CRITICAL JOURNAL REVIEW
Studi Karakteristik Detektor Sodium Iodide Dalam Pemanfaatannya Sebagai Segmented Gamma Scanner Limbah Radioaktif
OLEH
NAMA:
1.. LINDA RAHMADHANI HRP (4152240005)
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
1. Pengantar
Perkembangan aplikasi teknik nuklir di Indonesia baik aplikasi radiasi maupun radioisotop berkembang sangat pesat. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) nuklir tersebut dalam bidang industri, kesehatan, serta penelitian dan pengembangan (Litbang) iptek nuklir itu sendiri, hal ini akan meningkatkan jenis maupun jumlah limbah radioaktif aktivitas rendah dan sedang. Berdasarkan PP No. 61 Tahun 2013 BATAN merupakan satu-satunya institusi resmi di Indonesia yang melaksanakan pengelolaan limbah radioaktif. Sesuai dengan prinsip dasar pengelolaan limbah radioaktif yang memastikan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan serta tidak membebani generasi yang akan datang maka dibutuhkan suatu pengelolaan yang efektif dan efisien.
Limbah yang masuk dari penghasil limbah mempunyai karakteristik yang beragam. Untuk keperluan pengelolaan harus di identifikasi kandungan dan jenis limbah yang merupakan tahapan awal dari pengelolaan limbah radioaktif salah satunya dengan menggunakan sistem gamma scanner. Detektor yang digunakan untuk gamma scanner sudah banyak jenisnya baik yang terbuat dari semikonduktor, sintilasi maupun isian gas. Namun demikian dalam berbagai pengelompokannya semua detektor tersebut digunakan untuk tujuan yang sama, yaitu untuk mengidentifikasi radionuklida. Dalam pemanfaatannya gamma scanner yang dipasang pada instalasi Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN akan menggunakan detektor sodium iodide. Desain gamma scanner yang diaplikasikan pada instalasi pengolahan limbah mengadopsi system Segmented Gamma-ray Scanner (SGS) dengan menggunakan detektor sodium iodide sebagai pencacah radiasinya. SGS di desain sebagai sebuah uji tak rusak untuk mengukur radionuklida yang terkandung pada drum limbah radioaktif dalam berbagai matriks. Pada umumnya system SGS ini menggunakan detektor High Purity Germanium ( HPGe ) namun detektor HPGe membutuhkan perawatan khusus dan sangat sensitif terhadap gangguan.
radioaktif sebelum dilakukan pengolahan limbah.
system SGS ini karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya konsumsi daya rendah dan memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan detektor HPGe
2. Ringkasan
Perkembangan aplikasi teknik nuklir di Indonesia baik aplikasi radiasi maupun radioisotop berkembang sangat pesat. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) nuklir tersebut dalam bidang industri, kesehatan, serta penelitian dan pengembangan (Litbang) iptek nuklir itu sendiri, hal ini akan meningkatkan jenis maupun jumlah limbah radioaktif aktivitas rendah dan sedang. Berdasarkan PP No. 61 Tahun 2013 BATAN merupakan satu-satunya institusi resmi di Indonesia yang melaksanakan pengelolaan limbah radioaktif. Sesuai dengan prinsip dasar pengelolaan limbah radioaktif yang memastikan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan serta tidak membebani generasi yang akan datang maka dibutuhkan suatu pengelolaan yang efektif dan efisien.
Limbah yang masuk dari penghasil limbah mempunyai karakteristik yang beragam. Untuk keperluan pengelolaan harus di identifikasi kandungan dan jenis limbah yang merupakan tahapan awal dari pengelolaan limbah radioaktif salah satunya dengan menggunakan sistem gamma scanner. Detektor yang digunakan untuk gamma scanner sudah banyak jenisnya baik yang terbuat dari semikonduktor, sintilasi maupun isian gas. Namun demikian dalam berbagai pengelompokannya semua detektor tersebut digunakan untuk tujuan yang sama, yaitu untuk mengidentifikasi radionuklida. Dalam pemanfaatannya gamma scanner yang dipasang pada instalasi Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN akan menggunakan detektor sodium iodide.
Desain gamma scanner yang diaplikasikan pada instalasi pengolahan limbah mengadopsi system Segmented Gamma-ray Scanner (SGS) dengan menggunakan detektor sodium iodide sebagai pencacah radiasinya. SGS di desain sebagai sebuah uji tak rusak untuk mengukur radionuklida yang terkandung pada drum limbah radioaktif dalam berbagai matriks. Pada umumnya system SGS ini menggunakan detektor High Purity Germanium ( HPGe ) namun detektor HPGe membutuhkan perawatan khusus dan sangat sensitif terhadap gangguan.
pancaran radiasinya sama. Pemanfaatan detektor sodium iodide sebagai pencacah pada system SGS merupakan salah satu opsi yang bisa pilih selain menggunakan detektor jenis HPGe. Detektor sodium iodide dipilih sebagai detektor dalam system SGS ini karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya konsumsi daya rendah dan memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan detektor HPGe
3. Keunggulan Jurnal a. Keterkaitan Antar Isi
Keterkaitan materi antara isi satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Penyusunan materi yang rapi dan saling terkait. Penjabaran rumus di jelaskan dari awal sampai akhir secara jelas.
b. Kemuthairan Isi Jurnal
1) Teori yang di paparkan sangat berhubungan erat dengan hal yang ingin di teliti.
2.) Pembahasan yang disuguhkan pada bab ini dinilai masih memiliki kemutakhiran atau hubungan yang erat, karena karakteristik detektor sodium iodide dalam pemanfaatannya sebagai segmented gamma scanner limbah radioaktif sangat dibutuhkan dalam penanganan limbah radioaktif.
3) Sehubungan dengan berkembangnya teknlogi nuklir,diperlukan teknologi dalam menangani limbah radioaktif.
4. KELEMAHAN JURNAL a. Keterkaitan
Keterkaitan isi jurnal sudah sangat baik,saya ras jurnal ini sangat bagus untuk dibaca. Teori, metode,dan hasil dan pembahasn yang dipaparkan jelas tidak membingungkan reviewer untuk menafsirkan isi jurnal.
, b. Kemutakhiran
Pada kemutakhiran isi jurnal ini kami juga menganggap bahwa buku ini masih sangat layak dan mutakhir untuk dipakai dalam mempelajari karakteristik detektor sodium iodide dalam pemanfaatannya sebagai segmented gamma scanner limbah radioaktif
5.Implikasi Terhadap Jurnal a. Teori
Desain gamma scanner yang diaplikasikan pada instalasi pengolahan limbah mengadopsi system Segmented Gamma-ray Scanner (SGS) dengan menggunakan detektor sodium iodide sebagai pencacah radiasinya. SGS di desain sebagai sebuah uji tak rusak untuk mengukur radionuklida yang terkandung pada drum limbah radioaktif dalam berbagai matriks. Pada umumnya system SGS ini menggunakan detektor High Purity Germanium ( HPGe ) namun detektor HPGe membutuhkan perawatan khusus dan sangat sensitif terhadap gangguan.
Sistem SGS adalah teknik yang paling banyak digunakan untuk mengidentifikasi drum limbah radioaktif sebelum dilakukan pengolahan limbah. Drum dibagi menjadi beberapa segmen dan setiap segmen akan tercacah pada saat drum berotasi dan berelevasi. Dengan asumsi bahwa pada setiap segmen matriks dan densitas sampel adalah konstan dan homogen serta distribusi pancaran radiasinya sama. Pemanfaatan detektor sodium iodide sebagai pencacah pada system SGS merupakan salah satu opsi yang bisa pilih selain menggunakan detektor jenis HPGe. Detektor sodium iodide dipilih sebagai detektor dalam system SGS ini karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya konsumsi daya rendah dan memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan detektor HPGe
b. Program Pembangunan Di Indonesia
Perkembangan aplikasi teknik nuklir di Indonesia baik aplikasi radiasi maupun radioisotop berkembang sangat pesat. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) nuklir tersebut dalam bidang industri, kesehatan, serta penelitian dan pengembangan (Litbang) iptek nuklir itu sendiri, hal ini akan meningkatkan jenis maupun jumlah limbah radioaktif aktivitas rendah dan sedang. Berdasarkan PP No. 61 Tahun 2013 BATAN merupakan satu-satunya institusi resmi di Indonesia yang melaksanakan pengelolaan limbah radioaktif. Sesuai dengan prinsip dasar pengelolaan limbah radioaktif yang memastikan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan serta tidak membebani generasi yang akan datang maka dibutuhkan suatu pengelolaan yang efektif dan efisien.
tahapan awal dari pengelolaan limbah radioaktif salah satunya dengan menggunakan sistem gamma scanner. Detektor yang digunakan untuk gamma scanner sudah banyak jenisnya baik yang terbuat dari semikonduktor, sintilasi maupun isian gas. Namun demikian dalam berbagai pengelompokannya semua detektor tersebut digunakan untuk tujuan yang sama, yaitu untuk mengidentifikasi radionuklida. Dalam pemanfaatannya gamma scanner yang dipasang pada instalasi Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN akan menggunakan detektor sodium iodide
c. Analisi Mahasiswa
Jurnal ini sangat bermanfaat karena dengan membaca jurnal ini kita dapat mempelajari sekaligus mengerti apa dan bagaimana studi karakteristik detektor sodium iodide dalam pemanfaatannya sebagai segmented gamma scanner limbah radioaktif
6. Kesimpulan dan saran
Detektor sodium iodide ini dapat bekerja secara optimal dengan pengaturan tegangan sebesar 800 volt dengan faktor amplifikasi 8 kali. Karakteristik detektor sodium iodide memiliki ADC yang linier dan amplifier yang bersifat eksponensial dengan resolusi puncak energi Cs-137 10,5% dan Co-60 7,1%. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan sistem pengukuran NaI(Tl) menghasilkan cacahan yang stabil sehingga layak digunakan sebagai detektor pada Sistem Segmented Gamma Scanner serta pengaturan operasi yang bisa digunakan sebagai referensi. 7. Kepustakaan
Judul : Studi Karakteristik Detektor Sodium Iodide Dalam Pemanfaatannya Sebagai Segmented Gamma Scanner Limbah Radioaktif.
Penulis : Hendro, Mohamad Nur Yahya
Jurnal : Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah (Journal of Waste Management Technology)
Tempat : Pusat Teknologi Limbah Radioaktif - BATAN ,Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – BATAN
Volume : Volume 17 Nomor 2 Tahun : 2014