31
BAB 4
ANALISIS
Sesuai dengan tujuan tugas akhir ini yaitu menganalisis kemampuan perangkat lunak SonarPro untuk pengolahan data side scan sonar, maka analisis didasarkan pada dua hal, yaitu cara kerja SonarPro untuk pengolahan data side scan sonar serta data masukan dan data yang dihasilkan.
4.1 Cara Kerja SonarPro untuk Pengolahan Data Side Scan Sonar 4.1.1 Real-Time Processing
Real-time processing yang dilakukan pada perangkat lunak SonarPro merupakan sebuah informasi yang ditujukan kepada operator yang sedang melakukan pencitraan, informasinya mengenai keadaan dan pergerakan towfish dengan menggunakan alarm, sehingga operator dapat segera mengembalikan kondisi towfish pada keadaan yang seharusnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa real-time processing yang dilakukan pada SonarPro tidak sepenuhnya dilakukan secara otomatis oleh perangkat lunak. Meskipun demikian, dengan adanya real-time processing ini, SonarPro sebagai perangkat lunak pengolah data side scan sonar telah mendefinisikan hubungan antara posisi kapal, posisi towfish, dan posisi objek secara teliti.
Cara menentukan batas toleransi pada proses ini diperlukan pengetahuan yang lebih mengenai akuisisi data side scan sonar terkait dengan ketelitian dan keperluannya. Hal ini berkaitan dengan spesifikasi teknis kerja yang diberikan oleh pihak yang membutuhkan data side scan sonar dan persyaratan teknis standar yang telah ditentukan.
32 4.1.2 Post-processing
Post-processing citra side scan sonar pada SonarPro sangat bergantung pada kualitas data yang dihasilkan side scan sonar selama proses akuisisi data, sehingga jika data yang digunakan adalah data dengan kualitas buruk yaitu data yang pada saat akuisisi tidak disertai informasi distrosi sebagai input, maka data hasil pengolahan pun akan buruk. Hal ini dikarenakan oleh SonarPro tidak memiliki kemampuan untuk mengkoreksi distrosi citra side scan sonar.
Proses pengukuran secara grafis dengan menggunakan tools yang terdapat pada SonarPro untuk mengetahui besaran kualitatif dan besaran kuantitatif sangat tergantung pada interpreter sebagai pengguna (user) perangkat lunak ini. Tools yang terdapat pada SonarPro menuntut user yang berpengalaman dan sangat paham akan teori interpretasi kualitatif dan kuantitatif.
Perbedaan yang mendasar antara cara kerja SonarPro dengan cara kerja manual untuk post-processing, yaitu terletak pada proses untuk mendapatkan data numerisnya. Data numeris yang didapatkan dari hasil kerja manual dilakukan dengan cara mengukur jarak secara grafis dengan menggunakan penggaris atau alat ukur jarak manual lainnya, kemudian dikalikan skala. Jarak yang didapat merupakan jarak miring, sehingga untuk mendapatkan jarak mendatar (horisontal) dan jarak tegak (vertikal) harus dilakukan hitungan pitagoras. Sedangkan data numeris yang didapatkan dari hasil kerja perangkat lunak SonarPro dilakukan dengan tools yang berfungsi mengukur jarak secara grafis. Jarak miring, jarak mendatar, dan jarak tegak didapatkan langsung pada saat pengukuran jarak, sehingga tidak perlu dilakukan hitungan pitagoras.
Fungsi basis data pada SonarPro terbatas pada informasi mengenai target, informasi mengenai hubungan antara towfish dengan target tidak dapat disimpan dalam basis data. Sehingga dapat dikatakan bahwa fungsi basis data pada SonarPro bukan merupakan basis data mengenai besaran-besaran kualitatif dan kuantitatif citra side scan sonar, tetapi basis data target.
33 4.2 Data Masukan dan Data yang Dihasilkan
Gambar 4.1 memperlihatkan skema mengenai data masukan dan data yang dihasilkan oleh real-time processing dan post-processing citra side scan sonar dengan menggunakan perangkat lunak SonarPro.
Gambar 4.1 Skema data masukan dan data yang dihasilkan
4.2.1 Data Masukan
Pada real-time processing, data masukan yang dimaksud adalah data tersirat yang terdapat pada alam yaitu objek bawah laut yang diamati. Dalam tugas akhir ini wilayah yang diamati yaitu perairan di Kecamatan Pomalaa, Propinsi Sulawesi Tenggara.
Kondisi perairan di Pomalaa yang digunakan untuk melakukan akuisisi data side scan sonar merupakan pelabuhan dengan kondisi perairan yang dangkal, sehingga arus dan gelombangnya tidak begitu besar dan kondisi ini memberikan ketelitian yang cukup baik pada citra side scan sonar, karena pergerakan towfish menjadi semakin terkontrol.
Pencitraan side scan sonar dilakukan di Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka Propinsi Sulawesi Tenggara. Kolaka terletak pada koordinat 3.13° hingga 4.35° LS dan 121.05° hingga 121.99° BT. Pomalaa terletak 30 kilometer ke selatan
Data masukan
Data yang dihasilkan Real-time processing
Post- processing
Data masukan
Data yang dihasilkan
Dasar laut
Citra side scan sonar
Citra side scan sonar Besaran-besaran kualitatif dan kuantitatif citra side scan sonar dan basis data
34 Kolaka. Terdapat pelabuhan di Teluk Bone untuk pemuatan barang tambang, feronikel, dan pengiriman bahan makanan utama. Gambar 4.2 memperlihatkan citra satelitnya.
Gambar 4.2 Citra Pomalaa dari satelit (Google Earth, 2008)
Data masukan untuk post-processing merupakan data yang dihasilkan oleh real-time processing. Format data masukan (data input) yang dapat ditampilkan (Playback) oleh SonarPro berupa data citra yaitu format Klein Sonar Data Files (SDF), Klein System 5000 Data Files (5KD), dan Extended Triton Format Files (XTF). Khusus untuk format XTF, SonarPro hanya akan menampilkan format XTF yang direkam oleh SonarPro. Format lain seperti SEG-Y, TRA, atau DAT tidak dapat ditampilkan oleh SonarPro. Oleh karena itu, format data yang biasa digunakan untuk merekam citra side scan sonar adalah format SDF.
35 Gambar 4.3 merupakan objek pada citra side scan sonar yang akan ditentukan besaran-besaran kualitatif dan kuantitatifnya, objek ini disebut target. Target terletak pada 4O 10’ 45.75” LS dan 121O 35’ 54.68” BT.
Gambar 4.3 Target
Citra side scan sonar yang digunakan yaitu data hasil survei Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) pada tanggal 29 September 2005 di Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuannya untuk keperluan pembangunan dermaga pelabuhan (jetty) oleh PT. Aneka Tambang. Survei dilakukan untuk mengidentifikasi dasar laut yang di atasnya akan dibangun dermaga pelabuhan agar pada saat pembangunan tidak membahayakan pekerjaan pembangunan dan konstruksi dermaga. Alat yang digunakan yaitu side scan sonar Klein System 3000. Jenis citra side scan sonar yang dihasilkan yaitu citra dijital.
36 Pada saat akuisisi data side scan sonar dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), informasi mengenai panjang layback, pitch, course, batas toleransi roll, dan batas toleransi ketinggian telah di-input terlebih dahulu, tetapi operator tidak melakukan kontrol, dalam artian bahwa selama pencitraan berlangsung keadaan towfish tidak dikembalikan pada keadaan yang seharusnya ketika berada di luar batas toleransi. Hal ini dilakukan karena pihak tim pengolah data P3GL bermaksud melakukan koreksi setelah proses akuisisi data selesai dilakukan, dan proses koreksi yang seperti ini tidak dapat dilakukan pada perangkat lunak SonarPro, tetapi dapat dilakukan pada perangkat lunak Sonarview. Oleh karena itulah data yang dihasikan oleh post-processing merupakan data yang tidak terkoreksi dari distorsi.
4.2.2 Data yang Dihasilkan
Data yang dihasilkan real-time processing merupakan data masukan untuk post-processing. Datanya berupa citra side scan sonar yang seharusnya telah dikoreksi dari distorsi. Data citra side scan sonar yang dihasilkan akan menentukan kualitas data hasil interpretasi.
Dalam citra side scan sonar tersebut terdapat beberapa target yang akan disimpan dalam basis data target serta terdapat besaran-besaran kualitatif dan kuantitatif citra yang diambil dari salah satu target.
Tabel 4.1 memperlihatkan nilai besaran kuantitatif citra side scan sonar dari hasil interpretasi kuantitatif secara grafis dengan salah satu target pada citra. Dari hasil interpretasi kuantitatif secara grafis ini kemudian akan digunakan untuk mendapatkan besaran kuantitatif citra side scan sonar yang tidak didapatkan secara grafis dengan melakukan interpretasi kuantitatif secara numeris.
37 Tabel 4.1 Data hasil interpretasi kuantitatif secara grafis
Besaran Kuantitatif Jarak (meter) Jarak miring antara towfish dengan target (S) 31.1 Tinggi antara towfish dengan dasar laut (H) 4.1 Jarak miring antara towfish dengan bayangan (Y) 36.9 Kedalaman antara towfish dengan muka laut (d) 3.6 Jarak mendatar antara towfish dengan target (R) 30.9 Tinggi antara target dengan dasar laut (h) 0.6
Tabel 4.2 memperlihatkan besaran kuantitatif citra side scan sonar dari hasil interpretasi kuantitatif secara numeris dengan menggunakan persamaan yang telah dibahas pada bab 2.
Tabel 4.2 Data hasil interpretasi kuantitatif secara numeris
Besaran Kuantitatif Jarak
(meter) Jarak mendatar antara towfish dengan target (R) 30.9 Tinggi antara target dengan dasar laut (h) 0.6 Jarak vertikal antara objek dengan towfish (Δd) 3.5
Kedalaman antara target dengan muka laut (dO) 7.1
Jarak miring antara target dengan bayangan (y) 5.8
Kedalaman dasar laut (W) 7.7
Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa nilai jarak mendatar antara towfish dengan target (R) dan tinggi antara target dengan dasar laut (h) yang didapatkan dari hasil interpretasi kuantitatif secara grafis dan dari hasil interpretasi kuantitatif secara numeris nilainya adalah sama (jika data hasil interpretasi kuantitatif secara numeris dilakukan pembulatan hingga satu angka di belakang koma).
38 Data hasil interpretasi kualitatif, diperoleh target memiliki panjang 34,1 meter, lebar 16,3 meter, dan warna yang sangat terang kemudian sangat gelap membentuk garis yang memisahkan target dengan bayangannya, sehingga membentuk suatu bentukan.
Produk dari pencitraan side scan sonar salah satunya yaitu mosaik, SonarPro memiliki keterbatasan dalam hal penyajian data seperti pembuatan mosaik. Produk yang dihasilkan SonarPro adalah berupa data hasil interpretasi kualitatif dan kuantitatif yaitu data grafis dan data numeris yang disimpan dalam basis data.
Aplikasi dari data hasil interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif sangat penting untuk studi atau pengenalan awal seperti studi kelayakan, perencanaan, dan perancangan. Sedangkan untuk pemanfaatannya, data hasil interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif merupakan salah satu sumber data dalam Sistem Informasi Kelautan.