BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS. (Syah, 2007:89). Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Teori 2.1.1 Belajar

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan oleh (Syah, 2007:89). Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman (Oemar Hamalik, 2008:154).

Belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilaku (Purwanto, 2011:38-39). Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi (Djamarah dan Zain, 2006:10).

Menurut Winkel (dalam Purwanto, 2011:39) belajar adalah aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap. Danim (2010:47) mengemukakan teori belajar adalah sebagai berikut: (a) berhubungan dengan cara individu belajar, penting untuk menjelaskan, memprediksi serta mengontrol proses atau kegiatan belajar; (b) teori belajar berhubungan dengan kondisi belajar, motivasi belajar serta kapasilitas siswa; (c) teori belajar memandang kegiatan belajar dari sudut siswa.

5 5

(2)

Menurut Surya Brata (dalam Danim, 2010:65) bahwa, banyak faktor yang mempengaruhi belajar, secara garis besar dapat digolongkan menjadi dua golongan besar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor-faktor yang berasal dari luar siswa. Selanjutnya, menurut Slameto (dalam Djamarah, 2008:13) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Dari teori para ahli diatas dapat di simpulkan bahwa, belajar merupakan suatu perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang terjadi pada diri seseorang.

2.1.2 Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan suatu bentuk pengalaman yang diterima oleh seseorang dari berbagai objek yang diamati dari suatu pengamatan dan pembelajaran. Hasil belajaradalah kemampuan yang dimiliki siswa berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan setelah menerima pengalaman belajarnya berinteraksi dengan lingkungannya.

Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan (Purwanto, 2011:54). Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan criteria tertentu (Sudjana, 2012:3).

Menurut Horward Kingsley (dalam Sudjana, 2012:22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita.

(3)

Menurut Bloom (dalam Sudjana, 2012:22-30), mengklasifikasikan hasil belajar yang mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni:

a. Pengetahuan atau ingatan disebut juga sebagai mengingat kembali terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya atau yang telah diajarkan. Pengetahuan yang dimaksud misalnya memberikan contoh, konsep.

b. Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggali pengetahuan dari materi yang dipelajari.

c. Aplikasi merupakan abstraksi situasi konkrit. Abstraksi ini mungkin berupa ide, teori atau petunjuk teknis.

d. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, seseorang mempunyai pemahaman yang dapat memilahkan integritas menjadi bagian-bagian yang terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lain memahami cara kerjanya, untuk hal lain lagi memahami sistematikanya. e. Sintesis merupakan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk

menyeluruh

f. Evaluasi pemberian keputusan tentang nilai sesuau yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materil. Kedua aspek pertama disebut kognitf tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi.

(4)

Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotoris, yakni gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif. Sedangkan menurut Suprijono (2010:5-6) bahwa, hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:

1) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespon secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manifulasi symbol, pemecahan masalah, maupun penerapan aturan.

2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan. Keterampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.

3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.

(5)

4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut. Sikap berupa kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai-nilai sebagai standar perilaku.

Menurut Bloom (dalam Sudjana, 2012:22), membagi enam aspek ranah kognitif yaitu pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Tetapi dalam penelitian ini hanya ketiga aspek yang menjadi objek penilaian yakni aspek pengetahuan, pemahaman dan aplikasi, karena berkaitan dengan kemampuan peserta didik dalam menguasai isi bahan pengajaran. Ketiga aspek tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Pengetahuan (C1), yang didefinisikan sebagai mengingat kembali terhadap materi yang telah dipelajari sebelumnya atau yang telah diajarkan. Pengetahuan yang dimaksud misalnya memberikan contoh, konsep.

b. Pemahaman (C2), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggali pengetahuan dari materi yang dipelajari.

c. Aplikasi (C3), merupakan abstraksi situasi konkrit. Abstraksi ini mungkin berupa ide, teori atau petunjuk teknis.

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Nasution, dkk (dalam Djamarah,2008:175) bahwa, berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar antara lain:

(6)

1) Faktor lingkungan

a. Lingkungan alami adalah lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup, dan berusaha di dalamnya.

b. Lingkungan social budaya yaitu hidup dalam kebersamaan dan saling membutuhkan yang akan melahirkan interaksi social.

2) Faktor Instrumental

a. Kurikulum adalah a plan for learning yang merupakan unsur substansial dalam pendidikan.

b. Program pendidikan, program ini di susun untuk dijalankan demi kemajuan pendidikan. Di susun berdasarkan potensi sekolah yang tersedia, baik tenaga, financial dan sarana prasarana.

c. Sarana dan fasilitas

d. Guru merupakan unsur manusiawi dalam pendidikan

3) Kondisi Fisiologi, kondisi umum jasmani dan tonus (tangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendi lainnya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti belajar

4) Kondisi Psikologis, meliputi beberapa aspek antara lain:

a. Minat, menurut Slameto adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.

b. Kecerdasan merupakan kemampuan psikofisik yang mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.

(7)

c. Bakat adalah kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau latihan.

d. Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

e. Kemampuan Kognitif merupakan kemampuan yang harus dituntut kepada anak didik untuk dikuasai. Karena penguasaan pada tingkatan ini menjadi dasar bagi penguasa ilmu pengetahuan.

2.1.4 PhET Simulation

Simulasi adalah metode pelatihan yang memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sebenarnya (Nagara, 2002:340).Teknik simulasi digunakan dalam semua system pengajaran, terutama dalam desain instruksional yang berorientasi pada tujuan-tujuan tingkah laku. Latihan-latihan keterampilan menuntut praktek yang dilaksanakan di dalam situasi kehidupan nyata (dalam pekerjaan tertentu), atau dalam situasi simulasi yang mengandung ciri-ciri situasi kehidupan (Hamalik, 2008:196-197).

Media PhET simulation adalah media pembelajaran yang bersifat multimedia interaktif. Media multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya.

Manfaat media PhET simulation (Physics Education dan Technology Simulation) adalah sebagai berikut:

1) Dapat dijadikan suatu pendekatan yang membutuhkan keterlibatan dan interaksi dengan siswa.

(8)

2) Memberi feedback yang dinamis

3) Mendidik siswa agar memiliki pola berpikir konstruktivisme

4) Membuat pembelajaran lebih menarik karena siswa dapat belajar sekaligus bermain pada simulasi tersebut.

5) Memvisualisasikan konsep-konsep fisika dalam model, seperti listrik dinamis.

Proyek Physics Education and Technology di Universitas Colorado telah mengembangkan serangkaian simulasi yang sangat menguntungkan dalam pengintegrasian teknologi komputer kedalam pembelajaran. Simulasi ini mudah didapatkan dan dapat dijalankan secara online dengan bantuan koneksi internet ataupun dengan cara di download sehingga dapat dijalankan secara offline. Semua simulasi bebas, dan dapat dijalankan dari internet atau download untuk off-line digunakan. Simulasi dirancang untuk menjadi sangat interaktif, menarik, dan terbuka lingkungan belajar yang memberikan umpan balik animasi kepada pengguna. Simulasi secara fisik akurat, dan menyediakan sangat visual, representasi dinamis prinsip-prinsip fisika. Bersamaan dengan itu, simulasi berusaha untuk membangun jembatan eksplisit antara pemahaman sehari-hari siswa dari dunia danmendasari prinsip-prinsip fisik, seringkali dengan membuat model fisik (seperti arus ataumedan listrik baris) eksplisit. Berbagai pengamatan virtual dan pengukuran alat-alat yang disediakan untuk mendorong siswa untuk mengeksplorasi sifat-sifat ini MicroWorld (Sessa, 2000) dan memungkinkan analisis kuantitatif.

(9)

Pada PhET simulation menggunakan pendekatan research based dalam desain menggabungkan temuan dari penelitian sebelumnya pada pemahaman mahasiswa (Bransford, Brown dan Cocking, 2002; Redish 2003), desain simulasi (Clark dan Mayer, 2003), dan pengujian sendiri untuk membuat simulasi yang mendukung keterlibatan siswa dan pemahaman konsep fisika. Sebuah tim pengembangan yang khas terdiri dari seorang programmer, konten yang ahli, dan seorang spesialis pendidikan.Siklusdesainiteratif dimulai dengan menggambarkan tujuan pembelajaran terkait dengan simulasi dan membangun story board sekitar tujuan ini. Fondasi desain didasarkan pada gagasan bahwa siswa akan menemukan prinsip-prinsip, konsep-konsep dan hubungan yang berkaitan dengan simulasi melalui eksplorasi dan bermain. Untuk pendekatan ini menjadi efektif,pilihan harus dibuat hati-hati sebagai variabel dan perilaku yang jelas dan dikendalikan oleh penggundan yang tidak. Setelah versi awal dari simulasi dibuat,diuji dan disajikan kepada PhET lebih besar tim untuk membahas. Perhatian khusus, bug dan fitur desain yang ditangani, serta unsur-unsuryang perlu di identifikasi oleh pengguna(Noah Finkelstein,dkk, 2006:Vol 2).

Dapat disimpulkan bahwa media PhET Simulation adalah bentuk digital dari fasilitas dan proses laboratorium yang disimulasikan secara digital. Dalam PhET Simulation itu sendiri menyediakan berbagai simulasi percobaan yang disesuaikan ukurannya melalui large, medium, dan smal sehingga siswa dapat menangkap maksud dari simulasi-simulasi tersebut. Melalui media PhET Simulation diharapkan siswa dapat memahami materi lebih baik dan lebih detail setiap item materi yang diajarkan guru, terutama pada materi Listrik Dinamis.

(10)

2.1.5 Media Power Point

Secara etimologis media berasal dari bahasa latin, merupakan bentuk jamak dari kata “Medium” yang berarti “tengah, perantara, atau pengantar” (Asyhar, 2012:4). Sedangkan menurut Briggs (dalam Asyhar, 2012:7) bahwa, media sebagai sarana fisik yang digunakan untuk mengirim pesan kepada peserta didik sehingga merangsang mereka untuk belajar.

Microsoft power point merupakan program aplikasi presentase yang sangat populer dan paling banyak digunakan saat ini untuk berbagai kepentingan presentase, baik pembelajaran, presentase produk, meeting, seminar, dan lokakarya (Asyhar, 2012:185).

Power point adalah salah satu softwer yang dirancang khusus untuk mampu menampilkan program multimedia dengan menarik, mudah dalam pembuatan, penggunaan dan relatif murah, karena tidak membutuhkan bahan baku selain penyimpanan data (Asyhar, 2012:186)

Menurut Rusman (dalam Djutri, 2013:19) power point merupakan program aplikasi presentasi yang populer dan paling banyak digunakan saat ini untuk berbagai kepentingan presentasi, baik pembelajaran, presentasi produk, seminar dan sebagainya.

Menurut Tejo (dalam Djutri, 2013:21 ) Kelebihan power point antara lain: dapat menyajikan teks, gambar, film, sound efek, lagu, grafik dan animasi sehingga menimbulkan pengertian dan ingatan yang kuat, mudah direvisi, mudah disimpan dan efisien, dapat dipakai berulang-ulang, dapat diperbanyak dalam waktu singkat.

(11)

Dapat disimpulkan power point merupakan program aplikasi yang menampilkan program multimedia menarik dan dapat gunakan untuk mempermudah dalam melakukan presentase, baik pembelajaran, presentase produk, meeting, seminar, dan lain-lain

2.2 Materi Listrik Dinamis A. Kuat Arus Listrik

Kuat Arus listrik pada kawat didefinisikan sebagai jumlah total muatan yang melewatinya per satuan waktu pada suatu titik. Pada sebuah potongan kawat yang dialiri arus litrik. Jika ΔQ adalah jumlah muatan yang mengaliri melalui penghantar yang luas penampangnya A dalam waktu Δt, dengan demikian, arus rata-rata I didefinisikan sebagai:

(1)

Keterangan : I = Kuat arus listrik (Ampere)

ΔQ = Jumlah muatan listrik yang melewati konduktor selama jangka waktu Δt (Coulomb, C)

Δt = Waktu (s)

Arus Listrik di ukur dalam coulomb per detik; satuan ini diberi nama khusus, ampere (disingkat amp atau A), dari nama fisikawan Perancis Andre Ampere (1775-1836). Berarti, 1 A = 1 C/det. Satuan-satuan terkecil yang sering kali digunakan adalah seperti miliampere (1mA = 10-3 A) dan mikroampere (1 A = 10-6 A), (Giancoli, 2006: 26).

B. Hukum Ohm dan Hambatan Listrik  Hukum Ohm

Seorang guru fisika dari Jerman bernama George Simon Ohm (1789-1854) berhasil mendapatkan hubungan antara besarnya beda potensial dengan besarnya

t Q I   

(12)

arus yang mengalir. Ia menyimpulkan penemuannya ini kedalam suatu hokum yang dikenal dengan nama hukum Ohm. Bunyi hukum Ohm sebagai berikut. “kuat arus yang mengalir dalam suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar itu, asalkan suhu penghantar itu tetap’’. Untuk menghasilkan arus listrik pada rangkaian, dibutuhkan beda potensial. Salah satu cara untuk menghasilkan beda potensial ialah dengan baterai. George Simon Ohm (1787-1854) menentukan dengan eksperimen bahwa arus pada kawat logam sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung-ujungnya:

IV

Sebagai contoh,jika kita menghubungkan kawat ke baterai 6V, aliran arus akan dua kali lipat dibandingkanjika dihubungkan kebaterai 3V (Giancoli, 2006:26-29). Arus yang mengalir pada kawat penghantar sebanding dengan beda potensial yang diberikan pada ujung-ujung penghantar itu. Artinya, jika beda potensial diperbesar, arus yang mengalir juga semakin besar. Sebaliknya, jika beda potensial diperkecil, arus yang mengalir juga makin kecil. Besar aliran arus pada kawat tidak hanya bergantung pada tegangan, tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat terhadap aliran elektron. Makin tinggi hambatan ini, makin kecil arus untuk suatu tegangan V. Kita kemudian mendefinisikan hambatan sehingga arus berbanding terbalik dengan hambatan. Ketika kita gabungkan hal ini dan kesebandingan di atas, kita dapatkan:

(2) (3) R V I  I V R 

(13)

dimana R adalah hambaran kawat atau suatu alat lainnya, V adalah beda potensial yang melintasi alat tersebut, dan I adalah arus yang mengalir padanya. Dituliskan:

(4)

dan dikenal sebagai hukum ohm. Banyak fisikawan yang akan mengatakan bahwa ini bukan merupakan hukum , tetapi berupa definisi hambatan. Jika kita ingin menyebut sesuatu sebagai hukum Ohm, hal tersebut akan berupa pernyataan bahwa arus yang melalui konduktor logam sebanding dengan tegangan yang diberikan, IV. (Giancoli,2006: 26-29)

 Hambatan Listrik

Hambatan listrik merupakan sifat suatu benda atau bahan untuk menahan atau menentang aliran arus listrik. Besarnya hambatan pada sebuah rangkaian listrik menentukan jumlah aliran arus pada rangkaian untuk setiap tegangan yang diberikan pada rangkaian dan sesuai dengan prinsip hukum Ohm.

Kita mungkin menyangka bahwa hambatan kawat yang tebal akan lebih kecil dari yang tipis karena kawat yang lebih tebal memiliki area yang lebih luas untuk lewatnya elektron. Dan mungkin anda berpikir bahwa hambatan akan lebih besar jika panjangnya lebih besar karena ada lebih banyak pengahalang untuk aliran elektron. Dan memang, ternyata ditemukan pada eksperimen bahwa hambatan R kawat logam berbanding lurus dengan panjang L dan berbanding terbalik dengan luas penampang lintang A yaitu:

(5)

dimana ρ, konstanta pembanding disebut hambat jenis (resistivitas) dan bergantung pada bahan yang digunakan. Satuan ρ adalah Ω m. (Giancoli, 2006: 35-40) RI V  A l R

(14)

C. Hukum Kirchoff  Hukum 1 Kirchoff

Kuat arus di setiap titik pada setiap penghantar besarnya sama, Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa arus yang masuk pada titik percabangan sama dengan kuat arus yang keluar pada titik percabangan tersebut. Pernyataan ini dikenal sebagai Hukum I Kirchoff, yang secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

(6)

untuk lebih memahami kuat arus pada rangkaian listrik bercabang, dapat Anda umpamakan sebagai jalan raya yang bercabang atau pada contoh rangkaian dibawah ini:

I1= 3 A

I= 6A I= 6A

I2= 3A

Gambar 2.1. Jumlah arus titik pada rangkaian bercabang

Pada Gambar 2.1. terlihat bahwa jumlah arus yang masuk sebesar 6A, kemudian pada titik percabangan berpencar, pada I1= 3A dan pada I2= 3A . Pada

percabangan yang lain, arus tersebut bertemu lagi menjadi 6A.  Hukum 2 Kirchoff

Hukum II Kirchhoff atau hukum loop menyatakan bahwa jumlah perubahan potensial yang mengelilingi lintasan tertutup pada suatu rangkaian harus sama dengan nol. Hukum ini di dasarkan pada hukum kekekalan energi.

Secara matematis hukum II Kirchhoff dapat dinyatakan sebagai berikut:

keluar

masuk I

I  

(15)

(7)

Keterangan:

E = ggl sumber arus (volt) I = kuat arus (A)

R = hambatan (Ω)

Pada perumusan hukum II Kirchhoff, mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. Semua hambatan (R) dihitung positif.

b. Pada arah perjalanan atau penelusuran rangkaian tertutup (loop), jika sumber arus berawal dari kutub negatif ke kutup positif, maka gglnya dihitung positif. Jika sebaliknya dari kutub positif ke kutub negatif, maka ggl nya dihitung negatif.

c. Arus yang searah dengan penelusuran loop dihitung positif, sedang yang berlawanan dengan arah penelusuran dihitung negatif.

d. Jika hasil akhir perhitungan kuat arus bernilai negatif, maka kuat arus yang sebenarnya merupakan kebalikan dari arah yang ditetapkan.

1. Kuat arus pada rangkaian sederhana

Pada dasarnya sumber tegangan ggl memiliki hambatan dalam yang disimbulkan dengan r. Nilai r ini adalah nilai hambatan yang ada dalam ggl sumber tegangan pada suatu rangkaian.

- + I

Loop R

Gambar 2.2. Rangkaian tertutup pada hukum Kirchoff 2

atau atau (8) Keterangan: E = ggl sumber arus (V) ) ( IR E    ) )( (I r I R E    EI (rR ) R r I E  

(16)

I = kuat arus (A)

r = hambatan dalam sumber arus (Ω) R = hambatan penghambat (Ω)

Nilai I × R pada persamaan di atas merupakan tegangan penggunaan di luar sumber arus yang disebut tegangan jepit (K). Jadi, persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut:

atau (9)

Keterangan:

K = tegangan jepit (V) 2.3 Kerangka Berpikir

Berdasarkan observasi yang dilakukan di kelas X SMA Negeri 1 Bonepantai dan mengamati proses pembelajaran diperoleh beberapa temuan, yakni pada saat guru memaparkan materi, siswa-siswi cenderung ramai, beberapa siswa lebih senang berbicara dengan teman mereka dibandingkan dengan mendengarkan penjelasan dari guru. Hal ini disebabkan adanya kejenuhan dalam diri siswa karena setiap kali guru mengajar hanya memberikan pembelajaran secara langsung tanpa di dukung oleh media pembelajaran.

Dari masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran di SMA Negeri 1 Bonepantai maka peneliti menggunakan media pembelajaran PhET simulation. PhET simulation ini di anggap dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Lebih jelasnya mengenai kerangka berfikir dalam penelitian ini penulis mencamtumkannya dalam bagan sebagai berikut:

K r I

(17)

2.4 Kajian Penelitian Yang Relevan

Informasi diperoleh dari berbagai sumber diantaranya penelitian yang dilakukan oleh:

1) Adams W. K. 2010. Dengan Judul “Student Engagement and Learning With PhET Interactive Simulations” Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa dengan menggunakan PhET Interaktif simulasi siswa lebih terlibat dalam pengetahuan yang eksplorasi dan meningkatkan hasil belajar serta lebih dalam konsep-konsep ilmiah.

2) Fatik dan Madlazim. 2012. Dengan Judul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Fisika Dengan Lab Virtual Phet Pada Materi Gelombang Elektromagnetik”, Universitas Surabaya. Dari penelitian yang dilakukan siswa tertarik dengan pembelajaran fisika menggunakan vitual PhET pada materi gelombang elektromagnetik. Ketuntasan hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran fisika dengan Lab virtual PhET pada materi gelombang elektromagnetik yaitu seluruh siswa tuntas.

Pembelajaran dengan menggunakan PhET Simulation

Hasil Belajar Guru Faktor Instrumental Faktor lingkungan Kondisi Fisiologi Kondisi Psikologi

(18)

3) Finkelstein, Noah dkk. 2006. Dengan Judul “PhET: Interactive Simulations for Teaching and Learning Physics”. University of Colorado at Boulder. Dari penelitian yang dilakukan terdapat peningkatan hasil belajar serta membangun pemahaman konseptual yang kuat pada mata pelajaran fisika melalui eksplorasi.

Sedangkan perbandingan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu mengetahui perbandingan hasil belajar siswa pada materi listrik dinamis dengan menggunakan PhET Simulation .

2.5 Hipotesis Penelitian

Adapun hipotesis penelitian adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan PhET simulation dengan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan Power Point.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :