Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN PEMERINTAH ERA REFORMASI

MENGENAI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

(Studi Pustaka dengan Analisis SWOT)

Oleh : Ali Rohmad

Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung

A. Latar Belakang

Lima belasan abad yang silam, syari’at Islam sebagaimana terdapat dalam kitab suci al-Qur’an dan kitab-kitab sunnah nabi Muhammad saw telah mencanangkan ajaran mengenai segala aspek kehidupan manusia, semisal ajaran mengenai prinsip-prinsip mendidik anak usia dini bahkan bagi bayi yang benar-benar baru saja dilahirkan. Dengan mendasarkan diri pada beberapa matan hadits nabi saw, Abdullah Nashih Ulwan menyatakan bahwa : “Di antara hukum yang telah disyari’atkan Islam untuk anak yang baru dilahirkan adalah mengumandangkan azan di telinga kanan dan ikamat di telinga kirinya”.1 Sampai kini, ajaran ini senantiasa dipraktekkan dengan baik di kalangan umat Islam yang taat, juga senantiasa diupayakan dipahami maksud simboliknya; semisal ada yang memahami agar suara yang pertama kali paling patut diperdengarkan kepada bayi adalah suara azan sebagai seruan mendirikan shalat. Barangkali dalam konteks teknologi informasi dengan analog setiap komputer yang baru diproduksi harus diinstal lebih dulu sebelum pemakaian lebih lanjut, maka dapat saja dikatakan bahwa ajaran azan dan iqamat pada bayi tersebut sesungguhnya adalah menginstal potensi multi-kecerdasan bayi sebelum ditumbuh-kembangkan lebih lanjut melalui pendidikan.

Bagi umat Islam, memperhatikan pendidikan anak usia dini sesungguhnya adalah amanat Allah swt yang diajarkan oleh nabi saw dan para nabi sebelum beliau, bukan hal yang baru lagi asing dan hadir dari kaum

1 Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, vol. 1, 2nd ed, Pustaka

(2)

materialisme beserta cabang-cabangnya selaku perancang sekaligus pencanang renaisance yang menjadi cikal bakal dari era globalisasi. Sikap ini relevan dengan pandangan Imron Arifin, bahwa “Pendidikan anak usia dini, pada dasarnya telah ada sejak adanya manusia, dilakukan keluarga dan lingkungan sosial secara alamiah dan dipengaruhi pola budaya dan agama”.2

Sementara itu, pertemuan bilateral para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di bawah tema “Education For All” yang diselenggarakan di Dakar Sinegal Afrika tahun 2000 M, menurut laporan United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sesungguhnya adalah bersifat menegaskan kembali komitmennya terhadap pendidikan dan perawatan anak usia dini dan menentukan perkembangannya.3

Sebagai negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang komit, maka pemerintah Repuplik Indonesia dalam era reformasi4 memiliki kebijakan tersendiri terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) apabila dibandingkan dengan dua model era pemerintahan sebelumnya.5 Secara

2 Imron Arifin, Kepemimpinan Himpaudi Studi Kasus di Kota Malang, 1st ed,

Aditya Media Publishing, Yogyakarta, 2011, hal. 11.

3 Vide, UNESCO, “Laporan Review Kebijakan : Pendidikan dan Perawatan

Anak Usia Dini di Indonesia”, Seksi Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Inklusif, Divisi Pendidikan Dasar, Sektor Pendidikan UNESCO, Januari 2005,

http://www.unesdoc.unesco.org/ - diakses 27 Maret 2008, hal. 13.

4 Sejak hari kemerdekaan 17 Agustrus 1945, di Indonesia telah dijalani tiga

model era pemerintahan. Pertama, pemerintahan Orde Lama (Orla) 1945-1965 dengan penerapan demokrasi liberal dan demokrasi terpimpin melalui kendali sistem sentralistik.

Kedua, pemerintahan Orde Baru (Orba) 1966-1998 dengan penerapan demokrasi Pancasila dan Pedoman Pengahayatan Pengamalan Pancasila (P4) melalui kendali sistem sentralistik.

Ketiga, pemerintahan Era Reformasi 1999-sekarang dengan penerapan demokrasi “agak kebablasan” melalui kendali sistem desentralistik (otonomi daerah). Ketika di Indonesia memasuki pemerintahan Era Reformasi, peradaban dunia telah memasuki Era Globalisasi. Dan pada tahun 2013M, saat karya ini ditulis, pemerintahan Era Reformasi di Indonesia di bawah kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan kabinet Indonesia Bersatu jilid dua.

5 Yang dimaksud dengan PAUD --sebagaimana termaktub dalam

(3)

yuridis, PAUD telah termaktub dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab VI bagian ketujuh pasal 28 mulai ayat satu sampai dengan ayat enam. Kebijakan mengenai PAUD ini memperlihatkan kesadaran dan komitmen pemerintah terhadap urgensi pendidikan sepanjang hayat bagi dinamika kehidupan telah meningkat. Suatu pandangan yang menyatakan, bahwa “Pendidikan merupakan alat untuk memperbaiki keadaan sekarang, juga untuk mempersiapkan dunia esok yang lebih baik serta lebih sejahtera”,6 patut dijadikan kata kunci bagi pembangunan nasional.

Secara realitas, amat jauh hari sebelum kebijakan pemerintah tentang PAUD itu hadir sebagai sub-struktur kepemerintahan, dalam masyarakat telah hadir duluan bentuk/model PAUD --semisal Taman Kanak-Kanak (TK), Raudlatul Athfal (RA), Bustanul Athfal (BA)--sebagai sub-kultur yang memperlihatkan bahwa kesadaran warga negara terhadap urgensi PAUD telah terbentuk.7 Ini mengisyaratkan, secara ideal, bahwa kehadiran kebijakan pemerintah tentang PAUD dituntut mampu memperkokoh dinamika PAUD yang memang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kemudian menjadi amat wajar apabila kehadiran Play Group yang tumbuh subur laksana jamur di musim hijan dalam berbagai wilayah perkotaan dan pedesaan pada pemerintahan era reformasi mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat dengan menjadikan anak-anak mereka sebagai peserta didik di sana.

Secara akademis, pertautan kehadiran kebijakan pemerintah sebagai sub-struktur dengan sub-kultur masyarakat mengenai sasaran yang sama (PAUD) dapat dipandang sebagai kejadian yang unik lagi menarik untuk dikaji lebih lanjut. Keunikan dapat terlihat ketika sub-struktur dan sub-kultur dengan karakteriktik dan asal-usul masing-masing dipertemukan dan dikomunikasikan serta diharmonisasikan tentu dapat menimbulkan

6 Kartini Kartono, Tinjauan Politik Mengenai Sistem Pendidikan Nasional

Beberapa Kritik dan Sugesti, 1st ed, PT. Pradnya Paramita, Jakarta, 1997, hal. 1.

7 Mengenai ringkasan sejarah awal kehadiran PAUD di dunia, dan sejarah awal

(4)

fenomena yang baru dan atau problema yang baru yang menuntut penyelesaian lebih lanjut. Kemenarikan dapat terlihat dari strategi pentautan dinamika inisiatif pemerintah dengan masyarakat dalam mengerahkan segala potensi sebagai investasi pendidikan untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas prima di masa datang yang memiliki kecenderungan tantangan dan persoalan yang berbeda jauh jika dibandingkan dengan tantangan dan persoalan masa sekarang.

Pemikiran tersebut menarik sekaligus mendorong peneliti untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dengan tema : Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Mengenai Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Pustaka dengan Analisis SWOT). Analisis SWOT ini bersumber dari analisis akar permasalahan. Sam M. Chan dan Tuti T. Sam menjelaskan, bahwa “Kajian terhadap akar permasalahan tidak pernah lepas dari konteksnya. Konteks tersebut adalah kajian global, namun jika akan mengatasi masalah, pemikiran tersebut memerlukan berbagai opsi (options) yang menuntut divergent thinking (berpikir lateral) …”.8 Dengan segala kemampuan dan keterbatasan, penulis berusaha meniru jejak kedua pakar tersebut dengan pijakan observasi terhadap data tekstual dari beberapa referensi ilmiah dan surat kabar serta web-site untuk memperhatikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan terkait dengan kebijakan pemerintah tentang PAUD yang kini sedang berjalan dengan harapan dapat menghasilkan suatu rekomendasi yang lebih komprehensif terkait dengan dinamika kebudayaan yang makin sarat dengan berbagai persoalan.

B. Tujuan Penelitian

Dalam kehidupan sehari-hari di berbagai belahan dunia, tujuan lazim dijadikan sebagai tolok ukur bagi proses dan hasil atas suatu perbuatan manusia secara individual ataupun organisasional untuk dinilai sebagai berhasil atau gagal. Berarti, posisi tujuan itu amat penting. Yang menjadi tujuan penelitian ini dapat dikemukakan dengan redaksi yang sederhana tetapi

8 Sam M. Cham dan Tuti T. Sam, Analisis SWOT Kebijakan Pendidikan Era

(5)

secara metodologis ilmiah dapat diukur melalui aktifitas penelitian sehingga obyektivitasnya dapat diketahui oleh para pembaca, seperti di bawah ini. 1. Untuk memahami dan mendeskripsikan status PAUD yang

diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dalam pemerintahan era reformasi.

2. Untuk memahami dan mendeskripsikan kondisi dasar yuridis PAUD dalam pemerintahan era reformasi.

3. Untuk memahami dan mendeskripsikan karakteristik perkembangan anak usia dini yang perlu disikapi selama aktualisasi PAUD.

4. Untuk memahami dan mendeskripsikan arah kebijakan pemerintah era reformasi mengenai PAUD.

5. Untuk memahami dan mendeskripsikan jalur penyelenggaraan PAUD dalam pemerintahan era reformasi.

6. Untuk memahami dan mendeskripsikan penanggung-jawab pembinaan PAUD dalam pemerintahan era reformasi.

7. Untuk memahami dan mendeskripsikan penyebab pemerintah era reformasi menetapkan kebijakan mengenai PAUD.

8. Untuk memahami dan mendeskripsikan temuan analisis SWOT terhadap kebijakan pemerintah era reformasi mengenai PAUD.

C. Kegunaan Hasil Penelitian

Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai penambah khazanah ilmiah, terutama yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah era reformasi mengenai pendidikan anak usia dini.

(6)

penegakan nilai-nilai Pancasila dan tuntutan dinamika peradaban era globalisasi; dapat dimanfaatkan oleh para orang tua, tokoh masyarakat, dan ahli pendidikan sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan model, metode, dan strategi yang lebih tepat guna mendidikkan nilai-nilai Pancasila pada anak-anak usia dini sehingga dapat tumbuh berkembang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas dan generasi penerus yang kredibel lagi akontabel dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia sebagai termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia 1945 terutama dalam memperkokoh masa depan ketahanan nasional Indonesia dari tekanan nilai-nilai materialisme yang sengaja ditebarkan oleh era globalisasi; dapat dimanfaatkan oleh praktisi pendidikan dan pendidik (seperti guru, dosen, tutor, ustadz) sebagai bahan penambah informasi yang dapat lebih membantu dalam menyikapi secara arif lagi bijaksana akan variasi karakter anak-anak usia dini beserta variasi tantangan yang harus mereka antisipasi lagi respon di era globalisasi sehingga kehidupan di masa mendatang dapat semakin diwarnai cinta kasih lagi damai sejahtera; dapat dimanfaatkan oleh peneliti lain di masa mendatang sebagai penambah informasi dalam menyusun rancangan penelitian lain atau rancangan penelitian lanjutan yang relevan dengan perubahan zaman melalui pendekatan yang makin variatif juga menerapkan model-model penelitian yang dipandang makin dapat memenuhi harapan masyarakat pembaca di dalam dan luar negeri.

D. Penegasan Istilah

Agar sejak awal para pembaca dapat secara jelas lagi tegas memperoleh kesamaan pemahaman mengenai konsep yang terkandung dalam tema penelitian “Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Mengenai Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Pustaka dengan Analisis SWOT)” beserta konstruk yang diselidiki, sehingga di antara pembaca tidak ada yang memberikan asosiasi arti yang berbeda terhadapnya, 9 maka peneliti merasa perlu

9 Vide, Sevilla, et.al, Pengantar Metode Penelitian, 1st ed, terjem. Amiluddin

(7)

memaparkan penegasan istilah yang dianggap menjadi kata kunci dari tema penelitian seperti di bawah ini.

Secara konseptual, yang peneliti maksud dengan “Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Mengenai Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Pustaka dengan Analisis SWOT)”, adalah penelitian literer seputar rangkaian ketentuan peraturan perundangan-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah era reformasi untuk mengatur pendidikan anak usia 0-6 tahun guna menumbuh-kembangkan potensi multi-kecerdasan yang sejalan dengan masa depan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang makin berkeseimbangan dalam menegakkan nilai-nilai Pancasila sekaligus merespon tantangan era globalisasi.10

Secara operasional, yang peneliti maksud dengan “Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Mengenai Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Pustaka dengan Analisis SWOT)”, adalah penelitian literer seputar rangkaian ketentuan peraturan perundangan-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah era reformasi untuk mengatur pendidikan anak usia 0-6 tahun guna menumbuh-kembangkan potensi multi-kecerdasan yang sejalan dengan masa depan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang makin berkeseimbangan dalam menegakkan nilai-nilai Pancasila sekaligus merespon tantangan era globalisasi dengan data tekstual berupa resume-cards dari hasil membaca dokumen terkait yang dianalisis secara deduktif, komparatif, dan SWOT.

E. Kerangka Pemikiran

Secara nasional, bagi bangsa Indonesia selaku bagian dari bangsa yang mendasarkan diri dalam menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara pada landasan ideal Pancasila dengan menempatkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila ranking pertama; maka posisi seluruh anak usia

10 Penegasan istilah secara konseptual tersebut dirumuskan setelah mencermati

(8)

dini Indonesia masa kini adalah amanat Tuhan yang nyata-nyata diharapkan menjadi generasi penerus masa depan dengan sumber daya manusia yang dapat diandalkan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tersurat dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. Seluruh anak usia dini Indonesia masa kini jelas merupakan bagian teramat penting lagi teramat mahal bagi karakter bangsa masa depan yang menjadi syarat mutlak bagi efektifitas penyelenggaraan pemerintahan dan program pembangunan nasional guna mengaktualisasikan kekokohan ketahanan nasional dalam pelbagai bidang kehidupan seperti ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan demi memperjuangkan pencapaian cita-cita kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan di atas dunia. Karena itu, kehadiran seluruh anak usia dini Indonesia masa kini perlu dipersiapkan dalam waktu yang relatif panjang melalui PAUD yang sesuai lagi memadai agar potensi multi-kecerdasan pada mereka dapat tumbuh berkembang secara maksimal sebagai bukti kepemilikan kesiapan sumber daya manusia yang benar-benar siap diabdikan untuk kepentingan masa depan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia yang semakin sarat persoalan yang menuntut penyelesaian dengan segera (instan) lagi terpadu oleh jajaran para pihak terkait.

(9)

Secara psikis, manusia akan gemar melakukan suatu perbuatan, apabila karakteristik perbuatan itu telah benar-benar dikenal, dipahami, dibutuhkan, dilatihkan, dibiasakan dengan penuh kedisiplinan yang barangkali saja pada tahap awalnya untuk sementara waktu dirasakan sebagai paksanaan. Dengan ini, maka kehadiran kebijakan pemerintah era reformasi mengenai PAUD adalah amat relevan dan memang tidak dapat ditawar atau ditunda-tunda pengaktualisasiannya.

(10)

Secara edukatif, diakui bahwa selaku pendidik pertama lagi utama bagi anak dalam kehidupan rumah tangga sebagai lembaga pendidikan informal, orang tua muslim (ayah dan/atau ibu) dituntut mampu mengemban tugas mendidik anaknya sejak usia dini. Dalam mendidikkan nilai-nilai keimanan, peribadatan, dan akhlaq; Islam telah memberi pedoman yang meyakinkan bagi setiap orang tua. Berkaitan dengan posisi tersebut, realitas tugas yang wajib diemban oleh setiap orang tua adalah memahamkan dan menginternalisasikan serta mendisiplinkan ajaran Islam pada anaknya sebagai pilar utama dalam memperjuangkan perwujudan kesalihan anak. Dalam waktu yang bersamaan, orang tua juga dapat menitipkan pendidikan anaknya, termasuk yang masih dalam usia dini, pada jalur pendidikan formal semisal Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA), juga lembaga pendidikan nonformal semisal Taman Pendidikan Al-Qur’an.

F. Status PAUD yang Diselenggarakan Melalui Jalur Pendidikan Formal Merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1 angka 14 yang menyebutkan bahwa “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”;11 maka berarti segala macam pendidikan, baik yang diberikan di rumah maupun di sekolah pada anak-anak usia 0-6 tahun dapat dimasukkan dalam kategori PAUD.

Kemudian sejalan dengan frase yang terdapat dalam bagian akhir dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 angka 14 “agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” dan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 28 ayat (2) bahwa “Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur

11Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

(11)

pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal”12 serta sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 28 ayat (3) bahwa “Pendidikan anak usia dini pada jalur formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat”;13 maka dapat diperoleh kesan yang kuat seakan-akan PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal adalah termasuk bagian dari jenjang pendidikan dasar sebagaimana dimaksud Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 14 “Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi”.14

Akan tetapi apabila kemudian merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 28 ayat (1) bahwa “Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum pendidikan dasar”15 dan penjelasannya bahwa “Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar”,16 juga merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab VI Pasal 17 ayat (2) bahwa “Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat”;17 maka PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal adalah secara eksplisit tidak termasuk bagian dari struktur jenjang pendidikan dasar. Dan menjadi amat menggalaukan pemikiran para pembaca ketika merujuk Peraruran Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan bab III pasal 60 : “Penyelenggaraan pendidikan formal meliputi: a. pendidikan anak usia dini; b. pendidikan dasar; c. pendidikan menengah; dan d. pendidikan

(12)

tinggi”.18 Yang lazim terjadi di Indonesia bahwa kegalauan semacam ini menjadi sirna ketika Mahkamah Konstitusi menerbitkan keputusan tertentu mengenai hal itu setelah ada aduan masyarakat secara tertulis.

Menanggapi realitas ini, Erma Pawitasari --kandidat doktor Pendidikan Islam, juga direktur Eksekutif Andalusia Islamic Education and

Management Services-- memasukkan status/posisi PAUD yang

diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal sebagai kebijakan yang mengalami kerancuan.19 Menurut UNESCO, di Indonesia, PAUD bukan merupakan bagian dari sistem pendidikan formal,20 sebagai jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Berarti selama ini, kebijakan pemerintah era reformasi mengenai status/posisi PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal semisal Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal

(RA) adalah kurang tegas (tidak konsisten), pada satu sisi diakui sebagai bagian dari jalur pendidikan formal, tetapi pada sisi lain tidak dimasukkan sebagai bagian dari jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar : Sekolah Dasar dan/atau Madrasah Ibtidaiyah). Percaya atau tidak percaya, realitas ini terjadi dalam pemerintahan era reformasi.

Kendati demikian, oleh karena yang dititik-beratkan dalam PAUD adalah “peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini”;21 maka apresiasi positif dari masyarakat terhadap PAUD pada jalur pendidikan formal memang semakin terjadi, masyarakat Indonesia telah memperlihatkan menyediakan pondasi yang kuat bagi penyelenggaraan PAUD sebagai bagian dari kultur bangsa,

18Peraruran Pemerintah Republil Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang

Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan, dalam file pdf, hal. 43.

19 Vide, “Jumlah Topik Harian Paud”, online : http://www.suara-islam.com/ tabloid.php?tab_id=101 – diakses 30-12-2013.

20 Vide, UNESCO, hal. 18.

21 “Pendidikan Anak Usia Dini”, online, http://id.wikipedia.org/ - diakses

(13)

mengingat bahwa “Tahun-tahun pertama kehidupan anak merupakan kurun waktu yang sangat penting dan kritis dalam hal tumbuh kembang fisik, mental, dan psikososial, yang berjalan sedemikian cepatnya sehingga keberhasilan tahun-tahun pertama untuk sebagian besar menentukan hari depan anak.”.22 Dalam pandangan Nani Susilawati (Staf Pengajar FISIP USU), “PAUD memegang peranan penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, sebab merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak”.23 Bagi masa depan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, eksistensi PAUD amat penting jika dihubungkan dengan pembentukan karakter manusia Indonesia seutuhnya, dan memang PAUD yang terjadi pada masa usia keemasan (the golden age) dapat menjadi basis penentu pembentukan karakter manusia Indonesia.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman, bahwa status PAUD yang diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dalam pemerintahan era reformasi semisal Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA) adalah kurang tegas (tidak konsisten, dalam kerancuan), pada satu sisi diakui sebagai bagian dari jalur pendidikan formal, tetapi pada sisi lain tidak dimasukkan sebagai bagian dari jenjang pendidikan formal (pendidikan dasar).

G. Dasar Yuridis PAUD dalam Era Reformasi

Dasar yuridis PAUD merupakan landasan penyelenggaraan PAUD yang terdiri dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang secara hierarkhis diberlakukan di Indonesia yang bersifat mengikat jajaran penyelenggara negara dan warga negara. Kondisi dasar yuridis menjadi penentu eksistensi PAUD dalam konteks kehidupan bernegara, dalam pengertian kekokohan dasar yuridis menenentukan kekohan PAUD, dan begitu jua sebaliknya. Oleh Zuhairini dan kawan-kawan, dasar yuridis ini dibedakan menjadi tiga macam. Pertama, dasar ideal yang terdiri dari

22 Dida, “Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia”, online, http://sadidadalila.wordpres.com/ - diakses 02-02-2011.

(14)

Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai falsafah (way of life) bangsa Indonesia yang memperlihatkan visi kehidupan yang harus diwujudkan. Kedua, dasar struktural yang terdiri dari Undang-Undang Dasar 1945 yang memperlihatkan misi yang harus diemban dalam merealisasikan berbagai hubungan hak dan kewajiban baik secara nasional antar institusi kenegaraan dan antara negara dengan warga negara maupun secara internasional. Ketiga, dasar operasional yang terdiri dari ketentuan-ketentuan yang yang lebih spesifik secara langsung mengatur pelaksanaan mengenai suatu aspek kehidupan semisal mengenai PAUD.24 Paparan mengenai tiga dasar yuridis itu dapat diikuti di bawah ini.

Termaktub dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam Satu Naskah bab XA pasal 28C (1) “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”,25 dan bab XIII pasal 31 (1) “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan”.26 Berarti, Undang-Undang Dasar di Indonesia secara tegas memposisikan pendidikan sebagai bagian dari hak asasi manusia dan bagian dari hak warga-negara yang menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya.

Termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak bab III pasal 9 (1) “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya”.27 Berarti, hak mendapatkan pendidikan bagi anak-anak tanpa kecuali sebagai bagian yang prinsipil untuk mendapatkan perlindungan negara yang harus

24 Vide, Zuhairini, et.al, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Biro Ilmiah

Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, 1981, hal. 19-21.

25Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia1945 dalam Satu Naskah,

dalam file pdf, hal. 20.

26Ibid, hal. 24.

27 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang

(15)

dipenuhi dengan berbagai layanan interaksi-edukatif sebaik mungkin sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, dan tidak boleh hanya dengan asal-asalan. Termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) bab II pasal 2 “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”,28 serta bab IV pasal 5 (1) “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.29 Berarti, Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 di samping mempertegas bahwa yang menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan di Indonesia adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, juga mempertegas posisi mendapatkan pendidikan yang bermutu (bukan pendidikan yang asal-asalan) sebagai bagian dari hak-hak setiap warga negara, dan itu tentu termasuk layanan pendidikan bagi para anak usia dini.

Termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) bab VI pasal 29 (1) “Pendidik pada pendidikan anak usia dini memiliki : a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S-1); b. latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi; dan c. sertifikasi profesi guru untuk PAUD”.30 Berarti, kendati secara tekstual yang disebut dalam SNP lebih terfokus pada pendidik PAUD, maka sesungguhnya SNP dapat dijadikan sebagai dasar yuridis PAUD, sebab pendidik PAUD yang disebut itu adalah bagian yang paling menentukan eksistensi dari unsur-unsur lain dalam penyelenggaraan PAUD.

Termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (sebagai diubah dengan Nomor 66 Tahun 2010) pada bagian kedua yang

28Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

Pendidikan Nasional, dalam file pdf, hal. 4.

29Ibid, hal. 5.

30Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang

(16)

secara khusus mengatur PAUD dengan enam pasal berurutan, yakni pasal 61 mengenai fungsi dan tujuan, pasal 62 mengenai bentuk dan jenis satuan pendidikan, pasal 63 mengenai peserta didik, pasal 64- 65 mengenai penerimaan peserta didik, dan pasal 66 mengenai program pembelajaran.31 Berarti, ketentuan ini mengikat para pihak yang terkait sebagai acuan untuk tindak-lanjut menumbuh-kembangkan unsur-unsur yang dipandang dapat mendinamisasi PAUD agar terarah, terpadu, terkoordinasi, dan tersinkronisasi.

Termaktub dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini pada pasal 1 (1) “Standar pendidikan anak usia dini meliputi pendidikan formal dan nonformal yang terdiri atas : a. Standar tingkat pencapaian perkembangan; b. Standar pendidik dan tenaga kependidikan; c. Standar isi, proses, dan penilaian; dan d. Standar sarana dan prasarana, pengelolaan, dan pembiayaan.”.32 Berarti, ketentuan ini menjadi dasar bagi para penanggung-jawab penyelenggaraan suatu satuan PAUD terutama pada jalur formal Taman Kanak-Kanak (TK) dan/atau Radhatul Athfal (RA) untuk mengadakan penataan lebih lanjut agar mutu layanan rangsangan edukatif terhadap para peserta didik dapat semakin ditingkatkan sesuai dengan standar minimal yang menjadi acuan atau di atasnya. Hal ini tentu amat ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia di sana, terkait dengan kualifikasi dan kompetensi para guru dan tutor.

Di samping itu, diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional yang dalam bab I pasal 4c menyebut Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, Informal beserta tugas-tugasnya, dan dalam bab IV pasal 110b menyebut Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini beserta tugas-tugasnya. Dan pada tahun 2011, Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini menerbitkan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan

31Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang

Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, dalam file pdf, hal. 43-46.

32Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun

(17)

POS PAUD yang menjadi acuan masyarakat dalam mengakses dan menerapkan pengembangan layanan satuan PAUD sejenis yang holistik lagi integratif melalui aktifitas layanan Bina Keluarga Balita (BKB) dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) pada masing-masing desa atau kelurahan di Indonesia; juga pada tahun 2011, menerbitkan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan PAUD Berbasis Taman Pendidikan Al-Qur’an (PAUD-TPQ) yang menjadi acuan masyarakat dalam mengakses dan mengimplementasikan pelayanan satuan PAUD sejenis dalam bentuk layanan PAUD berbasis TPQ.

(18)

H. Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini

Setiap anak usia dini 0-6 tahun merupakan individu yang berbeda, masing-masing memiliki karakteristik perkembangan yang unik sesuai dengan tahapan usia. Masa usia dini merupakan masa keemasan (golden age) yang perlu mendapatkan stimulasi terhadap seluruh aspek perkembangan yang berperan penting untuk tugas perkembangan lebih lanjut dalam usia di atas enam tahun. Masa anak usia dini yang lazim dikenal sebagai masa-masa awal kehidupan, sungguh merupakan masa terpenting dalam rentang kehidupan masa depan yang relatif panjang secara duniawi bahkan secara ukhrawi.

Anak usia dini 0-6 tahun lazim mengalami masa keemasan, sebagai masa peka/sensitif untuk menerima berbagai stimulus dengan intensitas kepekaan yang berbeda-beda pada setiap anak, bersesuaian dengan taraf pertumbuhan dan perkembangan anak secara individual. Dalam masa peka ini ditandai oleh terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis pada anak sehingga mulai siap merespon stimulasi dari lingkungan sekitar. Masa peka ini merupakan masa peletak dasar untuk mengembangkan kemampuan keimanan, ketaqwaan, kognitif, motorik, bahasa, sosio emosional, dan moral yang menjadi fondasi bagi anak untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang. Perkembangan anak pada masa peka ini dipandang dapat memberikan dampak yang positif terhadap kemampuan intelektual, karakter personal dan kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungan. Kesalahan penanganan anak pada masa peka ini dipandang dari sudut pendidikan dapat menghambat perkembangan anak yang seharusnya optimal dari segi fisik maupun psikis, yang dapat merugikan para pihak pemangku kepentingan baik dalam skop keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.

(19)

motorik, 2. fungsi fisik, 3. kemampuan kognitif, 4. kemampuan berbahasa, 5. kemampuan beragama :33

1. Kemampuan motorik

Perkembangan kemampuan motorik anak usia dini terjadi sebagai tindak lanjut dari perkembangan sistem syarafnya yang semakin matang. Perkembangan kemampuan motoriknya ini terdiri dari dua tipe. Tipe pertama, adalah kemampuan motorik menggerakkan bagian tubuhnya yang besar, seperti tangan dan kaki, sehingga yang bersangkutan dapat berjalan, berlari, keseimbangan tubuh dan koordinasi gerak. Yang perlu mendapat perhatian pada tipe pertama ini adalah kekuatan otot, kualitas gerakan dan sejauh mana anak mampu melakukan gerakan. Sedangkan

tipe kedua adalah kemampuan menggerakkan bagian-bagian kecil dari tubuhnya, seperti jari tangan, jari kaki dan mata yang dapat dilihat dari kemampuan anak melempar dan menangkap sesuatu, menggambar maupun meraih benda.

2. Fungsi fisik

Perkembangan fungsi fisik anak usia dini lazim mengikuti pola tertentu. Pertama, perkembangan fungsi bagian tubuh yang besar lebih awal dibandingkan fungsi bagian tubuh yang kecil; seperti perkembangan fungsi tangan dan kaki lebih dulu dibandingkan dengan jari-jarinya. Kedua, perkembangan bagian-bagian utama tubuh lebih dahulu dibandingkan dengan bagian lainnya; seperti lambung, jantung dan organ inti lainnya lebih dulu dan lebih kuat dibandingkan perkembangan fungsi kaki dan tangan. Ketiga, perkembangan dimulai dari bagian atas tubuh menuju bagian bawah. Perkembangan anak usia dini untuk memfungsikan fisiknya dimulai dari kepala baru kemudian ke bagian kaki, sehingga lebih dulu mampu mengangkat kepalanya dibandingkan berguling. Dinamika perkembangan fungsi fisik diarahkan untuk mengembangkan lima aspek

(20)

yang meliputi : kekuatan (strength), ketahanan (endurance), kecepatan (speed), kecekatan (agility), dan keseimbangan (balance).

3. Kemampuan kognitif

Perkembangan kemampuan kognitif anak usia dini barkaitan dengan daya ingat, kemampuan menganalisis maupun kemampuan memecahkan suatu masalah. Anak usia dini merupakan peneliti kecil, aktif melakukan percobaan kemudian merekam data dengan canggih melalui panca indra dan menganalisis suatu data yang dikumpulkan dari lingkungan sekelilingnya, aktif melakukan pengamatan terhadap segala peristiwa sosial sekaligus merekam data dengan canggih melalui panca indra dan menganalisis serta menafsirkannya, aktif berdiskusi (bertanya-jawab) secara kritis obyektif dengan semua orang yang telah dikenal. Dukungan lingkungan untuk menunjang perkembangan kognitif anak amat diperlukan. Interaksi yang sehat antara anak dan lingkungan dapat mengoptimalkan perkembangan kognitifnya.

Kemampuan perkembangan kognitif anak usia dini diklasifikasi ke dalam dua tahapan. Pertama, tahap sensorimotor dalam usia 0-2 tahun dengan tanda anak lebih banyak menggunakan gerak refleks dan indera untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kedua, tahap prepational dalam usia 2-6 tahun dengan tanda penguasaan bahasa anak sudah sisematis, anak telah mampu melakukan permainan simbolis, imitasi (baik langsung maupun tertunda) serta mampu mengantisipasi apa yang terjadi waktu mendatang, namun demikian, cara berpikir anak masih bersifat egosentrik, anak mampu mengambil perspektif orang lain, baik secara perseptual, emosional-motivasional dan konseptual.

4. Kemampuan berbahasa

(21)

mengucapkan sebuah kata. Dengan terus berlatih, anak mampu mengucapkan gabungan dua kata, dan kemudian bisa membuat sebuah kalimat sederhana. Kemampuan anak berbahasa merupakan cermin dari kecerdasan anak.

Selain dukungan dari orang-orang terdekat maupun lingkungan sekitar, perkembangan berbahasa anak usia dini perlu didukung pula oleh suplai nutrisi yang mencukupi. Ini dikarenakan pada masa perkembangan anak usia dini dibutuhkan zat-zat gizi penting dari makanan-minuman halal-thayiba untuk proses pematangan jaringan tubuh dan untuk menyediakan energi dalam proses anak bereksplorasi.

5. Kemampuan beragama

Kendati setiap anak usia dini tampak memiliki jangkauan pikiran secara terbatas dan memiliki perbendaharaan kata secara terbatas serta memiliki pemahaman atas istilah-istilah yang bermakna abstrak juga secara terbatas; akan tetapi ternyata mereka memiliki kemampuan yang istimewa dalam merasakan sikap, tindakan, perasaan dari kedua orang tuanya dan pengasuhnya serta orang-orang dekat lainnya. Realitas ini sungguh menakjubkan bagi siapapun.

(22)

tampak serius membayangkan sekaligus mempertanyakan siapa “Alloh” tersebut.

Tindakan dan perlakuan orang tua yang sesuai dengan ajaran agama dapat menimbulkan pengalaman beragama yang positif pada mereka. Sikap orang tua pada agama dapat mempengaruhi sikap keberagamaan mereka. Jika orang tua bersikap menghormati dan mengindahkan ajaran agama, maka itu dapat memotifasi mereka juga menghormati dan mengindahkan ajaran agama. Dan jika orang tua bersikap meremehkan ajaran agama, maka itu bagi mereka dapat memupuk sikap acuh tak acuh pada ajaran agama. Kemudian ketika mereka dimasukkan ke dalam PAUD jalur formal dan/atau nonformal, maka guru di sana merupakan orang yang harus mendidik lebih lanjut keberagamaan mereka. Keimanan dan sikap guru pada agama pasti tercermin dalam berbagai layanan pendidikan di sana. Kemampuan beragama mereka yang mulai tumbuh-berkembang dalam keluarga dapat menjadi tambah subur apabila guru memiliki sikap yang positif terhadap ajaran agama. Dan jika sebaliknya, kemampuan beragama mereka yang mulai tumbuh-berkembang dalam keluarga dapat menjadi kurus atau bahkan layu. Masa anak usia dini merupakan momentum yang paling tepat untuk memulai menumbuh-kembangkan rasa beragama pada mereka melalui perlakuan dan permainan.

(23)

diharapkan dicapai anak pada rentang usia tertentu. Perkembangan anak yang dicapai merupakan integrasi aspek pemahaman nilai-nilai agama dan moral, fisik, kognitif, bahasa, dan sosial-emosional. 34

Mengingat urgensi masa anak usia dini,35 maka peran stimulasi edukatif berupa penyediaan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran harus disiapkan oleh para pendidik, baik orang tua, guru, pengasuh ataupun orang dewasa lain yang ada disekitar anak, sehingga anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan secara optimal seluruh potensi karunia Allah swt seperti dalam aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif, fisik/motorik, dan seni.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa perkembangan anak usia dini yang perlu disikapi selama aktualisasi PAUD adalah secara individual memiliki karakteristik yang unik sesuai tahapan usia masing-masing, anak lazim mengalami masa keemasan sebagai masa peka menerima sekaligus mereson pelbagai stimulus dari lingkungan sekitar untuk menumbuh-kembangkan secara optimal dan integral serta sinergik berbagai potensi fisik dan psikis karunia Allah swt sehingga anak benar-benar memiliki kemampuan motorik, fungsi fisik, kemampuan kognitif, kemampuan berbahasa, kemampuan beragama, dan lain-lain yang kemudian oleh menteri pendidikan nasional dirumuskan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan yang termaktub dalam Standar Pendidikan Anak Usia Dini yang harus menjadi acuan pelaksanaan PAUD di Indonesia.

I. Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Mengenai PAUD

Kebijakan pemerintah era reformasi mengenai PAUD pada masa kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tatanan kabinet

34 Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan itu secara lengkap disajikan dalam

tabel sebagai acuan pelaksanaan PAUD. Vide, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, dalam file pdf, hal. 3-11.

35 Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan

(24)

Indonesia Bersatu jilid dua 2009-2014M, menurut Mohammad Nuh selaku menteri pendidikan dan kebudayaan, adalah diarahkan untuk menjamin pelbagai lapisan masyarakat di seluruh penjuru Republik Indonesia mengakses PAUD yang bermutu dengan empat sasaran utama seperti di bawah ini.36 1. Penataan kelembagaan

Terlihat bahwa selama ini kehadiran institusi PAUD yang memberi layanan edukatif melalui jalur pendidikan formal seperti Taman Kanak-kanak (TK) dan melalui jalur pendidikan nonformal seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) secara kelembagaan belum ada penataan agar secara resmi semuanya tertata sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan memiliki status yang jelas, sehingga secara kenegaraan kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut. Secara prosedural administratif, penataan kelembagaan PAUD ini perlu dilaksanakan melalui mekanisme yang sesederhana mungkin, dan jauh dari kesan berbelit-belit dalam mata rantai birokrasi yang panjang lagi berputar-putar saling lempar tanggung-jawab dengan moto “kalau dapat dipersulit, mengapa harus dipermudah”.

Penataan kelembagaan ini tentu amat penting lagi krusial dalam konteks kenegaraan. Dan amat rasional manakala Mohammad Nuh selaku menteri pendidikan dan kebudayaan dalam kabinet Indonesia Bersatu jilid dua 2009-2014M, dengan tegas menyatakan bahwa “...pemerintah hanya akan memberikan bantuan pada institusi PAUD yang resmi, dan jelas keberadaan, serta pelaksanaannya. Jika bantuan diberikan tanpa ada kejelasan status, kementerian khawatir hal itu akan memicu terjadinya penyimpangan”.37

Untuk menciptakan iklim kerja sama sekaligus persaingan yang sehat baik antar PAUD maupun antara PAUD dengan para pihak terkait dalam skala nasional dan internasional, maka sebisa mungkin penataan kelembagaan ini dapat diarahkan ke akreditasi PAUD. Lydia Freyani

36 Vide, “Empat Kebijakan Kemendikbud Soal PAUD”, online, http://paud.unm.ac.id/index.php/home/49-empat-kebijakan-paud.html - diakses 30-12-2013.

(25)

Hawadi selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam pemerintahan era reformasi kabinet Indonesia bersatu jilid dua 2009-2014M mengatakan, bahwa “status akreditasi menjadi perhatian penataan. Saat ini, lembaga PAUD yang sudah mendapat akreditasi baru 0,16 persen dari total lembaga yang ada”.38

2. Standarisasi guru dan tutor pendamping

Tampak bahwa selama ini pada sebagian besar PAUD yang tumbuh subur di seluruh teritorial Indonesia yang secara kelembagaan belum ada penataan tersebut, ternyata juga dikelola oleh guru dan tutor pendamping yang terkesan seadanya, dalam pengertian ketika belum beredar isu tunjangan sertifikasi guru siapa saja yang mau menjadi guru dan tutor di sana dapat menduduki posisi itu tanpa seleksi yang prosedural berdasarkan kriteria tertentu, sebab menjadi guru dan tutor di sana oleh masyarakat setempat tidak/belum dianggap sebagai pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Kemudian ketika menjadi guru dan tutor di sana secara praktis tanpa penghargaan yang berarti, semisal dengan imbalan honorarium yang relatif kecil.

Sejalan dinamika tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman, ketersediaan guru dan tutor pada sebagian besar PAUD yang seadanya tersebut nyata-nyata merugikan masa depan bangsa dan negara, sebab menempatkan sesuatu yang bukan pada tempatnya adalah suatu kezaliman, sebagian besar dari mereka bukan merupakan sumber daya manusia yang tepat untuk menangani pekerjaan besar mendidik para calon generasi masa depan. Oleh karenya, perlu segera ada gerakan perubahan standarisasi guru dan tutor PAUD agar terukur secara kualifikasi, kompetensi, dan profesi. Menjadi guru dan tutor PAUD harus menjadi kebanggaan, dan profesional bagi masa depan setiap generasi penerus perjuangan pencapaian tujuan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(26)

Terkait dengan penataan guru dan tutor PAUD ini, Lydia Freyani Hawadi selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam pemerintahan era reformasi kabinet Indonesia bersatu jilid dua 2009-2014M mengatakan, bahwa “Tingkat pendidikan guru PAUD juga mendapat perhatian penataan. Guru PAUD diharapkan berstatus pendidikan S1. Selanjutnya, guru yang sudah menamatkan pendidikan S1 dapat mengurus sertifikasi agar mendapatkan tunjangan fungsional dari pemerintah. Dari total 22 ribu orang guru PAUD di Indonesia, baru 2.000 orang yang mendapat sertifikasi”.39

3. Pengembangan kurikulum

Tampak bahwa selama ini pada sebagian besar PAUD yang tumbuh subur di seluruh teritorial Indonesia yang secara kelembagaan belum ada penataan, dan dikelola oleh guru dan tutor pendamping yang seadanya tersebut, ternyata juga tanpa disertai pengembangan kurikulum. Kurikulum yang ketinggalan zaman menyebabkan proses belajar mengajar berjalan sebagai rutinitas lagi statis, tidak dapat mencerdaskan peserta-didik mewujudkan tugas-tugas sebagai hamba Alloh (ﷲﺪﺒﻋ) sekaligus sebagai khalifah Alloh (ﷲﺔﻔﯿﻠﺧ). Membiarkan realitas negatif ini merupakan kerugian terbesar bagi masa depan bangsa dan negara.

Dalam era reformasi dengan semangat otonomi daerah saat ini, guru dan tutor PAUD tanpa memiliki kualifikasi dan kompetensi yang diharapkan tidak akan pernah dapat mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Oleh karenya, “... kurikulum PAUD harus ditata ulang. Sebab, PAUD bukan untuk memperkuat basis kognitif, tetapi lebih kepada menyiapkan sel-sel neuron dengan berbagai pergerakan fisik. Misalnya, kita ajarkan tentang Ketuhanan, dikenalkan juga dengan interaksi sosial, dan lain sebagainya. Bangun suasana belajar yang menyenangkan, tapi semua harus sesuai porsi dan keadaan, jika tidak nanti bisa stress".40

(27)

4. Ketersediaan sarana dan prasarana.

Tampak bahwa selama ini pada sebagian besar PAUD yang tumbuh subur di seluruh teritorial Indonesia yang secara kelembagaan belum ada penataan, dan dikelola oleh guru dan tutor pendamping yang seadanya tersebut, serta tanpa disertai pengembangan kurikulum, ternyata juga tanpa disertai ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Oleh karenanya, arah kebijakan ini perlu ditindak-lanjuti dengan segera, agar harapan semua lapisan masyarakat dapat mengakses layanan PAUD yang bermutu dengan interaksi-edukatif demi pencapaian tujuan pendidikan nasional benar-benar menjadi kenyataan. Hindari kamuflase di balik predikat sebagai PAUD favorit dibalik pembebanan biaya selangit pada orang-tua murid.

Terkait dengan penataan sarana dan prasarana PAUD ini, Lydia Freyani Hawadi selaku Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam pemerintahan era reformasi kabinet Indonesia bersatu jilid dua 2009-2014M mengatakan, bahwa “ada intervensi dana bantuan. Sebanyak Rp100 juta diberikan kepada lembaga Muslimat Nahdlatul Ulama, Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid (BKPRM), Aisyiah, Dharma Wanita, Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini (Himpaudi), dan Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI). Diharapkan bantuan ini dapat meningkatkan kapasitas lembaga PAUD".41

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa kebijakan pemerintah era reformasi mengenai PAUD pada masa kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tatanan kabinet Indonesia Bersatu jilid dua 2009-2014M, adalah diarahkan untuk menjamin pelbagai lapisan masyarakat di seluruh penjuru Republik Indonesia mengakses PAUD yang bermutu dengan empat sasaran utama : a. penataan kelembagaan, b. standarisasi guru dan tutor pendamping, c. pengembangan kurikulum, d. Ketersediaan sarana dan prasarana.

(28)

J. Jalur penyelenggaraan PAUD dalam pemerintahan era reformasi

Secara kelembagaan, PAUD di Indonesia dapat diselenggarakan melalui tiga jalur : pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal.42 Pada masing-masing jalur ini dapat dikembangkan model-model PAUD tertentu sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan dinamika zaman yang saat ini di Indonesia tengah berada dalam era reformasi menuju otonomi daerah. Termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional bab VI pasal 28 ayat 2-5 :

(2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

(3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

(4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

(5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.43

Penyebutan tiga jalur penyelenggaraan PAUD di dalam undang-undang sistem pendidikan tersebut dimaksdukan untuk membedakan saja berdasarkan karakteristik masing-masing, bukan untuk memisah-misahkan dan mencerai-beraikan antara jalur yang satu dengan yang lain. Ketiga jalur penyelenggaraan PAUD tersebut harus terdapat hubungan yang saling melengkapi lagi saling menentukan sebagai bagian dari sub-sistem PAUD.

42Termaktub dalam Peraruran Pemerintah Republil Indonesia Nomor 17 Tahun

2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan, dalam file pdf, hal 3-8 pada bab I point 6 : Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.; poin 31: Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; poin 39 : Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

43Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

(29)

Termaktub dalam penjelasan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 58 Tahun 2009 Tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini pada bagian pendahuluan paragraf pertama, bahwa :

Penyelenggaraan PAUD jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK)/Raudhatul Atfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat, yang menggunakan program untuk anak usia 4– ≤6 tahun. Sedangkan penyelenggaraan PAUD jalur pendidikan nonformal berbentuk Taman Penitipan Anak (TPA) dan bentuk lain yang sederajat, yang menggunakan program untuk anak usia 0 – <2 tahun, 2 – <4 tahun, 4 – ≤6 tahun dan Program Pengasuhan untuk anak usia 0 - ≤6 tahun; Kelompok Bermain (KB) dan bentuk lain yang sederajat, menggunakan program untuk anak usia 2 – <4 tahun dan 4 – ≤6 tahun.44

Bentuk pembelajaran yang diberikan pada PAUD lebih cenderung ke arah bermain untuk belajar. Artinya anak-anak usia dini tidak diberikan pelajaran dalam bentuk baku seperti pada sekolah dasar, tetapi materi pembelajaran dimasukkan dalam koridor bermain atau saat mereka bermain. Sehingga di sana terdapat bermacam-macam permainan yang secara sadar oleh guru PAUD dirancang dan diselenggarakan sebagai bagian dari media stimulasi edukatif yang menyenangkan lagi menantang sekaligus membangkitkan motivasi para peserta didik untuk merespon melalui aktifitas belajar secara mandiri sekaligus interaktif antara guru dengan mereka serta antar mereka. Termaktub dalam Peraruran Pemerintah Republil Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan pendidikan bab III pasal 66 ayat (1) :

Program pembelajaran TK, RA, dan bentuk lain yang sederajat dilaksanakan dalam konteks bermain yang dapat dikelompokan menjadi: a. bermain dalam rangka pembelajaran agama dan akhlak mulia; b. bermain dalam rangka pembelajaran sosial dan kepribadian; c. bermain dalam rangka pembelajaran orientasi dan pengenalan pengetahuan dan teknologi; d. bermain dalam rangka pembelajaran estetika; dan e. bermain dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.45

44Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun

2009 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, dalam file pdf, hal. 3.

45Peraruran Pemerintah Republil Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang

(30)

Layanan PAUD dalam masyarakat dapat diikuti melalui beberapa macam lembaga : Bina Keluarga Balita (BKB) bagi anak usia 0-5 tahun, Posyandu bagi anak usia 0-6 tahun, Taman Penitipan Anak (TPA) bagi anak usia 3 bulan – 6 tahun, Kelompok Bermain (KB) bagi anak usia 2-6 tahun, Taman Kanak-kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA) bagi anak usia 4-6 tahun. Bina Keluarga Balita (BKB) menyediakan informasi bagi ibu-ibu mengenai cara membesarkan dan mengawasi perkembangan fisik, emosi, intelektual anak usia dini yang dilaksanakan bersamaan dengan Posyandu yang dikoordinir oleh pemerintahan desa/kelurahan yang menekankan urgensi melayani anak usia dini dalam binaan kader terlatih. Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan pusat kesehatan masyarakat yang melayani perawatan kesehatan bagi ibu-ibu hamil dan menyusui serta anak balita mereka dan melayani bimbingan menjadi orang tua yang efektif. Taman Penitipan Anak (TPA) lazim didirikan di wilayah perkotaan untuk melayani pendidikan anak usia dini yang orang tuanya bekerja di luar rumah. Kelompok Bermain (KB) ada yang cenderung menjadi kelas junior (nol-kecil) bagi Taman Kanak-kanak. Sebenarnya masyarakat senantiasa kreatif menumbuh berkembangkan model-model layanan PAUD yang lain seperti Taman Pendidikan Al-Qur’an TPQ), dan Pondok Pesantren Anak-anak.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa Penyelenggaraan PAUD dalam pemerintahan era reformasi melalui tiga jalur : a. pendidikan formal, b. pendidikan nonformal, c. pendidikan informal dengan pemberian model-model pembelajaran yang lebih cenderung ke arah bermain untuk belajar.

K. Penanggung-jawab Pembinaan PAUD dalam era reformasi

(31)

menjadi lebih baik. Dan terkait dengan hal ini, termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab IV pasal 11 (1) “Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”.46 Berarti, apabila dipandang dari sudut struktur pemerintahan, maka sistem pendidikan Indonesia dalam pemerintahan era reformasi dijamin oleh undang-undang bahwa presiden cq menteri pendidikan nasional dalam lingkup teritorial negara sebagai pemerintah pusat, gubernur dalam lingkup teritorial propinsi sebagai pemerintah daerah tingkat I, bupati dan wali kota dalam lingkup teritorial kabupaten dan kota sebagai pemerintah daerah tingkat II, ketiganya diwajibkan menjadi penanggung jawab pembinaan pendidikan yang bermutu, termasuk penyelenggaraan PAUD. Jika di antara ketiganya ada yang tidak komitmen dengan ketentuan tersebut, maka telah terjadi pelanggaran yang kasat mata terhadap undang-undang, dan dapat dimakzulkan dari kedudukan pemerintahannya menurut mekanisme yang diberlakukan.

Kemudian termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan bab II pasal 2, bahwa : “Pengelolaan pendidikan dilakukan oleh: a. Pemerintah; b. pemerintah provinsi; c. pemerintah kabupaten/kota; d. penyelenggara satuan pendidikan yang didirikan masyarakat; dan e. satuan atau program pendidikan”. Dan untuk mendukung kebijakan pembinaan layanan PAUD yang terarah, terpadu, dan terkoordinasi dalam pandangan Hamid Muhammad selaku Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal, bahwa :

Kementerian Pendidikan Nasional telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional, dalam peraturan tersebut ditegaskan bahwa pembinaan PAUD baik formal, nonformal, maupun informal, berada di bawah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan

46Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem

(32)

Informal (Ditjen PAUDNI), yang secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.47

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan Nasional yang dalam bab I pasal 4c menyebut Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, Informal beserta tugas-tugasnya, dan dalam bab IV pasal 110b menyebut Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini beserta tugas-tugasnya. Berarti, apabila dipandang dari struktur pengelolaan pendidikan di Indonesia, maka yang menjadi penanggung jawab pembinaan PAUD dalam pemerintahan era reformasi adalah presiden selaku pemerintah yang dibantu oleh menteri pendidikan dan kebudayaan (Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal; Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini); gubernur selaku pemerintah provinsi; bupati/wakil kota selaku pemerintah kabupaten/kota; yayasan yang mendirikan PAUD; kepala satuan PAUD. Hal ini dapat dipandang sebagai peristiwa yang positif dalam mencetuskan perubahan yang signifikan mengenai cara pelayanan pendidikan anak usia dini secara konsep dan terprogram serta tersosialisasikan di seluruh Indonesia.

Dengan mencermati realitas kehidupan sehari-hari mengenai penyelenggaraan PAUD di Indonesia dalam pemerintahan era reformasi, kendati secara struktur pemerintahan dan secara struktur pengelolaan pendidikan penanggung-jawab pembinaan PAUD sudah ditentukan, ternyata secara kultural masih terdapat koordinasi kerja melalui pendelegasian dan pelimpahan wewenang lintas kementerian yang terkait lagi paralel. Kementerian pendidikan dan kebudayaan bertanggung jawab atas pengawasan dan pengembangan Taman Kanak-kanak (TK). Kementerian agama bertanggung jawab atas pengawasan dan pengembangan Raudatul Athfal (RA). Kementerian kesehatan bertanggung jawab atas layanan kesehatan anak usia dini dengan bantuan teknis dalam Posyandu. BKKBN bersama-sama

47 Petunjuk Teknis Penyelenggaraan POS PAUD, Direktorat Pembinaan

(33)

kementerian pemberdayaan perempuan bertanggung jawab atas Bina Keluarga Balita. Dalam perkembangan lebih jauh, tanggung jawab menumbuh-kembangkan PAUD yang berkualitas telah dilaksanakan bukan saja oleh pemerintah tetapi telah merambah sampai kepada kesadaran yang murni dari masyarakat. Artinya tanggung jawab dalam membina perkembangan pendidikan bagi anak usia dini telah mengalami perkembangan yang pesat, atau dapat dikatakan telah mengalami perubahan paradigma dari pendidikan yang menjadi tanggung jawab orang tua telah meluas menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. Dengan kata lain PAUD telah menjadi tanggung jawab bersama, orang tua, masyarakat dalam arti luas dan pemerintah sebagai suatu landasan yang kokoh dalam membangun karakter dan kepribadian generari muda penerus perjuangan menggapai tujuan bernegara sebagai diamanatkan dalam pembukaan undang-undang dasar negara Republik Indonesia 1945.

(34)

L. Latar Penetapan Kebijakan Pemerintah Era Reformasi Mengenai PAUD Program PAUD merupakan upaya untuk melakukan pembinaan yang ditunjukkan terhadap anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang lazim dilakukan melalui pemberian rangsangan educatif untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Program PAUD merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik anak, yakni koordinasi motorik dan kecerdasan yang meliputi daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, kondisi sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) serta bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan masing-masing. Perkembangan yang dimaksud menurut Siti M.S adalah “perubahan psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu menuju kedewasaan dari lingkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak menuju dewasa”.48

Proses pengembangan kompetensi anak usia dini yang meliputi perkembangan sikap, perilaku atau keterampilan harus sesuai lagi selaras dengan fase perkembangan masing-masing yang lazim dialami berkaitan dengan perubahan pengalaman masing-masing individu anak sebagai prasyarat untuk pemenuhan tuntutan kehidupan. Anak usia dini dalam rentangan usia 0 sampai 6 tahun sebenarnya menghadapi sejumlah proses perkembangan yang meliputi tahapan aktivitas : (a). belajar berjalan dan berlari; (b). belajar memakan makanan padat; (c). belajar berbicara; (d). belajar buang air kecil dan air besar sebagai pengenalan beberapa bentuk najis beserta cara mensucikannya; (e) belajar mengenal perbedaan jenis kelamin; (f). mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis; (g). belajar membentuk konsep-konsep (pengertian) sederhana mengenai kenyataan sosial dan alam; (h).

48 Siti M.S, “Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) : Problematika, dan Kendala

(35)

belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang tua, saudara serta orang lain.49

Oleh karena itu PAUD merupakan kebutuhan dasar yang diharapkan dapat memfasilitasi dan mendukung perkembangan anak usia 0 sampai 6 tahun baik secara fisik, psikis, sosial, dan spiritual dengan optimal. Dalam menghadapi fase perkembangan anak usia dini tersebut lazim terdapat persoalan yang dialami oleh anak dan/atau oleh orangtua yang relative cukup kompleks dan tidak mudah untuk diatasi. Kendati demikian, dengan keyakinan bahwa setiap anak pasti memiliki sisi positif dan bisa berubah ke arah yang jauh lebih baik; maka segala upaya mengembangkan sikap dan perilakunya harus ditangani secara serius. Perhatikan saja setiap awal tahun ajaran baru, ketika para orang tua mengantarkan anak-anak mereka memasuki suatu PAUD sebagai lingkungan baru yang mengharuskan segera beradaptasi. Ketika itu, sikap dan perilaku resisten dapat ditemukan, seperti ada anak yang memasuki ruang belajar dengan menangis dan meronta-ronta ingin didampingi oleh orang tuanya, ada anak yang tidak bisa berkomunikasi atau bermain dengan teman sebaya, ada anak yang hiper-active sambil menggoda teman sebaya, dan lain-lain. Akan tetapi, setelah beberapa hari mengikuti aktivitas di PAUD, ternyata anak-anak mulai terbiasa tertib dalam pembelajaran dan permainan yang dipimpin oleh guru. Sehingga, melalui PAUD anak belajar bersosialisasi, menghadapi masalah, belajar mandiri, percaya diri, berinteraksi dengan sesama teman dan lain-laion sebagai modal utama untuk memasuki dunia yang lebih kompleks dan luas.

Perkembangan potensi multi-kecerdasan pada para anak usia dini berlangsung relatif pesat yang ditandai oleh cepat mampu belajar, dan cepat merekam berbagai hal yang dialami dan ditemui serta akan membekas kuat dalam ingatannya sampai dewasa. Terkait dengan PAUD dapat dijelaskan melalui pembelajaran yang terdiri dari tiga macam proses : (a). sosialisasi; (b). Enkulturasi, dan (c). internalisasi.50 Sosialisasi berarti mereka belajar tentang

(36)

pola tindakan dalam hubungan pergaulan yang terjadi di masyarakat sekitar terutama dari orang yang memiliki peranan sosial tertentu. Enkulturasi (pembudayaan, institusionalisasi) berarti mereka belajar menyesuaikan alam pikiran dan sikap dengan norma, nilai, aturan dan kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat sekitar. Internalisasi berarti mereka belajar menanamkan dalam kepribadian masing-masing segala perasaan, hasrat, nafsu dan emosi yang diperlukan sepanjang kehidupan.

Penumbuh-kembangan potensi multi-kecerdasan para anak usia dini dalam siklus kehidupan keluarga dapat secara langsung menentukan kualitas generasi penerus pada masa yang akan datang. Termaktub dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pada bagian menimbang huruf c “bahwa anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan”. Dalam konteks ini berarti keluarga bertanggung jawab atas perkembangan optimal dari potensi individu. Mencermati hal ini, maka pembangunan sumber daya manusia harus secara sadar direncanakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan secara berkesinambungan dengan menciptakan individu sebagai manusia Indonesia seutuhnya. Terkait dengan itu masyarakat harus memberikan dukungan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan dasar keluarga yang senantiasa mengalami perubahan yang cenderung bertahap dan terkadang dinamik. Pada sisi lain pemerintah pusat dan daerah harus bertanggung jawab dalam mengembangkan kebijakan guna menyediakan pelayanan publik yang makin baik termasuk di bidang PAUD. Dengan demikian untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya dibutuhkan peran optimal dari pihak keluarga, tetapi juga masyarakat, pemerintah, dan seluruh stakeholder.

(37)

sungguh tidak dapat lepas dari kerja-sama yang baik lagi serius antara unsur yang bersifat struktural dan kultural. Bahwa jika kualitas sumber daya manusia hendak ditingkatkan, maka upaya strategis yang dilakukan tidak hanya memperhatikan persoalan kultural yakni kondisi sosio ekonomi masyarakat semata, melainkan juga penting memperhatikan faktor struktural yakni berbagai kebijakan strategis yang benar-benar menyentuh upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak anak usia dini melalui berbagai program yang andal agar di masa mendatang negara memiliki kekuatan sumber daya manusia yang dapat dibanggakan.

Dari pembahasan di atas dapat ditarik suatu pemahaman bahwa yang menjadi penyebab pemerintah era reformasi menetapkan kebijakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan PAUD, adalah peningkatan kesadaran kolektif bangsa Indonesia, bahwa setiap anak usia dini tengah berada pada periode keemasan (golden age) dengan memiliki modal potensi multi-kecerdasan (intelektual, spiritual, emosional, sosial, dan lain-lain) yang harus segera ditumbuh-kembangkan melalui pemberian berbagai rangsangan

edukatif dengan menunjuk pemerintah selaku unsur struktural penentu kebijakan mengenai program kerja juga dengan melibatkan stakeholders di masyarakat selaku unsur kultural untuk menangani PAUD sebagai pondasi penentu kualitas generasi muda penerus memperjuangkan implementasi tujuan bernegara sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD-RI 1945.

M. Hasil Analisis SWOT 1. Kekuatan

Kekuatan yang harus diperhitungkan dengan cermat dalam pengimplementasian kebijakan pemerintah mengenai PAUD ini ada beberapa hal seperti berikut ini.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (45 Halaman)