ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUKSI PADA PRODUK ONCOM DALAM UPAYA MENGURANGI TINGKAT KECACATAN PRODUK MENGGUNAKAN ALAT BANTU STATISTIK

Teks penuh

(1)

ANALISIS PENGENDALIAN KUALITAS PRODUKSI PADA PRODUK ONCOM DALAM UPAYA MENGURANGI TINGKAT KECACATAN PRODUK

MENGGUNAKAN ALAT BANTU STATISTIK Sarif Hidayat,Jazuli, Rudi Tjahyono

Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Dian Nuswantoro Semarang Jl. Nakula 1 No. 5-11, Semarang, Jawa Tengah, 50131

E-mail: sarifhidayatungaran@gmail.com, rudytjahyono.at.yahoo.com, jazuli.st.meng@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah penerapan sistem pengendalian kualitas produk pada usaha oncom sudah terkendali atau belum terkendali, serta mencari penyebab-penyebab kerusakan produk (cacat) pada usaha oncom. Pada penelitian ini, metode analisis yang digunakan adalah diagram Pareto, peta kendali, serta diagram tulang ikan. Metode-metode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi jenis kerusakan produk yang terjadi, mengukur sejauh mana proses pengendalian kualitas yang dilakukan, serta mencari penyebab terjadinya kerusakan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengendalian kualitas produk pada usaha oncom Pak Jumiat masih ada yang belum terkendali, dengan rata-rata kerusakan produk sebesar 20 % pada bulan April 2016 . Jenis kerusakan yang paling banyak terjadi adalah oncom tidak keluar jamur dengan jumlah 1014 kajang atau 50% dari total produk cacat pada bulan April 2016. Dari hasil observasi lapangan dan wawancara, faktor-faktor yang menjadi penyebab kerusakan ini adalah faktor manusia, peralatan, metode kerja dan bahan baku.

Kata kunci: Pengendalian kualitas, diagram pareto, peta kendali, diagram tulang ikan.

Abstract

This study aimed to analyze whether the application of the system of quality control of products on oncom effort is under control or not under control, and to find the causes of product defects (defects) on oncom effort. In this study, the analysis method used is a Pareto chart, map control, as well as the fishbone diagram. These methods are used to identify the type of product damage that occurs, measure the extent and quality control process is carried out, and to find the cause of the damage. The results of this study indicate that the product quality control efforts on oncom Pak Jumiat there are not restrained, with an average of product damage by 20% per day. This type of damage is the most common fungal oncom not come out with the number of awning 1014 or 50% of total product defects in April 2016. From the results of field observations and interviews, the factors that cause this damage is the human factor, equipment, work methods and raw materials

(2)

1. PENDAHULUAN

Zaman modern ini dengan adanya persaingan yang sangat ketat dalam hal kualitas produk,menyebabkan dunia usaha harus selalu memperhatikan teknologi dan proses produksi yang diterapkan sehingga menghasilkan kualitas produk,yang baik.dapat diketahui secara umum proses produksi sama artinya sebagai integrasi sekuensi dari tenaga kerja, material, informasi, metode kerja, dan mesin atau peralatan,dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai tambah bagi produk agar dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar (Rosnani Ginting, 2004).

Pada produksi juga akan menentukan kualitas produk yang akan di hasilkan. Contohnya pada usaha oncom yang bergerak di bidang makanan. Tahapan - tahapan proses produksi oncom di bagi menjadi beberapa tahapan yaitu di mulai dari pengepresan ampas, dikukus, pencetakan, pemberian biang, hinggga proses pemotongan. Setiap tahapan proses produksi tersebut akan mempengaruhi produktivitas, efektivitas dan efisiensi dalam pembuatan oncom.Tetapi dalam setiap produksi masih terdapat produk yang tidak layak jual atau rusak yang ditunjukkan pada data bulan April 2016

Hal ini menjadi menarik untuk diamati dan dianalisa karena masih banyaknya oncom yang tidak layak jual. Dari masalah tersebut dapat merugikan bagi pemilik usaha, guna memperbaiki kinerja dari proses produksi dan pengendalian mutu sehingga di hasilkan produktivitas yang tinggi

serta menurunkan tingkat kerusakan produk dan dapat meningkatkan kualitas oncom. Dengan kualitas yang baik dengan kriteria mengeluarkan jamur , berwarnah cerah, dan tekstur yang tidak lembek .

2. METODOLOGI PENELITIAN

Gambar 2.1.Alur Penelitian

(3)

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 3.1 Jumlah Produksi, Produk Rusak, dan Presentase Produk Rusak

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan jenis cacat produk oncom yang dihasilkan pada usaha milik Pak Jumiat yaitu :

- Tidak keluar jamur - Warna tidak cerah

- Tekstur lembek dan hancur

Berdasarkan perhitungan presentase kecacatan, maka total cacat untuk tidak keluar jamur 1014 kajang,warna tidak cerah 629 kajang dan tekstur lembek dan hancur 376 kajang.

Dengan melihat kondisi berdasarkan jenis cacat maka presentase yang tertinggi untuk jenis kecacatan pada oncom :

- Jenis rusak tidak keluar jamur persentase 9,81 %

- Jenis rusak warnah tidak cerah persentase 6,08%

- Jenis rusak tekstur lembek dan hancur persentase 3,63% Peta Pengendali Proporsi

Peta pengendali proporsi digunakan bila kita memakai ukuran cacat berupa proporsi produk cacat dalam setiap sampel yang diambil. Bila sampel yang diambil untuk setiap kali melakukan observasi jumlahnya sama maka kita dapat menggunakan peta pengendali

proporsi kesalahan (p-chart) maupun banyaknya kesalahan (np-chart). Cara menghitung jumlah proporsi kesalahan model dengan rumus :

a. Menghitung Presentase Kerusakan p =

๐‘›๐‘

๐‘› Keterangan :

np: jumlah gagal dalam subgrup n :jumlah yang diperiksa dalam

subgrup sub grup hari ke:-

Maka perhitungan datanya adalah sebagai berikut :

Sub grup 1 =๐‘›๐‘

๐‘ = 44

365= 0,12

b. .Menghitung garis pusat /Central Line (CL)

Garis pusat yang merupakan rata-rata kerusakan produk ( p ).

๐ถ๐ฟ

= ๐‘

ฬ…

=

โˆ‘np

โˆ‘n

Keterangan

โˆ‘ np : jumlah total yang rusak โˆ‘ n : jumlah total yang diperiksa Maka perhitungannya adalah :

๐ถ๐ฟ = ๐‘ฬ… =

2019

10330

= 0,20

c. Menghitung batas kendali atas atau Upper Control Limit (UCL)

Untuk menghitung batas kendali atas atau UCL dilakukan dengan rumus :

U๐ถ๐ฟ = CL + 3โˆš1โˆ’CL

n

Keterangan

CL :rata-rata ketidak sesuaian produk

n : jumlah produksi

Untuk perhitungannya adalah: Subgrup ke 1 : ๐‘ˆ๐ถ๐ฟ = CL + 3โˆš1โˆ’CL

n = 0,20 + 3

โˆš1โˆ’0,20

(4)

d. Menghitung batas kendali bawah atau Lower Control Limit (LCL) Untuk menghitung batas kendali

bawah atau LCL dilakukan dengan rumus: L๐ถ๐ฟ = CL โˆ’ 3โˆš1โˆ’CL n Keterangan CL :rata-rata ketidak sesuaian produk n : jumlah produksi Maka perhitungannya adalah: Subgrup ke 1 : ๐ฟ๐ถ๐ฟ = CL โˆ’ 3โˆš1โˆ’CL

n = 0,20 โˆ’ 3

โˆš1โˆ’0,20

365 =0,13

Untuk hasil perhitungan peta kendali p yang selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2 Perhitungan Batas Kendali pada bulan April (dalam satuan kajang)

Gambar 2.2 Peta Pengendali Proporsi pada Bulan April 2016

Berdasarkan gambar peta kendali p diatas dapat dilihat bahwa data yang diperoleh tidak seluruhnya berada dalam batas kendali yang telah ditetapkan bahkan banyak yang keluar dari batas kendali, yaitu sebanyak 8 (delapan ) titik yang berada di luar peta kendali , sehingga bisa dikatakan bahwa proses tidak terkendali. Dari hal tersebut menyatakan bahwa pengendalian kualitas di perlukan adanya perbaikan. Karena adanya titik berfluktuasi sangat tinggi dan tidak beraturan yang menunjukkan bahwa proses produksi masih banyak perbaikan. Oleh sebab itu, masih diperlukan analisis lebih lanjut mengapa penyimpangan ini terjadi dengan menggunakan diagram sebab-akibat (fishbone diagram) untuk mengetahui penyebab dari adanya titik yang berada di luar batas kendali. Data Perhitungan Prosentase dan

Frekuensi Komulatif

Tabel 3.3 Jumlah Jenis Produk Rusak Periode Bulan April 2016

Berdasarkan data diatas dapat dibuat diagram pareto seperti gambar berikut ini :

Gambar 2.3 Diagram Pareto a. Diagram Fishbone

DiagramFishbone digunakan untuk mengidentifikasi berbagai sebab

(5)

potensial dari satu efek atau masalah, dan menganalisis masalah tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kecacatan secara umum dapat dilihat pada diagram berikut ini

Gambar 3.1 Diagram sebab - akibat oncom tidak keluar jamur

tidak keluar jamur Material

Manusia Metode

kualitas bahan baku berubah-ubah

biang tidak bagus

kurang bersih

dalam mencuci olastik belum adanya takaran pemberian biang pemilihan ampas tahu

dilakukan manual

Peralatan

blower mati mesin pres geser

plastik masih basah

kompor mati

Kurang teliti dalam pemilihan ampas

belum ada prosedur kerja

a) Faktor material (bahan baku) - Kualitas bahan baku yang

berubah-ubah

menyebabkan kualitas produk oncom juga berubah

- Biang tidak bagus yaitu jika kualitas biang tidak baik dapat mempengaruhi kualitas oncom tidak keluar jamur

b) Faktor Peralatan

- Mesin pres geser pengepresan yang bertujuan untuk mengurangi kadar air pada ampas tahu tidak dapat maksimal

- Blower rusak jika dalam proses pengukusan blower mati menyebabkan kompor mati dan akan memgaruhi proses pengukusan tidak dapat matang sempurna - Plastik masih basah dapat

menyebabkan oncom tidak jadi

c) Faktor manusia.

- Kurang bersih dalam pencucian plastik sehingga oncom tidak dapat mengeluarkan jamur karena plastik masih kotor

- Kurang teliti dalam pemilihan ampas tahu

sehingga dapat

mempengaruhi kualitas oncom

d) Faktor Metode

- Pemilihan ampas tahu masih manual

- Belum ada takaran dalam pemberian biang karena belum adanya prosedur kerja dalam proses pembuatan

Gambar 3.2 Diagram sebab-akibat oncom warna tidak cerah

warna tidak cerah Material

Manusia Metode kualitas bahan baku

berubah-ubah

biang tidak bagus

belum adanya takaran pemberian biang pemilihan ampas tahu

dilakukan manual Peralatan

blower mati mesin pres geser

plastik masih basah

kompor mati

Kurang teliti dalam pemilihan ampas

belum ada prosedur kerja

a.) Faktor material (bahan baku). - kualitas bahan baku yang

berubah-ubah

menyebabkan kualitas produk oncom juga berubah - Biang tidak bagus yaitu jika kualitas biang tidak baik dapat mempengaruhi kualitas oncom tidak keluar jamur

b.) Faktor Peralatan

- Mesin pres geser pengepresan yang bertujuan untuk mengurangi kadar air pada ampas tahu tidak dapat maksimal

- Blower rusak jika dalam proses pengukusan blower mati menyebabkan kompor mati dan akan memgaruhi proses pengukusan tidak dapat matang sempurna

(6)

c.) Faktor manusia.

- Kurang teliti dalam pemilihan ampas tahu

sehingga dapat

mempengaruhi kualitas oncom

d.) Faktor Metode

- Pemilihan ampas tahu masih manual

- Belum ada takaran dalam pemberian biang karena belum adanya prosedur kerja dalam proses pembuatan Gambar 3.3 Diagram sebab-akibat oncom tekstur lembek dan hancur

tekstur lembek dan hancur Material

Manusia Metode kualitas bahan baku

berubah-ubah

biang tidak bagus

kurang hati-hati

dalam pembalikan oncom Belum adanya takaran pemberian biang pemilihan ampas tahu

dilakukan manual Peralatan

blower mati mesin pres geser

plastik masih basah

kompor mati

Kurang teliti dalam pemilihan ampas

belum ada prosedur kerja

a.) Faktor material (bahan baku). - kualitas bahan baku yang

berubah-ubah menyebabkan kualitas produk oncom juga berubah

- Biang tidak bagus yaitu jika kualitas biang tidak baik dapat mempengaruhi kualitas oncom tidak keluar jamur b.) Faktor Peralatan

- Mesin pres geser pengepresan yang bertujuan untuk mengurangi kadar air pada ampas tahu tidak dapat maksimal

- Blower rusak jika dalam proses pengukusan blower mati menyebabkan kompor mati dan akan memgaruhi proses pengukusan tidak dapat matang sempurna c.) Faktor manusia.

- Kurang hati-hati dalam proses pembalikan oncom sehingga oncom dapat rusak

- Kurang teliti dalam pemilihan ampas tahu

sehingga dapat

mempengaruhi kualitas oncom

d.) Faktor Metode

- Pemilihan ampas tahu masih manual

- Belum ada takaran dalam pemberian biang karena belum adanya prosedur kerja dalam proses pembuatan -

4. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai analisis kualitas pembuatan oncom milik Pak Jumiat ,maka kesimpulan dan saran yang dapat diambil adalah sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 3 jenis cacat oncom yaitu tidak keluar jamur,warna tidak cerah,dan tekstur lembek dan hancur yang di sebabkan karena sumber bahan baku dari pabrik tahu, plastik masih basah,kualitas biang kurang bagus .

2. Berdasarkan hasil peta kendali (p-chart) dapat dilihat bahwa ternyata masih ada kualitas produk yang berada di luar batas kendali yang seharusnya.Hal ini merupakan indikasi adanya proses yang berada dalam keadaan tidak terkendali atau masih mengalami penyimpangan,yaitu dari 30 data terdapat 8 data yang keluar dari peta kendali. Dari chekcsheet yang dibuat, ditemukan banyak hasil produksi yang layak jual dan jenis kecacatan yang paling tinggi jumlahnya adalah karena tidak keluar jamur dengan jumlah 1014 kajang dan berdasarkan hasil analisis diagram sebab akibat dapat diketahui faktor penyebab kerusakan dalam proses produksi berasal dari faktor material (bahan baku), metode, dan pekerja di

(7)

dapat dari analisa sebab akibat yaitu terlalu banyak variasi sumber bahan

5. DAFTAR PUSTAKA

[1] Anonim. (2014). Peranan Mikroba dalam Pembuatan Oncom

http://elviraar.blogspot.co.id

diakses 16 Juli 2016

[2] Assauri, Sofjan. (1998). Manajemen Produksi dan Operasi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta [3] Chrestella. (2009). Analisis

Pengendalian Kualitas Produk Sepatu dan Sendal dengan Metode SPC (Statistical Process Control) pada PT. Gramido,Universitas Bina Nusantara ,Jakarta.

[4] Fakhri, F.A. 2010. โ€œAnalisis Pengendalian Kualitas Produksi di PT. Masscom Graphy Dalam Upaya Mengendalikan Tingkat Kerusakan Produk Menggunakan Alat Bantu Statistikโ€.Universitas Diponegoro,Semarang. [5] Ginting,Rosnani,2007,Sistem Produksi.Graha Ilmu,Yogyakarta. [6] Hatani,La,2008.โ€œManajemen Pengendalian Mutu Produksi Roti Melalui Pendekatan Statistical Quality Control (SQC)โ€. Universitas Halu Oleo,Kendari .

[7] Hermawati, S dan Sunarto. 2007. Analisis Pengendalian Mutu Produk

PT.Meiwa Indonesia Plant II Depok, Universitas Gunadarma,Jakarta

[8] Mulyadi. 1993. Akuntansi Biaya. Yogyakarta : STIE-YKPN.

[9] Siswono, 2002. โ€œOncom Menutup Kekurangan Energi dan Proteinโ€, Gizinet, Jakarta,. [10] Suradi . 2013. Pengendalian Kualitas Produk Bandeng Presto pada Perusahaan Sahabat Bandeng Pangkep.Universitas Islam Makassar,Makassar

[11]Windartri

Tantri,Pengendalian kualitas untuk meminimasi produk cacat pada proses produksi besi beton.STMIK Surabaya.Jawa Timur.

[12] Zulian Yamit. 2001. Manajemen Produk dan Jasa. Edisi Pertama. Ekonisia : Yogyakarta.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :