5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355); 6.

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI NOMOR 13 TAHUN 2011

TENTANG

PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI KUANTAN SINGINGI,

Menimbang : a. bahwa barang milik daerah sebagai salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah, maka barang milik daerah perlu dikelola secara tertib agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam rangka mendukung penyelenggaraan Otonomi Daerah;

b. bahwa dalam rangka menjamin terlaksanannya tertib administrasi dan tertib pengelolaan barang milik daerah serta pengamanan Barang Daerah, perlu dilakukan pemantapan pengelolaan administrasi secara profesional;

c. bahwa sesuai dengan amanat dari Pasal 81 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah, dinyatakan bahwa Pengelolaan Barang Daerah diatur dalam Peraturan Daerah;

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, b dan c, perlu membentuk Peraturan Daerah Kabupaten Kuantan Singingi tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851); 2. Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara 1999 Nomor 169,Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890 );

3. Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Siak, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kuantan Singingi dan Kota Batam (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 181, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4286);

4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355 );

(2)

5. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4355);

6. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4389);

7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437), sebagaimana telah dilakukan beberapa kali perubahan, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4844);

8. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4438);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 1971 tentang Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas Milik Negara (Lembaran Negara Tahun 1971 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 67);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Penggunaan dan Pengalihan Barang Milik Negara dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4037 );

11. Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4574);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4575);

13. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4576);

14. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4577);

15. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelola Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4578);

16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan, antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4743).

17. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4855 );

(3)

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI dan

BUPATI KUANTAN SINGINGI MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kabupaten Kuantan Singingi.

2. Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

4. Pemerintah Daerah adalah pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi yang terdiri dari Kepala Daerah beserta Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah;

5. Bupati adalah Bupati Kuantan Singingi.

6. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah badan legislatif daerah Kabupaten Kuantan Singingi.

7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang selanjutnya disebut APBD adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Kuantan Singingi.

8. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.

9. Barang Daerah adalah semua Kelengkapan Daerah baik yang dimiliki maupun yang dikuasai berwujud, baik yang bergerak maupun tidak bergerak beserta bagian-bagiannya ataupun yang merupakan satuan tertentu yang dapat dinilai, dihitung, diukur atau ditimbang termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan kecuali uang atau surat-surat berharga lainnya.

10. Pengelola Barang adalah pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab menetapkan kebijakan dan pedoman serta melakukan pengelolaan Barang Milik Daerah.

11. Pembantu Pengelola barang milik daerah selanjutnya disebut pembantu pengelola adalah pejabat yang bertanggung jawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada satuan kerja perangkat daerah.

12. Kuasa Pengguna Barang adalah Kepala Unit Kerja atau Pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Barang untuk menggunakan barang yang berada dalam penguasaannya dengan sebaik-baiknya.

13. Pengelolaan barang milik daerah adalah rangkaian kegiatan dan tindakan terhadap barang daerah yang meliputi perencanaan, penentuan kebutuhan, penganggaran, Standarisasi barang dan harga, pengadaan, penyimpanan, penyaluran, inventarisasi, pengendalian, pemeliharaan, pengamanan, pemanfaatan, perubahan status hukum serta penatausahaannya.

(4)

14. Pengguna Barang adalah Pejabat pemegang kewenangan Penggunaan barang milik daerah. 15. Penyimpan barang milik daerah adalah pegawai yang diserahi tugas untuk menerima,

menyimpan dan mengeluarkan barang.

16. Pengurus barang adalah Pegawai yang diserahi tugas untuk mengurus barang daerah dalam proses pemakaian yang ada disetiap Satuan Kerja Perangkat Daerah/ SKPD.

17. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah perangkat daerah selaku pengguna barang.

18. Bagian Perlengkapan adalah unit kerja pada Sekretariat Daerah selaku pembantu pengelola barang milik daerah yang bertanggung jawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah.

19. Unit Pelaksana Teknis Dinas/ Badan adalah bagian SKPD selaku kuasa pengguna barang. 20. Kas Umum Daerah yang selanjutnya disebut Kas Daerah adalah tempat penyimpanan uang

daerah yang ditentukan oleh Bupati untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah.

21. Rumah Daerah adalah rumah yang dimiliki pemerintah daerah yang ditempati oleh pejabat tertentu atau Pegawai Negeri Sipil.

22. Perencanaan Kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan barang milik daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam melakukan tindakan pemenuhan kebutuhan yang akan datang. 23. Pengadaan adalah kegiatan untuk melakukan pemenuhan kebutuhan barang milik daerah dan

jasa.

24. Penyaluran adalah kegiatan untuk menyalurkan/ pengiriman barang milik daerah dari gudang ke unit kerja pemakai.

25. Pemeliharaan adalah kegiatan atau tindakan yang dilakukan agar semua barang milik daerah selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna. 26. Pengamanan adalah kegiatan tindakan pengendalian dalam pengurusan barang milik daerah

dalam bentuk fisik, administratif dan tindakan upaya hukum.

27. Penggunaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengguna/ kuasa pengguna dalam mengelola dan menatausahakan barang milik daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah(SKPD) yang bersangkutan.

28. Pemanfaatan adalah pendayagunaan barang milik daerah yang tidak dipergunakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam bentuk sewa, pinjam pakai kerjasama pemanfaatan, bangun serah dan bangun serah terima dengan tidak mengubah status kepemilikan.

29. Sewa adalah pemanfaatan Barang milik daerah oleh pihak lain dalam waktu tertentu dengan menerima imbalan dan menjadi pendapatan asli daerah..(uang tunai).

30. Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan barang antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah dalam waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada pengelolah.

31. Kerjasama pemanfataan adalah pendayagunaan barang milik daerah oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan pendapatan daerah dan sumber pembiayaan lainnya.

32. Bangun guna serah adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/ atau sarana berikut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang telah disepakati, untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan dan/ atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu.

(5)

33. Bangun serah guna adalah pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan/ atau sarana beserta fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya diserahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang disepakati.

34. Penghapusan adalah tindakan menghapus barang milik daerah dari daftar barang dengan menerbitkan surat keputusan dari pejabat yang berwenang untuk membebaskan pengguna dan/ atau kuasa pengguna dan/ atau pengolah dari tanggung jawab administrasi dan fisik atas barang yang berada dalam penguasaannya.

35. Pemindahtanganan adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah sebagai tindak lanjut dari penghapusan dengan cara dijual, dipertukarkan/ dihibahkan atau disertakan sebagai modal Pemerintah Daerah.

36. Penjualan adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah kepada pihak lain dengan menerima penggantian dalam bentuk uang.

37. Tukar-menukar barang milik daerah adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah yang dilakukan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat, antar Pemerintah Daerah, atau antara Pemerintah Daerah dengan pihak lain, dengan menerima penggantian dalam bentuk barang, sekurang-kurangnya dengan nilai seimbang.

38. Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari Pemerintah Daerah kepada Pemerintah, antar Pemerintah Daerah, atau dari Pemerintah Daerah kepada pihak lain, tanpa memperoleh penggantian.

39. Penyertaan modal Pemerintah Daerah adalah pengalihan kepemilikan barang milik daerah yang semula merupakan yang tidak dipisahkan menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal/ saham daerah pada Badan Usaha Milik Negara/ Daerah atau Badan Hukum lainnya.

40. Penatausahaan adalah rangkaian yang meliputi pembukuan, inventarisasi dan pelaporan barang milik daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

41. Inventarisasi adalah kegiatan untuk melakukan pendapatan, pencatatan, dan pelaporan hasil pendapatan barang milik daerah.

42. Penilaian adalah suatu proses kegiatan penelitian yang selektif didasarkan pada data/ fakta yang objektif dan relevan dengan menggunakan metode/ teknis tertentu untuk memperoleh nilai barang milik daerah.

43. Daftar Barang Pengguna yang selanjutnya disingkat dengan DBP adalah daftar yang memuat data barang yang digunakan oleh masing-masing Pengguna Barang.

44. Daftar Barang Kuasa Pengguna, yang selanjutnya disingkat dengan DBKP adalah daftar yang memuat data barang yang dimilki oleh masing-masing Kuasa Pengguna Barang.

45. Standarisasi sarana dan prasarana kerja Pemerintah Daerah adalah pembakuan ruang kantor, perlengkapan kantor, rumah dinas, kendaraan dinas dan lain-lain barang yang memerlukan standarisasi.

46. Standarisasi harga adalah penetapan besaran harga barang sesuai jenis, spesifikasi dan kualitas dalam 1 (satu) periode tertentu.

47. Pihak lain adalah pihak-pihak selain Satuan Kerja Perangkat Daerah. BAB II

ASAS, MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2

Pengeloaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan asas fungsional, kepastian hukum, transparansi dan keterbukaan, efisiensi, akuntabilitas dan kepastian nilai.

(6)

Pasal 3 Pengelolaan barang milik daerah bermaksud untuk : a. mengamankan barang milik daerah;

b. menyeragamkan langkah-langkah dan tindakan dalam pengelolaan barang milik daerah. Pasal 4

Pengelolaan barang milik daerah bertujuan untuk :

a. menunjang kelancaran pelaksanaan peyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah.

b. terwujudnya akuntabilitas dalam pengelolaan barang milik daerah.

c. terwujudnya pengelolaan barang milik daerah yang tertib, efektif dan efisien. Pasal 5

Pengelolaan barang milik daerah sebagai bagian dari pengelolaan keuangan daerah. BAB III

RUANG LINGKUP Pasal 6

(1) Barang milik daerah meliputi :

a. barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD; b. barang yang berasal dari perolehan lainnya yang sah. (2) Barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b meliputi :

a. barang yang diperoleh dari hibah/ sumbangan atau yang sejenis; b. barang yang diperoleh sebagai pelaksanaan dari perjanjian/ kontrak;

c. barang yang diperoleh berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

d. barang yang diperoleh berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Pasal 7 Pengelolaan barang milik daerah meliputi :

a. perencanaan kebutuhan dan penganggaran; b. pengadaan;

c. penerimaan, penyimpanan dan penyaluran; d. penggunaan;

e. penatausahaan; f. pemanfaatan;

g. pengamanan dan pemeliharaan; h. penilaian;

i. penghapusan; j. pemindahtanganan;

k. pembinaan, pengawasan dan pengendalian; l. pembiayaan; dan

(7)

BAB IV

PENGELOLA BARANG MILIK DAERAH Pasal 8

(1) Bupati adalah pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah.

(2) Bupati sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah berwenang dan bertanggung jawab atas pembinaan dan pengelolaan barang milik daerah.

(3) Bupati selaku pemegang kekuasaan pengelolaan barang milik daerah berwenang : a. menetapkan kebijakan pengelolaan barang milik daerah;

b. menetapkan penggunaan, pemanfaatan atau pemindahtanganan tanah dan bangunan; c. menetapkan kebijakan pengamanan barang milik daerah;

d. mengajukan usul pemindahtanganan dan penghapusan barang milik daerah;

e. menyetujui usul pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/ atau bangunan.

(4) Bupati dalam rangka pelaksanaan pengelolaan barang milik daerah sesuai dengan fungsinya dibantu oleh :

a. Sekretaris Daerah selaku pengelola barang.

b. Kepala Bagian Perlengkapan selaku pembantu pengelola barang. c. Kepala SKPD selaku pengguna barang.

d. Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas/ Badan selaku Kuasa Pengguna Barang. e. Penyimpan barang milik daerah.

f. Pengurus barang milik daerah.

(5) Sekretaris Daerah selaku Pengelola barang milik daerah berwenang dan bertanggung jawab : a. menetapkan pejabat yang mengurus dan menyimpan barang milik daerah;

b. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan barang milik daerah;

c. meneliti dan menyetujui rencana kebutuhan pemeliharaan/ perawatan barang milik daerah; d. mengatur pelaksanaan pemanfaatan, penghapusan, dan pemindahtanganan barang milik

daerah yang telah disetujui oleh Bupati;

e. melakukan koordinasi dalam pelaksanaan inventarisasi barang milik daerah; f. melakukan pengawasan dan pengendalian atas pengelolaan barang milik daerah. (6) Kepala SKPD sebagai Pengguna barang milik daerah, berwenang dan bertanggung jawab :

a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi SKPD yang dipimpinnya kepada Bupati melalui Pengelola Barang;

b. mengajukan permohonan penetapan status untuk penguasaan dan penggunaan barang milik daerah yang diperoleh dari beban APBD dan perolehan lainnya yang sah kepada Bupati melalui Pengelola Barang;

c. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaaannya;

d. menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD yang dipimpinnya;

e. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; f. mengajukan usul pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/ atau

bangunan kepada Bupati melalui pengelola barang yang tidak memerlukan persetujuan DPRD;

g. menyerahkan tanah dan bangunan yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan dan penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD yang dipimpinnya kepada Bupati melalui Pengelola Barang;

h. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada dalam penguasaannya;

(8)

i. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) yang berada dalam penguasaannya kepada Pengelola Barang.

(7) Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas/ Badan selaku Kuasa Pengguna barang milik daerah, berwenang dan bertanggung jawab :

a. mengajukan rencana kebutuhan barang milik daerah bagi unit kerja yang dipimpinnya kepada Kepala SKPD yang bersangkutan;

b. melakukan pencatatan dan inventarisasi barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya;

c. menggunakan barang milik daerah yang berada dalam penguasaanya untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan fungsi unit kerja yang dipimpinnya;

d. mengamankan dan memelihara barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya; e. melakukan pengawasan dan pengendalian atas penggunaan barang milik daerah yang ada

dalam penguasaannya;

f. menyusun dan menyampaikan Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) yang berada dalam penguasaannya kepada Kepala SKPD yang bersangkutan.

(8) Kepala Bagian Perlengkapan selaku pembantu pengelola barang milik daerah bertanggung jawab mengkoordinir penyelenggaraan pengelolaan barang milik daerah yang ada pada masing-masing SKPD.

(9) Penyimpan barang milik daerah adalah pegawai yang diserahi tugas untuk menerima, menyimpan dan menyalurkan barang yang berada pada Pengguna/Kuasa Pengguna Barang;

(10) Pengurus barang adalah pegawai yang diserahi tugas untuk mengurus barang milik daerah dalam proses pemakaian yang ada disetiap Satuan Kerja Perangkat Daerah/ Unit Kerja melalui Keputusan Bupati.

BAB V

PERENCANAAN KEBUTUHAN DAN PENGANGGARAN Pasal 9

(1) Perencanaan kebutuhan barang milik daerah disusun dalam rencana kerja dan anggaran SKPD setelah memperhatikan ketersediaan barang milik daerah yang ada.

