1
TERM OF REFERENCE (TOR)
SEMINAR NASIONAL ONLINE KEBIJAKAN PENERBANGAN DAN ANTARIKSA VI (WEBINAR KPA VI) TAHUN 2021
1. Pendahuluan
Keantariksaan merupakan kegiatan penggunaan teknologi dan aplikasi antariksa yang sangat melekat manfaatnya pada masyarakat modern. Sifat kegiatan antariksa yang berbiaya tinggi, berteknologi tinggi, beresiko tinggi, serta bersifat guna ganda menjadikan wacananya terbatas dalam ranah elite. Padahal, keantariksaan pun menjadi pertahanan terdepan bagi kekuatan global untuk bersaing dan menciptakan dominasi dalam persaingan dan kerja sama. Teknologi antariksa yang sangat kompleks telah menawarkan pengakuan internasional, status, dan proyek soft-power yang dikehendaki satu negara. Oleh sebab itu, saat ini hampir seluruh negara menggunakan dan mengembangkan keantariksaan dengan manfaatnya yang berkelindan antara sipil dan militer.
Bahkan, di abad 21 perkembangan aktor keantariksaan tidak hanya terpaku pada aktor negara, tetapi juga aktor non-negara. Peningkatan jumlah dan jenis aktor keantariksaan tentunya berdampak pada kompleksitas upaya menjaga keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan kegiatan keantariksaan. Meskipun, kegiatan ini berjalan dengan prinsip bertujuan damai bagi kemaslahatan seluruh umat manusia sebagaimana tercantum dalam Outer Space Treaty 1967. Namun, ketidakpastian perilaku negara sebagai aktor yang berdaulat dalam menjamin tiadanya penyalahgunaan kapabilitas keantariksaan memerlukan adanya promosi kerja sama internasional dalam bingkai diplomasi keantariksaan.
Diplomasi keantariksaan digambarkan sebagai upaya membangun kemitraan dan memperkuat kerja sama internasional di sektor antariksa dalam mekanisme tata kelola efektif dan inklusif. Diplomasi keantariksaan menjadi hal penting dan mendesak dalam ketidakpastian perilaku negara terhadap kapabilitas keantariksaanya dalam menjamin lingkungan antariksa yang selamat, aman, dan lestari. Diplomasi keantariksaan bersifat unik menghadapi keterbatasan dan kelebihan masing-masing negara di arena permainan daya tawar. Umumnya diplomasi ini menjelma sebagai instrumen dalam menjamin keberlanjutan pembangunan keantariksaan sehingga semakin populer sebagai sumber soft-power. Implementasinya dalam berbagai bentuk seni dan praktik pemanfaatan antariksa untuk urusan luar negeri dan memajukan kepentingan nasional. Secara timbal balik, pembangunan antariksa menjadi penopang hubungan internasional dan diplomasi, dengan dimensi simbolis, pragmatis, dan instrumental.
Literasi diplomasi keantariksaan sudah semakin populer pembahasannya di level internasional. Tercermin pada pertemuan high level forum yang tidak pernah melewatkan sesi diplomasi keantariksaan setiap tahun sejak 2015. Muncul dan berkembangnya istilah diplomasi keantariksaan tersebut tidak terlepas dari hasil UNISPACE+50 yang mendorong Space2030 Agenda dengan isi didalamnya terdapat pilar diplomasi keantariksaan (Space Diplomacy). Space2030 Agenda akan menjadi pedoman penggunaan teknologi dan aplikasi antariksa di sistem PBB serta di seluruh negara dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Pembangunan suatu negara akan sulit tanpa melibatkan atau berinteraksi dengan dunia internasional baik secara multilateral maupun bilateral, maka yang perlu dilakukan adalah mendorong dan memperkuat kerjasama dalam kerangka diplomasi keantariksaan. Diplomasi keantariksaan mengakui pentingnya kemitraan global dan kerjasama yang diperkuat antara negara-negara anggota, antar pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat, industri dan sektor swasta dalam memenuhi pembangunan berkelanjutan. Setiap negara menghadapi tantangan khusus dalam pembangunan berkelanjutan contohnya Indonesia. Indonesia, negara yang digolongkan ambivalen dalam kapabilitas keantariksaan, karena tergolong maju dalam tata kelola keantariksaan nasional sekaligus tergolong berkembang dalam penguasaan teknologi keantariksaan. Ditambah dengan letak astronomis dan kondisi geografis, Indonesia menjadi negara potensial dan strategis dalam keantariksaan. Karakteristik tersebut menjadi modal bagi Indonesia dalam penguatan diplomasi keantariksaan sehingga dapat meningkatkan keberagaman akses pemanfaatan antariksa meskipun Indonesia masih tergolong negara antariksa yang sedang berkembang (Emerging Space Nations), terutama untuk pembangunan berkelanjutan guna meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan demikian, saat ini adalah momentum penggunaan diplomasi keantariksaan sebagai instrumen pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
2
Rencana pembangunan Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang diturunkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 menyasar pada percepatan pembangunan di berbagai bidang dengan mengarusutamakan pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Berdasarkan misi tersebut, pembangunan bidang antariksa yang berkelanjutan menjadi arah kebijakan dan strategi dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) 2020-2024. Lebih jauh dalam RENSTRA Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (PUSKKPA) LAPAN 2020-2024 melalui visi yaitu penggerak sektor-sektor pembangunan nasional berbasis kebijakan penerbangan dan antariksa, salah satunya melalui sarana dan prasarana diplomasi keantariksaan.
Diplomasi keantariksaan Indonesia berasal dari proses-proses politik yang dipengaruhi oleh berbagai faktor dari dalam dan luar negeri. Faktor tersebut antara lain: lingkungan strategis, isu, dan kolaborasi yang dijabarkan dalam ruang lingkup pembangunan keantariksaan Indonesia melalui rencana induk keantariksaan Indonesia dalam Peraturan Presiden No. 45 Tahun 2017 sebagai turunan dari Undang-Undang Keantariksaan No. 21 tahun 2013. Serangkaian proses tersebut memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan keantariksaan nasional sehingga diplomasi keantariksaan Indonesia bersifat komprehensif, inklusif, serta mencapai target. Dengan demikian, dibutuhkannya para pemangku kepentingan dalam kemitraan yang kolaboratif, menguatkan aktualisasi diplomasi keantariksaan untuk mencapai keseimbangan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. 2. Tema dan Tujuan Seminar Online (Webinar)
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka Pusat KKPA akan menggelar Seminar Nasional Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (SINAS KPA V) (online) dengan tema: “Diplomasi Keantariksaan sebagai Instrumen untuk Menuju Pencapaian Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan”, dengan sub-tema sebagai berikut:
1. Keantariksaan dalam Lanskap Geopolitik dan Geoekonomi Kawasan Indo-Pasifik dan Global 2. Tata Kelola dan Pengaturan Isu Strategis Keantariksaan dalam NewSpace Era
3. Peran Keantariksaan dalam Transformasi Masyarakat 5.0
4. Kerja Sama Internasional Penerbangan dan Keantariksaan untuk Pembangunan Nasional Berkelanjutan
3. Uraian Teknis Pelaksanaan Kegiatan
a. Tempat dan Hari/Tanggal Pelaksanaan SINAS KPA VI :
Akan diadakan berbasis Webinar (Seminar Online) selama dua hari pada tanggal 15-16 September 2021
Sebelumnya diselenggarakan Webinar Pre-Seminar: 1. topik 1,2,3 (Juli 2021)
2. topik 4 (Juni 2021)
b. Peserta
Sekitar 200 peserta yang terdiri dari peneliti Pusat KKPA, perwakilan satuan kerja LAPAN lainnya, Kementerian/Lembaga terkait, perguruan tinggi dan lembaga riset, industri, lembaga swadaya masyarakat maupun perorangan, serta organisasi internasional.
c. Pemakalah dan Teknis Pelaksanaan Kegiatan
1) Pemakalah terdiri dari Keynote speakers, Invited Speaker, dan call for papers (a) Keynote speakers
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Badan Riset dan Inovasi Nasional
FISIP UI LIPI UNESCAP
3 Komisi 1 DPR RI
Duta SDGs (b) Invited speakers
Kementerian/Lembaga Litbang terkait Industri
Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa LAPAN FISIP UI (Ali A. Wibisono, Ph.D) dan Perguruan Tinggi lainnya Satker LAPAN yang relevan
(c) Call for paper
Satker LAPAN yang relevan
Kementerian/Lembaga Litbang terkait Perguruan Tinggi
Industri Umum
2) Teknis Pelaksanaan Kegiatan
Webinar ini akan berlangsung selama dua hari dengan susunan kegiatan yang terdiri dari sesi pleno dan paralel.
(a) Sesi Pleno
Hari Pertama
Dalam sesi pleno, diawali dengan sesi opening oleh Kepala LAPAN dan Rektor UI, dilanjutkan dengan pemaparan keynote speaker yang akan diisi oleh:
1. Retno Lestari Priansari Marsudi (Menteri Luar Negeri RI) 2. Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc (Kepala BRIN)
3. Meutya Viada Hafid (Ketua Komisi 1 DPR RI)
4. Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, SE., MA (Executive Secretary of the Economic and Social Commission for Asia and the Pacific - UNESCAP) Hari Kedua
Dalam sesi pleno, diawali dengan sesi opening oleh Kepala Pusat KKPA LAPAN, dilanjutkan dengan pemaparan keynote speaker yang akan diisi oleh:
1. Prof. Dewi Fortuna Anwar (LIPI)
2. Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc (Dekan FISIP UI) 3. Gracia Billy Mambrasar, S.T., M.Sc (Duta SDGs) (b) Sesi Paralel
Dilaksanakan pada hari pertama dan kedua setelah sesi Pleno dan akan diisi pemaparan invited speakers dan peserta call papers sesuai topik melalui online.
d. Makalah yang dipresentasikan pada SINAS KPA VI akan diterbitkan ke dalam Prosiding SINAS KPA VI, dan makalah terpilih akan direkomendasikan untuk diterbitkan di Jurnal Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa (KKPA), LAPAN dan Jurnal Terakreditasi Universitas Indonesia melalui prosedur yang ditetapkan oleh Jurnal Global.
e. Jadwal Kegiatan
Kegiatan Jadwal
Pengumuman Abstrak (call for papers) 15 Juni 2021
Batas Pengumpulan Abstrak 15 Juli 2021
4
Batas Pengumpulan Makalah Lengkap 1 September 2021 Batas Pengumpulan Bahan Presentasi 8 September 2021
f. Tim Pelaksana Kegiatan
Pelaksanaan SINAS KPA VI dilakukan oleh Tim Kepanitiaan, yang terdiri dari perwakilan Pusat KKPA LAPAN dan FISIP UI.
g. Biaya
5
TIM PELAKSANA
SEMINAR NASIONAL KEBIJAKAN PENERBANGAN DAN ANTARIKSA VI-TAHUN 2021 (SINAS KPA VI-2021)
Pembina : Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (Kepala LAPAN) Pengarah : Ketua
Dr. Robertus Heru Triharjanto, M.Sc (Kepala Pusat KKPA LAPAN) Anggota
PUSKKPA
Ir. Agus Hidayat, M.Sc Dr. Mardianis, S.H., M.H Shinta R. Diana, S.E, M.Si Dra. Euis Susilawati, M.Si
Dr. Arie Setiabudi Soesilo, M.Sc (Dekan FISIP UI) Asra Virgianita, Ph.D (Ketua Departemen HI FISIP UI) Penanggung Jawab : Dr. Robertus Heru Triharjanto, M.Sc
Ketua Pelaksana : Yunita Permatasari, M.Si
Wakil Ketua : Annisa D. Amalia, M.I.R., FISIP UI Sekretaris : Agil Sutrisnanto, S.E
Sekretariat dan LO : 1. Silvia Cahayani Lase, S.E 2. Inka Winarni Mufdalifah, S.E Mahasiswa S2 HI FISIP UI, LO Sie Makalah dan Prosiding : 1. Totok Sudjatmiko, S.Sos, M,Si
2. Yunita Permatasari, S.IP., M.Si 3. Runggu Prilia Ardes, S.H., LL.M 4. Intan Perwitasari, S.E., M.E 5. Mega Mardita, M.Si (KSHU) 6. Emsa Ayudia Putri, S.IP
7. El Renova Everyday Siregar, S.H Sie Acara : 1. Melissa R. Kusumaningtyas, S.Sos
2. Agil Sutrisnanto, S.E 3. Emsa Ayudia Putri, S.IP
4. Aisha R. Kusumasoemantri, M.Sc, HI FISIP UI 5. Mahasiswa S2/S1 HI FISIP UI
Sie Keuangan : 1. Taswadi, S.T. 2. Mulyadi, A.Md 3. Agil Sutrisnanto, S.E 4. Amirih
5. Mutia, S.E Sie IT dan Support Sistem : 1. Supriadi, S.Kom
2. Antonia R. R. Wibowo, S.S., M.A. 3. Stevani Anggina, S.Si., M.A. 4. Ida Ayu Tita Rahma.W, LL.M. 5. Desi Triwahyuni, S.I.A. 6. Ivan Sanjaya, HI FISIP UI 7. Fajar, FISIP UI
Moderator Paralel : 1. HI FISIP UI (Dwi Ardhanariswari, Ph.D., Broto Wardoyo, Ph.D. Yandri Kurniawan, Ph.D., Yeremia Lalisang, Ph.D. Agung Nurwijoyo, M.A.)
6
Notulis : 1. Mahasiswa S2/S1 HI FISIP UI
2. Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa Ketua Komite Makalah : Dini Susanti, S.Kom, M.Si
Internal Reviewer : 1. Dr. Mardianis, S.H., M.H 2. Dini Susanti, S.Kom, M.Si 3. Totok Sudjatmiko, S.Sos, M,Si 4. Diogenes, S.H., M.Pub
5. Shinta Rahma Diana, S.E., M.Si
Eksternal Reviewer : 1. Asra Virgianita, M.A, Ph.D (Universitas Indonesia) 2. Avyanthi Azis, M.S (Universitas Indonesia) 3. Rakhmat Syarip, M.Sc. (Universitas Indonesia)
4. Darang Sahdana Candra, M.I.A. (Universitas Indonesia) 5. Muhammad Arif, M.Sc. (Universitas Indonesia)