Tindak Pidana Penelantaran Rumah Tangga Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor : 467k Pid.Sus 2013)

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Negara Republik Indonesia adalah Negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dijamin oleh Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945. Dengan demikian, setiap orang dalam lingkup rumah tangga dalam melaksanakan hak dan kewajibannya harus didasari oleh agama. Hal ini perlu terus ditumbuhkembangkan dalam rangka membangun keutuhan rumah tangga.1

Rumah tangga adalah sebuah tempat untuk membentuk keluarga yang di dalamnya terdiri dari suami, isteri, anak, serta orang-orang yang mendiami dalam rumah tangga pada waktu tertentu.2

Keluarga merupakan lembaga sosial yang ideal guna menumbuh kembangkan kelebihan dan kemampuan yang ada pada setiap individu namun dalam kenyataannya keluarga sering kali menjadi wadah bagi munculnya berbagai kasus penyimpangan sehingga menimbulkan kesengsaraan atau penderitaan, yang dilakukan oleh anggota keluarga satu terhadap anggota keluarga lainnya.

Selain itu rumah tangga sebagai tempat berlindung, mencurahkan kebahagian dalam membentuk keluarga yang sakinah untuk mendapatkan rasa aman, tentram, dan damai.

3

1

Peri Umar Farouk, Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), (Jakarta: Resources Coordinator, 2010), hal.1.

2

Pasal 2 Undang-undang Nomor 23Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

3

Didik M Arif Mansyur, Urgensi Perlindungan Korban Kejahatan (Jakarta: Raja Grafindo, 2008), hal. 131.

(2)

merupakan dambaan setiap orang dalam rumah tangga. Namun tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan dalam rumah tangganya.1

Tujuan perkawinan yang tercantum dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan juga memberikan suatu pengertian perkawinan sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.2

Pasal di atas dapat diartikan sebagai larangan adanya tindakan kekerasan dalam rumah tangga, karena tidak sesuai dengan tujuan perkawinan serta hak dan kewajiban suami istri. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga bahagia dan menciptakan ketenangan, kenyamanan bagi suami isteri serta anggota keluarga. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat. Dengan demikian, segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan dan diputuskan bersama oleh suami isteri. Hal ini berarti rumah tangga seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para anggotanya karena keluarga dibangun oleh suami istri atas dasar ikatan lahir batin di antara keduanya.

Kemudian dalam Pasal 33 undang-undang tersebut ditentukan tentang hak dan kewajiban suami istri, “suami istri wajib saling mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

3

1

Erna Suryadi, Bagaimana Mencegah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), (Jakarta: PT Pustaka Harapan, 2011), hal.1.

2

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. 3

Rika Saraswati,Perempuan dan Penyelesaian Kekerasan dalam Rumah Tangga,

(3)

dan kedudukan yang seimbang dalam kehidupan berumah tangga dan pergaulan hidup di dalam masyarakat serta berhak untuk melakukan perbuatan hukum.1

Tindakan kekerasan sebagai bagian dari perbuatan kriminal terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kekerasan adalah tindakan yang dilakukan berupa pemaksaan dan kontrol dengan tujuan untuk mendominasi seseorang yang dipandang lemah.2 Tindakan tersebut merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia. Kekerasan ini bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, bahkan didalam lingkungan keluarga yang merupakan ruang lingkup sosial terkecil dalam masyarakat yang dalam pikiran masyarakat sedikit sekali kemungkinan untuk terjadinya kekerasan dilingkungan tersebut. Namun ditempat itulah sering terjadi tindakan kekerasan. Tindakan kekerasan dalam keluarga ini dikenal dengan istilah kekerasan dalam rumah tangga yang biasanya disingkat dengan KDRT.3

Pasal 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) menentukan kekerasan dalam rumah tangga adalah :4

1

Ibid.

2

Jurnal Perempuan Semai Untuk Keadilan Dan Demokrasi, Penghapusan Kekerasan

Dalam Rumah Tangga, (Jakarta: Koalisi Perempuan Indonesia, 2004), hal. 3.

3

Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hal.1.

4

Pasal 1 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

(4)

Kekerasan dalam rumah tangga pada umumnya merupakan perbuatan yang merugikan perempuan baik secara fisik, seksual, psikologi, maupun penelantaran rumah tangga.1

Tabel 1: Kasus kekerasan terhadap perempuan dan keluarga di

Indonesia

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat kasus kekerasan dalam rumah tangga sebagai berikut:

2

No Tahun Jumlah Kasus

1 2010 143.586

2 2011 119.107

3 2012 8.315

4 2013 919

Sumber : Komnas perempuan

Berdasarkan data yang bersumber dari Komnas perempuan, Kasus kekerasan terhadap perempuan dan keluarga sejak tahun 2010 sampai dengan 2013 sebagaimana dapat dilihat di dalam tabel I menunjukkan adanya penurunan yang sangat signifikan. Hal ini terlihat dari turunnya angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan keluarga yang pada tahun 2010 sebanyak 143.586 kasus menjadi 919 kasus pada tahun 2013. Setengah atau 46 persen dari kasus tersebut adalah kekerasan Psikis, 28 Persen kekerasan psikis, 17 persen kekerasan seksual, dan 8 persen kekerasan ekonomi.3

Lingkup keluarga saat ini masih sering mengalami berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan dalam kehidupannya, baik di lingkungan rumah tangga maupun keluarga. Hal ini merupakan fakta yang sukar untuk dipungkiri,

1

Rena Yulia, Victimologi Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kejahatan, (Yogjakarta: Graha Ilmu, 2010), hal. 9.

2

http://www.komnasperempuan.or.id/, diakses Hari sabtu, pukul 17.30 WIB, Tanggal 14

(5)

apalagi jika kekerasan yang mereka alami dalam kehidupan tertentu di tingkat masyarakat dan negara. Sejumlah fakta terjadinya berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga yang sebagian besar korbannya adalah perempuan dewasa dan anak-anak. Berbagai dampak kekerasan yang mengancam kehidupan kaum perempuan ini merupakan fakta hukum yang harus menjadi pertimbangan utama dalam menyatakan perbuatan tersebut sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.1

a. Kekerasan fisik;

Bab III UU PKDRT diatur mengenai pengenaan pidana bagi setiap orang yang melanggar larangan melakukan kekerasan dalam rumah tangga yang tersebut dalam Pasal 5. Pasal 5 UU PKDRT menyatakan “setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangga, dengan cara :

2

b. Kekerasan psikis;3 c. Kekerasan seksual;atau4 d. Penelantaran rumah tangga.

1

Elfinur Bermawi, dkk, Perlindungan Hukum dan Hak Asasi Manusia Terhadap

Perempuan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dan Upaya Pencegahannya, (Jakarta:

Badan Pelatihan dan Pegembangan Ham Kementerian Hukum dan Hak asasi Manusia, 2013), hal.8.

2

Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat, Lihat Pasal 6 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

3

Kekerasan Psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilang rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang, Lihat: Pasal 7 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.

4

(6)

Ketentuan Pasal 5 UU PKDRT tersebut pada pokoknya ada 4 (empat) jenis tindak pidana yang dikualifikasikan sebagai tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga yakni kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran rumah tangga.1

Salah satu bentuk kekerasan dalam rumah tangga adalah “Penelantaran orang dalam lingkup rumah tangga”. Sehingga yang menjadi titik fokus dalam penelitian ini adalah bentuk kekerasan yang keempat yaitu penelantaran rumah tangga. Menurut Pasal 5 huruf d UU PKDRT dilarang setiap orang melakukan penelantaran rumah rumah tangga, yakni sebagaimana yang diatur dalam Pasal 9 UU PKDRT, bahwa: 2

(1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkungan rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

(2) Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

Larangan melakukan Penelantaran dalam rumah tangga dalam Pasal 5 huruf d diancam dengan pidana dalam Pasal 49 UU PKDRT sebagai berikut :

Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga tahun) atau denda paling banyak Rp. 15.000.000.00 ( Lima belas juta rupiah), setiap orang yang :

a. Menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1).

b. Menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2).

1

Guse Prayudi, Berbagai Aspek Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga, (Yogjakarta : Merkid Press, 2012), hal. 31.

2

(7)

KUHP sendiri memiliki pasal yang sepadan/ sejenis dengan Penelantaran rumah tangga yakni di atur dalam BAB XV.1

a. Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga;

Tentang Meninggalkan orang yang memerlukan pertolongan, yakni Pasal 304 yang menyatakan :

“ Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seseorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan dia wajib memberi kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.

Tujuan penghapusan kekerasan dalam rumah sebagaimana disebutkan di dalam Pasal 4 UU PKDRT adalah:

b. Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga; c. Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga;

d. Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera.

Apabila pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga diterapkan Pasal 49 UU PKDRT maka tujuan dari Pasal 4 hurud d UU PKDRT tidak akan tercapai, selain itu apabila terhadap pelaku dikenakan Pasal 49 maka tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang memberian pengertian bahwa perkawinan adalah sebagai ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal, berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan ketentuan tersebut sedapat mungkin untuk pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga dijauhkan dari pidana penjara.

1

(8)

Penjatuhan pidana bagi pelaku tindak pidana penelantaraan rumah sebagaimana disebutkan dalam Pasal 49 UU PKDRT tidak akan mendatangkan manfaat bagi anggota keluarga baik istri maupun anak, penjatuhan pidana penjara kepada pelaku akan membuat istri dan anak menjadi terlantar dengan tidak terpenuhi kehidupan sehari-hari, sehingga perlu dicari solusi atau alternatif selain pidana penjara atau denda.

Pasal 5 huruf d jis Pasal 9, pasal 49 UU PKDRT, perlu adanya kualifikasi mengenai “Penelantaran”, dimana unsur penting dalam jenis tindak pidana ini adalah frasa “menelantarkan” dimana dalam UU PKDRT tidak memberikan pengertian tentang hal ini, berbeda dengan “Kekerasan Fisik, Psikis, dan Seksual” yang diberikan pengertian secara normatif. Sehingga diperlukan penafsiran secara sistematis. Selanjutnya mengenai syarat sebagaimana disebutkan dalam Pasal 9 ayat (1) ‘tidak memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang dalam lingkup rumah tangganya” menimbulkan pertanyaan pihak mana sebenarnya yang dituju oleh aturan ini sebagai pelaku atau subjek tindak pidananya, dan apa yang dimaksud dengan “memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeriharaan kepada orang tersebut”, dalam UU PKDRT tidak memberikan pengertian apa sebenarnya yang dimaksud dengan memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan sehingga diperlukan kualifikasi mengenai ketentuan sebagaimana yang disebutkan Pasal 9 UU PKDRT.

(9)

Putusan Mahkamah Agung No. 467 K/Pid.Sus/2013 Terdakwa Qiez (nama disamarkan) pada tanggal 19 Desember 2008 sekitar pukul 11.30 WIB atau setidak-tidaknya masih termasuk tahun 2008 di sebuah rumah dengan alamat Tabek Jorong Data Bungo Nagari Aripan Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok, atau setidak-tidaknya masih termasuk daerah hukum Pengadilan Negeri Solok, Qiez melakukan penelantaran dalam lingkup rumah tangga terhadap saksi korban Nie (nama disamarkan) yang merupakan isteri sah terdakwa, Nie memarahi terdakwa karena terdakwa sering menghubungi wanita lain melalui handphonenya dan merusak handphone tersebut, lalu korban mengusir tedakwa, selanjutnya terdakwa meninggalkan saksi korban beserta 4 (empat) orang anak-anaknya, kemudian terdakwa tidak pernah lagi ke rumahnya atau menemui saksi korban beserta anak mereka kembali sampai sekarang (selama kurangi lebih 3 tahun), bahkan terdakwa juga tidak pernah menafkahi saksi korban beserta anak-anak mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab terdakwa, yang mengakibatkan keluarga terdakwa (saksi korban beserta anak-anak) tidak tercukupi kebutuhan ekonominya.1

Pengadilan Negeri Solok No. 02/Pid.Sus/2012/PN.Slk. tanggal 20 Februari 2012 menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan memerintahkan agar terdakwa ditahan, dengan putusan diantaranya menyatakan terdakwa Qiez, telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum, bersalah melakukan tindak pidana “Penelantaran orang lain dalam lingkup rumah tangga” yang di lakukan oleh suami terhadap

1

(10)

istri, menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana selama 1 tahun (satu ) 6 bulan .

Tingkat banding Pengadilan Tinggi Padang, dengan Nomor 50/PID/2012/PT PDG, tanggal 11 April 2012 menerima Banding dari terdakwa, menguatkan putusan Pengadilan Negeri Solok Nomor 02/Pid.Sus/2012/PN.SLK tanggal 20 Februari 2012.

Tingkat kasasi melalui putusan Nomor 467 K/Pid .Sus/2013 yaitu menolak permohonan kasasi dari terdakwa Qiez, memperbaiki amar putusan pengadilan tinggi padang, Nomor 50/PID/2012/PT.PDG, tanggal 11 April 2012 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Solok Nomor 02/Pid.Sus/2012/PN.Slk, tanggal 20 Februari 2012 sekedar mengenai lamanya pidana penjara. Menyatakan terdakwa Qiez terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “penelantaran orang lain dalam lingkup rumah tangga” menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana selama 1 (satu) tahun.

(11)

B. Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Perbuatan apa saja yang dikategorikan ke dalam lingkup rumah tangga dengan cara penelantaran rumah tangga?

2. Jenis pidana apakah yang tepat dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga?

3. Bagaimana pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga menurut putusan Mahkamah Agung Nomor. 467 K/Pid.Sus/2013?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulisan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui perbuatan yang dikategorikan ke dalam lingkup rumah tangga dengan cara penelantaran rumah tangga.

2. Untuk mengetahui jenis pidana yang tepat dijatuhkan kepada pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga.

3. Untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana penelantaran rumah tangga berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 467 K/Pid.Sus/2013 .

D. Manfaat Penelitian

(12)

1. Manfaat Teoritis

Dapat memberikan sumbangan bagi kalangan akademis untuk memahami terhadap tindak pidana penelantaran istri. Penulisan ini juga diharapkan memberi pemikiran dalam rangka perkembangan ilmu hukum pada umumnya dan perkembangan hukum pidana khususnya mengenai tindak pidana penelantaran rumah tangga.

2. Manfaat praktis

Dapat menggugah kesadaran para pembaca dan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk pelaksanaan penegakan hukum demi terciptanya masyarakat yang tertib, hukum yang adil dan memberi kepastian hukum bagi masyarakat. Penulisan tesis ini juga diharapkan dapat memberikan solusi terhadap problematika dalam masyarakat yaitu tindak pidana penelantaran rumah tangga dalam masyarkat.

E. Keaslian Penelitian

(13)

judul penelitian yang membahas Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yaitu:

a. Firdaus, NIM: 037005057, dengan judul “Suatu tinjauan Tentang Penerapan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Terhadap Pelaku Kekerasan dalam Rumah Tangga (Studi Kasus Muhammad Rajab di Pengadilan Lubuk Pakam)”.

b. Anda Nurani, dengan judul “ Peran Polri dalam Penanggulangan Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kota Medan”.

c. Natalia Swana Rita, NIM: 107005125, dengan Judul “ Perlindungan Hukum Terhadap anak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga”.

(14)

F. Kerangka Teori dan Konseptual

1. Kerangka Teori

Kata teori berasal dari kata theori yang artinya pandangan atau wawasan1. Theoria juga bermakna sebagai pengetahuan dan pengertian yang terbaik.2Secara umum teori itu diartikan sebagai pengetahuan yang hanya ada dalam alam pikiran tanpa dihubungan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat praktis untuk melakukan sesuatu.3 Kerangka secara etimologis bermakna garis besar atau rancangan. Teori adalah keseluruhan pernyataan yang salin berkaitan.4

Kerangka teori dalam penelitian hukum sangat diperlukan untuk membuat jelas nilai-nilai oleh postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya yang tertinggi.5 Teori hukum sendiri boleh disebut sebagai kelanjutan dari mempelajari hukum positif, setidak-tidaknya dalam urutan yang demikian itulah kita dapat merenkonstruksikan kehadiran teori hukum secara jelas.6 Kerangka teori merupakan garis besar dari suatu rangcangan atas dasar pendapat yang dikemukan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa.7

1

Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, (Jogyakarta: Cahaya Atma Pustaka, 2012), hal.4 2

Bernard, Yoan N.Simanjuntak dan Markus Y.Hage, Teori Hukum Strategi Tertib

Manusia Lintas Ruang Dan Generasi ( Yogjakarta : Genta Publising, 2010), hal 41.

3

Sudikno, Op.Cit, hal.7. 4

J.JH. Bruggink alih bahasa oleh Arief Shidarta, Refleksi Tentang Hukum, ( Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 1999), hal.2.

5

Sajipto Raharjo, Ilmu Hukum ( Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 254. 6

Ibid,hal. 253.

(15)

realisasi pelaksanaan penelitian.1 Oleh karena itu, kerangka teoritis bagi suatu penelitian mempunyai kegunaan sebagai berikut:2

1. Teori tersebut berguna untuk mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya;

2. Teori sangat berguna untuk mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta mengembangkan definisi-definisi yang ada;

3. Teori merupakan suatu iktisar daripada hal-hal yang diteliti;

4. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi dimana yang akan datang.

Kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penulisan ini adalah teori tujuan pemidanaan, penggunaan teori tujuan pemidanaan dalam penelitian untuk melihat tujuan dari penjatuhan pidana kepada pelaku penelantaran rumah tangga. Selain itu dalam penelitian ini juga mengunakan teori Utilitarianisme (Manfaat). Digunakan teori Utilitarianisme untuk melihat manfaat

bagi korban (korban tindak pidana penelantaran rumah tangga adalah istri, anak dan semua yang telah disebutkan di dalam ketentuan Pasal 2 UU PKDRT) setelah pelaku dijatuhi pidana, manfaat yang diperoleh oleh korban setelah pelaku dijatuhi pidana.

1. Teori Tujuan Pemidanaan

Teori tujuan pemidanaan terdiri dari teori absolut, teori relatif dan teori teleogogical retributif atau teori gabungan.

Teori absolut lahir pada aliran klasik dalam hukum pidana. Menurut teori ini pembalasan adalah legitimasi pemidanaan.1

1

Kaelan M.S., Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, (Yogjakarta; paradigma, 2005), hal. 239.

2

Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, ( Jakarta : UI Press, 1986), hal. 121.

(16)

pidana karena penjahat tersebut telah melakukan penyerangan dan perkosaan pada hak dan kepentingan hukum (pribadi, masyarakat atau negara) yang telah dilindungi.2 Vos dalam Leerboek-nya berkomentar,“ De absolute theorien, die vooral tegen het eind det euw opkomen, zoeken de rechtsgrond van de straf in de

begane misdaad: die misdaad op zich zelf is voldoende grond om de dader the

bestraffen...”(teori absolut, terutama bermunculan pada akhir abad ke-18, mencari

dasar hukum pemidanaan terhadap kejahatan. Kejahatan itu sendiri dilihat sebagai dasar dipidananya pelaku).3

Pandangan yang bersifat absolut (yang dikenal juga dengan teori retributif), dianggap sebagai pandangan yang paling klasik mengenai konsepsi pemidanaan. Dalam pandangan ini, diandalkan bahwa setiap individu manusia itu bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Setiap perbuatan dengan sendirinya mengandung konsekuensi untuk mendapatkan respons positif atau negatif. Jika perbuatan itu bersifat sosial, maka ganjarannya yang diperoleh pelakunya positif, seperti berupa penghargaan atau pujian dan sebaginya. Tetapi jika perbuatnnya itu bersifat antisosial, maka ganjarannya bersifat negatif, misalnya dengan dicela, dimusuhi, atau bahkan dihukum sebagai imbalan atau pembalasan terhadap perbuatannya antisosial itu.4

Menurut teori absolut setiap kejahatan harus di ikuti dengan pidana tidak boleh tidak tanpa tawar menawar. Seorang mendapat pidana karena telah

1

Eddy O.S.Hiariej, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, (Yogjakarta:Cahaya Atma Pustaka, 2014), hal.31.

2

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana,( Jakarta, Raja Grafindo, 2008), hal.157. 3

(17)

melakukan kejahatan, maka pemberian pidana disini ditujukan sebagai bentuk pembalasan terhadap orang yang telah melakukan kejahatan.1

Teori absolut (teori mutlak) melihat pidana sebagai suatu gejala yang mempunyai arti sendiri. Mutlak di sini dipakai dalam artinya semula; “dilepaskan” dari setiap tujuan apapun. Jadi pidana tidak mempunyai tujuan lain selain daripada hanya pidana saja. Karena kejahatan tidak dibolehkan menurut susila dan menurut, maka kejahatan itu seharusnya dipidana. Jadi pidana itu mempunyai fungsi sendiri yaitu sebagai bantahan terhadap kejahatan. Hanya dengan “membalas” kejahatan itu dengan penambahan penderitaan, dapat dinyatakan bahwa perbuatan itu tidak dapat dihargai. Oleh karena itu pidana “dilepaskan” dari tujuan.2

Menurut teori absolut setiap tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang harus dikenakan pidana sebagai pembalasan atas perbuatannya itu, tanpa dilihat akibat yang timbul dari penjatuhan pidana itu di masa depan.3pemidanaan dalam pandangan ini adalah untuk memperbaiki keseimbangan moral yang dirusak oleh kejahatan. Menurut simon,4

1

Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung; PT.Refika Aditama, 2008), hal.23.

2

Ibid, hal.32.

3

Teori pembalasan membenarkan pemidanaan karena seseorang telah melakukan suatu tindak pidana. Terhadap pelaku tindak pidana mutlak harus diadakan pembalasan yang berupa pidana. Tidak dipersoalkan akibat pemidanaan bagi terpidana. Bahan pertimbangan untuk pemidanaan hanya masa lampau, yaitu masa terjadinya tindak pidana itu. Masa datang yang bermaksud memperbaiki penjahat tidak dipersoalkan. Lihat E.Y. Kanter dan S.R, Sianturi,

asas-asas-asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta: Alumni AHM-PTHM, 1982),

Hal.59. 4

P.A.F. Lamintang, Hukum Penetensier Indonesia, ( Bandung : Armico, 1984), hal.13.

(18)

Teori absolut atau teori pembalasan ini terbagi atas pembalasan subjektif dan dan pembalasan objektif. Pembalasan subjektif ialah pembalasan terhadap kesalahan pelaku. Pembalasan objektif ialah pembalasan terhadap apa yang telah diciptakan pelaku di dunia luar.1

“Oleh karena itu, apabila pidana itu dijatuhkan dengan tujuan semata-mata hanya untuk membalas dan menakutkan, maka belum pasti tujuan ini akan tercapai, karena dalam diri terdakwa belum tentu ditimbulkan rasa bersalah atau menyesal mungkin pula sebaliknya, bahkan ia menaruh rasa dendam menurut hemat saya, membalas atau menakutkan si pelaku dengan suatu tindak pidana yang kejam memperkosa rasa keadilan”.

Mengenai masalah pembalasan itu J.E Sahetapy menyatakan:

2

Berat ringannya pidana bukan merupakan ukuran untuk menyatakan narapidana sadar atau tidak. Pidana yang berat bukanlah jaminan untuk membuat terdakwa menjadi sadar, mungkin juga akan lebih jahat. Pidana yang ringan pun kadang-kadang dapat merangsang narapidana untuk melakukan tindak pidana kembali.3

Ada beberapa ciri dari teori absolut sebagaimana yang diungkapkan oleh Kart O. Christiansen yaitu:4

a. Tujuan pidana semata-mata untuk pembalasan;

b. Pembalasan merupakan tujuan utama, tanpa mengadung sarana-sarana untuk tujuan lain, misalnya kesejahteraan rakyat;

c. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat bagi adanya pidana; d. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan pembuat;

e. Pidana melihat kebelakang yang merupakan pencelaan yang murni dan tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik, atau memasyarakatkan kembali pelanggar.

1

Suwarto, Individualisasi Pemidanaan,( Medan :Pustaka Bangsa Press, 2012), hal. 24. 2

J.E.Sahetapy, Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana, (Bandung : Alumni, 1979), hal.149.

3

Suwarto, Loc.Cit. 4

(19)

Penganut teori absolut ini antara lain adalah immanuel Kant, Hgel, Herbart dan Julius Stahl. Pendapat Kant, pidana adalah etika;praktisnya adalah suatu ketidakadilan, oleh karena itu kejahatan harus dipidana (de straf als eis van ethiek;de practishe rede eist onvoorwaardelijk,dat op het misdrijf de straf volgt).

Menurut Hegel, kejahatan adalah peningkaran terhadap hukum, kejahatan dihapus (de misdaad is een negative van het recht, dat dan weer door de straf wordt opgeheven)1. Ciri khas dari ajaran-ajaran absolut dari Kant dan Hegel, adalah keyakinan mutlak akan keniscayaan pidana, sekalipun pemidanaan sebenarnya tidak berguna, bahkan bilapun membuat keadaan pelaku kejahatan menjadi lebih buruk.2

Berbeda dengan Herbat yang menyatakan, kejahatan yang tidak dibalas disenangi, tuntutan yang harus dipenuh bahwa pelaku mengalami beratnya nestapa seperti ia mengakibatkan orang lain menderita (de overgorden misdaad mishaagt. Het is dus een eis van aesthetische noodwendigheid, dat de dader een

gelijk iezuantum leed ondervindt als hij heeft doen lijden). Sementara Stahl

mengemukan bahwa pidana adalah keadilan Tuhan. Penguasa sebagai wakil Tuhan di dunia harus memberlakukan keadilan Tuhan di dunia (de straf als eis van Goddelijke gerechtigheid.de overhed als vertegenwoordigster van God op

aarde heeft die goddelijke gerechtigheid tot gelding te brengen).3

Berdasarkan apa yang dikemukan oleh Kant, Hegel, Herbart dan Stahl, menurut Remmelink sebenarnya pemikiran-pemikiran mereka yang digolongkan ke dalam teori absolut ini berbeda antara satu dengan yang lain. Kesamaan yang

1

Eddy O.S.Hiariej, Op.Cit, hal.32. 2

Abul Khair dan Mohammad Ekaputra, Op.Cit, hal.31. 3

(20)

mempertautkan mereka adalah pandangan bahwa syarat dan pembenaran penjatuhan pidana tercakup di dalam kejahatan itu sendiri, terlepas dari pandangan absolut terhadap pidana. Menurut Remmelink, sebenarnya teori absolut yang menjadi ciri aliran klasik sudah dikembangkan pada zaman kuno, Dengan merujuk pada aliran fisuf Yunani, Plato,menyatakan: Nemo prudens punit, qiezuia peccatum, sed ne peccetur (seorang bijak tidak menghukum karena dilakukannya

dosa, melainkan agar tidak terjadi lagi dosa). Upaya mencegah kejahatan dilakukan dengan membuat takut sehingga hukum pidana kuno kemudian mengembangkan sanksi pidana yang begitu kejam dan pelaksanaannya dilakukan di depan umum dengan memberi peringatan pada masyarakat luas.1

Teori relatif atau teori tujuan berpokok pangkal pada dasar bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan tata tertib (hukum) dalam masyarakat. Tujuan pidana ialah tata tertib masyarakat, dan untuk menegakan tata tertib itu diperlukan pidana.2 Teori relatif mencari dasar hukum pidana dalam menyelenggarakan tertib masyarakat dan akibatnya yaitu tujuan pidana untuk prevensi terjadinya kejahatan. Untuk mencapai tujuan ketertiban masyarakat tadi, maka pidana itu mempunyai tiga macam sifat yaitu:3

a. Bersifat menakut-nakuti (afscbrikking);

b. Bersifat memperbaiki (verbetering/reclasering); c. Bersifat membinasakan ( onschadelijk maken).

1

Ibid.

2

(21)

Cessare Beccaria dalam M.hamdan1

Teori relatif tidak mengakui pidana sebagai sesuatu yang mempunyai tujuan sendiri (penambahan penderitaan sebagai pembalasan), akan tetapi hanya memberikan arti pada pidana, karena dengan pidana akan dapat diusahakan dan dicapai tujuan lain. Para penganut teori relatif ini memandang pidana sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan untuk mencapai kemanfaatan, baik yang berkaitan dengan orang yang bersalah, misalnya menjadikannya sebagai orang yang lebih baik, maupun yang berkaitan dengan dunia, misalnya dengan mengisolasi dan memperbaiki penjahat atau mencegah penjahat petensial, akan menjadi dunia tempat yang lebih baik.

melakukan kritikan keras terhadap tujuan pemidanaan dalam teori retributif. Menurut Beccaria hukum harus mampu menjamin kebahagian yang sejati dari sebagaian besar masyarakat (the greatest happiness of the number). Untuk menjamin kebahagiaan terbesar ini, maka pidana

harus terlebih dahulu ditentukan di dalam undang-undang yang dibuat melalui kekuasaan legislatif, sebagai perwujudan dari prinsip kontrak sosial.

2

Pandangan ini melihat hukuman sebagai cara untuk mencegah atau, mengurangi kejahatan. Premisnya adalah bahwa, pemidanaan sebagai tindakan yang menyebabkan derita bagi si terpidana, hanya dapat dianggap sah apabila terbukti, bahwa dijatuhkannya pidana penderitaan itu memang menimbulkan akibat lebih baik daripada tidak dijatuhkan pidana, khusunya dalam rangka menimbulkan efek pencegahan terhadap pihak-pihak yang terlibat. Karena tujuannya yang berusaha mencegah demikian inilah maka pandangan ini

1

M. Hamdan, Hukuman dan Pengecualian Hukuman Menurut KUHP Dan KUHAP, ( Medan: Usu Press, 2010), hal.10-11.

2

(22)

dinamakan ultilitarian prevention, yang oleh Paker disebut “ deterence ” yang juga berarti pencegahan.1

Pidana bukalah sekedar untuk melakukan pembalasan atau pengimbangan kepada orang yang telah melakukan suatu tindak pidana, tetapi mempunyai tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat. Oleh karena itu teori ini sering juga disebut teori tujuan (utilitarian theory). Dasar pembenaran pidana menurut teori ini adalah terletak pada tujuannya. Pidana dijatuhkan bukan qiezuia peccatum est (supaya orang jangan melakukan kejahatan).2

Pencegahan dalam pandangan utilitarian ini lebih dikaitkan dengan tindakan-tindakan yang bersifat menakuti sperti dengan acaman sehingga orang menjadi takut untuk melakukan pelanggaran. Menurut Packer dalam Jimly Asshiddiqie, dalam pandangan utilitarian prevention ini, terdapat dua macam pencegahan yang harus dibedakan yaitu after the fact inhibition dan inhibition in advance. Karena itu, teori Deterence ini dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:3

1. Deterence Theory yang efek pencegahan diharapkn timbul sebelum

pidana dilakukan, misal melalui ancaman, contoh keteladanan, dan sebagainya, yang biasa juga disebut dengan “general deterence”

2. Intimidation theory yang memandang bahwa pemidanaan itu merupakan

sarana untuk mengintimidasi mental si terpidana. Menurut teori ini, sekali seseornag dijatuhi pidana, maka selanjutnya secara mental ia akan terkondisikan untuk menghidari perbuatan serupa, yang ia ketahui akan dapat atau mungkin dapat menyebabkan ia dipidana.

Menurut teori Teleological retributivist, tujuan pemidanan bersifat plural, karena menghubungkan prinsip-prinsip teleologis, misalnya “utilitarianism” dan

1

Ibid.

2

(23)

prinsip-prinsip retributivist dalam suatu ketentuan, sehingga seringkali pandangan ini disebut aliran integratif.1

Grotius atau Hugo de Groot menyatakan bahwa penderitaan memang sesuatu yang sewajarnya ditanggung pelaku kejahatan, namun dalam batasan apa yang layak ditanggung pelaku tersebut kemanfaatan sosial akan menetapkan berat-ringannya derita yang layak dijatuhkan. Hal ini bertolak dari satu adagium yang berbunyi natura ipsa dictat, ut qui malum fecit, malum ferat yang berarti kodrat mengajarkan bahwa siapa yang berbuat kejahatan, maka akan terkena derita. Akan tetapi, tidak hanya penderitaan semata sebagai suatu pembalasan tetapi juga ketertiban masyarakat.

Teori tujuan pemidanaan selanjutnya adalah Teori Teleological retributivist yang juga dikenal dengan teori gabungan (verenigings theorien). Yang lahirnya karena adanya kelemahan dari teori absolut dan teori relatif, teori gabungan ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata tertib masyarakat, dengan kata lain dua alasan itu menjadi dasar dari penjatuhan pidana.

2

Penganut teori adalah Zevenbergen, seorang ahli hukum pidana jerman. Zevenbergen lebih menitikberatkan pada pembalasan, namun bertujuan untuk melindungi tertib hukum, karena respek terhadap hukum dan penguasa(....dat het wezen der straf vergelding is, maar het doel besherming der rechtsorde, omdat

namelijk door de straf het respect voor recht en overheid hersteld en behouden

wordt), dimana menurut Zevenbergen pidana sebagai Ultimum remedium.3

1

ibid, hal. 46.

2

Eddy O.S.Hiariej, Op.Cit, hal.34. 3

(24)

Penganut teori gabungan yang lebih menitik beratkan perlindungan masyarakat daripada pembalasan adalah Simons. Menurutnya, prevensi umum terletak pada pidana yang diancamkan, dan subsider-sifat dari pidana terhadap pelaku-prevensi khusus menakutkan, memperbaiki dan meleyapkan (... de generale preventie, in de strafbedreiging gelegen, en subsidiair-waar de

strafbedreiging blijkbaar voor de dader niet voldoender was-speciale preventie,

bestaande in afschrikking, berbetering en onschadelijmaking).1

Teori gabungan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu sebagai berikut:2

a. Teori gabungan yang mengutamakan pembalasan, tetapi pembalasan itu tidak boleh melampaui batas dari apa yang perlu dan cukup untuk dapatnya dipertahankannya tata tertib masyarakat.

b. Teori gabungan yang mengutamakan perlindungan tata tertib masyarakat, tetapi penderitaan atas dijatuhinya pidana tidak boleh lebih berat daripada pembuatan yang dilakukan terpidana.

Teori gabungan lahir karena adanya kelemahan yang terdapat baik pada teori retributivism (teori absolut) maupun teleological theories (teori relatif) Kelemahan teori absolut :3

a. Dapat menimbulkan ketidakadilan. Misalnya pada pembunuhan tidak semua pelaku pembunuhan dijatuhi pidana mati, melainkan harus dipertimbangkan berdasarkan alat-alat bukti yang ada;

b. Apabila yang menjadi dasar dari teori ini adalah untuk pembalasan, maka mengapa hanya negara saja yang memberikann pidana.

Kelemahan teori relatif:4

a. Dapat menimbulkan ketidakadilan pula, misalnya tujuan untuk mencegah kejahatan itu dengan jalan menakuti-nakuti, maka mungkin pelaku kejahatan yang ringan dijatuhi pidana yang berat sekedar untuk

1

Ibid.

2

Adami Chazawi, Op.Cit, hal.166. 3

(25)

menakut-nakuti saja, sehingga menjadi tidak seimbang. Hal mana bertentangan dengan keadilan;

b. Kepuasan masyarakat diabaikan. Misalnya jika tujuan itu semata-mata untuk memperbaiki sipenjahat, masyarakat yang membutuhkan kepuasan dengan demikian diabaikan;

c. Sulit untuk dilaksanakan dalam praktek. Bahwa tujuan mencegah kejahatan dengan jalan menakut-nakuti itu dalam praktek sulit dilaksanakan. Misalnya terhadap residivis.

2. Teori Utilitarianisme

William Wilson menyatakan:1

Utilitarianisme adalah suatu teori dari segi etika normatif yang menyatakan

bahwa suatu tindakan yang patut adalah yang memaksimalkan penggunaan (utility), biasanya didefinisikan sebagai memaksimalkan kebahagian dan

“In general utilitarianism is a unified political, economic and moral theory. In its simplest, classical form it holds that human action (whether individual or collective) is justified to the extent that it promises to maximise human happiness or welfare. Thus, individual action is justifiable if more units of happiness/welfare are produced by doing it than not doing it or doing something else. A political or economic act of goverment is justifiable it it would be of overall benefit to the community. When looked at in combination, political decisions to breaks manifes to pledges on taxation for economic reason would only be unjustified if the loss of electoral trust which this would engender would cause more harm to society than could be paid for by the promised economic benefit. Public interest arguments in the legal forum are informed by utilitarian (that is political rather than strictly legal) considerations”.

“Teori manfaat merupakan sebuah gabungan ilmu politik, ekonomi, dan teori moral. Secara lebih sederhana, bentuk dari budaya yang ada pada tindakan manusia (apakah individu atau kelompok) yang menentukan hasil kebahagian dan kesejahteraan manusia. Namun, tindakan individu yang menetukan banyaknya gabungan kebahagian dan kesejahteraan yang dihasilkan melalui tindakan daripada tidak melakukan tindakan atau melakukan hal lainnya. Suatu ilmu poliitk atau tindakan ekonomi pemerintah yang dapat menentukan jika itu dapat bermanfaat bagi seluruh masyarakat ketika dilihat dalam bentuk gabungan keputusan politik untuk menentukan hilangnya kepercayaan pemilihan yang akan menyebabkan akibat lebih hangat dalam sosial daripada yang dapat ditanggung untuk kepentingan ekonomi. Alasan menarik publik dalam forum legal diinformasikan oleh ‘utilitarian’ (bagian ilmu politik bukan hukum legal)”.

1

(26)

mengurangi penderitaan “Utilitarianisme” berasal dari kata utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan.1Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory).2

Teori Utilitarianisme mengemukakan bahwa kebenaran dan kesalahan dari setiap tindakan seluruhnya tergantung pada hasil yang diperoleh dari suatu perbuatan. Dengan kata lain, baik niat di balik tindakan ataupun kebenaran yang fundamental dari tindakan yang dilakukan, hanya sebagai konsekuensi.3

Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan

Principles of Morals and Legislation”. Asas manfaat melandasi segala kegiatan

berdasarkan sejauh mana tindakan itu meningkatkan atau mengurangi kebahagiaan kelompok itu atau dengan kata lain meningkatkan atau melawan kebahagiaan itu sendiri. Sehingga tujuan hukum untuk mencapai kesejahteraan akan tercapai teori ini juga dikembangkan oleh muridnya jeremy Bentham yaitu

4

Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang

baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan.Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah,

1

Munir Fuadi, Dinamika Teori Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2010), hal. 88. 2

Lorens Bagus, Kamus Filsafat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000. hal. 1144. 3

Roli Harni Yance S. Garingging, Mahmul Siregar, dkk. Aspek Hukum Perlindungan

Dalam Kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI)Terhadap Industri Elektronik Rumah Tangga Di Sumatera Utara (Studi Pada Pt.Neo National Medan), Usu Journal, vol.2.Nomor 2. September

(27)

dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.

Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan, manfaat, dan keuntungan yang dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan. Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi sebagian besar orang. Dengan demikian, perbuatan manusia baik secara dan membawa dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain.1

Prinsip utilitarian menganggap suatu tindakan menjadi benar jika jumlah total manfaat yang dihasilkan dari tindakan tersebut lebih besar dari jumlah Teori utilitarisme sangat menekankan pentingnya konsekuensi perbuatan dalam menilai baik atau buruk. Baik buruknya kualitas moral suatu perbuatan bergantung pada konsekuensi atau akibat yang dibawakan oleh mereka sebagai pengemban amanah atau orang-orang yang dipercaya. Jika suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar, artinya paling memajukan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan masyarakat, maka perbuatan itu adalah baik. Sebaliknya, jika perbuatan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaatnya, maka perbuatan itu dinilai buruk. Konsekuensi perbuatan di sini menentukan seluruh kualitas moral.

1

(28)

manfaat total yang dihasilkan oleh tindakan lain yang dilakukan. Penelantaran para penyandang cacat, eksploitasi kaum minoritas yang rentan, ketidakotentikan, dan hilangnya otonomi adalah bahaya-bahaya yang ditentang utilitarianisme ini.1

2. Kerangka Konseptual

Kerangka konsepsi merupakan kerangka yang mengambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau diteliti. Suatu konsep merupakan bukan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu abstraksi dari gejala tersebut. Gejala itu biasanya fakta, sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan- hubungan dalam fakta tersebut.2 Selain itu konsepsi adalah suatu bagian terpenting dari teori, karena konsep adalah bagian penghubung yang menerangkan suatu yang sebelumnya hanya baru ada dipikirkan. “peranan konsep dalam pemeliharaan adalah untuk menghubungkan dunia teori dan observasi antara bisnis dan realitas.”3

1

Ibid, hal. 96.

2

H.M.Hamdan, Pembaharuan Hukum Tentang Alasan Penghapusan Pidana, (Medan : Usu Press, 2008), hal.78.

(29)

a. Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.1 Atau kekerasan dalam rumah tangga adalah berbagai tindakan yang menimbulkan penderitaan mental, fisik, dan sosial para anggota keluarga oleh sesama anggota keluarga (anak/menantu, ibu/istri, dan ayah/suami).2

b. Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga adalah jaminan yang diberikan oleh negara untuk mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga.3

c. Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeriharaan kepada orang tersebut.4

1

Pasal 1 ayat (1) undang-undang Nomor 23 tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

2

Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, (Jakarta: Akademika Pressindo, 1993), hal.296. Bandingkan dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Mengalami perluasan. (Lihat Pasal 1 butir (1), Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8 dan Pasal 9).

3

Ibid.

4

Lihat Pasal 9 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan kekekerasan Dalam Runah Tangga.

(30)

bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada dibawah kendali orang terebut.1

d. Ruang lingkup keluarga adalah suami, istri, anak, orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana yang tersebut diatas karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga; dan atau orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap selama berada dalam rumah tangga tersebut.2

e. Korban adalah setiap orang yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi yang menderita.3

1

Lihat Pasal 9 ayat (2) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan kekekerasan Dalam Runah Tangga.

2

Aziz Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 102. 3

Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, (Jakarta: Akademika Presindo, 1985), hal.41. Bandingkan dengan pengertian korban yang diberikan Kongres United Nations Ke VIII d Milan- Italia (1985) yang membagi korban (victim) kedalam dua bentuk. Pertama : korban karena kejahtan (victim of crime); Kedua : Korban Penyalahgunaan Kekuasaan (victim of abuse of power . jadi dalam perkembangan yang dimaksud dengan korban tida hanya korban kejahtan saja, tetapi juga korban penyalahgunaan kekuasaan. Dengan demikian terdapat perluasaan wawasan tentang korban.selanjutnya, ayat (1) bagian I Deklarasi ini menyatakan “ Korban adalah baik secara individu maupun kolektif telah menderita kerugian fisik dan mental, ekonomi dan sosial atau hak-hak dasar disebabkan oleh karena pelanggaran hukum pidana atau pelanggaran tentang penyalahgunaan kekuasaan. Dari deinisi ini dapat diketahui bahwa penderitaan korban tidak hanya penderitaan fisik saja, melainkan juga psikis, (mental), ekonomi, sosial serta penderitaan yang

(31)

sedangkan menurut Undang-Undang nomor 31 Tahun 2014 perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban mendefinisikan korban sebagai seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental dan kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana.”disini perbuatan yang dilakukan adalah hanya terbatas pada tindak pidana saja, sedangkan penderitaan korban berupa fisik, mental dan kerugian ekonomi.1

f. Pelaku adalah seseorang yang melakukan tindak pidana (Dader strafrecht). Di dalam delik biasa (umum) pelaku bisa saja (semua orang dari segala usia). Akan tetapi pelaku di dalam tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga adalah suami. Istri, dan juga orang tua.2

g. Perlindungan adalah segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan.3

h. Perlindungan Sementara adalah perlindungan yang langsung diberikan oleh kepolisian dan/atau lembaga sosial atau pihak lain, sebelum dikeluarkannya penetapan perintah perlindungan dari pengadilan.4

i. perlindungan hukum adalah gambaran dari bekerjanya fungsi hukum untuk mewujudkan tujuan-tujuan hukum, yaitu keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Perlindungan hukum merupakan suatu perlindungan yang diberikan

1

Moerti Hadiati Soeroso, Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif

Yuridis-Victimologi, (Jakarta : Sinar Grafika, 2011), hal. 122.

2

Ibid.

3

Ibid.

4

(32)

kepada subjek hukum berdasarkan aturan hukum, baik itu yang bersifat preventif (pencegahan) dan juga bersifat represif (pemaksaan), dalam bentuk

tertulis maupun yang tidak tertulis dalam rangka menegakan peraturan Hukum.1

G. Metode Penelitian

Metodologi berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk

melakukan sesuatu; dan “Logos ” yang artinya ilmu pengetahuan. Metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan mengunakan pikiran secara seksama untuk mencapai tujuan.2

Menurut Sunaryati Hartono, metode penelitian adalah cara atau jalan atau proses pemeriksaan atau penyelidikan yang menggunakan cara penalaran dan teori-teori yang logis-analitis (logika), berdasarkan dalil-dalil, rumus-rumus dan teori-teori suatu ilmu (atau beberapa cabang ilmu) tertentu, untuk menguji kebenaran (atau mengadakan verifikasi) suatu hipotesis atau teori tentang gejala-gejala atau peristiwa alamiah, peristiwa sosial atau peristiwa hukum tertentu.3Metode penelitian hukum merupakan suatu cara yang teratur (sistematis) dalam melakukan sebuah penelitian.4

1

Salim H.S dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Tesis Dan

Disertasi, ( Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2013), hal.264. Bandingkan dengan perlindungan

hukum terhadap korban yang terjadi didalam lingkup rumah tangga yang diatur di dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penhapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, (Lihat : Pasal 1 butir (4), Pasal 1 Butir (5) dan Pasal 1 butir (6) Ketentuan Umum Undang –Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

2

Moh.Nazir, Metode Penelitian, ( Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998), hal.13 3

Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, (Bandung: Alumni, 1994), hal. 105.

4

(33)

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya, kecuali itu, juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.1 Metode penelitian berfungsi sebagai arah dan petunjuk bagi suatu penelitian.2 Penelitian ini adalah penelitian hukum (legal research).3 Penelitian hukum (legal reseach) adalah untuk menemukan kebenaran Koherensi4

1

Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 14. 2

Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan

Empiris, (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2010) hal.104.

3

Penelitian hukum merupakan proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, juga doktrin-doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Lihat: Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010), hal.35.

4

Teori kebenaran Kohesi adalah salah satu dari dua jenis teori kebenaran tradisional. Teori yang terdahulu adalah teori korespondensi , kebenaran sebagaimana yang dikemukan oleh John Stuart Mill. Dan kaum empiris adalah kebenaran korespodensi. Kebenaran ini hanya berlaku bagi ilmu-ilmu empiris, yaitu ilmu-ilmu alamiah dan ilmu sosial. Kebenaran ini tidak berlaku bagi segala sesuatu yang mengandung nilai (sedangkan ilmu hukum adalah imu yang mengandung nilai). Ilmu-ilmu empiris justru dibangun dan dikembangkann untuk menolak semua yang bersifat tidak kasatmata termasuk nilai-nilai. Oleh karena itulah fungsi penelitian dalam rangka mencari kebenaran korespondensi adalah melakukan verifikasi atas dugaan-dugaan atau pra- anggapan atau secara ilimiah biasa disebut hipotesis melalui data empiris kasatmata. Apabila dugaan atau hipotesis ini setelah diverifikasi oleh data empiris ternyata benar adanya, disitulah terdapat kebenaran dan apabila tidak dapat diverifikasi, tidak didapatkan kebenaran. Akan tetapi, di dalam kehidupan manusia rangka hidup bermasyarakat bukan hanya yang kasatmata saja yang merupakan kebenaran. Kebenaran juga merupakan kebenaran dari segi nilai-nilai. Dalam hal inilah epistemologi mengajarkan kebenaran koherensi. Teori kebenaran korespondesi berpangkal dari asumsi bahwa definisi kebenaran merupakan sesuatu yang dapat dilihat. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua yang ada didunia ini merupakan hal-hal yang dapat di lihat saja. Ada hal-hal yang berada dalam pikiran atau berupa nilai-nilai. Oleh karena itulah dalam hal semacam ini kebenaran bukan merupakan sesuatu yang dapat dilihat, melainkan dapat dinalar atau dapa diterima oleh pandangan masyarakat. Dengan demikian, sesuatu itu benar bukan karena ada kolerasi antara penyataan dan sesuatu yang benar-benar ada secara faktual dan kasatmata, melainkan sesuatu pernyataan atau kenyakinan itu benar kalau sesuai atau conform to pernyataan atau keyakinan lainnya atau nilai-nilai yang ada. Hal ini semacam itu membawa kepada teori kebenaran yang lain daripada teori kebenaran korespondensi, yaitu teori kebenaran koherensi.Lihat : Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum (Edisi Revisi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal. 29-30.

(34)

apakah tindakan (art) seseorag sesuai dengan norma hukum (bukan hanya sesuai dengan aturan hukum ) atau prinsip hukum.1

Penelitian hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu penelitian hukum normatif (doctrinal) yang condong bersifat kualitatif dan penelitian hukum empiris atau sosiologis (non doctrinal) yang condong bersifat kuantitatif.2

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Metode penelitian yang dipergunakan dalam menjawab permasalahan yang timbul dalam tesis ini adalah sebagai berikut:

a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif atau yuridis normatif. Penelitian hukum normatif ini merupakan suatu prosedur penelitian ilmiah untuk menemukan kebenaran berdasarkan logika keilmuan hukum dari sisi normatifnya.3 Selain itu penelitian hukum normatif juga mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.4

Ronald Dworking menyebut Penelitian semacam ini penelitian doktrinal (doctrinal research) yaitu suatu penelitian yang menganalisis hukum baik tertulis di dalam buku (law as it is written in the book) maupun

1

Ibid.

2

J.Supranto, Metode penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hal.2 3

Johnny Ibrahim, Teori & Metode Penelitian Hukum Normatif, (Malang : Bayumedia Publising, 2005), hal. 47.

4

(35)

hukum yang diputuskan oleh hakim melalui proses pengadilan (law it is decided by the jugde through judicial process).1

Penelitian hukum memiliki beberapa pendekatan, dengan pendekatan tersebut peneliti akan mendapat informasi dari bebagai aspek mengenai isu yang akan dicari jawabannya. Pendekatan2 yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan Peraturan Perundang-undangan (statute approach)3 dan pendekatan kasus (case approach) dalam melakukan analisa terhadap kasus (case study) pada Putusan Mahkamah Agung No.467 K/Pid.Sus/2013.4

1

Pendapat Ronald Dworking sebagaimana dikutip dari Bismar Nasution, Metode

Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, Makalah, Disampaikan pada dialog

Interaktif tentang Penelitian Hukum dan Hasil Penulisan Hukum pada Majalah Akreditasi Fakultas Hukum USU, Tanggal 18 Februari 2003, hal.1.

2

Pendekatan-Pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum adalah : 1. Pendekatan Undang-Undang (statute approach), 2. Pendekatan kasus (case approach), 3. Pendekatan Historis (Historical approach), 4. Pendekatan komparatif (comparative approach), 5. Pendekatan Konseptual (conceptualapproach). Lihat Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Edisi Revisi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal.133.

3

Pendekatan Undang-undang (statute approach) dilakukan dengan menelah semua undang-undang dan regulasi yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang ditangani. Bagi peneliti untuk kegiatan praktsi, pendekatan undang-undang ini akan membuka kesempatan bagi peneliti untuk mempelajari adakah konsistensi dan kesesuaian antara suatu undang-undang dengan undang-undang lainnya atau antara undang-undang dengan Undang-undang Dasar atau regulasi dengan undang-undang. Hasil dari telaah tersebut merupakan suatu argumen untuk memecahkan isu yang dihadapi. Bagi penelitian untuk kegiatan akademis, penelitian mencari ratio

legis dan dasar ontologis lahirnya undang-undang tersebut agar peneliti dapat menangkap

kandungan filosofis yang ada di belakang undang-undang tersebut. Dengan memahami kandungan filosofis yang ada dibelakang undang-undang tersebut peneliti akan dapat menyimpulkan mengenai ada atau tidaknya benturan filosofis antara undang-undang dengan isu yang dihadapi. Lihat : Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Edisi Revisi), (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2013), hal.133. penelitian tentu harus menggunakan pendekatan undang-undang, karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral sauatu penelitian atau mengunakan undang-undang sebagai dasar awal menganalisa. Penelitian dalam dogmatik hukum atau untuk kepentingan praktik hukum tidak dapat melepaskan diri dari pendekatan Perundag-undangan. Lihat Johnny Ibrahim, Op.Cit, hal.302. Bandingkan dengan Mukti Fajar ND & Yulianto Achmad, Op.Cit,hal.185.

4

Perlu diketahui disini, bahwa Study Kasus (case Study) tidak sama dengan Pendekatan Kasus (case approach). Study kasus (case Study) merupakan sautu studi terhadap kasus tertentu dari berbagai aspek hukum, sedangkan Pendekatan Kasus (case approach) dilakukan dengan cara melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu hukum yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang berkuatan hukum tetap, baik itu kasus yang terjadi di Indonesia maupun di luar Indonesia. Yang menjadi kajian pokok dalam pendekatan kasus adalah

ratio decidendi atau reasoning yaitu pertimbangan pengadilan sampai kepada suatu putusan. Baik

(36)

b. Sifat Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analistis yaitu penelitian yang mengambarkan, menelaah, menjelaskan dan menganalisis suatu peraturan hukum dan menganalisis putusan pengadilan yang berkaitan erat dengan tindak pidana penelantaran rumah tangga Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga khususnya di dalam Putusan Mahkamah Agung No.467 K/Pid.Sus/2013.

2. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan Hukum yang digunakan dalam Penelitian Ini adalah : a. Bahan Hukum Primer, merupakan bahan hukum yang bersifat

autoritatif, artinya mempunyai otoritas.1

1. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945.

Bahan Hukum primer terdiri dari bahan-bahan hukum yang mengikat yaitu peraturan perundang-undangan yang terdiri dari :

2. Kitab Undang-undang Hukum pidana (KUHP).

3. Undang -undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan

Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

5. Undang Nomor 31 Tahun 2014 Perubahan atas Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

(37)

6. Putusan Pengadilan Negeri No.02/Pid.Sus/2012/PN.Slk. 7. Putusan Pengadilan Tinggi No.50/PID/2012/PT PDG. 8. Putusan Mahkamah Agung No. 467 K/Pid.Sus/2013.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen yang resmi, seperti buku, kamus, jurnal, dan komentar atas putusan Hakim.1

c. Bahan nonhukum (bahan hukum tersier),

Oleh karena itu bahan hukum sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku, jurnal, majalah, dan internet yang berkaitan dengan tindak pidana penelantaran rumah tangga Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

2

berupa bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan lebih mendalam terhadap bahan-bahan hukum primer dan sekunder tersebut. Bahan hukum tersier yang digunakan seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kamus Hukum, dan Ensiklopedia.3

1

Zainudin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal.47. 2

Disamping sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum, penelitian hukum juga dapat mengunakan bahan-bahan nonhukum jika dipandang perlu atau dibutukan. Akan tetapi perlu diingat adalah agar bahan-bahan nonhukum tersebut tidak mendominasi supaya penelitian tersebut kehilangan artinya sebagai penelitian hukum (bahan-bahan nonhukum adalah sebagai pelengkap dan bukan yang utama). Ibid, hal.183-184.

3

(38)

3. Teknik pengumpulan Bahan Hukum

Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui penelitian kepustakaan (library reseach)1 dan penelitian yang bersumber dari pendapat-pendapat ahli berupa doktrin-doktrin hukum, serta pengumpulan bahan hukum dengan cara penyebaran kuisioner sebagai bahan pendukung untuk masyarakat Medan dan Aceh sebanyak 100 kuisioner, 50 untuk masyakat Medan dan 50 untuk masyakat Aceh, yang dilakukan dengan informan atau orang yang dianggap memiliki kompetensi dibidangnya yang bertujuan untuk mendapatkan konsepsi, teori serta pendapat atau pemikiran konseptual. Bahan hukum yang diperoleh melalui studi kepustakaan selanjutnya akan di interpretasikan untuk memperoleh kesesuaian penerapan peraturan dihubungkan dengan permasalahan yang sedang diteliti dan disistematiskan sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan dalam penelitian ini.2

4. Analisis Bahan Hukum

Analisis bahan hukum merupakan kegiatan dalam penelitian yang berupa melakukan kajian atau telaah terhadap hasil pengolahan bahan hukum yang dibantu dengan teori-teori yang telah didapat sebelumnya. Secara sederhana analisis bahan hukum disebut sebagai kegiatan memberikan telaah yang dapat berarti mengkritik, mendukung, menambah atau memberi

1

Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010), hal.113.

2

(39)

komentar dan kemudian membuat suatu kesimpulan terhadap hasil penelitian dengan pikiran sendiri dan bantuan teori yang telah dikuasai.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Outline : Metode Penelitian