(2) Perencanaan kebutuhan pemeliharaan barang milik daerah disusun dalam Rencana Kerja dan Anggaran SKPD dengan memperhatikan data barang yang ada dalam pemakaian.

(3) Perencanaan kebutuhan dan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), berpedoman pada standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah dan standar harga barang.

(4) Standarisasi sarana dan prasarana kerja pemerintahan daerah dan stándar harga barang dijadikan acuan dalam menyusun Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD) dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (RKPBMD).

(5) Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah dan Rencana Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) masing-masing SKPD sebagai bahan penyusunan Rencana APBD.

Pasal 10

(1) Pengguna Barang menghimpun usul rencana kebutuhan barang yang diajukan oleh Kuasa Pengguna Barang yang berada di bawah lingkungannya.

(9)

(2) Pengguna Barang menyampaikan usul rencana kebutuhan barang milik daerah kepada Pengelola Barang.

(3) Pengelola Barang bersama Pengguna Barang membahas usul tersebut dengan memperhatikan data barang pada Pengguna Barang dan /atau Pengelola Barang untuk ditetapkan sebagai Rencana Kebutuhan Barang Milik Daerah (RKBMD).

Pasal 11

(1) Setelah APBD ditetapkan, Pembantu Pengelola menyusun Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD), sebagai dasar pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan barang milik daerah.

(2) Daftar Kebutuhan Barang Milik Daerah (DKBMD) dan Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD), ditetapkan dengan Keputusan Bupati.

BAB VI

PEROLEHAN BARANG MILIK DAERAH Bagian Pertama

Pengadaan Pasal 12

Pengadaan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip efisien, efektif transparan dan terbuka, bersaing, adil/ tidak diskriminatif dan akuntabel.

Pasal 13

(1) Penyelenggaraan pengadaan barang/ jasa milik daerah dilaksanakan oleh Pengguna Anggaran yang sekaligus bertindak sebagai Pengguna barang.

(2) Pengguna Barang menetapkan Panitia Pengadaan Barang/ Jasa dan Panitia Penerima hasil pengadaan barang/jasa.

(3) Pengadaan barang milik daerah termasuk tanah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 14

(1) Realisasi pelaksanaan pengadaan barang/jasa Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13, dilakukan pemeriksaan oleh Panitia Penerima hasil pengadaan barang/jasa. (2) Panitia penerima hasil pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Daerah ditetapkan dengan

Keputusan Bupati.

(3) Bupati dapat melimpahkan kewenangan kepada Kepala SKPD untuk membentuk Panitia penerima hasil pengadaan Barang/Jasa.

(4) Panitia penerima hasil pengadaan Barang/Jasa melakukan serah terima barang milik daerah dari hasil pengadaan dengan Pengguna Anggaran.

Pasal 15

Pengadaan barang dapat dilaksanakan dengan cara pembelian, pemborongan, membuat sendiri dan swakelola.

(10)

Bagian kedua Perolehan lainnya

Pasal 16

(1) Penerimaan barang milik daerah dari pihak ketiga yang merupakan sumbangan, hibah, wakaf dan penyerahan dari masyarakat dan/ atau pemerintah, ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undang lainnya serta berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap adalah menjadi barang milik daerah.

(2) Penerimaan barang milik daerah dari pemenuhan kewajiban pihak ketiga kepada Pemerintah Daerah berdasarkan perjanjian dan/ atau pelaksanaan dari suatu perizinan tertentu wajib diserahkan Kepada Bupati melalui pengelola Barang Daerah.

(3) Pengelolaan mencatat, memantau, dan aktif melakukan penagihan kewajiban pihak ketiga, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

(4) Penyerahan dari pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) dan disertai dengan dokumen kepemilikan/ penguasaan yang sah.

(5) Hasil penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dicatat dalam daftar barang milik daerah.

(6) Tata cara pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2), (3), dan ayat (4), ditetapkan lebih lanjut dengan keputusan Bupati.

P

Pasal 17

(1) Hasil pengadaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15, yang dibiayai dari APBD dilaporkan oleh Kepala SKPD kepada Bupati melalui Pengelola dilengkapi dengan dokumen Pengadaan, dan dokumen lainnya.

(2) Hasil penerimaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 dilaporkan oleh Kepala SKPD kepada Bupati melalui Pengelola dilengkapi dengan dokumen penerimaannya.

Pasal 18

(1) Setiap tahun anggaran, pengelola membuat daftar hasil pengadaan (DHP) dan daftar hasil penerimaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17.

(2) Daftar hasil pengadaan dan penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk lampiran perhitungan APBD.

BAB VII

PENERIMAAN, PENYIMPANAN DAN PENYALURAN Pasal 19

(1) Penyimpan barang menerima barang milik daerah dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dari hasil pengadaan atau Kepala SKPD untuk penerimaan barang milik daerah dari hasil perolehan lainnya.

(2) Penyimpan barang melakukan tugas administrasi penerimaan barang milik daerah. Pasal 20

Semua hasil pengadaan dan penerimaan barang milik daerah dari perolehan lainnya disimpan oleh penyimpan barang yang ditunjuk oleh Kepala SKPD.

(11)

Pasal 21

(1) Kepala SKPD menetapkan penggunaan barang milik daerah yang bergerak pakai habis. (2) Penyimpan barang melakukan penyaluran barang milik daerah yang telah ditetapkan

penggunaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Pengeluaran/penyaluran barang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan atas dasar Surat Perintah Pengeluaran Barang (SPPB).

(4) Penyimpan Barang membuat laporan hasil penerimaan, penyimpanan dan penyaluran barang milik daerah yang bergerak pakai habis kepada Bupati.

Pasal 22

(1) Semua barang milik daerah yang bergerak tidak pakai habis dan barang tidak bergerak dari hasil pengadaan dan penerimaan dari perolehan lainnya, dilaporkan oleh Kepala SKPD kepada Bupati yang disertai dengan dokumen Pengadaan, penerimaan dan dokumen lainnya. (2) Pengelola barang melakukan tugas administrasi penerimaan barang milik daerah.

(3) Tugas administrasi sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) dilaksanakan oleh pembantu pengelola barang.

(4) Bupati menetapkan penggunaan barang milik daerah yang bergerak tidak pakai habis dan barang tidak bergerak.

BAB VIII PENGGUNAAN

Pasal 23

(1) Kepala SKPD mengusulkan penggunaan barang milik daerah yang bergerak tidak pakai habis dan barang tidak bergerak kepada Bupati melalui pengelola.

(2) Bupati menetapkan status penggunaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD, dan dapat dioperasikan oleh pihak lain dalam rangka menjalankan pelayanan umum sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang bersangkutan.

(3) Status penggunaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) ditetapkan dengan keputusan Bupati.

Pasal 24

(1) Penetapan status penggunaan barang tidak bergerak berupa tanah dan/atau bangunan dilakukan dengan ketentuan bahwa tanah dan/atau bangunan tersebut untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan fungsi pengguna barang dan/ atau kuasa pengguna barang. (2) Pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang wajib menyerahkan tanah dan/atau

bangunan termasuk barang inventaris lainnya yang tidak dipergunakan untuk kepentingan penyelenggaraan tugas dan fungsi Pengguna dan/atau Kuasa Pengguna kepada Bupati melalui pengelola.

Pasal 25

(1) Bupati menetapkan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang harus diserahkan oleh Pengguna Barang karena sudah tidak digunakan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD bersangkutan.

(2) Dalam menetapkan penyerahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pengelola memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

(12)

a. standar kebutuhan tanah dan/atau bangunan untuk menyelenggarakan dan menunjang tugas dan fungsi SKPD bersangkutan;

b. hasil audit atas penggunaan tanah dan/atau bangunan.

(3) Tindak lanjut pengelolaan atas penyerahan tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. ditetapkan status penggunaannya untuk penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi SKPD lainnya;

b. dimanfaatkan dalam rangka optimalisasi barang milik daerah; c. dipindahtangankan.

Pasal 26

(1) Pengguna barang milik daerah yang tidak menyerahkan tanah dan/ atau bangunan yang tidak digunakan untuk menyelenggarakan tugas dan fungsi SKPD bersangkutan kepada Bupati dikenakan sanksi berupa pembekuan dana pemeliharaan dan/atau bangunan dimaksud.

(2) Tanah dan/atau bangunan yang tidak digunakan sesuai tugas dan fungsi SKPD dicabut penetapan status penggunaannya.

Pasal 27

(1) Barang Milik Daerah yang bergerak tidak pakai habis dan barang tidak bergerak yang telah ditetapkan penggunaannya diurus oleh Pengurus Barang pada SKPD Pengguna.

(2) Pengurus Barang ditetapkan oleh Bupati berdasarkan usulan Kepala SKPD melalui pengelola. BAB IX PEMANFAATAN Bagian Pertama Kriteria Pemanfaatan Pasal 28

(1) Pemanfaatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang tidak dipergunakan untuk melaksanakan tugas dan fungsi SKPD, dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Bupati.

(2) Pemanfaatan barang milik daerah selain tanah dan/ atau bangunan yang diperlukan untuk menunjang penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD dilaksanakan oleh SKPD dengan persetujuan pengelola.

(3) Pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan berdasarkan pertimbangan teknis dengan memperhatikan kepentingan daerah dan kepentingan umum.

Bagian Kedua Bentuk Pemanfaatan

Pasal 29 Bentuk-bentuk pemanfaatan barang milik daerah berupa : a. sewa;

b. pinjam pakai;

c. kerjasama pemanfaatan;

(13)

Bagian ketiga Sewa Pasal 30

(1) Barang Milik Daerah, baik barang bergerak maupun barang tidak bergerak yang belum dimanfaatkan oleh Pemerintah Daerah dapat disewakan kepada Pihak ketiga sepanjang menguntungkan daerah.

(2) Barang Milik Daerah yang disewakan, tidak merubah status kepemilikan barang daerah.

(3) Penyewaan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapatkan persetujuan dari Bupati.

(4) SKPD dapat melaksanakan penyewaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) atas nama pengelola setelah mendapat persetujuan dari Bupati.

(5) Penyewaan barang milik daerah atas sebagian tanah dan/atau bangunan, selain tanah dan/atau bangunan yang masih dipergunakan oleh pengguna, dilaksanakan oleh pengguna setelah mendapatkan persetujuan dari pengelola.

(6) Jangka waktu penyewaan barang milik daerah paling lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang.

(7) Penyewaan dilaksanakan berdasarkan Surat perjanjian sewa menyewa, yang sekurang-kurangnya memuat :

a. Para pihak;

b. objek sewa (jenis, ukuran/besaran, jumlah) ;

c. hak dan tanggung jawab termasuk besaran sewa, jangka waktu, biaya operasional dan pemeliharaan;

d. persyaratan lain yang dianggap perlu. (8) Hasil penerimaan sewa disetor ke Kas Daerah.

Pasal 31

(1) Pemanfaatan barang milik daerah selain disewakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 dapat dikenakan retribusi.

(2) Retribusi atas pemanfaatan/penggunaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

Bagian keempat Pinjam Pakai

Pasal 32

(1) Barang Milik Daerah dapat dipinjampakaikan untuk kepentingan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

(2) Pinjam pakai barang milik daerah dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Bupati.

(3) SKPD dapat melaksanakan pinjam pakai barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada Ayat (2) atas nama pengelola setelah mendapat persetujuan dari Bupati.

(4) Jangka waktu pinjam pakai barang milik daerah paling lama 2 (dua) Tahun dapat diperpanjang.

(5) Pelaksanaan pinjam pakai dilakukan berdasarkan Surat Perjanjian yang sekurang-kurangnya memuat :

a. Para pihak;

b. objek pinjam pakai (jenis, ukuran/besaran, jumlah) ;

c. hak dan tanggung jawab termasuk jangka waktu, biaya operasional dan pemeliharaan; d. persyaratan lain yang dianggap perlu.

(14)

Bagian Kelima Kerjasama Pemanfaatan

Pasal 33

Kerjasama pemanfaatan barang milik daerah dengan pihak lain dilaksanakan dalam rangka : a. mengoptimalkan daya guna dan hasil guna barang milik daerah;

b. meningkatkan penerimaan/pendapatan daerah. Pasal 34

(1) Kerjasama pemanfaatan barang milik daerah dilaksanakan dengan bentuk :

a. kerjasama pemanfaatan barang milik daerah atas tanah dan/ atau bangunan yang sudah diserahkan pengguna barang kepada Bupati ;

b. kerjasama pemanfaatan atas bagian tanah dan/atau bangunan yang masih digunakan oleh pengguna barang ;

c. kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah selain tanah dan/ atau bangunan.

(2) Kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh pengelola barang setelah mendapat persetujuan dari Bupati.

(3) Kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dan c, dilaksanakan oleh pengguna barang atas nama pengelola setelah mendapat persetujuan Bupati.

Pasal 35

(1) Kerjasama pemanfaatan atas barang milik daerah dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut :

a. tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk memenuhi biaya operasional/ pemeliharaan/ perbaikan yang diperlukan terhadap barang milik daerah dimaksud;

b. mitra kerjasama pemanfaatan ditetapkan melalui tender atau penunjukan langsung;

c. mitra kerjasama pemanfaatan yang membayar kontribusi kepada daerah, disetorkan ke rekening Kas Umum Daerah;

d. besaran pembayaran kontribusi dan pembagian keuntungan hasil kerjasama pemanfaatan ditetapkan dari hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh Pejabat yang berwenang ;

e. besaran pembayaran kontribusi dan pembagian keuntungan kerjasama pemanfaatan harus mendapat persetujuan pengelola barang.

(2) Biaya pengkajian, penelitian, penaksir dan tender, dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

(3) Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian, pelaksanaan dan pengawasannya dibebankan kepada pihak ketiga.

(4) Selama jangka waktu pengoperasian mitra kerjasama pemanfaatan dilarang menjaminkan, meminjamkan, menggadaikan atau memindahtangankan dalam bentuk apapun barang milik daerah yang menjadi objek kerjasama pemanfaatan.

Bagian Keenam

Bangun Guna Serah Dan Bangun Serah Guna Pasal 36

(1) Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna barang milik daerah dapat dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut ;

(15)

a. pemerintah Daerah memerlukan bangunan dan fasilitas untuk kepentingan pelayanan umum dan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi;

b. tanah dan/atau bangunan milik Pemerintah Daerah yang telah diserahkan oleh pengguna kepada Bupati;

c. tidak tersedia dana APBD untuk penyediaan dan fasilitas dimaksud.

(2) Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh pengelola barang setelah mendapat persetujuan Bupati. (3) Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna barang milik daerah sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dilaksanakan oleh pengelola barang dengan mengikutsertakan pengguna barang dan/ atau kuasa pengguna barang sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Pasal 37

Penetapan status pengguna barang milik daerah sebagai hasil pelaksanaan Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna dilakukan oleh Bupati dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD terkait.

Pasal 38

(1) Jangka waktu Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna paling lama 30 (tiga puluh) tahun sejak perjanjian ditandatangani.

(2) Penetapan mitra Bangun guna serah dan mitra Bangun Serah Guna dilaksanakan melalui tender atau penunjukan langsung;

(3) Mitra Bangun Guna Serah dan Mitra Bangun Serah Guna yang telah ditetapkan, selama jangka waktu pengoperasian harus memenuhi kewajiban sebagai berikut :

a. membayar kontribusi ke rekening Kas Daerah setiap tahun, yang besarnya ditetapkan berdasarkan hasil perhitungan tim yang dibentuk oleh Bupati;

b. tidak menjaminkan, menggadaikan atau memindahtangankan objek Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna ;

c. memelihara objek Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna ;

(4) Dalam jangka waktu pengoperasian, sebagai barang milik daerah hasil Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna harus dapat digunakan langsung untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Pemerintah Daerah.

(5) Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna dilaksanakan berdasarkan surat perjanjian yang sekurang-kurangnya memuat :

a. para pihak;

b. objek bangun guna serah dan bangun serah guna;

c. jangka waktu bangun guna serah dan bangun serah guna; d. hak dan kewajiban para pihak yang terikat dalam perjanjian; e. persyaratan lain yang dianggap perlu.

(6) Izin Mendirikan Bangunan Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna harus diatasnamakan Pemerintah Daerah.

(7) Biaya persiapan pelaksanaan Bangun Guna Serah dan Bangun Serah Guna yang meliputi pengkajian, penelitian, pengumuman lelang, penilaian aset dibebankan dalam APBD.

(8) Biaya yang berkenaan dengan persiapan dan pelaksanaan penyusunan surat perjanjian, konsultan pelaksana/ pengawas, dibebankan pada pihak pemenang.

(16)

Pasal 39

(1) Mitra Bangun Serah Guna harus menyerahkan objek Bangun Serah Guna kepada Bupati segera setelah selesainya pembangunan.

(2) Mitra Bangun Serah Guna dapat mendayagunakan barang milik daerah tersebut sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam surat perjanjian.

(3) Setelah jangka waktu pendayagunaan berakhir, objek Bangun Serah Guna terlebih dahulu diaudit oleh aparat pengawasan fungsional pemerintah daerah sebelum penggunaannya ditetapkan oleh Bupati.

BAB X

PENGAMANAN DAN PEMELIHARAAN Bagian Pertama

Pengamanan Pasal 40

(1) Pengelola Barang, Pengguna Barang dan/atau Kuasa Pengguna Barang wajib melakukan pengamanan barang milik daerah yang berada dalam penguasaannya.

(2) Pengamanan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :

a. pengamanan administrasi dengan melengkapi dokumen kepemilikan (sertifikat tanah, BPKB, dan dokumen lainnya)

b. pengamanan fisik meliputi : pemagaran, pematokan/ tanda batas dan tanda kepemilikan. c. pengamanan hukum melalui upaya hukum apabila terjadi pelanggaran atas barang milik/

dikuasai Pemerintah Daerah.

Pasal 41

(1) Barang Milik Daerah berupa tanah harus disertifikatkan atas nama Pemerintah Daerah.

(2) Barang Milik Daerah berupa bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama Pemerintah Daerah.

(3) Barang Milik Daerah selain tanah dan/ atau bangunan harus dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama Pemerintah Daerah.

Pasal 42

(1) Bukti Kepemilikan barang milik daerah wajib disimpan dengan tertib dan aman.

(2) Penyimpanan bukti kepemilikan barang milik daerah berupa tanah dan/ atau bangunan dilakukan oleh pengelola barang.

(3) Penyimpanan bukti kepemilikan barang milik daerah selain tanah dan/ atau bangunan dapat dilakukan oleh pengguna barang.

Pasal 43

Barang Milik Daerah dapat diasuransikan sesuai kemampuan keuangan daerah dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 44

(1) Pihak manapun dilarang melakukan penyitaan terhadap :

a. Barang Milik Daerah baik yang berada pada instansi Pemerintah maupun Pihak ketiga. b. Barang Milik pihak ketiga yang dikuasai oleh daerah yang diperlukan untuk

(17)

(2) Penyitaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) selain dalam hubungannya dengan penggunaan barang milik daerah juga untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan.

Bagian Kedua Pemeliharaan

Pasal 45

(1) Pengelola, pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pemeliharaan barang milik daerah yang ada dibawah penguasaannya.

(2) Pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang (DKPB).

(3) Biaya Pemeliharaan barang milik daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

Pasal 46

(1) Pengguna dan/atau kuasa pengguna barang wajib membuat daftar hasil pemeliharaan barang yang berada dalam kewenangannya dan melaporkan daftar hasil pemeliharaan barang tersebut kepada pengelola secara berkala.

(2) Pengelola atau pejabat yang ditunjuk meneliti laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan menyusun daftar pemeliharaan barang yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun angggaran sebagai bahan untuk melakukan evaluasi mengenai efisiensi pemeliharaan barang milik daerah.

Pasal 47

(1) Pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 dilakukan oleh Kepala SKPD.

(2) Pelaksanaan pemeliharan barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berpedoman pada Daftar Kebutuhan Pemeliharaan Barang Milik Daerah (DKPBMD).

Pasal 48

(1) Pengguna dan/atau Kuasa pengguna barang bertanggung jawab untuk membuat daftar hasil pemeliharaan

(2) Pengelola atau pejabat yang ditunjuk meneliti laporan dan menyusun daftar hasil pemeliharaan barang yang dilakukan dalam 1 (satu) tahun anggaran sebagai lampiran perhitungan anggaran tahun yang bersangkutan.

Pasal 49

(1) Barang bersejarah baik berupa bangunan dan/ atau barang lainnya yang merupakan peninggalan budaya yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah maupun pemerintah atau masyarakat wajib dipelihara oleh Pemerintah Daerah.

(2) Biaya pemeliharaan barang bersejarah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat bersumber dari APBD atau sumber lain yang sah.

Pasal 50

Tata cara pelaksanaan pemeliharaan barang milik daerah diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

(18)

BAB XI PENILAIAN

Pasal 51

Penilaian barang milik daerah dilakukan dalam rangka penyusunan neraca Pemerintah Daerah, pemanfaatan, dan pemindahtanganan barang milik daerah.

Pasal 52

Penetapan barang milik daerah dalam rangka penyusunan neraca pemerintah daerah dilakukan dengan berpedoman pada Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).

Pasal 53

(1) Penilaian barang milik daerah berupa tanah dan/ atau bangunan dalam rangka pemanfatan atau pemindahtanganan dilakukan oleh tim yang ditetapkan oleh Bupati, dan dapat melibatkan penilai independen bersertifikat dibidang penilaian aset yang ditetapkan oleh Bupati.

(2) Penilaian barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan untuk mendapatkan nilai wajar, dengan estimasi menggunakan NJOP dan harga pasaran umum. (3) Penilaian barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan dalam rangka pemanfaatan

atau pemindahtangan dilakukan oleh tim independen bersertifikat dibidang penilaian aset yang ditetapkan oleh pengelola barang.

(4) Penilaian Barang Miliik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaksanakan berdasarkan nilai perolehan dan/ atau harga pasaran umum dikurangi penyusutan serta memperhatikan kondisi fisik aset tersebut.

(5) Hasil penilaian barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) ditetapkan oleh pengelola.

BAB XII PENGHAPUSAN

Pasal 54

(1) Penghapusan barang milik daerah meliputi :

a. penghapusan dari Daftar Pengguna/ Kuasa Pengguna; b. penghapusan dari daftar inventaris barang milik daerah.

(2) Penghapusan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, dilakukan dalam hal barang milik daerah dimaksud sudah tidak berada dalam penguasaan Pengguna dan/atau Kuasa Pengguna yang berupa: pengalihan status penggunaan, pemindahtanganan, penyerahan kepada pengelola, pemusnahan dan sebab-sebab lainnya.

(3) Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilaksanakan dengan keputusan pengelola atas nama Bupati.

(4) Penghapusan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, dilakukan dalam hal barang milik daerah dimaksud sudah beralih kepemilikannya berupa: pemusnahan, pemindahtanganan dan karena keputusan pengadilan berkekuatan hukum tetap.

(5) Penghapusan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ditetapkan dengan surat keputusan penghapusan dari pengelola barang setelah mendapat persetujuan Bupati.

(19)

Pasal 55

(1) Penghapusan barang milik daerah dengan tindak lanjut pemusnahan dilakukan apabila barang milik daerah dimaksud:

a. tidak dapat digunakan, tidak dapat dimanfaatkan, dan tidak dapat dipindahtangankan. b. alasan lain sesuai ketentuan perundang-undangan.

(2) Pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh pengguna barang dengan keputusan dari pengelola barang setelah mendapatkan persetujuan Bupati.

(3) Pelaksanaan pemusnahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam Berita Acara dan dilaporkan kepada Bupati.

BAB XIII

PEMINDAHTANGANAN Bagian Pertama

Bentuk-Bentuk dan Persetujuan Pasal 56

Bentuk-bentuk pemindahtanganan sebagai tindak lanjut atas penghapusan barang milik daerah meliputi :

a. penjualan; b. tukar menukar; c. hibah;

d. penyertaan modal Pemerintah Daerah.

Pasal 57

(1) Pemindahtanganan barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56, ditetapkan dengan keputusan Bupati.

(2) Keputusan Bupati tentang penetapan pemindahtanganan barang milik daerah harus mendapat persetujuan DPRD, untuk barang milik daerah berupa:

a. tanah dan/atau bangunan;

b. selain tanah dan/atau bangunan yang bernilai lebih dari Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah).

(3) Pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, yang tidak memerlukan persetujuan DPRD, apabila :

a. sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;

b. harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah disediakan dalam dokumen penganggaran;

c. diperuntukan bagi pegawai negeri; d. diperuntukan bagi kepentingan umum;

e. dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan, yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara ekonomis.

Bagian Kedua Penjualan

Pasal 58

(1) Penjualan barang milik daerah dilaksanakan dengan pertimbangan ; a. untuk optimalisasi barang milik daerah yang berlebih atau idle;

(20)

b. secara ekonomis lebih menguntungkan bagi daerah apabila dijual;

c. sebagai pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Penjualan barang milik daerah dilakukan secara lelang, kecuali dalam hal-hal tertentu. (3) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:

a. penjualan kendaraan perorangan dinas pejabat negara; b. penjualan rumah golongan III;

c. barang milik daerah lainnya yang ditetapkan lebih lanjut oleh pengelola barang. Paragraf 1

Penjualan Kendaraan Perorangan Dinas Pasal 59

Penjualan kendaraan perorangan dinas yang dipergunakan oleh pejabat negara yang berumur 5 (lima) tahun lebih, dapat dijual 1 (satu) unit kepada yang bersangkutan setelah masa jabatannya berakhir.

Paragraf 2

Penjualan kendaraan Dinas Operasional Pasal 60

(1) Penghapusan /penjualan kendaraan dinas operasional terdiri dari ; a. kendaraan dinas operasional;

b. kendaraan dinas operasional khusus/lapangan.

(2) Kendaraan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a yang berumur 5 (lima) tahun lebih, dapat dihapus dari daftar inventaris barang milik daerah.

(3) Kendaraan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b yang berumur 10 (sepuluh) tahun lebih, dapat dihapus dari daftar inventaris barang milik daerah.

(4) Bupati menetapkan lebih lanjut umur kendaraan dinas operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3)

(5) Penjualan kendaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan setelah dihapus dari daftar inventaris barang milik daerah.

(6) Penjualan kendaraan dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui pelelangan umum dan/atau pelelangan terbatas yang ditetapkan dengan keputusan bupati.

Paragraf 3

Penjualan Rumah Dinas Daerah Pasal 61

(1) Bupati menetapkan golongan rumah dinas daerah.

(2) Penggolongan rumah dinas daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari : a. rumah dinas daerah golongan 1 (rumah jabatan);

b. rumah dinas daerah golongan II (rumah instansi); c. rumah dinas daerah golongan III (perumahan pegawai).

Pasal 62

(1) Rumah dinas daerah golongan I yang sudah tidak sesuai dengan fungsinya sebagai akibat adanya perubahan struktur organisasi dan/atau sudah ada pengganti yang lain, dapat dirubah statusnya menjadi rumah dinas daerah golongan II.

(21)

(2) Rumah dinas daerah golongan II dapat dirubah statusnya menjadi rumah dinas golongan III, kecuali yang terletak disuatu kompleks perkantoran.

(3) Rumah dinas daerah golongan II dapat dirubah statusnya menjadi rumah dinas daerah golongan I untuk memenuhi kebutuhan rumah jabatan.

Pasal 63

Rumah dinas daerah yang dapat dijualbelikan atau disewakan, dengan ketentuan :

a. rumah dinas daerah golongan II yang telah dirubah golongannya menjadi rumah dinas golongan III;

b. rumah dinas daerah golongan III yang telah berumur 10 (sepuluh) tahun atau lebih;

c. pegawai yang dapat membeli adalah pegawai yang sudah mempunyai masa kerja 10 (sepuluh) tahun atau lebih dan belum pernah membeli atau memperoleh rumah dengan cara apapun dari pemerintah daerah atau pemerintah pusat;

d. pegawai yang dapat membeli rumah dinas daerah adalah penghuni yang memegang Surat izin Penghunian yang dikeluarkan oleh Bupati;

e. rumah dinas daerah dimaksud tidak sedang dalam sengketa;

f. rumah dinas daerah yang dibangun di atas tanah yang bukan milik pemerintah daerah, maka untuk memperoleh hak atas tanah harus diproses tersendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 64

(1) Penjualan rumah dinas daerah golongan III beserta atau tidak beserta tanahnya ditetapkan oleh Bupati berdasarkan harga taksiran dan penilaiannya dilakukan oleh panitia penaksir dan panitia penilai yang dibentuk dengan keputusan Bupati.

(2) Penjualan rumah dinas daerah golongan III sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan keputusan bupati.

(3) Hasil penjualan rumah dinas daerah golongan III sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disetor ke Kas Daerah.

Pasal 65

Pelepasan hak atas tanah dan penghapusan dari Daftar Inventaris barang milik daerah ditetapkan dengan Keputusan Bupati setelah harga penjualan atas tanah dan/atau bangunannya dilunasi.

Paragraf 4

Pelepasan Hak Atas Tanah dan/atau Bangunan Dengan Ganti Rugi Pasal 66

(1) Pemindahtanganan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan melalui pelepasan hak dengan ganti rugi, dapat diproses dengan pertimbangan menguntungkan daerah.

(2) Perhitungan perkiraan nilai tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dengan memperhatikan Nilai Jual Objek Pajak dan/atau Harga Umum setempat yang dilakukan oleh Panitia Penaksir yang dibentuk dengan Keputusan Bupati atau dapat dilakukan oleh Lembaga Independen yang bersertifikat dibidang penilaian aset.

(3) Proses pelepasan hak tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan pelelangan / tender.

(22)

Pasal 67

(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 tidak berlaku bagi pelepasan hak atas tanah untuk kavling perumahan pegawai negeri.

(2) Kebijakan pelepasan hak atas tanah kavling untuk pegawai negeri ditetapkan oleh Bupati. Paragraf 5

Penjualan Barang Milik Daerah selain Tanah dan/atau Bangunan Pasal 68

(1) Penjualan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan dilaksanakan oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati.

(2) Penjualan barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pengguna Barang mengajukan usul penjualan kepada Pengelola Barang;

b. Pengelola Barang meneliti dan mengkaji usul penjualan yang diajukan oleh Pengguna Barang sesuai dengan kewenangannya;

c. Pengelola Barang menerbitkan keputusan untuk menyetujui atau tidak menyetujui usulan penjualan yang diajukan oleh Pengguna Barang dalam batas kewenangannya;

d. untuk penjualan yang memerlukan persetujuan Bupati atau DPRD Pengelola Barang mengajukan usul penjualan disertai dengan pertimbangan atas usulan dimaksud.

(3) Pemberian persetujuan pelaksanaan penjualan oleh Pengelola Barang untuk penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d, dilakukan setelah mendapat persetujuan Bupati atau DPRD.

(4) Hasil penjualan barang milik daerah disetor ke Kas Daerah. Bagian Ketiga Tukar Menukar

Pasal 69

(1) Tukar menukar barang milik daerah dilaksanakan dengan pertimbangan : a. untuk memenuhi kebutuhan operasional penyelenggaraan pemerintahan; b. untuk optimalisasi barang milik daerah;

c. tidak tersedia dana dalam APBD.

(2) Tukar menukar barang milik daerah dapat dilakukan dengan pihak: a. Pemerintah;

b. Pemerintah Daerah;

c. Badan Usaha Milik Negara/Daerah atau Badan Hukum milik pemerintah lainnya; d. Swasta.

Pasal 70 (1) Tukar menukar barang milik daerah dapat berupa :

a. tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan oleh Kepala SKPD kepada Bupati melalui pengelola;

b. tanah dan/atau bangunan yang masih dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi pengguna tetapi tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota;

c. barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan.

(2) Tukar menukar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilaksanakan oleh pengelola setelah mendapat persetujuan Bupati sesuai batas kewenangannya.

(23)

Pasal 71

Tukar menukar barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) huruf a dan huruf b, dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. pengelola mengajukan usul tukar menukar tanah dan/atau bangunan kepada Bupati disertai alasan/pertimbangan dan kelengkapan data;

b. untuk alasan/pertimbangan perlunya tukar menukar tanah dan/atau bangunan dari aspek teknis, ekonomis dan yuridis diberikan berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian oleh Tim yang dibentuk dengan Keputusan Bupati;

c. apabila memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku, Bupati dapat mempertimbangkan untuk menyetujui dan menetapkan tanah dan/atau bangunan yang akan dipertukarkan;

d. tukar menukar tanah dan/atau bangunan yang telah mendapat persetujuan Bupati dapat dilaksanakan setelah persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;

e. pengelola melaksanakan tukar menukar selain tanah dan/atau bangunan yang dalam penguasaannya dan sesuai batas kewenangannya setelah mendapat persetujuan Bupati; f. pelaksanaan serah terima barang yang dilepas dan barang pengganti harus dituangkan dalam

Berita Acara Serah Terima Barang.

Pasal 72

Tukar menukar barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) huruf c yang dalam penguasaan pengguna dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. pengguna mengajukan usul tukar menukar kepada pengelola disertai alasan/pertimbangan, kelengkapan data dan hasil pengkajian panitia yang ditetapkan dengan Keputusan Pengguna; b. pengelola meneliti dan mengkaji alasan/pertimbangan perlunya tukar menukar barang milik

daerah sebagaimana dimaksud pada huruf a;

c. apabila memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku, pengelola dapat mempertimbangkan untuk menyetujui sesuai batas kewenangannya;

d. tukar menukar barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang telah mendapat persetujuan Pengelola dapat dilaksanakan oleh Pengguna setelah persetujuan Bupati

e. pelaksanaan serah terima barang dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima Barang. Pasal 73

(1) Tukar menukar antara Pemerintah dengan Pemerintah Daerah dan antar Pemerintah Daerah apabila terdapat selisih nilai lebih, maka selisih nilai lebih dimaksud dapat dihibahkan.

(2) Selisih nilai lebih yang dihibahkan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Berita Acara Hibah.

Bagian Keempat Hibah

Pasal 74

(1) Hibah barang milik daerah dilakukan dengan pertimbangan untuk kepentingan sosial, keagamaan, kemanusiaan, dan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

(2) Hibah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memenuhi syarat sebagai berikut: a. bukan merupakan barang rahasia negara/daerah;

b. bukan merupakan barang yang menguasai hajat hidup orang banyak;

c. tidak digunakan lagi dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

(24)

Pasal 75

Hibah barang milik daerah dapat berupa:

a. tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan oleh Kepala SKPD/Pengguna melalui Pengelola kepada Bupati;

b. tanah dan/atau bangunan yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan; c. selain tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan oleh Kepala SKPD/Pengguna melalui

Pengelola kepada Bupati;

d. selain tanah dan/atau bangunan yang dari awal pengadaannya direncanakan untuk dihibahkan.

Pasal 76

(1) Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf a, ditetapkan dengan Keputusan Bupati setelah mendapat persetujuan DPRD, kecuali tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (3).

(2) Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf b, ditetapkan dengan Keputusan Bupati. (3) Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf c yang bernilai di atas Rp

5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah) ditetapkan dengan Keputusan Bupati setelah mendapat persetujuan DPRD.

(4) Hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf d dilaksanakan oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan Pengelola Barang.

Pasal 77

(1) Hibah barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf a, b dan c dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pengelola Barang mengajukan usul hibah tanah dan/atau bangunan kepada Bupati disertai dengan alasan/pertimbangan, dan kelengkapan data;

b. Bupati meneliti dan mengkaji berdasarkan pertimbangan dan syarat sebagaimana dimaksud dalam pasal 74;

c. Apabila memenuhi syarat sesuai dengan peraturan yang berlaku, Bupati dapat mempertimbangkan untuk menetapkan dan/atau menyetujui tanah dan/atau bangunan yang akan dihibahkan;

d. Proses persetujuan hibah dilaksanakan dengan berpedoman pada ketentuan dalam Pasal 57;

e. Pengelola Barang melaksanakan hibah dengan berpedoman pada persetujuan Bupati; f. pelaksanaan serah terima barang yang dihibahkan harus dituangkan dalam Berita Acara

Serah Terima Barang.

(2) Hibah barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 huruf d dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pengguna Barang mengajukan usulan hibah kepada Pengelola Barang disertai alasan/pertimbangan, kelengkapan data dan hasil pengkajian tim intern instansi Pengguna Barang;

b. pengelola meneliti dan mengkaji berdasarkan pertimbangan dan syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 74;

c. apabila memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku, Pengelola Barang dapat mempertimbangkan untuk menyetujui sesuai batas kewenangannya;

d. Pengguna Barang melaksanakan hibah dengan berpedoman pada persetujuan Pengelola Barang;

(25)

e. pelaksanaan serah terima barang yang dihibahkan harus dituangkan dalam naskah perjanjian hibah daerah.

Bagian Kelima

Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pasal 78

(1) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atas barang milik daerah dilakukan dalam rangka pendirian, pengembangan, dan peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Negara/Daerah atau badan hukum lainnya yang dimiliki daerah.

(2) Penyertaan modal Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut:

a. barang milik daerah yang dari awal pengadaannya sesuai dokumen penganggaran diperuntukkan bagi Badan Usaha Milik Negara/Daerah atau badan hukum lainnya yang dimiliki daerah dalam rangka penugasan pemerintah;

b. barang milik daerah lebih optimal apabila dikelola oleh badan usaha milik negara/daerah atau badan hukum lainnya yang dimiliki daerah baik yang sudah ada maupun yang akan dibentuk.

Pasal 79

(1) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atas barang milik daerah dapat berupa : a. tanah dan/atau bangunan yang telah diserahkan kepada Bupati;

b. tanah dan / atau bangunan yang dari awal pengadaannya direncanakan.untuk disertakan sebagai modal Pemerintah Daerah sesuai yang tercantum dalam dokumen penganggaran; c. barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan.

(2) Penetapan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang akan disertakan sebagai modal Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan oleh Bupati sesuai kewenangannya.

(3) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atau barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilaksanakan oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati. (4) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) huruf b dilaksanakan oleh Pengelola Barang setelah mendapat persetujuan Bupati. (5) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) huruf c dilaksanakan oleh Pengguna Barang setelah mendapat persetujuan Pengelola Barang.

Pasal 80

(1) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) huruf a dan huruf b dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut: a. Pengelola Barang mengajukan usul penyertaan modal pemerintah daerah atas tanah

dan/atau bangunan kepada Bupati disertai alasan/ pertimbangan dan kelengkapan data; b. Bupati meneliti dan mengkaji berdasarkan pertimbangan dan syarat sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 78;

c. Apabila memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku, Bupati dapat mempertimbangkan untuk menetapkan dan menyetujui tanah dan/atau bangunan yang akan disertakan sebagai modal pemerintah daerah;

d. proses persetujuan penyertaan modal pemerintah daerah dilaksanakan dengan berpedoman pada ketentuan Pasal 78 dan Pasal 79;

(26)

e. Pengelola Barang melaksanakan penyertaan modal pemerintah daerah dengan berpedoman pada persetujuan Bupati;

f. Pengelola Barang menyiapkan rancangan peraturan daerah tentang penyertaan modal Pemerintah Daerah dengan melibatkan instansi terkait;

g. Pengguna Barang melakukan serah terima barang kepada Badan Usaha Milik Negara/Daerah atau badan hukum lainnya milik daerah yang dituangkan dalam berita acara serah terima barang setelah Peraturan Daerah ditetapkan.

(2) Penyertaan modal Pemerintah Daerah atas barang milik daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (1) huruf c dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pengguna Barang mengajukan usulan kepada Pengelola Barang disertai alasan/pertimbangan, kelengkapan data, dan hasil pengkajian tim intern instansi Pengguna Barang;

b. Pengelola Barang meneliti dan mengkaji berdasarkan pertimbangan dan syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78;

c. apabila memenuhi syarat sesuai peraturan yang berlaku, Pengelola Barang dapat mempertimbangkan untuk menyetujui sesuai batas kewenangannya;

d. Pengelola Barang menyiapkan rancangan peraturan daerah tentang penyertaan modal Pemerintah Daerah dengan melibatkan instansi terkait;

e. Pengguna Barang melakukan serah terima barang kepada badan usaha milik Negara/daerah atau badan hukum lainnya milik daerah yang dituangkan dalam berita acara serah terima barang setelah Peraturan Daerah ditetapkan.

Pasal 81

Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan penjualan, tukar menukar, hibah, dan penyertaan modal pemerintah atas barang milik daerah diatur dalam peraturan daerah dengan berpedoman pada kebijakan umum pengelolaan barang milik daerah.

BAB XIV PENATAUSAHAAN

Bagian Pertama Pembukuan

Pasal 82

(1) Pengguna Barang melakukan pendaftaran dan pencatatan barang milik daerah ke dalam Daftar Barang Pengguna (DBP)/Daftar Barang Kuasa Pengguna (DBKP) menurut penggolongan dan kodefikasi barang.

(2) Pengelola Barang harus melakukan pendaftaran dan pencatatan barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan dalam Daftar Barang Milik Daerah (DBMD) menurut penggolongan barang dan kodefikasi barang.

(3) Penggolongan dan kodefikasi barang berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 83

(1) Pengguna Barang harus menyimpan dokumen kepemilikan barang milik daerah selain tanah dan/atau bangunan yang berada dalam penguasaannya.

(2) Pengelola Barang harus menyimpan dokumen kepemilikan tanah dan/atau bangunan yang berada dalam pengelolaannya.

(27)

Bagian Kedua Inventarisasi

Pasal 84

(1) Pengguna Barang melakukan inventarisasi barang milik daerah sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun.

(2) Dikecualikan dari ketentuan pada ayat (1) terhadap barang milik daerah yang berupa persediaan dan konstruksi dalam pengerjaan, Pengguna Barang melakukan inventarisasi setiap tahun.

(3) Pengguna Barang menyampaikan laporan hasil inventarisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) kepada Pengelola Barang selambat-lambatnya tiga bulan setelah selesainya inventarisasi.

Pasal 85

Pengelola Barang melakukan inventarisasi barang milik daerah berupa tanah dan/atau bangunan yang berada dalam penguasaannya sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun.

Bagian Ketiga Pelaporan

Pasal 86

(1) Kuasa Pengguna Barang harus menyusun Laporan Barang Kuasa Pengguna Semesteran (LBKPS) dan Laporan Barang Kuasa Pengguna Tahunan (LBKPT) untuk disampaikan kepada Pengguna Barang.

(2) Pengguna Barang harus menyusun Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) untuk disampaikan kepada Pengelola Barang. (3) Pengelola Barang harus menyusun Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) berupa tanah

dan/atau bangunan semesteran dan tahunan.

(4) Pengelola Barang harus menghimpun Laporan Barang Pengguna Semesteran (LBPS) dan Laporan Barang Pengguna Tahunan (LBPT) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) serta Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) berupa tanah dan/atau bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

(5) Pengelola Barang harus menyusun Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) berdasarkan hasil penghimpunan Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

Pasal 87

Laporan Barang Milik Daerah (LBMD) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 86 ayat (5) digunakan sebagai bahan untuk menyusun Neraca Pemerintah Daerah.

BAB XV

PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 88

(1) Bupati melakukan pengendalian pengelolaan barang milik daerah.

(2) Pengguna Barang melakukan pemantauan dan penertiban terhadap penggunaan, pemanfaatan, pemindahtanganan, penatausahaan, pemeliharaan, dan pengamanan barang milik daerah yang berada dibawah penguasaannya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :