• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wajah Infrastruktur Pertanian Kita

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Wajah Infrastruktur Pertanian Kita"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

m e m b awa P e N c e r a h a N b a N G s a

rP

10.000,-menuju masyarakat ekonomi aseaN 2015

Wajah

Infrastruktur

Pertanian Kita

(2)

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015 Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

Komentar

2

Komentar

3

ketidakstabilan dan kehancuran. Sep-erti saat ini, kasus yang heboh -- semua orang membicarakan kasus pimpinan lembaga negara DPR-RI bersama teman sejawatnya meminta saham kepada pimpinan perusahaan tambang terbesar di negeri ini.

Perkara itu sudah gamblang dan didengar oleh jutaan masyarakat Indo-nesia. Dalam percakapan rekaman itu, mereka mempergunjingkan dan mer-encanakan “cawe-cawe” saham. Apalagi pimpinan DPR RI dan pengusaha yang diajaknya mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden.

Nah, kepantasan etika ini patut dipertanyakan bagi pimpinan sep-erti itu. Pantaskah seorang pimpinan melakukan hal itu, apalagi pembicar-aanya penuh kerahasiaan. Mestinya, seorang pemimpin menjadikan etika sebagai dasar mengoptimalkan lembaga yang dipimpinnya.

Galih Susilo Adi Mahasiswa Fisip Universitas

Indonesia

Mencari Pimpinan Beretika

Siapapun pasti tak ingin disebut sebagai pemimpin tanpa etika. Namun, kekuasaan dan kekuatan di cengkra-man diri akan menggoda untuk mem-permainkan kekuasaan dan kekuatan sesuai nafsu dan ego diri. Padahal kekuasaan dan kekuatan itu ada karena titipan dari orang-orang yang percaya pada integritas pemimpin. Oleh karena itu, pemimpin tidak boleh lupa untuk menjalani kekuasaan dan kekuatan dengan panduan etika dan moralitas yang tinggi.

Seorang pemimpin yang beretika pasti memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga mampu menggoreskan rasa bangga yang diikuti dengan sikap rendah hati kepada orang yang dipimpinnya. Se-orang pemimpin yang memiliki etika juga memiliki kesabaran yang akan mampu menolongnya untuk tetap konsisten terh-adap pilihannya dan menunggu hasilnya dengan usaha yang maksimal. Sehingga orang yang dipimpinnya merasa bahwa

pemimpin seperti itu patut dijadikan teladan bagi dirinya.

Pada hakikatnya setiap pribadi ma-nusia adalah pemimpin yang mempu-nyai tujuan untuk dicapai. Setidaknya setiap pribadi adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jika ia telah mam-pu untuk memimpin dirinya sendiri maka barulah ia akan mampu untuk memimpin orang lain serta membimb-ing mereka mencapai tujuan. Seorang pemimpin tentunya memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu yang menjadi kewajiban atau tugasnya dan juga harus bertanggungjawab atas kepemimpinan-nya secara menyeluruh.

Selain tanggungjawab seorang pemimpin, juga harus memiliki etika dalam memimpin. Siapapun pasti tak ingin disebut sebagai pemimpin yang tidak beretika. Pemimpin yang bijak, tahu bahwa kekuasaan dan kekua-tan tidak akan berjalan sempurna tanpa panduan etika dan moralitas kepemimpinan.

Kepemimpinan tanpa etika adalah malapetaka karena dapat menimbulkan

dlatul Ulama (PBNU), Prof Dr KH Said Aqil Siraj, menilai budaya menulis ulama Indonesia saat ini cenderung menurun dibandingkan dengan ulama nusantara pada zaman dulu. Sehingga, pemikiran ulama Indonesia saat ini tidak banyak beredar di kalangan masyarakat internasional. “Ulama dulu rajin menulis, (ulama) sekarang malas menulis,” kata Said Aqil.

Kegiatan berdawah lewat tulisan saat ini memang cederung berkurang karena semakin banyaknya media elektronik. Banyak ulama yang men-jadi selebriti dadakan dengan sering-nya mengisi siaran di TV. Kondisi ini memang berbeda dengan zaman dulu. Tapi bagaimanapun, sebaiknya budaya menulis lebih digalakkan lagi, karena melalaui tulisanlah masyarakat bisa lebih punya waktu untuk membaca serta merenungkan karya tulis para ulama dibanding menonton TV yang serba instan.

Muhammad Reza Mahasiswa Yogyakarta

Sentra Peternakan Rakyat

Kementerian Pertanian (Kementan) mulai tancap gas mengatasi defisit produksi daging sapi nasional. Salah satunya dengan mencanangkan 500 ‘pabrik sapi’ atau Sentra Peternakan Rakyat (SPR) untuk memberdayakan petani yang memiliki ternak. Pem-bagian sapi akan dilakukan dengan skema kemitraan.

Dalam program SPR ini, Kemen-tan memberikan syarat kepada desa penerima sapi jika minimal memiliki populasi 1.000 sapi, dengan minimal 500 orang peternak, baik sapi potong maupun sapi perah.

Nantinya, setelah sapi yang diter-nakan peternak melahirkan anak sapi, baru ada bagi hasil dengan kedua belah pihak.

Semoga program SPR dapat men-sukseskan swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah dan mengatasi mahalnya harga daging.

Samudera Montana Mekar Sari

Cileungsi

Pendidikan di Vietnam

Lebih Bagus Dibanding

Indonesia

Peneliti dari National Bureau of Economics Research, Matthew Wai-Poi, mengungkapkan kualitas hasil pendidi-kan anak Indonesia jauh tertinggal dari Vietnam. Padahal, pemerintah kedua negara menganggarkan dana pendidi-kan yang hampir sama. “Apendidi-kan tetapi, hasilnya siswa di Vietnam mampu memperoleh peringkat kedua dari atas. Sementara, siswa di Indonesia berada

di peringkat dua terbawah,” jelas dia di Jakarta, Selasa (8/12).

Dia menjabarkan dari hasil peneli-tiannya, dalam pelajaran ilmu penge-tahuan alam, misalnya, siswa Vietnam berada di peringkat 8, sementara siswa di Indonesia berada di peringkat 64. Pada mata pelajaran Matematika, siswa Vietnam berada di peringkat 17 dan siswa Indonesia peringkat 64. Adapun pada kompetensi membaca, siswa Vietnam berada pada peringkat 19. Sedangkan, siswa Indonesia berada di peringkat 60.

Kondisi bangsa Indonesia saat ini memang penuh dengan permasalahan politik sehingga prioritas mencerdaskan bangsa kurang mendapat perhatian. Se-moga dengan temuan dan perbandingan hasil didik anak Indonesia dan Vietnam, bisa membuka wawasan para petinggi negeri ini. Setidaknya bisa lebih mem-persiapkan generasi mudanya lewat pendidikan yang lebih berkualitas. Karena pada merekalah harapan kita ke depan untuk memajukan Indonesia.

Ida Nuraida Guru Garut

Sinetron Politik

Lagi dan lagi masyarakat Indone-sia disuguhkan dagelan politik yang nyata-nyata mirip sinetron kejar tayang. Ceritanya panjang tapi tanpa hasil yang memuaskan. Kasus papa minta saham yang saat ini ramai dan jadi trending topic di media sosial hendaknya tidak menguras energi rakyat yang memang

sudah terkuras dengan kenaikan harga-harga kebutuhan sehari- hari. Berbagai pengamat politik, ahli tata hukum negara sudah menyatakan bahwa apa yang dilakukan Setya Novanto tidak beretika. Sudahlah..putuskan saja. Yang bersalah, salah dan yang benar adalah benar. Jangan terbalik.

Ekonomi Indonesia masih lemah, kesejahteraan rakyat masih teramat jauh. Tak lelahkah bermain sinetron terus..?

Bayu Efendi, Jakarta

Bocah Ajaib Joey Alexander

dari Indonesia Masuk

Nominasi Grammy Award

2016

Prestasi mencengangkan sekaligus membanggakan berhasil diukir bocah ajaib Joey Alexander. Pemain piano jazz asal Indonesia ini secara menge-jutkan masuk dalam daftar nominasi Grammy Awards 2016. Melanjutkan hasil gemilang album debutnya My Fa-vorite Things, yang mendapat respons bagus di Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Ini adalah kali pertama musisi asal Tanah Air masuk nominasi ajang bergengsi di Negeri Paman Sam tersebut.

Nama Joey Alexander muncul di daftar nominasi Grammy Awards 2016 yang diumumkan Senin, 7 Desember 2015, waktu Los Angeles. Album

per-dana bocah 12 tahun ini masuk dalam kategori Best Jazz Instrumental.

Indonesia patut bangga dengan prestasi Joey Alexander. Di usia 12 tahun bisa menorehkan prestasinya sebagai pianis Jazz di Amerika. Ini bisa menjadi motivator bagi anak anak Indo-nesia, dengan bakat dan kerjakeras, sia-papun anak Indonesia bisa berprestasi di tingkat Internasional.

Johan Wahyudi Musisi Yogyakarta

PILKADA Serentak

Kemarin, Rabu, 9 Desember 2015, merupakan saat yang bersejarah. Untuk pertama kalinya di Indonesia, diadakan pemilihan umum kepala daerah (Pilka-da) secara bersamaan di 32 provinsi, 224 kabupaten, 36 kota, dan melibatkan 829 pasangan calon.

Menurut Kapolri, pelaksanaan PILKADA serentak ini berjalan lan-car meski ada penundaan di beberapa wilayah dikarenakna calon yang dipilih terkait kasus hukum.

Dan saya menyambut baik kehad-iran para observer untuk melihat secara langsung pelaksanaan Pilkada serentak di berbagai daerah di Indonesia. Se-moga yang terpilih dapat menjalankan amanah selama 5 thaun ke depan, tidak korupsi dan KKN. Dan yang kalah dapat berjiwa besar serta tetap mendukung berjalannya pemerintahan yang ada.

Saderi, masyarakat - Depok untuk melatih motorik jari dan fisiknya.

Disamping itu anak juga dilatih ber-imajinasi dan mengasah kepekaan rasanya.

Helmi Prambudi, Wiraswasta Jakarta

Budaya Menulis Ulama

Indonesia Saat ini

Cenderung Menurun

Ketua Umum Pengurus Besar

Nah-Kebanyakan Anak

Sekarang Motorik Halus

dan Kasarnya Lemah

Anak-anak di zaman modern me-mang lebih “melek teknologi”. Mereka lebih senang bermain gadget ketimbang melakukan permainan di luar ruangan yang mengasah motorik kasarnya. Karena jarang bermain menggunakan fisik mereka, banyak ditemui anak-anak yang motorik kasar dan halusnya lemah. Misalnya saja, mereka tidak bisa meng-gunakan pensil.

Para orangtua saat ini dituntut un-tuk lebih cerdas dalam mendampingi anaknya. Lingkungan anak saat ini memang cenderung berkurang kegiatan fisiknya, dikarenakan waktunya banyak tersita dengan kesibukan memainkan gadgetnya. Ada beberapa altenatif yang bisa mengarahkan anak supaya tidak terlalu sering bermain gadget. Diantaranya adalah dengan memberi fasilitas bermain musik. Sejak dulu aktivitas belajar memainkan alat musik juga digemari oleh anak anak.

Banyak hasil penelitian yang men-jelaskan bahwa dengan belajar bermain musik di usia dini, bermanfaat juga

Inspirasi

Joey Alexander.

Pemimpin Perusahaan

Buyung Zaelani

Pemimpin Umum/Pemimpin redaksi

Sundawan Salya

wakil Pemimpin redaksi

Yaya Suryadarma

redaktur Pelaksana

Ghazy Ely Hussen Gani

redaktur senior

Moch. Fatchi, SE., MM Muji Misino, SE., MM

Mansur Eddy K. Mudjtabar

Muhyitin Bagus Suryo Nugroho

Reki Alfian

redaktur

Dwi Raharja, SE Komarudin, SE Arianto Hadi Sanjaya Ayu Pradipta Sari, S.In

sekretaris redaksi

Dian Supriyatin

sidang redaksi

Hussen Gani Mariccar Ghazy Ely Yaya Suryadarma Kartika Permata, Ignafedri Maryoko Ernawan Yudarnoko, SE Edison Porando S Hendra Anggana, SE Perwajahan Teddy Octavin sirkulasi Fauzi, Iman biro Daerah Wawan MS IssN 2089-0869 alamat redaksi Jl. Kemuning 4B No. 19, Pasar Minggu Jakarta Selatan

Telp. 021 79110153

email

[email protected]

Setiap Wartawan Tabloid INSPIRASI dibekali kartu PERS. Tidak boleh menerima sesuatu dari siapa pun,

dalam bentuk apa pun dengan alasan apa pun.

VOL 6, NO. 130, 10 DESEMBER 2015

VOL 6, NO. 130, 10 DESEMBER 2015

M E M B AWA P E N C E R A H A N B A N G S A RP

10.000,-Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015

Wajah

Infrastruktur

Pertanian Kita

Alamat Redaksi:

Jl. Kemuning 4B No. 19, Pasar Minggu Jakarta Selatan Telp: +62-21-79110153, Email: [email protected]

FORMULIR

BERLANGGANAN

DATA PELANGGAN

Nama Lengkap : No. ID (KTP/SIM/Paspor) : Tanggal lahir :

Jenis kelamin : *laki-laki *Perempuan

Alamat lengkap :

Email / Telepon :

Saya ingin berlangganan Tabloid Inspirasi selama / mulai edisi terbaru. 6 bulan Rp. 120.000,- 3 bulan Rp. 60.000,- 1 bulan Rp. 20.000,-

Pembayaran ditransfer ke:

Bank Mandiri An. Dian Supriyatin No. Rek. 157 00 029 5319 9 Setelah transfer, mohon konfirmasikan ke (021) 79110153

(3)

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015 Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

WACANA DEPAN

4

PARADIGMA

5

Alternatif Pembangunan

Pertanian Indonesia

A

wal bulan Desember silam, tepatnya pada 1 Desember tahun 2015 pukul 11.16 waktu Indonesia Bagian Timu (WIT) diatas kapal motor KM. Permata Bunda dalam perjalan-an menuju Pulau Taliabo yperjalan-ang baru saja dimekarkan menjadi daerah otonom berdasarkan UU No. 6 Tahun 2013 untuk satu kegiatan riset di sektor perkebunan,

Jika kita berbicara ten-tang ketahanan pangan maka saya, anda dan siapa saja akan mempunyai sudut pandang yang berbeda tergantung dari perspektif dan sudut pan-dang masing-masing. Karena itu Ketahanan pangan yang dimaksudkan pada tulisan ini adalah berdasarkan pada Undang-undang Nomor 7 Ta-hun 1996 menyatakan bahwa Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang ter-cermin dari tersedianya pan-gan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau dan menurut FAO (1997) Ket-ahanan Pangan adalah situasi dimana semua rumah tangga mempunyai akses baik fisik maupun ekonomi untuk mem-peroleh pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut. Kedua pemak-naan ketahanan pangan baik berdasarkan Undang-undang maupun FAO minimal memi-liki 5 (lima) perspektif yang harus mampu dijabarkan.

Pertama, terpenuhinya pan-gan denpan-gan kondisi keterse-diaan yang cukup. Diartikan ketersediaan pangan dalam arti luas, mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya, yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan manusia. Kedua, terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman, diartikan bebas dari cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang da-pat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia, serta aman dari kaid-ah agama. Ketiga, terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata, diartikan pangan yang harus tersedia setiap saat dan

merata di seluruh tanah air Keempat, terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau, diartikan pangan mudah diper-oleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau dan Kelima, terpenuhinya pangan dengan kondisi baik akses fisik maupun ekonomi.

Mencermati lima perspektif ketahanan pangan dimaksud dengan merujuk pada data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2015) tentang proyeksi ketersedian dan permintaan pangan na-sional sebagaimana disajikan pada gambar 1, amanat UU Nomor 7 tahun 1996 belum dapat diimplementasikan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Pertama, jum-lah produksi gabah kering gil-ing (juta ton GKG) dari waktu ke waktu cenderung menurun sementara kebutuhan (juta ton GKG) terus meningkat artinya kebutuhan akan mengalami defesit. Pada tahun 2014 kebu-tuhan angka ramalan kedua adalah kurang lebih 60 juta ton GKG dengan angka produksi mencapai kurang lebih 70 juta ton GKG. Pada tahun 2015 ang-ka ramalan kebutuhan menga-lami peningkatan kurang lebih 63 juta ton GKG dengan angka produksi mencapai kurang lebih 76 juta ton GKG, dan pada tahun 2016 menunjukkan antara poduksi KGK dan ke-butuhan KGK mencapai pada titik impas yang berarti jumlah yang diproduksi sama dengan jumlah yang dibutuhkan. Hal ini dengan berjalannya waktu pada tahun 2017 angka prediksi kebutuhan GKG cebderung lebih besar dari angka produksi GKG dan seterusnya sampai dengan angka prediksi pada

tahun 2026.

Angka ramalan sebagaima-na disajikan pada gambar 1, jika dihubungan dengan kondisi infrastruktur irigasi yang terse-dia saat ini dengan kondisi baik hanya mencapai 10 %, kondisi rusak ringan 10%, rusak sedang 20%, dan tidak berfungsi serta rusak berat mencapai 60%. Jika pada tahun 2014 luas areal iriga-si di Indoneiriga-sia adalah 7.145.168 Ha maka terdapat 6.430.651 Ha yang irigasi tidak dapat difungsikan dan rusak dengan berbagai kategori. Suatu angka yang fantastic dalam perspektif negative, maka angka ramalan pada gambar 1 dapat dibe-narkan. Belum termasuk alih fungsi lahan beririgasi dan alih fungsi lahan mencapai 100.000 Ha/tahun.

Pada tataran ini pemer-intah hanya akan dipastikan mengambil langkah-langkah (baca:kebijakan) yang telah menjadi rahasia umum yaitu IMPOR BERAS. Fakta menun-jukkan bahwa pada tahun 2002-2005, impor beras bukan karena suplai beras domestik tidak mencukupi kebutuhan. Misalnya, tahun 2004 dan 2005 kita surplus beras masing-masing 459 ribu ton dan 49 ribu ton, tetapi kita mengimpor 632 ribu ton pada 2004 dan 304 ribu ton pada 2005. Ironisnya, impor beras rentang 2002-2005 bisa 4-6 kali lipat dari yang seharusnya. Contohnya, impor tahun 2002 yang selisih produksi dan kon-sumsi beras domestik cuma 651.467 ton, tapi beras yang diimpor mencapai 3,7 juta ton atau 5,69 kali dari impor yang seharusnya (Irawan, 2006).

Masih pada ketersedian pangan dalam jumlah yang cu-kup, dengan Luas lahan sawah

Potret Ketahanan Pangan Vs

Infrastruktur Pertanian

di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 7,23 juta hektar (juta Ha) dengan produktivitas tert-inggi di Jawa adalah 5,5 ton/ha dan terrendaj di Papua yaitu 3,8 ton/ha dan atau rata-rata produktifitas adalah 4,6 ton/ ha, maka produktifitas yang dapat dicapai dengan luas areal tersebut adalah 33.258.841,80 ton/ha. Jika dikonversikan den-gan jumlah populasi penduduk Indonesia kurang lebih 253 juta orang, maka rata-rata konsumsi masing-masing adalah 131 kg/ orang/tahun. Angka konsumsi ini masih terdapat kekurangan sebesar 8 kg/orang/tahun dari konsumsi pangan ideal yaitu 139/kg/orang/tahun.

Upaya menutupi kekuran-gan pankekuran-gan sebesar 8 kg/orang/ tahun dapat dipenuhi dengan cara diversifikasi keanekaraga-man pangan berdasarkan kara-kteristik wilayah masing-masing daerah kabupaten/kota di In-donesia. Kebijakan pemerintah akan kebutuhan pangan yang hanya bersumber pada beras tidak akan mampu menutupi pemenuhan kebutuhan pangan ideal. Oleh karena itu diversi-fikasi keanekaragaman pangan misalnya Sagu, umbi-umbian di Maluku dan Papua menjadi alternative terbaik dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan local masyarakat. Hal ini disebab-kan karena berbagai masalah terutama alih fungsi lahan, in-frastruktur pertanian yang tidak memadai, menurunya fungsi prasarana irigasi, degradasi lahan pertanian, serta SDM yang tidak merata pada masing-masing wilayah. Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua dalam upaya pemenuhan pangan. Sekian dan terima kasih.

Dr. Suratmat Sudjud, SP., MP

Dosen Fakultas Pertanian

Universitas Khairun, Ternate

Tempat, Tanggal Lahir:

Ternate, 5 Januari 1976

Riwayat Pendidikan:

- Sekolah Dasar Islamiyah 2, 1988

- Sekolah Menengah Pertama

Negeri 4 Ternate, 1991

- Sekolah Menengah Atas Negeri

1 Ambon, 1994

- Universitas Haluhuleo Kendari

(S1-Pertanian), 2000

- Universitas Brawijaya Malang

(S2-Pertanian), 2007

- Universitas Brawijaya Malang

(S3-Pertanian), 2013

Riwayat Pekerjaan:

- Staf pada Lembaga Mitra

Lingkungan (LML) Maluku Utara

1999 – sekarang

- Staf edukatif fakultas Pertanian

Universitas Khairun 2002 – sekarang

- Ketua Jurusan Budidaya

Pertanian Fakultas Pertanian

Universitas Khairun 2004-2005

- Anggota Forum Komunikasi

Perguruan Tinggi Pertanian

Indonesia, 2005 – sekarang

- Anggota Perhimpunan

Entomologi Indonesia – Ternate,

2004 - sekarang

- Anggota Perhimpunan

Phytopatologi Indonesia,

2010–sekarang

- Direktur Eksekutif pada Lembaga

Mitra Lingkungan (LML) Maluku

Utara 2013 – sekarang

- Dan lain-lain.

Ir. Marthen Robinson Pellokila, MSc. Ph.D

Dosen Fakultas Pertanian

Universitas Negeri Nusa

Cendana, Kupang

Tempat, Tanggal Lahir:

Kupang, 17 Maret, 1965

Pendidikan:

- S1: Unniversitas Nusa Cendana

Bidang Keahlian : Sosial

Ekonomi Pertanian, Tahun 1988

- S2: Universitas Brawijaya

Bidang Keahlian : Ekonomi

Pertanian, Tahun 1995

- S3: University of the Philippines

Los Baños Bidang Keahlian :

Ekonomi Pertanian, Tahun 2002

Riwayat Pekerjan:

1. Dosen Honorer Pada Fakultas

Pertanian Universitas Kristen

Artha Wacana, Kupang, 1988

2. Dosen Honorer Pada Sekolah

Tinggi Ilmu Manajemen,

Kupang, 1988-1990

3. Dosen Honorer Pada Fakulats

Pertanian, Universitas Nusa

Cendana, 1988 -1989

4. Dosen Tetap pada Fakultas

Pertanian, Universitas Nusa

Cendana, 1989 – sekarang.

perminta

1996 be

Pertama,

menurun

mengalam

ton GKG

angka ram

produksi

poduksi

diproduk

2017 ang

seterusny

G

Angka r

infrastruk

rusak rin

pada tahu

yang irig

fantastic

Belum te

aan pangan n

lum dapat

jumlah pro

n sementara

mi defesit. P

G dengan an

malan kebut

mencapai k

KGK dan

ksi sama den

gka prediks

ya sampai de

ambar 1. Pro

(Sumber: K

ramalan seb

ktur irigasi y

ngan 10%, ru

un 2014 luas

gasi tidak d

dalam pers

ermasuk alih

nasional seb

diimplemen

oduksi gabah

kebutuhan

Pada tahun 2

ngka produk

tuhan menga

kurang lebih

kebutuhan

ngan jumlah

i kebutuhan

engan angka

oyeksi Keter

Kementrian P

bagaimana

yang tersedi

usak sedang

s areal irigas

dapat difung

spektif nega

h fungsi lahan

agaimana di

ntasikan. Ha

h kering gili

n (juta ton

014 kebutuh

ksi mencapa

alami pening

h 76 juta ton

KGK menc

yang dibutu

n GKG cebd

a prediksi pad

rsediaan, Per

PU dan Peru

disajikan p

ia saat ini d

20%, dan ti

si di Indones

gsikan dan r

ative, maka

n beririgasi d

isajikan pad

al ini dapat

ing (juta ton

GKG) teru

han angka ra

ai kurang leb

gkatan kuran

n GKG, dan

capai pada

uhkan. Hal in

derung lebih

da tahun 202

rmintaan Pan

umahan raky

ada gambar

dengan kond

idak berfung

sia adalah 7.

rusak denga

angka ram

dan alih fung

da gambar 1,

t dilihat dar

n GKG) dari

us meningk

amalan kedu

bih 70 juta

ng lebih 63

n pada tahu

titik impas

ni dengan b

h besar dari

26.

ngan Nasion

yat dalam Ha

r 1, jika d

disi baik han

gsi serta rusa

145.168 Ha

n berbagai

alan pada g

gsi lahan me

, amanat UU

ri beberapa

i waktu ke w

kat artinya

ua adalah kur

ton GKG. P

juta ton GK

un 2016 men

s yang bera

erjalannya w

i angka pro

nal dan Kond

adimoeljono

dihubungan

nya mencap

ak berat men

maka terdap

kategori. Su

gambar 1 d

encapai 100.

U Nomor 7 t

sudut pand

waktu cende

kebutuhan

rang lebih 60

Pada tahun

KG dengan a

nunjukkan a

arti jumlah

waktu pada t

oduksi GKG

disi Irigasi

, 2015)

dengan ko

ai 10 %, ko

ncapai 60%

pat 6.430.65

uatu angka

dapat dibena

.000 Ha/tahu

tahun

dang.

erung

akan

0 juta

2015

angka

antara

yang

tahun

G dan

ondisi

ondisi

. Jika

51 Ha

yang

arkan.

un.

Gambar 1. Proyeksi Ketersediaan, Permintaan Pangan Nasional dan Kondisi Irigasi

(Sumber: Kementrian PU dan Perumahan rakyat dalam Hadimoeljono, 2015)

P

ermasalahan pembangunan pertanian di Indonesia sep-ertinya tidak ada pangkal dan ujungnya. Walaupun fakta memperlihatkan bahwa per-masalahan itu telah disikapi se-cara serius oleh pemerintah sejak awal kemerdekaan, yang dikenal dengan Kasimo Plan (1947-1950) untuk mewujudkan swasembada pangan. Tapi kandas di tengah jalan sebagai akibat dari ketidak-stabilan politik waktu itu.

Walapun upaya untuk mem-perhatikan nasib petani kecil melalui penerapan Undang-Un-dang Pokok Agraria (UUPA No 5 tahun 1960) -- yang pembentukan undang-undangnya diawali oleh tim yang diketuai oleh Sarimin Reksodihardjo pada tahun 1948 (Keputusan Presiden No 16 tang-gal 21 Mei 1948 mengenai pem-bentukan Panitia Agraria, Yog-yakarta) --- tidak membuahkan suatu perbaikan yang berarti. Malah permasalahan sengketa lahan pertanian begitu marak akhir-akhir ini, dan meninggal-kan banyak kisah sedih menimpa petani kecil yang tidak berdaya ketika dihadapkan dengan ke-pentingan pemilik modal besar.

Kasus sengketa lahan Me-suji di Provinsi Lampung yang memakan begitu banyak korban jiwa petani kecil, kalau mau dicermati hanyalah merupakan gejala gunung es dipermukaan laut untuk keseluruhan per-masalahan lahan di Indonesia.

Berubahnya Fungsi BPP

Jalan keluar bagi persoalan-persoalan pembangunan perta-nian di Indonesia walaupun telah disadari tidak dapat didekati dengan perbaikan kebijakan-kebijakan pemerintah semata, melainkan perlu untuk melibat-kan pemberdayaan petani secara utuh. Namun upaya ini nampak setengah-setengah untuk dilak-sanakan dan berakhir dengan slogan-slogan politis yang tidak memberikan arti apa-apa.

Upaya pemberdayaan petani untuk peningkatan produksi pan-gan menuju swasembada yang dipelopori oleh Prof. Dr. Kamto Utomo alias “Prof. Dr. Sayogyo” dari Institut Pertanian Bogor melalui Bimas SSBM (Bimbin-gan Massal Swa Sembada Bahan Makanan), mencatat keberhasi-lan awal yang gemikeberhasi-lang seiring dengan revolusi hijau pada tahun 1960-an. Kemudian diadopsi penuh oleh pemerintahan Orde Baru (Orba) melalui program in-tensifikasi pertanian, yang men-capai puncak pada swasembada

pangan (1984) dengan prestasi produksi beras nasional 25,8 juta ton, mengantarkan Presiden RI Soeharto menerima piagam From

Rice Importer to Self Sufficiency

dari Direktur FAO, Eddouard Saouma (1986).

Seperti yang disampaikan oleh Guru Besar Institut Perta-nian Bogor (IPB), Prof. Dr. Mar-gono Slamet : “Masa ini ditandai dengan dinamika penyuluhan pertanian menurun drastis, lesu darah dan kurang gairah. Para penyuluh mengeluh, kehilangan kemapanan yang sebelumnya dimiliki dengan penuh kebang-gaan atas prestasi dan keber-hasilan mencapai swasembada beras. Mereka merasa tercam-pak karena terpecah-pecah dan terkotak-kotak secara subsek-toral. Berubahnya fungsi BPP, berubahnya sistem kerja para pe-nyuluh dirasakan oleh pepe-nyuluh telah merenggut eksistensi diri, status dan pijakan sosial para penyuluh di masyarakat”. Sung-guh suatu pernyataan ironi yang penuh dengan kepedihan.

Ketidakberpihakan Pemerintah

Ditinjau dari sudut pandang ekonomi, tidak dapat dipungkiri kebijakan dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia dibuat menjadi kuda beban bagi kepentingan sektor-sektor lain. Terutama sektor industri yang malas untuk berkembang karena “dininabobokan” oleh berbagai program subsidi baik yang nampak maupun yang tidak nampak, dengan alasan untuk meningkatkan daya saing bangsa yang semu.

Secara kasat mata ketidak-berpihakan kebijakan pemer-intah nampak pada NTP (Nilai Tukar Petani) yang tidak men-galami perbaikan yang berarti bagi peningkatan kesejahter-aan petani. Dapat digambarkan bahwa jerih lelah petani dalam menghasilkan produk-produk pertanian, tidak memberikan nilai yang berarti ketika ditu-karkan dengan produk-produk non-pertanian yang menjadi kebutuhan petani.

Dari 33 porvinsi yang di-pantau oleh BPS (Badan Pusat Satitistik), 21 provinsi menga-lami penurunan NTP (2012). Hal ini memberikan makna bahwa sebagian besar petani yang ada pada ke-21 provinsi tersebut tidak mengalami perbaikan kesejahteraan yang berarti dari produk-produk pertanian yang dihasilkan melalui jerih payah dan upaya keras mereka.

Hikayat mengenai nasib pem-bangunan pertanian akan lebih memilukan lagi, bila menampil-kan fakta-fakta bahwa sebagian besar petani kita memiliki lahan yang sangat sempit. Terutama di Pulau Jawa yang ditinjau dari skala ekonomi (economic scale) sebagai suatu usaha yang tidak layak secara ekonomi

(infea-sible). Namun tidak tersedia

pili-han yang lain bagi petani. Tahun 2010 catatan BPS menunjukkan luas rata-rata kepemilikan lahan sawah di Indonesia hanya 0,34 ha per keluarga. Secara logika luasan lahan sawah ini dari tahun ke tahun akan semakin sempit karena budaya warisan yang perlu untuk dibagi.

Persoalan sempitnya lahan pertanian ini akan menjadi lebih parah dalam area yang lebih luas. Dengan adanya fakta bahwa setiap tahun laju konversi lahan pertanian mencapai 80.000 ha – 100.000 ha (BPS 2011). Laju konversi lahan pertanian ini dipicu oleh laju pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat dan juga kebutuhan-kebutuhan non pertanian seperti industri, perumahan dan jalan yang juga terus meningkat.

Upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi belum mem-berikan dampak yang nyata. Salah satu program pemerintah dewasa ini adalah upaya mengu-rangi penggunaan bahan-bahan anorganik seperti pupuk buatan dan pestisida. Pertanian organik adalah suatu sistem pertanian yang bebas dari bahan-bahan anorganik sintetis dengan tu-juan menghasilkan bahan pan-gan yang tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia berbahaya, sehingga produknya relatif aman untuk dikonsumsi dan tidak merusak lingkungan.

Sehingga perkembangan pertanian organik di Indonesia belum secepat seperti yang di-harapkan. Isu tentang produksi massal bahan pangan masih mendominasi benak pembuat kebijakan karena kekuatiran akan ketidakcukupan pangan, menjadi isu politis yang sensitif. Dengan demikian hampir semua kebijakan yang berkaitan dengan produksi pangan masih bertum-pu pada masyarakat pedesaan yang nota bene adalah petani dengan segala keterbatasan.

Menjadi Penentu

Pertanian organik muncul dari kesadaran untuk mengkon-sumsi produk-produk pertanian

yang bebas dari bahaya-bahaya yang ditimbulkan sebagai akibat dari penggunaan bahan-bahan kimia sintetis yang dapat mer-usak kesehatan manusia dan merusak lingkungan. Beberapa keunggulan lain dari pengem-bangan pertanian organik selain pertimbangan kesehatan dan pelestarian lingkungan adalah sebagai berikut:

1. Pengembangan pertanian or-ganik dapat membangkitkan kesadaran yang lebih luas bahwa peningkatan produksi pertanian yang aman tidak sepenuhnya menjadi tang-gung jawab masyarakat desa semata tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab masyarakat di daerah perko-taan yang notabene lebih baik tingkat kesadarannya menge-nai keamanan produk perta-nian. Selama ini masyarakat desa yang diberi peran se-bagai penghasil/penyedia produk-produk pertanian bagi masyarakat perkotaan. Tapi dengan adanya kampanye pertanian organik ini maka masyarakat kota pun didorong untuk menghasilkan sendiri, karena dapat dilakukan tanpa memerlukan area yang luas bahkan dapat menggunakan media tanam polybag. 2. Sudah barang tentu

penera-pan pertanian organik adalah suatu praktek yang ramah lingkungan, karena tidak menggunakan bahan-bahan kimia sintetis yang berbahaya --- baik itu bagi konsumen dan juga lingkungan karena tidak menyisakan residu bahan-bahan kimia yang berbahaya pada media tumbuh dan pada produk pertanian itu sendiri. 3. Penerapan pertanian organik

dapat diarahkan untuk meng-hasilkan produk-produk per-tanian yang menjadi bahan pangan fungsional. Bahan pangan fungsional adalah bahan pangan yang karena kandungan komponen aktif-nya dapat memberikan man-faat bagi kesehatan, diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Penerapan dan keberhasilan pertanian organik di Indone-sia masih memerlukan jalan yang cukup panjang dan berkait dengan banyak hal. Namun ba-gaimanapun juga diseminasi informasi mengenai manfaat dari penerapan pertanian organik menjadi kunci utama penentu ke-berhasilan pertanian organik.

(4)

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015 Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

yang telah ada.

Oleh

kar-ena itu program pembanguan infrastruktur irigasi untuk peningkatan hasil pertanian padi sawah harus mendapat perhatian serius. Ketersediaan jaringan irigasi yang baik, di-harapkan dapat meningkatkan volume produksi dan kualitas komoditas pertanian, terutama tanaman pangan.

Kondisi Infrastruktur Irigasi

Masalah produksi pangan nasional yang paling krusial dan sampai saat ini belum teratasi dengan bijaksana ada-lah pengembangan infrastruk-tur pertanian. Salah satunya keberadaan irigasi dan drai-nase yang mengairi persawa-han masih terbatas akibat-nya usaha pertanian kurang berkembang.

Untuk mendukung swasem-bada pangan pemerintah telah mulai menggiatkan perbaikan jaringan irigasi yang meliputi bangunan saluran dan ban-gunan pelengkapnya sebagai satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan dan pembuangan air irigasi (drai-nase).

Selanjutnya secara opera-sional dibedakan ke dalam tiga kategori yaitu jaringan irigasi primer, sekunder dan tersier. Menurut kewenangan pengelo-laan pada berbagai tingkat pe-merintahan di Indonesia, luas areal sawah irigasi nasional dapat dilihat dalam Tabel 1.

Berdasarkan data Rapid As-sesment pada 2010, 48 persen jaringan irigasi dalam kondisi baik. “Sisanya yakni 52% dalam kondisi rusak (http://www.re-publika.co.id, 02/2015). Namun demikian data Kementerian Pertanian, tercatat bahwa luas areal irigasi mencapai lebih dari 7,1 juta ha, dan lebih dari 1,8 juta ha (25,5%) telah men-galami kerusakan. Data hasil audit teknis irigasi tahun 2015 juga menunjukkan kondisi saluran irigasi yang masih ter-bilang baik yakni, masih 3,48 juta ha, rusak ringan 1,1 juta ha, dan rusak kategori sedang

1,87 juta ha. Adapun kategori rusak berat sebesar 705 ribu ha atau 10%.

Tabel 2 memperlihatkan bahwa luas sawah irigasi teknis masih mendominasi sistem pertanian nasional. Total luas sawah nasional mencapai 7.7 juta ha, terdapat lahan sawah kategori irigasi seluas 2.209.200 ha (28,5 %), sawah irigasi semi-teknis 988.821 ha (12,8%), dan irigasi sederhana 1.586.953 ha (20,5%), sisanya, merupa-kan sawah tadah hujan seluas 2.015.349 ha (26,0%). Selain itu, terdapat sawah rawa pasang surut seluas 615.201 ha (7,9%), serta sawah rawa lebak 333.324 ha (4,3%) (Tabel 2).

Berdasarkan data Kemente-rian PUPR jumlah bendungan di Indonesia sampai saat ini sebanyak 230 unit dimana 203 unit diantaranya dibangun oleh Kementerian PUPR. Dalam Ra-pat Kerja Nasional Pembangu-nan Pertanian 2015, terungkap bahwa jaringan irigasi direhab oleh pemerintah pada tahun

2015 mencapai 1 juta ha ter-diri dari:(1) kewenangan pusat 143,1 ribu ha, (2) kewenangan provinsi 281, 6 ribu ha, dan (3) kewenangan kabupaten/kota 575,4 ribu ha. Informasi lain yang tercatat bahwa tahun 2016 ada perbaikan jaringan irigasi seluas 550 ribu ha dengan ang-garan sekitar Rp 550 miliar. Satu ha irigasi yang diper-baiki, maka dapat peningkatan produktivitas padi mencapai 0,5-1 ton. Untuk memperbaiki jaringan irigasi yang rusak 52%, membutuhkan dana lebih dari Rp 20 triliun

(http://www.agro-farm.co.id,4/12/15).

Program rehabilitasi jarin-gan irigasi telah mampu men-ingkatkan produksi padi dan surplus beras nasional. Pada ta-hun 2016 kedepan, pemerintah berencana mengembangkan lagi sebanyak delapan bend-ungan yang akan dibangun oleh Ditjen SDA Kementerian PUPR yaitu Bendungan Rukoh (Aceh), Bendungan Sukoharjo (Lampung), Bendungan Kuwil Kawangkoan (Sulawesi Utara), dan Bendungan Ladongi (Su-lawesi Tenggara) (http://na-sional.inilah.com).

Menurut cacatan yang di-publikasikan dalam http://tab-loidsinartani.com, (03/12/2014),

dalam kurun waktu tiga tahun (2015-2017) pemerintah akan memperbaiki 3 juta ha lahan sawah irigasi atau 1 juta ha per tahun. Alokasi kegiatan pengembangan atau rehabili-tasi jaringan irigasi tersier berasal dari dana kontingensi TA 2014 yang tersebar di 12 provinsi untuk luas 460 ribu ha dan APBN 2015 untuk luasan 1 juta ha. Ke 12 provinsi tersebut yakni, Sumatera Utara seluas 42.060 ha, Sumatera Barat 22.888 ha, Sumatera Selatan 27.275 ha, Lampung 32.555 ha, Jawa Barat 56.966 ha, Jawa Tengah 87.657 ha, D.I Yogya-karta 7.000 ha, Jawa Timur 72.900 ha, Banten 6.000 ha, Bali 15.000 ha, Kalimantan Selatan 10.750 ha, dan Sulawesi Selatan 79.949 ha.

Keberpihakan anggaran pemerintah propetani tentu saja sangat membantu mem-perbaiki infrastruktur irigasi dan pembuatan bendungan baru. Rata-rata lahan irigasi yang ada di Indonesia mem-punyai indeks pertanaman (IP) 1,4 skala nasional dalam arti yang paling besar adalah di pulau Jawa dengan indeks pertanaman (IP) mencapai 1,9. Indeks Pertanaman di-harapkan dapat ditingkatkan terutama di luar pulau jawa

Infrastruktur Irigasi,

Kunci Sukses Kedaulatan Pangan

sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan luas panen dan peningkatan produksi pangan berkelanjutan.

Strategi dan Optimalisasi

Sumberdaya Air

Pembahasan tentang iri-gasi berarti tidak terlepas dari usaha peningkatan ketahanan air sebagai dukungan untuk memproduksi bahan pangan. Oleh karena itu sangat tepat mencermati isu yang disam-paikan Kementerian Peker-jaan Umum dan Perumahan Rakyat pada April, 2015. Bahwa fenomena-fenomena berikut ini sedang menggejala di Indone-sia yaitu: (a) alih fungsi lahan pertanian beririgasi menjadi lahan perkebunan seperti ke-lapa sawit atau karet di pulau Sumatera dan coklat di pulau Sulawesi dengan luas areal konversi mencapai ±100 ribu ha per tahun; (b) penurunan kondisi hutan pada catchment area yang berdampak pada penurunan debit andalan pada irigasi non waduk (± 89% dari total irigasi nasional ) dan volume tampungan waduk; (c) menurunnya kondisi dan fungsi prasarana irigasi nasion-al; (d) terbatasnya kemampuan kabupaten/kota dalam penda-naan OP (Operasi dan Peme-liharaan) maupun rehabilitasi jaringan irigasi yang menjadi kewenangannya (lebih dari 48% dari total irigasi Nasional ); dan (e) semakin terbatasnya jumlah dan kualitas tenaga OP irigasi, yang merupakan ujung tombak dalam menjaga kondisi dan fungsi irigasi, sebagai dampak

kebijakan zero/minus growth jumlah pegawai.

Selain itu, penurunan kuali-tas Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat degradasi kawasan hu-tan cenderung meningkat baik yang dikarekan oleh paraktek illegal loging ataupun konversi menjadi lahan perkebunan yang sifatnya monokultur.

Pengelolaan DAS secara Terpadu merupakan sebuah pendekatan holistik dalam mengelola sumberdaya alam yang bertujuan untuk mening-katkan kehidupan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam secara berkesinambungan. Biasanya pengelolaan DAS ter-padu dapat ditempuh melalui mekanisme; (a) pengembangan dan pengelolaan sumberdaya alam (lahan, hutan dan air) yang seimbang dan serasi, (b) tindakan pengendalian untuk meminimumkan laju degra-dasi dan memperbaiki sumber-daya alam, dan (c) diversifikasi mata pencaharian masyarakat kawasan hutan. Oleh karena itu penyusunan program pemban-gunan terpadu dan membangun system koordinasi yang baik antar sektor pembangunan sangat membantu tercapainya pembangunan pertanian yang berkelanjutan.

Pola utama penyelenggaraa irigasi padi sawah adalah ren-dahnya efisiensi irigasi karena sistim genangan secara kon-tinyu. Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi dapat diselenggaran melalui perbaikan teknik budidaya SRI. Metoda SRI (System of

Rice Intensification), sistem

co-cok tanam padi yang hemat air, menggunakan pupuk organik tetapi produktivitas berlipat.

Hasil penelitian metoda SRI memperlihatkan bahwa sistim irigasi terputus (intermittent) dengan genangan dangkal maksimum 3 cm dan pen-geringan lahan sawah dalam periode tertentu dapat menin-gkatkan produksi sekitar 20% dan penghematan air sekitar 40%. Implementasi system SRI di daerah irigasi memerlukan perubahan metoda pemberian air dari kontinyu ke

intermit-tent atau sistim rotasi di

ting-kat antar kwarter. Metode SRI ini dapat menghemat air pada musim kemarau sehingga luas pertamanan areal irigasi pada musim kemarau tetap saja da-pat dipertahankan, atau kenai-kan Intensitas Pertanaman (IP) pertahun dapat dilingkatkan.

Anggaran pembangunan infrastruktur pertanian tidak hanya mengandalkan APBN Kementerian Pertanian saja tetapi juga dari sebagian ang-garan APBD. Sangat disadari bahwa kemampuan finansial pemerintah kabupaten/kota da-lam penganggaran OP maupun rehabilitasi jaringan irigasi yang menjadi kewenangannya sangat rendah.

Kapasitas fiskal pemerintah kabupaten/kota tidak mampu memenuhi biaya pemeliharaan bangunan irigasi yang men-capai lebih 48% dari total luas irigasi nasional. Selama ini sarana irigasi difokuskan un-tuk tanaman pangan terutama padi sawah sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia.

Kendala utama pada sistim irigasi padi sawah di Indonesia sekarang ini adalah biaya OP yang tersedia dari pemerintah, kurang dari biaya OP sehar-usnya, sehingga terjadi penu-runan kemampuan irigasi yang dinyatakan dengan penurunan Indek Pertanaman. Kekuran-gan biaya OP diharapkan dapat ditanggulangi dari biaya iuran pelayanan air tampaknya di sebagian besar daerah irigasi belum dapat dipenuhi. Sebagai solusi untuk meghadapi per-masalahan ini sudah waktunya pemerintah dan masyarakat menumbuh kembangkan pro-gram pembiayaan pertanian melalui lembaga keuangan khusus yang melayani petani. Oleh karena itu fasilitas skim kredit diharapkan lebih baik dan diharapkan ada penam-bahan fasilitas kredit untuk mekanisasi pertanian.

Lembaga petani yang da-pat menjadi alat untuk men-ingkatkan skala usaha untuk memperkuat posisi tawar petani sudah banyak yang tidak ber-fungsi. Kapasitas kelembagaan pengelolaan irigasi dan lemah-nya koordinasi dan perencanaan telah menjadi tantangan tersend-iri program pembangunan perta-nian. Menghadapi masalah ini diperlukan penguatan sistem kelembagaan pertanian dan perdesaan melalui penumbuhan kesadaran petani terhadap hak-hak petani melalui pembinaan yang berkelanjutan, penguatan organisasi dan jaringan tani.

Sejak dulu sektor pertanian dikenal mampu menyediakan peluang terbesar penyerap

tenaga kerja di Indonesia. Na-mun kualitas dan kuantitas sumber daya manusia yang mau dan mampu mengelola di bi-dang pertanian sudah semakin berkurang karena regenerasi keluarga petani lebih memilih sector non pertanian. Untuk itu dibutuhkan langkah kongkrit berupa berbagai kebijakan, ren-cana dan program-program pe-merintah ke arah peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan meningkatkan kemam-puan penguasaan teknologi, kewirausahaan, dan manajemen usaha tani melalui penyuluhan pertanian, dan pengembangan sistem pendidikan dibidang pertanian yang menarik minat dan bakat generasi muda.

Yang tidak kalah penting adalah melakukan modernisa-si irigamodernisa-si, yakni mewujudkan sistem pengelolaan irigasi parti-sipatif yang berorientasi pada pe-menuhan layanan irigasi secara efektif, efisien dan berkelanju-tan dalam rangka mendukung ketahanan pangan melalui pen-ingkatan keandalan penyediaan air, prasarana irigasi, manaje-men (pengelolaan) irigasi, insti-tusi pengelola dan sumber daya manusia. Untuk itu agar semua dapat berjalan secara optimal dengan memanfaatkan irigasi partisipatif yang pada esensinya adalah mengembalikan owner-ship irigasi kepada masyarakat. Jadi masyarakat harus terlibat sejak perancangan, dan juga pola perancangan, setelah diban-gun juga harus berpartisipasi lalu ikut dalam kegiatan operasi dan pengelolaannya serta peme-liharaannya.

S

alah satu hambatan dalam peningkatan pertanian ada-lah ketersediaan infrastruk-tur, berupa ketesediaan lahan, pupuk, sumber daya manusia (SDM), serta jaringan irigasi yang memadai. Namun kon-disi infrastruktur pertanian nasional dapat dikategorikan masih berada dalam kondisi memprihatinkan,

Fenomena perubahan iklim global yang ekstrim, kerusa-kan saluran irigasi yang tinggi telah nyata menekan produksi pertanian, Tambahan lagi, sampai saat ini pemerintah belum mampu mengendalikan dan mencegah penyusutan lahan pertanian akibat prak-tek konversi lahan yang tidak terkendali. Hal yang menjadi salah satu penyebab terhadap penurunan kualitas dan kuan-titas pangan nasional.

Atas alasan kondisi terse-but, pemerintahan Jokowi menargetkan swasembada pangan nasional harus terwu-jud dalam masa 3 tahun ke depan terutama untuk komodi-tas beras, kedelai, dan jagung, serta dalam rentang waktu dua tahun berikutnya untuk komoditas gula dan daging. Merespon program tersebut Menteri Pertanian RI telah menyelenggarakan rapat kerja nasional (Rakernas) 2015 dan menghasilkan 15 poin upaya khusus swasembada pangan dan peningkatan produksi ko-moditas strategis. Salah satu diantara poin tersebut adalah program rehabilitasi jaringan irigasi tertier untuk areal per-tanaman seluas 1,1 juta ha.

Permasalahan infrastruk-tur pertanian berupa irigasi merupakan salah satu faktor produksi yang didinilai sangat penting dalam mendukung ketahanan pangan dan ser-ing menjadi faktor pembatas produksi beras nasional.

Banyak laporan yang men-catat bahwa kondisi irigasi na-sional telah mengalami kemun-durun fungsi akibat berbagai fenomena alam, efisiensi dan efektivitasnya untuk mendu-kung produksi komoditas pan-gan menjadi rendah. Tingkat kerusakan saluran irigasi di Indonesia telah mencapai 52 persen pada tahun 2013.

Kerusakan ini terutama

diakibatkan erosi,

menurun-nya kualitas daerah aliran

sungai, bencana alam banjir

dan longsor serta kurangnya

perawatan jaringan irigasi

Penurunan kualitas Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat degradasi kawasan hutan cenderung meningkat baik yang dikarekan oleh paraktek illegal loging ataupun

konversi menjadi lahan perkebunan yang sifatnya monokultur.

WACANA UTAMA

6

WACANA UTAMA

7

Dr. Ir. Muyassir, MP.

Ketua program Studi Magister

Konservasi Sumberdaya

Lahan Program Pascasarjana

Universitas Syiah Kuala

Banda Aceh

Tempat, Tanggal Lahir:

Tanjongan, 21 April 1964

Riwayat Pendidikan:

- Fakultas Pertanian Universitas

Syiah Kuala, 1991

- Pascasarjana, Universitas

Brawijaya, Malang, 1998

- Pascasarjana Universitas

Padjajaran, Bandung, 2004

Riwayat Pekerjaan:

- Penyusunan studi kelayakan

pembangunan perkebunan

kebun kelapa sawit PT. Agro

Nanggroe Abadi di Desa Kaloy

Aceh Tamiang (ketua tim

leader), 2010

- Studi kelayakan pengembangan

usaha pengolahan pakan di

kabupaten Aceh Besar dan Pidie

(ketua tim leader), 2011

- Penyusunan rancangan teknis

pengembangan agrowisata

Bango Kota Sabang (anggota

tim tanaman, 2012

- Kajian Lingkungan

Penambangan emas Gunong

Ujuen Kabupaten Aceh Jaya

(anggota tim), 2012

- Dan lain-lain.

(5)

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015 Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

WAWANCARA

8

WAWANCARA

9

Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc., Agr.

Intinya, Harus Ada Political Will

Dari Pemerintah

infrastruktur irigasi. Peng-kajian terhadap kawasan ini dapat dilakukan secara cepat dengan melakukan karakteri-sasi wilayah dan berdasarkan pengalaman yang telah diper-oleh selama ini pembangunan infrastruktur hendaknya dapat dilakukan secara bertahap ter-masuk pembangunan kelem-bagaan pengelolaan irigsi yang diperlukan.

Untuk mendalami hal itu, Redaksi Inspirasi belum lama ini berkesempatan mewawan-carai Ketua Program Studi Pasca Sarjana Sosiologi Pede-saan IPB, Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc., Agr. Peti-kannya:

Sejauh ini, pandangan Anda bagaimana infrastruktur dan irigasi di sektor pertanian?

Ketahanan pangan dari sisi produksi, angka resmi di-siarkan oleh BPS, dan sampai sekarang dan disitir oleh presi-den di masa SBY dan masih dipakai hingga saat ini, terjadi konversi lahan sawah sebesar 100 ribu hektar per tahun. Ini persoalan pertama. Kedua, irigasi. Sawah ini persoalannya adalah infrastruktur. Tanah mineral sebagain besar ada di Jawa. Ada juga Sumatera, Ka-limantan, tapi paling banyak di Jawa. 70 %, produksi padi ada di Jawa. Celakanya Jawa itu, padat dengan penduduk, konversi di Jawa tidak dapat dielakkan. Jadi jalan tol, peru-mahan. irigasi, 52 persen oleh kementerian pertanian dari infrastruktur rusak. Ketiga, waduk untuk menyediakan air. Indonesia termasuk neg-ara yang sangat buruk dalam manajemen air hujan. Sebagian besar, air hujan lari ke laut. Se-jak reformasi hingga sekarang, belum ada penambahan waduk baru. Seburuk-buruknya Pak Suharto, tapi beliau adalah presiden yang banyak mem-bangun waduk. Sejak reformasi sampai hari ini, dipastikan tak ada waduk yang dibuat. Jadi, sekarang Pak Jokowi sedang

satu paket. Yaitu sawah, hutan, air, dan lain sebagainya. Jadi?

Menurut saya bukan para pengusaha, tapi pengambil keputusan. Saya tidak tahu pat pat gulipatnya. Lepas dari persoalan pelangaran etik, tapi sseungguhnya kalau pemerin-tah menyadari kalau pangan itu merupaan problem yang rumit, tentu pemerintah akan memikir-kan lebih komprehensif. Jadi, pangan itu harus melibatkan, environment, manusia, sawah, industri, hutan, air, dan seterus-nya. Saling kait mengaitseterus-nya. Dari tahun ke tahun in-frastruktur pertanian kita seperti apa menurut Anda?

Agriculture is transporta-tion business, agriculture is water business. Artinya, apabila infrastruktur dan airnya rusak. Maka bisnis pertanian menjadi nothing. Jadi , terobosan pe-merintah sekarang itu benar, membuat transportasi kereta di pinggir jalan. Di Eropa, orang mengandalkan kereta api. Ka-lau menurut saya, filosofi trans-portasi adalah memindahkan tubuh. Kalau di Indonesia itu lain, transportasi itu memind-ahkan kekayaan.

Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain, seperti Thailand, Vietnam dan Malay-sia bagaimana?

Saya tidak ingin mengeks-pos, IPB itu banyak mencipta-kan produk pangan yang ung-gul. Contoh, kita punya varietas kedelai. Pada zaman presiden SBY, kami mengirimkan tim untuk bisa swasembada kedelai. Tapi ini masalah ekonomi politik pangan. Jadi ada persoalan non-teknis. ada sekelompok besar, menurut guru besar penemu varietas kedelai itu, kami bisa memproduksi hingga swasem-bada. Jadi, ada persoalan dengan kebijakan. Di sini ada persoalan ekonomi politik, kedelai begitu,

beras juga begitu. Pokoknya gini, kalau kita impor, ada rente ekonomi pengimpor. Karena, siapa yang mendapatkan siapa pengimpor itu, sehingga mer-eka akan menghasilkan hasil. Mereka sah-sah saja, namanya juga orang dagang. Nah, belum lagi ada impor garam, kayu, jadi aneh sekali.

Harusnya bagaimana dong? Intinya, harus ada political wiill dari pemerintah jangan kalah oleh pragmatisme. Jan-gan IPB terus yang disalahkan, kami banyak menghasilkan produk pertanian kok. Pihak Kementerian Pertanian (pemerintah, red) sendiri ba-gaimana perhatiannya?

Kalau kami kan pemikir. Semua yang ada di kami sudah dipublis. Terserah pengambil kebijakan, apakah mau dipakai atau tidak dipakai.

Bagaimana hubungan atnara perguruan tinggi, swasta, dan pemerintah?

Antara akademisi, pemerin-tah oke-oke saja. Tapi di bisnis-nya (swasta,red) ini yang masih ada masalah. Di Indonesia, bis-nis yang lebih suka ambil rente. Artinya, dari pada kotor-kotoran tangan di sawah, maka ambil keuntungan saja. Itu sah- sah saja, tapi dari sisi kedaulatan itu sangat tidak baik. Jadi, semua bisnis kita dikuasai oleh asing. Tol, perbankan, dan lain seba-gainya itu dikuasai oleh asing. Nah, itu semuanya, masalah ekonomi politik.

Soal infrastruktur pertanian kalau digeser ke luar Jawa bagaimana?

Seperti yang saya katakan, tanah mineral kita itu masih banyak di Jawa dan Bali. Lalu, tadi sudah saya jelaskan ada tu-juh faktor di atas. Nah, masalah kedelapan adalah masalah agraria, status lahan. Ini lagi-lagi, political will pemerintah. Sampai berapa lama Indo-nesia keluar dari masalah-masalah tersebut?

Saya katakan, Indonesia harus bisa hentikan beranak (populasi, red) hingga 12 juta pertahun. Tekan itu, makanya ketika jamannya Pak Harto gencar sekali soal program Ke-luarga Berencana (KB). Jadi, Indonesia bisakah swasembada dalam 3 tahun ke depan?

Tidak bisa. Tapi kalau hanya jargon politik, ya mungkin bisa.

gapura. Artinya, setiap tahun di Indonesia bisa menghasilkan Singapura. Nah, semuanya itu kan perlu pangan untuk dikonsumsi. Jadi di sisi suply berkurang, dan di sisi kon-sumsi meningkat juga. Impor pangan sangat tidak mungkin. Karena, itulah tantangan yang dihadapi oleh Indonesia yang menyebabkan pangan kita agak pesimis.

Kemudian, pantauan Anda soal infrastruktur pertanian, terutama di daerah kering bagaimana?

Saya pernah lihat embung di Kalimantan. Tapi airnya gak ada, padahal pembangu-nan embung ini miliaran ru-piah. Seharusnya embung itu, harus dibangun ditangkapan airnya yang banyak, makanya embung itu tidak berfungsi secara optimal. Lalu, saya juga melihat embung di NTT, tapi embungnya kecil, dia berdiri

sendiri mengisi air sendiri. Embung itu perlu manusia, dia perlu lingkungan sekitar. Ini sepanjang air itu tidak di bangun makanya mangkrak lagi. Jadi, membangun waduk atau embung harus satu paket sama ekosistem di sekitarnya. Kalau Pak Jokowi tengah gen-car-gencarnya membangun embung atau waduk, tapi tidak dibarengi dengan membangun ekosistem di sekitarnya seperti hutan, maka ini akan menjadi persoalan, dan embung atau wduk itu tidak akan berfungsi dengan baik atau bisa dika-takan mangkrak. Environ-ment itu tidak bisa dipisahkan dengan manusianya. Maksud saya mari libatkan masyarakat untuk membangun embung dan waduk. Bahkan di IPB, kita punya hutan yang tanpa harus merusak hutan. Seki-tar 500 hekSeki-tar, per tahun kita bisa menghasilkan Rp2 miliar, lokasinya di Gunung Walad,

Sukabumi.

Oh bagus dong IPB. Lalu apak-ah sudapak-ah dibicarakan dengan pemerintah akan hal itu?

Kami sudah membicara-kan dengan pemerintah. su-paya bisa direspon, tapi masih belum ada yang signifikan. Seperti contoh di masyarakat Kidul, kawasan yang ada seki-tar 100 hekseki-tar, mereka diberi bibit jati, mulai sekitar tahun 1990-an. Jatinya tidak dipo-tong, dan boleh dipodipo-tong, tapi dengan cara sustainable. Kami sedang memikirkan, pertum-buhan karbonnya yang bisa dijual. Karbon tersebut dijual ke perusahaan yang meng-hancurkan karbon. Seperi perusahana minyak dan gas. Tapi,kalau bicara pangan, tidak boleh dipecah-pecah, apakah ini industri, kehutanan , atau pangan. Kami membicaarkan pangan tidak hanya ngomong sawah, tapi komprehensif harus fokus membangun waduk.

Sudah waduknya gak ada, iri-gasinya rusak, dan konversinya besar. Sehingga inilah yang membuat ketahanan pangan kita mengalami persoalan.

Ke-empat, hilangnya kelembagaan

lokal yang menghilangkan kon-versi lahan. Di Bali konkon-versi tertahan, karena ada awe-awe dan subak. Jadi yang mena-han laju konversi lamena-han adalan mereka itu.

Lalu, apalagi?

Ya, yang kelima, economic

growth system ini

meninscaya-kan berlomba-lomba di sektor non-pertanian. Semua bisnis pasti berada di Jawa. Karena semua bisnis pasti berada di Jawa. Land rent, data yang di-pakai oleh IPB atau angka yang dipakai oleh teman-teman IPB. Land rent (rente ekonomi yang dihasilkan sebidang tanah), dari sebidang tanah diperuntukkan untuk sektor non-pertanian, seperti industri, maka keuntun-gannya bisa 500 bahkan 1000 kali lipat. Jika diperuntukkan untuk sawah sedikit. Artinya, land rent sawah bila diguna-kan sektor pertanian dengan sektor industri, perbedaannya bisa sampai 500-1000 kali lipat. Ini perbedaan angka yang cukup fantastis. Jadi, di sektor ekonomi yang semakin liberal ini, atau ekonomi petani, maka petani tergiur untuk menjual sawahnya dari pada digunakan pertanian. Keenam, ini khusus untuk di luar Jawa. Yaitu sek-tor pertanian tergerus oleh sektor perkebunan. Mengapa? Karena rente ekonomi padi bila dibandingkan dengan rente ekonomi perkebunan, khusus-nya sawit dan karet lebih besar sawit. Di sana berkompetisi. Sehingga dari enam faktor ini, situasi pangan atau beras kita semkin menghawatirkan.

Ketu-juh, pertumbuhan penduduk

makin hari makin banyak. Rate pertumbuhan penduduk kita, kalau tidak salah per tahun 12 juta bayi per tahun. pertumbu-hannya dua kali negara Sin-Hasil analisis kebijakan,

menyarankan supaya ada lang-kah terobosan dalam pengelo-laan irigasi untuk memastikan Indonesia tidak lagi pengimpor beras terbesar di dunia. Ada be-berapa pendekatan yang diper-lukan antara lain melakukan eksplorasi kawasan yang diang-gap layak untuk membangun yang besar kemungkinan

dida-langi oleh oknum penentu ke-bijakan sehingga dimunculkan istilah ketahanan pangan yang berbasis impor yang sungguh sangat membodohi rakyat Indo-nesia. Padahal, kedaulatan dan keamanan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari kedaulatan di bidang pangan.

I

ronisnya, produktivitas yang rendah dijadikan alasan bagi satu pemerintah ke pemerin-tahan berikutnya untuk tetap mengimpor produk pangan.

Impor pangan ini pada ke-nyataannya hanya membesar-kan para pemburu rente atau

rent seeking, umumnya adalah

oligarki pedagang-pedagang

Sejatinya, Indonesia setelah empat presiden sejak reformasi 1998,

upaya untuk swasembada pangan dan menyejahterakan petani

masih jauh dari kata berhasil. Berbagai permasalahan, seperti

infrastruktur pertanian serta konversi lahan produktif ke sektor

properti, terus menekan produktivitas petani kita.

Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc., Agr.

Riwayat Pendidikan:

- S1 Sosek Pertanian IPB, 1988

- S2 Integrated Tropical Agricultural

and Forestry Sciences- Specializing

in

RuralDevelopmentStudiesGeorg-AugustUniversityof GoettingenGermany,

1993

- S3 Agricultural Sociology and

Socio-Economics of

RuralDevelopmentGeorg-AugustUniversityof GoettingenGermany,

2000

Prestasi dan Penghargaan:

- Dosen Berprestasi IPB Tahun 2008

Mata Kuliah:

- Dasar-Dasar Pengelolaan Sumberdaya Alam

dan Lingkungan Hidup

- Ekologi dan Pembangunan

- Ekologi Manusia

- Ekologi Politik Kawasan

- Ekologi Politik Sumberdaya Alam

• Gerakan Sosial dan Dinamika Masyarakat

Pedesaan

• Penelitian Sosiologi

Pedesaan di

Indonesia

• Perubahan

Manajemen

• Sosiologi Ekonomi

Pedesaan

• Sosiologi Umum

• Studi Pustaka

• Teori Sosial Hijau

(6)

Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015 Vol 6, No. 130, 10 Desember 2015

SUARA ASOSIASI

10

SUARA ASOSIASI

11

madamkan harapan produsen batubara bahwa proyek-proyek ini dapat menyerap beberapa kelebihan pasokan mereka di tengah anjloknya harga-harga global. Hampir 80 persen dari listrik baru akan didapat dari pembangkit listrik tenaga ba-tubara, sementara sisanya dari tenaga gas.

Biaya keseluruhan sekitar US$29 miliar sebagian besar didapat dari investasi asing, terutama China dan Jepang. Indonesia merupakan pengha-sil gas-gas rumah kaca terbe-sar ke lima di dunia. Seperti diketahui, Presiden Jokowi menghadiri KTT iklim PBB yang berlangsung di Paris akhir November kemarin, dimana ia diharapkan membeberkan janji untuk menanggulangi peruba-han iklim.

Pembangunan pembangkit listrik Batang milik pemerintah senilai $4 miliar dengan tenaga 2000 Megawatt di Jawa Tengah, telah ditunda sejak Electric Power Development Co Ltd dari Jepang memenangkan kontrak itu tahun 2011, dengan tenggat pendanaan diundur untuk keempat kalinya bulan ini. Konstruksi seharusnya dimulai tahun 2012, namun

telah berulang kali ditunda karena puluhan pemilik lahan menolak menjual sawahnya untuk tempat pembangunan pembangkit listrik.

Rencana Presiden Jokowi tersebut juga telah memicu perselisihan di dalam kabinet. Bulan September lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemariti-man dan Sumber Daya, Rizal Ramli, memicu perselisihan politik ketika ia mengakan kurang dari setengah proyek ini akan tercapai.

Kendati demikian, kita seba-gai anak bangsa harus optimis untuk mewujudkan kemandi-rian energi di nusantara. Perso-alan energi dimasa mendatang bukan sekadar keterbatasan pasokan energi primer namun bagaimana mentransformasi-kan energi primer tersebut menjadi energi termanfaatkan bagi kehidupan manusia.

Oleh karena itu, untuk men-dukung kelistrikan nasional yang andal dan bermutu tinggi dimasa mendatang, investasi listrik oleh negara ini tetap me-merlukan campur tangan pihak swasta secara proporsional tan-pa mengabaikan peran sosial dan Nasionalisme bangsa.

N a s i o n a l i s m e s a n g a t

berkaitan dengan kelistrikan nasional. Dan kedaulatan en-ergi listrik suatu bangsa, ada-lah ciri berdaulatnya sebuah nation.

Untuk itu, campur tangan pihak swasta, terutama asing, dalam penyediaan kapital perlu dijaga. Kita perlu memfor-mulasikan agar tidak mengu-rangi rasa nasionalisme dan ke-mandirian bangsa. Reformulasi regulasi yang berkaitan dengan investasi asing dibidang kelis-trikan nasional agaknya perlu mendapat perhatian semua pihak. Jika selama ini lebih dari separuh investasi pembangkit masing disokong pihak asing, baik dana, teknologi maupun ekspatriat, maka ditahun men-datang ketidakdaulatan kelis-trikan nasional perlu dirombak secara gradual dan reformatif.

Kita berharap, munculnya keberanian pihak pemerintah dalam melibatkan pihak swasta domestik untuk melakukan investasi disektor ketenagal-istikan nasional dengan tetap menjaga rasa nasionalisme bangsa, sehingga kemandirian dan ketahanan energi nasional dapat diwujudkan.

Saat ini, Indonesia masih mengandalkan mitra luar

un-Birokrasi Yang Lamban Hambat

Kemajuan Listrik Indonesia

R

encana Presiden Joko Widodo untuk memban-gun pembangkit-pem-bangkit listrik bertenaga lebih dari 35.000 Megawatt pada 2019 hanya akan tercapai set-engahnya. Presiden Jokowi meluncurkan program untuk membangun lebih dari 300 pembangkit listrik dalam upa-ya menanggulangi kekurangan listrik endemik dan meningkat-kan pertumbuhan ekonomi.

Birokrasi yang parah dan proses tender yang lambat menghambat kemajuan proyek. Kita memperkirakan hanya 16,7 Megawatt yang akan terca-pai pada 2019. Kita tidak akan menyelesaikannya dalam lima tahun. Perhitungan kita hanya 16,7 Megawatt.

Begitu proses tender tuntas untuk membangun pembang-kit listrik baru di Indonesia, fasilitas-fasilitas listrik tenaga batubara biasanya memerlukan empat tahun lagi untuk selesai. Kapasitas 35.000 Megawatt dapat dituntaskan dalam 10 tahun.

Kemajuan program yang lambat dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan mengikis popularitas Presiden yang sudah menurun, serta

me-Harga jual panas bumi ditetapkan pemerintah itu cukup bagus. Dan akan menarik animo investor berinvestasi.

Persoalan energi dimasa mendatang bukan sekadar keterbatasan pasokan energi primer namun bagaimana mentransformasikan

energi primer tersebut menjadi energi termanfaatkan bagi kehidupan manusia.

tuk berinvestasi dalam kelis-trikan nasional. Andai saja pola alih teknologi dan alih dana investasi listrik nasional dapat dicapai. Saya percaya bahwa pada saatnya Indonesia akan mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional secara mandiri, berdaulat dan bermartabat.

Dewasa ini, setidaknya ter-dapat tiga permasalahan pokok pada kelistrikan Indonesia. Permasalahan tersebut antara lain biaya pokok produksi (BPP) dan tarif dasar listrik (TDL), serta permasalahan kentenagalistrikan. Kondisi dilematis terjadi karena BPP harus mengikuti harga pasar (market price), sedangkan TDL menjadi kewenangan/keputu-san presiden melalui kepres. Implikasinya, negera mesti merogoh APBN untuk mem-berikan subsidi listrik bagi masyarakat.

Permasalahan ketenagal-istrikan banyak sekali, antara lain ambivalensi regulasi, ket-erbatasan dana, BPP yang lebih tinggi daripada harga jual, ketidakpastian pasokan sumber energi primer (BBM, gas, batu-bara), dominasi penggunaan BBM sebagai sumber energi primer, pertumbuhan demand yang lebih tinggi dibanding

supply, tantangan geografis, permasalahan pemanfaatan dan lain-lain.

PLN selama ini sebenarnya telah menunjukkan tren presta-si yang popresta-sitif. Data PLN (2013) menunjukkan pertumbuhan usahanya dalam kurun lima tahun (2008-2012) telah ingkat. Penjualan listrik men-ingkat dari 128 terawatt hours (TWh) pada 2008 menjadi 172 TWh pada 2012. Jumlah pe-langgan meningkat dari 39 juta pada 2008 menjadi 50 juta pada 2012, serta rasio elektrikasi meningkat dari 62,3 persen pada 2008 menjadi 75,9 persen pada 2012. Kapasitas pembang-kit terpasang baik milik PLN maupun proyek listrik swasta (independent power producers-IPP) sebesar 40.533 megawatt (MW) terdiri 31.815 MW di Jawa-Bali dan 8.718 MW di Sumatera dan Indonesia Timur. Jumlah itu tidak termasuk pembangkit sewa sebanyak 2.933 MW.

Selain persoalan listrik, en-ergy geothermal juga memiliki prospek bagus di nusantara. Apalagi masalah tarif harga jual hasil panas bumi, yang secara teknis sudah memiliki nilai keekonomian. Dengan mengunakan feed in tariff atau opsi patokan harga tertinggi

(PHT) yang tengah diusulkan pemerintah, dinilainya cukup menarik bagi investor masuk sektor pengembangan panas bumi di Indonesia.

Harga jual panas bumi ditetapkan pemerintah itu cu-kup bagus. Dan akan menarik animo investor berinvestasi. Na-mun, kita menyayangkan masih ada kendala terkait kebijakan yang belum mendukung sisi op-erasionalnya di lapangan. Soal tarif secara teknisi okay. Tapi, dari sisi perizinan lahan sampai kini belum sinkron. Bayangkan,

area potensi panas bumi kita itu sebagian besar ada di wilayah Kawasan Hutan Konservasi. Penggunaan lahan ini harus melalui izin berlapis hingga makan waktu bertahun-tahun- juga belum tentu selesai.

Kita berpendapat bahwa

non tariff barrier itu

disebab-kan belum adanya koordi-nasi yang baik antar instansi terkait. Oleh sebab itu, kita mengusulkan kepada Pe-merintah membentuk desk pengembangan panas bumi melibatkan- setidaknya –

em-pat institusi terkait.Antara lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Kehutanan, Ke-menterian Keuangan dan PT PLN. Nah, pada job desk yang saya sebutkan itu harus me-libatkan empat unsure ini. Sehingga dapat menunjang teknis operasional. Izin – izin diurus dalam satu atap saja. Dengan desk itu dipastikan memudahkan investor men-gurus berbagi dokumennya. Bahkan juga efisien waktu dan biaya.

Ir. Ali Herman Ibrahim

Ketua Asosiasi Produsen Listrik

Independen Indonesia

Tempat, Tanggal Lahir:

Palembang, 23 September 1954

Riwayat Pendidikan:

- Sarjana Teknik Elektro, Institut

Teknologi Bandung 1997

- IPPM-Jakarta, lulus tahun 1997

Riwayat Pekerjaan:

- Bekerja di PLN Wilayah III

Sumatera Barat

- Kepala Seksi Teknik, 1979-1983.

Dilanjutkan dengan menjadi

Kepala Bagian Teknik PLN Wilayah

III (Sumatera Barat) hingga 1985

- Pimpinan Bagian Kelistrikan

Nusa Tenggara Barat

(1985-1988)

- Kepala Bagian Operasi

Konstruksi PLN Wilayah XI

Bali-Nusa Tenggara

- Kepala PLN Cabang Tangerang

pada 1992-1995

- Manajer Divisi Pemasaran PLN

PJB I

- Dirut PT Cogindo Daya Bersama,

anak perusahaan PT PLN

(1999-2000)

- Dirut PLN Batam (2000-2003),

- Direktur Pembangkit dan Energi

Primer PT PLN (Persero) dari

2003-2008

- Direktur Utama, PT Bakrie Power

2008- sekarang

Riwayat Jabatan:

- Ketua Asosiasi Produsen Listrik

Independen Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Kata budaya (culture) sebagai konsep berakar dari kajian atau disiplin ilmu antropologi, dan merupakan suatu identitas dari tiap-tiap bangsa.Budaya merupakan pola yang

Skor rata-rata kompetensi pedagogik pada dimensi “melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran” diperoleh skor 58,33% atau 2,33 dari skor maksimal

Responsiveness atau daya tanggap merupakan kemampuan perusahaan yang dilakukan oleh langsung karyawan untuk memberikan pelayanan dengan cepat dan tanggap.Daya

Teori kebijakan pembangunan hukum dijadikan sebagai sebuah strategi yang Sekterian disini dipahami bahwa otoritas kekuasaan dan hukum tidak hanya melekat pada negara atau

Adapun Hornsby (Oktafiani et al., 2018) mentakrifkan disleksia sebagai bentuk kesulitan belajar membaca dan menulis terutama belajar mengeja (mengujar) secara betul

Pelaksanaan Administrasi Keuangan dan Umum merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar untuk mengolah data dan mengkoordinasi di

Pengambilan sampel dilakukan secara berjenjang ( multistages ), yakni setiap UPBJJ-UT dibagi berdasarkan kota dan kelompok belajar. Sampel secara acak ditentukan satu

Kedua arteri coronaria kanan dan kiri, menyuplai darah untuk dinding jantung. Arteri ini keluar dari aorta tepat diatas katup aorta dan berjalan ke bawah