Perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja - USD Repository

92 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

PERBEDAAN AGRESIVITAS REMAJA YANG MEMILIKI IBU

BEKERJA DAN REMAJA YANG MEMILIKI IBU TIDAK BEKERJA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh :

Nama : Waldimer Pasaribu

NIM : 089114124

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

KUPERSEM BAH KAN SKRI PSI I N I KEPAD A: T UH AN YESUS KRI ST US

BAPAK D AN M AM A T ERCI N T A, YAN G SELALU M EM BERI KAN SEM AN GAT , D O A, SERT A D UKUN GAN SECARA M O RI L M AUPUN M AT ERI I L

KED UA ABAN GKU T ERCI N T A W H ART O N FRED I CKSEN PASARI BU D AN CH RI ST I AN SEN PASARI BU

AD I KKU T ERCI N T A CARO LI N A PASARI BU

ALM AM AT ERKU UN I VERSI T AS SAN AT A D H ARM A BAPPED A KABUPAT EN SLEM AN

(5)

v

HALAMAN MOTTO

“UNTUK SEGALA SESUATU ADA MASANYA, UNTUK APAPUN DI BAWAH

LANGIT ADA WAKTUNYA.” (PENGKHOTBAH 3:1)

JANGAN BERDOA AGAR HIDUP LEBIH MUDAH, BERDOALAH AGAR KITA

LEBIH KUAT(JOHN F. KENNEDY)

HIDUP ITU SEPERTI SEBUAH SEPEDA. KAU TIDAK AKAN TERJATUH

KECUALI BILA BERHENTI MENGAYUH

( CLAUDE PEPPER)

SALAH SATU KOM PENSASI PALI NG I ND AH D ALAM H I D UP AD ALAH BAH W A ORANG YANG M ENOLONG ORAN G LAI N D ENGAN TULUS

PASTI JUGA M ENOLONG D I RI NYA SEND I RI (RALPH W ALD O EM ERSON)

SETI AP TAH UN KI TA BUKAN SEM AKI N TUA M ELAI NKAN SETI AP H ARI KI TA SEM AKI N BARU (EM I LY D I CKI NSON)

YANG LEBIH BURUK DARIPADA TIDAK MEMILIKI PENGLIHATAN ADALAH TIDAK MEMPUNYAI VISI ( HELEN KELLER)

AKU AKAN BERTAMBAH TUA, TETAPI TAK AKAN PERNAH KEHILANGAN SEMANGAT HIDUP, KARENA BELOKAN YANG TERAKHIR DI JALANAN INI PASTI AKAN YANG PALING BAIK

(6)

vi

SEM AKI N BESAR HALANGAN, SEM AKI N BESAR KEM ULI AAN YANG M ENANT I DI BELAKANGNYA (M OLI ERE)

BERPI KI RLAH TENTANG YANG BESAR-BESAR TETAPI NI KMATI KEBAHAGI AAN-KEBAHAGI AAN KECI L YANG KI TA PEROLEH (ANONI M)

Selalulah berpengharapan terutama saat kondisi terasa berat,

(7)
(8)

viii

PERBEDAAN AGRESIVITAS REMAJA YANG MEMILIKI IBU BEKERJA DAN REMAJA YANG MEMILIKI IBU TIDAK BEKERJA

Waldimer Pasaribu

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja. Penelitian ini melibatkan 80 remaja yang terdiri dari 40 remaja pada ibu bekerja dan 40 remaja pada ibu tidak bekerja. Penelitian ini menggunakan skala agresivitas dengan koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,917. Analisis data menghasilkan t sebesar 0,710 dan nilai p sebesar 0,481. Hal ini berarti tidak ada perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja. Oleh sebab itu, hipotesis dalam penelitian ini tidak terbukti.

(9)

ix

THE DIFFERENCES OF THE ADOLESCENT’S AGGRESSIVENESS BE POSSESSED OF WORKER MOTHERS AND ADOLESCENT BE

POSSESSED OF NON-WORKER MOTHERS

Waldimer Pasaribu

ABSTRACT

The purpose of this study is to investigate the difference of the adolescent’s aggressiveness be possessed of worker mothers and adolescent be possessed of non-worker mothers. The hypothesis in this study there is found difference of the adolescent’s aggressiveness be possessed of worker mothers and adolescent be possessed of non-worker mothers. This study involves 80 adolescent with 40 adolescent of worker mothers and 40 others of non-worker mothers. This research applying for aggressiveness scale with alpha reliability coefficient is 0,917. Data analysis produce result value of t is 0,710 and value of p is 0,481. In other words, there are no difference of adolescent’s aggressiveness be possessed of worker mothers and adolescent be possessed of non-worker mothers. In other words the hypothesis in the study is not proven yet.

(10)
(11)

xi

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat, sehingga karena berkat dan kasih karunia-Nya kepada penulis maka penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah memberikan perhatian dan bantuan dengan caranya masing-masing sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Dr. Christina Siwi Handayani, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Sylvia Carolina MYM., S.Psi., M.Si., selaku dosen pembimbing skripsi dan pembimbing akademik yang dengan rendah hati mau meluangkan banyak waktu dan penuh kesabaran telah membimbing penulis selama penyusunan skripsi.

3. Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si., selaku dosen penguji. 4. Agung Santoso, MA., selaku dosen penguji.

5. Romo Dr. Priyono Marwan, SJ., yang telah banyak membantu dan memberi masukan kepada penulis.

(12)

xii

7. Semua Karyawan di Psikologi Universitas Sanata Dharma, khususnya Mas Gandung, ibu Nanik, Mas Mudji, Mas Doni, dan Pak Gie yang telah memberikan pelayanan selama penulis kuliah serta Karyawan Perpustakaan USD yang telah memberikan fasilitas dan kemudahan kepada penulis.

8. Bapak dan Mama tercinta atas semangat, doa serta dukungan secara moril maupun materiil.

9. Kedua abangku Wharton, Chris, dan adikku Carolina yang selalu memberikan dukungan, doa, motivasi, dan rasa persaudaraan yang tetap hangat.

10. Pahopuku Andreas Patinkin Panggabean yang selalu ingin berbagi topik dalam setiap obrolan dan membuat humor dalam setiap cerita. Buat Andreas Patinkin Panggabean agar selalu tetap semangat dalam melakukan segala sesuatu. “Semakin banyak masalah yang anda miliki, semakin hidup anda”. 11. Teman-teman Psikologi angkatan 2008 : Yudha, Stephanie, Dessy, Gita, Irin,

Kris, Priska, Nina.

12. Teman-teman Psikologi baik kakak angkatan maupun adik angkatan.

13. Teman-teman kosku : Romi, Paranso, Putra, Wawan, dan Jefri. Terima kasih atas persahabatannya. Kalau tidak ada kalian kos rasanya sepi.

14. Teman-teman terbaikku : Yudha, Aloy, Sanderick, Ardi, dan Yongki. Terima kasih atas persahabatannya. Kalian selalu ada dan mau berbagi di saat aku membutuhkan kalian.

(13)

xiii

Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam skripsi ini. Oleh karena itu, berbagai kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dalam peningkatan kualitas skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Yogyakarta, 13 Februari 2013

Penulis,

(14)

xiv

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... x

KATA PENGANTAR ... xi

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II DASAR TEORI ... 7

(15)

xv

1. Pengertian Agresivitas ... 7

2. Bentuk-Bentuk Agresivitas ... 8

3. Faktor-faktor Pengarah dan Pencetus Agresi ... 9

4. Dampak Agresi ... 13

B. Remaja ... 13

C. Status Kerja Ibu ... 14

D. Perbedaan Agresivitas Remaja yang memiliki Ibu Bekerja Dan Remaja yang memiliki Ibu Tidak Bekerja ... 17

E. Skema... 20

F. Hipotesis ... 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 22

A. Jenis Penelitian ... 22

B. Identifikasi Variabel ... 22

C. Definisi Operasional ... 22

1. Agresivitas ... 22

2. Ibu Bekerja Dan Ibu Tidak Bekerja ... 24

D. Subjek Penelitian ... 24

E. Sampling ... 25

F. Metode dan Alat Pengumpulan Data ... 25

G. Kredibilitas Alat Ukur ... 29

1. Validitas Isi ... 29

(16)

xvi

3. Seleksi aitem... 30

4. Hasil Uji Skala ... 31

1. Uji Reliabilitas ... 31

2. Uji Daya Beda Aitem ... 31

H. Teknik Analisis Data ... 32

1. Uji Normalitas ... 32

2. Uji Homogenitas ... 33

3. Uji Hipotesis ... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 34

A. Pelaksanaan Penelitian ... 34

1. Persiapan Penelitian ... 34

2. Proses Penelitian ... 34

3. Data Demografis Subjek Penelitian ... 35

B. Hasil Penelitian... 37

1. Uji Asumsi... 37

1.1 Uji Normalitas ... 37

1.2 Uji Homogenitas ... 37

2. Uji Hipotesis ... 38

C. Pembahasan ... 38

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

A. Kesimpulan ... 42

(17)

xvii

(18)

xviii

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Blue Print Skala Agresivitas Sebelum Seleksi Item ... 27

Tabel 2. Skor Butir-butir Favorable Skala Agresivitas ... 28

Tabel 3. Skor Butir-butir Unfavorable Skala Agresivitas ... 29

Tabel 4. Blue Print Skala Agresivitas Setelah Uji Coba... 33

Tabel 5. Data Usia Subjek Pada Remaja yang memiliki Ibu Bekerja dan Data Usia Subjek Pada Remaja yang memiliki Ibu Tidak Bekerja ... 37

(19)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran Skala Penelitian ... 46

Lampiran Koefisien Reliabilitas Skala Penelitian Agresivitas... 60

Lampiran Hasil Uji Normalitas Data Hasil Penelitian ... 67

Lampiran Hasil Uji Homogenitas Data Hasil Penelitian ... 68

Lampiran Hasil Uji Hipotesis Data Hasil Penelitian ... 69

(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masalah yang selalu dihadapi orangtua adalah kecemasan orangtua terhadap perubahan perilaku remaja beriring dengan taraf pertumbuhan dan perkembangan remaja (Lein dan O’Donnell, 1989). Perubahan perilaku yang positif tidak akan menjadi masalah bagi orangtua. Akan tetapi, sikap negatif yang ditunjukkan remaja mengarah pada perilaku agresif akan membuat cemas bagi sebagian orangtua. Fenomena yang terlihat ialah tawuran antar pelajar SMK, SMA, dan SMP kian marak terjadi di Bogor sehingga menewaskan 10 orang yang menjadi korban akibat dari tawuran tersebut. Sebagian besar pelaku dari tawuran itu adalah pelajar SMK yang hampir mencapai 80 persen dari keseluruhannya dan sisanya adalah pelajar SMA dan SMP (REPUBIKA.CO.ID, Kamis; 20/03/2012). Salah satu bentuk nyata agresivitas yang dilakukan adalah maraknya perkelahian/tawuran antar pelajar, yang sering membawa korban jiwa. Hal ini dikuatkan oleh pendapat Riadi (2006) bahwa perilaku agresi merupakan hasil proses belajar dalam interaksi sosial maka tingkah laku agresi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

(21)

Lingkungan sosial yang terdekat bagi anak (12 -14 tahun) dalam pembentukan kepribadiannya ialah keluarga atau sikap ibu yang sangat dekat dan berarti bagi anak. Keluarga atau sikap ibu yang sangat dekat dan berarti bagi anak mengambil andil yang sangat besar dalam perkembangan kepribadian anak, terlebihnya pada ibu bekerja maupun ibu tidak bekerja (Lein dan O’Donnell, 1989).

Hoffman (dalam Santrock, 2002) menyatakan bahwa ibu-ibu bekerja adalah suatu bagian dari jaman modern. Seperti yang telah kita ketahui saat ini, sudah jarang sekali ibu-ibu rumah tangga hanya bertugas untuk mengasuh anaknya di rumah. Disamping itu, ibu-ibu juga akan bekerja di luar rumah setelah pekerjaan rumahnya terselesaikan dan jarang untuk pulang lebih awal daripada anak-anak mereka yang pulang dari sekolah. Sehingga, keberadaan ibu di rumah bersama anak-anak menjadi lebih sedikit.

(22)

Lebih lagi, ibu memikirkan tentang biaya yang harus ia keluarkan untuk keperluan anaknya seperti, uang pendidikan, harga pakaian, ongkos rekreasi anak, serta biaya-biaya tak terduga lainnya. Disamping itu, biaya pun semakin besar dan meningkat tiap tahunnya. Maka daripada itu, ibu memandang periode ini sebagai suatu kesempatan bagi mereka untuk mulai menambah kegiatan mereka di luar rumah (Lein dan O’Donnell, 1989). Meskipun demikian, ibu bekerja juga akan tetap memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup dalam mengasuh anak, guna mencapai tumbuh kembang anak yang baik. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Berardo, Shehan, dan Leslie (1987, dalam Lemme, 1995) yang menyatakan bahwa ibu bekerja akan tetap mempertahankan tanggung jawabnya atas sebagian besar pekerjaan rumah tangga yang harus ia kerjakan.

(23)

Perilaku agresif biasanya terjadi pada remaja. Remaja biasanya mudah berubah, tidak menaruh hormat, dan tidak terduga dalam bersikap di kehidupannya (Lein dan O’Donnell, 1989). Remaja pun memiliki sikap yang tidak tenang, gelisah, kurang dan suka bekerja, ingin selalu menentang lingkungan, kebutuhan tidur yang besar, dan adanya sikap yang pesimis (Ahmadi dan Sholeh, 2005). Menurut Hanif (2005) keinginan untuk menunjukkan eksistensi dirinya dan pencarian jati diri kadang membuat mereka berperilaku negatif secara berlebihan, serta dapat membahayakan diri mereka atau orang lain.

Perkembangan tingkah laku agresif pada anak dipengaruhi oleh orangtuanya melalui pengontrolan pengalaman frustrasi anak dan juga cara orangtua memberikan penguatan ataupun hukuman terhadap tingkah laku agresif (Riadi 2006). Oleh sebab itu, agresivitas terbagi dalam empat bentuk, yaitu agresi fisik, agresi verbal, agresi kemarahan, dan agresi permusuhan.

(24)

agresivitas yang dikemukakan oleh Bush dan Denny (1992, dalam Deejay, 2011).

Pada penelitian ini akan lebih membahas tentang perbedaan agresivitas remaja antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja. Bush dan Denny (1992, dalam Deejay, 2011) telah mengklasifikasikan agresivitas dalam empat bentuk, yaitu agresi fisik, agresi verbal, agresi kemarahan, dan agresi permusuhan. Dalam agresi fisik ini lebih mengarah pada bentuk perilaku agresif yang dilakukan dengan menyerang secara fisik untuk tujuan melukai atau membahayakan seseorang, Agresi verbal ialah suatu bentuk agresivitas dengan kata-kata, misalnya umpatan, sindiran, fitnah, dan sarkasme. Agresi kemarahan merupakan bentuk indirect aggression

atau agresi tidak langsung yang berupa perasaan benci kepada orang lain, sedangkan agresi permusuhan adalah komponen kognitif dalam agresivitas yang terdiri atas perasaan ingin menyakiti dan ketidakadilan. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja.

B. Rumusan Masalah

(25)

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada perkembangan ilmu pengetahuan untuk melihat perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja.

b. Bagi peneliti, penelitian ini dapat dipakai sebagai masukan untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja.

2. Manfaat Praktis

(26)

7

BAB II

DASAR TEORI

A. Agresivitas

1. Pengertian Agresivitas

Kata agresivitas memiliki kata dasar agresi yang seringkali di sama artikan dengan agresif. Istilah agresif seringkali di gunakan secara luas untuk menerangkan sejumlah besar tingkah laku yang memiliki dasar motivasional yang berbeda-beda. Agresif menurut Baron (dalam Koeswara, 1988 :5) adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut. Dollar dan Miler (dalam Sarwono, 1988) mengatakan bahwa agresi merupakan pelampiasan dari perasaan frustrasi. Berkowitz (dalam Koeswara, 1988 :5) mengatakan bahwa agresi sebagai emosi yang bisa mengarah kepada tindakan agresif.

(27)

Moore dan Fine (1968, dalam Koeswara, 1988 :5) agresi adalah tingkah laku kekerasan secara fisik ataupun verbal terhadap individu lain atau terhadap objek-objek.

Berdasarkan pengertian agresi yang telah didefinisikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tingkah laku agresi merupakan tingkah laku pelampiasan dari perasaan frustrasi untuk mengatasi perlawanan dengan kuat atau menghukum orang lain, yang ditujukan untuk melukai pihak lain secara fisik maupun psikologis pada orang lain yang dapat dilakukan secara fisik maupun verbal.

2. Bentuk-Bentuk Agresivitas

Bush dan Denny (1992,dalam Deejay, 2011) mengklasifikasikan agresivitas dalam empat bentuk, yaitu agresi fisik, agresi verbal, agresi kemarahan, dan agresi permusuhan. Agresi fisik dan agresi verbal mewakili komponen motorik dalam agresivitas, sedangkan agresi kemarahan dan agresi permusuhan mewakili komponen afektif dan kognitif dalam agresivitas. Bentuk-bentuk agresivitas, yaitu:

a. Agresi fisik (physical aggression)

(28)

b. Agresi verbal (verbal aggression)

Agresivitas dengan kata-kata yang dapat menyakiti atau melukai orang lain. Agresi verbal dapat berupa umpatan, sindiran, fitnah, dan sarkasme.

c. Agresi kemarahan (anger)

Suatu bentuk indirect aggression atau agresi tidak langsung berupa perasaan benci kepada orang lain maupun sesuatu hal atau karena seseorang tidak dapat mencapai tujuannya. Misalnya, membenci sesuatu yang dimiliki atau diperoleh orang lain dan mudah marah jika keinginan tidak tercapai.

d. Agresi permusuhan (hostility)

Komponen kognitif dalam agresivitas yang terdiri atas perasaan ingin menyakiti dan ketidakadilan. Misalnya, agresi yang berupa perasaan negatif terhadap orang lain yang muncul karena perasaan tertentu (curiga dan cemburu).

3. Faktor-faktor Pengarah dan Pencetus Agresi

Koeswara (1988) menyatakan bahwasanya terdapat beberapa faktor yang menjadi pengarah dan pencetus terjadinya perilaku agresi, yaitu :

a) Frustrasi

(29)

mencapai tujuan. Artinya, frustrasi bisa mengarahkan individu kepada bertindak agresi karena frustrasi itu bagi individu merupakan situasi yang tidak menyenangkan dan dia ingin mengatasi atau menghindarinya dengan berbagai cara, termasuk cara agresif.

b) Stres

Engle (1953, dalam Koeswara, 1988) mengajukan bahwa stres itu meliputi sumber-sumber stimulasi internal dan eksternal: “Stres menunjuk kepada segenap proses, baik yang bersumber pada kondisi-kondisi internal maupun lingkungan eksternal yang menuntut penyesuaian atas organisme. Oleh karena itu, stres dapat dibagi menjadi dua bagian sesuai dengan situasi yang sedang terjadi, yakni stres eksternal dan stres internal.

i. Stres eksternal

Stress eksternal adalah suatu tingkah laku yang mengarah pada kekerasan atau agresi, perubahan-perubahan sosial dan memburuknya kondisi perekonomian memberikan andil terhadap peningkatan tingkah laku tersebut.

ii. Stres internal

Stres internal adalah suatu tingkah laku tak terkendali yang di dalamnya terdapat agresi, dimana stres internal itu muncul dikarenakan banyaknya stres eksternal yang datang

(30)

c) Deindividuasi

Dunn dan Rogers (1979, dalam Koeswara, 1988), Diener (1980, dalam Koeswara, 1988), Mann, Newton dan Innes (1982, dalam Koeswara, 1988) mengungkapkan bahwa deindividuasi memiliki efek memperbesar keleluasaan individu untuk melakukan agresi dikarenakan deindividuasi menyingkirkan atau mengurangi peranan beberapa aspek yang terdapat pada individu, yakni identitas diri atau personalitas individu pelaku maupun identitas diri korban agresi, dan keterlibatan emosional individu pelaku agresi terhadap korbannya.

d) Kekuasaan dan kepatuhan

(31)

e) Efek senjata

Sejarah mencatat bahwa sejak ditemukan senjata agresi

intraspecies pada manusia menjadi lebih efektif dan efisien maka data dan fakta yang aktual pun menunjukkan bahwa modernisasi, peningkatan produksi, dan penyebaran senjata konvensional memberikan andil besar secara terus-menerus terhadap berlangsungnya konflik-konflik lokal dan regional. Senjata api beredar luas dengan mudah di dalam kehidupan masyarakat dikarenakan tidak adanya persyaratan-persyaratan khusus yang menekankan akan hal kepemilikan senjata api. Oleh karena itu, frekuensi kejadian agresi dengan menggunakan senjata api rata-rata tinggi, jauh lebih tinggi daripada frekuensi kejadian agresi dengan menggunakan senjata api di masyarakat-masyarakat yang pemerintahnya membatasi peredaran dan pemilikan senjata api secara ketat.

f) Provokasi

(32)

g) Alkohol dan obat-obatan

Komisi pengawasan obat-obatan nonmedis di Amerika Serikat (1973, dalam Koeswara, 1988) mengungkapkan bahwa seseorang yang minum alkohol secara berlebihan akan mengarahkannya kepada kemunculan tindak kekerasan atau agresi. Obat-obatan yang termasuk kategori psikoaktif

(psychoactive drugs) mengarahkan para pemakainya kepada bertindak agresif disebabkan oleh pemakaian obat-obatan tersebut mengurangi kendali diri sekaligus menstimulasi keleluasaan bertindak.

4. Dampak Agresi

Seorang wanita yang pada masa kanak-anaknya mengalami perlakuan fisik dan seksual sehingga pada masa dewasanya (18 – 44 tahun) ia akan cenderung menjadi depresif, mempunyai harga diri yang rendah, menjadi korban serangan seksual, dan cenderung terlibat dalam penyalahgunaan obat (Fox & Gilbert, 1994 dalam Morgan, 1986).

B. Remaja

(33)

tinggi, dan berat badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti; pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada masa remaja awal (12 – 14 tahun) ini cenderung ditandai oleh sifat-sifat negatif dengan gejalanya seperti tidak tenang, kurang suka bekerja, pesimistis, ingin selalu menentang lingkungan, menarik diri dari masyarakat, serta adanya kebutuhan yang besar untuk tidur (Ahmadi dan Sholeh, 2005).

C. Status Kerja Ibu

a. Ibu Bekerja

Hoffman (dalam Santrock 2002) ibu-ibu bekerja adalah suatu bagian dari modern. Hal itu bukan suatu aspek kehidupan yang menyimpang dari kebiasaan, tetapi suatu tanggapan terhadap perubahan-perubahan sosial lain, sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh ideal keluarga sebelumnya akan ibu rumah tangga yang bekerja purna waktu. Hal itu bukan hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan orangtua, tetapi dalam banyak cara hal itu dapat menjadi pola yang lebih baik yang cocok untuk mensosialisasikan anak-anak akan peran-peran yang akan mereka laksanakan nantinya.

(34)

mereka yang pulang dari sekolah. Sehingga, keberadaan ibu di rumah bersama anak-anak menjadi lebih sedikit.

Sedikitnya waktu perjumpaan antara ibu dan anak (12 – 14 tahun), membuat ibu cenderung bersikap tak acuh dan mengajarkan kedisiplinan secara ketat (keras) terhadap anak mereka untuk mengontrol anak itu sendiri. Kebutuhan-kebutuhan anak yang sedang tumbuh memaksa ibu melonggarkan cengkeramannya atas anak, dan tugas untuk melonggarkan cengkeraman secara langsung ini pun mungkin lebih mudah bagi ibu-ibu bekerja yang pekerjaannya merupakan sumber tambahan identitas dan harga diri (Santrock, 2002).

b. Ibu Tidak Bekerja

(35)

menampilkan tingkah laku asertif dan efektif dalam berinteraksi dengan teman-temannya.

Rieny Hassan (Kompas.com, Selasa: 1/02/2011) mengatakan bahwa ibu dengan berstatus tidak bekerja itu sangat baik untuk menciptakan situasi ideal dan mempunyai peluang yang besar bagi proses tumbuh kembang anak dimana ibu bisa lebih optimal dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anaknya. Rieny Hassan juga mengatakan bahwa attachment berupa belaian dan sentuhan-sentuhan fisik sangat dibutuhkan anak, terutama pada masa-masa awal kehidupannya. Lewat sentuhan-sentuhan ini akan tercipta kehangatan, kedekatan, kenyamanan, dan sekaligus memperkokoh basic trust pada anak.

(36)

tambahan identitas dan harga diri. Ibu tidak bekerja adalah salah satu cara untuk memiliki kedekatan dan kelekatan yang erat terhadap anak. Hal ini didukung oleh terciptanya peluang yang besar bagi proses tumbuh kembang anak dimana ibu bisa lebih optimal dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anaknya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ibu tidak bekerja jauh lebih baik dan efisien dalam tumbuh kembang karakteristik seorang anak.

D. Perbedaan Agresivitas Remaja yang memiliki Ibu Bekerja Dan

Remaja yang memiliki Ibu Tidak Bekerja

Keluarga adalah lingkungan sosial yang terdekat bagi anak (12 – 14 tahun) dalam pembentukan kepribadiannya, khususnya sikap dari ibu yang sangat dekat dan berarti bagi anak. Sikap ibu yang sangat dekat dan berarti bagi anak mengambil andil yang sangat besar dalam perkembangan kepribadian kepribadian anak, terlebihnya pada ibu bekerja maupun ibu tidak bekerja (Lein dan O’Donnell, 1989).

(37)

perubahan sikap, tidak menaruh hormat, dan tidak terduga dalam bersikap di dalam kehidupannya (Lein dan O’Donnell, 1989). Oleh karena itu, ibu bekerja pun akan lebih cenderung bersikap tegas dan ketat (keras) dalam melakukan pengontrolan pada anaknya (Lein dan O’Donnell).

Pengontrolan yang dilakukan oleh ibu bekerja pada anak lebih cenderung mengarah pada sikap yang keras dan adanya perlakuan kejam (menampar, mencaci maki, dan memperlakukan salah). Oleh karena itu, perlakuan kejam (menampar, mencaci maki, dan memperlakukan salah) yang didapatkan oleh anak dari orangtuanya akan membuat anak cenderung menjadi sangat agresif, yang pada gilirannya menjadi orang dewasa yang agresif pula (Horton dan Hunt, 1984, dalam Suyanto, 2010).

(38)

kembang anak dikarenakan ibu bisa lebih optimal dalam merawat, mengasuh, dan mendidik anaknya.

Bush dan Denny (1992, dalam Deejay, 2011) mengklasifikasikan agresivitas dalam empat bentuk, yaitu agresi fisik, agresi verbal, agresi kemarahan, dan agresi permusuhan. Dalam agresi fisik ini lebih mengarah pada bentuk perilaku agresif yang dilakukan dengan menyerang secara fisik untuk tujuan melukai atau membahayakan seseorang, Agresi verbal ialah suatu bentuk agresivitas dengan kata-kata, misalnya umpatan, sindiran, fitnah, dan sarkasme. Agresi kemarahan merupakan bentuk

indirect aggression atau agresi tidak langsung yang berupa perasaan benci kepada orang lain, sedangkan agresi permusuhan adalah komponen kognitif dalam agresivitas yang terdiri atas perasaan ingin menyakiti dan ketidakadilan.

(39)

E. Skema

Gambar 1. Bagan Dinamika Perbedaan Agresivitas Remaja

Remaja Yang Memiliki Ibu Bekerja Dan Remaja Yang Memiliki Ibu

(40)

F. Hipotesis

(41)

22

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian komparatif. Penelitian bersifat komparatif yaitu penelitian yang berupaya mencari ada tidaknya perbedaan antara dua kelompok. Penelitian ini bermaksud untuk mencari ada tidaknya perbedaan agresivitas remaja antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja.

B. Identifikasi Variabel

Variabel tergantung : agresivitas

Variabel bebas : status pekerjaan ibu

C. Definisi Operasional

Definisi operasional dari masing-masing variabel adalah: 1. Agresivitas

(42)

untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat agresivitas. Tinggi rendahnya tingkat agresivitas akan tampak terlihat dari skor total yang diperoleh pada skala agresivitas. Jika skor total yang diperoleh pada skala agresivitas itu tinggi maka hal ini menunjukkan bahwa tingkat agresivitas remaja tersebut tinggi, sebaliknya apabila skor total yang diperoleh pada skala agresivitas rendah, maka hal itu menunjukkan bahwa agresivitas remaja tersebut rendah. Skala Agresivitas ini dibuat dengan melihat pada teori yang dikemukakan oleh Bush dan Denny (1992) bahwa agresi dapat muncul dalam berbagai bentuk, yaitu : a. Agresi fisik (physical Agression)

Bentuk perilaku agresi yang dilakukan dengan menyerang secara fisik dengan tujuan untuk melukai atau membahayakan seseorang. Perilaku agresif ini ditandai dengan terjadinya kontak fisik antara aggressor dan korbannya, seperti memukul seseorang dengan benda atau tangan kosong, dan berkelahi. b. Agresi verbal (verbal aggression)

Agresivitas dengan kata-kata yang dapat menyakiti atau melukai orang lain. Agresi verbal dapat berupa umpatan, sindiran, fitnah, dan sarkasme.

c. Agresi kemarahan (anger)

(43)

Misalnya, membenci sesuatu yang dimiliki atau diperoleh orang lain dan mudah marah jika keinginan tidak tercapai.

d. Agresi permusuhan (hostility)

Komponen kognitif dalam agresivitas tang terdiri atas perasaan ingin menyakiti dan ketidakadilan. Misalnya, agresi yang berupa perasaan negatif terhadap orang lain yang muncul karena perasaan tertentu (curiga dan cemburu).

2. Ibu Bekerja Dan Ibu Tidak Bekerja

Ibu bekerja adalah ibu – ibu yang melakukan aktifitas ekonomi mencari penghasilan baik di sektor formal maupun informal, yang dilakukan secara reguler di luar rumah.

Ibu tidak bekerja adalah ibu – ibu yang tidak melakukan pekerjaan mencari penghasilan dan hanya menjalankan fungsi sebagai ibu rumah tangga saja.

D. Subjek Penelitian

Pada penelitian ini, subjek yang akan diambil adalah anak remaja sekolah menengah pertama baik laki-laki maupun perempuan. Usia subjek penelitian ini berkisar antara 12 – 14 tahun.

(44)

Selanjutnya, dikatakan bahwa subjek pada usia 12 – 14 tahun ini masuk dalam masa negatif prestasi, baik prestasi jasmani maupun prestasi mental, negatif dalam sikap sosial, baik dalam bentuk menarik diri dalam masyarakat (negatif positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negatif aktif).

E. Sampling

Sampling penelitian dalam penelitian ini menggunakan model

purposive sampling, yaitu pemilihan subjek berdasarkan atas ciri – ciri atau sifat tertentu yang dianggap memiliki kesamaan ciri – ciri atau sifat – sifat dari populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Jumlah sample yang akan diambil adalah 80 orang subjek.

F. Metode dan Alat Pengumpulan Data

Alat Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Agresivitas dengan menggunakan model Skala Likert.

(45)

1. Agresi fisik (physical aggression)

Bentuk perilaku agresi yang dilakukan dengan menyerang secara fisik dengan tujuan untuk melukai atau membahayakan seseorang. Perilaku agresif ini ditandai dengan terjadinya kontak fisik antara aggressor dan korbannya, seperti memukul seseorang dengan benda atau tangan kosong, dan berkelahi.

2. Agresi verbal (verbal aggression)

Agresivitas dengan kata-kata yang dapat menyakiti atau melukai orang lain. Agresi verbal dapat berupa umpatan, sindiran, fitnah, dan sarkasme.

3. Agresi kemarahan (anger)

Suatu bentuk indirect aggression atau agresi tidak langsung berupa perasaan benci kepada orang lain maupun sesuatu hal atau karena seseorang tidak dapat mencapai tujuannya. Misalnya, membenci sesuatu yang dimiliki atau diperoleh orang lain dan mudah marah jika keinginan tidak tercapai.

4. Agresi permusuhan (hostility)

(46)

Berdasarkan teori-teori tersebut, kemudian peneliti menyusun 60 butir pernyataan yang terdiri 30 butir pernyataan favorable dan 30 butir pernyataan unfavorable. Pernyataan-pernyataan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1

Blue Print Skala Agresivitas Sebelum Seleksi Item

No. Faktor

Nomor Item Jumlah Bobot

Favorable Unfavorable

1. Agresi Fisik 1, 9, 17, 25, 8, 16, 24, 32, 15 25% 33, 41, 49 40, 48, 56, 57

2. Agresi Verbal 3, 11, 19, 27, 6, 14, 22, 30, 15 25% 35, 43, 51 38, 46, 54, 59

3. Agresi Kemarahan 5, 13, 21, 29, 4, 12, 20, 28, 15 25% 37, 45, 53, 60 36, 44, 52

4. Agresi Permusuhan 7, 15, 23, 31, 2, 10, 18, 26, 15 25% 39, 47, 55, 58 34, 42, 50

Total 60 100%

Skala Agresisivitas terdiri dari pernyataan favorable dan

(47)

Sangat setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Pada pernyataan favorable, jawaban Sangat Setuju (SS) akan mendapat skor 4, jawaban Setuju (S) akan mendapat skor 3, jawaban Tidak Setuju (TS) akan mendapat skor 2, dan jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) akan mendapat skor 1. Pada pernyataan favorable skor tinggi mengindikasikan bahwa subjek cenderung mengalami agresivitas sedangkan jawaban rendah mengindikasikan bahwa subjek cenderung tidak mengalami agresivitas.

Tabel 2

Skor Butir – Butir Favorable Skala Agresivitas

Respon Skor

Sangat Setuju 4 Setuju 3 Tidak Setuju 2 Sangat Tidak Setuju 1

(48)

sedangkan jawaban rendah mengindikasikan bahwa subjek cenderung mengalami agresivitas.

Tabel 3

Skor Butir – Butir Unfavorable Skala Agresivitas

Respon Skor

Sangat Setuju 1 Setuju 2 Tidak Setuju 3 Sangat Tidak Setuju 4

G. Kredibilitas Alat Ukur

1. Validitas Isi

(49)

aitem telah sesuai dengan aspek yang hendak diungkap. Selanjutnya, melakukan pengecekan pada aspek – aspek, untuk mengetahui apakah sudah dapat menggambarkan variabel yang akan diukur. Validitas ini juga menunjukkan sejauhmana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (Azwar, 2007).

2. Uji Reliabilitas

Menurut Suparno (2007) reliabilitas suatu alat menunjuk pada level konsistensi internal dari alat ukur sepanjang waktu. Uji reliabilitas ini untuk mengetahui sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Pada penelitian ini koefisien reliabilitas untuk Kuesioner Agresivitas Remaja dinyatakan dengan Alpha Cronbach

antara 0-1,00. Peneliti menggunakan metode Alpha Cronbach karena koefisien reliabilitas yang diperoleh berdasarkan perhitungan terhadap data empiris dari sekelompok subjek pada dasarnya hanya merupakan uji saja dari reliabilitas yang sesungguhnya.

3. Seleksi aitem

(50)

ditulis memiliki social desirability yang tinggi. Seleksi aitem dilakukan berdasarkan daya diskriminasi atau daya beda.

Daya beda aitem digunakan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan subjek pada aspek yang hendak diukur oleh tes yang bersangkutan. Pengujian daya beda dilakukan dengan komputasi koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap aitem dengan suatu kriteria yang relevan yaitu distribusi skor total itu sendiri. Pengujian konsistensi aitem total ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total ( ). Pada indeks daya beda aitem memiliki batasan 0,3 sebagai kriteria. Aitem yang memiliki korelasi di atas 0,3 (>0,3) dianggap memenuhi kriteria sebagai aitem yang baik, sedangkan aitem yang berkorelasi kurang dari 0,3 (<0,3) akan digugurkan (dalam Azwar, 2009). Apabila jumlah aitem yang lolos ternyata masih tidak mencukupi dari jumlah yang diinginkan, maka dapat dipertimbangkan untuk menurunkan sedikit batas kriteria 0,30 menjadi 0,25 (Azwar, 2009).

4. Hasil Uji Skala

1. Uji Reliabilitas

(51)

2. Uji Daya Beda Aitem

(52)

Tabel 4

Blue Print Skala Agresivitas Setelah Uji Coba

No. Faktor

Nomor Item Jumlah Bobot

Favorable Unfavorable

1. Agresi Fisik 1, 9, 17, 25, 8, 16, 24, 32, 8 20,51% 33, 41, 49 40, 48, 56, 57

2. Agresi Verbal 3, 11, 19, 27, 6, 14, 22, 30, 9 23,07% 35, 43, 51 38, 46, 54, 59

5. Agresi Kemarahan 5, 13, 21, 29, 4, 12, 20, 28, 10 25,64% 37, 45, 53, 60 36, 44, 52

4. Agresi Permusuhan 7, 15, 23, 31, 2, 10, 18, 26, 12 30,76% 39, 47, 55, 58 34, 42, 50

Total 39 100%

Keterangan : Angka yang dicetak tebal adalah item yang gugur dalam penelitian.

H. Teknik Analisis Data

1. Uji Normalitas

(53)

dinyatakan tidak normal. Uji normalitas dilakukan dengan One Sample Kolmogorof Smirnov dengan menggunakan program SPSS 17 For Windows.

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah varians dari sampel yang akan diuji mempunyai varians yang sama atau tidak. Uji homogenitas variansi ini dilakukan dengan menggunakan program SPSS 17 For Windows yaitu melalui Leven’s Test For Equality of Variance. Apabila nilai probabilitasnya lebih besar dari 0,05 (p > 0,05) maka ibu bekerja dan ibu tidak bekerja mempunyai varians yang sama dan jika nilai probabilitasnya kurang dari 0,05 (p < 0,05) maka ibu bekerja dan ibu tidak bekerja mempunyai varians yang berbeda.

3. Uji Hipotesis

(54)

35

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

1. Persiapan Penelitian

Pengambilan data dilakukan di SMP NEGERI 3 DEPOK, peneliti meminta ijin untuk mengambil data pada dosen pembimbing skripsi dan Kepala Sekolah SMP NEGERI 3 DEPOK yang mengepalai sekolah tersebut. Peneliti menggunakan surat perizinan yang dikeluarkan oleh pihak Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Surat Permohonan Ijin Penelitian untuk Skripsi dengan nomor: 76C/D/KP/Psi/USD/IX/2012, tertanggal 20 September 2012, ditujukan kepada Kepala Sekolah SMP NEGERI 3 DEPOK dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Pemerintah Kabupaten Sleman).

2. Proses Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2012 sampai 2 Oktober 2012. Peneliti mengambil data pada siswa-siswi kelas VII dan VIII yang masuk dalam kriteria subjek penelitian. Pada penelitian ini peneliti menggunakan try out (uji coba) terpakai dimana dalam penelitian ini hanya memperlakukan sampel try out sebagai sampel penelitian yang sesungguhnya. Alasan peneliti melakukan try out

(55)

(prosedur) dari pihak sekolah dikarenakan padatnya aktivitas sekolah pada siswa-siswi untuk melakukan persiapan terhadap ujian sekolah.

Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara meminta subjek untuk mengisi jawaban pada kuesioner yang berisi 1 skala, uaitu: skala agresivitas. Peneliti membagikan 80 skala pada subjek dan skala tersebut kembali dengan jumlah 63 skala pada peneliti. Pada saat pengolahan data, peneliti memilih skala yang sesuai dengan kriteria dalam penelitian sehingga terkumpul dalam jumlah 30 skala pada anak yang memiliki ibu bekerja dan 30 skala pada anak yang memiliki ibu tidak bekerja. Dalam penelitian ini melibatkan 80 subjek. Skala yang tidak sesuai dengan kriteria subjek dalam penelitian termasuk skala yang gugur. Skala yang gugur dikarenakan subjek memiliki usia diluar dari kriteria dalam penelitian, yaitu 12 – 14 tahun. Selain itu, beberapa subjek mengerjakan skalanya dengan tidak serius dan diantaranya yang lain memberikan centangan dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju yang dimulai dari pernyataan pertama sampai dengan yang terakhir, serta adanya skala yang tidak diisi lengkap oleh subjek.

3. Data Demografis Subjek Penelitian

(56)

-siswi kelas VII dan VIII. Pada remaja yang memiliki ibu bekerja, subjek yang berusia 12 sebanyak 1 atau sebesar 3,33%. Subjek yang berusia 13 tahun sebanyak 20 atau 66,67%. Subjek yang berusia 14 tahun sebanyak 9 atau 30%. Sedangkan, remaja yang memiliki ibu tidak bekerja, subjek yang berusia 12 tahun tidak ada atau sebesar 0%. Subjek yang berusia 13 tahun sebanyak 26 atau sebesar 86,67%. Subjek yang berusia 14 tahun sebanyak 4 atau sebesar 13,33% (lihat tabel 5).

Tabel 5

Data Usia Subjek Pada Remaja yang memiliki Ibu Bekerja dan Data

Usia Subjek Pada Remaja yang memiliki Ibu Tidak Bekerja

Remaja yang memiliki Remaja yang memiliki Ibu Bekerja Ibu Tidak Bekerja

Usia Jumlah Persentase Usia Jumlah Persentase

12 1 3,33% 12 0 0% 13 20 66,67% 13 26 86,67% 14 9 30% 14 4 13,33% Jumlah 30 100% Jumlah 30 100%

(57)

laki-laki sebanyak 4 atau sebesar 13,33%. Sedangkan, subjek yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 26 atau sebesar 86,67% (lihat tabel 6).

Tabel 6

Data Jenis Kelamin Subjek Pada Remaja yang memiliki Ibu Bekerja

dan Data Jenis Kelamin Subjek Pada Remaja yang memiliki Ibu

Tidak Bekerja

Remaja yang memiliki Pada Remaja yang memiliki Ibu Bekerja Ibu Tidak Bekerja

Jenis Kelamin Jumlah Persentase Jenis Kelamin Jumlah Persentase

Laki-laki 5 16,67% Laki-laki 4 13,33% Perempuan 25 83,33% Perempuan 26 86,67% Jumlah 30 100% Jumlah 30 100%

B. Hasil Penelitian

1. Uji Asumsi

a. Uji Normalitas

1) Hasil uji normalitas dari remaja yang memiliki ibu bekerja dinyatakan normal (z=0,676 dan p=0,750).

2) Hasil uji normalitas dari remaja yang memiliki ibu tidak bekerja dinyatakan normal (z=0,453 dan p=0,987).

b. Uji Homogenitas

(58)

varians yang sama dan berasal dari populasi yang sama (F=0,14 dan p=0,908).

2. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan setelah melakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Penghitungan uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T-Test dengan bantuan program

SPSS 17.0 for Windows. Berdasarkan hasil uji hipotesis dan tabel Uji-t di atas tampak bahwa T hitung sebesar 0,710 sedangkan nilai p diperoleh angka sebesar 0,481 (lihat lampiran 3). Sehingga, hipotesis dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa ada perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja ditolak.

C. Pembahasan

(59)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja. Maka daripada itu, dapat dikatakan bahwa perbedaan status kerja ibu tidak berpengaruh terhadap munculnya suatu agresivitas pada anak yang diasuhnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Berardo, Shehan, dan Leslie (1987, dalam Lemme, 1995) menyatakan bahwa ibu bekerja akan tetap mempertahankan tanggung jawabnya atas sebagian besar pekerjaan rumah tangga yang harus ia kerjakan. Disamping itu, sejumlah peneliti (Maret & Finlay, 1984; Scanzoni, 1978, dalam Lemme, 1995) pun menyatakan bahwa pasangan dengan kekuatan produktif lebih besar juga memiliki daya tawar yang lebih banyak dan lebih besar dalam pembagian kerja dalam negeri dan hal-hal lainnya. Disamping itu, ibu bekerja juga akan tetap memberi kehangatan bagi keluarga, khususnya memberikan perhatian dan kasih sayang yang cukup bagi anak. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa anak dari ibu bekerja pun memiliki pribadi dan karakter yang baik dalam bermasyarakat.

(60)
(61)

42

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan agresivitas remaja yang memiliki ibu bekerja dan remaja yang memiliki ibu tidak bekerja dikarenakan hasil yang didapatkan dalam analisis data itu tidak signifikan (p > 0,05).

B. Saran

1. Bagi Peneliti Selanjutnya

(62)

43

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A., & Sholeh, M. (2005). Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.

Azwar, S. (2007). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2009). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Berk, L. E. (1994). Child Development, Third Edition. United States of America.

Boston, London, Toronto, Sydney, Tokyo, Singapore.

Berkowitz, L. (1995). Agresi I: Sebab dan Akibatnya. Jakarta Pusat: PT Pustaka Binarman Pressindo, Anggota IKAPI.

Blackham, G. J., & Silberman, A. (1971). Modification of Child Behavior. Wadsworth Publishing Company, Inc.Belmont, California.

Canfield, J., Hansen, M. V., Meyer, P. J, Chesser, B. R., Seeger, A. (2003).

Chicken Soup for the Golden Soul. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Gunarsa, S. D. (1981). Dasar Dan Teori Perkembangan Anak. Jakarta. BPK Gunung Mulia.

Gunarsa, S. D. (1995). Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta: Gunung Mulia, 1995. Koeswara, E. (1988). Agresi Manusia. Bandung: ROSDA OFFSET.

Lein, L., & O’Donnell, L. (1989). Anak Bagaimana Mengasuh Anak Dan Pengaruh Anak Bagi Kehidupan Orangtuanya. The Westminster Press, Philadelphia, Pennsylvania. PENERBIT KANISIUS YOGYAKARTA (Anggota IKAPI).

Lemme, B. H. (1995). Development In Adulthood. Needham Height, MA 02194. A Simon & Schuster Company, USA.

Monks, F. J., Knoers, A. M. P., & Haditono, S. R. (1987). Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Gajah Mada University-Yogyakarta.

(63)

Pidekso, A. (2009). SPSS 17 Untuk Pengolahan Data Statistik. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.

Santrock, J. W. (2002). Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Edisi 5, Jilid I. Penerbit Erlangga.

Soesilowindradini. Psikologi Perkembangan Masa Remaja. Usaha Nasional. Surabaya-Indonesia.

Suparno, P. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Fisika. Yogyakarta. Penerbit Universitas Sanata Dharma.

Suyanto, B. (2003). Masalah Sosial Anak. Jakarta: Kharisma Putra Utama.

Vandenbos, G. R. (2010). Publication manual of the American Psychological Association. -6 th ed. Covent Garden, London.

Walgito, B. (1990). Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Penerbit ANDI OFFSET, Yogyakarta.

Wojowasito, S., & Titowasito. (1980). KAMUS LENGKAP: Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris. Penerbit HASTA BANDUNG.

Yusuf, L. N. (2008). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Agresivitas Anak. 2 Januari 2012. Diunduh 16 Desember 2012 dari http://cyber.unissula.ac.id/journal/dosen/publikasi/210700011/4179titin agresivitas.pdf

Agresi Anak Yang Tinggal Dalam Keluarga Dengan Kekerasan Rumah Tangga. 2 November 2010. Diunduh 16 Februari 2012 dari

http://www.google.co.id

Akibat Wanita Bekerja Di Luar Rumah. 27 Januari 2011. Diunduh 25 November 2011 dari http://sekarsaripratiti.wordpress.com/2011/01/27/ketika-wanita-bekerja-di-luar-rumah/

Hubungan Antara Ibu Bekerja Dengan Tumbuh Kembang Anak. 21 September 2010. Diunduh 18 Maret 2012 dari http://www.google.com/

Hubungan Pola Asuh Dengan Kejadian Skizofrenia Di Ruang Sakura RSUD Banyumas. 12 Juni 2011. Diunduh 16 Februari 2012 dari

(64)

Ibu Tak Bekerja, Anak Lebih Sehat. 20 September 2010. Diunduh 25 November 2012 dari http://childrenclinic.wordpress.com/2010/09/20/ibu-tak-bekerja-anak-lebih-sehat/

Ironis, Kekerasan terhadap Anak Terjadi di Sekolah. 11 februari 2010. Diunduh 20 Maret 2012 dari http://edukasi.kompas.com/read

Kekerasan di Media Televisi. 01 Oktober 2012. Diunduh 16 Desember 2012 dari

http://www.kpi.go.id/component/content/article/14-dalam-negeri-Pengertian Agresi. 19 November 2010. Diunduh 23 Maret 2012 dari

https://www.google.com/search?hl=id&tbo=d&output=search&sclient =psy-ab&q=pengertian+agresi&btnK=

Pengertian Pola Asuh Orang Tua Dan Kepribadian. 14 Maret 2011. Diunduh 27 Oktober 2011 dari http://viliajeny.blogspot.com/2011/03/tipologi-pola-asuh.html

Perbedaan Tingkat Agresivitas Pada Siswa SMU Muhammadiyah I Yogyakarta Berdasar Pada Pola Asuh Dan Jenis Pekerjaan Orang Tua. 9 Februari 2010. Diunduh 20 Februari 2012 dari http://www.google.co.id

(65)
(66)
(67)

1.1Skala Agresivitas Sebelum Dilakukan Uji Coba

SKALA PENELITIAN

Disusun oleh :

Waldimer Pasaribu

089114124

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(68)

Kepada :

Yth. Saudara yang turut berpartisipasi dalam penelitian ini.

Dengan hormat, saya :

Nama / NIM : Waldimer Pasaribu / 089114124

Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir, saya bermaksud mengadakan penelitian. Oleh karena itu, saya membutuhkan sejumlah data, yang hanya akan saya peroleh dengan adanya kerjasama dari Anda dalam mengisi skala berikut ini. Skala ini terdiri dari dua bagian yakni data pribadi, yang berisi sejumlah pertanyaan mengenai anda dan 1 buah skala yang berisi sejumlah pernyataan.

Dalam mengisi skala ini tidak ada jawaban yang benar atau salah. Yang saya harapkan adalah jawaban yang paling mendekati Anda atau keadaan Anda sesungguhnya. Oleh karena itu, saya harap Anda bersedia memberi jawaban Anda sendiri dan sejujur-jujurnya. Semua jawaban Anda akan terjaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini saja.

kerja sama Anda dalam menjawab pernyataan pada skala ini merupakan kerjasama yang amat besar artinya bagi keberhasilan penelitian ini. Atas bantuannya, saya mengucapkan terima kasih.

Hormat saya,

(69)

Pernyataan Kesediaan

Dengan ini, saya menyatakan bahwa saya mengisi skala ini tidak dibawah paksaan atau tekanan dari pihak tertentu tetapi dengan suka rela demi membantu terlaksananya penelitian ilmiah ini.

Semua jawaban yang saya berikan merupakan murni dari apa yang saya alami, bukan berdasarkan pada pandangan masyarakat pada umumnya maka saya mengijinkan jawaban saya tersebut dapat dipergunakan sebagai data untuk penelitian ilmiah ini.

Yogyakarta, … Oktober 2012 Menyetujui,

(70)

DATA IDENTITAS SUBJEK

Inisial :

Jenis Kelamin :

Usia :

Keterangan Orangtua : a. Pekerjaan Ayah : b. Pekerjaan Ibu :

PETUNJUK PENGISIAN

Berikut ini terdapat sejumlah pernyataan, bacalah dan pahami setiap pernyataan tersebut dengan seksama. Berilah tanda centang atau cek list (√) di dalam kotak yang telah tersedia, yaitu :

SS : Bila pernyataan tersebut “Sangat Setuju” dengan diri anda.

S : Bila pernyataan tersebut “Setuju” dengan diri anda.

TS : Bila pernyataan tersebut “Tidak Setuju” dengan diri anda.

STS : Bila pernyataan tersebut “Sangat Tidak Setuju” dengan diri anda. Anda bebas untuk menentukan pilihan yang sesuai dengan diri anda sendiri, tidak ada jawaban yang benar ataupun salah karena jawaban anda mencerminkan diri anda sendiri.

Contoh cara pengisian :

Pernyataan SS S TS STS

Saya mampu untuk memaafkan orang yang telah menghina keluarga saya.

(71)

No. Pernyataan SS S TS STS

1. Saya lebih mudah untuk menampar kepada orang yang telah menyakiti saya.

2. Saya tidak akan melakukan balas dendam kepada orang yang telah sering menyakiti hati saya.

3. Saya akan mencaci maki orang yang menabrak sepeda saya.

6. Jika teman saya menghina keluarga saya maka saya akan tetap bersikap tenang dan tidak berlebihan merupakan sikap yang tidak adil. 9. Saya lebih memilih untuk memukul orang

yang telah menyakiti saya sebagai peringatan kepadanya daripada saya harus selalu disakiti dan dilukai olehnya.

10. Meskipun teman yang saya benci itu pernah menghina diri saya di depan teman-teman, tapi saya tetap mau peduli dan membantunya saat ia sedang membutuhkan pertolongan.

(72)

adalah perbuatan yang terpuji.

12. Saya tidak akan mudah terpengaruhi oleh hasutan teman yang mengadudombakan saya dengan orang lain.

13. Saya lebih suka memerintah yang tidak pantas dan perlu kepada orang lain.

14. Saya akan selalu mengontrol setiap perkataan yang akan saya keluarkan saat saya berbicara kepada orang yang saya benci.

15. Saya tidak akan menghadiri pesta ulang tahun teman saya dikarenakan ia mengundang saya tidak menggunakan surat undangan seperti yang ia berikan kepada teman-teman lainnya. 16. Saya tidak akan melukai seseorang yang saya

benci meskipun ia sering menyakiti dan mempermalukan saya di depan umum.

17. Saya biasanya memukul kepala teman jika dia berbuat kesalahan dalam bermain.

18. Saya akan tetap memberi perhatian kepada orang yang saya benci meskipun dia baru saja mempermalukan saya di depan umum.

19. Saya akan menggerutu bila saya tidak setuju dengan pendapat teman.

20. Menurut saya fitnah tidak lebih kejam daripada pembunuhan.

21. Karena teman telah mempermalukan saya, maka pantas jika saya memarahinya.

(73)

23. Saya akan mengejek teman saya karena dia tidak membagikan kue ultahnya kepada saya seperti yang ia berikan kepada teman-teman lainnya (1 kelas).

24. Saya tidak akan langsung menampar orang yang saya benci hanya karena dia berbuat kesalahan dalam bermain di tim saya.

25. Saya akan mencubit teman yang melakukan benci di hadapan orang banyak.

(74)

dalam bermain.

34. Meskipun seseorang teman saya pernah menyakiti hati saya, tapi saya tetap mau membantunya saat ia membutuhkan pertolongan.

35. Saya lebih spontan untuk mengeluarkan kata-kata makian yang kasar kepada orang lain jika pikiran saya sedang buntu.

36. Bila berpapasan dengan orang yang saya benci, saya akan tetap menegurnya.

37. Saya tidak akan mengerjakan tugas, jika nantinya tugas saya itu tidak dikoreksi oleh guru.

38. Saya tidak pernah mencaci maki orang yang saya benci.

39. Saya akan cenderung memaki, setiap berbicara dengan teman yang saya benci.

40. Tindakan langsung memukul orang yang menghina saya bukanlah kebiasaan yang saya lakukan.

41. Saya biasa menarik rambut teman hanya untuk kesenangan saya jika dia tidak mendengarkan saat saya sedang berbicara.

42. Saya mau untuk diajak berdiskusi dengan orang yang menyakiti hati saya.

43. Jika saya sedang letih dan jenuh, teman meminta pendapat pada saya, maka saya akan lebih spontan untuk memaki kepada teman dalam memberikan pendapat.

(75)

kesal, tapi saya akan selalu berusaha untuk tidak marah.

45. Saya akan mencoret-coret buku tulis saya dengan kata-kata umpatan disaat guru yang mengajar di kelas kami tidak saya sukai. 46. Saya selalu berbicara lembut dengan orang

yang tidak saya sukai.

47. Saya tidak mau berbicara dengan orang yang saya benci meskipun dia memaksa.

48. Saya tidak akan memukul secara berlebihan orang yang saya benci hanya karena balas dendam.

49. Jika ada teman yang berbuat kesalahan kepada orang lain dan sangat membuat saya kesal maka saya akan memarahi dan memukulnya sebagai ganjaran agar dia mengerti.

50. Saya tidak pernah mengancam orang lain demi kepentingan saya sendiri.

51. Saya lebih memilih untuk menyindir seorang teman dikarenakan dia selalu membuat ulah kepada saya.

52. Saya tidak akan membuat jebakan untuk mencelakai orang lain, khususnya orang yang tidak saya sukai.

53. Saya akan cenderung untuk mengumpat sendiri di dalam kelas jika guru yang mengajar pada mata pelajaran itu sangat membosankan. 54. Saya tidak akan menjelek-jelekkan orang yang

tidak saya sukai.

(76)

menolak ajakan makan malamnya dikarenakan ia baru saja menghina keluarga saya.

56. Menurut saya, dalam merebut bola dari lawan (orang yang saya benci) dengan cara menjegal kakinya sampai terluka adalah bukan seorang pemain bola yang baik.

57. Langsung menampar orang yang menghina saya bukanlah kebiasaan yang saya lakukan. 58. Saya akan menulis kata-kata umpatan di dalam

buku catatan teman yang telah mempermalukan saya di depan kelas.

59. Saya tetap ingin memberikan pendapat saya, pada orang yang saya benci.

(77)

1.2Skala Agresivitas Setelah dilakukan Uji Coba

No. Pernyataan SS S TS STS

1. Saya lebih mudah untuk menampar kepada orang yang telah menyakiti saya.

2. Saya tidak akan melakukan balas dendam kepada orang yang telah sering menyakiti hati saya. menghina diri saya di depan teman-teman, tapi saya tetap mau peduli dan membantunya saat ia sedang membutuhkan pertolongan.

6. Menuduh orang sebagai pencuri tanpa bukti adalah perbuatan yang terpuji.

7. Saya tidak akan mudah terpengaruhi oleh hasutan teman yang mengadudombakan saya dengan orang lain.

8. Saya lebih suka memerintah yang tidak pantas dan perlu kepada orang lain.

9. Saya akan selalu mengontrol setiap perkataan yang akan saya keluarkan saat saya berbicara kepada orang yang saya benci.

(78)

11. Saya biasanya memukul kepala teman jika dia berbuat kesalahan dalam bermain.

12. Saya akan tetap memberi perhatian kepada orang yang saya benci meskipun dia baru saja mempermalukan saya di depan umum.

13. Saya akan menggerutu bila saya tidak setuju dengan pendapat teman.

(79)

dalam bermain.

22. Meskipun seseorang teman saya pernah menyakiti hati saya, tapi saya tetap mau membantunya saat ia membutuhkan pertolongan.

23. Saya lebih spontan untuk mengeluarkan kata-kata makian yang kasar kepada orang lain jika pikiran saya sedang buntu.

26. Saya akan cenderung memaki, setiap berbicara dengan teman yang saya benci.

27. Saya biasa menarik rambut teman hanya untuk kesenangan saya jika dia tidak mendengarkan saat saya sedang berbicara.

28. Saya mau untuk diajak berdiskusi dengan orang yang menyakiti hati saya.

(80)

32. Saya tidak mau berbicara dengan orang yang saya benci meskipun dia memaksa.

33. Jika ada teman yang berbuat kesalahan kepada orang lain dan sangat membuat saya kesal maka saya akan memarahi dan memukulnya sebagai ganjaran agar dia mengerti.

34. Saya lebih memilih untuk menyindir seorang teman dikarenakan dia selalu membuat ulah kepada saya.

35. Saya akan cenderung untuk mengumpat sendiri di dalam kelas jika guru yang mengajar pada mata pelajaran itu sangat membosankan. 36. Saya tidak akan menjelek-jelekkan orang yang

tidak saya sukai.

37. Langsung menampar orang yang menghina saya bukanlah kebiasaan yang saya lakukan. 38. Saya akan menulis kata-kata umpatan di dalam

buku catatan teman yang telah mempermalukan saya di depan kelas.

(81)

2.1Tabel Reliabilitas Tahap 1 (Data Utuh)

a. Listwise deletion based on all variables in the

procedure.

2.2 Tabel Korelasi Item Total Tahap 1 (Data Utuh)

(82)
(83)

item49 111.4167 281.942 .408 . .886

2.2Tabel Reliabilitas Data Gugur Tahap 2

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 60 100.0

Excludeda 0 .0

Total 60 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the

(84)
(85)

item43 69.7667 193.063 .573 . .914

2.5Tabel Reliabilitas Data Gugur Tahap 3 (Setelah Seleksi Item)

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 60 100.0

Excludeda 0 .0

Total 60 100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the

(86)
(87)

item44 68.3000 191.332 .432 . .915

item45 68.2500 188.292 .594 . .913

item47 68.0333 189.253 .469 . .914

item49 68.2000 190.231 .480 . .914

item51 67.7667 189.402 .435 . .915

item53 68.3167 190.796 .381 . .915

item54 68.1833 193.169 .309 . .916

item57 68.3500 192.808 .304 . .916

item58 68.4000 189.431 .524 . .914

item60 68.5000 190.119 .555 . .914

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items

(88)

UJI NORMALITAS

NPar Tests

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

ibubekerja ibutidakbekerja

N 30 30

Normal Parametersa,,b Mean 71.2667 68.6667 Std.

Deviation

14.69913 13.65671

Most Extreme Differences Absolute .123 .083 Positive .123 .083 Negative -.107 -.065 Kolmogorov-Smirnov Z .676 .453 Asymp. Sig. (2-tailed) .750 .987 a. Test distribution is Normal.

(89)

UJI HOMOGENITAS

Tabel Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances

(90)

UJI HIPOTESIS

Independent-Samples Test

Group Statistics

ibu N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

agresivitas ibu bekerja 30 71.2667 14.69913 2.68368

ibu tidak bekerja 30 68.6667 13.65671 2.49336

Tabel Uji-T

Independent Samples Test

Levene's Test for Equality of

Variances t-test for Equality of Means

95% Confidence

Difference Lower Upper

(91)
(92)

Figur

Tabel 1. Blue Print Skala Agresivitas Sebelum Seleksi Item ....................  27
Tabel 1 Blue Print Skala Agresivitas Sebelum Seleksi Item 27 . View in document p.18
Gambar 1. Bagan Dinamika Perbedaan Agresivitas Remaja
Gambar 1 Bagan Dinamika Perbedaan Agresivitas Remaja . View in document p.39
 Tabel 1 Blue Print Skala Agresivitas Sebelum Seleksi Item
Tabel 1 Blue Print Skala Agresivitas Sebelum Seleksi Item . View in document p.46
Skor Butir – Butir Tabel 2 Favorable Skala Agresivitas
Skor Butir Butir Tabel 2 Favorable Skala Agresivitas . View in document p.47
Tabel 3
Tabel 3 . View in document p.48
Tabel 4
Tabel 4 . View in document p.52
tabel 5).             Tabel 5
Tabel 5 . View in document p.56
Tabel Uji Homogenitas
Tabel Uji Homogenitas . View in document p.89
Tabel Uji-T
Tabel Uji T . View in document p.90

Referensi

Memperbarui...