• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN MOJOKERTO TAHUN 2014"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL KESEHATAN

KABUPATEN MOJOKERTO

TAHUN 2014

(2)

i

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan Rahmat dan Hidayah-Nya penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014 ini dapat diterbitkan. Walapun melalui proses yang tidak mudah, dikarenakan dalam pengumpulan data dan informasinya masih banyak kendala, salah satunya masih adanya sistem manual yang tidak berbasis teknologi informasi.

Profil ini merupakan bentuk pelaporan dari Dinas Kesehatan yang berisikan uraian kegiatan yang dilaksanakan tahun 2014. Merupakan gambaran kinerja sektor kesehatan baik pemerintah maupun swasta selama satu tahun dan juga membandingkan pencapaian tahun-tahun sebelumnya. Profil Kesehatan juga merupakan salah satu indikator dari Renstra yaitu tersedianya buku Profil di tingkat Kabupaten dalam upaya mendukung pelaksanaan manajemen kesehatan dan pengembangan upaya kesehatan melalui pemantapan dan pengembangan Sistem Informasi Kesehatan.

Dengan tersusunnya Profil Kesehatan ini, diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi pengelola program dalam melaksanakan evaluasi dan perencanaan program kesehatan dimasa mendatang, maupun bagi petugas kesehatan pada umumnya dan instansi terkait. Di tahun selanjutnya semoga dapat segera kami terbitkan lebih awal dengan memuat data dan informasi yang berkualitas, serta juga dapat memperhatikan konsistensi data dan analisa, sehingga buku profil ini dapat menjadi rujukan penting bagi setiap pengambil keputusan dan pembangunan kesehatan.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu untuk meningkatkan mutu penyajian kami mengharapkan saran, tanggapan dan peran serta dari semua pihak, khususnya untuk penyusunan pada tahun mendatang yang harus ditingkatkan secara terus – menerus. Semoga Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto tahun 2014 ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, baik di lingkungan pemerintahan, akademisi, organisasi profesi, swasta serta masyarakat umum. Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan fikiran dan tenaganya dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014 ini, kami mengucapkan terima kasih.

Mojokerto, Juni 2015 Plt. KEPALA DINAS KESEHATAN

KABUPATEN MOJOKERTO SEKRETARIS

SITI ASIAH, SKM., MMKes PEMBINA

(3)

ii

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ……….………... I

DAFTAR ISI ………... II

BAB I : PENDAHULUAN……….... 1

BAB II : VISI, MISI,TUJUAN DAN SASARAN .…………...

A. Visi ... B. Misi ... C. Tujuan ... D. Sasaran ... 2 2 2 3 4

BAB III : GAMBARAN UMUM KABUPATEN MOJOKERTO ...

A. Geografis ... B. Keadaan Penduduk ...

6 6 6

BAB IV : SITUASI DERAJAT KESEHATAN ...

A. Derajat Kesehatan ... B. Angka Kematian ... C. Morbiditas/ Angka Kesakitan ...

9 9 11 12

BAB V : UPAYA KESEHATAN ...

A. Pelayanan Kesehatan ... B. Akses Dan Mutu Pelayanan Kesehatan ... C. Perilaku Hidup Masyarakat ... D. Keadaan Lingkungan ... 22 22 30 32 32

BAB VI : SUMBER DAYA KESEHATAN ...

A. Sarana Kesehatan ... B. Tenaga Kesehatan ... C. Pembiayaan Kesehatan ... 37 37 39 40

(4)

iii

Daftar Gambar

Gambar 1 : Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Kelompok Umur

Tahun 2014 Kab. Mojokerto

Gambar 2 : Jumlah Kematian Bayi Kabupaten Mojokerto Tahun 2010- 2014

Gambar 3 : Jumlah Kematian Ibu Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 - 2014

Gambar 4 : Penderita TB Paru BTA+ Di Kab. Mojokerto Tahun 2010 – 2014

Gambar 5 : Penderita Pnemonia ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun

2010 – 2014

Gambar 6 : Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014

Gambar 7 : Penderita Diare ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 –

2014

Gambar 8 : Kasus AFP di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014

Gambar 9 : Penderita Kusta PB+MB di Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Gambar 10 : Penderita DBD ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 –

2014

Gambar 11 : Penderita Malaria di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014

Gambar 12 : Jumlah Kunjungan K4 di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 –

2014

Gambar 13 : Pemberian Fe 1 dan Fe 3 Bumil di Kab. Mojokerto Tahun

2010-2014

Gambar 14 : Jumlah bayi yang diberi ASI Ekslusif Kab. Mojokerto Tahun 2010

– 2014

Gambar 15 : Jumlah Desa UCI Kab. Mojokerto Tahun 2010 – 2014

(5)

iv

Daftar Tabel

Tabel 1 : Luas Wilayah, Jumlah Desa/Kelurahan, Jumlah Penduduk,

Jumlah Rumah Tangga dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan, Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 2 : Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur,

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 3 : Presentase Penduduk Berumur 10 Tahun Keatas yang Melek

Huruf dan Ijazah Tertinggi yang Diperoleh Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 4 : Jumlah Kelahiran Menurut Jenis Kelamin Kecamatan dan

Puskesmas, Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 5 : Jumlah Kematian Neonatal, Bayi dan Balita Menurut Jenis

Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Kabuaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 6 : Jumlah Kematian Ibu Menurut Kelompok Umur, Kecamatan dan

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 7 : Jumlah Kasus Kasus Baru TB BTA+, Seluruh Kasus Tb pada

Anak dan Case Notification Rate (CNR) Per 100.000 Penduduk Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 8 : Jumlah Kasus Dan Angka Penemuan Kasus Tb Paru Bta+

Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 9 : Angka Kesembuhan Dan Pengobatan Lengkap Tb Paru Bta+ Serta

Keberhasilan Pengobatan Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 10 : Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 11 : Jumlah Kasus Hiv, Aids, Dan Syphilis Menurut Jenis Kelamin

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 12 : Persentase Donor Darah Diskrining Terhadap Hiv Menurut Jenis

Kelamin Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 13 : Kasus Diare Yang Ditangani Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan,

Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 14 : Kasus Baru Kusta Menurut Jenis Kelamin, Menurut Jenis

Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

(6)

v

Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 16 : Jumlah Kasus Dan Angka Prevalensi Penyakit Kusta Menurut

Tipe/Jenis, Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 17 : Persentase Penderita Kusta Selesai Berobat (Release From

Treatment/RFT) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 18 : Jumlah Kasus AFP (Non Polio) Menurut Kecamatan Dan

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 19 : Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

(PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 20 : Jumlah Kasus Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi

(PD3I) Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 21 : Jumlah Kasus DBD Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 22 : Kesakitan dan Kematian Akibat Malaria Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 23 : Penderita Filariasis Ditangani Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 24 : Pengukuran Tekanan Darah Penduduk ≥ 18 Tahun Menurut

Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 25 : Pemeriksaan Obesitas Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 26 : Cakupan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim Dengan Metode Iva

Dan Kanker Payudara Dengan Pemeriksaan Klinis (CBE) Menurut Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 27 : Jumlah Penderita Dan Kematian Pada Klb Menurut Jenis

Kejadian Luar Biasa (KLB) Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 28 : Kejadian Luar Biasa (KLB) Di Desa/Kelurahan Yang Ditangani <

24 Jam Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 29 : Cakupan Kunjungan Ibu Hamil, Persalinan Ditolong Tenaga

Kesehatan, Dan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 30 : Persentase Cakupan Imunisasi TT pada Ibu Hamil Menurut Jenis

Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

(7)

vi

Tabel 31 : Persentase Cakupan Imunisasi TT Pada Wanita Usia Subur

Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 32 : Jumlah Ibu Hamil yang Mendapatkan Tabelt FE1 dan FE3

Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 33 : Jumlah Dan Persentase Penanganan Komplikasi Kebidanan Dan

Komplikasi Neonatal Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 34 : Proporsi Peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 35 : Proporsi Peserta KB Baru Menurut Jenis Kontrasepsi,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 36 : Jumlah Peserta KB Baru Dan KB Aktif Menurut Kecamatan Dan

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 37 : Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 38 : Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 39 : Jumlah Bayi Yang Diberi Asi Eksklusif Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 40 : Cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 41 : Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)

Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 42 : Cakupan Imunisasi Hepatitis B < 7 Hari Dan Bcg Pada Bayi

Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 43 : Cakupan Imunisasi Dpt-Hb/Dpt-Hb-Hib, Polio, Campak, Dan

Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 44 : Cakupan Pemberian Vitamin A Pada Bayi Dan Anak Balita

Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 45 : Jumlah Anak 0-23 Bulan Ditimbang Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 46 : Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Jenis Kelamin,

Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

(8)

vii

Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 48 : Cakupan Kasus Balita Gizi Buruk Yang Mendapat Perawatan

Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 49 : Cakupan Pelayanan Kesehatan (Penjaringan) Siswa SD &

Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 50 : Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Menurut Kecamatan Dan

Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 51 : Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut Pada Anak SD Dan

Setingkat Menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 52 : Cakupan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut Menurut Jenis

Kelamin, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 53 : Cakupan Jaminan Kesehatan Penduduk Menurut Jenis Jaminan

Dan Jenis Kelamin Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 54 : Jumlah Kunjungan Rawat Jalan, Rawat Inap, Dan Kunjungan

Gangguan Jiwa Di Sarana Pelayanan Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 55 : Angka Kematian Pasien Di Rumah Sakit Kabupaten Mojokerto

Tahun 2014

Tabel 56 : Indikator Kinerja Pelayanan Di Rumah Sakit Kabupaten

Mojokerto Tahun 2014

Tabel 57 : Persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih Dan Sehat

(Ber-Phbs) Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 58 : Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan Dan Puskesmas

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 59 : Penduduk Dengan Akses Berkelanjutan Terhadap Air Minum

Berkualitas (Layak) Menurut Kecamatan Dan Puskesmas Kabupaten Tahun 2014

Tabel 60 : Persentase Kualitas Air Minum Di Penyelenggara Air Minum Yang

Memenuhi Syarat Kesehatan Kabupaten Tahun 2014

Tabel 61 : Penduduk Dengan Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi Yang Layak

(Jamban Sehat) Menurut Jenis Jamban, Kecamatan, Dan Puskesmas Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 62 : Desa Yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 63 : Persentase Tempat-Tempat Umum Memenuhi Syarat Kesehatan

(9)

viii

Tahun 2014

Tabel 64 : Tempat Pengelolaan Makanan (Tpm) Menurut Status Higiene

Sanitasi Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 65 : Tempat Pengelolaan Makanan Dibina Dan Diuji Petik Kabupaten

Mojokerto Tahun 2014

Tabel 66 : Persentase Ketersediaan Obat Dan Vaksin Kabupaten Mojokerto

Tahun 2014

Tabel 67 : Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan Kabupaten

Mojokerto Tahun 2014

Tabel 68 : Persentase Sarana Kesehatan (Rumah Sakit) Dengan

Kemampuan Pelayanan Gawat Darurat (Gadar) Level I Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 69 : Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan, Dan Puskesmas

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 70 : Jumlah Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)

Menurut Kecamatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 71 : Jumlah Desa Siaga Menurut Kecamatan Kabupaten Mojokerto

Tahun 2014

Tabel 72 : Jumlah Tenaga Medis Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten

Mojokerto Tahun 2014

Tabel 73 : Jumlah Tenaga Keperawatan Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten

Mojokerto Tahun 2014

Tabel 74 : Jumlah Tenaga Kefarmasian Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten

Mojokerto Tahun 2014

Tabel 75 : Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat Dan Kesehatan

Lingkungan Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 76 : Jumlah Tenaga Gizi Di Fasilitas Kesehatan Kabupaten Mojokerto

Tahun 2014

Tabel 77 : Jumlah Tenaga Keterapian Fisik Di Fasilitas Kesehatan

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 78 : Jumlah Tenaga Keteknisian Medis Di Fasilitas Kesehatan

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 79 : Jumlah Tenaga Kesehatan Lain Di Fasilitas Kesehatan

Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 80 : Jumlah Tenaga Penunjang/Pendukung Kesehatan Di Fasilitas

Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Tabel 81 : Anggaran Kesehatan Kabupaten/Kota Kabupaten Mojokerto

(10)

Bab

1

Pendahuluan

Informasi kesehatan sangat dibutuhkan guna dalam mendukung keberhasilan pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan sebagai program berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan sosial. Sesuai dengan visi Kementerian Kesehatan “Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan” dan dengan Misinya “1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; 2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan; 3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; 4) Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik” diperlukan suatu indikator.

Dalam mencapai itu semua maka diperlukan suatu perencanaan yang sistematis. Perencanaan yang baik dapat dilaksanakan dengan mengacu pada data-data kesehatan yang ada. Sumber data-data kesehatan yang akurat ditunjang dengan adanya sitem informasi kesehatan yang baik. Dalam Rencana Pokok Program Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan (RP3JPK) disebutkan bahwa Sistim Informasi Kesehatan perlu dimantapkan dan dikembangkan untuk menunjang sepenuhnya pelaksanaan manajemen dan pengembangan upaya kesehatan melalui penerapan teknologi dari yang sederhana sampai yang mutakhir.

Profil Kesehatan adalah salah satu bentuk sistem infomasi kesehatan yang berupa gambaran umum tentang keadaan kesehatan di suatu wilayah. Data yang ada dalam Profil Kesehatan dapat berupa tabel maupun grafik yang menunjukkan derajat kesehatan masyarakat di wilayah tertentu. Sehingga dari Profil Kesehatan tersebut dapat diketahui daerah mana yang perlu penanganan khusus. Oleh karena itu Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto di susun guna untuk menyediakan data/informasi yang akurat, situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Mojokerto.

Dengan disusunnya buku Profil Kesehatan Kabupaten Mojokerto, maka akan lebih mudah dalam menentukan arah pengambilan kebijakan atau keputusan untuk pembangunan yang lebih intensif, merata dan berkesinambungan. Maka diharapkan derajat kesehatan masyarakat yang telah dicapai tersebut dapat semakin ditingkatkan serta dapat menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat.

(11)

Bab

2

Visi, Misi, Tujuan

dan Sasaran

A. Visi

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, pasal 1 ayat 12, Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Penetapan visi sebagai bagian dari proses perencanaan pembangunan merupakan suatu langkah penting dalam perjalanan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan di daerah. Pada hakikatnya membentuk visi organisasi adalah menggali gambaran bersama tentang masa depan ideal yang hendak diwujudkan oleh organisasi yang bersangkutan. Visi adalah mental model masa depan, dengan demikian visi harus digali bersama, disusun bersama sekaligus diupayakan perwujudannya secara bersama, sehingga visi menjadi milik bersama yang diyakini oleh seluruh elemen organisasi dan pihak-pihak yang terkait dengan upaya mewujudkan visi tersebut. Visi yang tepat bagi masa depan suatu organisasi diharapkan akan mampu menjadi akselerator bagi upaya peningkatan kinerja organisasi.

Dengan memperhatikan arti dan makna visi serta melalui pendekatan membangun visi bersama, maka ditetapkan Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2011 - 2015 yakni :

“Terwujudnya Masyarakat Mojokerto Mandiri Dalam Hidup Sehat”

Untuk dapat menangkap arti dan makna dari visi tersebut maka perlu diberikan penjelasan visi sebagai berikut :

Masyarakat yang mandiri dalam hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Mojokerto menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan, baik yang disebabkan karena penyakit ataupun termasuk gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat.

B. Misi

Setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagai satu organisasi instansi pemerintah harus memastikan agar visi yang telah ditetapkan bersama dapat diupayakan perwujudannya. Untuk kepentingan itu harus disusun suatu tahapan yang secara umum akan terbagi kedalam dua tahapan yakni apa yang hendak dicapai

(12)

dan bagaimana upaya untuk mencapainya. Salah satu unsur dalam tahapan tersebut adalah penetapan misi organisasi yang dalam hal ini adalah misi Dinas Kesehatan.

Dalam rangka mewujudkan visi-nya maka ditetapkan misi yang diemban Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Tahun 2011 - 2015 sebagai berikut :

1. Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat;

2. Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau;

3. Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan;

4. Meningkatkan dan mendayagunakan sumberdaya kesehatan. C. Tujuan

Tujuan organisasi merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi organisasi yang mengandung makna :

1) Merupakan hasil akhir yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu sampai tahun terakhir renstra;

2) Menggambarkan arah strategis organisasi dan perbaikan-perbaikan yang ingin diciptakan sesuai tugas pokok dan fungsi organisasi;

3) Meletakkan kerangka prioritas untuk memfokuskan arah sasaran dan strategi organisasi berupa kebijakan, program operasional dan kegiatan pokok organisasi selama kurun waktu renstra.

Berdasarkan arahan arti dan makna penetapan tujuan organisasi tersebut maka dalam kedudukannya sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah, Dinas Kesehatan dalam mewujudkan misinya menetapkan tujuan sebagai berikut :

1) Untuk mewujudkan misi “Mendorong terwujudnya kemandirian masyarakat untuk hidup sehat” maka ditetapkan tujuan :

a) Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)

2) Untuk mewujudkan misi “Mewujudkan, memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau” maka ditetapkan tujuan :

a) Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Puskesmas dan jaringannya

b) Meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat.

c) Menjamin ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan.

(13)

3) Untuk mewujudkan misi “Meningkatkan upaya pengendalian penyakit dan penanggulangan masalah kesehatan” maka ditetapkan tujuan :

a) Mencegah, menurunkan dan mengendalikan penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan lainnya.

4) Untuk mewujudkan misi “Meningkatkan dan mendayagunakan sumberdaya kesehatan” maka ditetapkan tujuan :

a) Meningkatkan jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar.

D. Sasaran

Sasaran adalah merupakan penjabaran dari tujuan organisasi dan menggambarkan hal-hal yang ingin dicapai melalui tindakan-tindakan yang akan dilakukan secara operasional. Oleh karenanya rumusan sasaran yang ditetapkan diharapkan dapat memberikan fokus pada penyusunan program operasional dan kegiatan pokok organisasi yang bersifat spesifik, terinci, dapat diukur dan dapat dicapai.

Sasaran organisasi yang ditetapkan pada dasarnya merupakan bagian dari proses perencanaan strategis dengan fokus utama berupa tindakan pengalokasian sumber daya organisasi ke dalam strategi organisasi. Oleh karenanya penetapan sasaran harus memenuhi kriteria terinci, terukur, bertujuan, berorientasi dan tepat guna (specific, measurable, agresive but attainable, result oriented and time bond). Guna memenuhi kriteria tersebut maka penetapan sasaran harus disertai dengan penetapan indikator sasaran, yakni keterangan, gejala atau penanda yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan upaya pencapaian sasaran atau dengan kata lain disebut sebagai tolok ukur keberhasilan pencapaian sasaran.

Berdasarkan makna penetapan sasaran tersebut maka sampai dengan akhir tahun 2015, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto menetapkan sasaran dengan rincian sebagai berikut :

1) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 1 “Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu menumbuhkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta mengembangkan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)” maka ditetapkan sasaran :

a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat serta pemberdayaan masyarakat ke arah kemandirian

2) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 2 “Meningkatkan akses, pemerataan dan kualitas pelayanan kesehatan melalui Rumah Sakit, Puskesmas dan jaringannya” maka ditetapkan sasaran :

a. Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu, bayi, anak, remaja dan lanjut usia serta kesehatan reproduksi

(14)

b. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya serta pelayanan kesehatan penunjang

3) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 2 “Meningkatkan kesadaran gizi keluarga dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat” maka ditetapkan sasaran :

a. Meningkatkan keluarga sadar gizi dan perbaikan gizi masyarakat

4) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 2 “Menjamin ketersediaan, pemerataan, pemanfaatan, mutu, keterjangkauan obat dan perbekalan kesehatan serta pembinaan mutu makanan” maka ditetapkan sasaran :

a. Meningkatkan pengelolaan obat, perbekalan kesehatan dan makanan

5) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 3 “Mencegah, menurunkan dan mengendalikan penyakit menular dan tidak menular serta masalah kesehatan lainnya” maka ditetapkan sasaran :

a. Menurunnya angka kesakitan dan kematian penyakit menular, tidak menular dan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi serta pengamatan penyakit dalam rangka sistem kewaspadaan dini dan penanggulangan KLB/wabah, ancaman epidemi serta bencana

6) Untuk mewujudkan tujuan dari Misi 4 “Meningkatkan jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar” maka ditetapkan sasaran :

a. Meningkatnya jumlah, jenis, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan sesuai standar

(15)

Bab

3

Gambaran Umum

Kabupaten

Mojokerto

A. GEOGRAFIS 1. Letak

Kabupaten Mojokerto ditinjau dari astronomi dan geografis berada antara 7o

18‟ 35” sampai dengan 7 o 39‟ 47” Lintang Selatan dan 5 o 52„ 0” Bujur Timur,

tepatnya 50 km sebelah barat Ibukota Kabupaten Mojokerto yaitu Surabaya, dengan batas-batas :

a. Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik

b. Sebelah Timur : Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik

c. Sebelah Selatan : Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan

d. Sebelah Barat : Kabupaten Jombang dan Kabupaten Malang

Dengan Pusat Pemerintahan terletak didalam wilayah Kota Mojokerto. 2. Iklim

Seperti wilayah Jawa Timur pada umumnya, Kabupaten Mojokerto beriklim tropik, namun dalam tiga tahun terakhir lama musim penghujan dan musim kemarau mulai tidak seimbang. Sehingga mengakibatkan pergantian musim yang tidak tentu.

B. KEADAAN PENDUDUK

Data kependudukan sangat penting dan mempunyai arti yang sangat strategis dalam pembangunan pada umumnya dan bidang kesehatan pada khususnya. Hampir semua kegiatan pembangunan kesehatan obyek sasarannya adalah masyarakat atau penduduk.

Kondisi data Kependudukan di Kabupaten Mojokerto sebagai berikut : 1. Pertumbuhan Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Mojokerto menurut perhitungan proyeksi dari data pusdatin pada tahun 2014 sebanyak 1.072.840 jiwa. Dimana jumlah rumah tangga 371.986.

2. Distribusi Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Distribusi penduduk menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut :

 Laki-laki : 535.068 jiwa

(16)

 Sex Ratio : 99,50

 Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio) : 44,97

Gambar 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Kelompok Umur Tahun 2014 Kab. Mojokerto

Jumlah penduduk usia (0 – 4 tahun) sebesar 86.386 jiwa, usia (5 – 9 tahun) sebesar 85.237 jiwa, usia ( 10 – 14 tahun) sebesar 82.296 jiwa, usia (15 – 19 tahun) sebesar 89.409 jiwa, usia (20 – 24) sebesar 83.211 jiwa, usia (25 –

29) sebesar 81.240 jiwa, usia (30 – 34) sebesar 84.671 jiwa, usia (35 – 39)

sebesar 86.669 jiwa, usia (40 – 44) sebesar 85.314 jiwa, usia (45 – 49) sebesar

80.171 jiwa, usia (50 – 54) sebesar 68.879 jiwa, usia (55 – 59) sebesar 52.669

jiwa, usia (60 – 64) sebesar 38.622 jiwa, usia (65 – 69) sebesar 27.660 jiwa,

usia (70 – 74) sebesar 19.427 jiwa dan usia (75+ tahun) sebesar 20.979 jiwa

(Tabel 3).

3. Kepadatan Penduduk

Luas wilayah Kabupaten Mojokerto adalah 692.15 km2, dengan jumlah

penduduk 1.072.840 jiwa. Dimana terdapat 304 desa dan kelurahan, dengan

299 desa dan 5 kelurahan. Kepadatan penduduk per Km2 adalah 1.550,0

(17)

Bab

4

SITUASI DERAJAT

KESEHATAN

A. DERAJAT KESEHATAN

Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya produktif secara sosial dan ekonomis sesuai dengan Undang-Undang No. 36 tahun 2009. Keberhasilan Pembangunan Kesehatan dapat dilihat dari berbagai indikator yang digunakan untuk memantau derajat kesehatan sekaligus sebagai evaluasi keberhasilan pelaksanaan program.

Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari indikator-indikator yang digunakan antara lain angka kematian, angka kesakitan serta status gizi. Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas kesehatan (fasility based) dan dari masyarakat (community based).

Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu kewaktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survei dan penelitian.

B. ANGKA KEMATIAN

1. Angka Kematian Bayi (AKB)

Kematian bayi yang dimaksud adalah kematian yang terjadi pada bayi sebelum mencapai usia satu tahun. Angka kematian bayi (AKB) atau Infan Mortality Rate adalah banyaknya bayi yang meninggal sebelum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup. Penyebab dari kematian bayi di Kabupaten Mojokerto diakibatkan oleh BBLR (berat badan lahir rendah), asfiksia, kongenital, infeksi, dan lain-lain.

Selama tahun 2014 dilaporkan terjadi 16.542 kelahiran. Dari seluruh kelahiran, tercatat 59 kasus lahir mati dan kasus kematian bayi sebesar 127, diantaranya laki-laki sebanyak 83 bayi dan sebanyak 44 bayi perempuan (Tabel 5). Jumlah kematian tertinggi ada pada Kecamatan Pungging yaitu 11 bayi. Dibandingkan dengan tahun 2013 kasus kematian bayi sebesar 129 bayi, maka telah terjadinya penurunan kasus kematian bayi. Dengan angka kematian bayi di tahun 2014 adalah 7,68 per 1000 kelahiran hidup. Penurunan angka ini dikarenakan sudah tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta sudah tersedianya ruang PONED di beberapa

(18)

Puskesmas. Menurunnya AKB dalam beberapa waktu terakhir memberi gambaran adanya peningkatan dalam kualitas hidup dan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Kematian balita yang dimaksud adalah Kematian yang terjadi pada balita sebelum usia 5 (lima) tahun (bayi + anak balita). Angka kematian balita adalah jumlah anak yang meninggal sebelum usia 5 tahun, dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. Jumlah kematian balita tahun 2014 sebanyak 136 anak, dengan jumlah laki-laki 86 anak dan perempuan 50 anak. Jumlah kematian anak balita tahun 2014 sebanyak 9 anak, dimana jumlah laki-laki 3 anak dan perempuan 6 anak (Tabel 5).

Kasus kematian bayi yang terjadi selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat pada diagram di bawah ini :

Gambar 2. Jumlah Kematian Bayi Kabupaten Mojokerto Tahun 2010- 2014 2. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)

Kematian ibu yang dimaksud adalah kematian perempuan pada saat hamil dan atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dll. Angka kematian ibu dihitung per 100.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi bahkan tertinggi diantara negara tetangga. Penyebab kematian ibu di sarana pelayanan kesehatan, pada umumnya disebabkan karena 3 T (terlambat mengambil keputusan, terlambat mendapatkan transportasi dan terlambat penanganan di sarana pelayanan kesehatan) dan 4 Terlalu (terlalu tua, terlalu banyak, terlalu muda, terlalu dekat jarak kehamilannya).

Jumlah kematian ibu di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2014 sebanyak 15 kasus yang terdiri dari 8 kasus pada Kematian Ibu Hamil, tidak ada kematian pada Ibu Bersalin dan 7 kasus pada Kematian ibu Nifas. Jika dirinci menurut kelompok

(19)

umur kesemua kasus kematian ibu tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut, kematian pada Ibu Hamil 5 orang meninggal pada usia 20-34 tahun dan 3 orang lagi meninggal pada usia ≥35 tahun. Pada kematian Ibu Nifas terdapat 5 orang yang meninggal pada usia 20-34 tahun, dan 2 orang pada usia ≥ 35 tahun (Tabel 6). Secara keseluruhan ada penurunan angka kematian ibu jika dibandingkan dari tahun 2013 dimana angka kematian tahun 2013 adalah 133,95 dan tahun 2014 sebesar 90,68 per 100.000 kelahiran hidup.

Beberapa penyebab terjadinya kematian pada ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, keracunan kehamilan (Pre eklamsi), infeksi dan penyebab yang lainnya bila dilihat dari hasil laporan tersebut. Perlu dicermati bahwa masyarakat masih belum memahami secara benar penanganan ibu hamil, masyarakat masih menganggap perdarahan yang dialami bumil merupakan suatu hal yang biasa, keadaan ini berdampak pada keterlambatan merujuk ke fasilitas kesehatan terdekat serta persiapan rujukan yang dilakukan oleh keluarga serta penanganan perdarahan di fasilitas kesehatan perlu dilakukan secara adequat sehingga kesiapan peralatan yang memadai serta ketrampilan petugas merupakan sesuatu yang wajib ada di fasilitas pelayanan kesehatan.

Kasus kematian maternal yang terjadi selama 5 tahun berturut-turut dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat pada diagram dibawah ini (gambar 3).

Gambar 3. Jumlah Kematian Ibu Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 - 2014 Upaya Dinas Kesehatan untuk menurunkan AKI dan AKB :

 Pembinaan teknis berkala (pertemuan bidan,evaluasi kinerja,validasi data dll)

 Kemitraan Bidan dan Dukun

 Pengembangan desa pelaksana P4K (Program Perencanaan Persalinan dan

(20)

 Peningkatan Ketrampilan Tenaga Kesehatan: APN (Asuhan Persalinan Normal), SDIDT (Stimulasi Dini Intervensi Deteksi Tumbuh Kembang Anak), Pemasangan dan Pencabutan IUD dan Implan, Konseling.

 Peningkatan kerjasama Lintas Sektor dan Lintas Program

 Pengembangan pelayanan persalinan melalui JKN.

C. Morbiditas/ Angka Kesakitan

Morbiditas diartikan sebagai angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Selain menghadapi transisi demografi, Indonesia juga dihadapkan pada transisi epidemiologi yang menyebabkan beban ganda (double burden). Di satu sisi masih dihadapi tingginya penyakit infeksi (baik re-emerging maupun new emerging) serta gizi kurang, namun disisi lain dihadapi pula meningkatnya penyakit non infeksi dan degeneratif. Bagi kelompok usia produktif, kesakitan sangat mempengaruhi produktivitas dan pendapatan keluarga, yang pada akhirnya menyebabkan kemiskinan.

Angka kesakitan diperoleh dari laporan yang ada pada sarana pelayanan kesehatan baik di Rumah Sakit maupun di Puskesmas melalui pencatatan dan pelaporan maupun dari community based data yang diperoleh melalui pengamatan (surveilance).

1. Tuberkulosis (TB)

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kasus baru TB BTA+ merupakan Pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). TB BTA + yaitu penemuan pasien TB melalui pemeriksaan dahak sewaktu- pagi- sewaktu (SPS) dengan hasil pemeriksaan mikroskopis :

a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif b. Terdapat 1 spesimen dahak SPS dengan hasil BTA positif dan foto toraks

dada menunjukan gambaran tuberculosis

c. Terdapat 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya dengan hasil BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.

Pengendalian TB di Kabupaten Mojokerto memakai strategi Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS). Dengan program ini kita berusaha mencapai target penemuan penderita sebesar 70% dari perkiraan penderita TB BTA+ kasus baru dengan tingkat kesembuhan sebesar 85 %. Salah satu indikator yang digunakan dalam pengendalian TB adalah Case Detection Rate (CDR), yaitu proporsi jumlah

(21)

pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati terhadap jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut.

Jumlah Penderita TB BTA+ Paru Baru Kab. Mojokerto tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat dari diagram dibawah ini :

Gambar 4. Penderita TB Paru BTA+ Di Kab. Mojokerto Tahun 2010 – 2014 Pemberantasan penyakit tuberculosis paru dilaksanakan mengacu pada komitmen nasional yaitu menggunakan pendekatan Directly Observe Treatment Shortcourse (DOTS) atau pengobatan TB paru dengan pengawasan langsung oleh pengawas menelan obat (PMO). Jumlah kasus TB paru baru sebesar 470 dengan angka kematian selama pengobatan per 100.000 penduduk sebesar 0,47 dengan jumlah kematian sebesar 5 jiwa (Tabel 9). Angka keberhasilan pengobatan sebesar 98,65%. Sedangkan jumlah kasus TB pada anak (0 – 14 tahun) sebanyak 17 anak (Tabel 7).

Angka Kesembuhan pada tahun 2014 adalah 91,54% dengan jumlah BTA+ diobati sebanyak 591 (Tabel 9) dan yang mendapat pengobatan lengkap sebanyak 42 jiwa.

2. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Pneumonia merupakan infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli). Infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamur. Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian balita yang utama, selain diare. Penyakit ini merupakan bagian dari penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Penemuan penderita pneumoni balita yaitu Balita dengan pneumonia yang ditemukan dan diberikan tatalaksana sesuai standar di sarana kesehatan di satu wilayah dalam waktu satu tahun. Upaya pemberantasan penyakit ISPA dilaksanakan dengan fokus penemuan dini dan tata laksana kasus secara cepat dan tepat. Upaya ini dikembangkan melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Kasus penderita Pnemonia yang ada di Kabupaten Mojokerto tahun 2010 – 2014, dapat dilihat dari diagram dibawah ini :

(22)

Gambar 5. Penderita Pnemonia ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 - 2014 Jumlah balita penderita pnemonia yang dilaporkan dan dapat ditangani di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebanyak 5.879 penderita, terjadi peningkatan dibandingkan pada tahun 2013 sebesar 3.839. Tahun 2014 dari 8.639 perkiraan penderita yang mendapatkan penanganan sebesar 5.879 penderita (68,06%) (Tabel 13).

3. HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS)

HIV merupakan Human Immunodeficiency Virus adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh tidak mampu melindungi diri dari penyakit lain. Sedangkan AIDS adalah Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh HIV. Perkembangan penyakit HIV-AIDS terus menunjukkan peningkatan, meskipun berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan.

Kasus penderita HIV-AIDS yang ada di Kabupaten Mojokerto tahun 2010 – 2014, dapat dilihat dari diagram dibawah ini :

Gambar 6. Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014 Jumlah kasus HIV/AIDS tahun 2014 sudah dapat dilihat secara terpisah, jumlah kasus HIV sama dengan kasus AIDS dimana terdapat 116 kasus. Hal ini

(23)

disebabkan karena sebagian penderita terdeteksi pada saat sudah terinfeksi AIDS, maka otomatis dapat dikatakan HIV. Jumlah kematian akibat AIDS sebanyak 26 jiwa pada tahun 2014. (Tabel 11)

Terjadi penurunan kasus dari tahun 2013 ke tahun 2014, hal ini menunjukkan bahwa adanya kesadaran dari masyarakat untuk memeriksanakan diri ke sarana kesehatan, selain itu pesatnya jumlah kasus juga didasarkan dengan adanya mobil layanan keliling untuk tes darah secara sukarela, sehingga penemuan penderita HIV cepat terdeteksi dan segera tertangani. Untuk penanganan kasus HIV/AIDS bekerjasama dengan klinik VCT RSUD Prof. Dr. Soekandar Mojosari dan UPIPI RS Dr. Soetomo Surabaya.

Hasil skrining yang dilakukan di unit transfusi darah PMI Kabupaten Mojokerto selama tahun 2014 menunjukkan jumlah pendonor sebesar 15.255 diantaranya 7.679 laki-laki dan 7.576 perempuan, dan sampel darah yang diperiksa 100%. (Tabel 12)

Kasus kematian pada pasien HIV terus meningkat, namun diharapkan dengan pemberian anti retrovirus, kematian pasien HIV dapat ditekan dan diharapkan usia hidup serta kualitas hidup akan meningkat.

4. Diare data

Diare merupakan penyakit yang terjadi ketika terdapat perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih. Perkiraan Jumlah Kasus Diare adalah perkiraan jumlah penderita diare yang datang ke sarana kesehatan dan kader adalah 10% dari angka kesakitan dikali jumlah penduduk di suatu wilayah kerja dalam waktu satu tahun.

Penderita diare yang ditangani adalah Jumlah penderita yang datang dan dilayani di sarana kesehatan dan kader di suatu wilayah tertentu dalam waktu satu tahun. Jumlah penderita diare yang ditangani di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebesar 36.378 penderita, dengan jumlah target penemuan sebesar 22.958 penderita mrupakan 10% dari jumlah penduduk tahun 2014 (Tabel 13). Jumlah kasus pada tahun 2014 menurun dari tahun 2013, hal ini dikarenakan sudah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk segera mengatasi gejala yang ditimbulkan oleh diare tersebut, serta segera untuk berobat ke sarana kesehatan atau Puskesmas.

Kasus penderita Diare pada balita yang ada di Kabupaten Mojokerto tahun 2010 – 2014 dapat dilihat dari diagram dibawah ini :

(24)

Gambar 7. Penderita Diare ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014 5. AFP (Acute Flaccid Paralysis)

Polio merupakan salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan. AFP yang dimaksud adalah kelumpuhan pada anak berusia < 15 tahun yang bersifat layuh (flaccid) yang terjadi secara akut, mendadak dan bukan disebabkan ruda paksa.

Kejadian AFP pada saat ini diproyeksikan sebagai indikator untuk menilai program eradikasi polio (erapo). Upaya memantau keberhasilan erapo adalah dengan melaksanakan surveilans secara aktif untuk menemukan kasus AFP sebagai upaya mendeteksi secara dini munculnya virus polio liar yang mungkin ada di masyarakat agar dapat segera dilakukan penanggulangan, cakupan vaksinasi polio rutin yang tinggi dan sanitasi lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan. Jumlah kasus AFP (non polio) di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebanyak 28 kasus dari 253.919 jumlah penduduk < 15 tahun (Tabel 18). Terjadi peningkatan kasus dari tahun 2013 yang terdapat 4 kasus AFP. Sehingga perlu dilakukan evaluasi dalam penanganan dan kesigapan penanggulangan kasus AFP.

Kasus penderita AFP yang ada di Kabupaten Mojokerto tahun 2010 – 2014, dapat dilihat dari diagram dibawah ini :

(25)

6. Penyakit Kusta

Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Jumlah penderita baru penyakit Kusta tahun 2014 yang dilaporkan sebanyak 77 orang dimana kasus MB+PB laki-laki sebesar 45 orang dan perempuan sebesar 32 orang (Tabel 14). Yang mengalami cacat tingkat 2 sebanyak 19 orang (Tabel 15). Jumlah kasus kusta yang tercatat sebanyak 145 orang, PB sebesar 4 orang dan MB sebesar 141 orang, dengan angka prevalensi per 10.000 penduduk sebesar 1,35. (Tabel 16)

Gambar 9. Penderita Kusta PB+MB di Kabupaten Mojokerto Tahun 2014

Penderita kusta yang selesai berobat atau menjalani pengobatan RFT sebanyak 69 orang. Dengan rincian RFT PB sebanyak 2 orang laki-laki (100 %) RFT PB perempuan sebanyak 2 orang (100%), dan RFT MB sebesar laki-laki sebanyak 40 orang (45,98 %) dan perempuan 25 orang (46,30 %) (Tabel 17). Kasus Penderita Kusta belum bisa mencapai eliminasi. Tetapi ada kecenderungan menurun, dikarenakan upaya pencarian lebih intensif. Setelah kasus yang ditemukan semakin banyak dan diobati, maka diharapkan pada tahun – tahun berikutnya prevalensi kusta akan menurun sampai terjadi eliminasi.

7. Demam Berdarah Dengue (DBD)

Demam Berdarah Dengue merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang anak berumur < 15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa. Kabupaten Mojokerto termasuk Kabupaten endemis DBD. Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) ada kecenderungan menurun, kasus DBD tidak lagi hanya menyerang anak-anak, namun juga orang dewasa. Pada tahun 2014 penderita di Kabupaten Mojokerto 49 penderita, dengan rincian laki-laki sebanyak 28 penderita dan perempuan sebanyak 21 penderita. Tidak ada kasus penderita yang meninggal dunia (Tabel 21). Pada tahun 2013 penderita DBD sebanyak 59 penderita dan yang meninggal sebanyak 4 orang. Terjadi penurunan kasus DBD dari tahun 2013 ke tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa antisipasi untuk penyebaran kasus dilakukan fogging focus dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto yang bertujuan

(26)

untuk memutus mata rantai penularan. Disamping itu tetap di sarankan pada masyarakat untuk tetap melakukan PSN di rumah maupun desa masing–masing.

Kasus penderita Demam Berdarah Dengue ( DBD ) yang terjadi selama 5 Tahun berturut-turut dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2014, dapat dilihat pada diagram berikut :

Gambar 10. Penderita DBD ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014 Upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan ;

 Surveilans aktif di Rumah Sakit dan Puskesmas Rawat Inap Se-Kabupaten

Mojokerto

 Pelacakan Kasus dilokasi penderita

 Penanggulangan Fokus di lokasi penderita mulai dari pemeriksaan jentik,

penyuluhan, pemberantasan sarang nyamuk, abatisasi dan foging.

Upaya pencegahan telah dilakukan dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Pemberantasan sarang nyamuk telah dilakukan di tiap rumah di seluruh kecamatan di Kabupaten Mojokerto.

8. Malaria

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit bernama plasmodium. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit tersenut. Kasus malaria di Kabupaten Mojokerto berjumlah 11 penderita, dimana kasus terbanyak terjadi di Gayaman sebanyak 3 orang. Penderita malaria menurut jenis kelamin adalah laki – laki yaitu sebanyak 8 orang, sedangkan perempuan 3 orang. Jumlah penderita Malaria menurut jenis kelamin di Kabupaten Mojokerto Tahun 2014 dapat dilihat pada diagram berikut :

(27)

Gambar 11. Penderita Malaria di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014 Penyakit malaria yang positif dengan pemeriksaan darah pada tahun 2014 sebanyak 11 orang dan tidak ada yang meningggal dunia (Tabel 22), terjadi peningkatan kasus di tahun 2013 yang dinyatakan positif 26 penderita. Adanya kasus malaria di Kabupaten Mojokerto sendiri adalah berasal dari penderita yang bekerja di daerah endemis malaria seperti di daerah timur Indonesia. Antisipasi perlu dilakukan dengan memetakan vektor dan surveilans yang baik.

9. Penyakit Filariasis

Filariasis adalah penyakit zoonosis menular yang banyak ditemukan di wilayah tropika seluruh dunia. Penyebabnya adalah sekelompok cacing parasit nematoda yang menyebabkan infeksi sehingga berakibat munculnya edema. Jumlah kasus Filariasis di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2014 adalah nihil atau tidak ditemukannya kasus filariasis (Tabel 23).

Pada tahun 2013 juga tidak ditemukan kasus penyakit filariasis, hal ini menunjukkan terjadi penurunan yang sangat drastis di tahun 2012. Hal ini menunjukkan adanya upaya pencegahan yang telah dilakukan secara maksimal.

10. Hipertensi/tekanan darah tinggi

Hipertensi/ tekanan darah tinggi adalah adalah Peningkatan tekanan darah

yaitu keadaaan dimana tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg (Joint National Committee on Prevention Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure VII/JNC-VII, 2003). Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole) atau berelaksasi di antara denyut (diastole).

Pengukuran tekanan darah adalah Penduduk yang berusia > 18 tahun yang dilakukan pengukuran tekanan darah minimal satu tahun sekali di suatu wilayah. Pengukuran dapat dilakukan di dalam unit pelayanan kesehatan primer, pemerintah maupun swasta, di dalam maupun di luar gedung. Cakupan pemeriksaan tekanan

(28)

darah tinggi di Kabupaten Mojokerto sebanyak 285.674, dan yang mengalami hipertensi sebanyak 285.674. Karena semua yang diperiksa adalah pasien hipertensi.

11. Obesitas

Obesitas adalah Terjadinya penimbunan lemak yang berlebihan pada tubuh yang dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan. Dikatakan obesitas apabila hasil pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT) > 25. Pemeriksaan obesitas adalah Persentase pengunjung Puskesmas dan jaringannya berusia > 15 tahun yang dilakukan pemeriksaan obesitas dalam kurun waktu satu tahun. Cakupan pemeriksaan obesitas di Kabupaten Mojokerto sebanyak 16.540.

12. IVA positif pada perempuan usia 30-50 tahun

IVA (Inspeksi Visual dengan asam asetat) adalah Pemeriksaan dengan cara mengamati dengan menggunakan spekulum, melihat leher rahim yang telah dipulas dengan asam asetat atau asam cuka (3-5%). Pada lesi prakanker akan menampilkan warna bercak putih yang disebut acetowhite epithelium. Deteksi dini yang dimaksud dapat dilakukan di puskesmas dan jaringannya, di dalam maupun di luar gedung. Cakupan pemeriksaan IVA di Puskesmas Kabupaten Mojokerto sebanyak 5.145.

13. Kejadian Luar Biasa (KLB)

Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dimaksud adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu desa /kelurahan dalam waktu tertentu. Kejadian luar biasa di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 terjadi di 22 desa/kelurahan dari total 304 desa/kelurahan, dimana sudah ditangani 100% <24 jam (Tabel 28). Telah dilaksanakan SKD – KLB 1 sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa pada semester 1.

Jumlah penderita dan kematian pada KLB menurut jenis KLB di Kabupaten Mojokerto Tahun 2014 dengan jenis KLB yaitu Difteri. Kejadian Difteri di 11 kecamatan dan 22 desa, dimana jumlah penduduk yang terancam 603.310, laki-laki 295.488 dan perempuan 307.822. Jumlah penderita sebanyak 22 orang, laki-laki sebanyak 14 orang dan perempuan sebanyak 8 orang (Tabel 27). Jumlah penderita Difteri terbanyak 70% pada usia > 25 tahun, dan 30% diantaranya berusia < 25 tahun.

Jumlah KLB terbanyak pada kelompok usia 1 – 4 tahun, dimana terdapat 10 penderita. Dan pada kelompok usia 20 – 44 tahun. Pada kelompok usia tersebut rawan terkenan kasus penyakit KLB.

14. Penyakit Menular Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi (PD3I) adalah penyakit Difteri, Pertusis, Tetanus non neonatorum, Tetanus neonatorum, Campak, Polio dan Hepatitis B. PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan

(29)

dengan pelaksanaan program imunisasi, pada profil kesehatan ini akan dibahas penyakit difteri, pertusis, tetanus, campak, polio dan hepatitis.

a) Difteri

Difteri adalah Infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphteriae, yang ditandai dengan pembentukan membran di kerongkongan dan aliran udara lainnya yang menyebabkan sulit bernafas. Termasuk Difteri pada mata, kulit, telinga, hidung dan vagina. Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif rendah. Rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi adanya program imunisasi. Jumlah kasus penyakit difteri di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 yaitu sebanyak 22 kasus, diantaranya 15 orang laki-laki dan 7 orang perempuan. Dimana difteri ini menjadi kasus KLB di Kabupaten Mojokerto (Tabel 19). Jumlah penderita Difteri terbanyak 70% pada usia > 25 tahun, dan 30% diantaranya berusia < 25 tahun.

b) Pertusis

Pertusis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bardetella Pertusis dengan gejala batuk beruntun disertai tarikan nafas hup (whoop) yang khas dan mengalami muntah. Gejala pertusis demam ringan, bersin, hidung berair dan batuk kering. Disebut juga batuk rejan atau batuk seratus hari. Di Kabupaten Mojokerto tidak ditemukan penderita pertusis (Tabel 19). Upaya pencegahan kasus pertusis dilakukan melalui imunisasi DPT+HB sebanyak 3 kali yaitu saat usia 2 bulan, 3 bulan dan 4 bulan atau usia yang lebih dari itu tetapi masih di bawah 1 tahun (usia sampai dengan 11 bulan).

c) Tetanus

Tetanus adalah penyakit infeksi akut dan sering fatal yang mengenai sistem saraf yang disebabkan infeksi bakteri dari luka terbuka. Ditandai dengan kontraksi otot Tetanik dan Hiperrefleksi, yang mengakibatkan Trismus (rahang terkunci), Spasme Glotis, Spasme otot umum, Opistotonus, Spasme Respiratoris, serangan kejang dan Paralisis. Tetanus dibedakan menjadi dua yaitu tetanus non neonatorum dan tetanus neonatorum. Di Kabupaten Mojokerto tidak ditemukan penderita tetanus (Tabel 19).

d) Campak

Campak adalah Penyakit akut yang disebabkan Morbili virus ditandai dengan munculnya demam tinggi (>38 C), bintik merah (ruam), disertai salah satu gejala seperti batuk, pilek dan mata merah. Untuk jumlah kasus campak di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 mengalami penurunan yang drastis dari tahun 2013, hasil dari pelaporan Subdin P2PL untuk tahun 2014 tidak terdapat kasus penyakit campak, hal ini berbeda dari tahun 2013 yang terdapat 24 kasus campak (Tabel 21).

(30)

e) Polio

Polio adalah Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Polio. Dapat menyerang semua umur, tetapi biasanya menyerang anak-anak usia kurang dari 3 tahun yang menyebabkan kelumpuhan sehingga penderita tidak dapat menggerakkan salah satu bagian tubuhnya. Gerakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dalam rangka Eradikasi Polio dan wujud dari kesepakatan global bertujuan membasmi penyakit polio. Keberhasilan dari program tersebut bisa dicapai dengan dilaksanakan surveilance secara aktif baik di Rumah Sakit dan di masyarakat setiap minggu. Untuk dapat menemukan kasus secara dini terhadap munculnya virus polio liar yang mungkin terdapat di masyarakat sehingga dapat segera dilakukan penanggulangan.

Kasus polio di tahun 2014 tidak ditemukannya penderita polio/nihil. Sama halnya juga pada tahun 2013 yang tidak ditemukan kasus polio, sedangkan pada tahun sebelumnya seperti pada tahun 2009 terdapat 7 kasus polio dan tahun 2010 terdapat 5 kasus. Hal ini menunjukkan bahwa penanggulangan yang dilakukan tepat sasaran dan sudah meratanya pemberian imunisasi polio di tiap kecamatan di Kabupaten Mojokerto (Tabel 21).

f) Hepatitis B

Hepatitis B adalah suatu penyakit hati yang disebabkan oleh "Virus Hepatitis B" (VHB), suatu anggota famili Hepadnavirus yang dapat menyebabkan peradangan hati akut atau menahun yang pada sebagian kecil kasus dapat berlanjut menjadi sirosi hati atau kanker hati. Hepatitis B adalah penyakit infeksi, terutama mengenai hati. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B. Hepatitis B merupakan salah satu dari 5 jenis hepatitis, yaitu hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D dan hepatitis E. Hepatitis B dapat berupa infeksi akut (cepat timbul lalu pulih) dan juga kronik (berlangsung lama). Sebanyak 1%-5% dewasa, 90% bayi baru lahir, dan 50% bayi yang terinfeksi hepatitis B akut akan berkembang menjadi hepatitis kronik.

Hepatitis B dapat menular melalui:

a. Darah: penerima donor darah, pengguna jarum suntik tidak steril, pasien cuci darah, pekerja kesehatan, serta pekerja yang terpapar dengan darah.

b. Hubungan seksual.

c. Lapisan lendir atau jaringan: tertusuk jarum, penggunaan ulang alat medis yang terkontaminasi, tato, akupunktur, tindik, penggunaan bersama pisau cukur, sikat gigi dan silet.

d. Dari ibu hamil penderita hepatitis B dapat juga menularkan ke janinnya saat melahirkan. Metode ini merupakan metode penularan paling sering di negara berkembang.

Hepatitis B tidak menular melalui sentuhan tangan, pemakaian peralatan makan/minum penderita, ciuman, pelukan, batuk, bersin, atau menyusui. Virus hepatitis B yang masuk ke dalam tubuh terbawa aliran darah sampai ke hati, di mana virus ini berkembang biak di dalam sel hati. Sel pertahanan tubuh manusia berusaha

(31)

mengilangkan virus ini dengan menyerang sel hati, sehingga terjadi peradangan dan kerusakan hati.

Kabupaten Mojokerto tahun 2014 cakupan penderita Hepatitis B nihil/tidak ada penderita. Hal ini menunjukkan pemberian imunisasi yang tepat sasaran dan pencegahan yang sudah baik.

(32)

Bab

5

UPAYA KESEHATAN

A. PELAYANAN KESEHATAN

Pelayanan kesehatan dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar masalah kesehatan masyarakat sudah dapat diatasi. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan adalah sebagai berikut : 1. Kunjungan Ibu Hamil (K4)

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.

Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ke tiga. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.

Gambar 12. Jumlah Kunjungan K4 di Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 – 2014 Jumlah seluruh ibu hamil sebanyak 19.392 orang, cakupan pelayanan K4 Kabupaten Mojokerto pada tahun 2014 sebesar 16.073 (82 %). Untuk tahun 2013 jumlah absolut K4 sebesar 15.839 (Tabel 29). Kunjungan K4 pada tahun 2014

(33)

mengalami peningkatan, hal ini dikarenakan sosialisasi maupun pendekatan masyarakat sering dilakukan sehingga masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kesehatan bayi yang dikandungnya. Selain itu peran bidan dalam memberikan pelayanan juga mendapat perhatian khusus. Dengan melakukan cara kunjungan rumah pada ibu hamil juga merupakan salah satu cara dalam meningkatkan kunjungan K4. Karena ibu hamil akan merasa tergugah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada pelayanan kesehatan atau tenaga kesehatan.

2. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Pada Ibu Nifas

Pertolongan persalinan juga merupakan salah satu kualitas pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Hal ini dapat menggambarkan bahwa masyarakat mau dan tahu tentang pentingnya keamanan dalam pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.

Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).

Jumlah ibu bersalin sebesar 18.510 orang, yang ditolong oleh tenaga kesehatan di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebesar 16.273 (87,9 %) (Tabel 29). Ibu yang telah melahirkan juga perlu ditangani saat masa nifas oleh tenaga kesehatan. Pelayanan kesehatan pada ibu nifas tahun 2014 yaitu sebesar 16.515 (89,2 %) (Tabel 29).

3. Bumil Mendapatkan Fe

Pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, selain pemeriksaaan kehamilan juga disertai dengan pemberian tablet Fe untuk mencegah terjadinya anemia besi pada bumil. Tablet Fe diberikan pada awal perikasa kehamilan dengan pemberian pertama tablet Fe 1 dan selanjutnya sampai tablet Fe 3.

Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian adalah kekuranga Fe pada ibu hamil dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin yang dikandungnya. Ibu hamil yang menderita kekurangan zat Fe akan merasa, lemah, letih, lesu, dan tentu saja akan mengganggu janin yang dikandungnya.

Jumlah Ibu Hamil sebesar 19.392 orang, pemberian Fe 1 di Kabupaten Mojokerto Tahun 2014 sebanyak 15.437 (82,77 %), sedangkan pemberian Fe 3 sebanyak 14.550 (78,12 %) (Tabel 32).

(34)

Gambar 13. Pemberian Fe 1 dan Fe 3 Bumil di Kab. Mojokerto Tahun 2010-2014 4. Imunisasi TT pada Bumil dan WUS (Wanita Usia Subur)

Imunisasi TT pada Ibu Hamil diartikan Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil sebanyak 5 dosis dengan interval tertentu (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan) yang berguna bagi kekebalan seumur hidup. Untuk pencegahan terjadinya Tetanus Toksoid pada ibu hamil dilakukan imunisasi TT.

Pemberian TT2 diartikan selang waktu pemberian minimal 4 minggu setelah TT1 dengan masa perlindungan 3 tahun. Pemberian TT3 diartikan selang waktu pemberian minimal 6 bulan setelah TT2 dengan masa perlindungan 5 tahun. Pemberian TT4 diartikan selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT3 dengan masa perlindungan 10 tahun.

Pemberian TT5 diartikan selang waktu pemberian minimal 1 tahun setelah TT4 dengan masa perlindungan 25 tahun. Sedangkan pemberian TT2+ diartikan Imunisasi Tetanus yang diberikan minimal 2 kali saat kehamilan (yang dimulai saat dan atau sebelum kehamilan). Imunisasi TT diberikan pada Bumil, jumlah ibu hamil yang ada di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebesar 19.392. Bumil yang mendapatkan Imunisasi TT-1 sebesar 489 (2,52 %), TT-2 sebesar 669 (3,45 %), TT-3 sebesar 1.278 (6,59 %), TT-4 sebesar 1.199 (6,18 %), TT-5 sebesar 5.669 (29,23 %), dan TT2+ sebesar 8.815 (45,46 %) (Tabel 30).

Sedangkan imunisasi TT pada WUS (wanita usia subur) diberikan pada kelompok usia 15 – 39 tahun. Jumlah WUS yang ada di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebesar 297.928. WUS yang mendapatkan Imunisasi TT-1 sebesar 389 (0,13 %), TT-2 sebesar 306 (0,10 %), TT-3 sebesar 456 (0,15 %), TT-4 sebesar 573 (0,19 %), TT-5 sebesar 1.982 (0,67 %) (Tabel 30).

5. Komplikasi Kebidanan Dan Neonatal Risiko Tinggi/Komplikasi Ditangani Jumlah dan persentase Komplikasi Kebidanan dan Neonatal Risiko Tinggi/Komplikasi Ditangani di Kabupaten Mojokerto Tahun 2014 dari jumlah ibu

(35)

hamil yaitu sebanyak 19.392, dimana untuk 20% ibu hamil sebesar 3.878. Komplikasi kebidanan yang ditangani dari 20% ibu hamil yaitu sebesar 3.939 (101,6 %) (Tabel 33). Dimana angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dari tahun 2013 yang penanganan komplikasi kebidanan sebesar 3.501. Hal ini dapat dikatakan dalam penanganan komplikasi kebidanan dapat tertangani dengan segera.

Penanganan kmplikasi neonatal tahun 2014 sebesar 1.661 (64,1 %), dimana jumlah sasaran bayi yaitu sebesar 17.281, perkiraan neonatal yang komplikasi (15% dari sasaran bayi) sebesar 2.592 (Tabel 33). Terjadi peningkatan pada tahun 2014, dimana pada tahun 2013 penanganan neonatal sebesar 1.313.

6. Kunjungan Neonatus

Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi resiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0-28 hari). Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.

Di Kabupaten Mojokerto pada tahun 2013, cakupan kunjungan neonatus sebesar 16.577 (95,47 %), diantaranya laki-laki 8.541 dan perempuan 8.036 dari seluruh neonatus sejumlah 17.364. Terjadi kenaikan dari tahun 2012, hal ini dikarenakan para Ibu sudah mengerti tentang menjaga kesehatan bayi dari usia baru lahir sampai 28 hari, yang mana usia ini bayi membutuhkan perhatian ekstra untuk menjaga kesehatannya (Tabel 38).

7. Pelayanan Keluarga Berencana

Peserta Keluarga Berencana terbagi menjadi peserta KB Baru dan Peserta KB Aktif. Dari jumlah PUS yang ada 222.058, jumlah Peserta KB Baru 14.357 (6,5 %) dan Jumlah Peserta KB Aktif 174.804 (78,7%) (Tabel 36).

Peserta keluarga berencana aktif dibagi menjadi peserta KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang jenisnya adalah, MOP/MOW, IUD, implant dan peserta KB Non Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) yang jenisnya suntik, pil, kondom, obat vagina dan lainnya. Peserta KB Aktif di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 yang paling banyak memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) jenis IUD sebesar 7,8 %, sedangkan KB Non MKJP yang paling banyak dipilih adalah jenis suntik sebesar 63,8 % (Tabel 34). Peserta KB baru di Kabupaten Mojokerto tahun 2014 sebanyak 14.357, yang paling banyak memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) jenis IUD sebesar 9,1 %, sedangkan KB Non MKJP yang paling banyak dipilih adalah jenis suntik sebesar 67,5 % (Tabel 35).

Gambar

Gambar 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Dan Kelompok Umur  Tahun 2014 Kab. Mojokerto
Gambar 2. Jumlah Kematian Bayi Kabupaten Mojokerto Tahun 2010- 2014  2.   Angka Kematian Ibu Maternal (AKI)
Gambar 3. Jumlah Kematian Ibu Kabupaten Mojokerto Tahun 2010 - 2014  Upaya Dinas Kesehatan untuk menurunkan AKI dan AKB :
Gambar 4. Penderita TB Paru BTA+ Di Kab. Mojokerto Tahun 2010 – 2014  Pemberantasan  penyakit  tuberculosis  paru  dilaksanakan  mengacu  pada  komitmen  nasional  yaitu  menggunakan  pendekatan  Directly  Observe  Treatment  Shortcourse  (DOTS)  atau  pen
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan etnografi pada materi geometri yang menjadi salah satu konten dari PISA.Tujuan dari penelitian ini untuk

Bahkan ketika orang bisa masuk tidak tertangkap maka tidak sampai sepuluh menit akan datang polisi dengan senapan mesin yang mengejarnya dan mereka akan ditangkap serta

Sebagai bahan ajar, unsur-unsur pokok modul ini terdiri atas (a) tujuan pembelajaran, (b) aktivitas pembelajaran, dan (c) evaluasi. Tujuan pembelajaran menjadi

Dalam penulisan skripsi ini, penyusun akan melihat model kepemimpinan di GKJW sebagai sebuah organisasi yang di dalamnya juga memperlihatkan proses pengambilan keputusan dan

Ketrampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang

Penulisan skripsi ini dalam rangka untuk memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan

didalam droplet terdapat material berukuran nanometer (sol) dengan diameter d p. Sedangkan pada metoda Spray Pyrolysis didalam droplet tidak terdapat partikel nanostruktur

1.1 Unit kompetensi ini harus diujikan secara konsisten pada seluruh elemen kompetensi dan dilaksanakan pada situasi pekerjaan yang sebenarnya di tempat kerja atau di