UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003 (TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL) DITINJAU DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK KAUM MISKIN - Test Repository

105 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

S K R I P S I

UNDANG-UNDANG NOM OR 20 TAHUN 2003 (TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL)

DITINJAU DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK KAUM MISKIN

Oleh:

A lif Ulfah Futihah

1 1 4 0 6 187

Program Ekstensi

(2)

D E P A R T E M E N A G A M A Rl

S E K O L A H T IN G G I A G A M A IS L A M N E G E R I (S T A IN ) S A L A T IG A J l Stadion 03 Telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

Website : www.staiiisalatiga.ac.id E -m ail: administrasi@stainsalatiua.ac.id

H. Sidqon Maesur, Lc., M. A.

Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan seperlunya, maka skripsi saudari:

Nama : ALIF ULFAH FUTIHAH NIM : 114 06 187

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Judul : UNDANG-UNDANG NO. 20 TAHUN 2003

TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK KAUM MISKIN

Sudah dapat diajukan dalam sidang munaqosah.

Demikian surat ini, harap menjadikan perhatian dan digunakan sebagaimana mestinya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

(3)

P E N G E S A H A N SK RIPSI

Judul : UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003

(TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL) DITINJAU DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK KAUM MISKIN

Nama : ALIF ULFAH FUTIHAH

NIM : 114 06 187

Program Studi : Pendidikan Agama Islam (PAI)

Salatiga, 23 Agustus 2008

(4)

DEPARTEMEN AGAMA Rl

5EKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SAIATIGA

J L S t a d i o n 0 3 T e l p . ( 0 2 9 8 ) 3 2 3 7 0 6 , 3 2 3 4 3 3 S a l a t i g a 5 0 7 2 1

Website: www.stainsalatiQa.ac.id E-mail: administrasi@stainsalatiaa.ac.id

D E K L A R A S I

D e n g a n p e n u h k e ju ju r a n d a n t a n g g u n g j a w a b , p e n e lit i m e n y a t a k a n b a h w a

s k r ip s i in i tid a k b e r is i m a te r i y a n g p e m a h d it u lis o l e h o r a n g la in a ta u p e m a h

d ite r b itk a n . D e m ik i a n j u g a s k r ip s i in i t id a k b e r is i s a tu p u n p ik ir a n -p ik ir a n

o r a n g la in , k e c u a li in f o r m a s i y a n g te r d a p a t d a la m r e f e r e n s i y a n g d ija d ik a n

b a h a n r u ju k a n .

A p a b ila d ik e m u d ia n h a r i t e m y a t a te r d a p a t m a te r i a ta u p ik ir a n -p ik ir a n o r a n g

la in d ilu a r r e f e r e n s i y a n g p e n e lit i c a n tu m k a n , m a k a p e n e l it i s a n g g u p

m e m p e r t a n g g u n g j a w a b k a n k e m b a li k e a s lia n s k r ip s i in i d ih a d a p a n s id a n g

m u n a q o s y a h s k r ip s i.

D e m ik i a n d e k la r a s i in i d ib u a t o l e h p e n u l is u n tu k d a p a t d im a k lu m i.

S a la t ig a , 11 A g u s t u s 2 0 0 8

P e n u lis

A L I F U L F A H F U T I H A H

(5)

Motto

(6)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan untuk:

1. Bapak dan Ibu tercinta yang dengan seluruh pengorbanannya telah mengukir segala asa, cita dan harapan.

2. Kakak dan Adikku tersayang yang senantiasa memberikan dorongan dan motivasi.

3. Bapak Sidqon Maesur,Lc.MA yang memberikan bimbingan dan pengarahan dengan penuh perhatian dan kesabaran.

4. Bapak Jaka Siswanta,M.Pd. selaku Ketua Jurusan Tarbiyah Ekstensi. 5. Teman-temanku KKN

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmad dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi yang berjudul “Undang- undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional ditinjau dari Perspektif Kaum Miskin ” ini diajukan dalam

rangka menyelesaikan studi strata I dan untuk memperoleh gelar Saijana

Pendidikan Islam pada jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga.

Dalam menyusun skripsi ini penulis telah menerima bantuan dari berbagai

pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Drs. Imam Sutomo, M.Ag., Ketua STAIN Salatiga yang telah memberikan

kesempatan melanjutkan Strata I.

2. Drs. Djoko Sutopo, Ketua Program Studi Ekstensi yang telah memberiakan

kesempatan melanjutkan Strata I.

3. Dr. H. M. Saerozi, M.Ag., Pembantu Ketua I, yang telah memberikan

kemudahan dalam perijinan penelitian.

4. H. Sidqan Maesur, Lc. MA., Dosen. Pembimbing, yang telah memberikan

bimbingan dan pengarahan dengan penuh kesabaran dan pengertian sehingga

skripsi ini dapat selesai sesuai rencana.

(8)

7. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu yang telah mendorong dan membantu dalam menyelesaikan

skripsi ini.

Semoga Allah SWT membalas kebaikan amal semua pihak yang telah

membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempumaan,

mengingat keterbatasan dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu dengan terbuka

dan senang hati penulis menerima kritik dan saran dari semua pihak.

Akhimya penulis mengharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

semua pihak.

Salatiga, 4 Agustus 2008. Penulis

Alif Ulfah Futihah NIM : 114 06 187

(9)

DAFTARISI

L PENDAHULUAN

A. Latar Belakang M asalah...1

B. Rumusan M asalah... 8

C. Tujuan Penelitian... 9

D. Telaah Pustakan... 9

E. Manfaat Penelitian... 9

F. Metode Penellitian... ... 10

G. Definisi Istilah...11

H. Sistematika... 12

II. LANDASAN TEORITIK A. Hakikat Pendidikan... 14

B. Pendidikan Menurut Para Tokoh... 25

C. Peran Negara Dalam Pendidikan... 42

D. Definisi Kaum M iskin... 43

E. Peran dan Perhatian Negara Pada Kaum M iskin... 54

(10)

III. UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG

SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

A. Pasal-Pasal Tentang Pentingnya Pendidikan... 65

B. Pasal-Pasal Tentang Pendidikan Tanpa Diskriminasi...65

C. Pasal-Pasal Tentang Anggaran Pendidikan... 68

D. Pasal-Pasal Tentang Hak dan Kewajiban Warga Negara, Orang Tua, Masyarakat... 69

E. Pasal-Pasal Tentang Hak dan Kewajiban Pemerintah dan Pemerintah Daerah Dalam Bidang Pendidikan... 71

F. Pasal-pasal tentang Hak dan Kewajiban Peserta Didik Dalam bidang Pendidikan... 73

IV. ANALISIS : UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DI TINJAU DARI PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK KAUM MISKIN A. Pendanaan Pendidikan... 75

B. Undang-Undang Sisdiknas Bagi Orang Miskin... 76

C. Sumber Dana Pendidikan... 78

D. Pengelolaan dan Alokasi Dana Pandidikan... 83

(11)

A. Kesimpulan... 88

B. K ritik... 88

C. Saran... 89

(12)

BAB I

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Ilmu pengetahuan memiliki sebuah keutamaan tersendiri di hadapan

Allah Swt. Pengetahuan-lah yang mengantarkan manusia untuk selalu berpikir

dan menganalisa gejala alam yang dilandasi dengan zikir kepada Allah untuk

menghasilkan berbagai jenis perangkat alat-alat teknologi demi kesejahteraan

hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.1 2

Secara jelas Islam memberikan petunjuk betapa pentingnya sebuah

pendidikan dan ilmu pengetahuan, ini tertuang di dalam ayat-ayat suci Al-

Qur‘an dan berbagai hadis yang di sabdakan oleh Rasulullah Saw. Islam

mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menuntut ilmu sejak kita di

lahirkan hingga akhir hayat. Islam juga mengajarkan bahwa mencari ilmu

haras ditempuh dimanapun meskipun di negera yang jauh dari tempat tinggal

kita.

Islam menyuruh manusia untuk melaksanakan pendidikan terhadap

anak-anaknya, berdasarkan pandangan bahwa anak-anak sebagai makhluk

yang tumbuh dan berkembang ke arah proses pendewasaan diri serta memiliki

kemampuan dasar yang dinamis dan responsif terhadap pengarah dari luar

dirinya.3

1 AH Al-Jumbulati, teij; Arifin, Perbandingan Pendidikan Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, him. 3.

2 Ibid, him. 5.

3 M. Arifin, Ilm u Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 2006, him. 4.

(13)

Istilah pendididikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang

mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar

seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput

dinamakan paedagogos. Dal am bahasa Romawi, Pendidikan di istilahkan

dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada didalam.

Dalam bahasa Inggris pendidikan diistilahkan to educate yang berarti

memperbaiki moral dan melatih intelektual. Oleh karena itu, pendidikan harus

di utamakan untuk melakukan peningkatan kualitas intelektual dan kualitas

moral.4

Berbicara tentang pendidikan di negeri ini memang tidak akan pemah

ada habisnya. Pendidikan adalah investasi masa depan bangsa dimana anak

bangsa dididik dan dilatih agar bisa meneruskan gerak langkah kehidupan

bangsa ini menjadi bangsa yang lebih maju, berpendidikan, bermoral dan

beradab. Dengan kata lain masa depan bangsa sangat tergantung pada si stem

pendidikan bangsa itu sendiri.

Setiap bangsa tentu akan menyatakan tujuan pendidikannya sesuai

dengan nilai-nilai kehidupan yang sedang dipeijuangkan untuk kemajuan

bangsanya. Walaupun masing-masing bangsa memiliki tujuan hidup berebeda,

namun secara garis besar ada beberapa kesamaan dalam berbagai aspeknya.

Pendidikan bagi setiap individu merupakan pengaruh dinamis dalam

perkembangan jasmani, jiwa, rasa sosial, susila dan sebagainya.5

Paling tidak ada lima penafsiran tentang makna pendidikan:

4 Wifi Suwamo, Dasar-Dasar Ilm u Pendidikan, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, 2006, Mm. 21.

(14)

1. Pendidikan mengandung pembinaan kepribadian, pengembangan

kemampuan, atau potensi yang perlu dikembangkan; peningkatan

pengetahuan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak faham menjadi

faham, dari tidak beradab menjadi beradab, serta tujuan kearah mana

peserta didik dapat mengaktualisasikan dirinya seoptimal mungkin.

2. Dalam pendidikan terdapat hubungan antara pendidik dan peserta didik.

Didalam hubungan itu mereka memiliki kedudukan dan perasaan

berbeda. Tetapi keduanya memiliki daya yang sama, yaitu saling

mempengaruhi guna terlaksananya proses pendidikan (transformasi

pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan-keterampilan yang tertuju

kepada tujuan yang diinginkan).

3. Pendidikan adalah proses sepanjang hayat sebagai perwujudan

pembentukan diri secara utuh. Maksudnya, pengembangan segenap

potensi dalam rangka penentuan semua komitmen manusia sebagai

individu, sekaligus sebagai makhluk sosial dan makhluk ciptaan Tuhan.

4. Aktifitas pendidikan berlangsung didalam keluarga, sekolah,

masyarakat.

5. Pendidikan merupakan suatu proses pengalaman yang sedang dialami

yang memberikan pengertian, pandangan (insight), dan penyesuaian bagi

seseorang yang menyebabkannya berkembang.6

Selain berbicara tentang pendidikan, dalam tulisan ini penulis berusaha

mencari format terbaik tentang pendidikan bagi kaum miskin (mustadz’afien).

(15)

Benny Setiawan didalam buku kecilnya yang beijudul Manifesto Pendidikan

di Indonesia mengatakan bahwa pendidikan iayak adalah pendidikan yang

bebas dari diskriminasi dan mahalnya biaya pendidikan. Biaya pendidikan

yang tinggi pasti akan sangat sulit diakses oleh orang-orang miskin.7 8

Bukan tanpa sebab bila kondisi dunia pendidikan kita amat

memprihatinkan. Mochtar Buchori menyebutnya; “Krisis Identitas

Pendidikan”. Ada banyak hal yang membuat pendidikan di Indonesia

metenceng semakin jauh dari cha-cha idealnya sebagai wahana pembebasan

dan pemberdayaan. Pertama, kecenderungan pendidikan kita yang semakin

elitis dan tidak teijangkau oleh rakyat miskin. Dal am hal ini, pemerintah

dituding banyak melahirkan kebijakan diskriminatif yang justru menyulitkan

akses rakyat miskin untuk memperoleh pendidikan. Kedua, manajemen

pendidikan yang masih birokratis dan hegemonik. Sistem pendidikan yang ada

saat ini bukanlah sistem yang memberdayakan dan populis. Terbukti berbagai

kebijakan yang lahir tidak mendukung terwujudnya pendidikan yang

emansipatoris karena kebijakan tersebut lahir semata-mata untuk mendukung

status quo dan memapankan kesenjangan.

Pendidikan yang bisa diakses semua golongan -termasuk orang miskin-

menjadi sangat besar manfaatnya. Artinya, dengan pendidikan yang dapat

diakses oleh semua golongan, manusia Indonesia dapat terangkat derajat,

harkat dan martabatnya. Ketika pendidikan sudah tidak lagi menjadi hal yang

7 Benny Setiawan, M anifesto Pendidikan di Indonesia, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, 2006, him. 93.

(16)

dipentingkan dalam alam kehidupan di Indonesia, maka anak-anak Indonesia

pun akan menjadi bodoh dan terbelakang.

Pendidikan yang hanya diperuntukkan bagi orang kaya sesungguhnya

bertolak belakang dengan apa yang telah ada dalam batang tubuh Undang-

Undang Dasar (UUD 1945), Pasal 31 yang bermakna bahwa pendidikan

adalah hak segala bangsa dan hak setiap warga negara. Pasal itu juga secara

jelas menunjukkan bahwa pendidikan tidak terpisah dari kehidupan bangsa ini.

Bangsa yang maju memang harus melalui pendidikan yang antara lain

bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dalam rangka menciptakan

perdamaian dunia, seperti tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alenia IV.

Dengan pendidikan murah berarti bangsa ini telah mempertahankan

kedaulatannya. Karena dengan pendidikan murah bangsa Indonesia dapat

hidup lebih tertata dalam menatap masa depan. Tantangan hidup masa depan

yang lebih sulit akan mudah diatasi dengan pendidikan sebagai bekal hidup

yang lebih baik. Dalam pendidikan, kita diajarkan arti kemandirian dan

strategi untuk mempertahankan hidup. Dengan ilmu, kita akan dapat mengolah

potensi yang kita miliki menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Si stem Pendidikan

Nasional, tercantum pengertian pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar

(17)

agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat,

bangsa dan negara.9

Pendidikan murah akan dapat terlaksana dengan baik ketika program ini

didukung oleh semua kalangan. Pemerintah sebagai pemegang otoritas

kenegaraan berkewajiban untuk mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara (APBN) sebesar 20% untuk pendidikan sesuai Undang-

Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003.

Begitupun dengan kebijakan di daerah-daerah juga di targetkan alokasi

minimal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah 20%

untuk pendidikan.

Anggaran Pendidikan Nasional untuk pertama kalinya mencapai

presentase yang fantastis yaitu 22,5% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja

Nasional (APBN) pada era pemerintahan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus

Dur). Boleh jadi, inilah bukti nyata komitmen pemerintahan Gus Dur pada

bidang pendidikan yang bukan hanya diucapkan, tetapi juga diwujudkan lewat

tmdakan nyata.10

Kenaikan itu memang siginfikan, tetapi tidak otomatis akan

meningkatkan mutu pendidikan nasional bila tidak ditunjang dengan kenaikan

anggaran bidang yang lain, terutama yang sangat berkaitan erat dengan proses

belajar mengajar di sekolah maupun di rumah, seperti pembangunan prasarana

dan sarana transportasi, telekomunikasi, fasilitas kesehatan dan lainya.

Kegiatan belajar mengajar yang normal, apalagi yang bagus tidak akan pemah

9 Bab 1, Pasal 1 (1) UU No.20/2003, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah R I tentang Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Departemen Agama, 2006. him. 5.

(18)

teijadi pada daerah-daerah terisolasi ataupun daerah-daerah konflik. Kegiatan

belajar-mengajar yang baik hanya teijadi pada daerah-daerah yang

transportasinya bagus, teraliri listrik, ada sambungan telekomunikasi serta

fasilitas kesehatan yang cukup. Padahal, di daerah-daerah temtama di

Indonesia bagian timur hanya 40% wilayahnya yang teraliri listrik dan dengan

sarana transportasi yang baik. Pada daerah-daerah seperti itu peningkatan

anggaran pendidikan tidak secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan.11

Banyak instrumen yang dibutuhkan untuk melakukan perbaikan kualitas

pendidikan di negeri ini, tingkat ekonomi masyarakat juga hams benar-benar

di prioritaskan guna pemenuhan kesejahteraan bagi semua pihak.

Pendidikan murah bukan mimpi bangsa Indonesia, karena bangsa ini

mempunyai potensi lebih untuk membiayai pendidikan yang layak.

Pendidikan murah adalah bukti nyata pemyataan proklamasi, yaitu pemyataan

terbebasnya bangsa Indonesia dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan.

Sumber daya alam bangsa ini yang gemah ripah loh jinaw i sudah seharusnya

di dedikasikan untuk kemaslahatan ummatnya (termasuk pada sektor

pendidikan), bukan justru untuk menumpuk-numpuk kekayaan bagi segelintir

oknum penguasa.

Skripsi ini mencoba menggali data-data yuridis yang mendukung upaya

pelaksanaan pendidikan murah di Indonesia, temtama menilik UU No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional apakah sudah sejalan dengan

proyek besar dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa

(19)

diskriminasi baik ras, latar belakang ekonomi, agama, maupun bentuk-bentuk

diskriminasi yang lain.

Dari buku beijudul Islam Yang Memihak karya Moeslim Abdurrahman

Penulis merasa mendapatkan “tamparan” ketika membaca sebuah kalimat:

“Berdustalah mereka yang hanya menikmati sholat dan bersembahyang,

namun melupakan nasib orang-orang yang tersingkirkan, menderita secara

sosial, mengalami kemiskinan dan tidak dapat mengenyam ilmu

pengetahuan”.12

Bersama skripsi ini penulis memimpikan di Republik tercinta ini tidak

ada lagi anak-anak usia sekolah yang hams mengemis, ngamen, berjualan

koran dan aktifitas lainnya di saat mereka seharusnya dapat mengenyam arti

sebuah ilmu pengetahuan. Mereka memiliki hak untuk dapat menikmati

pendidikan di sekolah, pesantren, ataupun lembaga-lembaga pendidikan

lainnya, bukan justru mencari sesuap nasi di jalanan karena himpitan ekonomi

yang menimpa dirinya dan keluarganya.

B. RUMUSAN MASALAH

Penulis mencoba merumuskan beberapa hal yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana esensi dari U U No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional.

2. Bagaimana konsep dan pandangan para tokoh tentang pendidikan untuk

kaum mi skin.

(20)

3. Sejauh mana UU No. 20 Tahun 2003 memberikan perhatian terhadap

kaum miskin untuk tetap dapat merasakan pendidikan.

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui dan menganalisis esensi dari UU No. 20 Tahun 2003

Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

2. Untuk mengetahui kepedulian negara -yang tercantum dal am UU No. 20

Tahun 2003- terhadap pendidikan bagi kaum miskin.

3. Merumuskan format yang ideal agar masyarakat miskin bisa terus

mengenyam pendidikan.

D. TELAAH PUSTAKA

Dalam menganalisis masalah ini penulis akan menggunakan

literatur-literatur yuridis, yaitu literatur atau data-data yang secara yuridis

telah disahkan oleh negara yaitu Undang-Undang yang didalamnya

berbicara tentang pendidikan. Selain itu penulis akan mengkaji buku-buku

terutama yang memuat tentang problematika kemiskinan dengan segala

format serta analisis solusinya.

E. MANFAAT PENELITIAN

1. Skripsi ini sangat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca tentang

pentingnya arti pendidikan dan ilmu pengetahuan.

2. Untuk melakukan pembahasan secara mendalam tentang UU. No. 20

Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional sehingga kekurangan

(21)

3. Skripsi ini mencoba membuka sensitifitas social bagi penulis dan para

pembaca bahwa orang miskin juga harus diperhartikan nasib

pendidikannya.

F. METODE PENELITIAN

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah penelitian kepustakaan

(library research), yaitu dengan cara membaca, menelaah buku-buku

yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.

2. Metode Penelitian

Penulis menggunakan metode pendekatan normatif yaitu metode

pendekatan yuridis (hukum).

3. Metode Pengumpulan data.

Sumber data yang penulis ambil yaitu;

a. Sumber data primer (primary data atau basic data), yang memberi

penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti dokumen resmi

negara. Dal am hal ini penulis menggunakan Undang-undang

nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

b. Sumber sekunder (secundary data), yaitu bernpa buku-buku, hasil-

hasil penelitian, dan hasil karya dari berbagai kalangan

4. Tekhnik pengumpulan data,

a. Studi Dokumen.

Merupakan suatu alat pengumpulan data yang dilakukan melalui data

(22)

b. Tekhnik observasi.

Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara

sistematik terhadap kasus-kasus putus sekolah -yang lebih spesifik-

karena faktor ekonomi masyarakat.

G. DEFINISIISTILAH

Skripsi ini beijudul : “UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2003

(TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL) DITINJAU DARI

PERSPEKTIF PENDIDIKAN UNTUK KAUM MISKIN”. Adapun secara

semiotika, tafsiran dari masing-masing katanya adalah:

1. Undang-undang adalah ketentuan dan peraturan negara yang dibuat

oleh pemerintah (Menteri, Badan Eksekutif, dsb) dan disahkan oleh

parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat, Badan Legislatif, dsb)

ditandatangani oleh kepala negara dan mempunyai ketentuan hukum

yang mengikat.13

2. Sistem Pendidikan Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan

yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan

nasional.14

3. Perspektif; Sudut pandang, Pandangan.15

13 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 2005. him. 1245.

14 Bab I Ketentuan umum pasal 1 (3), UU No. 23 Tahun 2d03.

(23)

4. Pendidikan; Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau

kelompok orang dal am usaha mendewasakan manusia melalui upaya

pengajaran dan pelatihan atau proses atau cara perbuatan mendidik.16

5. Kaum; Golongan.17

6. Miskin; Tidak berharta, serba kekurangan, berpenghasilan rendah.18

H. SISTEMATIKA

Untuk memudahkan penjelasan, pemahaman dan penelaahan terhadap

pokok'pokok permasalahan yang akan dikaji, maka perlu adanya sistematika

penulisan sehingga pembahasan akan lebih sistematis dan runtut.

Bab I :

Latar Belakang Masai ah, Rumusan Masai ah, Tujuan Penelitian, Telaah

Pustaka, Manfaat Penelitian, Metode Penelitian, Definisi Istilah dan

Sistematika.

Bab I I : Landasan Teori:

Dal am bab ini memuat pengertian tentang pendidikan baik dari perspektif

Agama Islam, pengertian pendidikan menurut terminologi maupun

epistimologi. Dal am bab ini juga akan di terangkan tentang urgensi dari

ilmu pengetahuan dan pendidikan serta landasan signifikansi ilmu

pengetahuan menurut beberapa tokoh. Di dal am bab ini penulis juga akan

melakukan kajian tentang arti kemiskinan serta berbagai penyebab dari

kemiskinan.

Bab I I I : Data Yurisprudensi

(24)

Di dal am bab III ini penulis akan memberikan data pasal demi pasal

tentang Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun

2003.

Bab IV : Analisis

Di dal am bab ini penulis akan melakukan analisis tentang UU No. 20

tahun 2003 serta penulis akan berusaha mencari solusi dan format yang

tepat pendidikan yang dapat dirasakan oleh semua pihak termasuk orang

miskin.

Bab V : Penutup.

Bab Penutup ini akan penulis cantumkan kesimpulan, kritik dan saran

yang bertujuan untuk mewujudkan pendidikan murah yang mampu di

(25)

BAB II

LANDASAN TEORITIK

A. Hakikat Pendidikan

1. Konsep Dasar Pendidikan.

Langeveld seorang ahli pendidikan dan Negeri Belanda

mengemukakan batasan pengertian pendidikan, bahwa pendidikan adalah

suatu bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang

belum dewasa untuk mencapai tujuan, yaitu kedewasaan.19 20

Pendewasaan adalah proses pengembangan segenap potensi yang

tidak terkotak-kotak antara kecerdasan nalar, emosional, dan spiritual.

Tidak terkotak-kotak antara fisik dan psikis. Pendewasaan merupakan

perkembangan yang melibatkan semua potensi anak yang

mengintegrasikan pengalaman dan melibatkan gerakan fisik, gerakan

psikis, dan imaji nalar sekaligus.

Dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1973

dikemukakan pengertian pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar

untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan peserta didik di

dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Sedangkan

dasar pendidikan adalah pandangan yang mendasari seluruh aktivitas

pendidikan baik dalam rangka penyusunan teori, perencanaan maupun

19 Achmad Munib, Pengantar Ilm u Pendidikan, UPT UNNES Press, Semarang, 2006, him. 26.

20 Utomo Dananjaya, Sekolah Gratis; Esai-esai Pendidikan yang Membebaskan,

(26)

pelaksanaan pendidikan. Pada dasamya manusia adalah makhluk

pedagogik, maka dasar pendidikan yang dimaksud adalah nilai-nilai

tertinggi yang yang dijadikan pandangan hidup suatu masyarakat atau

bangsa dimana pendidikan itu berlaku.21

Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) 2003,

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana

belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia seta

Ada beberapa konsepsi dasar tentang pendidikan, yaitu:

a. Bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup (life long education).

Dalam hal ini berarti bahwa usaha pendidikan sudah dimulai sejak

manusia itu lahir dari kandungan ibunya sampai ia tutup usia,

sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat

mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari konsep pendidikan

sepanjang hayat ialah bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah.

Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, dalam

lingkungan sekolah, dan dalam lingkungan masyarakat.

b. Bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab

bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Pemerintah

tidak boleh memonopoli segalanya, melainkan bersama dengan

(27)

keluarga dan masyarakat, berusaha agar pendidikan mencapai tujuan

yang telah ditentukan.

c. Bagi manusia pendidikan merupakan keharusan, karena dengan

pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang

berkembang. Handerson mengemukakan bahwa pendidikan

merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan oleh manusia, suatu

perbuatan yang tidak boleh tidak teijadi, karena pendidikan itu

membimbing generasi muda untuk mencapai suatu generasi yang lebih

baik.22

Istilah pendididikan berasal dari bahasa Yunani, paedagogy, yang

mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar

seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput

dinamakan paedagogos. Dalam bahasa Romawi, Pendidikan di istilahkan

dengan educate yang berarti mengeiuarkan sesuatu yang berada didalam.

Dalam bahasa Inggris pendidikan diistilahkan to educate yang berarti

memperbaiki moral dan melatih intelektual. Oleh karena itu, pendidikan

haras di utamakan untuk melakukan peningkatan kualitas intelektual dan

kualitas moral.23

Dinamakan pendidikan apabila dalam kegiatan tersebut mencakup

basil yang rambahannya (dimensi) pengetahuan sekaligus kepribadian.

Sedangkan pengajaran membatasi kegiatan pada transfer o f knowledge

22 Op.Cit, Achmad Munib, him. 26.

(28)

keteraturan kalender akademik. Hakikat pendidikan menjadi tereduksi

sebatas kegiatan persekolahan.24

Adapun unsur-unsur pendidikan adalah sebagai berikut:

a. Tujuan Pendidikan

Cita-cita pendidikan yang baik dan sehat mendorong anak

didik untuk berfikir efektif, jem ih dan obyektif dalam berbagai

suasana. Anak didik akan bebas tanpa paksaan mewujudkan cita-cita

hidupnya ke dalam tindakan nyata dan merasa bertangggung jawab

atas sikap dan perilakunya. Dengan demikian terwujudlah cita-cita

demokrasi yang menjadi filsafet dan tujuan dalam pendidikan. Dalam

sejarah pendidikan kita dapat melihat perkembangan pendidikan dan

usaha-usaha perwujudannya sebagai suatu cita-cita bangsa, kelompok

atau masa yang memberi corak pelaksanaan pendidikannya.

Dapatlah dirumuskan bahwa tujuan umum pendidikan adalah

melaksanakan, mewujudkan, dan memelihara perkembangsn cita-cita

kehidupan suatu bangsa dengan mengimplementasikan cita-cita yang

dianutnya.25

Pendidikan di Indonesia mempunyai tujuan pendidikan yang

berlandaskan kepada filsafat hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Inilah yang akan menjadi pedoman pokok di dalam usaha pendidikan,

24 M. Jumali, dkk, Landasan Pendidikan, Muhammadiyah Universitas Press, Surakarta, 2004. him. 18-19.

(29)

mereal i sasikannya usaha-usaha pendidikan kita sejak dal am keluarga,

masyarakat dan sekolah.

Sedangkan tujuan pendidikan menurut undang-undang si stem

pendidikan nasional ialah untuk berkembangnya potensi peserta didik

agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,

dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab 26

b. Peserta Didik

Pendidikan tidaklah sebatas kepada pengertian dan penguasaan

ilmu pengctahuan, melainkan juga perkembangan jiwa dan

penyesuaian diri peserta didik termasuk kehidupan sosialnya. Telah

diakui oleh para pendidik bahwa peserta didik adalah orang yang

senantiasa mengalami perkembangan dan lahir sampai akhir hay at.

Perkembangan disini diartikan adanya perubahan-perubahan yang

selalu teijadi dal am diri peserta didik secara wajar, baik ditujukan

kepada diri sendiri maupun lingkungannya.

Tugas pendidikan yang utama dalam perkembangan tersebut

ialah membimbing pengalaman itu pada tiap tingkatannya, dan

meyakinkannya bahwa cara-cara peserta didik memenuhi

kebutuhannya senantiasa sejalan dengan pola hidup sosialnya.27 Irama

perkembangan yang dimaksud meliputi perkembangan fisik yaitu

26 Undang-Vndang dan Peraturan Pemerintah R I tentang Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Departemen Agama, 2006. him. 8-9.

(30)

berfungsinya kelenjar-kelenjar hormon, pertumbuhan rangka, badan,

gigi, dan sebagainya, serta perkembangan mental seperti kematangan

sosial dan kesusilaan. Seperti perkembangan mental adalah usia

psikologis yang ditandai dengan tingkat kesiapan seseorang, usia

pengalaman yang ditandai dengan hasil tes pencapaian belajar, dan

usia kematangan intelektual, sosial dan kesusilaan ditandai dengan

penyesuaian atau penguasaan tingkah laku dal am berfikir, berperasaan,

kemasyarakatan, dan kesusilaan.28

c. Pendidik

Pendidik adalah unsur manusiawi dal am pendidikan. Pendidik

adalah figur manusia sumber yang menempati posisi dan memegang

peranan penting dal am pendidikan. Ketika semua orang memersoalkan

masalah dunia pendidikan, figur pendidik pasti terlibat dal am agenda

prmbicaraan, terutama yang menyangkut pendidikan formal di sekolah,

sisanya ada di rumah dan di masyarakat.

Di sekolah pendidik hadir untuk mengabdikan diri kepada

ummat manusia dalam hal ini anak didik. Negara menuntut

generasinya memerlukan pembinaan dan bimbingan dari pendidik.

Pendidik dan peserta didik adalah dua sosok manusia yang tidak dapat

dipisahkan dari dunia pendidikan. Pendidik dengan ikhlas memberikan

apa yang diinginkan oleh anak didiknya. Tidak ada sedikitpun dalam

benak pendidik terlintas pikiran negatif untuk tidak mendidik anak

(31)

didiknya, mcskipun barangkali sejuta permasalahan sedang merong-

rong kehidupan seoarang guru.29

d. Alat-alat Pendidikan

Alat ialah apa saja yang dapat dijadikan perantara untuk

mencapai tujuan pendidikan.30 yang termasuk faktor alat-alat

pendidikan ialah segala sesuatu yang secara langsung membantu

terlaksananya pendidikan.31 Seperti pembiasaan, pengawasan,

perintah, larangan, penghargaan dan hukuman.

e. Lingkungan Educative

Situasi lingkungan pada dasamya juga dapat mempengaruhi

proses dan hasil pendidikan. Sebagai sal ah satu unsur pendidikan,

situasi lingkungan secara potensial dapat menunjang usaha pendidikan

disamping itu juga dapat menjadi sumber belajar. Disitu interaksi

edukatif antara pendidik dan peserta didik juga hams dikembangkan.32

Lingkungan edukatif itu bisa berada di lingkungan keluarga, sekolah

ataupun masyarakat.

2. Pendidikan Menurut Islam

Agama Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad

Saw mengandung implikasi kependidikan (tarbiyah) yang bertujuan untuk

menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamiin). Dalam agama

(32)

Islam terkandung suatu potensi yang mengacu pada fenomena

perkembangan, yaitu:

1. Potensi psikologis dan paedagogis (pendidikan) yang mempengaruhi

manusia untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang

derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.33

2. Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifatullah fll

ardh yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan

sekitamya. Lingkungan yang alamiah maupun yang ijtima ’iyah dimana

Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.34

Untuk mengaktualisasikan dan memfungsikan potensi tersebut

diatas diperlukan ikhtiar kependidikan yang sitematis, berencana,

berdasarkan pendekatan dan wawasan yang interdisipliner. Karena

manusia semakin terlibat ke dal am proses perkembangan sosial itu sendiri

menunjukkan adanya interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi.

Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma

kewahyuan bagi kepentingan hidup manusia diatas bumi, barn, aktual, dan

fungsional bila diinternalisasikan kedalam pribadi melalui proses

kependidikan yang konsisten, terarah pada tujuannya.

Bila pendidikan Islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah,

maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pemberdayaan manusia yang

bemafaskan Islam yang lebih efektif dan efisien. Kita mengetahui bahwa

sejak Islam diartikulasikan melalui dakwahnya dalam masyarakat sampai

33 Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2003, him. 4.

(33)

kini, proses kependidikan Islam yang telah mengacu dalam masyarakat

yang beraneka ragam kultur. Selama itu pula jasa-jasanya telah tampak

mewamai sikap dan kepribadian manusia yang tersentuh oleh dampak-

dampak positif dari proses keberlangsungannya.35

a. Definisi Pendidikan Islam (tarbiyah) secara kebahasaan (semiotik).

Menurut kamus bahasa Arab, lafal at-tarbiyah berasal dari tiga

kata. Pertama: raba yarbu yang berarti; bertambah dan tumbuh.36 37

Kedua: rabiya yarba dengan wazrt (bentuk) khafiya yakhfa, berarti:

menjadi besar. Ketiga: Rabba yarubbu.> berarti; memperbaiki,

menguasai urusan, menuntun, menjaga dan memelihara. Makna ini

antara lain ditunjukkan oleh perkataan Hassan bin Tsabit: “Sungguh

ketika engkau tampak pada hari keluar dihalaman istana, engkau lebih

baik daripada sebutir mutiara putih bersih yang dipelihara oleh

X7 kumpulan air di laut ”.

Dari sini kemudian dapat diambil beberapa kesimpulan untuk

memahami makna pendidikan:

a. Pendidikan adalah proses yang mempunyai tujuan, sasaran dan obyek.

b. Secara mutlak, pendidikan yang sebenamya hanyalah berasal dari

Allah Swt. Dia-lah Yang memberlakukan hukum dan tahapan

perkembangan serta interaksinya, dan hukum-hukum untuk

mewujudkan kesempumaan, kebaikan serta kebahagiaan.

35 Ibid, him. 4.

36 Abdurahman an-Nahlawi, teij: Herry Noer Ali, Prinsip-prinsip dan Metoda Pendidikan Islam, cv. Diponegoro, Bandung, 1989, him. 30.

(34)

e. Pendidikan menuntut adanya langka-langkah yang secara bertahap

hams dilalui oleh berbagai kegiatan pendidikan dan pengajaran, sesuai

dengan urutan yang telah disusun secara sistematis.

d. Proses belajar-mengajar hams mengikuti aturan penciptaan yang

dilakukan Allah Swt, sebagaimana hams mengikuti syara’ dan Din

Allah.38

b. Pengertian Pendidikan Islam Secara Epistimologi.

Baik secara implisit (tersirat) maupun eksplisit (tersurat) Al-

Qur’an banyak menerangkan tentang pentingnya pendidikan dan ilmu

pengetahuan, antara lain di Dal am Al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat

33 Allah Swt menjelaskan:

^ • j tJJl3 ^

Artinya:

“Wahai jin dan manusia, jika kamu sekalian mampu untuk menembus menjelajahi langit dan bumi, tembuslah; namun kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (ilmu dan tekhnologi)

Prof H.M. Arifin, M.Ed. di dalam bukunya yang beijudul Ilmu

Pendidikan Islam memberikan pengertian, Pendidikan Islam adalah

suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan

yang dibutuhkan oleh seorang manusia, sebagaimana Islam telah

(35)

menjadi pedoman bagi scluruh aspek kehidupan manusia, baik didunia

maupun di akhirat.39 Dengan kata lain, manusia yang mendapatkan

pendidikan Islam harus mampu hidup didalam kedamaian dan

kesejahteraan sebagaimana diharapkan oleh cita-cita Islam.

Dengan demikan pengertian pendidikan Islam adalah suatu

sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang

dibutuhkan oleh hamba Allah Swt sebagaimana Islam telah menjadi

pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia, baik duniawi maupun

ukhrawi.

Mengingat luasnya jangkauan yang hams digarap oleh

pendidikan Islam, maka pendidikan Islam tetap terbuka terhadap

tuntutan kesejahteraan ummat manusia, baik tuntutan dibidang ilmu

pengetahuan dan teknologi maupun tuntutan pemenuhan kebutuhan

hidup rohaniah. Kebutuhan itu semakin meluas sejalan dengan

meluasnya tuntutan hidup manusia itu sendiri. Oleh karena itu, dilihat

dari pengalamannya, Pendidikan Islam berwatak akomodatif terhadap

tuntutan kemajuan zaman sesuai acuan norma-norma kehidupan Islam.

B. Pendidikan Menurut Para Tokoh

Banyak tokoh-tokoh yang bergerak pada bidang pendidikan ataupun

tokoh yang secara intensif melakukan pemikiran tentang pentingnya ilmu

pengetahuan dan metodologi pendidikan. Di dalam skripsi ini penulis hanya

(36)

akan mengemukakan bcberapa idc/gagasan dari ke-empat tokoh yang menurut

penulis -paling tidak- mewakili zamannya serta karakteristik pemikiran

pendidikannnya tanpa merendahkan tokoh-tokoh yang lain.

Tokoh-tokoh tersebut adalah; Imam Ghazali yang memiliki ciri khas

pemikiran pendidikan ke-lslaman, Ki Hajar Dewantara seorang bapak

pendidikan di Indonesia, R.A. Kartini pembaharu dan pejuang kemerdekaan

pendidikan perempuan serta Ahmad Bahrudin yang merupakan praktisi

pendidikan abad ini yang berusaha mengejawantahkan paradigma pendidikan

pembebasan dan pendidikan yang berpihak kepada kaum miskin.

1. Pendidikan Menurut Al-Ghazali.40

Imam Ghazali telah menulis hal ikhwal tentang pendidikan dan

pengajaran dalam sejumlah karyanya, namun pendapatnya yang paling

penting dalam bidang ini terdapat dalam bukunya yang bemama Fatihatul

Kitab, Ayyuhal Walad (Hai anakku), dan ihyaUlumuddin yang dianggap

sal ah satu dari kitab yang terbesar dalam bidang ilmu kalam, ilmu fiqih,

dan akhlaq. Kitab yang terakhir ini terbagi menjadi empat juz. Juz pertama

khusus membahas ilmu pengetahuan, juz kedua memuat masalah

muamalah antar umat manusia, sedangkan juz tiga dan empat mengkaji

tentang berbagai earn pembinaan akhlak yang terpuji dan mengobati

akhlak yang tercela.41

40 Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali di lahirkan di Thunisia, sebuah Kota di Khurasan, Persia, pada tahun 450 H atau 1058 M. Imam Ghazali sejak kecilnya dikenal sebagai seorang pecinta ilmu pengetahuan dan filsafat.

(37)

Seseorang yang mempelajari tentang pendidikan dan berbagai

aspek atau masalahnya yang ditulis Imam Ghazali dal am berbagai karya

tulisnya, khususnya kitab Ihya ’Ulumuddin, tentu akan mendapatkan suatu

kesimpulan bahwa Al-Ghazali adalah seorang yang menciptakan si stem

pendidikan yang komprehensif serta pembatasan yang jelas.42

Untuk mencapai tujuan pendidikan ini ada dua sasaran pokok,

yakni:

a. Aspek-aspek ilmu pengetahuan yang harus disampaikan kepada murid

atau dengan kata lain kurikulum yang harus dipelajari murid.

b. Metode yang relevan untuk menyampaikan kurikulum atau syllabus

sehingga dapat memberikan pengertian yang sempuma dan

memberikan faedah yang besar tentang penggunaan metode tersebut.

Demikian seterusnya sampai murid dapat mencapai tujuan.43

Imam Ghazali menggariskan tujuan pendidikan itu sesuai dengan

pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, artinya

sesuai dengan filsafet hidupnya. Kemudian beliau menciptakan sebuah

kurikulum yang ada hubungannya dengan target dan maksud pendidikan.

Karena itu beliau menyusun bab-bab tentang ilmu pengetahuan,

mengklasifikasikan, memberi penilaian dan menjelaskan beberapa

faedahnya bagi seorang murid. Kemudian menyusun dan mensistematisir

ilmu-ilmu tadi sesuai dengan kepentingan dan kegunaannya.

(38)

Manakala akal manusia itu merupakan alat yang digunakan untuk

mendapatkan ilmu, dalam hal ini Imam Ghazali memberinya penilalian

yang tinggi, dan mengi stimewakan untuk belajar dan mengadakan

penelitian sebagaimana halnya mengi stime wakan tabiat dan naluriah

manusia untuk belajar, maka beliau lalu menulis tentang ghazirah (insting)

manusia, dan perbedaan antara masing-masing individu dilihat dari segi

potensi akalnya dan tingkat kecerdasannya. Beliau juga menulis tentang

berbagai topik lain yang berkaitan erat dengan hal-ihwal pendidikan dan

pengajaran.

2. Pentingnya Ilmu dan Pendidikan Menurut A1 Ghazali

Dalam mempelajari Imam Ghazali, sesuatu yang sangat penting

untuk diperkatakan dari segi pendidikan adalah perhatiannya yang sangat

dalam tentang ilmu pendidikan maupun keyakinannya yang kuat bahwa

pendidikan yang baik itu merupakan suatu jalan mendekatkan diri kepada

Allah swt, dan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Itulah

sebabnya beliau memberikan kedudukan yang tinggi bagi seorang guru

dan menaruh kepercayaannya terhadap seorang guru yang baik sebagai

penasehat atau pembimbing yang baik.

Dalam Kitabnya Ihya’ Ulumiddin juz 1, Imam Ghazali memulai

tulisannya dengan uraian tentang keutamaan ilmu dan pendidikan lalu

memberikan predikat yang tinggi terhadap ilmuwan dan para ulama

dengan dikuatkan oleh Firman Allah Azza Wajalla, pengakuan para Nabi

(39)

Imam Ghazali sering mengemukakan pendapatnya tentang

ketinggian derajat dan kedudukan para ulama ini diulang lagi dal am

beberapa tempat kitabnya, Ihya’ Ulumiddin itu, misalnya beliau berkata:

Makhluk yang paling mulia di bumi ini adalah jenis manusia dan bagian yang paling mulia diantara substansi manusia itu adalah hatinya. Sedangkan guru adalah orang yang berusaha menyempurnakan, meningkatkan, mensucikan dan membimbing hati itu mendekat kepada Allah Swt. Oleh karena itu mengajarkan ilmu pengetahuan dan suatu segi lam termasuk ibadah kepada Allah Swt.., dan dari segi lain termasuk tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Di katakana khalifah Allah Swt., dan dari segi lain termasuk tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Di katakan khalifah Allah, karena Allah telah membuka hati seorang Alim dengan ilmu, yang justru ilmu itu menjadi identitasnya. Karena itu ia bagaikan

bendahara bagipersonalia-personalia di dalam khazanah Tuhan.44

Imam Ghazali menjelaskan keutamaan dan pentingnya belajar

dengan mengemukakan dasar ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadi-hadis,

kemudian menjelaskan keutamaan pengajaran dan kewajiban mengajar

bagi para ilmuwan, katanya; “Sungguh orang berilmu yang tidak

menyebarluaskan ilmunya, tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya

adalah bagaikan pengumpul harta untuk ditimbun belaka, tidak

dimanfaatkan kepada seseorang.

3. Tujuan Pendidikan Menurut A1 Ghazali

Di muka telah dibicarakan bahwa si stem pendidikan apa pun harus

ada filsafat tertentu yang mengarahkan dan merumuskan langkah-langkah

serta metode-metodenya. Tentunya filsafat dan pandangan Imam Ghazali

tentang kehidupan yang global itu menjadi motifator berpikir mengenai

(40)

sistem pendidikan tertentu dan dikendalikan oleh tujuan yang jelas.

Setelah mempelajari karya-karya tulis beliau tentang pendidikan dan

pengajaran jelaslah kiranya bahwa beliau berusaha untuk mencapai dua

tujuan.

• Insan puma yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah swt.45

• Insan puma yang berusaha mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia

dan di akherat.46

Oleh karena itu beliau bermaksud ingin mengajar umat manusia

sehingga mereka mencapai tujuan-tujuan yang dimaksudkan. Ciri khas

Pendidikan Islam secara umum yaitu sifat moral religiusnya yang nampak

jelas dalam tujuan-tujuan yang ingin dicapai maupun sarana-sarananya,

tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi.47

Secara umum pendapat Al-Ghazali ini sesuai dengan aspirasi-

aspirasi Pendidikan Islam, yakni aspirasi yang bemafaskan agama dan

moral. Karena Imam Ghazali tidak melupakan masalah-masalah duniawi,

maka beliau menyediakan porsinya dalam Pendidikan Islam. Akan tetapi

penyediaan urusan dan kebahagiaan duniawi itu dianggap sebagai sarana

meraih kebahagiaan hidup di akherat yang dikatakan lebih utama dan lebih

abadi, sebab dunia ini sebagai ladang akherat saja.48

Ilmu Pengetahuan merupakan sarana yang dapat mengantarkan

kepada Allah ’Azza wa Jalla, bagi orang yang memfungsikan dunia ini

45 Op.Cit, Fathiyah Hasan Sulaiman. him. 21. 46 Ibid, him. 21.

(41)

sebagai tampat peristirahatan, bukan bagi orang yang memfungsikannya

sebagai tampat tinggal yang permanen dan tanah tumpah darah abadi.49

Oleh karena kita menemukan bahwa pendapat-pendapat Imam

Ghazali didasarkan kepada coraknya, bercorak keagamaan yang

mengistimewakan kepada Pendidikan Islam, maka pendapat-pendapat

tersebut lebih banyak cenderung kepada masalah rohani. Tentu saja

kecenderungan ini selaras dengan filsafat Imam Ghazali yang berbau

tasawuf. Oleh karena itu, tujuan pendidikan menurut Imam Ghazali adalah

pembentukan insane puma, baik di dunia maupun di akherat, manusia

dapat mencapai kesempumaan lantaran usahanya mengamalkan fadhilah

(perbuatan utama) melalui ilmu pengetahuan. Fadhilah ini lalu

membahagiakannya di dunia dan mendekatkannya kepada Allah.

Akibatnya dengan fadhilah ini manusia dapat meraih kebahagiaan di

akherat.

Walaupun filsafat dan tasawufhya mempengaruhi pandangannya

terhadap nilai-nilai kehidupannya dan mengarahkannya kepada suatu

target untuk her-taqorrub kepada Allah dan mencapai kebahagiaan di

akherat, namun Imam Ghazali tidak melalaikan bahwa ilmu pengetahun

itu seyogyanya dipelajari, lantaran ia mempunyai keistimewaan-

keistimewaan. Jadi seolah-olah beliau berpendapat bahwa “Ilmu itu

(42)

memiliki keutamaan pada dirinya sendirinya dan memberikannya kepada

orang lain tanpa syarat”.50

2. Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 12 Mei 1889 dari keluarga

K.P.H. Suryaningrat, merupakan cucu dari Sri Paku Alam III, kemudian

diberi nama Suwardi, karena kedudukannya sebagai putra bangsawan,

maka nama lengkapnya adalah R.M. Suwardi Suryaningrat. Gelar yang

menandai kedudukan kebangsawanan dan sekaligus memisahkan diri dari

rakyat kebanyakan, temyata tidak selamanya melekat pada pemiliknya.

Pada saat keberangkatannya ke tanah pengasingan di negeri Belanda pada

tahun 1913, ditanggalkannyalah gelar bangsawan “Raden Mas” tersebut

sebagai pemyataan bersatunya Suwardi dengan rakyat yang

dipeijuangkannya.51

Ajaran Ki Hajar Dewantara meliputi bermacam-ragam, ada yang

sifatnya konsepsional, petunjuk operasional-praktis, fatwa, nasehat dan

lain sebagainya. Di bidang pendidikan Ki Hajar Dewantara mempunyai

konsepsi yang disebut dengan “Tripusat Pendidikan”, satu upaya

pembinaan pendidikan nasional yang meliputi pendidikan di tiga

lingkungan hidup, ialah lingkungan keluarga, perguruan dan masyarakat.52

Ketiga lingkungan tersebut mempunyai pengaruh edukatif pada

hidup tumbuhnya jiwa-raga anak. Oleh karena itu ketiganya harus

50 Op. tit, Juz: I

51 Ki Soeratman, 70 Tahun Tamansiswa, Majlis Luhur Persatuan Tamansiswa, Yogyakarta, 1992, him. 20.

(43)

harmonis dan menjunjung nilai yang sama. Dengan demikian maka

kepribadian anak akan berkembang secara utuh dal am keadaan

berkesinambungan.

Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik adalah menuntun segala

kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan

sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan

setinggi-tingginya. Ki Hajar Dewantara juga menyatakan bahwa

pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuhnya

budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual), dan tubuh

anak.53

Dalam dunia pendidikan Ki Hajar Dewantara mempunyai konsepsi

tentang metode “Among”. Kata Among yang berasal dari bahasa Jawa,

mempunyai arti seseorang yang tugasnya “ngemong” atau “momong”

yang jiwanya penuh pengabdian. Ditegaskan metode tersebut beijiwa

kekeluargaan, hingga hal itu sudah memberi gambaran tentang interaksi

yang teijadi antara pamong-siswa.54

Hubungan antara pamong-siswa tersebut dilandasi oleh cinta kasih,

saling mempercayai, jauh dari sifat otoriter dan situasi yang memanjakan.

Dalam hal ini berarti, bahwa siswa bukan saja merupakan obyek, tetapi

juga dalam waktu yang bersamaan sekaligus menjadi subyek.

Ki Hajar Dewantara setidaknya meninggalkan dua petuah bijak

bagi kita dalam membangun si stem pendidikan yang humanis. Pertama

53 Ahmad Munib dkk, Pengantar Ilm u Pendidikan, Unnes Press, Semarang, 2006, him. 31-32.

(44)

“ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani ”,

kedua; “jadikanlah setiap orang guru dan setiap tempat sekolahan ”. Dua

hal tersebut sudah saatnya digali dan dikaji lebih lanjut sebagai bekal

pengajaran bagi kita semua.55

Ki Hajar Dewantara menjadikan “Tutwuri Handayani” sebagai

semboyannya metode among. Sikap “tutwuri” adalah perilaku pamong

yang sifatnya memberi kebebasan kepada murid, untuk berbuat sesuatu

sesuai dengan hasrat dan kehendaknya, sepanjang hal itu sesuai dengan

norma-norma yang wajar dan tidak merugikan siapapun.56

Tetapi kalau pelaksanaannya oleh siswa tersebut temyata

menyimpang dari ketentuan yang seharusnya, seperti melanggar peraturan

atau hukum masyarakat yang berlaku, hingga bisa merugikan fihak lain

atau diri sendiri, maka pamong harus bersikap handayani. Sikap ini

mempunyai maksud untuk menjaga tertib damainya hidup bersama,

dengan jalan meluruskan kembali perilaku murid yang tidak lurus tersebut.

“Tutwuri” memberi kebebasan siswa untuk berbuat sekehendak

hatinya, namun jika kebebasan tersebut akan menimbulkan kerugian,

pamong harus memberi peringatan dan sebagainya. “Handayani”

merupakan sikap yang harus ditaati oleh siswa, hingga menimbulkan

ketertundukan. Dengan demikian sebagai subyek siswa memiliki

55 Benni Setiawan, Pendidikan Roboh, Bangsa Roboh, Suara merdeka, 30 Agustus 2008.

(45)

kebebasan, sebagai obyek siswa memiliki ketertundukkan sebagai

kewajibannya.

Keseimbangan pelaksanaan hak (kebebasan) dan kewajiban,

merupakan jaminan adanya ketertiban dan kedamain, serta jauh dari

ketegangan dan anarki. Dal am dunia pendidikan siswa akan tumbuh dan

berkembang seluruh potensi kodratinya sesuai dengan perkembangan

alaminya dan wajar, tanpa mengalami hambatan dan rintangan.

Perkembangan itu akan memberi kemungkinan tercapainya tujuan

pendidikan sewajamya sesuai dengan target kurikuler yang hams

dicapainya.

Jelas kiranya bahwa metode “among” juga didasari oleh pandangan

Ki Hajar Dewantara tentang eksistensi manusia. Dengan memberi

kebebasan kepada siswa diharapkan akan tumbuh kemampuannya

berinisiatif serta berkreatifitas. Hal ini tenyata mempakan kunci bagi

upaya mengatasi segala tantangan zaman.

3. R.A. Kartini

a. Riwayat Hidup R.A. Kartini.

R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong

(Jepara). Tiap-tiap tahun hari kelahirannya itu diperingati oleh kaum

wanita di seluruh Indonesia. Ia salah seorang puteri dari R.A.A. Sosro

Ningrat, Bupati Jepara, yang suka akan kemajuan dan yang mendidik

anak-anaknya dengan pendidikan barat. Tetapi meskipun demikian,

(46)

mengapa R.A.Kartini hanya menuntut pelajaran pada sekolah Belanda

saja. Kesempatan untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi tidak

diberikan kepadanya.

Pada umur 12 tahun ia tidak diperkenankan keluar rumah

(dipingit). Tetapi berkat usaha sahabat-sahabatnya, maka empat tahun

kemudian ia diizinkan untuk melihat dunia luar lagi. Tentulah hal ini

mendapat celaan dari masyarakat pada waktu itu.

Kartini seorang anak yang suka belajar. Di masa bersekolah ia

merasa bebas. Waktu ia dipingit, serasa sepi kehidupannya.

Hiburannya membaca buku-buku bahasa Belanda dan menerima surat-

surat dari temannya. Karena banyak membaca maka terbukalah dunia

Barat baginya. Terasa olehnya betapa pincangnya kedudukan wanita

Indonesia, bila dibandingkan dengan derajat wanita barat. Maka

dimulainya peijuangan untuk melepaskan kaum perempuan dari

belenggu pengikatnya.

b. Cita-cita Pendidikan R.A. Kartini

Melihat kepincangan dalam masyarakatnya serta perlakuan

yang tidak adil pada kaum wanita Indonesia dan karena membaca,

jiwa pemberontak timbul dalam diri Kartini. Dalam hatinya hidup

suatu keinginan akan bebas, berdiri sendiri, dan membebaskan gadis-

gadis Indonesia lainnya dari ikatan adat kebiasaan.

Sebenamya yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini adalah

(47)

wanita. Janganlah “mengabdi” kepada sang suami saja. Janganlah

hancur segala harapan, apabila sang suami mundur. Selain mengurus

rum ah tangga, kaum wanita harus bisa melakukan pekeijaan lain.57

Karena itulah maka kaum wanita harus harus mendapat pengajaran

yang layak, supaya kelak dapat melakukan sesuatu di luar rumah

tangga. Perlunya belajar vak itu ialah agar jangan sampai menjadi

korban kawin paksa, dan juga agar jangan sampai diperbudak oleh

suami.

Wanita yang berpendidikan akan lebih pandai mendidik

anaknya dan lebih sempuma mengurus rumah tangganya. Akhimya

akan majulah nusa dan bangsanya.

c. Usaha-Usaha R. A. Kartini Untuk Melaksanakan Cita-Citanya

Sebenamya usaha-usaha dan peijuangan Kartini untuk

melaksanakan cita-citanya tidak banyak, karena usianya yang pendek.

Tetapi meskipun demikian, ada juga usaha-usahanya:

• Pada tahun 1903 ia membuka sekolah Gadis di Jepara.

• Setelah menikah dibukanya lagi sekolah Gadis di Rembang.

Untuk menghormati cita-cita Kartini, pada tahun 1913

didirikan sekolah rendah untuk anak-anak perempuan di beberapa

kota-kota besar. Sekolah itu dinamakan sekolah Kartini. Dari uraian di

atas tampaklah bahwa Kartini merupakan seorang penunjuk jalan.

(48)

Cita-cita Kartini merupakan gambaran peijuangan dan cita-cita kaum

c o wanita Indonesia.

d. Agenda Pendidikan Versi Kartini

Ketika kita masih merasakan adanya kesulitan untuk

menentukan siapa yang paling layak menjadi idola, teladan dan figur

manusia sejati, sosok R.A.Kartini agaknya akan selalu layak dikenang

dalam pelataran sejarah proses kemanusiaan dan pemanusiaan. Bukan

hanya R.A.Kartini menjadi pejuang paling monumental dalam gerakan

emansipasi di Indonesia, melainkan juga karena agenda dan gagasan

pendidikan yang ditawarkannya, terutama pendidikan humaniora.

Diluar kerangka emansipasi, R.A.Kartini menawarkan agenda

pendidikan humaniora yang layak dicermati bahkan diaplikasikan

hingga saat ini. Mengapa demikian? Gejala sosial dan kemanusiaan

disekitar kita akhir-akhir ini membangkitkan khazanah edukasional,

bahwa kita perlu merevitalisasi pendidikan humaniora di sekolah-

sekolah formal. Konsep ini tidak hanya perlu diteijemahkan pada

tingkat praktis sebagai tautologi antara pendidikan dengan dunia keija,

melainkan yang tidak kalah pentingnya adalah tautologi-nya dengan

kebutuhan anak untuk hidup harmonis dalam masyarakat yang

beragam latar dan kepentingan.

Pemikiran mengenai perlunya peng-agendaan dan penguatan

terhadap pendidikan humaniora ini bukan barang barn. R.A. Kartini, 58

(49)

dal am sebuah notes-nya tanggal 19 April 1903 yang dikirim kepada

pemerintah Hindia Belanda antara lain menulis; pertama, kepandaian

merupakan salah satu capaian mulia dalam hidup. Dalam makna

aktualitas pribadi untuk berbuat baik dan luhur. Kedua, kecerdasan

otak yang tinggi bukanlah untuk ijazah melainkan untuk kelahiran budi

pekerti.

Kartini sangat menyayangkan kalau ada kaum cerdik pandai

yang berbuat kejam, hina, dan tidak berperasaan. Baginya, kalau hal

ini dilakukan oleh mereka yamg cerdik pandai itu, lalu bagaimana

pulaperilaku kaum bodoh, yang tidak dapat membedakan mana

perbuatan baik, dan mana yang jahat. Pendapat kartini itu menggaris

bawahi bahwa manusia Indonesia tidak cukup sebatas otak, melainkan

yang lebih utama adalah memiliki keluhuran budi pekerti. Karena

itulah Kartini mencaci maki kaum cerdik pandai yang berbuat kejam,

hina, dan tidak berperasaan.

Pemikiran di atas tetap relevan hingga sekarang, lebih-lebih

meningkatnya keterdidikan masyarakat kita temyata belum signifikan

diikuti dengan perilaku yang syarat dengan muatan humaniora.

Fenomena ini melahirkan hipotesis, bahwa katerdidikan tidak selalu

berkorelasi dengan keberadaban.

4. Ahmad Bahruddin

Ahmad Bahruddin adalah pria kelahiran Salatiga, 9 Februari 1965.

(50)

Abdul Halim pendiri Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin di Desa

Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Ia adalah seorang tokoh pendidikan

alumnus Fakultas Tarbiyah STAIN Salatiga yang berhasil mempelopori

sekolah berbasis komunitas yang kemudian diberi nama Sekolah Altematif

Qaryah Thoyyibah.59 Menurut Ahmad Bahruddin, prinsip-prinsip dasar

pendidikan adalah sebagai berikut60:

a. Membebaskan

Pendidikan harus selalu dilandasi semangat membebaskan, dan

semangat perubahan kearah yang lebih baik. Membebaskan berarti

keluar dari belenggu legal formalistik yang selama ini menjadikan

pendidikan tidak kritis, dan tidak kreatif, sedangkan semangat

perubahan lebih diartikan pada kesatuan proses pembelajaran.

b. Keberpihakan

Adalah ideologi pendidikan itu sendiri, dimana pendidikan dan

pengetahuan merupakan hak bagi seluruh rakyat.

c. Partisipatif

Mengutamakan prinsip partisipatif antara pengelola, murid,

keluarga serta masyarakat dal am merancang bangun sistem pendidikan

yang sesuai kebutuhan. Hal ini akan membuang jauh citra sekolah

yang dingin dan tidak beijiwa yang selalu dirancang oleh intelektual

59 Sekolah inilah yang kemudian oleh Prof Kenji Saga dari NICT Jepang dianggap sebagai tujuh keajaiban dunia setara dengan Mitaka City di Tokyo, Sunderland di Inggris, Tianjin di Cina, Pirai di Brasil, Issyles-Moileneaux di Prancis dan Toronto di Canada.

(51)

“kota” yang tidak membumi (tidak memahami kebutuhan nyata

masyarakat).

d. Kurikulum Berbasis Kebutuhan.

Utamanya terkait dengan sumberdaya lokal yang tersedia.

Belajar adalah bagaimana menjawab kebutuhan akan pengelolaan

sekaligus penguatan daya dukung sumberdaya yang tersedia untuk

menjaga kelestarian serta memperbaiki kehidupan.

e. Keijasama

Metodologi pembelajaran yang dibangun selalu berdasarkan

keijasama dal am proses pembelajaran. Tidak perlu ada lagi sekat-sekat

dalam proses pembelajaran, juga tidak perlu ada dikotomi guru dan

murid, semuanya adalah murid (prang yang berkemauan belajar).

Semuanya adalah tim yang berproses secara partisipatif. Keijasama

dari antar individu berkembang ke antar kelompok, antar daerah, antar

negara, antar benua, dan antar semuanya.

f. Sistem Evaluasi Berpusat Pada Subyek Didik.

Puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika si subjek didik

menemukan dirinya, berkemampuan mengevaluasi diri sehingga tahu

persis potensi yang dimilikinya, dan berikut mengembangkannya

sehingga bermanfaat bagi yang lain.

g. Percaya Diri

Pengakuan atas keberhasilan bergantung pada subjek

(52)

ijasah) tidak perlu dicari. Pengakuan akan datang dengan sendirinya

manakala kapasitas pribadi dari si subjek didik meningkat dan

bermanfaat bagi yang lain.

C. Peran Negara dalam Pendidikan.

Pada wilayah pendidikan, negara memiliki tugas dan peran yang sangat

strategis. Di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, secara eksplisit

disebutkan bahwa tugas pemerintahan negara adalah untuk mencerdaskan

kehidupan bangsa.61 Artinya bahwa negara berkewajiban untuk memberikan

pendidikan bagi segenap rakyatnya demi tujuan mencerdaskan rakyat.

Dalam amandemen UUD 1945 terdapat perubahan pada pasal 31 batang

tubuh UUD 1945, yakni mengenai substansi isi, pada ayat pertama terdapat

perubahan yang semula berbunyi: “tiap-tiap warga negara berhak mendapat

pengajaran’ diubah menjadi “setiap warga negara berhak mendapatkan

pendidikan”. Perubahan ayat tersebut mengandung makna bahwa setiap warga

negara berhak untuk memperoleh segala fasilitas untuk meningkatkan

pendidikan, tidak hanya aspek pengajaran yang cenderung bersifat kognitif,

akan tetapi aspek afektif, moral maupun psikhomotor atau keterampilan.62

Pasal 31 Ayat (1) dan (2) UUD 1945 menegaskankan, setiap warga

negara berhak mendapat pendidikan. Setiap warga negara wajib mengikuti

pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

61 Rustopo. dkk, Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen; dalam satu naskah dan Analisis Singkat, UNNES Press, him. 3.

(53)

Perintah UUD 1945 ini diperkuat oleh UU Sistem Pendidikan Nasional

(SPN) yang disahkan 11 Juni 2003. Ketentuan tersebut menegaskan bahwa

setiap warga negara memiliki hak yang sama atas pendidikan. Kaya maupun

miskin. Namun, dalam realitasnya, sampai saat ini dunia pendidikan kita juga

masih dihadapkan pada tantangan besar untuk mencerdaskan anak bangsa.

Tantangan utama yang dihadapi di bidang pendidikan pada tahun 2008 adalah

meningkatkan akses, pemerataan, dan kualitas pelayanan pendidikan, terutama

pada jenjang pendidikan dasar.

Pada tingkat pendidikan dasar yaitu tingkat Sekolah Dasar (SD) dan

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), setiap warga negara berhak

mengikuti pendidikan, dan pemerintah wajib membiayainya. UUD 1945 juga

mengamanatkan bahwa alokasi yang dianggarkan untuk pendidikan minimal

20% (dua puluh persen) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

D. Definisi Kaum Miskin.

1. Definisi Miskin Menurut Islam

Secara harfiah, “kaum miskin” terdiri dua kata. Jika kita membuka

kamus Besar Bahasa Indonesia, maka kita akan menemukan kata “kaum”

yang berarti; golongan63 dan kata “miskin” yang bermakna; tidak berharta,

serba kekurangan, berpenghasilan rendah.64 Dari situ kita dapat

meng-63 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, Jakarta, 2005. him. 517.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...