BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pada saat ini, tuntutan masyarakat akan kompetensi dokter semakin berkembang. Masyarakat menuntut institusi pendidikan kedokteran untuk mempersiapkan lulusannya menjadi dokter yang berkompeten sebelum terjun ke masyarakat (Whitcomb, 2002; Ker, 2009). Seorang dokter dikatakan kompeten jika mempunyai pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang dibutuhkan untuk melaksanakan praktik kedokterannya (Whitcomb, 2002). Hal ini menyebabkan hampir semua negara di dunia menciptakan suatu standar kompetensi dokter misalnya di Inggris, Amerika, dan Kanada termasuk Indonesia.
Standar kompetensi dokter tersebut dipergunakan oleh institusi pendidikan kedokteran sebagai dasar untuk menyusun kurikulum yang disebut dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) (Frank et al., 2010). Kurikulum ini disusun sebagai jawaban terhadap kritikan masyarakat bahwa selama ini lulusan dokter hanya pandai berteori tetapi tidak mempunyai ketrampilan sebagai bekal untuk melaksanakan praktik kedokteran (Harden, 2001).
Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) disusun oleh Konsil Kedokteran Indonesia. SKDI merupakan standar kompetensi minimal yang harus dipenuhi oleh seorang dokter pada saat menyelesaikan pendidikan kedokterannya.SKDI disahkan pada tahun 2006 dan dipergunakan sebagai acuan institusi pendidikan kedokteran di Indonesia untuk menyusun kurikulum. Pada kurikulum kedokteran, 80% harus berdasarkan SKDI sedangkan sisanya merupakan muatan lokal yang merupakan keunggulan spesifik dari masing – masing institusi (KKI, 2006).
SKDI berisi tujuh area kompetensi beserta daftar penyakit dan ketrampilan klinis yang harus dikuasai. Tujuh area kompetensi tersebut adalah Komunikasi efektif, Keterampilan Klinis, Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran, Pengelolaan Masalah Kesehatan, Pengelolaan Informasi, Mawas Diri dan Pengembangan Diri, serta Etika, Moral, Medikolegal dan
Profesionalisme serta Keselamatan Pasien. Tujuh area kompetensi ini dijabarkan secara lebih rinci dalam kompetensi inti dan komponen kompetensi (KKI, 2006).
Pada tahun 2012, SKDI direvisi dan terdapat beberapa perubahan pada urutan tujuah area kompetensi. Profesionalitas yang luhur menjadi area kompetensi pertama. Diikuti secara berurutan oleh mawas diri dan pengembangan diri, komunikasi efektif, pengelolaan informasi, landasa ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan klinis dan pengelolaan masalah kesehatan (KKI, 2012).
Pada SKDI terdapat daftar penyakit dan daftar ketrampilan klinis yang harus dikuasai pada saat akhir pendidikan dokter. Pada daftar penyakit terdapat tingkatan kemampuan yang terdapat pada masing – masing penyakit. Tingkatan kemampuan ini, mencerminkan sejauhmana penguasaan kompetensi lulusan dokter pada masing – masing penyakit. Tingkatan kemampuan ini terdiri dari tingkat kemampuan 1 sampai dengan 4, seperti yang tertera pada tabel 1 :
Tabel 1. Tingkat kemampuan berdasarkan penyakit (KKI, 2012) Tingkat kemampuan 1 : mengenali dan menjelaskan
Lulusan dokter mampu mengenali dan menjelaskan gambaran klinik penyakit, dan mengetahui cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai penyakit tersebut, selanjutnya menentukan rujukan yang paling tepat bagi pasien. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
Tingkat kemampuan 2 : mendiagnosis dan merujuk
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik terhadap penyakit tersebut dan menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah
kembali dari rujukan.
Tingkat kemampuan 3 : mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk
3A. Bukan gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan yang bukan gawat darurat. Lulusan dokter
mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
3B. Gawat darurat
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan pada keadaan gawat darurat demi menyelamatkan nyawa atau mencegah keparahan dan/atau kecacatan pada pasien. Lulusan dokter mampu menentukan rujukan yang paling tepat bagi penanganan pasien selanjutnya. Lulusan dokter juga mampu menindaklanjuti sesudah kembali dari rujukan.
Tingkat Kemampuan 4: mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas
Lulusan dokter mampu membuat diagnosis klinik dan melakukan penatalaksanaan penyakit tersebut secara mandiri dan tuntas.
4A. Kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter
4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB)
Pada daftar ketrampilan klinis juga terdapat tingkatan kemampuan yang terdapat pada masing – masing ketrampilan. Tingkatan kemampuan ini, mencerminkan sejauhmana penguasaan kompetensi lulusan dokter pada masing – masing ketrampilan klinis. Tingkatan kemampuan ini terdiri dari tingkat kemampuan 1 sampai dengan 4, seperti yang tertera pada tabel 2 :
Tabel 2. Tingkat kemampuan penguasaan ketrampilan klinis (KKI, 2012) Tingkat kemampuan 1 (Knows): Mengetahui dan menjelaskan
Lulusan dokter mampu menguasai pengetahuan teoritis termasuk aspek biomedik dan psikososial keterampilan tersebut sehingga dapat menjelaskan kepada pasien/klien dan keluarganya, teman sejawat, serta profesi lainnya tentang prinsip, indikasi, dan komplikasi yang mungkin timbul.
Tingkat kemampuan 2 (Knows How): Pernah melihat atau didemonstrasikan
Lulusan dokter menguasai pengetahuan teoritis dari keterampilan ini dengan penekanan pada clinical reasoning dan problem solving serta berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada pasien/masyarakat.
Tingkat kemampuan 3 (Shows) : Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi
Lulusan dokter menguasai pengetahuan teori keterampilan ini termasuk latar belakang biomedik dan dampak psikososial keterampilan tersebut, berkesempatan untuk melihat dan mengamati keterampilan tersebut dalam bentuk demonstrasi atau pelaksanaan langsung pada pasien/masyarakat, serta berlatih keterampilan tersebut pada alat peraga dan/atau standardized patient.
Tingkat kemampuan 4 (Does): Mampu melakukan secara mandiri Lulusan dokter dapat memperlihatkan keterampilannya tersebut dengan menguasai seluruh teori, prinsip, indikasi, langkah-langkah cara melakukan, komplikasi, dan pengendalian komplikasi.
4A. Keterampilan yang dicapai pada saat lulus dokter
4B. Profisiensi (kemahiran) yang dicapai setelah selesai internsip dan/atau Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB)
Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Universitas Islam Malang (UNISMA) diselenggarakan sejak tahun ajaran 2005/2006 berdasarkan ijin penyelenggaraan SK Dirjen Dikti No.1133/D/T/2005. Kurikulum yang berlaku di PSPD UNISMA sejak tahun 2005 sampai 2006 adalah kurikulum konvensional berdasarkan KIPDI II. Sedangkan kurikulum yang berlaku sejak tahun 2007 adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) berdasarkan KIPDI III. Kurikulum pendidikan dokter di PSPD UNISMA yang dilaksanakan saat ini sudah disusun berdasarkan SKDI.
Masa studi yang harus ditempuh oleh mahasiswa di PSPD UNISMA adalah 6 tahun, terdiri dari 4 tahun pembelajaran di preklinik dan 2 tahun pembelajaran di rotasi klinik. Pada tahun 2005 – 2006 pembelajaran di preklinik dilakukan dengan memberikan kuliah berdasarkan disiplin ilmu.
Sejak tahun 2007, pembelajaran di preklinik dilakukan dengan problem based learning (PBL) dengan mengintegrasikan ilmu – ilmu kedokteran dasar dan ilmu kedokteran klinik sejak semester pertama. PBL yang dilakukan adalah PBL hybrid dengan mengadakan diskusi tutorial, kuliah, praktikum dan pelatihan ketrampilan klinik. Blok – blok yang dilaksanakan disusun berdasarkan system based.
Pencapaian kompetensi berdasarkan penyakit sesuai dengan SKDI dilaksanakan dalam diskusi tutorial, journal reading dan kuliah. Skenario pemicu yang dipergunakan pada diskusi tutorial dipilih dari kasus penyakit yang mempunyai kompetensi 4, sedangkan kasus penyakit dengan kompetensi 1 – 3 dipelajari dari kuliah dan jurnal – jurnal. Pencapain kompetensi ketrampilan klinis dengan kompetensi 3 dan 4 dilakukan di skills lab. Sedangkan penguasaan ketrampilan klinis dengan kompetensi 1 dan 2 dilakukan melalui video session. Proses penilaian dilakukan berdasarkan tujuan pembelajaran sesuai dengan piramida Miller.
Pembelajaran di rotasi klinik ditempuh oleh mahasiswa di beberapa rumah sakit pendidikan dan Puskesmas di wilayah kabupaten Malang yaitu RSI UNISMA, RSUD Kanjuruhan Kepanjen, RSUD Mardi Waluyo Blitar, RSUD Dr. Moewardi Solo dan RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang serta Puskesmas di wilayah kabupaten Malang.
Pencapaian kompetensi berdasarkan penyakit dan ketrampilan klinis sesuai dengan SKDI dilaksanakan dengan diskusi kasus, bed side teaching, referat dan lain – lain. Proses penilaian yang dilakukan pada rotasi klinik sesuai dengan piramida Miller berada pada tingkat Does, misalnya Mini CEX.
Dalam rangka untuk mengetahui ketercapaian kompetensi, para dokter muda diwajibkan untuk mengikuti ujian kompetensi dokter Indonesia (UKDI). Ujian ini merupakan exit exam sebelum seorang dokter dinyatakan lulus dan kompeten sehingga bisa melakukan praktik kedokteran. UKDI diadakan oleh komite bersama UKDI (KB UKDI) setiap tiga bulan sekali. Soal – soal yang dipergunakan dalam UKDI berasal dari seluruh fakultas kedokteran (FK) di Indonesia tetapi selama ini hanya menguji kemampuan kognitif sedangkan ketrampilan klinik (skill) dan sikap (attitude) para dokter muda belum pernah diuji.
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Islam Malang (PSPD UNISMA) baru dua kali meluluskan dokter yaitu pada bulan Agustus dan Desember 2012. Para lulusan sudah menjalani UKDI dan dinyatakan lulus dengan nilai rerata kelulusan 65,7 dari batas nilai lulus UKDI yaitu 62. Pada periode pertama tingkat kelulusan mencapai 83 % sedangkan pada periode kedua turun menjadi 65 %.
Di PSPD UNISMA belum pernah diadakan suatu penelitian untuk mengetahui kesiapan lulusan yang sudah lulus UKDI untuk melaksanakan praktik kedokteran. Penelitian ini berguna untuk memperbaiki program pendidikan karena program studi memerlukan masukan dari para lulusan (Eyal & Cohen, 2006; Gibson et al., 2008; Scicluna et al., 2012). Saat yang tepat untuk memperbaiki program pendidikan adalah segera setelah program studi meluluskan dokter (Scicluna et al., 2012).
B. Permasalahan
Bagaimanakah persepsi lulusan PSPD UNISMA dalam kesiapannya melaksanakan praktik kedokteran ?
C. Tujuan penelitian
1. Menilai kesiapan lulusan PSPD UNISMA dalam melaksanakan praktik kedokteran menggunakan kuisioner.
2. Memahami persepsi lulusan PSPD UNISMA tentang kesiapannya melaksanakan praktik kedokteran.
D. Manfaat peneliti
1. Memberikan informasi kepada institusi pendidikan tentang kesiapan lulusan dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran.
2. Memberikan masukan kepada institusi pendidikan untuk perbaikan program pendidikan dokter.
E. Keaslian penelitian
1. Penelitian yang dilakukan oleh Eyal & Cohen (2006), tentang persepsi mahasiswa dan lulusan dokter terhadap keefektifan kurikulum konvensional yang mereka jalani dalam rangka mempersiapkan untuk
praktik kedokteran. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah ingin mengetahui persepsi lulusan dokter yang berasal dari kurikulum konvensional. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti sebelumnya melakukan studi kuantitatif dengan melakukan survey kepada para mahasiswa dan lulusan dokter dengan cara membagikan kuisioner untuk mengetahui keefektifan kurikulum yang telah mereka jalani sedangkan peneliti melakukan mix method untuk mengetahui kesiapan lulusan dalam melaksanakan praktik kedokteran.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Watmough et al. (2009), tentang persepsi lulusan dokter yang menjalani kurikulum konvensional tentang keefektifan kurikulum mereka dengan cara melakukan interview. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah ingin mengetahui persepsi lulusan dokter yang berasal dari kurikulum konvensional dengan melakukan studi kualitatif dan menggunakan triangulasi analisis. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti sebelumnya ingin mengetahui tentang keefektifan kurikulum sedangkan pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui persepsi lulusan dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran. Peneliti akan melakukan focus group discussion (FGD) dan triangulasi analisis dengan melakukan koding bersama dengan asisten peneliti.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Cave, Woolf, Jones & Dacre (2009), tentang cara - cara yang ditempuh oleh fakultas kedokteran untuk mempersiapkan lulusan dalam menghadapi dunia kerja. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah untuk mengetahui kesiapan lulusan dokter dalam menghadapi dunia kerja. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti sebelumnya menentukan faktor – faktor yang mempengaruhi kesiapan lulusan dalam melaksanakan praktik kedokteran dengan menggunakan kuisioner sedangkan pada penelitian ini faktor – faktor yang mempengaruhi kesiapan lulusan akan dieksplorasi oleh peneliti menggunakan studi kualitatif dengan melaksanakan FGD.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Goldacre, Taylor & Lambert (2010), yaitu persepsi lulusan dokter tentang apakah fakultas kedokteran sudah mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja dengan melakukan survei menggunakan kuisioner. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang
akan peneliti lakukan adalah ingin mengetahui kesiapan lulusan dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran dengan melakukan survei menggunakan kuisioner. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti sebelumnya hanya melakukan studi kuantitatif tentang kesiapan lulusan sedangkan pada penelitian ini dilakukan mix – method diawali dengan studi kuantitatif dilanjutkan dengan studi kualitatif.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Ochsmann, Zier, Drexler, & Schmid (2011) tentang kesiapan lulusan dokter dalam menghadapi dunia kerja. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah ingin mengetahui kesiapan lulusan dalam melaksanakan praktik kedokteran. Perbedaan dengan penelitian ini adalah peneliti sebelumnya melakukan studi kuantitatif dengan melakukan survey kepada para lulusan dokter dengan cara membagikan kuisioner untuk mengetahui kesiapan mereka dalam melaksanakan praktik kedokteran sedangkan peneliti melakukan mix method untuk mengetahui kesiapan lulusan dalam melaksanakan praktik kedokteran.