• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Kegiatan Bulan Mei

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Kegiatan Bulan Mei"

Copied!
67
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 2

LAPORAN KEGIATAN

BULAN MEI

DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN

KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS

(3)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 3

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... 3

DAFTAR TABEL ... 6

DAFTAR GAMBAR ... 7

DAFTAR SINGKATAN ... 8

BAB I PENDAHULUAN ... 10

BAB II KEGIATAN INTERNAL ... 11

2.1 Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan ... 11

2.2 Kegiatan Utama ... 12

2.2.1 Konsinyering Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan... 12

2.2.2 Pembahasan Draft 0 RPJMN ... 12

2.2.3 Kajian Pemantauan Pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2013 dan 2014... 14

2.2.4 Kegiatan Kunjungan Lapangan Akselerasi Penyelesaian RZWP-3-K ... 14

2.2.5 Knowledge Management (KM) ... 15

2.2.6 Kajian Penyusunan RPJMN 2015-2019 bidang Tata Ruang dan Pertanahan ... 15

2.2.7 Persiapan Konsinyasi Direktorat TRP di Malang dan Kegiatan Pemantauan Pelaksanaan RKP ... 16

2.2.8 Konsinyasi Pembahasan Kegiatan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan.. 16

2.3 Review kegiatan Direktorat TRP hingga April 2014 ... 16

2.3.1 Sekretariat BKPRN ... 16

2.3.2 Subdit Pertanahan ... 17

2.3.3 Sekretariat RAN ... 17

2.3.4 Subdit Tata Ruang ... 18

2.3.5 Subdit Pertanahan ... 18

2.4 Pembahasan Renstra Direktorat TRP ... 19

2.5 Pembahasan Anggaran 2014 Direktorat TRP... 19

2.6 Pembahasan TOR kegiatan Tahun Anggaran 2015 Direktorat TRP ... 19

2.7 Rapat Koordinasi Pembahasan Program Agraria Daerah (PRODA) Provinsi Kalimantan Timur ... 20

2.8 Kegiatan Pendukung ... 21

2.8.1 Perumusan Peran dan Pentingnya UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional dalam Sistem Perencanaan Nasional ... 21

(4)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 4

2.8.3 Diskusi Persiapan FGD SCDRR ... 24

2.8.4 Diskusi Persiapan FGD SCDRR (lanjutan) ... 25

2.8.5 Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal (KKDT) ... 25

2.8.6 Rapat Koordinasi BKPRN Tingkat Eselon II (Sosialisasi Tata Batas Kawasan Hutan) ... 26

2.8.7 Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Kemendagri ... 27

2.8.8 Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Tata Ruang ... 28

2.8.9 Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Pertanahan ... 29

2.8.10 Lesson Learned Penyelesaian Kasus Pertanahan Harjo Kuncaran Malang (Pemantauan Reforma Agraria) ... 31

BAB III KEGIATAN EKSTERNAL... 32

3.1 Finalisasi Rancangan Peraturan Presiden tentang Batas Sempadan Pantai (BSP) .... 32

3.2 Permintaan keterangan mengenai SK Menhut No. SK. 463/Menhut-II/2013 tentang Perubahan Perutukan dan Fungsi Kawasan Hutan di Provinsi Kepulauan Riau ... 33

3.3 Rapat FGD High Speed Railway Jakarta-Bandung ... 34

3.4 Rapat Pemantauan dan Evaluasi Inpres 5/2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim ... 34

3.5 Sosialisasi Tata Cara Pengajuan Usulan Angka Kredit ... 35

3.6 Sosialisasi Nasional Pra-SeHATKan 2014 ... 35

3.7 Rakornas BKPRD Tahun 2014 ... 36

3.8 Rapat Koordinasi Sub Tim Kawasan Budidaya Tim Pelaksana Peninjauan Kembali (PK) RTRWN ... 37

3.9 FGD Fasilitasi Akselerasi Penyelesaian Perda RZWP3K dan Integrasinya dengan RTRW ... 38

3.10 FGD dan Kunjungan Lapangan Fasilitasi Akselerasi Penyelesaian RZWP-3-K ... 39

3.11 Rapat Pimpinan Eselon 1 dan 2 ... 40

3.12 Pemaparan Program Kerja Tim Analisa Kebijakan (TAK ) Tahun 2014 ... 41

3.13 Rapat Pembahasan Kegiatan P2KPB ... 41

3.14 Pembahasan Outline Buku III RPJMN 2015-2019 ... 42

3.15 Rapat Dewan Redaksi Buletin Tata Ruang ke-II (Edisi 3 dan 4) ... 43

3.16 Konsultasi Publik dalam rangka Peninjauan Kembali RTRWN Sumatera, Jawa, Bali, NT dan Kalimantan ... 44

3.17 Rapat Koordinasi Gugus Tugas Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2014 ... 45

3.18 Pameran Kerjasama Pembangunan antara Indonesia dan Asian Development Bank (ADB) ... 46

(5)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 5

3.19 FGD Housing Microfinance dan Mortgage Market ... 46

3.20 Akselerasi Penyelesaian Perda RZWP3-K dan Integrasinya dengan RTRW... 47

3.21 Sosialisasi Perpres No. 88/2011 tentang RTR Pulau Sulawesi ... 49

3.22 Rapat Koordinasi Sub Tim Jaringan Prasarana Tim Pelaksana Peninjauan Kembali (PK) RTRWN ... 49

BAB IV RENCANA KEGIATAN BULAN MEI 2014 ... 51

BAB V PENUTUP ... 53

(6)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 6

DAFTAR TABEL

(7)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 7

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Rencana dan Realisasi Penyerapan Anggaran Dit. Tata Ruang dan Pertanahan ... 11

Gambar2. Persiapan Konsinyasi Direktorat TRP di Malang dan Kegiatan Pemantauan Pelaksanaan RKP ... 16

Gambar 3. Pembahasan TOR Kegiatan Tahun Anggaran 2015 ... 20

Gambar 4. Rapat Koordinasi Program Agraria Daerah (PRODA) ... 21

Gambar 5. Penyusunan Pengelolaan Ruang Udara Nasional ... 22

(8)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 8

DAFTAR SINGKATAN

BAPPENAS : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BIG : Badan Informasi Geospasial

BKPRD : Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah BKPRN : Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional BNPB : Badan Nasional Penanggulangan Bencana BP : Badan Pengembangan

BPN : BadanPertanahanNasional DIRJEN : Direktorat Jenderal

FGD : Focus Group Discussion INPRES : Instruksi Presiden INFOSOS : InformasidanSosialisasi K/L : Kementerian/Lembaga

KAPET : Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu KEMHUT : Kementerian Kehutanan

KKDT : Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal KKP : Kementerian Kelautan dan Perikanan KLH : Kementerian Lingkungan Hidup KLHS : Kajian Lingkungan Hidup Strategis KSN : Kawasan Strategis Nasional

LP2B : Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan LH : Lingkungan Hidup

LS : Lungsum Salary MIT : Middle Income Trap

NSPK : Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria NSP : Norma, Standar, Prosedur

PERMEN : Peraturan Menteri PERPRES : PeraturanPresiden PK : Peninjauan Kembali

PMK : Peraturan Menteri Keuangan POKJA : Kelompok Kerja

PP : Peraturan Pemerintah PPK : Pejabat Pembuat Komitmen PRB : Pengurangan Resiko Bencana PU : Pekerjaan Umum

PUSDATIN : Pusat Data dan Informasi RAINPRES : Rancangan Instruksi Presiden RAKORNAS : Rapat Koordinasi Nasional RAKORTEK : Rapat Koordinasi Teknis RAN : Reforma Agraria Nasional RDTR : Rencana Detail Tata Ruang RENAKSI : Rencana Aksi

RPI2JM : Rencana Program Investasi Infrastruktur Jangka Menengah RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

RTR : Rencana Tata Ruang

(9)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 9 RTRWK : Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

RTRWN : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWP : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi RUU : Rancangan Undang-Undang

RZWP3K : Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil SARBAGITA : Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan

SATKER : Satuan Kerja

SCDRR : Safer Community through Disaster Risk Reduction SDA : Sumber Daya Alam

SDM : Sumber Daya Manusia SK : Surat Keputusan

SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah SOP : Standard, Operating and Procedure TA : Tahun Anggaran

TOL : Tanah Objek Landreform TRP : Tata Ruang dan Pertanahan TUP : Tambahan Uang Persediaan UKM : Usaha Kecil Menengah

UKP4 : Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan UP : Uang Persediaan

UU : Undang-Undang

(10)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 10

BAB I

PENDAHULUAN

Pada Bulan Mei 2014, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan telah melaksanakan kegiatan utama berupa; (i) Konsinyering Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, (ii) Konsinyasi Pembahasan Kegiatan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan serta (iii) Rapat Koordinasi Pembahasan Program Agraria Daerah (PRODA) Provinsi Kalimantan Timur. Disamping itu terdapat pula beberapa kegiatan pendukung meliputi (i) Perumusan Peran dan Pentingnya UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional dalam Sistem Perencanaan Nasional, (ii) Pemaparan Draft ke-0 RPJMN Bidang Tata Ruang dan Pertanahan, (iii) Diskusi Persiapan FGD SCDRR, (iv) Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal (KKDT), (v) Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Kemendagri, (vi) Pemantauan dan evaluasi Pembangunan Bidang Tata Ruang, Pemantauan dan (vii) Evaluasi Pembangunan Bidang Pertanahan, (viii) Sosialisasi Tata Batas Kawasan Hutan dan (ix)Lesson Learned Penyelesaian Kasus Pertanahan Harjo Kuncaran Malang (Pemantauan Reforma Agraria).

Dalam pelaksanaan kegiatan, terdapat beberapa kegiatan yang sudah selesai dan ada pula kegiatan yang masih berlanjut. Kegiatan yang telah selesai terlaksana meliputi: (i) Konsinyering Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, (ii) Konsinyasi Pembahasan Kegiatan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, (iii) Rapat Koordinasi Pembahasan Program Agraria Daerah (PRODA) Provinsi Kalimantan Timur, (iv) Diskusi Persiapan FGD SCDRR Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal (KKDT), (v) Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Kemendagri, (vi) Pemantauan dan evaluasi Pembangunan Bidang Tata Ruang di Jawa Timur, (vii) Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Pertanahan di Jawa Timur, (viii) Sosialisasi Tata Batas Kawasan Hutan dan (ix) Lesson Learned Penyelesaian Kasus Pertanahan Harjo Kuncaran Malang (Pemantauan Reforma Agraria) dan Pemaparan Draf ke-0 RPJMN Bidang Tata Ruang dan Pertanahan. Untuk kegiatan yang masih berlanjut yaitu (i) Perumusan Peran dan Pentingnya UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional dalam Sistem Perencanaan Nasional.

Selanjutnya, pada laporan ini akan dijelaskan secara mendetail kegiatan-kegiatan utama maupun pendukung yang telah dilaksanakan pada Bulan Mei 2014.

(11)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 11

BAB II

KEGIATAN INTERNAL

Untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat pencapaian kinerja atas kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan secara rutin melaksanakan evaluasi kinerja seluruh bagian melalui mekanisme rapat rutin internal yang diselenggarakan setiap minggu dan setiap bulan.

Evaluasi kinerja dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana kerja dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan dimasa yang akan datang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output) dari pelaksanaan rencana kerja. Berikut rangkuman laporan pelaksanaan kegiatan internal baik kegiatan utama maupun kegiatan pendukung.

2.1

Review Anggaran Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan

Selama periode Januari-Maret total anggaran yang dimiliki Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan sebesar Rp. 4.190.409.000,- (RM) dengan target rencana anggaran antara bulan Maret s/d April 2014 adalah sebesar Rp.800.304.465,- (19%), kinerja penyerapan atau realisasi antara bulan Maret s/d April 2014 sebesar Rp. 611.020.365,- (15%). Disamping itu, terdapat kontribusi dari: (i) Kajian sebanyak 4%, (ii) Koordinasi penyusunan rencana sebesar 38%, (iii) Koordinasi strategis RAN sebanyak 10%, (iv) Koordinasi strategis Sekretariat BKPRN sebesar 13% dan (v) Knowledge Management sebesar 13% dan (vi) Pemantauan dan evaluasi sebesar 2%. Adapun nilai-nilai tersebut diperoleh dari mekanisme pencairan : UP dan TUP tahap II. Realisasi digunakan untuk membiayai gaji tenaga kontrak individu dan konsultan, perjalanan dinasserta konsinyering dan FGD. Berikut merupakan diagram rencana penyerapan anggaran Direktorat TRP tahun 2014:

Gambar 1. Rencana dan Realisasi Penyerapan Anggaran Dit. Tata Ruang dan Pertanahan

5 11 19.5 26 32 42.5 46 56 68.5 79 90 100 1 3 12 15 0 20 40 60 80 100

120 Rencana Dan Penyerapan Anggaran Dit TRP 2014

% Rencana % Realisasi

(12)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 12

2.2

Kegiatan Utama

2.2.1 Konsinyering Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan

Konsinyering dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2014 di Hotel Ibis Tamarin Jakarta dengan tujuan untuk membahas beberapa kegiatan yang akan dilakukan oleh Direktorat TRP, yaitu: i) Draft-0 RPJMN bidang Tata Ruang dan Pertanahan; ii) Kegiatan pemantauan dan evaluasi serta kajian kelembagaan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan; serta iii) Rencana konsinyasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan dengan agenda pembahasan Renstra 5 tahun direktorat dan kerangka RAB dan TOR 2015.

2.2.2 Pembahasan Draft 0 RPJMN

Bidang Tata Ruang

Dalam paparan, diusulkan tidak dilakukannya pengelompokan terhadap latar belakang (resume dari arahan RPJMPN 2005-2025, evaluasi RPJMN 2010-2014, dan tantangan bidang Tata Ruang). Subdit Tata Ruang telah mengakomodir beberapa masukan berdasarkan Rapat Koordinasi BKPRN tingkat Eselon II pada tanggal 7 April 2014.

Arah Kebijakan 1: Indikator output yang diharapkan dari Strategi “Penginternalisasian

kebijakan sektoral dalam NSPK bidang tata ruang”, adalah tersusunnya NSPK bidang tata ruang yang memuat berbagai substansi RTRW misalnya RZWP-3-K dan LP2B, yang telah terintegrasi menjadi 1 (satu) pedoman yang penyusunannya dikoordinasikan oleh Kementerian PU. Direktur TRP memandang bahwa ide penyusunan NSPK yang terintegrasi baik, tetapi tidak yakin dalam 5 (lima) tahun ke depan ide ini dapat terealisasi karena misalnya substansi yang terkait ruang wilayah pesisir dan kehutanan relatif lebih sulit untuk diintegrasikan karena masing-masing memiliki Undang-Undang, berbeda halnya dengan KLHS ataupun wilayah perbatasan yang relatif lebih mudah diintegrasikan.

Arah Kebijakan 2: Terkait dengan kerangka kelembagaan, tidak hanya Kemendagri

yang berperan, tetapi memang secara dominan arah kebijakan 2 merupakan tupoksi Kemendagri. Dalam Draft 0 RPJMN ini membatasi diri hanya dua kementerian yaitu Kementerian PU dan Ditjen Bangda Kemendagri. Tetapi terdapat beberapa program yang memasukkan K/L lain seperti KKP dan BNPP. Perlu didiskusikan dengan Kemendagri mengenai Strategi “Optimalisasi Kinerja BKPRN-BKPRD”, karena saat ini terkait kinerja BKPRN dan BKPRD sampai saat ini hanya penyelenggaraan Raker dan Rakernas.

Arah Kebijakan 3: Perlu ada sertifikat bagi penyusun RTR agar produk RTR yang

dihasilkan sesuai dengan standart karena selama ini yang menyusun RTRW bukan pemerintah provinsi/kabupaten/kotanya secara langsung tetapi konsultan. Untuk pendanaan Strategi “Percepatan penyelesaian RTR KSN, RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota dan Rencana Rinci Tata Ruang”, diusulkan melibatkan swasta khususnya terkait penyediaan SDM perencana yang bersertifikat. Untuk Strategi “Meningkatkan kerjasama antarnegara di kawasan perbatasan”, agar melibatkan LSM karena memang ada LSM yang aktif secara langsung seperti Heart of Borneo.

Arah Kebijakan 4: Arah kebijakan ini masuk dalam ranah Bappenas, khususnya

Direktorat TRP. Saat ini kita sedang menyusun pedoman integrasi RTR dengan rencana pembangunan. Selain itu, Kemendagri juga sedang menyusun pedoman integrasi.

(13)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 13

Arah Kebijakan 5: Kebijakan terkait pengendalian pemanfaatan ruang, insentif dan

disinsentif muncul dalam kebijakan ini, termasuk mengenai pelatihan PPNS, sistem informasi serta implementasi Peraturan Pemerintah Peran Serta Masyarakat.

Arah Kebijakan 6: Koordinator pelaksana strategi “Penyusunan Indikator Outcome dan

Baseline Penyelenggaraan Penataan Ruang” adalah Kementerian PU selaku Tim Pelaksana BKPRN. Sistem informasi bidang penataan ruang diharapkan berjalan sehingga pemerintah pusat dapat melihat kinerja penyelenggaraan penataan ruang hingga tingkat daerah.

Bidang Pertanahan

Untuk penyusunan Draft 0 RPJMN bidang Pertanahan telah dilakukan review terhadap kebijakan pertanahan yang ada saat ini meliputi:

Review Peraturan Perundang-undangan terkait bidang pertanahan; Review Arahan RPJPN 2005-2025;

Review pelaksanaan beberapa kegiatan prioritas bidang pertanahan pada periode 2010-2019, antara lain: Penyediaan peta pertanahan; Legalisasi aset tanah masyarakat; Redistribusi tanah; Penyusunan Neraca Penatagunaan Tanah; Inventarisasi dan identifikasi tanah terlantar; dsb.

Review terhadap kondisi eksisting bidang pertanahan seperti maraknya terjadi kasus-kasus pertanahan, ketimpangan penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah dan sebagainya.

Metode yang digunakan dalam penyusunan Draft 0 RPJMN adalah Logical Framework Analysis (LFA).

Kebijakan bidang pertanahan dirancang untuk jangka waktu 20 tahun mendatang berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan Subdit Pertanahan sebelumnya (white paper). Tetapi jangka waktu rancangan kebijakan selama 20 tahun tersebut belum tertulis dalam Draf-0 RPJMN karena saat penulisan, white paper belum mendapatkan persetujuan Menteri Bappenas. Sasaran Pokok Bidang Pertanahan tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:

a. Mengatasi Ketimpangan Pemilikan, Penguasaan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah (P4T) dan Kesejahteraan Masyarakat.

Fokus Prioritas: Redistribusi Tanah dan Access Reform;

Program/Kegiatan: Inventarisasi P4T; Redistribusi Tanah; Penyediaan Access Reform;

b. Kepastian Hukum Hak Masyarakat Atas Tanah;

Fokus Prioritas: Perubahan Sistem Publikasi Pendaftaran Tanah, Percepatan Penyelesaian Kasus-Kasus Pertanahan, dan Kepastian Hak Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat

Program/Kegiatan: Percepatan pembuatan peta dasar pertanahan, Percepatan sertifikasi tanah, Pembentukan pengadilan khusus pertanahan, Inventarisasi tanah masyarakat hukum adat, Pemetaan Tanah Adat Ulayat, dan Advokasi masyarakat adat

c. Meningkatkan Pelayanan Pertanahan; dan

Fokus Prioritas: Peningkatan Kualitas dan Proporsi SDM Bidang Pertanahan

Program/Kegiatan: Penerimaan juru ukur serta Pelaksaan pendidikan dan pelatihan d. Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan Bagi Kepentingan Umum.

(14)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 14 Program/Kegiatan: Pembentukan Bank Tanah

2.2.3 Kajian Pemantauan Pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun

2013 dan 2014

Kajian Pemantauan Pelaksanaan RKP dilakukan dengan melakukan analisa terhadap pencapaian target pada tahun sebelumnya (evaluasi) untuk program Penyelenggaran Penataan Ruang dan Pengelolaan Pertanahan yang dilakukan oleh Pemeritnah Daerah. Sasaran kegiatan Evaluasi Pelaksanaan RKP yaitu identifikasi dana dekonsentrasi yang dilakukan tahun lalu (2013). Tahun ini, penyelenggaraan Kajian Pemantauan Pelaksanaan RKP dilakukan di Provinsi Jawa Timur,.

Mekanisme yang dilakukan dalam kegiatan Pemantauan Pelaksanaan RKP didasarkan pada SOP yang telah kami susun, sebagai berikut:

Penyusunan Surat Kunjungan, KAK, Daftar Pertanyaan dan Kuesioner yang dilakukan pada H-14 (waktu minimal H-10) waktu kegiatan.

Pengiriman Surat Kunjungan, KAK, Daftar Pertanyaan dan Kuesioner melalui fax yang dilakukan pada H-10 (waktu minimal H-5) waktu kegiatan.

Komunikasi lisan via telpon (konfirmasi tanggal pertemuan, contact person, yang hadir dari Direktorat TRP, dan yang menerima di daerah) yang dilakukan pada H-10 sampai H-7 (waktu minimal H-5 sampai H-3) waktu kegiatan.

Pada tanggal pelaksanaan kegiatan, Direktur/Kasubdit/Staf TRP yang ditugaskan melaksanakan pemantauan ke daerah dan melakukan identifikasi data dan informasi. Setelah kegiatan dilakukan, staf memantau proses pengumpulan data dan informasi yang belum diperoleh.

2.2.4 Kegiatan Kunjungan Lapangan Akselerasi Penyelesaian RZWP-3-K

Berdasarkan Agenda Kerja BKPRN 2014-2015 terdapat Program Kerja Fasilitasi penyusunan rekomendasi untuk mensinergikan peraturan perundangan sektoral dengan Kegiatan: Percepatan Penyelesaian Penetapan Perda RZWP3K.

Tujuan kegiatan yaitu menemukenali tantangan dan isu dalam penyusunan serta implementasi Perda RZWP3K dengan sasaran kegiatan berikut: i) Teridentifikasinya kondisi eksisting pengelolaan wilayah pesisir; ii) Teridentifikasinya penyusunan RZWP3K; iii) Teridentifikasinya tindak lanjut implementasi Perda RZWP3K; serta iv) Teridentifikasinya potensi pengintegrasian RTRW dengan RZWP3K.

Diharapkan akan ada best practice daerah yang telah menyusun RTRW dan RZWP3K, sehingga dapat menjadi masukan salah satunya bagi pelaksanaan Program Kerja dan Kegiatan dalam Agenda Kerja BKPRN tersebut, termasuk penyusunan mekanisme integrasi pemberian saran dan/atautanggapan RZWP3K dengan persetujuan substansi RTRW, lebih lanjut penyusunan pedoman integrasi matra darat dan matra laut serta keterlibatan stakeholder.

Adapun pemilihan lokasi dalam kegiatan ini mempertimbangkan: i) karakteristik wilayah, yaitu wilayah pesisir ataukah pulau-kepulauan; ii) daerah yang telah menetapkan RZWP3K; dan ii) daerah yang telah menetapkan RTRW. Kegiatan kunjungan lapangan direncanakan dilakukan di Provinsi Sumatera Barat dan Kabupaaten Gresik yang telah menyatukan RZWP3K dengan RTRW, dan di Kota Ternate yang telah menyusun RZWP3K dan mewakili karekteristik wilayah

(15)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 15 pulau/kepulauan. Sebelumnya telah dilakukan kunjungan lapangan dengan pilot survey di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

2.2.5 Knowledge Management (KM)

Knowledge Management Direktorat TRP dilakukan selama periode Januari-Desember 2014 dengan tujuan mendapatkan pilihan dan prosedur penerapan KM TRP termasuk finalisasi K-Map (Mind K-Map) TRP dan Tekumpulnya Knowledge TRP.

Pada periode Januari-April Subdit Infosos, telah melakukan Workshop KM pada tanggal 20 Maret 2014. Hasil workshop KM pada bulan Meret 2014 disepakati untuk disusunnya K-Map TRP dan pembagian kelompoknya.

Selanjutnya kegiatan KM periode Mei-Juli 2014 yaitu:

Pengumpulan pengetahuan berdasarkan K-Map TRP dan Diskusi perihal Sistem KM direncanakan dilakukan sepanjang bulan Mei hingga Juli 2014.

Memasukan pengetahuan yang telah terkumpul dan kegiatan penetapan tools, teknik dan kebijakan KM TRP direncanakan dilakukan pada bulan Juli 2014

Diskusi Umum perihal K-Map, Tool dan Kebijakan KM TRP dan Sistem KM yang dipakai pada minggu ke 3 bulan Juli 2014.

Diusulkan jadwal pertemuan masing-masing Subdit, Sekretariat BKPRN dan Sekretariat RAN dengan konsultan.

2.2.6 Kajian Penyusunan RPJMN 2015-2019 bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Judul kajian disesuaikan dan diubah menjadi “Kajian Penyusunan RPJMN 2015-2019 bidang Tata Ruang dan Pertanahan”, karena di tahun 2013 Background Study RPJMN telah selesai. Kegiatan dilaksanakan dalam rangka menyusun draft rancang bangun kebijakan RPJMN 2015-2019 yang meliputi narasi dan matriks memuat sasaran, kebijakan, indikator output, outcome, serta perkiraan pendanaan untuk kerangka waktu 5 tahun kedepan.

Adapun metodologi yang akan digunakan dalam kajian ini adalah: i) Metode pelaksanaan kegiatan dengan menggunakan komparasi deskripsi menggunakan alat bantu matriks perbandingan draf 0 RPJMN (komparasi) dengan masukan dan tanggapan; serta ii) Uji bottom up penyusunan RPJMN dengan pelaksanaan FGD dan seminar.

Pelaksanaan FGD perlu disesuaikan dengan anggaran Direktorat, oleh karnanya kami mengusulkan hanya diselenggarakan 2 kali pertemuan dan diutamakan penyelenggaraannya di daerah. Jadwal pelaksanaan kajian ini telah disusun dalam bentuk matrik kegiatan yang secara rinci menjabarkan jadwal pelaksanaan target pekerjaan.

Tenaga Ahli yang akan direkrut harus me-review TOR kajian dan draft 0 RPJMN. Hasilnya akan menjadi dokumen Draf 0 B RPJMN 2015-2019. Tenaga Ahli juga harus mampu membuat agenda kegiatan dan kisi-kisi tentang kajian, selain itu bertugas mensortir masukan yang masuk ke dalam draf 0 B RPJMN, dan hasil masukan akan menjadi draft 0 C RPJMN. Hasil dari draft 0 C akan diseminarkan secara nasional sehingga manjadi draft 0 D RPJMN.

(16)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 16

2.2.7 Persiapan Konsinyasi Direktorat TRP di Malang dan Kegiatan

Pemantauan Pelaksanaan RKP

Agenda Konsinyasi Direktorat antara lain: Pembahasan TOR dan RAB Direktorat TA 2015, Pembahasan kegiatan kekinian Direktorat TRP, sekaligus mengunjungi Bappeda Kota Malang untuk membahas Pemantauan Tematik bidang tata ruang dan Kantah Kota Malang untuk berdiskusi mengenai Lesson Learned penyelesaian Kasus Sengketa Pertanahan (Harjokuncaran dan Perambahan Hutan).

Bahan-bahan konsinyasi akan disiapkan oleh masing-masing bagian, khusus untuk pembahasan Renstra Direktorat TRP akan dipersiapkan oleh Nana (BKPRN) dan pembahasan TOR dan RAB Direktorat TA 2015 akan disiapkan oleh Santi, Kasubdit Infosos.

2.2.8 Konsinyasi Pembahasan Kegiatan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan

Konsinyasi dilaksanakan di hotel Aria Gajayana padas tanggal 22 Mei 201 dengan tujuan mereview kegiatan terkini Direktorat TRP dan sebagai laporan kepada Direktur TRP dengan agenda pembahasan: i) Review kegiatan Direktorat TRP hingga April 2014; ii) Pembahasan Renstra Direktorat TRP; iii) Pembahasan Aggaran 2014 Direktorat TRP; dan iv) Pembahasan TOR Tahun Aanggaran 2015 Direkorat TRP.

2.3

Review kegiatan Direktorat TRP hingga April 2014

2.3.1 Sekretariat BKPRN

Terdapat 15 kegiatan yang sedang dikerjakan oleh Sekretariat BKPRN, terdiri dari 12 kegiatan yang berasal dari Rencana Kerja BKPRN dan 3 (tiga) kegiatan tambahan.

Kegiatan Penyelarasan Implementasi RZWP-3-K telah selesai dilaksanakan ke 3 lokasi, yaitu Kabupaten Gresik, Kota Ternate dan Prov. Sumatera Barat.

Kegiatan Penyelarasan Impelementasi LP2B saat ini terkendala data dari Kementan sendiri. Sebagai tindak lanjut, Sekretariat BKPRN akan melakukan konfirmasi data tersebut dengan Kementan. Kegiatan ini ditargetkan selesai pada Oktober 2014.

Kegiatan Penyusunan Pedoman Tata Batas ditetapkan sebagai kegiatan prioritas.

Kegiatan Kick Off Meeting Penyusunan SOP BKPRD yang diagendakan pada 16 April 2014 sementara dibatalkan oleh Kemendagri sampai menunggu konfirmasi jadwal selanjutnya.

Terkait kegiatan Monitoring Implementasi mekanisme Holding Zone saat ini menunggu konfirmasi terkait bentuk mekanisme tersebut dari Kemenko Perekonomian.

Gambar 2. Persiapan Konsinyasi Direktorat TRP di Malang dan Kegiatan Pemantauan Pelaksanaan RKP

(17)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 17 Kegiatan Penyusunan Pedoman Pengawasan Penataan Ruang juga menunggu konfirmasi kembali pelaksanaan dari Kementerian PU.

Sekretariat BKPRN telah melaksanakan beberapa kegiatan tambahan diluar Rencana Kerja BKPRN antara lain: i) Fasilitasi Brainstorming RUU Pengelolaan Ruang Udara; ii) Sosialisasi KLHS; dan iii) Penyusunan Roadmap Integrasi RTRW dan RZWP-3-K.

2.3.2 Subdit Pertanahan

Kegiatan Penyusunan Draf-1 RPJMN 2015-2019 bidang Pertanahan dengan periode pelaksanaan Januari-Juni 2014.

Kegiatan penyusunan RKP 2015 telah selesai dilakukan dengan output telah tersusunnya draft RKP 2015.

Kegiatan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Sertipikasi tanah Lintas K/L ditargetkan selesai pada bulan Juli.

Perkembangan terkini Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi Penyelenggaraan Reforma Agraria yaitu pelaksanaan survei ke Kantah Kota Malang pada 23 Mei 2014.

Kegiatan Penyusunan Buku Profil Pertanahan akan dilakukan penyusunanya oleh mahasiswa praktek Direktorat TRP.

Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Lampiran Pidato Kenegaraan menunggu penugasan penulisan Lampiran Pidato.

Kegiatan Urban Land Policy, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung penyusunan roadmap kebijakan perumahan dan permukiman oleh Direktorat Perumahan dan Permukiman.

2.3.3 Sekretariat RAN

Terdapat 6 (enam) kegiatan utama yang menjadi fokus pelaksanaan kegiatan Koordinasi Reforma Agraria Nasional tahun 2014. Kegiatan tersebut merupakan fokus pelaksanaan kebijakan pertanahan untuk memberbaiki sistem pengelolaan pertanahan.

Kebijakan Pendaftaran Tanah Stelsel Positif, tahun 2014 untuk mewujudkan kebijakan pendaftaran tanah stelsel positif dilakukan 2 (dua) kegiatan utama meliputi pemantauan perkembangan cakupan peta dasar dan wilayah bersertipikat, hingga saat ini kegiatan tersebut belum dilaksanakan karena padatnya jadwal dan akan diagendakan kembali pada akhir Mei hingga awal Juni

Kebijakan Reforma Agraria (Asset dan Access Reform), untuk kebijakan ini terdapat dua kegiatan utama meliputi, i) Identifikasi potensi dan sebaran TORA 2014-2015 dan identifikasi kegiatan K/L untuk reforma agraria, dengan target teridentifikasinya sebaran TORA 2014-2015, namun hingga saat ini belum dapat dilakukan rapat dan akan diagendakan kembali pada minggu ke 2 bulan Juni; ii) Kegiatan pilot project reforma agraria dengan target tersusunnya pedoman pelaksanaan reforma agraria hingga saat ini telah dilakukan kick off serta pengolahan data spasial program K/L dan ditindaklanjuti dengan agenda pelaksanaan koordinasi pada pertengahan bulan juni.

Pembentukan kamar khusus pertanahan di Pengadilan Negeri, pelaksanaan kegiatan turunan yang telah dilaksanakan dalam rangka pembentukan kamar khusus pertanahan adalah telah dilaksanakannya diskusi bilateral tentang pembentukan kamar khusus pertanahan bersama

(18)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 18 dengan prof maria, kegiatan tersebut akan ditindak lanjuti dengan diskusi trilateral bersama dengan Mahkamah Agung dan Direktorat Hukum dan Ham di Bappenas. Untuk pelaksanaan koordinasi trilateral tersebut diagendakan pada bulan Juni 2014.

Koordinasi Program Agraria Daerah Provinsi Kalimantan Timur, kegiatan ini merupakan lanjutan dari pelaksanaan kegiatan pada tahun 2013 dimana telah tercapai kesepakatan mekanisme pembiayaan proda di Kalimantan Timur.

Sertipikasi Tanah Transmigrasi, target pelaksanaan kegiatan ini pada tahun 2014 adalah tersusunnya roadmap pembentukan deskresi sertipikasi tanah transmigrasi.

2.3.4 Subdit Tata Ruang

Penyusunan Draft 0 RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang, untuk kegiatan tersebut telah dilakukan beberapa hal meliputi sharing data dengan Direkrtorat Jenderal Penataan Ruang, Rapat internal dengan Kementerian Pekerjaan Umum, Bilateral meeting dengan direktorat internal di Bappenas, pertemuan dengan kementerian dalam negeri serta perekrutan tenaga ahli RPJMN.

Penyusunan RKP 2015 Bidang Tata Ruang, untuk menyusunan dokumen RKP seluruh tahapan kegiatan telah dilewati dan narasi serta matriks RKP telah disubmit ke sekretariat RKP.

Pemantauan dan evaluasi Bidang Tata Ruang, pelaksanaan pemantauan dan evaluasi telah dilakukan dengan melaksanakan proses diskusi dengan Bappeda Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan Penyusunan Buku Profil Tata Ruang akan dilakukan penyusunanya oleh mahasiswa praktek Direktorat TRP.

Partisipasi dalam peninjauan kembali RTRWN, untuk kegiatan tersebut telah didapat beberapa masukan untuk RTRWN diantara dari sub bidang KSN, Perkotaan, Transportasi, Kawasan lindung dan kawasan budidaya

Partisipasi dalam penetapan RTR Pulau/Kepulauan dan KSN, target dari pelaksanaan kegiatan ini adalah tersusun dan tersampaikannya masukan strategis dari dit. Tata Ruang dan Pertahan.

2.3.5 Subdit Pertanahan

Kegiatan Knowledge Management dilaksanakan pada periode bulan Januari-Juli 2014. Saat ini sedang disusun semacam sistem seperti eTRP sebagai aplikasi Knowledge Management.

Untuk rencana kegiatan Seminar IRSA pada 2-3- Juni 2014 di Makasar, saat ini persiapan terkait admnistrasi dan akomodasi (pendaftaran) telah selesai dilakukan, sehingga yang masih perlu dipersiapkan adalah substansi/bahan presentasi.

Terkait penyusunan Buletin TRP adalah konfirmasi narasumber setelah Subdit Infosos mengirimkan surat.

Arahan Direktur TRP, newsletter yang terbit online saat ini agar di terbitkan setiap bulan dengan versi cetak.

Kegiatan Sosialisasi e-BKPRN ditindaklanjuti dengan: i) pelaporan dan penetapan manual e-BKPRN oleh Direktur TRP; dan ii) sosialisasi dengan mengundan 4 K/L BKPRN pada awal Juli 2014.

(19)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 19 Terkait Web RAN, Kasubdit Pertanahan mengusulkan masuk dalam web TRP.or.id karena kegiatan RAN menyatu dengan kegiatan Subdit Pertanahan.

Kajian SCDRR adalah kajian dalam rangka menyusun pedoman RTRW terkait kebencanaan.

2.4

Pembahasan Renstra Direktorat TRP

Terkait metode penyusunan menggunakan Logical Framework Analysis/LFA tetapi disesuaikan dengan kebutuhan Direktorat TRP, yang menjabarkan tujuan, sasaran, output dan kegiatan (kolom “kegiatan” akan menjabarkan mengenai: Penyusunan Kebijakan Perencanaan Pembangunan, Koordinasi Perencanaan, Analisa Kebijakan, dan Monitoring dan Evaluasi). Tujuan/main goal Direktorat TRP adalah melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi,sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya yang dijabarkan dalam beberapa sasaran, output, dan rincian masing-masing kegiatan selama periode 2015-2019.

Penting untuk dicantumkan indikator bagi setiap sasaran agar dapat terukur bagaimana capaian sasaran tersebut dan dalam proses monitoring dan evaluasinya.

Terkait tupoksi sosialisasi yang dilakukan Subdit Infosos, output “instrumen sosialisasi” akan selalu melekat pada setiap Subdit, Sekretariat RAN, dan Sekretariat BKPRN. Oleh karenanya untuk pengisian matriks, dalam setiap sasaran akan ditambahkan output “instrumen sosialisasi”.

2.5

Pembahasan Anggaran 2014 Direktorat TRP

Berikut merupakan hal-hal terkait pembahasan anggaran tahun 2014 Direktorat TRP, yaitu: a. Dengan adanya efisiensi anggaran sebesar 30% terhadap anggaran Direktorat TRP,

Koordinator Keuangan Direktorat mengusulkan dilakukannya pemotongan sebesar 28%.

b. Terkait dengan kegiatan-kegiatan Direktorat yang melibatkan K/L dan telah ada penyepakatan pelaksanaan kegiatannya, Koordinator Keuangan akan mengirimkan memo kepada Sekretaris Menteri untuk menginformasikan kondisi tersebut.

2.6

Pembahasan TOR kegiatan Tahun Anggaran 2015 Direktorat TRP

Berikut merupakan hal-hal terkait pembahasan TOR Kegiatan tahun 2015 Direktorat TRP, yaitu: a. Penyusunan TOR Tahun Anggaran 2015 didasarkan pada Petunjuk Pelaksanaan No. 2 tahun 2012. Berdasarkan Juklak tersebut, terdapat beberapa kriteria baik secara teknis-administratif dan substantif yang harus dipenuhi.

b. Substansi TOR TA 2015 akan sejalan dengan materi dalam Renstra Direktorat TRP. c. Pembagian tugas untuk penanggung jawab kegiatan akan dilakukan sesuai dengan

penanggung jawab Subdit dan masing-masing koordinator Sekretariat RAN dan Sekretariat BKPRN.

d. Nama kegiatan untuk Tahun Anggaran 2015 perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi terkini, misalnya terkait dengan RPJMN Kajian Strategi Peningkatan Pemahaman RPJMN bidang Tata Ruang dan Pertanahan (Koord. SY dan AY, Anggota NA, CR, IK, MR,

(20)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 20 IAS). Koordinasi perencanaan pembangunan bidang penyelenggaraan penataan ruang dan pengelolaan pertanahan (Koord. MA, Anggota AS, RI, RN, IAS). Penyusunan indikator pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan penataan ruang dan pengelolaan pertanahan (Koord. RT, Anggota CR, AS, IK, HD, GP, IAS). Koordinasi Strategis Reforma Agraria Nasional (Koord. UK, Anggota GN, DC, RZ, IAS). Koordinasi Strategis BKPRN (Koord. NA, Anggota OC, ZH, CW, IAS, LG). Sosialisasi KM bidang tata ruang dan pertanahan (Koord. SY, Anggota IAS, SY, GP, IAS, LG).

Sebagai tindak lanjut atas dilaksanakanya konsinyasi Direktorat, maka masing-masing Subdit, Sekretariat RAN dan Sekretariat BKPRN akan melakukan finalisasi (perbaikan maupun pendetilan) terhadap:

Matriks Review kegiatan Direktorat TRP hingga April 2014; Matriks Renstra Direktorat TRP; dan

TOR kegiatan Tahun Anggaran 2015

2.7

Rapat Koordinasi Pembahasan Program Agraria Daerah (PRODA) Provinsi

Kalimantan Timur

Rapat dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2014 di Ruang Rapat SG-3 Bappenas dengan tujuan untuk terlaksananya kegiatan pra sertipikasi Proda Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014; (ii) Teridentifikasinya target sertipikasi Proda Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Timur; dan (iii) Tersusunnya kesepakatan rencana pelaksanaan sertipikasi Proda Tahun 2015 di Provinsi Kalimantan Timur antara BPN dan Pemda.

Pada rapat koordinasi pembahasan program agraria daerah (PRODA) disepakati bahwa sertipikasi lahan usaha pertanian dikategorikan sebagai program agraria daerah (PRODA) karena sertipikasi lahan dilakukan dengan menggunakan biaya APBD namun memiliki salah satu kriteria tanah pertanian.

Kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dalam rangka kegiatan pra sertipikasi Tahun 2014 adalah pengesahan kesepakatan bersama antara Gubernur Kalimantan Timur dengan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kalimantan Timur tentang Penyelenggaraan Program Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di Bidang Pertanahan. Hasil koordinasi prasertipikasi lahan usaha pertanian antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Pemerintah Kabupaten/Kota memiliki beberapa kesimpulan, yaitu :

(21)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 21 Secara umum terdapat beberapa permasalahan yaitu : (i) belum adanya sosialisasi kepada Kabupaten mengenai sertipikasi lahan pertanian; (ii) kesalahan penempatan kegiatan pada SKPD; (iii) keterbatasan tenaga pengukur pertanahan di kabupaten; (iv) mekanisme pembayaran biaya sertipikasi oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur; (v) kenaikan harga biaya pengukuran; dan (vi) terdapat lahan pertanian (objek) yang tumpang tindih dengan HPH, HTI, dan dengan kawasan lainnya.

Terdapat 8 (delapan) kabupaten yang menjadi lokasi target sertipikasi lahan usaha pertanian, yaitu Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Berau, Kabupaten Bontang, Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kota Balikpapan, dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Dari 8 kabupaten tersebut, terdapat 2 (dua) kabupaten yang telah teridentifikasi jumlah lahan untuk disertipikatkan, yaitu Kabupaten Berau dan Penajam Paser Utara.

Tindak lanjut dari rapat koordinasi pembahasan Program Agraria Daerah (Proda) di Provinsi Kalimantan Timur adalah rapat koordinasi yang akan diselenggarakan pada Bulan Agustus dengan agenda pemaparan target sertipikasi yang meliputi jumlah bidang dan subjek penerima bantuan. Diharapkan pelaksanaan prasertipikasi lahan usaha pertanian akan berjalan secara pararel seiring dengan pelaksanaan sertipikasi pada tahun-tahun mendatang.

2.8

Kegiatan Pendukung

2.8.1 Perumusan Peran dan Pentingnya UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional

dalam Sistem Perencanaan Nasional

Rapat dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2014 di hotel Morissey dengan tujuan untuk merumuskan peran dan pentingnya UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional, dengan beberapa hal yang akan disepakati:

Pemetaan konstelasi peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan ruang udara yang telah ada (nasional dan internasional);

Lingkup (bentuk dan kedalaman) pengelolaan ruang udara nasional; dan Urgensi RUU PRUN dalam perencanaan saat ini.

Terdapat beberapa hal penting yang dibahas dalam pertemuan ini, diantaranya:

Pengaturan terkait dengan pengelolaan ruang udara nasional selama ini dilakukan secara parsial dalam beberapa UU, diantaranya: (i) UU No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan, (ii) UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, (iii) UU No. 34 Tahun 2004 tentara Nasional Indonesia, (iv) UU No. 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara,

(22)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 22 (v) UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan dan (vi) UU No. 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan.

Terkait amanat UU No.26 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Ruang Udara Nasional (pada Pasal 6 ayat 5: “Ruang laut dan ruang udara, pengelolaannya diatur dengan undang-undang tersendiri”) disepakati diperlukan kajian mendalam terkait peraturan yang sudah ada (mengenai kewenangan lembaga dan dampaknya), sehingga nantinya UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional ini hanya akan mencakup hal-hal yang memang belum diatur di undang-undang.

Urgensi adanya pengaturan pengelolaan ruang udara nasional, di antaranya berkaitan dengan:

- Belum adanya pengaturan/penentuan batas atas wilayah udara nasional ;

- Perlunya kejelasan kewenangan dan pengaturan penegakan hukum (termasuk pemberlakuan sanksi); dan

- Terjadinya kasus-kasus pelanggaran di wilayah udara, antara lain pemetaan wilayah Indonesia oleh pesawat udara/satelit milik asing tanpa izin.

Kajian atau naskah akademis RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional diusulkan mencakup atau mempertimbangkan hal-hal berikut:

- Dalil-dalil akademis dan referensi mengenai pengelolaan ruang udara nasional dari negara lain yang disesuaikan dengan kondisi ruang udara nasional Indonesia;

- Pengaturan batas ruang udara nasional Indonesia, terutama batas atas pemanfaatan ruang udara;

- Penentuan obyek pengaturan pengelolaan ruang udara nasional (apakah yang akan diatur: udara?; pesawat udara?; penegakan hukum di udara?; pemanfaatan ruang udara? (yang seringkali beririsan dan lintas K/L));

- Rambu-rambu yang mengatur lingkup pengaturan pengelolaan ruang udara nasional;

- Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan ruang udara nasional beserta alternatif solusinya; dan

- Antisipasi keterkaitan aktivitas di udara dengan aktivitas di darat dan laut.

Dalam rapat ini diusulkan bahwa yang akan menjadi pemrakarsa dalam perumusan UU Pengelolaan Ruang Udara Nasional ini adalah Kementerian Pertahanan. Usulan mengenai RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional ini sudah dicantumkan ke dalam tabel regulasi dalam arah kebijakan RPJMN 2015-2019 yang telah disusun sebelumnya.

Untuk menindaklanjuti pertemuan ini perlu dilaksanakan pertemuan (melibatkan Kementerian Pertahanan dan K/L lain yang dianggap perlu) yang terdiri dari tim-tim kecil yang fokus dalam perumusan naskah akademik RUU Pengelolaan Ruang Udara Nasional.

(23)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 23 Selain itu, diperlukan pula pertemuan bilateral Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas dengan Direktorat Pertahanan dan Keamanan, Kementerian PPN/Bappenas.

2.8.2 Pemaparan Draft ke-0 RPJMN Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Rapat diselenggarakan pada tanggal 7 Mei 2014 di SG-5 Bappenas dengan tujuan untuk memperoleh masukan dari K/L anggota BKPRN terhadap Draft ke-0 RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan yang meliputi isu strategis, sasaran, arah kebijakan dan strategi, serta kerangka regulasi, kerangka pendanaan, dan kerangka kelembagaan. Beberapa hal yang dibahas dalam rapat:

Upaya penyelesaian backlog RPJMN bidang tata ruang diharapkan dapat diupayakan pada tahun 2014.

RPJMN diharapkan dapat mengakomodasi kebijakan nasional terkait energi baru terbarukan, diawali dengan penetapan kawasan kebun energi.

Kementerian Kehutanan memiliki dokumen Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) yang berlaku selama 20 tahun kedepan.

Pada tahun 2014, Kemendagri tengah menyusun pedoman integrasi Rencana Tata Ruang (RTR) dan rencana pembangunan. Namun masih terdapat kendala seperti i) Ketidaksinkronan antara kebijakan dan indikasi program; ii) RTR belum digunakan sebagai pedoman pengendalian; dan iii) RTR belum mencapai kualitas standar.

Undang-undang yang lahir setelah penetapan RTRW sering berpotensi konflik di lapangan. Setelah dipantau dalam Perda RTRW, masih banyak penetapan RTRW yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Masih diperlukan diskusi terkait kebutuhan rancangan sistem insentif tata ruang agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan.

UU pertahanan akan ditetapkan dengan amanat bahwa pemerintah dapat meminta daerah untuk menentukan lahan yang dapat digunakan untuk daerah latihan.

Untuk mewujudkan keterpaduan, perlu peningkatan aspek pedesaan secara spasial, tidak hanya aspek perkotaan, terkait isu urbanisasi.

Perlu adanya penegasan dan amanah tertulis dalam RPJMN terkait mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sehingga ada upaya nasional yang dapat dikerahkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim.

Perlu diperhatikan status penyusunan RTR umum seperti RTRW dan upaya akselerasi ke dalam rencana rinci, serta mekanisme peningkatan/optimalisasi penyusunan RTR dan perpaduannya.

Perlu diperhatikan isu penataan status tanah di pesisir dan pulau-pulau kecil termasuk kawasan reklamasi.

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil rapat tersebut antara lain:

Isu baru yang muncul dalam diskusi: perubahan iklim, ketahanan pangan, energi baru, tata kelola laut, KLHS, urbanisasi, dan insentif.

Terkait peta, perlu disampaikan masukan dari setiap K/L yang memiliki kegiatan pemetaan untuk memastikan masuk dalam kegiatan BIG.

RPJMN tidak sama dengan Renstra sehingga tidak mengatur secara detail. Namun apabila dalam penyusunan Renstra diperlukan cantolan, RPJMN dapat digunakan.

(24)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 24 Isu penting seperti kelautan, pedesaan, energi baru, ketahanan pangan, dan KLHS akan coba dikaji kembali, apakah isu-isu tersebut dapat dimasukan sebagai kebijakan dalam RPJMN atau Renstra.

2.8.3 Diskusi Persiapan FGD SCDRR

Diskusi dilaksanakan pada tanggal 16 Mei 2014 di ruang Direktur TRP yang difokuskan untuk membahas rencana diskusi terarah yang akan diadakan untuk mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan terhadap materi teknis yang disusun. Beberapa poin yang dibahas dalam diskusi tersebut antara lain mengenai:

Keynote speech (pembicara utama)

- Setelah pembukaan dan pemaparan dari Pak Direktur TRP, Bappenas, diskusi diawali dengan pembicara utama oleh Direktur Pengurangan Risiko Bencana, Deputi bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BNPB dengan topik “Isu-isu Strategis Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Rencana Tata Ruang”. - Keynote speech ini nantinya juga dapat menjadi masukkan dalam penyusunan bab 6

materi teknis, tentang implementasi pengarusutamaan PRB ke dalam rencana tata ruang.

Surat undangan

Surat undangan kepada pembicara utama maupun peserta harus dikirim jauh hari dilengkapi dengan bahan-bahan diskusi.

Peserta

Peserta dari pemerintah daerah yang diundang adalah provinsi - provinsi yang mengalami bencana. SKPD yang diundang adalah yang menyusun RTRW dan dalam undangan harus disebut sebagai BKPRD, misalnya Bappeda sebagai sekretaris BKPRD atau Dinas Tata Ruang/PU sebagai anggota BKPRD.

Tanggal pelaksanaan

Pelaksanaan diskusi diundur menjadi tanggal 4 Juni 2014 dari rencana awal tanggal 3 Juni 2014. Mengingat jadwal diskusi terarah mundur satu bulan dari agenda awal di rencana kerja, maka segera setelah diskusi akan langsung dilakukan persiapan untuk penyelenggaraan workshop.

Persiapan diskusi terarah

Mengingat bahan-bahan akan dikirim kepada peserta sehingga dapat dipelajari terlebih dulu, maka perlu dilakukan diskusi internal untuk membahas bahan-bahan tersebut. Diskusi ini rencananya akan diadakan pada tanggal 19 Mei 2014. Pada Senin sore tersebut sudah harus diketahui siapa saja yang akan menjadi fasilitator dan notulen pada diskusi sesi 1, 2, dan 3. Fasilitator dan notulen ini dari staf Dit TRP, Bappenas. Sedangkan pemaparan akan dilakukan oleh tenaga ahli SCDRR. Sebagai masukan untuk penutupan oleh direktur, notulen akan menyiapkan butir-butir penting untuk setiap sesi. Terkait dengan hal ini, maka rehat teh/kopi kedua dimajukan setelah sesi 3 selesai untuk memberi kesempatan kepada notulen untuk merumuskan hasil sesi 3.

FGD dan lokakarya/workshop

Perlu ada pembedaan yang jelas antara FGD dan Workshop. FGD dilakukan terutama untuk menjaring masukan dari para pemangku kepentingan untuk membenahi substansi materi teknis, sementara lokakarya lebih untuk public hearing dengan peserta lebih banyak dan diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk rencana tindak lanjutnya.

(25)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 25 Bahan pembukaan Direktur TRP. Penjelasan Pak Direktur dalam sesi pembukaan harus memuat, antara lain:

- Pedoman dan standar yang sudah ada saat ini terkait dengan penyusunan RTRW Provinsi dan RTR KSN, serta pengurangan risiko bencana;

- Kedudukan materi teknis ini dalam konteks tersebut (diantara pedoman dan standar yang ada); dan

- Tujuan diskusi terarah ini dan keluaran yang diinginkan dari setiap sesi diskusi.

2.8.4 Diskusi Persiapan FGD SCDRR (lanjutan)

Diskusi dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2014 di Ruang Direktur TRP untuk membahas lebih lanjut mengenai pelaksanaan FGD SCDRR. Dalam diskusi tersebut, dibahas mengenai beberapa hal penting antara lain:

Jadwal Pelaksanaan FGD berubah menjadi tanggal 10 Juni 2014 dikarenakan pihak BNPB mengikuti kegiatan pekan ilmiah nasional sehingga tidak dapat mengikuti FGD. Alokasi Lokakarya menjadi tanggal 25 Juni 2014. Tempat pelaksanaan keduanya di Bappenas.

Peserta sudah sesuai dengan hasil diskusi sebelumnya. Untuk peserta BPBD tidak perlu masuk dalam daftar undangan.

Surat Undangan ke peserta sebisa mungkin dilampirkan materi yang ringkas. Ada penambahan peserta dari Kepala Pelaksana BPBD Propinsi Bengkulu.

Materi presentasi untuk setiap sesi lebih dipersingkat antara 7-8 slide dan lebih banyak menampilkan flowchart sehingga mempermudah peserta untuk memahami.

Arahan Bp. Direktur: diharapkan BKPRD dapat meningkatkan kapasitasnya dalam konteks pengurangan resiko bencana di daerahnya. Apakah perlu ada Pokja khusus dalam BKPRD dalam penanganan bencana.

Kesimpulan yang diperoleh dari pelaksanaan diskusi meliputi:

Akan dilakukan perbaikan surat undangan ke peserta, pembicara utama dan fasilitator. Konsultan akan menyusun kembali materi ringkas dan lengkap untuk setiap sesinya. Direncanakan pertemuan dengan para fasilitator tanggal 26 Mei 2014 guna membahas tugas fasilitator dan briefing materi FGD.

2.8.5 Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Direktorat

Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal (KKDT)

Rapat dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2014 di RR. Sekretariat BKPRN dengan tujuan untuk meminta masukan mengenai substansi RT RPJMN 2015-2019 yang memiliki keterkaitan dengan tupoksi Direktorat KKDT Bappenas. Adapun beberapa masukan dari Direktorat KKDT antara lain:

KEK merupakan operasionalisasi dari MP3EI, maka perlu disusun rencana tata ruangnya. Oleh karena itu, KEK sebaiknya menjadi bagian dari KSN dalam RTRWN. Hingga saat ini terdapat 12 KEK yang direncanakan penetapannya, adapun target penyelesaiannya:

- Tahun 2014: KEK Sei Mangke, Tanjung Lesung, Palu, Bitung, Tanjung Api-Api, Mandalika, dan Morotai

(26)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 26 Penyelesaian RTR Kapet ditargetkan selesai tahun 2015 dan tidak ada penambahan penetapan kawasan KSN Kapet.

Prioritas penyelesaian RTR Kapet: Aceh, Sasamba, Pare-pare, Bima, Biak, dan Seram. Sebagai informasi: saat ini sedang dilakukan revitalisasi KePres Kapet menjadi Perpres Kapet.

NSPK sebagai pedoman penyusunan KEK dan KAPET disusun oleh Kemenko Perekonomian. Beberapa regulasi turunan dari penyusunan KEK dan KAPET:

- Kepmen PPN terkait pembentukan Seknas Kapet - Kepmen PPN Rencana Induk Kapet

- 13 Perda rencana Aksi Badan Pengelolaan dan Badan Pengusahaan - 12 PP Penetapan Lokasi KEK

- 12 Perda Pengelola KEK

2.8.6 Rapat Koordinasi BKPRN Tingkat Eselon II (Sosialisasi Tata Batas Kawasan

Hutan)

Rapat dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2014 di Ruang SG 3 Bappenas dengan tujuan untuk mendapatkan penjelasan mengenai konsep dan mekanisme penetapan tata batas kawasan hutan dalam penyusunan rencana tata ruang, dan mendapatkan informasi progres penyelesaian penetapan tata batas kawasan hutan. Beberapa hal yang dibahas dalam rapat antara lain:

Proses pengukuhan kawasan hutan berdasarkan Pasal 15 UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, terdiri dari penunjukan, penataan batas, pemetaan, dan penetapan.

Pelaksanaan tata batas kawasan hutan telah dilakukan hingga 77,64% namun penetapan kawasan hutan baru dilakukan sebesar 11,29%.

Terdapat putusan Nomor 45/PUU-IX/2011 yang menyatakan bahwa kawasan hutan yang sudah ditunjuk namun belum ditetapkan, belum memiliki kekuatan hukum.

KPK memprakarsai pembentukan Nota Kesepakatan Bersama (NKB) dengan 12 K/L dalam rangka percepatan pengukuhan kawasan hutan selama 3 tahun, sejak 11 Maret 2013.

Dari total luas hutan Indonesia sebesar 125.754.310,35 Ha, baru 14,173 juta Ha yang telah ditetapkan tata batasnya.

Setiap SK Menteri Kehutanan terkait penetapan tata batas kehutanan agar dapat ditembuskan kepada BPN (tidak hanya kepada Kantor Pertanahan setempat) agar informasi pusat-daerah dapat ter-update.

Pengajuan enclave (pembangunan jalan, permukiman, tanah bersertipikat, daerah latihan militer) seringkali mendapat respon yang lebih lambat daripada proses perubahan pemanfaatan karena adanya pengajuan izin dari swasta. Respon Kemenhut terhadap proses tersebut bergantung pada pengajuan izinnya.

Terkait tidak diakomodirnya hasil Timdu, Kemenhut berpendapat bahwa Timdu bertugas membantu kajian sedangkan putusan merupakan kewenangan Menteri sehingga bisa saja berbeda.

Keberadaan masyarakat hukum adat (MHA) perlu dipertimbangkan dalam penetapan tata batas kawasan hutan, terutama terkait dengan hak mereka yang bisa dikeluarkan dari batas hutan. Perlu dipetakan wilayah MHA tersebut

Terkait peta, saat ini masih terkendala dengan penyediaan peta skala besar, khusunya untuk wilayah di luar Pulau Jawa-Bali. Seringpula terjadi overlap batas administratif

(27)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 27 berdasarkan survei di lapangan yang menyulitkan dalam penetapan tata batas kawasan hutan.

Dari pelaksanaan rapat, telah diperoleh penjelasan lebih dalam mengenai konsep dan mekanisme tata batas kawasan hutan dan mendapatkan informasi kemajuan penyelesaian penetapan tata batas kawasan hutan. Terkait dengan terjadinya overlaping peta diperlukan penyelesaian overlap peta administratif ini yang membutuhkan kerjasama antara Kemendagri dan BIG. Perlu dilakukan pula koordinasi antara BPN dan Kemenhut terkait penyediaan peta tata batas kawasan hutan.

2.8.7 Rapat Bilateral Pembahasan RT RPJMN 2015-2019 dengan Kemendagri

Rapat dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2014 di RR. Sekretariat BKPRN dengan tujuan untuk meminta masukan mengenai substansi RT RPJMN 2015-2019 yang memiliki keterkaitan dengan tupoksi Kementerian Dalam Negeri, fokus kepada kerangka pelaksanaan Bidang Tata Ruang. Beberapa masukan penting yang diperoleh dalam pertemuan tersebut antara lain:

Tanah Ulayat sebaiknya dimasukkan ke dalam RPJMN 2015-2019 Terkait penyusunan NSPK, kementerian dalam negeri akan menyusun: Penyusunan pedoman tentang mekanisme dan tata kerja pengelolaan KSN Penyusunan Pedoman tentang mekanisme dan tata kerja BKPRD

Kemendagri pada periode tahun 2015-2019 terkait peningkatan partisipasi masyarakat dalam rangka pengendalian pemanfaatan ruang belum dapat membentuk forum masyarakat, tetapi fokus terhadap penyelesaian:

Pedoman peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang

Pedoman peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang

Strategi arah kebijakan 3 sebaiknya tidak hanya percepatan penyelesaian, tetapi keserasian antar dokumen rencana juga diperlukan.

Percepatan penyediaan peta dan data lain yang mutakhir perlu dilakukan juga secara terpadu (diharapkan dapat menciptakan one map policy)

Integrasi Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang juga dilakukan oleh direktorat perencanaan pembangunan daerah kementerian dalam negeri

Dari hasil pertemuan tersebut, diperoleh beberapa kesimpulan terkait dengan agenda pembahasan antara lain:

a. Kementerian Dalam Negeri akan mencermati narasi RT RPJMN 2015-2019 saat ini dan masukan akan disampaikan melalui email TRP.

(28)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 28 b. Beberapa kesepakatan baru yang dihasilkan selama diskusi berlangsung:

Kemendagri mengusulkan kegiatan baru yaitu: menyusun rekomendasi perbaikan mekanisme evaluasi RZWP3K.

Disepakati usulan dari Bappenas dalam hal penyusunan pedoman hubungan tata kerja BKPRN dan BKPRD, Kemendagri menjadi instansi pelaksananya.

Kemendagri mengusulkan turut berperan dalam kegiatan yang semula tertulis hanya akan dilakukan oleh Kementerian PU:

- melakukan kajian dan penyusunan mekanisme insentif, disinsentif, serta pemberian masyarakat.

- menyusun pedoman dan sistem evaluasi implementasi RTRW

c. Disepakati peningkatan kualitas dan kuantitas PPNS termasuk ke dalam arah kebijakan Meningkatkan Kapasitas SDM dan Penguatan Kelembagaan Penataan Ruang.

d. Kemendagri mengusulkan dalam hal menyusun standarisasi instansi penyelenggara penataan ruang dilakukan hanya oleh kemendagri. Sedangkan untuk pembinaan SDM Bidang penataan ruang di Nasional dan Daerah dengan kurikulum terstandardisasi (Arah Kebijakan 2) dilakukan oleh Kementerian PU dan instansi tematik.

e. Perlu mengecek SPM Bidang Penataan Ruang yang sudah disusun oleh PU.

2.8.8 Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Tata Ruang

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2014 Bappeda Provinsi Jawa Timur. Adapun beberapa hasil monitoring dan evaluasi yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut:

Hasil pelaksanaan dana dekonsentrasi tahun 2013 dan 2014 (sebagian besar data sudah kami terima dan telah dilaporkan). Beberapa kendala yang disampaikan, antara lain: 1) terlambatnya proses pelelangan; 2) kurang cakapnya petugas keuangan.

Status perda RTRW Provinsi Surabaya sudah Perda, dan untuk Kab/Kota, hanya Kota Surabaya dan Kab. Jember yang masih belum perda, masing-masing disebabkan oleh belum adanya keputusan dari BKPRN, dan permasalahan internal di DPRD. Sebagai informasi, untuk Kota Surabaya dalam Perda RTRW lama ada rencana pembangunan tol, sedangkan RTRW baru tidak ada tol.

RTRW sudah dijadikan dasar dalam pembangunan dan RTRW dan RPJMD sudah terintegrasi.

Prov. Jatim sudah memiliki Perda RZWP3K, dan masih terpisah dengan perda RTRW, beberapa Kab/Kota sudah pula menyusun RZWP3K. Untuk LP2B, provinsi sudah memfasilitasi masyarakat Kab/Kota dalam memastikan peta sawah yang telah diperoleh dari BPN.

Kelembagaan BKPRD berjalan cukup efektif untuk koordinasi lintas SKPD. Ada jadwal pertemuan rutin BKPRD, dan rutin menyusun laporan BKPRD. BKPRD di Prov. Jatim direvisi tiap tahun.

PPNS masih belum memenuhi kebutuhan, namun dalam pengajuannya SDM di Prov. Jatim terkendala dengan jumlah SDM yang terbatas pula di Pemda, dan waktu pelatihan yang lama menjadi pertimbangan.

Jumlah SDM untuk mengolah peta masih kurang, sehingga akan diadakan rekuitmen, meskipun bersifat kontrak. Daerah juga terbatas dalam penggunaan software perpetaan yang semakin update.

(29)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 29 Dalam RPJMD, tidak ada mencantumkan mengenai pertanahan, karena tidak adanya SKPD khusus, namun dapat langsung ke sektor, seperti pertanian, perkinan, perkebunan, dan UKM.

Disamping itu, terdapat beberapa masukan yang disampaikan oleh pihak Bappeda Provinsi Jawa Timur:

- Penyusunan RTRW, RZWP3K, RDTR dapat paralel, mengingat adanya review setiap 5 tahun, sehingga waktu penyusunan terlalu singkat, dan ini meyulitkan daerah. - Dengan adanya penyerahan kewenangan persub ke provinsi, daerah mohon dibekali

dan diberikan peta.

- Dalam pelaksanaan LP2B, daerah belum memperoleh dan membutuhkan petunjuk teknis, dan dalam pelaksanaanna harus ada insentif mengingat dinamika pembangunan di prov. Jatim yang tinggi, dan seharusnya lahan tersebut dibeli oleh pemerintah (tanah negara).

- PPNS harusnya terpisah menjadi suatu tanggung jawab/pekerjaan khusus yang tidak diganggu dengan pekerjaan lainnya.

- BIG sebaiknya mengetahuan jadwal kab/kota yang akan menyusun peta 1:5000 untuk kebutuhan RDTR.

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil monev antara lain:

Belum lengkapnya data ditindaklajuti dengan permohonan data langsung ke dinas PU pada pagi ini, Jumat, 23 Mei 2014. Jika masih ada data yang belum lengkap, akan kami lengkapi, dapat via email dan fax.

Mengumpulkan seluruh bahan untuk penyusunan laporan evaluasi dan pemantauan

2.8.9 Pemantauan dan Evaluasi Pembangunan Bidang Pertanahan

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2014 bertempat di KaKanwil BPN Jawa Timur dengan beberapa hasil monev yang dapat disampaikan capaian beberapa kegiatan prioritas Bidang Pertanahan di Kanwil BPN Jawa Timur Tahun 2013 dan 2014:

Capaian Tahun 2013:

a. Kegiatan legalisasi aset:

PRONA ditargetkan sebanyak 95.000 bidang, dengan capaian 94.364 bidang (99.33%); Sertipikasi tanah UMK ditargetkan sebanyak 1.500 bidang, dengan capaian 1.500 bidang (100%);

Sertipikasi tanah nelayan ditargetkan sebanyak 2.100 bidang, dengan capaian 2.100 bidang (100%);

Sertipikasi tanah MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) ditargetkan sebanyak 1.400 bidang, dengan capaian 1.354 bidang (96,7%);

b. Kegiatan Redistribusi Tanah dan IP4T:

Redistribusi tanah ditargetkan sebanyak 6.000 bidang, dengan capaian 6.000 bidang (100%).

IP4T ditargetkan sebanyak 38.000 bidang, dengan capaian 38.000 bidang (100%). Kasus pertanahan yang masuk ke Kanwil BPN akumuluasi s.d 2013 sebanyak 1.166 kasus, jumlah diselesaikan sebanyaak 604 kasus (66%).

Capaian Tahun 2014:

(30)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 30 PRONA ditargetkan sebanyak 93.000 bidang;

Sertipikasi tanah pertanian ditargetkan sebanyak 400 bidang;

Sertipikasi tanah nelayan tangkap ditargetkan sebanyak 200 bidang dan nelayan budidaya sebanyak 1.400 bidang;

Sertipikasi tanah UMK ditargetkan sebanyak 1.200 bidang;

Sertipikasi tanah MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) ditargetkan sebanyak 200 bidang.

b. Kegiatan Redistribusi Tanah dan IP4T:

Redistribusi tanah ditargetkan sebanyak 6.000 bidang, saat ini sedang proses pendataan dan pengukuran.

IP4T ditargetkan sebanyak 25.000 bidang, saat ini sedang proses pendataan dan pengukuran.

Kasus pertanahan baru yang masuk ke Kanwil BPN s.d Mei 2014 sebanyak 41 kasus. Untuk tata batas kawasan hutan, Kantah sulit untuk mengakses dan mendapatkan data terkait kehutanan. Hal ini berpeluang terjadinya sengketa pertanahan.

Sampai saat ini jumlah bidang tanah yang telah tersertipikasi sekitar 40% dari luas wilayah bukan di Jawa Timur. Dari 40% bidang tanah yang telah bersertipikat tersebut, sekitar 60-70% diantaranya yang telah terpetakan dengan baik dan terdata di Geo-KKP. Kondisi ketersediaan SDM Pertanahan terutama juru ukur saat ini rata-rata kurang dari 10 orang per Kantah seluruh Jatim sehingga hampir semua Kantah mengalami kekurangan juru ukur.

Koordinasi kegiatan lintas sektor terutama pemberdayaan masyarakat pasca redistribusi tanah dilakukan oleh Setda Provinsi di Biro Perekonomian Jawa Timur. Untuk kebijakan kamar khusus pertanahan perlu dibentuk. Hal ini sejalan dengan RUU Pertanahan, selain itu beberapa kasus pertanahan yang telah diputuskan tidak dapat dilaksanakan karena keputusan yang dihasilkan oleh beberapa pengadilan berbeda-beda.

Masih diperlukan koordinasi antara BPN sebagai instansi vertikal dengan Pemprov Jatim.

BPN telah menyusun peta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) se Jawa Timur dan telah digunakan oleh Pemda.

Sebagai kesimpulan atas pelaksanaan kegiatan monev diperoleh beberapa hal sebagai berikut: Secara umum capaian kegiatan prioritas bidang pertanahan di Jawa Timur Tahun 2013 sudah baik karena hampir seluruhnya tercapai. Kegiatan sertipikasi tanah terutama yang lintas sektor, beberapa kegiatan tidak mencapai 100% karena data yang disampaikan oleh SKPD tidak lengkap. Sedangkan untuk kegiatan tahun 2014 umumnya sudah berjalan sesuai dengan rencana kegiatan dan saat ini sedang proses pendataan dan pengukuran bidang tanah.

Beberapa usulan kebijakan yang disampaikan terkonfirmasi dan relevan dengan kondisi di lapangan, antara lain: perlunya koordinasi untuk mensinergikan lokus kegiatan pemberdayaan masyarakat oleh SKPD dan kegiatan BPN; perlunya publikasi batas kawasan hutan; perlunya kamar khusus pertanahan untuk mengadili kasus pertanahan; terjadinya kekurangan jumlah juru ukur.

(31)

Laporan Kegiatan Bulan Mei 2014 | 31

2.8.10 Lesson Learned Penyelesaian Kasus Pertanahan Harjo Kuncaran Malang

(Pemantauan Reforma Agraria)

Kegiatan dilaksanakan di Kantor Pertanahan Kabupaten Malang pada tanggal 23 Mei 2014 untuk memperoleh lesson learned mengenai kasus sengketa pertanahan di Desa Harjokuncaran yang diakibatkan oleh keinginan masyarakat untuk menguasai tanah milik Puskopad yang disewakan kepada CV. Beberapa hal penting yang dibahas antara lain:

Dalam penyelesaian kasus tersebut masih terdapat perbedaan data yang dimiliki oleh BPN Kabupaten Malang dengan eksisting di lapangan. Namun hingga saat ini belum dapat dilakukan upaya pengukuran untuk menyamakan data karena situasi di lapangan tidak kondusif.

Hingga saat ini telah dilakukan gelar perkara dengan Komnasham untuk penyelesaian kasus tersebut namun belum ada tindak lanjut.

Selain pembahasan terkait dengan sengketa Harjokuncaran dalam rapat tersebut dibahas pula terkait dengan LP2B. Dalam rapat juga telah kami sampaikan bahwa perubahan guna lahan terkait dengan LP2B peran Badan Pertanahan tidak banyak. Untuk perubahan guna lahan yaitu pemberian ijin dan kesesuaian dengan RTRW berada di bawah kewenangan Pemerintah Daerah. BPN dalam perubahan lahan hanya memberikan pertimbangan teknis sebagai pertimbangan bagi Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan ijin lokasi.

Di Kabupaten Malang terdapat kasus dimana lahan pertanian potensial dalam RTRW penggunaaannya bukan untuk pertanian maupun lahan hijau, hal ini tentu bertentangan dengan penetapan lahan pertanian potensial sebagai LP2B. Untuk menjembatani hal tersebut daerah kesulitan sehingga diharapkan ada arahan pusat (BKPRN) untuk mengeluarkan edaran untuk tidak mengalih fungsikan lahan hijau.

Sebagai kesimpulan untuk permasalahan LP2B perlu dilakukan koordinasi dengan daerah sebagai pelaksana karena banyak hal-hal yang menjadi hambatan. Disamping itu, perlu dilakukan pemantauan lebih lanjut terkait dengan penyelesaian sengketa tanah Harjokuncaran.

Gambar

Gambar 1. Rencana dan Realisasi Penyerapan Anggaran Dit. Tata Ruang dan Pertanahan 51119.5 263242.5465668.57990100131215020406080100
Gambar  2.  Persiapan  Konsinyasi  Direktorat  TRP  di  Malang  dan Kegiatan Pemantauan Pelaksanaan RKP
Gambar 3. Pembahasan TOR Kegiatan Tahun Anggaran 2015
Gambar 4. Rapat Koordinasi Program Agraria Daerah (PRODA)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Konsentrasi penggunaan enzim memberikan efisiensi terhadap waktu reaksi enzimatis dalam pembuatan bahan baku bioetanol, maka dilakukan pengujian berdasarkan jumlah

Dengan mengetahui arus skala penuh Idp, tahanan dalam gerakan Rm, tegangan batere E dan nilai Rh yang diinginkan, rangkaian dapat dianalisis, yakni nilai R1 dan R2

Selain itu, pendistribusian yang tidak seimbang juga dapat menimbulkan proses klasifikasi akan lebih condong pada kelas mayoritas dibandingkan dengan jumlah data

Transit Advertising Tempat Wisata terhadap Tingkat Ekuitas Merek (Studi Eksplanatif Tentang Pengaruh Terpaan Transit Advertising Tempat Wisata Kebun Binatang Gembira Loka

Penyusunan Tugas Perencanaan Unit Pengolahan Pangan dengan judul “Perencanaan Unit Sanitasi Pabrik Wafer Cream dengan Kapasitas Produksi 43.200 Kemasan per Hari @ 62,5

Hambatan-hambatan yang terjadi dalam pelaksanaan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) mata diklat program produktif di SMK Negeri 1 Petang adalah (1) Keterlambatan dana pelaksanaan

Latar Belakang: Overweight dan obesitas yang keduanya didefinisikan sebagai kelebihan berat badan, secara umum merupakan keadaan kegemukan dengan perbedaan tingkatan

d) Menurut ulama Hanafiyah, apabila harta yang dihibahkan itu berbentuk rumah harus bersifat utuh, sekalipun rumah itu boleh dibagi. Akan tetapi ulama Malikiyah,