SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

215  Download (0)

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF (PPR) PADA

TOPIK KUBUS YANG MENGAKOMODASI TEORI VAN HIELE DI KELAS VIII A SMP KANISIUS KALASAN TAHUN AJARAN 2015/2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun oleh: Feronika Asih Agustin

NIM: 121414019

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

i

IMPLEMENTASI PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF (PPR) PADA

TOPIK KUBUS YANG MENGAKOMODASI TEORI VAN HIELE DI KELAS VIII A SMP KANISIUS KALASAN TAHUN AJARAN 2015/2016

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Matematika

Disusun oleh: Feronika Asih Agustin

NIM: 121414019

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)

iii SKRIPSI

(5)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

Tuhan Yesus Kristus, atas semua berkat dan rahmat-Nya Bunda Maria, atas bimbingannya

Romo van Lith, atas doa dan teladannya

Almarhum Bapak di Surga, atas semua perjuangannya Ibuku, atas cinta yang luar biasa

Mbak Mimin dan Gatik, atas kasih yang tak terkira Sahabat dan teman-teman, atas perhatian dan dukungannya

(6)

v

HALAMAN MOTTO

“Terjadilah padaku, menurut kehendak-Mu”

(Bunda Maria)

“Suatu kenyataan bahwa aku tidak sendiri”

(Van Lith Angkatan 19)

“Lepaskan rantai yang membelenggu, nyalakan

api dan lenteramu”

(Barasuara)

“When you want something, all the universe

conspires in helping you to achieve it”

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN DATA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagai layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 27 Juli 2016

Feronika Asih Agustin

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Feronika Asih Agustin

Nomor Mahasiswa : 121414019

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

“IMPLEMENTASI PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN PARADIGMA PEDAGOGI REFLEKTIF (PPR) PADA TOPIK KUBUS YANG MENGAKOMODASI TEORI VAN HIELE DI KELAS VIII A SMP KANISIUS KALASAN TAHUN AJARAN 2015/2016”

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin kepada saya maupun memberikan royalty pada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 27 Juli 2016 Yang menyatakan,

(9)

viii ABSTRAK

Feronika Asih Agustin, 2016, Implementasi Perangkat Pembelajaran Matematika Menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada Topik Kubus yang Mengakomodasi Teori Van Hiele di Kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan Tahun Ajaran 2015/2016. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang mengimplementasikan perangkat pembelajaran matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif yang mengakomodasi teori Van Hiele yang telah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: proses implementasi perangkat pembelajaran matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif, pencapaian competence, conscience,

compassionsiswa, dan hasil kuesioner respon siswa.

Peneliti menggunakan pengembangan perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan oleh peneliti sebelumnya. Perangkat pembelajaran yang digunakan meliputi: silabus, RPP, LKS, bahan ajar, dan instrumen penilaian. Selain itu peneliti juga menggunakan perangkat penelitian berupa panduan wawancara, lembar observasi, dan angket respon siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran memperoleh skor rata-rata 4,5 dengan kategori sangat baik. Dinamika PPR yang meliputi: konteks, pengalaman, refleksi, aksi dan evaluasi telah terlaksana. Hasil ulangan menunjukkan 41,94% siswa tuntas KKM, sedangkan hasil ulangan remedi menunjukkan adanya peningkatan yakni 75% siswa berhasil tuntas. Hasil pencapaian conscience didapatkan bahwa 51,61% siswa memiliki kepercayaan diri yang baik, 58% siswa menunjukkan sikap bertanggungjawab yang baik, 35,5% siswa sudah memiliki ketelitian yang baik, dan 58,1% siswa memiliki sikap kerjasama yang baik. Pencapaian compassion diperoleh hasil bahwa 58,1% siswa menunjukkan sikap saling membantu yang baik, dan sebanyak 58,1% siswa menunjukkan sikap saling menghargai yang baik. Hasil kuesioner siswa menunjukkan skor rata-rata total 1156 yang termasuk dalam kategori baik.

Kata kunci:implementasi perangkat pembelajaran matematika, Paradigma Pedagogi Reflektif, teori Van Hiele

(10)

ix ABSTRACT

Feronika Asih Agustin, 2016, The Implementation of Mathematics Teaching Aids using Reflective Pedagogy Paradigm in teaching Cubes Topic which Accomodates Van Hiele’s Theory in Class VIII A, SMP Kanisius Kalasan, Academic Year of 2015/2016. Thesis. Yogyakarta: Mathematics Education Major, Faculty of Education, Sanata Dharma University.

It is a descriptive qualitative research which implementing mathematics teaching aid using Reflective Pedagogy Paradigms which accommodates Van Hiele’s theory that has been developed by the previous researcher. The purpose of this research is to describe the process of mathematics teaching aid implementation using Reflective Pedagogy Paradigm, students’ achievement in competence, conscience, compassion and students’ questionnaire responses.

The researcher used the teaching aid elaboration which has been experimented by the previous researcher. The teaching aids were including: syllabus, Lesson Plan, worksheet, and assessment instrument. The research instrument were including interview guide, observation sheet, and questionnaire.

The conclusion can be drawn from the research shows that the implementation of the study is in the average score of 4.5, which can be described as very good. The Reflective Pedagogy Paradigm dynamics which include: the context, experience, reflection, action, and evaluation has been implemented. The test result shows that 41.94% of the students passed the standard, meanwhile the retest taken shows the increase until 75% of students can pass the standard. The Conscience achievement shows that 51,61% students have a good confidence, 58% of students take a good responsibility. 35,5% of students already has a good accuracy, and 58.1% of students can cooperate well. The Compassion competence shows that 58.1% of students were able to help each other out, and 58.1% of students value each other well. The students questionnaire shows the average score of 1156, which is categorized as good.

Key words:the implementation of math teaching aids, Van Hiele’s theory, Reflective Pedagogy Paradigm

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih, penyertaan, dan berkat yang selalu dilimpahkan kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini dari awal hingga ahkir. Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis mengalami berbagai pengalaman dan tantangan, namun karena dukungan, motivasi dan bantuan dari banyak pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis dengan tulus ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2. Bapak Dr. Hongki Julie, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Matematika Universitas Sanata Dharma.

3. Bapak Beni Utomo, M.Sc., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma.

4. Ibu Dra. Haniek Sri Pratini, M.Pd., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing dan mendukung penulis dari awal penulisan skripsi hingga selesai.

5. Ibu Veronica Fitri Rianasari, M.Sc., Ibu Niluh Sulistyani, M.Pd., dan Bapak Febi Sanjaya, M.Sc. selaku dosen ahli yang telah menjadi validator instrumen pembelajaran dan instrumen penelitian.

6. Bapak Dominikus Arif Budi Prasetyo, M.Si. dan Ibu Maria Suci Apriani, S.Pd,. M.Sc. selaku dosen penguji yang telah berkenan menguji dan memberi saran bagi penulisan skripsi ini.

(12)

xi

7. Bapak Yusup Indrianto Purwito, S.Pd., selaku kepala sekolah SMP Kanisius Kalasan yang telah bersedia memberikan izin untuk mengadakan penelitian. 8. Ibu Ag. Kurnia Pancarini, S.Pd., selaku guru matematika kelas VIII A SMP

Kanisius Kalasan yang telah bersedia membantu penelitian ini.

9. Siswa-siswi kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan yang telah membantu sebagai subyek penelitian.

10. Agnes Dwi Purnama Sary, selaku peneliti yang produk perangkat pengembangannya digunakan dalam penelitian ini.

11. Kedua orang tua, Almarhum Bapak Martinus Suwarno atas teladan hidup yang diberikan dan Ibu Maria Goreti Wartinah yang tak henti-hentinya memberikan doa, semangat dan dukungan bagi penulis.

12. Kedua kakak, Fransisca Kartini Dyah Utami, S.Pd.dan Agatha Wahyu Wigati, S.Pd. yang selalu memberikan dukungan dan semangat bagi penulis.

13. Keluarga besar Suparman Wongsodiharjo yang telah memberikan dukungan dan dorongan demi kelancaran penulis menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma.

14. Teman dan sahabat: Rosalia Wenita, Dipna Videlia Putsanra, Elisabeth Oktaviari D, Trisona Agustina, Dita Anggraini untuk waktu bercerita dan dukungannya.

15. Teman-teman angkatan sembilan belas yang telah memberikan inspirasi dan dukungan agar penulis menyelesaikan skripsi ini.

16. Teman-teman satu bimbingan skripsi: Agnes, Dian, Galuh, Vita, Ela, Clara, Raisa dan Bebi atas semua kerjasamanya.

(13)

xii

17. Teman-teman Pendidikan Matematika angkatan 2012 yang telah memberikan berbagai pengalaman selama berjuang di Pendidikan Matematika.

18. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penelitian ini.

Penulis menyadari bahwa terdapat kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan di kemudian hari. Akhirnya, peneliti mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Yogyakarta, 27 Juli 2016 Peneliti

(14)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBINGError! Bookmark not defined. HALAMAN PENGESAHAN ... Error! Bookmark not defined. HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN DATA ... vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB IPENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 5 C. Pembatasan Masalah ... 6 D. Rumusan Masalah ... 6 E. Tujuan Penelitian ... 7 F. Batasan Istilah ... 8 G. Manfaat Penelitian ... 9

(15)

xiv

BAB IILANDASAN TEORI ... 10

A. Kajian Pustaka ... 10

1. Mengajar dan Belajar Matematika ... 10

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Proses Mengajar dan Belajar Matematika ... 11

3. Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif ... 12

4. Dinamika Paradigma Pedagogi Reflektif ... 13

5. Teori Van Hiele ... 17

6. Tinjauan Materi : Kubus ... 21

7. Perangkat Pembelajaran ... 26

B. Penelitian yang Relevan ... 30

C. Kerangka Berpikir ... 31

BAB IIIMETODE PENELITIAN ... 34

A. Jenis Penelitian ... 34

B. Setting Penelitian ... 35

C. Teknik Pengumpulan Data ... 36

D. Instrumen Penelitian ... 37

E. Validitasi Instrumen ... 42

F. Hasil Penelitian Sebelumnya ... 44

G. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 51

A. Pelaksanaan Penelitian ... 51

(16)

xv

C. Pembahasan ... 63

1. Implementasi Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) ... 63

2. Deskripsi Pencapaian Competence, Conscience, dan Compassion Siswa ... 84

3. Deskripsi Respon Siswa ... 89

D. Keterbatasan Penelitian ... 90 BAB VPENUTUP ... 91 A. Kesimpulan ... 91 B. Saran ... 93 DAFTAR PUSTAKA ... 94 LAMPIRAN ... 96

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-kisi Pedoman Wawancara ... 38

Tabel 3.2 Lembar Observasi ... 39

Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Respon Siswa ... 41

Tabel 3.4 Kisi-kisi Soal Ulangan ... 42

Tabel 3.5 Hasil Validasi Instrumen Penelitian... 43

Tabel 3.6 Kriteria Penilaian Instrumen Penelitian ... 43

Tabel 3.7 Tabel Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran ... 44

Tabel 3.8 Kriteria Penilaian Keterlaksanaan Pembelajaran ... 48

Tabel 3.9 Kriteria Penilaian Respon Siswa ... 49

Tabel 3.10 Kriteria Penilaian Respon Siswa ... 49

Tabel 4.1 Jadwal Pengamatan/Observasi Guru ... 52

Tabel 4.2 Data Keterlaksaan Implementasi Perangkat Pembelajaran... 57

Tabel 4.3 Hasil Ulangan Harian Kubus ... 58

Tabel 4.4 Hasil Analisis per Indikator ... 59

Tabel 4.5 Hasil Ulangan Harian Kubus ... 59

Tabel 4.6 Hasil Analisis per Indikator ... 60

Tabel 4.7 Penilaian Conscience ... 61

Tabel 4.8 Penilaian Compassion ... 62

(18)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kubus ... 22

Gambar 2.2 Diagonal Sisi ... 23

Gambar 2.3 Diagonal Ruang ... 23

Gambar 2.4 Bidang Diagonal... 24

Gambar 2.5 Jaring-jaring kubus ... 25

Gambar 2.6 Visualisasi Volume Kubus ... 25

Gambar 4.1 Contoh benda berbentuk kubus ... 65

Gambar 4.2 Contoh benda berbentuk balok... 65

Gambar 4.3 Alat peraga mencari rumus volume kubus(digunakan oleh peneliti)... 68

Gambar 4.4 Alat peraga mencari rumus volume kubus(digunakan oleh siswa) ... 69

Gambar 4.5 Alat peraga berbentuk kubus ... 72

Gambar 4.6 Siswa mengiris kubus sesuai dengan tandanya ... 73

(19)

xviii DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A.1 ... 97 Lampiran A.2 ... 104 Lampiran A.3 ... 116 Lampiran A.4 ... 120 Lampiran A.5 ... 130 Lampiran A.6 ... 135 Lampiran A.7 ... 138 Lampiran A.8 ... 139 Lampiran A.9 ... 142 Lampiran A.10 ... 144 Lampiran A.11 ... 146 Lampiran B.1 ... 149 Lampiran B.2 ... 151 Lampiran B.3 ... 157 Lampiran B.4 ... 168 Lampiran B.5 ... 170 Lampiran B.6 ... 173 Lampiran B.7 ... 174 Lampiran B.8 ... 177 Lampiran B.9 ... 180 Lampiran B.10 ... 183

(20)

xix

Lampiran B.11 ... 184 Lampiran B.12 ... 185

(21)

i

(22)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak siswa duduk di bangku Sekolah Dasar, mereka telah mengenal matematika sebagai pelajaran wajib, kemudian berlanjut hingga mereka duduk di Sekolah Menengah Atas. Semakin tinggi tingkat pendidikan siswa maka semakin kompleks pula materi yang dipelajari, sehingga membuat minat siswa untuk mempelajarinya pun menurun. Hal tersebut dapat terlihat dengan sikap malas siswa untuk mempelajari matematika. Guru mata pelajaran matematika yang cenderung menggunakan metode yang monoton juga dapat menjadi penyebab siswa tidak menyukai pelajaran matematika.Suwarsono (2010) mengungkapkan hal tersebut dapat terjadi karena banyak guru matematika sudah merasa berpuas diri dengan cara pembelajaran yang dilakukan selama ini yakni hanya mengandalkan pemaparan teori (rumus-rumus dan formula), tanpa memperhatikan ilustrasi melalui gambar (visual) atau menghubungkan dengan realitas hidup sehari-hari.

Padahal matematika sangat dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari, banyak hal yang tanpa disadari berkaitan dengan matematika. Belajar matematika dapat melatih siswa untuk menyelesaikan masalah, menuliskan gagasannya, bertanya ataupun memberikan penjelasan untuk

(23)

apa langkah berikutnya harus dikerjakan (Hudojo: 1988). Hal tersebut jika dilakukan terus menerus akan menjadi bekal siswa dalam menghadapi masalah walaupun bukan masalah tentang matematika.

Salah satu solusi untuk meningkatkan minat siswa dan memberikan variasi cara pembelajaran adalah dengan Paradigma Pedagogi Reflektif. Paradigma ini memberikan lebih dari sebuah teori, melainkan juga sebuah sarana praktis dan sebuah perangkat efektif untuk meningkatkan cara guru mengajar dan siswa belajar (Subagja: 2010). Proses belajar dalam PPR mengikuti siklus konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evalusi. Melalui pedagogi ini pula mampu memberikan pandangan bahwa pendidikan bukan hanya untuk mengedepankan kognitif saja, melainkan untuk lebih mengasah afektif siswa. Pengembangan afektif dalam pembelajaran dapat terlihat dengan siswa memiliki rasa tanggungjawab dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, mampu berkata dan bertindak dengan jujur, bijaksana dalam mengambil keputusan, kreatif, kritis dan lain-lain.

Pembelajaran matematika di SMP Kanisius Kalasan telah menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berbasis PPR, namun dalam pelaksanaannya masih belum nampak jelas dinamika-dinamika dalam pembelajaran dengan PPR. Hal ini disampaikan langsung oleh guru mata pelajaran matematika kelas VIII SMP Kanisius Kalasan sebagai tempat penelitian, bahwa sampai saat ini guru masih kesulitan dalam menerapkan pembelajaran dengan PPR sehingga lebih memilih menerapkan pembelajaran yang sudah biasa digunakan. Dari hasil

(24)

observasi yang dilakukan peneliti saat proses pembelajaran matematika di kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan tidak tampak bahwa guru melakukan pembelajaran PPR secara utuh. Guru tidak nampak memberikan konteks untuk menggali pengetahuan siswa di awal pembwelajaran. Kegiatan pengalaman nampak terlihat siswa belajar dan menyelesaikan persoalan dalam kelompok tutor sebaya dengan bimbingan guru. Beberapa siswa terlihat kurang merespon pembelajaran dengan baik dan lebih memilih melakukan kegiatan lainnya sehingga membuat suasana kelas menjadi ramai. Berdasarkan wawancara dengan guru mata pelajaran, kegiatan refleksi dilakukan minimal satu bulan sekali di luar jam pelajaran dengan cara siswa menulis dalam buku refleksi pribadi. Refleksi yang dituliskan mengenai proses yang telah dialami saat pembelajaran semua mata pelajaran selama satu bulan, meliputi perasaan yang dialami siswa dan perilaku yang dilakukan siswa. Selanjutnya untuk kegiatan aksi tidak tampak dilakukan sedangkan kegiatan evaluasi dilakukan guru dengan mengadakan ulangan harian untuk melihat kemampuan kognitif siswa.

Geometri yang merupakan salah satu cabang matematika perlu diajarkan kepada siswa. Hal tersebut dikarenakan mempelajari geometri memiliki kegunaan antara lain: melatih daya tanggap keruangan (spatial

ability)siswa,melatih kemampuan menalar siswa secara logis, memberi

pemahaman kepada siswa mengenai keterkaitan matematika dengan alam nyata, selain itu memberi pemahaman kepada siswa mengenai struktur (susunan) ilmu matematika yang formal aksiomatis. (Suwarsono: 1990).

(25)

Sebagai contoh ruangan kelas yang menjadi tempat mereka belajar merupakan salah satu penggunaan geometri di lingkungan kehidupan siswa, contoh lain penggunaan geometri dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk kemasan makanan yang sering dijumpai siswa. Walaupun terdapat banyak contoh yang dekat dengan lingkungan sehari-hari siswa, namun hal tersebut masih kurang dieksplorasi oleh guru sehingga siswa masih merasa kesulitan untuk mempelajari geometri.

Terdapat materi yang membahas geometri yaitu bangun ruang sisi datar (kubus, balok, prisma, limas) yang diajarkan di Sekolah Menengah Pertama kelas VIII. Hasil wawancara awal yang dilakukan peneliti kepada guru mata pelajaran matematika di SMP Kanisius Kalasan, ditemukan beberapa permasalahan yang dialami guru dalam pelaksanaan pembelajaran mengenai materi bangun ruang sisi datar. Beberapa permasalahan tersebut adalah sebagian siswa masih mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan bangun ruang sisi datar tersebut, dan juga masih kesulitan dalam memahami konsep luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar. Ada beberapa teori yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam geometri, diantaranya teori Van Hiele tentang tahap-tahap perkembangan kemampuan geometris pada siswa. Teori tersebut membahas mengenai tingkatan-tingkatan dalam pemikiran geometris yang dimulai dengan visualisai, analisis, deduksi informal, deduksi, dan ketepatan (rigor).

(26)

Berdasarkan uraian di atas, peneliti melakukan penelitian dengan menerapkan perangkat pembelajaran matematika dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus menggunakan teori Van Hiele di kelas VIII yang sudah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif lebih lanjut bagi pelaksanaan pembelajaran dengan PPR sehingga dapat berjalan dengan lebih optimal. Berdasarkan berbagai alasan tersebut, penelitian ini dibuat dengan judul “Implementasi Perangkat Pembelajaran Matematika Menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada Topik Kubus yang Mengakomodasi Teori Van Hiele di Kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan Tahun Ajaran 2015/2016.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini diidentifikasikan sebagai berikut.

1. Guru masih kesulitan dalam menerapkan pembelajaran dengan Paradigma Pedagogi Reflektif sehingga belum terlaksana dengan maksimal.

2. Guru cenderung menggunakan metode pembelajaran yang monoton. 3. Siswa masih kesulitan dalam memvisualisasikan bangun ruang sisi

datar.

4. Siswa masih kesulitan dalam memahami konsep luas permukaan dan volume pada bangun ruang sisi datar.

(27)

5. Penilaian yang dilakukan masih sebatas untuk melihat kemampuan kognitif siswa.

6. Siswa masih kurang menunjukkan respon yang baik saat pembelajaran berlangsung.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, penelitian ini dibatasi pada penerapan perangkat pembelajaran matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang mengakomodasi teori Van Hiele di kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan Tahun Ajaran 2015/2016 dan dengan menggunakan pengembangan perangkat pembelajaran yang telah diujicobakan oleh peneliti sebelumnya di SMP Negeri 1 Yogyakarta yang meliputi: silabus, RPP, bahan ajar, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan instrumen penilaian.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana keterlaksanaan pembelajaran menggunakan perangkat pembelajaran matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang mengakomodasi teori Van Hiele di kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan Tahun Ajaran 2015/2016?

2. Bagaimana pencapaian competence, conscience, compassion dalam implementasi perangkat pembelajaran matematika menggunakan

(28)

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang mengakomodasi teori Van Hiele di kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan Tahun Ajaran 2015/2016?

3. Bagaimana respon siswa kelas VIII A setelah mengikuti pembelajaran yang menerapkan perangkat pembelajaran matematika menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang mengakomodasi teori Van Hiele?

E. Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mendeskripsikan proses keterlaksanaan pembelajaran menggunakan perangkat pembelajaran matematika dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang menggunakan teori Van Hiele di kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan tahun ajaran 2015/2016.

2. Mendeskripsikan pencapaian competence, conscience, compassion dalam implementasi perangkat pembelajaran matematika dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang menggunakan teori Van Hiele di Kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan tahun ajaran 2015/2016.

3. Mendeskripsikan respon siswa kelas VIII A setelah mengikuti pembelajaran yang menerapkan perangkat pembelajaran matematika dengan Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) pada topik kubus yang menggunakan teori Van Hiele.

(29)

F. Batasan Istilah

Batasan istilah dalam perumusan masalah di atas bertujuan agar tidak terjadi penafsiran ganda terhadap istilah yang digunakan. Adapun istilah yang perlu ditegaskan adalah sebagai berikut:

1. Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah suatu pola pikir yang mempunyai tujuan untuk menumbuhkembangkan kristiani/kemanusiaan siswa melalui konteks, pengalaman yang dialami langsung oleh siswa, refleksi siswa berdasarkan pengalaman, aksi yang mencerminkan nilai kemanusiaan, dan selanjutnya melakukan evaluasi.

2. Teori Van Hiele adalah teori yang menjelaskan tingkatan-tingkatan pemikiran yang diterapkan dalam mempelajari geometri, tingkatan-tingkatan tersebut bertahap, untuk sampai ke tingkat berikutnya siswa harus menguasai pemikiran geometri yang cocok pada tingkatan sebelumnya.

3. Kubus adalah bangun ruang yang dibatasi oleh enam daerah persegi, nama sebuah kubus sesuai dengan nama titik-titik sudut pada bidang alas dan bidang atas kubus tersebut.

4. Perangkat pembelajaran adalah perangkat yang dipergunakan dalam proses pembelajaran yang meliputi: silabus, RPP, bahan ajar, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan instrumen penilaian.

5. Competence merupakan kemampuan kompetensi secara utuh yang disebut juga dengan kemampuan kognitif, kemampuan kognitif dalam

(30)

hal ini adalah kemampuan peserta didik untuk memecahkan soal sehingga mampu mendapatkan nilai yang tinggi.

6. Conscience merupakan kemampuan afektif yang secara khusus mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani, ketajaman hati nurani dapat berupa kesadaran diri untuk bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku, misal berbuat disiplin, teliti, atau jujur

7. Compassion merupakan aspek psikomotorik yang berupa tindakan konkret maupun batin disertai bela rasa bagi sesama, tindakan yang berupa bela rasa bagi sesama memuat rasa kepedulian dan dapat diwujudkan dalam proses kerjasama antar peserta didik.

G. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. a. Bagi Guru

Melalui hasil penelitian ini, diharapkan guru mata pelajaran matematika mampu lebih mendalami pembelajaran dengan Paradigma Pedagogi Reflektif sehingga dapat mengupayakan dan menerapkan pembelajaran dengan Paradigma Pedagogi Reflektif secara maksimal. b. Bagi Siswa

Melalui penelitian ini, diharapkan dapat melatih siswa dalam mengembangkan kompetensi secara utuh (Competence), mengasah kepekaan dan ketajaman hati (Conscience) dan terlibat dengan penuh bela rasa bagi sesama (Compassion).

(31)

c. Bagi Peneliti

Sebagai calon guru, penelitian ini dapat menjadi pengalaman dan bekal bagi peneliti dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan paradigma pedagogi reflektif saat peneliti memasuki dunia kerja.

(32)

10 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Mengajar dan Belajar Matematika

Matematika merupakan disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas jika dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lain. Hal ini berkenaan dengan ide-ide/ konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan penalarannya deduktif. Dalam hal ini berarti, mempelajari matematika haruslah bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang lalu (Hudojo, 1988).

Mengajar adalah suatu kegitan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan/ pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik dengan tujuan pengetahuan tersebut dipahami peserta didik. Dapat dilihat bahwa mengajar itu suatu kegiatan yang melibatkan pengajar dan peserta didik. Peserta didik diharapkan belajar karena adanya intervensi pengajar. Sehingga dalam mengajar matematika, pengajar harus menguasai bahan matematika yang diajarkan (Hudojo, 1988).

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mengajar dan belajar matematika merupakan dua kegiatan yang saling mempengaruhi dan melibatkan pengajar serta peserta didik. Dengan proses belajar matematika yang baik, siswa akan dapat memahami

(33)

matematika dengan baik dan mudah untuk mempelajari materi matematika selanjutnya.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Proses Mengajar dan Belajar Matematika

Menurut Hudojo (1988), proses mengajar dan belajar dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:

a. Peserta Didik

Kegagalan dan keberhasilan belajar sangat tergantung kepada peserta didik. Hal ini meliputi kemampuan dan kesiapan peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar matematika, kondisi fisiologis peserta didik dan juga kondisi psikologis seperti perhatian, pengamatan, intelegensi dan sebagainya.

b. Pengajar

Pengajar melaksanakan kegiatan mengajar sehingga proses belajar diharapkan dapat berlangsung efektif. Kemampuan pengajar dalam menyampaikan matematika dan sekaligus menguasai materi yang diajarkan sangat mempengaruhi terjadinya proses belajar. Kepribadian, pengalaman dan motivasi pengajar dalam mengajar matematika juga berpengaruh terhadap efektifitas proses belajar. c. Pra Sarana dan Sarana

Pra sarana seperti ruangan yang sejuk dan bersih dengan tempat duduk yang nyaman biasanya lebih memperlancar terjadinya proses belajar. Demikian pula sarana yang lengkap seperti adanya

(34)

buku teks dan alat bantu belajar merupakan fasilitas belajar yang penting.

d. Penilaian

Penilaian dipergunakan di samping untuk melihat bagaimana hasil belajarnya, tetapi juga untuk melihat bagaimana berlangsungnya interaksi antara pengajar dan peserta didik. Fungsi penilaian dapat meningkatkan kegiatan belajar sehingga diharapkan memperbaiki hasil belajar. Di samping itu, penilaian juga mengacu pada proses belajar yakni bagaimana langkah-langkah berpikir peserta didik dalam menyelesaikan masalah matematika.

3. Pengertian Paradigma Pedagogi Reflektif

Menurut Subagja (2010), Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) adalah suatu pendekatan yang dilaksanakan pengajar untuk mendampingi siswanya dalam pembentukan pribadi secara penuh dan mendalam yang menjunjung nilai kemanusiaan. Keunggulan PPR adalah menjadikan para siswa dan guru saling belajar mengembangkan kompetensi secara utuh (competence), saling mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani (conscience) dan saling terlibat dengan penuh bela rasa bagi sesame (compassion).

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan polapikir dalam menumbuhkembangkan pribadi siswa menjadi pribadi kristiani/kemanusiaan (Tim Redaksi Kanisius: 2008). Hal tersebut dilakukan dengan memberikan siswa pengalaman, kemudian siswa

(35)

difasilitasi dengan pertanyaan agar mampu merefleksikan pengalaman tersebut, dan selanjutnya difasilitasi dengan pertanyaan aksi agar siswa mampu membuat niat dan berbuat sesuai dengan nilai-nilai yang baik.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa PPR adalah suatu pola pikir yang mempunyai tujuan untuk menumbuhkembangkan kristiani/kemanusiaan siswa melalui konteks, pengalaman yang dialami langsung oleh siswa, refleksi siswa berdasarkan pengalaman, aksi, dan selanjutnya melakukan evaluasi.

4. Dinamika Paradigma Pedagogi Reflektif

Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan proses belajar dengan mengikuti siklus: konteks, pengalaman, reflektif, aksi, dan evaluasi.

a. Konteks

Konteks berarti “dunia kehidupan” yang membentuk situasi terjadinya proses pembelajaran. Demi terselenggaranya kedalaman proses belajar maka pendidik maupun anggota-anggota lain dari komunitas sekolah perlu memperhatikan konteks yang mencakup empat hal yakni konteks nyata dari kehidupan siswa; konteks sosio-ekonomi, politik dan kebudayaan; suasana kelembagaan sekolah atau pusat belajar, dan pengertian-pengertian yang dibawa seorang siswa ketika memulai proses mengajar (Subagja, 2010: 45-48). Konteks dalam pembelajaran merupakan tahap awal yang membentuk siswa untuk belajar. Guru perlu memperhatikan

(36)

konteks dari setiap siswa agar pembelajaran yang diberikan sesuai dengan kemampuan siswa.

b. Pengalaman

Pengalaman menunjuk pada setiap kegiatan yang memuat pemahaman kognitif bahan yang disimak yang juga memuat unsur afeksi yang dihayati oleh pelajar. Pengalaman dapat didapat secara langsung atau secara tidak langsung. Pengalaman secara langsung bisa berlangsung lewat pembicaraan atau diskusi, penelitian dalam laboratorium kegiatan lintas alam, proyek pelayanan, mengambil bagian dalam olah raga, dan sebagainya. Sedangkan pengalaman secara tidak langsung lewat pengalaman pengganti seperti simulasi,

role playing, pemakaian audio-visual, dan sebagainya yang dapat

membantu (Subagja, 2010: 52-53). Pengalaman merujuk pada kegiatan yang mengembangakan kemampuan kognitif siswa

(competence). Guru dapat membuat variasi pengalaman dengan

menggunakan berbagai model pembelajaran dan juga macam-macam alat peraga sesuai materi yang diajarkan.

c. Refleksi

Refleksi berarti: menyimak kembali penuh perhatian bahan studi tertentu, pengalaman, ide-ide, usul-usul, atau reaksi spontan supaya dapat menangkap maknanya lebih mendalam. Proses untuk memunculkan makna dalam pengalaman manusiawi dapat dilakukan dengan: memahami kebenaran yang dipelajari secara

(37)

lebih baik, mengerti sumber-sumber perasaan dan reaksi yang dialami dalam menelaah sesuatu, memperdalam pemahaman tentang implikasi-implikasi bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, berusaha menemukan makna bagi diri pribadi tentang kejadian-kejadian, ide-ide, kebenaran atau pemutarbalikan dari kebenaran dan sebagainya, dan memahami siapa dirinya dan bagaimana seharusnya sikapnya terhadap orang lain (Subagja, 2010: 55-56). Refleksi merupakan suatu kegiatan pribadi yang diharapkan dapat melatih siswa untuk mengasah kepekaan dan ketajaman hati (conscience). Hasil kegiatan ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya.

d. Aksi

Aksi menunjuk pada pertumbuhan batin seseorang berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan dan juga pada manifestasi lahiriahnya. Aksi ini mencakup dua langkah yakni pilihan batin dan pilihan secara lahir. Pilihan-pilihan batin yang dimaksudkan adalah makna yang telah tertangkap oleh pelajar dan dianggap merupakan suatu kebenaran yang dapat dijadikan pegangan. Pilihan yang dinyatakan secara lahir merupakan perbuatan nyata pelajar yang terdorong oleh makna hidup telah menjadi keyakinan baru (Subagja, 2010: 61-62). Kegiatan aksi diharapkan dapat melatih siswa untuk lebih terlibat dalam kehidupan bersama dengan orang lain (compassion).

