II. TINJAUAN PUSTAKA. terletak di daerah tropis atau subtropis. Perkebunan digunakan untuk

Teks penuh

(1)

1

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Perkebunan Kelapa Sawit

Perkebunan adalah lahan usaha pertanian yang luas. Perkebunan biasanya terletak di daerah tropis atau subtropis. Perkebunan digunakan untuk menghasilkan komoditi perdagangan (pertanian) dalam skala besar dan dipasarkan ketempat jauh, bukan untuk konsumsi lokal. Perkebunan dapat ditanami tanaman keras/industri seperti kakao, kelapa, teh dan sebagainya. (Anonim, 2010).

Sektor perkebunan memiliki peranan yang nyata dalam memajukan perekonomian dan pertanian di Indonesia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya taraf hidup petani, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan devisa negara. Salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia adalah kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan primadona ekspor non migas, oleh karena itu komoditi ini selalu menjadi pilihan banyak pengusaha untuk menanamkan modalnya. (Mangunsoekarjo dan Tojib, 2003).

Untuk merencanakan tata kebun dan afdeling yang terbagi atas: jaringan jalan, arealpembibitan, saluran air, dan lokasi afdeling dan blok (Dikjenbun, 2007).

Menurut Purba dkk, (2006,), bentuk dan ukuran blok pada areal datar adalah bentuk dan ukuran blok biasanya bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan ukuran 500 x 500 m atau 1000 x 300 m. Batas blok pada areal datar atau berombak harus berupa jalan yang harus dapat kendaraan roda empat. Bentuk

(2)

2

blok pada areal bergelombang – berbukit biasanya tidak harus lurus tapi bisa berupa badan jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat atau jalan setapak.

B. Panen Kelapa Sawit

Panen merupakan salah satu kegiatan yang penting pada pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Selain bahan tanaman dan pemeliharaan tanaman, panen juga salah satu faktor yang penting dalam pencapaian produksi. Keberhasilan panen akan menunjang pencapaianproduktivitas perkebunan. Sebaliknya kegagalan panen akan menghambatpencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit. Pengelolaan tanamanyang sudah baku dan potensi produksi di pohon tinggi, tidak ada artinya jika panen tidak dilaksanakan secara optimal.(Dikjenbun,2007).

Panen dan pengolahan hasil merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Kegiatan ini memerlukan teknik tersendiri untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Hasil panen utama dari tanaman kelapa sawit adalah buah kelapa sawit, sedangkan hasil pengolahan buah adalah minyak sawit. Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Pelaksanaan pemanenan perlu memperhatikan beberapa kriteria yaitu matang panen, cara panen, alat panen, rotasi dan sistem panen, serta mutu panen. (Fauzi et al., 2002).

Tabel di bawah menunjukkan potensi produksi kelapa sawit yang dapat dicapai jika menggunakan benih kelapa sawit bermutu dan melaksanakan

(3)

3

budidaya sesuai dengan standart teknis, berdasarkan kelas tanah dalam jangka waktu 20 tahun.

Potensi produksi kelapa sawit pada beberapa jenis kesesuaian lahan tercantum di bawah ini.

Tabel 1. Potensi Produksi Kelapa Sawit Umur

Tanaman (Tahun)

Potensi Produksi Menurut Kelas Lahan TBS (ton/ha) S1 S2 S3 3 9.0 7.3 6.2 4 15.0 13.5 12.0 5 18.0 16.0 14.5 6 21.1 18.5 17.0 7 26.0 23.0 22.0 8 30.0 25.5 24.5 9 31.0 28.0 26.0 10 31.0 28.0 26.0 11 31.0 28.0 26.0 12 31.0 28.0 26.0 13 31.0 28.0 26.0 14 30.0 27.0 25.0 15 27.9 26.0 24.5 16 27.1 25.5 23.5 17 26.0 24.5 22.0 18 24.9 23.5 21.0 19 24.1 22.5 20.0 20 23.1 21.5 19.0 21 21.9 21.0 18.0 22 19.8 19.0 17.0 23 18.9 18.0 16.0 24 18.1 17.0 15.0 25 17.1 16.0 14.0 Jumlah 553.0 505.3 461.2 Rata-rata 24.0 22.0 20.1

Keterangan. SI: Lahan kualitas I, S2: lahan kualitas 2, S3: lahan kualitas 3(Data ini dikeluarkan oleah PPKS Medan).

Pada tanaman DP (tenera) kelapa sawit akan mulai dapat dipanen pada umur 30 bulan, dalam keadaan normal 90-100% dari seluruh pokok yang sudah

(4)

4

matang panen. Pengertiannya disini adalah pokok-pokok kelapa sawit muda itu telah memiliki tandan-tandan yang siap untuk dipanen. Tandan yang dimilikinya sudah cukup besar dan berat janjang rata – rata (BJR) untuk diolah yaitu 3 kg.

Beberapa persiapan sebelum panen yaitu pengerasan jalan, pembukaan pasar panen, dan TPH, pemasangan titi panen, perencanaan pengadaan pemanen, pengangkutan dan kesiapan pabrik menerima tandan. Tandan yang dipanen lazim disebut sebagai Tandan Buah Segar (TBS).

Panen dilaksanakan tiap hari, pada areal (ancak) yang berbeda agar pabrik dapat berjalan tiap hari atau minimal 5 hari kerja seminggu. Luas areal panen hariannya haruslah disesuaikan dengan tenaga panen dan efisiensi pengangkutan serta kapasitas olah pabrik. Jika tidak memungkinkan tiap hari, maka areal panen dapat di bagi menjadi 2,3, atau 4 hari panen namun rotasi atau pusingan panen harus tetap seperti yang telah ditetapkan misalnya 7 hari. Karyawan panen harus karyawan khusus dan sedapat mungkin diusahakan agar kerjanya hanya memanen. Hal demikian akan mempermudah penilaian kerja baik kwantitas maupun kwalitasnya. Jika memungkinkan pembagian ancak tetap akan baik sekali. (Lubis, 2008)

Kapasitas pemanen tiap harinya tergantung pada produksi yang dikaitkan dengan umur tanaman, topografi areal, kerapatan pohon, insentif yang disediakan dan musim yang dikenal dengan panen puncak dan panen rendah. Berikut tabel yang menunjukan kapasitas pemanen atau basis borong dimana kelebihan kapasitasnya akan diberikan insentif atau ransangan atau premi yang diatur oleh masing-masing perusahaan. Berikut tabel kapasitas pemanen.

(5)

5 Tabel 2. Kapasitas Pemanen

Produksi/ha/tahun Kapasitas/hari Basis Borong

ton TBS (kg/HK) (kg) <6 500 250 6 – 12 600 300 12 – 18 700 350 18 – 22 800 400 22 – 25 900 400 >25 900 450 (Sumber : Lubis. 2008)

Untuk mengetahui kwalitas kerja dari pemanen maka krani khusus diperlukan untuk mengecek di lapangan. Di samping itu di pabrik dilakukan Pemeriksaan. Tingkat kematangan buah atau dikenal dengan istilah fraksi ditentukan berdasarkan kriteria jumlah buah lepas.

Tabel 3. Kriteria tingkat kematangan tandan

Fraksi Jumlah buah lepas

(% dari buah luar)

Derajat kematangan 00 Tidak ada, buah masih hitam Sangat mentah

0 1 buah s/d 12,5% Mentah

1 12,5%-25% Kurang matang

2 25%-50% Matang 1

3 50%-75% Matang 2

4 75%-100% Lewat matang 1

5 Buah dalam ikut memberondol Lewat matang 2 (Sumber : Lubis. 2008)

Berdasarkan hal diatas maka panen yang baik adalah jika:

1. Jumlah berondolan di pabrik ada sebanyak 15% dari tandan yang dipanen. 2. fraksi2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan.

3. Fraksi 1 minimum 20% dari jumlah tandan.

4. Fraksi 4 dan 5 maksimum 20% dari jumlah tandan. ( Sumber : Lubis .2008) Buah luar adalah buah yang terlihat dari luar atau yang ada pada ujung spikelet. Banyaknya buah luar ini tergantung dari besar tandan. Pada tandan yang

(6)

6

beratnya 10-15 kg dapat mencapai 100-200 buah luar. Untuk praktisnya jumlah buah luar yang membrondol tidak dihitung tetapi dilihat secara visual. hubungan antara fraksi rendemen minyak dan kadar ALB pada tandan, dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Tabel 4. Hubungan antara fraksi rendemen minyak dan kadar ALB Fraksi Rendemen Minyak

(%)

Kadar Asam Lemak Bebas (%) 0 16,0 1,6 1 21,4 1,7 2 22,1 1,8 3 22,2 2,1 4 22,2 2,6 5 21,9 3,8 (Sumber : Lubis.2008)

Dari daftar diatas jelas panen fraksi 0 akan merugi dalam remendemen minyak sedangkan fraksi 4 dan 5 akan memiliki kadar asam lemak bebas (ALB) yang tinggi (Lubis,2008).

C. Jalan di Kebun Kelapa Sawit

Perencanaan pembuatan jaringan jalan harus selaras dengan disain kebun dan disesuaikan dengan kondisi (topografi) dan kebutuhan (luas areal). Manager proyek bersama Bagian Legal menentukan lokasi jalan masuk dengan mempertimbangkan hasil survey areal. Lahan untuk jalan masuk dan keluar dibebaskan minimal selebar 50 m ditambah pembuatan parit batas 2 x 2 x 1,5 m di sepanjang sisi kiri dan kanan searah jalan. (Lubis, 2008).

Panjang dan kualitas jalan dikebun merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam menjamin kelancaran pengangkutan bahan, alat dan produksi serta pengontrolan lapangan. Rencana pembuatan jaringan jalan harus

(7)

7

selaras dengan desain kebun secara keseluruhan yang disesuaikan dengan kondisi topografidan kebutuhan kebun (Politeknik, 2008).

Pembangunan jalan diperkebunan kelapa sawit dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan pembukaan lahan dan selesai sebelum penanaman dilakukan. Peningkatan kualitas jalan disesuaikan dengan kebutuhan pengangkutan bibit, keperluan bahan, pemeliharaan, dan tenaga kerja. Jaringan jalan harus terjangkau keseluruh areal dalam menunjang dan menjamin kelancaraan pengangkutan. Jalan biasanya terdiri dari badan jalan, bahu jalan, parit dikiri-kanan jalan dan kaki lima (Purba,dkk, 2006).

Jaringan jalan dengan kondisi yang dapat dilalui setiap saat dan menjangkau keseluruh areal merupakan hal penting pada perkembangan kelapa sawit. Jalan akan dipakai untuk pengangkutan bahan-bahan seperti pupuk, tenaga kerja, bibit, pengangkutan hasil pengawasan dan lain-lain. Beberapa jalan penting harus didahulukan pembuatannya sesuai dengan kebutuhan. Pembangunan sekaligus tentu tidak dianjurkan karena kegunaannya sebagian belum begitu mendesak, sehingga pembangunan harus dibuat secara bertahap. Konstruksi jalan biasanya terdiri atas badan jalan, bahu jalan, kaki lima, dan parit kiri kanan jalan.

Pembangunan jalan dan kondisinya sangat dipengaruhi oleh topografi, sifat fisik dana dan cuaca. Jaringan jalan pada areal datar berombak umumnya lurus dan cukup mudah dibangun dan dapat berfungsi sebagai batas blok. Pada areal bergelombang, berbukit. Jalan akan lebih panjang perhektarnya dan harus dibentuk sesuai keadaan topografi. Pada kondisi seperti ini jalan biasanya tidak lurus (Lubis,2008).

(8)

8 a. Jenis Jalan

1.Jalan Utama.

Jalan Utama (Main Road) adalah jalan yang menghubungkan afdeling ke pabrik, emplasmen dan keluar kebun. Pada jalan penting ini lebar bahu dan badan jalan harus 6-8 m dan diperlukan 20 m per hektar, diperkeras dengan batu dengan tebal 20-25 cm karena akan dilalui oleh kendaraan berat 5-6 ton atau lebih. Badan jalan ini dibangun dengan alat berat (bulldozer, road grader) dan pengerasan permukaan jalan dilakukan dengan compactor. Permukaan jalan bagian tengan lebih tinggi dengan kemiringan 2,5 % (Lubis,2008).

2. Jalan Produksi.

Jalan produksi (Transport Road ) adalah jalan yang menghubungkan areal panen produksi dengan jalan utama, yang dibuat di tengah blok tegak terhadap barisan tanaman. Tempat pengumpulan hasil (TPH)diletakkan di tepi jalan ini. Jalan ini lebih kecil dari jalan utama dengan lebar 5-6 m, pada beberapa tempat tertentu perlu diperkeras. Untuk 1 ha di perlukan jalan sepanjang 50 m. jalan ini menjadi sangat penting setelah panen karena akan dilalui setiap minggu sekali oleh truk pengangkut panen(Lubis,2008).

3.Jalan Kontrol.

Jalan kontrol adalah jalan untuk pemeriksa atau pengawasan yang diperlukan oleh asisten, Asisten Kepala, Manager dan lain –lain. Biasanya merupakan batas blok atau batas pinggiran kebun. Jalan ini lebarnya 4-5 m dan tiap hektar membutuhkan 20 m. sebelum jalan dibuat haruslah dibuat peta perencanaannya pada peta kontur (Lubis,2008).

(9)

9 b. Pemeliharaan jalan

Pemeliharaan jalan meliputi pengerasan, penimbunan, pengupasan pada pendakian, perbaikan parit jalan, pembersihan rumput yang tumbuh, dan mempertahankan bentuk seperti semula. Selama masa TBM ini pemeliharaan jalan terutama pengerasan perlu dilakukan karena frekuensi pemakaiannya akan meningkat, baik untuk pengangkutan para pekerja, pupuk, pengawasan.

Jembatan atau titi kecil dan gorong-gorong yang belum ada harus dibangun dan jalan semntara yang dipakai untuk penanaman ditutup. Jalan batas blok juga harus dibuat. Parit primer skunder, dan tertier harus dirawat dan di cuci serta dikembalikan pada bentuk semulanya minimal 6 bulan sekali. Parit-parit yang berliku-liku diluruskan, demikian juga yang kurang dalam perlu diperdalam dengan menggunakan Ekscavator.

Pekerjaan pemeliharaan ini dilakukan pada musin kemarau atau sebelum musim hujan tiba. Hal ini ini perlu diperhatikan agar aliran air lancer, tidak menggenang dan kayu-kayu tidak menyumbat gorong-gorong. Pada tahap awal parit-parit kecil biasanya masih banyak tertutup dan tersumbat aliran airnya oleh batang-batang kayu dan semak serta cepat mengalami pendangkalan. Pendalaman parit yang cepat sering dijumpai akibat kondisi lapangan masih gundul sehingga tingkat erosimasih tinggi. Perawataan parit ini dilakukan sebelum sekali secara teratur.

Pada Tanaman Menghasilkan pemeliharaan jalan merupakan hal yang penting dan perlu mendapat perhatian karena kebutuhannya semangkin meningkat. Jalan ini akan digunakan oleh truck berkapasitas 5-6 ton minimal

(10)

10

sekali seminggu untuk pengangkutan panen demikian pula untuk pengangkutan pupuk, pekerja dan lain – lain. Jalan produksi dengan arah Timur Barat mempunyai peranan penting terutama pada musim hujan agar cepat kering dan musim ini adalah masa panen puncak. Sekali 3 bulan jalan ini perlu di grader sehingga kebun harus dilengkapin dengan peralatan. Jika jalan produksi ada 35-50 m/ha dan jalan control atau penghubung 10 m/ha maka panjang jalan akan mencapai 10.000 x 50 =500 km atau 10.000 x 60 =600 km. jika setiap tiga bulan jalan di grader maka tiap bulan harus di selesaikan 150 – 220 km atau 6 – 9 km sehariannya. Untuk mengerjakan ini diperlukan 2 unit grader.

Gambar 1. Road Grader

Sementara itu, pada daerah berbukit pemeliharaan jalan akan menjadi lebih penting dan mahal, bukan saja panjang tetapi juga kemiringannya dan kekerasannya. Demikian pula halnya pada areal yang terlalu tergenang atau tanah gambut. Badan jalan harus lebih tinggi. Benteng jalan dan rorak perlu diperbanyak dengan baik pada areal perbukitan yang akan berfungsi menghisap air dari jalan agar cepat kering, disamping sebagai penyimpan air yang akan dilepas melalui perembesan (Lubis, 2008).

(11)

11

Pemeliharaan jalan di kebun kelapa sawitdilakukan dengan dua cara yaitu: 1. secara manual

Perbaikan secara manual dilakukan oleh tenaga kerja pria dengan membuang air dari lubang dan menimbunya kembali setelah lubang kering dan menunas daun kelapa sawit yang telah menutupijalan yang sering disebut dengan istilah rempes. Untuk pemeliharaan jalan dapat menggunakan cara manual yaitu dengan cara mencangkul, menggaruk yang mana dapat digunakan untuk menutup lobang. (Anonim, 2009)

2. mekanis.

Kerusakan dalam skala besar akan diperbaiki dengan Grader Catepillar seri 120G dengan sistem Chamber agar air hujan tersebut mengalir ke parit (Infrastruktur Kebun, 2012).

Pemeliharaan jalan dilakukan secara manual tetapi diusahakan menggunakan alat grader dan compactor. Permukaan jalan diusahakan cembung sehingga pada saat hujan turun air tidak menggenang, pemeliharaan jalan dilakukan setiap enam bulan sekali, sementara parit drainase dibangun untuk mengeluarkan kelebihan air agar areal tanaman kelapa sawit tidak tergenang dengan cara mengangkat/ menggali tanah yang menutup parit. Pada areal TBM parit dibuat dengan lebar 1 m dengan kedalaman 1,5 meter. Pembuatan parit ini menggunakan tenaga borongan dengan target 100 m/hk.

(12)

12

Gambar 2. Penampang Jalan

Klasifikasi Jalan Perkebunan

1. Jalan Koleksi (Collection Roads)

(13)

13 2. Jalan Produksi (Production Roads)

Gambar 4. Jalan Produksi

3. Jalan Poros (Main Roads)

(14)

14

4. Jalan Batas Luar Kebun/Boundary (Boundary Roads)

Gambar 6. Jalan Boundary

5. Jalan Countur

Teras kontur dibuat dengan Buldozer dengan lebar teras 4 m dengan kemiringan 10-15º. Pembuatan teras ini membutuhkan biaya yang besar, tetapi mempunyai keuntungan diantaranya konservasi tanah, konservasi air mencegah dan mengurangi erosi pupuk, memberikan kemudahan operasional dilapangan, meningkatkan hasil TBS dan brondolan dan mengurangi biaya perawatan jalan.

Ada 5 faktor penyebab kerusakan jalan yaitu: 1. air

2. bahan organik

3. kurangnya cahaya matahari 4. sifat tanah (tekstur dan struktur)

(15)

15 c. Konstruksi Jalan Dan Tahap Pekerjaan

Pada umumnya jalan-jalan di pekebunan adalah jalan tanah biasa atau jalan tanah yang di perkeras dengan lapisan sirtu (pasir + batu). Pada pembangunan jalan tersebut, sesuai dengan kebutuhan untuk transport pupuk dan lain-lain termasuk hasil produksi, maka jalan tersebut harus dapat menahan beban kendaraan roda empat yang berat totalnya = 12.000 kg.

Tahap pekerjaan pada pembuatan jalan tanah dilahan gambut dapat diurut sebagai berikut :

1. Pembersihan lahan

2. Pembentukan badan jalan dan parit sisi jalan 3. Penggambangan

4. Penimbunan badan jalan dan gambangan 5. Perataan muka jalan dan pemadatan 6. Perkerasan muka jalan

7. Pemasangan rambu-rambu. 1. Pembersihan Lahan.

Pembersihan lahan (land clearing) dapat dilaksanakan dengan alat-alat berat seperti swamp dozer atau excavator track lebar. Tetapi karena masalah transportasi atau mobilisasi alat-alat berat atau karena masalah lain seperti efektivitas atau segi praktisnya, selalu dipilih cara manual dengan menggunakan gergaji mesin (chain saw) untuk pelaksanaan land clearing.

(16)

16 2. Badan Jalan Dan Parit Sisi Jalan.

Volume pekerjaan badan jalan yang besar, maka pekerjaan meninggikan dan membentuk badan jalan harus dilaksanakan dengan alat berat yaitu excavator yang berlengan panjang. Pemilihan alat berat untuk pekerjaan ini, harus diteliti dari spesifikasi masing - masing untuk dapat digunakan dilapangan dimana jalan akan dibangun.

3. Penggambangan

Penggambangan bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan daya dukung tanah, badan jalan dengan cara menyusun kayu bulat dengan diameter 15 cm, panjang 5,0 meter melintang sumbu jalan sepanjang badan jalan yang kondisinya lembek. Pelaksanaan dapat dilakukan secara manual atau dengan dibantu satu unit excavator yang meratakan permukaan badan jalan sebelum gambangan dipasang.

4. Penimbunan muka jalan dan gambangan

Penimbunan dan meratakan serta memadatkan permukaan jalan bertujuan : a. Meningkatkan dan memantapkan kayu gambangan agar tidak beerserak. b. Meningkatkan daya dukung tanah badan jalan.

c. Memindahkan beban roda kendaraan ke atas badan jalan secara lebih merata dan menyebar.

d. Mendapatkan permukaan jalan yang lebih rata

(17)

17

Tanah untuk timbunan permukaan jalan haruslah dari jenis tanah liat yang sedikit mengandung silt (atau butiran-butiran pasir yang sangat halus) dan mempunyai kandungan air yang optimum untuk pemadatan.

5. Perkerasan Jalan

Biasanya permukaan jalan tanah diperkeras dengan batu-batuan, atau campuran batu- batuan dengan tanah dan pasir. Tujaun dari perkerasan permukaan jalan adalah mengurangi atau memperkecil perusakan jalan akibat gesekan roda kendaraan. Pada jalan tanah diperkebunan, biasanya tebal perkeraasan antara 10 cm sampai 15 cm dengan lebar antara 3,0 m sampai 4,0 meter.

Permukaan perkerasan jalan harus diratakan dan didapatkan dengan mesin gilas jalan dan lebih baik dengan vibrating road roller (Soeroto, 1991).

(18)

18 D. Pengangkutan

Menurut Abdul Kadir Muhammad Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan,membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpangdari alat pengangkutan ketempat yang di tentukan. (Ardy, 2009).

Peranan pengangkutan panen sangat penting sekali agar tandan dapat masuk segera ke pabrik pada hari panen. Perencanaan angkutan panen dan koordinasinya antara asisten afdeling dengan asisten transport harus diatur sebaik-baiknya. Pada beberapa kebun, truk pengangkut ini disediakan kebun sendiri dan ditambah atau disewa dari luar jika tidak cukup terutama pada panen puncak.

Kendaraan sewa luar umumnya tidak memperdulikan keadaan jalan dimana mereka mengisi truknya semaksimal mungkin melewati daya dukung jalan, sehingga jalan cepat menjadi hancur. Sebaliknya, jika dipergunakan seluruhnya truk kebun akan terjadi pemborosan karena pada panen rendah hanya separuh dari kendaraan itu yang akan terpakai. Dengan demikian kebun cukup jika menyediakan truk sebatas jumlah produksi pada panen rendah saja.

Dari segi angkutan maka cara yang paling baik pengaturannya adalah tidak terlalu sering menggunakan jalan produksi setiap hari dan buah segera masuk ke pabrik. Tergantung jarak dari lokasi panen ke pabrik dan kondisi jalan yang dihitung atas dasar kecepatan dalam km/jam maka kapasitas truk seharinya dapat dihitung. Kapasitas truk harus dibatasi yaitu 5 ton/trip. Ideal sekali jika tiap hari truk dapat mengangkut 4 sampai 5 trip atau 20 sampai 25 ton TBS. (Lubis, 2008).

(19)

19

Perhitungan frekuensipemakaian jalan oleh truk harus dilihat dari produksi setahun dikalikan dengan 12,5% dan dibagi atas 25 hari kerja yakni kapasitas pabrik seharinya. Berdasarkan kondisi jalan, kapasitas truk, jauh dekat lokasi panen, waktu pemuatan yang diperlukan dan lama pembongkaran maka dengan mudah dapat dihitunng kebutuhan truk sebenarnya setiap hari. Untuk memuat truk kapasitas 5 ton misalnya diperlukan waktu 40 menit, demikian pula dengan pembongkarannya di pabrik selama 20 menit. Jika jarak pabrik 20 km dengan kecepatan rata-rata 40 km/djam maka total waktu yang diperlukan untuk 1 triip adalah : (40+20)+((2x20 km)/40km/jam) = 120 menit = 2 jam. Jadi untuk 1 hari kerja truk (10 jam) adalah 10/2 x 1 trip = 5 trip atau jika dihitung dengan kapasitas 5 ton seharinya akan diangkut 5 x 5 ton atau 25 ton. (Lubis, 2008).

Figur

Tabel 1. Potensi Produksi Kelapa Sawit  Umur

Tabel 1.

Potensi Produksi Kelapa Sawit Umur p.3
Tabel 3. Kriteria tingkat kematangan tandan  Fraksi  Jumlah buah lepas

Tabel 3.

Kriteria tingkat kematangan tandan Fraksi Jumlah buah lepas p.5
Tabel 4. Hubungan antara fraksi rendemen minyak dan kadar ALB  Fraksi  Rendemen Minyak

Tabel 4.

Hubungan antara fraksi rendemen minyak dan kadar ALB Fraksi Rendemen Minyak p.6
Gambar 2. Penampang Jalan

Gambar 2.

Penampang Jalan p.12
Gambar 3. Jalan Koleksi

Gambar 3.

Jalan Koleksi p.12
Gambar 4. Jalan Produksi

Gambar 4.

Jalan Produksi p.13
Gambar 5. Jalan poros.

Gambar 5.

Jalan poros. p.13
Gambar 6. Jalan Boundary

Gambar 6.

Jalan Boundary p.14
Gambar 7. Road Roller

Gambar 7.

Road Roller p.17

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :