PENGARUH PENERAPAN METODE SRI DAN METODE KONVENSIONAL TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI (Studi Kasus Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat)

124 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH PENERAPAN METODE SRI DAN METODE

KONVENSIONAL TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI

PADI

(Studi Kasus Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat)

ERY FEBRURIANI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

2 PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Pengaruh Penerapan Metode SRI dan Metode Konvensional terhadap Pendapatan Usahatani Padi Studi Kasus: Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juni 2011

Ery Februriani H44070047

(3)

3 RINGKASAN

ERY FEBRURIANI. Pengaruh Penerapan Metode SRI dan Metode Konvensional terhadap Pendapatan Usahatani Padi (Studi Kasus Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat). Dibimbing Oleh NINDYANTORO.

Indonesia sebagai negara agraris membutuhkan penggunaan air dalam tahap budidaya padi, kebutuhannya mencapai satu per tiga total kebutuhan air selama budidaya. Pada saat ini, air kurang mencukupi bahkan tidak tersedia pada saat pengolahan tanah. Hal ini terjadi karena mundurnya musim penghujan atau musim kemarau yang terlalu panjang, sehingga debet air pada saluran irigasi menyusut atau bahkan kering. Sumber-sumber air semakin langka akibat perubahan kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan tanah menyerap dan menyimpan air. Jika kondisi demikian berlanjut dapat menyebabkan terganggunya produksi padi sehingga menghambat upaya pelestarian swasembada beras.

Cianjur merupakan kabupaten di Jawa Barat yang terkenal hasil padinya, lahan pertanian yang subur, dan pengairan terhadap lahan pertanian serta masyarakat yang dominan bekerja di sektor pertanian. Namun, tahap awal budidaya padi, yaitu saat-saat pengolahan tanah dan kebutuhan air cukup banyak. Kegiatan pengolahan tanah sawah yang selama ini dilakukan petani, terdiri dari tahap penggenangan tanah hingga tanah jenuh air, tahap pembajakan, yaitu pemecahan tanah menjadi bongkahan-bongkahan dan pembalikan tanah, tahap menggaru untuk menghancurkan dan melumpurkan tanah. Ketiga tahap tersebut membutuhkan lebih dari satu per tiga total kebutuhan air selama budidaya dan dikatakan sebagai pertanian konvensional. Penerapan System of Rice

Intensification (SRI) merupakan kegiatan dalam partisipasi yang dilakukan petani

dalam usahatani padi. Hal paling mendasar dalam budidaya SRI adalah menerapkan irigasi intermitten artinya siklus basah kering bergantung pada kondisi lahan, tipe tanah dan ketersediaan air. Selama kurun waktu penanaman lahan tidak tergenang tetapi macak-macak (basah tapi tidak tergenang). Cara ini bisa menghemat air empat puluh enam persen. Selain itu sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar tanaman. Disamping menghemat air, budidaya intensif itu juga menghemat penggunaan bibit, sebab satu lubang tanam hanya ditanam satu bibit. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi SRI dan konvensional. 2) mengidentifikasi pendapatan dan kesejahteraan usahatani padi dengan menggunakan penerapan SRI dan penerapan konvensional 3) mengidentifikasi pengaruh penerapan metode SRI terhadap lingkungan.

Usahatani padi metode SRI dan konvensional di Kabupaten Cianjur sudah berjalan cukup baik. Ini dapat disebabkan oleh penggunaan input yang efisien ataupun hasil produk yang kualitasnya baik. Hal tersebut menyebabkan perlu adanya analisis penerimaan, pengeluaran serta pendapatan dari hasil usahatani padi. Untuk meningkatkan pendapatan dan memaksimumkan profit yang didapatkan usahatani tersebut maka dibutuhkan studi mengenai elastisitas produksi untuk melihat daerah produksi usahatani tersebut yang didapat dari koefisien model fungsi Cobb Douglas.

Sebelum menganalisis elastisitas produksi terlebih dulu mencari faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi dari kedua metode tersebut. Faktor-faktor yang berpengaruh usahatani padi metode SRI adalah bibit, bokhasi,

(4)

4

pengalaman bertani, dan luas lahan sedangakan faktor-faktor yang berpengaruh usahatani padi metode konvensional adalah bibit, TKDK, tingkat pendidikan, dan luas lahan. Elastisitas produksi SRI maupun konvensional yaitu sebesar 1,608 dan 1,857. Kedua koefisien tersebut menunjukan produksi padi belum optimal, dalam kurva fungsi produksi usahatani padi pada penelitian ini termasuk kedalam daerah

produksi satu karena mempunyai elastisitas lebih dari satu sehingga berada di

daerah irrasional yang merupakan increasing return to scale.

Total pendapatan usahatani padi metode SRI sebesar Rp 2.264.709,72 sedangkan usahatani metode konvensional sebesar Rp 2.039.816,24, R/C rasio atas total biaya dari kedua metode ini sebesar 1,99 dan 2,20. Nilai tersebut dapat diartikan setiap satu rupiah yang digunakan untuk kegiatan usahatani padi SRI akan memberikan penerimaan sebesar Rp 1.990.000,00. Begitu pula dengan metode konvensional dapat diartikan setiap satu rupiah yang digunakan untuk kegiatan usahatani padi metode konvensional akan memberikan penerimaan sebesar Rp 2.200.000,00.

Secara lingkungan, padi organik dengan metode SRI lebih hemat air dan adaptif terhadap kekeringan sehingga memungkinkan dikembangkan dalam kondisi minim air. Lahan sawah yang dipupuk organik pada kasus SRI lebih tahan menyimpan air sehingga tidak cepat pecah atau mengering dibandingkan dengan yang menggunakan pupuk anorganik.

(5)

5

PENGARUH PENERAPAN METODE SRI DAN METODE

KONVENSIONAL TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI

PADI

(Studi Kasus Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat)

ERY FEBRURIANI H44070047

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)

6

Judul : Pengaruh Penerapan Metode SRI dan Metode Konvensional terhadap Pendapatan Usahatani Padi (Studi Kasus Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat)

Nama : Ery Februriani NIM : H44070047 Menyetujui Dosen Pembimbing, Ir. Nindyantoro, MSP NIP. 19620323 1990021 1 001 Mengetahui Ketua Departemen,

Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT NIP. 19660717 199203 1 003

(7)

7 UCAPAN TERIMA KASIH

Penyusunan skripsi ini banyak dibantu oleh berbagai pihak baik secara moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Allah SWT dan Rasulullah Muhammad SAW atas terselesaikannya skripsi ini. 2. Papahku (Bpk. Heru Ismoyo), Mamahku (Ibu Yuyu Yulianingsih), dan

adik-adikku (Pitra Muktia Dewi, Rika Agustin, dan Myra Melinda) yang telah memberikan curahan kasih sayang, inspirasi hidup, dan doa yang tulus.

3. Bapak Ir. Nindyantoro, M.SP sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan, motivasi, dan pengarahan kepada penulis.

4. Bapak Ir. Ujang Sehabudin dan Bapak Novindra, S.P sebagai dosen penguji yang bersedia meluangkan waktunya untuk menguji dan memberikan saran demi penyempurnaan skripsi ini.

5. Bapak Dr. Ir. Aceng Hidayat, MT sebagai dosen pembimbing akademik. 6. Bapak H.Usman Suparman yang telah banyak membantu memberi informasi

mengenai usahatani metode SRI dan konvensional di lokasi penelitian.

7. Teman-teman ku Raisa, Ashna, Inay, Listya, Raihani yang memberi bantuan penulis selama pembuatan skripsi ini dan teman-teman ESL 44 yg telah memberi keceriaan selama tiga tahun bersama.

8. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, FEM IPB.

Semua pihak yang telah membantu penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan pahala atas kebaikannya. Amin.

(8)

8 KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah, serta karunia-Nya. Salam dan Salawat penulis kirimkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pengaruh Penerapan Metode SRI dan Metode Konvensional terhadap Pendapatan Usahatani Padi (Studi Kasus Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat)”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi SRI dan konvensional, mengidentifikasi pendapatan dan kesejahteraan usahatani padi dengan menggunakan penerapan SRI dan penerapan konvensional serta mengidentifikasi pengaruh penerapan metode SRI terhadap lingkungan.

Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan sebagai bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya dengan topik dan tema yang serupa. Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan karena keterbatasan yang dihadapi. Sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun demi penyempurnaan skripsi ini.

Bogor, Juni 2011

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 3

1.3. Tujuan Penelitian ... 4

1.4. Manfaat Penelitian ... 5

1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1. Pengertian Pertanian Organik ... 6

2.2. Tujuan dan Kegunaan Budidaya Organik ... 6

2.3. Konsep Pertanian Ekologis dan Berkelanjutan ... 8

2.4. SRI Sebagai Adaptasi Perubahan Iklim ... 9

2.5. Pengertian Budidaya Padi SRI ... 11

2.6. Manfaat SRI ... 12

2.7. Hasil Penelitian Terdahulu ... 12

III. KERANGKA PEMIKIRAN ... 14

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 14

3.1.1. Sistem Budidaya Padi Konvensional ... 14

3.1.2. Sistem Budidaya Padi SRI ... 15

3.1.3. Pengertian Usahatani ... 15

3.1.4. Fungsi Produksi dan Elastisitas ... 16

3.1.5. Analisa Pendapatan dan Kesejahteraan Usahatani ... 21

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional ... 22

IV. METODE PENELITIAN ... 24

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

4.2. Jenis dan Sumber Data ... 24

4.3. Metode Pengambilan Data ... 25

4.4. Metode Analisis Data ... 26

4.4.1. Mengidentifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Padi SRI dan Konvensional ... 26

4.4.2. Mengidentifikasi Pendapatan dan Kesejahteraan Usahatani dengan Metode SRI dan Konvensional ... 28

4.4.3. Mengidentifikasi Pengaruh Penerapan Metode SRI terhadap Lingkungan ... 30

4.5. Pengujian Asumsi-asumsi Regresi ... 31

(10)

x

V. GAMBARAN UMUM ... 38

5.1. Keadaan Umum Permasalahan Kabupaten Cianjur ... 38

5.2. Gambaran Umum Petani Sampel ... 42

5.3. Budidaya Padi Organik Metode SRI ... 47

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 56

6.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional ... 56

6.2. Pendapatan dan Kesejahteraan Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional ... 68

6.2.1. Penerimaan Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional ... 69

6.2.2. Biaya Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional ... 71

6.2.3. Pendapatan dan R/C Ratio Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional ... 76

6.3. Dampak Pengaruh Penerapan Metode SRI terhadap Lingkungan ... 79

VII. SIMPULAN DAN SARAN ... 83

7.1. Simpulan ... 83

7.2. Saran ... 84

DAFTAR PUSTAKA ... 86

(11)

xi DAFTAR TABEL

Halaman

1. Rincian Responden Usahatani Metode SRI dan Konvensional ... 25

2. Matrik Metode Analisis Data... 26

3. Jumlah Angkatan Kerja di Kabupaten Cianjur Tahun 2008 ... 38

4. Data Curah Hujan Kabupaten Cianjur Tahun 2006-2008 ... 39

5. Perkembangan Intensifikasi Pertanian Tanaman Pangan di Kabupaten Cianjur Pengambilan Responden Petani Sayuran Organik dan Non Organik ... 40

6. Lama Pendidikan Petani Sampel di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 43

7. Umur Petani Sampel di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010-2011 ... 44

8. Jumlah Tanggungan Petani Sampel di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 45

9. Luas Lahan Padi Sawah Petani Sampel di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 45

10. Satus Pengusahaan Lahan Petani Sampel di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 46

11. Pengalaman Bertani Petani Sampel di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 47

12. Heteroskedastisitas Test: White Penerapan SRI ... 58

13. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Padi SRI Musim Tanam I ... 58

14. Heteroskedastisitas Test: White Penerapan Konvensional ... 63

15. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Padi Konvensional Musim Tanam I ... 64

16. Produktivitas dan Penerimaan Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional perhektar di Kabupaten Cianjur pada Musim Tanam I Periode Tahun 2010/2011 ... 70

17. Biaya Usahatani Padi Organik Metode SRI pada Musim Tanam I Periode Tahun 2010/2011 ... 72

18. Penggunaan Tenaga Kerja dalam Maupun Luar Keluarga per Hari Orang Kerja Usahatani Metode SRI dan Konvensional di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 74

19. Biaya Usahatani Padi Metode Konvensional pada Musim Tanam I Periode Tahun 2010/2011 ... 75

(12)

xii

20. Perbandingan Biaya untuk Usahatani Padi Organik SRI dan Padi

Konvensional perhektar di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 76 21. Pendapatan atas Biaya Tunai dan Total Biaya Usahatani Padi Metode SRI

dan Konvensional perhektar di Kabupaten Cianjur pada Musim tanam I

Periode Tahun 2010/2011 ... 77 22. Imbangan Biaya dan Penerimaan (R/C Ratio) Usahatani Padi Organik

Metode SRI dana Padi Konvensional perhektar di Kabupaten Cianjur pada Musim Tanam I Periode Tahun 2010/2011 ... 79

(13)

xiii DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Hubungan antara Produk Total, Produk Rata-Rata, dan Produk Marginal .. 19 2. Alur Kerangka Pemikiran Operasional ... 23 3. Gabungan Petani Organik (GPO) ... 41

(14)

xiv DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Karateristik Responden Petani Padi Organik Metode SRI di Kabupaten

Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 89

2. Karateristik Responden Petani Padi Metode Konvensional di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 90

3. Proses Seleksi Benih dengan Air Garam ... 91

4. Regression Analysis SRI dan Konvensional ... 92

5. Uji Heteroskdastisitas Metode SRI dan Konvensional ... 95

6. Uji Nilai Tengah Produksi Metode SRI dan Konvensional ... 97

7. Uji Nilai Tengah Penerimaan Metode SRI dan Konvensional ... 98

8. Perhitungan Pupuk dan Benih Metode SRI ... 99

9. Produksi GKP, Produktivitas GKP dan Penerimaan Usahatani Padi Metode SRI dan Konvensional di Kabupaten Cianjur Muasim Tanam I Periode Tahun 2010/2011 ... 100

10. Struktur Biaya Padi Metode SRI Kabupaten Cianjur Musim Tanam I Tahun 2010/2011 ... 101

11. Struktur Biaya Padi Metode Konvensional Kabupaten Cianjur Musim Tanam I Tahun 2010/2011 ... 103

12. Rincian Tenaga Kerja Metode SRI di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 105

13. Rincian Tenaga Kerja Metode Konvensional di Kabupaten Cianjur Periode Tahun 2010/2011 ... 106

14. Pendapatan Usahatani Kabupaten Cianjur Musim Tanam I Periode tahun 2010/2011 ... 107

15. Dokumentasi Kegiatan Usahatani Padi SRI di Kabupaten Cianjur Periode tahun 2010/2011 ... 108

(15)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Populasi manusia yang meningkat mengakibatkan peningkatan kebutuhan manusia yang tidak terbatas namun kondisi sumberdaya alam terbatas. Berdasarkan hal tersebut, ketidakseimbangan jumlah penduduk dan ketersediaan air menjadi masalah baru konflik global di abad ini. Sumberdaya air tidak ada substitusinya sebagaimana bahan bakar minyak. Selain itu, kekhawatiran global terhadap kelangkaan air karena adanya prediksi Gardner-Outlaw Engelman (1997) yang didukung PBB, bahwa pada tahun 2050 diprediksi satu dari empat orang akan terkena dampak dari kekurangan air bersih1.

Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan air mencapai 2.530 km3/tahun dan salah satu negara yang memiliki cadangan air terkaya di dunia. Isu kelangkaan air harus menjadi perhatian khusus bagi Indonesia karena pada musim kemarau terlihat sangat kontras bahwa kelangkaan air menjadi isu krusial. Kelangkaan air dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, eksploitasi besar-besaran air tanah yang dilakukan oleh gedung-gedung, rumah sakit, pusat pembelanjaan, apartemen, pemukiman, dan bangunanan lainnya. Kedua, pembangunan gedung tidak mematuhi perbandingan lahan terpakai dan lahan terbuka, sehingga mengganggu proses penyerapan air hujan ke dalam tanah. Selain itu Indonesia sebagai negara agraris membutuhkan penggunaan air dalam tahap budidaya padi, kebutuhannya mencapai satu per tiga total kebutuhan air selama budidaya. Pada saat ini, air kurang mencukupi bahkan tidak tersedia pada saat pengolahan tanah. Hal ini terjadi karena mundurnya musim penghujan

(16)

2

atau musim kemarau yang terlalu panjang, sehingga debet air pada saluran irigasi menyusut atau bahkan kering. Sumber-sumber air semakin langka akibat perubahan kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan tanah menyerap dan menyimpan air. Jika kondisi demikian berlanjut dapat menyebabkan terganggunya produksi padi sehingga menghambat upaya pelestarian swasembada beras.

Banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut, seperti perbaikan dan pembangunan saluran irigasi baru, perencanaan tata ruang, dan lain-lain. Namun, jika usaha tersebut tidak diimbangi dengan penghematan air diberbagai sektor, termasuk sektor pertanian dalam budidaya padi sawah, tidak akan berarti.

Cianjur merupakan Kabupaten di Jawa Barat yang terkenal hasil padinya, lahan pertanian yang subur, dan pengairan terhadap lahan pertanian serta masyarakat yang dominan bekerja di sektor pertanian. Pada saat pengolahan tanah kebutuhan air cukup banyak. Kegiatan pengolahan tanah sawah terdiri dari tahap penggenangan tanah hingga tanah jenuh air, tahap pembajakan, yaitu pemecahan tanah menjadi bongkahan-bongkahan dan pembalikan tanah dan tahap menggaru untuk menghancurkan dan melumpurkan tanah. Ketiga tahap tersebut membutuhkan lebih dari satu per tiga total kebutuhan air selama budidaya padi. Penerapan metode konvensional menimbulkan dampak negatif jangka panjang, seperti pencemaran air tanah dan air permukaan oleh bahan kimia pertanian yang membahayakan kesehatan manusia dan hewan disebabkan pestisida serta penurunan keanekaragaman hayati (biodiversity), meningkatkan daya tahan

(17)

3

organisme pengganggu terhadap pestisida kimia, menurunnya daya produktivitas lahan karena erosi, ketergantungan sumber daya alam yang tidak diperbaharui2.

Penerapan System of Rice Intensification (SRI) merupakan kegiatan dalam partisipasi yang dilakukan petani dalam usahatani padi. Sebelumnya petani belum mengetahui penerapan SRI sehingga pertanian menggunakan penerapan konvensional, pada penerapan ini pemeliharaan menggunakan produk kimia, seperti pestisida, herbisida, dan pupuk anorganik. Hal paling mendasar dalam budidaya SRI adalah menerapkan irigasi intermitten artinya siklus basah kering bergantung pada kondisi lahan, tipe tanah dan ketersediaan air. Selama kurun waktu penanaman lahan tidak tergenang tetapi macak-macak (basah tapi tidak tergenang). Cara ini bisa menghemat penggunaan air sebesar tiga puluh persen. Selain itu sedikitnya air juga mencegah kerusakan akar tanaman. Disamping menghemat air, budidaya intensif itu juga menghemat penggunaan bibit, sebab satu lubang tanam hanya ditanam satu bibit.

1.2. Perumusan Masalah

Menurut Maltus, populasi penduduk meningkat sesuai deret ukur sedangkan pangan bergerak berdasarkan deret hitung. Ini berpengaruh terhadap kecemasan manusia akan kurangnya pangan, maka di perlukan inovasi baru dalam bidang pertanian agar pangan tidak habis. Penerapan inovasi SRI mengutamakan potensi lokal dan disebut pertanian ramah lingkungan, akan sangat mendukung terhadap pemulihan kesuburan tanah dan kesehatan penggunaan produknya. Pertanian organik pada prinsipnya menitikberatkan prinsip daur ulang hara

2

http://riaumandiri.net/rm/index.php?option=com_content&view=article&id=14860:menuju-pertanian-organik&catid=61:opini&Itemid=71. Diakses tanggal 1 Desember 2010.

(18)

4

melalui panen dengan cara mengembalikan sebagian biomasa kedalam tanah, dan konservasi air mampu memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode konvensional. Pertama kali petani menerapkan SRI di lahan pertanian konvensional adalah penggunaan biaya lebih besar dari manfaat yang digunakan untuk beberapa musim panen karena kondisi tekstur tanah relatif tidak stabil. Ini merupakan salah satu kendala dalam pendapatan usahatani padi. Namun setelah beberapa musim panen terlewati akan memperoleh benefit yang lebih besar dari pada investasi biaya yang dikeluarkan sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi SRI dan Konvensional?

2. Bagaimana tingkat pendapatan dan kesejahteraan usahatani padi dengan menggunakan SRI dan konvensional?

3. Adakah pengaruh penerapan metode SRI terhadap lingkungan?

1.3. Tujuan Penelitian

Secara umum sasaran penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan usahatani padi dengan menggunakan penerapan SRI dan Konvensional.

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah :

1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi SRI dan Konvensional.

2. Menganalisis pendapatan dan kesejahteraan usahatani padi dengan menggunakan penerapan SRI dan penerapan konvensional

(19)

5 1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi para pelaku dunia usaha, terutama yang berkecimpung dalam bisnis padi, diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tambahan dan juga dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan untuk meningkatkan produksi padi.

2. Bagi pemerintah, terutama pemerintah daerah Kabupaten Cianjur dan pemerintahan Provinsi Jawa Barat serta pemerintah Indonesia, diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan rujukan dan bagan pertimbangan dalam menyusun kebijakan.

3. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan serta dapat menjadi wadah aplikasi ilmu-ilmu yang selama ini dipelajari di bangku kuliah dalam kasus nyata.

1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perbedaan usahatani padi dengan menggunakan penerapan SRI dan penerapan konvensional di daerah Kabupaten Cianjur. Lokasi yang ditunjuk sebagai tempat penelitian terbatas hanya di daerah yang penulis teliti.

Adapun keterbatasan dari penelitian ini yaitu nilai air tidak dihitung dilokasi penelitian karena air bukan barang yang langka. Petani penggarap di lokasi penelitian adalah petani yang menggarap lahan sawah orang lain namun tidak membayar upah sewa atas lahan yang digarapnya selain itu terdapat petani penyakap dan petani maro. Petani pemilik di lokasi penelitian adalah petani yang memiliki lahan sawah dan bertani disawahnya sendiri.

(20)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pertanian Organik

Saat ini untuk pemenuhan kebutuhan pangan dari sektor pertanian mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan lingkungan. Salah satu teknologi pertanian yang berwawasan lingkungan adalah Pertanian Organik. Pertanian Organik merupakan suatu teknologi budidaya tanaman yang pada penerapannya disesuaikan dengan keadaan lingkungan, agar tidak terjadi perubahan ekosistem secara drastis sehingga tidak menggangu dan memutuskan mata rantai makhluk hidup3.

Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia4.

Dapat disimpulkan bahwa Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang holistik dan terpadu, dengan cara mengoptimalkan kesehatan dan produktivitas agroekosistem secara alami, sehingga menghasilkan pangan dan serat yang cukup, berkualitas, dan berkelanjutan.

2.2. Tujuan dan Kegunaan Budidaya Organik

Sutanto (2002) membagi tujuan budidaya organik dalam tujuan jangka panjang dan pendek. Adapun tujuan dari pertanian organik dalam jangka panjang adalah:

3www.diperta.jabarprov.go.id/.../Pedoman%20Pertanian%20Organik.pdf diakses tanggal 12 Desember 2010. 4http://id.shvoong.com/exact-sciences/1631931-arti-pertanian-organik/. Diakses tanggal 12 Desember 2010.

(21)

7

1. Melindungi dan melestarikan keragaman hayati dan fungsi keragaman hayati serta keragaman di dalam bidang pertanian.

2. Membatasi pencemaran lingkungan akibat residu pestisida dan pupuk serta bahan kimia yang berharga, mahal dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

3. Mengurangi ketergantungan petani terhadap input kimia yang berharga mahal dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

4. Membantu meningkatkan kesehatan masyarakat dengan cara menyediakan produk-produk pertanian bebas pestisida, residu pupuk dan bahan kimia lainnya.

5. Mengembangkan dan mendorong kembali munculnya teknologi pertanian organik yang telah dimiliki secara turun menurun.

6. Meningkatkan peluang pasar organik, baik domestik maupun global dengan menjalin kemitraan antara petani dan pengusaha bidang pertanian. Adapun tujuan jangka pendek dari pertanian organik:

1. Membantu menyediakan produk pertanian bebas residu kimia untuk ikut menyehatkan mayarakat.

2. Mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan sehingga mampu berproduksi secara berkelanjutan.

3. Mempertahankan dan meningkatkan minat petani pada pertanian organik serta mengembangkan agribisnis dengan menjalin kemitraan antara petani dan pengusaha pertanian.

Budidaya organik memiliki kegunaan yang pada dasarnya adalah meniadakan atau membatasi kemungkinan adanya dampak negatif yang

(22)

8

disebabkan oleh penggunaan bahan kimiawi. Pupuk organik merupakan keluaran dari setiap budidaya pertanian, sehingga merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang dapat dikatakan telah tersedia dengan sendirinya.

2.3. Konsep Pertanian Ekologis dan Berkelanjutan

Konsep pertanian ekologis secara umum dapat dikatakan sebagai kegiatan usaha pertanian yang tidak memberikan pengaruh negatif serta tidak merusak lingkungan. Lingkungan disini dapat dibagi dua yaitu lingkungan secara mikro dan makro, lingkungan mikro adalah mencakup wilayah di dalam areal usahatani termasuk didalamnya keseimbangan ekobiologis, kelestarian keanekaragaman biota dipermukaan dan mikro organisme yang terdapat di dalam lapisan tanah, tidak terakumulasinya limbah serta residu beracun terjadinya serangan hama dan patogen penyakit dengan parasit, predator, kompetitor dalam keadaan seimbang (Sumarno, et al. 2008).

Maka pertanian dengan ciri ekologis dan ramah lingkungan merupakan usaha pertanian yang terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan produksi dan menerapkan teknologi maju adatif yang ramah lingkungan sehingga mengoptimalkan produktivitas tanpa harus menurunkan kualitas lingkungan. Lingkungan di dalam pertanian ekologis didalamnya termasuk tenaga kerja sebagai pelaku usaha, produksi hasil panen, ternak dan satwa komponen habitat.

Sedangkan pertanian berkelanjutan merupakan sistem produksi pertanian yang secara terus menerus mampu mencukupi kebutuhan akan pangan serta pakan dengan syarat tidak merusak sumberdaya alam pertanian bagi generasi yang akan datang. Menurut Sumarno, et al. (2008), terdapat empat kepentingan pokok yang

(23)

9

perlu dipenuhi dalam pertanian berkelanjutan adalah: (1) tercukupinya kebutuhan pangan dan pakan untuk saat ini dan saat yang akan datang, (2) kelayakan ekonomi usaha pertanian saat ini dan masa mendatang, (3) kelestarian serta mutu lingkungan dan sumberdaya alam serta (4) kelestarian akan keanekaragaman hayati. Konsep pertanian ekologis dan berkelanjutan merupakan harapan yang harus dapat direalisasikan agar dapat memperbaiki keseimbangan antara usaha peningkatan produksi dengan lingkungan produksi.

2.4. Sistem of Rice Intensification Sebagai Adaptasi Perubahan Iklim

Daya adaptasi terhadap perubahan iklim adalah kemampuan suatu sistem untuk menyesuaikan diri dari perubahan iklim (termasuk di dalamnya variabilitas iklim dan variabilitas ekstrim) dengan cara mengurangi kerusakan yang ditimbulkan, mengambil manfaat atau mengatasi perubahan dengan segala akibatnya. Adaptasi terhadap perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan maupun terencana untuk memberikan reaksi terhadap perubahan iklim. Dengan demikian adaptasi terhadap perubahan iklim merupakan strategi yang diperlukan pada semua skala untuk meringankan usaha mitigasi dampak.

Adaptasi terhadap perubahan iklim sangat potensial untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan meningkatkan dampak manfaat, sehingga tidak ada korban. Pengalaman menunjukan bahwa banyak strategi adaptasi dapat memberikan manfaatbaik dalam penyelesaian jangka pendek dan maupun jangka panjang, namun masih ada keterbatasan dalam implementasi dan keefektifannya.

Dampak merugikan adalah melanda sektor pertanian akibat pergeseran musim dan perubahan pola curah hujan. Pada umumnya semua bentuk sistem

(24)

10

pertanian sangat sensitif terhadap variasi iklim. Terjadinya keterlambatan musim tanam atau panen akan memberikan dampak besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap ketahanan pangan. Meningkatnya temperatur akan berdampak terhadap percepatan penguapan air, baik dari tanah maupun tanaman, sehingga tanaman akan rentan terhadap kekurangan air yang pada akhirnya dapat menurunkan produksi. Tidak sebatas itu, dengan naiknya temperatur akan memberikan keadaan yang kondusif bagi perkembangbiakan beberapa jenis serangga hama yang akan sangat berpotensi menurunkan tingkat produktivitas bahkan mampu menggagalkan panen.

Perubahan pola curah hujan akan berdampak pada tingginya intensitas hujan dalam periode yang pendek dan akan menimbulkan banjir yang kemudian menyebabkan produksi pertanian menurun, khususnya padi karena sawah terendam air. Tingginya curah hujan juga mengakibatkan hilangnya lahan karena erosi dan longsor. Sementara itu di beberapa tempat pola curah hujan terjadi dengan intensitas rendah dalam periode kemarau yang panjang, sehingga terjadi kekeringan dimana-mana yang akhirnya berakibat terhadap rendahnya produktivitas pertanian.

Oleh karena itu penerapan metode SRI dibutuhkan sebagai cara adaptasi dibidang pertanian akibat perubahan musim dan perubahan pola curah hujan. Hal ini disebabkan budidaya padi SRI dapat menghemat air dibandingkan dengan budidaya konvensional.

(25)

11 2.5. Pengertian Budidaya Padi SRI

Sistem of Rice Intensification (SRI) pertama kali dikembangkan pada awal

tahun 1980 oleh Frenc Priest dan Fr. Henri de Laulani, J di Madagaskar. SRI mulai dikenal oleh beberapa negara di dunia termasuk di Indonesia pada tahun 1997 yang diperkenalkan oleh seorang ahli yaitu Norman Uphoff (Direktur dari Cornell Internasional Institute for Food, Agricultureal and Development) dan pada tahun 1999 dilakukan percobaan SRI untuk pertama kalinya di luar Madagaskar (Uphoff, et al, 2002).

Pada dasarnya teknologi SRI memperlakukan tanaman padi tidak seperti tanaman air yang membutuhkan air yang cukup banyak, karena jika penggenangan air yang cukup banyak maka akan berdampak tidak baik yaitu akan hancurnya bahkan matinya jaringan komples (cortex, xylem dan phloem) pada akar tanaman padi, hal ini akan berpengaruh kepada aktivitas akar dalam mengambil nutrisi di dalam tanah lebih sedikit, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan terhambat dan mengakibatkan kemampuan kapasitas produksi akan lebih rendah.

Akibat yang ditimbulkan dari penggenangan air tersebut maka budidaya padi SRI dapat diartikan sebagai upaya budidaya tanaman padi yang memperhatikan semua komponen yang ada di ekosistem baik itu tanah, tanaman, mikro organisme, makro organisme, udara, sinar matahari dan air sehingga memberikan produktivitas yang tinggi serta menghindari berbagai pengaruh negatif bagi kehidupan komponen tersebut dan memperkuat dukungan untuk terjadinya aliran energi dan siklus nutrisi secara alami.

(26)

12 2.6. Manfaat SRI

Dibandingkan dengan budidaya konvensional, secara umum manfaat dari budidaya metode SRI adalah sebagai berikut5:

1. Hemat air (tidak digenang), kebutuhan air hanya 20-30 persen dari kebutuhan air untuk cara konvensional.

2. Memulihkan kesuburan tanah, serta mewujudkan keseimbangan ekologi tanah.

3. Membentuk petani mandiri yang mampu meneliti dan menjadi ahli lahannya sendiri. Tidak tergantung pada pupuk dan pertisida kimia buatan pabrik yang semakin mahal dan terkadang langka.

4. Membuka lapangan kerja di pedesaan, mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan keluarga petani.

5. Menghasilkan produksi beras yang sehat rendemen tinggi, serta tidak mengandung residu kimia.

6. Mewariskan tanah yang subur untuk generasi mendatang.

Selain itu, agroekologi dapat menambah keuntungan bagi tanaman dan melindungi tanaman dari hama.

2.7. Hasil Penelitian Terdahulu

Berdasarkan hasil penelitian Iwan Setiiaji, et al. (2008) dalam penelitiannya yang berjudul gagasan dan implementasi System of Rice

Intensification (SRI) dalam kegiatan budidaya padi ekologis di Ciamis dan Garut,

yaitu budidaya padi model SRI di lokasi kajian mampu meningkatkan hasil

5 Mutakin, Jenal. Budidaya dan Keunggulan Padi Organik Metode SRI (System Rice of

(27)

13

dibandingkan budidaya konvensional. Peningkatan hasil padi berkisar antara 5-18 persen atau sekitar 0,25-1,0 ton/ha. Pendapatan kotor petani responden dengan menggunakan model SRI meningkat berkisar antara Rp 700.000,00 (di Ciamis) hingga Rp 2.000.000,00 (di Garut) per ha. Peningkatan pendapatan ini umumnya disebabkan oleh efisiensi penggunaan input seperti bibit, tenaga kerja tanam dan persemaian. Namun demikian secara umum budidaya padi model SRI memerlukan tenaga kerja lebih banyak terutama dalam kegiatan pengendalian gulma dan hama serta pengairan.

Secara ekonomi, efisiensi produksi dari usahatani model SRI yang di ukur dengan R/C ratio menunjukan bahwa budidaya model SRI lebih rendah dibanding model konvensional. R/C ratio model SRI di Garut dan di Ciamis masing-masing sebesar 2,16 dan 1,21 sedangakan untuk model konvensional sebesar 2,25 dan 1,72. Namun secara finansial efisiensi usahatani padi model SRI lebih tinggi dari pada model konvensional, seperti ditunjukan R/C ratio sebesar 3,99 dan 2,73 masing-masing untuk Garut dan Ciamis.

Perbedaannya dengan penelitian terdahulu adalah penggunaan input dalam perhitungan pendapatan yang tidak begitu sama, selain itu penelitian yang dilakukan penulis saat ini memperhitungkan produksi dengan menggunakan analisis1Cobb-Douglas.

(28)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1. Sistem Budidaya Padi Konvensional

Menurut Muhajir dan Nazaruddin (2003) Sistem budidaya padi secara konvensional di dahului dengan pengolahan tanah secara sempurna. Pertama sawah dibajak. Pembajakan dapat dilakukan dengan mesin, kerbau atau sapi. Dapat juga melalui pencangkulan oleh manusia. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama dua hingga tiga hari. Selanjutnya dilumpurkan dengan cara dibajak lagi untuk kedua atau ketiga kalinya tiga sampai lima hari menjelang tanam. Setelah itu bibit hasil semaian ditanam.

Penggunaan air sawah sangat banyak, lebih dari satu per tiga kebutuhan air pada saat proses pelumpuran. Namun, ketersediaan air semakin terbatas. Tenaga kerja yang digunakan untuk mengolah tanah sawah cukup banyak. Untuk keperluan pengolahan tanah, tenaga kerja yang diperlukan dapat mencapai tiga puluh persen dari kebutuhan tenaga kerja tanam secara total. Dari tahun ke tahun biaya tenaga kerja juga meningkat. Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi sehingga dapat mengurangi pemasukan bagi petani. Selain itu waktu yang dihabiskan untuk mengolah tanah cukup panjang, yakni sekitar satu per tiga musim tanam. Pembajakan dan pelumpuran tanah yang biasa dilakukan petani menyebabkan banyak butir-butir tanah halus dan unsur hara terbawa air irigasi. Hal ini kurang baik dari segi konservasi lingkungan.

(29)

15 3.1.2. Sistem Budidaya Padi SRI (System of Rice Intensification)

Menurut Muhajir dan Nazaruddin (2003), pada dasarnya tujuan sistem budidaya padi konvensional tidak berbeda dengan sistem budidaya padi SRI, yaitu mengendalikan gulma dan menyiapkan lahan agar menjadi media tumbuh yang baik bagi tanaman. Perbedaannya terletak pada efisiensi penggunaan sumber daya dalam persiapan lahannya. Sistem SRI lebih efisien dalam menggunakan air, lahan, dan lebih berwawasan lingkungan dari pada sistem budidaya padi konvensional.

Air dapat dihemat lebih dari tiga puluh persen. Herbisida yang digunakan dalam penerapan ini harus berwawasan lingkungan, yaitu herbisida yang tidak meninggalkan residu dalam tanah dan tanaman serta tidak mencemari air. Herbisida akan bekerja mematikan gulma yang tumbuh serta batang padi pada sisa pertanaman sebelumnya singgang. Setelah mati, gulma dan singgang tersebut dapat bermanfaat sebagai mulsa. Mulsa6 ini tidak dibuang melainkan dimanfaatkan untuk pertanaman padi. Mulsa yang berada di areal pertanaman bermanfaat untuk mencegah kerusakan tanah akibat benturan air hujan, mengurangi penguapan, meningkatkan bahan organik upaya mencapai kesuburan tanah, serta membantu menekan pertumbuhan gulma7 yang tumbuh kemudian.

3.1.3. Pengertian Usahatani

Tjakrawiralaksana dan Soeriatmaja (1983) mendefinisikan usahatani sebagai suatu organisasi produksi di lapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang mewakili unsur alam, unsur tenaga kerja yang bertumpu pada anggota

6

Mulsa adalah sisa tanaman, lembaran plastik, atau susunan batu yang disebar di permukaan tanah.

7

Gulma merupakan tumbuhan yang berasal dari spesies liar yang telah lama menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan, atau spesies baru yang telah berkembang sejak timbulnya pertanian.

(30)

16

keluarga tani, unsur modal yang beraneka ragam jenisnya, dan unsur pengolahan dan manajemen yang perannya dibawakan oleh seseorang yang disebut petani. Dalam hal ini istilah usahatani mencakup kebutuhan keluarga, sampai pada bentuk yang paling modern yaitu mencari keuntungan atau laba.

Menurut Soekartawi (2002), ilmu usahatani biasa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki (yang dikuasai) sabaik-baiknya, dan dikatakan efisien bila pemanfaatan sumberdaya tersebut menghasilkan keluaran (output). Usahatani adalah ilmu yang mempelajari tentang cara petani mengelola input dengan efektif, efesien, dan kontinu untuk menghasilkan produksi yang tinggi sehingga pendapatan usahataninya meningkat.

3.1.4. Fungsi Produksi dan Elastisitas

Menurut Lipsey (1995) untuk memproduksi barang dan jasa menggunakan sumberdaya yang disebut faktor produksi. Faktor produksi seperti bibit, pupuk, tenaga kerja dalam keluaarga, Pendidikan petani, pengalaman bertani sangat mempengaruhi terhadap besar kecilnya output yang diperoleh dari kegiatan produksi. Keputusan kombinasi penggunaan sumberdaya untuk mencapai target produksi ditentukan oleh kebijaksanaan produsen.

Untuk menjelaskan kombinasi-kombinasi input yang diperlukan untuk menghasilkan output, para ekonom menggunakan sebuah fungsi yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah hubungasn fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel (X). Variabel yang dijelaskan biasanya berupa output

(31)

17

dan variabel yang menjelaskan biasanya berupa input. Umumnya untuk menghasilkan output diperlukan lebih dari satu input. Secara matematis fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut Soekartawi (1990):

Y = f (X1, X2, X3, ..., Xi, ..., Xn) Dimana:

Y = output

X1, X2, X3, ...., Xn = input-input yang digunakan dalam proses produksi

Berbagai macam fungsi produksi telah dikenal dan dipergunakan oleh berbagai peneliti, tetapi yang umum dan sering dipakai (Soekartawi, 1990) yaitu:

A. Fungsi Produksi Linier

Fungsi produksi linear biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi produksi linear sederhana dan linear berganda. Perbedaan ini terletak pada jumlah variabel X yang dipakai dalam model. Fungsi produksi linear sederhana adalah bila hanya satu variabel X yang dipakai dalam model. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = a + bX

Dimana, a adalah intersep (perpotongan) dan b adalah slope.

Didalam praktek, penggunaan garis linear sederhana ini banyak dipakai untuk menjelaskan fenomena yang berkaitan untuk menjelaskan hubungan dua variabel. Model sederhana ini sering digunakan karena analisisnya mudah dilakukan dan hasilnya lebih mudah dimengerti secara cepat. Sedangkan kelemahannya terletak pada jumlah variabel X yang hanya satu yang dipakai di dalam model sehingga dengan tidak memasukan variabel X yang lain, maka

(32)

18

peneliti akan kehilangan informasi tentang variabel yang tidak dimasukan dalam model tersebut.

Mengatasi hal itu, maka menggunkan garis linear berganda atau garis regresi berganda sederhana (multiple regression). Berbeda dengan garis regresi linear sederhana (simple regression), maka jumlah variabel X yang dipakai dalam garis regresi berganda ini adalah lebih dari satu. Secara matematis hal ini dapat ditulis sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + ...+ biXi + ... + bnXn

Estimasi garis regresi linear berganda ini memerlukan bantuan asumsi dan model estimasi tertentu sehingga diperoleh garis penduga yang baik.

B. Fungsi Produksi Kuadratik

Dalam proses produksi pertanian berlaku hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang, maka fungsi kuadratik dapat ditulis sebagai berikut:

Y = a + bX – cX2

Nilai parameter c yang negatif menunjukan kaidah kenaikan hasil yang berkurang. C. Fungsi Eksponensial

Fungsi produksi eksponensial ini dapat berbeda satu sama lain tergantung pada ciri data yang ada, tetapi umumnya fungsi produksi eksponensial ini dapat dituliskan sebagai berikut:

Y = aXb (Fungsi Cobb-Douglas)

Dalam fungsi produksi eksponensial ini ada bilangan berpangkat, maka penyelesaiannya diperlukan bantuan logaritma. Maka penyelesaian persamaan tersebut adalah:

(33)

19 X(input) Titik Singgung Titik Balik Daerah I Irrasional Ep>1 Daerah II Rasional 0<Ep<1

Daerah III Irrasional Ep<0

Produksi Total (PT)

Produksi Rata-Rata (PR)

Menurut Doll and Orazem (1984) hubungan fisik antara input dan output sering disebut fungsi produksi. Bentuk fungsi produksi dipengaruhi oleh hukum ekonomi produksi “Hukum Kenaikan Hasil Yang Semakin Berkurang” (The law

of Diminishing Return atau Diminishing Productivity). Hukum ini menyatakan

bahwa jika faktor produksi terus menerus ditambahkan pada faktor produksi tetap maka tambahan jumlah produksi/satuan akan semakin berkurang. Hukum ini menggambarkan adanya kenaikan hasil kurva produksi, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Y(output)

Produk Marginal (PM) Sumber: Doll and Orazem (1984)

Gambar 1. Hubungan antara Produk Total, Produk rata-Rata dan Produk marginal

Gambar tersebut menggambarkan hubungan antara Produksi Total, Produksi rata-rata dan Produksi Marginal yang terdiri dari 3 daerah yang mempunyai elastisitas tertentu.

Daerah produksi I mempunyai nilai elastisitas produksi lebih dari satu, yang berarti bahwa penambahan faktor-faktor produksi satu persen akan menyebabkan penambahan produksi lebih besar dari satu persen. Keuntungan maksimum masih belum dicapai, karena produksi masih dapat diperbesar dengan

(34)

20

pemakaian faktor produksi yang lebih banyak oleh karena itu daerah satu disebut daerah irrasional. Produksi rata-rata dan produksi total semakain meningkat dan pada daerah ini produksi marginal mencapai maksimum (Soekartawi, 1990).

Daerah produksi II mempunyai nilai elastisitas produksi bernilai antara nol sampai satu. Hal ini berarti setiap penambahan faktor produksi sebesar satu persen akan menyebabkan penambahan produksi paling tinggi satu persen dan paling rendah nol. Pada tingkat penggunaan faktor produksi tertentu dalam daerah ini akan tercapai keuntungan maksimum sehingga daerah ini disebut daerah yang

rasional karena produsen harus menetapkan tingkat produksi yang dapat

mencapai maksimum. Pada daerah II produksi marginal dan produksi rata-rata semakin menurun tetapi produksi total semakin meningkat sampai mencapai nilai maksimum (Soekartawi,1990).

Daerah III mempunyai nilai elastisitas produksi lebih kecil dari nol, artinya penambahan faktor-faktor produksi akan menyebabkan penurunan jumlah produksi yang dihasilkan. Daerah produksi ini mencerminkan pemakaian faktor-faktor produksi yang tidak efisien sehingga disebut daerah irrasional. Pada daerah III produksi total, produksi marginal dan produksi rata-rata mengalami penurunan. Jika lama kelamaan faktor produksi terus ditambah maka produksi marginal bisa menjadi negatif (soekartawi, 1990).

Menurut Soekartawi (1990) elastisitas produksi adalah (Ep) adalah persentase perubahan dari output sebagai akibat dari persentase perubaan input. Ep ini dapat dituliskan melalui rumus sebagai berikut.

Ep = / , atau Ep = Epx1 = *

(35)

21

Epx1 = b1 ax1b1-1x2b2x3b3x4b4x5b5x6b6eu ( )

Epx1=b1 ( )

Epx1=b1 Karena

adalah PM, maka besarnya Ep tergantung dari besar kecilnya PM dari suatu input, misalnya input X.

3.1.5. Analisa Pendapatan dan Kesejahteraan Usahatani

Biaya usahatani merupakan pengorbanan yang dilakukan oleh produsen dalam mengelola sawahnya dalam mendapatkan hasil yang maksimal. Biaya usahatani dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: biaya tunai dan biaya tidak tunai (diperhitungkan). Biaya tunai adalah semua biaya yang dibayarkan dengan uang. Biaya yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung pendapatan yang sebenarnya dengan memperhitungkan input yang dikeluarkan namun dapat diproduksi sendiri. Soekartawi (1995) mengemukakan bahwa biaya usahatani adalah semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu: (a) biaya tetap (fixed cost); dan (b) biaya tidak tetap (variable cost).

Penerimaan usahatani adalah perkalian produksi dengan harga jual. Penerimaan juga biasa disebut pendapatan kotor usahatani yang terbagi menjadi pendapatan kotor tunai dan pendapatan kotor diperhitungkan. Pendapatan kotor tunai didefinisikan sebagai uang yang diterima dari penjualan produk usahatani padi. Pendapatan kotor diperhitungkan merupakan pendapatan yang bukan dalam bentuk uang, seperti hasil panen padi yang dikonsumsi dan bibit.

(36)

22

Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan dan semua biaya. Analisa pendapatan mempunyai kegunaan bagi petani maupun bagi pemilik faktor produksi. Ada dua tujuan utama dari analisa pendapatan yaitu: (1) menggambarkan keadaan sekarang dari suatu kegiatan usaha, (2) menggambarkan keadaan yang akan datang dari perencanaan atau tindakan. Soekartawi (1995) mengungkapkan bahwa pada analisis usahatani, data tentang penerimaan, biaya dan pendapatan usahatani perlu diketahui.

Pendapatan yang besar tidak selalu menunjukan efisiensi yang tinggi. Oleh karena itu, analisa pendapatan selalu diikuti dengan pengukuran efisiensi. Salah satu ukuran efisiensi adalah Analisis Return Cost (R/C) ratio merupakan perbandingan (ratio atau nisbah) antara penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Apabila nilai R/C>1 berarti penerimaan yang diperoleh lebih besar dari unit biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penerimaan tersebut atau dengan kata lain usahatani untung. Sedangkan nilai R/C<1 menunjukan bahwa tiap unit biaya yang dikeluarkan akan lebih besar dari penerimaan yang diperoleh atau dengan kata lain usahatani rugi. Jika R/C=1 berarti penerimaan yang diperoleh sama dengan biaya yang dikeluarkan atau dapat dikatakan usahatani impas (tidak untung atau tidak rugi). Selain itu, menurut Sajogyo dalam harian tempo interaktif, indikator kemiskinan dapat dilihat dari tingkat konsumsi beras per tahun, tingkat akan kecukupan gizi, dan tingkat kesejahteraan.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Penelitian diawali dengan kondisi produktivitas padi di Kabupaten Cianjur Jawa Barat terutama pada penerapan yang digunakan dalam usahatani seperti penerapan metode SRI dan penerapan metode Konvensional. Permasalahan yang

(37)

23

dihadapi adalah membedakan penerapan metode yang lebih baik dalam menghasilkan padi yang berkualitas, lahan pertanian tetap subur, penghematan dalam pengairan sawah dan meningkatkan pendapatan usahatani padi.

Kerangka pemikiran terkait dengan penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini. Gambar 2 tersebut menjelaskan kerangka berpikir dari latar belakang hingga tujuan penelitian.

Gambar 2. Alur Kerangka Pemikiran Operasional Usahatani Padi di

Kabupaten Cianjur

Mengatasi Kelangkaan

Air Identifikasi Kondisi dan masalah yang terjadi

Penerapan SRI Penerapan Konvensional

Identifikasi pengaruh penerapan metode SRI

terhadap Lingkungan Menganalisis pendapatan

dan kesejahteraan usahatani padi dengan Penerapan SRI

dan Konvensional Menganalisis faktor-faktor yang

mempengaruhi produksi usahatani padi SRI dan

Konvensional

(38)

IV. METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan mengambil studi kasus di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan dengan sengaja (purposive)

dengan pertimbangan bahwa:

(1) Lapangan kerja utama Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 52 persen.

(2) Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur (Pemkab Cianjur 2009).

(3) Terdapat kelompok usahatani padi yang telah mengembangkan penerapan metode SRI dan metode Konvensional.

Waktu pengambilan data lapang dilaksanakan dari bulan Februari hingga April 2011.

4.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan adalah cross section. Data yang dikumpulkan dan dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh dengan observasi langsung. Data primer yang dikumpulkan adalah data rumah tangga petani (demografi), profil usahatani (data

input dan output), data aset pertanian seperti lahan, alat pertanian, alokasi tenaga

kerja, harga input output, dan upah tenaga kerja. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang terstruktur. Data sekunder adalah data yang telah terdokumentasi, data ini diambil dari text book, hasil

(39)

25

penelitian, dan lain-lain. Data sekunder merupakan data penunjang data primer yang berfungsi untuk memberikan gambaran umum mengenai lokasi penelitian.

4.3. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara terstruktur, yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada petani berdasarkan kuesioner yang telah disiapkan. Penentuan responden SRI dilakukan secara snowball yaitu penentuan responden dari responden sebelumnya, yang terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Karang Tengah, Kecamatan Cianjur dan Kecamatan Ciranjang pemilihan ketiga kecamatan tersebut dikarenakan petani SRI lebih banyak dari pada kecamatan lainnya. Sedangkan penetuan responden konvensional dilakukan secara purposive lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Rincian Responden Usahatani Metode SRI dan Konvensional Periode Tahun 2010/2011

Metode Responden

Kecamatan Karang

Tengah Kecamatan Cianjur Kecamatan Ciranjang

SRI 6 Responden 12 Responden 12 Responden Konvensional 6 Responden 12 Responden 12 Responden Sumber: Data Primer, 2011

Keseluruhan sampel sebanyak 60 responden yang terdiri dari 30 responden SRI dan 30 responden konvensional. Data sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian Kabupaten Cianjur, Balai Penyuluh Pertanian Kabupaten Cianjur. Data sekunder mengenai pengetahuan umum tentang pertanian diperoleh dari berbagai literatur yang terdapat di perpustakaan, buku, jurnal dan browsing melalui internet.

(40)

26 4.4. Metode Analisis Data

Data–data yang telah diperoleh dari lapangan diklasifikasikan melalui analisis tabulasi. Bentuk tabulasi mudah dibaca dan dipahami dikarenakan data primer hasil wawancara baik kualitatif maupun kuantitatif ditransformasikan/diubah dalam bentuk tabel. Data mengenai biaya, penerimaan, dan lain-lain digunakan sebagai perhitungan dalam analisis pendapatan petani. Perhitungan analisis usahatani dilakukan dengan menggunakan Microsoft Office

Excel 2007, Minitab Release 14.1, SPSS 17, dan Eview 6. Tabel 2 berikut

ditampilkan matriks metode analisis yang digunakan untuk menjawab tujuan dalam penelitian.

Tabel 2. Matrik Metode Analisis Data

No Tujuan Penelitian Sumber Data Metode Analisis Data

1.

2.

3.

Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

produksi usahatani SRI dan Konvensional.

Menganalisis pendapatan usahatani padi dengan menggunakan penerapan SRI dan penerapan konvensional

Mengidentifikasi pengaruh penerapan metode SRI terhadap lingkungan Data primer Data primer melalui wawancara (menggunakan kuesioner) Data primer dan data sekunder

Metode Cobb Douglas

Analisis Pendapatan Usahatani

Analisis Deskriptif

4.4.1. Mengidentifikasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Usahatani SRI dan Konvensional

Fungsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi Cobb Douglas. Fungsi Cobb Douglas adalah suatu fungsi atau persamaan yang

(41)

27

melibatkan dua atau lebih variabel, variabel yang satu disebut variabel dependen yaitu variabel yang dijelaskan (Y) dan yang lain disebut variabel independen yang menjelaskan (X). Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani padi SRI dan Konvensional menggunakan kaidah-kaidah dalam regresi yang berlaku dalam penyelesaian fungsi Cobb Douglas. Secara matematik, fungsi Cobb Douglas dapat dituliskan:

Y = aX1b1X2b2X3b3X4b4X5b5X6b6eu

Untuk memudahkan pendugaan terhadap persamaan diatas maka persamaan tersebut diubah menjadi bentuk linier berganda dengan cara melogaritmakan persamaan tersebut.

Logaritma dari persamaan diatas, adalah:

Ln Y = Ln a+ b1 LnX1 + b2LnX2 + b3LnX3+ b4LnX4+ b5LnX5+ b6LnX6+ u Bila fungsi Cobb Douglas tersebut dinyatakan oleh hubungan Y dan X, maka:

Y = f(X1,X2,...Xn)

Y = produksi usahatani padi X1 = benih (kg)

X2 = pupuk (kg)

X3 = tenaga kerja dalam keluarga (Rp) X4 = tingkat pendidikan (tahun) X5 = pengalaman bertani (tahun) X6 = luas lahan (ha)

a,b = besaran yang akan diduga U = kesalahan (disturbance term) dan

(42)

28

Pentingnya penggunaan fungsi Cobb Douglas dalam pendugaan produksi usahatani yaitu:

a. Penyelesaian fungsi Cobb Douglas relatif lebih mudah dibandingkan dengan fungsi lain, seperti fungsi kuadratik.

b. Hasil pendugaan garis melalui fungsi Cobb Douglas akan menghasilkan koefisien regresi yang sekaligus menunjukan besaran elastisitas.

c. Besaran elastisitas tersebut sekaligus menunjukan tingkat besaran Return to Scale.

Menurut Soekartawi (2002) fungsi Cobb Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah bentuk fungsinya menjadi fungsi linier, maka ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:

a. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol

b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan teknologi pada setiap pengamatan.

c. Tiap variabel adalah perfect competition

d. Perbedaan lokasi (pada fungsi produksi) seperti iklim adalah sudah tercakup pada faktor kesalahan u.

Selain itu, fungsi Cobb Douglas pun memiliki kelemahan yaitu elastisitas berada dalam linier aditive yang memiliki arti bahwa tidak mempengaruhi interaksi dalam variabel.

4.4.2. Mengidentifikasi Pendapatan dan Kesejahteraan Usahatani dengan Metode SRI dan Konvensional

Soekartawi (1995) mengemukakan bahwa pada analisis usahatani, maka data tentang penerimaan, biaya dan pendapatan usahatani perlu diketahui. Cara analisis terhadap tiga variabel ini sering disebut dengan analisis anggaran arus

(43)

29

tunai. Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Penerimaan dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dimana,

TR = Total Penerimaan Usahatani (Rp) Q = Produksi (Kg)

P = Harga jual produk per unit (Rp/Kg)

Rumus Biaya Tetap (Fixed Cost) juga dapat dipakai untuk menghitung Biaya Variabel (Variabel Cost). Karena total biaya (Total Cost) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya tidak tetap (VC), dapat digunakan rumus:

Pendapatan Usahatani:

Dimana,

 = Pendapatan Usahatani (Rp)

TR = Total Penerimaan Usahatani (Rp) TC = Total Biaya Usahatani (Rp)

Biaya penyusutan perlu diperhitungkan karena usahatani padi ini menggunakan peralatan pertanian dalam aktivitasnya. Biaya penyusutan peralatan pertanian diperhitungkan dengan menggunakan metode garis lurus, yaitu membagi selisih antara nilai pembelian dengan nilai sisa yang diperkirakan dangan lamanya modal dipakai. Metode garis lurus dirumuskan sebagai berikut:

(44)

30

Dimana,

Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Perkiraan nilai sisa (Rp) N = Umur ekonomi alat (tahun)

Menurut Sajogyo, salah satu penentuan garis kemiskinan diukur dari nilai tukar beras. Berdasarkan nilai tukar beras dibedakan garis kemiskinan pedesaan dan perkotaan. Di desa ditentukan nilai 180, 240, dan 320 kilogram serta di kota ditentukan nilai 270, 360, dan 480 kilogram setara beras per orang per tahun. Ukuran batas garis kemiskinan Sajogyo dapat dilihat antara lain,

Pendapatan Usahatani (Rp/bulan) > Batas Garis Kemiskinan

Maka, usahatani tersebut tidak dikatakan miskin yang berdampak pada tercukupinya pangan per rumah tangga petani dan kesejahteraan petani tercapai.

Pendapatan Usahatani (Rp/bulan) < Batas Garis Kemiskinan

Maka, usahatani tersebut dikatakan miskin yang berdampak kurang tercukupinya pangan per rumah tangga petani dan kesejahteraan petani belum tercapai.

Penentuan batas garis kemiskinan dapat ditentukan dengan mengkonversikan nilai garis kemiskinan di desa ataupun kota dalam satuan bulan per kilogram, lalu kali dengan harga beras saat ini. Cara mengubahnya dalam satuan rumah tangga petani dikalikan dengan rata-rata jumlah tanggungan jiwa keluarga.

4.4.3. Mengidentifikasi Pengaruh Penerapan Metode SRI terhadap Lingkungan

Budidaya padi menggunakan metode penerapan SRI dapat menghemat air lebih dari 30 persen karena dilihat dari sistem cara pengolahan lahan dengan menggunakan kompos menjadi dasar suatu kebutuhan yang harus diberikan pada

(45)

31

lahan untuk meningkatkan konservasi air dan memperbaiki struktur dan tekstur tanah. Penerapan penggunaan MOL dengan cara teknis masing-masing sesuai dengan bahan yang ada dan merupakan suatu kebutuhan petani pelaku SRI setempat. Dan sistem pengendalian hama terpadu dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati yang tersedia di daerah masing-masing, hal ini dapat menimbulkan interaksi lingkungan yang baik atau terjadinya perputaran siklus kehidupan.

4.5. Pengujian Asumsi-Asumsi Regresi

A. Pengujian Asumsi Regresi Cobb Douglas

Metode pendugaan model yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Cobb Douglas, sehingga agar model yang digunakan sesuai dengan asumsi, maka dilakukan pengujian-pengujian Gujarati (1978). Pengujian asumsi tersebut sebagai berikut :

1. Peubah Xi merupakan peubah non-stokastik (fixed), artinya sudah ditentukan bukan peubah acak. Selain itu, tidak ada hubungan linear sempurna antar peubah bebas Xi.

2. Normalitas

Regresi linear normal klasik mengasumsikan bahwa tiap ei didistribusikan secara normal dengan

( | )

( ) [ ( )][ ( )]

( )

(46)

32 ( | ) [ ( )]

( )

Asumsi ini secara ringkas bisa dinyatakan sebagai

ei ~ N(0, σ2)

Artinya komponen sisaan ei mempunyai nilai harapan sama dengan nol, tidak ada hubungan atau tidak ada korelasi antar sisaan ei, dan komponen sisa menyebar normal. Dengan probabilitas normal masing-masing nilai pengamatan dipasangkan dengan nilai harapan pada distribusi normal. Normalitas terpenuhi apabila titik-titik (data) terkumpul di sekitar garis.

3. Multikolinearitas

Multikolinearitas berarti adanya hubungan linear yang sempurna

atau pasti, di antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi. Situasi multikolinearitas sempurna adalah penyakit yang ekstrim. Biasanya tidak terdapat hubungan yang pasti atau eksak di antara variabel X. Adanya kolinearitas seringkali diduga ketika R2 tinggi dan korelasi derajat nol juga tinggi, tetapi tak satu pun atau sangat sedikit koefisien regresi parsial yang secara individual penting/signifikan secara statistik atas dasar pengujian t yang konvensional. Multikolinearitas diidentifikasi dengan melihat VIF (Variance Inflation Factor) pada masing-masing variabel. Jika nilai VIF > 10, maka terdapat masalah multikolinearitas dalam model.

(47)

33

4. Heteroskedastisitas

Salah satu asumsi dari model regresi linear adalah bahwa ragam sisaan (ei) sama atau homogen, yang menunjukkan bahwa untuk masing-masing nilai peubah X, sebaran atau ragam disekitar garis regresi adalah sama atau konstan. Jika ragam sisaan tidak sama untuk tiap pengamatan ke-i dari peubah-peubah bebas dalam model regresi, maka ada masalah heteroskedastisitas. Hal ini dapat dilihat dengan metode grafik dari plot antara sisaan dengan nilai dugaan telah menunjukkan bahwa titik-titik telah menyebar secara acak dan tidak membentuk pola. Selain itu, Heteroskedastisitas dapat diidentifikasi pula dengan melakukan pengujian

White, melalui sebaran Scale explained SS yang diregresi dengan variabel

yang diuji, dimana jika nilai P > alpha maka asumsi Homoskdastisitas terpenuhi. White menyarankan bahwa jika heteroskdastisitas ragam sisaan berkolerasi dengan satu peubah seperti X dan X2 untuk kemungkinan nonlinearitas.

5. Autokorelasi

Salah satu asumsi dari model regresi linear adalah bahwa tidak ada autokoelasi atau korelasi serial antara sisaan (ei). Dengan pengertian lain, sisaan menyebar bebas untuk i ≠ j, dan dikenal juga sebagai bebas serial

(serial independence). Jika antar sisaan tidak bebas untuk i ≠ j, maka

terdapat masalah korelasi. Istilah korelasi dapat juga didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkain observasi yang diurutkan menurut waktu atau ruang. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat menggunakan metode grafik atau uji Durbin-Watson (DW). Akan tetapi

(48)

34

masalah autokorelasi ini pada umumnya terjadi pada data time series, sehingga pada penelitian ini tidak dilakukan karena data yang digunakan merupakan data cross section.

B. Koefisien Determinasi Terkoreksi (adjusted-R2)

Koefisien determinasi terkoreksi mempunyai karateristik yang diinginkan sebagai ukuran goodness of fit dari pada koefisien determinasi. Jika peubah baru ditambahkan, R2 selalu naik, tetapi adjusted-R2 tidak tergantung pada jumlah peubah. Nilai koefisien determinasi berkisar antara nol dan satu. Jika nilai koefisien determinasi semakin mendekati satu berarti semakin besar keragaman hasil pendapatan dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang mempengaruhinya.

C. Pengujian Parameter Secara Keseluruhan (Uji-F)

Menurut Bambang Juanda (2009) pengujian ini digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel bebas yang digunakan dalam model mempunyai pengaruh secara nyata terhadap variabel yang akan dijelaskan atau tidak. Pengujian hipotesa secara statistik menggunakan uji-F, yaitu :

Fhit =

( )⁄

( )⁄

Dimana,

JKT = Jumlah kuadrat tengah regresi

JKG = Jumlah kuadrat tengah galat/sisa regresi n = Jumlah pengamatan

k = Jumlah variabel bebas Jika,

(49)

35

H1: data dari sampel yang berbeda

dengan menggunakan kriteria keputusan sebagai berikut : Fhit > Ftabel (k-1 ; n-k) maka tolak H0

Fhit < Ftabel (k-1 ; n-k) maka terima H0

Hal ini berarti, jika H0 ditolak maka model dugaan dapat digunakan untuk diramalkan hubungan antara variabel tak bebas dengan variabel penjelas pada tingkat signifikan atau tingkat kepercayaan tertentu (α %).

D. Pengujian Parameter Secara Parsial/Individu (Uji-t)

Menurut Bambang Juanda (2009) pengujian uji-t dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel bebas yang digunakan satu per satu berpengaruh nyata secara statistik terhadap besarnya variabel tak bebas. Pengujian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

thit =

Dimana,

bi = nilai koefisien regresi dugaan Sbi = simpangan baku koefisien dugaan d = batasan yang diharapkan

Adapun kriteria penarikan kesimpulan pada pengujian hipotesis tersebut adalah : thit > ttabel (α ; n-k) atau p-value (output komputer) < α maka tolak H0

thit < ttabel (α ; n-k) atau p-value (output komputer) > α maka terima H0

Jika H0 ditolak, artinya adalah variabel yang digunakan berpengaruh secara nyata terhadap variabel tak bebas. Sebaliknya, jika H0 diterima, maka variabel yang digunakan tidak berpengaruh secara nyata.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :