Sembuh dari Kanker, Rahma
’Berhadiah’ Lulus Terbaik S-2
FEB
UNAIR NEWS – Rahma Nuryanti,S.Si., MA., tidak henti-hentinya
mengungkapkan rasa syukur kepada Allah yang Maha Kuasa. Pasalnya, dalam perjalanan menempuh studi magister di UNAIR, wisudawan kelahiran Surabaya 14 Maret 1985 ini harus menjalani perawatan kemoterapi di Graha Amerta RSUD Dr. Soetomo karena kanker yang dideritanya. Tidak ada yang bisa mengalahkan kehendak-NYA, karena itu ia terus berusaha dan rajin kontrol. Tahun 2015 Rahma dinyatakan sembuh, bahkan di semester III itu juga dinyatakan hamil.
“Pada masa kehamilan saya mengalami hyperemesis, namun saya bersyukur karena bisa menyelesaikan semester III dengan IPK yang baik pula. Kemudian pada masa kehamilan 8-9 bulan saya menyusun proposal tesis, supaya bisa menyelesaikan studi sesuai waktu yang kami jadwalkan,” jelasnya.
Meski sempat divonis kanker, ia tak lantas berdiam diri. Selama kuliah ia aktif menyibukkan diri dengan menjalani tugas di Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur. Bungsu dari dua bersaudara ini juga memiliki tips dan trik untuk merampungkan kuliahnya dengan baik. Mulai dari mengatur waktu dan memanfaatkan fasilitas kampus dengan maksimal.
”Jangan pernah membuang waktu dengan percuma,” pesannya. Perihal karya ilmiah, perempuan hobi membaca ini selalu mengutamakan orisinalitas dan keunikan ide. Itulah yang m e n j a d i s a l a h s a t u a l a s a n t e s i s n y a y a n g b e r j u d u l “Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern: Aspek Formal dan Aspek Informal (Studi Kasus BPS Provinsi Jawa Timur)” yang bisa menunjang menyabet gelar wisudawan terbaik dengan IPK 3.90. Alasan Rahma memilih judul tersebut dilandasi kondisi di
l a p a n g a n y a n g m a s i h s e d i k i t s e k t o r p u b l i k d a l a m penyelenggaraan sistem pengendalian intern.
“Penelitian ini saya ambil mengenai sistem pengendalian intern di sektor publik, karena masih sedikit dan hanya membahas mengenai aspek pengendalian formal saja. Tetapi belum menyentuh mengenai peranan manusia sebagai individu yang memiliki peranan penting dalam pelaksanaan SPI,” demikian Rahma. (*)
Penulis: Nuri Hermawan Editor: Faridah Hariani
Alvan Febrian, Wisudawan
Terbaik S2 Farmasi Berharap
Pengembangan
Obat
Lebih
Rasional
UNAIR NEWS – Dewasa ini, kebutuhan akan obat analgesik sangat
dibutuhkan masyarakat. Ditunjang dengan peningkatan yang pesat dari pengetahuan terkait, seperti kimia organik, biologi molekuler, kimia medisinal, dan kimia komputasi menjadikan pengembangan obat lebih rasional. Perkembangan ini memungkinkan desain obat baru menjadi lebih efisien dan efektif.
Hal itulah yang melatarbelakangi Alvan Febrian Shalas melakukan penelitian sebagai salah satu syarat kelulusan Program S-2 pada Fakultas Farmasi Universitas Airlangga. Tesisnya yang berjudul ”Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas Senyawa Turunan 1-Alil-3-Benzolitiourea sebagai
Analgesik (Ortho, Meta, dan Para Benzolitiourea)” mengantarkan Alvan menyandang predikat wisudawan terbaik S-2 Fakultas Farmasi dengan IPK sempurna: 4,00, pada wisuda Maret 2016 lalu.
Laki-laki yang akrab disapa Alvan ini memulai penelitian dengan melakukan pemodelan molekul kandidat senyawa yang akan disintesis secara in silico. Ia kemudian melakukan sintesis senyawa yang diketahui memiliki potensi analgesik (berdasarkan uji in silico), dan diuji kemurniannya serta dilakukan konfirmasi struktur kimianya. Berikutnya, dilakukan uji aktivitas analgesik terhadap senyawa hasil sintesis tersebut. Terakhir, dilakukan penentuan hubungan kuantitatif antara struktur dengan aktivitas analgesik.
Selama mengerjakan penelitian tersebut, laki-laki kelahiran Jember 18 Februari 1985 ini mendapat dukungan penuh dari dosen pembimbing utamanya, dari isteri, anak, dan teman-teman seperjuangannya. Penyuka kegiatan alam dan penyuka kopi ini mengaku tidak mendapatkan kendala yang begitu berarti.
”Kendalanya hanya pada diri sendiri. Seperti kurang tajam dalam menganalisis permasalahan, kurang komunikatif, inkonsistensi, dan lainnya. Solusi ada pada seberapa besar kita mau meng-upgrade diri,” tuturnya.
Usai lulus dari studi Magister, Alvan memiliki keinginan untuk mengaplikasikan keilmuannya dengan melakukan pengembangan obat. ”Kenali dirimu dan jadilah diri sendiri,” begitu pesan Alvan memberi motivasi pada adik-adik kelasnya di Farmasi UNAIR. (*)
Penulis : Lovita Martha Fabella Editor : Binti Q. Masruroh.
Imamatul
Angkat
Isu
Pendidikan Karakter dalam
Ajang Mawapres
UNAIR NEWS – “Pemerintah baru melakukan intervensi di sisi academic achievement, tetapi belum memberikan pendidikan
karakter kepada anak-anak.” Itulah ungkapan yang disampaikan oleh mahasiswa berprestasi (mawapres) Universitas Airlangga tahun 2017, Imamatul Khair.
Imamatul, sapaan akrabnya, kini tengah berlaga di ajang mawapres nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kompetisi yang dilangsungkan di Hotel Swiss-Bellinn Surabaya dilaksanakan pada 10–12 Juli. Kompetisi tersebut diikuti 24 mawapres dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Ketika diwawancarai, Imamatul menyampaikan inspirasinya yang melatari gagasan tentang pendidikan karakter. Di sebuah kawasan wisata di Pamekasan, ia banyak menemui anak-anak yang suka meminta-minta meskipun mereka tidak berasal dari kalangan ekonomi ke bawah.
Imamatul menilai, kebiasaan tersebut disebabkan oleh kurangnya pendidikan karakter yang ditanamkan kepada anak-anak sejak u s i a d i n i . A k i b a t n y a , m e r e k a t a k b e r p i k i r t e n t a n g kebermanfaatan terhadap orang lain. Ia menyebutnya dengan istilah human achievement.
Melalui gagasan bernama project based learning, ia ingin memberikan pelajaran karakter secara berkelanjutan yang menyasar anak-anak.
“Salah satunya, kami ingin agar mereka menulis semacam daily
journal atau buku harian. Isinya cukup tentang kegiatan
dengan guru selaku wali kelasnya sehingga guru bisa melakukan intervensi pendidikan karakter,” tutur mahasiswa Program Studi S-1 Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB).
Kecintaannya pada pendidikan bukan saja kali ini diakui oleh Imamatul. Meski mengenyam pendidikan di bangku sastra, gadis asal Sumenep ini punya komunitas yang aktif memberikan edukasi bagi anak-anak. Komunitas bernama Saghara Elmo ia dirikan sejak tahun 2016.
Sejak tahun lalu, ia bersama sekitar 20 rekannya dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa di Jawa Timur mengunjungi para pelajar di wilayah Pamekasan dan Sumenep untuk menanamkan edukasi karakter.
Meski kini ia masih disibukkan dengan ajang mawapres, perempuan kelahiran 11 Juli 1995 ini menyimpan asa untuk melanjutkan pendidikan master ke Inggris. Imamatul ingin menekuni bidang pendidikan dan pengajaran.
Sebagai mawapres UNAIR, pengagum novelis Ilana Tan ini tak pernah berhenti meraih juara. Peraih beasiswa Aktivis N u s a n t a r a i t u j u g a m e n j a d i d e l e g a s i “ T h e 3r d A s i a n
Undergraduate Summit di National University of Singapore” dan UNAIR tahun 2017. Dalam ajang itu, ia meraih predikat Best
Cultural Performance.
Mahasiswa S-1 Sastra Inggris itu juga pernah menjadi peserta terpilih Young Southeast Asian Leaders Initiative Camp U-Theory Leadership in Collaboration with United in Diversity pada tahun 2016.
Atik Qurrota A’yunin, Wakil
Sekjen ISMKMI Itu Lulus
Terbaik FKM UNAIR
UNAIR NEWS – Persoalan masalah gizi balita di Jawa Timur masih
banyak. Secara statistik telah mendekati angka cut off point sebagai masalah kesehatan masyarakat yang dianggap serius. Padahal status gizi merupakan salah satu faktor penentu kualitas sumber daya manusia (SDM).
Di beberapa kota besar, diantaranya Surabaya, masalah gizi yang terkait dengan status ketahanan pangan, banyak ditemui di kantong-kantong pemukiman kumuh. Pemicunya, perilaku hidup sehat belum menjadi budaya.
Topik itulah yang diangkat Atik Qurrota A’yunin Al Isyrofi dalam skripsinya. yang kemudian menunjang dirinya menjadi wisudawan terbaik S-1 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga pada wisuda Desember 2016. Peraih IPK 3,84 ini menulis skripsi bertajuk “Hubungan Antara Pola Asuh dan Status Ketahanan Pangan Rumah Tangga dengan Status Gizi Balita (2-5 Tahun) pada Permukiman Kumuh di Kecamatan Bulak, Kota Surabaya.”
Aktivis organisasi setingkat nasional yang padat kegiatan ini, dara kelahiran Gresik 18 Desember 1995, ini mampu menyelesaikan penelitiannya tepat waktu. Sebagai Wakil Sekjen Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), cewek yang karib disapa Atik ini, harus pandai mengatur waktu antara tanggungjawab organisasi dengan penelitian. Saat itu ia harus “blusukan” di tengah terik matahari di bulan puasa yang cukup menguras tenaga.
Keberhasilan Atik menyelesaikan penelitiannya itu, tentu saja tidak luput dari dukungan orang tua. Menurut penggemar
jadi ia pun tidak ingin hanya duduk manis menikmati hasil kerja orang tua.
“Saya juga harus bekerja lebih keras untuk mengatur dan menyesuaikan waktu. Namun, semua itu tidak saya rasakan berat, karena dukungan dari keluarga terutama orang tua, adik, dan dosen pembimbing yang begitu telaten, sabar dan perhatian, bahkan para sahabat ada yang ikut membantu turun ke lapangan,” ujar gadis gemar membaca ini.
Kedepan, Atik berharap rekomendasi yang ia berikan berdasarkan hasil penelitiannya ini dapat diterapkan oleh stakeholder dan pemerintah daerah setempat. “Saya sangat berharap agar penelitian ini juga dapat dikembangkan dengan spektrum yang lebih luas dan lebih rinci,” katanya berharap.
Pesannya kepada adik kelas mahasiswa UNAIR, bahwa kampus merupakan tempat untuk berlatih menuju medan tempur di lingkungan masyarakat. “Jadi jangan sampai Anda membesar di kampus, tetapi mengecil di masyarakat. Atau menjadi jagoan di kampus, tetapi jadi sandera di masyarakat. Kampus adalah tempat berlatih, dan masyarakat adalah medan tempurnya. Manfaatkan itu!,” katanya tegas. (*)
Penulis: Lovita Marta Fabella Editor: Dilan Salsabila.
Terapkan Model “Studying
Technique”, Raih Predikat
Wisudawan Terbaik
UNAIR NEWS – “Studying Technique” adalah teknik belajar yang diciptakan sendiri oleh Vita Kartika Cahyani selama kuliah di Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. Teknik itu diterapkan dengan belajar selama 25 menit dan istirahat selama 5 hingga 10 menit.
“Umumnya, ketika belajar sering kali kita gampang terdistraksi oleh handphone, TV, dan belum lagi rasa malas dan menunda-nunda untuk memulai. Sehingga waktu belajar 25 menit benar-benar harus fokuskan diri pada apa yang akan dikerjakan dan ketika istirahat kita bisa melakukan apa saja,” jelas Vita. Dari cara dan teknik belajar itu, Vita mampu menyabet gelar wisudawan terbaik S-1 FISIP UNAIR dengan IPK 3.77. Tidak hanya itu, usahanya tersebut juga mengantarkan Vita meraih juara 1 kompetisi Mahasiswa Berprestasi FISIP dan juara III tingkat UNAIR pada semester tujuh.
Mengenai skripsi, Vita mengambil judul skripsi “Persepsi Pembaca Muda Zetizen tentang Kualitas Rubrik Zetizen”. Skripsi tersebut merupakan studi kasus persepsi pembaca muda Jawa Pos mengenai kualitas rubrik Zetizen pascarebranding dari rubrik Deteksi. Vita juga mengaku bahwa dalam mengerjakan skripsinya tersebut tidak banyak kendala yang dia temui.
“Proses pencarian informan dan wawancara berlangsung lancar serta saat mengerjakan pasti ada waktu-waktu buntu dan jenuh tapi alhamdulillah bisa terlewati,” terang Vita.
Selama studi, anak kedua dari dua bersaudara ini berkali-kali menyabet berbagai gelar kejuaraan dalam beberapa kompetisi, diantaranya adalah Juara I Indonesian Naval Academy English Debate Competition 2013, Juara I Public Relations Competition di Universitas Widya Mandala 2015, Juara I Public Relations Competition Universitas Widya Mandala 2016 dan lain sebagainya. (*)
Penulis : Akhmad Janni Editor : Nuri Hermawan
Sosok Cahya Arum, Wisudawan
Terbaik Fakultas Vokasi
UNAIR NEWS – Fokus dengan kegiatan akademik selama menjalani
kuliah adalah kiat Cahya Arum Perdana untuk menjadi lulusan terbaik. Usahanya dalam memperhatikan dosen mengajar selama kuliah membuahkan hasil manis. Cahya berhasil didapuk menjadi wisudawan terbaik pada Fakultas Vokasi Universitas Airlangga periode Maret 2016.
Selama di UNAIR, ia menjalani kuliah di program studi D-3 Perpajakan. Saat dinyatakan lulus, ia meraih indeks prestasi kumulatif sebesar 3,93. “Saya tidak ada kiat-kiat khusus, tetapi memang kalau sedang kuliah di kelas, saya benar-benar fokus memperhatikan. Jadi, kalau ada ujian, saya tinggal mengulangi materi kuliah yang diberikan dosen,” tutur Cahya. Ditanya mengenai kesibukan semasa kuliah, ia sering mengikuti kegiatan seperti seminar, lomba, dan bekerja secara purna waktu. Pada tahun 2016, ia menjadi peserta seminar Focused Group Discussion ‘Outlook Perpajakan’. Sedangkan, pada tahun 2015, dara kelahiran Sidoarjo ini menjadi finalis ‘Indonesian Spectaxcular Competition’ di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Selama pengerjaan tugas akhir, setiap mahasiswa diploma diwajibkan untuk praktik kuliah lapangan dan membuat laporan tugas akhir. Pada saat itu, ia menjalani praktik di sebuah kantor akuntan publik.
“Saya praktik di kantor akuntan publik yang notabene lebih dominan (topik) akuntansi daripada prodi perpajakan. Jadi, ya, saya harus pintar-pintar mencari topik. Kenapa saya magang di kantor akuntan publik? Karena saya ingin belajar lebih banyak. Jadi, saya juga punya ilmu selain pajak,” ujar perempuan kelahiran 8 Maret 1993.
Setelah lulus dari studi diploma perpajakan, ia berencana melanjutkan kuliah pada jenjang strata satu dan meniti karir di Direktorat Jenderal Pajak – Kementerian Keuangan. Namun, sebelum ia berhasil menyelesaikan kuliah, ia telah menjadi ‘Junior Auditor Staff and Assitant Tax Consultant’ di salah satu kantor konsultan akuntan publik di Jawa Timur.
Selamat, Cahya!
Penulis: Defrina Sukma S.
Skripsinya Sempat Ditolak
Lima Kali, Esti Putri Jadi
Wisudawan Terbaik FISIP
UNAIR NEWS – Maju terus pantang mundur. Setidaknya ungkapan
itulah yang melandasi Esti Putri Anugrah ketika mengerjakan penelitian skripsi. Ia mengajukan judul skripsi untuk kali kelima. Akhirnya, skripsi berjudul ”Analisis Wacana tentang
Citra Perpustakaan di Kalangan Masyarakat” yang berhasil
diterima oleh dosen pembimbingnya, dan akhirnya juga mengantarkannya lulus dengan predikat wisudawan terbaik.
Dara kelahiran Tulungagung 2 Maret 1994 ini berhasil lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,94 dari program studi
S-1 Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR).
“Awalnya, saya nggak yakin mau membahas masalah citra perpustakaan dengan menggunakan metode analisis wacana. Namun dengan modal nekat, saya yakin kalau kita banyak membaca dan belajar, skripsi ini pasti bisa diselesaikan,” katanya.
Menurutnya, informasi yang tersebar di internet tentang perpustakaan cukup sering dikonsumsi kalangan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat harus mempunyai kemampuan literasi media dalam menyerap informasi-informasi yang tersebar di internet. Selain itu, untuk meng-counter citra buruk yang beredar, pihak perpustakaan harus melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki citra.
Selama menjalani kuliah, Esti juga menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Ia tercatat sebagai anggota pada Himpunan Mahasiswa IIP, Sie Kerohanian Islam FISIP UNAIR, dan pernah juga menjadi tim editor jurnal Palimpsest pada Departemen IIP FISIP UNAIR.
Selain berorganisasi, ia juga pernah meraih prestasi sebagai juara I pada lomba yang diadakan oleh Forum Komunitas Masyarakat Sadar Arsip (FKMSA). Semasa kuliah ia juga pernah bergabung dengan tim penelitian dosen.
“Dalam wawancara untuk penelitian itu saya bertugas mewawancarai informan dari anak-anak sampai dewasa tentang minat baca di masyarakat,” kata Esti. (*)
Penulis : Defrina Sukma S Editor : Binti Q. Masroroh
Studi Maskulinitas untuk
Ciptakan Tatanan Gender yang
Egaliter
UNAIR NEWS – Secara spesifik, Dra. Nur Wulan, M.A., PhD
menaruh perhatian pada bidang studi maskulinitas, atau norma-norma kelelakian. Studi kelelakian mempelajari konsep kelelakian dalam masyarakat, dan representasinya dalam sastra. Representasi maskulinitas dalam sastra yang ia kaji khususnya mengacu pada sastra anak dan remaja.
Bagi Wulan, sapaan akrabnya, konsep maskulinitas dan sastra anak dan remaja adalah dua hal yang penting. Sastra anak biasanya dikaitkan dengan peran sebagai sarana untuk mendidik. Sedangkan sastra untuk orang dewasa, memiliki misi yang lebih dari sekadar mendidik, yakni bisa jadi untuk mendobrak sebuah norma maupun menawarkan nilai yang bersifat subversi. Pada umumnya, apa yang ada dalam sastra anak dan remaja merefleksikan norma yang dianggap lebih ideal oleh sebuah masyarakat.
Studi ini Wulan pilih sebab tidak banyak studi gender yang membahas maskulinitas. “Umumnya, studi gender yang banyak dibahas selama ini adalah studi feminisme atau norma keperempuanan. Sementara studi mengenai bagaimana representasi laki-laki dalam sastra sangat minim,” ujar Wulan.
Untuk itu, riset studi S-3 di Universitas Sydney yang ia tulis, mengambil topik konsep maskulinitas dalam sastra untuk anak dan remaja di Indonesia.
Dalam dunia akademik tingkat global, pembahasan maskulinitas berkembang sekitar tahun 1980, dengan pelopor tokoh-tokoh dunia bagian utara. Sehingga, sumber-sumber mengenai studi maskulinitas bersumber pada penelitian mengenai laki-laki di Barat.
“Di Indonesia, studi ini belum banyak diproduksi. Ini kesempatan yang masih luas karena belum banyak dieksplor dan membantu kita untuk memahami mengenai bagaimana laki-laki di Indonesia,” ujar dosen yang mengambil program magister di Universitas Auckland ini.
Untuk menunjang kepakarannya, Nur Wulan mengikuti dua asosiasi skala internasional yaitu American Men’s Studies Association dan Inter Asia Cultural Studies Consortium. Di sana, ia memiliki banyak kesempatan untuk bertukar pikiran dengan akademisi dengan rumpun keilmuan yang sama dari berbagai belahan dunia. Sebagian besar yang ikut dalam asosiasi tersebut adalah orang-orang dari belahan dunia utara.
“Saya memiliki banyak kesempatan untuk berkontribusi memberikan pemahaman kepada akademisi di dunia mengenai maskulinitas, agar pengetahuan mengenai maskulinitas lebih beragam dan imbang. Tidak hanya didominasi maskulinitas Barat,” ungkapnya.
Dengan bergelut pada studi ini, Wulan memiliki keinginan untuk memperluas horizon pengetahuan masyarakat tentang maskulinitas dan feminitas agar imbang. Sebab selama ini, apa yang yang bersumber dari Barat lebih sering dianggap sebagai nilai yang universal. Padahal, banyak hal yang tidak universal tapi dianggap universal karena yang memproduksi adalah orang Barat. Wulan berharap, studi maskulinitas di Indonesia bisa berkembang dan bisa memberi pemahaman mengenai konsep kelelakian. Dengan demikian laki-laki bisa lebih sadar bahwa untuk menjadi laki-laki sejati tidak harus straight, rasional, dan dominan. Agar ada sinergi antara laki-laki dan perempuan. “Studi gender masih banyak berkutat mengenai feminis dan keperempuanan. Sebetulnya, mempelajari maskulinitas studies itu sangat penting untuk menciptakan tatanan gender yang lebih egaliter. Karena selama ini yang dipelajadi dalam studi jender kan perempuan, feminisme. Laki-laki punya peran penting
untuk mendukung gender order yang lebih egaliter,” tambahnya. (*)
Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Nuri Hermawan
Badri Munir Sukoco Raih
Penghargaan
Alumnus
Berprestasi di Taiwan
UNAIR NEWS – Satu lagi sivitas akademika Universitas Airlangga
yang berhasil meraih prestasi di luar negeri. Dia adalah Badri Munir Sukoco, Ph.D., yang mendapatkan predikat alumnus berprestasi Fakultas Manajemen, National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan.
Penghargaan itu diserahkan bertepatan dengan Dies Natalis NCKU ke-85 yang jatuh tepat sehari setelah ulang tahun UNAIR, yakni Jumat (11/11). Penghargaan bernama Outstanding Young Alumni
Award (OYAA) diserahkan kepada 85 alumnus NCKU. Dari 85
penerima penghargaan tersebut, hanya dua alumnus asing yang menerima penghargaan tersebut. Dari Filipina dan Indonesia. Dari jumlah itu, 13 di antaranya berasal dari Fakultas Manajemen NCKU. Mereka berasal dari kalangan ABC. Yakni,
academics, business, dan consultant. Sebelas orang merupakan
lulusan berpaspor Taiwan, sedangkan dua lainnya, termasuk Badri, adalah lulusan non-Taiwan. Seluruhnya bekerja di berbagai perusahaan multinasional, digital start up, dan perguruan tinggi.
kriteria utama dalam memilih alumni berprestasi. Kriteria tersebut adalah alumnus yang berusia di bawah 50 tahun dan memiliki prestasi yang membanggakan.
“Mereka melihat dari konsistensi. Kebetulan NCKU adalah
research-based university sehingga mereka melihat konsistensi
saya dalam melakukan publikasi penelitian. Karena saya bergerak di bidang pendidikan, maka mereka melihat rekam jejak pelaksanaan kuliah saya kepada mahasiswa. Beberapa kali pernah mendapat penghargaan. Begitu pula dengan publikasi dan pengabdian masyarakat,” tutur Badri yang juga Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR.
Secara pribadi, Badri menganggap bahwa prestasi tersebut merupakan wujud apresiasi perguruan tinggi terhadap alumninya. Ia bahkan menganggap penghargaan ini merupakan batu lompatan sekaligus dorongan untuk mencapai target-target selanjutnya. Salah satunya, melakukan publikasi penelitian lebih banyak lagi.
“Saya merasa ini belum optimal. Dosen-dosen di sana penelitiannya harus terpublikasi di jurnal top ten. Ini yang saya masih belum bisa,” ujarnya.
Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak, merasa bangga atas prestasi yang dicapai Ketua BPP UNAIR. “Pak Badri itu dosen yang pekerja keras. Karena itulah, kami mempercayainya untuk menjadi Ketua BPP,” terang Prof. Nasih. “Saya berharap, di UNAIR bermunculan akademisi yang juga pekerja keras seperti Pak Badri,” imbuhnya.
Di bidang pendidikan, Badri pernah terpilih sebagai dosen berprestasi I tingkat UNAIR pada tahun 2010 dan 2015. Bahkan, pada tahun 2015, pakar manajemen branding itu menjadi finalis dosen berprestasi tingkat nasional.
Di bidang penelitian, sampai tahun 2016, Badri telah memiliki 34 artikel yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi. Sebanyak 12 artikel di antaranya terindeks pada Thompson
Reuters ISI dengan h-indeks sebesar 6 dan sitasi sebanyak 191 kali. Pada Google Scholar, Badri memiliki h-indeks 11 dan penelitiannya tersitasi sebanyak 751 kali.
Sedangkan, di bidang pengabdian masyarakat, dosen kelahiran Lumajang juga aktif dalam kegiatan pengembangan institusi, yakni sebagai Ketua BPP serta anggota Majelis Wali Amanat UNAIR, dan anggota tim percepatan peringkat World Class
University Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan
Tinggi. (*)
Penulis: Defrina Sukma S. Editor: Rio F. Rachman
Pertama, Alumni UNAIR Raih
Beasiswa Hearing Aid East
Java Scholarships
UNAIR NEWS – “Alhamdulillah, akhirnya hari ini ditetapkan
setelah dua tahun mengejar Master of Clinical Audiology University of Western Australia,” ungkap Valina Khiarin Nisa dengan bangga. Terang saja, lulusan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tahun 2015 tersebut dinobatkan sebagai satu-satunya calon mahasiswa baru dari Jawa Timur yang mendapatkan beasiwa Hearing Aid East Java Scholarships untuk melanjutkan studi di Master of Clinical Audiology University of Western Australia.
Ditemui usai penetapannya sebagai penerima beasiswa di Gedung Negara Grahadi pada Rabu (27/9), perempuan yang akrab disapa Valina tersebut menuturkan, ia sudah mencoba mendaftar beasiswa tersebut selama dua kali.
“Sudah dua kali mencoba, pertama di tahun 2016. Karena ada kendala jadi perlu coba lagi. Syukur alhamdulillah tahun ini daftar lagi dan lolos,” terangnya bangga.
Ditanyai mengenai pilihan program master yang terhitung baru tersebut, Valina mengungkapkan bahwa hal itu merupakan dorongan dari berbagai dosennya di Fakultas Psikologi UNAIR. Selain itu, konsentrasi pendidikan Valina pada Psikologi Pendidikan Perkembangan menjadi alasan dirinya untuk menempuh pendidikan Master of Clinical Audiology.
“Sebenarnya sejak lulus tahun 2015 sudah diarahkan dosen untuk ambil master ini, karena masih baru untuk di Jatim. Selain itu ada kerjasama antara Jatim dan Australia Barat untuk menangani anak tuna rungu,” terangnya.
Valina menuturkan bahwa beasiswa yang ia terima mencakup biaya hidup selama di Australia, tiket pesawat, dan berbagai keperluan selama studi. Tidak hanya itu, dengan nada riang, Valina juga mengatakan bahwa ada jatah untuk libur dan kembali ke Indonesia selama satu tahun sekali.
“Semua ditanggung mulai tempat tinggal, terbang dari Surabaya-Australia, dan ada liburnya juga,” papar pencipta lagu Jinggle
Airlangga itu.
Valina yang kini menjadi dosen muda di Fakultas Psikologi UNAIR itu menuturkan bahwa proses pendidikannya akan dimulai bulan Februari tahun 2018 mendatang. Selain itu, ia juga mengaskan bahwa selepas kuliah usai, ia akan kembali ke UNAIR untuk mengajar serta bakal menjalani kontrak dengan Pemprov Jatim untuk menangani kasus anak berkebutuhan khusus, terlebih yang menyandang tuna rungu.
“Untuk rencana pascamaster, saya ada kontrak dengan Pemprov Jatim dan Psikologi UNAIR. Jadi saya harus mengadakan seminar tentang tuna rungu di beberapa kota di Jatim dan kepada teman-teman prakstisi di daerah-daerah. Selanjutnya saya juga bakal mengajar jadi dosen di Psikologi UNAIR,” pungkas Valina. (*)
Penulis : Nuri Hermawan Editor : Binti Q. Masruroh