• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN KOMUNIKASI KONSEP DAN APLIKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERENCANAAN KOMUNIKASI KONSEP DAN APLIKA"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

   

     

PERENCANAAN

 

KOMUNIKASI

 

K

ONSEP

 

DAN

 

A

PLIKASI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(2)

         

PERENCANAAN

 

KOMUNIKASI

 

K

ONSEP

 

DAN

 

A

PLIKASI

 

         

Kenmada

 

Widjajanto,

 

S.Sos.,

 

dkk.

 

Pengantar:

 

Dr.

 

Atwar

 

Bajari,

 

M.Si.

 

                   

 

 

 

 

Bandung

 

2013

 

Perencanaan Komunikasi Konsep dan Aplikasi

Editor: Kenmada Widjajanto, S.Sos. Pengantar: Dr. Atwar Bajari, M.Si.

Tim Penulis:

Dr. Atwar Bajari, M.Si. Almy Zarlis, S.T. Aria Santana, S.H. Dwi Maharani, S.Ikom. Firna Firsa Hakiki, S.Ikom. Gilang Perdana Tresna, S.T. Hana Ganrina, S.S., M.Ikom. Kenmada Widjajanto, S.Sos. Putri Trulline, S.Ikom.

Sendy Triwilopo, S.Sos., M.Ikom. Titan Roskusumah, S.Sos. Yane Hendriyani, S.Sos.

Desain sampul: Dhany A.

Diterbitkan oleh Ultimus

Cetakan 1, Oktober 2013

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT) Kenmada Widjajanto, S.Sos., dkk.

Perencanaan Komunikasi: Konsep dan Aplikasi

Cetakan 1, Bandung: Ultimus, 2013 xviii + 254 hlm.; 15 x 23 cm

978-602-8331-46-3

CV Ultimus

(3)

         

PENGANTAR

PENULIS

         

BUKU ini berbicara mengenai Perencanaan Komunikasi, sebuah kajian dalam  ilmu  komunikasi  yang  banyak  diadaptasi  dari  kajian  tentang  Strategi  Komunikasi.  Perencanaan  merupakan  bagian  atau fase yang  penting dalam  berbagai  tindakan  sosial,  termasuk  di  dalamnya  komunikasi.  Dalam  ilmu  manajemen misalnya, perencanaan adalah tahap awal dari serangkaian proses  manajemen, yakni Planning, Organizing, Actuating, Controlling, dan Evaluating.  Perencanaan  Komunikasi  adalah  pernyataan  tertulis  mengenai  serangkaian  tindakan  tentang  bagaimana  suatu  kegiatan  komunikasi  akan  atau  harus  dilakukan agar mencapai perubahan perilaku sesuai dengan yang kita inginkan  (Bajari, 2007).  

Perencanaan Komunikasi banyak digunakan dalam komunikasi organisasi  dalam arti luas, baik komunikasi di internal organisasi maupun komunikasi ke  luar  organisasi.  Sebagai  ilustrasi,  seorang  pimpinan  perusahaan  yang  akan  berpidato  di  hadapan  karyawannya,  tentu  akan  mempersiapkan  pidatonya  dengan membuat catatan kecil agar pidatonya tidak melenceng dari tujuannya.  Atau, seorang politisi partai yang akan berkampanye dalam pemilu legislatif akan 

mempersiapkan  sedemikian  rupa  perencanaan  komunikasinya  sehingga 

pesannya efektif dan komunikatif, dengan harapan khalayak pemilih bersimpati 

padanya.  Dua  ilustrasi  tadi  memberikan  gambaran  betapa  pentingnya 

perencanaan untuk keberhasilan komunikasi.  

Buku Perencanaan Komunikasi ini berisi berbagai kajian teoretis dan praktis  yang disusun dengan sejumlah ilustrasi dan catatan studi kasus dari berbagai  peristiwa, mulai dari tahapan perencanaan komunikasi, target khalayak, analisis 

situasi, strategi dan perencanaan media, perencanaan pesan dan perencanaan  pesan operasional, serta evaluasi perencanaan komunikasi.  

Buku ini lahir dari hasil kolaborasi pemikiran sekelompok mahasiswa  Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, yang berlatar‐ belakang  profesi  dan  pengalaman  yang  beragam.  Karena  itu,  tim  penulis  menyadari kehadiran buku ini masih banyak kekurangan. Namun demikian, tim  penulis berharap kehadiran buku ini juga bisa bermanfaat bagi siapa pun yang  tertarik mempelajari komunikasi. 

Pada kesempatan ini, tim penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang  tak terhingga pada Dr. Atwar Bajari, M.Si., selaku dosen pembimbing, yang selalu  mendorong  dan  memotivasi  tim  penulis  untuk  melahirkan  buku  ini  dan  menyelesaikan studi. Demikian pula pada semua dosen pengajar di Program  Studi Pascasarjana Fikom Unpad, yang telah membuka cakrawala pemikiran tim  penulis. 

Tentu saja tim penulis juga menghaturkan terima kasih pada semua pihak  yang memberikan dukungan dan kontribusi pada penerbitan buku ini, keluarga,  para sahabat dan handai taulan, baik moril maupun materiil.  

Semoga buku ini bisa menjadi buku yang bernilai meskipun hanya setitik  embun saja. 

Salam. 

 

Tim Penulis 

(4)

         

SEKAPUR

SIRIH

"Planning is the thinking that precedes action."  (Hancock, 1978)   

       

PERENCANAAN  memiliki  lingkup  makna  yang  luas.  Penjelasan  yang  didapatkan, bahkan akan memenuhi kebutuhan si pengguna dari istilah tersebut.  Semua  tindak  atau perilaku  manusia  dapat  didekati atau  dijelaskan dalam  konteks perencanaan. Kenapa demikian, karena tidak ada satu pun individu tidak  memiliki sebuah rencana. Sesederhana apa pun sebuah tindakan itu dilakukan. 

Konsep perencanaan biasanya digunakan untuk sesuatu tindakan yang  sistematik, disiplin, cenderung kaku, terdokumentasikan, terikat waktu,  dan  berorientasi  pada  perubahan  sebagai  hasil  akhir  (future  oriented).  Sebuah  perencanaan selalu memiliki tahapan yang runtut, tidak melompat, dan logika  berpikir yang mengandalkan penjenjangan. Oleh karena itu perencanaan adalah  blok‐blok kegiatan yang mengarah pada satu bentuk tertentu sebagai hasil akhir. 

Perencanaan  juga  membutuhkan  sebuah  tindakan  yang  disiplin  bahkan 

cenderung kaku demi hasil yang terbaik. Sebuah perencanaan memiliki dasar  acuan yang kuat, semua orang yang terlibat di dalamnya memegang penuh  semua langkah prosedur dan rambu‐rambu yang sudah dikembangkan. Tidak 

mungkin  sebuah  perencanaan  akan  berhasil  jika  tidak  mengandalkan 

kesepakatan pada acuan yang telah dibuat itu. Oleh karena itu perencanaan harus  terlihat dalam sebuah dokumen pegangan bersama. 

Sering  kita  mendengar  hancurnya  proyek  pengembangan  sebuah 

infrastruktur  seperti  jalan,  jembatan,  dan  fasilitas  lain,  kemudian  gagalnya  pembangunan masyarakat seperti rekayasa perekonomian rakyat, sistem politik  sebuah negara, atau gagalnya kampanye kesehatan yang tidak menghasilkan 

perubahan perilaku yang signifikan. Semua menyalahkan aspek perencanaan. 

Mungkin  sebenarnya  perencanaan  sudah  baik  dan  matang,  namun 

ketidakdisiplinan para planner dan developer terhadap dokumen perencanaan  yang dibuat seperti kualifikasi dan spesifikasi komponen yang digunakan tidak 

sesuai  dengan  dokumen,  menyebabkan  kehancuran  dari  program  yang 

dikembangkan. 

Selanjutnya  perencanaan  juga  terikat  waktu.  Penyusunan  target 

perencanaan seperti  jangka pendek,  jangka menengah, dan jangka panjang, 

menunjukkan  bahwa waktu  menjadi  dimensi  yang membatasi perencanaan. 

Terutama  untuk  mengukur  hasil‐hasil  kegiatan.  Terakhir,  perencanaan 

menginginkan  hasil  yang  jelas.  Apa  dan  bagaimana  setelah  perencanaan 

diimplementasikan  dengan  membandingkannya  pada  sebelum  kegiatan 

dilakukan, menjadi ukuran keberhasilan sebuah perencanaan itu. 

Selama ini, kata perencanaan, khususnya dalam lingkungan perencanaan  birokrat, masih dianggap pekerjaan kurang penting, buang waktu, bahkan hanya  sekedar tarik‐menarik kepentingan. Ada beberapa penyebab yang memunculkan  pemikiran demikian, yakni menyangkut  kekeliruan yang  seringkali  menjadi  kebiasaan  para  perencana,  misalnya:  perencanaan  hanya  sekedar  membuat 

dokumen  rencana  (konvensional).  Bahkan  hanya  sekedar  dokumen  untuk 

mencairkan  anggaran.  Selanjutnya,  perencanaan  hanya  dianggap  sesuatu 

kegiatan yang dilakukan sesekali saja dan cenderung memunculkan ego sektoral  dan menjauhi upaya sinergitas perencanaan antar sektor atau bidang. Hal inilah  yang  menyebabkan  kegiatan  perencanaan  banyak  dijauhi dan  malas untuk  dikembangkan secara baik dalam menyelesaikan persoalan. 

Ketika semua konsep perencanaan itu  masuk dalam  bidang tindakan  manusia atau sekelompok manusia, maka akan ditemukan konsep yang baru  yang menghasilkan dimensi perencanaan spesifik. Jika kata perencanaan itu  diintegrasikan dengan ekonomi, muncul perencanaan ekonomi, politik maka  muncul  perencanaan  politik,  dan  jika  berintegrasi  dengan  perubahan sosial 

melalui  instrumen  komunikasi  maka  perencanaan  masuk  dalam  ranah 

perencanaan komunikasi. 

Buku ini menawarkan konsep dan instrumentasi perencanaan komunikasi.  Walaupun sepertinya, gagasan tentang perencanaan komunikasi adalah “barang  lama” karena kedekatannya dengan konsep komunikasi pembangunan, difusi  inovasi, orde baru, pembangunan dunia ketiga, dan lain‐lain. Dalam konteks 

kekinian,  bidang  atau  karya  perencanaan  komunikasi  banyak  mengalami 

(5)

kesehatan, kampanye public relations, marketing politics, dan lain‐lain. Namun  hakikatnya, bidang‐bidang yang “seksi” dan “enak didengar” itu tidak dapat  melepaskan konsep dasar dari perencanaan komunikasi. 

Konteks  perencanaan  komunikasi  merupakan  upaya  menata  atau 

mengatur  komunikasi  sedemikian  rupa.  Tujuaannya  agar  komunikasi  yang  dilakukan  memiliki  kontribusi  terhadap  penyelesaian  masalah  organisasi,  perusahaan  (corporate),  masyarakat,  atau  sebuah  negara  sekalipun.  Konsep 

aksiologi  komunikasi  menjadi  fokus  utama  dalam  makna  perencanaan 

komunikasi. Walaupun seperti dikatakan oleh Schramm bahwa komunikasi akan  memiliki peran pokok dalam menyelsaikan berbagai aspek masalah masyarakat,  namun tidak berarti  bahwa komunikasi adalah “obat” bagi semua masalah  masyarakat itu. 

Secara konseptual,  perencanaan  komunikasi sebagai tindakan manusia  yang kita sebut para perencana, seperti dikatakan Havelock (1978), merupakan  proses membuat tahapan kegiatan komunikasi seperti: mengidentifikasi masalah,  merumuskan tujuan komunikasi, menetapkan rencana strategik dan rencana  operasional,  serta  merancang  alat  dan  tindakan  evaluasi,  serta  tidak  lupa  menyusun langkah‐langkah rekomendasi untuk putaran perencanaan ke depan. 

Demikian lengkapnya tahapan perencanaan komunikasi, demikian juga  tentu dengan perencanaan bidang‐bidang lain, maka sebuah perencana dominan  dengan olah pikir sekaligus olah rasa untuk mengembangkan tindakan pada  masa yang akan datang yang dapat terlaksanakan, seperti kata Beenhakker  (Conyers, 1990). Namun menurut Nehru manakala membangun India, yang  dikutip  oleh  Waterson,  boleh dikatakan bahwa  perencanaan  adalah  bentuk  latihan intelegensia guna mengolah fakta serta situasi bagaimana adanya dan juga  mencari jalan keluar guna memecahkan masalah. Dengan demikian, sebuah  perencanaan komunikasi tidak semata‐mata aksi tindakan. Namun sebuah olah  intelegensia kemampuan membaca data sebelumnya. Sebuah perencanaan, akan  membaca kondisi masa lalu lewat laporan data yang memadai serta menyusun  tindakan ke depan. Dalam hal inilah kemampuan mengolah fakta menjadi sangat  penting. 

Sementara  itu,  Schaffer  (Conyers,  1990)  dalam  mengembangkan 

perencanaan sosial mementingkan upaya pengambilan keputusan yang lebih  berhati‐hati. Berupaya menghasilkan yang terbaik. Prinsipnya selalu ada cara  yang terbaik dalam hal pengambilan keputusan tersebut. Konsekuensinya adalah  perencana akan lebih banyak memperhatikan sejumlah data ataupun hasil‐hasil  yang mungkin dicapai di masa yang akan datang. Memperhatikan beberapa 

pengertian yang dipilih, maka dapat ditarik salah satu konsep pokok dalam  perencanaan, bahwa perencanaan selalu berbasis riset. 

Buku ini menawarkan bacaan konsep dan praksis perencanaan komunikasi  yang dikembangkan para “ilmuwan muda” yang sedang menempuh Program  Magister  Ilmu  Komunikasi.  Sebuah  kajian  yang  dominan  akademis  yang  dirancang dalam  rentang waktu yang sangat panjang.  Di antara kesibukan  mereka menempuh pendidikan dan sekaligus bergelut dalam bidang masing‐ masing, kehadiran buku ini sangat perlu diapresiasi dan sekaligus dibaca untuk  dikritisi. Para penulis berusaha menuangkan pemikirannya berbasis pada kajian  konseptual (pustaka) serta pengalaman di bidangnya masing‐masing mengenai  apa yang mereka artikulasikan tentang perencanaan komunikasi. 

Jika berhitung pada banyaknya penulis yang terlibat, seolah buku ini  menawarkan pemikiran yang fragmentatif mengenai perencanaan komunikasi.  Seperti layaknya sebuah bunga rampai dari sebuah tulisan. Namun, saya sendiri  sebagai pengajar mata kuliah perencanaan komunikasi dan sekaligus sebagai  salah satu penulis, berusaha memberikan peta arah atau rambu‐rambu penulisan  sehingga menjadi satu kesatuan pemikiran tentang apa yang semestinya dibahas  dalam perencanaan komunikasi. Sebab, ada satu asumsi yang tidak bisa kita  bantahkan bahwa perencanaan komunikasi begitu luas, masuk pada berbagai  bidang  praksis  komunikasi  manusia.  Maka  yang  sebaiknya  dikembangkan,  terutama  jika  perencanaan  komunikasi  dalam  kaca  mata  akademis,  adalah  konsep‐konsep yang berlaku pada semua bidang itu. 

Materi  buku  perencanaan  komunikasi  yang  ditawarkan  ini  meliputi: 

konsep  dasar  dan  strategi  perencanaan  komunikasi,  pendekatan  dalam 

(6)

Kepada seluruh penulis saya ucapkan selamat atas terbitnya buku ini,  mudah‐mudahan memberikan sumbangsih bagi perkembangan Ilmu Komunikasi 

umumnya  dan  Perencanaan  Komunikasi  khususnya.  Bagaimanapun,  buku 

perencanaan komunikasi termasuk rujukan pustaka yang sulit untuk dicari.  Semoga ide‐ide yang dituangkan menambah wacana kajian tersebut. Aamiin. 

Wassalam. 

   

  Bandung, Agustus 2013 

Dr. Atwar Bajari, M.Si. 

   

                                                   

(7)

         

DAFTAR

ISI

         

PENGANTAR PENULIS –––– v SEKAPUR SIRIH –––– vii

DAFTAR ISI –––– xiii DAFTAR GAMBAR –––– xvii

BAB 1 PERENCANAAN KOMUNIKASI A. Pengertian Perencanaan –––– 1 B. Komunikasi dalam Perspektif Organisasi –––– 5 C. Perencanaan Komunikasi dalam Organisasi –––– 7 D. Jenis Perencanaan Komunikasi dalam Organisasi –––– 9

BAB 2 BEBERAPA KONSEP PERENCANAAN KOMUNIKASI A. Pendahuluan –––– 21

B. Konsep Manajemen Strategis –––– 22

C. Perencanaan Komunikasi Strategis dari Perspektif Corporate Communications –––– 26 D. Konsep Perencanaan Komunikasi Strategis –––– 34

E. Perencanaan Komunikasi Program Kampanye Public Relations –––– 38

BAB 3 ANALISIS KHALAYAK DALAM PERENCANAAN KOMUNIKASI A. Pengertian Khalayak –––– 43

B. Kategori Khalayak –––– 44 C. Mengapa Khalayak Dipelajari? –––– 46

D. Tahapan Analisis Khalayak –––– 48 E. Menentukan Target Khalayak –––– 49

F. Meneliti Khalayak Media –––– 51

G. Mengamati Khalayak –––– 53 H. Memilih Metode Analisis Khalayak –––– 54

I. Merancang Profil Khalayak & Menetapkan Sasaran Komunikasi –––– 57

BAB 4 ANALISIS SITUASI A. Pendahuluan –––– 63 B. Analisis Internal –––– 65 C. Analisis Eksternal –––– 71

D. Analisis SWOT –––– 73

BAB 5 PERENCANAAN MEDIA KOMUNIKASI UNTUK PERUBAHAN A. Pendahuluan –––– 81

B. Tata Langkah Perencanaan Media –––– 83 C. Gabungan Media dalam Perencanaan Komunikasi –––– 87 D. Kombinasi Media dan Saluran Komunikasi bagi Pencarian

Informasi Khalayak –––– 89

E. Konsep Pencarian Informasi dalam Perencanaan Media –––– 90 F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Upaya Pencarian Informasi –––– 92

G. Media Lini Bawah dan Pencarian Informasi –––– 98

BAB 6 PERENCANAAN MEDIA DALAM KOMUNIKASI ORGANISASI A. Pendahuluan –––– 103

B. Media Sebagai Saluran Komunikasi Organisasi –––– 107

C. Strategi Pemilihan Media dalam Perencanaan Komunikasi Organisasi –––– 113

BAB 7 PERENCANAAN KOMUNIKASI UNTUK MEDIA MASSA A. Pendahuluan –––– 121

B. Jenis Media Massa dalam Perencanaan Komunikasi –––– 122 C. Merancang Perencanaan Komunikasi di Media Massa –––– 136

BAB 8 PERENCANAAN KOMUNIKASI UNTUK MEDIA SOSIAL A. Pendahuluan –––– 141

B. Media Sosial, Perkembangan Komunikasi Bermedia Komputer –––– 143 C. Jenis Media Sosial –––– 146

D. Kegunaan Media Sosial –––– 149

E. Merancang Perencanaan Komunikasi Strategis Media Sosial –––– 151 F. Contoh Kasus Strategi Perencanaan Media Sosial & Kemenangan

(8)

BAB 9 STRATEGI PESAN DALAM PERENCANAAN KOMUNIKASI A. Definisi dan Tujuan Membangun Pesan –––– 167

B. Menerapkan Riset Khalayak pada Pesan –––– 170 C. Menguji Pesan –––– 173

D. Mengorganisasikan Pesan Komunikasi –––– 175

BAB 10 PERENCANAAN PESAN OPERASIONAL A. Struktur Pesan –––– 187

B. Gaya Pesan –––– 191 C. Imbauan Pesan –––– 196

BAB 11 PERENCANAAN KOMUNIKASI BISNIS A. Pengertian Komunikasi Bisnis –––– 201

B. Proses Komunikasi Bisnis –––– 204 C. Menjadi Komunikator yang Baik –––– 205 

D. Jenis-Jenis Komunikasi Bisnis –––– 209 E. Perencanaan Pesan Komunikasi Bisnis –––– 210 F. Tujuh Pilar Strategi Komunikasi Bisnis –––– 212 G. Proses Strategi Komunikasi Bisnis –––– 214

H. Negosiasi –––– 217 I. Contoh Kasus –––– 222

BAB 12 EVALUASI PERENCANAAN KOMUNIKASI A. Pendahuluan –––– 225

B. Evaluasi Formatif –––– 230 C. Evaluasi Sumatif –––– 232

D. Perbedaan Monitoring dengan Evaluation –––– 235 E. Evaluasi yang Terukur –––– 245

BIODATA PENULIS –––– 251  

           

(9)

         

DAFTAR

GAMBAR

       

   

Gambar 1.1. Hubungan Fungsi Manajemen –––– 3 Gambar 1.2. The Management Process and Communication –––– 5

Gambar 1.3. Penjabaran Perencanaan Komunikasi dari Kebijakan sampai Operasional –––– 8

Gambar 1.4. Hasil Riset Alat Bantu Manajemen yang Paling Banyak Dipakai –––– 11 Gambar 1.5. Proses Mengembangkan Kampanye Komunikasi –––– 11

Gambar 1.6. Kriteria Anggota Tim Aksi Komunikasi –––– 14 Gambar 1.7. Kriteria Tim Audit Komunikasi –––– 15 Gambar 1.8. Kriteria Tim Krisis Komunikasi –––– 16 Gambar 1.9. Pembagian Perencanaan Organisasi –––– 19

Gambar 2.1. Model Manajemen Strategik –––– 23 Gambar 2.2. Derajat Keterlibatan Komisaris –––– 25

Gambar 2.3. Model Strategi Komunikasi –––– 27 Gambar 2.4. Matriks Taktik Komunikasi –––– 37 Gambar 2.5. Tahapan Perencanaan Program PR Strategis –––– 38

Gambar 3.1. Tahapan Analisis Khalayak –––– 48

Gambar 3.2. Memilih Metode yang Sesuai dengan Objek Analisis Anda –––– 52 Gambar 3.3. Proses Lingkaran Komunikasi terhadap Khalayak –––– 58

Gambar 3.4. Contoh 1. Menginformasikan kepada Khalayak Program Beasiswa –––– 59 Gambar 3.5. Contoh 2. Berinteraksi dengan Khalayak –––– 59

Gambar 3.6. Contoh 3. Meyakinkan Perusahaan Menjadi Sponsor Beasiswa –––– 60 Gambar 3.7. Contoh 4. Memelihara Hubungan dengan Khalayak –––– 60

Gambar 4.1. Analisis SWOT –––– 73 Gambar 5.1. Tahapan Perencanaan Media –––– 86

Gambar 6.1. Perencanaan Media dalam Perencanaan Pemasaran –––– 106 Gambar 6.2. Skema Proses Perencanaan Media –––– 117

Gambar 7.1. Belanja Iklan di Media Tahun 2009 –––– 122

Gambar 7.2. Pembagian Waktu Siaran & Ketersediaan Khalayak (Daypart) –––– 123

Gambar 7.3. Populasi Penonton TV Berdasarkan Socio Economic Status (SES) –––– 124 Gambar 7.4. Populasi Khalayak TV di Indonesia Berdasarkan SES –––– 124

Gambar 7.5. Populasi Penonton TV berdasarkan Nielsen –––– 125 Gambar 7.6. Pembagian Waktu Siaran Radio atau Radio Daypart –––– 130

Gambar 7.7. Media Exposure & Pembelian –––– 131 Gambar 7.8. Data Pembaca Surat Kabar di AS Tahun 1999 –––– 133

Gambar 7.9. Karakteristik Media Massa –––– 136 Gambar 8.1. Kegunaan Media Sosial –––– 150 Gambar 8.2. Proses Keterlibatan Media Sosial –––– 153 Gambar 8.3. Contoh Diagram / Matriks Pengukuran Pola Penggunaan

Media Sosial –––– 155

Gambar 8.4. Contoh Matrik Pengukuran Usaha di Media Sosial –––– 156 Gambar 8.5. Contoh Pengukuran ROI Media Sosial –––– 157

Gambar 8.6. Contoh Data Demografis di Facebook –––– 159 Gambar 8.7. Contoh Data Perbandingan Penggunaan Media Sosial –––– 160

Gambar 8.8. Kemenangan Obama vs McCain –––– 161 Gambar 8.9. Data Jumlah Pendukung Obama di Media Sosial –––– 161 Gambar 8.10. The Crawl, Walk & Run Metodology for Social Media –––– 164

Gambar 9.1. Contoh Logo 1 –––– 181 Gambar 9.2. Contoh Logo 2 –––– 181 Gambar 9.3. Contoh Logo 3 –––– 182

Gambar 10.1. Contoh Penyajian Pesan dalam Iklan Televisi –––– 188 Gambar 10.2. Piramida Kebutuhan Maslow –––– 198

Gambar 11.1. Persentase Waktu yang Dihabiskan Pelaku Bisnis untuk Berkomunikasi Secara Verbal –––– 203

Gambar 12.1. Model Evaluasi Kampanye –––– 227 Gambar 12.2. Contoh Matriks Evaluasi –––– 234 Gambar 12.3. Perbedaan Monitoring dan Evaluasi –––– 237

Gambar 12.4. Contoh Timeline Schedule –––– 238 Gambar 12.5. Contoh Monitoring Sheet –––– 239

Gambar 12.6. Contoh Progress Report –––– 240

(10)

         

BAB

1

PERENCANAAN

KOMUNIKASI

Oleh:

Putri

Trulline,

S.Ikom.

         

A. Pengertian Perencanaan 

   

ADA sebuah kiasan yang menarik yang dikemukakan Diana Conyers (1990)  berikut ini, “yang terpenting di dunia ini bukanlah di mana kita berada, tetapi ke  mana kita akan pergi.” Pernyataan tersebut benar adanya, karena memang yang  terpenting ialah ke mana kita akan menuju. Tujuan adalah sesuatu yang ingin  direalisasikan oleh  seseorang; tujuan  merupakan objek  atas  suatu  tindakan  (Siswanto, 2012; 11).  

Tindakan  manusia  sendiri  memiliki  dimensi  yang  sangat  luas.  Salah  satunya yang dibahas dalam buku ini adalah komunikasi. Komunikasi mengacu  pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan  yang terdistorsi  oleh gangguan, terjadi dalam konteks  tertentu, mempunyai  pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik (DeVito,  2011; 24).  

Sebuah tujuan harus memiliki arah yang jelas, dan untuk membangun arah  yang jelas diperlukan sebuah rencana yang juga terarah. Tanpa rencana yang  terarah, maka tujuan bisa melenceng dan tidak sesuai harapan. Demikian pula  dengan komunikasi. Komunikasi, sebagai sebuah tindakan yang memiliki tujuan, 

harus direncanakan dengan baik. Jika tidak, maka tujuan komunikasi tersebut  akan tidak sesuai dengan harapan pelakunya.  

Perencanaan  sendiri  merupakan  kajian  dasar dalam ilmu  manajemen.  Dalam manajemen dikenal beberapa konsep fungsi, di antaranya konsep POAC,  yang artinya Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating  (pelaksanaan),  dan  Controlling  (pengendalian);  dan  konsep  PODMC  yakni 

Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Directing (pengarahan), 

Motivating (pemotivasian), dan Controlling (pengendalian).  

Sementara itu P. Robbins dan AF Stoner dalam Soedarsono (2009; 13–14)  menyebut empat fungsi menajamen, yakni:  

 

1) perencanaan; 2) pengorganisasian; 3) kepemimpinan; dan 4) pengendalian.  

Sedangkan  Joan  Gratto  Liebler  dalam  Soedarsono  (2009;  14–16) 

menyebutkan enam aspek kegiatan manajemen, yakni:  

 

1) Perencanaan, yang meliputi kegiatan menyeleksi tujuan, menetapkan

sasaran dan menetapkan secara nyata situasi yang ada, serta merumuskan keinginan ke depan;

2) Pengambilan keputusan, yaitu bagian dari proses perencanaan yang

memenuhi salah satu atau keseluruhan alternatif (keputusan) yang telah dibuat;

3) Pengorganisasian, yaitu desain bentuk tugas yang membantu

menghubungkan antar tujuan, tugas, kewenangan dan tanggung jawab sebagai syarat untuk membentuk koordinasi;

4) Penyusunan staf, yaitu menentukan dan memilih personil sesuai

kebutuhan, orientasi, pelatihan dan evaluasi secara kontinu bagi individu sesuai posisi yang diperlukan organisasi;

5) Pengarahan, yakni pelaksanaan pekerjaan melalui petunjuk dan

kepemimpinan yang berorientasi pada pencapaian sasaran;

6) Pengendalian, yakni menentukan apa yang diselesaikan, membandingkan

(11)

 

Liebler menggambarkan hubungan fungsi manajemen sebagai berikut: 

   

Gambar 1.1. Hubungan Fungsi Manajemen

(Sumber: Liebler dalam Soedarsono, 2009; 16)  

 

Berbagai ahli dan praktisi manajemen mendefinisikan perencanaan dari  berbagai sudut pandang, di antaranya yang dikemukakan GR Terry (1975; 140– 142) yang menyatakan perencanaan adalah memilih menghubungkan fakta serta  membuat dan menggunakan dugaan mengenai masa yang akan datang untuk  mencapai hasil yang diinginkan.  

Atau menurut Hayashi (1976; 2) yang mendefinisikan perencanaan sebagai  suatu proses bertahap dari tindakan yang terorganisasi untuk menjembatani  perbedaan antara kondisi yang ada dan aspirasi organisasi.  

Sementara itu menurut Siswanto (2012; 42), perencanaan adalah suatu  aktivitas integratif yang berusaha memaksimumkan efektivitas seluruhnya dari  suatu organisasi sebagai suatu sistem, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 

Dalam Cangara (2013; 22), beberapa pakar mencoba memberi pengertian  atau definisi apa yang dimaksud dengan perencanaan sebagai berikut: 

 

 Perencanaan adalah suatu proses untuk menetapkan ke mana kita harus

pergi dengan mengidentifikasi syarat apa yang harus dipenuhi untuk sampai ke tempat tersebut dengan cara yang paling efisien dan efektif, dengan kata lain perencanaan sebagai penetapan spesifikasi tujuan yang

ingin dicapai termasuk cara-cara yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut (Keufman, 1972).

 Perencanaan adalah usaha yang sadar, terorganisir, dan terus-menerus

guna memilih alternatif yang terbaik untuk mencapai tujuan tertentu (Waterston, 1965).

 

Proses perencanaan dalam perspektif organisasi menurut Louis A. Allen  dalam Siswanto (2012; 45) terdiri atas aktivitas yang dioperasikan oleh seorang  manajer untuk berpikir ke depan dan mengambil keputusan saat ini, yang 

memungkinkan untuk mendahului serta menghadapi tantangan pada waktu 

yang akan datang. Berdasarkan definsi tersebut, perencanaan menurut Siswanto  (2012; 42), minimum memiliki tiga karakteristik berikut ini: 1) Perencanaan  tersebut harus menyangkut masa yang akan dating; 2) Terdapat suatu elemen  identifikasi pribadi atau organisasi, yaitu serangkaian tindakan di masa yang  akan datang dan akan diambil oleh perencana; dan 3) Masa yang akan datang,  tindakan dan identifikasi pribadi, serta organisasi merupakan unsur yang amat  penting dalam setiap perencanaan.  

Pada intinya, perencanaan merupakan bagian proses manajemen organisasi  yang kedudukannya sangat penting, karena posisi perencanaan berada pada titik  awal sebuah aktivitas organisasi. Masih menurut Siswanto (2012; 44), fungsi 

perencanaan  memiliki  hubungan  yang  sangat  erat  dengan  pengambilan 

keputusan.  Suatu  keputusan  pada  dasarnya  adalah  sebuah  resolusi  dari  kemungkinan alternatif. Suatu keputusan bukanlah suatu rencana apabila di  dalamnya tidak menyangkut baik tindakan maupun masa yang akan datang.  Oleh  kareana  itu  sulitlah  kiranya  untuk  memisahkan  antara  pengambilan  keputusan dengan perencanaan.  

Dalam  bahasa  yang  berbeda,  Wedemeyer  dalam  Cangara  (2013;  20)  menyebutkan bahwa hubungan antara kebijkasanaan (pengambilan keputusan)  dan perencanaan adalah suatu mata rantai di mana keduanya sebagai komponen  yang saling bergantung satu sama lain.  

Sedangkan Alan Handcock dalam Cangara (2013; 20) melihat kedua hal itu  sebagai komponan matriks yang saling mengikat seperti gambar dadu, termasuk  dalam implementasi dan evaluasi. Menurut Cangara (2013; 20), kebijaksanaan  memberi kerangka dasar sebelum perencanaan diimplementasikan, sebaliknya 

perencanaan  mengoperasionalkan  kebijaksanaan‐kebijaksanaan  yang  telah 

(12)

      

B.  Komunikasi dalam Perspektif Organisasi  

   

PADA hakikatnya, komunikasi adalah proses yang integral dalam menjalankan  fungsi‐fungsi  manajemen  secara  sistematis,  yang ditujukan  untuk  mencapai  sasaran/tujuan organisasi/perusahaan.  

Henry H. Albers dalam Soedarsono (2009; 55) menggambarkan model  hubungan antara proses manajemen dan proses komunikasi sebagai tergambar  berikut ini: 

   

Gambar 1.2. The Management Process and Communication  

     

           

         

   

 

(Sumber: Wofford dalam Soedarsono, 2009; 56)  

 

Gambar di atas menunjukkan bagaimana kaitan antara proses manajemen dan  proses komunikasi, di mana alur pekerjaan dilakukan secara menyeluruh sesuai  dengan hierarki dalam struktur organisasi. Proses di atas menempatkan manajer  sebagai pihak yang strategis dan menentukan keberhasilan sebuah organisasi. 

Pace dan Faules (2006 ; 31) mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai  pertunjukan  dan  penafsiran  pesan  di  antara  unit‐unit  komunikasi  yang  merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu. Goldhaber dalam Romli (2011;  13) mendefinisikan komunikasi organisasi sebagai proses menciptakan dan saling  bertukar pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama  lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah‐ubah.   Sedangkan  DeVito  (2011;  377)  mendefinisikan  komunikasi  organisasi  sebagai  pengiriman  dan  penerimaan  berbagai  pesan  organisasi  di  dalam  kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Lebih lanjut DeVito  mengatakan komunikasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi  itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara  kerja di dalam organisasi produktivitas, dan berbagai pekerjaan yang harus  dilakukan di dalam organiasi, misalnya memo, kebijakan, pernyataan, jumpa  pers, dan surat‐surat resmi. Adapun komunikasi informal menurut DeVito adalah  komunikasi  yang  disetujui  secara  sosial,  yang  orientasinya  bukan  kepada  organisasi melainkan lebih kepada anggotanya secara individual. 

Dari perspektif praktis dalam manajemen modern, komunikasi organisasi  berkembang menjadi komunikasi korporasi atau corporate communication, yang  oleh Cornelissen (2004; 23) didefinisikan sebagai “a management function that offers  a framework and vocabulary for the effective coordination of all means of communications  with the overall purpose of establishing and maintaining favourable reputations with  stakeholder groups upon which the organization is dependent” yang artinya fungsi  manajemen yang menawarkan kerangka atau perbendaharaan untuk kordinasi  yang efektif dengan semua maksud komunikasi dengan tujuan menyeluruh atas  upaya membangun dan mempertahankan reputasi yang baik bersama semua 

stakeholder (pemangku kepentingan) organisasi yang bergantung sama lain.   Komunikasi organisasi sendiri memiliki empat fungsi sebagaimana yang  digambarkan Barker dalam Soedarsono (2009; 34–35) berikut ini: 

 

Fungsi Informasi. Antara pimpinan dan karyawan dalam organisasi

sangat membutuhkan informasi yang diterima dan berfungsi efisien. Kebutuhan informasi tentang: 1) pekerjaannya, termasuk informasi yang

difokuskan pada sasaran, prosedur, dan peraturan organisasi; 2) keberhasilan organisasi, seperti manfaat, keuntungan, dan standar

pekerjaan; dan 3) bagian sosioemosional dari keseluruhan organisasi.

Fungsi Regulasi. Komunikasi dapat diartikan sebagai kontrol dan

(13)

jenis dari proses komunikasi tersebut mengalir dari pimpinan tertinggi ke bawahan yang isinya berkaitan dengan tugas.

Fungsi Persuasif . Fungsi regulasi dalam komunikasi berhubungan erat

dengan fungsi persuasif. Hal tersebut seringkali direfleksikan dalam interaksi interpersonal compliance-gaining dan biasanya dalam bentuk tatap muka dan hubungan interpersonal.

Fungsi Integratif. Komunikasi dalam organisasi termasuk di dalamnya

kegiatan menggabungkan kapasitas, cara organisasi menyatukan dan memadukan, mengidentifikasi serta menyeragamkan. Termasuk koordinasi dan penjadawalan aktivitas, menetapkan saluran informasi dan kewenangan, merekrut dan melatih karyawan.

     

C.  Perencanaan Komunikasi dalam Organisasi 

   

SEJUMLAH pakar mendefiniskan perencanaan komunikasi sebagai berikut: 

 

 Perencanaan komunikasi adalah pernyataan tertulis mengenai serangkaian

tindakan tentang bagaimana suatu kegiatan komunikasi akan atau harus dilakukan agar mencapai perubahan perilaku sesuai dengan yang kita inginkan (Syam Nina et al:2007).

 Perencanaan komunikasi adalah proses pengalokasian sumber daya

komunikasi untuk mencapai tujuan organisasi. Sumber daya tersebut tidak saja mencakup media massa dan komunikasi antarpribadi, tapi juga setiap aktivitas yang dirancang untuk mengubah perilaku dan menciptakan keterampilan-keterampilan tertentu di antara individu dan kelompok dalam lingkup tugas-tugas yang dibebankan oleh organisasi (John Middleton, 1978, dalam Cangara, 2013; 45).

 Perencanaan komunikasi adalah sebuah dokumen tertulis yang

menggambarkan tentang apa yang harus dilakukan yang berhubungan dengan komunikasi dalam mencapai tujuan, dengan cara apa yang dilakukan sehingga tujuan tersebut dapat dicapai, dan kepada siapa program komunikasi ditujukan dengan peralatan dan dalam jangka waktu berapa lama hal itu bisa dicapai, dan bagaimana cara mengukur (evaluasi) hasil-hasil yang diperoleh dari program tersebut (Robin Mehall dalam Cangara, 2013; 45).

 

Pada hakikatnya, menurut Cangara (2013 ; 47), communication plan explains  how to convey the right message, from the right communicator, to the right audience,  through the right channel, at right time, yang artinya perencanaan komunikasi  menjelaskan bagaimana mengiriman pesan yang tepat, dari komunikator yang  tepat, kepada khalayak yang tepat, melalui saluran yang tepat, pada waktu yang  tepat. 

Dalam  perspektif  makro  organisasi,  menurut  Cangara  (2013;  62),  perencanaan komunikasi dilandasi dari kebijakan komunikasi, pada gilirannya  membutuhkan perangkat strategi komunikasi yang kemudian dijabarkan lagi  dalam operasionalisasi komunikasi.  

Ia  menjelaskan  bagaimana  hubungan  antara  kebijakan  komunikasi, 

perencanaan komunikasi, strategi komunikasi, dan opersionalisasi komunikasi  sebagaimana tergambar berikut ini: 

   

Gambar 1.3. Penjabaran Perencanaan Komunikasi dari Kebijakan sampai Operasional

 

 

KEBIJAKAN KOMUNIKASI (Communication Policy)

PERENCANAAN KOMUNIKASI (Communication Planning)

STRATEGI KOMUNIKASI (Communication Strategy)

OPERASIONAL (Action)

(14)

 

   

 

D.  Jenis Perencanaan Komunikasi dalam Organisasi 

   

PADA prinsipnya ada  dua jenis  perencanaan komunikasi dalam  perspektif  organisasi, yakni perencanaan strategis dan perencanaan operasional. 

   

1. Perencanaan Strategis (strategic plan)   

PARA  ahli  manajamen  memandang  strategi  dari  berbagai  perspektif  dan  pendekatan. Salah satunya adalah Mintzberg yang mendefiniskan strategi sebagai  sebuah rencana (petunjuk aksi atau tindakan yang spesifik untuk masa yang akan  datang), sebagai  sebuah  siasat  (manuver yang  spesifik  untuk  mengalahkan  pesaing atau kompetitor), sebagai sebuah pola (perilaku yang konsisten dari  waktu ke waktu), sebuah posisi (tempat yang tertentu dalam kerangka pasar),  dan sebagai sebuah perspektif (tata cara yang fundamental dari organisasi untuk  melakukan sesuatu) (Conelissen, 2004; 96).  

Selain itu Cornelissen juga melihat strategi dalam tiga hal penting:  

 

 Bahwa strategi adalah kombinasi antara proses yang direncanakan dan

yang muncul dengan tiba-tiba

 Bahwa strategi melibatkan arahan yang umum dan bukan perencanaan

atau taktik yang sederhana

 Bahwa strategi selalu berhubungan dengan organisasi dan lingkungannya

 

Wheelen dan Hunger dalam Amir (2011; 7) mengatakan bahwa manajemen 

strategis  sebagai  sekumpulan  keputusan  dan  tindakan  manajerial  yang 

menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.  

Mengapa  perencanaan  komunikasi  strategis  diperlukan?  Itu  adalah 

pertanyaan kritis yang paling sering mengemuka terhadap kemunculan konsep  komunikasi strategis. Perencanaan komunikasi strategis menurut Patterson dan  Radtke  (2009;  8)  adalah  implementasi  strategi  yang  membantu  organisasi  mencapai tujuan strategisnya.  

Perencanaan strategis dirancang untuk mencapai tujuan organisasi yang  luas, yaitu melaksanakan misi yang merupakan satu‐satunya alasan kehadiran 

organisasi  tersebut.  Perencanaan  strategis  adalah  proses  pemilihan  tujuan  organisasi, penentuan kebijakan dan program yang perlu untuk mencapai sasaran  dan tujuan tertentu, serta penetapan metode yang perlu untuk menjamin agar  kebijakan  dan  program  strategis  itu  dilaksanakan.  Atau  secara  singkat,  perencanaan strategis adalah proses perencanaan jangka panjang yang formal  untuk menentukan dan mencapai tujuan organisasi (Stoner dan Wenkel dalam  Siswanto, 2012; 48).  

Perencanaan komunikasi strategis adalah perencanaan komunikasi yang  mengacu pada kebijaksanaan komunikasi yang menetapkan alternatif dalam  mencapai  tujuan  jangka  panjang,  serta  menjadi  kerangka  dasar  untuk  perencanaan  operasional  jangka  pendek.  Perencanaan  strategis  diwujudkan  dalam target yang dapat dikuantifikasi dengan pendekatan‐pendekatan yang  sistematis terhadap tujuan yang ingin dicapai menurut kebijaksanaan komunikasi  (Allan Hancock dalam Cangara, 1981).  

Komunikasi  menjadi  strategis  manakala  terintegrasi,  terjalin,  dan  berlangsung terus‐menerus. Menurut Frank Karel, seorang ahli yang menemukan  komunikasi berjaringan, komunikasi yang strategis adalah proses yang dibimbing  atau diarahkan oleh proses memperoleh jawaban yang gigih atas pertanyaan  simpel berikut ini: “pencapaian apa yang anda inginkan?”, “siapa yang sudah  berpikir atau bertindak dengan cara berbeda untuk meraih keinginan tersebut?”,  dan “apakah yang mendorong mereka untuk melakukan hal tersebut?” (Patterson  dan Radtke, 2009; 7).  

Secara  sederhana,  komunikasi  strategis  adalah  serangkaian  proses  mempengaruhi, bergerak, dan meyakinkan sekelompok khalayak dan konstituen  yang penting untuk membantu organisasi mencapai misinya. Konsep komunikasi  strategis ini kemudian berimplikasi terhadap munculnya kebutuhan membuat  perencanaan  komunikasi  strategis.  Dari  penelitian  yang  dilakukan  kantor  kosultan Bain & Company sejak tahun 1993, terungkap bahwa perencanaan  strategis menjadi alat bantu yang paling banyak digunakan para eksekutif bisnis  di empat benua.  

Penelitian  tersebut  melibatkan  1201  eksekutif  bisnis  yang  dituangkan  dalam laporan yang berjudul Management Tools 2007, sebagai terlihat dalam data  berikut ini : 

   

   

(15)

Gambar 1.4. Hasil Riset Alat Bantu Manajemen yang Paling Banyak Dipakai

 Manajemen Hubungan Pelanggan

Benchmarking

 Pernyataan Misi dan Visi  Strategi Alih Daya / Outsourcing

 Dan lain-lain

Membuat perencanaan  strategis  seperti kita  tengah  memotret  dengan  menggunakan lensa lebar dengan sudut pandang “mata burung “ (bird eye view)  yang memungkinkan kita melihat gambaran menyeluruh dari sebuah persoalan  (see thing as a whole).  

Dalam  perspektif  komunikasi  korporat  (corporate  communication), 

Corneliseen  menggambarkan  proses mengembangkan kampanye  komunikasi 

sebagai berikut: 

   

Gambar 1.5. Proses Mengembangkan Kampanye Komunikasi  

(Sumber: Cornelissen ; 2004 ; 100) Menetapkan Tujuan Komunikasi / Kampanye

Tahap Menganalisa Situasi Apa yang terjadi sekarang ?

Evaluasi Komunikasi / Kampanye Tahap Evaluasi Bagaimana Hasil Kerja Kita ?

Membuat Perencanaan Komunikasi Tahap Merancang Strategi Pesan dan Kreatif

Apa yg harus dikomunikasikan & Mengapa ?

Melakukan Tindakan & Berkomunikasi / Kampanye Implementasi atau Perencanaan Media Bagaimana dan Kapan Kita Berkomunikasi ?

   

Perencanaan komunikasi strategis dianggap penting karena komunikasi 

strategis  merupakan  implementasi  perencanaan  yang  membantu  organisasi 

mencapai tujuan strategisnya.  

Patterson & Radtke (2009;  8–9) menggambarkan manfaat dari perencanaan  komunikasi strategis adalah sebagai berikut: 

  

Help in setting priorities and clarifiying future direction (Membantu

dalam menentukan prioritas dan memperjelas arah masa depan). Komunikasi strategis menjadi terintegrasi ketika semua sumber daya manusia dalam organisasi melakukan peran dan tugasnya dengan baik. Seperti mengetahui apa yang ingin diraih oleh organisasi, apa yang bisa dilakukan, dan mengetahui bagaimana cara untuk sukses.

Improve performance and stimulate creative thinking (Meningkatkan

kinerja dan merangsang pemikiran yang kreatif). Ketika semua elemen dalam sebuah organisasi baik staf maupun pimpinan sebuah organisasi mengetahui apa yang masyarakat inginkan, hal ini mempermudah sebuah organisasi untuk bisa mencapai tujuannya dengan fokus dan berpikir kreatif.

Build teamwork and expertise (Membangun teamwork dan keahlian).

Teamwork dalam sebuah organisasi menjadi sangat penting, sumber daya manusia dengan berbagai keahlian yang ada di dalamnya menentukan akan seberapa berhasil sebuah organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkannya.

Use limited resources effectively (Menggunakan sumber daya yang

terbatas secara efektif). Dengan pengaturan yang tepat, pesan yang konsisten dan strategi penentuan khalayak yang tepat maka sehingga sebuah organisasi dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.  

Perencanaan strategis memiliki sejumah karakteristik.  

Menurut Cangara (2013; 49) ada 10 karakteristik perencanaan startegis  yakni sebagai berikut: 

 

1) Keputusan yang diambil berkaitan dengan situasi masa depan

2) Merupakan kegiatan manajemen puncak (top management) yang

(16)

3) Hasil proses pemikiran atau latihan intelektual yang diangkat dari nilai-nilai, budaya, prosedur, struktur, dan teknis yang dianut dalam lembaga tersebut.

4) Berpikir positif dan inspiratif

5) Memerhatikan rangkaian konsekuensi sebab-akibat sepanjang waktu

6) Mengidentifikasi secara sistematis tentang peluang dan ancaman di

masa yang akan datang

7) Memperhatikan rangkaian tindakan alternatif yang terbuka di masa yang

akan datang

8) Mempertemukan dengan tujuan organisasi dan tujuan masyarakat

9) Menjadi penuntun dalam bertindak

10) Merupakan proses penentuan visi, misi, tujuan, sasaran, dan strategi

pencapaian.  

Sedangkan  Wheelen  dan  Hunger  dalam  Amir  (2011;  10–11)  melihat  perencanaan strategis dari sudut pandang keputusan yang bersifat strategis, dan  menurutnya setidaknya harus memenuhi tiga karakteristik yakni: 1) jarang dibuat  atau extraordinary (sangat istimewa); 2) memiliki implikasi yang siginifikan &  penting; serta 3) berdampak luas dan menjadi acuan bagi keputusan‐keputusan  pada level berikutnya.  

Agar perencanaan komunikasi strategis tetap berjalan pada jalurnya dan  tidak melenceng, perlu dilakukan sejumlah langkah strategis pula. Patersson dan 

Radtke  (2009;  9–15)  mengemukakan  akan  pentingnya  membentuk  “tim 

komando”  yang  berperan  sebagai  pemimpin  dari  proses  perencanaan 

komunikasi.  

Ia menyebutkan ada tiga alternatif pembentukan tim yang bisa diambil,  dan disesuaikan dengan cakupan kebutuhan komunikasi yakni:  

 

1) Membentuk Tim Aksi Komunikasi (TAK) atau a Communication  Action  Team  (CAT)  jika  sebuah  organisasi  mempersiapkan 

meluncurkan  proses  perencanaan  komunikasi  strategis  untuk 

pertama kali. 

Berikut ini adalah sejumlah kriteria yang bisa dipertimbangkan  untuk memilih atau merekrut anggota CAT, sbb.: a) keahlian atau 

keterampilan;  b)  Perilaku  yang  mendukung  usaha  komunikasi 

organisasi; c)  karakter  atau sifat kepribadian;  d) sikap tanggung  jawabnya pada organisasi 

   

Gambar 1.6. Kriteria Anggota Tim Aksi Komunikasi

   

 

Keahlian /

Keterampilan Perilaku / Sikap

Karakter / Sifat Kepribadian

Departemen / Program yg Cocok

Keterampilan

Antarpribadi Antusias Pemain Tim Komunikasi Menulis Pendengar yg baik Komitmen tinggi Pengembangan Public Relations

/ Humas

Taat dengan batas

waktu Kreatif Urusan Publik Teknologi Bergairah Kepemimpinan

Manajemen administrasi dan

informasi Desain Grafis Positif dan selalu

bisa Jujur Pelatihan

yang tinggi Jasa pelayanan  

   

(Sumber: Patterson & Radtke, 2009; 12

   

2) Membentuk Tim Audit Komunikasi atau a Communication Audit  Team  jika  sebuah  organisasi  akan  melakukan  proses  penilaian  terhadap kinerja proses komunikasi yang tengah dijalankan. 

Tugas  tim  audit  komunikasi  dalam  perencanaan  strategis  sebuah  organisasi  adalah  membuat  analisis  yang  komprehensif  terhadap  komunikasi  organisasi  baik  internal  maupun  eksternal  untuk  mencari  tahu  kebutuhan  komunikasi,  kebijakan,  tindakan  organisasi dalam meningkatakan efisiensi dan efektivitas organisasi.  

Tim ini harus dapat mengidentifikasi sejumlah isu penting  dalam organisasi, di antaranya di area: a) manajemen dan produksi;  b) pesan dan branding; c) mengidentifikasi efisiensi dan efektivitas  perlengkapan komunikasi; dan d) sejumlah teknik dan isu yang harus  disebarkan melalui proses perencanaan komunikasi strategis, dengan 

menggunakan  saluran‐saluran  komunikasi  organisasi  yang 

memungkinkan,  di  antaranya  media  kits,  surat,  brosur,  media  publikasi audio visual, materi online, dan lain‐lain.  

(17)

(hubungan  manusiawi),  kebijakan,  editorial  dan  produksi,  juga  pemasaran dan komunikasi. 

   

Gambar 1.7. Kriteria Tim Audit Komunikasi

   

 

 

   

 

(Sumber: Patterson & Radtke, 2009; 15

 

   

3) Membentuk Tim Pengendali Krisis Komunikasi atau a Crisis  Communication  Control  Team,  jika  sebuah  organisasi  tengah  menyiapkan rencana keberlanjutan (contingency plan) untuk merespon  terjadinya krisis dan kontroversi.  

 Tidak semua komunikasi organisasi berjalan dengan lancar 

dan  bahkan  adakalanya  sebuah  organisasi  menghadapi  krisis 

komunikasi.  Tim  pengendali  krisis  komunikasi  ini  bertugas 

merancang  proses  perencanaan  komunikasi  strategis  yang 

komprehensif yang paling memungkinkan untuk menghadapi krisis  atau kontroversi dalam sebuah organisasi.  

Ada  sejumlah tipe  kedaruratan  yang  umum  terjadi  dalam  sebuah organisasi, di antaranya: a) cedera psikologis anggotanya; b) 

ketidakmampuan  melanjutkan  opersionalisasi  organisasi  yang 

penting;  c)  kerusakan  atau  pengrusakan  fasilitas  organisasi;  d) 

Keahlian /

Keterampilan Perilaku / Sikap

Karakter / Sifat Kepribadian

Departemen / Program yg Cocok

Pemikir Strategis Antusias Pemain Tim Komunikasi Menulis Pendengar yg baik Komitmen tinggi Pengembangan Public Relations /

Humas

Taat dengan batas

waktu Kreatif Urusan Publik

Teknologi Bergairah Administrasi

Desain Grafis Positif selalu bisa Teknologi Operasional

Biasanya  untuk  menanggulangi  krisis  komunikasi  dalam 

sebuah organisasi dibutuhkan kehadiran dan keterlibatan pemimpin  tertinggi. Selain itu pada momen ini organisasi juga dimungkinkan 

merekrut  penasihat  komunikasi  profesional  yang  tentu  saja 

berimpikasi pada keluarnya biaya yang cukup besar untuk membayar  mereka.  

Perencanaan krisis komunikasi harus bisa menjawab sejumlah  pertanyaan kunci berikut ini: 

 

 Siapa yang bertanggung jawab mengatasi krisis dan apa

tugasnya?

 Di mana posisi pusat komando yang merespon krisis?

 Sumber daya apa saja yang dibutuhkan?

 Siapa saja yang teribat dalam mengatasi krisis komunikasi

dan apa tanggung jawab mereka?

 Informasi apa yang bisa diberikan pada publik?

 Siapa yang harus bicara mewakili organisasi?

   

 Gambar 1.8. Kriteria Tim Krisis Komunikasi

   

 

Keahlian /

Keterampilan Perilaku / Sikap

Karakter / Sifat Kepribadian

Departemen / Program yg Cocok

Public Relations /

Humas Antusias Pemain Tim Komunikasi Peka thd situasi

yang sulit Persuasif Komitmen tinggi Dewan Pimpinan Pemikir

Keberlanjutan Percaya diri Terpercaya

Pengembangan Urusan Publik Kepemimpinan

berkualitas Positif selalu bisa Tabah Legal (Hukum) Memiliki jaringan

(Sumber: Patterson & Radtke, 2009; 15

(18)

  2. Perencanaan Operasional (operational plan) 

 

RENCANA  operasional  memberikan  deskripsi  tentang  bagaimana  rencana  strategis dilaksanakan (Siswanto, 2012 ; 49).  

Dalam perencanaan operasional menurut Siswanto, dikenal pula dua jenis  perencanaan yakni:  

 

1) Perencanaan sekali pakai (single use plan).  

Perencanaan sekali pakai dikembangkan untuk pencapaian tujuan tertentu  dan ditinggalkan manakala tujuan tersebut telah tercapai. Perencanaan  sekali pakai merupakan arah tindakan yang mungkin tidak akan terulang  dalam bentuk yang sama di masa yang akan datang. 

Bentuk utama perencanaan sekali pakai antara lain: 

 

Perencanaan Program, yang mencakup serangkaian aktivitas yang relatif luas. Suatu program menjelaskan: 1) langkah-langkah utama yang diperlukan untuk mencapai tujuan; 2) unit atau anggota yang bertanggung jawab untuk setiap langkah; 3) urutan serta pengaturan waktu setiap langkah.

Perencanaan Proyek, yang merupakan bagian program yang lebih kecil dan mandiri. Selain proyek memiliki cakupan terbatas dan petunjuk yang jelas mengenai tugas dan waktu, setiap proyek akan menjadi tanggung jawab setiap individu yang ditunjuk dan diberi sumber daya spesifik dan dalam batas waktu tertentu.

Perencanaan Anggaran, yang merupakan pernyataan tentang sumber daya keuangan (financial resource) yang disediakan untuk kegiatan tertentu dalam waku tertentu pula. Anggaran terutama merupakan alat untuk mengendalikan aktivitas suatu organisasi. Oleh karena itu, anggaran merupakan komponen penting dari setiap program atau proyek. Anggaran mendeskripsikan pendapatan dan biaya. Dengan demikian anggaran menentukan target aktivitas seperti hasil penjualan, biaya tiap bagian atau investasi baru.

 

Dalam konteks organisasi, setiap perencanaan sekali pakai akan  diikuti dengan pembuatan perencanaan komunikasi untuk masing‐masing  jenis perencanaannya. Sebagai contoh jika sebuah organisasi merencanakan 

sebuah  program  dalam  rangka  memperingati  ulang  tahun  organisasi  tersebut dengan merencanakan berbagai kegiatan CSR seperti bakti sosial  sunatan massal, donor darah, bantuan sembako, penghijauan, dan lain  sebagainya, maka tim komunikasi (Communication Action Team ‐ CAT) akan 

menyiapkan  perencanaan  komunikasi  untuk  mendukung  program 

tersebut, misalnya dengan pembuatan baliho, spanduk iklan, iklan di  media massa, dan lain sebagainya. 

  

 2) Perencanaan tetap (standing plan).  

Perencanaan tetap merupakan pendekatan yang sudah diakukan untuk  menangani situasi yang terjadi berulang (repetitive) dan dapat dperkirakan.  Perencanaan tetap ini memberikan kesempatan kepada para manajer untuk  menghemat waktu yang digunakan dalam perencanaan dan pengambilan  keputusan karena situasi yang serupa ditangani dengan cara konsisten  yang telah ditentukan sebelumnya.  

Bentuk utama perencanaan tetap di antaranya: 

 

Perencanaan kebijakan. Kebijakan adalah suatu pedoman umum dalam pengambilan keputusan. Kebijakan menentukan apakah keputusan dapat diambil atau tidak. Yang berhak membuat kebijakan dalam suatu organisasi adaah manajer puncak (top manager)

Perencanaan prosedur standar. Implementasi kebijakan dilakukan melalui garus pedoman lebih detail yang disebut prosedur standar. Suatu prosedur memberikan seperangkat petunjuk detail untuk melaksanakan urutan tindakan yang sering atau biasa terjadi.

Perencanaan peraturan. Peraturan adalah pernyataan bahwa suatu tindakan harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan dalam situasi tertentu. Peraturan merupakan rencana tetap yang paling jelas dan bukan merupakan pedoman pemikiran atau pengambian keputusan.

 

Seperti juga yang beraku di perencanaan sekali pakai, dalam konteks  organisasi, perencanaan tetap ini juga selalu diikuti dengan pembuatan 

perencanan  komunikasi  untuk  masing‐masing  perencanaan.  Misalnya 

(19)

komunikasi  penetapan  kebijakan  tersebut  dengan  berbagai  saluran  komunikasi organisasi yang ada seperti membuat pengumuman di papan‐ papan  pengumuman,  mengirim  email  ke  setiap  pegawai  perusahaan, 

melakukan  pertemuan  tatap  muka  dengan  para  manajer  di  semua 

departemen, dan lain sebagainya.  

 

Berikut ini adalah skema pembagian perencanaan organisasi sebagaimana  tersaji dalam gambar di bawah ini :  

   

Gambar 1.9. Pembagian Perencanaan Organisasi  

   

     

       

         

(Diadaptasi dari Siswanto, 2012; 51

   

   

Pada  akhirnya,  sebuah  perencanaan  strategis  akan  bergantung  pada  komitmen para pelakunya. Patterson dan Radtke mengemukakan satu hal yang  penting jika para anggota organisasi bersepakat merancang sebuah perencanaan  strategis yaitu waktu dengan meluangkan waktu dan membuat waktu untuk  membuat rencana, mengimplementasikan dan mengevaluasi. Jika tidak, maka  semua rencana akan menjadi sia‐sia.  

 

   

   

Daftar Pustaka   

       

Amir, M. Taufiq. 2011. Manajemen Strategik Konsep dan Aplikasi. Rajawali Pers. PT Raja Grafindo Perkasa, Jakarta.

Baldwin, John R, Stephen D Perry & Mary Anne Moffit. 2004. Communication Theories for Everyday Life. Pearson Education, Inc. Illinois State University.

Cangara, Hafied. 2013. Perencanaan dan Strategi Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Conyers, Diana. 1990. Perencanaan Sosial di Dunia Ketiga: Suatu Pengantar. Ed.1. (Penerjemah Setiawan). Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Cornelissen, Joep. 2004. Corporate Communications, Theory and Practice. SAGE Publications, London-California-New Dehli.

DeVito, Joseph A. 2011. Komunikasi Antar Manusia. Karisma Publishing Group, Pamulang, Tangerang Selatan.

Hayashi, Kichiro. 1976. Corporate Planning Practices in Japanese Multinasionals. New York: International Business Academy.

Lesly. Philip. 1972. Everyting You Wanted to Know About Public Relation. Singapore: Mubaruk & Brothers PTE.

Middleton, John. 1978. Approaces to Communication Planning. Paris: Unesco.

Pace, R. Wayne dan Don F. Faules. 2006. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Perusahaan. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung

Patterson, Sally J and Radtke, Janel M. 2009. Srategic Communication for Nonprofit Organizations. Canada.

Romli, Komsahrial. 2011. Komunikasi Organisasi Lengkap. PT. Grasindo, Jakarta. Seitel, P. Fraser. 1992. The Practice of Public Relations. Macmillan Publishing Company,

Singapore.

Terry, GR. 1975. Principles of Management. Disadur oleh Moekijat. Bandung: Alumni.

Media Online:

Fleet, Dave. Strategic Communications Planning. Ebook. www.DaveFleet.com  

(20)

         

BAB

2

BEBERAPA

KONSEP

PERENCANAAN

KOMUNIKASI

Oleh:

Firna

Firsa

Hakiki,

S.Ikom.

         

A. Pendahuluan 

   

 

SEBAGAIMANA yang telah dibahas pada bab sebelumnya, manajemen dan  perencanaan strategis dapat ditinjau dari berbagai perspektif dan pendekatan.  “Dengan perkembangannya, manajemen strategik memang sudah meluas dalam  aspek pembahasannya” (Amir, 2011 ; 11).  

Manajemen dan perencanaan strategis belakangan ini banyak dikaji dari  berbagai perspektif ilmu dan digunakan para praktisi organisasi, perusahaan,  bisnis, pemerintahan maupun konsultan untuk merancang perencanaan strategis.  Itu artinya, perencanaan strategis merupakan sebuah konsep universal. Demikian  pula dengan perencanaan komunikasi strategis.  

Konsep tersebut juga banyak diaplikasikan para praktisi komunikasi untuk  berbagai kegiatan komunikasi organisasi seperti public relations atau hubungan  masyarakat,  corporate  communications  atau  komunikasi  perusahaan,  marketing  communications  atau  komunikasi  pemasaran,  kampanye  politik,  periklanan,  komunikasi pemerintahan, komunikasi internasional, dan masih banyak lagi.  

Patterson  dan  Radtke  (2009;  7)  menggambarkan  “pada  dasarnya 

komunikasi menjadi strategis manakala prosesnya terintegrasi, terpadu secara 

harmonis  dan  terus‐menerus.”  Mengapa  manajemen  strategis  dibutuhkan?  Robbins  dalam  Amir  (2011;  10)  memberikan  alasannya  bahwa  perusahaan  membutuhkan sebuah upaya sistematis yang disebut manajemen strategik karena  perusahaan membutuhkan keputusan‐keputusan dan tindakan‐tindakan yang  menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.  

Karena itu, pada bab ini, akan ditampilkan sejumlah pandangan konsep  atau model tahapan perencanaan komunikasi strategis dari sejumlah praktisi dan  ahli yang menjadi referensi penulisan buku ini.  

     

B. Konsep Manajemen Strategis 

   

 

UNTUK memahami dasar perencanaan komunikasi, pada bagian pendahuluan  ini penulis menampilkan sebuah model manajemen strategis yang dirancang  Whellen dan Hunger yang prosesnya kurang lebih sama dengan model‐model  perencanaan komunikasi, sebagaimana tergambar berikut ini: 

(21)

Gambar 2.1. Model Manajemen Strategik

     

                                                             

(Sumber: Amir, 2011; 12

 

 

Dari gambar di atas, terlihat bahwa manajemen strategis pada intinya  terdiri atas empat tahapan proses, yakni: 1) analisis lingkungan, 2) membuat  formula strategis, 3) menjalankan strategi, dan 4) melakukan evaluasi terhadap  strategi yang sudah dijalankan.  

Dalam  perspektif  perusahaan  berbasis  bisnis,  elemen  pemimpin 

perusahaan memegang posisi kunci dalam menjalankan manajemen strategis  yang terdiri atas dua struktur manajemen tingkat atas perusahaan yakni dewan  komisaris yang biasanya terdiri atas para pemegang saham perusahaan dan  dewan direksi yang terdiri atas kelompok orang‐orang yang memiliki kecakapan  dan profesionalisme dalam memimpin perusahaan.  

Adapun tugas‐tugas pokok dewan komisaris menurut Amir (2011; 19)  adalah: 1) Memonitor, yaitu bahwa komisaris harus selalu melihat perkembangan  atau  progress  yang  terjadi  atas  rencana  strategis  perusahaan.  Bila perlu,  ia  mendorong terjadinya percepatan untuk hal‐hal tertentu; 2) Mengevaluasi dan 

Memengaruhi,  yaitu  komisaris  harus  mempelajari  usulan,  dan  tindakan 

manajemen, menyetujui, memberikan nasihat dan saran atau menyampaikan  tindakan alternatif.  

Menurut Whellen dan Hunger (dalam Amir, 2011; 19) tanggung jawab  komisaris adalah sebagai berikut: 

 

 Menginisiasi dan menentukan. Komisaris dapat menentukan misi

perusahaan dan menyatakan pilihan strategi pada manajemen.

 Merekrut dan memberhentikan manajemen puncak (para direksi).

 Mengontrol dan memonitor.

 Meninjau dan menyetujui penggunaan sumber daya.

 Memperhatikan kepentingan pemegang saham

 

Pada  praktiknya,  menurut  Amir,  derajat  keterlibatan  para  anggota  komisaris berbeda‐beda. Ada yang terlibat aktif dalam manajemen perusahaan,  namun juga ada yang sebaliknya. Whellen dan Hunger (dalam Amir, 2011; 20)  menggambarkan derajat keterlibatan anggota dewan komisaris dalam gambar  matriks berikut ini: 

 

   

(22)

Gambar 2.2. Derajat Keterlibatan Komisaris  

 

RENDAH PASIF

DERAJAT KETERLIBATAN KOMISARIS DALAM MANAJEMEN STRATEGIK

(Sumber: Whellen dan Hunger dalam Amir, 2011; 20

   

Dewan  direksi  biasanya  terdiri  atas  beberapa  orang  yang  menjadi  pemimpin perusahaan dan dipimpin oleh satu direktur utama atau sebagian  perusahaan lain menggunakan istilah presiden direktur atau CEO (Chief Executive  Officer).  Namun  ada  pula  perusahaan  yang  membuat  pembedaan  tugas  operasional  lebih  spesifik  pada  jajaran  direksi.  Biasanya  penerapan  model  pemisahan tersebut diterapkan perusahaan‐perusahaan berskala besar dengan  jaringan yang luas seperti bank dengan membentuk apa yang disebut dengan  COO (Chief Operational Officer). Namun pada prinsipnya tugas‐tugas mereka  adalah sama, yakni memimpin perusahaan, atau istilah Whellen dan Hunger  (dalam Amir, 2011; 23) bertugas: 1) Memimpin pelaksanaan misi dan memberikan  visi strategic; dan 2) Mengelola proses perencanaan strategik perusahaan.  

Selanjutnya dalam menajeman strategis juga dikenal dengan istilah tata  kelola perusahaan yang melandasi perilaku para pemimpin perusahaan baik  dewan komisaris maupun dewan direksi.  

Ada lima prinsip tata kelola perusahaan yang banyak diadopsi perusahaan  dan menjadi hal yang wajib dilaksanakan (Amir, 2011; 27), yakni : 

 

1) Transparansi (atau keterbukaan) ; dimana prinsip dasarnya adalah bahwa

perusahaan harus menyediakan informasi yang memadai dan relevan serta dapat diakses oleh para pemangku kepentingannya.

2) Akuntablitas ; dimana prinsip dasarnya adalah perusahaan harus mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar, dikelola secara terukur dan memperhitungkan pemangku kepentingan.

3) Responsibiltas ; dimana prinsip dasarnya adalah perusahaan selayaknya mematuhi aturan yang berlaku dan melaksanakannya secara bertanggungjawab kepada masyarakat dan lingkungan sekaligus berkesinambungan.

4) Independen ; dimana prinsip dasarnya adalah organ-organ yang ada dalam perusahaan tidak saling mendominasi atau tidak diintervensi oleh pihak lain.

5) Kesetaraan dan kewajaran (fairness) ; dimana prinsip dasarnya adalah

bahwa perusahaan harus selalu memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan berdasarkan asas kesetaraan dan keragaman.

     

C. Perencanaan Komunikasi Strategis dari Perspektif Corporate  Communications  

 

SALAH satu ahli komunikasi yang menulis tentang perencanaan strategis adalah  Dr. Joep Cornelissen. Ia adalah seorang dosen di University of Amsterdam  Belanda,  Leeds  University  Business  School,  dan  Amsterdam  School  of  Communications Research, yang secara khusus mengajar bidang kajian corporate 

communications dan marketing communications di program studi MBA dan MA.     Menurut Cornelissen, ada empat fase dalam proses merancang strategi  komunikasi sebagaimana yang tergambar berikut ini: 

   

Gambar

Gambar 1.1. Hubungan Fungsi Manajemen
Gambar 1.3. Penjabaran Perencanaan Komunikasi dari Kebijakan sampai Operasional
Gambar 2.1. Model Manajemen Strategik
Gambar 2.2. Derajat Keterlibatan Komisaris
+7

Referensi

Dokumen terkait

Modul PPIC yang telah dibuat untuk memudahkan perencanaan produksi kayu saat ini perlu ditambahkan beberapa data yang lebih akurat lagi. Perencanaan produksi yang

Proses terakhir perencanaan event yang perlu diperhatikan adalah legalitas dari penyelenggraan event dan pada tahap akhir juga perlu dilakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan

salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul “Konsep Perencanaan dan Perancangan Sekolah Kreatif di

Evaluasi adalah tahap terakhir setelah tahap-tahap penelitian, perencanaan dan penggiatan yang dilaksanakan oleh suatu organisasi. 12 Evaluasi dalam lembaga pendidikan

Pada tahap ini dilakukan setelah tahapan implementasi selesai dilakukan, pada tahap ini dilakukan penguji sistem apakah sistem dapat berjalan dengan seperti yang diharapkan

Ada tiga tahapan pokok dalam implementasi kurikulum, yakni tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, serta tahap evaluasi. Pertama, tahap perencanaan adalah tolak ukur

Tahapan penelitian ini terdiri dari (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi, (4) refleksi di akhir tindakan. Penelitian

Proses perencanaan merupakan suatu prosedur dan tahapan dari perencanaan itu dilaksanakan.Secara hierarki, prosedur perencanaan itu dilakukan atas dasar prinsip