diperoleh peningkatan pendapatan dan keuntungan petani dengan adanya peningkatan produktivitas pertanian tersebut. Ketiga, pengaturan pemilikan lahan sedemikian rupa sehingga petani responsif terhadap insentif harga dan adopsi teknologi pertanian lebih lanjut Selain itu keberhasilan strategi ADLI juga mensyaratkan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga golongan rendah lebih banyak dialokasikan untuk peningkatan konsumsi produk olahan pertanian sehingga akan mendorong peningkatan produk agroindustri yang lebih lanjut akan

(27)

mengakselerasi investasi sektor agroindustri, dan peningkatan produktivitas pertanian dilakukan dengan menggunakan teknologi padat tenaga kerja sehingga berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja (Adelman dan Vogel, 1990).

3.4 Kerangka Pemikiran

Menurut Todaro (2000) negara-negara yang sedang berkembang memiliki karakteristik diantaranya: (1) tingkat kehidupan yang rendah yang dicerminkan terutama oleh tingkat pendapatan rendah atau tingkat kemiskinan yang tinggi, akses terhadap pendidikan yang rendah, serta sarana dan fasilitas kesehatan dan perumahan yang buruk, (2) tingkat pengangguran yang tinggi, dan (3) tingkat produktivitas yang rendah. Oleh karena itu tujuan pembangunan nasional adalah bagaimana mengatasi keterbatasan tersebut dengan cara mendorong pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya dapat mengurangi tingkat kemiskinan

Pertumbuhan ekonomi merupakan persyaratan utama (neccesery condition) untuk mengurangi kemiskinan. Namun dengan hanya memacu pertumbuhan ekonomi saja bukanlah persyaratan yang cukup (sufficient condition) untuk mengatasi masalah kemiskinan karena akan memunculkan trade off terhadap pemerataan yang cenderung buruk (Kuznets, 1955). Pertumbuhan ekonomi akan kehilangan makna bagi golongan miskin apabila dibarengi dengan meningkatnya ketidakmerataan. Atau dengan kata lain jika manfaat dari pertumbuhan tersebut lebih banyak mengarah pada golongan kaya dan keadaan golongan miskin tidak bertambah baik atau bahkan cenderung lebih buruk.

Alur pikir kaitan antara pengembangan sektor agroindustri terhadap peningkatan output, penurunan kemiskinan dan distribusi pendapatan disajikan dalam Gambar 5. Paradigma lama pembangunan ekonomi di Indonesia dilakukan melalui program peningkatan produksi nasional. Kebijakan ini dilakukan karena pada awal Pelita I produksi pertanian primer mengalami kekurangan. Oleh karena itu paradigma pembangunan pertanian lebih

(28)

menekankan pada aspek peningkatan produksi. Sektor pertanian primer dalam hal ini menjadi prime mover pembangunan pertanian karena perannya sebagai sumber penyerapan tenaga kerja, sumber pendapatan sebagian besar masyarakat maupun sumber penyedia bahan baku sektor industri maupun sektor jasa.

Output 

Kesempatan kerja Kemiskinan Distribusi pendapatan SEKTOR AGROINDUSTRI keterkaitan ke depan dan

ke belakang nilai tambah SEKTOR PERTANIAN prime mover Pangsa PDRB turun equality Transformasi ekonomi eo SEKTOR INDUSTRI padat modal Pangsa PDRB naik inequality KEBIJAKAN PEMERINTAH

TUJUAN PEMBANGUNAN NASIONAL

(29)

Melalui strategi tersebut produksi pertanian primer meningkat secara nyata sekaligus diperoleh pemerataan pendapatan pada tingkat yang moderat (Booth, 2000).

Namun keberhasilan pembangunan ekonomi tidak selamanya dapat bergantung pada sektor pertanian primer. Ketika peningkatan produksi primer terjadi secara melimpah (over supply), maka muncul tekanan harga sehingga peningkatan produksi tidak diikuti

dengan peningkatan pendapatan produsen. Upaya terus memacu pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produksi primer justru akan meningkatkan resiko kerugian disamping terkendala oleh semakin terbatasnya sumberdaya, terutama lahan. Pangsa sektor pertanian primer terhadap pendapatan nasional terus mengalami penurunan.

Di sisi lain proses transformasi struktur ekonomi terus berlangsung. Pembangunan sektor industri berjalan cepat dan proses industrialisasi lebih mengarah pada industri-industri padat modal dan padat teknologi yang terbatas dalam penyerapan tenaga kerja. Strategi tersebut memang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi tetapi dibarengi dengan munculnya trade off terhadap ketidakmerataan pendapatan (inequality) yang secara bertahap mengalami peningkatan6. Strategi industrialisasi seperti tersebut juga menimbulkan kesenjangan (gap) dalam penguasaan teknologi bagi pekerja-pekerja kurang berpendidikan dan ketrampilan sehingga sumberdaya tenaga kerja sektor pertanian (dimana sebagian besar berpendidikan dan berketrampilan rendah) akan terlempar dari pasar tenaga kerja.

Berdasarkan pengalaman empiris tersebut, maka harus ada paradigma baru pembangunan ekonomi yang mengakar pada tujuan pembangunan nasional yang bukan hanya semata-mata berorientasi pada peningkatan output, namun juga berorientasi pada penurunan kemiskinan serta pemerataan distribusi pendapatan. Salah satu strategi pengembangan sektor pertanian yang mendukung proses industrialisasi adalah melalui

6

Dari data BPS (1999), perbedaan antara pendapatan rumah tangga buruh tani dan golongan atas di kota mulai meningkat setelah tahun 1990 dan mencapai tertinggi tahun 1997-1998.

(30)

pengembangan agroindustri. Agroindustri memiliki potensi mendorong pertumbuhan yang tinggi karena nilai tambah yang dapat mempercepat transformasi struktur ekonomi dari sektor pertanian ke industri. Agroindustri juga dapat dipandang sebagai transmisi yang paling tepat dalam menjembatani proses transformasi tersebut. Melalui kemampuannya dalam menciptakan kaitan ke depan dan ke belakang agroindustri memiliki spektrum usaha yang luas. Kaitan ke belakang dari suatu investasi baru memunculkan peluang investasi baru lainnya dalam sektor input. Kaitan ke depan menciptakan kesempatan investasi baru yang menggunakan output dari proses terdahulu menjadi input pada proses berikutnya. Karena bahan baku yang digunakan berada di perdesaan, maka pengembangan agroindustri akan menciptakan kesempatan kerja baru di sektor pertanian, mencegah urbanisasi yang selanjutnya berdampak pada penurunan tingkat kemiskinan dan diharapkan juga akan dapat menciptakan pemerataan yang lebih baik.

Penurunan kemiskinan atau peningkatan pendapatan masyarakat akan meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap produk agroindustri sehingga akan mendorong pula peningkatan output. Peningkatan output yang cepat melalui pengembangan agroindustri akan lebih menarik pengusaha, investor dan sumberdaya ke sektor tersebut. Kebijakan investasi akan dipusatkan pada kegiatan usaha yang memiliki kaitan intersektoral yang kuat. Hal ini akan meningkatkan pengembangan sektor agroindustri lebih lanjut sebagai akibat dari munculnya investasi baru. Dengan demikian terdapat arus bolak balik antara pengembangan agroindustri dan kebijakan investasi.

3.5. Model Sistem Neraca Sosial Ekonomi

Kerangka model SNSE atau model SAM (Social Accounting Matrix Model) dipakai untuk menjelaskan keterkaitan aspek-aspek ekonomi dan sosial secara kompak dan terpadu. Model SNSE dapat disebut sebagai perluasan dari model I-O (Input-Output model), dimana dalam model I-O hanya dijelaskan arus transaksi ekonomi dari sektor

(31)

produksi ke sektor faktor produksi, rumah tangga, pemerintah dan luar negeri. Sedangkan pada model SNSE, institusi rumah tangga akan menjadi fokus utama analisis dan bersama-sama dengan faktor produksi dan kegiatan produksi, unsur-unsur tersebut akan diuraikan secara lebih rinci. Rumah tangga dirinci menurut menurut karakteristik ekonomi, sosial maupun sifat-sifat demografisnya. Faktor produksi dirinci menurut jenisnya, yaitu tenaga kerja dan modal. Sedangkan kegiatan produksi yang menghasilkan barang dan jasa dirinci menurut lapangan usaha dan komoditas. Selain itu beberapa variabel makroekonomi, yaitu pajak, subsidi dan kapital juga tercakup dalam model SNSE sehingga model SNSE dapat menggambarkan transaksi antar sektor, institusi dan makroekonomi secara komprehensif dan konsisten dalam suatu neraca. Keunggulan model SNSE dibandingkan model I-O adalah bahwa model SNSE dapat menjelaskan distribusi pendapatan dalam perekonomian.

Model SNSE merupakan suatu sistem kerangka data yang dapat menghubungkan antar variabel atau subsistem di dalamnya secara terpadu. Hubungan tersebut seperti dinyatakan dalam Gambar 6, yang menggambarkan keterkaitan antara: (1) kegiatan atau struktur produksi, (2) distribusi nilai tambah atau distribusi pendapatan faktorial, (3) distribusi pendapatan rumah tangga, serta (4) konsumsi, tabungan dan investasi.

Keterkaitan antar variabel diterangkan sebagai berikut. Permintaan produk barang dan jasa oleh rumah tangga dipenuhi melalui proses produksi yang menghasilkan berbagai output (komoditas-komoditas) dengan menggunakan input antara (inermediate input), juga faktor-faktor produksi (seperti tenaga kerja dan modal) yang sebagian besar dimiliki oleh rumah tangga. Permintaan turunan (derived demand) terhadap faktor-faktor produksi tersebut kemudian menghasilkan pendapatan faktorial (factorial income) yang diterima rumah tangga sebagai pemilik faktor-faktor produksi. Pendapatan tersebut akan terdistribusi pada kelompok-kelompok rumah tangga sebagai pemilik faktor produksi sehingga ketimpangan pendapatan dapat dilihat dari pola distribusi tersebut. Pendapatan

(32)

tersebut oleh rumah tangga akan dibelanjakan kembali untuk konsumsi, demikian seterusnya. Output dari sektor produksi juga akan menghasilkan PDB dan penerimaan pemerintah. Proses siklus ekonomi tersebut akan menciptakan berbagai kebutuhan dan kegiatan lain, seperti kebutuhan investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor, impor dan sebagainya.

Gambar 6. Diagram Modular Sistem Neraca Sosial Ekonomi Sumber : BPS (2003)

Dengan demikian dalam menganalisis distribusi pendapatan rumah tangga, terdapat hubungan antar tiga bentuk sub-sistem, yaitu: (1) struktur produksi dirinci menurut kegiatan atau sektor-sektor ekonomi, (2) pendapatan (nilai tambah) dari setiap sektor dirinci menurut balas jasa yang dibayarkan kepada masing-masing faktor produksi, dan (3) distribusi pendapatan rumah tangga yang dianalisis melalui pemilikan faktor-faktor

Kebutuhan dasar

Pengeluaran rumah tangga

Permintaan akhir Distribusi Pendapatan

Rumah tangga Konsumsi dan Investasi

Pemerintah Pemerintah Ekspor, impor, dan neraca pembayaran Kegiatan Produksi PDB dan distribusi pendapatan

(33)

produksi oleh berbagai kelompok rumah tangga dan distribusi laba yang dibagikan, serta transfer dari pemerintah kepada rumah tangga.

3.5.1. Kerangka Dasar

Kerangka dasar SNSE berbentuk matriks berukuran 4 x 4. Vektor baris menunjukkan rincian penerimaan, sedangkan vektor kolom menunjukkan rincian pengeluaran. Untuk kegiatan yang sama, total nilai transaksi pada kolom harus sama dengan total transaksi pada baris, atau dengan kata lain jumlah penerimaan sama dengan pengeluaran. Kondisi ini harus terpenuhi agar terpenuhi syarat keseimbangan. Baik vektor penerimaan maupun pengeluaran sesuai fungsinya dibedakan atas variabel eksogen dan variabel endogen. Perbedaan tersebut dimaksudkan untuk mengukur pengaruh sebab akibat transaksi (dampak multiplier) dalam analisis matrik tersebut. Empat submatrik atau neraca utama dalam SNSE adalah: (1) neraca faktor produksi, (2) neraca institusi, (3) neraca sektor produksi, dan (4) neraca lainnya (rest of world)

Neraca SNSE dapat diurai ke dalam komponen yang lebih rinci. Round (2003) membedakan neraca sektor produksi atas aktivitas produksi dan komoditas. Neraca insitusi dipisahkan ke dalam 3 komponen, yaitu rumah tangga, pemerintah dan perusahaan, dan terdapat neraca kapital dan neraca Rest of World. Sedangkan komponen yang menyusun pengeluaran maupun penerimaan pada masing neraca ditampilkan pada masing-masing submatrik neraca yang bersangkutan (Tabel 3).

Neraca komoditas menjelaskan transaksi pasar domestik. Pengeluaran neraca komoditas pada kolom 1 meliputi pengeluaran untuk impor dan pengeluaran untuk memproduksi barang-barang domestik, yang meliputi biaya-biaya dari sektor jasa dan perdagangan dan pajak langsung. Baris 1 menunjukkan penerimaan dari penjualan domestik barang-barang antara, permintaan akhir rumah tangga, konsumsi pemerintah dan investasi. Neraca aktivitas produksi menjelaskan tentang transaksi pembelian bahan-bahan mentah (raw

(34)

Institusi Pendapatan

Komoditas Aktivitas produksi

Faktor

produksi Rumah tangga Perusahaan Pemerintah Neraca kapital

Rest of World Total 1. Komoditas Permintaan antara Konsumsi rumah tangga Konsumsi pemerintah Investasi dan stok Ekspor Permintaan produk 2. Aktivitas produksi Penjualan

domestik

Penjualan produksi 3. Faktor produksi Nilai tambah

faktor produksi Pendapatan faktor dari luar negeri Penerimaan faktor produksi 4. Institusi

. Rumah tangga Pendapatan tenaga kerja dan lainnya Transfer antar rumah tangga Keuntungan yang dibagikan ke RT Transfer dari pemerintah Pendapatan tenaga kerja lainnya Transfer dari luar negeri Pendapatan rumah tangga

Perusahaan Surplus usaha Transfer ke perusahaan

Surplus usaha Transfer dari luar negeri

Pendapatan perusahaan Pemerintah Pajak

produksi

Pajak langsung Pajak langsung

Transfer dari luar negeri

Pendapatan pemerintah 5. Neraca kapital Tabungan

rumah tangga Tabungan perusahaan Tabungan pemerintah Transfer kapital Transfer kapital dari luar negeri Pendapatan atas modal

6 Rest of World Impor Keseimbangan

neraca kapital Penerimaan dari ROW Total Penawaran produksi Biaya produksi Pembayaran faktor produksi Pengeluaran rumah tangga Pengeluaran perusahaan Pengeluaran pemerintah

Total investasi Pengeluaran ke ROW

Sumber : Round (2003).

8

(35)

material), barang-barang antara (intermediate goods), dan sewa faktor produksi untuk

memproduksi komoditas. Pengeluaran neraca aktivitas meliputi pengeluaran untuk permintaan antara, pembayaran faktor produksi tenaga kerja dan modal yaitu berupa upah dan sewa dan nilai tambah pajak. Penerimaan neraca aktivitas berasal dari penjualan domestik. Neraca faktor produksi menerangkan penerimaan dan pengeluaran dari faktor produksi yaitu tenaga kerja dan modal.Pengeluaran neraca faktor produksi pada kolom 3 meliputi pendapatan yang didistribusikan ke rumah tangga atas tenaga kerja mereka dan keuntungan yang didistribusikan untuk kapital, pajak pendapatan dan pembayaran faktor dari luar negeri. Penerimaan neraca faktor produksi pada baris 3 berasal dari penerimaan upah dan sewa serta pendapatan faktor dari luar negeri.

Neraca institusi dibedakan menjadi institusi rumah tangga (yang dapat dibedakan lebih lanjut menjadi beberapa kelompok berdasarkan kelompok sosial ekonomi), institusi pemerintah dan swasta. Pengeluaran untuk insitusi rumah tangga, yaitu dalam bentuk

konsumsi, transfer antar rumah tangga, pembayaran untuk pajak serta alokasi untuk tabungan. Sedangkan penerimaan rumah tangga berasal dari pendapatan tenaga kerja dan modal, keuntungan yang dibagikan dan berbagai macam transfer. Pengeluaran dan alokasi

untuk tabungan perusahaan. Sedangkan perusahaan menerima pendapatan dari keuntungan yang tidak didistribusikan dan surplus usaha.

Pengeluaran pemerintah pada kolom 5 berupa konsumsi pemerintah dan berbagai transfer yang diberikan ke rumah tangga dan perusahaan. Sedangkan pendapatan

pemerintah berasal dari nilai tambah pajak dari aktivitas produksi dan berbagai pajak lainnya.

Neraca kapital memperoleh pendapatan dari tabungan dan transfer kapital,

sedangkan pengeluaran berupa pengeluaran untuk investasi, surplus yang dibagikan ke perusahaan, pendapatan lain yang dibagikan ke faktor produksi serta transfer kapital.

(36)

Neraca Rest of World adalah neraca yang mencatat transaksi luar negeri, dimana

pendapatan bersumber dari ekspor sedangkan pengeluaran berasal dari impor dan transfer ke luar negeri.

Susunan SNSE yang sederhana dapat dilihat pada Tabel 4. Setiap neraca terdiri dari satu lajur baris dan satu lajur kolom, yang menunjukkan jenis transaksi yang sama. Isian pada lajur baris menjelaskan struktur penerimaan, sedangkan isian pada lajur kolom

menjelaskan struktur pengeluaran. Notasi Ti.j digunakan untuk menunjukkan matriks transaksi yang diterima oleh neraca baris ke- i dari neraca kolom ke- j sedangkan notasi Ti menunjukkan total penerimaan neraca ke-i, dan T*j menunjukkan total pengeluaran neraca

ke-j. Dalam kerangka SNSE, karena neraca penerimaan harus sama dengan pengeluaran, maka Ti harus sama dengan T*juntuk setiap i = j. Pada setiap angka dalam submatrik mencerminkan hubungan antara transaksi pada satu neraca dengan transaksi pada neraca yang lain dan memiliki makna singkat Sedangkan perpotongan antar neraca yang tidak

memiliki arti ditunjukkan oleh simbol 0. Dengan demikian dari perpotongan antar neraca tersebut, terdapat empat perpotongan neraca baris dan kolom pada neraca SNSE yang dipandang penting, yaitu: (1) perpotongan antara submatrik faktor produksi dan sektor

produksi (T1.3) yang menggambarkan alokasi nilai tambah dari sektor produksi ke faktor-faktor produksi, (2) perpotongan antara submatrik institusi dan faktor-faktor produksi (T2.1) yang menggambarkan alokasi pendapatan faktor produksi ke institusi rumah tangga, pemerintah dan swasta, (3) perpotongan antara submatrik sektor produksi dan institusi yang

menggambarkan struktur permintaan akhir institusi menurut komoditas pada sektor produksi (T3.2), dan (4) perpotongan antara submatrik sektor produksi dan sektor produksi (T3.3) yang menggambarkan struktur permintaan antara sektor produksi.

Dari hubungan antar transaksi neraca seperti pada Tabel 4, kinerja perekonomian nasional yang dapat ditunjukkan melalui kerangka dasar SNSE diantaranya adalah:

(37)

a. Distribusi Pendapatan Faktorial: ditunjukkan melalui submatrik T1.3 yaitu alokasi nilai tambah (Produk Domestik Bruto/PDB) yang dibayarkan oleh berbagai sektor produksi kepada faktor produksi tenaga kerja (upah dan gaji) dan faktor produksi bukan

tenaga kerja atau kapital (misalnya sewa tanah). Submatrik T1.4 menunjukkan pendapatan faktor produksi yang diterima dari luar negeri.

Tabel 4. Hubungan Antar Neraca Sistem Neraca Sosial Ekonomi Pengeluaran

Penerimaan Faktor

produksi

Institusi Sektor

Produksi

Neraca lainnya Total Faktor produksi 0 0 T1.3 Alokasi nilai tambah ke faktor produksi T1.4 Pendapatan faktor produksi dari luar negeri

T1. Distribusi pendapatan faktorial Institusi T2.1 Alokasi pendapatan faktor produksi ke institusi T2.2 Transfer antar institusi 0 T2.4 Transfer dari luar negeri T2. Distribusi pendapatan institusi Sektor produksi 0 T3.2 Permintaan akhir T3.3 Permintaan antara T3.4 Ekspor dan investasi T3. Total output Neraca lainnya T4.1 Alokasi pendapatan faktor produksi ke luar negeri T4.2 Tabungan T4.3 Impor,pajak tidak langsung T4.4 Transfer dan neraca lainnya T4. Total penerimaan lain Total T*.1 Distribusi pengeluaran faktor produksi T*.2 Distribusi pengeluaran institusi T*.3 Total input T*.4 Total pengeluaran lainnya Sumber : Pyatt dan Round (1985)

Dengan demikian persamaan matriks distribusi pendapatan faktorial dirumuskan melalui persamaan matriks sebagai berikut:

T1 = T1.3 + T1.4 ... (1)

b. Distribusi pendapatan rumah tangga: ditunjukkan melalui submatrik T2.1, T2.2 dan T2.4. Submatrik T2.1menunjukkan alokasi pendapatan faktor produksi yang dibayarkan oleh sektor produksi kemudian diterima oleh berbagai institusi, diantaranya rumah tangga. Dengan perkataan lain, submatrik T2.1 merupakan mapping dari submatrik faktor produksi dari berbagai sektor ekonomi kepada berbagai golongan institusi,

(38)

termasuk rumah tangga. Submatrik T2.2 menunjukkan transfer antar institusi, misalnya pemberian subsidi dari perusahaan ke rumah tangga dan submatrik T2.4 menjelaskan transfer yang diterima dati luar negeri. Penjumlahan dari ketiga submatrik tersebut menggambarkan distribusi penerimaan rumah tangga yang berasal dari proses distribusi dan redistribusi pendapatan faktorial, sebagai berikut:

T2 = T2.1 + T2.2 + T2.4... (2)

c. Distribusi pengeluaran rumah tangga: ditunjukkan melalui kolom institusi. Pada

kolom tersebut dapat diperoleh informasi struktur pengeluaran rumah tangga menurut berbagai komoditas (submatrik T3.2). Sedangkan submatrik T4.2 menunjukkan besarnya tabungan yang merupakan selisih antara total penerimaan dan total pengeluaran rumah tangga menurut masing-masing golongan. Distribusi pengeluaran rumah tangga ditunjukkan melalui persamaan matriks:

T*2 = T2.2 + T3.2 + T4.2 ... (3)

d. Distribusi pengeluaran input produksi : ditunjukkan melalui submatriks T1.3 yang merupakan balas jasa / kompensasi tenaga kerja yang bekerja di masing-masing sektor produksi yang harus dibayarkan dalam proses produksi, T3.3 yang berupa pembelian input antara dan T4.3 yaitu pengeluaran untuk impor dan pajak. Dengan demikian distribusi pengeluaran input produksi ditunjukkan melalui persamaan matriks:

T*3 = T1.3 + T3.3 + T4.3 ... (4) Beberapa asumsi yang melandasi model SNSE adalah: (1) seluruh kegiatan ekonomi dibagi habis ke dalam sektor dan institusi, (2) terdapat keseimbangan jumlah penerimaan dan pengeluaran dari masing-masing sektor atau institusi, (3) teknologi produksi dan dukungan sumberdaya merupakan variabel yang tetap, (4) harga adalah konstan, (5) tidak terdapat eksternalitas negatif, dan (6) perekonomian dalam keadaan ekuilibrium. Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, maka model SNSE mengandung keterbatasan yaitu analisis yang dihasilkan bersifat statik dan jangka pendek.

(39)

3.5.2. Analisis Pengganda

Pengganda neraca SNSE dapat menunjukkan perubahan pendapatan yang terjadi pada variabel endogen tertentu (pada sektor produksi atau institusi) apabila ada injeksi pendapatan pada neraca eksogen (Bautista et al., 1999).

Untuk menyusun kerangka matriks analisis pengganda neraca (accounting multiplier adalah sebagai berikut:

1. Mencari besaran kecenderungan pengeluaran rata-rata (average expenditure propensity) atau disebut sebagai koefisien input. Besaran tersebut dapat dicari dengan

membagi masing-masing isian dari setiap sel terhadap nilai total keseluruhan: Aij = Tij(Tj)-1... (5) dimana:

Aij= Kecenderungan pengeluaran rata-rata (average expenditure propensity) atau koefisien input

Tij = Neraca/submatriks baris ke-i, kolom ke-j Tj = Total kolom ke-j.

2. Dengan menggunakan koefisien input Aij dan memisahkan neraca eksogen, maka

matriks SNSE dapat ditulis sebagai berikut:

            4 3 2 1 T T T T =             3 . 4 2 . 4 1 . 4 3 . 3 2 . 3 2 . 2 1 . 2 3 . 1 0 0 0 0 A A A A A A A A           3 2 1 T T T +               4 . 4 4 . 3 4 . 2 4 . 1 T T T T ...(6)

Apabila Xi merupakan vektor matriks Ti.4 untuk masing-masing i = 1,2,3,4, maka persamaan (2) dapat ditulis pula sebagai:

          3 2 1 T T T =           3 . 3 2 . 3 2 . 2 1 . 2 3 . 1 0 0 0 0 A A A A A           3 2 1 T T T +           3 2 1 X X X ... (7) dan T4 = A4.1T1 + A4.2 T2 + A4.3T3 ... (8)

(40)

dimana T4 merupakan neraca eksogen dalam kerangka SNSE dan nilainya dapat dicari apabila T1, T2 dan T3 diketahui. Persamaan matriks di atas dapat ditulis dalam notasi matriks sebagai: T = AT + X ... (9)

T - AT = X ... (10) T ( I - A ) = X ... (11) T = ( I - A )-1X ... (12) T = MaX ... (13) dimana Ma = (I – A)-1 disebut sebagai matriks pengganda neraca (accounting multiplier) dan (I – A)-1 disebut sebagai matriks kebalikan Leontief. Model tersebut menjelaskan bahwa pendapatan neraca endogen (yaitu neraca faktor produksi, neraca institusi dan neraca sektor produksi) yang dinyatakan dalam notasi T, akan berubah sebesar Ma unit akibat adanya perubahan neraca eksogen, dinyatakan dalam notasi X sebesar satu unit. Besarnya Ma ditentukan oleh besaran koefisien multiplier pada matriks (I – A)-1. Analisis pengganda neraca dapat memperlihatkan keterkaitan sektor-sektor ekonomi dan informasi mengenai pemerataan pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat.

Dalam model pengganda neraca SNSE, yang dianggap sebagai neraca eksogen adalah: (1) neraca pemerintah, (2) neraca kapital, (3) neraca pajak tidak langsung neto, dan (4) neraca luar negeri. Sedangkan yang dianggap sebagai neraca-neraca endogen adalah: (1) neraca faktor produksi, (2) neraca institusi (rumah tangga, pemerintah dan perusahaan), (3) neraca sektor produksi, dan (4) neraca komoditas domestik dan komoditas impor.

Pengganda neraca Ma dapat didekomposisi menjadi beberapa komponen. Pyatt dan Round (1985) dalam Daryanto (2000) melakukan dekomposisi pengganda neraca Ma ke dalam beberapa komponen. Dekomposisi dilakukan untuk melihat proses perubahan neraca endogen akibat dari perubahan neraca eksogen. Terdapat tiga komponen hasil dekomposisi matriks neraca pengganda Ma dalam bentuk perkalian (multiplikatif) yang dirumuskan sebagai berikut:

Figur

Gambar 3. Argumen Industri Muda (The Infant–Industry Argument) Sumber: Chacholiades (1990)

Gambar 3.

Argumen Industri Muda (The Infant–Industry Argument) Sumber: Chacholiades (1990) p.16
Gambar 5. Alur Pikir Penelitian: Pengembangan Sektor Agroindustri

Gambar 5.

Alur Pikir Penelitian: Pengembangan Sektor Agroindustri p.28
Gambar 6. Diagram Modular Sistem Neraca Sosial Ekonomi Sumber : BPS (2003)

Gambar 6.

Diagram Modular Sistem Neraca Sosial Ekonomi Sumber : BPS (2003) p.32
Tabel 4. Hubungan Antar Neraca Sistem Neraca Sosial Ekonomi

Tabel 4.

Hubungan Antar Neraca Sistem Neraca Sosial Ekonomi p.37
Gambar 8 merupakan jalur dasar yang bersebelahan dengan jalur sirkuit seperti pada Gambar 7 namun ditambah dua jalur dasar dengan kutub asal i dan kutub tujuan j yang sama, yaitu jalur (i,s,j) dan jalur (i,v,j)

Gambar 8

merupakan jalur dasar yang bersebelahan dengan jalur sirkuit seperti pada Gambar 7 namun ditambah dua jalur dasar dengan kutub asal i dan kutub tujuan j yang sama, yaitu jalur (i,s,j) dan jalur (i,v,j) p.48

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :