Abstrak. Kata kunci: Etika kepemimpinan, tingkat pemahaman akuntansi, kualitas pelaporan keuangan.

Teks penuh

(1)

Jurnal Sains, Akuntansi dan Manajemen (Vol. 1, No. 2: Pebruari, 2019)

Jurnal Sains, Akuntansi dan Manajemen

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Laporan keuangan perusahaan merupakan hal yang wajib dilakukan bila bergerak dalam dunia usaha. Semua usaha yang ingin dikelola dengan baik, harus memiliki sebuah catatan yang berisi informasi mengenai semua aktivitas keuangan perusahaan yang merupakan salah satu sumber informasi yang penting dan sangat dibutuhkan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan untuk pengambilan suatu keputusan. Menurut PSAK no 1, laporan keuangan mempunyai tujuan untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan-keputusan ekonomi serta menunjukkan pertanggungjawaban (stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepada mereka (IAI, 2015). Demikian pelaporan keuangan harus dapat menyajikan informasi mengenai sumber daya ekonomi, menyajikan informasi mengenai prestasi dalam satu periode, dan menyediakan informasi yang dapat diketahui oleh perusahaan. Banyak pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan sebuah perusahaan, sehingga laporan keuangan harus memiliki kualitas yang baik agar dapat berfungsi dan bermanfaat bagi pemakai dan pemangku kepentingan.

PENGARUH ETIKA KEPEMIMPINAN DAN TINGKAT PEMAHAMAN AKUNTANSI TERHADAP KUALITAS PELAPORAN KEUANGAN

PADA PT. RADITYA DEWATA PERKASA NI PUTU MANIK DHARMA YANTI

Email: anikunmas@gmail.com

Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Abstrak

Laporan keuangan merupakan sumber informasi perusahaan dalam menjalankan dan pengambilan keputusan. Laporan keuangan juga dapat menjadi sumber manipulasi informasi yang dapat merugikan berbagai pihak yang berkepentingan. Adanya kecurangan dalam penyusunan dan penyalahgunaan laporan keuangan menunjukkan kurangnya etika kepemimpinan dan kesadaran etika oleh semua karyawan. Selain itu faktor tingkat pemahaman akuntansi akan menjadi faktor penentu dari suatu laporan keuangan yang berkualitas dan menunjukkkan kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh etika kepemimpinan dan tingkat pemahaman akuntansi terhadap kualitas pelaporan keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. Raditya Dewata Perkasa yang bekerja di kantor pusat sebanyak 102 orang. Metode penentuan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, dan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan maka jumlah sampel adalah sebanyak 42 sampel. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda. Berdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka diperoleh bukti empiris bahwa etika kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa, dan tingkat pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa

(2)

Robbins (2006:432) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran. Kepemimpinan diartikan bahwa kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang (Wibowo, 2011). Proses tersebut bertujuan memotivasi bawahan, menciptakan visi masa depan, dan mengembangkan strategi untuk mecapai tujuan. Etika adalah sebuah cabang filsafat mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya (Awatara, 2011). Frisch dan Huppenbauer (2014) mendefinisikan etika kepemimpinan adalah petunjuk atau kaidah yang mengatur sikap dan perilaku karyawan ketika bekerja didalam perusahaan Etika dalam kepemimpinan dikaitkan dengan bagaimana cara pemimpin dapat memimpin pengikutnya dengan tetap mengindahkan kaidah, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat. Di dalam hal ini, etika akan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan dalam suatu organisasi. Penelitian yang dilakukan oleh Arel, et all (2012), Kulsum (2016) dan Andhika (2016) menunjukkan bahwa kepemimpinan berpengaruh positif terhadap keputusan laporan keuangan, sedangkan hasil penelitian Nudilah (2016) dan Putra (2017) menunjukkan bahwa etika kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan. Dalam penelitian Puspita (2018), etika kepemimpinan berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi dan kepuasan kerja.

Manurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah pasal 1 menyebutkan bahwa akuntansi adalah proses pencatatan, pengukuran, pengklasifikasian, pengikhtisaran transaksi dan kejadian keuangan, pengintepretasian atas hasil serta penyajian laporan. Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah . hasil penelitian dari Yuliani (2014), Diani (2014), Setyawati (2014) Priyatna (2015), Nudilah (2016) dan Andhika (2016) mendapat hasil pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan. Hariyoga (2011) dan Supriyanto (2015) mendapatkan hasil penelitian kecerdasan emosional dan perilaku belajar berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi. Perilaku belajar memiliki pengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi disebutkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Agustina (2015).

Dalam Statement of Financial Accounting Concept No. 8 Financial Accounting Standart Board (FASB) dijelaskan bahwa kerangka kerja konseptual untuk pelaporan keuangan yang mencakup tujuan dan karakteristik kualitatif pelaporan keuangan itu sendiri, yaitu reliabilitas dan relevansi. Informasi yang dapat dikatakan andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan. Sebaliknya, informasi relevan adalah informasi yang dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan, menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka pada masa lalu (IAI, 2015). Manfaat penting laporan keuangan tersebut mengharuskan manajer akuntansi ekstra hati-hati dalam membuat pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan yang baik adalah pelaporan keuangan yang memenuhi tujuan dari pelaporan tersebut.

Pengungkapan pelaporan keuangan merupakan mekanisme yang paling efisien dan efektif untuk mendorong pemimpin dalam pengelolaan perusahaan. Pemimpin akan termotivasi untuk mengelola perusahaan lebih baik jika informasi dan pelaporan keuangan memiliki kualitas yang lebih baik (Amalia, 2014). Pelaporan keuangan yang berkualitas dapat membantu investor, kreditur, dan orang lain yang tertarik pada perusahaan. Dalam penelitian Indriani (2010) menunjukkan kualitas laporan pelaporan keuangan berpengaruh positif terhadap konsekuensi ekonomis. Penelitian Nugraheni (2011) mendapatkan hasil bahwa terdapat pengaruh penerapan SAP di Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional terhadap peningkatan kualitas laporan keuangan. Kualitas laporan keuangan berpengaruh positif terhadap prospek implementasi SAK ETAP merupakan hasil penelitian dari Rudiantoro (2012). Diungkapkan dalam penelitian Herawati (2014), terdapat pengaruh positif tidak signifikan antara kegiatan pengendalian dan pemantauan terhadap kualitas laporan keuangan. Kualitas dari laporan keuangan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam penelitian Muzahid (2014), dengan hasil

(3)

tingkat pendidikan, kualitas pelatihan dan lama pengalaman kerja pegawai berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan.

PT. Raditya Dewata Perkasa Canggu merupakan kantor pusat dari PT. Raditya yang bergerak di bidang penjualan barang alat elektronik dan peralatan rumah tangga. Berdiri sejak tahun 1992, dimana sudah banyak perusahaan di bidang sama telah mendahului perusahaan ini. Sejak berdiri hingga sekarang PT. Raditya Dewata Perkasa atau yang lebih dikenal dengan nama Raditya Cash & Kredit ini dapat dikatakan berkembang cukup bagus terbukti dengan omset penjualan yang terus meningkat.

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Etika Kepemimpinan dan Tingkat Pemahaman Akuntansi terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah yang dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah etika kepemimpinan berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan ?

2. Apakah tingkat pemahaman akuntansi berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Untuk mengetahui pengaruh etika kepemimpinan terhadap kualitas pelaporan keuangan. 2. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pemahaman akuntansi terhadap kualitas pelaporan

keuangan.

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa manfaat bagi berbagai pihak diantaranya:

1.4.1 Bagi Mahasiswa

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan dan wawasan mahasiswa dalam mengaplikasikan teori yang diperoleh selama perkuliahan serta membandingkannya dengan kondisi yang sebenarnya diperusahaan khususnya mengenai pengaruh etika kepemimpinan dan tingkat pemahaman akuntansi dalam kualitas pelaporan keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa. Penelitian ini erat hubungannya dengan mata kuliah perilaku kepemimpinan dan laporan keuangan. Penelitian ini diharapkan dapat dikembangkan lebih jauh lagi di penelitian selanjutnya.

1.4.2 Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak manajeman PT. Raditya Dewata Perkasa sebagai pertimbangan untuk langkah selanjutnya agar lebih etis dan professional terutama dalam kualitas pelaporan keuangan. Serta dapat memberi masukan kepada pihak perusahaan sehingga dapat meningkatkan pembuatan laporan keuangan yang berkualitas.

1.4.3 Bagi Fakultas dan Universitas

Hasil penelitian ini merupakan sumbangan perpustakaan serta refrensi bagi mahasiswa yang nantinya akan melakukan penelitian lebih lanjut terhadap masalah yang berhubungan dengan pengaruh etika kepemimpinan dan tingkat pemahaman akuntansi dalam kualitas pelaporan keuangan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori

2.1.1 Teori Kepemimpinan

Kepemimpinan memiliki berbagai macam pengertian menurut para ahli. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan memegang peranan penting bagi setiap organisasi baik itu organisasi dengan orientasi profit maupun organisasi dengan orientasi non-profit. Salah satu faktor penentu kesuksesan di suatu organisasi adalah kepemimpinan. Sehingga konsep kepemimpinan sampai

(4)

sekarang masih sering dikembangkan agar lebih baik. Kepemimpinan merupakan aspek penting bagi seorang pemimpin, karena seorang pemimpin harus berperan sebagai organisator kelompoknya untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan didefinisikan oleh Robbins (2006:432) sebagai kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran. Sedangkan menurut Sweeney dan McFarlin (dikutip oleh Wibowo, 2011) kepemimpinan diartikan bahwa kepemimpinan melibatkan seperangkat proses pengaruh antar orang. Proses tersebut bertujuan memotivasi bawahan, menciptakan visi masa depan, dan mengembangkan strategi untuk mencapai tujuan.

Selain itu menurut Agustina (2009) kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Kepemimpinan menekankan adanya dua pihak, yaitu pemimpin dan yang dipimpin atau

pengikut.

2. Terjadi pola interaksi di antara pemimpin dan pengikut.

3. Dalam pola interaksi yang terjadi di antara pemimpin dan pengikut, pemimpin mempengaruhi perilaku para pengikut.

4. Proses pemimpin mempengaruhi pengikutnya ini dilakukan agar para pengikut melakukan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin atau tujuan yang telah disepkati bersama oleh pemimpin dan pengikiutnya.

5. Tujuan yang ingin dicapai oleh pemimpin dan pengikutnya ialah tujuan organisasi.

Berdasarkan definisi- definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli, maka peneliti menyimpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang kepada satu atau sekelompok orang dimana seseorang tersebut mampu mempengaruhi orang lain dengan maksud mencapai tujuan atau sasaran tertentu.

Menurut Robbins (2004:464) fondasi kepemimpinan adalah kepercayaan, yaitu pengharapan positif bahwa orang lain tidak akan melalui kata, tindakan atau keputusan bertindak secara oportunisme. Ketika para pengikut mempercayai pemimpin, maka mereka akan sensitif terhadap tindakan si pemimpin serta percaya pada pemimpin bahwa hak-hak dan kepentingan mereka tidak akan disalahgunakan.

2.1.2 Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial pertama kali dikembangkan oleh Albert Bandura (1986) dimana teori belajar sosial ini didapat atas eksperimennya yang diberi nama eksperimen Bobo Doll. Menurut Albert Bandura, eksperimen ini menunjukkan anak-anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya. Di teori belajar sosial juga terdapat model deterministic resipkoral, yaitu perilaku, person, dan lingkungan. Ketiga faktor ini saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, faktor perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor

person mempengaruhi perilaku.

Menurut berbagai sumber yang didapat mengenai teori belajar sosial, dapat disimpulkan Bandura dalam teori belajar sosial mengemukakan pendapat bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Lebih jauh lagi, terdapat dua jenis pengamatan teori belajar sosial yaitu :

1. Pembelajaran melalui pengamatan yang diperoleh dari hasil pengamatan atas situasi yang diperoleh orang lain.

2. Pembelajaran yang diperoleh dari suatu figur, meskipun figur tersebut belum tentu membawa sikap positif untuk orang lain.

Selain teori belajar sosial dijelaskan bahwa manusia melakukan proses belajar-mengajar bukan karena stimulus melainkan meniru dan mengamati orang lain. Teori belajar sosial juga menjelaskan mengenai bagaimana seseorang belajar melalui keadaan disekitarnya. Menurut Bandura (dikutip oleh Stapa, Ismail dan Yusuf, 2012) mengatakan manusia pula akan membentuk perasaan, nilai dan tingkah laku melalui pemerhatian terhadap apa yang dilakukan oleh ahli masyarakatnya.

2.1.3 Etika Kepemimpinan

Etika adalah sebuah cabang filsafat mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya (Awatara, 2011). Etika dalam kepemimpinan dikaitkan dengan

(5)

bagaimana cara pemimpin dapat memimpin pengikutnya dengan tetap mengindahkan kaidah, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat. Di dalam hal ini, etika akan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan dalam suatu organisasi.

Seorang pemimpin yang memiliki etika akan mampu membawa organisasi yang dipimpinnya sampai ke puncak keberhasilan dengan memanfaatkan semua potensi yang ada pada semua anggota organisasi yang dipimpin. Seorang pemimpin menjadikan etika sebagai dasar mengoptimalkan semua bakat dan potensi sumber daya manusia, dan meningkatkan nilai dari semua sumber daya yang dimiliki oleh organisasi serta menghargai semua kualitas dan kompetensi sumber daya manusia. Dan bukan seorang pemimpin yang menciptakan jarak antara mimpi dan realitas. Tetapi dia seorang pemimpin beretika yang membantu semua mimpi pengikutnya menjadi kenyataan dalam kebahagiaan.

Pemimpin yang beretika tidak akan pernah punya niat untuk menyingkirkan bakat-bakat hebat yang menjanjikan masa depan cerah. Dia akan mengilhami semua orang dengan motivasi dan keteladanan untuk mampu mencapai keunggulan, dan merangsang semua orang untuk berfikir positif dan bekerja efektif. Etika Kepemimpinan dapat terwujud jika pemimpin memiliki sifat jujur kepada pengikutnya, pemimpin dapat dipercaya oleh para pengikutnya sehingga pengikutnya akan merasa aman didekat si pemimpin, memiliki hubungan yang positif terhadap pengikutnya, dapat menilai dan memahami kinerja para pengikutnya, dapat bertanggung jawab terhadap semua tugas yang dibebankan dengan cara menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya, memiliki sifat adil, kritis, rendah hati, dan hormat kepada diri sendiri dan orang lain.

Kepemimpinan seorang pemimpin dapat dikatakan baik jika dapat menjalankan etika. Etika kepemimpina dapat terwujud jika :

1. Pemimpin memiliki sifat jujur kepada pengikutnya.

2. Pemimpin dapat dipercaya oleh para pengikutnya sehingga pengikutnya akan merasa aman dekat si pemimpin.

3. Memiliki hubungan yang positif kepada pengikutnya.

4. Dapat menerima saran dan kritik yang diberikan oleh pengikutnya. 5. Dapat menilai dan memahami kinerja para pengikutnya.

6. Dapat bertanggung jawab terhadap semua tugas yang dibebankan dengna cara menyelesaikan tugas sebaik-baiknya.

7. Memiliki sifat adil, kritis, rendah hati, dan hormat kepada diri sendiri dan orang lain.

2.1.4 Pemahaman Akuntansi

Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Seorang dikatakan memahami suatu mata pelajaran apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal yang telah dipelajari dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman juga merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan (Agustina, 2015).

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan pasal 1 menyebutkan bahwa akuntansi adalah proses pencatatan, pengukuran, pengklasifikasi, pengikhtisaran transaksi dan kejadian kauangan, pengintrepretasian atas hasilnya serta penyajian laporan. Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. Menurut kamus umum bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 2006) mempunyai pengertian pandai dan mengerti benar sedangkan pemahaman adalah proses, cara, perbuatan memahami atau memahamkan. Ini berarti orang yang memiliki pemahaman akuntansi adalah orang yang pandai dan mengerti benar tentang akuntansi. Seseorang dikatakan paham terhadap akuntansi adalah mengerti dan pandai bagaimana proses akuntansi itu dilakukan sampai menjadi laporan keuangan dengan berpedoman pada prinsip dan standar penyusuanan keuangan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Dengan adanya kecerdasan atau pengetahuan tentang akuntansi maka kualitas pelaporan keuangan suatu perusahaan akan lebih baik dan terhindar dari adanya kesalahan-kesalahan informasi yang dikarenakan kurangnya

(6)

pengetahuan tentang akuntansi. Keakuratan sebuah laporan keuangan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memuaskan stakeholder.

2.1.5 Kualitas Pelaporan Keuangan

Laporan keuangan adalah hasil dari semua transaksi yang terjadi di dalam suatu perusahaan dimana transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa yang bersifat finansial dicatat, digolongkan, dan diringkas dalam satuan uang (Saraswati, 2012). Kualitas laporan keuangan (financial statement) adalah hasil akhir dari proses kegiatan akuntansi atau suatu ringkasan dari transaksi keuangan. Kualitas pelaporan keuangan dapat dilihat dari karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari lima karakteristik yang dipaparkan oleh Hanafi dan Halim (2003), diantaranya : bermanfaat untuk pengambilan keputusan, kedua relevan yaitu mempunyai nilai prediksi, nilai umpan balik, dan tepat waktu, ketiga reliabel dikatakan reliabel bilamana laporan keuangan bisa diversifikasi, netral, dan representatif, keempat laporan bisa diperbandingkan termasuk konsistensi, dan yang terakhir laporan memiliki manfaat lebih besar dibandingkan biaya, material.

Agar suatu laporan keuangan dapat memberi manfaat bagi para pemakainya maka laporan keuangan tersebut harus mempunyai nilai informasi yang berkualitas dan berguna dalam pengambilan keputusan. Kualitas laporan keuangan tersebut tercermin dari karakteristik kualitatif. Menurut Komite Standar Akuntansi Pemerintah (2005 : KK-10) karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi agar dapat memenuhi tujuannya. Prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu relevan, andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami.

Chariri (2007) menyatakan bahwa pelaporan keuangan meliputi laporan keuangan, informasi lengkap, dan media pelaporan lainnya, sedangkan laporan keuangan hanya mencakup neraca, laba-rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan. Hal itu berarti pelaporan keuangan memiliki cangkupan yang lebih luas dibandingkan laporan keuangan.

Terdapat lima bentuk laporan keuangan pokok yang dihasilkan oleh perusahaan secara umum yaitu :

1. Neraca

Menurut Hanafi, dalam buku Analisis Laporan Keuangan (2002:63), Neraca adalah laporan yeng meringkas posisi keuangan suatu perusahaan pada tanggal tertentu. neraca menampilkan sumber daya ekonimis (aset), kewajiban ekonomis (hutang), modal saham, dan hubungan antar item tersebut.

Neraca dgunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan. Neraca bisa digunakan sebagai gambaran potret kondisi keuangan suatu perusahaan pada suatu waktu tertentu (snapshoot keuangan perusahaan), yang meliputi aset sumber daya perusahaan dan klaim atas aset tersebut meliputi uang dan saham pribadi. Aset perusahaan menunjukkan keputusan penggunaan dana atau keputusan investasi pada masa lalu, sedangkan klaim perusahaan menunjukkan sumber dana atau keputusan pendanaan di masa lalu. Dengan demikian, neraca adalah menampilkan keseimbangan antara keputusan investasi dengan keputusan pendanaan.

2. Laporan Laba Rugi

Menurut Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:72), laba rugi menggambarkan hasil yang diperoleh atau diterima oleh perusahaan selama satu periode tertentu, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan hasil tersebut. Hasil dikurangi biaya-biaya merupakan laba atau rugi. Kalau hasil lebih besar dari biaya berarti laba, sebaliknya, kalau hasil lebih kecil dari biaya-biaya berarti rugi.

3. Laporan Perubahan Posisi Keuangan

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), laporan perubahan posisi keuangan, yaitu suatu laporan yang berguna untuk meringkas kegiatan-kegiatan pembelanjaan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk jumlah dana yang dihasilkan dari kegiatan usaha

(7)

perusahaan dalam tahun buku bersangkutan serta melengkapi penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam posisi keuangan selama satu tahun buku yang bersangkutan.

4. Laporan Arus Kas

Menurut Harahap (2004:257) yaitu “Arus kas merupakan suatu laporan yang memberikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan pada suatu periode tertentu dengan mengklasifikasikan transaksi pada kegiatan: operasi, pembiayaan, dan investasi”. Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai aliran kas yang masuk maupun keluar bersih pada suatu periode waktu yang merupakan hasil dari tiga kegiatan pokok perusahaan yaitu operasional, investasi dan pendanaan.

Laporan keuangan harus dapat menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pemakai laporan keuangan. Dengan neraca, pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan dapat membuat keputusan strategi-strategi apa yang akan diambil untuk keberhasilan perusahaan tersebut di masa depan. Sedangkan dengan laporan arus kas, dapat digunakan sebagai refrensi dari para pemakai laporan untuk dapat mengetahui bagaimana kinerja perusahaan dan apakah kinerja tersebut baik atau buruk. Begitu juga dengan laporan arus kas, yang membantu memudahkan para pengguna laporan keuangan memahami laporan keuangan dengan baik sehingga diharapkan dapat mengambil keputusan yang tepat.

Informasi yang disajikan dalam pelaporan keuangan dapat memberikan pemahaman dan informasi lebih tentang manajemen dan kondisi perusahaan itu sendiri. Manajemen dapat menyampaikan informasi sesuai dengan peraturan atau kebiasaan keuangan antara lain memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, kreditor dan pemakai lainnya serta memberikan informasi tentang perusahaan selama satu periode seperti pembelanjaan kas, pinjaman, pembayaran kembali pinjaman, transaksi modal, serta faktor lain yang mempengaruhi likuiditas dan solvabilitas perusahaan.

5. Catatan Atas Laporan Keuangan

Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), catatan atas laporan keuangan, meliputi penjelasan atas rincian jumlah yang tertera dalam neraca, laporan laba-rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan modal.

2.1.6 Hubungan Antar Variabel

2.1.6.1Hubungan Etika Kepemimpinan Terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan

Dalam perusahaan, Etika Kepemimpinan berperan penting terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan. Hal ini disebabkan karena saat Etika Kepemimpinan dapat diterapkan diperusahaan, maka karyawan akan termotivasi dalam bekerja sehingga akan melaksanakan tugas dengan baik dan sesuai, begitu pula dengan Kualitas Pelaporan Keuangan yang akan dihasilkan karena dilaksanakan dengan jujur dan sesuai norma dan aturan yang mengatur didalamnya. Etika itu sendiri adalah sebuah cabang filsafat mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya (Awatara, 2011). Etika dalam kepemimpinan dikaitkan dengan bagaimana cara pemimpin dapat memimpin pengikutnya dengan tetap mengindahkan kaidah, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat. Di dalam hal ini, etika akan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan dalam suatu organisasi. Oleh karena itu Etika Kepemimpinan berperan penting dalam kinerja karyawan terutama dalam Kualitas Pelaporan Keuangan.

2.1.6.2Hubungan Tingkat Pemahaman Akuntansi Terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan

Selain Etika Kepemimpinan, Tingkat Pemahaman Akuntansi juga berperan penting terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan. Tingkat Pemahaman Akuntansi adalah orang yang memiliki pemahaman akuntansi, pandai dan mengerti benar tentang akuntansi, bagaimana proses akuntansi itu dilakukan sampai menjadi laporan keuangan dengan berpedoman pada prinsip dan standar penyusuanan keuangan yang ditetapkan. Oleh karena itu, Tingkat Pemahaman Akuntansi yang baik akan menghasilkan Kualitas Pelaporan Keuangan yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.

(8)

1. Indriani (2010). Variabel independen adalah kualitas pelaporan keuangan serta variabel dependennya adalah konsekuensi ekonomis. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear sederhana. Menunjukkan hasil bahwa terdapat pengaruh kualitas pelaporan keuangan terhadap konsekuensi ekonomis menunjukkan hasil yang tidak signifikan dan berpengaruh positif.

2. Hariyoga (2011). Dalam peneltian ini, populasi yang digunakan adalah para mahasiswa di Semarang provinsi Jawa Tengah. Variabel independen: kecerdasan emosional, perilaku belajar, budaya dan kepercayaan diri. Variabel dependen: tingkat pemahaman akuntansi. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian terdapat pengaruh positif secara signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku belajar terhadap tingkat pemahaman akuntansi, tidak ada pengaruh positif secara signifikan antara budaya terhadap tingkat pemahaman akuntansi, variabel kepercayaan diri bukan merupakan variabel moderating antara kecerdasan emosional dengan tingkat pemahaman akuntansi.

3. Nugraheni (2011). Variabel independen dari penenlitian ini yaitu Penerapan SAP di Inspektorat Jendral Departemen Pendidikan Nasional, pengetahuan pengelola UAPPA EI dan UAPPB, ketersediaan sarana dan prasarana, persepsi pemangku kepentingan terhadap laporan keuangan. Variabel dependen yaitu tingkat pemahaman akuntansi. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linier sederhana. Hasil dari penelitian ini terdapat pengaruh penerapan SAP di Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional terhadap peningkatan kualitas laporan keuangan Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional, terdapat pengaruh pengetahuan pengelola UAPPA EI dan UAPPB dan ketersediaan sarana dan prasarana terhadap peningkatan kualitas laporan keuangan Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.

4. Arel, et all (2012). Arel, et all sampel sampel dari peneltian ini adalah tujuh puluh akuntan yang berpengalaman (dua belas eksekutif keuangan, lima puluh empat manajer keuangan, dan dua belas staf keuangan) dengan rata-rata minimal 21,65 tahun pengalaman kerja dibidang akuntansi dan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan etis dan IAF dapat secara bersamaan mempengaruhi keputusan akuntan. Para professional akuntansi akan kurang bersedia mempertanyakan kelayakan laporan keuangan pada saat situasi IAF kuat dan kepemimpinan etis yang lemah. Kemudian penelitian yang telah diuji Arel, et all (2012) telah menyimpukan bahwa organisasi yang menumbuhkan keputusan etis memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan laporan keuangan. Percobaan dilakukan dengan mangambil sampel anggota AICPA dan menguji efek individu dan kelompok dalam dukungan manajemen senior untuk keputusanetis, pelaksanaan kode etik, dan tindakan yang tidak menciptakan tekanan untuk mencapai target kinerja jangka pendek, untuk kecenderungan melaporkan informasi keuangan.

5. Rudiantoro (2012). Variabel independen dari penelitian Rudianto yaitu kualitas laporan keuangan dan UMKM, serta prospek implementasi SAK ETAP sebagai variabel dependennya. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis linear berganda dengan hasil penelitian bahwa kualitas laporan keuangan berpengaruh positif terhadap prospek implementasi SAK ETAP, sedangkan UMKM memiliki pengaruh negatif terhadap prospek implementasi SAK ETAP.

6. Rifa’i (2014). Variabel independen adalah etika, kompetensi dan pengalaman kerja, serta variabel dependennya adalah kualitas laporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknis analisis linear berganda. Menunjukkan hasil bahwa terdapat pengaruh positif antara etika, kompetensi, dan pengalaman dalam mengelola Barang Milik Negara terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Pusat.

7. Amalia (2014). Variabel independen yaitu etika, kompetensi, dan pengalaman kerja dan variabel dependennya adalah kualitas laporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Menunjukkan hasil bahwa koordinasi

(9)

dan kerjasama yang baik antara audit internal dan eksternal berpengaruh positif meningkatkan kualitas pelaporan keuangan. Serta keterlibatan fungsi audit internal berpengaruh positif dalam mengawasi kendala pelaporan keuangan meningkatkan kualitas pelaporan keuangan.

8. Setyawati (2014). Penelitian ini melakukan studi empiris pada Pemerintah Kabupaten dan Kota di Wilayah Eks Karesidenan Surakarta menggunakan sumber daya manusia, pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan pemahaman akuntansi sebagai variabel independen, sedangkan variabel dependen yang digunakan adalah kualitas laporan penelitian. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan hasil bahwa sumber daya manusia, pengendalian intern, pemanfaatan teknologi informasi dan pemahaman akuntansi berpengaruh terhadap kualitas pelaporan keuangan.

9. Yuliani (2014). Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan yaitu pemahaman akuntansi, pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah, dan peran internal audit. Variabel dependen: kualitas laporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi lnear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi, pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi keuangan daerah dan peran internal audit berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan.

10. Diani (2014). Variabel independen: Pemahaman Akuntansi, Pemanfaatan Sistem Informasi Akuntansi Keuangan Daerah dan Peran Internal Audit. Variabel dependen: kualitas laporan keuangan. Teknik analisis daripenelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Menunjukkan hasil penelitian Pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Pemanfaatan sistem informasi akuntansi keuangan daerah tidak berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Peran internal audit berpengaruh positif terhadap kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.

11. Herawati (2014). Variabel independen dalam penelitian ini yaitu hubungan lingkungan pengendalian, hubungan penilaian resiko, hubungan kegiatan pengendalian, hubungan informasi dan komunikasi dan hubungan pemantauan. Variabel dependen: kualitas laporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis path. Hasil penelitian terdapat pengaruh positif signifikan antara lingkungan pengendalian, penilaian resiko, kegiatan pengendalian informasi dan komunikasi, dan pemantauan terhadap kualitas laporan keuangan, terdapat pengaruh positif tidak signifikan antara kegiatan pengendalian dan pemantauan terhadap kualitas laporan keuangan.

12. Muzahid (2014). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tingkat pendidikan, kualitas pelatihan dan lama pengalaman kerja. Serta variabel dependen adalah kualitas laporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis path. Hasil penelitian tingkat pendidikan, kualitas pelatihan dan lama pengalaman kerja pegawai berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan.

13. Suprianto (2015). Dalam penelitian ini variabel dependen adalah kecerdasan emosional, perilaku belajar dan budaya, sedangkan variabel dependen yaitu tingkat pemahaman akuntansi, serta kepercayaan diri sebagai variabel pemoderasi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan hasil Terdapat pengaruh positif secara signifikan antara kecerdasan emosional dan perilaku belajar terhadap tingkat pemahaman akuntansi, tidak terdapat pengaruh positif secara signifikan antara budaya terhadap tingkat pemahaman akuntansi dan kepercayaan diri bukan merupakan variabel pemoderating terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

14. Priyatna (2015). Variabel independen: Pemahaman Akuntansi, Tingkat Pendidikan dan Pengalaman Kerja Pejabat Penatausahaan Keuangan. Variabel dependen: kualitas laporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah, tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap kualitas

(10)

laoran keuangan pemerintah daerah dan pengalaman kerja berpengaruh negatif terhaap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.

15. Agustina (2015). Penelitian ini menggunakan latar belakang pendidikan menengah dan perilaku belajar sebagai variabel independen. Variabel dependen yang diunakan yaitu tingkat pemahaman akuntansi. Dengan menggunakan teknik analisis linear berganda, maka didapatkan hasil bahwa latar belakang pendidikan menengah berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi dan perilaku belajar berpengaruh positif signifikan terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

16. Nudilah (2016). Variabel independen: etika kepemimpinan, fungsi badan pengawas dan tingkat pemahaman akuntansi. Variabel dependen: kualitas pelaporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan, sedangkan etika kepemimpinan dan fungsi badan pengawas berpengaruh negatif terhadap kualitas pelaporan keuangan.

17. Kulsum (2016). Dalam penelitian ini, variabel independen yang diteliti antara lain Etika kepemimpinan dan fungsi audit internal, dengan kualitas laporan keuangan sebagai variabel dependen. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa etika kepemimpinan dan fungsi audit internal berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas laporan keuangan.

18. Andika (2016). Variabel independen: etika kepemimpinan, fungsi badan pengawas dan tingkat pemahaman akuntansi. Variabel dependen: kualitas pelaporan keuangan. Teknik analisis dari penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian pemahaman akuntansi, etika kepemimpinan dan fungsi badan pengawas berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan.

19. Putra (2017). Penelitian ini dilakukan pada Lembaga Perkreditan Desa yang berada di Kabupaten Badung Bagian Utara ini, menggunakan kepemimpinan dan fungsi badan pengawas sebagai variabel independen. Sedangkan variabel dependen yang digunakan adalah kualitas pelaporan keuangan. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis multiple regression dengan hasil etika kepemimpinan tidak berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan. Sedangkan fungsi badan pengawas berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan pada LPD di Kabupaten Badung Utara.

20. Puspita (2018). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Etika kepemimpinan dan komitmen organisasi. Sedangkan variabel dependennya adalah kepuasan kerja. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda dengan hasil etika kepemimpinan berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi, komitmen organisasi berpengaruh postif terhadap kualitas kerja, etika kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja.

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Pemikiran

Mendapatkan hasil pelaporan keuangan yang baik, harus ada beberapa faktor yang mendukung. Salah satu faktor penentu kesuksesan di suatu organisasi adalah kepemimpinan. Menurut teori kepemimpinan, kepemimpinan merupakan aspek penting bagi seorang pemimpin, karena seorang pemimpin harus berperan sebagai organisator kelompoknya untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan. Etika adalah sebuah cabang filsafat mengenai nilai dan norma moral yang menetukan perilaku manusia dalam hidupnya (Awatara, 2011). Etika dalam kepemimpinan dikaitkan bagaimana cara pemimpin dapat memimpin dengan tetap mengindahkan kaidah, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat. Di dalam hal ini, etika akan menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan dalam suatu organisasi. Kepemimpinan seseorang dapat dikatakan baik jika dapat mejalankan etika yang sesuai dalam setiap tindakannya. Pemimpin yang memiliki etika akan lebih mampu memimpin bawahannya dengan memperhatikan kemampuan setiap anggota dan jujur dalam melaksanakan tugasnya. Dalam teori

(11)

belajar sosial oleh Albert Bandura (1986), terdapat model deterministic resipkoral, yaitu perilaku, person, dan lingkungan. Ketiga faktor ini saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor lingkungan mempengaruhi perilaku, faktor perilaku mempengaruhi lingkungan, faktor person

mempengaruhi perilaku. Bila dikaitkan dengan etika kepemimpinan, Etika yang di tunjukkan oleh pemimpin dan dijalankan dengan baik oleh lingkungan karyawannya akan memiliki pengaruh besar terhadap kualitas laporan keuangan yang dihasilkan.

Perusahaan yang memiliki akunting dengan memahami akuntansi, paham menurut kamus umum bahasa Indonesia (Poerwadarminta : 2006) mempunyai pengertian pandai dan mengerti benar sedangkan pemahaman adalah proses, cara, perbuatan, memahami atau memahamkan. Ini berarti orang yang memiliki pemahaman akuntansi adalah orang yang pandai dan mengerti benar tentang akuntansi serta bagaimana proses akuntansi itu dilakukan sampai menjadi suatu laporan keuangan dengan berpedoman pada prinsip dan strandar penyusunan keuangan yang di terapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.

Setiap perusahaan tentunya menyajikan laporan keuangan yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan suatu perusahaan dan menerapkan etika yang baik dalam setiap melaksanakan tugasnya, maka kondisi financial dan ekonomi perusahaan dapat diketahui. Dalam menyusun laporan keuangan yang berkualitas, etika kepemimpinan dan tingkat pemahaman akuntansi pun sangat mempengaruhi dalam pelaporan keuangan, sehingga laporan keuangan tersebut memiliki kualitas yang baik yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan mudah dimengerti bagi pengguna, investor, ataupun pengguna lainnya.

Semua hal tersebut akan mempengaruhi kualitas pelaporan keuangan. Hasil dari pelaporan keuangan yang berkualitas akan berdampak baik bagi perusahaan nantinya. Maka kerangka berfikir teoritis penelitian ini dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut ini :

Gambar 3.1 Kerangka Berfikir

H1

H2

Sumber : Hasil Pemikiran Peneliti (2018)

3.2 Hipotesis

3.2.1 Pengaruh Etika Kepemimpinan terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan

Etika adalah sebuah cabang filsafat mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perlaku manusia dalam hidupnya (Awatara, 2011). Etika dalam kepemimpinan dikaitkan dengan bagaimana cara pemimpin dapat memimpin pengikutnya dengan tetap mengindahkan kaidah, nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Jika etika kepemimpinan yang dimiliki oleh atasan tinggi, maka karyawan cenderung untuk memercayai atasannya karena karyawan akan merasa atasannya mampu untuk menerapkan norma dan nilai masyarakat di dalam perusahaan. Dalam melakukan pekerjaan laporan keuangan pun, karyawan tidakakan merasa terbebani, karena merasa apa yang mereka kerjakan bias diterima oleh masyarakat luas karena tidak bertentangan dengan norma dan nilai yang ada.

Penelitian yang dilakukan oleh Arel, et all (2012), Kulsum (2016), Andhika (2016) dan menunjukkan hasil bahwa etika kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan.

Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Etika Kepemimpinan (X1)

Tingkat Pemahaman Akuntansi (X2)

Kualitas Pelaporan Keuangan

(12)

H1: Etika kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan di PT.

Raditya Dewata Perkasa.

3.2.2 Pengaruh Tingkat Pemahaman Akuntansi Terhadap Kualitas Pelaporan Keuangan

Pamahaman akuntansi adalah salah satu kunci dalam penyediaan dan pemanfaatan laporan kuangan. Pendidikan akuntansi diajukan untuk mendidik mahasiswa perguruan tinggi memiliki pengetahuan dibidang akuntansi (Nuraini, 2007). Seseorang dikatakan paham terhadap akuntansi adalah mengerti dan pandai bagaimana proses akuntansi itu dilakukan sampai menjadi laporan keuangan dengan berpedoman pada prinsip dan standar penyusunan keuangan yang ditetapkan. Membuat laporan keuangan seorang akuntan harus memahami isi dalam laporan tersebut, sehingga akan mudah untuk mengerti dan mengambil keputusan.

Hasil penelitian dari Yuliani (2014), Diani (2014), Setyawati (2014) Priyatna (2015), Nudilah (2016) dan Andhika (2016) mendapat hasil pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan.

Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis kedua yang diajukan di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

H2: Tingkat Pemahaman Akuntansi berpengaruh positif terhadap kualitas pelaporan keuangan

di PT. Raditya Dewata Perkasa.

BAB IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada PT. Raditya Dewata Perkasa Canggu Kabupaten Badung. Pemilihan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan penerapan etika kepemimpinan, tingkat pemahaman akuntansi, kualitas pelaporan keuangan, serta adanya data yang memadai dan mampu diolah peneliti.

4.2 Objek Penelitian

Menurut Sugiono (2014:38) pengertian obyek penelitian yaitu suatu atribut, sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Obyek penelitian ini adalah etika kepemimpinan, tingkat pemahaman akuntansi terhadap kualitas pelaporan keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa.

4.3 Identifikasi Variabel

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

4.3.1 Variabel Bebas atau Independent Variabel (X)

Menurut Sugiono (2014:59) variabel independen yaitu variabel yang mempengaruhi variabel dependen. Variabel independen penelitian ini adalah Etika Kepemimpinan (X1) dan

Tingkat Pemahaman Akuntansi (X2).

4.3.2 Variabel Terikat atau Dependent Variabel (Y)

Menurut Sugiono (2014:59) variabel dependen yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kualitas pelaporan keuangan (Y).

4.4 Definisi Operasional Variabel

4.4.1 Variabel Bebas atau Independent Variabel (X)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah Etika Kepemimpinan dan Tingkat Pemahaman Akuntansi sebagai berikut :

1. Etika Kepemimpinan

Etika kepemimpinan adalah etika untuk seorang pemimpin menentukan sikap apa yang akan diambil dalam pelaporan keuangan. Serta menilai apakah etika etika kepemimpinan yang baik akan mempengaruhi variabel yaitu yaitu kualitas pelaporan keuangan. Variabel ini diukur dengan menggunakan hasil dari jawaban kuisioner. Kuisioner diambil dari penelitian Amalia (2014) dengan menggunakan lima poin sekala likert, pilihan yang tersedia yaitu : Sangat Setuju (SS) meiliki skor 5. Setuju (S) memiliki skor 4, Kurang Setuju (KS) memiliki skor 3, Tidak Setuju (ST) memiliki skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki skor 1.

(13)

Adapun indikator-indikator etika kepemimpinan antara lain : (Bass, & Avolio, 1994) a. Kepercayaan

b. Keterbukaan

c. Ransangan Kecerdasan d. Perhatian Individu

2. Tingkat Pemahaman Akuntansi

Variabel Pemahaman Akuntansi sangatlah diperlukan untuk menyusun laporan itu sendiri atau belum diterapkan secara optimal. Dengan adanya kecerdasan atau pengetahuan tentang akuntansi yang bagus dan handal maka kualitas pelaporan keuangan akan terhindar dari adanya kesalahan-kesalahan informasi yang dikarenakan kurangnya pengetahuan tentang pemahaman akuntansi. Variabel ini diukur dengan menggunakan hasil dari jawaban kuisioner. Kuisioner diambil dari penelitian Amalia (2014) dengan menggunakan 5 poin sekala likert, pilihan yang tersedia yaitu : Sangat Setuju (SS) meiliki skor 5. Setuju (S) memiliki skor 4, Kurang Setuju (KS) memiliki skor 3, Tidak Setuju (ST) memiliki skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki skor 1.

Adapun indikator-indikator tingkat pemahaman akuntansi (Rubiah, 2013), antara lain :

a. Assets b. Liabilities c. Equity

4.4.2 Variabel Terikat atau Dependent Variabel (Y)

Variabel dependen pada penelitian ini adalah Kualitas Pelaporan Keuangan. Laporan keuangan adalah hasil dari semua transaksi yang terjadi di dalam suatu perusahaan dimana transaksi-transaksi dan peristiwa-peristiwa yang finansial dicatat, digolongkan, dan diringkas dalam satuan uang (Saraswati, 2012). Variabel ini diukur dengan menggunakan hasil dari jawaban kuisioner. Kuisioner diambil dari penelitian Amalia (2014) dengan menggunakan 5 poin sekala likert, pilihan yang tersedia yaitu : Sangat Setuju (SS) meiliki skor 5. Setuju (S) memiliki skor 4, Kurang Setuju (KS) memiliki skor 3, Tidak Setuju (ST) memiliki skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki skor 1.

Adapun indikator-indikator kualitas pelaporan keuangan menurut Soemarso (2004:21), antara lain :

a. Proses Pelaporan

b. Kualitas Pelaporan Keuangan

4.5 Jenis dan Sumber Data 4.5.1 Sifat Data

Jenis data yang terdapat dalam penelitian ini adalah data primer dimana data diperoleh tidak lewat perantara melainkan langsung dari sumbernya. Dengan kata lain, responden akan menjadi sumber langsung dari penelitian. Sumber data dalam penelitian berasal dari karyawan PT. Raditya Dewata Perkasa Canggu, yang telah mengisi kuisioner penelitian. Menurut Sugiono (2014:13) jenis data yang dipergunakan dalam penelitian, ditinjau berdasarkan sifat data adalah sebagai berikut :

1. Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka-angka yang dapat diukur dalam satuan hitung. Data kuantitatif dalam penelitian ini adalah berupa skor jawaban yang diberikan responden mengenai etika kepemimpinan dan tingkat pemahaman akuntansi terhadap kualitas laporan keuangan.

2. Data kualitatif adalah data yeng berbentuk kata-kata, kalimat dan gambaran data kualitatif. Data kualitatif dalam penelitian ini adalah mengenai dekripsi responden secara umum, sejarah dan struktur organisasi perusahaan serta tugas dan wewenang masing-masing bagian.

4.5.2 Sumber Data

Menurut Suginono (2014:203) sumber data dalam penelitian ini yaitu :

1. Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumbernya, diamati dan dicatat untuk pertama kalinya, tidak melalui media perantara dengan terjun langsung ke lapangan.

(14)

Data primer dalam penelitian ini adalah jawaban-jawaban yang diberikan oleh responden atas pertanyaan-pertanyaan dalam kuisioner yang berhubungan dengan penelitian ini

2. Data Sekunder adalah data yang sumber datanya tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misal melalui orang lain atau dengan dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi data tentang jumlah, nama, alamat, sejarah singkat dan struktur organisasi perusahaan.

4.6 Metode Penentuan Sampel 4.6.1 Populasi Penelitian

Menurut Sugiyono (2010:115) populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah semua karyawan yang bekerja di perusahaan pusat PT. Raditya Dewata Perkasa, sebanyak 104 karyawan.

4.6.2 Sampel Penelitian

Menurut Sugiyono (2014:116) sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik non probability sampling. Non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang yang tidak memberi peluang atau kesempaan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik non probability sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah proposive sampling yaitu metode penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012:118). Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel dengan pertimbangan pemilihan sampel adalah sebagai berikut :

1. Seluruh karyawan PT. Raditya Dewata Perkasa.

2. Karyawan yang memiliki pemahaman akuntansi dalam menjalankan aktivitasnya untuk menyelesaikan tugasnya dalam membuat dan menggunakan laporan keuangan.

Tabel 4.1

Perolehan Sampel Menurut Kriteria Penentuan Sampel

No Kriteria Jumlah

1 2

Jumlah karyawan PT. Raditya Dewata Perkasa Jumlah karyawan yang tidak menggunakan laporan keuangan

104 (62)

Jumlah sampel menurut kriteria penentuan sampel 42

Sumber : PT. Raditya Dewata Perkasa. 4.7 Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan kuisioner dan studi pustaka.

4.7.1 Kuisioner

Menurut Sugiono (2014:199), kuisioner adalah teknik pengumpulan data dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuisioner diberikan kepada para responden yaitu akunting atau karyawan yang bekerja sebagai pembuat laporan keuangan. Hal tersebut dikarenakan untuk memperoleh informasi dari sampel penelitian sehubungan denganhal-hal yang mereka ketahui dan sesuai dengan keadaan responden.

Kuisioner yang dibuat akan terdiri dari dua bagian. Bagian utama kan berisi informasi-informasi umum berkaitan dengan keadaan responden yang meliputi biodata responden. Dan bagian kedua kana berisi pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan topik penelitian yaitu etika kepemimpinan, tingkat pemahaman akuntansi dan kualitas laporan keuangan. Responden dalam menjawab kuisioner akan menggunakan skala likert, karena yang akan diukur dari penelitian ini

(15)

adalah sikap, pendapat, dan persepsi seseorang mengenai keadaan sosial. Kuisioner dalam penelitian ini diambil dari penelitian Amalia (2014) dengan menggunakan 5 poin sekala likert, pilihan yang tersedia yaitu : Sangat Setuju (SS) meiliki skor 5. Setuju (S) memiliki skor 4, Kurang Setuju (KS) memiliki skor 3, Tidak Setuju (ST) memiliki skor 2, Sangat Tidak Setuju (STS) memiliki skor 1.

4.7.2 Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik tertulis, gambar maupun elektronik. Studi pustaka penelitian ini adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam pencarian teori, dimana peneliti mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari perpustakaan yang berhubungan untuk memperoleh bahan-bahan dan informasi yang relevan untuk dikumpulkan, dibaca dan dikaji, dicatat dan dimanfaatkan. Menurut Nazir (1988:11) studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi studi penelaahan terhadap buku-buku , catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.

4.8. Teknik Analisis Data 4.8.1 Statistik Deskriptif

Menurut sugiono (2014:207) statistik dekkriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Statistik deksriptif bertujuan untuk memberikan informasi tentang karakteristik variabel penelitian antara lain, nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum dan mínimum

4.8.2 Uji Instrumen

Mengingat adanya pengumpulan data menggunakan kuisioner, maka kesungguhan responden menjawab merupakan hal yang penting. Untuk tujuan tersebut, didalam penelitian ini diadakan pengujian instrumen melalui :

1) Uji Validitas

Ghozali (2016:53), uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Jika ingin mengukur apakah pertanyaan dalam pertanyaan kuisioner yang sudah dibuat betul-betul dapat mengukur apa yang hendak diukur. Dasar pengambilan keputusan valid tidaknya butir-butir pertanyaan adalah apabila total nilai dari person correlation untuk masing-masing butir pertanyaan menunjukkan nilai diatas 0.30 maka data dinyatakan valid (Ghozali,2016:48). 2) Uji Reliabilitas

Ghozali (2016:47), uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seorang terhadap pertanyaan konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Apabila dilakukan pengujian reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach, maka nilai alpha instrument dikatakan handal atau reliable bila nilai koefisien alpha cronbach > 0.70. Dengan demikian instrument yang digunakan dalam penelitian cukup handal dalam mengukur persepsi responden terhadap variabel yang diteliti. Apabila nilai koefisien alpha cronbach > 0.70, maka instrument dalam penelitian tidak cukup handal atau tidak reliable dalam mengukur persepsi responden terhadap variabel yang diteliti.

4.8.3 Uji Asumsi Klasik

Data yang digunakan adalah data primer, maka untuk menentukan ketetapan model perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang mendasari model regresi. Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya pelanggaran asumsi klasik dalam model regresi linear berganda. Uji yang akan dilakukan adalah uji Normalitas, uji Multikolinearitas, dan Heteroskedastisitasyang secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :

(16)

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam residual dari model regresi yang dibuat berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi residual yang normal atau mendekati normal. Umumnya regresi dengan residual yang berdistribusi normal diperoleh dari variabel terikat dan variabel bebas, keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak (Ghozali, 2016: 154). Dalam penelitian ini, untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov– Sminarnov (KS) yaitu membandingkan distribusi kumulatif relatif hasil observasi dengan distribusi komulatif relatif teoritisnya. Data populasi dikatakan berdistribusi normal jika koefisien Asymp.Sig (2 – tailed) lebih besar dari nilai signifikansi 0,05.

2) Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel bebas. (Ghozali, 2016 :103). Pengujian multikolinearitas dapat dilakukan dengan cara melakukan regresi antar variabel independennya untuk melihat nilai

tolerance atau variance inflation factor (VIF) dari masing-masing variabel independen. Apabila nilai tolerance kurang dari 0,10 atau nilai VIF lebih besar dari 10, maka ada indikasi terjadi multikolinearitas yang serius. Sebaliknya apabila nilai tolerance lebih dari 0,10 atau nilai VIF kurang dari 10, maka tidak terdapat gejala multikolinearitas.

3) Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari risidual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali, 2016:134) Heteroskedastisitas menunjukkan tidak konstannya varians dari variabel pengganggu (disturbance). Kebanyakan data cross-section mengalami situasi ini, karena data ini mewakili berbagai ukuran (kecil, sedang dan besar). Pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser yakni dengan cara meregresi nilai absolut residual dari model yang diestimasi terhadap variabel independen. Kriterianya apabila output koefisien parameter untuk variabel bebas tidak ada yang signifikan secara statistik, maka disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat heteroskedastisitas (Gujarati, 2003: 405).

4.8.4 Teknik Analisis Data

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis linier berganda dan diuji dengan tingkat signifikan 0,05. Analisis linear berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara satu atau lebih dari satu variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat. Untuk mengetahui pelaksanaan perhitungan, akan digunakan program SPSS. Adapun persamaan model regresi linear berganda yang dipergunakan adalah :

Y= α +β1X1 + β2X2 + e ……….(1)

Keterangan :

Y = Kualitas Pelaporan Keuangan α = Konstanta

X1 = Etika Kepemimpinan

X2 = Tingkat Pemahaman Akuntansi

β1- β2 = Koefisien variabel

e = Error.

4.8.5 Menilai Goodness of Fit Model

Untuk membuktikan ketepatan fungsi regresi sampel dalam menafsirkan nilai aktual dengan cara mengukur dari nilai koefisien determinasi, nilai statistik F, nilai statistik t. Untuk membuktikan hipotesis yang diajukan benar atau tidak maka dilakukan pengujian hipotesis yang dilakukan dengan uji sebagai berikut :

1. Analisis Determinasi (R²)

Nilai keofisien determinasi adjusted (R²) digunakan untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Y). menurut Sugiono (2014) pedoman untuk memberikan intepretasi koefisien korelasi yaitu 0,0 - 0,199 = Kolerasi yang sangat rendah, 0,20 - 0,399 = Kolerasi yang rendah, 0,40 - 0,599 = Korelasi yang sedang, 0,50 -

(17)

0,799 = Korelasi yang kuat, 0,80 - 1,000 = Korelasi yang sangat kuat. Penelitian ini menggunakan bantuan program computer SPSS untuk mengetahui besarnya koefisien determinasi adjusted (R²) Ghozali (2016:95)

2. Uji F

Uji F bertujuan untuk menunjukkan apakah model yang digunakan dalam penelitian layak atau tidak. Dasar pengambilan keputusan yang digunakan uji F yaitu dengan membandingkan tingkat signifikansi 0,05. Jika nilai probabilitas < 0,05, maka dapat dikatakan terdapat model Fit dengan data. Namun, jika nilai probabilitas > 0,05 maka model tidak Fit dengan data (Ghozali, 2016:96).

3. Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)

Uji t bertujuan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel independen. Pengujian dilakukan dengan menggunakan signifikansi level 0,05 (α = 5%). Adapun kriteria pengambilan keputusan dengan uji t adalah jika nilai signifikansi < 0,05 berarti variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen dan sebaliknya apabila nilai signifikansi > 0,05 berarti variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016:97).

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Gambaran Umum Perusahaan 5.1.1 Sejarah Perusahaan

PT. Raditya Dewata Perkasa adalah sebuah perusahaan yang merupakan pengembangan perusahaan yang didirikan sebelumnya oleh pemilik perusahaan ini dengan nama CV. Raditya, yang bergerak di bidang usaha perdagangan yang didirikan pada tanggal 23 April 1992 dengan Akte Notaris No.59 Notaris I Made Puryatma, S.H. Di Denpasar PT. Raditya Dewata Perkasa didirikan dengan Akte Notaris No. 118 tanggal 17 Oktober 1996 yang dibuat oleh notaris I Putu Candra, S.H. Seorang notaris di Denpasar. Perusahaan ini berkedudukan di Badung yang didirikan oleh tuan dan nyonya :

1. Tuan I Made Sudiana, S.H.,M.Si yang beralamat di Br. Pipitan Canggu, Kuta-Utara . 2. Tuan I Made Tantra, S.H. yang beralamat di Br. Aseman, Tibubeneng, Kuta - Utara. 3. Nyonya Ni Luh Sritami yang beraalamat di Br. Pipitan Canggu, Kuta – Utara.

Dengan berbekal Surat Ijin Usaha Perdagangan No. 0034/22-09/PB/IV/1997 dan telah disyahkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan pada tanggal 16 April 1997. Perusahaan ini bergerak dalam bidang usaha Perdagangan Umum,Perdagangan Barang dan Jasa.

Sejak berdirinya tahun 1992 hingga sekarang PT. Raditya Dewata Perkasa atau yang lebih dikenal dengan nama Raditya Cash & Kredit ini dapat dikatakan berkembang cukup bagus terbukti dengan omset penjualan yang terus meningkat didukung oleh 41 armada dan 500 orang karyawan sehingga Raditya Cash & Kredit dapat mampu bersaing dengan perusahaan lain sejenis, dan telah mampu membuka kantor cabang di 7 kota dan kabupaten yang ada di Bali. Kantor Pusat : Jalan Raya Canggu 17 R, Canggu, Kuta – Utara (Tlp. 0361 8445577, 8445716).

Kantor Cabang Operasional :

1. Cabang Sukawati : Jl. Raya Sukawati . Tlp. (0361) 299 236. Didirikan sejak 05 Mei 1992 2. Cabang Denpasar : Jl. Gunung Sangiang 17 R. Tlp. (0361) 430461. Didirikan sejak 17

Oktober 1996

3. Cabang Singaraja : Jl. W.R Supratman 17 R. Tlp. (0362) 246 21. Didirikan sejak 02 Maret 2002.

4. Cabang Klungkung : Jl. Gusti Ngurah Rai No.4. Tlp. (0366) 239 83. Didirikan sejak 05 Agustus 2003.

5. Cabang Negara : Jl. Jendral Sudirman No.17 R. Tlp. (0365) 406 49. Didirikan sejak 04 April 2004.

6. Cabang Tabanan : Jl. By Pass Pesiapan Tabanan Tlp. (0361) 8568562.

(18)

Dalam rangka menunjang pengembangan di bidang pelayanan kepada konsumen, dan untuk mendapat keunggulan di sektor penjualan barang secara Cash maupun Credit yang semakin kompetitif dan dinamis dengan perusahaan lainnya. Maka perusahaan telah mencanangkan program perluasan jaringan usaha dengan membuka cabang – cabang baru di seluruh kota kabupaten / kecamatan yang ada di Bali. Sistem manajemen yang baik dan ditunjang oleh tenaga – tenaga yang berpengalaman luas di bidang usaha perdagangan/ perkreditan barang serta kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat telah menjadikan perusahaan ini berkembang pesat hingga saat ini sudah memiliki asset miliaran rupiah. Kondisi demikian merupakan modal utama bagi perusahaan dalam upaya mengembangkan usaha selanjutnya.

5.1.2 Visi dan Misi Perusahaan

Visi dari PT Raditya Dewata Perkasa adalah bertekat menjadi perusahaan terkemuka dengan memberikan pelayanan dan penyediaan produk furnitur dan elektronik, sehingga memberikan nilai bagi pemegang saham, nasabah, tenaga pemasaran, dan karyawan kami, melalui pelayanan prima kepada nasabah dan menciptakan budaya yang didasarkan pada prestasi kerja.

Dalam usaha mewujudkan visinya, maka dikembangkan Misi dari PT Raditya Dewata Perkasa sebagai berikut :

1. Menjadi perusahaan TERDEPAN & TERPERCAYA, artinya PT Raditya Dewata Perkasa dalam jangka pendek ingin mewujudkan menjadi perusahaan terdepan dan terpercaya diantara perusahaan pesaing di masyarakat Bali.

2. Sasaran konsumen dilakukan dengan ekspansi ke Segmentasi pasar menengah atas, artinya setiap saat dikembangkan perluasan pasar dengan sasaran kalangan menengah ke atas, yang memiliki potensi daya beli lebih tinggi.

3. Untuk mewujudkan point (1) dilakukan melalui penawaran produk yang berkualitas (tidak rusak/cacat), layanan tepat waktu (sesuai dengan permintaan konsumen) dan layanan purna jual yang cepat dan tepat.

4. Setiap komponen internal perusahaan (Management, Staf karyawan, Tenaga Pemasaran) harus menjaga keharmonisan hubungan jangka panjang, agar tercipta kepuasan pelanggan yang menjadi asset perusahaan karena membantu mempromosikan perusahaan.

5.1.3 Data Umum Responden 5.2.1 Deskripsi Responden

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh etika kepemimpinan dan tingkat pemahaman akuntansi terhadap kualitas pelaporan keuangan pada PT. Raditya Dewata Perkasa. Data pada penelitian ini diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada responden yang terdiri atas 42 sampel penelitian. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan cara datang secara langsung ke perusahaan PT. Raditya Dewata Perkasa yang menjadi lokasi pengambilan sampel dan membagikan kuesioner kepada para responden. Kuesioner yang dibagikan sebanyak 42 eksemplar, sesuai dengan jumlah sampel penelitian.

Tabel 5.1

Data Distribusi dan Pengembalian Kuesioner

Uraian Jumlah Kuesioner

Total kuesioner yang disebarkan 42

Kuesioner yang tidak kembali 0

Kuesioner yang kembali dan lengkap 42 Jumlah kuesioner yang dapat dianalisis 42 Sumber : Data primer diolah, 2018

Tabel 5.1 menunjukkan bahwa jumlah kuesioner yang disebarkan kepada responden adalah sebanyak 42 kuesioner, dan jumlah kuesioner yang kembali dan lengkap sebanyak 42 kuesioner. Sedangkan tidak ada kuesioner tidak kembali, sehingga secara keseluruhan jumlah kuesioner yang dapat dianalisis sebanyak 42 kuesioner.

(19)

5.1.3 Karakteristik Responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah profil dari 42 responden yang telah berpartisipasi dalam pengisian kuesioner. Profil 42 responden meliputi jenis kelamin, lama bekerja dan pendidikan terakhir antara lain:

1. Jenis Kelamin

Jenis kelamin responden dapat dijadikan suatu acuan ketegasan dan keterlibatan yang mempengaruhi emosi dalam pengambilan keputusan dalam organisasi atau perorangan. Data responden berdasarkan karakteristik jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 5.2

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase

1 Laki-Laki 27 64,29%

2 Perempuan 15 35,71%

Total 42 100%

Sumber : Data primer diolah, 2018

Berdasarkan tabel di atas diketahsui bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah sebanyak 15 orang, sedangkan responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 27 orang.

2. Lama Bekerja Responden

Lama bekerja dapat digunakan sebagai indikator seberapa besar pengalaman dan pemahaman terhadap kegiatan operasional perusahaan. Data responden berdasarkan karakteristik lama bekerja responden adalah sebagai berikut :

Tabel 5.3

Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Bekerja

No. Lama Bekerja Jumlah Persentase

1 1 -5 9 21,43% 2 6 – 10 7 16,67% 3 11 – 15 17 40,47% 4 16 – 20 2 4,76% 5 21 – 26 7 16,67% Total 42 100%

Sumber : Data primer diolah, 2018

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas responden yang telah mengisi kuesioner pada penelitian ini bekerja selama 1 sampai 5 tahun sebanyak 9 orang (21,43%), lama bekerja 6 sampai 10 tahun sebanyak 7 orang (16,67%), lama bekerja 11 sampai 15 tahun sebanyak 17 orang (40,47%), lama bekerja 16 sampai 20 tahun sebanyak 2 orang (4,76%), dan lama bekerja 21 sampai 26 tahun sebanyak 7 orang (16,67%)

3. Pendidikan Terakhir

Pendidikan terakhir dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan intelektualitas yang dimiliki. Dengan mengetahui tingkat pendidikan dapat digambarkan pola pikir yang dimiliki responden. Data responden berdasarkan karakteristik tingkat pendidikan terakhir responden adalah sebagai berikut :

Tabel 5.4

Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir

No. Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase

1 SMA/SMK 30 71,43%

2 S1 11 26,19%

Figur

Tabel 5.5  Descriptive Statistics

Tabel 5.5

Descriptive Statistics p.20
Tabel 5.6  Hasil Uji Validitas

Tabel 5.6

Hasil Uji Validitas p.21
Tabel 5.7  Hasil Uji Reliabilitas

Tabel 5.7

Hasil Uji Reliabilitas p.22
Tabel 5.14  Hasil Uji t  Coefficients a Model  Unstandardized Coefficients  Standardized Coefficients  T  Sig

Tabel 5.14

Hasil Uji t Coefficients a Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig p.25
Related subjects :