*Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado **Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Teks penuh

(1)

30

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MOTOBOI KECIL KOTA KOTAMOBAGU

Liana L. Agow*, Jootje. M. L. Umboh**, Hesti Lestari*

*Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado

**Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

ABSTRAK

Air Susu Ibu merupakan asupan yang sangat baik pada 6 bulan pertama kehidupan. Pemberian ASI pada bayi merupakan cara terbaik peningkatan gizi dan kualitas sumber daya, ASI mengandung zat – zat gizi yang struktur dan kualitasnya sangat cocok dan mudah diserap oleh bayi. Cakupan pemberian ASI eksklusif di propinsi Sulawesi Utara masih jauh dari target nasional yaitu sebesar 70%. Puskesmas Motoboi Kecil (15,1%). Tujuan penelitian ini untuk faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian asi eksklusif di di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan rancangan cross-sectional study. Populasi dalam penelitian ini yaitu semua ibu-ibu yang memiliki anak usia 7-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu. Sampel penelitia ini dipilih diantara populasi yang memenuhi criteria inklusif penelitian, pengambilan sampel di piih dengan cara acak sederhana (simple random sampling). Analisis yang digunakan ialah univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai signifikan Pendidikan Ibu (0,244), Sikap Ibu (0,148), Usia Ibu (0,022), Paritas (0,000) dan Dukungan petuas kesehatan (0,000) dengan pemberian ASI Eksklusif DI Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa factor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu yaitu Usia, paritas dan dukungan tenaga kesehatan. Di harapkan kepada para petugas kesehatan lebih aktif memberikan penyuluhan mengenai pentingnya member ASI eksklusif kepada bayi, sejak ibu memeriksakan kehamilannya sampai bayi lahir untuk mendukung ibu memberikan ASI ekslusif kepada bayinya .

Kata Kunci: ASI Eksklusif

ABSTRACT

BMS is an excellent intake in the first 6 months of life. Breastfeeding infants is the best way of improving nutrition and quality of the resource, breast milk contains substances - nutrients that the structure and quality is very suitable and easily absorbed by the baby. Scope of exclusive breastfeeding in the province of North Sulawesi is still far from the national target of 70%. Small Motoboi Puskesmas (15.1%). The purpose of this study for the factors associated with exclusive breastfeeding in at Puskesmas Small Motoboi Kotamobagu City. This study uses observational analytic with cross-sectional study. The population in this study are all mothers who have children aged 7-12 months in Puskesmas Small Motoboi Kotamobagu City. Samples have been empirically among the population that meets the criteria of inclusive studies, sampling at Choose your random way (simple random sampling). The analysis is univariate, bivariate with chi-square test, and multivariate analysis. The results showed that the significant value of Capital Education (0.244), Attitude Capital (0.148), age of mother (0.022), parity (0.000) and health petuas Support (0,000) with exclusive breastfeeding in Puskesmas Small Motoboi City Kotamobagu. Based on the results of this study concluded that the factors associated with exclusive breastfeeding in Puskesmas Small Motoboi City Kotamobagu ie age, parity and support of health workers. Is expected to be more active health workers educate members about the importance of exclusive breastfeeding to infants, since maternal checkups until the baby is born to give exclusive breastfeeding support mothers to their babies.

Keyword: Exclusive ASI

PENDAHULUAN

Kualitas anak masa kini merupakan penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dimasa yang akan datang. Pembangunan manusia masa depan dimulai dengan pembinaan anak masa sekarang. Untuk

mempersiapkan SDM yang berkualitas dimasa yang akan datang maka anak perlu dipersiapkan agar anak bisa tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Tumbuh kembang anak dipengaruhi berbagai faktor, salah satu

(2)

31 faktor terpenting adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI).

UNICEF menyatakan bahwa memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa anak di seluruh dunia dan 30.000 kematian bayi di Indonesia serta 10 juta kematian anak balita di dunia setiap tahun bisa dicegah melalui pemberian ASI Ekslusif (Ida, 2012) .

Menurut WHO dan UNICEF (2012), dari sejumlah 136,7 juta bayi lahir di seluruh dunia dan hanya 32,6% dari mereka yang disusui secara eksklusif dalam 6 bulan pertama, sedangkan di negara industri, bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif lebih besar meninggal dari pada bayi yang diberi ASI eksklusif. Sementara di negara berkembang hanya 39% ibu yang memberikan ASI eksklusif. Hal ini dapat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa yang akan datang dan berdampak pada status kesehatan masyarakat (Anonim, 2011).

Pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan tentang ASI eksklusif tetapi cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas ) tahun 2013 menunjukkan bahwa persentase bayi yang mendapat ASI ekslusif di Indonesia adalah 30,2 % . Kondisi ini masih sangat jauh dari target nasional yaitu 80 % Rendahnya Asi eksklusif ini tentu di sebabkan oleh berbagai factor (Anonim 2011). Menurut Abdula dan Ayubi. (2012) factor yang mempengaruhi pemberian ASI ekslusif adalah : ibu bekerja atau kesibukan social sehingga memberikan susu botol, takut

kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita, ibu yang lebih mudah masi belum matang dan belum siap secara jasmani dan social dalam menyusui bayi yang di lahirkan. Dan ibu dengan pendidikan tinggi berpeluang 4 kali lebih besar memberikan ASI Ekslusif di bandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.

Cakupan pemberian ASI eksklusif di propinsi Sulawesi Utara masih jauh dari target nasional yaitu sebesar 70%. Capaian ASI eksklusif pada tahun 2011 hanya mencapai 26,3%, pada tahun 2012 meningkat mencapai 42,56%. (Anonim, 2012)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif ialah faktor predisposisi (predisposing factors) yang mencakup pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial dan unsur-unsur lain yang terdapat dalam diri individu dan masyarakat; faktor pendukung (enabling factors) yaitu tersedianya sarana pelayanan kesehatan dan kemudahan untuk mencapainya; dan faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu sikap dan perilaku petugas kesehatan (Cai, X, Wardlaw T, Brown Dw 2012)

Mamonto (2015) yang meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi di wilayah kerja puskesmas Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Timur Kota Kotamobagu, menemukan bahwa ibu-ibu yang mempunyai bayi diwilayah kerja Puskesmas Kotobangon Kotamobagu, mayoritas tidak memberikan ASI Eksklusif (73%) dibandingkan dengan ibu yang memeberikan ASI eksklusif (27%).

(3)

32 Analisis bivariat diperoleh data terdapat hubungan yang bermakna antara tempat persalinan ibu, penolong persalinan ibu, peran petugas kesehatan, sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif dan tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu, pengetahuan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif. Hasil Uji regresi logistic menunjukkan variabel sikap merupakan yang paling erat berhubungan dengan pemberian ASI ekslusif.

Berdasarkan data ASI eksklusif tahun 2014 jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif di Kecamatan Kotamobagu Selatan Puskesmas Motoboi Kecil yaitu berjumlah (17,6%) dan kecamatan Kotamobagu Timur Puskesmas Kotabangon berjumlah (7,8%), dan untuk data tahun 2015 di Kecamatan Kotamobagu Selatan Puskesmas Motoboi Kecil yaitu berjumlah (15,1%) dan kecamatan Kotamobagu Timur Puskesmas Kotobangun berjumlah (8,9%).

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti ingin mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI

eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kotamobagu.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kotamobagu, dan dilaksanakan pada bulan September-Desember 2016. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi berumur 7 - 12 bulan maka sampel penelitian 80 ibu Teknik Pengambilan Sampel. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Sofware SPSS versi 21, menggunakan tiga analisis yaitu univariat, bivariat, multivariat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hubungan Antara Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif DI Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Tabel 1 Hubungan Antara Pendidikan dengan pemberian ASI Eksklusif DI Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Pendidikan Ibu

ASI Eksklusif

Total

Nilai p

EKsklusif Tidak Ekslusif OR

n % n % n %

Tinggi 14 20,9 53 79,1 67 100

0,244 3,17

rendah 1 7,7 12 92,3 13 100

Berdasarkan tabulasi silang antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI Eksklusif diketahui bahwa 67 responden yang berpendidikan tinggi sebanyak 14 responden (20,9%) memberikan ASI

eksklusif, Sedangkan dari 13 responden yang berpendidikan rendah hanya 1 responden (7,7%) yang memberikan ASI Ekslusif. Berdasarkan hasil penelitian analisis uji Chi-Square di dapatkan hasil nilai p sebesar 0,244

(4)

33 > 0,55 yang menunjukkan bahwa pendidikan ibu tidak berhubungan dengan pemberian ASI ekslusif dalam penelitian ini diperoleh hasil bahwa responden yang berpendidikan tinggi dan rendah sama-sama lebih banyak tidak memberikan ASI eksklusif.

Hal ini menunjukkan bahwa tinggi rendahnya pendidikan ibu-ibu di wilayah Kerja Puskesmas Moboi Kecil Kota Kotamobagu tidak mempengaruhi mereka dalam memberikan ASI Eksklusif. Terdapat beberapa alas an yang menyebabkan hal ini yaitu ASI baru keluar 203 hari setelah melahitkan sehingga penolong persalinan memberikan susu formula, ASI hanya sedikit keluar setelah melahirkan sehingga dianggap todak cukup untuk bayi, ibu harus bekerja dan produksi ASI sudah tidak ada atau kering sebelum bayinya berumur 6 bulan, Hasil Pnelitian ini sejalan dengan penelitain firmansyah dan Mahmudah (2012) yang menunjukkkan bahwa pendidikan formal ibu tidak berpengaruh terhadap tindakan ibu untuk memberikan ASI secara eksklisif pada bayinya sampai usia 6 bulan.

Ogbo dkk (2015) menyatakan bahwa usia ibu yang rendah (muda), pendidikan, rendahnya tingkat kesejahteraan rumah tangga, jumlah kunjungan antenatal serta persalinan lewat Caesar dengan fasilitas

kesehatan berhubungan dengan perilaku pemberian makan pada anak. Ibu-ibu usia lebih muda (<25-34 tahun) sangat signifikan pengetahuannya yaitu kurangpengalaman dalam pemberian makanan pada anak (ASI ekslusif). Dibandingkan dengan mereka yang memiliki pendidikan rendah.

Veghari dkk (2014) bahwa lamanya pemberian ASI ekslusif berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu. Ibu-ibu yang berpendidikan rendah lebih kurang mendapatkan pengetahuan tentang ASI. Demikian halnya pendidikan ibu di Brazil dan Iraq. Ibu yang berpendidikan rendah lebih kurang mendapat pengetahuan tentang konsep pemberian ASI Ekslusifdari pda ibu-ibu yang berpendidikan tinggi

Hubungan Antara Sikap Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Tabel 2 Hubungan Antara Sikap Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Sikap Ibu

ASI Eksklusif

Total

Nilai P

EKsklusif Tidak Ekslusif OR

n % n % n %

Baik 13 22,4 45 77,6 58 100

0,148 2,889

(5)

34 Tabulasi silang antara sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa dari 58 responden yang memiliki sikap yang baik hanya 13 responden (22,4 %) memberikan ASI eksklusif, sedangkan 22 responden yang memiliki sikap yang kurang baik sebanyak 2 responden (9,1 %) yang meberikan ASI Eksklusif. Hasil analisis uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0,148 > 0,005 sehingga dapat di simpulkan bahwa sikap ibu tidak berhubungan dengan pemberian ASI Ekslusif.

Dalam penelitian ini di peroleh hasil bahwa responden yang memiliki sikap yang baik dan kurang baik sama-sama lebih banyak tidak meberika ASI ekslusif. Bagi ibi-ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil sikap yang baik ataupun kurang tentang ASI ekslusif tidak mempengaruhi mereka untuk memberikan ASI ekslusif. Hal

ini di sebabkan karena kurangnya kesadaran ibu-ibu untuk memberikan ASI Ekslusif dan masih terdapat anggapan bahwa susu formula lebih praktis dari ASI.

Hasil penelitian firmasyah dan Mahmud (2012) di Kabupaten Tuban yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan pemberian ASI ekslusif.

Hasil Penelitian ini berbeda dengan Astuti (2010) yang menemukan bahwa sikap yang baik tentang ASI ekslusif mempunyai peluang 5,94 kali untuk memberikan ASI Ekslusif di bandingkan ibu yang mempunyai pengetahuan yang rendah

Hubungan Antara Usia Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Tabel 3 Hubungan Antara Usia Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif diWilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Usia

ASI Eksklusif

Total

Nilai P

EKsklusif Tidak Ekslusif OR

n % n % n %

Baik 3 8, 1 34 91 ,9 37 100

0,022 4,387

Kurang Baik 12 27,9 31 72,1 43 100

Tabulasi silang antara usia ibu dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa dari 43 responden yang memiliki usia yang kurang baik sebanyak 12 responden (27,9 %) memberikan ASI eksklusif, sedangkan dari 37 responden yang memiliki usia yang baik sebanyak 3 responden (8,1 %) yang meberikan ASI Eksklusif. Hasil analisis

uji chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0,022 < 0,005 sehingga dapat di simpulkan bahwa Usia ibu berhubungan secara bermakna dengan pemberian ASI Ekslusif. Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 4,387 bearti responden yang usianya kurang baik memberikan ASI Eksklusif sebesar 4,387

(6)

35 kali di banding dengan responden yang usianya baik.

Berdasarkan data hasil penelitian, responden yang memiliki usia yang kurang baik 27,9 % memberikan ASI Ekslusif, sedangkan responden yang yang memiliki usia yang baik 8,1 % yang memberikan ASI esklusif. Hasil ini menunjukkan bahwa apabila ibu yang memiliki usia yang kurang baik kemungkinan ibu tidak memberikan ASI ekslusif kepada bayinya karena dengan factor usia yang masih mudah. Dari hasil penelitian responden yang memiliki usia di bawah 20 tahun mereka hanya satu kali saja memberika ASI kepada bayi mereka selanjutnya di lanjutkan dengan susu formula.

Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Zakiyah (2012) di kecamatan Kaliders Jakarta Barat yang menunjukkan bahwa semua ibu-ibu yang masih mudah tidak memberikan ASI ekslusif. Demikian pula penelitian yang di lakukan Firmansyah dan Mahmudah (2012) di Kabupaten Tuban yang manyatakan bahwa tidak ada perbedaan dalam memberikan ASI Ekslusif antara Usia yang baik dengan yang kurang baik, karena responden yang memiliki usia yang baik lebih tahu untuk memberikan ASI ekslusif sedangkan respunden yang memiliki usia yang kurang baik dapat meyediakan ASI ekslusif cadangan.

Determinan utama penyakit sehingga ASI Ekslusif tidak di capai oleh ibu-ibu yang masih sangat mudah (<25-34 tahun) kurang pengalaman dalam memberikan makanan pada anak (ASI Ekslusif). (Ogbo dkk, 2015).

Salah satu faktor yang penting dalam kehamilan adalah umur ibu waktu hamil baik untuk kepentingan si ibu maupun janin dalam pembentukan ASI. Usia 16 – 20 tahun dianggap masih berbahaya meskipun lebih kurang resikonya dibanding umur sebelumnya, namun secara mental psikologis dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. Umur 20 – 35 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa. Umur > 35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi, sebab secara fisik jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup sudah mulai menurun kesehatan reproduksinya apalagi banyak atau lebih dari tiga, dan kemampuan ibu untuk menyusui yang usianya lebih tua, produksi ASI-nya lebih rendah daripada yang usianya lebih muda

Pemberian ASI ekslusif merupakan hal yang terbaik bagi bayi. Hal ini di dukung oleh bukti secara alamiah bahwa bayi yang di beri ASI Ekslusif akan lebih sehat. Bayi yang tidak di beri ASI ekslusif akan 3 kali lebih sering di rawat dari pada nbayi yang di beri ASI eklusif. Ini berarti bayi yang di beri ASI ekslusif lebih jarang di bawa kedokter sehingga ibu lebih jarang juga meningalkan kesibukannya.

Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

(7)

36

Tabel 4 Hubungan Antara Paritas Ibu Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Paritas

ASI Eksklusif

Total

Nilai P

EKsklusif Tidak Ekslusif OR

n % n % n %

Resiko Tinggi 14 32,6 29 55,6 43 100

0,000 17,379

Resiko Rendah 1 2,7 36 94,3 37 100

Tabulasi silang antara Paritas ibu dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa dari 43 responden yang memiliki paritas dengan resiko tinggi sebanyak 14 responden (32,6%) memberikan ASI eksklusif, sedangkan dari 37 responden yang memilikiparitas dengan resiko rendah sebanyak 1 responden (2,7%) yang meberikan ASI Eksklusif. Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 17,379 bearti responden yang resiko tinggi dalam memberikan ASI Eksklusif sebesar 17,379 kali di banding dengan responden yang resiko rendah

Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil nilai p = 0,000 < 0,005 yang menunjukan terdapat hubungan bermakna antara paritas dengan pemberian ASI ekslusif. Ibu-ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil sebagian besar Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa paritas 1 atau paritas ≥ 2 ada perbedaan yang signifikan dalam hal pemberian ASI eksklusif, ini berarti belum ada pengalaman menyusui anak sebelumnya yang dimiliki responden berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zul Sathri (2010) yang menyatakan bahwa jumlah anak tidak berpengaruh terhadap lamanya menyusui.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Andrianto Wai dan Besse Sarmila bahwa semakin tinggi tingkat paritas ibu maka pengaruh positif terhadap pemberian ASI eksklusif. Alasan mereka adalah karena jumlah anak mempengaruhi tingkat pengetahuan dan adanya pengalaman menyusui sebelumnya sehingga ibu mempunyai anak banyak akan memberikan ASI eksklusif.

Secara teoritis paritas diperkirakan ada kaitannya dengan arah pencarian informasi tentang pengetahuan ibu nifas/menyusui dalam memberikan ASI eksklusif. Hal ini dihubungkan dengan pengaruh pengalaman sendiri maupun orang lain terhadap pengetahuan yang dapat mempengaruhi prilaku saat ini atau kemudian

Hubungan Antara Dukungan Petugas Kesehatan Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

(8)

37

Tabel 5 Hubungan Antara Dukungan Petugas Kesehatan Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Dukungan Petugas Kesehatan ASI Eksklusif Total Nilai P

EKsklusif Tidak Ekslusif OR

n % n % n %

Mendukung 14 3 4,1 27 65,9 41 10 0

0 ,000 19,704 Tidak

Mendukung 1 2,6 38 97,4 39 100

Tabulasi silang antara dukungan petugas kesehatan ibu dengan pemberian ASI eksklusif menunjukkan bahwa dari 41 responden yang mendapat dukungan dari petugas kesehatan sebanyak 14 responden (34,1%) memberikan ASI eksklusif, sedangkan dari 39 responden yang tidak mendapat dukungan dari petugas kesehatan sebanyak 1 responden (2,6%) yang meberikan ASI Eksklusif. Nilai Odds Ratio (OR) sebesar 19,704 bearti responden yang mendapat dukungan tenaga kesehatan dalam memberikan ASI Eksklusif sebesar 19,704 kali di banding dengan responden yang tidak mendapat dukungan dari petugas kesehatan.

Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil nilai p = 0,000 < 0.005 yang menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara dukungan petugas kesehatan dengan pemberian ASI ekslusif. Berdasarkan data hasil penelitian, responden yang mendapat dukungan tenaga petugas kesehatan sebanyak 36,4 % memberikan ASI Ekslusif, sedangkan responden yang kurang mendapat dukungan dari petugas kesehatan hanya 6,4 % yang memberikan ASI ekslusif. Ibu-ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil sebanyak 57, 5 % menyatakan

tidak mendapat penyuluhan dari petugas kesehatan tentang ASI ekslusif baik di Puskesmas maupun di posyandu. Sebanyak 81,2 % responden menyatakan bahwa petugas kesehatan juga tidak memberikan penjelasan tentang dampak atau kekurangan dari pemberian susu formula kepada bayinya apalagi jika ibu-ibu memiliki kendala dalam proses menyusui. Hal ini dapat di lihat dari rendahnya cakupan ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil. Demikian juaga pada saat melahirkan baik di klinik bersalin maupun di Rumah Sakit penolong persalinan memberikan susu formula kepada bayi dengan alas an produksi ASI masih sedikit

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati, dkk (2013) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara peran petugas kesahatan dengan pemberian ASI eksklusif (r=231).

Menurut Soetjaningsih faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI adalah faktor kurangnya petugas kesehatan yang memberikan informasi mengenai ASI sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif.

(9)

38 Secara teoritis petugas kesehatan yang mempunyai sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan mau memotivasi ibu-ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya akan berpengaruh pada pemberian ASI eksklusif. Seorang ibu yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang manfaat ASI eksklusif serta tidak dimotivasi oleh petugas kesehatan cenderung untuk tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Jadi peran petugas kesehatan Merupakan salah satu faktor penentu terhadap pemberian ASI eksklusif (Briton, dkk, 2007).

Hubungan Antara Pendidikan Ibu, Sikap Ibu, Usia Ibu, Paritas, Dukungan petuas kesehatan dan pemberian ASI Eksklusif DI Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

Berdasarkan hasil akhir analisis multivariate sebagaimana pada table di atas diketahui bahwa nilai p yang terkecil atau nilai signifikan tertinggi adalah variable dukungan petugas kesehatan yaitu 0,015. Faktor paling dominan berhubungan dengan Pemberian ASI ekslusif adalah dukungan petugas kesehaan setelah di control oleh variable paritas dan usia. Di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil ini sebanyak 48,8% ibu-ibu kurang mendapat dukungan dari petugas kesehatan untuk memberikan ASI ekslusif. Petugas kesehatan kurang member dukungan sejakkehamilan sampai ibu melahirkan dimana ketika ibu hamil mamriksakan kehamilan kurang mendapat informasi tentang ASI ekslusif dan ketika melahirkan di tempat persalinan bayi sudah

di berikan makanan pralaktal berupa susu formula dengan alas an produksi ASI sedikit sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi.

Dukungan tenaga kesehatan dalam pemberian ASI eklusif bukan hanya dalam pemberian informasi tapi di tujukan dengan tindakan tenaga kesehatan dalam pemberian ASI ekslusif bagi keluarganya, karena hal ini yang akan mempengaruhi peneliana ibu akan dukungan yang di berikan, selain itu memberikan konseling kepada ibu jika ada amasalah yang terjadi yang berkaitan dengan pemberian ASI ekslusif, tetapi terkadang terjadi justru sebalinya beberapa tenaga kesehatan sendiri yang memberikan anaknya susu formula sebelum usia 6 bulan dan menyarankan memberikan susu formula jika terjadi permasalahan ibu dalam pemberian ASI ekslusif

Menurut Kemenkes (2013) petugas kesehatan dapat berpera penting dalam memberikan dukungan psikologis untuk membantu ibu menyusui yang mengalami hambatan sehingga dengan mtivasi yang di berikan oleh petugas kesehatan akan muncul rasa percaya diri ibu untuk meyusui bayinya, akan tetapi nenerapa penelitian membuktukan bahwa sikap petugas kesehatan sangat mempengaruhi pemilihan makanan bayi oleh ibunya.

Peran tenaga kesehatan sangat berpengaruh dalam proses pemberian ASI kepada bayi. Bidan, perawat dan dokter adalah orang yang membantu pertama ibu bersalin di tempat pelayanan kesehatan ataupun di rumah sakit. Petugas kesehatan di

(10)

39 kamar bersalin harus memahami tatalaksana laktasi yang baik dan benar, petugas kesehatan harus mempunyai sikap yang positif terhadap penyusuan dini (Supariyanto, 2010).

Pemberian ASI secara ekslusif ada hubungannya dengan peran petugas kesehatan, sikap dan perhatian oleh para ahli kesehatan yang berkaitan dengan menyusui sangat iperlukan terutama dalam menghadapi promosi pabrik pembuat susu formula dan pemberian makanan pendamping ASI seperti pisang, madu, bubur nasi. Posisi Strategis dari peranan instasi kesehatan dan para petugas kesehatan di Indonesia terutama di puskesmas sangat bermanfaat bagi pelaksanaan kegiatan operasional pemasyarakaytan ASI (Rahmawati, dkk 2013).

KESIMPULAN

1. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu dengan pemberian ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

2. Tidak terdapat hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

3. Tidak terdapat hubungan antara sikap ibu dengan pemberian ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

4. Terdapat hubungan yang signifikan antara dukugan petugas kesehatan dengan pemberian ASI ekslusif di

Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

5. Terdapat hubungan yang signifikan antara paritas ibu dengan pemberian ASI ekslusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu

6. Dukungan tenaga kesehatan merupakan factor yang paling dominan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Motoboi Kecil Kota Kotamobagu setelah di control oleh variabel paritas dan usia ibu.

SARAN

Bagi Dinas Kesehatan untuk membuat program pelatihan dan penyegaran serta memberlakukan kebijakan tentang sepuluh langkah menyusui di rumah sakit, puskesmas, klinik bersalin dan bidan praktek swasta , serta membuat tindakan tegas bagi petugas kesehatan dan menambah pengetahuan tentang pemberian ASI Ekslusif kepada bayi sehingga bisa diaplikasikan dalam penerapan kepada bayi khususnya dalam pemberian ASI Ekslusif

DAFTAR PUSTAKA

Aninomous. 2012. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif . Kemenkes RI

Anonimous. 2013. Badan Litbangkes. Riset Kesehatan Dasar. (Riskesdas)

Propinsi Sulawesi

(11)

40 Astuti, Isroni, 2010. Determinan Pemberian

ASI Ekslusif Pada Ibu Menyusui. Jurnal Heakth Quality

Britton, C, F.M. McCormicle, M.J, Refrew, A. Wade and SE, King, 2007. Support for Breastfeeding Mothers (review), The Cochrane Collaboration, Willey & Sons Ltd

Cai, X, Wardlaw T, Brown DW., 2012. Global Trends In Exclusive Breastfeeding. (Journal) http://www.international breast feeding jounal.com (Diakses 10 Agustus 2016) Firmansyah, N. dan Mahmudah. 2012.

Pengaruh Karakteristik (Pendidikan, Pekerjaan), Pengetahuan Dan Sikap Ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI Ekslusif di Kabupaten Tuban. (Jurnal) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Portalgaruda.org (Diakses 10 Agustus 2016)

Ida. 2012. Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Ekslusif 6 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kemiri Muka Kota Depok. (Jurnal) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Lib.ui.ac.id (Diakses 10 Oktober 2015).

Mamonto, T. 2015. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI

Eksklusif Pada Bayi Di Wilayah Kerja Puskesmas Kotobangon Kecamatan Kotamobagu Timur Kota Kotamobagu. Tesis Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi

Ogbo, F.A, K.E. Agho and A. Page 2015. Determints Of Suboptimal Breastfeeding Practices In Nigeria. Evidence From the 2008 Demoghrapic and Health Survey. BMC Public Health. 15 :259

Rahayu, S. dan N. Apriningrum. 2014. Faktor - Faktor Yang Berhubungan Pemberian ASI Ekslusif Pada Karyawati Unsika Tahun 2013.Jurnal Ilmiah Solusi Vol. 1 No.1 Januari – Maret 2014: 55-63

Rahmawati, A., B. Bahar, dan A. Salam. 2011. Hubungan Antara Karakteristik Ibu, Peran Petugas Kesehatan Dan Dukungan Keluarga Dengan Pemberian ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Puskesmas Bonto Cani Kabupaten Bone.

Zakiya, 2012. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif di Kelurahan Semanan Kecamatan Kalideres Jakarta Barat Tahun 2012. Universitas Indonesia.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :