• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan, karena merupakan wahana atau sarana untuk meningkatkan sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan untuk mengolah sumber daya alam yang tersedia, agar memiliki nilai ekonomi tinggi dan berdaya saing.

Ada berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan adanya perubahan kurikulum. Sebelum diterapkannya kurikulum 2013, kurikulum yang dipakai di Indonesia adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Latar belakang adanya perubahan kurikulum berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 64 Tahun 2013 bahwa di tengah perubahan zaman sistem pendidikan di Indonesia juga harus menyesuaikan. Adapun orientasi pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap, ketrampilan dan pengetahuan. Disamping cara pembelajaraanya yang holistik dan menyenangkan. Perubahan yang paling mendasar adalah pendidikan berbasis sains dan tidak sekedar hafalan saja.

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. (Permendikbud Nomor 64:2013)

Kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2013/2014 diterapkan untuk 148.695 sekolah, yaitu di Sekolah Dasar pada kelas I dan kelas IV, sedangkan pada tingkan Sekolah Menengah Pertama diterapkan pada kelas VII dan Sekolah Menengah Atas diterapkan pada kelas X. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Saintifik (scientific approach) yang mana pembelajaran tidak berpusat pada guru (teacher centered) tetapi berpusat pada siswa (student centered).

(2)

Salah satu sekolah yang sudah menggunakan kurikulum 2013 adalah SMA Negeri 1 Sukoharjo, kurikulum ini diterapkan pada semua siswa kelas X, dimana mata pelajaran Fisika merupakan mata pelajaran wajib bagi peserta didik peminatan IPA maupun IPS.

Berdasarkan observasi, wawancara dan pemberian angket pada kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Sukoharjo, diketahui bahwa guru mengajar menggunakan metode ceramah dengan bantuan LCD. Guru juga menjelaskan memang terbiasa menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Ketika pelajaran fisika sudah dimulai masih terdapat 8 siswa yang terlambat, 4 siswa tidak membawa buku pengangan fisika, 3 siswa mengerjakan PR, 4 siswa belajar materi selain fisika, 3 siswa terlihat makan permen. Sikap siswa tersebut menujukan bahwa sikap disiplin siswa rendah, hal ini berdasarkan uraian pengertian kedisiplinan menurut Suratman (1999:32).

Pada saat pembelajaran berlangsung teramati 4 siswa tidak mengerjakan PR, 7 siswa mengikuti pembelajaran sambil tiduran, 5 siswa menggambar abstrak dan 15 siswa tidak mencatat materi yang disampaikan guru. Perilaku yang ditunjukan oleh siswa, menurut Fadhillah & Khorida (2013: 205) adalah perilaku kurang bertanggung jawab.

Ketika guru sedang menerangkan materi, terlihat ada 14 mengobrol dengan teman sebangkunya dan tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Menurut Mochlisin (2007) sikap siswa tersebut menujukan sikap menghargai terhadap orang lain rendah.

Ketika guru selesai menerangkan materi ada 2 siswa yang bertanya tentang materi yang sudah diterangkan, 2 siswa mengerjakan soal latihan dan 2 siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru. Hal ini menunjukan bahwa siswa tidak yakin pada dirinya sendiri. Sikap siswa yang tidak yakin pada dirinya sendiri menurut Fajri dan Senja (2003: 257) adalah sikap kurang percaya diri.

Pada akhir pembelajaran guru memberikan latihan soal sebagai penguatan dan bahan diskusi namun siswa cenderung bekerja sendiri tanpa ada interaksi dengan teman sebangkunya padahal menurut salah satu siswa mereka sering bekerja sama untuk membersihkan kelas ataupun menghias kelas ketika ada

(3)

acara tertentu di sekolah. Hal ini menunjukan bahwa kerjasama siswa dalam pembelajaran masih perlu untuk ditingkatakan hal ini sesuai dengan pengertian tentang kerja sama yang dipaparkan oleh Soerjono (2006: 66).

Bukti dokumentasi nilai ulangan yang telah dicapai pada hasil mata pada materi Optik, dengan KKM 75 hanya ada 3 siswa yang memenuhi batas ketuntasan. Selain itu dikuatkan hasil wawancara dengan guru, nilai ulangan fisika memang biasanya kurang dari 50% yang tuntas.

Berdasarkan observasi, dokumentasi dan wawancara yang telah dilakukan di kelas X IPA 6 SMA negeri 1 Sukoharjo dapat diidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran fisika khususnya di kelas X IPA 6dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Walaupun sudah menggunakan kurikulum 2013 yang menerapakan pendekatan saintifik tetapi metode ceramah masih dominan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga menimbulkan kejenuhan pada siswa.

2. Kemampuan afektif siswa masih rendah.

3. Hasil ulangan pada materi sebelumnya rendah, dari 38 siswa hanya 3 siswa yang tuntas. Ini menujukan bahwa kemampuan kognitif siswa rendah.

Untuk menyelesaikan masalah diatas perlu dilakukan perbaikan kualitas proses pembelajaran. Sebagai tindakan guna mengatasi permasalahan yang terjadi maka perlu dilakukan penelitian tindakan (action research) yang berorientasi pada perbaikan kualitas pembelajaran melalui sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR) (Suharsimi Arikunto, dkk, 2006:2).

Salah satu upaya yang dilakukan adalah penerapan model pembelajaran yang yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan, kondisi siswa, sarana dan prasarana yang tersedia serta tujuan pengajarannya. Model pembelajaran yang biasa digunakan adalah model ceramah, maka dari itu perlu adanya perubahan model pembelajaran untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran sehingga kemampuan kognitif dan afektifnya meningkat.

Siswa kelas X IPA 6 sering belajar bersama diluar kelas, dalam belajar bersama ini mereka biasanya membahas masalah-masalah yang kurang dimengerti ketika pelajaran fisika berlangsung. Mereka bisa saling bertukar penadapat dalam

(4)

pemecahan masalah. Hal ini tentu bisa di terapakan di dalam kelas dengan memberi ruang dan kesempatan untuk mereka.

Materi Suhu, kalor dan perpindahan kalor adalah materi yang banyak mengandung peristiwa-peristiwa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari misalnya penggunaan termometer, perpindahan panas dan perubahan wujud benda. Selain itu tidak begitu membutuhkan alat dan bahan yang susah untuk didapat untuk digunakan dalam dalam praktikum.

Model pembelajaraan kooperatif tipe STAD menurut Isjoni (2012:74) adalah model pembelajaran yang menuntut siswa untuk mampu bekerja sama dalam pemecahan masalah dengan teman satu kelompoknya, sehingga mampu menggali kemampuan kognitif dan afektif siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Model kooperatif tipe STAD juga mampu merangsang daya cipta siswa untuk mencari dan menemukan sendiri pengetahuannya sehingga mereka tidak cepat lupa dengan apa yang dipelajarinya, karena mereka bisa memahami konsep dari materi yang diterimanya. Selain itu hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh (Ratih Atrwiantini Astuti : 2013) menunjukkan bahwa tehnik-tehnik pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan kemampuan kerjasama dan sikap ilmiah siswa kelas X-5 SMA Negeri 1 Surakarta. Pada materi Suhu dan Kalor. Sedangkan menurut penelitian yang dilakukan oleh Sinig Panti Utami (2008) menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan afektif siswa kelas VIII pada materi Fungsi.

Serta penelitian yang dilakukan oleh Micheal M van Wyk (2012) menyatakan bahwa Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini dapat meningkatkan

prestasi siswa, sikap dan motivasi dalam mata pelajaran ekonomi. Penelitian yang

dilakukan oleh N.N Pandey dan Kaushal Kishore menunjukan bahwa pembelajran koopertaif tipe STAD yang diterapkan di kelas IX di India dapat meningkatkan kemapuan kognitif siswa dalam pembelajaran sains.

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan terhadap beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran berkelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa yang meliputi kemampuan kognitif dan afektif. Oleh karena itu, untuk mengatasi permasalahan rendahnya prestasi siswa

(5)

kelas X IPA 6 Tahun Ajaran 2013/2014 maka dipandang untuk menerapkan model pembelajaran Kooperatif STAD (Student Teams Achievement Divisions) pada pokok bahasan Suhu, Kalor dan Perpindahan Kalor.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut:

1. Walaupun sudah menggunakan kurikulum 2013 yang menerapkan pendekatan saintifik tetapi metode ceramah masih dominan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga menimbulkan kejenuhan pada siswa.

2. Kemampuan afektif siswa masih rendah.

3. Hasil ulangan pada materi sebelumnya rendah, karena tidak lebih dari 50% siswa yang tuntas. Ini menujukan bahwa kemampuan kognitif siswa rendah.

C. Pembatasan Masalah

Penelitian harus mempunyai arah yang jelas dan pasti, sehingga perlu diberikan batasan masalah. Berdasar latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka pengkajian dan pembatasan masalah dititik beratkan pada:

1. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Sukoharjo Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

2. Materi Pelajaran

Materi pelajaran Fisika dibatasi pada pokok bahasan Suhu, Kalor dan Perpindahan Kalor.

3. Objek Penelitian

Obyek penelitian adalah hasil belajara siswa yang meliputi kemampuan kognitif dan aspek afektif yang meliputi aspek kedisiplinan, kerjasama, tanggung jawab, percaya diri dan toleransi berpendapat berpendapat.

(6)

Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas maka perumusan masalah dalam penelitian adalah

1. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dalam pembelajaran Fisika dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Sukoharjo ?

2. Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) dalam pembelajaran Fisika dapat meningkatkan kemampuan afektif siswa kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Sukoharjo ?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Meningkatkan kemampuan kognitif siswa kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Sukoharjo dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions)

2. Meningkatkan kemampuan afektif siswa kelas X IPA 6 SMA Negeri 1 Sukoharjo dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Divisions)

F. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung bagi berbagai pihak antara lalin:

1. Bagi Siswa

Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatakan kemampuan kognitif siswa dan aktivitas belajar siswa yang terlibat dalam kegiatan penelitian.

2. Bagi Guru

Memberikan wawasan dan pengalaman kepada guru, sehingga guru akan memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap pendekatan pembelajaran dan model pembelajaran melalui model STAD (Student Team Achievment Division).

(7)

Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif bagi pengembangan sekolah khususnya untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah.

4. Bagi Peneliti

Sebagai bentuk latihan dalam penulisan hasil penelitian khususnya penelitian tindakan kelas.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perhitungan dengan pendekatan data hasil kajian keseimbangan nitrogen tubuh (kebutuhan protein dari data review berbagai kajian klinis) tidak konsisten dengan hasil

Clause 16.3.4 -- In the event of termination of this Agreement after the Financing Date pursuant to Section 16.1.4 due to a PLN Event of Default or pursuant to Section 16.2.4(a), PLN

Hasil penelitian menunjukkan terdapat 19 sasaran strategis yang ingin dicapai dengan prioritas sasaran adalah: meningkatkan penerimaan Fakultas (bobot 10%),

Pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengetahui konsentrasi penggunaan tepung kulit kopi fermentasi pada pakan dapat dihubungkan dengan kulit buah terong belanda

bahwa dengan berlakunya Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah maka Peraturan Daerah Kabupaten Nunukan Nomor 7 Tahun 2001

pemerintah akan fokus pada stabilisasi harga enam bahan pangan yang harganya meroket, yaitu cabai rawit, bawang merah, daging ayam telur, beras, dan daging sapi.. (Harga

terapi musik instrumental 82% depresi ringan, 18% depresi berat, 2) setelah melakukan terapi musik instrumental 88% tidak depresi dan 12% depresi ringan, 3) hasil

Pada temperatur 700 o C kehomogenan dimensi ukuran partikel lebih merata dan didukung dengan analisis fasa berdasarkan pola difraksi yang dihasilkan terdapat 35% untuk