BAB III PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI INSTRUMENTER DALAM MEMBERIKAN KETERANGAN DALAM AKTA NOTARIS

Teks penuh

(1)

BAB III

PERLINDUNGAN HUKUM BAGI SAKSI INSTRUMENTER DALAM MEMBERIKAN KETERANGAN DALAM AKTA NOTARIS

A. Pembuktian Kesaksian Oleh Saksi Akta di Depan Persidangan

Keterangan saksi atau suatu kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada Hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah satu pihak dalam perkara yang dipanggil di persidangan.

Keterangan yang harus diberikan oleh saksi di depan persidangan adalah tentang adanya perbuatan atau peristiwa hukum yang saksi lihat, dengar dan alami sendiri serta alasan atau dasar yang melatarbelakangi pengetahuan tersebut. Dalam hal ini saksi tidak boleh menyimpulkan, membuat dugaan ataupun memberikan pendapat tentang kesaksiannya, karena hal ini bukan dianggap sebagai kesaksian. Hal ini sesuai dalam ketentuan Pasal 1907 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.135Jadi dengan kesaksian yang diambil dari pendapat atau perkiraan yang diperoleh dengan jalan pikiran, bukanlah suatu kesaksian.

Hakim dalam melihat alat pembuktian saksi, berdasarkan Pasal 1908 KUHPerdata diharuskan memperhatikan kesamaan/penyesuaian antara keterangan para saksi, penyesuaian antara keterangan-keterangan dengan apa yang diketahui dari

135

Tiap-tiap kesaksian harus disertai dengan, alasan-alasan bagaimana diketahuinya hal-hal yang diterangkan. Pendapat-pendapat maupun perkiraan perkiraan khusus yang diperoleh dengan jalan pikiran, bukanlah kesaksian, Lihat dalam R. Subekti dan R. Tjitrosudibjo, Pada Pasal 1907 Kitab Undang-undang Hukum Perdata, hal. 482.

(2)

segi lain tentang perkara, sebab-sebab yang mendorong para saksi mengemukakan keterangannya, pada cara hidupnya, kesusilaannya, kedudukan para saksi dan segala apa yang berhubungan dengan keterangan yang dikemukakan.

Keterangan saksi agar dapat dipakai sebagai alat bukti yang sah, maka harus memenuhi dua syarat, yaitu:136

1. Syarat Formil

Dalam syarat formil keterangan saksi harus diberikan dengan di bawah sumpah/janji menurut cara agamanya masing-masing, bahwa akan memberi keterangan sebenarnya dan tidak lain dari apa yang sebenarnya (Pasal 160 ayat (3) KUHAP). Dalam hal mengucapkan sumpah atau janji menurut ketentuan Pasal 160 ayat (3); “Sebelum saksi memberi keterangan “wajib mengucapkan” sumpah atau janji.

Adapun sumpah atau janji, yaitu :137

a. Dilakukan menurut cara agamanya masing-masing.

b. Lafal sumpah atau janji berisi bahwa saksi akan memberi keterangan yang sebenar-benarnya dan tiada lain daripada yang sebenarnya.

Dalam Pasal 161 ayat (2) menunjukkan bahwa pengucapan sumpah merupakan syarat mutlak : “Keterangan saksi atau ahli yang tidak disumpah atau mengucapkan janji, tidak dapat dianggap sebagai alat bukti yang sah, tetapi hanyalah merupakan

136

http://repository.unpas.ac.id/5159/5/9.%20BAB%20II.pdf, diakses pada tanggal 19 Maret 2016.

(3)

keterangan yang dapat menguatkan keyakinan Hakim”, Ini tidak berarti merupakan kesaksian menurut undang-undang, bahkan juga tidak merupakan petunjuk, karena hanya dapat memperkuat keyakinan Hakim.

2. Syarat Materil

Pasal 1 angka 27 Jo Pasal 185 ayat (1) KUHAP dimana ditentukan bahwa: “Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu.”

Dalam hal ini haruslah diketahui bahwa tidak semua keterangan saksi mempunyai nilai sebagai alat bukti. Keterangan saksi yang mempunyai nilai ialah keterangan yang sesuai dengan isi pasal yang dikemukakan diatas, yakni jika dijabarkan poin-poinnya adalah sebagai berikut :

1) Yang saksi liat sendiri; 2) Saksi dengar sendiri; 3) Saksi alami sendiri;

4) Serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya itu.

Penilaian keterangan saksi sebagaimana menurut Pasal 185 KUHAP, bahwa:138 1. Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang

pengadilan (testimony)

2. Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya

(4)

3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

4. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, Hakim harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan :

a. Persesuaian antara keterangan saksi yang satu dengan yang lain b. Persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain

c. Alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan tertentu

d. Cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.

Hakim harus mampu melihat apakah saksi yang memberikan keterangan di depan persidangan itu memang sudah memberikan kesaksian yang sebenarnya atau terdapat kepalsuan di dalam kesaksiannya. Hakim juga harus melihat apa penyebab mengapa saksi tersebut memberikan kesaksian palsu. Apakah diancam dari pihak lain ataukah adanya sebab-sebab lain yang membuatnya harus memberikan keterangan palsu berkaitan dengan akta yang disengketakan.

Demikian pula saksi yang telah memberikan keterangan palsu di persidangan, sebagaimana menurut Pasal 174 KUHAP, yaitu:

(1) Apabila keterangan saksi di sidang disangka palsu, Hakim Ketua sidang memperingatkan dengan sungguh-sungguh kepadanya supaya memberikan keterangan yang sebenarnya dan mengemukakan ancaman

(5)

pidana yang dapat dikenakan kepadanya apabila ia tetap memberikan keterangan palsu.

(2) Apabila saksi tetap pada keterangannya itu, Hakim Ketua sidang karena jabatannya atau atas permintaan penuntut umum atau terdakwa dapat memberi perintah supaya saksi itu ditahan untuk selanjutnya dituntut perkara dengan dakwaan palsu.

(3) Dalam hal demikian oleh panitera segera dibuat berita acara pemeriksaan sidang yang memuat keterangan saksi dengan menyebutkan alasan persangkaan, bahwa keterangan saksi itu adalah palsu dan berita acara tersebut ditandatangani oleh Hakim Ketua sidang serta panitera dan segera diserahkan kepada penuntut umum untuk diselesaikan menurut ketentuan undang-undang.

(4) Jika perlu Hakim Ketua sidang menangguhkan sidang dalam perkara semula sampai pemeriksaan perkara pidana terhadap saksi itu selesai. Adapun yang dimaksud dengan keterangan palsu yang tercantum di dalam akta autentik adalah suatu keterangan-keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang bertentangan atau tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Keterangan palsu yang terdapat dalam suatu akta umumnya berasal dari para pihak/penghadap yang meminta untuk dibuatkan akta yang bertujuan untuk menguntungkan dirinya dan merugikan pihak lain. Perbuatan ini dilakukan oleh para pihak/penghadap dengan cara sengaja yakni pada saat para pihak/penghadap datang dan menghadap kepada Notaris untuk meminta dibuatkan akta, di mana para pihak/penghadap tersebut memberikan keterangan-keterangan dan identitas yang tidak benar serta surat-surat/dokumen-dokumen yang tidak benar.

Adapun beberapa hal yang terkait dengan saksi ialah:139

1. Pembuktian dengan satu saksi, tanpa alat bukti lain tidak boleh diterima (Unus Testis Nullus Testis) Pasal 1905 KUHPerdata

(6)

2. Setiap saksi harus menerangkan alasan-alasan bagaimana diketahuinya hal-hal yang diterangkan dan dialami sendiri

3. Saksi tidak boleh menerangkan tentang pendapat, kesimpulan, dan dugaan saksi

Dalam menimbang keterangan saksi, Hakim harus menimbang dan memerhatikan dengan sungguh-sungguh segala hal, pekerjaan, kehidupan saksi, agar dapat memperoleh keterangan saksi yang benar. Beberapa ketentuan tentang cara memperoleh keterangan saksi yang benar, misalnya:140

1. Pasal 144 HIR

a. Saksi yang datang pada hari yang ditentukan itu dipanggil ke dalam seorang demi seorang

b. Hakim menanyakan pada saksi tentang nama saksi, pekerjaannya, umurnya, alamatnya, apakah ada hubungan darah/semenda dengan kedua belah pihak atau salah satunya, apakah saksi ada hubungan kerja dengan menerima upah dengan salah satu pihak.

2. Pasal 172 HIR

Dalam hal menimbang nilai kesaksian, Hakim haruslah memerhatikan dengan sungguh-sungguh persesuaian keterangan saksi, segala hal yang mungkin dapat memengaruhi saksi memberikan keterangan, kehidupan saksi, kebiasaan

(7)

saksi dan segala hal yang dapat menyebabkan saksi dapat dipercaya atau tidak. .

3. Pasal 146 HIR

1) Orang yang boleh minta undur diri dari memberi penyaksian, yaitu : a. Saudara laki-laki dan saudara perempuan, dan ipar laki-laki dan

perempuan dari salah satu pihak

b. Keluarga sedarah menurut keturunan yang lurus dan saudara laki-laki dan perempuan dari laki atau isteri salah satu pihak

c. Sekalian orang yang karena martabat, pekerjaan atau jabatannya yang salah satu diwajibkan menyimpan rahasia, akan tetapi semata-mata hanya tentang hal, yang diberitahukan kepadanya karena martabat pekerjaan atau jabatan itu sendiri.

2) Pengadilan Negerilah yang akan menimbang benar atau tidaknya keterangan orang bahwa ia diwajibkan akan menyimpan rahasia itu.

Orang-orang yang memiliki hak undur diri itu boleh meminta dibebaskan dari memberikan kesaksian, namun apabila mereka bersedia memberikan kesaksian, mereka diperbolehkan memberikan kesaksian di muka pengadilan.

Sebagaimana diketahui bahwa kuantitas Notaris sangatlah tinggi, oleh karenanya pelanggaran-pelanggaran terhadap pembuatan akta cenderung sangat sering terjadi. Setiap perbuatan melanggar hukum tentunya harus mengalami proses

(8)

Penyilidikan141, Penyidikan142 dan Persidangan serta proses hukum lainnya, baik itu secara perdata maupun pidana. Terkait dengan hal-hal yang demikian, sering kali permasalahan tersebut masuk dalam ranah hukum pidana. Sengketa hukum ini tentunya tidak hanya berimplikasi pada Notaris yang membuat akta saja, tetapi juga berimplikasi pada akta itu sendiri.

Permasalahan hukum yang telah memasuki ranah hukum pidana tentunya menyebabkan Notaris pembuat akta yang bermasalah tersebut dapat menjadi tersangka maupun seorang saksi, yang selanjutnya menimbulkan pertanyaan bagaimana dengan status akta Notaris itu sendiri.

Apabila seorang Notaris melakukan penyimpangan akan sebuah akta yang dibuatnya sehingga menimbulkan suatu perkara pidana, maka Notaris harus mempertanggungjawabkan secara pidana apa yang telah dilakukannya tersebut. Pertanggungjawaban pidana lahir dengan diteruskannya celaan (verwijbaarheid) yang obyektif terhadap perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak pidana berdasarkan Hukum Pidana yang berlaku, dan secara subyektif kepada pelaku yang memenuhi persyaratan untuk dapat dikenakan pidana karena perbuatannya itu.143

141 Penyelidikan berarti serangkaian tindakan mencari dan menemukan suatu keadaan atau

peristiwa yang berhubungan dengan kejahatan dan pelanggaran tindak pidana atau yang diduga sebagai perbuatan tindak pidana. Lihat dalam Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan Penuntutan, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hal. 101.

142 Pada penyidikan titik berat tekanannya diletakkan pada tindakan “mencari serta

mengumpulkan bukti” supaya tindak pidana yang ditemukan dapat menjadi terang, serta agar dapat menemukan dan menentukan pelakunya. Lihat dalam Yahya Harahap, Ibid., hal. 109.

143 Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislasi tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana

(9)

Notaris yang tidak jarang terjerat kasus hukum dalam menjalankan tugasnya, dibatasi dengan aturan-aturan hukum yang berlaku. Aturan-aturan tersebut termuat di dalam UUJN yang secara jelas mengatur setiap tindakan seorang Notaris dalam menjalankan jabatannya. Pemerintah juga mengadakan pengawasan pada Notaris agar seorang Notaris tidak bersikap sewenang-wenang dalam menjalankan tugasnya.

Menurut Sujamto, pengawasan dalam arti sempit adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai kenyataan yang sebenarnya tentang pelaksanaan tugas atau pekerjaan, apakah sesuai dengan yang semestinya atau tidak. Sedangkan pengawasan dalam arti luas adalah sebagai pengendalian, pengertiannya lebih forceful daripada pengawasan, yaitu sebagai usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pelaksanaan tugas atau pekerjaan berjalan sesuai dengan semestinya.144

Sejak kehadiran institusi Notaris di Indonesia, pengawasan terhadap Notaris selalu dilakukan oleh lembaga peradilan dan pemerintah, bahwa tujuan dari pengawasan adalah agar para Notaris ketika menjalankan tugas jabatannya memenuhi semua persyaratan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas jabatan Notaris, demi untuk pengamanan kepentingan masyarakat, karena Notaris diangkat oleh pemerintah, bukan untuk kepentingan diri Notaris sendiri melainkan untuk kepentingan masyarakat yang dilayaninya.145

144Sujamto, Aspek-Aspek Pengawasan di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 1987), hal. 53. 145G.H.S. Lumban Tobing, Op.Cit., hal. 301.

(10)

Tujuan lain dari pengawasan terhadap Notaris, bahwa Notaris dihadirkan untuk melayani kepentingan masyarakat yang membutuhkan alat bukti berupa akta autentik, sehingga Notaris sendiri dengan kesadaran dan penuh tanggung jawab dalam tugas jabatannya menjalankan berdasarkan aturan hukum yang berlaku. Hal ini tidak terlepas dari peranan masyarakat untuk mengawasi dan senantiasa melaporkan tindakan Notaris yang dalam melaksanakan tugas jabatannya tidak sesuai dengan aturan hukum yang berlaku kepada Majelis Pengawas Notaris setempat.

B. Perbedaan Saksi Instrumenter dalam Akta dan Saksi di Luar Instrumenter

Peresmian akta Notaris mengharuskan adanya dua orang saksi untuk turut hadir dalam menyaksikan pembacaan akta serta membubuhkan tanda tangan agar akta tersebut dapat menjadi akta yang autentik. Pengertian saksi yang ada di dalam lembaga Notaris terdapat 2 (dua) jenis, yaitu saksi instrumenter dan saksi Attesterend. Saksi instrumenter adalah saksi dalam akta Notaris yang merupakan para saksi yang ikut serta di dalam pembuatan terjadinya akta.146 Para saksi ikut serta di dalam pembuatan terjadinya akta (instrument) itu dan itulah sebabnya dinamakan saksi instrumenter (instrumentaire getuigen) dengan jalan membubuhkan tanda tangan, memberikan kesaksian tentang kebenaran adanya dilakukan dan dipenuhinya formalitas-formalitas yang diharuskan oleh undang-undang, yang disebutkan dalam akta itu dan yang disaksikan oleh para saksi.147

146G.H.S. Lumban Tobing, Op.Cit., hal.168. 147G.H.S. Lumban Tobing, Ibid.

(11)

Saksi Attesterend/saksi pengenal, yakni saksi yang memperkenalkan penghadap kepada Notaris dikarenakan penghadap tersebut tidak bisa dikenal oleh Notaris atau dikarenakan tidak memiliki identitas atau Notaris meragukan identitasnya, maka Notaris minta diperkenalkan oleh saksi attesterend. Pengenalan penghadap tersebut harus dinyatakan dalam akta.

Untuk seorang penghadap yang tidak dikenal maka disyaratkan ada satu orang saksi attesterend, sedangkan bila terdapat lebih dari 2 (dua) orang penghadap, maka mereka dapat saling memperkenalkan kepada Notaris.

Dengan demikian, dalam salah satu atap verlidjen yaitu pada saat penandatanganan akta, seorang saksi attesterend tidak diharuskan menandatangani, namun apabila mereka tetap ingin membubuhkan tandatangannya tidak ada larangan untuk hal tersebut.148

Saksi Instrumenter yang tidak lain adalah Karyawan Notaris149 itu berperan sebagai saksi instrumenter dalam peresmian akta, sudah masuk dalam lalu lintas hukum yang memiliki akibat hukum, sehingga apabila suatu akta Notaris dikemudian hari terjadi masalah atau kasus maka karyawan Notaris dengan sendirinya ikut terlibat dalam masalah atau kasus tersebut.

Sebagaimana saksi dalam kasus lain, maka karyawan Notaris150sebagai saksi dalam kasus akta Notaris juga harus mendapat perlindungan hukum dan harus

148G.H.S. Lumban Tobing, Ibid., hal. 204 149R. Soegondo Notodisoerjo, Op.Cit., hal. 139.

150http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20316810-T31529-Perlindungan%20hukum.pdf diakses

(12)

dijamin keselamatannya dalam hal terjadi kasus atau gugatan di Pengadilan, terhadap suatu akta dimana karyawan tersebut menjadi saksi. Walaupun tindakan karyawan Notaris sebagai saksi instrumenter dalam peresmian akta Notaris sudah termasuk dalam bidang kenotariatan, akan tetapi Undang-undang Jabatan Notaris tidak memberikan perlindungan hukum terhadap saksi dalam peresmian akta, terutama terhadap karyawan Notaris.

Hal tersebut karena di dalam UUJN yang mendapat perlindungan hukum hanya Notaris, sehingga perlindungan hukum terhadap karyawan Notaris sebagai saksi instrumenter dalam peresmian akta Notaris tidak ditemukan dalam undang-undang tersebut. Dengan tidak adanya pengaturan dalam Undang-undang-undang Jabatan Notaris tentang perlindungan bagi karyawan Notaris yang menjadi saksi instrumenter dalam peresmian akta, maka perlindungan hukum terhadap karyawan Notaris yang berperan sebagai saksi tersebut baru dapat ditemui dalam ketentuan diluar peraturan jabatan Notaris, yakni Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Walaupun dalam undang-undang tersebut tidak mengatur secara khusus mengenai saksi dalam peresmian akta Notaris, akan tetapi ketentuan-ketentuan dalam undang-undang tersebut dapat diaplikasikan terhadap kedudukan karyawan Notaris sebagai saksi instrumenter dalam peresmian akta. Undang-undang tersebut bersifat

(13)

menyeluruh untuk seluruh saksi yang dipanggil dalam suatu proses perkara di pengadilan.151

Dalam hal diperkenalkannya para saksi kepada Notaris tidak cukup hanya dengan menunjukan identitas saja, tapi yang lebih penting dari itu adalah kecakapan untuk bertindak sebagai saksi dan memenuhi syarat-syarat sebagai saksi sesuai Pasal 40 UUJN. Apabila ada salah satu dari persyaratan tersebut tidak terpenuhi maka Notaris berwenang untuk menolaknya demi untuk menjamin otensitas suatu akta yang akan dibuatnya. Untuk menjaga keautentikan dari akta Notaris, maka Notaris harus berhati-hati dalam hal menghadirkan dan mendudukkan orang sebagai saksi dalam hal memberikan kesaksian suatu perbuatan hukum/peristiwa hukum yang dinyatakan dalam akta Notaris. Sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam Pasal 40 ayat (3), yaitu saksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikenal oleh Notaris atau diperkenalkan kepada Notaris atau diterangkan tentang identitas dan kewenangan kepada Notaris oleh penghadap.

Pengertian dikenal bukan dalam arti kenal akrab, misalnya sebagai teman atau sudah kenal lama, kalaupun para penghadap sudah dikenal sebelumnya oleh Notaris, hal ini merupakan nilai tambah untuk Notaris saja, tapi kenal yang dimaksud dalam arti yuridis, artinya ada kesesuaian antara nama dan alamat yang disebutkan oleh yang bersangkutan di hadapan Notaris dan juga dengan bukti-bukti atau identitas atas dirinya yang diperlihatkan kepada Notaris. Para pihak juga harus memiliki

151Berdasarkan Wawancara dengan Notaris/PPAT Bapak Suprayitno, SH, MKn., pada

(14)

kewenangan untuk melakukan suatu tindakan hukum yang nantinya akan disebutkan di dalam akta. Sehingga diharapkan tidak akan terjadi sengketa di kemudian hari yang mengakibatkan para pihak atau Notarisnya sendiri terjerat kasus hukum, baik hukum pidana maupun hukum perdata.

C. Perlindungan Hukum Bagi Saksi Instrumenter dalam Memberikan Keterangan dan Dasar Hukumnya

Keberadaan saksi di Indonesia diatur di dalam beberapa peraturan perundang-undangan, diantaranya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata, yakni Pasal 164 sampai Pasal 172 Bab kesembilan HIR stb.1941 No.44, yang mengatur tentang saksi dalam suatu pemeriksaan perkara dalam proses persidangan untuk perkara perdata yang menjadi wewenang Pengadilan Negeri. Serta terdapat pula dalam Rbg. Stb.1927 No.227 tentang saksi pada Bab keempat tentang tata cara mengadili perkara perdata dalam tingkat pertama menjadi wewenang Pengadilan Negeri serta Bab kelima tentang bukti dalam perkara perdata.152

Selanjutnya tentang saksi juga diatur di dalam KUHPerdata pada Buku keempat Bab ketiga tentang pembuktian dan saksi dalam Pasal 1895 KUHPerdata, 1902 KUHPerdata, dan Pasal 1904 sampai 1912 KUHPerdata. Pengaturan tentang saksi juga terdapat di dalam KUHAP diantaranya Pasal 1 angka 26, Pasal 159 sampai dengan Pasal 158 KUHAP.153

152

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/57491/3/Chapter%20II.pdf, diakses pada tanggal 19 Maret 2016.

153 Irenrera Putri, diakses dari http:/www.google.com/lib.ui.ac.id/file digital/131194-T,pada

(15)

Saksi instrumenter dalam memberikan keterangan perihal akta yang disengketakan, mendapatkan perlindungan sebagaimana Notaris jika dijadikan saksi di depan persidangan. Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban menjelaskan secara jelas bahwa seseorang mendapatkan perlindungan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban sejak dimulainya penyelidikan hingga berakhirnya proses.

Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban yang terdapat dalam Pasal 3 menerangkan bahwa undang-undang ini berdasarkan atas:154

a. Asas Perlindungan.

Maksud dari asas ini mengacu pada kewajiban Negara untuk melindungi warga negaranya terutama mereka yang dapat terancam keselamatannya baik fisik maupun mental.

b. Hak Atas Rasa Aman.

Dalam hak ini termasuk pula hak untuk tidak disiksa atau diperlakukan secara kejam dan tidak manusiawi

c. Hak Atas Keadilan.

Tersangka dan terdakwa telah diberikan seperangkat hak dalam KUHAP dan seyogyanya seorang saksi harus pula mendapat keadilan.

d. Penghormatan Atas Harkat dan Martabat Manusia.

154

Muhadar, Edi Abdullah, Husni Thamrin,Perlindungan Saksi & Korban Dalam Sistem Peradilan Pidana (Surabaya: Putra Media Nusantara, 2009), hal. 174.

(16)

Peran seorang saksi selama ini tidak pernah mendapat perhatian yang memadai dari penegak hukum walaupun ia berperan besar dalam mengungkapkan suatu tindak pidana.

Pada Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban menyatakan bahwa “Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya”. Hal ini membuktikan bahwa Saksi dalam memberikan keterangan di persidangan, akan dijamin keselamatannya oleh undang-undang dan diberikan perlindungan bukan hanya dirinya pribadi saja, melainkan keluarga dan harta benda juga masuk ke dalam perlindungan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

LPSK dalam menjalankan tugasnya, memiliki wewenang sebagai berikut:155 a. meminta keterangan secara lisan dan/atau tertulis dari pemohon dan pihak lain

terkait dengan permohonan;

b. menelaah keterangan, surat, dan/atau dokumen yang terkait untuk mendapatkan kebenaran atas permohonan;

c. meminta salinan atau fotokopi surat dan/atau dokumen terkait yang diperlukan dari instansi manapun untuk memeriksa laporan pemohon sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

d. meminta informasi perkembangan kasus dari penegak hukum;

e. mengubah identitas terlindung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

f. mengelola rumah aman;

g. memindahkan atau merelokasi terlindung ke tempat yang lebih aman; h. melakukan pengamanan dan pengawalan;

i. melakukan pendampingan Saksi dan/atau Korban dalam proses peradilan; j. melakukan penilaian ganti rugi dalam pemberian Restitusi dan Kompensasi.

155 Pasal 12A ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2014 Tentang

(17)

Dalam hal seorang Notaris dijadikan sebagai saksi di depan persidangan, Penyidik yang memanggil Notaris untuk diperiksa, harus mengikuti proses yang dibuat pemerintah sebagai pengawasan Notaris. Pengawasan untuk Notaris dalam hal ini dilakukan oleh MPD. Dalam melakukan pemeriksaan Notaris atas permintaan penyidik, penuntut umum, atau hakim untuk kepentingan proses peradilan, MPD akan bersidang dan menilai tindakan Notaris dalam akta Notaris yang bersangkutan berdasarkan Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN) dan Hukum Kenotariatan Indonesia.

Namun, berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 7 Tahun 2016, pengawasan terhadap Notaris mengenai tindakan Notaris dalam akta hingga dilakukannya pemeriksaan oleh tim penyidik, penuntut umum maupun Hakim, beralih kepada Majelis Kehormatan Notaris (atau yang selanjutnya disebut MKN).

Ketika MKN tidak mengizinkan seorang Notaris untuk memenuhi panggilan penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan alasan Notaris yang bersangkutan dalam membuat akta telah sesuai dengan prosedur pembuatan akta yang benar bedasarkan UUJN, maka untuk Notaris yang bersangkutan telah selesai perbuatan hukumnya. Artinya, akta yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris telah memenuhi syarat lahir, formal, dan materil.

Dalam menjalankan tugasnya, Majelis Kehormatan Notaris Pusat memiliki kewenangan, yaitu melaksanakan pembinaan terhadap Majelis Kehormatan Wilayah

(18)

yang berkaitan dengan tugasnya. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Majelis Kehormatan Notaris Pusat mempunyai fungsi melakukan pengawasan terhadap Majelis Kehormatan Notaris Wilayah.

Majelis Kehormatan Notaris Wilayah mempunyai tugas:

a. melakukan pemeriksaan terhadap permohonan yang diajukan oleh penyidik, penuntut umum, dan hakim; dan

b. memberikan persetujuan atau penolakan terhadap permintaan persetujuan pemanggilan Notaris untuk hadir dalam penyidikan, penuntutan, dan proses peradilan.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Majelis Kehormatan Notaris Wilayah mempunyai fungsi melakukan pembinaan dalam rangka:

a. menjaga martabat dan kehormatan Notaris dalam menjalankan profesi jabatannya; dan

b. memberikan perlindungan kepada Notaris terkait dengan kewajiban Notaris untuk merahasiakan isi Akta.

Tugas pembinaan yang dilakukan oleh Majelis Kohormatan Notaris tidak lepas dari pada penegakan Etika Notaris, meliputi norma agama, norma hukum, norma kesusilaan, dan norma kesopanan.

Peran penting dari lembaga MKN ini adalah “menggantikan” peran MPD dalam menyetujui atau menolak pemanggilan Notaris dan pengambilan fotokopi protokol Notaris oleh penyidik, penuntut umum dan hakim. MKN ini merupakan

(19)

badan yang bersifat independen dalam mengambil keputusan yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan bimbingan atau pembinaan dalam rangka memperkuat institusi Notaris dalam menegakkan Undang-Undang Jabatan Notaris bagi setiap orang yang menjalankan jabatan sebagai Notaris. Mengenai tugas dan kewenangan MKN ini sebenarnya belum diatur secara tegas di dalam suatu bentuk peraturan perundang-undangan. Namun kewenangan MKN telah diatur di dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 7 Tahun 2016 tentang Majelis Kehormatan Notaris.

(20)

BAB IV

AKIBAT HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM MEMBERIKAN KETERANGAN DALAM AKTA NOTARIS

A. Akibat Hukum Bagi Saksi dalam Hukum Pidana

Tindak pidana atau perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman/sanksi yang berupa pidana tertentu bagi pelakunya.156

Adapun unsur-unsur dari perbuatan pidana tersebut adalah sebagai berikut:157 a. Perbuatan (manusia)

Yaitu perbuatan yang terjadi karena kelakuan dan kejadian yang ditimbulkan oleh pelaku

b. Yang memenuhi rumusan dalam undang-undang (Syarat formil)

Untuk dapat disebut sebagai tindak pidana, suatu perbuatan harus memenuhi rumusan dalam undang-undang. Hal ini sesuai dengan ketentuan asas legalitas yaitu bahwa tidak ada perbuatan yang tidak dilarang dan diancam dengan pidana, apabila tidak ditentukan terlebih dahulu dalam perbuatan perundang-undangan.

c. Bersifat melawan hukum (syarat materil)

Disamping memenuhi syarat-syarat formil, perbuatan harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai perbuatan yang tidak boleh atau tidak patut dilakukan, sebab bertentangan dengan atau menghambat tercapainya tata dalam pergaulan masyarakat yang dicita-citakan yakni masyarakat yang bahagia, adil dan sejahtera.

Secara umum tindak pidana dapat dibedakan secara kualitatif berupa:158 a. Kejahatan (Rechtdelicht);

156 Martiman Prodjohamidjojo, Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Jakarta:

PT. Pradnya Paramita, 1995), hal. 15

157

Nico, Tanggung Jawab Notaris Selaku Pejabat Umum, (Yogyakarta: Center For Documentation and Studies of Business Law (CDBSL), 2003), hal. 143-147

158Tongat, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia Dalam Perspektif Pembaharuan, (Malang:

(21)

Kejahatan merupakan suatu perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, terlepas apakah perbuatan tersebut diancam pidana dalam suatu undang ataupun tidak. Meskipun tidak dirumuskan sebagai delik dalam undang-undang, namun perbuatan ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai bentuk perbuatan yang bertentangan dengan keadilan.

b. Pelanggaran (wetsdelicht);

Pelanggaran merupakan suatu perbuatan-perbuatan yang oleh masyarakat baru disadari sebagai suatu tindak pidana, dikarenakan undang-undang merumuskannya sebagai suatu delik.

Munir Fuady mengemukakan :

“Perbuatan melawan hukum termasuk setiap berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu yang melanggar hak orang lain, atau bertentangan dengan kewajiban hukumnya dan bertentangan dengan tata susila, dengan kepatutan, kebiasan dan undang-undang, maka orang yang karena kesalahannya menyebabkan timbulnya kerugian bagi orang lain sebagai akibat dari perbuatannya wajib membayar ganti rugi.”159

Menurut Hermin Hediati Koeswadji suatu perbuatan melawan hukum dalam konteks pidana atau pebuatan yang dilarang oleh undang-undang dan diancam dengan pidana mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:

a. Unsur objektif adalah unsur-unsur yang terdapat di luar manusia yang dapat berupa:

1. Suatu tindakan atau tindak tanduk yang dilarang dan diancam dengan sanksi pidana, seperti memalsukan surat, sumpah palsu, pencurian.

159 Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum (Pendekatan Kontemporer), (Bandung: PT.

(22)

2. Suatu akibat tertentu yang dilarang dan diancam sanksi pidana oleh undang-undang, seperti pembunuhan, penganiayaan.

3. Keadaan atau hal-hal yang khusus dilarang dan diancam sanksi pidana oleh undang-undang, seperti menghasut, melanggar kesusilaan umum. b. Unsur subjektif, yaitu unsur-unsur yang terdapat di dalam diri manusia,

berupa:

1. Dapat dipertanggungjawabkan (toerekeningsvatbaarheid). 2. Kesalahan (schuld).160

Sanksi pidana diatur dalam Pasal 10 KUHP, dimana sanksi pidana dibagi menjadi pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok terdiri atas pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan dan denda, sedangkan pidana tambahan berupa pencabutan hak-hak tertentu, perampasan barang-barang tertentu dan pengumuman putusan hakim.

Keberadaan sanksi pidana tambahan disini berupa adanya pencabutan hak, dapat didasarkan pada ketentuan Pasal 38 KUHP yang menyatakan mengenai adanya suatu pencabutan hak. Pada Pasal 38 KUHP lebih menekankan adanya sanksi tambahan tidak dapat dijadikan dasar sebagai adanya komulasi atau penggabungan penerapan sanksi dalam Hukum Pidana. Karena dalam prakteknya dan dalam yurisprudensi-yurisprudensi yang menjatuhkan pidana terhadap Notaris yang melakukan perbuatan melawan hukum tidak ditemukan sanksi tambahan berupa

160 Liliana Tedjosapatro, Mal Praktek Notaris dan Hukum Pidana, (Semarang: CV Agung,

(23)

pencabutan hak seorang Notaris sebagai seorang pejabat umum yang berwenang membuat akta autentik.

Perihal saksi dan kesaksian, dalam konteks kasus pidana telah diatur secara jelas dalam KUHP atau Wetboek van Strafrecht (Bahasa Belanda) dan dalam UU No 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana dikenal dengan nama KUHAP. Ketentuan pidana ini (materi dan acara) merupakan hukum positif di Indonesia, atau hukum/ketentuan yang berlaku saat ini.

Dalam hukum kenotariatan, tidak jarang para pihak mencantumkan keterangan palsu baik dalam akta maupun di persidangan. Perbuatan hukum tersebut tidak jarang menarik Notaris turut menjadi saksi maupun korban dalam hukum pidana, yang kemudian dapat menimbulkan Notaris tersebut terkena hukuman pidana sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Notaris tidak akan dapat dituntut jika nantinya akta yang ia buat itu mengalami masalah mengenai keterangan palsu yang diberikan oleh para pihak. Notaris akan terlindung dari sengketa suatu akta jika ia tidak ikut turut serta memberikan keterangan palsu atau mencantumkan keterangan palsu dari para pihak ke dalam akta autentik tersebut. Seperti dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor 731 K/Pid/2008.

Pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 731 K/Pid/2008 menerangkan kesalahan para pihak pembuat akta yang dengan sengaja memberikan keterangan palsu perihal masih adanya hak dari Tuan Kosin Kunardi selaku mantan suami dari terdakwa Ny. Idahjaty Kusni atas Villa yang terletak di Desa Sindanglaya, Kabupaten

(24)

Cianjur. Tanpa sepengetahuan dari Tuan Kosin Kunardi, Ny. Idahjaty menjual Villa tersebut kepada Ny. Lina selaku pembeli dengan harga Rp. 375.000.000,- (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah), dan membuatkan akta jual beli di hadapan Notaris Sri Madiathie dengan menyembunyikan perihal kesepakatan yang pernah dibuat saat keduanya masih dalam status pernikahan.

Kesepatakan itu menyatakan bahwa villa tersebut nantinya akan dijual dan dibagi rata. Sementara Ny. Idahjaty tanpa meminta persetujuan Tuan Kosin, langsung menjual villa tersebut dengan membawakan Surat Putusan Pengadilan yang berisikan bahwasanya Ny. Idahjaty telah mendapatkan persetujuan dari Tuan Kosin mengenai penjualan villa tersebut. Padahal kenyataannya Tuan Kosin sendiri tidak mengetahui perihal penjualan tersebut.

Merujuk dari contoh kasus di atas terlihat jelas bahwa Notaris dalam menjalankan tugasnya dapat terjerat kasus hukum yang diakibatkan kesalahan dari para pihak di dalam akta. Notaris dalam membuat akta autentik, hanya berdasarkan keterangan dari para pihak yang datang menghadap kepadanya.161 Notaris tidak mempunyai kewajiban untuk meneliti suatu objek yang menjadi dasar dalam pembuatan akta secara mendalam.162 Notaris hanya berdasarkan dari identitas para pihak, keterangan dan bukti surat-surat yang dimiliki oleh para pihak untuk nantinya dimasukkan ke dalam akta autentik.

161

Berdasarkan Wawancara dengan Notaris/PPAT Bapak Suprayitno, SH, MKn., pada tanggal 18 Agustus 2016

162Berdasarkan Wawancara dengan Notaris Ibu Mufida Noor, SH., pada tanggal 11 Agustus

(25)

Menurut Habib Adjie, dalam perkara pidana seringkali Notaris dijerat dengan Pasal dalam KUHP sebagai berikut:

1. Membuat surat palsu/yang dipalsukan dan menggunakan surat palsu/yang dipalsukan (Pasal 263 ayat (1) dan (2) KUHP)

2. Melakukan pemalsuan terhadap akta autentik (Pasal 264 KUHP)

3. Menyuruh mencantumkan keterangan palsu dalam akta autentik (Pasal 266 KUHP)

4. Melakukan, menyuruh melakukan, turut serta melakukan (Pasal 55 Jo. Pasal 263 ayar (1) dan (2) KUHP atau Pasal 264 atau Pasal 266 KUHP)

5. Membantu membuat surat palsu/atau yang dipalsukan dan menggunakan surat palsu/yang dipalsukan (Pasal 56 ayat (1) dan (2) Jo. Pasal 263 ayat (1) dan (2) KUHP atau Pasal 264 atau Pasal 266 KUHP)

Dalam Ketentuan Pasal 266 KUHP, diatur mengenai keterangan palsu yang berbunyi:

1. Barang siapa menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik tentang sesuatu kejadian yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud akan menggunakan atau menyuruh orang lain menggunakan akta itu seolah-olah keterangan itu cocok dengan sebenarnya, maka kalau dalam mempergunakannya itu dapat mendatangkan kerugian, dihukum penjara selama-lamanya tujuh tahun

2. Dengan hukuman serupa itu juga dihukum barang siapa dengan sengaja menggunakan akta itu seolah-olah isinya benar dengan hal yang sebenarnya jika pemakaian surat itu dapat mendatangkan kerugian.

Sementara itu, di dalam Pasal 242 KUHP diatur mengenai hal yang sama, yang berbunyi:

(26)

1. Barang siapa dalam keadaan di mana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan di atas sumpah atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian, dengan sengaja memberi keterangan palsu di atas sumpah, dengan lisan atau tulisan, secara pribadi atau melalui kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun

2. Bila keterangan palsu di atas diberikan dalam perkara pidana dan merugikan terdakwa atau tersangka, maka yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.

Unsur-unsur dari tindak pidana sumpah palsu dalam Pasal 242 ayat (1) KUHPidana, yang diancam pidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun, adalah sebagai berikut:

1. Dalam keadaan di mana undang-undang menentukan supaya memberi keterangan di atas/di bawah sumpah atau mengadakan akibat hukum kepada keterangan yang demikian;

2. Dengan sengaja;

3. Memberi keterangan palsu di atas/di bawah sumpah, baik dengan lisan atau tulisan, secara pribadi maupun oleh kuasanya yang khusus ditunjuk untuk itu.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, nantinya akan ada tindak pidana sumpah palsu apabila pemeriksaan terhadap saksi yang bersangkutan telah selesai. Selama saksi itu masih diperiksa, saksi tersebut masih dapat menarik kembali keterangannya. Jika saksi menarik kembali keterangannya sebelum pemeriksaan terhadap dirinya sebagai saksi belum selesai, maka belum terjadi tindak pidana sumpah palsu yang dapat dipidana berdasarkan Pasal 242 KUHP.

(27)

Pasal-pasal dalam KUHAP yang berkenaan dengan tindak pidana sumpah palsu adalah Pasal 163 dan 174. Dalam Pasal 163 KUHAP ditentukan bahwa, “Jika keterangan saksi di sidang berbeda dengan keterangannya yang terdapat dalam berita acara, Hakim Ketua sidang mengingatkan saksi tentang hal itu serta minta keterangan mengenai perbedaan yang ada dan dicatat dalam berita acâra pemeriksaan sidang.”163

Demikian pula saksi yang telah memberikan keterangan palsu di persidangan, sebagaimana menurut Pasal 174 KUHAP, yaitu:164

a. Apabila keterangan saksi di sidang disangka palsu, hakim ketua sidang memperingatkan dengan sungguh-sungguh kepadanya supaya memberikan keterangan yang sebenarnya dan mengemukakan ancaman pidana yang dapat dikenakan kepadanya apabila ia tetap memberikan keterangan palsu.

b. Apabila saksi tetap pada keterangannya itu, hakim ketua sidang karena jabatannya atau atas permintaan penuntut umum atau terdakwa dapat memberi perintah supaya saksi itu ditahan untuk selanjutnya dituntut perkara dengan dakwaan palsu.

c. Dalam hal demikian oleh panitera segera dibuat berita acara pemeriksaan sidang yang memuat keterangan saksi dengan menyebutkan alasan persangkaan, bahwa keterangan saksi itu adalah palsu dan berita acara tersebut ditandatangani oleh hakim ketua sidang serta panitera dan segera diserahkan kepada penuntu umum untuk diselesaikan menurut ketentuan undang-undang.

d. Jika perlu hakim ketua sidang menangguhkan sidang dalam perkara semula sampai pemeriksaan perkara pidana terhadap saksi itu selesai.

B. Akibat Hukum Bagi Saksi dalam Hukum Perdata

Dalam proses Hukum Acara Perdata, Hakim berperan menerapkan Hukum Pembuktian dalam 4 (empat) klasifikasi, yaitu:165

163 Abdul Hakim G. Nusantara, et al, KUHAP dan Peraturan-peraturan Pelaksana,

(Djambatan: Jakarta, 1986), hal. 57.

164

Ibid., hal. 59.

165 H.P. Panggabean, Hukum Pembuktian Terori Praktek dan Yurisprudensi Indonesia,

(28)

1. Menetapkan hubungan hukum yang sebenarnya di antara kedua belah pihak yang disengketakan

2. Membebankan pembuktian kepada salah satu pihak atau kepada kedua belah pihak

3. Memberikan penilaian atas alat-alat bukti dengan/atas hubungan hukum di antara pihak-pihak

4. Menemukan hukum di antara persengketaan kedua belah pihak.

Dalam hukum pembuktian tercakup berbagai materi Hukum Pembuktian yang memerlukan landasan operasional, terutama terletak pada asas-asas. Pada hukum acara perdata, asas-asas pembuktian tersebut adalah:166

1. Hakim bersifat menunggu (Pasal 118 HIR)

Asas ini memuat ketentuan bahwa proses peradilan baru berjalan jika ada pencari keadilan yang menuntut haknya. Dalam proses peradilan Pasal 10 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, menentukan bahwa Hakim tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili dengan dalil Hakim tidak atau kurang jelas karena ada anggapan bahwa Hakim belum tahu akan hukumnya (ius curia novit).

Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan bahwa para Hakim wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hidup dalam masyarakat.

(29)

2. Hakim Pasif

Asas ini menentukan batasan terhadap Hakim sehingga ruang lingkup pemeriksaan dan pemutusan perkara terikat pada peristiwa dalam sengketa yang diajukan pencari keadilan (secundum allegata iudicare).

3. Sifat terbukanya persidangan

a) Pasal 179 ayat (1), yang menentukan asas terbukanya persidangan untuk umum dengan tujuan terjadinya objektifitas peradilan.

b) Persidangan juga dapat dilakukan tertutup jika ditentukan lain oleh undang-undang atau apabila ada alasan-alasan yang penting menurut perintah Hakim.

4. Mendengar kedua belah pihak

Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 memuat asas “Audi et alteram partem”, yaitu ketentuan bahwa kedua belah pihak harus diperlakukan sama sehingga pengakuan alat bukti harus dilakukan dimuka sidang yang dihadiri oleh kedua belah pihak.

5. Putusan harus disertai alasan-alasan :

1. Semua putusan pengadilan harus memuat alasan-alasan peraturan yang dijadikan dasar untuk mengadili, sehingga peraturan itu dapat dinilai memiliki nilai objektif

2. Dalam praktik peradilan, penilaian atas ada atau kurang adanya alasan-alasan peraturan yang menjadi dasar putusan sangat sering dijadikan

(30)

sebagai alasan pembatalan di tingkat kasasi sebagai alasan onvoldoende gemotiveerd, yaitu tidak cukup dipertimbangkan

3. Dalam sistem peradilan, putusan Hakim sering didasarkan pada dukungan Jurisprudensi. Dalam praktik sehari-hari Hakim mengikuti Jurisprudensi melalui pola pikir “the persuasive force of precedent” artinya pendirian atau keyakinan Hakim yang menerima putusan terdahulu sebagai pedoman untuk memutuskan perkara yang sejenis.

6. Beracara dikenakan biaya

Asas pembebanan biaya perkara yang dimaksud dalam hal ini dipelukan untuk:

a. Biaya kepaniteraan

b. Biaya pemanggilan pihak-pihak c. Biaya materai

d. Biaya jasa pengacara, mediator 7. Tidak ada keharusan mewakilkan

Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada Hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah satu pihak dalam perkara, yang di panggil di persidangan. Jadi keterangan yang diberikan oleh seorang saksi haruslah kejadian yang telah ia alami sendiri, sedangkan pendapat atau dugaan yang diperoleh secara berfikir tidaklah termasuk dalam suatu kesaksian.

(31)

Penerapan pembuktian dengan saksi ditegaskan dalam Pasal 1895 KUHPerdata yang berbunyi ”Pembuktian dengan saksi-saksi diperkenankan dalam segala hal yang tidak dikecualikan oleh undang-undang”. Jadi prinsipnya, alat bukti saksi menjangkau semua bidang dan jenis sengketa perdata, kecuali apabila undang-undang sendiri menentukan sengketa hanya dapat dibuktikan dengan akta, barulah alat bukti saksi tidak dapat diterapkan.

C. Pertanggungjawaban Saksi Dalam Memberikan Keterangan Di Persidangan

Seorang Notaris dalam menjalankan kewenangan dan kewajibannya memiliki tanggung jawab yang cukup penting sehingga dituntut adanya kinerja yang optimal dalam melayani jasa pembuatan akta. Oleh karena itu dalam melaksanakan pekerjaannya Notaris memerlukan karyawan Notaris. Mengingat Notaris memiliki tanggung jawab cukup besar dalam melayani jasa pembuatan akta, maka karyawannya juga dituntut memiliki kinerja yang optimal juga, sehingga tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya karyawan Notaris benar-benar dapat membantu kinerja Notaris yang bersangkutan.

Saksi instrumenter dalam akta Notaris sebagian besar adalah karyawan Notaris. Para karyawan Notaris tersebut hanya dapat bersaksi sebatas tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh Notaris. Dan tentu saja mereka, sebagai saksi instrumenter tidak bertanggung jawab terhadap isi akta.

Notaris tetap bertanggung jawab atas isi akta apabila dikemudian hari akta tersebut dipermasalahkan dalam persidangan. Dalam pembuatan suatu akta,

(32)

Notarislah yang berhadapan langsung dengan para pihak dalam akta tersebut. Sedangkan saksi akta, hanya bertanggung jawab sebatas tanggung jawabnya sebagai saksi yang menyaksikan peresmian akta tersebut.

Sebagai saksi dalam akta Notaris, saksi instrumenter mempunyai tanggung jawab yang cukup besar, terutama dalam peresmian suatu akta Notaris. Seorang saksi instrumenter harus hadir dalam peresmian suatu akta Notaris. Dalam hal ini, tanggung jawab saksi instrumenter adalah menyaksikan apakah suatu akta Notaris tersebut telah dilakukan penyusunan, pembacaan dan penandatanganan para pihak dihadapan Notaris, sebagaimana disyaratkan oleh undang-undang sebagai syarat otentitas suatu akta.167

Saksi akta hanya bertanggung jawab terhadap formalitas-formalitas akta sebatas yang ditugaskan oleh Notaris, seperti dalam pengetikan akta, pencocokan identitas, data dan surat-surat yang berkaitan dengan para pihak dalam akta, serta turut menyaksikan pembacaan dan penandatanganan suatu akta, serta turut menandatanganinya.

Akan tetapi, apabila saksi instrumenter ini diminta keterangan dalam persidangan, maka saksi bertanggung jawab secara pribadi atas apa yang telah disaksikannya yang berkaitan dengan peresmian suatu akta Notaris, yaitu apakah Notaris telah memenuhi syarat-syarat dalam peresmian akta tersebut seperti yang telah diperintahkan oleh undang-undang.

(33)

Keterangan saksi dalam proses peradilan sangat penting untuk mengungkap kebenaran, akan tetapi dalam mengungkapkan keterangannya itu tidak menutup kemungkinan adanya ancaman ataupun teror yang membahayakan saksi baik fisik, mental maupun harta bendanya, untuk kondisi tersebut tidak menutup kemungkinan juga saksi enggan untuk memberikan keterangan yang diperlukan. Untuk menjamin kesediaan saksi dalam memberikan keterangan di depan persidangan maka peraturan perundang-undangan memberikan sejumlah hak kepada saksi. Akan tetapi hal yang sangat sering terjadi di Indonesia adalah kurangnya peranan dari lembaga-lembaga Negara dalam memfasilitasi atau menjamin penegakan hak asasi dari saksi tersebut.

Ketiadaanjaminan ini mengakibatkan saksi enggan untuk memberi keterangan di Pengadilan, terutama dalam kasus-kasus tertentu.168 Namun demikian walaupun terdapat hak saksi, akan tetapi karena kurangnya peranan dari lembaga Negara dalam memfasilitasi penegakan hak dari saksi tersebut, mengakibatkan saksi enggan memberikan keterangan terutama dalam kasus-kasus tertentu.

Suatu akta Notaris yang telah diresmikan atau ditandatangani telah mempunyai peranan sebagai alat bukti autentik. Bahkan Pasal 1870 jo 1871 KUHPerdata, akta Notaris yang mempunyai kekuatan autentik tersebut tidak diperlukan lagi alat bukti lainnya dalam pembuktian karena akta autentik itu sebagai alat bukti yang sempurna bagi kedua belah pihak atau ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak darinya tentang apa yang dimuat dalam akta tersebut. Akta autentik yang merupakan

168http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/131194-T%2027313-Tinjauan%20yuridis-Analisis.pdf,

(34)

bukti yang lengkap (mengikat) berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam akta tersebut harus diakui oleh Hakim, yaitu akta tersebut dianggap sebagai benar, selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya.169

Saksi yang berasal dari karyawan notaris yang dihadirkan dalam persidangan tersebut, memberikan kesaksian sebatas tanggung jawabnya dalam melaksanakan kewajibannya yakni dalam melaksanakan perintah atau tugas yang diberikan oleh Notaris. Dari sifat kedudukannya sebagai saksi, maka para saksi turut mendengarkan pembacaan dari akta itu, juga turut menyaksikan perbuatan atau kenyataan yang dikonstantir itu dan penandatanganan dalam akta itu. Dalam hal ini, para saksi tidak perlu harus mengerti apa yang dibacakan dan bagi mereka tidak ada kewajiban untuk menyimpan isi dari akta itu dalam ingatannya. Para saksi (termasuk saksi sebagai karyawan Notaris) tidak bertanggung jawab terhadap isi akta itu.170

D. Pertanggungjawaban Notaris Dalam Akta di Depan Persidangan

Dalam hal seorang Notaris dijadikan sebagai saksi dalam kasus hukum, Notaris dituntut tanggung jawab terhadap akta yang dibuatnya, mematuhi dan tunduk pada Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 dan Kode Etik Notaris, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa di luar pengetahuan Notaris, para pihak/penghadap yang meminta untuk dibuatkan akta memberikan keterangan yang tidak benar dan menyerahkan surat/dokumen yang tidak benar sehingga setelah semuanya dituang ke dalam akta lahirlah sebuah akta yang mengandung keterangan palsu.

169Teguh Samudera, Op.Cit., hal. 49. 170

(35)

Notaris dalam menjalankan tugasnya di bidang kenotariatan, khususnya dalam pembuatan akta tidak jarang terkena masalah akibat kurangnya ketelitian dan kehati-hatian dan memeriksa identitas atau pembuatan akta. Akibat hal ini, tidak jarang Notaris harus menjadi saksi bahkan terdakwa dalam kasus pidana maupun perdata. Para pihak yang dengan sengaja memberikan keterangan palsu ke hadapan Notaris, juga dapat membuat Notaris terjerat kasus hukum.

Ketentuan mengenai keterangan palsu, dapat dilihat dalam Pasal 266 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang berbunyi :

“Barang siapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta autentik mengenai suatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangan itu sesuai dengan kebenarannya, diancam bila pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.”

Berdasarkan Pasal 266 di atas, apabila para pihak atau saksi memberikan keterangan palsu ke dalam suatu akta Notaris tidak terkecuali Notaris itu sendiri, maka akan diberikan sanksi sesuai dengan yang diatur di dalam KUHPidana tersebut. Walaupun tidak jarang pertimbangan-pertimbangan lainnya yang dapat membuat hukuman tersebut berkurang sesuai keputusan pengadilan tempat perkara itu diperiksa.

Pertanggungjawaban bagi Notaris dalam pembuatan akta autentik yang memuat keterangan palsu antara lain adalah pertanggungjawaban secara pidana atas akta yang dibuatnya dalam kapasitasnya sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta yang memenuhi unsur suatu tindak pidana pemalsuan.

(36)

Pertanggungjawaban secara perdata berupa ganti rugi yang diberikan oleh Notaris apabila dapat dibuktikan bahwa adanya kerugian yang diderita akibat dibuatnya akta autentik atau terdapat hubungan kausal antara kerugian yang diderita dengan pelanggaran atau kelalaian dari Notaris.

Pertanggungjawaban secara administrasi diberikan jika Notaris melanggar UUJN dan Kode Etik Notaris berupa sanksi secara berjenjang mulai dari teguran lisan sampai dengan pemberhentian tidak hormat. Faktor yang menyebabkan tindak pidana penempatan keterangan palsu dalam akta autentik adalah faktor dari Notaris yaitu kurang teliti, kurang pengetahuan, terlalu percaya kepada orang lain dan tidak profesional, dan faktor dari penghadap yaitu maksud ingin tercapai, itikad buruk dan untuk kepentingan pribadi.

Dalam pembuatan akta autentik, Notaris harus bertanggung jawab apabila atas akta yang dibuatnya terdapat kesalahan atau pelanggaran yang disengaja oleh Notaris. Sebaliknya apabila unsur kesalahan atau pelanggaran itu terjadi dari para pihak penghadap, maka sepanjang Notaris melaksanakan kewenangannya sesuai peraturan. Notaris bersangkutan tidak dapat diminta pertanggungjawabannya, karena Notaris hanya mencatat apa yang disampaikan oleh para pihak untuk dituangkan ke dalam akta. Dalam hal ini, Notaris hanya dapat dijadikan sebagai saksi di depan persidangan untuk memberikan keterangan perihal perbuatan hukum yang terjadi di dalam akta atau kesesuaian identitas para pihak saat hadir di hadapannya.

Keterangan palsu yang disampaikan oleh para pihak adalah menjadi tanggung jawab para pihak. Dengan kata lain, yang dapat dipertanggungjawabkan kepada

(37)

Notaris ialah apabila penipuan atau tipu muslihat itu bersumber dari Notaris sendiri.171 Selama Notaris tidak berpihak dan hati-hati dalam menjalankan jabatannya, maka Notaris akan lebih terlindungi dalam menjalankan kewajibannya. Namun dalam pembuatan Akta Rapat Umum Pemegang Saham, itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Notaris.

Notaris dapat dikatakan melakukan perbuatan melawan hukum dalam konteks Hukum Pidana sekaligus juga melanggar kode etik dan UUJN jika dengan sengaja ikut serta dalam pemberian keterangan palsu ke dalam akta, sehingga syarat pemidanaan menjadi lebih kuat. Apabila hal tersebut tidak disertai dengan pelanggaran kode etik atau bahkan dibenarkan oleh UUJN, maka mungkin hal ini dapat menghapuskan sifat melawan hukum suatu perbuatan dengan suatu alasan pembenar.

Seseorang yang merasa dirugikan karena perbuatan seseorang, sedangkan diantara mereka itu tidak terdapat sesuatu perjanjian (hubungan hukum perjanjian), maka berdasarkan undang-undang akan timbul atau terjadi hubungan hukum antara orang tersebut yang menimbulkan kerugian itu.172

Abdul Ghofur Anshori menyebutkan bahwa dalam hubungannya dengan kebenaran materil, maka tanggung jawab Notaris selaku pejabat umum dibedakan menjadi 4 (empat), yaitu:173

171

Notodisoerjo, Hukum Notarial di Indonesia (suatu penjelasan), (Jakarta: Rajawali Pers, 1982), hal. 229.

172AZ Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Diapit Media, 2002), hal. 77. 173

(38)

1. Tanggung jawab secara perdata

Tanggung jawab perdata terhadap kebenaran materil terhadap akta yang dibuat oleh Notaris dilihat dari perbuatan melawan hukum, yang dapat dibedakan berdasarkan sifat aktif dan pasif. Perbuatan melawan hukum yang bersifat aktif adalah melakukan perbuatan yang menimbulkan kerugian pada pihak lain. Sedangkan perbuatan melawan hukum yang bersifat pasif adalah tidak melakukan perbuatan yang merupakan keharusan, sehingga pihak lain menderita kerugian. Oleh karena itu, dalam hal ini unsur dari perbuatan melawan hukum adalah adanya perbuatan melawan hukum, adanya kesalahan dan adanya kerugian yang ditimbulkan.

2. Tanggung jawab secara pidana

Ketentuan pidana dalam hal tanggung jawab Notaris tidak diatur di dalam UUJN, namun tanggung jawab Notaris secara pidana dapat diberikan apabila Notaris tersebut melakukan perbuatan pidana. Dalam UUJN, sanksi yang didapat hanya berupa akta yang dibuat oleh Notaris tidak memiliki kekuatan autentik atau hanya sebagai akta di bawah tangan. Menurut UUJN, Notaris dalam hal ini dapat diberikan sanksi yang berupa teguran lisan, teguran tertulis, pemberhentian sementara, pemberhentian hormat dan secara tidak hormat.

3. Tanggung jawab secara jabatan

Ruang lingkup pertanggungjawaban Notaris dalam jabatannya hanya meliputi kebenaran materil atas akta yang dibuatnya. Dengan demikian bahwa

(39)

tanggung jawab formil Notaris hanya terhadap keabsahan akta autentik yang dibuatnya, bukan terhadap isi akta tersebut. Sanksi atas kesalahan Notaris dalam menjalankan jabatannya terdapat di dalam UUJN Pasal 84 dan Pasal 85.

4. Tanggung jawab secara kode etik

Profesi Notaris merupakan profesi yang berkaitan dengan individu, organisasi profesi, masyarakat dan Negara. Hubungan profesi Notaris dengan masyarakat dan Negara telah diatur di dalam UUJN, sedangkan hubungan profesi Notaris dengan organisasi profesi Notaris diatur di dalam kode etik Notaris. Ruang lingkup kode etik berlaku bagi seluruh anggota perkumpulan organisasi Ikatan Notaris Indonesia (INI) maupun orang lain yang menjalankan jabatan Notaris. Sanksi sebagai bentuk upaya penegakan kode etik Notaris atas pelanggaran kode etik dituangkan dalam Pasal 6, yang menyatakan bahwa sanksi yang dikenakan terhadap anggota yang melakukan pelanggaran kode etik berupa teguran, peringatan, pemecatan sementara dari keanggotaan perkumpulan dan pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan perkumpulan.174

Notaris mempunyai pertanggungjawaban secara administrasi, perdata, maupun pidana. Ada kemungkinan bahwa pertanggungjawaban di satu bidang hukum tidak menyangkut bidang hukum yang lain. Sebaliknya, tindakan yang menimbulkan

(40)

tuntutan berdasarkan perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUHPerdata) dapat menimbulkan pertanggungjawaban di bidang hukum pidana.175

Apabila akibat kelalaian atau kesalahan Notaris dalam membuat akta dapat dibuktikan, maka kepada Notaris yang bersangkutan dapat dimintakan pertanggungjawaban baik secara pidana maupun perdata. Oleh karena itu guna melindungi dirinya, sikap kewaspadaan dan ke hati-hatian sangat dituntut dari seorang Notaris. Namun demikian, dalam prakteknya tidak sedikit Notaris yang mengalami masalah sehubungan dengan akta yang telah dibuatnya dinyatakan batal demi hukum oleh putusan pengadilan sebagai akibat ditemukannya cacat hukum dalam pembuatannya, misalnya dalam keterangan palsu yang dilakukan para pihak.

Pada Putusan Mahkamah Agung Nomor 731 K/Pid/2008 yang telah dijelaskan di atas, terlihat bahwa Notaris tidak melakukan kesalahan apa pun. Notaris telah memeriksa data yang menjadi syarat dalam pembuatan akta jual beli berupa identitas para pihak dengan sangat teliti. Namun Ny. Idahjaty selaku pihak yang membuat akta ternyata dengan sengaja memalsukan keterangan bahwasannya Tuan Kosin selaku mantan suami telah memberikan persetujuannya untuk menjual villa tersebut. Akibatnya Tuan Kosin mengalami kerugian akan haknya yang tidak dipenuhi oleh Ny. Idahjati atas penjualan villa tersebut. Disamping itu Ny. Lina selaku penjual juga mengalami kerugian karena membeli villa tersebut dengan harga Rp. 375.000.000,- (tiga ratus tujuh puluh lima juta rupiah).

175 http://www.notary.my.id/2015/08/batasan-batasan-notaris-dapat-dituntut.html, diakses

(41)

Berdasarkan contoh kasus di atas, terlihat bahwa setiap orang dalam melakukan suatu tindak pidana yang dalam hal ini adalah menempatkan keterangan palsu di dalam akta, harus dapat mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya. Dalam hal ini, Ny. Idahjaty selaku terdakwa oleh Mahkamah Agung dijatuhi sanksi pidana yang berupa kurungan penjara selama 1 (satu) tahun dan terdakwa dikenakan biaya ganti rugi perkara akibat perbuatannya sendiri. Para pihak yang hadir di hadapan Notaris, seharusnya memberikan keterangan yang sebenar-benarnya agar Notaris maupun saksi intrumenter tidak terjerat kasus hukum yang menimbulkan sanksi akibat perbuatannya tersebut.

Para pihak dalam hal memberikan keterangan palsu, akan menempatkan Notaris sebagai saksi di depan persidangan jika Notaris tersebut tidak turut ikut dalam menempatkan keterangan palsu di dalamnya. Pada Putusan Mahkamah Agung di atas jelas bahwa Notaris tidak ikut dalam penempatan keterangan palsu, sehingga status Notaris di dalam persidangan Putusan tersebut hanya menjadi saksi. Notaris hanya menyatakan perihal kedatangan para pihak dan syarat-syarat pembuatan akta yang telah terpenuhi dan ia teliti dengan hati-hati sebelum membuat akta jual beli tersebut.

Tanggung jawab Notaris dalam hal pembuktian akta apabila terdapat kekhilafan atau kesalahan sehingga akta yang dibuatnya kehilangan otentisitasnya. Notaris seharusnya melaksanakan tugas dan kewajibannya sebaik-baiknya agar tujuan pembuatan akta ini tercapai, berlaku sebagai akta yang autentik.

Lumban Tobing menyatakan Notaris bertanggung jawab atas akta yang dibuatnya, apabila terdapat alasan sebagai berikut :

(42)

a. Di dalam hal-hal yang secara tegas ditentukan oleh Undang-Undang Jabatan Notaris.

b. Jika suatu akta karena tidak memenuhi syarat-syarat mengenai bentuknya (gebrek in de vorm), dibatalkan di muka pengadilan, atau dianggap hanya berlaku sebagai akta di bawah tangan.

c. Dalam segala hal, dimana menurut ketentuan-ketentuan dalam Pasal 1365 s/d Pasal 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terdapat kewajiban untuk membayar ganti kerugian, artinya semua hal-hal tersebut harus dilalui proses pembuktian yang seimbang.

Pembuktian dalam pengadilan terutama dalam kasus akta Notaris, menerapkan sanksi sebagai tanggung jawab hukum Notaris dalam menjalankan profesinya yang dapat digolongkan dalam 2 (dua) bentuk yaitu:176

1. Tanggung jawab hukum Perdata yaitu apabila Notaris melakukan kesalahan karena ingkar janji sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 1234 KUHPerdata atau perbuatan melanggar hukum sebagaimana yang ditentukan Pasal 1365 KUHPerdata;

2. Tanggung jawab Hukum Pidana bilamana Notaris telah melakukan perbuatan

hukum yang dilarang oleh undang-undang atau melakukan

kesalahan/perbuatan melawan hukum baik karena sengaja atau lalai menimbulkan kerugian pihak lain.

176

Agus Priono, “Analisi Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Turut Serta Memasukkan

Keterangan Palsu Ke Dalam Akta Autentik Yang Dilakukan Nortaris”, Jurnal Pasca Sarjana Hukum

(43)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Kedudukan Saksi Instrumenter Dalam Akta Notaris yaitu sesuai dengan yang disebutkan dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, bahwa pada akhir atau penutup akta harus memuat nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi. Ketika syarat formil ini tidak dipenuhi, akta tersebut terdegradasi kedudukannya menjadi kekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan. Jadi dalam hal ini, setiap Notaris berkewajiban mengahadirkan dua orang saksi untuk turut serta pada akta dalam menyaksikan pembuatan akta tersebut. Karena di dalam akta Notaris, kedudukan saksi instrumenter adalah sebagai salah satu syarat formil suatu akta agar akta tersebut dapat menjadi suatu akta yang autentik.

2. Perlindungan Hukum Bagi Saksi Instrumenter Akta Notaris dalam memberikan keterangan dilindungi oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). LPSK menjamin perlindungan keselamatan baik pada diri sendiri ketika seorang saksi dalam memberikan keterangan, sampai pada perlindungan dari ancaman dari pihak lain yang dapat membuat seorang saksi enggan memberikan keterangan di depan persidangan.

(44)

3. Akibat Hukum Terhadap Saksi Dalam Memberikan Keterangan di dalam Akta Notaris terjadi jika saksi melakukan perbuatan melawan hukum dengan memberikan keterangan palsu ketika berada di persidangan. Dan akibat hukum yang akan diterima berupa teguran yang selanjutnya jika saksi tersebut masih memberikan keterangan palsu, maka hakim ketua sidang karena jabatannya atau atas permintaan penuntut umum atau terdakwa dapat memberi perintah supaya saksi itu ditahan untuk selanjutnya dituntut perkara dengan dakwaan sumpah palsu. Dan jika saksi terbukti bersalah, akan dijatuhi pidana kurungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

B. Saran

1. Hendaknya diatur lebih jelas mengenai pentingnya kedudukan saksi dalam memberikan keterangan perihal perbuatan hukum yang terjadi di dalam akta Notaris di dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 dengan melakukan revisi terhadap Undang-undang Peraturan Jabatan Notaris tersebut.

2. Mengenai perlindungan saksi instrumenter di dalam akta Notaris dalam memberikan keterangan di depan persidangan hendaknya dimuat secara jelas di dalam Undang-Undang dengan melakukan revisi pada Undang-Undang Peraturan Jabatan Notaris tersebut, agar seorang saksi dalam memberikan keterangan perihal akta Notaris, dapat merasa aman ketika memberikan keterangan di depan persidangan.

(45)

3. Notaris diharapkan dapat lebih teliti dalam memeriksa berkas-berkas dan identitas para pihak yang hadir di hadapannya. Hal ini dilakukan agar baik Notaris maupun Saksi Instrumenter tidak terjerat kasus hukum baik pidana maupun perdata akibat keterangan palsu yang dilakukan oleh para pihak.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :