• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil Penelitian Pot di Rumah Kaca

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil Penelitian Pot di Rumah Kaca"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Pot di Rumah Kaca

. .

11 Rahan Kerlng Hl-

Interaksi antara spesies legum, inokulasi MVA dengan periode pemotongan maupun interaksi antara inokulasi MVA, pupuk BF dengan periode pemotongan nyata berpengaruh ter- hadap hasil bahan kering hijauan legum (Tabel Lampiran 5). Pada Gambar 3 dan Gambar 4 menunjukkan keragaan centro dan puero pada penelitian di rumah kaca.

Hasil bahan kering hijauan centro dan puero tanpa inokulasi MVA, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada dua periode pemotongan. Pemqtongan hi j auan legum bermi

-

koriza cenderung menurunkan hasil bahan kering hi j auan periode pemotongan berikutnya dan nampak berbeda nyata pada puero yaitu 7,88 g/pot dibanding 3/92 g/pot

.

Hasil bahan kering hijauan puero cenderung lebih tinggi daripa- da centro dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada perla- kuan dengan inokulasi MVA periode pemotongan pertama, yaitu 7,88 g/pot dibanding 3,05 g/pot. Has il bahan kering hijauan centro dan puero dengan inokulasi MVA nyata lebih tinggi dibanding tanpa inokulasi MVA pada pemotongan pertama maupun kedua (Tabel 1). Rataan pening- katan hasil bahan kering hijauan centro dan puero bermi- koriza pada dua periode pemotongan masing-masing 21

x

dan 9

x

dibanding tanpa mikoriza

.

Mycorrhi zal dependency

(2)

Gambar 3. Keragaan centro dan puero pada periode pemotongan pertama di rumah kaca

Keterangan :

a. Centro C = Centro b. Centro

+

MVA P = Puero

c. Puero 0.0 = Tanpa MVA, tanpaBF

d. Puero

+

MVA 0.1-4 = Tanpa MVA, taraf dosis BF 1.0 = Dengan MVA, tanpa BF

(3)

Gambar 4. Keragaan centro dan puero pada periode pemotongan kedua di rumah kaca

Keterangan :

a. Centro C = Centro b. Centro + MVA P = Puero

c. Puero 0.0 = Tanpa MVA, tanpa BF

d. Puero

+

MVA 0.1-4 = Tanpa MVA, taraf dosis BF 1.0 = Dengan MVA, tanpa BF

(4)

Tabel 1. Hasil Bahan Kering Hijauan Legum pada Dua Periode Pemotongan

Tanpa MVA MVA

Perlakuan Periode Pemotongan

...

g/pot

. . .

esies J l e w : Centro 0,12 c 0,16 c 3 / 0 5 b 2 / 8 8 b* Puero 0,49 c 0,74 c 7 / 8 8 a 3 / 9 2 b Z ! u u k B a t u a n (kg p205/ha) : 0 0,04 e 0,04 e 3 / 4 1 bcd 2 / 2 8 cde 100 0,31 e 0,34 e 3 / 7 0 bcd 1 / 6 1 de 200 0,50 e 0,54 e 4 / 2 7 bcd 4 / 5 7 bc 300 0,34 e 0,65 e 6 / 1 8 b 3 / 9 1 bcd 400 0,34 e 0,69 e 9 / 7 7 a 4 / 6 4 bo * ) Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan

menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Hasil bahan kering hijauan legum dengan pemupukan BF tanpa inokulasi MVA, tidak menun j ukkan perbedaan yang nyata pada pemotongan pertama maupun kedua. Apabila dengan inokulasi MVA, maka pemupukan BF cenderung mening- katkan hasil bahan kering hijauan legum pemotongan pertama dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada dosis 400 kg P205/ha. Namun demikian, pemotongan hi j auan legum bermi

-

koriza cenderung menurunkan hasil bahan kering hijauan periode pemotongan berikutnya dan menunjukkan perbedaan

(5)

Gambar 5. Pengaruh Interaksi antara MVA, Batuan Fos- fat dan Periode Pernotongan terhadap Hasil Bahan Kering Hijauan Legum di Rumah Kaca

yang nyata pada dosis 400 kg p205/ha yaitu 9,77 g/pot dibanding 4,64 g/pot. Hasil bahan kering hijauan legurn bennikoriza dengan dosis pemupukan BF yang sama nyata lebih tinggi dibanding tanpa mikoriza pada dua periode pernotongan (Tabel 1, Gambar 5)

.

Rataan peningkatan hasil bahan kering hijauan legum bermikoriza pada dua periode pemotongan, dengan dosis pemupukan 0, 100, 200, 300 dan 400 kg P205/ha masing-masing 71 x, 8 x, 9 x, 10 x dan 14 x dibanding tanpa mikoriza.

(6)

. .

ar N Hllauan

Interaksi antara inokulasi MVA dengan periode pemo- tongan serta interaksi antara pemupukan BF dengan periode pemotongan nyata berpengaruh terhadap kadar N hi j auan legum. Disamping itu spesies legum juga nyata berpenga- ruh terhadap kadar N hi jauan (~abel Lampiran 5 )

.

Kadar N hijauan centro sangat nyata lebih tinggi daripada puero yaitu 4 , 1 8 % dibanding 3 / 5 6 % .

Pemotongan hijauan nyata 'menurunkan kadar N pada periode pemotongan berikutnya dengan inokulasi MVA maupun tanpa MVA masing-masing yaitu 3 , 6 6 % dan 5 , 0 0 % dibanding

Tabel 2 . Kadar N Hijauan Legum pada Dua Periode Pemotongan Periode Pemotongan Perlakuan

...

persen

...

Inokulum:

Tanpa MVA 5 , 0 0 a 3 , 6 3 bc* MVA 3 , 6 6 b 3 , 1 8 c

m-an Fosfat (kg Pm5/ha) :

0 4 / 8 2 a

1 0 0 4 / 3 1 ab 2 0 0 4 , 3 8 ab 3 0 0 4 , 1 8 abc 4 0 0 3 , 9 7 bc

* ) Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uj i Duncan

(7)

3,18 % dan 3,63 % . Kadar N hijauan legum bemikoriza cenderung lebih rendah dibanding tanpa mikoriza dan menun- jukkan perbedaan yang nyata pada pemotongan pertama yaitu 3,66 % dibanding 5,00 % (Tabel 2)

.

Pemupukan BF cenderung menurunkan kadar N hijauan legum pemotongan pertama dan nampak berbeda nyata pada dosis 400 kg P205/ha dibanding tanpa BF. Sedang pada pemotongan kedua, pemupukan BF dengan dosis 100, 200, 300 dan 400 kg P205/ha nyata meningkatkan kadar N hijauan legum dibanding tanpa BF masing-masing 3,44 %, 3,71 %, 3,70 % dan 3,60 % dibanding 2,56 % . Namun demikian mening- katnya dosis pupuk BF 100

-

400 kg P205/ha tidak menunjuk- kan perbedaan yang nyata terhadap kadar N hijauan legum meskipun cenderung menurun

.

Pemotongan hijauan legum cenderung menurunkan kadar N pada periode pemotongan berikutnya dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada dosis 0

-

100 kg p205/ha masing-masing yaitu 4,82 % dan 4,31 % dibanding 2,56 % dan 3,44 % (Tabel 2, Gambar 6)'.

Kadar P hijauan legum nyata dipengaruhi oleh pupuk BF serta interaksi antara spesies legum dengan inokulasi MVA

(8)

Gambar 6. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan Periode Pemotongan terhadap Kadar N Hijauan Legum di Rumah Kaca

Pemupukan BF dengan dosis 100, 200, 300 dan 400 kg P205/ha nyata meningkatkan kadar P hi j auan legum daripada tanpa BF masing-masing 0,14 %, 0,15 %, 0,14 % dan 0,14 % dibanding 0,10 % . Namun demikian meningkatnya dosis pupuk BF 200

-

400 kg P205/ha cenderung menurunkan kadar P hi- j auan legum (Tabel 3, Gambar 7)

.

-r /

-

Potong I 4

-

e

-

Potong I1

z

L 2- d '(J cJ 1.5- Y 1

-

0.5- 0 1 I I I 1 I 0 50 1 0 150 200 250 300 350 400 Desk Pupuk BF (kg P205lha)

(9)

Tabel 3. Pengaruh Pemupukan Batuan Fosfat terhadap Kadar P Hijauan Legum

- -

Pupuk Batuan Fosfat Kadar P (persen) 0,10 b* 0,14 a 0,15 a 0,14 a 0,14 a

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada

taraf 5 % dengan uji Duncan

Kadar P hijauan centro dan puero bermikoriza nyata lebih tinggi daripada tanpa mikoriza, masing-masing 0,20 % dan 0,17 % dibanding 0,08 % dan 0,10 % . Meskipun demikian kadar P hi j auan centro tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap puero pada perlakuan yang sama yaitu dengan inokulasi MVA maupun tanpa MVA (Tabel 4).

Tabel 4. Pengaruh Interaksi antara Spesies Legum dengan MVA terhadap Kadar P Hijauan

Spesies Legum Tanpa MVA MVA

Centro Puero

...'...

persen

...

O,O8 b 0,20 a*

0,lO b 0,17 a

*

Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

(10)

Dosis Pupuk BF (kg P205Jha)

Gambar 7 . Pengaruh Batuan Fosfat terhadap Kadar P Hijauan Legum di Rumah Kaca

an Nitrocreg

Serapan N hijauan legum nyata dipengaruhi oleh inter- aksi antara MVA dan spesies legum dengan periode pemotong- an serta interaksi antara inokulasi MVA dan pemupukan BF dengan periode pemotongan (Tabel Lampiran 5 ) .

Pada perlakuan tanpa mikoriza, tidak terdapat perbe- daan yang nyata antara serapan N hijauan centro dengan puero pada pemotongan pertama maupun kedua. Serapan N hijauan centro dan puero dengan inokulasi MVA nyata lebih t inggi daripada tanpa W A , pada pemotongan pertama maupun

(11)

kedua. Serapan N hijauan puero cenderung lebih tinggi daripada centro dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada pemotongan pertama dengan inokulasi MVA yaitu 244,87 mg/pot dibanding 111,61 mg/pot. Pemotongan hijauan legum bermikoriza, cenderung menurunkan serapan N periode pemotongan berikutnya dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada puero yaitu 244,87 mg/pot dibanding .Ill, 86 % (Tabel

Tabel 5. Serapan N Hijauan Legum pada Dua Periode Pemotongan

Tanpa MVA MVA

Perlakuan

Periode Pemotongan

esies L e u :

Centro 5,17 c 5,87 c 111,61 b 104,40 b* Puero 21,26 c 28,70 c 244,87 a 111,86 b m ~ u k Bat- Fosfat (kg p2O5/ha) :

0 3,29 e 1,81 e 113,12 cd 68,93 cde*

* ) Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

(12)

Gambar 8. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat, MVA dan Periode Pemotongan terhadap Se- rapan N di Rumah Kaca

4

-

* 300- 0 n % 250- E

-

--

0 50 loo 150 200 250 300 350 400

Dosis Pupuk BF (kg P205jha)

Pemupukan BF tanpa dikombinasikan dengan inokulasi MVA, tidak nyata pengaruhnya terhadap serapan N hijauan legum pada pemotongan pertama maupun kedua. Pemupukan BF dengan inokulasi MVA cenderung meningkatkan serapan N hi j auan legum dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada pemotongan pertama dengan dosis 300

-

400 kg P205/ha dari- pada tanpa BF, masing-masing 220,24 mg/pot dan 305,OO mg/pot dibanding 113,12 mg/pot. Apabila tanpa inokulasi MVA, pemupukan BF tidak menun jukkan perbedaan yang nyata

f

(13)

terhadap serapan N hijauan legum pada pemotongan pertama maupun kedua. Pada dosis pupuk BF yang sama, serapan N hi j auan legum bermikoriza nyata lebih tinggi dibanding tanpa mikoriza pada pemotongan pertama maupun kedua. Pemotongan hi j auan legum bermikoriza cenderung menurunkan serapan N pada periode pemotongan berikutnya dan menunjuk- kan perbedaan yang nyata pada dosis 300 kg P205/ha dan 400 kg P205/ha masing-masing 220,24 mg/pot dan 305,OO mg/pot dibanding 124,04 mg/pot dan 146,81 mg/pot (Tabel 5, Gambar 8 ) .

Sera~an Fosfor

Serapan P hijauan legum nyata dipengaruhi oleh inter- aksi antara spesies legum dengan inokulasi MVA serta interaksi antara pemupukan BF dengan inokulasi MVA (Tabel Lampiran 5 )

.

Serapan P hijauan centro dan puero dengan inokulasi MVA nyata lebih tinggi dibanding tanpa inokulasi MVA, pada pemotongan pertama maupun kedua

.

Serapan P hi j auan puero cenderung lebih tinggi daripada centro dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada periode pemotongan pertama dengan inokulasi MVA yaitu 12,92 mg/pot dibanding 6,17

mg/pot. Apabila tanpa inokulasi MVA, maka tidak terdapat perbedaan yang nyata antara serapan P hijauan centro dengan puero pada pemotongan pertama maupun kedua. Pemo- tongan hijauan legum bermikoriza cenderung menurunkan

(14)

Tabel 6. Serapan P Hijauan Legum pada Dua Periode Pemotongan

Tanpa MVA MVA

Perlakuan Periode Pemotongan I I1 I I1

...

mg/pot

...

esles Jlecrw : Centro 0,09 c 0,12 c 6,17 b 5,33 b* Puero 0,55 c 0,64 c 12,92 a 6,77 b g u D u k (kg P205/ha) : 0 0,03 f 0,05 f 4 , 0 2 d e f 3 , 2 4 e f 100 0,31 f 0,29 f 6,42 cde 3,30 ef 200 0,54 f 0,52 f 7,81 cd 7,78 cd 300 0,41 f 0,50 f 12,31 b 7,11 cde 400 0,31 f 0,54 f 17,14 a 8,82 bc

* ) Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uj i Duncan

serapan P periode potong berikutnya dan menunjukkan perbe- daan yang nyata pada puero yaitu 12,92 % dibanding 6,77 %

(Tabel 6).

Pemupukan BF dikombinasikan dengan inokulasi MVA nyata meningkatkan serapan P hijauan legum pada pemotongan pertama (300 dan 400 kg P205/ha) maupun kedua (200 kg P205/ha dan 400 kg P205/ha). Apabila tanpa MVA, maka pemupukan BF tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terha- dap serapan P hijauan legum pada pemotongan pertama maupun kedua. Serapan P hijauan legum bermikoriza nyata lebih

(15)

-

o

k 1

-

i

r i o

2 i 2io

Dosit; Pupuk BF (kg P205jha)

+

Tanpa MVA-Potong I 4 MVA-Potong I ;m- Tanpe MVA-Potong I1

+

MVA-Potong ll

Gambar 9. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat, MVA dan Periode Pernotongan terhadap Se- rapan P di Rumah Kaca

tinggi dibanding tanpa rnikoriza yaitu pada pernotongan pertama (100, 200, 300 dan 400 kg P205/ha) maupun kedua (200, 300 dan 400 -kg P205/ha). Pernotongan hijauan legurn bermikoriza cenderung rnenurunkan serapan P pada periode pernotongan berikutnya dan nampak berbeda nyata pada dosis pupuk BF 300 kg P205/ha dan 400 kg P205/ha masing-masing 12,31 mg/pot dan 17,14 mg/pot dibanding 7,11 -/pot dan 8,82 mg/pot (Tabel 6, Gambar 9).

(16)

Persentase kolonisasi MVA pada akar legum yang diino- kulasi MVA nyata dipengaruhi oleh spesies legum dan pupuk BF. Tidak terdapat pengaruh interaksi yang nyata antara inokulasi MVA, pemupukan BF dan spesies legum terhadap kolonisasi MVA pada akhir penelitian di rumah kaca (Tabel Lampiran 6)

.

Kolonisasi MVA pada akar centro nyata lebih tinggi daripada puero yaitu 42,05 % dibanding 32,98 % (Tabel 7 ) . Persentase kolonisasi MVA pada akar legum nyata lebih tinggi dengan pemupukan BF dibanding tanpa pupuk.

Tabel 7. Kolonisasi MVA pada Akhir Penelitian di Rumah Kaca

Perlakuan Kolonisasi MVA

es J 8 e m :

Centro Puero

* ) Huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan berbeda

nyata pada taraf 5 % denmgan uji Duncan

* * ) Huruf yang berbeda pada baris menunjukkan berbeda

(17)

Gambar 10. Pengaruh Batuan Fosfat terhadap Koloni- sasi MVA di Rumah Kaca

Namun demikian, apabila taraf dosis pemupukan ditingkat- kan (300

-

400 kg P205/ha), cenderung menurunkan persen- tase kolonisasi MVA pada akar legum (Tabel 7 , Gambar 10). Pada Gambar 11 menunjukkan keragaan kolonisasi MVA pada akar legum di rumah kaca.

Jumlah S ~ o r a MVA AJchir Penelitlan

. .

Pada akhir penelitian di rumah kaca (5 bulan), jumlah spora nyata dipengaruhi oleh interaksi antara pemupukan BF dengan spesies legum (Tabel Lampiran 6).

(18)

Gambar 11. Kolonisasi MVA pada akar legum di rumah

kaca Keterangan :

a. Akar centro tanpa MVA (pembesaran 400 x) b. Akar centro dengan MVA (pembesaran 200 x)

c. Akar puero tanpa MVA (pembesaran 100 x)

(19)

Gambar 12. Pengaruh Interaksi antara Spesies Legum dan Batuan Fosfat terhadap Jumlah Spora pada Akhir Penelitian di Rumah Kaca

Desk Pupuk BF (kg P205)ha)

i I

Secara keseluruhan, jumlah spora MVA dengan tanaman puero nyata lebih banyak dibanding centro. Jumlah spora dengan tanaman centro dan puero nyata lebih tinggi dengan pemupukan BF dibanding tanpa pupuk BF. Namun demikian, meningkatnya dosis BF dari 200

-

400 kg P205/ha nyata menurunkan jumlah spora pada centro maupun puero (Tabel 8,

i

-

Centro + Puero

Gambar 12).

(20)

Tabel 8. Jumlah Spora pada Akhir Penelitian di Rumah Kaca

Pupuk Batuan Fosfat Centro Puero

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Pembahasan

Hasil bahan kering (Tabel I), serapan N (Tabel 5) dan serapan P hijauan puero (Tabel 6) lebih tinggi dibanding centro. Demikian pula rataan jumlah spora dengan tanaman puero lebih tinggi daripada centro yaitu 90,47 spora/lO gram dibanding 73,67 spora/lO gram (Tabel 8). Meskipun demikian, kadar N hijauan centro lebih tinggi daripada puero yaitu 4,18 % dibanding 3,56 %. Hasil penelitian yang sama telah dilaporkan oleh Adjei dan Fianu (1985) dan Chin (1991) bahwa kadar N hijauan centro lebih tinggi daripada puero yaitu 3,44 % dibanding 3,18 %. Hal ini disebabkan karena perbedaan pertumbuhan vegetatif, yang diceminkan oleh hasil bahan kering legum puero lebih tinggi dibanding centro (Tabel 1). Dengan demikian bagian daun centro yang terangkut pada waktu pemotongan relatif

(21)

lebih tinggi dengan proporsi batang lebih rendah dibanding puero. Kadar N daun lebih tinggi dibanding pada batang (Devlin dan Withham, 1983

.

Kolonisasi MVA pada centro juga lebih tinggi daripada puero yaitu 42,05 % dibanding 32,98 % (Tabel 7 ) . Namun demikian perbedaan pertumbuhan yang dicapai bukan karena level kolonisasi MVA pada akar, tetapi oleh fungsi dari jumlah hifa eksternal (Dodd et dl., 1990~). Sedang Smith dan Smith (1995) berpendapat bahwa ha1 tersebut dipengaruhi oleh jumlah atau ukuran arbuskular aktif secara metabolik sebagai proporsi dari total biomassa cendawan MVA dalam akar. Keragaan diatas penrmkaan tanah maupun geometri akar (jumlah dan distri- busi akar dalam tanah) tiap spesies tanaman tidak sama, demikian pula responsnya terhadap perlakuan yang diberikan (Kerridge dan Ratclif f, 1982; Lukiwati et al., 1 9 9 4 ~ )

.

Kemampuan sistem perakaran tanaman untuk menyerap unsur hara yang rendah mobilitasnya dalam larutan tanah ber- kaitan secara positif dengan arsitek sistem perakaran yaitu pola percabangan, panjang dan diameter akar, panjang dan jumlah bulu-bulu akar (Brundrett, 1991). Meskipun hasil bahan kering hijauan centro lebih rendah, namun responsnya lebih tinggi terhadap inokulasi MVA yaitu meningkat 21 kali dibanding pada puero hanya meningkat 9 kali

.

Hasil bahan kering (Tabel I), serapan N (Tabel 5) dan serapan P hijauan legum (Tabel 6) lebih tinggi dengan

(22)

64 inokulasi MVA dibanding tanpa MVA. Cendawan MVA mampu meningkatkan hasil bahan kering, serapan N dan P hijauan

(Lambert dan Weidensaul, 1991; Lukiwati et al., 1 9 9 4 ~ ; Lukiwati dan Supriyanto, 1995) terutama pada tanah steril

(Mosse dan Hayman, 1971). Tanah untuk media tumbuh tanam- an pada penelitian di rumah kaca telah disterilisasi dengan sinar gannna (42 kGy) yang bersif at elektromagnetik dengan daya tembus tinggi. Pada dosis 25

-

60 kGy dapat menyebabkan seluruh mikroorganisme mati (Alexander, 1964). Padahal tanaman legum termasuk magnolioid roots sehingga sangat tergantung pada asosiasi dengan cendawan MVA untuk pertumbuhamya (Mosse, 1981)

.

Oleh karena itu legum sangat responsif terhadap inokulasi MVA. Struktur MVA dalam akar tanaman mampu meningkatkan luas area untuk pertukaran metabolik antara tanaman inang dan cendawan MVA. Panjang hifa eksternal mencapai 7

-

10 m/gram tanah (Allen et dl., 1992) mampu meningkatkan potensi sistem perakaran untuk menyerap dan translokasi unsur-unsur hara terutama P ke tanaman (Lindennan, 1992; Marschner dan Dell, 1994). Hal ini terlihat pada Tabel 4 bahwa kadar P hijauan legum bermikoriza lebih tinggi dibanding tanpa mikoriza pada periode pemotongan pertama maupun kedua. Kadar P hijauan pada tanah steril dapat ditingkatkan dengan inokulasi MVA (Ikram et a1

.

,

1993)

.

Meningkatnya serapan P pada tanaman bemikoriza, akan meningkatkan pertumbuhan tanaman (Marschner dan Dell, 1994).

(23)

Kombinasi pemupukan BF dengan inokulasi MVA mampu me- ningkatkan hasil bahan kering (Tabel 1)

,

serapan N (Tabel 5) dan serapan P (Tabel 6) dibanding tanpa MVA. Pada

dosis pemupukan BF yang sama, ternyata hasil bahan

.

kering, serapan N dan P tanaman legum bermikoriza lebih

tinggi dibanding tanpa MVA. Rataan hasil bahan kering, serapan N dan P hijauan legum bermikoriza dikombinasikan dengan pemupukan BF masing-masing meningkat sebesar 12 x, 9 x dan 22 x dibanding tanpa MVA. Dengan demikian inoku- lasi MVA mampu menghemat penggunaan pupuk P. Pertumbuhan tanaman legum meningkat apabila diinokulasi MVA dengan kombinasi pemupukan BF, terutama apabila unsur hara P "sebagai faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman tersebut (Dodd et a1

.

,

1 9 9 0 ~ )

.

Cendawan MVA berperan dalam mening- katkan serapan P karena adanya hifa eksternal yang ber- fungsi sebagai jembatan translokasi unsur-unsur hara imobil menjadi tersedia antara lain P ke akar (Howeler et

dl., 1987). Fosfor merupakan unsur penyusun ATP untuk transfer energi dalam reaksi-reaksi metabolik tanaman (Noggle dan Fritz, 1983). Oleh karena itu tingkat foto- sintesis lebih tinggi pada tanaman bermikoriza daripada tanpa mikoriza (Smith dan Pearson, 1988). Keadaan terse- but akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Hal ini terlihat pada Tabel 3, bahwa kadar N hijauan centro dan puero tanpa mikoriza lebih tinggi dibanding dengan mikoriza pada semua dosis pemupukan BF.

(24)

Hal ini disebabkan karena pertumbuhan tanaman legum tanpa mikoriza lebih lambat dibanding dengan tanaman bermikoriza seperti terlihat pada hasil bahan kering (Tabel 1). Oleh karena itu bagian tanaman yang terangkut pada waktu p e w - tongan adalah bagian yang relatif lebih muda dengan pro- porsi batang lebih rendah daripada tanaman yang diinokula- si MVA. Kadar N daun lebih tinggi dibanding pada batang

(Devlin dan Witham, 1983).

Hasil bahan kering (Tabel 1)

,

serapan N (Tabel 5) dan serapan P (Tabel 6) hijauan centro dan puero bermikoriza lebih rendah setelah pemotongan. Hal ini diduga karena fotosintat yang ada selain digunakan untuk pertumbuhan kembal i (regrowth) j uga untuk memenuhi kebutuhan bagi cendawan MVA sehingga menurunkan has il pada periode pemotongan berikutnya. Untuk pertumbuhan dan fungsi cendawan mikoriza tergantung pada suplai fotosintat dari tanaman inang (Azcon-Aguilar dan Bago, 1994).

Pemupukan BF pada dosis rendah (100 kg P205/ha) mampu meningkatkan kolonisasi akar (Tabel 7). Kolonisasi di- t ingkatkan pada dosis pupuk P rendah, karena sudah tercu- kupi sejumlah eksudat akar yang dapat merangsang pertum- buhan dan perkembangan cendawan mikoriza. Pada dosis pupuk P rendah, mendukung meningkatnya permeabilitas membran melalui menurunnya f osf olipid membran sehingga mampu meningkatkan jumlah eksudat akar (Ratyanake et a1

.

,

1978). Pada umumnya eksudat akar mampu merangsang

(25)

pertumbuhan cendawan MVA dan atau level kolonisasi MVA. Terdapat korelasi positif antara banyaknya karbohidrat terlarut dalam akar dengan perbaikan pertumbuhan cendawan MVA (Azcon dan Ocampo, 1981). Apabila serapan P diting- katkan dengan meningkatnya dosis pupuk P I maka akan men- ingkatkan konsentrasi fosfolipid serta menurunkan p e m e a - bilitas sel membran sehingga menghambat kolonisasi akar

(Tan dan Chen, 1994).

Pemupukan BF mampu meningkatkan jumlah spora di- banding tanpa pemupukan (Tabel 8 )

.

Batuan fosfat poten- sial untuk meningkatkan jumlah propagul MVA infektif dalam tanah (Dodd et al., 1 9 9 0 ~ ) . Pada dosis pupuk BF rendah akan meningkatkan jumlah spora dengan tanaman centro (100 kg P205/ha) maupun puero (200 kg P205/ha). Namun jumlah spora akan menurun apabila dosis pemupukan BF ditingkatkan. Jumlah spora dalam tanah menurun apabila dosis pupuk P ditingkatkan (Champawat, 1990). Hal ini terj adi karena meningkatnya serapan P akan menurunkan kolonisasi akar oleh cendawan MVA demikian pula jumlah spora (Tan dan Chen, 1994). Meskipun demikian, jumlah spora yang tinggi tidak merupakan indikasi bahwa produk- tivitas spora tinggi. Karena spora mempunyai dinding tebal yang sangat resisten terhadap kerusakan dan dapat persisten untuk periode yang sangat lama sehingga ter- akumulasi dan menj adi berlimpah banyaknya (Hudson, 1986)

.

Dengan demikian manipulasi populasi cendawan MVA perlu

(26)

diuji lebih lanjut, karena masih belum jelas bahwa mening- katnya produksi spora merupakan indikasi meningkatnya potensi inokulum (Dodd et al.. 1 9 9 0 ~ )

.

Hasil Penelitian di Lapang

Hasil bahan kering hijauan legum di lapang nyata di- pengaruhi oleh interaksi antara inokulasi MVA dengan pe- mupukan BF dan interaksi antara spesies legum dengan periode pemotongan serta interaksi antara pemupukan BF dengan periode pemotongan (Tabel Lampiran 7). Pada Gambar 13 menunjukkan keragaan tanaman pada penelitian di lapang. Pemupukan BF tanpa inokulasi MVA, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap hasil bahan kering hijauan legum. Pemupukan BF cenderung meningkatkan hasil bahan kering hijauan legum bermikoriza dan nampak nyata berbeda pada dosis 200, 300 dan 400 kg P205/ha daripada tanpa pemupukan BF. masing-masing 88.44 g/m2, 93,87 g/m2 dan 106.80 g/m2 dibanding 67.03 g/m2. Pada dosis pemupukan BF yang sama, hasil bahan kering hijauan legum dengan inokulasi MVA maupun tanpa MVA tidak menunjukkan perbedaan yang nyata kecuali pada perlakuan tanpa pupuk BF. Meski- pun tidak berbeda secara nyata, namun dengan menggunakan rumus MIE dapat diketahui bahwa pengaruh inokulasi MVA adalah positif. Hal ini terlihat pada dosis pemupukan 300 kg P205/ha dan 400 kg P205/ha masing-masing sebesar 6 %

(27)

lmbar 1 3 . Keragaan tanaman legurn pada penel

di lapang !terangan :

Periode pernotongan pertama Periode pernotongan kedua Periode pernotongan k e t i g a

(28)

Gambar 14. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan MVA terhadap Hasil Bahan Kering Hijauan Legum di Lapang

dan 9 %. Namun pada perlakuan 0, 100 dan 200 kg p205/ha. pengaruh inokulasi MVA adalah negatif, masing-masing

sebesar

-

38 %,

-

15 % dan

-

2 %. Apabila tanpa pemupukan BF, hasil bahan kering hijauan legum tanpa MVA nyata lebih tinggi daripada dengan inokulasi MVA yaitu 92,22 g/m2 dibanding 67.03 g/m2 (Tabel 9, Gambar 14)

.

Pemotongan hijauan nyata meningkatkan hasil bahan kering centro maupun puero pada periode pernotongan beri- kutnya. Hasil bahan kering hijauan puero cenderung lebih

(29)

Tabel 9. Pengaruh Interaksi antara MVA dengan Batuan Fosfat terhadap Hasil Bahan Kering Hijauan

Pupuk Batuan Fosfat Tanpa MVA MVA

(kg P205/ha)

...

g/m2

. . .

.

. . .

:

.

.

0 92,22 ab 67.03 c 100 92.70 ab 80.71 bc 200 90,ll ab 88.44 ab 300 88,69 ab 93.87 ab 400 97,43 ab 106,80

a

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

tinggi daripada centro dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada pemotongan kedua yaitu 120.84 g/m2 dibanding 90.60 g/m2 (Tabel 10)

.

Meskipun demikian rataan jumlah tunas pada stolon centro lebih banyak daripada puero pada periode pemotongan pertama yaitu 101/m2 dibanding 3 6

stolon/rn'.

Pada dosis pemupukan BF yang s a w , pernotongan hijauan legum nyata meningkatkan hasil bahan kering pada periode pemotongan berikutnya. Hasil bahan kering hijauan legum pada pemotongan kedua nyata lebih tinggi dibanding pertama pada semua dosis pupuk BF. Hasil bahan kering hijauan legurn pada pernotongan ketiga nyata lebih tinggi dibanding pemotongan kedua yaitu pada perlakuan dosis pupuk 0, 300 dan 400 kg p205/ha. Pada pernotongan pertama, pemupukan BF tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap hasil

(30)

Tabel 10. Hasil Bahan Kering Hijauan Legum pada Tiga Periode Pemotongan Periode Pemotongan Perlakuan I I1 I11

...

g/m2

...

es Tle- : Centro 50,31 c 90,60 b 115,14 a Puero 40,77 c 120,84 a 121,14 a

* I Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan

menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uj i Duncan

bahan kering hijauan legum. Pemupukan BF terlihat nyata pengaruhnya dalam meningkatkan hasil bahan kering hijauan legum pada pemotongan kedua maupun ketiga (Tabel 10, Gambar 15).

(31)

Gambar 15. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan Periode Pernotongan terhadap Hasil Bahan Kering Hijauan Legurn di Lapang

4 160- CI 140- -+ W

-

120- b

=

80- m s

.-

L 60- Y 4

-

-

5

QOg,

t

f

20- m

Spesies legum dan interaksi antara pemupukan BF dengan periode pemotongan nyata berpengaruh terhadap kadar N hi jauan legum (Tabel Lampiran 7 )

.

Kadar N hijauan centro nyata lebih tinggi daripada puero yaitu 3,39 % dibanding 3,23 %.

Pada dosis pemupukan BF yang sama, pemotongan hijauan legum nyata menurunkan kadar N periode potong kedua di- banding pertama. Namun pada pernotongan ketiga, kadar N 6 '

d

0 1 I

o

i

1 ~ 1 b & 2 h & & &

Dosis Pupuk BF (kg P205iha)

(32)

Tabel 11. Kadar N Hijauan Legum pada Tiga Periode Pemotongan

Periode Pemotongan Pupuk Batuan Fosfat

I I1 I11 (kg P205/ha)

...

persen

...

o

3,91 a 2,70 ef 3,24 c* 100 3,86 a 2,71 ef 3,37 bc 200 3,79 a 2,61 f 3,29 bc 300 3,87 a 2,83 de 3,35 bc 400 3,73 a 2,91 d 3,47 b

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 8 dengan uji Duncan

hi j auan legum nyata lebih t inggi dibanding pemotongan kedua

.

Pemupukan BF t idak menunj ukkan perbedaan yang nyata terhadap kadar N hijauan legum pada pemotongan pertama. Kadar N hijauan legum terlihat nyata meningkat dengan pemupukan BF pada pemotongan kedua (300, 400 kg P205/ha) maupun ketiga (400 kg p205/ha) (Tabel 11, Gambar

(33)

Gambar 16. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan Periode Pemotongan terhadap Kadar N Hijauan Legum di Lapang

. .

ar P

Kadar P hijauan legum nyata dipengaruhi oleh inter- aksi antara spesies legum dengan periode pernotongan serta interaksi antara BF dengan periode pemotongan (Tabel Lampiran 7)

.

Pernotongan hijauan centro dan puero nyata rneningkat- kan kadar P pada periode pemotongan berikutnya. Kadar P hijauan centro dan puero pada periode pemotongan kedua dan ketiga nyata lebih tinggi dibanding pernotongan pertama. r' f 4.5-

=

2-

ti

-rr 1.5- d

*

1- 0.5- 0 I f I 1 ! I 0 50 100 150 200 250 300 350 1 400

Dosk Pupuk BF (kg P205jha)

--c- Potong I + Potong ll Potong Ill

(34)

Tabel 12. Kadar P Hijauan Legum pada Tiga ~ e r i o d e Pemotongan Periode Pemotongan Perlakuan I I1 I11

...

persen

...

es L e w : Cent ro 0,13 d 0,20 c O,26 b* Puero 0,13 d 0,20 c 0,28 a

PupukBatuanFosfat

(kg P205/ha) : 0 0,14 d 0,20 C 0,25 b 100 0,13 d 0,20 c 0,27 a 200 0,13 d 0,20 c 0,27 a 300 0,13 d 0,20 c O,28 a 400 0,13 d 0,21 c 0,26 ab

* ) H u n f yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Demikian juga kadar P hijauan centro dan puero pada pemotongan ketiga nyata lebih tinggi dibanding pemotongan kedua. Kadar P hijauan centro tidak menunjukkan perbe- daan yang nyata dengan puero pada pemotongan pertama maupun kedua. Namun kadar P hijauan puero nyata lebih tinggi daripada centro pada pemotongan ketiga yaitu 0,28 %

dibanding 0,26 % (Tabel 12)

.

Pada dosis pemupukan BF yang sama, pemotongan hijauan legum nyata meningkatkan kadar P pada periode pemotongan berikutnya. Hal ini terlihat bahwa kadar P hijauan legum pada periode pemotongan kedua maupun ketiga nyata lebih

(35)
(36)

Namun demikian meningkatnya dosis pupuk BF tidak nyata pengaruhnya terhadap peningkatan kadar P hijauan legum bahkan cenderung menurun pada dosis 400 kg p2Os/ha (Tabel 12, Gambar 17)

.

Interaksi antara inokulasi MVA dengan pemupukan BF serta interaksi antara spesies legum dengan periode pemo- tongan maupun interaksi antara pemupukan BF dengan periode pemotongan nyata berpengaruh terhadap serapan N hijauan legum (Tabel Lampiran 7)

.

Pemupukan BF tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap serapan N hijauan legum bermikoriza maupun tanpa mikoriza. Namun demikian pada dosis 300 kg P205/ha dan 400 kg P205/ha, serapan N hijauan legum bermikoriza cende- rung lebih tinggi dibanding tanpa mikoriza meskipun tidak berbeda nyata. Serapan N hijauan legum bermikoriza nyata lebih rendah daripada tanpa mikoriza apabila tidak dipupuk BF yaitu 2,08 g/m2 dibanding 2,91 g/m2. Pemupukan BF pada

legum tanpa inokulasi MVA, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap serapan N. Dilain pihak pemupukan BF cenderung meningkatkan serapan N hijauan legum apabila diinokulasi MVA dan nampak berbeda nyata pada dosis 300 kg p205/ha dan 400 kg p205/ha daripada tanpa pemupukan BF yaitu 3.12 g/m2 dan 3,50 g/m2 dibanding 2,08 g/m2 (Tabel

(37)

Tabel 13. Pengaruh Interaksi antara MVA dengan Batuan Fosfat terhadap Serapan N Hijauan Legum

Pupuk Batuan Fosfat Tanpa MVA MVA

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada

taraf 5 % dengan uji Duncan

Pemotongan hijauan centro dan puero nyata meningkat- kan serapan N pada periode pemotongan berikutnya. Serapan N hijauan centro dan puero pada pemotongan kedua nyata lebih tinggi dibanding pertama. Demikian juga pada pemo- tongan ketiga nyata lebih tinggi dibanding kedua. Pada pemotongan pertama, serapan N hi j auan centro nyata lebih tinggi daripada puero yaitu 1.96 g/m2 dibanding 1.52 g/m2. Namun demikian, pada pemotongan kedua terj adi sebaliknya yaitu serapan N hijauan puero nyata lebih tinggi daripada centro yaitu 3,22 g/m2 dibanding 2.57 g/m2. Sedang pada pemotongan ketiga tidak terdapat perbedaan yang nyata antara serapan N hijauan centro dengan puero (Tabel 14).

Pada dosis pemupukan BP yang sama, pemotongan hijauan legum nyata meningkatkan serapan N periode pemotongan

(38)

Gambar 18. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan MVA terhadap Serapan N Hijauan Legum di Lapang

berikutnya. Serapan N hijauan legum pemotongan kedua dan ketiga nyata lebih tinggi dibanding pemotongan pertama pada semua taraf dosis pupuk BF. Demikian juga serapan N pada pemotongan ketiga nyata lebih tinggi dibanding kedua. Pada pemotongan pertama, pemupukan BF belum menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap serapan N hijauan legum. Pemupukan BE' nyata meningkatkan serapan N hijauan legum pada pemotongan kedua (400 kg P205/ha) maupun ketiga (300 dan 400 kg P205/ha) dibanding tanpa pemupukan BF (Tabel 14, Gambar 19).

(39)

Tabel 14. Serapan N Hijauan Legum pada Tiga Periode Pemotongan Periode Pemotongan Perlakuan I I1 I11

.

. . .

.

. .

g/m2

. . .

.

. . . .

.

. . .

.

es Lewm : Centro 1,96 d 2,57 c 3,99 a* Puero 1,52 e 3,22 b 3,92 a

* ) Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

(40)

Gambar 19. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan Periode Pernotongan terhadap Serapan N Hijauan Legum di Lapang

v

Serapan P hijauan legum nyata dipengaruhi oleh inter- aksi antara inokulasi MVA dengan pemupukan BF dan interak- si antara spesies legum dengan periode pernotongan serta r I f 5-

-

4.5- N E 4- c.5 W

-

3.5'*

-

-

3-

s

:=

2.5:

interaksi antara pemupukan BF dengan periode pernotongan 1 2- 1 P

!!

1- rn 0.5- 0 (Tabel Lampiran 7 )

.

Tabel 15 rnenunjukkan bahwa dengan pemupukan BF, maka

- 5 a V

-

-

I I 1 I I I 1 1

serapan P hijauan legum bermikoriza tidak berbeda nyata

0 50 100 150 200 250 300 350 400

Dosk Pupuk BF (kg P205/ha)

I I

(41)

Tabel 15. Interaksi antara MVA dengan Batuan Fosfat terhadap Serapan P Hijauan Legum

Pupuk Batuan Fosfat Tanpa MVA MVA

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

dibanding tanpa mikoriza. Meskipun pada dosis 300 kg P205/ha dan 400 kg P205/ha. serapan P hijauan legum ber- mikoriza cenderung lebih tinggi dibanding tanpa mikoriza. Serapan P hijauan legum dengan MVA nyata lebih rendah daripada tanpa inokulasi MVA apabila tidak dipupuk BF yaitu 0.14 g/m2 dibanding 0.20 g/m2. Pemupukan BF pada legum tanpa mikoriza. tidak menun jukkan perbedaan yang nyata terhadap serapan P hijauan. Dilain pihak, pemupukan BF nyata meningkatkan serapan P pada legum yang diinokula-

si MVA. Serapan P hijauan legum bennikoriza nyata lebih tinggi pada dosis 200, 300 dan 400 kg P205/ha daripada tanpa pemupukan BF yaitu 0.19 g/m2, 0.21 g/m2 dan 0.24 g/m2 dibanding 0.14 g/m2 (Gambar 20)

.

Pada Tabel 16 terlihat bahwa pemotongan hijauan centro dan puero nyata meningkatkan serapan P periode pemotongan berikutnya. Serapan P hijauan centro dan puero

(42)

Gambar 20. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan MVA terhadap Serapan P Hijauan Legum di Lapang

pemotongan kedua dan ketiga nyata lebih tinggi dibanding pertama. demikian pula pada pemotongan ketiga nyata lebih tinggi dibanding kedua. Serapan P hijauan centro tidak menun jukkan perbedaan yang nyata dengan puero pada pemo- tongan pertama. Namun pada periode pemotongan kedua dan

I ketiga, serapan P hijauan puero nyata lebih tinggi daripa-

da centro masing-masing 0.24 g/m2 dan 0.33 g/m2 dibanding 0.18 g/m2 dan 0.29 g/m2.

(43)

Tabel 16. Serapan P Hijauan Legum pada Tiga Periode Pemotongan Periode Pemotongan Perlakuan -

...

g/m2

...

es 11e- : Centro 0,07 e 0,18 d 0,29 b* Puero 0,05 e 0,24 c 0,33 a

* ) Huruf yang berbeda pada masing-masing perlakuan menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Pemotongan hijauan legum nyata meningkatkan serapan P hijauan legum periode potong berikutnya pada semua taraf dosis pupuk BF. Serapan P hijauan legum pada periode pemotongan kedua nyata lebih tinggi dibanding pertama, demikian pula pada pemotongan ketiga nyata lebih tinggi dibanding kedua. Pemupukan BF belum menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap serapan P hijauan legum pada pemo- tongan pertama. Pemupukan BF nyata meningkatkan serapan P hijauan legum pada pemotongan kedua (400 kg P205/ha) maupun ketiga (200, 300 dan 400 kg P205/ha) dibanding tanpa pemupukan BF (Tabel 16, Gambar 21)

.

(44)

Gambar 21. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan Periode Pemotongan terhadap Serapan P Hijauan Legum di Lapang

86 f I I 0 I t

o

50 100 t i 260 2b

3b0

3j0

400 Kadar Cu Hiiauan

Kadar Cu hijauan legum nyata dipengaruhi oleh pe-

I

Dosk Pupuk BF (kg P2051ha)

+ Potong I + Potong II + Potong I l l

mupukan BF dan interaksi antara spesies legum dengan periode pemotongan (Tabel Lampiran 7).

Y

Pemupukan BF cenderung menurunkan kadar Cu dan menun- jukkan perbedaan yang nyata pada dosis 200, 300 dan 400 kg P205/ha dibanding tanpa pupuk BF, masing-masing 16,44 ppm, 16,29 ppm dan 16,07 ppm dibanding 17,26 ppm (Tabel 17, Gambar 22).

(45)

Tabel 17. Pengafih Batuan Fosfat terhadap Kadar Cu Hij auan Legum

- - - - - - - -- - - pp -

Pupuk Batuan Fosfat Kadar Cu (kg P205/ha) ( P P ~ ) 0 17,26 a* 100 16,72 ab 200 16,44 b 300 16,29 b 400 16,07 b

Gambar 22. Pengaruh Batuan Fosfat terhadap Kadar Cu Hijauan Legum di Lapang

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Z f I

I Y

4 20-

'i

18-

-

16- E LL n 14- I

-

I I I

c !

j

/

I I I 1 I I I I 0 50 100 150 200 250 300 400

Dosic; Pupuk BF (kg P205/ha)

L L

-

(46)

Tabel 18. Kadar Cu Hijauan Legum pada Tiga Periode Pemotongan

Periode Pemotongan Centro Puero

...

ppm

...

17,04 b 21,17 a*

16,24 c 15,31 d

15,12 de 14,46 e

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata

pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Pemotongan hijauan legum nyata menurunkan kadar Cu hijauan centro maupun puero pada periode potong berikut- nya. Kadar Cu hijauan' puero nyata lebih tinggi dibanding centro pada pemotongan pertama. Namun pada pemotongan berikutnya terjadi sebaliknya yaitu kadar Cu hijauan centro lebih tinggi dibanding puero dan menunjukkan perbe- daan yang nyata pada pemotongan kedua (Tabel 18).

Kadar Zn hijauan legum nyata dipengaruhi oleh periode pemotongan dan pemupukan BF (Tabel Lampiran 7).

Pemotongan hijauan legum nyata menurunkan kadar Zn pada periode potong berikutnya, berturut-turut pada pemo- tongan pertama, kedua dan ketiga masing-masing 39,95 ppm, 37,41 ppm dan 34,22 ppm (Tabel 19, Gambar 23).

Pemupukan BF cenderung menurunkan kadar Zn hi jauan legum dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada dosis 400 kg P205/ha (Tabel 19, Gambar 24)

.

(47)

Gambar 2 3 . Pengaruh Periode Pernotongan terhadap Kadar Zn Hijauan Legum d i Lapang

(48)

Tabel 19. Pengaruh Batuan Fosfat dan Periode Pemo- tongan terhadap Kadar Zn Hijauan Legum

Perlakuan Kadar Zn

2 u B a t u a n F o s f a t (kg P205/ha) :

0

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

(49)

Gambar 24. Pengaruh Batuan Fosfat terhadap Kadar Zn Hi jauan Legum di Lapang

. .

1 auan

Kecernaan bahan kering hijauan legum nyata dipenga- ruhi oleh interaksi antara spesies legum, MVA dengan pe- riode pernotongan (Tabel Lampiran 8).

Pernotongan hijauan centro dan puero nyata meningkat- kan kecernaan bahan kering periode potong berikutnya, dengan inokulasi MVA maupun tanpa MVA.

(50)

Tabel 2 0 . Kecernaan Bahan Kering Hijauan Legum pada Periode Pemotongan kedua dan Ketiga

Spesies Legum Tanpa MVA MVA

Periode Pemotongan

...

persen

...

Centro 43,36 e 47,26 c 43,50 e 45,31 d

Puero

47,29 cd 49,41 b 46,06 cd 50,83 a

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada

taraf 5 % dengan uji Duncan

Keadaan ini terlihat pada kecernaan bahan kering hijauan centro dan puero periode pemotongan ketiga nyata lebih t inggi dibanding kedua, dengan inokulasi MVA maupun tanpa MVA

.

Pada pemotongan kedua, kecernaan bahan kering hijauan centro dan puero bermikoriza tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dibanding tanpa mikoriza. Namun demikian pada pemotongan ketiga, kecernaan bahan kering hijauan centro bermikoriza nyata lebih rendah dibanding tanpa mikoriza. Sedangkan kecernaan bahan kering hijauan puero bermikoriza nyata lebih tinggi dibanding tanpa mikoriza.

Kecernaan bahan kering hijauan puero nyata lebih tinggi dibanding centro, dengan inokulasi MVA maupun tanpa MVA pada pemotongan kedua maupun ketiga (Tabel 2 0 ) .

(51)

Kolonisasi MVA

Pada akhir penelitian di lapang (7 bulan) persentase kolonisasi MVA pada akar legum nyata dipengaruhi oleh interaksi antara spesies legum dengan inokulasi MVA serta interaksi antara pemupukan BF dengan inokulasi MVA dan interaksi antara pemupukan BF dengan spesies legum (Tabel Lampiran 9)

.

Persentase kolonisasi MVA akar centro cenderung lebih tinggi daripada puero, dan menunjukkan perbedaan yang nyata pada perlakuan dengan inokulasi MVA, masing-masing 51,32 % dibanding 36,76 %. Kolonisasi MVA pada akar centro, dan puero tanpa inokulasi MVA nyata lebih tinggi dibanding dengan inokulasi MVA (Tabel 21).

Tabel 21. Kolonisasi MVA pada Akar Legum di Lapang

Perlakuan Tanpa MVA MVA

...

persen

...

S ~ e s i e s Jlecrum : Centro 51,32 a 26,91 c* Puero 36,76 b 26,67 c

-n

Fosfat (kg P205/ha : 0 42,18 C 100 48,84 ab 200 51,47 a 300 43,32 bc 400 34,38 d

* ) Huruf yang berbeda pada masing-masing interaksi menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

(52)

Gambar 25. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan MVA terhadap Kolonisasi MVA di Lapang

Kolonisasi MVA akar legum tanpa inokulasi MVA nyata lebih tinggi dibanding dengan inokulasi MVA pada semua taraf dosis pupuk BF di lapang. Pupuk BF cenderung menu- runkan persentase kolonisasi MVA akar legum tanpa MVA maupun dengan MVA. Meskipun masih terdapat peningkatan yang nyata pada dosis 100

-

200 kg P205/ha dibanding tanpa pemupukan pada perlakuan tanpa inokulasi MVA (Tabel 21, Gambar 25)

.

Keragaan kolonisasi MVA pada akar legum centro dan puero dengan inokulasi MVA maupun tanpa inoku- lasi MVA tercantum pada Gambar 26.

(53)

Ket a. b. C.

d.

Gambar 26. Kolonisasi MVA pada akar centro da puero pada penelitian di lapang erangan :

Akar centro dengan inokulasi MVA (pembesaran 10 Akar centro tanpa inokulasi MVA (pembesaran 100 Akar puero dengan inokulasi MVA (pembesaran 100 Akar puero tanpa inokulasi MVA (pembesaran 100

(54)

Tabel 22. Kolonisasi MVA pada Akar Centro dan Puero dengan Pemupukan Batuan Fosfat di Lapang

Pupuk Batuan Fosfat Centro Puero

(kg P205/ha)

...

persen

...

0 37,95 cde 34,47 def* 100 43,28 bc 39,80 bcd 200 50,31 a 29,81 fg 300 33,88 ef 29,60 fg 400 30,16 fg 24,90 g

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

Persentase kolonisasi MVA pada akar centro maupun puero cenderung menurun dengan pemupukan BF dan menunjuk- kan perbedaan yang nyata pada centro dengan dosis 400 kg P205/ha. Meskipun persentase kolonisasi MVA akar centro masih nyata meningkat pada dosis 200 kg P205/ha. Persen- tase kolonisasi MVA pada akar centro cenderung lebih t inggi dibanding puero dan menun j ukkan perbedaan yang nyata pada dosis 200 kg p205/ha (Tabel 22, Gambar

(55)

Gambar 27. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat dan Spesies Legum terhadap Kolonisasi MVA di Lapang

Jumlah SD-~ Penelitiaa

. .

Jumlah spora pada akhir penelitian di lapang (7

bulan) nyata dipengaruhi oleh interaksi antara pemupukan batuan fosfat, inokulasi MVA dan spesies legum (Tabel Lampiran 9)

.

Secara keseluruhan jumlah spora dengan tanaman centro cenderung lebih banyak dibanding puero. Jumlah spora pada tanaman centro maupun puero tanpa inokulasi MVA cenderung lebih banyak dibanding dengan inokulasi MVA pada semua

(56)

Tabel 23. Jumlah Spora pada Akhir Penelitian di Lapang

Perlakuan Tanpa MVA MVA

0 kg P205/ha Centro Puero 100 kg P205/ha Cent ro Puero 200 kg P205/ha Centro Puero 300 kg P205/ha Centro Puero 400 kg P205/ha Centro Puero 27,67 de* 20,OO f

* ) Huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5 % dengan uji Duncan

taraf dosis pupuk BF. Jumlah spora lebih tinggi dengan pupuk BF dibanding tanpa pemupukan

,

baik dengan inokulas i maupun tanpa inokulasi MVA. Namun demikian, meningkatnya taraf dosis pupuk BF (200

-

400 kg P205/ha) cenderung menurunkan jumlah spora pada centro dan puero dengan inokulasi maupun tanpa inokulasi MVA maupun tanpa MVA

(Tabel 23, Gambar 28). Jenis-jenis spora MVA di lapang tercantum pada Gambar 29 (famili Glomaceae), Gambar 30

(57)

Gambar 28. Pengaruh Interaksi antara Batuan Fosfat, MVA dan Spesies legum terhadap Jumlah Spora MVA di Lapang

99

(famili Acaulosporaceae) dan Gambar 31 (famili Gigaspora-

i-

Dosk Pupuk BF (kg P205iha)

+ T. MVA-Cent MVA-Centro + T-MVA-Puer + MVA-Puero

ceae). Famili Glomaceae terdiri dari Glomus agregatum, J

Glomus geophyl um, Gl omus maniho tis, Gl omus sp

.

dan Scl ero- cystis sp. Famili Acaulosporaceae terdiri dari Acaulospo- ra converts, Acaulospora sp, Acaulospora spinosa dan En trophospora col umbiana

.

Famili Gigasporaceae terdiri dari Gigaspora margari ta, Gigaspora rami sphosphora, Scu t

-

el 1 ispora cal ospora dan Scu tell i spora erythropa dan Scu t

-

(58)

Gambar 29. Jenis-jenis spora MVA famili Glomaceae pada penelitian di lapang

Keterangan :

a. Glomus agregatum (pembesaran 400 x,

diameter 73-103

x

79-124 pm)

b. Glomus geophylum (pembesaran 400 x)

c. Glomus manihotis (pembesaran 200 x , diameter 145-235 x 170-450 pm)

d. Glomus sp (pembesaran 400 x,

diameter 90

-

112,5 pm)

e

.

.

Sclerocystis sp (pembesaran 400 x, diameter 37-125

x

29-86 pm)

(59)

Gambar 30. Jenis-jenis spora MVA famili

Acaulospora-

ceae

pada penelitian di lapang

Keterangan :

a.

Acaulospora converta

(pembesaran 200 x, diameter 140

-

170 pm)

b .

Acaulospora

sp dengan

mother

c e l l (m) (pembesaran 200 x)

c

.

Entrophospora columbiana

(pembesaran 400 x, diameter 75-115 x 100-135 pm)

d.

Acaulospora spinosa

(pembesaran 200 x)

,

diameter 100-298 x 100-335 pm)

(60)

Gambar 31. Jenis-jenis spora MVA famili Gigaspora- cede pada penelitian di lapang

Keterangan :

a. Gigaspora margarita (pembesaran 100 x,

diameter 260-480 pm)

b. Auxiliary cell dari Gigaspora ramisphospora (pembesaran 200 x)

c. Scutellispora weresubiae (pembesaran 100 x,

diameter 125-265 x 135-414 pm)

d. Scutellispora calospora (pembesaran 200 x, diameter 114-285 x 110-511 pm)

e. Scutellispora erythropa (pembesaran 100 x,

(61)

Pada akhir penelitian di lapang (7 bulan) dilakukan analisis tanah untuk mengetahui kadar N, P (Bray 11)

,

Cu dan Zn pada tiag petak penelitian. Perlakuan spesies legum, MVA dan pupuk BF demikian pula interaksinya tidak nyata pengaruhnya terhadag kadar N (Tabel 24), P (Bray

11) (Tabel 25)

,

Cu (Tabel 26) dan Zn (Tabel 27)

.

Tabel 24. Kadar N Tanah pada Akhir Penelitian

di Lapang

- -

-Perlakuan Tanpa MVA MVA Rataan

0 kg P205/ha Centro Puero 100 kg P205/ha Centro Puero 200 kg P205/ha Centro Puero 300 kg P205/ha Centro Puero

...

persen

...

400 kg P205/ha Centro O,l8 Puero 0,20 Rataan

(62)

Tabel 25. Kadar P Tersedia pada Akhir Penelitian di Lapang

Perlakuan Tanpa MVA MVA Rataan

0 kg P205/ha Centro Puero 100 kg P205/ha Centro Puero 200 kg P205/ha Centro Puero 300 kg P205/ha Centro Puero 400 kg P205/ha Centro Puero

(63)

Tabel 26. Kadar Cu Tanah pada Akhir Penelitian di Lapang

Perlakuan Tanpa MVA MVA Rataan

...

ppm

...

0 kg P205/ha Centro 2,94 3,51 3,22 Puero 2,93 2,8l 2,87 100 kg P205/ha Centro 3,17 3,18 3,18 Puero 3,01 2,91 2,96 200 kg P205/ha C e n t r ~ 2,88 3,09 2,98 Puero 3,Ol 3,12 3,07 300 kg P205/ha Centro Puero Centro 4,31 3,15 3,73 Puero 3,28 3,09 3,19 Rataan 3,18 3,08 3,13

(64)

Tabel 27. Kadar Zn Tanah pada Akhir Penelitian di Lapang

Perlakuan Tanpa MVA MVA Rataan

0 kg P205/ha Centro Puero 100 kg P205/ha Centro Puero 200 kg P205/ha Centro Puero 300 kg P205/ha Centro Puero

...

ppm

...

400 kg P205/ha Centro 8,81 8,84 8,82 Puero 9,Ol 8,34 8,68 Rataan

(65)

Pembahasan

Hasil bahan kering (Tabel 10)

,

serapan N (Tabel 14) dan serapan P (Tabel 16) hijauan centro lebih tinggi d a ~ i - pada puero pada periode pemotongan pertama. Namun setelah mengalami pemotongan, hasil bahan kering, serapan N dan P hi j auan puero lebih tinggi dibanding centro

.

Keadaan ini disebabkan karena pertumbuhan awal centro di lapang lebih cepat dibanding puero. Hal ini ditunjukkan dengan rataan jumlah tunas pada stolon celltro lebih banyak daripada puero yaitu 101 stolon/m2 dibanding 36 stolon/m2. Namun setelah mengalami pemotongan, ternyata pertumbuhan kembali (regrowth) puero lebih cepat dibanding centro. Keadaan tersebut ditunjukkan dengan hasil bahan kering, serapan N dan serapan P hijauan puero lebih tinggi dibanding centro setelah mengalami pemotongan.

Kadar N hijauan centro lebih tinggi daripada puero, yaitu 3,39 % dibanding 3,23 %. Hasil penelitian yang sama telah dilaporkan oleh Adjei dan Fianu (1985) dan Chin (1991) bahwa kadar N hijauan centro lebih tinggi daripada puero yaitu 3,44 % dibanding 3,18 %. Hal ini disebabkan karena perbedaan pertumbuhan vegetatif, yang diceminkan oleh lambatnya regrowth centro setelah pemotongan. Dengan demikian bagian daun centro yang terangkut pada waktu pemotongan relatif lebih tinggi dengan proporsi batang lebih rendah dibanding puero. Kadar N daun lebih tinggi

(66)

dibanding pada batang karena lebih banyak mengandung khlorofil termasuk didalamnya adalah nitrogen sebagai salah satu unsur penyusun khlorofil (Devlin dan Witham,

Pemupukan batuan fosfat belum berpengaruh terhadap hasil bahan kering (Tabel lo), kadar N (Tabel ll), kadar P (Tabel 12), serapan N (Tabel 14) dan serapan P (Tabel 16) hijauan legum pada periode pemotongan pertama. Keadaan tersebut terjadi karena tanaman legum masih dalam fase pertumbuhan awal sedangkan batuan fosfat termasuk salah Satu jenis gupuk P yang lambat tersedia (Kang, 1968).

Kadar Cu hijauan puero lebih tinggi daripada centro pada periode gemotongan pertama yaitu 21,17 ppm dibanding 17,04 ppm. Namun pada periode pemotongan kedua dan ketiga kadar Cu hijauan centrg lebih tinggi daripada puero (Tabel

18). Unsur hara Cu terdapat dalam bentuk terikat pada plastocyanin. Pada umumnya lebih dari 50 % Cu terdapat dalam khloroplast daun (Mar$chner, 1986; Dell

et

dl.,

1995). Telah diketahui bahwa pertumbuhan awal puero lebih lambat dibanding centro yang ditunjukkan dengan rendahnya hasil bahan kering hijauan puero (Tabel 10)

.

Dengan demi- kian bagian daun puero yang terangkut pada periode pemo- tongan pertama relatif lebih tinggi dengan proporsi batang lebih rendah dibanding centro. Oleh karena itu konsentra- si Cu hijauan puero lebih tinggi dibanding centro pada

(67)

pemotongan, pertumbuhan puero lebih cepat dibanding cen- tro. Hal ini ditunjukkan oleh hasil bahan kering hijauan puero lebih tinggi dibanding centro setelah mengalami pemotongan (Tabel 10). Bada pertumbuhan yang lebih cepat, diperoleh konsentrasi Cu hijauan puero lebih rendah di- banding centro

.

Keadaan sebaliknya terj adi pada centro, pertumbuhan kewali setelah pemotongan termasuk lambat sehingga bagian daun yang terangkut pada waktu pemotongan relatif lebih tinggi dengan proporsi batang lebih rendah. Hal ini menyebabkan kadar Cu hijauan centro lebih tinggi dibanding puero setelah mengalami pemotongan (Tabel 18). Keadaan tersebut menyebabkan kecernaan bahan kering hi- jauan centro lebih rendah dibanding puero (Tabel 20), karena unsur Cu sebagai ko-faktor enzim phenoloksidase berperan dalam lignifikasi (Lepp, 1981; Skujins, 1987; Dell

et

dl., 1995)

.

Pemupukan BF cenderung meningkatkan hasil bahan kering (Tabel 9, Tabel 10)

,

kadar N (Tabel 11)

,

kadar P (Tabel 12), serapan N (Tabel 13, Tabel 14) dan serapan P (Tabel 15) hi j auan legum. Namun demikian meningkatnya serapan P cenderung menurunkan kadar Cu (Tabel 17) dan Zn (Tabel 19) karena di j erap dalam bentuk oksida dan hidrok- sida (Collins, 1981).

Pemupukan BF mampu meniflgkatkan hasil bahan kering (Tabel 9)

,

serapan N (Tabel 13) dan serapan P (Tabel 15) hijauan legum dengan inokulasi MVA. Diduga pupuk BF mampu

(68)

menimgkatkan efektivitas inokulum MVA dalam merangsang pertumbuhan tanaman legum. Namun dernikian pada dosis pupuk BE' yang sama, ternyata hasil bahan kering, serapan N dan P hijauan legum yang di inokulasi MVA tidak berbeda dengan tanpa inokulasi MVA. Hal ini diduga karena terjadi kompetisi antara cendawan MVA-indigenous dengan cendawan MVA yang di introduksikan. Pengaruh inokulasi MVA di lapang sangat tergantung pada efektivitas spora MVA-indigenous maupun yang di introduksikan (Mitiku-Habte dan FOX, 1993). Penelitian lapang ini dilakukan pada lahan bekas tanaman ubi kayu yang sudah diberakan selama satu tahun. Tanaman ubi kayu termasuk tipe obligat-MVA. Rhizosfir tanaman ubi kayu mampu meningkatkan efektivitas cendawan MVA-indigenous (Potty, 1988; Sieverding, 1991). Dari hasil isolasi spora di lapang pada awal penelitian, ternyata terdapat spora MVA- indigenous sebanyak 496 spora/100 gram. Dilain pihak, dari hasil isolasi spora inokulum MVA ternyata terdapat pencemaran oleh cendawan patogen (Gambar 32) yang dapat menurunkan efektivitas inokulum MVA. Cendawan patogen dapat mencemari spora MVA pada waktu penyimpanan inokulum tanah (Bagyaraj, 1988). Oleh karena itu kolonisasi MVA pada akar tanpa inokulasi MVA lebih tinggi dibanding dengan di inokulasi MVA (Tabel 21)

.

Diduga cendawan MVA- indigenous lebih ef ektif dengan menurunnya potensi inokulum MVA untuk mengkoloni akar legum. Disamping itu dengan berjalannya waktu, tanaman

(69)

Gambar 32. Keragaan spora Glomus sp terinfeksi oleh mikoparasit

Gambar

Gambar  3.  Keragaan centro dan puero pada periode  pemotongan pertama di rumah kaca
Gambar  4.  Keragaan centro dan puero pada periode  pemotongan kedua di rumah kaca
Tabel  2 .   Kadar N Hijauan Legum pada Dua Periode  Pemotongan  Periode Pemotongan  Perlakuan  ..............
Gambar  6.  Pengaruh  Interaksi antara Batuan Fosfat  dan Periode Pemotongan terhadap Kadar  N  Hijauan Legum di Rumah Kaca
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi yang terkait dalam prosedur pencatatan harga produk jadi yang diterima kembali dari pembeli adalah fungsi gudang berfungsi untuk mencatat pengembalian barang dari

2.6.1 Pengaruh Online Consumer Review Terhadap Keputusan Pembelian Menurut Khammash (2008) bahwa “Online consumer review dapat dipahami sebagai salah satu media untuk

Hasil didapatkan tidak ada hubungan antara variabel tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku partisipatif dalam deteksi dini kanker serviks pada paramedis wanita

■ Informasi yang diberikan antara lain hubungan yang jelas antara waktu kerja dan waktu menganggur dari tangan kanan dan kiri, serta menunjukkan perbandingan antara tugas

bahwa di pasar ASEAN Indonesia tidak mengalami dampak negatif dari perdagangan bebas tersebut yang ditunjukkan oleh peningkatan pangsa pasar untuk produk tertentu. Namun

Selain dari ampas pembuatan tahu yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, limbah perendaman kacang kedelai dapat dimanfaatkan sebagai minum ternak.. Limbah yang

Dari 17 jenis asam lemak yang terdapat pada daging ikan sidat sungai Palu dan danau Poso terdapat perbedaan kadar yang signifikan antara 16 jenis asam lemak

Belum pernah diadakan kegiatan untuk memperkenalkan perpustakaan melalui promosi perpustakaan .Yang sudah dilaksanakan adalah beberapa kelas menugaskan siswa