BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan yang didirikan harus memiliki tujuan yang jelas. Harjito dan

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Perusahaan yang didirikan harus memiliki tujuan yang jelas. Harjito dan Martono (2002: 3) mengemukakan beberapa tujuan dari berdirinya perusahaan. Tujuan pertama adalah untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Tujuan kedua adalah ingin memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham. Sedangkan tujuan ketiga adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya. Ketiga tujuan perusahaan tersebut sebenarnya secara substansial tidak banyak berbeda. Hanya saja penekanan yang ingin dicapai oleh masing-masing perusahaan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimum apabila harga saham meningkat. Semakin tinggi harga saham sebuah perusahaan, maka makin tinggi kemakmuran pemegang saham (Mahendra, Artini, & Suarjaya, 2012).

Nilai perusahaan yang sudah go publik di pasar modal tercermin dalam harga saham perusahaan (Margaretha Farah, 2004:1). Harga pasar dari saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap cerminan dari nilai asset perusahaan sesungguhnya (Dwilestari, 2013).

Nilai perusahaan harus dipertimbangkan dengan teliti, salah satunya untuk memperbaiki harga pasaran saham maka tindakan dalam akuntansi yang diubah

(2)

akan dapat menampakkan laba yang lebih baik dari pada keadaan sebenarnya. Rasio standar yang dianggap baik yaitu Likuiditas, perbandingan antara jumlah utang dengan modal sendiri, perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri (Saladin, 1999:56-57).

Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli jika perusahaan tersebut dijual. Nilai perusahaan merupakan cerminan dari penambahan dari jumlah ekuitas perusahaan dengan hutang perusahaan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan, yaitu: keputusan pendanaan, kebijakan dividen, keputusan investasi, struktur modal, pertumbuhan perusahaan, ukuran perusahaan. Beberapa faktor tersebut memiliki hubungan dan pengaruh terhadap nilai perusahaan yang tidak konsisten. Nilai perusahaan adalah nilai laba masa yang akan datang yang di ekpektasi yang dihitung kembali dengan suku bunga yang tepat (Kusumadilaga, 2010). Pengukuran Nilai Perusahaan Menurut Weston dan Copelan (2004) dalam rasio penilaian perusahaan terdiri dari Price Earning Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), dan Tobin’s Q.

Menurut Bringham dan Houston (2010:111) pengukuran nilai perusahaan salah satunya diukur dengan menggunakan rasio Price Book Value (PBV). Nilai perusahaan dapat dilihat dari PBV yang merupakan perbandingan antara harga suatu saham terhadap nilai buku bersih per lembar saham (Reeve & Warren, 2004 : 569). Berdasarkan perbandingan tersebut, harga saham perusahaan dapat diketahui berada di atas atau di bawah nilai bukunya. Oleh karena itu, keberadaan PBV sangat penting bagi para investor untuk menentukan strateginya (Alam, 2013).

(3)

Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Kekayaan pemegang saham dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan cerminan dari keputusan investasi, pendanaan (financing), dan manajemen asset. (Hermuningsih, 2013).

Pengamat ekonomi dari Institute for Development Economy and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati mengatakan dampak dari perlambatan ekonomi sangat berpengaruh terhadap industri dalam negeri. Hampir seluruhnya terjadi penurunan. Beberapa industri yang terdampak dari perlambatan ekonomi diantaranya industri kertas, karet, elektronik, farmasi, logam dasar, serta tekstil. Sebab, terjadi penurunan ekspor karena persoalan daya saing yang masih kurang. Sementara itu, tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat juga mengalami penurunan karena harga jual yang meningkat (Bisnis.tempo.com, 2015).

Perusahaan farmasi di Indonesia tidak luput dari dampak pelemahan rupiah. Makin rendah nilai tukar kurs rupiah, kinerja perusahaan farmasi bakal makin tetekan. Menurut analisis Bahana Securities Micheal Wilson Setjoadi, sekitar 90% bahan baku farmasi merupakan produk impor. Padahal, porsi biaya bahan baku mencapai 75% terhadap total biaya produksi produk farmasi (pemeriksaanpajak.com, 2015).

Pertumbuhan populasi masyarakat Indonesia membuat perusahaan farmasi akan semakin berkembang pesat. Apalagi, kini sudah banyak masyarakat Indonesia menyadari pentingnya kesehatan. Meningkatnya kemudahan akses

(4)

masyarakat dalam mendapatkan kesehatan, semakin menegaskan bahwa investasi di sektor ini termasuk salah satu investasi yang cukup menjanjikan dimasa depan. Perusahaan-perusahaan farmasi tiap tahunnya selalu tumbuh. Kebanyakan perusahaan sektor konsumsi, operasional perusahaan menjadi masalah penting untuk diselesaikan. Tercatat, laba bersih mayoritas perusahaan farmasi mengalami penurunan. (seputarforex.com, 2015).

Prospek saham farmasi di tengah gejola kurs tahun 2013 mengalami penurunan. Fluktuasi rupiah yang terus bergejolak memberikan tekanan besar terhadap sektor industri farmasi. Sektor farmasi merupakan sub sektor industry consumergoods. Terdapat sembilan emiten yang tercatat di subsektor ini, masing-masing adalah : Darya-Varia Laboratoria Tbk. (DVLA), Indofarma (Persero) Tbk. (INAF), Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF), Kalbe Farma Tbk. (KLBF), Merck Tbk. (MERK), Pyridam Farma Tbk. (PYFA), Merck Sharp Dohme Pharma Tbk. (SCPI), Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk. (SQBB) dan Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC). Dari laporan keuangan kuartal ketiga tahun 2013 yang telah dirilis beberapa emiten farmasi, sebagian besar emiten mengalami penurunan pendapatan dan juga laba bersih. Hal ini dipicu oleh melemahnnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang berimbas pada meningkatnya beban usaha emiten. Karena emiten farmasi masih mengandalkan sebagian besar bahan baku impor maka laba bersihnya tergerus oleh selisih kurs. Karena emiten farmasi masih mengandalkan sebagian besar bahan baku impor maka laba bersihnya tergerus oleh selisih kurs. Kinerja emiten farmasi yang kurang begitu atraktif di kuartal ketiga inilah yang kemungkinan besar menyebabkan para investor masih ragu

(5)

untuk mengoleksi saham-saham dari sektor ini. Meski demikian masih ada sisi positif yang dapat dijadikan acuan pemilihan saham dari sektor ini. Produk-produk dari emiten sektor ini sudah begitu dikenal masyarakat, sehingga menjadikan sektor farmasi ini salah satu sektor yang defensif dan tahan akan krisis. (mangamsi.com, 2015).

Harga saham dan nilai perusahaan mengikhtisarkan penilaian kolektif investor tentang seberapa baikakah keadaan suatu perusahaan, baik kinerja saat ini maupun prospek masa depannya. Oleh sebab itu, peningkatan harga saham mengirimkan sinyal positif dari investor kepada manajer (Brealey. Myers, Marcus, 2006:46). Penggunaan informasi keuangan yang disediakan sebuah perusahaan biasanya analis atau investor akan menghitung rasio-rasio keuangannya yang mencakup rasio likuiditas, leverage, aktivitas, dan profitabilitas perusahaan untuk dasar pertimbangan dalam keputusan investasi (Mahendra, Artini, & Suarjaya, 2012).

Dari beberapa teori, rasio keuangan itu ada berbagai jenis. Menurut Harahap (2004;301) terdapat delapan rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio pertumbuhan, market based, dan rasio produktivitas. Lalu menurut Hanafi (2012;36) terdapat lima jenis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio leverage, rasio profitabilitas, dan rasio pasar. Sedangkan menurut Fahmi (2013;121) terdapat lima jenis rasio keuangan yaitu rasio likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio nilai pasar. Namun Harahap dan Fahmi mengatakan ada tiga rasio keuangan yang paling dominan yang dijadikan rujukan

(6)

untuk melihat kondisi kinerja suatu perusahaan, yaitu rasio likuiditas, rasio solvabilitas, dan rasio profitabilitas.

Rasio likuiditas merupakan indikator kemampuan perusahaan untuk membayar atau melunasi kewajiban-kewajiban finansialnya pada saat jatuh tempo dengan mempergunakan aktiva lancar yang tersedia. Terdapat dua macam likuiditas yang biasa dipergunakan dalam perusahaan, yaitu Current Ratio (CR) yang merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar dan Quick Ratio (QR) yang merupakan perimbangan antara jumlah aktiva lancar dikurangi persediaan dengan jumlah hutang lancar (Harjito & Martono, 2002:55).

Rasio solvabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajiban kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi (Harahap, 2004:303). Rasio ini terdiri dari rasio hutang yang merupakan rasio antara total hutang dengan total aset yang dinyatakan dalam persentase dan rasio total hutang terhadap modal sendiri yaitu perbandingan total hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri (Harjito & Martono, 2002:58).

Rasio rentabilitas atau yang sering disebut profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan. Jenis rasio yang dikemukakan yaitu margin laba yang menunjukkan berapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan, Aset Turn Over menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjualan, Return On Equity menunjukkan berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal

(7)

pemilik, Return on Total Aset menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari nilai aktiva, Basic Earning Power menunjukkan kemampuan perusahaan memperoleh laba diukur dari jumlah laba sebelum dikurangi bunga dan pajak dibandingkan dengan total aktiva, Earning Per Share menunjukkan berapa besar kemampuan per lembar saham menghasilkan laba, dan

Contribution Margin menunjukkan kemampuan perusahaan melahirkan laba yang

akan menutupi biaya-biaya tetap atau biaya operasi lainnya (Harahap, 2004:304).

Dalam rasio profitabilitas yang paling penting adalah pengembalian atas ekuitas (ROE), yang merupakan laba bersih pemegang saham dibagi dengan total ekuitas pemegang saham. Pemegang saham pastinya ingin mendapatkan tingkat pengembalian yang tinggi atas modal yang mereka investasikan, dan ROE menunjukkan tingkat yang mereka peroleh. Jika ROE tinggi, maka harga saham juga cenderung akan tinggi dan tindakan yang meningkatkan ROE kemungkinan juga akan meningkatkan harga saham (Bringham & Houston, 2010:133).

Dalam teori Modigliani dan Miller bahwa financial Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan (Bringham dan Houston, 2010:30). Rasio leverage menunjukkan seberapa besar kebutuhan dana perusahaan dibelanjai atau didanai dengan pinjaman. Semakin besar tingkat Leverage perusahaan, akan semakin besar jumlah pinjaman yang digunakan, sehingga risiko keuangan yang diahadapi perusahaan semakin besar. Leverage dapat dihitung dengan menggunakan Debt Equity Ratio (DER). DER disini untuk mengukur perimbangan antara kewajiban yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini semakin sedikit modal sendiri yang digunakan dari hutang atau kewajibannya ( Irawati,

(8)

2006: 42-44). Rasio hutang atau bisa disebut Debt Ratio (DAR) juga dapat mengukur dengan menghitung rasio antara total hutang dengan total aset yang dinyatakan dalam persentase (Harjito & Martono, 2002:58). Rasio yang tinggi berarti perusahaan menggunakan utang financial leverage yang tinggi. Penggunaan utang yang tinggi akan meningkatkan profitabilitas dilain pihak, utang yang tinggi juga akan meningkatkan risiko. Jika penjualan tinggi, maka perusahaan bisa memperoleh keuntungan yang tinggi. Sebaliknya jika penjualan turun, perusahaan terpaksa bisa mengalami kerugian, karena adanya beban bunga yang tetap dibayarkan (Hanafi, 2012:41).

Rasio likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya. Rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar atau aktiva likuid. Rasio rasio likuiditas yang dihitung melalui rasio lancar mencerminkan kecukupan arus kas dalam menyelesaikan utang jangka pendek. Semakin likuid perusahaan, maka tingkat kepercayaan investor akan meningkat dan ini akan memberikan kesempatan perusahaan untuk berkembang sehingga dapat meningkatkan harga dan jumlah saham perusahaan (Anzlina & Rustam, 2013:71) Berikut tabel yang menggambarkan profitabilitas, leverage, rasio pasar, dan rasio pertumbuhan perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

(9)

Tabel 1.1

Perbandingan ROE, DER, DAR, CR, dan QR Perusahan Farmasi yang Terdaftar di BEI Periode 2011-2014

CR QR 2011 2012 2013 2014 2011 2012 2013 2014 DVLA 4,89 4,31 4,24 5,18 4.06 3.62 3.28 3.91 INAF 1.54 2.10 1.27 1.30 1.12 1.67 0.91 0.94 KAEF 2,75 2,80 2,43 2,39 1.76 1.82 1.57 1.58 KLBF 3.65 3.41 2.84 3.40 2.61 2.29 1.68 2.11 MERK 7.52 3.87 3.98 4.59 5.63 1.89 2.29 3.17 PYFA 2.54 2.41 1.54 1.63 1.33 1.53 0.80 0.95 SCPI 3.78 2.72 2.61 2.45 2.08 1.63 1.31 1.70 TSCP 2.98 3.09 2.96 3.27 2.29 2.40 2.22 2.15 DAR DER 2011 2012 2013 2014 2011 2012 2013 2014 DVLA 0,21 0,22 0,23 0,22 0.28 0.28 0.30 0.28 INAF 0,45 0,48 0,54 0,53 0.83 0.83 1.19 1.11 KAEF 0,30 0,31 0,34 0,39 0.43 0.45 0.52 0.64 KLBF 0.21 0.22 0.25 0.21 0.28 0.33 0.27 0.27 MERK 0,15 0.27 0.27 0.23 0.18 0.37 0.36 0.29 PYFA 0,30 0,35 0.46 0.44 0.43 0.55 0.86 0.79 SCPI 0.93 0,96 0,99 1,03 13.47 24.48 70.83 -31.04 TSCP 0,28 0,28 0,29 0.26 0.40 0.38 0.40 0.32 ROE 2011 2012 2013 2014 DVLA 16.61 17.69 13.75 8.41 INAF 6.06 6.52 -9.18 0.20 KAEF 13.71 14.01 13.28 13.06 KLBF 24.08 23.18 21.61 10.83 MERK 46.78 25.87 34.25 32.78 PYFA 6.28 6.05 6.60 2.75 SCPI -117.70 -71.54 -117.10 142.42 TSCP 19.25 18.94 16.53 14,14

(10)

Dapat dilihat di table 1.1 CR, QR, DAR, DER, dan ROE subsektor farmasi rasio rata-rata mengalami penurunan tahun 2011-2014. Penurunan tersebut berdampak pada nilai perusahaan yang tercermin pada harga saham.

Berikut tabel yang menggambarkan PBV perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Tabel 1.2

Perbandingan PBV Perusahan Farmasi yang Terdaftar di BEI Periode 2011-2014 PBV 2011 2012 2013 2014 DVLA 1.77 2.25 2.69 1.97 INAF 0.83 1.57 0.80 1.98 KAEF 1.51 2.86 2.02 4.75 KLBF 5.30 7.30 6.89 9.30 MERK 6.01 8.17 8.27 6.97 PYFA 1.14 1.08 0.84 0.77 SCPI 4.17 6.51 10.05 -108.76 SIDO - - 4.00 3.61 SQBB 0.82 0.29 - - TSCP 3.77 5.00 3.79 3.15 Sumber: www.idx.co.id (Data diolah sendiri)

Dari tabel 1.2 di atas dapat terlihat bahwa PBV perusahaan di subsektor farmasi mengalami fluktuasi dari tahun 2011-2014. Rata-rata ditahun 2013 kesepuluh perusahaan mengalami penurunan. Pada tahun 2012 perusahaan Indofarma (Persero) Tbk. (INAF) memiliki PBV sebesar 1.57 yang turun menjadi 0.80 di tahun 2013. Begitu juga yang terjadi di perusahaan Kimia Farma (Persero) Tbk. (KAEF) turun dari 2.86 menjadi 2.02, di perusahaan Kalbe Farma Tbk. (KLBF) turun dari 7.30 menjadi 6.89, dan di perusahaan Pyridam Farma Tbk (PYFA) turun dari 1.08 menjadi 0.84.

(11)

Secara umum PBV subsektor farmasi menurun di tahun 2013 walaupun baik dalam kondisi naik maupun turunnya perekonomian, salah satu sektor atau beberapa yang dapat mempertahankan diri adalah sektor konsumsi, kesehatan, dan pendidikan (bisniskeuangan.kompas.com, 2015).

Beberapa penelitian mendukung pernyataan di atas. Penelitian yang dilakukan oleh Eva Eko Hidayati yang berjudul Analisis Pengaruh DER, DPR, ROE, dan SIZE Terhadap PBV Perusahaan Manufaktur yang Listing Di BEI Periode 2005-2007 menyatakan bahwa DER dan DPR berpengaruh negative dan tidak signifikan terhadap PBV sedangkan ROE dan Size berpengaruh positif dan signifikan terhadap PBV. Lalu penelitian yang dilakukan oleh Mardiyati, Ahmad, dan Putri (2012) yang berjudul Pengaruh Kebijakan Dividen, Kebijakan Hutang, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di BEI Periode 2005-2010 menyatakan bahwa DPR memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, DER berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, dan ROE memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap nilai perusahaan. Dan penelitian yang dilakukan oleh Amanda, Darminto, dan Husaini yang berjudul Pengaruh Debt To Equity Ratio, Return On Equity, Earning Per Share, dan Price Earning Ratio Terhadap Harga Saham menyatakan bahwa DER berpengaruh terhada harga saham, ROE berpengaruh terhadap harga saham, EPS berpengaruh terhadap harga saham, dan PER tidak berpengaruh terhadap harga saham.

Dikarenakan perbedaan hasil penelitian mengenai pengaruh antar variable tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut hubungan

(12)

antar variable tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti mengambil judul: “Pengaruh Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Debt Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris pada Perusahaan Farmasi yang Terdaftar di BEI Periode 2011-2014)”.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana pengaruh Current Ratio (CR) terhadap nilai perusahaan? 2. Bagaimana pengaruh Quick Ratio (QR) terhadap nilai perusahaan? 3. Bagaimana pengaruh Debt Ratio (DAR) terhadap nilai perusahaan? 4. Bagaimana pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap nilai

perusahaan?

5. Bagaimana pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan?

6. Bagaimana pengaruh Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Debt Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian masalah diatas, maksud dan tujuan melakukan penelitian ini sebagai berikut :

1. Untuk menguji pengaruh Current Ratio (CR) terhadap nilai perusahaan.

(13)

2. Untuk menguji pengaruh Quick Ratio (QR) terhadap nilai perusahaan.

3. Untuk menguji pengaruh Debt Ratio (DAR) terhadap nilai perusahaan.

4. Untuk menguji pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap nilai perusahaan.

5. Untuk menguji pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan.

6. Untuk menguji pengaruh Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Debt Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) terhadap nilai perusahaan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Harapan peneliti adalah hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan, seperti:

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memahami bagaimana pengaruh kinerja keuangan yang dilihat dari Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Debt Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) terhadap Nilai Perusahaan Farmasi. Dan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan peneliti baik secara teori maupun praktek khususnya mengenai kinerja keuangan perusahaan.

(14)

2. Bagi Praktisi dan Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dan memberikan masukan mengenai bagaimana pengaruh kinerja keuangan yang dilihat dari Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Debt Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) terhadap Nilai Perusahaan Farmasi.

3. Bagi Kalangan Akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi tambahan dan dapat menjadi referensi mengenai pengaruh kinerja keuangan yang dilihat dari Current Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Debt Ratio (DAR), Debt to Equity Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) terhadap Nilai Perusahaan Farmasi.

1.5 Lokasi Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2011-2014. Waktu penelitian berlangsung mulai bulan September 2015 sampai dengan selesai.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :