• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 4 April 2021 p-issn : e-issn :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 4 April 2021 p-issn : e-issn :"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ANGGARA KASIH : HUJAN DALAM SERAT PAWARSAKAN DAN MITOS YANG MELEKAT DI MASYARAKAT

Agni Dhea Andini dan Respati Retno Utami Universitas Negeri Surabaya, Indonesia

Email: [email protected] dan [email protected]

INFO ARTIKEL ABSTRACT

Diterima 15 April 2021

Diterima dalam bentuk review 18 April 2021 Diterima dalam bentuk revisi 23 April 2021

The Javanese calendar is a form of past society culture that deserves to be known. The calendar is written in an old literary work in the form of a script and is considered very noble. One example of a manuscript containing the Javanese calendar is Serat Pawarsakan by R. Ng. Ranggawarsita. In the manuscript there is a Javanese calendar of rain which is based on the day of Anggara Kasih. But unfortunately the Javanese calendar related to rain is not widely known by the Javanese people, especially the millennial generation youth. In fact, this Anggara Kasih day can reveal various things related to nature. These include, among others, flood disasters and diseases that many people suffer from and their remedies. Outside the Anggara Kasih manuscript there is a myth that is quite thick and is believed by certain people, mainly related to the rain. Thus this research was conducted to: (1) Know the rain based on Anggara Kasih day in Serat Pawarsakan, and (2) Know the myth of Anggara Kasih day for the Javanese. With the object of research in the form of a script, this research is qualitative and uses a theory and a philological approach to reveal the rain in Serat Pawarsakan. Meanwhile, to uncover myths, an anthropological approach is used. In the realm of philology, Serat Pawarsakan is described, transliterated, translated, and then edited. Data in the text in the form of text relating to the research objectives are recorded and then analyzed. Then regarding the myth of Anggara Kasih day, it will be studied by means of literature study outside the script and completed with interviews. This is to reveal the meaning stored on Anggara Kasih in the Javanese perspective. The data obtained is that each month's Anggara Kasih has its own meaning as a marker of the season. The signs are in the form of the arrival of the dry or rainy season, the peak of the rainy season, and the change of seasons. This is in line with the myths that develop in society.

ABSTRAK

Penanggalan Jawa merupakan salah satu wujud kebudayaan masyarakat lampau yang sudah sepatutnya untuk diketahui. Penanggalan tersebut tertulis dalam karya sastra lama yang berupa naskah dan dinilai sangat luhur. Salah satu contoh naskah yang berisi penanggalan Jawa adalah Serat Pawarsakan karya R. Keywords:

serat pawarsakan; anggara kasih, javanese calender; and rain.

Kata kunci:

serat pawarsakan; anggara kasih; penanggalan jawa; dan hujan.

(2)

Ng. Ranggawarsita. Dalam naskah tersebut terdapat penanggalan Jawa mengenai hujan yang didasarkan pada hari Anggara Kasih. Namun sayangnya penanggalan Jawa terkait hujan ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat Jawa, terlebih para pemuda generasi milenial. Padahal dengan hari Anggara Kasih tersebut dapat mengungkap berbagai hal di sekeliling yang berkaitan dengan alam. Hal tersebut antara lain adalah bencana banjir dan penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat beserta obatnya. Di luar naskah Anggara Kasih memiliki mitos yang cukup kental dan dipercaya oleh masyarakat tertentu, utamanya berkaitan dengan turunnya hujan. Dengan demikian penelitian ini dilakukan untuk: (1) Mengetahui hujan berdasarkan hari Anggara Kasih dalam Serat Pawarsakan, dan (2) Mengetahui mitos hari Anggara Kasih bagi masyarakat Jawa. Dengan objek penelitian berupa naskah maka penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan teori serta pendekatan filologi untuk mengungkap hujan di dalam Serat Pawarsakan. Sedangkan untuk mengungkap mitos digunakan pendekatan antropologi. Dalam ranah filologi Serat Pawarsakan dideskripsikan, ditransliterasi, diterjemahkan, dan selanjutnya disunting. Data dalam naskah berupa teks yang berkaitan dengan tujuan penelitian dicatat dan selanjutnya dianalisis. Kemudian mengenai mitos hari Anggara Kasih akan dikaji dengan cara studi pustaka di luar naskah dan dilengkapi dengan wawancara. Hal ini untuk mengungkap makna yang tersimpan pada hari Anggara Kasih dalam perspektif orang Jawa. Data yang didapatkan adalah hari Anggara Kasih pada setiap bulannya memiliki makna tersendiri sebagai penanda musim. Adapun tanda tersebut adalah berupa datangnya musim kemarau atau penghujan, puncak musim penghujan, maupun pergantian musim. Hal ini selaras dengan mitos yang berkembang di masyarakat.

Pendahuluan

Menurut (Badrulzaman & Kosasih, 2019) naskah merupakan teks tulisan tangan sebagai hasil budaya berupa cipta sastra. Naskah tulisan tangan juga sering disebut sebagai manuscript. Dalam studi filologi naskah dijadikan sebagai objek kajian yang mengandung nilai luhur. Keluhuran tersebut terdapat dalam isi atau kandungan naskah berupa teks yang mencerminkan kehidupan masyarakat masa lampau. Nilai keindahan juga tidak terlepas dari naskah karena merupakan bagian dari karya sastra lama.

Melalui naskah dan teks kita dapat mengetahui apa yang menjadi kebiasaan masyarakat jaman dahulu. Kebiasaan tersebut kemudian disebut dengan kebudayaan yang menyangkut aspek tata kehidupan, ajaran, kebahasaan, sistem perekonomian, pengetahuan, dll. Kebudayaan yang tertuang dalam naskah itulah yang menjadi salah satu tujuan umum dari filologi, yaitu mengungkapkan nilai-nilai budaya lama. Menurut (Wulandari & Purwanto, 2017) kebudayaan tersebut selanjutnya dapat dinilai

(3)

keberadaannya dengan era sekarang ini. Apakah kebudayaan tersebut masih relevan dan dijalankan atau sudah ditinggalkan.

Salah satu contoh wujud kebudayaan masyarakat lampau adalah perhitungan hari. Bagi orang Jawa perhitungan hari atau biasa disebut dengan petungan dipandang sebagai suatu hal yang penting. Adapun demikian adalah karena dalam perspektif orang Jawa setiap hari dalam penanggalan memiliki maknanya masing-masing. Hal ini menyebabkan munculnya istilah hari baik pada penanggalan (Putri et al., 2015). Perhitungan hari yang umum digunakan masyarakat Jawa sampai saat ini adalah saptawara dan pancawara. Saptawara merupakan hari yang berjumlah tujuh terdiri dari Minggu/Ahad, Senen, Slasa, Rebo, Kemis, Jemuwah dan Setu. Sedangkan pancawara adalah hari yang berjumlah lima yang terdiri dari Pon, Kliwon, Legi, Paing, dan Wage. Secara umum masyarakat Jawa mempercayai 2 (dua) hari yang sangat diistimewakan yaitu Anggara Kasih atau Slasa Kliwon dan Sukra Umanis atau Jemuwah Legi. Kedua hari tersebut pada umumnya dimaknai dengan cara-cara tertentu.

Hari-hari tertentu dalam sistem penanggalan Jawa dapat dijadikan sebagai perhitungan masa atau musim sebagaimana hujan. Dalam Serat Pawarsakan karangan Raden Ngabehi Ranggawarsita yang disimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta hari Anggara Kasih dijadikan sebagai patokan hujan. Setiap hujan yang turun tidak selalu menjadikan besarnya sumber air dan menyebabkan banjir, akan tetapi disesuaikan dengan keadaan dan penanggalan. Hujan juga tidak selalu turun di musim penghujan saja, namun bisa juga turun pada musim kemarau sebagai jawah kintunan. Orang-orang awam banyak yang menyebutnya sebagai udan salah mangsa.

Menurut (Achmad, 2019) perhitungan dan penanggalan merupakan salah satu wujud kebudayaan yang ada di tengah kehidupan masyarakat Jawa. Hal tersebut tentunya menjadi suatu ciri khas tersendiri. Sayangnya masyarakat Jawa saat ini kurang mengetahui akan hal tersebut yang utamanya adalah penanggalan hujan. Padahal penanggalan ini sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Dengan sistem penanggalan tersebut dapat diketahui keadaan alam sekitar pada setiap wukunya dan penyakit yang dibawa oleh angin beserta obatnya. Selain itu juga dapat mengetahui waktu bertelur dan menetasnya hewan yang dipengaruhi oleh musim.

Hilangnya sebuah kebudayaan tentunya bukan tanpa alasan. Sebuah kepastian bahwa budaya akan hilang apabila tidak ada lagi orang-orang yang melestarikannya. Bagitu pula yang terjadi dengan sistem penanggalan Jawa yang rasanya sudah cukup asing saat ini. Terlebih dengan media informasi dan komunikasi yang berkembang dengan begitu pesat tanpa adanya batasan dan berada di genggaman. Segala macam informasi yang diinginkan dapat diperoleh dengan begitu mudah, sekalipun tentang perkiraan cuaca. Hal tersebut yang melatarbelakangi lunturnya kebudayaan yang luhur tersebut. Namun tanpa disadari telah mengubah pola pikir masyarakat untuk menuju modernitas yang dengan tanpa sengaja meninggalkan sebuah sistem kebudayaan yang sangat luhur. Akibatnya tidak banyak dari masyarakat modern yang tahu tentang penanggalan Jawa khususnya hujan.

(4)

Masyarakat Jawa sendiri sangat kental dengan mitos-mitos yang menyelimuti hampir seluruh aspek kehidupan. Setiap gerak, ucap, dan unsur dalam keseharian memiliki makna tersendiri. Setiap hal tersebut dipercaya memiliki mitos dan kepercayaan tertentu yang berdampak pada kehidupan manusia. Salah satunya adalah mitos terkait hari Anggara Kasih. Anggara Kasih dipercaya memiliki kekuatan tersendiri bagi orang Jawa yang mempercayainya.

Penelitian mengenai hari Anggara Kasih sebagai salah satu hari dalam penanggalan Jawa dan keterkaitannya dengan hujan sebagai keadaan alam ini penting untuk dilakukan karena akan mengungkap hal luar biasa di dalam sebuah naskah dan mitos yang ada di tengah masyarakat, yang mana hal tersebut belum banyak diketahui oleh orang utamanya masa masa modern ini. Penelitian mengenai hujan yang terjadi pada Anggara Kasih sejauh ini belum pernah dilakukan. Adapun penelitian mengenai penanggalan Jawa yang sudah pernah dilakukan sebelumnya yaitu dengan judul Analisis Penanggalan Jawa Pranata Mangsa terhadap Sirkulasi Monsun dalam Perspektif Klimatologi yang dilaksanakan oleh Ahmad Musta’id pada tahun 2019. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data lapangan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan format deskriptif. Salah satu pembahasan dalam penelitian ini adalah mengenai implementasi penanggalan Jawa Pranata Mangsa untuk memperkirakan waktu tanam. Penelitian lainnya adalah Perputaran Zodiak pada Kayon Jagad Gumelar sebagai Simbol Perhitungan Jawa yang dilaksanakan oleh Nur Azizah dan Dendi Pratama. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan data penelitian yang diambil dari studi literatur, observasi dan wawancara. Penelitian ini membahas perhitungan Jawa yang disebut dengan pawukon yang biasanya terdapat dalam primbon. Pawukon merupakan rumusan perhitungan waktu, hari, bulan ataupun tahun.

Masyarakat Jawa sendiri sangat kental akan sarat dan makna. Begitu pula dengan hari yang menjadi bagian dari kehidupan. Masyarakat Jawa memiliki makna tersendiri di setiap harinya yang dilambangkan dengan simbol-simbol tertentu. Salah satunya adalah Anggara Kasih yang dipercaya memiliki makna dan kekuatan tersendiri. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui hujan berdasarkan hari Anggara Kasih dalam Serat Pawarsakan, dan (2) Mengetahui mitos Anggara Kasih bagi masyarakat Jawa.

Metode Penelitian

Penelitian yang berobjek Serat Pawarsakan ini bersifat kualitatif. Hal ini dikarenakan sumber data yang digunakan adalah naskah yang isinya berupa rangkaian kata atau kalimat. Berdasarkan sumber data yang bersifat kualitatif tersebut metode yang digunakan untuk mengolah dan menganalisis adalah deskriptif analitik. Data yang didapat nantinya akan dideskripsikan secara detail.

Sebagaimana yang telah disampaikan di atas bahwa objek penelitian ini berupa naskah, maka teori yang digunakan untuk mengungkap isinya adalah teori filologi. Tidak hanya filologi, penelitian ini juga akan menggunakan pendekatan antropologi

(5)

untuk mengungkap mitos yang ada di tengah masyarakat mengenai hari Anggara Kasih yang terdapat di dalam naskah. Penelitian akan diawali dengan kegiatan yang berfokus pada filologi, yaitu sebuah cabang ilmu yang mempelajari kebudayaan suatu bangsa berdasarkan bahasa dan kesusastraannya (Fathurahman, 2015). Karena Serat Pawarsakan ini adalah satu-satunya naskah yang diteliti maka digunakan metode edisi naskah tunggal. Adapun langkah-langkah yang ditempuh adalah mendeskripsikan, mentransliterasi, menerjemahkan, dan menyunting Serat Pawarsakan. Dalam data digunakan teknik cacat. Data yang ditemukan dalam naskah berupa teks dicatat dan dikumpulkan untuk selanjutnya dianalisis. Dengan demikian, sumber data pada penelitian ini adalah Serat Pawarsakan dan data yang didapat adalah hujan di hari Anggara Kasih pada windu Adi.

Menurut (Endraswara, 2013) pendekatan antropologi digunakan dalam meneliti karya sastra dari sisi pandang etnografi yaitu melihat aspek-aspek budaya masyarakat. Dalam penelitian ini pendekatan antropologi dilakukan untuk mengungkap mitos yang ada di tengah masyarakat terkait hari Anggara Kasih yang utamanya berkaitan dengan hujan. Dalam mengungkap mitos ini dilakukan teknik wawancara dan studi pustaka. Data yang didapatkan dari hasil wawancara dan studi pustaka tersebut juga dicatat dan dikumpulkan untuk selanjutnya dianalisis dan dipaparkan secara deskriptif.

Hasil dan Pembahasan

A. Hujan di Hari Anggara Kasih

Pranata mangsa merupakan sistem penanggalan Jawa yang sangat lengkap. Dimana di dalamnya terdapat satuan-satuan perhitungan yang disebut dengan windu, taun, wulan, dan wuku. Hal tersebut juga terdapat dalam Serat Pawarsakan sebagai wujud sistem penanggalan Jawa yang sangat kompleks. Windu adalah perhitungan waktu selama 8 tahun. Waktu dikatakan satu windu jika sudah mencapai 8 tahun. Adapun nama-nama windu dalam sistem penanggalan Jawa adalah windu Adi, windu Kunthara, windu Sangara, dan windu Sancaya. Di dalam sistem penanggalan Jawa juga dikenal nama-nama tahun yang jumlahnya ada 8. Kedelapan nama-nama tahun tersebut adalah Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Sasi atau wulan dalam penanggalan Jawa berjumlah 12 sebagaimana bulan pada umumnya. Namun, nama-nama bulan tersebut tentunya berbeda. Nama-nama sasi atau bulan dalam penanggalan Jawa adalah Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah/Sela, dan Besar. Wuku adalah perhitungan waktu selama 7 hari yang jumlahnya ada 30 macam. Dengan kata lain, satu wuku adalah satu minggu. 30 wuku dalam penanggalan Jawa tersebut adalah wuku Sinta, Landhep, Wukir, Kuranthil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mondhasiya, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Marakeh, Tambir, Madhangkungan, Maktal, Wuye, Manail, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut, dan Watugunung. Semua satuan waktu tersebut disampaikan dengan jelas di dalam Serat Pawarsakan sebagai penanggalan hujan.

(6)

Hujan merupakan peristiwa alamiah berupa turunnya air dari langit ke bumi/tanah. Menurut (Mauliddin, 2018) proses turunnya air ini dapat dinilai sebagai sebuah anugerah dan sekaligus sebagai musibah bagi sebagian orang. Hujan dipandang sebagai anugrah karena dapat bermanfaat untuk seluruh makhluk yang ada di bumi. Hal tersebut diantaranya menyiram tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di alam liar dan terbuka, menambah debit air di bendungan, menambah debit air di sumur atau sumber air, menyiram debu, dll. Sedangkan hujan dapat dipandang sebagai musibah jika bersamaan dengan angin besar/badai atau petir dan menyebabkan kerusakan lingkungan.

Di dalam Serat Pawarsakan perkiraan turunnya hujan telah diperkirakan beserta dengan keadaan alamnya. Keadaan alam tersebut meliputi lebat dan tidaknya hujan, besar kecilnya debit air di bendungan/waduk, penyakit yang dibawa angin pada masa-masa tertentu beserta obatnya, dan hewan-hewan yang bertelur. Semua peristiwa itu disampaikan dalam waktu yang sangat jelas dan terperinci mulai dari windu, taun, wulan, wuku, hingga tanggal dalam perhitungan Jawa.

Hujan yang terjadi pada hari Anggara Kasih belum tentu ada pada setiap bulannya. Mengingat adanya musim kemarau serta ada bulan-bulan tertentu di setiap tahunnya yang suwung atau tidak ada hari Anggara Kasihnya. Bulan-bulan tersebut dianggap kurang baik dan bahkan cenderung ditinggalkan dalam pemilihan hari untuk mengadakan hajatan atau acara-acara lain. Dalam bulan yang suwung tersebut juga dinilai mudah tertimpa musibah sehingga dianjurkan untuk sangat berhati-hati.

Hujan yang terjadi pada hari Anggara Kasih dalam Serat Pawarsakan yang akan dibahas adalah khusus pada windu Adi. Adi sendiri memiliki makna unggul dalam segala hal dan banyak hal-hal baru bermunculan. Dalam Serat Pawarsakan sendiri khususnya tahun Je tidak terdapat data yang menunjukkan hujan pada hari Anggara Kasih. Adapun data dalam naskah yang sesuai dengan topik bahasan beserta pembahasannya pada masing-masing tahun adalah sebagai berikut:

1. Tahun Alip

Tahun Alip merupakan tahun pertama dalam setiap windu. Tahun ini dipercaya sebagai permulaan windu dalam penanggalan Jawa. Hal ini selaras dengan asal mula nama-nama tahun yang berasal dari bahasa Arab. Alip berarti awal atau permulaan yang dalam bahasa Jawa disebut purwa. Adapun maksud yang terkandung di dalamnya adalah Alip sebagai permulaan windu haruslah diniatkan dengan harapan-harapan yang baik untuk satu tahun tersebut dan seterusnya.

Di dalam Serat Pawarsakan pada tahun ini terjadi satu kali hujan yang bersamaan dengan hari Anggara Kasih. Hujan tersebut terjadi pada tanggal kedua puluh sembilan bulan Jumadilawal dan bertepatan dengan wuku yang kelima yaitu Kurantil. Masa ini berada pada pertengahan musim penghujan. Kutipan dalam naskah yang menyebutkan mengenai hal ini adalah sebagai berikut:

(7)

“Tanggalipun kaping sangalikur dina Anggara Kasih, wuku Kurantil, mangsa kalima, blêbahing jawah, toyaning bêngawan sêdhêng, nanging ing sabên dina mindhak sangking sêkêdhik.”

Artinya:

“Tanggal kedua puluh sembilan hari Anggara Kasih, wuku Kurantil, (yaitu) masa yang kelima, hujan sangatlah deras, air waduk sedang, akan tetapi (air tersebut) setiap harinya meningkat sedikit demi sedikit.”

Berdasarkan kutipan data yang ada dalam naskah tersebut dapat diketahui bahwa hujan pada masa ini sangatlah deras, akan tetapi hal tersebut tidak membuat air waduk menjadi besar atau bahkan banjir. Air waduk tetap sedang namun semakin bertambah volumenya setiap harinya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan deras tidak selalu menjadikan besarnya air.

Masa yang kelima tersebut berada pada sekitar 13/14 Oktober sampai dengan 9/10 November. Pada masa tersebut dipercaya sebagai masa turunnya hujan, pohon asam bertunas, dan pohon kunyit berdaun muda. Hal ini selaras dengan pendapat Sindhunata (Gustaman, 2020) yang meneliti pranata mangsa. Berdasarkan kutipan dari N. Daldjoeni dalam sebuah tulisan dengan judul “Penanggalan Pertanian Jawa Pranata Mangsa (Badrudin, 2014)” dan bersumber dari buku sejarah raja Surakarta yang disimpan di dalam Museum Radya Pustaka, Sindhunata menyampaikan karakteristik pranata mangsa dan dibandingkan dengan gejala alam. Adapun karakteristik mangsa kelima adalah terjadi selama 27 hari yaitu sejak 14 Oktober sampai dengan 8 November. Candra yang digunakan untuk masa ini adalah pancuran mas sumawur ing jagad yang berarti hujan (layaknya emas) yang tersebar di bumi. Masa ini digunakan oleh petani untuk mengolah sawah, membuat irigasi, dan padi gogo mulai disebar. Tanda alam lain adalah banyaknya hewan laron yang keluar dari sarangnya, jamur-jamur mulai tumbuh, dan tanaman kunci serta lempuyang tumbuh tunasnya. Burung Srigunting juga kerap bersuara di pagi hari sebelum matahari terbit.

Selain perhitungan waktu tersebut, ada pula perhitungan waktu yang didasarkan pada rasi bintang. Rasi bintang yang ada masa kelima ini adalah banjak angrem dengan tanda alam yang disebut dengan bajoe. Berdasarkan rasi bintang tersebut angin berhembus dengan kencang dari arah barat laut yang berakibat pada terjadinya hujan di pagi dan sore hari. Pada musim ini bumi terlihat subur, wangi, dan tumbuhnya tanaman-tanaman (Hien A dalam Gustaman, 2020). Dengan demikian, berdasarkan data dalam naskah dan pendapat para ahli di atas, dapat diketahui bahwa pada hari Anggara Kasih, masa kelima terjadi hujan sebagai penanda awal musim penghujan yang menjadikan bumi subur dengan tumbuhnya berbagai tanaman.

(8)

Ehe merupakan tahun kedua setelah Alip dalam penanggalan Jawa. Tahun ini dikenal dengan tahun berkegiatan atau tumandang. Adapun maknanya adalah setelah melewati tahun Alip yang berarti niat, maka langkah yang selanjutnya yang harus dilakukan adalah bertindak, menjalankan perbuatan agar niat baik yang diinginkan dapat tercapai. Perbuatan yang dilakukan haruslah perbuatan yang baik. Agar selaras dengan niat baik yang telah dimiliki sebelumnya.

Data dalam Serat Pawarsakan menunjukkan bahwa terdapat keterangan dalam naskah yang menyebutkan hari Anggara Kasih. Adapun kutipan tersebut adalah sebagai berikut:

“Tanggalipun kalih wêlas, ing dintên Anggara Kasih wuku Julungwangi, tampaning mangsa kanêm, yèn udan angluwihi dêrêsé, yèn têrang angluwihi têrangé, kadi déning têranging mangsa katiga. têgêsé mangsa kanêm iku nganggo bêthatan, toya bêngawan panggêng, malah ragi suda sakêdhik, nanging kapara akèh panggêngipun.”

Artinya:

“Tanggal kedua belas, pada hari Anggara Kasih wuku Julungwangi datangnya masa keenam. Jika hujan sangatlah deras, jika kemarau benar-benar kering, seperti keringnya musim kemarau. Artinya pada masa keenam ini adalah musim bethatan (tidak ada hujan sementara waktu pada musim penghujan). Air waduk tetap, malah sedikit berkurang, akan tetapi cenderung tetap.”

Berdasarkan kutipan data di atas dapat diketahui bahwa hari Anggara Kasih pada wuku Julungwangi taun Ehe jatuh pada tanggal kedua belas. Keberadaan hujan pada waktu tersebut tidaklah menentu. Dapat terjadi musim kemarau maupun musim penghujan. Namun yang seharusnya terjadi adalah musim penghujan jika pada masa tersebut terjadi musim penghujan, maka hujan akan turun dengan sangat deras. Tetapi jika pada waktu tersebut tidak turun hujan berarti terjadi bethatan bethatan merupakan sebuah kejadian alam yang mana tidak turun hujan sementara waktu pada musim penghujan. Pada waktu tersebut alam benar-benar kering sebagaimana musim kemarau. Akan tetapi, meskipun demikian air yang ada di waduk volumenya cenderung tetap meskipun sedikit berkurang.

Berkaitan dengan mangsa dalam kutipan diatas yaitu masa yang keenam, Wiriadiwangsa memperkirakan jatuh pada 9/10 November sampai dengan 22/23 Desember dengan tanda-tanda alam berupa buah-buahan yang mulai tua. Sedangkan Sindhunata (Gustaman, 2020) memperkirakan bahwa masa berlangsung selama 43 hari semenjak 9 November sampai dengan 21 Desember. Adapun candra yang digunakan adalah rasa mulya kasucen yang berarti kemuliaan yang berasal dari kesucian. Pada masa ini ditandai dengan sawah yang

(9)

kembali menghijau dan airnya mengalir dengan jernih, buah-buahan yang melimpah seperti durian, mangga, dan manggis. Burung belibis juga mulai menampakkan diri dengan mencari mangsa. Curah hujan yang turun juga mulai meningkat sehingga para petani mulai membajak sawah.

Berdasarkan rasi bintang, pada masa ini adalah masanya bintang gotong-mayit dengan tanda alam yang disebut utara. Musim ini ditandai dengan berhembusnya angin dari sebelah barat dengan besar dan keras (kencang). Pada musim ini bumi dan langit sama rupanya, serta daun hijau mulai berwarna kuning. Selain itu, buah-buahan enak dimakan (Harini & Wicaksono, 2019). Berdasarkan kutipan data yang berasal dari Serat Pawarsakan mengenai hujan pada hari Anggara Kasih dalam tahun Ehe bertepatan dengan masa keenam adalah hujan yang sudah mulai deras sehingga bumi kembali menghijau dan buah-buahan melimpah.

3. Tahun Jimawal

Tahun ketiga dalam penanggalan Jawa adalah Jimawal. Tahun ini berarti gawe atau kerja. Adapun maksudnya adalah bertindak dan berupaya melakukan usaha terbaik. Di dalam Serat Pawarsakan terdapat dua data yang menyebutkan hujan di hari Anggara Kasih. Hujan tersebut terjadi pada wuku Dukut dan wuku Prangbakat. Adapun kutipan data di dalam naskah yang pertama adalah:

“Tanggal kaping tiga Anggara Kasih wuku Dukut, tampaning mangsa kasêpuluh wuku, panggêng toyaning bêngawan, panggênging agêng, dèrèng suda, lan panggènan anêtêsing sarwa êndhog.”

Artinya:

“Tangga ketiga hari Anggara Kasih wuku Dukut, mulainya masa yang kesepuluh. Air waduk tetap besar dan belum berkurang, serta tempat menetasnya telur-telur.”

Berdasarkan kutipan data di atas dapat diketahui bahwa hari Anggara Kasih di wuku Dukut jatuh pada tanggal tiga yaitu masa yang kesepuluh. Pada waktu tersebut air waduk tidak berkurang dan juga tidak bertambah, karena masih saja tetap besar sebagaimana waktu sebelumnya. Pada masa itu pula telur-telur hewan juga menetas. Dengan disebutkannya masa kesepuluh maka dapat diketahui bahwa peristiwa tersebut berlangsung pada tanggal 26-27 Maret sampai dengan 19/20 April. Tanda alam pada masa tersebut adalah tanaman padi yang sudah mulai berisi meskipun masih hijau dan burung-burung membuat sarang.

Menurut (Rusnandar, 2017) menyampaikan bahwa masa kesepuluh tersebut berlangsung selama 24 hari sejak 26 Maret sampai dengan 18 April. Watak dari masa ini adalah gedhong mineb jroning kalbu yang berarti masa kehamilan hewan. Masa ini ditandai dengan kehamilan hewan-hewan, bertelurnya burung-burung, padi yang mulai menguning dan siap untuk dipanen. Masa ini ditengarai

(10)

sedikit terasa suram karena lesu karena tidak lama lagi musim kemarau akan datang. Sejalan dengan hal tersebut, akan tetapi ditilik dari sisi yang berbeda. Rasi bintang pada masa kesepuluh adalah waluku. Adapun tanda alam pada masa lintang waluku ini disebut wisikan. Tanda-tanda alamnya adalah angin berhembus dari sebelah tenggara dengan keras dan panas, bumi terlihat putih dan langit terlihat hitam, dan banyak manusia yang sakit (Lim, 2021). Dengan demikian didapati bahwa hari Anggara Kasih pada masa yang kesepuluh tersebut adalah perubahan musim dari penghujan menuju kemarau. Data yang kedua adalah sebagai berikut:

“Sasi Ruwah tanggalé sapisan ing dina Sênèn akir, tegesé Sêlasa pasarané Kliwon, dados Anggara Kasih, wuku Prangbakat, tampaning mangsa katiga wuku, trang tanpa jawah babar pisan anggêrus toya ing bêngawan, Akathah angin agêng, alum kang sarwa wiwitan, angurag kang sarwa sari-sari.”

Artinya:

“Bulan Ruwah tanggal pertama pada hari Senin akhir, maksudnya adalah hari Selasa dengan pasaran Kliwon, yaitu Anggara Kasih wuku Prangbakat, mulainya masa wuku ketiga, terang tanpa hujan sama sekali, mengurangi air di waduk. Banyak angin besar, pepohonan mulai layu kehilangan sari-sarinya.”

Berdasarkan kutipan data di atas dapat diketahui bahwa hari Anggara Kasih pada wuku Prangbakat jatuh pada tanggal pertama pada masa yang ketiga. Pada waktu tersebut benar-benar terang tanpa hujan sama sekali sehingga menyebabkan berkurangnya air di waduk. Pada masa tersebut juga banyak terjadi angin besar dan pohon-pohon yang mulai layu.

Menurut (Sobirin, 2018) masa ketiga ini berlangsung selama 24 hari sejak 25 Agustus sampai dengan 17 September dengan candra suta manut ing bapa yang artinya anak menuruti bapak. Pada mangsa ini tanaman menjalar mulai tumbuh. Tanaman ini lah yang dianggap sebagai anak, sedangkan lanjarannya sebagai bapak. Mangsa ini ditandai dengan sumur-sumur mengering dan angin berdebu. Tanah tidak dapat ditanami karena panasnya cuaca dan air yang kurang. Palawija mulai dipanen pada musim ini, sedangkan bambu, gadung, temu, dan kunyit mulai tumbuh. Sedangkan dalam perspektif rasi bintang yang memiliki rasi lumbung (Agustina, 2021) hal ini sangat berbeda. Tanda-tanda alam pada musim ini disebut Wisaja. Musim ini ditandai dengan hembusan angin dari sebelah utara yang bergerak sedang (terasa enak pada badan), pepohonan mulai tumbuh, bumi atau tanah berbau wangi dan asin, cahaya matahari terlihat kuning, langit tampak berwarna biru. Berdasarkan kutipan data yang ada dalam naskah dan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pada hari Anggara Kasih yang

(11)

bertepatan dengan masa ketiga adalah musim kemarau dengan tidak ada hujan sama sekali sehingga menyebabkan sumur kering yang disertai dengan angin. 4. Tahun Dal

Dal berarti urip atau hidup. Adapun maksudnya adalah kehidupan yang ada di dalam bumi seninya serta alam raya. Tahun Dal merupakan tahun berikutnya dalam Serat Pawarsakan yang menyebutkan mengenai hari Anggara Kasih. Dalam tahun ini terdapat satu data yang tercantum di bawah ini.

“Sasi Mulud tanggalipun sapisan ing dintên Anggara Kasih, tampaning mangsa pitu wuku Mondhasiya, panggènan dêrês-dêrêsing jawah, bêngawan mindhak-mindhak agêngé, lan kathah udan angin tan kêndhat.”

Artinya:

“Bulan Mulud tanggal pertama di hari Anggara Kasih, mulainya masa ketujuh yaitu wuku Mondhasiya. Masa derasnya hujan, (air) waduk bertambah besarnya, dan sering terjadi hujan angin (badai) yang tiada henti.”

Berdasarkan kutipan data tersebut dapat diketahui bahwa hari Anggara Kasih yang jatuh pada tanggal satu bulan Mulud wuku Mondhasiya yaitu masa ketujuh. Pada waktu tersebut hujan sangatlah deras yang diiringi dengan badai. Dengan intensitas hujan yang sangat tersebut menyebabkan volume air di waduk bertambah.

Dengan disebutkannya masa ketujuh maka dapat dinyatakan bahwa masa ini jatuh pada tanggal 22/23 Desember sampai dengan 3/4 Februari. Ditengarai sebagai musim bencana banjir, longsor, dan badai. Masa ketujuh ini berlangsung selama 43 hari semenjak 22 Desember sampai dengan 2 Februari. Masa ini berwatak wisa kentar ing maruta yang artinya bisa terbang tertiup angin. Musim ini ditandai dengan datangnya penyakit dan banjir. Pada masa ini, alam terlihat kurang bersahabat. Para petani mulai menyebar bibit di tempat persemaian, di tengah curah hujan tinggi, angin kencang, dan sungai-sungai yang meluap. Sedangkan jika dipandang berdasarkan rasi bintang yang berlaku pada masa tersebut adalah bisma sekti dengan tanda alam yang disebut buwana. Musim ini ditandai dengan berhembusnya angin dari barat dengan besar, keras, dan berulang-ulang. Pada musim ini hujan sering turun siang dan malam. Banjir besar pun sering terjadi. Bumi atau tanah merembes, pohon kayu dan rumput terlihat diam, dan langit tidak terang. Manusia, burung, dan binatang terlihat kecil hati (sedih). Dengan demikian apa yang disampaikan oleh para hali tersebut sesuai dengan apa yang tercantum pada naskah Serat Pawarsakan bahwa yang terjadi masa itu adalah deras-derasnya hujan yang disertai dengan badai dan adanya banjir.

(12)

5. Taun Be

Be merupakan urutan tahun berikutnya. Be sendiri berarti bola-bali atau selalu kembali. Maksud yang terkandung adalah bahwa kehidupan di dunai ini selalu berputar dan semua akan kembali. Semua sedih yang datang akan berganti bahagia namun sedih itu juga akan tetap kembali lagi, begitu seterusnya. Data di dalam naskah yang menyebutkan hari Anggara Kasih dalam tahun Be ada dua, yaitu pada wuku Julungwangi dan wuku Mondhasiya. Adapun data pertama adalah sebagai berikut:

“Sasi Rabingulakir, tanggalipun sapisan ing dina Anggara Kasih, wuku Julungwangi, tampaning mangsa kanêming wuku, yèn udan langkung drês, yèn têrang langkung têrangé, kadi katiga. Tegesé mangsa kanêm punika mawi bêthatan, toya lèpèn panggêng angêngé, malah suda sawêtawis.”

Artinya:

“Bulan Rabingulakir, tanggl pertama di hari Anggara Kasih, wuku Julungwangi, mulainya masa yang keenam. Jika hujan sangatlah deras, jika terang bagaikan musim kemarau. Artinya masa keenam ini adalah bethatan (tidak ada hujan sementara waktu pada musim penghujan). Air sungai tetap, malah berkurang sementara.”

Berdasarkan data di atasa dapat diketahui bahwa bersamaan dengan tanggal pertama di bulan Rabingulakir wuku Julungwangi masa yang keenam adalah hari Anggara Kasih. Pada waktu tersebut terjadi keadaan yang tidak menentu antara hujan atau terang. Apabila pada waktu tersebut hujan, maka hujab itu akan sangat deras. Akan tetapi dapat pula terjadi bethatan, yaitu tidak ada hujan sama sekali sementara waktu. Dengan demikian dapat diketahui bersama bahwa masa tersebut hasrusnya adalah musim penghujan.

Dengan keterangan mengenai masa yang keenam tersebut maka dapat diketahui bahwa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli juga sama sebagaimana yang telah tercantum sebelumnya di tahun ehe. Dapat diketahui bersama bahwa pada masa keenam ini memang musim penghujan dan sedang lebat-lebatnya hujan. Data kedua di dalam naskah adalah sebagai berikut:

“Madilawal tanggal ping pitu amarêngi dina Anggara Kasih, wuku Mondhasiya, tampaning mangsa kapitu wuku, panggènan dêrês-dêrêsing udan, lan kathah angin agêng, toyaning bênawi mindhak-mindhak agêngé.”

(13)

“Madilawal tanggal ketujuh bersamaan dengan hari Anggara Kasih wuku Mondhasiya, masanya wuku ketujuh, deras-derasnya hujan dan banyak angin besar, air waduk bertambah besar.”

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa pada bulan Jumadilawal wuku Mondhasiya dan masa yang ketujuh tepatnya tanggal tujuh bersamaan dengan datangnya hari Anggara Kasih. Pada masa tersebut hujan turun dengan sangat deras bersamaan dengan angin sehingga menyebabkan badai. Selain itu air yang ada di waduk juga semakin bertambah.

Kutipan data yang ada dalam naskah tersebut sesuai dengan pendapat ahli yang didasarkan pada masa ketujuh. Adapun dasar yang digunakan para ahli adalah pranata mangsa dan rasi bintang. Pendapat ahli yang berkaitan dengan masa yang ketujuh ini sama dengan pendapat yang telah disampaikan dalam tahun Dal. Apa yang yang disampaikan oleh para hali tersebut sesuai dengan apa yang tercancum pada naskah Serat Pawarsakan bahwa yang terjadi masa masa itu adalah deras-derasnya hujan yang disertai dengan badai dan adanya banjir.

6. Taun Wawu

Wawu merupakan tahun Jawa kedua dari belakang. Tahun ini memiliki arti marang atau kepada, yang berarti mengarah kepada akhir. Di dalam Serat Pawarsakan terdapat dua data yang menyebutkan hari Anggara Kasih. Data pertama adalah sebagai berikut:

“Sasi Dulkangidah tanggalipun sapisan ing dintên Salasa Kliwon, wuku Dukut, tampaning mangsa kasêpuluh, ngarang-arangi jawah, nanging bênawi tasih agêng, ing ngriku panggènaning anêtêsing sarwa êndhog.”

Artinya:

“Bulan Dulkangidah tanggal pertama pada hari Selasa Kliwon, wuku Dukut, mulainya masa kesepuluh, hujan mulai jarang namun waduk masih besar airnya. Disitulah masa menetasnya telur.”

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa tanggal pertama di bulan Dulkangidah wuku Dukut masa yang kesepuluh bertepatan dengan hari Anggara Kasih. Pada masa tersebut ditengarai hampir pada perpindahan musim dari penghujan menuju kemarau dengan tanda berupa hujan yang mulai berkurang. Meskipun hujan mulai berkurang, akan tetapi air di waduk masih tetap besar.

Disebutkannya masa yang kesepuluh menandakan bahwa masa ini sama dengan apa yang telah disampaikan pada sebelumnya, yaitu Anggara Kasih pada tahun Jimawal. Jika disandingkan apa yang ada di dalam naskah dengan pendapat para ahli adalah sama, yaitu masa ini adalah peralihan musim menuju kemarau. Data yang kedua adalah:

(14)

“Bêsar tanggal kaping nêm amarêngi dina Anggara Kasih, wuku Kurantil, tampaning mangsa dhêstha wuku, panggèn têrèncènging jawah, lan awit suda-sudaning toya bênawi.”

Artinya:

“(Bulan) Besar tanggal keenam bersamaan dengan hari Anggara Kasih wuku Kurantil, mulainya masa wuku yang kesebelas, hujan mulai reda dan air waduk mulai berkurang.”

Berdasarkan kutipan data tersebut dapat diketahui bahwa tanggal keenam bulan Besar wuku kurantil bertepatan dengan hari Anggara Kasih. Pada waktu tersebut adalah permulaan wuku yang kesebelas dan hujan mulai jarang sehingga air di waduk juga mulai berkurang.

Masa kesebelas atau yang dalam bahasa Jawa disebut dengan dhestha memiliki ciri tersendiri. Masa ini berada dalam rentang waktu 19 April sampai dengan 11 Mei yang lamanya adalah 23 hari. Masa ini memiliki watak sotya sinarawerdi yang artinya adalah air hilang dari tempatnya. Tandanya adalah musim kemarau telah tiba. Keadaan alam pada masa ini ditandai dengan telur-telur burung yang mulai menetas dan para petani mulai memanen padi. Sedangkan rasi bintang yang berlaku pada masa tersebut adalah lumbung dan tanda alam yang disebut dengan tata. Berdasarkan rasi bintang masa ini terdapat angin yang berhembus dari tenggara. Jika dipandang dari segi sains, angin ini bersifat kering. Dengan demikian tepat adanya bahwa pada masa ini adalah datangnya musim kemarau.

7. Taun Jimakir

Tahun Jimakir merupakan tahun terakhir dalam perputaran penanggalan Jawa. Tahun ini dinilai sebagai penutup windu yang berarti akan berganti windu berikutnya. Adapun arti dari kata Jimakir sendiri adalah suwung atau kosong. Sedangkan maksud yang dikandung adalah masa akhir haruslah digunakan untuk mengosongkan diri. Adapun maksud dari mengosongkan diri adalah kembali mengingat Tuhan.

Data yang ada di dalam naskah mengenai hari Anggara Kasih pada tahun Jimakir adalah sebagai berikut:

“Sura tanggal kaping kalihwêlas marêngi dina Anggara Kasih wuku Julungwangi, tampaning mangsa sadha wuku, awit têranging jawah, toya bênawi ngangkat suda-suda, ing ngriku panggènaning asrêp.”

Artinya:

“(Bulan) Suro tanggal kedua belas bersamaan dengan hari Anggara Kasih wuku Julungwangi, mulainya masa kedua belas, hujan mulai terang, air waduk berkurang, disitulah tempatnya dingin.”

(15)

Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa di tahun Jimakir bulan Sura tanggal kedua belas dan pada masa yang kedua belas bertepatan dengan hari Anggara Kasih. Pada waktu tersebut terjadi musim pancaroba yaitu perpindahan musim dari penghujan menuju kemarau. Air di waduk mulai menguap dan berkurang serta hawa dingin mulai terasa.

Pada umumnya masa kedua belas terjadi pada sekitar tanggal 12/13 April sampai dengan 22/23 Juni. Masa ini dikenal dengan udara yang dingin dan segar di pagi hari. (Rusnandar, 2017) menyatakan bahwa masa ini berlangsung selama 41 hari sejak 12 Mei sampai dengan 21 Juni. Masa ini berwatak tirta sah saking sasana yang artinya air yang hilang dari tempatnya. Pada musim ini, curah hujan naik setelah itu hujan mulai habis dan kemarau mulai tiba. Air diibaratkan sebagai keringat dan sasana diibaratkan sebagai badan. Pada musim ini orang jarang berkeringat karena udara yang dingin. Para petani mulai menjemur padi dan memasukkannya ke dalam lumbung. Sedangkan menurut rasi bintang adalah masanya bintang tagih dengan tanda alam yang disebut pandhawa (Gustaman, 2020). Tanda-tanda alam pada masa ini adalah angin yang berhembus dari sebelah timur dengan keras dan tidak terputus-putus. Hawa sebentar-sebentar terasa dingin dan panas. Tanah terpecah-pecah dan pohon kayu menjadi layu. Orang-orang sakit demam.

Berdasarkan data berupa kutipan naskah beserta pendapat para ahli tersebut dapat diketahui bahwa hari Anggara Kasih yang jatuh pada masa kedua belas adalah perubahan musim dari penghujan menuju kemarau dengan ditandai hawa dingin yang mulai datang.

B. Mitos Hujan di Hari Anggara Kasih

Hari Selasa Kliwon atau Anggara Kasih tentunya bukanlah hari yang asing lagi bagi masyarakat Jawa. Hari tersebut dipandang memiliki keistimewaan tersendiri dan sering disejajarkan dengan Jumat Legi. Dua hari tersebut pada umumnya mendapat perhatian khusus bagi orang-orang yang mempercayai mitos tertentu. Dengan dipercayainya mitos mengenai dua hari tersebut maka sering kali diadakan ritual atau upacara peringatan sebagai bentuk penghormatan dan wujud rasa syukur khas orang Jawa.

Mitos mengenai hari Anggara Kasih salah satunya dimiliki oleh masyarakat Dusun Sumbergondo Desa Waturejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Masyarakat setempat percaya bahwa hari Anggara Kasih memiliki kekuatan alam tersendiri. Hari tersebut sangatlah istimewa karena tidak selalu ada di setiap bulannya. Hari Anggara Kasih akan terulang setelah 35 hari, sedangkan dalam satu bulan hanya ada sekitar 29 sampai dengan 30 hari saja. Oleh karena itu hari Anggara Kasih yang dipercaya memiliki kekuatan tersendiri itu dirasa sangat istimewa kedatangannya. Sedangkan bulan yang tidak ada hari Anggara Kasihnya dianggap sebagai bulan yang suwung. Adapun makna hari Anggara Kasih berdasarkan hasil wawancara adalah sebagai berikut:

(16)

“Anggara Kasih menika kedadosan saking tumbuking dinten saptawara Selasa utawi Anggara kalihan pancawara Kasih utawi Kliwon saben 35 diten sepindhah. Dinten menika mujudaken dinten kagem nglampahi pamujan rasa tresna asih dhumateng dhiri pribadi ugi panyuwunan dhumateng Gusti. Dene cara ingkang saged dipunlampahi salah satunggalipun lumantar meneng utawi ening, saengga saged ngraosaken sih tresnanipun jagad agung.” (Mbah Raji, 12 Desember 2020)

Artinya:

“Anggara Kasih itu terjadi karena pertemuan hari Selasa atau Anggara dan hari Kasih atau Kliwon setiap 35 hari sekali. Hari tersebut merupakan hari untuk mewujudkan rasa kasih sayang kepada diri sendiri dan permohonan kepada Tuhan. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan berdiam diri atau hening, sehingga dapat merasakan kasih sayang dari alam semesta.” (Mbah Raji, 12 Desember 2020)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwa hari Anggara Kasih merupakan hari kasih sayang bagi orang Jawa. Rasa kasih sayang tersebut dapat dirasakan oleh setiap individu dengan melaksanakan hening. Kekuatan besar dari alam dapat dirasakan oleh semua makhluk termasuk manusia. Rasa kasih sayang tersebut dipercaya dapat menumbuhkan rasa damai dan sejahtera.

Sebagai hari yang diistimewakan Anggara Kasih juga dianggap sakral. Hari tersebut dipandang sebagai hari baik untuk memanjatkan doa. Sebagaimana orang yang saling mengasihi maka permintaan pun juga akan dikabulkan. Begitu pula dengan kepercayaan masyarakat. Orang yang memanjatkan doa dengan tulus akan mudah terkabul karena rasa kasih-Nya. Hal ini berkaitan dengan hari raya umat Hindu yang sering kali bertepatan pada hari Anggara Kasih. Hal tersebut dikarenakan umat Hindu mempercayai bahwa Anggara Kasih adalah hari yang suci (Aprilia et al., 2019).

Berkaitan dengan mitos yang dipercaya masyarakat setempat mengenai hari Anggara Kasih tersebut, ada pula mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat mengenai hujan yang bertepatan dengan dua hari istimewa yaitu Jumat Legi dan Selasa Kliwon/Anggara Kasih. Hujan yang terjadi pada dua hari tersebut diyakini sebagai pertanda dari alam mengenai musim yang sedang dan akan berlangsung. Adapun mitos ini didapatkan berdasarkan hasil wawancara yang kutipannya adalah sebagai berikut:

“Udan Slasa Kliwon kuwi padha karo Jemuwah Legi. Kena didadekake tetenger. Yen wiwitan kuwi tetenger tekane rendheng, yen wis rendheng tengere deres-derese udan.” (Mbah Nasri, 14 Desember 2020)

(17)

Artinya:

“Hujan di hari Selasa Kliwon (Anggara Kasih) sama dengan (hujan pada hari) Jumat Legi. Dapat dijadikan sebagai penanda. Jika di awal sebagai tanda datangnya musim penghujan, jika sudah hujan sebagai tanda deras-derasnya hujan.” (Mbah Nasri, 14 Desember 2020)

Hasil dari wawancara tersebut menunjukkan mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat mengenai hujan yang terjadi pada hari Anggara Kasih. Hujan yang turun pada hari kasih sayang dipercaya memberikan tanda kepada dunia seisinya mengenai musim sebagai wujud dari kasih sayang itu sendiri. Tanda tersebut meliputi perubahan musim yang berupa turunnya hujan permulaan dan hujan lebat.

Hujan yang jatuh ke bumi bertepatan dengan hari Anggara Kasih pada musim pancaroba ditengarai sebagai penanda datangnya musim penghujan. Sedangkan hujan di hari Anggara Kasih ketika sudah berada pada musim penghujan ditengarai sebagai penanda puncak hujan. Pada puncak hujan ini biasanya hujan turun dengan sangat deras. Pada umumnya hujan tersebut disertai dengan angin, petir, atau banjir. Selain itu tanda lain adalah hujan gerimis yang awet sejak pagi hingga petang.

Selain mitos-mitos tersebut, dalam buku (Kitab Primbon Bentaljemur Adammakna, 2016) terdapat pokok bahasan mengenai perhitungan hujan. Di dalam buku tersebut disebutkan bahwa petungan akeh utawa larange udan yang berarti banyak sedikitnya hujan pada setiap tahunnya dapat diketahui berdasarkan jatuhnya bulan Sura. Apabila hari pertama pada bulan Sura tersebut bertepatan dengan hari Selasa maka disebut sebagai Anggara rekata. Adapun simbolnya adalah kepiting. Kepiting merupakan hewan yang hidup di dua alam, yaitu darat dan air. Akan tetapi kepiting lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam air. Dengan demikian tahun tersebut dipercaya murah udan dan menjadikan tanaman tumbuh dengan cepat.

Kesimpulan

Anggara Kasih atau Selasa Kliwon merupakan hari yang istimewa bagi orang Jawa karena dianggap sebagai hari kasih sayang. Di dalam Serat Pawarsakan terdapat beberapa data mengenai hujan yang turun bertepatan dengan hari Anggara Kasih. Hujan tersebut dapat dijadikan sebagai penanda awal turunnya hujan, pergantian musim, puncak musim penghujan, datangnya badai dan banjir. Setiap tanda mengenai musim tersebut disertai dengan keadaan alam yang dapat disaksikan secara langsung oleh manusia.

Masyarakat Jawa sangat kental dengan kepercayaannya sehingga memiliki mitos tersendiri terkait hari Anggara Kasih. Sebagai lambang hari kasih sayang Anggara Kasih kerap dijadikan sebagai hari untuk melaksanakan hening, yaitu berdiam diri untuk dapat merasakan kasih sayang dari alam semesta karena percaya bahwa Anggara Kasih memiliki kekuatan tersendiri. Dalam kaitannya dengan hujan, Anggara Kasih juga menyimpan suatu hal unik. Hujan yang turun pada hari tersebut dapat dipercaya sebagai penanda musim sebagaimana hujan yang jatuh pada hari Jumat Legi. Kekayaan

(18)

nusantara khususnya Jawa baik berupa naskah maupun mitos atau kepercayaan masyarakat ini harusnya dapat dijadikan sebagai bahan bagi masyarakat Jawa untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi fenomena alam tersebut. Hal ini dikarenakan isi dari naskah peninggalan leluhur menunjukkan bahwa keberadaannya masih relevan dengan keadaan alam yang ada pada masa sekarang.

(19)

Bibliografi

Achmad, S. (2019). Sistem Penanggalan Dalam Serat Mustaka Rancang (Suntingan Teks dan Analisis Isi Naskah Koleksi Warsadiningrat). Semarang. Universitas Diponegoro.

Agustina, S. (2021). Pola Bintang Dalam Pandangan Nyctophilia Pada Busana Outer Wear. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Aprilia, N. K., Andayani, N. M., & Ayustini, N. L. (2019). Pengaruh Aktivitas Upacara Keagamaan Umat Hindu Terhadap Perekonomian Pedagang Di Pasar BadunG. Jurnal Bakti Saraswati (JBS): Media Publikasi Penelitian Dan Penerapan Ipteks, 8(2), 155–162.

Badrudin, A. (2014). Pranata Mangsa Jawa (Cermin Pengetahuan Kolektif Masyarakat Petani di Jawa). Adabiyyāt: Jurnal Bahasa Dan Sastra, 13(2), 229–252.

Badrulzaman, A. I., & Kosasih, A. (2019). Teori Filologi Dan Penerapannya Masalah Naskah-Teks Dalam Filologi. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, 9(2), 1– 25.

Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: CAPS. Center for Academic Publishing Service, 2(2).

Fathurahman, O. (2015). Filologi Indonesia Teori dan Metode. Jakarta. Prenada Media.

Gustaman, B. (2020). Kalender Petani Dan Sumber Pengetahuan Tentang Musim Tanam. Metahumaniora, 10(2), 161–171.

Harini, S., & Wicaksono, A. G. (2019). Manfaat Penggunaan Pranata Mangsa Bagi Petani Desa Mojoreno Kabupaten Wonogiri. Jurnal Inada: Kajian Perempuan Indonesia Di Daerah Tertinggal, Terdepan, Dan Terluar, 2(1), 82–97.

Kitab Primbon Bentaljemur Adammakna. (2016). Tuhan, Manusia, dan Alam: Analisis Kitab Primbon Atassadhur Adammakna. Shahih: Journal of Islamicate Multidisciplinary, 1(1), 13–26.

Lim, S. (2021). Feng Shui: Kisah Langit Manusia Bumi. Gramedia Pustaka Utama. Mauliddin, A. I. (2018). Telaah kritis makna hujan dalam Alquran. Al Quds: Jurnal

Studi Alquran Dan Hadits, 2(1), 87–102.

Putri, S. T., Fitriana, L. A., & Ningrum, A. (2015). Studi komparatif sistem penanggalan Jawa Pranata Mangsa dan sistem penanggalan Syamsiah yang berkaitan dengan sistem musim. Jurnal Pendidikan Keperawatan Indonesia, 1(1), 1–6.

Rusnandar, N. (2017). Pranata Pendidikan Pada Upacara Ngeuyeuk Seureuh, Upacara Masa Kehamilan, Dan Ngasuh Budak. Patanjala, 9(1), 31–44.

(20)

Sobirin, S. (2018). Pranata Mangsa Dan Budaya Kearifan LINGKUNGAN. Jurnal Budaya Nusantara, 2(1), 250–264.

Wulandari, Y., & Purwanto, W. E. (2017). Kelayakan aspek materi dan media dalam pengembangan buku ajar sastra lama. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 3, 162–172.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian survei merupakan proses penelitian kuantitatif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang sikap, perilaku dan karakteristik populasi yang diperoleh

Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan media game Quizizz untuk meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar peserta didik dalam pelajaran

1) Kebijakan ujian nasional berbasis komputer, manajemen personalia ujian nasional berbasis komputer, manajemen sarana dan prasarana ujian nasional berbasis komputer,

masalah sinergi, kapasitas dan kapabilitas, komitmen pemimpin, dan suasana pembelajaran yang memberdayakan. Beberapa pengukuran dan pemetaan lanjutan masih perlu

Dari hasil penelitian ini juga diharpkan mempunyai kontribusi besar untuk menginspirasi pimpinan lembaga pendidikan dalam memanfaatkan literasi digital kedalam

Ketiga, penggunaan bahasa indonesia sesuaikan dengan pedoman EYD yang baik agar semua orang baik anak-anak yang belum mengerti, orang tua yang bermain media sosial

Hasil dari penelitian diatas bisa disimpulkan bahwa perhatian orang tua sudah memberikan imbas positif terhadap peningkatan akibat belajar anak atau peserta didik

Selain itu pendidikan berbasis multikulturan juga dapat dijadikan sebagai alat yang penting dalam mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang atas bangsanya