• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN MANFAAT PT.FREEPORT INDONESIA BAGI PAPUA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KAJIAN MANFAAT PT.FREEPORT INDONESIA BAGI PAPUA"

Copied!
204
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN MANFAAT PT.FREEPORT INDONESIA

BAGI PAPUA

Disusun oleh : Drs. Triswan Suseno Drs. Ridwan Saleh Drs. Ijang Suherman

Ir. Darsa Permana Drs. Bambang Yunianto

Drs. Jafril Usep Sabur

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA

(2)

PENGANTAR Keberadaan mineral tembaga di Papua, merupakan salah satu modal dasar pembangunan, dalam pengusahaannya diupayakan agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat baik secara regional Papua maupun nasional. PT Freeport Indonesia (PT. FI), sebagai satu-satunya perusahaan tambang yang mengusahakan mineral tembaga di Papua; secara internal, dituntut untuk meningkatkan efesiensi dalam rangka meningkatkan keuntungan perusahaan (private return). Di lain pihak, secara eksternal, keberadaan PT FI, dituntut untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya terhadap pengembangan sosial ekonomi di Papua maupun nasional.

Isu strategis yang menjadi fokus bahasan dalam kajian ini adalah terkait dengan isu

local content dan koordinasi/sinkronisasi program pengembangan dan pemberdayaan

masyarakat. Rumusan hasil kajian ini, selanjutnya akan menjadi bahan masukan kebijakan dalam penyusunan Permen ESDM tentang Penggunaan Produksi Dalam Negeri, dan Permen ESDM tentang Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat pada Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba yang saat ini sedang disusun.Sejalan dengan itu, kajian ini dilaksanakan untuk memperoleh masukan tentang berbagai permasalahan dan hambatan serta alternatif solusinya dalam upaya meningkatkan manfaat PT. FI bagi Daerah Papua.

Pada kesempatan ini, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan penelitian dan penyusunan kajian ini, mulai dari persiapan, kegiatan lapangan hingga penulisan laporan. Semoga hasil kajian ini memberikan manfaat dan kontribusi bagi terwujudnya tujuan UU No. 4 tahun 2009.

Bandung, November 2015 Penulis

(3)

S A R I

Manfaat social neto PT. FI terhadap Papua, merupakan akumulasi dari 3 komponen; kesatu, rentabilitas ekonomi karena keikutsertaannya di dalam kepemilikan saham perusahaan; kedua, kelebihan pembayaran (excess payment) karena adanya perbedaan antara nilai pasar dengan nilai ekonomi tenaga kerja, barang dan jasa serta valuta asing yang digunakan oleh perusahaan; ketiga, net external effect yaitu akumulasi dari manfaat karena penggunaan local content (keterkaitan hulu), pengolahan lanjut bijih di daerah/dalam negeri (keterkaitan hilir), pembayaran pajak dan bukan pajak kepada pemerintah (keterkaitan pembayaran kepada pemerintah), transfer teknologi dan bantuan program CSR (keterkaitan teknologi), serta keterkaitan kebutuhan akhir.

Saat ini, rentabilitas ekonomi yang berasal dari deviden yang diterima pemerintah tahun 2014 sebesar 0, karena pada tahun tersebut tidak ada keuntungan perusahaan, sedangkan nilai rentabilitas ekonomi total selama periode 1992 – 2014 sebesar USD 1.287 juta. Karena tidak ada kepemilikan saham oleh Daerah Papua, maka Daerah Papua tidak memperoleh manfaat dari nilai ini. Nilai excess payment belum dilakukan perhitungan, hanya nampaknya akan mempunyai nilai yang cukup tinggi, mengingat tenaga kerja, barang dan jasa serta valuta asing yang digunakan dalam proses produksi perusahaan sangat besar.

Dilihat dari local content, dari jumlah tenaga kerja PT FI termasuk Kontraktor sebesar 30.004 orang, 29.234 orang (97,43 %) merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan hanya 770 orang (2,57 %) tenaga kerja asing (TKA). Dari 29.234 orang TKI, 7.773 orang (26,59%) adalah berasal dari Papua (www. http://ptfi.co.id/id, 2015). Pengadaan barang berdasarkan master list 2013 (Ditjen Minerba, 2015), dari total sebesar US $ 1,74 milyar, sebesar US$ 1,16 milyar atau 66,7 % dipenuhi dari domestik, sisanya sebesar 33,3 % dipenuhi dari impor, sedangkan penggunaan jasa dalam negeri tahun 2014 sebesar 90 %. Belum diperoleh data berapa % dari pengadaan barang dan jasa domestik tersebut dipenuhi dari Propinsi Papua.

Nilai yang diperoleh dari keterkaitan hilir, masih sangat kecil mengingat bijih/konsentrat diekspor dalam bentuk bijih. Adanya program pengolahan bijih/konsentrat (smelter) di Daerah Papua/Dalam Negeri diperkirakan akan menyumbangkan manfaat yang cukup tinggi bagi Daerah Papua/Nasional. Nilai dari pembayaran pajak dan bukan pajak pada pemerintah tahun 2014 sebesar USD 539 juta dan USD 14,487 miliar selama periode 1992 – 2014, sedangkan manfaat yang diperoleh dari keterkaitan kebutuhan akhir belum dilakukan pengukuran. Nilai kontribusi perusahaan dalam program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat selama periode 1992 – 2014 sebesar USD 1,3 miliar yang terdistribusi

(4)

untuk program-program pendidikan, kesehatan, pengembangan ekonomi, infrastruktur dan lain-lain.

Berdasarkan hasil survei serta hasil analisis Tim, beberapa isu yang cukup strategis yang terkait dengan tema kajian adalah isu divestasi, pembangunan smelter, peningkatan penerimaan daerah, local content, serta koordinasi dan sinkronisasi program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat.

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... S A R I ... DAFTAR ISI ... DAFTAR TABEL ... DAFTAR GAMBAR ... BAB I PENDAHULUAN ... 1.1. Dasar Hukum ... 1.2. Latar Belakang ... 1.3. Ruang Lingkup... 1.4. Tujuan ... 1.5. Sasaran ... 1.6. Lokasi/tempat Pelaksanaan Kegiatan ...

1.7. Sistimatika Pelaporan ... 1.8. Penerima Manfaat ...

BAB II METODOLOGI ...

2.1. Metode Pengumpulan Data ... 2.2. Metode Pengolahan Data ... 2.3. Metode Kajian ...

BAB III GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA ...

3.1. Geografis dan Demografis ... 3.1.1 Geografi dan Kependudukan ... 3.1.2 Pendidikan dan Ketenagakerjaan ... 3.1.3 Kemiskinan ... 3.2. Perekonomian Daerah ... 3.2.1 PDRB Sektoral dan Pengeluaran ... 3.2.2 Location Quotiens (LQ) ...

BAB IV ANALISIS DAMPAK EKONOMI ...

A. Analisis Makroekonomi ... 4.1 Pendahuluan ... 4.1.1. Jenis Dampak Ekonomi ... 4.1.2. Mekanisme Pembentukan Dampak Ekonomi ... 4.2. Stimulus ... 4.3. Pengganda Model Ekonomi ... 4.4. Nilai Dampak Ekonomi ...

(6)

B. Analisis Mikroekonomi ... C. Diskusi tentang Ketimpangan Makroekonomi dan Mikroekonomi ...

C.1 Ketimpangan Makroekonomi dan Mikroekonomi Pasar Barang dan Jasa ... C.2 Model Perekonomian Tiga Sektor dan Tiga Pasar ... C.3 Analisis Gap Pasar Barang dan Jasa ... C.4 Analisis Gap Pasar Faktor Produksi (Tenaga Kerja) ... C.5 Analisis Gap Pasar Uang ... C.6 Diskusi dan Pembahasan ...

BAB V ANALISIS PENERIMAAN NEGARA ...

5.1. Model Analisis Fiskal ... 5.2. Penerimaan Fiskal Bagi Pemerintah ... 5.2.1 Penerimaan Fiskal Bagi Pemerintah Pusat ... 5.2.2 Penerimaan Fiskal Bagi Pemerintah Daerah ... 5.3. Belanja Pemerintah Daerah Provinsi Papua ... 5.4. Belanja Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika ...

BAB VI ANALISIS MUATAN LOKAL ...

6.1. Karakteristik Kebutuhan Barang daan Jasa pada PT FI ... 6.2. Pengukuran Muatan Lokal pada PT FI ... 6.3. Mempertemukan Kebutuhan PT FI dengan Kemampuan Daerah

Provinsi Papua ...

BAB VII PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT DARI PEMERINTAH DAERAH DAN PTFI DI KABUPATEN MIMIKA ...

7.1. Karakteristik Masyarakat di Kabupaten Mimika ... 7.1.1 Sejarah Kabupaten Mimika ... 7.1.2 Suku-Suku Papua di Kabupaten Mimika ... 7.2. Program Pengembangan Masyarakat dari Pemerintah Daerah ... 7.3. Proses Perencanaan Hingga Implementasi Program Pemerintah

Daerah ... 7.4. Program Pengembangan Masyarakat dari PT FI... 7.4.1 Jenis Program CSR yang dilakukan ... 7.4.2 Proses Perencanaan Hingga Implementasi Program ...

BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN ...

8.1. Kesimpulan ... 8.1. Saran ...

(7)
(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Gambaran Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Tahun 2013 ...

Tabel 2.2 Gambaran Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2013 ...

Tabel 2.3 Gambaran Pendidikan Provinsi Papua dan Papua Barat 2009-2013 ...

Tabel 2.4 Gambaran Ketenagakerjaan Provinsi Papua dan Papua Barat ...

Tabel 2.5 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk

Angkatan Kerja dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2011-2014 ...

Tabel 2.6 Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Menurut Lapangan

Usaha ...

Tabel 2.8 Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Barat menurut

Lapangan Usaha ...

Tabel 2.9 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Papua Barat,

2011-2013 ...

Tabel 2.10 Perbandingan Gini Ratio Nasional dan Provinsi Papua Barat,

2009-2013 ...

Tabel 2.11 PDRB Sektoral Provinsi Papua Harga Konstan 2010 (Miliar Rupiah)

Tahun 2010-2014 ...

Tabel 2.12 PDRB Sektoral Provinsi Papua Barat Harga Konstan 2010 (Miliar

Rupiah) Tahun 2010-2014 ...

Tabel 2.13 Pertumbuhan PDRB Sektoral Provinsi Papua ...

Tabel 2.14 Pertumbuhan PDRB Sektoral Provinsi Papua Barat ...

Tabel 2.15 PDRB berdasarkan Pengeluaran Provinsi Papua Harga Konstan 2010

(Juta Rupiah) Tahun 2010-2014 ...

Tabel 2.16 PDRB berdasarkan Pengeluaran Provinsi Papua Barat Harga Konstan

2010 (Juta Rupiah)Tahun 2010-2014 ...

Tabel 2.17 PDRB kabupaten/kota di Provinsi Papua Harga Konstan 2000 (Juta

Rupiah) Tahun 2010-2013 ...

Tabel 2.18 PDRB kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat Harga Konstan 2000

(Juta Rupiah) Tahun 2010-2013 ...

Tabel 3.1 Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten/Kota di

Provinsi Papua Tahun 2013 ...

Tabel 3.2 Perkembangan Angkatan Kerja, Tenaga Kerja dan Pengangguran

Terbuka di Papua ...

(9)

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun ke atas yang Termasuk Angkatan Kerja dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan di Provinsi Papua ...

Tabel 3.5 Distribusi Tenaga Kerja Menurut Lapangan Usaha ...

Tabel 3.6 Perbandingan IPM Nasional dan Provinsi Papua, ...

Tabel 3.6 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Papua,

2011-2013 ...

Tabel 3.7 Perbandingan Gini Ratio Nasional dan Provinsi Papua, 2009-2013 ...

Tabel 3.8 PDRB Sektoral Provinsi Papua Harga Konstan 2010 (Miliar Rupiah)

Tahun 2010-2014 ...

Tabel 3.9 Pertumbuhan PDRB Sektoral Provinsi Papua ...

Tabel 3.10 PDRB berdasarkan Pengeluaran Provinsi Papua Harga Konstan 2010

Tahun 2010-2014 (Milyar Rupiah) ...

Tabel 3.11 PDRB Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Harga Konstan 2010 (Juta

Rupiah) Tahun 2010-2014 ...

Tabel 3.12 Panjang Jalan Menurut Jenis jalan di Provinsi Papua ...

Tabel 3.13 Kondisi Jalan Menurut Kondisi di Papua (Km) ...

Tabel 3.14 Kondisi Infrastruktur kesehatan di Provinsi Papua...

Tabel. 3.15 Banyaknya Sekolah di Provinsi Papua ...

Tabel 4.1 Multiplier Output Sektor Lapangan Usaha pada Skala Nasional ...

Tabel 4.2 Multiplier Output Sektor Lapangan Usaha pada Skala Provinsi Papua ...

Tabel 4.3 Multiplier Pendapatan Menurut Sektor Lapangan Usaha pada Skala

Nasional ...

Tabel 4.4 Multiplier Pendapatan Menurut Sektor Lapangan Usaha pada Skala

Provinsi Papua ...

Tabel 4.5 Multiplier Kesempatan Kerja Sektor Lapangan Usaha Skala

Nasional ...

Tabel 4.6 Multiplier Kesempatan Kerja Sektor Lapangan Usaha Skala Provinsi

Papua ...

Tabel 4.7 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Nasional (Juta rupiah) ...

Tabel 4.8 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Nasional (Juta rupiah) ...

Tabel 4.9 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Nasional

(Juta rupiah) ...

Tabel 4.10 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Nasional

(Juta rupiah) ...

Tabel 4.11 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan PendapatanPekerja atau

Rumah Tangga Nasional (Juta rupiah) ...

Tabel 4.12 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan pendapatan Rumah Pekerja

(10)

Tabel 4.13 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Provinsi Papua (Juta rupiah)...

Tabel 4.14 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Provinsi

Papua (Juta rupiah) ...

Tabel 4.15 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Pendapatan Pekerja atau

Rumah Tangga Provinsi Papua (Juta rupiah) ...

Tabel 4.16 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Provinsi Papua (Juta

rupiah)...

Tabel 4.17 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Provinsi

Papua (Juta rupiah) ...

Tabel 4.18 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan pendapatan Rumah Pekerja

Provinsi Papua (Juta rupiah) ...

Tabel 5.1 Potensi Royalti Tanpa dan Dengan Memasukkan Royalti dari Produk

Turunan ...

Tabel 5.2 Potensi Penerimaan Pajak PPH dan PPN ...

Tabel 5.3 Perbandingan Komposisi Output, NTB, dan Pajak ...

Tabel 5.4 Kontribusi Fiskal Dalam Bentuk Pajak dan Non Pajak (Hanya

Menghitung Dampak Langsung) ...

Tabel 5.5 Kontribusi Fiskal Dalam Bentuk Pajak dan Non Pajak (Menghitung

Dampak Total) ...

Tabel. 7.1 Penduduk Mimika menurut Suku Bangsa ...

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Perkembangan Jumlah Penduduk di Provinsi Papua ...

Gambar 2.2 Perkembangan Jumlah Penduduk di Provinsi Papua Barat ... Gambar 2.3 Angka Melek Huruf kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Papua

Barat Tahun 2013 ... Gambar 2.4 Perkembangan IPM Provinsi Papua dan Papua Barat ... Gambar 2.5 LQ Sektoral Papua tahun 2014 ... Gambar 2.6 LQ Sektoral Papua Barat tahun 2014 ... Gambar 2.7 LQ Sektor Pertanian dan sektor Pertambangan dan penggalian ... Gambar 2.8 LQ Sektor Pertanian dan sektor Pertambangan dan penggalian ... Gambar 2.9 LQ Sektor Industri Pengolahan Provinsi Papua Tahun 2014 ... Gambar 2.10 LQ Sektor Industri Pengolahan Provinsi Papua Barat Tahun 2014 ... Gambar 3.1 Perkembangan Jumlah Penduduk di Provinsi Papua ... Gambar 3.2 Luas Wilayah, Penduduk, dan Kepadatan Penduduk di Papua

Berdasarkan Kabupaten/Kota... Gambar 3.3 Angkatan Kerja dan Angka Melek Huruf di Papua ... Gambar 3.4 LQ Sektoral Papua tahun 2014 ... Gambar 3.5 LQ Sektor Pertanian dan sektor Pertambangan dan penggalian

Provinsi Papua 2014 ... Gambar 3.6 LQ Sektor Industri Pengolahan Provinsi Papua Tahun 2014 ... Gambar 5.1 Komponen Pembayaran PTFI ... Gambar 5.2 Alur Transfer Pusat ke Daerah Terkait Hasil Pembayaran PTFI ... Gambar 5.3 Optimalisasi Penerimaan Fiskal dari PTFI ... Gambar 5.4 Potensi Pembayaran Royalti dari PTFI Tanpa Menghitung Produk

Turunan ... Gambar 5.5 Potensi Pembayaran Royalti dari PTFI Dengan Menghitung Produk

Turunan ... Gambar 5.6 Perbandingan Potensi Pembayaran PPH dan PPN ... Gambar 5.7 Komposisi Penerimaan PPH dan PPN Langsung dan Tidak Langsung ... Gambar 5.8 Komposisi PPH dan PPN Menurut Sektor ... Gambar 5.9 Kontribusi Fiskal Langsung Dalam Bentuk Pajak dan Non Pajak ... Gambar 5.10 Kontribusi Fiskal Total Dalam Bentuk Pajak dan Non Pajak ... Gambar 6.1 Pola pikir kajian muatan lokal pada perusahaan pertambangan ... Gambar 6.2 Tahap-tahap pengusahaan pertambangan mineral...

(12)

Gambar 6.3 Profil perkembangan belanja barang PT FI Tahun 2010 - 2014 ... Gambar 6.4 Profil master list PT FI Tahun 2014 ... Gambar 6.5 Belanja domestik berdasarkan komposisi local content dan local

expenditure PT FI, Tahun 2014 ...

Gambar 6.6 Sebagian data belanja barang katagori local expenditure dan local

content, PT FI ... Gambar 6.7 Realisasi Pembelian Barang dari 15 Perusahaan Terbesar untuk

Skala Lokal Mimika, Nasional dan Luar Negeri oleh PT Freeport

Indonesia, Tahun 2014 ... Gambar 6.8 Profil perkembangan penggunaan jasa PT Freeport Indonesia,

Tahun 2010 – 2014 ... Gambar 6.9 Profil Tenaga Kerja PT Freeport Indonesia, Tahun 2014 ... Gambar 6.10 Mempertemukan antara kemampuan produsen dengan persyaratan

konsumen serta peran pemerintah ... Gambar 7.1 Pembiayaan Program Sosial Tahun 2014 ... Gambar 7.2 Struktur Pengelola Dana Kemitraan (LPMAK) ...

(13)

BAB 1

PENDAHULUAN 1.1 Dasar Hukum

1) UU No.40/2007 tentang Perseroan Terbatas, pasal 74 ayat 1 dan 2, kewajiban Perseroan untuk melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan;

2) UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara: • pasal 3, tentang tujuan pengelolaan mineral;

• pasal 7 dan 8, tentang tentang Kewenangan pemerintah provinsi dan Kabupaten/kota dalam pengembangan pemberdayaan masyarakat setempat dalam usaha pertambangan;

• pasal 95, pasal 108 : kewajiban Pemegang IUP dan IUPK untuk menyusun dan melaksanakan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat;

• pasal 106, 107 dan 124, kewajiban Pemegang IUP dan IUPK untuk mengutamakan pemanfaatan tenaga kerja setempat, barang, dan jasa dalam negeri serta mengikutsertakan pengusaha lokal yang ada di daerah tersebut, serta menggunakan perusahaan jasa pertambangan lokal dan/atau nasional;

• Pasal 128 ; kewajiban Pemegang IUP atau IUPK wajib membayar pendapatan negara dan pendapatan daerah.

3) PP No. 23/2010 tentang Pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan Mineral dan batubara :

• Pasal 86 dan 87 Kewajiban Pemegang IUP dan IUPK untuk mengutamakan penggunaan tenaga kerja setempat, barang,

(14)

peralatan, bahan baku, dan/atau bahan pendukung dalam negeri serta produk impor yang dijual di Indonesia dalam kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara;

• Pasal 97 kewajiban Modal asing pemegang IUP dan IUPK setelah 5 (lima) tahun sejak berproduksi wajib melakukan divestasi sahamnya, sehingga sahamnya paling sedikit 20% (dua puluh persen) dimiliki peserta Indonesia;

• Pasal 106, 107 dan 108 Kewajiban Pemegang IUP dan IUPK wajib untuk menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar WIUP dan WIUPK;

4) PP No. 55/2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara. Pada pasal Pasal 13 ayat 2, Pasal 16 huruf k&m, Pasal 31 dan 32 UU No.55/2010 menjelaskan tentang pengawasan dan pembinaan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat. 5) Perjanjian Kontrak Karya Perusahaan Pertambangan tentang Promosi

Kepentingan Nasional, pasal 19, 24 berisi tentang keharusan untuk mengutamakan penggunaan tenaga kerja Indonesia, jasa-jasa dan bahan-bahan mentah yang dihasilkan dari sumber Indonesia dan produk-produk yang dibuat di Indonesia.

1.2 Latar Belakang

Keberadaan mineral tembaga di Papua, yang merupakan salah satu modal dasar pembangunan, dalam pengusahaannya diupayakan agar dapat memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya terhadap perekonomian nasional maupun regional. Dalam skala nasional berfungsi memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional. Dalam skala regional berfungsi memberikan manfaat regional antara lain kesempatan kerja, peningkatan pendapatan daerah, pengembangan

(15)

masyarakat, penciptaan prasarana dan sarana, memperkecil kesenjangan antar daerah, dan memecahkan masalah tumpang tindih. Dengan demikian, keberadaan mineral tembaga di Papua dapat dijadikan sebagai titik pusat bagi pengembangan sumberdaya alam yang ada di wilayah Papua, serta mampu menjadi penggerak utama yang dapat mendukung dan mendorong pemanfaatan seluruh potensi yang ada integral dengan program dan sasaran pembangunan daerah.

PT. FI sebagai salah satu perusahaan pertambangan yang menghasilkan konsentrat tembaga dalam perannya sebagai penghasil utama penerimaan negara dan devisa dituntut untuk meningkatkan efesiensi perusahaan dalam rangka meningkatkan kemampuan produksi dan pemasaran. Di lain pihak, secara regional diupayakan untuk berperan serta aktif mengembangkan wilayah melalui kebijakan bantuan pengembangan wilayah baik melalui kontribusi alokasi dana secara langsung, program kemitraan, penggunaan input-input perusahaan dalam rangka meningkatkan produktivitas sumberdaya local atau melalui penggunaan sarana dan prasarana perusahaan oleh masyarakat setempat dalam rangka merangsang pengembangan sumberdaya sektor-sektor lainnya ataupun melalui transfer sikap budaya positif.

Masalah pokok yang dihadap adalah strategi dan upaya-upaya apakah yang diperlukan dalam memanfaatkan keberadaan PT FI, berikut sarana dan prasarananya yang ada dalam kaitannya dengan pengembangai wilayah dan pembangunan nasional, baik ditinjau dari kepentingan perusahaan, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu kajian untuk mengetahui sampai sejauhmana kontribusi PT FI yang telah diberikan kepada pemerintah maupun kepada masyarakat, permasalahan dalam mengintegrasikan program pengembangan masyarakat di tingkat pemerintahan dengan PT FI, serta langkah-langkah yang diperlukan dalam upaya meningkatkan manfaat keberadaan PT FI dalam pembangunan ekonomi dan pegembangan masyarakat di Papua.

Hasil kajian diharapkan dapat dijadikan masukan baik bagi Pemerintah pusat, Pemerintah Daerah maupun bagi PT FI dalam upaya merumuskan kebijakan-kebijakannya.

1.3 Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan ini mencakup :

• Menginventarisasi dan mengevaluasi (dampak sosial dan ekonomi) seluruh kontribusi PTFI terhadap perekonomian nasional dan regional dalam bentuk 3

(16)

pajak dan lain-lain, serta program pengembangan dan pembedayaan masyarakat yang hingga saat ini telah dilakukan.

• Menganalisis tingkat muatan lokal Propinsi dan Nasional.

• Menganalisis optimalisasi manfaat keberadaan PTFI terhadap perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat di Papua.

• Menyusun rekomendasi tentang strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam upaya mengoptimalkan keberadaan PTFI bagi Papua.

1.4 Tujuan

Tujuan kajian adalah tersedianya bahan masukan dalam rangka meningkatkan manfaat ekonomi dan sosial PT FI bagi Papua.

1.5 Sasaran

Sasaran kajian adalah :

- Diperoleh informasi tentang proyeksi dampak ekonomi dan fiskal PT FI terhadap pembentukan PDB, PDRB, pendapatan, kesempatan kerja di tingkat Kabupaten Mimika, Provinsi Papua dan Nasional;

- Diketahui kaitan antara dampak makro yang ditimbulkan dengan kondisi riil di lapangan serta kebijakan untuk mengisi sisi penawaran (supply) dan sisi permintaan (demand);

- Diketahuinya kontribusi muatan lokal PT FI;

- Diketahuinya peran PT FI dalam pemberdayaan masyarakat di Kabupaten

Mimika;

- Diperoleh rekomendasi tentang strategi dan langkah-langkah yang diperlukan dalam upaya meningkatkan manfaat keberadaan PTFI bagi Papua dalam aspek ekonomi dan sosial.

1.6 Lokasi/Tempat Pelaksanaan Kegiatan

Lokasi kegiatan penelitian adalah Papua yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat.

(17)

Gambar 1 Peta lokasi kegiatan penelitian

1.7 Sistematika pelaporan

Laporan penelitian akan disusun ke dalam enam bab dengan susunan materi sebagai berikut :

Bab 1 Pendahuluan

Bab ini berisi penjelasan tentang dasar hukum, latar belakang ruang lingkup, tujuan dan sasaran, lokasi dan sistematika penulisan laporan.

Bab 2 Metodologi

Bab ini berisi informasi dan penjelasan tentang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kebijakan batubara nasional dan metodologi yang meliputi cara pengumpulan, pengolahan, pengkajian data dan model/rumus yang digunakan. Bab 3 Gambaran Umum Provinsi Papua

Bab ini menyajikan berbagai informasi tentang Provinsi Papua yang meliputi kondisi geografi, demografi, administrasi, infrastruktur, ekonomi dan sosial.

Bab 4 Analisis Dampak Ekonomi

Bab ini meliputi kajian mengenai dampak ekonomi makro dan mikro meliputi analisis makroekonomi sebagai dampak dari kehadiran PTFI, analisis mikroekonomi rumah tangga, yang dapat menggambarkan kondisi riil

(18)

dampak kehadiran PTFI di level mikro dan analisis ketimpangan dampak secara makro dan yang teramati secara mikro.

Bab 5 Analisis Penerimaan Negara dari PTFI

Bab ini berisi tentang kontribusi fiskal aktivitas penambangan PTFI yang telah diberikan baik bagi negara maupun bagi daerah. Kepada Pemerintah Pusat berupa pembayaran Pajak dan Bukan Pajak (PNBP), sedangkan kepada daerah, berupa pajak-pajak dan retribusi daerah baik bagi di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten dan Kota.

Bab 6 Analisis Muatan Lokal PT FI

Bab ini berisi tentang pembelian barang dan jasa serta penyerapan tenaga kerja PT FI yang berasal dari Kabupaten Mimika, Provinsi Papua serta Nasional.

Bab 7 Program Pengembangan Masyarakat dari Pemerintah Daerah dan PT FI

Di Kabupaten Mimika

Bab ini berisi sejarah Kabupaten Mimika, suku-suku Papua di Kabupaten Mimika, program pengembangan masyarakat dari Pemerintah Daerah dan PTFI.

Bab 8 Kesimpulan dan Rekomendasi

Bab ini meliputi kesimpulan dan rekomendasi terkait dengan hasil analisis dampak ekonomi dan sosial di Provinsi Papua.

1.8 Penerima Manfaat

Pemerintah daerah di Papua, PT FI, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Pemerintah pusat.

(19)

BAB 2

METODOLOGI

2.1 Metode Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari kegiatan penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dengan metode wawancara ke perusahaan PT. FI. Sedangkan data sekunder didapatkan dari berbagai sumber dalam bentuk laporan, baik yang telah dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan, antara lain Dinas Pertambangan dan Energi, Badan Pusat Statistik, Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, Pusat Survei Geologi, penelitian terdahulu dan literatur yang terkait dengan penelitian serta media internet.

2.2 Metode Pengolahan Data

Data dan informasi yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer, yakni program Microsoft Excel 2010 dan perangkat lunak lainnya. Data dan informasi tersebut sebelumnya dikelompokan ke dalam biaya dan manfaat, kemudian dilakukan analisis secara kuantitatif.

2.3 Metode kajian

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa kegiatan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara sosial dan ekonomi keberadaan usaha PT.FI bagi Papua, metode analisis yang digunakan adalah analisis Tabel Input-Output dan analisis faktor.

a) Model Input-Output

Secara umum metodologi dalam studi ini dapat dibagi ke dalam dua bagian besar. Pertama adalah metode kuantitatif, yaitu dengan metode Input-Output (IO) dan model fiskal LPEM untuk melihat dampak ekonomi dan fiskal dari kehadiran PTFI. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model ekonomi yang digunakan untuk menganalisis dampak ekonomi dan fiskal. Kedua adalah dengan metode kualitatif mengenai dampak kegiatan pemberdayaan masyarakat dilakukan secara deskriptif berdasarkan data sekunder yang meliputi berbagai kegiatan, seperti pertanian, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

(20)

Pada dasarnya, metode kuantitatif yang digunakan adalah model input-output (IO). Model IO digunakan antara lain untuk melihat kaitan antara sektor pertambangan, khususnya ekstraksi tembaga dengan sektor ekonomi lainnya di provinsi Papua. Dengan model ini, output, income and employment multiplier dapat diperoleh untuk membuat analisis tentang dampak dari keberadaan PTFI bagi nasional dan regional. Model ini dimaksudkan untuk membuat proyeksi PDRB, PDRB per-kapita, dan penyerapan lapangan kerja dengan adanya PTFI untuk beberapa tahun ke depan. Berdasarkan proyeksi makro ekonomi regional ini, maka proyeksi dampak fiskal daerah dapat dilakukan.

Tabel input-output dapat digunakan untuk menganalisis kaitan multisektoral yang dapat menstimulir perekonomian nasional, provinsi, atau bahkan kabupaten. Tabel 1 memberi ilustrasi kerangka kerja tabel input-output.

Table 1

Kerangka kerja Input-Output

Permintaan Antara Permintaan

Akhir Output Total Sektor Produksi 1 2 … N Sektor Produksi 1 X11 X12 … X1n F1 X1 2 X21 X22 … X2n F2 X2 … … … … n Xn1 Xn2 … Xnn Fn Xn

Nilai Tambah Bruto V1 V2 Vn

Input Total X1 X2 … Xn

dimana,

Xij = input sektor j yang dibutuhkan untuk menghasilkan output sektor i Vj = nilai tambah bruto sektor j

Xj = total input sektor j Xi = total output sektor i Fi = permintaan akhir sektor i

Model IO dapat memberikan beberapa informasi tentang karakteristik suatu sektor tertentu (misalnya, sektor pertambangan), seperti struktur input dari sektor tersebut dan bagaimana output sektor tersebut digunakan sebagai input untuk sektor lain atau untuk memenuhi permintaan akhir. Model IO juga dapat menghasilkan beberapa indikator penting dari suatu sektor. Indikator tersebut adalah pengganda output, pendapatan, dan kesempatan kerja (output, income and employment multipliers); serta kaitan sektor tersebut ke belakang dan ke depan (backward and forward linkages). 7

(21)

Disamping itu, model IO juga dapat digunakan untuk menganalisis dampak perubahan (shock) pada permintaan akhir (seperti konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor) terhadap perekonomian nasional dan regional.

b) Model Fiskal

Analisa model fiskal tentunya perlu untuk mempertimbangkan kondisi dan hubungan fungsi pemerintahan serta fiskal antar jenjang pemerintahan. Dalam konteks inilah, di era otonomi daerah, desentralisasi fiskal merupakan salah satu isu penting dalam pembangunan daerah. Utamanya, tiga bentuk UU yaitu UU No. 32/2004, UU No. 33/2004, dan UU 28 Tahun 2009 yang merupakan amandemen dari UU 34/2000 merupakan reformasi dasar terkait dengan penyediaan layanan pemerintahan, dan sumber penerimaan pemerintah yang menggambarkan hubungan fiskal antar pemerintah pusat dan daerah di Indonesia.

c) Analisis Dampak sosial : Penerimaan Masyarakat

Penduduk yang tinggal di sekitar wilayah operasi tambang seringkali beranggapan kegiatan pertambangan bersifat ekslusif dan tidak adil. Mineral yang diekstraksi umumnya diekspor ke luar daerah. Penduduk umumnya beranggapan bahwa hasil dari kegiatan tersebut hanya dinikmati oleh perusahaan dan pemerintah pusat. Sementara dampak kegiatan pertambangan terhadap penduduk lokal dianggap tidak ada.

Saat ini isu sensitif seperti di atas harus diakomodasi dalam seluruh kegiatan pertambangan di Indonesia. Perusahaan harus melaksanakan program pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) kepada penduduk yang tinggal di sekitar wilayah tambang.

d) Analisis Muatan Lokal

Model pengukuran muatan lokal perusahaan yaitu menghitung prosentasi total penggunaan barang, jasa, tenaga kerja dalam negeri dibandingkan dengan total pengeluaran perusahaan di dalam melaksanakan kegiatan perusahaannya sebagaimana dicantumkan di dalam RKAB.

(22)

Muatan Lokal Perusahaan = Total penggunaan barang, jasa, tenaga kerja X 100% Total pengeluaran belanja Perusahaan

Model pengukuran muatan lokal berdasarkan kelompok barang dan jasa perusahaan yaitu menghitung prosentasi total penggunaan kelompok barang dan jasa dalam negeri dibandingkan dengan total pengeluaran kelompok barang dan jasa pada perusahaan di dalam melaksanakan kegiatan perusahaannya.

Muatan Lokal Kelompok Barang/Jasa Perusahaan =

Total penggunaan barang, jasa dalam negeri pada suatu kelompok barang/jasa X 100%

Total pengeluaran belanja Perusahaan pada suatu kelompok barang/jasa

(23)

BAB 3

GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA

3.1. GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI 3.1.1 Geografi dan kependudukan

Pulau Papua atau biasa disebut tanah Papua secara total mencakup wilayah seluas 416.060,321 km2 (21,78 persen dari luas darat Indonesia) yang terdiri atas

2.543 pulau. Tanah Papua terbagi menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Papua Barat seluas 7.024,27 km2 (5,08 persen dari luas Indonesia) yang mencakup 1.945

pulau, dan Provinsi Papua dengan luas 319.036,05 km2 (16,7 persen luas

Indonesia) yang terdiri dari 598 pulau. Besarnya kawsan Tanah Papua akan tetapi tidak semuanya dapat digunakan untuk area berinvestasi mengingat sebagian besar status lahannya berupa hutan tetap sebagai wilayah konservasi, hutan lindung dan lain sebagainnya. Hanya sepertiga Tanah Papua berstatus hutan produksi yang dapat dikonversi dan non-hutan tetap. Di daerah-daerah inilah sebetulnya kegiatan investasi dimungkinkan. Walaupun tampaknya tidak seberapa besar namun luas kawasan ini kurang lebih sama dengan luas Pulau Jawa. Secara administrasi, Tanah Papua dibagi menjadi 42 kabupaten/kota dengan distribusi Provinsi Papua Barat dibagi menjadi tiga belas (13) daerah kabupaten/kota dan Provinsi Papua terdiri dari dua puluh sembilan (29) daerah kabupaten/kota.

Melihat perkembangan penduduk di Tanah Papua, pertumbuhan pesat terjadi dimasing-masing provinsi. Jumlah penduduk di Provinsi Papua hampir tiga kali lipat dari penduduk di Provinsi Papua Barat karena luas wilayahnya pun lebih besar dibandingkan dengan Provinsi Papua. Secara agregat penduduk di Tanah Papua sebanyak 3,8 juta jiwa. Penduduk yang masih terbilang sedikit jika kita bandingkan dengan Pulau Jawa ataupun Pulau Sumatera bahkan hanya sepertiga dari penduduk Jakarta. Seperti yang dapat dilihat pada Gambar 3..1, pada tahun 2013 jumlah penduduk di Provinsi Papua mencapai 3,032 juta jiwa lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 3,165 juta jiwa. Untuk Provinsi

1

Sumber: BPS dikutip dari Direktorat Jenderal Pemerintahan Umum, Kementerian Dalam Negeri.

9

(24)

Papua Barat yang terdapat di Gambar 3..2, jumlah penduduk pada tahun 2013 sebesar 828 ribu jiwa jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 821 ribu jiwa atau meningkat sebanyak 7 ribu orang pada tahun tersebut.

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Gambar 3.1 Perkembangan Jumlah Penduduk di Provinsi Papua

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

(25)

Gambar 3.2 Perkembangan Jumlah Penduduk di Provinsi Papua Barat Selain jumlah penduduk yang masih terbilang sedikit, permasalahan yang terjadi selanjutnya adalah terkonsentrasinya penduduk di daerah yang merupakan pusat perekonomian dan atau perekonomian yang lebih maju. Tingkat kepadatan penduduk ditingkat kabupaten dapat dilihat di Tabel 3.1 dan Tabel 3.2, bahwa penduduk di Tanah Papua hanya terkonsentrasi di wilayah Kota Jayapura, Kota sorong, dan Kabupaten Manokwari. Terkonsentrasinya penduduk yang hanya di beberapa wilayah menjadikan ketimpangan yang cukup besar di wilayah Tanah Papua. Penduduk yang terkonsentrasi di Provinsi Papua yaitu Kota Jayapura dengan jumlah penduduk sebesar 272.254 jiwa atau 8,99% dari total penduduk Provinsi Papua. Tingkat kepadatan jiwa per kilometer persegi sebesar 288 padahal tingkat kepadatan penduduk di Provinsi Papua sendiri hanya sebesar 9,58 per kilometer persegi. Kepadatan ini kemudian diikuti oleh Kabupaten Mimika dan Kabupaten Jayawijaya.

Tabel 3.1 Gambaran Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Tahun 2013

Kabupaten/Kota Luas (Km²) Penduduk (Jiwa) Proporsi Penduduk (%) Kepadatan Penududk (Jiwa/Km²) Merauke 4.740.690 209.980 6,92 4.43 Jayawijaya 233.119 203.085 6,7 87.12 Jayapura 1.439.016 118.789 3,92 8.25 Nabire 454.975 137.283 4,53 30.17 Yapen Waropen 493.637 88.187 2,91 17.86 Biak Namfor 1.301.745 135.080 4,45 10,38 Paniai 2.068.654 161.324 5,32 7.80 Puncak Jaya 244.650 112.010 3,69 45.78 Mimika 230.037 196.401 6,48 85.38 Boven Digoel 2.466.598 60.403 1,99 2.45 Mappi 2.317.845 88.006 2,9 3.80 Asmat 2.468.757 85.000 2,8 3.44 Yahukimo 1.505.790 175.086 5,77 11.63 Pegunungan 1.465.536 69.304 2,29 4.73 11

(26)

Bintang Tolikara 614.967 125.326 4,13 20.38 Sarni 1.396.558 35.508 1,17 2.54 Keerom 9.015.013 51.772 1,71 5.74 Waropen 538.147 26.905 0,89 5.00 Supiyori 63.424 16.976 0,56 26.77 Membramo Raya 2.803.487 19.776 0,65 0.71 Nduga 582.522 85.894 2,83 14.75 Lanny Jaya 343.979 161.077 5,31 46.83 Membramo Tengah 338.414 42.687 1,41 12.61 Yalimo 365.876 54.911 1,81 15.01 Puncak 561.884 99.926 3,3 17.78 Dogiyay 452.215 89.327 2,95 19.75 Intan Jaya 232.588 43.405 1,43 18.66 Deiyai 933.660 66.516 2,19 7.12 Kota Jayapura 95.038 272.544 8,99 286.77 Propinsi Papua 31.655.311 3.032.488 100 8.59 Sumber: BPS, 2015

Provinsi Papua Barat memiliki 13 kabupaten/kota akan tetapi distribusi penduduk masih belum tersebar dengan merata. Penduduk di Papua Barat terkonsentrasi di Kota Sorong dan Kabupaten Manokwari. Hal ini dapat dilihat dari besarnya tingkat kepadatan penduduk yang jauh dibandingkan Provinsi Papua barat. Luas wilayah Kota Sorong yang paling kecil dibandingkan dengan wilayah lainnya memiliki penduduk sebanyak 828.293 jiwa penduduk dengan tingkat kepadatan penduduk per kilometer persegi sebesar 323 per kilometer. Walaupun Kabupaten Manokwari sebagai ibukota provinsi di Provinsi Papua Barat, akan tetapi jika dilihat perekonomian terkonsentrasi di Kota Sorong dengan melihat jumlah penduduk dan kepadatan penduduknya.

Tabel 3.2 Gambaran Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2013

(27)

Kabupaten/Kota Luas (Km²) Fakfak 1.103.648 70.902 8,56 6.42 Kaimana 1.624.184 51.100 6,17 3.15 Teluk Wondama 395.953 28.534 3,44 7.21 Teluk Bintuni 2.084.083 56.597 6,83 2.72 Manokwari 866.476 150.179 18,13 17.33 Sorong Selatan 394.694 41.085 4,96 10.41 Sorong 741.529 76.669 9,26 10.34 Raja Ampat 803.444 44.568 5,38 5.55 Tambrauw 517.965 13.376 1,61 2.58 Maybrat 546.169 35.798 4,32 6.55 Manokwari Selatan 281.244 20.916 2,53 7.44 Pegunungan Arfak 277.374 26.729 3,23 9.64 Kota Sorong 65.664 211.840 25,58 322.61 Propinsi Papua Barat 9.702.427 828.293 100 8.54 Sumber: BPS, 2015

3.1.2 Pendidikan dan ketenagakerjaan

Kondisi dan kualitas pendidikan merupakan salah satu indikator penentu kualitas SDM di suatu wilayah. Data kualitas pendidikan di Tanah Papua yang dapat terlihat di Tabel 3.3 menunjukan kualitas pendidikan di Provinsi Papua barat lebih maju dibandingkan dengan Provinsi Papua. Dilihat dari aspek lama sekolah pada tahun 2013, rata-rata lama sekolah di Provinsi Papua hanya sebesar 6,78 tahun nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Papua Barat sebesar 8,53 tahun. Untuk tingkat partisipasi kasar sendiri jika dibandingkan masing-masing tingkat sekolah, Provinsi Papua Barat jauh lebih unggul jika dibandingkan Provinsi Papua walaupun jumlah penduduknya jauh lebih besar.

(28)

Tabel 3.3 Gambaran Pendidikan Provinsi Papua dan Papua Barat 2009-2013

Indikator 2009 2010 2011 2012 2013

Propinsi Papua

Angka Partisipasi Kasar ( APK) SD/MI 9.129 9.327 8.459 8.416 864 Angka Partisipasi Kasar ( APK) SMP/MTs 5.835 6.005 6.869 7.099 9.345 Angka Patisipasi Kasar (APK) SMA/MA 5.257 482 7.469 4.448 6.341

Lama Sekolah Penduduk 15 Tahun ke atas 657 666 669 687 687

Propinsi Papua Barat

Angka Patisipasi Kasar (APK) SD/MI 1.175 11.531 10.457 10.521 105,3 Angka Partisipasi Kasar ( APK) SMP/MTs 6.629 6.732 8.763 9.095 138,06 Angka Patisipasi Kasar (APK) SMA/MA 6.204 7.291 6.674 7.048 90,8

Lama Sekolah Penduduk 15 Tahun ke atas 801 821 826 845 8,53

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Angka melek huruf di Tanah Papua masih jauh dari rata-rata nasional. Pada tahun 2013 rata-rata angka melek huruf kabupaten/kota provinsi Papua adalah 59,72 persen. Sedangkan di tingkat nasional saat ini adalah sebesar 94,1 persen. Angka melek huruf yang rendah bersumber dari beberapa kabupaten di wilayah pegunungan yang mungkin dikarenakan karena akses pendidikan yang masih rendah disana. (Panel Kiri Gambar 3.3).

Penduduk di kabupaten/kota yang berada di pantai atau pulau bagian utara umumnya memiliki angka melek huruf yang lebih tinggi (≥ 90 persen) bahkan di beberapa kabupaten seperti Kota Jayapura, Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Jayapura memiliki angka melek huruf yang lebih besar dari Nasional.

Angka rata-rata melek huruf kabupaten/kota Provinsi Papua Barat tahun 2013 masih dibawah angka tingkat nasional akan tetapi lebih tinggi dibandingakan dengan Provinsi papua. Pada tahun 2013 angka melek huruf papua Barat adalah 88,96 persen yang dimana masih rendah jika dibandingak dengan Nasional 2013 sebesar 94,1 persen. Angka ini mengimplikasikan bahwa kemampuan baca wilayah Provinsi Papua Barat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Provinsi Papua. Penduduk Kota Sorong, Kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Kaimana merupakan 3 kabupaten/kota yang memiliki tingkat melek

(29)

huruf tertinggi dibandingkan wilayah lainnya di Provinsi Papua Barat (Panel Kanan Gambar 3.3)

(30)

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Gambar 3.3 Angka Melek Huruf kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Papua Barat

Tahun 2013

Indikator lainnya untuk mengukur perkembangan suatu wilayah maju atau tidak dapat melihat Indikator indeks Pembangunan Manusia (IPM). Data perkembangan IPM di Tanah Papua menunjukkan nilai IPM Provinsi Papua dan Papua Barat masih jauh dibawah IPM Nasional. Pada tahun 2013 dan 2014 menunjukan bahwa terjadi peningkatan untuk Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua serta Nasional (Gambar 3.4). Besarnya IPM di Provinsi Papua pada tahun 2012 dan 2013 berturut-turut sebesar 56,25 dan 56,75, sedangkan untuk Provinsi Papua Barat secara berturut-turut adalah sebesar 60,91 dan 61,28 masih rendah dibandingkan Nasional sebesar 68,31 dan 68,90. Akan tetapi peningkatan setiap tahunnya menunjukkan bahwa setiap tahun Tanah Papua terus berkembang dari sisi indeks pembangunan manusia.

(31)

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Gambar 3.4 Perkembangan IPM Provinsi Papua dan Papua Barat

Melihat Tanah Papua dari sisi tenaga kerja, dapat dilihat pada Tabel 3.4, pada tahun 2014 bulan Februari dan Agustus jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Papua secara berturut-turut sebanyak 2,097 juta dan 2,129 juta dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 1,68 juta jiwa dan 1,67 Juta jiwa. Sedangkan untuk Provinsi Papua Barat sendiri jumlah penduduk usia kerja berturut-turut bulan Februari dan Agustus sebanyak 573 ribu jiwa dan 583 ribu jiwa dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 407 ribu jiwa dan 398 ribu jiwa.

Data tingkat Pengangguran terbuka di Provinsi Papua dan Papua Barat menunjukkan lebih rendah dibandingkan nasional. Tingkat penggangguran terbuka bulan Februari dan Agustus di tahun 2014 secara berturut-turut sebesar 3,48% dan 3,44% untuk Provinsi Papua dan 3,70% dan 5,02% untuk Papua Barat dimana lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 5,81% dan 5,94%. Hal ini mengindikasikan sudah cukup banyak tenaga kerja yang teserap di Tanah Papua. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.4.

(32)

Tabel 3.4 Gambaran Ketenagakerjaan Provinsi Papua dan Papua Barat

Indikator Februari 2013 Agustus Februari 2014 Agustus

Provinsi Papua

Penduduk Usia Kerja (Jiwa) 2.110.417 2.165.070 2.097.242 2.129.404

Angkatan Kerja (jiwa) 1.693.694 1.688.878 1.689.030 1.675.113

Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk

Pengangguran Terbuka (Jiwa) 47.700 54.544 58.811 57.676 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 80,25 78,01 80,54 78,67

Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 2,81 4,62 3,48 3,44

Provinsi Papua Barat

Penduduk Usia Kerja (Jiwa) 549.724 558.262 573.822 583. 374

Angkatan Kerja (jiwa) 375.189 370.750 407.707 398.424

Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk

Pengangguran Terbuka (Jiwa) 16.800 17.131 15.073 19.988 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 68,25 66,41 71,05 68,30

Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 4,47 3,23 3,70 5,02 Nasional

Penduduk Usia Kerja (Jiwa) 175.098.712 176.662.097 181.169.972 182.992.204

Angkatan Kerja (jiwa) 121.191.712 118.192.778 125.316.991 121.872.931

Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk

Pengangguran Terbuka (Jiwa) 7.170.523 7.388.737 7.147.069 7.244.905 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 69,21 66,9 69,17 66,6

Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 5,70 6,25 5,81 5,94

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Data lainnya untuk melihat kondisi tenaga kerja adalah angkatan kerja berdasarkan pendidikan yang ditamatkan dimana terdapat kondisi yang cukup berbeda antara Provinsi Papua dan Papua Barat. Dapat kita lihat (Tabel 3.4) penduduk usia kerja di Papua lebih di dominasi oleh tenaga kerja yang belum pernah sekolah dan SD sebanyak 604 ribu jiwa dan 296 ribu jiwa. Sedangkan di Provinsi Papua Barat penduduk angkatan kerja didominasi oleh penduduk dengan pendidikan universitas kemudian di ikuti oleh diploma sebanyak 134 ribu jiwa dan 81 ribu jiwa. Hal ini mengindikasikan bahwa dari sisi tenaga kerja Provinsi Papua Barat memiliki nilai lebih dari sisi kualitas dilhat dari tingkat pendidikan penduduk yang termasuk angkatan kerja sedangkan dari sisi kuantitas tentu Provinsi Papua jauh lebih unggul.

(33)

Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk Angkatan Kerja dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2011-2014

Indikator 2011 2012 2013 2014

Papua

Belum Pernah Sekolah ( Agustus ) 579.913 607.266 647.458 604.267 Belum Tamat SD ( Agustus ) 130.105 142.963 154.386 152.164

SD ( Agustus ) 229.206 253.413 267.021 296.374

SMP ( Agustus ) 199.362 180.682 190.941 223.977

SMK ( Agustus ) 82.413 81.045 78.942 69.969

SMA (Umum) ( Agustus ) 210.068 217.210 234.854 226.631 Akademi (Diploma I/II/III) (Agustus) 36.250 29.850 28.701 28.305 Universitas ( Agustus ) 69.411 73.005 86.573 220,278 Papua Barat

Belum Pernah Sekolah ( Agustus ) 12.982 12.003 9.612 12.618 Belum Tamat SD ( Agustus ) 27.019 28.148 23.172 28.043

SD ( Agustus ) 55.001 50.742 50.259 55.332

SMP ( Agustus ) 80.144 73.641 69.708 73.447

SMK ( Agustus ) 57.879 59.375 65.312 65.436

SMA (Umum) ( Agustus ) 33.919 34.587 35.250 37.765 Akademi (Diploma I/II/III) (Agustus) 69.710 74.156 77.065 81.074 Universitas ( Agustus ) 32.965 28.945 40.372 134.127 Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Data distribusi tenaga kerja menurut sektor akan menunjukan sektor mana saja yang menyerap tenaga kerja terbesar di Tanah Papua. Melihat tenaga kerja dari sisi distribusi, di Provinsi Papua sendiri tenaga kerja terkonsentrasi di beberapa sektor. Untuk Provinsi Papua (Tabel 3.6) sendiri tenaga kerja hanya terkonsentrasi di dua sektor pada tahun 2014 yaitu sektor Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan dengan proporsi terhadap total mencapai 70,59% dan sektor jasa kemasyarakatan sosial dan perorangan sebesar 13,47%. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Provinsi Papua masih mengandalkan alam sebagai mata pencariannya sehingga alam menjadi sangat penting untuk penduduk Papua. Penyerapan sektor industri pengolahan yang masih sangat kecil mengindikasikan bahwa belum berkembangnya industri pengolahan di Provinsi Papua.

(34)

Tabel 3.6 Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Menurut Lapangan Usaha

Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014

Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan

perikanan 1.133.982 1.036.520 1.112.814 1.191.356 1.141.671 70,59%

Pertambangan dan penggalian 15.671 33.174 32.100 25.706 20.160 1,25%

Industri pengolahan 18.218 19.885 16.998 22.438 16.048 0,99%

Listrik, gas, dan air minum 1.291 2.910 2.129 1.244 1.961 0,12%

Konstruksi 27.356 36.358 27.687 34.662 36.122 2,23%

Perdagangan, rumah makan, dan

jasa akomodasi 96.199 130.766 114.442 118.838 116.847 7,22%

Angkutan, penggudangan, dan

komunikasi 38.512 52.225 51.449 55.911 50.385 3,12%

Lembaga keuangan, real estat, usaha persewaan, dan jasa

perusahaan 6.477 16.483 12.098 18.959 16.447 1,02%

Jasa kemasyarakatan, sosial, dan

perorangan 118.839 147.906 158.216 165.218 217.796 13,47%

Total tenaga Kerja 1.456.545 1.476.227 1.527.933 1.634.332 1.617.437

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

Provinsi Papua Barat tidak cukup berbeda dengan Provinsi Papua. Provinsi Papua Barat tenaga kerja terkosentrasi di tiga sektor pada tahun 2014. Sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan memberikan proporsi yang tinggi sebesar 45,28% lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Papua, kemudian diikuti oleh sektor jasa kemasyarakatan sosial dan perorangan dengan proporsi 17,65% dan sektor perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi sebesar 16,41%. Besarnya proporsi sektor perdagangan yang cukup tinggi mengindikasikan bahwa provinsi ini sudah mulai berkembang perekonomiannya dan mulai bergerak ke sektor perdagangan walaupun masih didominasi oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan hanya terkonsentrasi di beberapa kabupaten atau kota tertentu. Akan tetapi perkembangan sektor perdagangan di Provinsi Papua Barat didominasi oleh usaha dari pendatang yang lebih cepat berkembang disana. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.8.

(35)

Tabel 3.8 Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Barat menurut Lapangan Usaha

Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014

Pertanian, perkebunan, kehutanan,

perburuan, dan perikanan 171.060 163.164 158.974 172.247 171.340 45,28%

Pertambangan dan penggalian 6.757 8.932 10.362 9.537 8.532 2,25%

Industri pengolahan 12.300 11.580 17.652 12.877 16.682 4,41%

Listrik, gas, dan air minum 587 221 880 903 1.726 0,46%

Konstruksi 16.032 16.233 16.182 12.924 19.882 5,25%

Perdagangan, rumah makan, dan

jasa akomodasi 37.852 56.325 51.869 51.120 62.107 16,41%

Angkutan, penggudangan, dan

komunikasi 15.046 17.010 19.567 19.457 22.013 5,82%

Lembaga keuangan, real estat, usaha

persewaan, dan jasa perusahaan 2.843 4.392 5.622 4.310 9.344 2,47%

Jasa kemasyarakatan, sosial, dan

perorangan 54.070 58.731 60.633 70.244 66.810 17,65%

Total tenaga Kerja 316.547 336.588 341.741 353.619 378.436

Sumber: Simreg Bappenas, 2015

3.1.3 Kemiskinan

Penduduk di Tanah Papua hampir 30% penduduknya berada dibawah garis kemiskinan. Hal ini dikarenakan penduduk yang masih mengandalkan alam untuk menghidupi kehidupannya, tingkat pendidikan yang rendah dan belum berkembangnya perilaku masyarakat untuk mengolah segala sesuatu yang ada dialam dan memperdagangkan. Perkembangan kemiskinan di Tanah Papua itu sendiri masih cukup tinggi dibandingkan dengan nasional. Dapat dilihat (Tabel 3.9) persentase penduduk miskin di Provinsi Papua dan Papua Barat masih berada di atas nasional. Tingkat penduduk miskin di Provinsi Papua Pada tahun 2013 sebesar 31,53 % nilai ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan Provinsi Papua Barat sebesar 27,04% yang berarti garis kemiskinan di Provinsi Papua Barat masih lebih baik, akan tetapi jika kedua nilai ini masih dibandingkan dengan persentase penduduk miskin di Nasional yang hanya berjumlah 11,47% masih jauh dari tingkat Nasional. Hal ini mengindikasikan bahwa Tanah Papua masih berpendapatan rendah.

Melihat dari sisi Rasio Gini (Tabel 3.10) untuk mengukut tingkat ketimpangan di Tanah Papua memiliki nilai yang lebih besar dari Nasional. Dapat dilihat (Tabel 3.10) nilai Rasio Gini di Provinsi Papua tahun 2012 dan 2013 secara berturut-turut adalah 0,42 dan 0,44 meningkat dari tahun sebelumnya, sedangkan untuk

(36)

Provinsi Papua Barat secara berturut-turut adalah 0,43 tidak terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya. Akan tetapi jika kita bandingkan dengan nilai Rasio Gini untuk tingkat Nasional di tahun 2013 sebesar 0,41 nilai ini lebih kecil jika dibandingkan dengan Tanah Papua secara umum. Ketimpangan yang terjadi diakibatkan banyak penduduk pendatang yang lebih cepat berkembang karena rata-rata pendatang dapat sukses disana dengan cara membangun usaha atau bekerja lebih giat dibandingkan dengan masyarakat asli disana.

Tabel 3.9 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Papua Barat, 2011-2013

Indikator

2008 2009 2010 2011 2012 2013

Papua

Jumlah penduduk Miskin (000

jiwa) 733 760 762 946 1.943 1.017 Persen penduduk miskin (%) 37,08 37,53 36,80 31,24 30,66 31,53 Papua Barat

Jumlah penduduk Miskin (000

jiwa) 2.668 2.465 2.568 2.563 22.712 45.323 Persen penduduk miskin (%) 39,31 35,12 35,71 34,88 28,53 27,04 Nasional

Jumlah penduduk Miskin (000

jiwa) 34.963 32.530 31.024 29.890 28.595 28.554 Persen penduduk miskin (%) 15,42 14,15 13,33 12,36 11,66 11,47

Sumber: Simreg Bappenas

Tabel 3.10 Perbandingan Gini Ratio Nasional dan Provinsi Papua Barat, 2009-2013

Tahun Papua Papua Barat Nasional

2009 0.40 0.35 0.35

2010 0.38 0.38 0.37

2011 0.41 0.40 0.38

(37)

2012 0.42 0.43 0.41

2013 0.44 0.43 0.41

Sumber: Simreg Bappenas

3.2. PEREKONOMIAN DAERAH 3.2.1 PDRB Sektoral dan Pengeluaran

Perkembangan PDRB di Tanah Papua pada tahun 2010 – 2014 menunjukkan pekembangan cukup baik. Dapat dilihat pada Tabel 3.11 Provinsi Papua Total PDRB meningkat setiap tahunnya pada tahun 2014 total PDRB mencapai 120 triliun rupiah meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 116 triliun rupiah. Sektor yang memberikan proporsi terbesar pada tahun 2014 didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian sebesar 40,11% dari total PDRB kemudian diikuti oleh sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan sebesar 12,02% dan sektor konstruksi sebesar 10,7%.

Tabel 3.11 PDRB Sektoral Provinsi Papua Harga Konstan 2010 (Miliar Rupiah) Tahun 2010-2014 Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014 (%) 1. Pertanian, perkebunan, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan 11.681.13 12.133.26 12.883.70 13.661.80 14.453.15 12,02 2. Pertambangan dan Penggalian 59.693.87 50.008.94 46.801.23 50.313.53 48.219.26 40,11 3. Industri Pengolahan 2.097.50 2.209.18 2.251.71 2.299.67 2.500.13 2,08 4. Pengadaan Listrik dan

Gas 3.030 3.222 3.558 3.828 4.030 0,03

5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang

5.675 5.862 6.133 6.534 6.942 0,06

6. Konstruksi 7.973.12 9.252.05 10.546.59 11.790.56 12.857.22 10,70

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil

dan Sepeda Motor 6.892.14 7.518.87 8.258.63 9.031.48 9.690.71 8,06

8. Transportasi dan

Pergudangan 3.516.04 3.864.11 4.201.65 4.543.95 5.010.28 4,17

9. Penyediaan Akomodasi

dan Makan Minum 55.765 60.869 65.652 73.311 82.528 0,69

(38)

Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014 (%) 10. Informasi dan Komunikasi 3.103.30 3.434.19 3.785.42 4.269.71 4.553.00 3,79

11. Jasa Keuangan dan

Asuransi 1.268.91 1.406.29 1.516.70 1.734.67 1.862.77 1,55

12. Real Estat 1.956.67 2.213.06 2.434.58 2.718.62 2.938.68 2,44

13. Jasa Perusahaan 1,009.15 1,153.40 1,228.63 1,300.92 1,426.42 1,19 14. Administrasi

Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

7.093.29 7.850.25 8.506.34 8.744.15 10.140.12 8,43 15. Jasa Pendidikan 1.755.96 1.942.75 2.129.57 2.337.13 2.527.72 2,10 16. Jasa Kesehatan dan

Kegiatan Sosial 1.250.31 1.403.94 1.526.90 1.668.80 1.824.99 1,52

17. Jasa lainnya 87.209 97.691 1.065.85 1.176.89 1.277.53 1,06

Total PDRB 110.808.18 106.066.72 107.890.94 116.428.61 120.216.97 100,00

Sumber: BPS

Sedangkan untuk Provinsi Papua Barat (Tabel 3.12), perkembangan PDRB menunjukkan peningkatan di setiap tahunnya. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2014 di mana PDRB mencapai angka sebesar 50 triliun sedangkan di tahun 2013 hanya sebesar 47 triliun rupiah. Proporsi PDRB sektoral di Provinsi Papua Barat didominasi oleh dua sektor dengan proporsi tertinggi diantaranya sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan dan penggalian. Proporsi masing-masing kedua sektor tersebut secara berturut-turut adalah 32,46% dan 21,90%. Sektor selanjutnya yang juga memiliki proporsi yang cukup tinggi adalah sektor konstruksi dengan bagian sebesar 10,92%.

Tabel 3.12 PDRB Sektoral Provinsi Papua Barat Harga Konstan 2010 (Miliar Rupiah) Tahun 2010-2014

Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 2014 (%) Share

1. Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 4.889.56 4.583.19 4.785.62 5.090.32 5.346.99 10,64

2. Pertambangan dan Penggalian 11.220.37 11.247.79 10.789.93 10.913.07 11.009.31 21,90 3. Industri Pengolahan 13.524.27 14.094.14 14.501.46 15.728.58 16.316.66 32,46

4. Pengadaan Listrik dan Gas 1.321 1.472 1.657 1.813 1.872 0,04

5. Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah, Limbah dan Daur Ulang 4.772 4.818 5.065 5.309 5.582 0,11

6. Konstruksi 3.211.47 3.717.43 4.202.11 4.865.45 5.491.29 10,92

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda

Motor 2.065.71 2.335.36 2.459.55 2.645.80 2.859.27 5,69

8. Transportasi dan Pergudangan 73.609 78.501 89.326 1.007.57 1.138.14 2,26 9. Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 20.864 21.367 22.481 23.520 24.840 0,49

(39)

10. Informasi dan Komunikasi 58.222 58.751 68.476 74.872 83.434 1,66 11. Jasa Keuangan dan Asuransi 39.605 42.837 50.025 62.136 68.486 1,36

12. Real Estat 37.763 40.437 45.598 48.316 52.867 1,05

13. Jasa Perusahaan 4.155 4.232 4.452 4.793 5.167 0,10

14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial

Wajib 2.740.13 3.001.62 3.381.42 3.701.24 4.006.01 7,97

15. Jasa Pendidikan 90.841 93.809 97.986 1.080.70 1.193.41 2,37

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 29.622 31.928 34.283 34.565 36.034 0,72

17. Jasa lainnya 10.244 10.615 10.976 11.990 12.810 0,25

Total PDRB 41.361.67 42.867.19 44.423.34 47.705.86 50.272.01 100,00

Sumber: BPS

Melihat data pertumbuhan sektoral PDRB Provinsi Papua tahun 2011-2014 (Tabel 3.13) menunjukkan peningkatan pertumbuhan total PDRB tahun 2012-2014 dan mengalami penurunan pada tahun 2011. Adapun sektor di Provinsi Papua yang mengalami penurunan pada tahun 2014 adalah sektor pertambangan dan penggalian sebesar 4,16%. Penurunan yang terjadi dikarenakan beberapa alasan, salah satunya PTFI yang sedang turun produksinya. Karena pendapatan daerah terbesar berasal dari PTFI, penurunan produksi PTFI menyebabkan terjadinya penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2014.

Tabel 3.13 Pertumbuhan PDRB Sektoral Provinsi Papua

Sektor 2011 2012 2013 2014

1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 3,87% 6,18% 6,04% 5,79%

2. Pertambangan dan Penggalian -16,22% -6,41% 7,50% -4,16%

3. Industri Pengolahan 5,32% 1,93% 2,13% 8,72%

4. Pengadaan Listrik dan Gas 6,34% 10,45% 7,59% 5,26%

5. Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 3,29% 4,63% 6,53% 6,25%

6. Konstruksi 16,04% 13,99% 11,79% 9,05%

7. Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 9,09% 9,84% 9,36% 7,30%

8. Transportasi dan Pergudangan 9,90% 8,74% 8,15% 10,26%

9. Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 9,15% 7,86% 11,67% 12,57%

10. Informasi dan Komunikasi 10,66% 10,23% 12,79% 6,63%

11. Jasa Keuangan dan Asuransi 10,83% 7,85% 14,37% 7,38%

12. Real Estat 13,10% 10,01% 11,67% 8,09%

(40)

13. Jasa Perusahaan 14,29% 6,52% 5,88% 9,65% 14. Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 10,67% 8,36% 2,80% 15,96%

15. Jasa Pendidikan 10,64% 9,62% 9,75% 8,15%

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 12,29% 8,76% 9,29% 9,36%

17. Jasa lainnya 12,02% 9,11% 10,42% 8,55%

Total PDRB -4,28% 1,72% 7,91% 3,25%

Sumber: BPS diolah

Untuk Papua Barat, tidak terjadi penurunan total PDRB (Tabel 3.14) sehingga hal ini mengindikasikan bahwa perekonomian di Papua Barat terus meningkat setiap tahunnya dari sisi PDRB sektoral. Sektor yang mengalami pertumbuhan yang tinggi pada tahun 2014 adalah sektor konstruksi dan sektor transportasi dan pergudangan dengan nilai pertumbuhan secara berturut-turut adalah 12,86% dan 12,96%.

Tabel 3.14 Pertumbuhan PDRB Sektoral Provinsi Papua Barat

Sektor 2011 2012 2013 2014

1. Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan -6,27% 4,42% 6,37% 5,04%

2. Pertambangan dan Penggalian 0,24% -4,07% 1,14% 0,88% 3. Industri Pengolahan 4,21% 2,89% 8,46% 3,74% 4. Pengadaan Listrik dan Gas 11,45% 12,61% 9,38% 3,28% 5. Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah, Limbah dan Daur Ulang 0,96% 5,14% 4,81% 5,15%

6. Konstruksi 15,75% 13,04% 15,79% 12,86%

7. Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

13,05% 5,32% 7,57% 8,07% 8. Transportasi dan Pergudangan 6,65% 13,79% 12,80% 12,96% 9. Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 2,41% 5,22% 4,62% 5,61%

10. Informasi dan Komunikasi 0,91% 16,55% 9,34% 11,43% 11. Jasa Keuangan dan Asuransi 8,16% 16,78% 24,21% 10,22%

12. Real Estat 7,08% 12,76% 5,96% 9,42%

13. Jasa Perusahaan 1,86% 5,19% 7,66% 7,81%

(41)

Sektor 2011 2012 2013 2014 14. Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib

9,54% 12,65% 9,46% 8,23%

15. Jasa Pendidikan 3,27% 4,45% 10,29% 10,43%

16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 7,78% 7,37% 0,82% 4,25%

17. Jasa lainnya 3,62% 3,41% 9,24% 6,84%

Total PDRB 3,64% 3,63% 7,39% 5,38%

Sumber: BPS diolah

Berdasarkan PDRB pengeluaran di Provinsi Papua (Tabel 3.15) sendiri komponen pengeluaran terbesar pada tahun 2014 masih didominasi komponen pengeluaran rumah tangga sebesar 53,16%, komponen impor antar daerah sebesar 34,66%, komponen pembentukan modal tetap sebesar 33,64% dan komponen pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 24,83%. Dalam pengeluaran rumah tangga, pengeluaran terbesar merupakan pengeluaran makanan dan minuman yang hampir 22,78% dari total PDRB.

Tabel 3.15 PDRB berdasarkan Pengeluaran Provinsi Papua Harga Konstan 2010

(Juta Rupiah) Tahun 2010-2014

Komponen Pengeluaran 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014 (%)

1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 39.252.310 44.810.410 50.164.830 57.323.960 65.488.260 53,16 a. Makanan dan Minuman Non

Beralkohol 16.724.750 19.129.300 21.506.930 24.547.200 28.054.430 22,78 b. Minuman Beralkohol dan Rokok 2.144.970 2.375.780 2.602.140 2.982.360 3.416.860 2,77

c. Pakaian 1.253.730 1.464.600 1.630.040 1.832.810 2.105.730 1,71

d. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan

Bakar Lainnya 3.420.610 3.873.050 4.300.590 4.920.130 5.706.580 4,63

e. Perabot, Peralatan Rumah Tangga dan

Pemeliharaan Rutin Rumah 1.318.190 1.491.410 1.628.360 1.862.810 2.137.000 1,73

f. Kesehatan 828.970 932.520 1.025.890 1.158.990 1.349.920 1,10

g. Transportasi/Angkutan 4.441.380 5.119.310 5.704.660 6.678.250 7.617.680 6,18

h. Komunikasi 1.667.620 1.925.000 2.164.280 2.530.980 2.886.190 2,34

i. Rekreasi dan Budaya 1.211.910 1.374.280 1.566.460 1.757.550 1.943.340 1,58

(42)

j. Pendidikan 954.480 1.074.410 1.168.800 1.295.490 1.438.880 1,17 k. Penginapan dan Hotel 3.430.410 3.840.780 4.416.120 4.993.150 5.622.260 4,56 l. Barang Pribadi dan Jasa Perorangan 1.855.280 2.209.970 2.450.580 2.764.240 3.209.380 2,61 2 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 1.402.020 1.645.460 1.867.430 2.162.380 2.592.800 2,10 3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 18.189.540 20.351.450 22.734.800 26.106.010 30.590.640 24,83 a. Konsumsi Kolektif 13.173.950 14.487.790 16.125.830 18.533.450 21.922.730 17,80 b. Konsumsi Individu 5.015.590 5.863.660 6.608.970 7.572.560 8.667.910 7,04 4 Pembentukan Modal Tetap Bruto 25.009.780 28.606.090 32.070.900 36.270.790 41.433.470 33,64

a. Bangunan 17.212.800 19.701.810 22.035.680 24.825.690 28.602.080 23,22

b. Non-Bangunan 7.796.980 8.904.280 10.035.220 11.445.100 12.831.380 10,42

5 Perubahan Inventori -3.101.730 -1.141.420 171.370 335.760 -378.210 -0,31

6 Ekspor Luar Negeri 46.999.050 33.037.530 20.707.360 30.253.200 19.619.140 15,93

a. Barang 46.845.270 32.805.000 20.483.790 30.033.420 19.388.840 15,74

b. Jasa 153.780 232.520 223.570 219.790 230.310 0,19

7 Impor Luar Negeri 9.740.490 10.860.530 10.846.790 6.744.350 14.019.560 11,38

a. Barang 8.786.790 9.914.980 9.809.860 5.599.250 12.633.800 10,26

b. Jasa 953.700 945.550 1.036.920 1.145.100 1.385.770 1,12

8 Net Ekspor Antar Daerah -7.202.300 -8.260.230 -4.057.340 -25.935.780 -22.146.820 -17,98

a. Ekspor 29.820.830 31.263.930 37.561.260 25.019.010 20.553.070 16,69

b. Impor 37.023.140 39.524.170 41.618.600 50.954.790 42.699.890 34,66

PDRB 110.808.180 108.188.760 112.812.560 119.771.980 123.179.720 100,00

Pertumbuhan per tahun (%) -4,28% 1,72% 7,91% 3,25%

Sumber: BPS, 2015

Sedangkan untuk Provinsi Papua Barat (Tabel 3.16), komponen pengeluaran terbesar adalah ekspor luar negeri, pengeluaran rumah tangga, dan pembentukan modal tetap. Komponen ekspor luar negeri merupakan komponen pengeluran yang paling besar karena jumlahnya melebihi setengah total PDRB yaitu dengan besar proporsi sebesar 60,39%. Kemudian sektor pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 25,36% dengan sub makanan, minuman dan rokok yang paling besar.

Tabel 3.16 PDRB berdasarkan Pengeluaran Provinsi Papua Barat Harga Konstan 2010 (Juta Rupiah)Tahun 2010-2014

Komponen Pengeluaran 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014 (%)

1 Pengeluaran Konsumsi Rumah

Tangga 10.906.686 11.211.030 11.518.694 11.895.004 12.747.823 25,36

a. Makanan, Minuman, dan

Rokok 5.883.646 5.910.728 6.041.857 6.208.736 6.534.387 13,00

b. Pakaian dan Alas Kaki 236.421 245.601 251.108 260.273 285.487 0,57 c. Perumahan, Perkakas,

Perlengkapan dan Penyelenggaraan Rumah Tangga

1.208.120 1.245.377 1.279.740 1.322.781 1.447.080 2,88

d. Kesehatan dan Pendidikan 612.934 633.204 653.321 670.368 728.108 1,45 e. Transportasi, Komunikasi, 1.802.842 1.912.932 1.984.309 2.090.215 2.291.229 4,56

(43)

Rekreasi, dan Budaya

f. Hotel dan Restoran 473.708 493.176 512.102 534.479 559.122 1,11

g. Lainnya 689.015 770.011 796.257 808.152 902.410 1,80 2 Pengeluaran Konsumsi LNPRT 319.912 332.151 354.037 385.939 449.426 0,89 3 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 6.781.745 7.236.047 7.957.129 8.543.626 8.773.446 17,45 c. Konsumsi Kolektif 4.889.207 5.222.843 5.838.529 6.776.523 6.971.948 13,87 d. Konsumsi Individu 1.892.539 2.013.204 2.118.600 1.767.103 1.801.499 3,58 4 Pembentukan Modal Tetap

Bruto

6.853.308 7.387.275 7.601.437 9.034.860 9.000.699 17,90

a. Bangunan 5.028.091 5.184.734 5.372.971 6.695.946 6.649.714 13,23

b. Non-Bangunan 1.825.217 2.202.541 2.228.466 2.338.914 2.350.985 4,68 5 Perubahan Inventori 2.704.543 961.473 4.294.378 -3.379.473 -5.326.926 -10,60 6 Ekspor Luar Negeri 15.472.373 22.580.422 28.231.810 26.437.807 30.357.592 60,39 c. Barang 15.428.660 22.527.877 28.173.601 26.382.600 30.307.209 60,29

d. Jasa 43.712 52.545 58.209 55.207 50.382 0,10

7 Impor Luar Negeri 862.301 778.214 447.700 623.009 586.972 1,17

c. Barang 554.426 484.933 145.829 283.637 274.024 0,55

d. Jasa 307.876 293.281 301.870 339.373 312.948 0,62

8 Net Ekspor Antar Daerah -814.594 -6.062.999 -15.086.451 -4.588.889 -5.143.077 -10,23

c. Ekspor 16.057.081 1.922.731 2.211.527 3.610.794 3.036.086 6,04

d. Impor 16.871.675 7.985.730 17.297.978 8.199.683 8.179.163 16,27

PDRB 41.361.672 42.867.187 44.423.335 47.705.865 50.272.012 100,00 Pertumbuhan per tahun (%) 3,64% 3,63% 7,39% 5,38%

Sumber: BPS, 2015

Ditingkat kabupaten (Tabel 3.17), untuk wilayah Provinsi Papua menunjukkan bahwa kontribusi PDRB terbesar berasal dari Kabupaten Mimika, dimana pada kabupaten ini terdapat PT Freeport Indonesia yang mengeksploitasi salah satu tambang galian terbesar yang ada di Provinsi Papua. Sedangkan kontribusi kabupaten lainnya yang cukup signifikan di antaranya adalah Kota Jayapura dan Kabupaten Merauke. Kota Jayapura sebagai ibukota provinsi memberikan kontribusi sebesar 13,93% dengan nilai PDRB kota sebesar 16 triliun rupiah, dan untuk Kabupaten Merauke memberikan kontribusi terhadap total PDRB Papua sebesar 5,98% dengan nilai PDRB kabupaten sebesar 7 triliun rupiah.

Tabel 3.17 PDRB kabupaten/kota di Provinsi Papua Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah) Tahun 2010-2013

Kabupaten dan Kota 2009 2010 2011 2012 2013 Persentase PDRB 2014 Merauke 5.393.465 5.718.585 6.133.228 6.638.811 7.185.178 5,98% Jayawijaya 2.758.216 2.928.556 3.153.312 3.347.239 3.549.814 2,95% Jayapura 4.457.371 4.968.321 5.522.701 6.101.725 6.818.265 5,67% Nabire 4.098.479 4.392.553 4.723.159 5.160.159 5.555.808 4,62% 29

Gambar

Gambar 1  Peta lokasi kegiatan penelitian
Tabel 3.2  Gambaran Luas Wilayah, Jumlah dan Kepadatan Penduduk  Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat Tahun 2013
Gambar 3.3  Angka Melek Huruf kabupaten/kota di Provinsi Papua dan  Papua Barat
Tabel  3.8  Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Barat menurut  Lapangan Usaha
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (PP-UMKM) dan Village Based Development merupakan program pemberdayaan masayarakat Papua khususnya masyarakat asli Mimika

Jakarta - American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) dan PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali melanjutkan kerjasama program beasiswa bagi para pelajar dari

Ini merupakan saat yang paling menarik bagi PTFI yang akan mengembangkan tambang baru di Papua yang akan memberikan banyak manfaat bagi karyawan, masyarakat

batubara oleh tim penyelidikan batubara dari Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2013 di daerah Potaway, Kabupaten Mimika, telah ditemukan 6 singkapan batubara yang

Masalah tersebut di atas disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: (1) pemerintah daerah (P & K) kabupaten Mimika tidak efektif memberdayakan guru; (2) pemerintah

Kami menghargai dukungan dari Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Daerah untuk melindungi Perusahaan yang merupakan obyek vital nasional, dan bersama ini kami

Pendapatan merupakan pendapatan total yang diperoleh dari PAD ditambah dengan dana transfer dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah Kabupaten Kerinci baik dalam bentuk Dana

Kami menjalankan kegiatan kami dengan cara yang mengedepankan hubungan yang positif dan terbuka dengan masyarakat, pemerintah dan pemangku kepentingan lain guna mendukung manfaat