BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. dengan menggunakan seluruh modal yang dimiliki. Rasio profitabilitas

21 

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Pengertian Profitabilitas

Profitabilitas adalah kemampuan badan usaha untuk menghasilkan laba dengan menggunakan seluruh modal yang dimiliki. Rasio profitabilitas (Kasmir, 2015) merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.

Profitabilitas adalah faktor yang memberikan kebebasan dan fleksibelitas kepada manajemen untuk melakukan dan mengungkapkan kepada pemegang saham program tanggung jawab sosial secara lebih luas (Heinze, 1976 dalam Florence, et al., 2004).

Menurut Petronila (2003) dalam Wahidahwati (2002) profitabilitas merupakan gambaran dari kinerja manajemen dalam mengelola perusahaan. Penilaian profitabilitas adalah proses untuk menentukan seberapa baik aktivitas-aktivitas bisnis dilaksanakan untuk mencapai tujuan strategis, mengeliminasi pemborosan-pemborosan dan menyajikan informasi tepat waktu untuk melaksanakan penyempurnaan secara berkesinambungan (Supriyono, 1999).

(2)

Ada beberapa pengukuran kinerja terhadap profitabilitas perusahaan dimana masing-masing pengukuran dihubungkan dengan volume penjualan, total aktiva dan modal sendiri. Profitabilitas keuangan perusahaan dideskripsikan dalam bentuk laporan keuangan laba-rugi yang merupakan bagian dari laporan keuangan korporasi, yang dapat digunakan oleh semua pihak yang berkepentingan untuk membuat keputusan ekonomi. Berdasarkan laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan, selanjutnya dapat digali informasi mengenai posisi keuangan perusahaan, struktur permodalan, aliran kas, kinerja keuangan dan informasi lain yang mempunyai hubungan dengan laporan keuangan perusahaan. Profitabilitas keuangan perusahaan tercermin dari laporan keuangannya, oleh sebab itu untuk mengukur profitabilitas keuangan perusahaan diperlukan analisis terhadap laporan keuangannya dan terlebih di posisi neraca.

Menurut Shapiro (1991) yang menunjukkan bahwa profitabilitas sangat cocok untuk mengukur efektivitas manajemen dan pengevaluasian kinerja manajemen dalam menjalankan bisnis dan produktivitasnya dalam mengelola aset-aset perusahaan secara keseluruhan seperti yang nampak pada pengembalian yang dihasilkan oleh penjualan dan investasi, serta untuk mengevaluasi kinerja ekonomi dari bisnis. Secara umum profitabilitas merupakan pengukuran dari keseluruhan kinerja perusahaan yang pada akhirnya akan menunjukkan efisiensi dan produktivitas perusahaan tersebut. Penggunaan rasio profitabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan perbandingan antara berbagai komponen yang ada dilaporan keuangan neraca

(3)

dan laporan laba rugi. Pengukuran dapat dilakukan untuk beberapa periode operasi. Tujuan utama dari perusahaan adalah untuk memperoleh laba dan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan. Keberhasilan suatu perusahaan bukan hanya dilihat dari besarnya laba yang diperoleh atau dihasilkan oleh perusahaan tersebut, tetapi hal ini harus dihubungkan dengan jumlah modal yang digunakan untuk memperoleh laba yang dimaksud. Bagi perusahaan masalah profitabilitas adalah lebih penting dari persoalan laba, karena laba yang besar saja merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba tersebut, atau dengan kata lain menghitung tingkat profitabilitasnya.

Berikut adalah jenis-jenis profitabilitas: 1. ROE ( Return on Equity )

Return on Equity atau rentabilitas modal sendiri merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki. Return on Equity merupakan alat analisis keuangan untuk mengukur profitabilitas. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan berdasarkan modal tertentu. Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dari sudut pandang pemegang saham (Halim dan Hanafi, 2005). Salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegang saham, ukuran dari keberhasilan pencapaian alasan ini adalah angka ROE berhasil dicapai. Semakin besar ROE mencerminkan kemampuan

(4)

perusahaan dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham

𝑅𝑂𝐸 = NIAT

πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦x100%

Keterangan:

NIAT = Net Income After Tax (Laba bersih setelah pajak) Equity = Total modal sendiri.

2. ROA (Return on Assets )

Return on total asset merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset yang tertentu. ROA juga sering disebut sebagai ROI (Return On Investment). Rasio yang tinggi menunjukkan efisiensi manajemen aset, yang berarti efisiensi manajemen (Hanafi dan Halim, 2012). Semakin kecil (rendah) rasio ini, semakin kurang baik, demikian pula sebaliknya. Rasio ini mengukur tingkat pengembalian investasi yang telah dilakukan perusahaan dengan menggunakan seluruh aktiva dimilikinya. Semakin tinggi ROA semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Semakin tinggi keuntungan yang dihasilkan perusahaan akan menjadikan investor tertarik akan nilai perusahaan (Arifin 2002).

𝑅𝑂𝐴 = NIAT

Total assetx100%

Keterangan:

NIAT = Net Income After Tax (Laba bersih setelah pajak)

(5)

3. Net Profit Margin

Profit Margin on Sales atau margin laba atas penjualan merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Rasio ini juga dikenal dengan nama profit margin Rumusnya sebagai berikut:

𝑁𝑃𝑀 =Laba bersih setelah pajak

Penjualan x100%

4. Earning per Sahre on Common Stock

Earning per share atau laba perlembar saham biasa adalah rasio yang menunjukan berapa besar kemampuan perlembar saham dalam menghasilkan laba (Syafri, 2008). Earning per share merupakan rasio yang menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa (Syamsuddin, 2009). Oleh karena itu pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik akan earning per share. Earning per share adalah salah satu indikator keberhasilan perusahaan.

Rumusnya sebagai berikut:

𝐸𝑃𝑆 = Laba Saham Biasa

Jumlah saham biasa yang beredar 2.1.2 Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan serta efisiensi perusahaan dalam menghasilkan penjualan dengan kemampuan aktiva yang dimiliki. Kasmir (2015) menyatakan bahwa rasio aktivitas (activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas

(6)

perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi (efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan. Rasio aktivitas juga digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Dari hasil pengukuran dengan rasio aktivitas akan terlihat apakah perusahaan lebih efisien dan efektif dalam mengelola aset yang dimilikinya atau mungkin justru sebaliknya.

Perusahaan pada dasarnya membutuhkan modal yang cukup dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tanpa adanya modal aktivitas usaha tidak dapat dijalankan (Sawir, 2005). Semakin tinggi tingkat aktivitas yang ada pada perusahaan semakin besar aliran kas yang diterima perusahaan berarti semakin efektif dalam mengelola aktivitas transaksi yang ada di perusahaan. Adanya tingkat efektivitas yang tinggi menunjukkan kesempatan bertumbuh perusahaan yang tinggi pada masa mendatang, sehingga akan memberikan daya tarik bagi investor.

Berikut ini adalah jenis-jenis rasio aktiftas: a. Total Assets Turnover (TATO)

Total assets turn over merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva atau dengan kata lain digunakan untuk menghitung efektivitas penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi menunjukkan semakin efektif pengelolaan aktiva tetap yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Kalau perputarannya lambat, ini menunjukkan

(7)

bahwa aktiva yang dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan untuk menjual (Sawir, 2001). Rumus total assets turn over:

π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘› π‘‚π‘£π‘’π‘Ÿ =Penjualan

Aktiva b. Inventory Turnover (ITO)

Inventory Turnover merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kecepatan perputaran persediaan menjadi kas. Semakin cepat inventory terjual, semakin cepat investasi perusahaan berubah dan persediaan menjadi kas (Ang, 1997). Perusahaan yang nilai perputaran persediaannya makin tinggi berarti makin efisien dalam kaitannya dengan pengendalian biaya, efisiensi dalam pengendalian biaya bagi perusahaan akan berdampak pada peningkatan perolehan laba. Inventory Turnover secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

πΌπ‘›π‘£π‘’π‘›π‘‘π‘œπ‘Ÿπ‘¦ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘› π‘œπ‘£π‘’π‘Ÿ =harga pokok penjualan

rata βˆ’ rata persediaan

c. Working Capital Turn Over (Rasio Perputaran Modal Kerja)

Perputaran Modal Kerja merupakan Rasio mengukur aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktivitas bisnis terhadap kelebihan aktiva lancar atas kewajiban lancar serta menunjukan banyaknya penjualan (dalam rupiah) yang dapat diperoleh perusahaan untuk tiap rupiah modal kerja. (Sawir, 2009).

Working capital turn over merupakan kemampuan modal kerja (neto) berputar dalam satu periode siklus kas (Cash Cycle) dari perusahaan

(8)

(Riyanto,2008). Modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha. Periode perputaran modal kerja dimulai saat dimana kas di investasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai dimana saat kembali menjadi kas. Makin pendek periode tersebut berarti makin cepat perputaran atau makin tinggi perputarannya. Berapa lama periode perputaran modal kerja adalah tergantung berapa lama periode perputaran dari masing-masing komponen dari modal kerja tersebut.

Rumusnya adalah sebagai berikut:

π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π‘€π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ πΎπ‘’π‘Ÿπ‘—π‘Ž = Penjualan

Modal Kerja Bersih d. Fixed assets turnover (Perputaran Aktiva Tetap)

Rasio ini merupakan perbandingan antara penjualan dengan aktiva tetap. Rasio ini mengukur efektivitas penggunaan dana yang tertanam pada harta tetap seperti pabrik dan peralatan, dalam rangka menghasilkan penjualan, atau berapa rupiah penjualan bersih yang dihasilkan oleh setiap rupiah yang di investasikan pada aktiva tetap (Sawir, 2003)

Rumusnya adalah sebagai berikut:

π‘ƒπ‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘‘π‘Žπ‘Ÿπ‘Žπ‘› π΄π‘˜π‘‘π‘–π‘£π‘Ž π‘‡π‘’π‘‘π‘Žπ‘ = Penjualan

Aktiva Tetap e. Perputaran Piutang (Receivable Turn Over)

Perputaran piutang merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode atau berapa kali dana yang ditanam dalam piutang ini berputar dalam satu periode. Semakin

(9)

tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik (Kasmir 2011). Rumus perputaran piutang (receivable turn over):

π‘…π‘’π‘π‘–π‘’π‘£π‘Žπ‘π‘™π‘’ π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘› π‘‚π‘£π‘’π‘Ÿ =Penjualan Kredit

Piutang 2.1.3 Definisi Leverage

Leverage digambarkan untuk melihat sejauh mana asset perusahaan dibiayai oleh hutang dibandingkan dengan modal sendiri (Weston dan Copeland, 1992). Sedangkan Kusumawati dan Sudento (2005) menggambarkan leverage sebagai kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya dengan menggunakan ekuitas yang dimilikinya. Leverage dengan kata lain sebagai penaksir dari resiko yang melekat pada suatu perusahaan. Artinya, leverage yang semakin besar menunjukkan risiko investasi yang semakin besar pula. Perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki risiko leverage yang lebih kecil pula.

Salah satu faktor penting dalam unsur pendanaan adalah hutang. Pengertian hutang menurut Imam Gozali dan Anis Cariri (2003) Hutang adalah pengorbanan manfaat ekonomi masa mendatang yang mungkin timbul karena kewajiban sekarang suatu entitas untuk menyerahkan aktiva atau memberikan jasa kepada entitas lain dimasa mendatang sebagai akibat transaksi masa lalu.

Tingginya rasio leverage menunjukkan bahwa perusahaan tidak solvable artinya total hutangnya lebih besar dibandingkan dengan total asetnya (Horne,1997) karena leverage merupakan rasio yang menghitung seberapa

(10)

jauh dana yang disediakan oleh kreditur atau pihak luar, juga sebagai rasio yang membandingkan total hutang terhadap keseluruhan aktiva suatu perusahaan. Apabila investor melihat sebuah perusahaan dengan asset yang tinggi namun resiko leverage nya juga tinggi, maka invesor akan berpikir dua kali untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut, karena dikhawatirkan asset tinggi tersebut di dapat dari hutang yang akan meningkatkan risiko investasi apabila perusahaan tidak dapat melunasi kewajibanya tepat waktu.

Keputusan manajemen untuk berusaha menjaga agar rasio leverage tidak bertambah tinggi mengacu pada pecking order theory menyatakan bahwa perusahaan menyukai internal financing dan apabila pendanaan dari luar (eksternal financing) diperlukan. Maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu, yaitu obligasi kemudian diikuti sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi konversi) baru akhirnya apabila belum mencukupi perusahaan akan menerbitkan saham. Pada intinya apabila perusahaan masih bisa mengusahakan sumber pendanaan internal maka sumber pendanaan eksternal tidak akan diusahakan. Maka dapat disimpulkan rasio leverage yang tinggi menyebabkan turunnya nilai perusahaan (Weston dan Copeland, 1992).

Rasio leverage merupakan proporsi total hutang terhadap rata-rata ekuitas pemegang saham. Rasio tersebut digunakan untuk mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh dana pinjaman menurut Wiagustini, 2010 (dalam Novari dan Lestari, 2016). Risiko perusahaan dapat diukur atau di taksir melalui tingakat leverage yang dimiliki oleh perusahaan. Semakin tinggi

(11)

leverage yang dimiliki perusahaan maka akan berdampak pada tingkat risiko berinvestasi, begitupun sebaliknya apabila leverage perusahaan rendah maka perusahaan dapat memberikan kepercayaan yang besar terhadap investor. Tingginya tingkat leverage perusahaan menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu memenuhi kewajibannya, yang artinya total hutang lebih besar dibandingkan dengan total asset yang dimiliki perusahaan tersebut. Jika perusahaan memiliki asset perusahaan yang tinggi namun pada tingkat leverage pun juga tinggi dapat di takutkan pemenuhan asset perusahaan keseluruhannya didapat dari hutang yang meningkatkan risiko investasi karena ditakutkan perusahaan tidak mampu melunasi hutang-hutangnya dengan baik. Berikut ini adalah jenis-jenis dari rasio Leverage:

1. Debt to Asset Ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Rumus untuk menghitung Debt to Asset Ratio yaitu:

𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑑 π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ =Total Utang

Total Aktiva

2. Long Term Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara utang jangka panjang dengan total modal sendiri. Rumus untuk menghitung Long Term Debt to Equity Ratio yaitu:

πΏπ‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘š 𝑑𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ π‘’π‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦ =πΏπ‘œπ‘›π‘” π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘š 𝑑𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ π‘’π‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦

Ekuitas

3. Debt to Equity Ratio, merupakan rasio hutang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total modal. Rumusnya adalah sebagai berikut:

(12)

𝐷𝑒𝑏𝑑 π‘‘π‘œ πΈπ‘žπ‘’π‘–π‘‘π‘¦ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ = Total Utang Total Ekuitas

4. Times Interest Earned Ratio, merupakan rasio antara laba sebelum bunga dan pajak dengan beban bunga. Rumusnya adalah sebagai berikut:

π‘‡π‘–π‘šπ‘’π‘  πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘‘ πΈπ‘Žπ‘Ÿπ‘›π‘’π‘‘ π‘…π‘Žπ‘‘π‘–π‘œ = EBIT

π΅π‘–π‘Žπ‘¦π‘Ž π΅π‘’π‘›π‘”π‘Ž (πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘ π‘‘)

5. Fixed Charge Coverage atau lingkup biaya tetap merupakan rasio yang menyerupai Times Interest Earned Ratio. Hanya saja perbedaannya adalah rasio ini dilakukan apabila perusahaan memperoleh utang jangka panjang atau menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa (lease contract). Rumus fixed charge coverage (FCC):

𝐹𝐢𝐢 =EBT + Biaya Bunga + Kewajiban Sewa/Lease

Biaya Bunga + Kewajiban Sewa/πΏπ‘’π‘Žπ‘ π‘’

2.1.4 Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan menurut Harmono (2009) merupakan kinerja perusahaan yang dicerminkan oleh harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran di pasar modal yang merefleksikan penilaian masyarakat terhadap kinerja perusahaan. Nilai perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham (Bringham Gapensi, 1996 dalam Siswoyo, 2012). Semakin tinggi harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Menurut Rika dan Ishlahuddin, 2008 (dalam Apritasari dan Oetomo 2013) mengemukakan

(13)

bahwa Nilai perusahaan didefinisikan sebagai nilai pasar. Alasannya karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran atau keuntungan bagi pemegang saham secara maksimum jika harga saham perusahaan meningkat. Semakin tinggi harga saham, maka makin tinggi keuntungan pemegang saham, sehingga keadaaan ini akan diminati investor. Pencapaian nilai perusahaan biasanya para pemodal menyerahkan tanggung jawab yang besar terhadap manajer yang professional.

Nilai perusahaan secara konsep dapat dijelaskan oleh nilai yang ditentukan oleh harga saham yang diperjual belikan dipasar modal (Harmono, 2011). Sedangkan menurut Martono dan Harjito (2010) Memaksimumkan nilai perusahaan disebut sebagai memaksimumkan kemakmuran pemegang saham (stakeholder wealth maximation) yang dapat diartikan juga sebagai memaksimumkan harga saham biasa dari perusahaan (maximizing the price of the firm’s common stock)”. Salah tujuan utama perusahaan menurut theory of the firm adalah untuk memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (Salvatore,2005). Nurlela dan Ishaluddin (2008) menjelaskan bahwa enterprise value (EV) atau dikenal juga sebagai firm value (nilai perusahaan) merupakan konsep penting bagi investor, karena merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan secara keseluruhan. Husnan dan Pudjiastuti (2006) menyatakan bahwa nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut dijual. Semakin tinggi nilai perusahaan, semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik

(14)

perusahaan. Bagi perusahaan yang menerbitkan saham di pasar modal, harga saham yang diperjual-belikan di bursa merupakan indikator nilai perusahaan. Berikut adalah Indikator-indikator yang mempengaruhi Nilai Perusahaan: 1. Price to Book Value (PBV)

Price to Book Value sangat penting untuk menilai kinerja perusahaan. Nilai perusahaan dapat diukur dengan PBV (price book value) merupakan rasio pasar yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya (Jogiyanto, 2000). Rasio ini juga menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Semakin tinggi PBV yang dimiliki perusahaan maka semakin tinggi pula tingkat kepercayaan yang dibangun untuk menarik para investor. Semakin tinggi nilai rasio PBV semakin tinggi penilaian investor dibandingkan dengan dana yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut, sehingga semakin besar pula peluang para investor untuk membeli saham perusahaan (Budi dan Rachmawati, 2014). Rumus PBV adalah:

𝑃𝐡𝑉 = Harga Pasar per saham

π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– π΅π‘’π‘˜π‘’ π‘π‘’π‘Ÿ π‘ π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘š 2. Price Earning Ratio (PER)

Price earning ratio biasanya digunakan untuk menganalisis suatu saham. Menurut Bahagia (2008) dalam Styarini dan Santoso (2016) Price Earning Ratio (PER) yaitu rasio yang mengukur seberapa besar perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang diperoleh para pemegang saham. Rumus yang digunakan adalah:

(15)

𝑃𝐸𝑅 = Harga Pasar Saham Harga per Lembar Saham 3. Rasio Tobin’s Q

Rasio Tobin’s Q digunakan sebagai indikator penilaian nilai perusahaan. Rasio ini juga dinilai bisa memberikan informasi paling baik, karena dalam Tobin’s Q memasukkan semua unsur hutang dan modal saham perusahaan, tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas perusahaan yang dimasukkan namun seluruh asset perusahaan. Dengan memasukkan seluruh asset perusahaan berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada satu tipe investor saja yaitu investor dalam bentuk saham namun juga untuk kreditur karena sumber pembiayaan operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga dari pinjaman yang diberikan oleh kreditur menurut Sukamulja, 2004 (dalam Apritasari dan Oetomo 2013). Tobin’s Q merupakan rasio yang digunakan untuk membandingkan nilai pasar saham suatu perusahaan yang terdaftar dipasar keuangan dengan nilai buku ekuitas perusahaan atau nilai penggantian asset, dengan rumus yang telah dimodifikasi oleh (Smithers Wright, 2000). Rasio ini merupakan konsep yang berharga karena menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dollar investasi inkremental menurut Bomantara, 2014 (dalam Stiyarini dan Santoso, 2016). Rumus rasio Tobin’s Q adalah:

𝑄 =(EMV + D)

(16)

Keterangan:

Q = Nilai Perusahaan

EMV = Nilai Pasar Ekuitas (EMV = closing price x jumlah saham yang beredar)

D = Nilai Buku dari Total Hutang

EBV = Nilai Buku dari Total Ekuitas (EBV = total aset – total kewajiban)

2.1.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu mengenai Profitabilitas, Rasio Aktivitas dan Leverage terhadap nilai perusahaan sudah pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian terdahulu disajikan bertujuan untuk mengetahui persamaan dan perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan oleh penulis dengan penelitian terdahulu. Berikut ini adalah penjelasan penelitian terdahulu yang disajikan dalam bentuk tabel.

(17)

Tabel 1

Penelitan Terdahulu

Nama Variabel Metode Hasil

Tito perdana, et.al (2007) Variabel Independen: (X1)Pengaruh Kinerja Keuangan Variabel Dependen: (Y) Nilai Perusahaan Analisis regresi berganda 1. Pengaruh ROA sebagai variabel dependent tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan 2. DER dan EPS

berpengaruh tehadap Nilai perusahaan

Ista Yansi (2016) Variabel Independen: (X1) Profitabilitas (X2) Rasio Aktivitas (X3) Keputusan Pendanaan Variabel Dependen: (Y) Nilai Perusahaan Analisis regresi berganda 1. Profitabilitas, rasio aktivitas, dan keputusan pendanaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Styarini (2016) Variabel Independen: (X1)Kinerja Keuangan Variabel Dependen: (Y) Nilai Perusahaan Analisis regresi berganda

1. DER dan ROA berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan 2. CR dan TATO tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan

(18)

2.1.6 Pengaruh Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan

Profitabilitas digunakan untuk mengukur sampai sejauh mana keefektifan dari keseluruhan manajemen dalam menciptakan keuntungan bagi perusahaan.setelah bunga dan pajak. Menurut Lukman (2009) profitabilitas yang tinggi menunjukkan prospek perusahaan yang baik.Semakin besar tingkat kemakmuran yang diberikan oleh perusahaan akan menarik minat investor, sehingga investor akan merespon positif sinyal serta memicu investor untuk ikut meningkatkan permintaan saham. Selanjutnya permintaan saham yang meningkat akan menyebabkan nilai perusahaan juga meningkat.

Semakin baik pertumbuhan profitabilitas berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai semakin baik juga, artinya semakin baik pula nilai perusahaan dimata investor. Apabila kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, maka harga saham juga akan meningkat (Husnan, 2001)

2.1.7 Pengaruh Rasio Aktivitas terhadap Nilai Perusahaan

Perusahaan pada dasarnya membutuhkan modal yang cukup dalam menjalankan kegiatan operasionalnya tanpa adanya modal aktivitas usaha tidak dapat dijalankan. Semakin tinggi tingkat aktivitas yang ada pada perusahaan semakin besar aliran kas yang diterima perusahaan berarti semakin efektif dalam mengelola aktivitas transaksi yang ada di perusahaan. Adanya tingkat efektivitas yang tinggi menunjukkan kesempatan bertumbuh perusahaan yang tinggi pada masa mendatang, sehingga akan memberikan

(19)

daya tarik bagi investor. Selanjutnya harga saham perusahaan yang tinggi akan diikuti dengan peningkatan nilai perusahaan.

2.1.8 Pengaruh Rasio Leverage terhadap Nilai Perusahaan

Perusahaan memperoleh sumber dana dari dalam perusahaan berupa penyusutan dan laba ditahan, sedangkan Sumber dana dari luar perusahaan berupa hutang dan penerbitan saham. Hutang (leverage) Adalah salah satu alat yang dipergunakan perusahaan untuk meningkatkan modal mereka dalam rangka meningkatkan keuntungan

Kelebihan hutang yang besar akan memberikan dampak yang negatif pada nilai perusahaan (Ogolmagai,2013) sedangkan penelitian Yuyetta (2009) menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan Penelitian yang dilakukan Fama(1978) yang didukung oleh Cortez & Stevie (2012),

Perusahaan yang menggunakan hutang mempunyai kewajiban atas bunga dan beban pokok pinjaman. Risiko perusahaan dapat dilihat atau di taksir melalui tingakat leverage yang dimiliki oleh perusahaan. Penelitian empiris yang dilakukan oleh Novari dan Lestari (2016) , Analisa (2011) menyatakan bahwa leverage berpengaruh negatif signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan Asgharian (2003) menunjukkan adanya hubungan negative antara tingkat leverage dengan nilai perusahaan pada perusahaan yang terkelompok ke dalam distressed industries

(20)

2.2 Rerangka Pemikiran

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas maka rerangka pemikiran yang diajukan penulis pada penelitian ini yaitu meliputi faktor internal yang mempengaruhi Nilai Perusahaan dan menggunakan laporan keuangan (Financial statement) untuk mengukur kinerja perusahaan yang tercermin pada rasio keuangan. Rasio keuangan yang digunakan sebagai variabel bebas dalam penelitian ini yaitu: Profitabilitas, Rasio Aktivitas dan Leverage sebagai variabel terikatnya adalan Nilai Perusahaan. Rerangka dalam penelitian sebagai berikut:

Gambar 1

Rerangka Pemikiran Profitabilitas (ROA)

R

Rasio Aktivitas (TATO)

Leverage (DER)

Nilai Perusahaan (PBV)

(21)

2.3 Perumusan Hipotesis

Adapun hipotesis sementara dalam penelitian ini adalah pada perusahaan Manufaktur sektor Telekomunikasi yang terdaftar di Busa Efek Indonesia adalah sebagai berikut:

H1: Profitabilitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor industri Telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

H2: Rasio Aktivitas berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor industri Telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

H3: Leverage berpengaruh terhadap nilai perusahaan manufaktur sektor industri Telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :