KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN YANG DIALAMI TOKOH MIRA DALAM NOVEL WAJAH SEBUAH VAGINA KARYA NANING PRANOTO SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indon

103 

Teks penuh

(1)

KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN YANG DIALAMI TOKOH MIRA DALAM NOVEL WAJAH SEBUAH VAGINA KARYA NANING PRANOTO

SEBUAH KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Disusun Oleh: FANY HARDIYANTO

024114021

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)
(5)

MOTTO

MARILAH KEPADAKU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN

BERBEBAN BERAT, AKU AKAN MEMBERI KELEGAAN KEPADAMU

( MATIUS, 11:28)

Bila Engkau tidak bisa menjadi CEMARA di bukit, Jadilah BELUKAR yang

terindah di tepi parit.

Bila Engkau tidak bisa menjadi BELUKAR, Jadilah engkau RUMPUT yang

membumbung membuat jalan-jalan semarak.

Bila Engkau tidak bisa menjadi KOMANDAN, Jadilah PRAJURIT yang

TANGGUH.

Bukan kebesaran yang menentukan menang atau kalah, yang terpenting

“JADILAH WAJAR APA ADAMU DAN MENJADI DEWASA”

JUST DO THE BEST, LET GOD DO THE REST. Lakukan yang terbaik

dari yang bisa kita lakukan, selebihnya biarkan Tuhan menyelesaikan.

(6)

Karya ini kupersembahkan untuk:

Tuhan Yesus Cristus dan Bunda Maria yang selalu melindungiku dan

mendengarkan doaku.

ALUSIA TUGINEM (ALM)

Ia mengajariku berjalan, Ia mengajariku berlari dan

Ia mengajariku untuk berjuang dan mensyukuri nikmatnya hidup....I Love U

Tanpa beliau tanda dan kata tak bisa bermakna

Di Hati ini hanya selalu tersimpan rautnya

Aku hidup karna beliau, aku bisa menikmati hidup juga karna beliau

ROSALIA MUGIANTI... terimakasih bundaku....PETRUS SUCIPTO

HARDIYANTO dengan keringat dan peluh kalian, aku bisa seperti ini.

Kakakku..adikku.Bapak/Ibu dosen Sastra Indonesia. Sahabat-sahabatku

(7)

ABSTRAK

Fany Hardiyanto.2008. Kekerasan terhadap Perempuan yang dialami Tokoh Mira dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto (Sebuah pendekatan Sosiologi Sastra). Skripsi. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Penelitian ini mengkaji tentang kekerasan terhadap perempuan yang dialami tokoh Sumirah dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto. Tujuan penelitian ini adalah 1) Mengkaji dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dialami tokoh Sumirah, 2) mengkaji dan mendeskripsikan penyebab kekerasan terhadap perempuan yang dialami tokoh Mira. Tokoh Mira dalam novel ini, memiliki peranan sangat penting dalam mengungkap bentuk-bentuk dan penyebab kekerasan terhadap perempuan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra, karena penelitian ini mengangkat masalah sosial yaitu kekerasan terhadap perempuan dengan memaparkan bentuk-bentuk dan penyebab kekerasan terhadap perempuan. Metode yang digunakan untuk memperoleh data dan hasil penelitian yang akurat adalah metode analisis isi dan deskriptif. Berdasarkan metode diatas, dapat digambarkan bahwa terdapat fakta-fakta yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti, kemudian diolah dan ditafsirkan. Adapun langkah konkret yang ditempuh adalah sebagai berikut: pertama, menganalisis bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dialami tokoh Mira. Kedua, menganalisis penyebab kekerasan terhadap perempuan yang dialami Mira.

Analisis bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dialami Mira, Yaitu kekerasan seksual dan non seksual. 1. Kekerasan seksual,perkosaan dan pelecehan seksual. 2. Kekerasan nonseksual, a. kekerasan fisik, adanya remasan dan gigitan pada payudara, pemukulan, sulutan rokok pada vagina, tendangan pada perut dan dikubur hidup-hidup, b. kekerasan ekonomi, adanya ekslpoitasi atau pelacuran, c. kekerasan psikologi, hinaan, cemoohan, paksaan menjual diri, frustasi, diludahi dan trauma, d. kekerasan politik, perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang.

(8)

ABSTRACT

Fany Hardiyanto.2008. Women Oppression as Experienced by Mira in Naning Pranoto’s Wajah Sebuah Vagina (A Literary Sociological Appriach). Thesis. Sanata Dharma University. Yogyakarta.

The research is aimed at analyzing the oppression on a woman experienced by the main character, Sumirah in Naning Pranoto’s Wajah Sebuah Vagina. The purposes of the research are 1) analyzing and describing the types of oppression on women, as experienced by the character Sumirah, 2) examining and describing the sources of oppression on a woman, as experienced by Mira. Mira, the main character in the novel, played important role in revealing the kinds and the sources of the oppression on a woman.

The literary sociological approach was adopted in this research because the research analyzed the social problem, the oppression on the women by elaborating the kinds and the sources of the oppression on women. Content analysis and descriptive methods were conducted to gain data and to report the analysis. The stages included: firstly, analyzing the kinds of oppression on a woman, as experienced by Mira. Secondly, the writer analyzed the source of woman oppression experienced by Mira. The results showed that the kinds of women oppressions experienced by Mira included (1) physical abuses, squeezing and biting to the breast, hitting, kicking on the belly and lived burring, (2) sexual abuses; rape and sexual harassment, (3) economic oppression; exploitation or prostitution, (4) psychological abuses; insult, the force to be a prostitute, frustration, spitting, and trauma.

(9)
(10)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Karunia dan Kehendak-Nya

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Kekerasan terhadap

Perempuan yang Dialami Tokoh Mira Dalam Novel Wajah Sebuah Vagina Karya Naning Pranoto sebuah Kajian Sosiologi Sastra. Skripsi tidak akan pernah terwujud

tanpa bimbingan dan semangat dari semua pihak. Saya mengucapkan terima kasih

kepada:

1. Tuhan Yang Maha Esa, atas Karunia dan Kehendak-Nya.

2. Bapak Drs. Yoseph. Yapi.Taum,M. Hum.,selaku Dosen pembimbing I skripsi

yang telah membagikan ilmunya kepada saya.

3. Ibu Susilowati Endah Peni Adji,S.S,M.Hum., selaku Dosen pembimbing II

skripsi yang memberikan banyak masukan kepada saya.

4. Seluruh Dosen Prodi Sastra Indonesia, Bapak Drs. B. Rahmato,M. Hum.,

Bapak Dr. I. Praptomo Baryadi, M. Hum., Bapak Drs. Hery Antono, M. Hum.,

Bapak Drs. Ari Subagyo, M. Hum., Bapak FX Santoso, M.S., Ibu Dra. Fr.

Tjandrasih Adji, M. Hum.

5. Dari hati yang paling dalam, terimakasih untuk eyang Alusia Tuginem

(Almarhum) seorang wanita yang selalu kupuja sepanjang hidupku….karna ia

aku mengerti dan paham arti cinta kasih…terimakasih!

6. Ibu Rosalia Mugiyanti, terimakasih…terimakasih….pejuang wanitaku,

dengan paras ayumu hidup ini indah, karna keringatmu atas pengorbananmu,

aku bisa seperti ini…I..LOVE..U BUNDA. Bapak Petrus Sucipto

Hardiyanto…siapa beliau, bagaimana beliau dan apapun beliau aku sayang

(11)

7. Teman-teman seperjuanganku Genk Baskom, Ira (Mlenuk), Eli (Tubruk),

Luki, Erda, dan Rosa, untuk waktu dan indahya persahabatan kita semoga

abadi selamanya.

8. Keluarga besarku tercinta, kakakku tercinta mbak Lala, Mas Janto, adikku

Dionisia, Pakdhe Anton sekeluarga. Mbah Wagio, Keluarga Eko Prihantoro,

Keluarga Muji dan keponakan-keponakanku terima kasih untuk doa, semangat

dan dukunganya pada penulis.

9. Bapak Totok Sugiarto, beribu-ribu ungkapan terima kasih atas bantuan,

semangat dan doa….terima kasih…terima kasih! Atas campur tangan beliau

aku bisa meraih gelar sarjanaku….terimakasih Babe.

10. Ibu Cris (bu Tono) terimakasih atas bantuan, semangat dan informasi

beasiswa. Campur tangan beliaulah aku bisa bertahan melanjutkan kuliah. Dan

tidak ketinggalan bu Agus he….terimakasih!

11. Ma’Uci dan seluruh keluarga besar Darmo Suwito…terimakasih atas bantuan,

semangat….dan doa.

12. Teman-teman Mudika Alosius Gonsaga…terima kasih atas dukungan,

semangat dan doa. He…he…Aku LULUS!

13. Teman-teman Mudika Perum. Kanisius terima kasih atas keluh

kesah…persahabatan dan pengertian .

14. Denbagus IVO terima kasih atas semangat...doa...ia telah sudi mendengarkan

keluh kesahku dan ia menemaniku dikala aku kesepian...ucil..

15. Keluarga Parwoto dan Keluarga Ngadimo.

16. Keluarga besar kantin Sanata Dharma, pak Supri, kang Yono, Bu yuli, bu

(12)

17. Seluruh teman-teman Prodi Sastra Indonesia Angkatan 2002, Yogi, Robert,

Bonet, Bangun, Plentong, Sapi, Sumantri, Marta, Lusi, Iren, dan teman –

teman yang lain, kalian sangat spesial.

18. Teman- teman KKN, Zius, Hendra, Moko, Mesya, Yanti, Dhani, Sulis, terima

kasih atas persahabatan kalian.

19. Terima kasih kepada warga desa Cangkring Bantul, atas dukungan, doa. Pak

Pariman, Pak Dukuh, Putut, Wahyu dan Mudika Ganjuran.

20. Seluruh pihak administrasi Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma.

21. Seluruh Staff dan karyawan UPT Perpustakaan Universitas Sanata Dharma

dan kepada pihak yang tidak bias saya sebutkan satu-persatu.

Saya telah berusaha sebaik mungkin sebagaimana pengalaman hidup yang saya

jalani, namun saya menyadari masih ada kekurangan dan keterbatasan kemampuan.

Apabila terdapat saran untuk menunjang kesempurnaan skripsi ini saya sangat

berterima kasih.

Akhirnya semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan ilmu kepada

pengetahuan khususnya di bidang sastra Indonesia dimasa yang akan datang. Terima

kasih.

Penulis

(13)

DAFTAR ISI 1.1 Latar Belakang Masalah……….………..1

1.2 Rumusan Masalah………….………...7

1.3 Tujuan Penelitian……….………...7

1.4 Manfaat Penelitian……….………..7

1.5 Tinjauan Pustaka………...8

1.6 Landasan Teori………...…...10

1.6.1 Pendekatan Sosiologi Sastra………..……...10

1.6.2 Kekerasan terhadap Perempuan ………...12

1.6.2.1 Bentuk-bentuk Kekerasan terhadap Perempuan…..12

BAB II BENTUK-BENTUK KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN YANG DIALAMI MIRA 2.1 Pengantar………..25

(14)

2.3 Bentuk-bentuk Kekerasan yang dialami Tokoh Mira…………..28

2.3.1 Kekerasan Seksual………...29

2.3.2 Kekerasan Non Seksual……….………...37

2.3.2.1 Kekerasan Fisik..….……….….37

2.3.2.2 Kekerasan Ekonomi………...43

2.3.2.3 Kekerasan Psikologi………..…47

2.3.2.4 Kekerasan Politik………55

2.4 Rangkuman……….……..56

BAB III FAKTOR PENYEBAB KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN YANG DIALAMI MIRA 3.1 Pengantar………60

3.2 Faktor Penyebab Kekerasan Yang dialami Mira.……….…...61

3.2.1 Adanya Ketidakadilan Gender.……….….61

3.2.2 Faktor Ekonomi……….72

3.4 Rangkuman……….79

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan……….82

4.2 Saran……….…..86

(15)

BAB I PENDAHULUAN

1.I Latar Belakang

Perempuan mempunyai hak dan kekedudukan yang sama terhadap

laki-laki, yaitu sama-sama mempunyai hak untuk mendapat perlindungan dari negara,

dihormati dan dihargai sebagi ciptaan Tuhan, serta mempunyai hak untuk

mengembangkan potensi yang dimiliki setiap individu. Namun, pada

kenyataannya perempuan merupakan mahkluk yang paling rentan terhadap tindak

kekerasan, baik di dalam keluarga, masyarakat, dan negara. Kedudukan

perempuan hanya sebagai pelengkap kaum laki-laki, perempuan diibaratkan hanya

sebagai konco wingkeng saja. Laki-laki digambarkan sebagai pemimpin, sedangkan perempuan harus patuh kepada laki-laki. Perbedaan tersebut yang

menjadikan adanya ketidakadilan gender yang menimbulkan kaum perempuan

rentan dengan kekerasan. (Arvita, 2004:45).

Suharman (1998:44) mengatakan bahwa, perempuan merupakan bagian

yang tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Namun, sepanjang perjalanan

sejarah kehidupan umat manusia, perempuan tidak jarang menjadi objek dari

tindak kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki. Sepanjang sejarah itu pula,

bukti-bukti kekuasaan laki-laki serta kerentanan perempuan selalu dapat dihadirkan.

Hal tersebut dapat diketahui dari berbagai pemberitaan di media cetak

(16)

pornografi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perdagangan perempuan dan

sampai pembunuhan.

Kekerasan terhadap perempuan (KTP) merupakan salah satu bentuk dari

ketidakadilan gender yang patut diperhatikan baik dari individu, masyarakat dan

negara, karena cenderung makin meningkat. Terbukti pada catatan tahunan

Komnas Perempuan yang menunjukkan bahwa pada tahun 2005, teridentifikasi

sebanyak 20,391 kasus KTP. Angka ini menunjukkan peningkatan 45% jika

dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun 2004, yaitu 14.020 kasus dimana

82% dari kasus tersebut adalah KDRT. Di Indonesia, setiap tahunnya terjadi

peningkatan kasus-kasus KTP. Pada tahun 2001, tercatat 3.160, tahun 2002

meningkat menjadi 5.103, pada tahun 2003 menjadi 7.787, dan tahun 2004

tercatat 14.020 kasus, 562 kasus traficking in woman (perdagangan perempuan). Dari data peningkatan kasus kekerasan tersebut, terbukti bahwa perempuan sangat

rentan terhadap tindak kekerasan (www.komnas perempuan.co.id).

Salah satu contoh tindak kekerasan terhadap perempuan di Indonesia,

yakni kasus Marsinah, buruh perempuan yang bekerja di perusahaan jam tangan

PT. Catur Surya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Ia meninggal pada tanggal 9 Mei

1993, ditemukan di sebuah gubuk terbuka sawah dekat hutan jati, tidak jauh dari

rumahnya dengan luka-luka dan bekas siksaan. Pembunuhan Marsinah merupakan

rangkaiaan dari pemogokan yang dilakukan buruh perusahaan tersebut dalam

rangka memperbaiki kondisi kerja dan meningkatkan upah. Marsinah merupakan

aktifis pemogokan buruh tersebut. Hal ini menjadi pertanyaan yang cukup pelik,

(17)

menghadapi resiko begitu besar (www.tempointeraktif.com). Kisah yang dialami

Marsinah memang sangat memprihatinkan, karena sampai sekarang belum ada

kejelasan mengenai kasus tersebut dari pihak hukum.

Kerusuhan bulan Mei 1998 yang terjadi di berbagai kota besar Indonesia,

merupakan salah satu bentuk kekerasan yang dialami perempuan. Bentuk

kekerasan yang berupa: pemerkosaan, penganiayaan seksual, serta pembunuhan

yang didahului penyiksaan secara seksual (Saparinah via A.Rahman, 2002:145).

Kerusuhan tersebut membawa kita untuk berpikir bahwa keberadaan perempuan

rentan dengan tindak kekerasan.

Fenomena KTP tidak hanya ditemukan dalam kehidupan masyarakat.

Berbagai wacana gambaran KTP diungkapkan pula dalam cerita fiksi seperti

karya sastra. Beberapa karya sastra mengenai gambaran KTP merupakan inspirasi

pengarang dari kehidupan sosial. Menurut Sumardjo (1989:15), karya sastra yang

kita baca dibangun oleh pengarangnya, sebagai hasil rekaman berdasarkan

perenungan, penafsiran, penghanyatan hidup terhadap realitas sosial dan

lingkungan kemasyarakatan dimana pengarang itu hidup dan berkembang. Karya

sastra merupakan bentuk realitas kehidupan alami masyarakat. Oleh karena itu,

realitas kehidupan dalam masyarakat merupakan sumber bahan penciptaan karya

sastra.

Penciptaan sastra bersumber dari kenyataan-kenyataan yang hidup dalam

masyarakat. Dalam karya sastra hal-hal yang digambarkan tentang masyarakat

dapat berupa sruktur sosial masyarakat, fungsi dan peran masing-masing anggota

(18)

lebih sederhana, karya sastra menggambarkan unsur-unsur masyarakat yang

terdiri dari laki-laki dan perempuan interaksi yang terjalin di antara keduanya

merupakan tema yang menarik untuk dikaji sebab menyangkut hububungan antara

dua jenis kelamin yang berbeda, yang membentuk tatanan kehidupan masyarakat,

baik secara sosial maupun budaya (Rampan, 1984:16).

Hal tersebut, menginspirasi beberapa penulis mengangkat tema kehidupan

perempuan kedalam karya sastra. Salah satu penulis perempuan yang mengangkat

masalah perempuan adalah Naning Pranoto. Naning, lahir pada tanggal 6

Desember 1957 di Yogyakarta. Kiprahnya di dunia tulis menulis sampai tahun

2003 telah meghasilkan lebih dari 17 novel dan ratusan cerita pendek. Novelnya

antara lain Mumi Beraroma Minyak Wangi, Miss Lu, Musim Semi Lupa Singgah Di Shizi, Bella Donna Nova, Asalea Jingga, Angin Sorrento, Perempuan Dari

Selatan dan Dialog Antara Dua Topeng, Wajah Sebuah Vagina serta Sebilah

Pisau Dari Tokyo.

Salah satu novel yang menarik perhatian peneliti adalah novel yang

berjudul Wajah Sebuah Vagina (kemudian ditulis WSV), karena dalam novel tersebut Naning mengangkat masalah ketidakadilan yang menimpa perempuan,

melalui vagina mereka. Novel WSV ditulis oleh Naning, karena terinspirasi oleh

kisah Sunarti (yang kisahnya ditulis Naning pada pengantar penulis di awal novel

WSV). Sunarti menceritakan kisahnya kepada Naning, bahwa hampir 25 tahun

ditindas oleh pasangan hidupnya, ia dijadikan pelacur dan disiksa. Dari kisah

tersebut Naning mengangkatnya menjadi novel yang menarik dengan tokoh utama

(19)

Naning menggunakan kata vagina dalam novelnya WSV hanya sebagai

simbol dan fenomena yang tejadi pada kaum perempuan. Vagina bukan hanya

sekedar embel-embel bagi eksistensi manusia yang memilikinya. Vagina adalah

pembeda yang paling mendasar dan yang menentukan bagi pemilahan gender.

Vagina memiliki peranan yang sangat religius, sebab vagina merupakan anugerah

kemuliaan. Vagina bagi kaum perempuan merupakan simbol kesucian dan

kehormatan yang patut dimuliakan. Namun, suatu ketika vagina bisa menjadi

sumber malapetaka bagi perempuan, ketika keberadaannya dilecehkan sebagai

sumber penghasil materi (Tamba, 2007).

Dalam novel WSV, dikisahkan secara tragis mengenai kekerasan yang

dialami tokoh perempuan yang bernama Sumirah. Sumirah atau lebih sering

dipanggil Mira berasal dari desa Mijil, Jawa Tengah. Sejak umur 5 tahun orang

tua Mira meninggal dunia, karena dibunuh oleh Petugas Keamanan Negara

(PKN), terlibat anggota Barisan Tani Indonesia (BTI). Pada usia 14 tahun, pertama kali ia mendapat menstruasi, satu bulan setelah itu, ia diperkosa oleh

Lurah Prakoso. Karena ancaman Lurah Prakoso, Mira pergi dari desanya dan lari

ke Surabaya ke tempat Mbak Dinah tetangganya sewaktu di desa Mijil. Di kota

Surabaya, Mira menjadi pelacur atas paksaan Mbak Dinah. Selama 5 tahun

menjadi pelacur Mira mendapat perlakuan kasar dari pelanggannya. Kekerasan

yang dialami Mira tidak hanya itu saja. Kehidupan ekonomi yang lemah membuat

Mira meninggalkan Kang Suhar suaminya untuk hidup bersama Mister Mulder,

lelaki Belanda yang mengaku pengusaha emas. Kemewahan yang melimpah dari

(20)

hanya sementara, Mira lalu dijual dan dijadikan pelacur oleh Mister Mulder di

negara Afrika.

Berdasarkan gambaran singkat kehidupan Mira di atas, novel WSV

merupakan gambaran kekerasan terhadap perempuan. Berbagai tragedi kehidupan

yang mewarnai kehidupan tokoh Mira membuat peneliti ingin mengetahui lebih

dalam mengenai bentuk-bentuk kekerasan dan penyebab kekerasan yang dialami

tokoh Mira.

Kekerasan dalam novel WSV menggugah peneliti untuk menganalisis

dengan menggunakan pendekatan yang memperhatikan segi-segi kemasyarakatan

yang disebut sosiologi sastra. Dengan menggunakan pendekatan tersebut peneliti

ingin lebih leluasa mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan dan penyebab KTP

yang dialami tokoh Mira. Peneliti tertarik meneliti novel WSV, karya Naning

Pranoto karena menitikberatkan masalah perempuan tentang kekerasan terhadap

perempuan. Novel ini pada hakikatnya menggambarkan realita sosial yang ada

dalam kehidupan nyata, yang dialami sebagian perempuan seperti yang terjadi

(21)

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti merumuskan permasalahan

sebagai berikut.

1.2.1 Apa saja bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan yang dialami

tokoh Mira dalam novel WSV karya Naning Pranoto?

1.2.2 Apa yang melatarbelakangi penyebab kekerasan terhadap perempuan

yang dialami tokoh Mira dalam novel WSV karya Naning Pranoto?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan yang akan dicapai dalam

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.

1.3.1 Mendeskripsikan bentuk-bentuk KTP yang menimpa tokoh Mira

dalam novel WSV karya Naning Pranoto.

1.3.2 Mendeskripsikan latar belakang penyebab KTP yang dialami tokoh

Mira dalam novel WSV karya Naning Pranoto.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai berikut.

1.4.1 Bagi perkembangan ilmu sastra, hasil penelitian ini diharapkan sebagai

masukan untuk lebih memperhatikan kekerasan terhadap perempuan

dengan mengetahui bentuk-bentuk dan penyebabnya agar lebih bisa

(22)

1.4.2 Menambah perbendaharaan pustaka khususnya dibidang peneitian

sastra yang dilihat dari segi sosiologi.

1.5 Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka ini akan memaparkan beberapa pembahasan mengenai

novel WSV karya Naning Pranoto yang berupa resensi dan skripsi.

Novel WSV adalah novel ke-17 Naning Pranoto yang terbit pada tahun

2004. Novel WSV sudah pernah dinaskahkan oleh Wijang Warek AM dan pernah

dipentaskan oleh kelompok teater “ Tonil Klosed” Surakarta, di gedung Teater Arena Taman Budaya Surakarta yang disutradarai oleh Sosiawan Leak (Suara Merdeka, 2005: 29 November).

Sunarwoto Dewo (dalam Jawa Pos, 4 Juli 2004) pada resensinya yang berjudul ”Potret Kekejaman Rezim Lelaki, mengatakan bahwa kisah Sumira dalam novel WSV terinspirasi kisah oleh kisah Sunarti, yang dibahas dalam

bagian pengantar novel. Kisah Sunarti diangkat menjadi novel sebagai gambaran

realita kekerasan atas perempuan yang hingga kini masih berlangsung. Sunarwoto

menghubungkan kisah Sumira tokoh utama dalam novel WSV dengan kisah Ratu

Pembayun yang menjadi tumbal intrik tipu muslihat Raja Mataram Panembahan

Senopati. Kisah tersebut bukti adanya pemanfaatan perempuan sebagai alat untuk

meraih ambisi. Sunarwoto Dewo berkesimpulan bahwa, kisah novel WSV

merepresentasikan kekejaman rezim lelaki.

(23)

novel-novel yang berbau lendir, dalam arti karya-karya yang bersifat porno. Novel-novel-novel

yang termasuk karya berlendir salah satunya yaitu, novel Wajah Sebuah Vagina. Fatoni memaparkan alasan Naning memakai kata vagina dalam judul

novelnya. Vagina hanya sebagai simbol dari fenomena tentang kekerasan yang

terus menerus dilakonkan laki-laki. Judul WSV itulah yang menjadikan novel

tersebut sebagai novel berlendir dan ditolak oleh beberapa toko buku.

Novel WSV pernah dibahas secara khusus, mendalam dan sistematis oleh

Mery Kusumawardhani dan Nila Mei Tiastuti. Mery Kusumawardhani,

mahasisiwi dari Universitas Airlangga, fakultas Sastra Indonesia angkatan 1999.

Dalam skripsinya yang berjudul ”Representasi Patriarki dalam Novel Wajah

Sebuah Vagina” mengkaji mengenai representasi patriarki yang terkihat pada

tokoh laki-laki pada novel WSV .

Berbeda dengan Nila Mei Tiastuti mahasiswi Universitas Negri Semarang,

ia mengkaji novel WSV dengan judul ” Tokoh Wanita dalam Pandangan Gender

Pada Novel Wajah sebuah Vagina”. Nila lebih memfokuskan penelitiannya pada

tokoh wanita yaitu Mira dengan pandangan gender.

Sedangkan penelitian ini akan mengupas tentang ”Kekerasan terhadap

Perempuan yang Dialami Tokoh Mira”. Karena, sejauh pengetahuan peneliti

belum ada penelitian yang mengangkat tema permasalahan kekerasan terhadap

(24)

1.6 Landasan Teori

Kajian teori yang akan digunakan dalam menganalisis novel WSV adalah

pendekatan sosiologi sastra dan kekerasan terhadap perempuan yang memaparkan

mengenai bentuk-bentuk KTP dan penyebab KTP.

1.6.1 Sosiologi Sastra

Menurut Semi (1989:46) pendekatan sosiologis dalam penelitian sastra

bertolak dari pandangan bahwa sastra merupakan pencerminan kehidupan

masyarakat.

Karya sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri

adalah suatu kenyataan sosial (Damono, 1987:3). Menurut Rampan (1984:15)

karya sastra sebagai media merefleksikan pandangan pengarang terhadap berbagai

masalah yang diamati di lingkungan. Reatita sosial yang terjadi dimodifikasikan

sedemikian rupa menjadi sebuah teks literer yang dimungkinkan menghadirkan

pencitraan yang berbeda dibandingkan dengan realita empiris. Dengan demikian,

realita sosial yang dihadirkan melalui teks kepada pembaca merupakan gambaran

tentang berbagai fenomena sosial yang terjadi atau yang pernah terjadi di

masyarakat, yang dihadirkan kembali oleh pengarang dalam bentuk dan

pencitraan yang berbeda. Menurut Luxemburg (1978:45), hal ini berarti karya

sastra memberikan wawasan kepada pembaca mengenai kenyataan dalam

masyarakat

Dengan demikian, pemahaman karya sastra tidak hanya ditemukan oleh

(25)

memperhatikan segi-segi kemasyarakatan itu disebut sosiologi sastra (Damono,

1987:2).

Telaah sosiologi sastra mempunyai dua kecenderungan utama. Pertama,

pendekatan yang berdasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan cermin

proses sosial ekonomi belaka. Pendekatan ini bergerak dari faktor-faktor di luar

sastra untuk membicarakan sastra, sastra hanya berharga dalam hubungannya

dengan faktor-faktor diluar sastra itu sendiri. Jelas bahwa dalam pendekatan ini

teks sastra tidak dianggap utama, ia hanya merupakan ephinimenon (gejala kedua). Kedua, pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan

penelaah. Metode yang dipergunakan dalam sosiologi sastra ini adalah analisis

teks untuk megetahui strukturnya, kemudian digunakan untuk memahami lebih

dalam lagi gejala yang ada di luar sastra (Damono, 1978:2-3).

Penelitian ini, menggunakan kecenderungan yang pertama yaitu

pendekatan yang berdasarkan pada anggapan bahwa sastra merupakan cermin

proses sosial ekonomi belaka. Dalam mengenalisis karya sastra perlu untuk

menghubungkan karya sastra atau novel dengan masyarakat. Karena karya sastra

merupakan bagian dari masyarakat.

Model pendekatan ini dipilih dengan alasan, peneliti ingin lebih leluasa

menganalisis mengenai ”Kekerasan terhadap Perempuan yang dialami Tokoh

Mira dalam novel WSV”. Pendekatan sosiologis dipilih karena karya sastra seperti

novel merupakan representasi dari fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.

(26)

perempuan yang banyak dialami sebagaian masyarakat khususnya kaum

perempuan.

1.6.2 Kekerasan terhadap Perempuan

Kekerasan terhadap Perempuan dalam pasal 1 Deklarasi Penghapusan

Kekerasan terhadap Perempuan di Nairobi pada tahun 1985, termuat pengertian

kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan berdasarkan perbedaan

jenis kelamin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik,

seksual, psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau

perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik terjadi di depan umum

maupun dalam kehidupan pribadi (Sugihastuti.2007: 172)

1.6.2.2 Bentuk-Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan

Menurut La Pona dkk.(2002:7), berdasarkan situs terjadinya, kekerasan

terhadap perempuan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kekerasan yang

dilakukan oleh pelaku yang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan

perkawinan, meskipun dilakukan di sektor publik, dapat dikategorikan sebagai

kekerasan domestik. Sebaliknya, bila kekerasan dilakukan oleh orang yang tidak

memiliki hubungan kekerabatan atau perkawinan, meskipun dilakukan di dalam

rumah, dikategorikan sebagai kekerasan sektor publik.

Dzuhayatin dan Yuarsi (2002:6) mengatakan bahwa kekerasan terhadap

perempuan dapat dibedakan menjadi dua bentuk yakni kekerasan seksual dan

(27)

unsur kehendak seksual. Apabila terdapat unsur kehendak seksual, kekerasan

tersebut dapat dikategorikan sebagai kekersan seksual. Sebaliknya, apabila unsur

tersebut tidak didominan, kekerasan tersebut dimasukkan dalam kategori

nonseksual.

Rifka Annisa Women Crisis Center (Rifka Annisa WCC,2004:4)

mengategorikan secara umum bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan

sebagai berikut.

a. Kekerasan seksual adalah perbuatan yang berupa perkosaan, pelecehan

seksual, hingga pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan (marital rape) maupun insest. Akibat dari kekerasan tersebut bisa mengakibatkan seperti, luka pada alat kelamin, selaput dara rusak, hamil, keguguran.

b. Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan berupa, pemukulan, tamparan,

penjambakan, sulutan rokok, dibenturkan dan segala tindakan yang

menyerang fisik atau mengakibatkan luka fisik. Perbuatan tersebut

menyebabkan rasa sakit, cidera, luka, atau cacat pada tubuh seseorang dan

atau menyebabkan kematian.

c. Kekerasan ekonomi adalah setiap perbuatan yang bersifat membatasi

seseorang untuk bekerja, baik di dalam atau di luar rumah, yang

menghasilkan uang atau barang; dan atau membiarkan korban bekerja

untuk dieksploitasi; atau tindakan menelantarkan keluarga.

d. Kekerasan Psikologis adalah perbuatan yang berupa umpatan, ejekan,

cemoohan dan segala tindakan yang mengakibatkan tekanan psikologis

(28)

mental dan jiwa seperti adanya trauma, hilangnya kepercayaan diri, dan

berbagai negatif lain.

Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan diatas masih kurang satu

bentuk kekerasan, yaitu kekerasan politik. Kekerasan politik adalah perampasan

kemerdekaan secara sewenang-wenang yang menyebabkan seseorang terisolasi

dari lingkungan sosalnya.

Dari beberapa pendapat mengenai bentuk-bentuk KTP diatas, peneliti

merumuskan kekerasan terhadap perempuan sebagai berikut.

1. Kekerasan seksual adalah perbuatan yang berupa perkosaan, pelecehan

seksual, hingga pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan (marital rape) maupun insest. Akibat dari kekerasan tersebut bisa mengakibatkan seperti, luka pada alat kelamin, selaput dara rusak, hamil, keguguran.

2. Kekerasan Nonseksual

a. Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan berupa, pemukulan, tamparan,

penjambakan, sulutan rokok, dibenturkan dan segala tindakan yang

menyerang fisik atau mengakibatkan luka fisik. Perbuatan tersebut

menyebabkan rasa sakit, cidera, luka, atau cacat pada tubuh seseorang dan

atau menyebabkan kematian.

b. Kekerasan ekonomi adalah setiap perbuatan yang bersifat membatasi

seseorang untuk bekerja, baik di dalam atau di luar rumah, yang

menghasilkan uang atau barang; dan atau membiarkan korban bekerja

(29)

c. Kekerasan Psikologis adalah perbuatan yang berupa umpatan, ejekan,

cemoohan dan segala tindakan yang mengakibatkan tekanan psikologis

termasuk ancaman dan pengekangan yang berakibat pada gangguan

mental dan jiwa seperti adanya trauma, hilangnya kepercayaan diri, dan

berbagai negatif lain.

d. Kekerasan Politik adalah perambasan kemerdekaan secara

sewenang-wenang yang menyebabkan seseorang terisolasi dari lingkungan sosialnya.

1.6.2.3Penyebab Kekerasan terhadap Perempuan 1.6.2.3.1 Gender-Patriarki

Kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya berasal dari berbagai

sumber, namun salah satu kekerasan jenis kelamin tertentu, misalnya perempuan,

disebabkan oleh anggapan gender (Fakih, 1997:17)

Pemahaman dan perbedaan antara konsep seks atau jenis kelamin dan

konsep gender sangat penting untuk menganalisis dalam usaha memahami

persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Mitos klasik

tentang proses penciptaan perempuan berasal dari tulang rusuk laki-laki

membenarkan inferioritas perempuan dan menguatkan superioritas laki-laki

(Budiman;1981:10) .

Fakih ( 1997:7) berpendapat bahwa, konsep penting yang perlu dipahami

dalam membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan antara konsep

jenis kelamin (sex) dan konsep gender. Pembedaan terhadap kedua konsep

tersebut sangat diperlukan karena mempunyai alasan sebagai berikut: pemahaman

(30)

analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa

kaum perempuan. Hal ini dikarenakan ada kaitan erat antara perbedaan gender

(gender differences) dan ketidakadilan gender (gender inequalities) serta

kaitannya terhadap ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan

Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan

jenis kelamin (sex). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau

pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang

melekat pada jenis kelamin tertentu. Misal: bahwa manusia jenis lelaki adalah

manusia yang memiliki penis, kalamenjing dan memproduksi sperma.

Sedangkang perempuan memiliki alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk

melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki vagina dan mempunyai alat

menyusui, alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis

perempuan dan lelaki selamanya (Fakih,1997:8-9).

Sedangkan gender bersifat sociocultur karena merupakan sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara social cultural.

Gender didukung oleh seperangkat perilaku khusus seperti penampilan, sifat,

pakaian, kepribadian, pekerjaan, tanggung jawab keluarga. Contoh perbedaan

gender adalah bahwa perempuan digambarkan sebagai lemah-lembut, cantik,

keibuan, emosional, sedang laki-laki dikenal dengan kuat, jantan, perkasa,

rasional, agresif, kebapakan(Fakih,1997:9).

Perbedaan seks (jenis kelamin) antara perempuan dan laki-laki yang

berproses melalui budaya dan menciptakan perbedaann gender tidak akan menjadi

(31)

dalam kesetaraan. Namun, perbedaan gender kemudian diwarnai oleh pandangan

bahwa kedudukan laki-laki ”di atas” perempuan. Pandangan tersebut kemudian

dikukuhkan lagi melalui agama dan tradisi. Dengan demikian, laki-laki ”diakui

dan dikukuhkan” untuk menguasai perempuan. Situasi ini adalah hasil belajar

manusia dari budaya patriarki. Dalam budaya ini, berbagai ketidakadilan muncul

di berbagai bidang dan bentuk (Murniati, 2004:xix)

Perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan gender yang berimbas

pada posisi yang disandang oleh perempuan. Menurut Fakih (1997:147-151),

perbedaan gender yang berdasarkan pada anggapan pada penilaian oleh konstruksi

sosial pada akhirnya menimbulkan sifat atau stereotip yang terkukuhkan sebagai

kodrat kultrural, dan dalam proses yang panjang telah mengakibatkan

ketidakadilan bagi kaum perempuan. Ketidakadilan terhadap perempuan tersebut

dapat dibagi dalam lima bagian. Pertama, perbedaan dan pembagian gender dalam

bentuk subordinasi kaum perempuan dihadapan laki-laki, terutama menyangkut

pengambilan keputusan dan pengendalian kekuasaan. Kedua,

marginalisasi/peminggiran, dalam bidang ekonomi. Ketiga, stereotype negatif

(pelabean/pemberian cap negatif pada satu kelompok atau individu). Keempat,

beban kerja. Kelima, perbedaan gender juga mengakibatkan timbulnya kekerasan

terhadap perempuan baik secara fisik maupun mental.

Kekerasan terhadap perempuan adalah suatu bentuk ketidakadilan gender

atau suatu konsekuensi dari adaya relasi yang timpang antara perempuan dan

laki-laki sebagai bentukan nilai dan norma sosial. Dalam perspektif gender, kondisi ini

(32)

membentuk peradaban manusia, yaitu suatu budaya yang menganggap bahwa

laki-laki adalah superior terhadap perempuan dalam kehidupan pribadi, keluarga,

masyarakat dan kehidupan bernegara (Mas’Udi,1997:58).

Pada dasarnya, perbedaan gender adalah suatu hal yang wajar terjadi di

masyarakat. Hanya saja perbedaan gender bisa menjadi masalah ketika

menimbulkan ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan.

Kekerasan tersebut dapat terjadi karena adanya relasi yang tidak seimbang yang

diakibatkan oleh pembakuan peran gender dan persepsi gender yang berbeda.

Misalnya anggapan masyarakat bahwa laki-laki memiliki kedudukan yang lebih

tinggi dibandingkan kedudukan perempuan sehingga laki-laki merasa lebih

berkuasa atas perempuan. Pandangan ini kemudian dikenal sebagai budaya

patriarkhi (Riffka Annisa WCC, 2004 :04).

Prasetyo dan Suparman (1997:1-2), melihat bahwa relasi sosial perempuan

sifatnya sangat patriarkhis. Patriarkhis adalah ideologi yang menyatakan bahwa

laki-laki lebih tinggi kedudukannya dari pada perempuan, juga seorang

perempuan sudah semestinya dikontrol oleh laki-laki karena dirinya adalah bagian

dari milik laki-laki. Lebih jauh lagi ideologi itu menuntut perempuan untuk

menerima perilaku feminis sebagai “kodrat”, Akhirnya perempuan pun menjadi

objek dari berbagai usaha upaya perubahan yang disusun menurut ego laki-laki.

Bias laki-laki itulah yang menjadikan salah satu faktor yang bisa menjelaskan

mengapa kekerasan terhadap perempuan terus berlangsung.

Patriarki merupakan sebuah sistem dominasi dan superioritas laki-laki,

(33)

patriarki melekat ideologi yang menyatakan bahwa perempuan harus dikontrol

laki-laki, dan bahkan perempuan adalah bagian dari milik laki-laki. Dengan

demikian, terciptalah kontruksi sosial yang tersusun sebagai kontrol atas

perempuan dan laki-laki berkuasa penuh mengendalikan hal tersebut (Bhasin,

1996: 3-4).

Budaya patriarki yang melahirkan ketidakadilan gender dimasyarakat

menempatkan perempuan dalam status lebih rendah dari pada laki-laki

seolah-olah menjadikan perempuan sebagai ”barang” milik laki-laki yang berhak untuk

diperlakukan dengan semena-mena , termasuk dengan cara kekerasan. Hal ini

dipicu oleh relasi gender yang timpang, dan diwarnai oleh ketidakadilan dalam

hubungan antar jenis kelamin, yang berkaitan erat dengan kekuasaan.

(httpsitus.kesrepro.infogenderavewreperensi2.htm)

Mufidah (2006:10), mengemukakan bahwa adanya kekuasaan laki-laki

yang berlindung dibawah kekuatan jabatan, juga sering menjadi sarana untuk

melakukan kekerasan. Jika hakikat kekerasan sesungguhnya merupakan

kewajiban untuk mengatur, bertanggung jawab dan melindungi pihak yang

lemah/bawahanannya, namun demikian seringkali kebalikannya bahwa, dengan

sarana kekuasaan yang legitimate, penguasa seringkali melakukan kekerasan

terhadap warga atau bawahannya.

Berkaitan dengan budaya patriarki dan ketidakadilan gender terhadap

perempuan, penelitian ini, akan mengulas mengenai kekerasan terhadap

perempuan yang dialami tokoh Mira dalam novel WSV karya Naning Pranoto.

(34)

perempuan, serta budaya yang menempatkan kedudukan perempuan lebih rendah

dari laki-laki melahirkan ketidakadilan gender. Salah satu bentuk dari

ketidakadilan gender adalah kekerasan terhadap perempuan.

1.6.2.2.1 Ekonomi

Faktor ekonomi merupakan salah satu penyebab tindak kekerasan yang

dialami perempuan. Menurut Dewi Mayavanie Susanti (2004: 3) kondisi ekonomi

yang miskin merupakan ketidakberdayaan sekelompok masyarakat terhadap

sistem yang diterapkan oleh suatu pemerintahan sehingga mereka berada pada

posisi yang sangat lemah dan tereksploitasi. Tetapi pada umumnya, ketika orang

berbicara tentang kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan material. Dengan

pengertian ini, maka seseorang masuk dalam kategori miskin apabila tidak mampu

memenuhi kebutuhan baik secara pangan, kesehatan dan pendidikan.

Kemiskinan sebagai kondisi ekonomi di mana seseorang atau kelompok

orang, laki-laki dan perempuan, tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk

mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermatabat. Hak-hak

dasar masyarakat antara lain terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan,

pendidikan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan

atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan

sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki (Wijaya,1998).

Menurut Arivia (dalam jurnal perempuan, 1998) Tingkat kemiskinan

antara laki-laki dan perempuan, pada kenyataannya perempuan yang lebih miskin

(35)

gawatnya kemiskinan dan sttus kesehatan perempuan. Angka putus sekolah anak

perempuan setelah Sekolah Dasar (SD) masih tetap lebih tinggi dibandingkan

dengan anak laki-laki. Karena dalam keluarga miskin yang terdorong keluar dari

jalur pendidikan formal biasanya adalah anak perempuan lebih dahulu. Hal ini,

mengakibatkan terpusatnya pekerja perempuan dengan memiliki pendidikan

rendah, kurangnya bekal ketranpilan dan memiliki upah yang rendah. Selain itu,

kemiskinan dapat mendorong perempuan kedalam situasi rawan pada eksploitasi

seksual dan kekerasan.

Penyebab kekerasanmemang kompleks, tidak hanya disebabkan oleh satu

faktor. Ada beberapa faktor yang saling terkait dan mempengaruhi. Terpenting

adalah untuk tidak hanya melihat penyebab yang nampak saja atau bersifat

perorangan, namun dapat lebih dalam menganalisanya dengan menghubungkan

faktor-faktor lain yang lebih besar. Dalam kasus pelacuran, perempuan seringkali

dianggap sebagai pihak yang bersalah karena mereka mengeksploitasi tubuh

mereka. Maka yang kemudian perlu dipersoalkan adalah mengapa laki-laki

kemudian melakukan tindak kekerasan. Selain itu juga harus kita pahami bahwa

selama ini perempuan diajari untuk berpikir bahwa “tubuh”, dan bukan pikiran,

yang merupakan bagian terpenting dari seorang perempuan. Itulah sebabnya

mengapa banyak perempuan yang memakai tubuhnya sebagai aset utama

memperoleh uang (Utami,2002:21). Tidak menutup kemungkinan kekerasan bisa

(36)

1.7 Metode Penelitian 1.7.1 Pendekatan

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan sosiologi sastra.

Pendekatan sosaiologi sastra digunakan untuk menganalisis hubungan karya sastra

dengan unsur sosial. Secara sosiologis, sebuah karya sastra merupakan cermin

masyarakat. Pendekatan sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis kekerasan

terhadap perempuan dengan mengkaji bentuk-bentuk dan penyebab kekerasan.

1.7.2 Metode Penelitian

Dalam suatu penelitian ilmiah, kata metode mengacu pada cara kerja yang

dipergunakan secara sistematis untuk menganalisis, mempelajari, dan memahami

atau mendalami suatu objek penelitian yang menjadi sasaran ilmu yang

bersangkutan. Oleh karena itu penentuan metode penelitian harus dilakukan

dengan teliti berdasarkan pertimbangan mengenai ada tidaknya kesesuaian antara

sebuah objek metode dengan objek studi atau penelitian ( Koentjaraningrat via

Yudiono, !990:14).

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan dua jenis metode, yakni metode

analisis isi dan metode deskriptif. Metode analisis isi dalam karya sastra adalah

cara mengungkapkan pesan-pesan yang sesuai dengan hakikat sastra itu sendiri

(Ratna,2004:48). Metode deskripsi adalah metode yang melukiskan sesuatu yang

digunakan untuk memaparkan secara keseluruhan hasil analisis yang dilakukan

(37)

Metode analisis isi digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis

kekerasan terhadap perempuan yang dialami tokoh Mira novel WSV. Metode

deskripsi digunakan peneliti untuk mendeskripsikan hasil analisis yang berupa

bentuk-bentuk kekerasan, maupun penyebab kekerasan terhadap perempuan yang

dialami Mira dalam novel WSV.

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, peneliti

menggunakan jenis penelitian studi pustaka (library research). Data-data yang peneliti dapatkan berasal dari buku dan internetyang berkaitan dengan

permasalahan di atas.

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti dalam meneliti novel

Wajah Sebuah Vagina ini adalah teknik simak dan teknik catat yakni dengan

menyimak bahan-bahan yang akan diteliti, setelah itu mencatat data-data yang

merupakan bagaian dari keseluruhan novel yang berkaitan dengan permasalahan

dalam penelitian. Setelah data yang berkaitan dengan permasalahan diperoleh

kemudian dianalisis berdasarkan teori yang digunakan.

1.8 Sumber Data

1.8.1 Judul : Wajah Sebuah Vagina

1.8.2 Pengarang : Naning Pranoto

1.8.3 Penerbit : Galang Press

1.8.4 Tahun terbit : 2004

(38)

1.9 Sistematika Laporan Penelitian

Sistematika penulisan penelitian ini terbagi dalam 4 bab. Bab I berupa

pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian,

sumber data dan sisitematika laporan penelitian, jadwal penelitian dan rancangan

anggaran..

Bab II, merupakan analisis mengenai bentuk-bentuk kekerasan terhadap

perempuan yang dialami Mira dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto. Bab III, merupakan analisis mengenai penyebab kekerasan terhadap

perempuan yang dialami tokoh Mira dalam novel Wajah Sebuah Vagina karya Naning Pranoto. Bab IV, merupakan kesimpulan dari keseluruhan bab yang ada

(39)

BAB II

BENTUK-BENTUK KEKERASAN YANG DIALAMI TOKOH MIRA DALAM NOVEL WAJAH SEBUAH VAGINA

2.1 Pengantar

Kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah sosial yang

seharusnya diperhatikan baik dari individu, masyarakat dan pemerintah, karena

masalah social tersebut menyangkut harkat dan martabat perempuan. Banyak

sekali kasus kekerasan yang dialami kaum perempuan dari berbagai lapisan.

Sebagai contoh; kisah TKW yang dianianya dan diperkosa majikannya,

perdagangan perempuan, KDRT sampai pembunuhan. Realita macam itu sering

kita temui pada berita surat kabar, televisi bahkan dalam lingkungan tempat

tinggal.

Realita kekerasan pada kaum perempuan tersebut, menggugah peneliti

untuk meneliti kekerasan terhadap perempuan, melalui sebuah karya sastra yang

berupa novel. Novel merupakan karya sastra yang lebih peka terhadap

persoalan-persoalan sosial masyarakat (Harjana, 1988:76). Pada bab II ini, peneliti akan

menganalisis mengenai bentuk-bentuk kekerasan yang di alami tokoh Sumirah

atau Mira. Sebelum menganalisis bentuk-bentuk dan akibat kekerasan, peneliti

perlu mengemukakan sinopsis novel WSV. Tujuannya adalah agar dapat

(40)

2.2 Sinopsis

Meliputi masa kisahan, Oktober 1982 s/d Januari 1983, tersebutlah

seorang wanita bernama Sumira, dari desa Mijil, Pulau Jawa, yang kemudian kita

kenal sebagai Mira, tokoh utama novel WSV. Disebutkan ayah-ibu Mira telah

dibunuh tahun 1965 oleh “petugas keamanan negara”, karena ayah Mira adalah

seorang anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) yang masih dipayungi Partai

Komunis Indonesia (PKI). Mira kemudian dirawat oleh neneknya. Sebagai

seorang anak keturunan PKI, Mira mendapat bermacam hinaan dalam masa

sekolahnya. Ketika ia lulus SD, dalam usia 14 tahun, kegadisannya direnggut oleh

Lurah Prakosa, yang senang hidup berfoya-foya dan merusak gadis-gadis muda.

Tidak tahan menanggung malu dan takut akan ancaman lurah, Mira lari ke

Surabaya. Di Surabaya, oleh tetangganya yang dikunjunginya, Mbak Dinah, Mira

dijadikan pelacur selama lima tahun di rumah bordil yang dikelolanya. Mira

melanjutkan hidup dengan mengkomersialkan vaginanya, dinikmati oleh siapa

saja yang mampu membayar, dan terkadang menyiksanya. Hingga ia kemudian

bertemu dengan Suhar, menikah dengannya, dan hidup serba kekurangan, terlebih

karena uang tabungannya habis untuk mengobati neneknya yang ternyata tidak

tertolong.

Mira membantu mencari penghasilan dengan berjualan bir kepada seorang

penumpang langganan Suhar. Seorang laki-laki Belanda bernama Mulder Dicki

Class, yang mengaku kepada Mira sebagai pedagang berlian dan emas batangan.

(41)

kalinya bahkan, Mira merasa “diwongke” (dimanusiakan) oleh Mulder yang

menganggapnya rembulan. Kali ini vagina telah membuat Mira bahagia, dan ia

bersedia mengikuti ajakan Mulder ke Afrika, meninggalkan Suhar suaminya.

Melalui pelayaran berbulan-bulan, Mira mulai melihat sifat buruk Mulder

Di kapal laut, Mira dijual Mulder kepada seorang temannya. Dan sesampainya di

Durban, Afrika Selatan, Mira dijadikan pelacur Mimpi-mimpi indah tentang

kehidupan mewah di bumi Afrika pupus sudah. Mira mulai sakit-sakitan dan

sering mengalami penyiksaan dari Mulder. Puncaknya, karena Mira suatu kali tak

sanggup memenuhi permintaan dari seorang pelanggan, karena ia sedang haid

(masalah biologis wanita yang berhubungan langsung dengan keberadaan vagina)

– Mira dipukuli dan kemudian dikubur hidup-hidup oleh Mulder bersama seorang

pacar barunya, Wendy.

Seorang penduduk asli, seorang pemuda yang bernama Mbeko, yang

menolong Mira. Ia bersama keluarganya (ibunya, Sofia, atau Bu Sepuh, dan juga

adiknya, Totti) bersama penduduk desanya kemudian menolong Mira. Mira

wanita Jawa kulit sawo matang, menikmati pemberian tanpa pamrih berupa

pertolongan menghidupkan dari Bu Sepuh, wanita Afrika kulit hitam yang juga

seorang dukun, dan selanjutnya diperjuangkan hak-hak kewanitaan dan

kemanusiaannya oleh bangsa kulit putih, Julia Camarro dan anaknya, Nicho

Camarro.

Ian Camarro suami dari Julia, tidak mendukung berbagai pertolongan yang

(42)

menghubungkan kembali Mulder dengan Mira. Dalam kisahnya vagina Mira yang

sudah dirusak oleh Mulder tidak saja dengan penisnya tapi juga dengan benda

tumpul itu – terus mengeluarkan darah. Hingga Mira kemudian secara metaforik

menyambut maut yang menggerayangi kesadarannya, bersama terpaan sinar

matahari penghabisan yang masih sempat menghangatkan kesadarannya yang

kemudian redup, gelap, dan mati. Pada akhir cerita kisah novel WSV, dikisahkan

Mira sebagai tokoh utama meninggal dunia.

2.3 Bentuk-Bentuk Kekerasan yang dialami Tokoh Mira

Bentuk-bentuk kekerasan yang dialami tokoh Mira merupakan kekerasan

publik. Kekerasan publik adalah jenis kekerasan terhadap perempuan yang

dilakukan oleh pihak yang tidak memiliki hubungan kekerabatan atau relasi

berdasarkan perkawinan dengan perempuan yang menjadi korban tindakannya

dengan tidak memperhitungkan ranah terjadinya tindak kekerasan tersebut

(Sugihastuti, 2007:203).

Pada kajian ini, bentuk-bentuk kekerasan publik yang dialami tokoh Mira

ialah kekerasan seksual dalam bentuk perkosaan dan pelecehan seksual, serta

kekerasan non seksual dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan ekonomi,

(43)

2.3.1 Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual berupa; perkosaan, pelecehan seksual, hingga

pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan ( marital rape ) maupun incest. Kekerasan seksual tersebut mengakibatkan, luka pada alat kelamin, selaput dara

rusak, hamil, keguguran dan kerusakan pada rahim.

Kekerasan seksual yang dialami Mira berupa perkosaan dan pelecehan

seksual. Perkosaan adalah setiap perbuatan yang berupa pemaksaan hubungan

seksual, baik yang dilakukan dengan cara yang tidak wajar dan atau tidak disukai

ataupun dengan cara yang wajar dan atau disukai terhadap orang lain di luar atau

di dalam pernikahan ( marital rape ) untuk tujuan komersil dan atau tujuan tertentu ( Rifka Annisa wcc, 2004:20).

Ketika Mira berusia 14 tahun saat lulus Sekolah dasar, dimana saat ia

menginjak remaja, dan pertama kali ia mendapat haid pertama. Nenek Mira

membuatkan selamatan berupa tumpang dan memandikan Mira air kembang tujuh

macam, karena bagi perempuan mendapat haid merupakan awal memasuki

perempuan sejati, keluarnya darah dari lubang vagina merupakan anugerah

termulia yang telah Tuhan berikan kepada para perempuan sebagai garis penerus

kehidupan dengan melahirkan keturunan. Di mana calon anak akan bermukim di

bagian dalam vagina yang disebut rahim, Maka dari itu selayaknya vagina

dihormati, dijunjung tinggi dan dihargai. Selamatan tersebut bertujuan supaya

Mira bisa selamat dalam memasuki perempuan sejati.

(44)

perempuan sejati. Ia bilang haid—keluarnya darah dari lubang vagina itu menandakan bahwa Gusti Allah menganugerahi perempuan kemuliaan, sebagai garis keturunan. Calon-calon anak bermukim di dalam vagina yang di sebutgarba—rahim. Maka sudah selayaknya bila vagina itu di hormati, dijunjung tinggi, karena tempat awalnya kehidupan. Tanpa adanya vagina berikut rahimnya, bisa jadi dunia ini akan kosong, tanpa penghuni.”( hlm 47-48)

Vagina merupakan benda yang suci dan merupakan kehormatan

perempuan, namun bagi sebagian kaum lelaki vagina merupakan sumber

kenikmatan, maka banyak vagina diburu laki-laki dengan berbagai cara.

(2)“Benar, kak Granny juga Bilang begitu. Vagina itu benda yang suci dan merupakan kehormatan perempuan. Tapi, saya pernah dengar ada laki-laki bicara, vagina itu merupakan sumber kenikmatan hidup yang tiada tandingan. Maka, vagina banyak diburu laki-laki. ( hlm 48)

Seperti yang di alami Mira, ketika umur 14 ia sudah kehilangan

kehormatannya. Selamatan dan ritual hanya sebagai syarat, bahwa seorang

perempuan yang mendapat haid akan memasuki gerbang perempuan sejati atau

sebagai penanda kedewasaan. Selamatan berupa tumpang dan mandi tujuh macam

kembang, tidak menjadikan Mira mempertahankan kehormatannya, dalam

memasuki gerbang perempuan sejati.

Mira di perkosa oleh Lurah Prakoso, ketika Mira pulang dari sekolah. Di

tengah sawah Lurah Prakoso mencegat Mira dengan dalih akan membantu biaya

melanjutkan Sekolah. Dalih tersebut hanya sebagai alasan agar Mira mau

mendekat pada Lurah Prakoso. Karena Lurah mengetahui kehidupan Mira yang

sangat Miskin, neneknya yang hanya seorang dukun pijat bayi dan buruh

penganyam bosang atau tempat buah, tentu saja tidak mampu untuk membiayai

Mira melanjutkan sekolah lagi. Karena keadaan ekonomi yang sangat miskin dan

(45)

Prakoso, dan ternyata bantuan tersebut berupah menjadi pemaksaan untuk

melayani nafsu Lurah Prakoso. Mira diperkosa pada umur yang masih belia, ia

sudah mendapatkan kekerasan seksual dari pemerintah desanya yang seharusnya

bisa menjaga dan melindungi serta menyejahterakan kehidupan masyarakat yang

miskin seperti keadaan Mira dan neneknya, berikut kutipannya.

(3)“Ia merenggut kegadisanku ketika saya berusia empat belas tahun, pas lulus Sekolah Dasar. Ia melakukannya di tengah sawah, mencegat saya ketika saya pulang sekolah. Lurah gila itu memanggil-mangil saya dengan dalih akan memberikan bantuan biaya saya masuk SMP. Itu karena ia tahu saya memang ingin sekali melanjutkan sekolah, padahal nenek saya miskin sekali….”

“nenek kakak kerja apa?” sela Totti.

“Jadi tukang pijat bayi. Itu pendapatannya tidak seberapa. Untuk menambah penghasilannya ia jadi buruh menganyam bongsang—tempat buah. Hasilnya tidak seberapa. Kami memang benar-benar miskin. Makanya, ketika Pak Lurah memanggil saya , saya mau mendekatinya. Ternyata dia hanya…”kalimat Mira terputus.( hlm 47)

Kutipan (3) bukti adanya kekerasan seksual yang dialami tokoh Mira pada

saat ia berumur 14 tahun. Kekerasan tersebut mengakibatkan selaput dara Mira

rusak.

Perlakuan lurah Prakoso kepada Mira membawa Mira menjadi seorang

WTS ( wanita tuna susila) atau pelacur. Karena takut akan ancaman lurah, Mira

meninggalkan nenek dan desanya pergi ke Surabaya untuk menemui mbak Dinah

tetangganya di desa, yang katanya bekerja sebagai pelayan restoran. Ternyata

mbak Dinah seorang mucikari dan tega menjual Mira, dengan alasan Mira harus

membayar makan, dan tempat tinggal selama Mira tinggal bersamanya. Selama ia

menjadi pelacur Mira mendapat pelecehan seksual dari pelanggannya.

Tindakan pelecehan seksual adalah perbuatan memaksa seseorang terlibat

(46)

seksual yang tidak diinginkannya ( Rohan Collier, 1998 ) Pelecehan seksual yang

dialami Mira terjadi ketika ia melakukan hubungan intim saat melayani

pelanggannya dan selama hidup bersama Mulder.

Hubungan intim dengan lawan jenis antara laki-laki dan perempuan

cenderung lebih dominan laki-laki yang menguasai. Perempuan yang bekerja

sebagai pelacur, dibayar untuk dinikmati dan melayani pelanggan. Keadaan

tersebut seperti yang dialami Mira ketika ia berhubungan dengan pelanggannya.

Perlakuan kasar ia terima seperti payudara diremas-remas, dan digigit. Perlakuan

tersebut merupakan pelecehan karena sampai vagina Mira dirusak dengan rokok.

Kekerasan tersebut merupakan kekerasan fisik tetapi juga mengarah pada

kekerasa seksual karena mengarah pada pelecehan seksual.

(4)“Hubungan intim itu kadang melelahkan dan membosankan, karena biasanya laki-laki itu maunya main terus, lama dan berkali-kali, itu bikin vagina nyeri lho! Kadang pinggu dan pinggang juga sakit. Adalagi laki-laki yang menyebalkan, itu lho… selama hubungan intim sambil meremas-remas atau menggigit-nggigit payudara. Anu, saya juga pernah dapat laki-laki edan, waktu hubungan intim memukuli saya dan vagina saya disulut rokok segala…”(hlm 54-55)

Kekerasan tersebut juga tergolong pelecehan seksual karena Mira sebagai

objek dari laki-laki untuk memuaskan hasratnya. Kekerasan tersebut

mengakibatkan alat kelamin Mira rusak, karena sulutan rokok pada vaginanya.

Pelecehan seksual juga dialami Mira ketika ia hidup bersama Mulder.

Kehidupan Mira dengan Mulder penuh dengan gemerlap harta, Mira menjadi

nyonya gedongan dan memakai baju bagus. Hubungna Mulder dengan Mira

(47)

dengan bagian bawah berlubang dengan tujuan agar Mulder bisa leluasa

menyentuh alat kelamin Mira

(5)“Ya mulanya ia sangat romantis. Saya sering diberi bunga mawar merah dank ado-kado yang membuat saya bahagia…”,Mira bangga.

“Misalnya?” sela Totti, tidak sabar. Mira tersenyum-senyum, “itu lho…pakaian dalam BH dan celana dalam, Mulder suka ngasih B.H dan celana dalam warna merah jambu berenda-renda. Celananya, bagian bawahnya, pasvagina…ada jendelanya…ya ada lubangnya, jadi mulder dengan leluasa menyentuh-nyentuh vaginamaupun clitoris saya..kapan saja ia mau.(hlm 54)

Perlakuan Mulder tidak hanya itu saja, apalagi ketika Mulder melakukan

hubungan kepada Mira. Perlakuan Mulder kepada Mira hanya sebagai pemuas

nafsu birahinya. Mulder memperlakukan Mira dengan seenaknya, selama

berhubungan intim dengan Mulder Mira merasa seperti mainan yang harus patuh

kepada oarang yang memainkan, berikut kutipannya.

(6)”sedangkan Mira? Ia merasakan dirinya menjelma menjadi sebuah bola yang sedang dilambungkan tinggi-tinggi, kemudian ditangkap, dilambungkan lagi. Terus, ia merasakan dilemparkan jauh-jauh. Selanjutnya, diinjak-injak dengan sepatu serdadu. Tidak lam kemudian, ia merasakan seperti dipelintir-pelintir oleh puluhan jemari gurita. Masih ada versi lainnya, iamerasakan dipantulkan bak anak panah. Akhirnya, jatuh…terpelantingdalam posisi terlentang dengan kedua paha meregang. Hook…!Tahu-tahu, benda tumpul menyodoknya dalam-dalam ke sebuah sudut yang sempit dan gelap, yaitu vaginanya, nyeri sekali. Hoook..!perih sekali Hoook…!(hlm 48)

Kekerasan seksual juga mengarah pada kekerasan fisik karena membuat

tubuh Mira sakit dan nyeri. Dalam pandangan pelecehan seksual yang

menempatkan perempuan sebagai objek, pada dasarnya perbuatan tersebut

dipahami dan dirasakan sebagai merendahkan menghinakan pihak yang

(48)

Objek dari kekerasan tersebut dalam penelitian ini adalah Mira. Mira

mengalami kekerasan seksual dari Lurah Prakoso, seorang aparat desa yang

seharusnya bertanggung jawab memberi contoh, melindungi dan menyejahterakan

warga, bukan merusak keperawanan para gadis seperti yang Mira alami.

Pelecehan seksual juga dilakukan Mulder dengan cara melakukan hubungan

seksual dengan seenaknya sendiri, Mulder menganggap Mira sudah dibeli dan

pantas melayaninya.

Ketika Mira, tidak bisa melayani Tuan Lulumba, karena sedang datang

bulan, Mulder marah dan menempeleng Mira. Darah yang keluar dari Mulut Mira

karena tempelengan tangan Mulder menebarkan aroma cendana, aroma wangi

yang mengingatkan pada Wendy. Aroma tersebut membangkitkan birahi Mulder

dan memperkosa Mira.

(7)”Saya, tuan Mulder. Saya mengerti!”sahut Mira dengan tubuh gemetar dan darah yang mengalir dari bibirnya makin deras. Darah itu berbau anyir tapi dipenciuman Dicky Mulder darah itu menebarkan aroma cendana. Aroma wangi yang mengingatkan Dicky Mulder pada Wendy Aroma itu langsung membangkitkan birahinya. Mira yang sedang berdarah-darah itu menjadi sassaran nafsu birahinya. Ketika Mira menolak, Dicky memaksanya, memperkosanya, membuat Mira tidak berdaya.( hlm 163-164)

Kutipan-kutipan (1), (2), (3), (4), (5), (6),(7) merupakan gambaran adanya

kekerasan seksual yang di alami Mira. Kekerasan tersebut merupakan kekerasan

seksual yang mengarah pada perkosaan karena terdapat unsur pemaksaan dan

memanfaatkan perempuan sebagai pemuas birahi, walau Mira merasa senang

dengan perlakuan Mulder, tetapi pada kenyataannya perlakuan tersebut

(49)

Kekerasan seksual yang dialami Mira tidak hanya itu saja, ketika Mira

dikubur oleh Mulder di semak-semak Mira diperkosa segerobolan anak muda

yang melintas di daerah tersebut berikut bukti kekerasan tersebut terdapat pada

kutipan pada prolog dibagian awal novel, berikut kutipannya

(8) Tiba-tiba ia tersentak oleh suara gemuruh, yaitu suara-suara pria, bernada histeris, saling bersahut-sahutan:

Vagina!

Yellow peach!( kuning buah persik) Juicy! ( Menggiurkan!)

Do not touch…! jangan disentuh!

Hoooooo…hemmmm….hooooo…hemmmmm.hooooo….hemmmm….ho oooo….!

Juicy…juicy…oooohh…juicylady!…mengiurkan,...menggiurkan,

ooohhh…perempuan yang menggiurkan!)………?????????

Suarasuara itu membuat tubuhnya genetar, Gusti beri aku waktu untuk memperbaiki diri. Gusti, beri aku waktu untuk menebus dosa-dosaku—ia menendis lagi, dengan lidah kaku membeku. Yang laki ini tidak berdaya. (hlm 6)

Setelah kekerasan seksual yang dialami Mira yang dilakukan beberasa

laki-laki amoral. Kemudian diceritakan, Mira ditolong oleh suku Zulu Natal, suku

pedalaman Afrika bernama Mbeko dengan dibantu neneknya Bu Sepuh dan

adiknya Totti. Mira

dirawat dan diperjuangkan hidupnya. Mira mengalami kerusakan pada alat

kelamin atau vagina, karena perkosaan dan benda tumpul.

(50)

darah kering maupun darah segar, yang terdiri dari darah merah dan darah putih…

“Oh, Nak…berapa laki-laki yang merusak vaginamu?” bisik bu sepuh dengan uara parau gemetar, sambil memeluk tubuh Mira yang menggigil.(hlm 25)

Setelah Mira dirawat Bu sepuh dan Totti, Mira dikenalkan kepada Nyonya

Julia, istri dari bos Mbeko. Karena empati akan nasip Mira, Julia dan anaknya ikut

membantu menyembuhkan Mira, Mira akhirnya dibawa kerumah sakit ternama

agar mendapat perawatan yang baik di Durban. Mira mengalami pendarahan dan

harus operasi, karena bukan hanya vaginanya tetapi juga rahim, akibat benda

tumpul yang disodokkan pada vagina Mira.

(10)Mira dirawat dirumah sakit termewah di Durban, atas tanggungan keluarga Ian Camarro. “Madam Camarro, nyonya Mira besok akan menjalankan operasi vagina untuk mereproduksi rahimnya, agar ia tidak mengalami beeeding terus-menerus.”kata dr.Yolanda, dokter ahli kandungan yang menangani Mira.

“Ya, kenyataannya memang demikian. Madam Camarro. Ternyata yang rusak tidak hanya lobang vagina nyonya Mira, tetapi juga rahimnya. Itu akibat sodokan dasyat benda tumpul.”Jelas dr Yolanda lebih jauh.

“ Dari hasil rontgen tidak hanya penis saja, tetapi ada semacam tongkat atau mungkin batang kayu yang ujungnya tajam.

Peneliti merumuskan kekerasan seksual yang dialami Mira atas perlakuan

laki-laki terhadap keberadaan vaginanya, kekerasannya sebagai berikut; perkosaan

yang dilakukan pak Prakoso, pelecehan yang dilakukan pelanggan ketika Mira

menjadi pelacur payudara Mira diremas-remas dan digigit-gigit sampai alat

kelamin Mira disulut rokok. Ketika Mira hidup bersama Mulder saat melakukan

hubungan intim dan perkosaan yang dilakukan Mulder, dan serta perkosaan yang

(51)

dara Mira, luka pada alat kelamin atau vagina dan kerusakan pada rahim yang

menyebabkan kematian Mira.

2.3.2 Kekerasan Nonseksual

Pada kekerasan nonseksual, tokoh Mira mendapat kekerasan fisik,

kekerasan ekonomi, kekerasan psikologi dan kekerasan politik.

2.3.2.1 Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik adalah setiap perbuatan yang menyebabkan rasa sakit,

cidera, atau cacat pada tubuh seseorang dan atau menyebabkan kematian. Berupa

pemukulan, tamparan, penjambakan, benturan dan segala tindakan yang

menyerang fisik atau mengakibatkan luka fisik perempuan.

Mira mendapat kekerasan fisik, ketika ia bekerja di tempat Mbak Dinah

sebagai seorang pelacur selama lima tahun di kota Surabaya. Selama Mira

menjadi pelacur, ia mengalami perlakuan kasar dari pelanggannya. Perlakuan

kasar seperti payudara diremas-remas dan digigit-gigit. Sampai pernah Mira

dipukul dan alat kelaminnya disulut puntung rokok. Bukti kekerasan fisik yang di

alami Mira dapat terlihat pada kutipan sebagai berikut.

(11) Akhirnya saya ikuti Mbak Dinah. Saya menjual vagina sekitar lima tahun...(hlm50)

(12)“…Ada lagi yang menyebalkan itu lho..selama hubungan intim sambil meremas-remas atau menggigit-nggit payudara. Anu, saya juga pernah dapat laki-laki edan, waktu hubungan intim memukul saya dan vagina saya disulut rokok segala…”(hlm 55)

Kutipan (11),(12) membuktikan adanya kekerasan fisik yang dialami Mira

ketika ia bekerja sebagai pelacur. Karena adanya pukulan dan segala tindakan

(52)

gigitan di seputar payudara merupakan perbuatan yang menyebabkan rasa sakit,

pemukulan yang dialami Mira bisa menyebabkan cidera atau cacat pada tuhuh.

Tindakan mengenai alat kelamin Mira atau vagina disulut rokok, tentu saja

merupakan kekerasan fisik yang bisa mengakibatkan luka fisik perempuan atau

alat kelamin rusak.

Keadaan tersebut tidak hanya sekali dialami Mira, beberapa kali ia

melayani pelanggan yang berbuat kasar kepadanya, ketika ia bekerja di rumah

bordil milik mbak Dinah. Seperti pada kutipan berikut.

(13)“..saya beberapa kali melayani laki-laki kasar semacam itu ketika saya berkerja di mbak Dinah. (hlm56)

Akibat dari perlakuan kasar atau kekerasan fisik tersebut, tentu saja

mengakibatkan Mira mengalami luka pada fisik atau tubuh sampai luka pada alat

kelamin yang membuat Mira merasa sakit.

Kekerasan fisik tidak hanya dialami Mira ketika menjadi pelacur, ia

mendapat perlakuan kasar dari teman hidupnya tanpa ikatan pernikahan. Mulder

Dicky Class, seorang laki-laki Belanda yang memberikan kemewahan, sehingga

menyebabkan Mira meninggalkan suaminya yang mengangkatnya dari pelacuran.

Kekerasan yang dilakukan Mulder ketika melakukan hubungan seks, Mira

diperlakukan seenaknya oleh Mulder.

Mira merasa bola yang seenaknya digiring dan ditendang, tubuh Mira

seperti diinjak-injak sepatu serdadu, dipelintir ribuan gurita dan Mira merasakan

alat kelaminnya terasa nyeri dan sakit.. Hal tersebut merupakan kekerasan fisik

karena menyebabkan rasa sakit pada tubuh Mira. Berikut bukti kekerasan fisik

(53)

(14)“Sedangkan Mira? Ia merasakan dirinya menjelma menjadi sebuah bola yang sedang dilambungkan tinggi-tinggi, kemudian ditangkap, dilambungkan lagi. Terus, ia merasakan dilemparkan jauh-jauh. Selanjutnya, ditendang kuat-kuat. Babak berikutnya, disepak dengan perkasa. Tahap selanjutnya, diinjak-injak dengan sepatui serdadu. Tidak lama kemudian, ia merasakan seperti dipelintir –pelintir oleh puluhan jemari ikan gurita. Masih ada versi lainnya,iaia merasakan dipantulkan bak anak panah. Akhirnya, jatuh…terpelanting dalam posisi terlentang dengan kedua paha meregang. Hoookk…!Tahu-tahu, benda tumpul menyodoknya dalam-dalam ke sebuah sudut yang sempit dan gelap, yaitu sudut vaginanya. Nyeri sekali.Hookk..! Perih sekali. Hooook....hoook!ingin sekali ia menjerit, tetapi jeritannya jadi lenyap ketika mendengar lenguhan Mulder yang panjang sambil berseru, Huuuupp…puas aku”. (hlm 95-96)

Perlakuan Mulder saat hubungan intim ini membuktikan Mira mendapat

kekerasan fisik seperti pada kutipan (14). Kekerasan tersebut tidak dirasakan

Mira, karena pujian dan sanjungan yang diberikan Mulder bagi dirinya. Mira

dianggap sebagai rembulan dan bidadari. Sanjungan tersebut, membuat Mira

merasa di ”wongke”(dimanusiakan) sebagai perempuan ia dihargai

keberadaannya..

(15)“Terimakasih…Bidadariku…terimakasih, Mira…kau adalah Rembulan! Kau memang rembulan hidupku”. (halm 96)

Tidak hanya itu saja bentuk kekerasan fisik yang dialami Mira yang

dilakukan Mulder. Di Afrika Mira dijadikan pelacur dan mendapat perlakuan

kasar dari Mulder. Mira bersama Mulder tinggal di sebuah hotel melati di wilayah

Sunflower. Suatu kali Mulder pulang ke hotel untuk meminta uang kepada Mira

dari tuan Lulumban lelaki yang harus Mira layani. Mulder melihat Mira sedang

tidur, membuat Mulder marah, berikut bukti kutipannya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...