(38)

e. Evaluasi

Pedagogi Reflektif tidak hanya bermaksud mewujudkan pembentukan yang mencakup kemajuan akademik namun yang menjadi fokus perhatian adalah pertumbuhan pelajar yang menyeluruh sebagai pribadi demi sesama. Sehingga evaluasi berkala perkembangan pelajar dalam sikap, prioritas-prioritas, dan kegiatan-kegiatan selaras dengan sikap menjadi orang demi orang lain (man for others), amat penting. Penilaian menyeluruh ini kiranya tidak perlu dilakukan sesering menguji kemajuan studi, tetapi perlu direncanakan (Subagja, 2010: 63-65). Selain memberikan refleksi untuk melihat kembali hal-hal yang sudah dilakukan selama pembelajaran berlangsung, ciri khas PPR adalah bertujuan untuk meningkatkan tiga aspek competence, compassion, dan conscience. Competence merupakan kemampuan kompetensi secara utuh yang disebut juga dengan kemampuan kognitif (Subgaya 2010:23). Kemampuan kognitif dalam hal ini adalah kemampuan peserta didik untuk memecahkan soal sehingga mampu mendapatkan nilai yang tinggi. Conscience merupakan kemampuan afektif yang secara khusus mengasah kepekaan dan ketajaman hati nurani (Subagya 2010: 23). Ketajaman hati nurani dapat berupa kesadaran diri untuk bertindak sesuai dengan tauran yang berlaku, misal berbuat disiplin, teliti, atau jujur. Compassion merupakan aspek psikomotorik yang berupa tindakan konkret

(39)

maupun batin disertai bela rasa bagi sesama (Subagya 2010:24). Tindakan yang berupa bela rasa bagi sesama memuat rasa kepedulian, yang membuat peserta didik menyadari bahwa hubungan dengan sesama merupakan sesuatu hal yang penting. Oleh karena itu, aspek ini dapat diwujudkan dalam proses kerjasama antar peserta didik.

Tes, ulangan, ujian merupakan alat evaluasi untuk menilai seberapa jauh pengetahuan (competence) yang sudah dikuasai dan diperoleh pelajar. Sedangkan observasi perilaku siswa di kelas dapat dilakukan utuk menilai conscience dan compassion.

5. Teori Van Hiele

Walle (2008) menjabarkan tingkatan-tingkatan pemikiran geometris menurut teori Van Hiele yakni visualisasi, analisis, deduksi informal, deduksi, dan ketepatan.

a. Level 0 : Visualisasi

Visualisasi merupakan level saat siswa mulai mengenal dan mengamati bentuk-bentuk dalam geometri. Setelah mengamati bentuk-bentuk tersebut, diharapkan siswa mampu mengelompokkan ke dalam kelas-kelas dengan melihat kemiripan bentuknya. Dengan membuat pengelompokkan bentuk-bentuk, siswa mulai berimajinasi tentang bentuk-bentuk yang tergolong dalam kelompok tertentu.

(40)

b. Level 1 : Analisis

Siswa pada level analisis dapat menyatakan semua bentuk yang terdapat dalam satu kelompok. Dengan memfokuskan pada satu kelompok bentuk, siswa dapat berpikir tentang bagaimana sebuah bentuk tersebut terbentuk. Sehingga pada level ini para siswa mulai mengerti bahwa sebuah kumpulan bentuk tergolong serupa berdasarkan sifat/ciri-cirinya. Siswa pada level ini akan menyebutkan sifat-sifat dari bentuk sebanyak mungkin untuk mengenali sebuah bentuk.

c. Level 2 : Deduksi Informal

Siswa mulai dapat berpikir tentang sifat-sifat objek geometri tanpa batasan dari objek-objek tertentu, mereka dapat membuat hubungan di antara sifat-sifat tersebut. Bentuk-bentuk dapat digolongkan hanya dengan menggunakan pencirian yang minim dengan pemahaman “jika-maka”.

d. Level 3 : Deduksi

Level ini ditunjukkan dengan siswa mampu meneliti bukan hanya sifat-sifat bentuk saja. Siswa pada tingkat ini mampu bekerja dengan pernyataan-pernyataan abstrak tentang sifat-sifat geometris dan membuat kesimpulan lebih berdasarkan pada logika daripada naluri.

(41)

e. Level 4 : Ketepatan

Objek-objek perhatian pada level ini adalah sistem dasarnya sendiri, bukan hanya penyimpulannya dalam sistem. Hasil pemikiran pada level ini berupa perbandingan dan perbedaan di antara berbagai sistem-sistem geometri dasar.

Berdasarkan penjabaran di atas, teori Van Hiele merupakan teori yang menjelaskan tingkatan-tingkatan pemikiran yang diterapkan dalam mempelajari geometri. Tingkatan-tingkatan tersebut bertahap, untuk sampai ke tingkat berikutnya siswa harus menguasai pemikiran geometri pada tingkatan sebelumnya. Pengalaman geometri merupakan faktor tunggal terbesar dalam mempengaruhi perkembangan tingkatan-tingkatan tersebut. Sejumlah pengalaman dapat mempermudah (atau menghambat) kemajuan dalam satu tingkat ke satu tingkat yang lebih tinggi. Tahapan model pembelajaran Van Hiele sebagai berikut:

a. Informasi

Melalui diskusi, guru mengidentifikasi segala hal yang sudah ataupun yang belum diketahui oleh siswa mengenai sebuah topik (Nur’aeni: 2010, 32). Guru melibatkan siswa dalam percakapan atau aktifitas mengenai objek-objek dengan melakukan pengamatan, memunculkan pertanyaan, dan memperkenalkan kosakata khusus. Kegiatan tersebut untuk mengetahui pengetahuan dan bagaimana siswa menafsirkan

(42)

bahasa yang terkandung dalam topik tersebut serta menjelaskan mengapa siswa mempelajari topik tersebut.

b. Orientasi Terpadu

Siswa mulai mempelajari objek-objek pembelajaran dan tugas-tugas yang distrukturkan secara cermat dan teliti seperti pelipatan, pengukuran, atau pengkontruksian (Nur’aeni: 2010, 32). Siswa menerka topik secara aktif melalui tugas yang telah disusun oleh guru untuk mengenali objek-objek dari mana ide-ide geometri diabstrakkan. Guru memastikan siswa mempelajari konsep-konsep spesifik.

c. Eksplisitasi

Siswa menggambarkan objek-objek yang telah dipelajari (seperti ciri-ciri bentuk geometri) dengan menggunakan bahasa sendiri (Nur’aeni: 2010, 32). Selanjutnya guru memperkenalkan istilah geometri yang berkaitan dan mengajak siswa menggunakan dalam perkataan dan penulisan geometri. d. Orintasi Bebas

Siswa diarahkan untuk menerapkan hubungan-hubungan yang sedang dipelajari untuk memecahkan masalah dengan caranya sendiri (Nur’aeni: 2010, 32). Siswa mengaplikasikan apa yang telah dipelajari untuk menerapkan tugas kompleks yang memerlukan strategi penyelesaian yang lebih banyak.

(43)

e. Integrasi

Siswa meringkas dan mengintegrasikan apa yang telah dipelajari, dengan mengembangkan satu jaringan baru objek-objek dan relasi-relasi (Nur’aeni: 2010, 32). Pada tahap ini siswa telah memperoleh pemikiran baru untuk topik yang dipelajari dan dapat mengulangi fase-fase tersebut di tahap pemikiran selanjutnya.

6. Tinjauan Materi : Kubus

Dalam penelitian ini, materi yang akan dipelajari adalah bangun ruang sisi datar pada sub-bab Kubus. Materi ini merupakan salah satu materi geometri yang dipelajari di SMP kelas VIII semester genap. Materi kubus yang dipelajari adalah sebagai berikut:

a. Pengertian Kubus

Kubus adalah suatu bangun yang dibatasi oleh enam bidang datar yang masing-masing berbentuk persegi yang sama dan sebangun (Ensiklopedia Matematika, 2011). Menurut Marsigit, kubus merupakan suatu prisma segi empat beraturanyang semua sisi tegak dan alasnya berbentuk persegi.

Sehingga dapat disimpulkan kubus adalah bangun ruang sisi datar yang dibatasi oleh enam daerah persegi. Kubus diberi nama sesuai dengan nama titik-titik sudut pada bidang alas dan bidang atas kubus tersebut. Kubus merupakan bangun ruang sehingga garis yang tidak tampak digambarkan oleh garis putus-putus.

(44)

D F A B E G C H

b. Sebuah kubus ABCD.EFGH memiliki bagian-bagian sebagai berikut:

1) Sisi

Daerah persegi pada kubus dinamakan bidang sisi atau sisi

kubus. Salah satu sisi dinamakan bidang alas, yaitu sisi ABCD.

Sisi yang berhadapan dengan alas dinamakan bidang atas atau

sisi atas atau tutup, yaitu sisi EFGH. Sisi-sisi lainnya dinamakan sisi tegak, yaitu sisi ABFE, BCGF, CDHG,dan ADHE.

2) Rusuk

Pertemuan dua sisi berupa ruas garis dinamakan rusuk. Rusuk-rusuk bidang alas dinamakan rusuk-rusuk alas yaitu AB, BC, CD dan AD, rusuk bidang atas dinamakan

rusuk-rusuk atas yaitu EF, FG, GH dan HE. Sedangkan yang lain

dinamakan rusuk-rusuk tegak yaitu AE, BF, CG dan DH. Gambar 2.1 Kubus

(45)

3) Titik Sudut Kubus

Pertemuan 3 rusuk dinamakan titik sudut kubus. Titik sudut kubus juga merupakan pertemuan tiga bidang sisi. Kubus memiliki 8 titik sudut yaitu A, B, C, D, E, F, G, dan H.

4) Diagonal Sisi

Diagonal suatu sisi kubus dinamakan

diagonal sisi. Kubus memiliki 12

diagonal sisi yaitu AF, BE, BG, CF, CH, DG, DE, AH, AC, BD, EG, dan FH. Jika sebuah kubus dengan panjang rusuk satuan panjang maka diagonal sisi kubus tersebut adalah satuan panjang.

5) Diagonal Ruang

Garis yang menghubungkan dua titik sudut yang tidak sebidang dalam kubus

dinamakan diagonal ruang.

Kubus memiliki 4 diagonal ruang yaitu EC, FD, GA, dan HB. Jika sebuah kubus dengan panjang rusuk satuan panjang maka diagonal ruang kubus tersebut adalah satuan panjang.

Gambar 2.2 Diagonal Sisi

Gambar 2.3 Diagonal Ruang

(46)

6) Bidang Diagonal

Bidang diagonalsuatu kubus adalah bidang yang dibatasi oleh dua rusuk dan dua diagonal bidang

suatu kubus. Kubus memiliki 6 bidang diagonal yaitu ACGE, BDHF, ABGH, DCFE, ADGF, dan BCHE.

c. Sifat-sifat Kubus

Sebuah kubus memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1) Memiliki 6 sisi berbentuk persegi yang kongruen 2) Memiliki 12 rusuk yang sama panjang

3) Memiliki 8 titik sudut

4) Memiliki 12 diagonal sisi yang sama panjang

5) Memiliki 4 diagonal ruang yang sama panjang dan berpotongan di satu titik

6) Memiliki 6 bidang diagonal bebrbentuk persegi panjang yang kongruen

d.Jaring-jaring Kubus

Jaring-jaring kubus merupakan rangkaian bidang datar yang apabila dipasang atau dirangkaikan akan membentuk sebuah kubus.

Gambar 2.4 Bidang Diagonal

(47)

Gambar 2.5 Jaring-jaring kubus Berikut contoh dari jaring jaring kubus.

e. uas Permukaan Kubus

Dari gambar 2.5 di atas terlihat suatu kubus beserta jaring-jaringnya. Untuk mencari luas permukaan kubus dengan menghitung luas seluruh persegi yang ada, maka :

Luas permukaan kubus f. Volume Kubus

Gambar 2.6 Visualisasi Volume Kubus

Gambar (a) merupakan kubus satuan yang memiliki panjang rusuk 1 satuan panjang. Volume kubus satuan = (1 x 1 x 1) satuan volume = 1 satuan volume.

Gambar (b) merupakan kubus yang memiliki panjang rusuk 2 satuan panjang. Kubus tersebut akan diisi kubus satuan, sehingga

H D G C G F B F H H E F G E

(48)

banyak kubus satuan yang diperlukan adalah 8 kubus satuan. Dengan ukuran (2 x 2 x 2) sehingga diperoleh volume kubus tersebut adalah 8 satuan volume.

Gambar (c) merupakan kubus yang memiliki panjang rusuk 3 satuan panjang. Kubus tersebut juga akan diisi kubus satuan, banyak kubus satuan yang diperlukan adalah 27 kubus satuan. Dengan ukuran (3 x 3 x 3) sehingga diperoleh volume kubus tersebut adalah 27 satuan volume.

Dengan demikian, volume kubus (V) yang memiliki panjang rusuk dirumuskan sebagai berikut.

7. Perangkat Pembelajaran

Perangkat pembelajaran adalah perangkat yang dipergunakan dalam proses pembelajaran. Ibrahim (dalam Trianto, 2010: 96) berpendapat bahwa Perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam mengelola proses belajar dan mengajar meliputi : silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan instrumen penilaian.

a. Silabus

Menurut Trianto (2009: 96) silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,

(49)

pencapaian kompetensi untuk penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar. Mulyasa (2009: 133) mengungkapkan silabus merupakan penjabaran lebih rinci dari Standar kompetensi dan kompetensi dasar yang minimal memuat kompetensi dasar, materi standar dan hasil belajar yang harus dimiliki oleh peserta didik sehubungan dengan suatu mata pelajaran. Silabus adalah rancangan pembelajaran yang berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokkan, pengurutan dan penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan kebutuhan daerah setempat (Majid, 2009: 38-39).

Menurut pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa silabus adalah seperangkat rencana pembelajaran untuk setiap mata pelajaran yang memuat kompetensi dasar, indikator, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, penilaian dan sumber belajar.

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Menurut Trianto (2010: 108) RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus. Hosnan (2014: 99) mengungkapkan bahwa RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus

(50)

untuk mengarahlan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa RPP adalah pedoman bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk satu pertemuan atau lebih dalam upaya mencapai kompetensi dasar.

c. Lembar Kerja Siswa (LKS)

Lembar Kerja Siswa adalah panduan siswa yang digunakan untuk melakukan kegiatan penyelidikan atau pemecahan masalah. LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya pembentukan kemampuan dasar sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus ditempuh (Trianto, 2010: 111).

d. Bahan Ajar

Trianto (2010: 112) mengungkapkan bahwa buku siswa adalah buku panduan bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi, konsep-konsep, informasi, dan contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari. Hidayat (2013:62) mengungkapkan bahwa bahan ajar adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar berupa bahan tulis maupun bahan tidak tertulis (Majid, 2009: 173).

(51)

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahan ajar merupakan panduan bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dapat berupa bahan tertulis maupun tidak tertulis.

e. Instrumen Penilaian

Trianto (2010) mengungkapkan bahwa penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa. Sejalan dengan hal tersebut, Abdul Majid (2009: 186-187) mengungkapkan penilaian adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan anak didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan telah benar-benar dikuasai dan dicapai. Penilaian hasil belajar merupakan suatu kegiatan untuk mengukur perubahan perilaku yang telah terjadi pada peserta didik. Standar Nasional Pendidikan mengungkapkan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk penilaian harian, penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, dan penilaian kenaikan kelas (Mulyasa, 2009: 208).

(52)

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut maka disimpulkan bahwa instrumen penilaian merupakan instrumen yang digunakan dalam proses mengukur seberapa jauh siswa belajar dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian mengenai implementasi PPR dalam pembelajaran kubus menggunakan teori Van Hiele merupakan hal yang relatif baru, sehingga sumber penelitian yang relevan yang diperoleh masih sedikit. Berikut penelitian relevan yang sesuai dengan implementasi PPR dan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan teori Van Hiele.

Penelitian pertama mengenai implementasi PPR; berupa skripsi (skripsi: tidak diterbitkan) berjudul “Implementasi Paradigma Pedagogi Reflektif pada Pembelajaran Keterampilan Berdiskusi Siswa Kelas VIII SMP N 8 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016” yang dilakukan oleh Trisnaningsari (2015). Penelitian ini menunjukkan keefektifan penerapan dengan nilai signifikasi dalam uji-t pada perbedaan nilai post-test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu 0,77.

Penelitian kedua mengenai pengembangan perangkat pembelajaran menggunakan teori Van Hiele; berupa skripsi (skripsi: tidak diterbitkan) berjudul “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mengakomodasi Teori Van Hiele Materi Bangun Ruang Sisi Datar dengan Pendekatan Saintifik pada Siswa Kelas VIII B SMP Pangudi Luhur 1 Kalibawang” yang dilakukan oleh Wulandari (2015). Penelitian ini menghasilkan produk

(53)

perangkat pembelajaran yang memiliki skor rerata 3,29 dengan kategori sangat baik.

Kedua penelitian tersebut mendasari peneliti untuk meneliti implementasi PPR dalam pembelajaran kubus dengan menggunakan teori Van Hiele pada kelas VIII. Relevansi dari penelitian tersebut adalah pada penelitian pertama telah meneliti implementasi PPR pada pembelajaran keterampilan berdiskusi siswa kelas VIII. Hasil penelitian menunjukkan keefektifan yang baik bagi kelas ekperimen dibandingkan dengan kelas control sehingga peneliti menggunakan PPR dalam pembelajaran matematika pada materi kubus. Pada penelitian kedua teori Van Hiele digunakan sebagai dasar pengembangan perangkat pembelajaran geometri dalam materi prisma dan limas pada siswa SMP. Perangkat yang dihasilkan termasuk dalam kategori sangat baik. Peneliti mengakomodasi teori Van Hiele pada siswa SMP namun dalam materi kubus. Berdasarkan dua penelitian tersebut peneliti menerapkan perangkat pembelajaran menggunakan PPR pada topik kubus yang mengakomodasi teori Van Hiele pada siswa kelas VIII.

C. Kerangka Berpikir

Pembelajaran matematika saat ini dirasakan terlalu monoton sehingga banyak siswa yang tidak menyukai matematika. Selain itu, banyak guru masih belum mengaitkan pembelajaran matematika dengan kehidupan sehari-hari dan juga belum menanamkan pendidikan sikap pada pembelajaran yang dilaksanakan. Menurut hasil observasi di SMP

(54)

Kanisius Kalasan, pembelajaran matematika yang dilaksanakan belum menunjukkan pelaksanaan PPR dengan maksimal. Di sisi lain, banyak siswa masih kesulitan dalam mempelajari materi geometri. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika SMP Kanisius Kalasan, sebagian siswa masih kesulitan dalam memvisualisasikan bangun ruang yang dimaksud.

Paradigma pedagogi reflektif yang melalui lima langkah yang saling berkesinambungan, yaitu konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi diharapkan dapat membuat siswa mengalami sendiri pembelajaran sehingga tidak hanya menerima ilmu dari guru.Selain mengembangkan kemampuan kognitif pembelajaran dengan paradigma ini juga diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai kemanusiaan siswa. Teori Van Hiele adalah suatu teori tentang tingkat berpikir siswa dalam mempelajari geometri. Teori ini memuat lima tingkat berpikir. Sedangkan untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 langkah yaitu: informasi, orientasi terpadu, penjelasan, orientasi bebas, dan integrasi. Melalui tingkat berpikir yang berurutan diharapkan siswa lebih mudah dalam mempelajari materi geometri.

Oleh sebab itu, peneliti menerapkan perangkat pembelajaran menggunakan Paradigma Pedagogi Reflektif yang telah diujicoba oleh peneliti sebelumnya di SMP Negeri 1 Yogyakarta dalam pembelajaran kubus yang mengakomodasi teori Van Hiele pada siswa kelas VIII A SMP

(55)

Kanisius Kalasan. Melalui penelitian ini diharapkan antusias siswa dalam mempelajari matematika khususnya pada topik kubus meningkat. Selain itu, melalui pembelajaran ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan kognitif sekaligus kemampuan sosial siswa.

(56)

34 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan implementasi perangkat pembelajaran dengan PPR pada topik kubus yang menggunakan teori van Hiele untuk siswa kelas VIIII SMP Kanisius Kalasan. Perangkat pembelajaran yang digunakan merupakan perangkat yang telah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya.Oleh sebab itu, jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif ialah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan perhatian kepada masalah-masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian berlangsung (Trianto, 2011: 197). Menurut Moleong (2009: 6) penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll., secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Fenomena yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pembelajaran dengan Paradigma Pedagogi Reflektif pada topik kubus. Peneliti berusaha mendeskripsikan implementasi perangkat pembelajaran dengan Paradigma

(57)

Pedagogi Reflektif pada topik kubus di kelas VIII A SMP Kanisiun Kalasan.

B. Setting Penelitian 1. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan yang terdiri dari 12 siswa perempuan dan 19 siswa laki-laki dengan tingkat kecerdasan yang relatif heterogen.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah implementasi perangkat pembelajaran yang telah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya yaitu menggunakan pendekatan PPR dalam pembelajaran kubus dengan menggunakan teori van Hiele. Perangkat pembelajaran tersebut telah digunakan dalam pembelajaran uji coba yang dilakukan di SMP Negeri 1 Yogyakarta.

3. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Kanisius Kalasan yang beralamat di Krajan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta pada tahun ajaran 2015/2016 semester II.

4. Waktu Penelitian

Peneliti menyelesaikan penelitian ini selama 6 bulan yakni dari bulan Maret 2016 sampai bulan Juli 2016. Penelitian dimulai dengan melakukan observasi dan wawancara pada bulan Maret 2016

(58)

dilanjutkan pelaksanaan pembelajaran pada bulan April 2016 hingga diakhiri ujian skripsi pada bulan Juli 2016.

C. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yaitu wawancara, observasi, penyebaran kuesioner, dan dokumentasi.

1. Wawancara

Peneliti menggunakan teknik wawancara untuk memperoleh gambaran mengenai pembelajaran materi bangun ruang sisi datar dan proses pelaksanaan pembelajaran PPR di sekolah. Menurut Esterberg (dalam Sugiyono, 2013: 231) wawancara didefinisikan sebagai pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada guru mata pelajaran matematika kelas VIII A SMP Kanisius Kalasan.

2. Observasi

Observasi dalam penelitian ini bertujuan untuk mengamati proses pembelajaran di kelas. Menurut Sugiyono (2013: 145), observasi digunakan apabila penelitian berkenaan dengan perilaku manusisa, proses kerja, gejala-gejala alam. Peneliti melakukan observasi untuk mendapatkan informasi karakteristik siswa kelas VIII A, proses pembelajaran yang berlangsung di kelas dan juga informasi mengenai implementasi perangkat pembelajaran.

(59)

3. Penyebaran Kuesioner

Menurut Sugiyono (2013: 142) kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden. Penyebaran kuesioner dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon siswa setelah implementasi perangkat pembelajaran dengan PPR pada topik kubus yang menggunakan teori Van Hiele .

4. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen dapat berupa tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2013: 240). Dokumen dalam penelitian ini berupa rekaman video saat proses pembelajaran yang telah ditanskripsikan.

D. Instrumen Penelitian 1. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data yang berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara dengan guru mata pelajaran dan analisis implementasi pendekatan PPR pada pembelajaran kubus dengan menggunakan teori van Hiele berdasarkan transkripsi video pembelajaran. Sedangkan data kuantitatif diperoleh dari lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, hasil penilaian competence,

(60)

2. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar wawancara, lembar observasi, dan lembar kuesioner.

a. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara digunakan sebagai pedoman ketika peneliti melakukan wawancara dengan guru mata pelajaran matematika. Pedoman wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai proses pembelajaran matematika pada materi bangun ruang sisi datar datar. Kisi-kisi pedoman wawancara yang digunakan disajikan pada tabel 3.1.

Tabel 3.1 Kisi-kisi Pedoman Wawancara

No Indikator No Item

1. Pendekatan/strategi pembelajaran 1-6

2. Materi pelajaran 7-16

3. Pemanfaatan media pembelajaran/sumber belajar 17-24 4. Pemilainaian proses dan hasil belajar 25-32

Kisi-kisi tersebut selanjutnya digunakan untuk membuat pertanyaan-pertanyaan wawancara. Pedoman wawancara tersebut telah divalidasi oleh ahli yakni dosen.

b. Lembar Observasi

Lembar observasi digunakan sebagai panduan untuk melihat proses pembelajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk melihat karakteristik siswa secara umum serta melihat keterlaksanaan pendekatan Paradigma Pedagogi Reflektif dalam pembelajaran bersama guru mata pelajaran. Selain itu, lembar

(61)

observasi juga digunakan peneliti untuk mengamati implementasi PPR pada topik kubus dengan menggunakan teori van Hiele. Lembar observasi yang digunakan disajikan pada tabel 3.2.

Tabel 3.2 Lembar Observasi

NO ASPEK YANG DIAMATI

I. PRAPEMBELAJARAN

1. Memeriksa kesiapan ruang, alat pembelajaran, dan media 2. Memeriksa kesiapansiswa

II. MEMBUKA PEMBELAJARAN (Konteks) 1. Melakukan kegiatan apersepsi

(Mengingatkan materi bangun ruang sisi datar sebelumnya seperti : kubus,balok, dan prisma)

2. Menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan rencana kegiatannya

3. Memberikan penguatan yang mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari ( memberi contoh bentuk bangun ruang dalam kehidupan sehari hari)

III. KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN (Pengalaman) A. Penguasaan materi pelajaran

1. Menunjukkan penguasaan materi pembelajaran

2. Mengaitkan materi dengan pengetahun lain yang relevan 3. Menyampaikan materi sesuai dengan hierarki belajar 4. Mengaitkan materi dengan realitas kehidupan B. Pendekatan/strategi pembelajaran

1 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai (competence, consience, compassion)

2 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa

3 Melaksanakan pembelajaran secara runtut 4 Melaksanakan pembelajaran yang terkoordinasi 5 Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual 6 Mengkomodasi adanya keragaman budaya Nusantara

7 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif : teliti, kritis, logis (consience)

8 Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan waktu yang telah dialokasikan

9 Melaksanakan pembelajaran sesuai tahapan berfikir anak menurut teori Van Hiele

10 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya sikap peduli, kerja sama (compassion)

11 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat bekerja dalam kelompok

12 Melaksanakan pembelajaran yang memacu siswa untuk menemukan konsep materi secara mandiri.

(62)

13 Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan rasa kepercayaan diri siswa (seperti mempresentasikan hasil kerja kelompok atau mengemukakan pendapat)

14 Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk dapat mengeksplor atau menggali materi pembelajaran secara detail.

15 Melaksanakan pembelajaran yang memacu siswa untuk dapat berfikir aktif dan kreatif dalam menyelesaiikan permasalahan. C Pemanfaatan media pembelajaran/sumber belajar

1 Menunjukkan keterampilandalam penggunaan media

2 Menghasilkan pesanyang menarik (penggunaan jaring-jaring untuk menghitung luas permukaan bangun ruang sisi datar)

3 Menggunakan media secara efektif dan efisien

4 Melibatkan siswa dalam pemanfaatan media (seperti memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan unsur-unsur bangun ruang sisi datar)

D Pembelajaran yang memicu dan memelihara keterlibatan siswa

1 Menumbuhkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran 2 Merespons positif partisipasi siswa

3 Memfasilitasi terjadinya interaksi guru-siswa dan siswa-siswa 4 Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons siswa

5 Menunjukkanhubungan antar pribadi yang kondusif (seperti berdiskusi dalam pembimbingan pembelajaran)

6 Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam belajar E Penilaian proses dan hasil belajar (Evaluasi)

1 Melakukan penilaian awal

2 Memantau kemajuan belajar (seperti melihat perkembangan siswa melalui soal latihan)

3 Memberikan tugas sesuai dengan kompetensi

4 Melakukan penilaian akhir sesuai dengan kompetensi F Penggunaan bahasa

1 Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar 2 Menggunakan bahasatulis yang baik dan benar 3 Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai IV PENUTUP (Refleksi)

A Refleksi dan rangkuman pembelajaran

1 Melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan siswa (melakukan refleksi dengan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari)

2 Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa B Pelaksanaan tindak lanjut (Aksi)

1 Memberikan tugas atau kegiatan tindak lanjut dari refleksi siswa Lembar observasi tersebut telah divalidasi oleh ahli yakni dosen. Lembar observasi tersebut diisi oleh observer dengan memberi skor untuk setiap pernyataan antara 1 sampai 5.

Figur

Gambar 2.1 Kubus

Gambar 2.1

Kubus p.44
Gambar 2.2 Diagonal Sisi

Gambar 2.2

Diagonal Sisi p.45
Gambar 2.4 Bidang  Diagonal

Gambar 2.4

Bidang Diagonal p.46
Gambar 2.5 Jaring-jaring kubus Berikut contoh dari jaring jaring kubus.

Gambar 2.5

Jaring-jaring kubus Berikut contoh dari jaring jaring kubus. p.47
Tabel 3.1 Kisi-kisi Pedoman Wawancara

Tabel 3.1

Kisi-kisi Pedoman Wawancara p.60
Tabel 3.2 Lembar Observasi

Tabel 3.2

Lembar Observasi p.61
Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Respon Siswa

Tabel 3.3

Kisi-kisi Kuesioner Respon Siswa p.63
Tabel 3.4 Kisi-kisi Soal Ulangan

Tabel 3.4

Kisi-kisi Soal Ulangan p.64
Tabel 3.5 Hasil Validasi Instrumen Penelitian

Tabel 3.5

Hasil Validasi Instrumen Penelitian p.65
Tabel 3.7 Tabel Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran  No  Perangkat

Tabel 3.7

Tabel Hasil Validasi Perangkat Pembelajaran No Perangkat p.66
Tabel 3.8 Kriteria Penilaian Keterlaksanaan Pembelajaran  Interval tingkat pencapaian  Kategori

Tabel 3.8

Kriteria Penilaian Keterlaksanaan Pembelajaran Interval tingkat pencapaian Kategori p.70
Tabel 4.1 Jadwal Pengamatan/Observasi Guru  No  Kegiatan  Pembelajaran   Hari,  Tanggal   Waktu   Tempat

Tabel 4.1

Jadwal Pengamatan/Observasi Guru No Kegiatan Pembelajaran Hari, Tanggal Waktu Tempat p.74
Tabel 4.2 Data Keterlaksaan Implementasi Perangkat Pembelajaran  No  Pertemuan ke-  Skor rata-rata  Kriteria penilaian

Tabel 4.2

Data Keterlaksaan Implementasi Perangkat Pembelajaran No Pertemuan ke- Skor rata-rata Kriteria penilaian p.79
Tabel 4.3 Hasil Ulangan Harian Kubus  No  Interval Nilai  Banyak Siswa

Tabel 4.3

Hasil Ulangan Harian Kubus No Interval Nilai Banyak Siswa p.80
Tabel 4.4 Hasil Analisis per Indikator  No  Soal   Indikator  Jumlah Skor   Jumlah Skor  Maks  Persentase  Ketuntasan (%)  1

Tabel 4.4

Hasil Analisis per Indikator No Soal Indikator Jumlah Skor Jumlah Skor Maks Persentase Ketuntasan (%) 1 p.81
Tabel 4.6 Hasil Analisis per Indikator  No  Soal   Indikator  Jumlah Skor   Jumlah Skor  Maks  Persentase  Ketuntasan (%)  1

Tabel 4.6

Hasil Analisis per Indikator No Soal Indikator Jumlah Skor Jumlah Skor Maks Persentase Ketuntasan (%) 1 p.82
Tabel 4.7 Penilaian Conscience

Tabel 4.7

Penilaian Conscience p.83
Tabel 4.8 Penilaian Compassion

Tabel 4.8

Penilaian Compassion p.84
Gambar 4.1 Contoh benda berbentuk kubus

Gambar 4.1

Contoh benda berbentuk kubus p.87
Gambar 4.3 Alat peraga mencari rumus volume kubus  (digunakan oleh peneliti)

Gambar 4.3

Alat peraga mencari rumus volume kubus (digunakan oleh peneliti) p.90
Gambar 4.4 Alat peraga mencari rumus volume kubus  (digunakan oleh siswa)

Gambar 4.4

Alat peraga mencari rumus volume kubus (digunakan oleh siswa) p.91
Gambar 4.5 Alat peraga berbentuk kubus

Gambar 4.5

Alat peraga berbentuk kubus p.94
Gambar 4.6 Siswa mengiris kubus sesuai dengan tandanya

Gambar 4.6

Siswa mengiris kubus sesuai dengan tandanya p.95
Gambar 4.7 Siswa menggunakan alat peraga

Gambar 4.7

Siswa menggunakan alat peraga p.100

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :