PENDAHULUAN Kalau melihat data penduduk dari Biro Pusat Statistik ( maka setiap tahun akan terlihat bahwa banyak la

Teks penuh

(1)

KECEMASAN SEORANG SINGLE PARENT YANG MEMILIKI ANAK KETERBELAKANGAN MENTAL

SHITA TRISTANI

Pembimbing: Prof. Dr. A. M. Heru Basuki, M. Si

ABSTRAK

Beberapa tahun belakangan ini sering sekali terjadi perceraian dikalangan orang tua yang menikah muda maupun yang tidak; penduduk pada tahun 1990 menunjukkan bahwa kasus perceraian 18%, perpisahan 14% dan kematian 68%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara mendalam mengenai kecemasan seorang single parent yang memiliki anak keterbelakangan mental, hal-hal apa saja yang menyebabkan kecemasan dan bagaimana cara mengatasi kecemasan tersebut. Pertanyaan yang diajukan adalah apa ciri-ciri kecemasan yang dialami oleh subjek, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan subjek menjadi cemas dan bagaimana cara mengatasi kecemasan pada subjek. Metode yang digunakan dalam penenlitian ini adalah studi kasus. Subjek dalam penelitian ini berjumlah satu orang dengan karakteristik berjenis kelamin perempuan, berusia 53 tahun dan memiliki anak keterbelakangan mental. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penenlitian ini adalah wawancara dan observasi.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa ciri-ciri kecemasan seorang single parent yang memiliki anak keterbelakangan mental adalah kecemasan kegelisahan, kegugupan, banyak berkeringat, sulit berbicara, suara yang bergetar, anggota tubuh yang menjadi dingin, sering buang air kecil, mulut terasa kering, kerongkongan terasa kering, anggota tubuh terasa kaku dan dahi berkeringat, tergantung pada orang lain, selalu waspada dan sulit berkonsentrasi. Faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan adalah saat mengalami kesulitan untuk memberikan obat, mengalami gugup saat merajuk anaknya untuk makan, melihat adanyan penurunan berat badan pada anaknya, kondisi anaknya yang tidak pulih-pulih, kelelahan karena memandikan anaknya, subjek tidak mampu merawat anaknya seorang diri, dan subjek inign memberikan yang terbaik untuk anaknya. Cara mengatasi kecemasan adalah menggerakkan tangannya dengan cepat, berusaha ubtuk menata kata-kata saat merajuk anaknya, berusaha menggenggam tangannya yang gemetar, membasuh telapak tangannya yang basah, menarik nafas untuk menenangkan diri, membasuh keringat dengan handuk, sering mondar-mandir ke kamar mandi, memijit-mijit tubuhnya sendiri, sering mengawasi anaknya yang berada di kamar, dan subjek banyak meminta pendapat ke saudara kandungnya.

(2)

PENDAHULUAN

Kalau melihat data penduduk dari Biro

Pusat Statistik (http://www.biropusatstatistik.org), maka

setiap tahun akan terlihat bahwa banyak laki-laki maupun perempuan yang mengalami perceraian naik, cerai hidup maupun cerai mati, karena suami atau isteri meninggal dunia. Di Indonesia jumlah keluarga orang tua tunggal tidak dapat diketahui dengan pasti, yang ada hanyalah data duda, janda atau wanita yang menjadi kepala rumah tangga (WKRT). Mereka inilah yang besar kemungkinannya menjadi orang tua tunggal atau single parent apabila mereka tinggal bersama anak dan berperan sebagai orang tua tanpa pasangan. Para wanita kepala rumah tangga (WKRT) ini, selain terdiri dari para janda karena kematian pasangan dan bercerai, juga wanita yang tidak menikah ataupun yang bersuami tetapi suaminya tidak dapat berfungsi sebagai kepala rumah tangga bisa disebabkan suami merantau, sakit atau tidak mempunyai penghasilan. Wanita kepala rumah tangga (WKRT) yang suaminya tidak berpenghasilan ini tidak dapat dikatagorikan sebagai orang tua

tunggal atau single parent, karena

kenyataannya walaupun suami tidak berpenghasilan tetapi masih dapat

berfungsi sebagai orang tua bagi anaknya. Dengan demikian yang dimaksud dengan

single parent adalah seorang ayah atau

ibu yang memiliki anak tanpa kehadiran pasangannya, mereka mengasuh dan juga menjaga anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan dari orang lain

(http://www.singleparent.org, 2008).

Peran sebagai ayah atau ibu tidak mungkin dapat terlaksana dengan baik jika terjadi perceraian, kematian dan perpisahan. Menurut pandangan anak, ayah merupakan tokoh yang menggambarkan kekuatan, keamanan dan kebijaksanaan, sedangkan Ibu sebagai tokoh yang menggambarkan kasih sayang, pengertian dan melindungi. Disamping itu ayah memiliki pengetahuan dan merupakan kepala keluarga bagi anak serta isterinya. Orang tua tunggal atau

single parent yang memiliki anak retardasi

mental, seyogyanya lebih memiliki waktu luang untuk mengurus anaknya. Karena anak yang mengalami keterbelakangan mental sangat membutuhkan perawatan khusus dan teratur. Tuna grahita atau retardasi mental adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Menurut Somantri (2006), retardasi mental atau tuna grahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan ditandai

(3)

oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Orang tua tunggal yang memiliki anak retardasi mental akan merasa lebih cemas dalam merawat anak dibandingkan orang tua tunggal yang memliki anak normal. Kecemasan akan kesehatan anak, masa depan anak, kehidupan sosial anak dan juga kehidupan sehari-hari. Kecemasan merupakan suatu pola respon yang bersifat defensif dan menolak atau menghindar dari situasi yang dikehendaki dan

menyebabkan tidak dapat membuat

tindakan yang pasti. Kecemasan adalah ketakutan yang samar-samar dan yang tidak jelas terarah pada suatu realisasi objektif yang di dapat karena pengalaman atau melalui generalisasi rangsangan; seringkali terjadi sebagai akibat frustasi atau kekecewaan. Hal ini merupakan ciri dari berbagai gangguan syaraf dan mental (dalam Hassan, 2003).

TINJAUAN PUSTAKA Definisi Kecemasan

Menurut Kaplan, Sadock dan Grebb (1997), kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang mengancam dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup. Kecemasan

adalah kondisi ketidaknyamanan terhadap sesuatu, baik itu orang ataupun suatu keadaan dan ketidaknyamanan terhadap suatu stimulus tertentu (dalam Lauren, B., Joan, A. dan Richard, R., 1996). Sedangkan menurut Freud (dalam Corey, 2005) kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi kita untuk berbuat sesuatu. Kecemasan merupakan fungsi dorongan seperti lapar dan seks, hanya saja kecemasan tidak timbul dari kondisi-kondisi jaringan di dalam tubuh, melainkan aslinya ditimbulkan oleh sebab-sebab dari luar. Fungsi kecemasan adalah memperingati adanya bahaya, yakni sinyal ego yang terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak untuk mengatasi ancaman itu tidak diambil.

Definisi Retardasi Mental

Retardasi mental adalah suatu gangguan yang heterogen yang terdiri dari fungsi intelektual yang di bawah rata-rata dan gangguan dalam keterampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun (dalam Kaplan, dkk, 1997).

Pendapat lain dikemukakan oleh Somantri (2006), retardasi mental atau tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual dibawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial.

(4)

Sedangkan menurut Kauffman & Hallahan (1986) keterbelakangan mental menunjukkan fungsi intelektual di bawah rata-rata secara jelas dengan disertai ketidakmampuan dalam penyesuaian perilaku dan terjadi pada masa perkembangan.

Definisi Single Parent

Di dalam suatu keluarga dimana hanya seorang ibu berperan tanpa dukungan atau bantuan figur seorang suami, sering dinamakan dengan single

mother. Sebaliknya, bila dalam satu

keluarga dimana hanya seoranga ayah berperan tanpa dukungan atau bantuan figur seorang suami, sering disebut dengan single father. Seorang single

parent memiliki banyak konsekuensi

yang harus dihadapi, seperti membesarkan anak sendiri, mencari nafkah untuk anak-anaknya tanpa adanya bantuan dari pasangan, menghadapi berbagai perkembangan anak menurut usianya dan memberi penjelasan kepada anak tentang keadaan orang tuanya yang hidup terpisah. Orang tua tunggal ini dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu, ketiadaan pasangan karena pasangan meninggal dunia, keadaan yang menuntut untuk hidup sendiri atau telah bercerai. Keadaan seperti ini

tentunya sangat tidak diinginkan oleh banyak pasangan, dimana harus hidup sendiri dan membesarkan anak sendiri tanpa didampingi oleh pasangan (dalam Widyarini, 2005).

Ciri-Ciri Kecemasan

Nevid, dkk (2003) terdapat beberapa ciri kecemasan, antara lain :

a. Ciri-ciri fisik 1) Kegelisahan 2) Kegugupan

3) Salah satu anggota tubuh bergetar

4) Banyak berkeringat 5) Sulit berbicara 6) Sulit bernafas

7) Jantung berdetak kencang 8) Suara yang bergetar

9) Anggota tubuh yang menjadi dingin

10) Panas dingin

11) Sering buang air kecil 12) Wajah memerah 13) Mulut terasa kering

14) Kerongkongan terasa kering 15) Anggota tubuh terasa kaku 16) Dahi berkeringat

b. Ciri-ciri behavior

1) Perilaku menghindar 2) Tergantung pada orang lain 3) Mudah terkejut

(5)

1) Sering merasa khawatir 2) Sering merasa takut

3) Keyakinan bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi

4) Selalu waspada

5) Sulit untuk mengontrol diri

6) Tidak dapat mengambil keputusan

7) Merasa tidak mampu untuk mengendalikan situasi

8) Tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran negatif

9) Sulit berkonsentrasi

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian ini peneliti mneggunakan pendekatan kualitatif, berupa studi kasus. Menurut Nawawi (2003), studi kasus adalah penelitian yang memusatkan diri terhadap 1 (satu) objek tertentu, dengan mempelajari sebagai suatu kasus. Menurut Heru Basuki (2006), studi kasus adalah suatu bentuk penelitian (inquiry) atau studi tentang suatu masalah yang memiliki sifat kekhususan (particulary), dapat dilakukan baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, dengan sasaran perorangan (individual) maupun kelompok, bahkan masyarakat luas. Disamping itu, studi kasus yang baik harus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yang diselidiki. Untuk itu data studi kasus dapat

diperoleh tidak saja dari kasus yang bersangkutan, tetapi dapat juga diperoleh dari semua pihak yang mengetahui dan mengenalnya secara baik. Dengan kata lain, data dalam studi ini dapat dikumpulkan dari beberapa summber (Moleong, 2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, subjek penelitian

adalah seorang single parent yang

memiliki anak keterbelakangan mental dan subjek juga seorang wanita karir. Dari data diatas dapat diketahui ciri-ciri kecemasan yang dialami oleh subjek yaitu subjek mengalami kegelisahan, kegugupan, banyak berkeringat, sulit berbicara, suara yang bergetar, anggota tubuh yang menjadi dingin, sering buang air kecil, mulut terasa kering, kerongkongan terasa kering, anggota tubuh terasa kaku dan dahi berkeringat, yang kesemuanya itu merupakan ciri-ciri kecemasan secara fisik. Kecemasan yang dialami subjek juga terlihat dari perilaku tergantung pada orang lain yang merupakan ciri-ciri kecemasan secara behavior. Selain itu, subjek juga mengalami perasaan yang selalu waspada dan sulit berkonsentrasi yang merupakan ciri-ciri kecemasan secara kognitif. Pada faktor pencetus kecemasan, dalam hal masalah fisik, individu merasa memiliki masalah

(6)

terhadap simtom-simtom seperti kegelisahan, kegugupan, banyak berkeringat, sulit berbicara, suara yang bergetar, anggota tubuh yang menjadi dingin, sering buang air kecil, mulut terasa kering, kerongkongan terasa kering, anggota tubuh terasa kaku dan dahi berkeringat. Hal ini dapat dilihat bahwa subjek menjadi gelisah karena anak subjek sulit makan dan minum obat, menjadi gugup karena subjek bingung harus merajuk anaknya, salah satu bagian tubuh bergetar karena tubuh anaknya semakin kurus, sulit berbicara karena bingung merajuk anaknya untuk makan, anggota tubuh menjadi dingin karena lelah menidurkan anaknya,panas dingin karena kelelahan menjaga anak, wajah memerah karena kelelahan saat memandikan anaknya, anggota tubuh menjadi kaku karena harus mengeloni anaknya tidur, dahi berkeringat karena kelelahan setelah memandikan anaknya, tergantung pada orang lain karena selalu meminta tolong untuk merawat anaknya dan selalu waspada karena subjek takut kehilangan anaknya. Selain itu dalam hal stressor eksternal yang berat, individu mengalami kemunculan stressor yang berat seperti perginya seorang yang dicintainya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan subjek yang takut kehilangan akan anaknya. Dan dalam hal stressor eksternal yang berkepanjangan

atau kronis, individu mendapat stressor yang terus-menenrus dalam jangka waktu yang lama. Subjek berusaha menggerakkan tubuh dengan cepat, subjek berusaha menata kata-kata saat sedan merajuk anaknya untuk makan. Subjek juga menggenggam tangannya yang bergetar. Subjek juga terlihat sering membasuh telapak tangannya yang basah. Subjek juga sering terlihat menarik nafas untuk menenangkan diri. Subjek terlihat membasuh dahinya yang berkeringat. Subjek sering mondar-mandir ke kamar kecil. Subjek berusaha untuk memijit-mijit badannya sendiri, setelah mengeloni anaknya tidur. Subjek juga meminta bantuan pembantunnya untuk mengurus anaknya. Subjek juga terlihat sering bolak-balik ke kamar anaknya hanya untuk memastikan bahwa anaknya baik-baik saja.

KESIMPULAN

Subjek memiliki ciri-ciri kecemasan seperti ; subjek mengalami kegelisahan, kegugupan, banyak berkeringat, sulit berbicara, suara yang bergetar, anggota tubuh yang menjadi dingin, sering buang air kecil, mulut terasa kering, kerongkongan terasa kering, anggota tubuh terasa kaku dan dahi berkeringat, yang kesemuanya itu merupakan ciri-ciri kecemasan secara fisik. Kecemasan yang

(7)

dialami subjek juga terlihat dari perilaku tergantung pada orang lain yang merupakan ciri-ciri kecemasan secara behavior. Selain itu, subjek juga mengalami perasaan yang selalu waspada dan sulit berkonsentrasi yang merupakan ciri-ciri kecemasan secara kognitif. Faktor-faktor yang menyebabkan sujek cemas yaitu ; merasa sulit untuk memberikan makan dan obat kepada anaknya, subjek merasa gugup saat merajuk anaknya untuk makan, tubuh subjek bergetar karena melihat penurunan berat badan pada anaknya, suara subjek terdengar sedih karena kondisi anaknya yang tidak pulih-pulih, subjek juga terlihat kelelahan karena merawat anaknya, subjek merasa tidak mampu merawat anaknya seorang diri, dan subjek selalu inign memberikan yang terbaik untuk anaknya. Cara subjek mengatasi kecemasan ; menenangkan diri dan mencoba untuk menjauh dari masalah yang sedang dihadapinya, tetapi subjek tidak berarti menghindari masalah yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2008). There is whispered

disaggremen to definition for

single parent.

12/06/08retrievedfromhttp:/www.si ngleparent.org

Basuki, H. (2006). Penelitian kualitatif

untuk ilmu-ilmu kemanusiaan dan budaya. Depok : Universitas Gunadarma.

Corey, G. (2005). Teori dan praktek

konseling dan psikoterapi.

Bandung : PT. Refika Aditama Hassan, Fuad. (2003). Kamus istilah

psikologi. Jakarta : Progress &

Pusat Bahasa.

Kaplan, H. I., Sadock, B. J., & Grebb, J. A. (1997). Sinopsis psikiatri : Ilmu

pengetahuan perilaku psikiatri klinis (7th. ed). Alih Bahasa :

Kusuma Widjaja & Wigma.

Jakarta : Binarupa Aksara.

Moleong, L. J. (2004). Metode penelitian

kualitatif. Bandung : PT. Remaja

Rosdakarya.

Nawawi, H. (2003). Metode penelitian

bidang sosial. Yogyakarta : Gadjah

Mada University Press. Nevid, S. J. & Rathus, S. A. (2003).

Psikologi abnormal. Jakarta :

Erlangga.

Somantri, S. (2006). Psikologi anak luar

biasa. Bandung : Refika Aditama.

Widyarini, N. (2005). Derita anak korban

perceraian.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :