Hukum Menikah dalam Keadaan Hamil disertasi dalam hukum

21 

Teks penuh

(1)

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fiqh-ibadah/hukum-menikah-dalam-keadaan-hamil/

Hukum Menikah dalam Keadaan

Hamil

Oleh: Al-Ustâdz Abû Muhammad Dzulqarnain

1. Bagaimanakah hukumnya pernikahan yang dilaksanakan ketika wanita yang dinikahi dalam keadaan hamil?

2. Bila sudah terlanjur menikah, apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu, kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu?

3. Dalam hal ini apakah masih diperlukan mas kawin (mahar)?

Kami jawab -dengan meminta pertolongan dari Allah Al-’Alim Al-Hakim sebagai berikut: 1. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan hamil ada dua macam:

Satu: Perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan hamil.

Dua: Perempuan yang hamil karena melakukan zina sebagaimana yang banyak terjadi di zaman ini -wal ‘iyadzu billah- mudah-mudahan Allah menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari dosa

terkutuk ini.

Adapun perempuan hamil yang diceraikan oleh suaminya, tidak boleh dinikahi sampai lepas ‘iddah[1]nya. Dan ‘iddah-nya ialah sampai ia melahirkan sebagaimana dalam firman Allah

Subhanahu wa Ta’ala:

نن ههللممحل نل عمضل يل نم أل نن ههلهجلأل للَاملحململا تهللُوأهُول “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan

kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Dan hukum menikah dengan perempuan hamil seperti ini adalah haram dan nikahnya batil tidak sah sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

ههللجلأل به َاتلكل لما غللهبميل َّىتنحل حلَاكلننلا ةلدلقمعه اُومهزلعمتل للُول “Dan janganlah kalian ber’azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis ‘iddahnya.”

(QS. Al-Baqarah: 235)

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsir-nya tentang makna ayat ini: “Yaitu jangan kalian melakukan akad nikah sampai lepas ‘iddah-nya.” Kemudian beliau berkata: “Dan para ‘ulama telah sepakat bahwa

akad tidaklah sah pada masa ‘iddah.”

Lihat: Al-Mughny 11/227, Takmilah Al-Majmu’ 17/347-348, Al-Muhalla 10/263 dan Zadul Ma’ad 5/156.

Adapun perempuan hamil karena zina, kami melihat perlu dirinci lebih meluas karena pentingnya perkara ini dan banyaknya kasus yang terjadi di seputarnya. Maka dengan mengharap curahan

taufiq dan hidayah dari Allah Al-’Alim Al-Khabir, masalah ini kami uraikan sebagai berikut: Perempuan yang telah melakukan zina menyebabkan dia hamil atau tidak, dalam hal bolehnya

melakukan pernikahan dengannya terdapat persilangan pendapat dikalangan para ‘ulama. Secara global para ‘ulama berbeda pendapat dalam pensyaratan dua perkara untuk sahnya

nikah dengan perempuan yang berzina.

(2)

Dalam pensyaratan taubat ada dua pendapat dikalangan para ‘ulama:

Satu: Disyaratkan bertaubat. Dan ini merupakan madzhab Imam Ahmad dan pendapat Qatadah, Ishaq dan Abu ‘Ubaid.

Dua: Tidak disyaratkan taubat. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik, Syafi’iy dan Abu Hanifah.

Tarjih

Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang mengatakan disyaratkan untuk bertaubat.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/109: “Menikahi perempuan pezina adalah haram sampai ia bertaubat, apakah yang menikahinya itu adalah yang menzinahinya atau

selainnya. Inilah yang benar tanpa keraguan.” Tarjih di atas berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

نل ِينلملؤممهلما َّىللعل كل للذل ملرنحهُول ككرلشممه ُومأل ننازل لنإل َاهلحهكلنميل لل ةهِيلنلازنلاُول ةةكلرلشممه ُومأل ةةِيلنلازل لنإ حهكلنميل لل ِينلازنلا “Laki-laki yang berzina tidak menikahi melainkan perempuan yang berzina atau perempuan yang musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau

laki-laki musyrik. Dan telah diharamkan hal tersebut atas kaum mu`minin.” (QS. An-Nur: 3) Dan dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, beliau

berkata:

.ههتلقليمدلصل تم نلَاكل ُول قك َانلعل َاهللل لهَاقليه ِيي غلبل ةكأل رلمما ةلكنملبل نلَاكلُول ةلكنملبل َىرلَاسللملا لهملحميل نلَاكل ههنمعل ههللا ِيلضلرل ينُولنلغللما دنثلرممل ِيمبلأل نلبم دلثلرممل ننأل :تم للزلنلفل ِيم ننعل تل كل سل فل :لل َاقل ؟ َاقةَانلعل حهكل نمأل هلللا لل ُومسه رل َايل ته لمقهفل مل لنسل ُول هلللآ َّىللعل ُول هلِيمللعل ههللا َّىن لصل ِين بلننلا َّىل لإل ته ئمجل فل :لل َاقل َاهلحمكلنمتل لل :لل َاقلُول .ِين للعل َاهلألرلقلفل ِيم نلَاعل دل فل ((كك رلشممه ُومأل ننازل لنإل َاهلحهكلنميل لل ةهِيلنلازنلاُول)) Sesungguhnya Martsad bin Abi Martsad Al-Ghonawy membawa tawanan perang dari Makkah dan

di Makkah ada seorang perempuan pelacur disebut dengan (nama) ‘Anaq dan ia adalah teman (Martsad). (Martsad) berkata: “Maka saya datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa

sallam lalu saya berkata: “Ya Rasulullah, Saya nikahi ‘Anaq?” Martsad berkata: “Maka beliau diam, maka turunlah (ayat): “Dan perempuan yang berzina tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki

yang berzina atau laki-laki musyrik.” Kemudian beliau memanggilku lalu membacakannya padaku dan beliau berkata: “Jangan kamu nikahi dia.” (Hadits hasan, riwayat Abu Daud no. 2051,

At-Tirmidzy no. 3177, An-Nasa`i 6/66 dan dalam Al-Kubra 3/269, Al-Hakim 2/180, Al-Baihaqy 7/153, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1745 dan disebutkan oleh Syeikh Muqbil rahimahullahu

dalam Ash-Shohih Al-Musnad Min Asbabin Nuzul)

Ayat dan hadits ini tegas menunjukkan haram nikah dengan perempuan pezina. Namun hukum haram tersebut bila ia belum bertaubat. Adapun kalau ia telah bertaubat maka terhapuslah

hukum haram nikah dengan perempuan pezina tersebut berdasarkan sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam:

ههلل بل نمذل لل نم ملكل بل نمذن لا نل مل به ئلَاتنلا “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.” (Dihasankan oleh

Syeikh Al-Albany dalam Adh-Dho’ifah 2/83 dari seluruh jalan-jalannya)

Adapun para ‘ulama yang mengatakan bahwa kalimat ‘nikah’ dalam ayat An-Nur ini bermakna jima’ atau yang mengatakan ayat ini mansukh (terhapus hukumnya) ini adalah pendapat yang

jauh dan pendapat ini (yaitu yang mengatakan bermakna jima’ atau mansukh) telah dibantah secara tuntas oleh Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/112-116. Dan pendapat yang mengatakan

haram nikah dengan perempuan pezina sebelum bertaubat, ini pula yang dikuatkan Asy-Syinqithy dalam Adwa Al-Bayan 6/71-84 dan lihat Zadul Ma’ad 5/114-115.

Dan lihat permasalahan di atas dalam: Al-Ifshoh 8/81-84, Al-Mughny 9/562-563 (cet. Dar ‘Alamil Kutub), dan Al-Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah 2/582-585.

(3)

Sebagian ‘ulama berpendapat bahwa perlu diketahui kesungguhan taubat perempuan yang berzina ini dengan cara dirayu untuk berzina kalau ia menolak berarti taubatnya telah baik. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Mardawy dalam Al-Inshof 8/133 diriwayatkan dari ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas dan pendapat Imam Ahmad. Dan Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa 32/125 kelihatan

condong ke pendapat ini.

Tapi Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny 9/564 berpendapat lain, beliau berkata: “Tidak pantas bagi seorang muslim mengajak perempuan untuk berzina dan memintanya. Karena permintaannya ini pada saat berkhalwat (berduaan) dan tidak halal berkhalwat dengan

Ajnabiyah (perempuan bukan mahram) walaupun untuk mengajarinya Al-Qur’an maka bagaimana (bisa) hal tersebut dihalalkan dalam merayunya untuk berzina?”

Maka yang benar adalah ia bertaubat atas perbuatan zinanya sebagaimana ia bertaubat kalau melakukan dosa besar yang lainnya. Yaitu dengan lima syarat:

1. Ikhlash karena Allah. 2. Menyesali perbuatannya. 3. Meninggalkan dosa tersebut.

4. Ber‘azam dengan sungguh-sungguh tidak akan mengulanginya.

5. Pada waktu yang masih bisa bertaubat seperti sebelum matahari terbit dari Barat dan sebelum ruh sampai ke tenggorokan.

Dan bukan disini tempat menguraikan dalil-dalil lima syarat ini. Wallahu A’lam. Syarat Kedua: Telah lepas ‘iddah.

Para ‘ulama berbeda pendapat apakah lepas ‘iddah, apakah merupakan syarat bolehnya menikahi perempuan yang berzina atau tidak, ada dua pendapat:

Pertama: Wajib ‘iddah.

Ini adalah pendapat Hasan Al-Bashry, An-Nakha’iy, Rabi’ah bin ‘Abdurrahman, Imam Malik, Ats-Tsaury, Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahawaih.

Kedua: Tidak wajib ‘iddah.

Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan Abu Hanifah, tapi ada perbedaan antara mereka berdua pada satu hal, yaitu menurut Imam Syafi’iy boleh untuk melakukan akad nikah dengan perempuan yang berzina dan boleh ber-jima’ dengannya setelah akad, apakah orang yang menikahinya itu adalah orang yang menzinahinya itu sendiri atau selainnya. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat boleh melakukan akad nikah dengannya dan boleh ber-jima’ dengannya,

apabila yang menikahinya adalah orang yang menzinahinya itu sendiri. Tapi kalau yang menikahinya selain orang yang menzinahinya maka boleh melakukan akad nikah tapi tidak boleh

ber-jima’ sampai istibro` (telah nampak kosongnya rahim dari janin) dengan satu kali haid atau sampai melahirkan kalau perempuan tersebut dalam keadaan hamil.

Tarjih

Dan yang benar dalam masalah ini adalah pendapat pertama yang wajib ‘iddah berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

1. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda tentang tawanan perang Authos:

ةةضل ِيمحل ضل ِيمحلتل َّىتنحل لن ملَاحل رهِيمغل لل ُول عهضل تل َّىتنحل لك ملَاحل أهطل ُومته لل “Jangan dipergauli perempuan hamil sampai ia melahirkan dan jangan (pula) yang tidak hamil

sampai ia telah haid satu kali.” (HR. Ahmad 3/62,87, Abu Daud no. 2157, Ad-Darimy 2/224 Al-Hakim 2/212, Al-Baihaqy 5/329, 7/449, Ath-Thobarany dalam Al-Ausath no. 1973 dan Ibnul Jauzy

(4)

An-Nakha’iy dan ia lemah karena hafalannya yang jelek tapi hadits ini mempunyai dukungan dari jalan yang lain dari beberapa orang shohabat sehingga dishohihkan dari seluruh jalan-jalannya

oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 187)

2. Hadits Ruwaifi’ bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:

هلرلِيمغل علرمزل ههءلَامل قل سم يل لل فل رلخللما ملُومِيللماُول هلللَابل نهملؤميه نلَاكل نممل “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka jangan ia menyiramkan airnya ke tanaman orang lain.” (HR. Ahmad 4/108, Abu Daud no. 2158, At-Tirmidzi no. 1131, Al-Baihaqy 7/449, Ibnu Qoni’ dalam Mu’jam Ash-Shohabah 1/217, Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot

2/114-115, Ath-Thobarany 5/no.4482 dihasankan oleh Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa` no. 2137) 3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam: هلللآ َّىللعل ُول هلِيمللعل ههللا َّىن لصل هلللا له ُومسه رل لل َاقلفل ممعلنل اُوملهَاقلفل َاهلبل منلليه نمأل دهيمرليه ههلنعللل للَاقلفل طن َاطل سم فه بل َابل َّىللعل حح جل مه ةنأل رلممَابل َّىتلأل ههننأل

ههلل لل حل يل لل ُولههُول ههمهدلخمتلسم يل فل ِيمكل ههلل للحليل لل ُولههُول ههثهرنُوليه فل ِيمكل ههرلبمقل ههعلمل لهخهدميل َانةعملل ههنلعللمأل نمأل ته ممملهل دم قللل مل لنسل ُول. Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak

untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal

baginya.”

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: “Dalam (hadits) ini ada dalil yang sangat jelas akan haramnya menikahi perempuan hamil, apakah hamilnya itu karena suaminya, tuannya (kalau ia seorang budak-pent.), syubhat (yaitu nikah dengan orang yang haram ia nikahi karena tidak tahu

atau karena ada kesamar-samaran-pent.) atau karena zina.”

Nampaklah dari sini kuatnya pendapat yang mengatakan wajib ‘iddah dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Asy-Syinqithy, Syaikh Ibnu Baz dan Al-Lajnah

Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia). Wallahu A’lam. Catatan:

Nampak dari dalil-dalil yang disebutkan di atas bahwa perempuan hamil karena zina tidak boleh dinikahi sampai melahirkan, maka ini ‘iddah bagi perempuan yang hamil karena zina dan ini juga

ditunjukkan oleh keumuman firman Allah ‘Azza wa Jalla:

نن ههللممحل نل عمضل يل نم أل نن ههلهجلأل للَاملحململا تهللُوأهُول “Dan perempuan-perempuan yang hamil waktu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan

kandungannya.” (QS. Ath-Tholaq: 4)

Adapun perempuan yang berzina dan belum nampak hamilnya, ‘iddahnya diperselisihkan oleh para ‘ulama yang mewajibkan ‘iddah bagi perempuan yang berzina. Sebagian para ‘ulama mengatakan bahwa ‘iddahnya adalah istibro` dengan satu kali haid. Dan ‘ulama yang lainnya

berpendapat: tiga kali haid yaitu sama dengan ‘iddah perempuan yang ditalak. Dan yang dikuatkan oleh Imam Malik dan Ahmad dalam satu riwayat adalah cukup dengan istibro` dengan satu kali haid. Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiyah berdasarkan hadits Abu Sa’id Khudry di atas. Dan ‘iddah dengan tiga kali haid hanya disebutkan dalam Al-Qur’an bagi perempuan yang ditalak (diceraikan) oleh suaminya sebagaimana dalam firman Allah

Jalla Sya`nuhu:

ءنُومرهقه ةلثللل ثل نن هلسل فهنمألبل نل صم بنرلتليل ته َاقللنطل مهلماُول “Dan wanita-wanita yang dithalaq (hendaknya) mereka menahan diri (menunggu) selama tiga

(5)

1. Tidak boleh nikah dengan perempuan yang berzina kecuali dengan dua syarat yaitu, bila perempuan tersebut telah bertaubat dari perbuatan nistanya dan telah lepas ‘iddah-nya.

2. Ketentuan perempuan yang berzina dianggap lepas ‘iddah adalah sebagai berikut: • Kalau ia hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.

• Kalau ia belum hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai ia telah haid satu kali semenjak melakukan perzinahan tersebut. Wallahu Ta’ala A’lam.

Lihat pembahasan di atas dalam: Mughny 9/561-565, 11/196-197, Ifshoh 8/81-84, Al-Inshof 8/132-133, Takmilah Al-Majmu’ 17/348-349, Raudhah Ath-Tholibin 8/375, Bidayatul

Mujtahid 2/40, Al-Fatawa 32/109-134, Zadul Ma’ad 5/104-105, 154-155, Adwa` Al-Bayan 6/71-84 dan Jami’ Lil Ikhtiyarat Al-Fiqhiyah Lisyaikhil Islam Ibnu Taimiyah 2/582-585,

847-850.

2. Telah jelas dari jawaban di atas bahwa perempuan yang hamil, baik hamil karena pernikahan sah, syubhat atau karena zina, ‘iddahnya adalah sampai melahirkan. Dan

para ‘ulama sepakat bahwa akad nikah pada masa ‘iddah adalah akad yang batil lagi tidak sah. Dan kalau keduanya tetap melakukan akad nikah dan melakukan hubungan suami-istri setelah keduanya tahu haramnya melakukan akad pada masa ‘iddah maka keduanya dianggap pezina dan keduanya harus diberi hadd (hukuman) sebagai pezina kalau negara mereka menerapkan hukum Islam, demikian keterangan Imam Ibnu Qudamah dalam

Al-Mughny 11/242.

Kalau ada yang bertanya: “Setelah keduanya berpisah, apakah boleh keduanya kembali setelah lepas masa ‘iddah?”

Jawabannya adalah ada perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama.

Jumhur (kebanyakan) ‘ulama berpendapat: “Perempuan tersebut tidak diharamkan baginya bahkan boleh ia meminangnya setelah lepas ‘iddah-nya.”

Dan mereka diselisihi oleh Imam Malik, beliau berpendapat bahwa perempuan telah menjadi haram baginya untuk selama-lamanya. Dan beliau berdalilkan dengan atsar ‘Umar bin Khaththab

radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan hal tersebut. Dan pendapat Imam Malik ini juga merupakan pendapat dulu dari Imam Syafi’iy tapi belakangan beliau berpendapat bolehnya menikah kembali setelah dipisahkan. Dan pendapat yang terakhir ini zhohir yang dikuatkan oleh

Ibnu Katsir dalam tafsir-nya dan beliau melemahkan atsar ‘Umar yang menjadi dalil bagi Imam Malik bahkan Ibnu Katsir juga membawakan atsar yang serupa dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menunjukkan bolehnya. Maka sebagai kesimpulan pendapat yang kuat

dalam masalah ini adalah boleh keduanya menikah kembali setelah lepas ‘iddah. Wal ‘Ilmu ‘Indallah.

Lihat: Tafsir Ibnu Katsir 1/355 (Darul Fikr).

3. Laki-laki dan perempuan hamil yang melakukan pernikahan dalam keadaan keduanya tahu tentang haramnya menikahi perempuan hamil kemudian mereka berdua

tetap melakukan jima’ maka keduanya dianggap berzina dan wajib atas hukum hadd kalau mereka berdua berada di negara yang diterapkan di dalamnya hukum Islam dan juga tidak ada

mahar bagi perempuan tersebut.

Adapun kalau keduanya tidak tahu tantang haramnya menikahi perempuan hamil maka ini dianggap nikah syubhat dan harus dipisahkan antara keduanya karena tidak sahnya nikah yang

seperti ini sebagaimana yang telah diterangkan.

Adapun mahar, si perempuan hamil ini berhak mendapatkan maharnya kalau memang belum ia ambil atau belum dilunasi.

(6)

َاهلجلرمفل نم مل لن حل تهسم ا َاملبل رههممللما َاهلللفل َاهلبل لل خلدل نم إلفل لك طل َابل َاهلحهَاكل نلفل لك طل َابل َاهلحهَاكل نلفل لك طل َابل َاهلحهَاكل نلفل َاهلِينللُول نلذمإل رلِيمغلبل تمحلكلنل ةنألرلمما َامليلأل َاهللل ِين للُول لل نم مل ِيل للُول نه َاطل لمسل لَافل اُومرهجلتلشم ا نم إلفل “Perempuan mana saja yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, nikahnya batil, nikahnya batil, dan apabila ia telah masuk padanya (perempuan) maka baginya mahar dari dihalalkannya kemaluannya, dan apabila mereka berselisih maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Syafi’iy sebagaimana dalam Munadnya 1/220,275, dan dalam

Al-Umm 5/13,166, 7/171,222, ‘Abdurrazzaq dalam Mushonnafnya 6/195, Ibnu Wahb sebagaimana dalam Al-Mudawwah Al-Kubra 4/166, Ahmad 6/47,66,165, Ishaq bin Rahawaih

dalam Musnadnya 2/no. 698, Ibnu Abi Syaibah 3/454, 7/284, Al-Humaidy dalam Musnadnya 1/112, Ath-Thoyalisy dalam Musnadnya no. 1463, Abu Daud no. 2083, At-Tirmidzi no. 1102, Ibnu

Majah no. 1879, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo no. 700, Sa’id bin Manshur dalam Sunannya 1/175, Ad-Darimy 2/185, Ath-Thohawy dalam Syarah Ma’any Al-Atsar 3/7, Abu Ya’la dalam Musnadnya no. 4682,4750,4837, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 4074, Al-Hakim

2/182-183, Ad-Daruquthny 3/221, Baihaqy 7/105,124,138, 10/148, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 6/88, As-Sahmy dalam Tarikh Al-Jurjan hal. 315, Ibnul Jauzy dalam At-Tahqiq no. 1654 dan Ibnu ‘Abbil Barr dalam At-Tamhid 19/85-87 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa`

no.1840)

Nikah tanpa wali hukumnya adalah batil tidak sah sebagaimana nikah di masa ‘iddah hukumnya batil tidak sah. Karena itu kandungan hukum dalam hadits mencakup semuanya.

Demikian rincian Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim.

Adapun orang yang ingin meminang kembali perempuan hamil ini setelah ia melahirkan, maka kembali diwajibkan mahar atasnya berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala:

ةةللحمنل نن هلتلَاقلدلصه ءلَاسل ننلا اُوتهآُول “Berikanlah kepada para perempuan (yang kalian nikahi) mahar mereka dengan penuh

kerelaan.” (QS. An-Nisa`: 4) Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ةةضل يمرلفل نن ههرلُومجهأه ننههُومتهَآفل “Berikanlah kepada mereka mahar mereka sebagai suatu kewajiban.” (QS. An-Nisa`: 24)

Dan banyak lagi dalil yang semakna dengannya. Wallahu A’lam.

Lihat: Al-Mughny 10/186-188, Shohih Al-Bukhary (Fathul Bary) 9/494, Al-Fatawa 32/198,200 dan Zadul Ma’ad 5/104-105.

Footnote:

[1] Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar sebagaimana dalam Nailul Author 4/438: “‘Iddah adalah nama bagi waktu penungguan seorang perempuan dari menikah setelah suaminya meninggal atau (suaminya) menceraikannya. Apakah dengan melahirkan, quru` (yaitu haid menurut pendapat

yang kuat-pen.) atau dengan beberapa bulan.”

Sumber: http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45

http://an-nashihah.com/index.php?mod=article&cat=annisa&article=45&page_order=2

March 4th, 2008 | Category: Fiqh Ibadah, Munakahat & Keluarga, Muslimah

(7)

 Syahru Ramadhan March 4, 2008 at 1:25 pm · Reply

3. Hadits Abu Ad-Darda` riwayat Muslim dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam: Beliau mendatangi seorang perempuan yang hampir melahirkan di pintu Pusthath. Beliau bersabda: “Barangkali orang itu ingin menggaulinya?” (Para sahabat) menjawab: “Benar.” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda: “Sungguh saya telah berkehendak

untuk melaknatnya dengan laknat yang dibawa ke kuburnya. Bagaimana ia mewarisinya sedangkan itu tidak halal baginya dan bagaimana ia memperbudakkannya sedang ia tidak halal

baginya.”

Mohon agar matan tulisan ini diedit lagi.

 Syahru Ramadhan March 4, 2008 at 1:32 pm · Reply atau mungkin hasil postingnya memang begitu ya.

Saya coba copy matan hadits /terjemahan diatas yg mana tertulis melaknatnya 2x dan kuburnya2 kali tapi justru berubah.

`Afwan, kami tidak memahami maksud antum. In syâ’ Allâh artikel ini sesuai aslinya, termasuk matan hadîts yang dimaksud.

Ramadhan

March 10, 2008 at 12:25 pm · Reply Mungkin ini penglihatan saya aja.

Ketika saya baca tulisannya tertulis beberapa kata yang double/dua kali ketik. Alhamdulillah sudah tidak ada lagi.

 ugo

November 11, 2009 at 7:28 pm · Reply pas ne lagi nyari makalah tentang nikah..hahaa

 ezas

April 6, 2010 at 11:04 pm · Reply ijin copas

 lacsana

(8)

saya mau menanyakan tentang anak yang menikah diusia muda karena married by accident, kira2 secara islam bagaimana, apakah kalau dinikahkan oleh orang tuanya bagaimana, supaya

hal tersebut untuk menghindari aib dan menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran, dan setelah dinikahkan apakah setelah melahirkan perlu dinikahkan kembali..? terima kasih

ADMIN:

Penjelasan pada artikel di atas insya Allah sudah cukup jelas, intinya HARAM, nikahnya TIDAK SAH. Menghindari aib itu bukanlah alasan syar’i, bahkan jika dilakukan alasan itu akan menyebabkan semakin melanggar syariat (karena haramnya menikahi wanita hamil sebab zina).

juga ‘utk menyelamatkan si anak dari jurang kehancuran’ itu pun bukan alasan, karena dia memang telah masuk ke jurang kehancuran akibat zina yang diperbuatnya, akan tetapi yang dapat menyelamatkannya adalah dengan taubat yang benar, bukan malah semakin melanggar syariat dan jatuh 2 kali ke jurang kehancuran dengan menikahi wanita hamil sebab zina (padahal

ini haram) yang mana ini sama saja berarti dia itu akan zina seterusnya (karena nikah yang seperti ini tidak sah).

Penjelasan tambahan:

Telah ditanyakan kepada as Syaikh Abu Yaasir Khalid Ar Raddadiy (hafidhahumallah) Pertanyaan Langsung via Telepon

Melalui: al-Ustadz Abu Abdirrahman Muhammad Wildan, Lc. dari Sekretariat Yayasan Anshorus Sunnah, Batam tentang Hukum Menikahi Wanita Hamil Karena Berzina

- Tanya :

Apakah sah pernikahan seorang wanita yang hamil karena zina dengan laki-laki yang berzina dengannya atau dengan selain laki-laki yang berzina dengannya ?

مكِيلع ملسلا : س

- Jawab (Syaikh Kholid ar Raddaadiy) :

Permasalahan ini berkaitan dengan pernikahan seorang laki-laki dengan wanita yang hamil karena zina, baik itu dengan laki-laki yang menzinainya atau dengan selain laki-laki yang

menzinainya, maka permasalahan ini mengandung hal-hal sebagai berikut: Pertama:

Bagi wanita yang berzina ini Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat An~Nuur : 3 [رُونلا ةرُوس] . نل ِينلملؤممهلما َّىللعل كل للذل ملرنحهُول ككرلشممه ُومأل ننازل لنإل َاهلحهكلنيل لل ةهِيلنلازنلاُول ةةكلرلشممه ُومأل ةةِيلنلازل لنإ حهكلنيل لل ِينلازنلا

Artinya:

Laki-laki yg berzina itu tidak menikahi kecuali wanita yg berzina atau wanita musyrikah. Dan wanita yang berzina itu tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yg berzina atau seorang laki-laki yang

musyrik dan yang demikian itu diharamkan bagi orang-orang beriman (Surat An-Nuur : 3) Apabila kita membaca ayat yang mulia ini yang Allah akhiri ayat ini dengan “ dan hal itu diharamkan bagi orang-orang beriman “, maka kita bisa simpulkan dari hal ini satu hukum, yaitu

HARAMNYA menikahi wanita yang berzina dan HARAMNYA menikahkan laki-laki yang berzina. Artinya, seorang wanita yang berzina itu tidak boleh bagi orang lain yaitu bagi laki-laki lain untuk

menikahinya dan bahwa seorang laki-laki yang berzina itu tidak boleh bagi seseorang untuk menikahkan anak perempuannya dengannya.

Dan apabila kita mengetahui hal tersebut dan bahwa hal itu diharamkan bagi orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya orang yang melakukan perbuatan yang keji ini kondisi / keadaanya

tidak terlepas dari keadaan orang yang mengetahui haramnya perbuatan tersebut, namun ia tetap menikahi wanita itu dikarenakan dorongan hawa nafsu dan syahwatnya, maka pada saat seperti itu, laki-laki yang menikahi wanita yang berzina itu juga tergolong sebagai seorang pezina

(9)

Dari penjelasan ini jelaslah bagi kita tentang hukum haramnya menikahi wanita yang berzina dan tentang haramnya menikahkan laki-laki yang berzina.

Jadi, hukum asal dalam menikahi seorang wanita yang berzina itu adalah tidak boleh dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina pula. Iya, ada diantara para ulama yang memfatwakan, apabila

seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita dan laki-laki ini bermaksud untuk menikahi wanita tersebut, maka wajib bagi keduanya untuk bertobat kepada Allah Azza wa Jalla. Kemudian hendaknya kedua orang tersebut melepaskan dirinya dari perbuatan yang keji ini dan ia bertobat atas perbuatan keji yang telah dilakukannya dan bertekad untuk tidak kembali kepada perbuatan

itu serta melakukan amalan-amalan yang shalih.

Dan apabila laki-laki tersebut berkeinginan untuk menikahi wanita itu, maka ia wajib untuk membiarkan wanita itu selama satu masa haid yaitu 1 bulan, sebelum ia menikahi atau melakukan akad nikah terhadapnya. Apabila kemudian wanita itu ternyata hamil, maka tidak

boleh baginya untuk melakukan akad nikah kepadanya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan anaknya.

Hal ini berdasarkan larangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ” Seseorang untuk menyiramkan airnya ke sawah atau ladang orang lain”, dan ini adalah bahasa kiasan, yaitu menyiramkan

maninya kepada anak dari kandungan orang lain.

(Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Albani dalam “Shahih Sunan Abu Dawud” hadits nomor 2158)

o Anonymous

January 10, 2013 at 10:05 am · Reply

saya setuju pendapat imam syafii saja… beliaulah ” hujjatul Muslim “

 risa muthmainnah January 3, 2011 at 8:05 am · Reply

saya mau brtanya tentang pndapat singkat imam syafi’i dan hasan al-bashary ttang hukum menikahi wanita hamil di luar nikah

 Meliza

January 16, 2011 at 3:51 pm · Reply

apakah mahar yang berupa uang boleh di bingkai dan di pajang,,? apa hukumnya?

 adiguna

January 19, 2011 at 6:15 pm · Reply

Bila sudah terlanjur menikah, apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu, kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus bercerai terlebih dahulu?

o admin

(10)

sekalipun sudah terlanjur tetaplah tidak teranggap nikahnya itu, HARAM dan BATIL/TIDAK SAH. maka harus diulang lagi, tanpa perlu perceraian krna hakikatnya mereka selama ini berzina bukan dalam ikatan nikah (karena tidak sahnya pernikahan mereka tadi). Caranya:

mereka harus taubat dulu, lalu tunggu iddah si wanita selesai, baru kemudian mereka menikah lagi, demikian insya Allah sah.

 uni mutia

February 9, 2011 at 11:17 am · Reply

asslamuallaikum…kenapa ea wanita sekarang banyak yang mengobral aurat mereka???

 Abu Sholihah February 14, 2011 at 12:25 pm · Reply

Bismillah. Afwan, apakah sudah ada majalah akhwat dalam bentuk Ebook atau File HTML? Jazakumullohu Khiron

Admin;

afwan kami tidak membuat majalah akhwat dalam bentuk ebook, harga majalah sangat murah hanya rp.10000 sebulan sekali bisa dibeli di http://www.al-ilmu.com atau agen terdekat.

dengan membeli majalah ini antum telah membantu biaya kegiatan dakwah disini.

 M. Syamsul Huda February 21, 2011 at 2:47 am · Reply

Izin ngopi…. buat khasanah ilmu, puenting nee… Matur nuwun…

 umi yani March 5, 2011 at 4:45 pm · Reply

bismillah,afwan..ana mau tanya,apakah sepasang suami istri yg menikah dlm keadaan hamil kemudian belum menikah lagi lalu ketika suami mengajak berhubungan badan istri menolak dengan alasan tak ingin berzina lagi apakah istri tersebut dosa?lalu bagaimana kewajiban

menafkahi nya?

o admin

April 26, 2011 at 7:51 am · Reply

sampaikan ilmu pada mereka hingga jelas hukum-hukumnya bagi mereka sebagaimana telah dibahas pd artikel di atas, lalu wajib mereka mengulang nikahnya, tapi sebelum itu

keduanya harus bertaubat dan tunggu si wanita itu lepas iddahnya dulu.

(11)

April 12, 2011 at 3:22 pm · Reply

Bagaimana bila saat menikah dia tidak mengetahui kalau dia sedang hamil,,,,,

o admin

April 26, 2011 at 7:48 am · Reply

Silahkan dibaca kembali artikel di atas sudah jelas menjawab pertanyaan anti. Ana coba jelaskan ulang, bahwa HARAM menikahi wanita hamil, dan nikahnya BATAL/TIDAK

SAH. Sekalipun tidak tau trnyata sudah hamil, tapi dia pasti tau bahwa sebelumnya sudah berzina, maka syaratnya pezina ini sebelum nikah adalah wajib TAUBAT dulu, lalu wajib

menunggu LEPAS IDDAH.

Tentang iddahnya, setelah zina itu tentu ada 2 kemungkinan keadaan:

1. jika zinanya tidak menjadikannya hamil maka dia akan haidh, tunggu lepas iddahnya sampai haidh 1 kali. barulah dia halal dinikahi.

2. jika zinanya menjadikan dia hamil maka iddahnya sampai selesai melahirkan. Dia tau maupun tidak tau kehamilannya maka tetap tidak akan lepas dari 2 kemungkinan di

atas, yang manapun keadaannya telah jelas apa yang harus dilakukannya. wallahu a’lam. (Admin/Abu Husain Munajat)

 umi yani April 29, 2011 at 6:53 pm · Reply

‘afwan,berarti nikahnya tidak sah ya?berarti tidak wajib menafkahi?lalu bagaimana cara menjelaskan tentang hukum itu,karena sebelumnya si suami tidak terima?

o admin

May 4, 2011 at 8:45 am · Reply

Insya Allah sudah jelas di artikel di atas, TIDAK SAH. Maka tentu saja tidak wajib menafkahi karena dia bukan apa-apanya dan bukan tanggungjawabnya, tapi yang lebih penting dari itu

adalah WAJIB TAUBAT. Cara menjelaskannya tentu si wanita yang lebih tau, dengan ilmiah dan hikmah, misalnya melalui ortunya atau seorang ustadz. Adapun hidayah adalah dari Allah semata. Jika si laki-laki/’suami’ tidak terima maka itu tidak ada urusan thd si wanita karena dia bukan siapa-siapa bagi si wanita. Si wanita berhak pergi darinya, bahkan kami katakan wajib karena meninggalkan maksiat zina itu wajib hukumnya. Dia bisa kembali ke orang tuanya dan jelaskan kepada orang tuanya dan mereka bisa mengadukan kepada pemerintah utk keputusan cerai secara administrasinya. Tapi solusi yang insya Allah lebih baik menurut kami adalah keduanya bertaubat lalu menunggu iddah selesai lalu menikah secara sah. Hendaknya kita semua bertakwa kepada Allah dengan menaati

hukum-hukum-Nya. Wallahu a’lam.

(12)

apa hukumnya dalam islam apabila mendatangi pernikahan keluarga kita yg menikah karena telah hamil?

 irfan buhar June 6, 2011 at 11:41 pm · Reply

asllamu alaikum..

sebelum sy bertanya saya menguraikan sebuah kalimat..

dalam hidup manusia bahwa sahnya manusia tidak mngetahui kapan, dimana, sedang apa, siapa pun atas kematianya,,

dikatakan bahwa wanita yang sedang hamil tidak bisa menikah sblm dia bertobat dan sampai dia telah melahirkan skalipun yg akan menikahinya adalah orang yang berhubungan dgnya.. bgmna

klau si wanita tersebut telah meninggal,, sblm dia melahirkan atau bertaubat,, apa yg berlaku pada laki2nya dan wanitanya..

 aan agonk June 18, 2011 at 4:28 am · Reply

maksi infonys…..

 airin

June 23, 2011 at 8:40 am · Reply assalamualaikum

misalkan keduanya sudah benar2 bertobat, seperti yang diterangkan diatas, apakah bisa diambil kesimpulan bahwa akad nikah dapat dilaksanakan dan sah hukumnya??

jika saat hamil tidak boleh dinikahi, lalu bagaimana status anak menurut islam?? mohon balasannya terimakasih

wass

 arie

August 4, 2011 at 9:12 pm · Reply

ass, saya mau tnya. apa hukumnya kalau laki2 menikah dengan wanita yang sedang hamil n yang menikah dengan wanita tersebut adalah laki2 yang telah menikahinya??..

 arie

August 4, 2011 at 9:15 pm · Reply

(13)

 Adawiyah August 14, 2011 at 12:08 am · Reply

Ass,kalau seorang laki-laki terpaksa menikahi perempuan yang sudah dihamilinya,mereka hidup selayaknya suami istri setelah pernikahan itu, dan tidak melakukan pernikahan ulang ketika bayinya sudah lahir, bahkan sekarang mereka memiliki anak kedua, bagaimana hukum status anak anak itu menurut Islam? Saya pernah mendengar kalau nasabnya tidak bisa dihubungkan

dengan laki-laki yang menikahi wanita yang hamil,atau anak itu adalah anak ibunya dan tidak bisa mendapat warisan? dan kalau anaknya perempuan tidak bisa diwalikan oleh si lelaki itu? apakah benar?apakah ada buku atau referensi yang memuat hal tersbt diatas dengan lengkap?

karena si laki-laki sudah pernah diberitahu tentang hal ini tapi sepertinya tidak percaya dan menganggap remeh.Mhn penjelasannya, syukron.

Admin:

jika melihat pendapat sesuai penjelasan di artikel, pertanyaan anda sudah jelas jawabannya.

 novmery

October 24, 2011 at 8:36 pm · Reply

akibat perzinahan hamil 3 bln,terus kami menikah,sampai sekarang sudah 10 th usia pernikahan kami, pernah satu kx kami memanggil yg paham tentang agama, karena kami sudah melahirkan

Anak perempuan.dan rencana kami mo nikah kembali. tapi jawabannya. tdak perlu nikah lgi karena pernikahaan pertama itu sah, cuma, apabila anak perempuan kami klau mau menikah, bapaknya tidak sah menjadi wali buat siAnak. itulah jawabannya.jadi kami sudah mempunyai 3

orang Anak, gimana ni hukumnya? tolong dibantu. Isampai sekarang kami tidak meyadari kalo pernikahannya selama ini tidak SAH/ HARAM,apakah wajib bagi mereka menikah lagi?..

trim’s wasalam.

Balas

 tity

November 13, 2011 at 10:40 pm · Reply asslmualaikuumm wr.wb,,,

sy seorang gadis 20th, sama halnya dgn psngan sy 20th.

kami berdua masih kuliah smster 5 di kmpus dan jurusan yg sama pula,,

kami sudah punya niat utk menikah, ttapi belum punya pnghasilan,,,pdhal hbngan kami sdah brjlan slma 3,5 thun.

kami ingin menikah, krna kami sngat dekat dan hmpir stiap hari bertmu,, banyak hal yg ditakutkan dalam hubungan yg semakin lama ini..

yg ingin sy tanyakan :

1. apa hukum nikah, jika sikonnya sprti kami ?

2. jika hukumnya boleh2 saja, bagaimana cara meyakinkan ortu akan niat kami tsb ? 3. apakah dlm islam diperbolehkan menikah jika lelaki masih muda dan belum

berpenghasilan/msih kuliah ?

(14)

jarak yang memisahkan (kota yg berbeda, selain itu wali/kluarga mmpelai wanita tidak bisa berkunjung di kota t4 terselenggaranya nikah, disebabkan oleh hal2 lain yg menghalangi mreka

untuk dtg k t4 trsebut). mohon sarannya ya,,,

thx b4

wassalam

 rasyid

December 12, 2011 at 10:26 am · Reply

bagaimana kalau baru mengetahui hukumnya setelah sekian lama menikah dan telah mempunyai 2 orang anak lagi, berarti tetap harus melakukan pernikahan ulang? dan tiga orang

anak yang dimiliki bagaimana statusnya? mohon di jawab untuk menjawab kondisi saya

 Iwan

March 8, 2012 at 10:31 am · Reply Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Adik ipar saya punya temen perempuan yang hamil diluar nikah. Saat ini dia sudah dinikahi oleh laki2 yang menghamilinya, tapi hanya untuk mendapatkan akte kelahiran atas anaknya nanti.

Setelah menikah laki2 td tidak mau memberi nafkah dan setelah nanti anak itu lahir, teman adik sy itu langsung diceraikan oleh suaminya.

Nah adik ipar saya ini punya niatan yang baik untuk menikahi perempuan itu setelah bercerai dengan suaminya,

Kl saya dan istri setuju saja asalkan sudah ada surat cerai dan surat perwalian atas anak tersebut dan setelah masa iddah selesai.

Apakah cara saya sudah benar? dan Bagaimn jalan/cara yang terbaik menurut Islam? Atas Jawabannya sy ucapkan Terima Kasih. Wassalamualaikum.

 Aris

July 31, 2012 at 10:54 am · Reply

Bila sudah terlanjur menikah dengan wanita yang dihamili , apakah yang harus dilakukan? Apakah harus cerai dulu, kemudian menikah lagi atau langsung menikah lagi tanpa harus

bercerai terlebih dahulu?

Admin: Jika berdasarkan pendapat yg dikuatkan dalam artikel, maka mereka tidak perlu cerai dulu karena sebenarnya mereka itu memang bukan suami istri. Mereka taubat dengan sebenarnya, lalu melakukan kembali akad nikah dengan ijin wali di hadapan para saksi. Wallahu

a’lam.

(15)

afwan ustad,. tlg jelasin lebih detail ttg:

1. hukum menikahi wanita yang difasakh karena akad yang bathil..? khususnya menurut imam malik yg menyelishi jumhur ‘ulama.

2.apakah atsar ‘Umar bin Khaththab ada di kitab al-Muwwatha’ imam Malik..bagaimana bunyi atsar Umar bin Khaththab..?

3.tafsir Ibnu Katsir I/355 (Darul Fikr)di surat apa dan ayat berapa..? ana butuh banget ustad,..jazaakumullahkhoironjazaa…

 putrie

November 7, 2012 at 6:45 pm · Reply asslm..

admin, sy mw tnya..

Sy skrg sdg pacaran dg org luar pulau (ternate),

insyAllah dy mw mngajak sy kprnikahan.. Ttapi, smnjak awal ibu tdk mnyetujui, ttapi dy te2p mw mlnjutkan.. Alhmdlillah sy dpt kerja d ternate & kami sdh jln 3th ini..

Skrg dy mmutuskan utk menikah, ibu msh blm stuju jg.. Stlh komunikasi dg ibu, akhirnya ibu blg “iya”, ttapi dg 3 syarat:

1. Mncari pkerjaan utk ka2k sy

2. Mnta mahar yg sederajat d daerah ternate.. Ibu takut dy plh sy karna murah.. Soalnya dri jawa..

3. Tdk selamanya brada d ternate, suatu saat akan kmbali ke sby..

Sy sdh sholat istikhoroh, insyAllah sy yakin dg dy.. Sy mohon pncerahannya

-trima kasih, wassalam-ADMIN:

pertama, ketahuilah bahwa dalam islam yang benar, tidak ada yang namanya pacaran, bahkan banyak keharaman yang dilakukan dalam pacaran itu. tentunya sebagai seorang muslimah yang

baik dan ingin bertakwa kepada Alloh akan meninggalkan perbuatan keharaman yang bisa mendatangkan kemurkaan Alloh karena pelanggaran atas larangan-larangannya. hentikan kegiatan pacaran itu dan bertaubat dari kesalahan itu, lalu segeralah mengurus menuju

pernikahan yang melalui pernikahan itulah yang sesuai syariat.

adapun ttg syarat dari orang tua tersebut sebagai wali maka itu boleh saja dijadikan syarat oleh orangtua kepada orang yang hendak menikahi putrinya, dan jika menyanggupi syarat itu lalu menikah maka dia wajib menunaikan janjinya. tapi hendaknya orang tua melihat kemashlahatan

dari persyaratan yang dia ajukan sehingga tidak memberatkan anak-anaknya jika memang ia benar-benar mencintai anaknya agar bahagia dengan suatu pernikahan. wallohu a’lam

 fitri

December 2, 2012 at 9:49 am · Reply aslmlkm

sya mau brtanya bgaimana hukumnya mnikah dgn wanita yg sdang hamil,dan yg mnikahi adalah laki2 yg menghamilinya

sya sudah brkonsultasi kmna2 untuk mnanyakan kpastiannya

ada yang brpendapat hrus sgera dlangsungkan akad sblum anak lahir,agar nasabnya si anak itu ada dan stelah itu tdak harus nikah lgi stelah anak lahir

dan ada jga brpendapat itu haram sblum mlahirkan tlong di beri pnjelasan

agar sya tdak bngung yang bnar itu yang mana

(16)

trimakasih tlong dblas wasslmkm

o admin

December 8, 2012 at 7:02 am · Reply wa’alaykumussalaam,

penjelasan di atas insya Allah sudah jelas dan mencukupi.

 dina fira May 14, 2014 at 8:56 am · Reply

masih belum jelas itu min.?

 riz

December 5, 2012 at 8:46 pm · Reply Assalamu’alaikum…

bagaimana seorang suami yang tidak menafkahi istri dan anaknya yang sudah diceraikan, bolehkah cerai itu dikategorikan sebagai cerai mati..?

anak lelaki luar nikah apabila ingin menikah, anak lelaki tersebut harus di Bin kan siapa, ayahnya atau ibunya…?

mohon segera jawabanya…

 arfandy

January 15, 2013 at 2:16 am · Reply assalamualaikum ,,,,

maav saya ingin bertanya : bagaimana jika seorang pria di pitnah menzinahi seorang wanita yg dia tidak pernah lakukan, dan diwajibkan atas dia untuk menikahi wanita tersebut ???

bagaimana hukum islam menikahi wanita tersebut ?? bagaimna cara menyelesaikannya ??

 KOSTANTI July 30, 2013 at 12:52 pm · Reply

Assalamu’alaikum.. Subhanallah Ilmu yang bermanfaat Syukron

 atilla

(17)

Assalamu’alaikum,

Saya seorang suami dari pernikahan 10 tahun lalu karena zina/hamil diluar nikah, dan anak lelaki kami sekarang berumur hampir 10th. Sebelum malangsungkan pernikahan kami telah bertaubat. Selama ini kami tidak tahu hukumnya. Dan baru tahun lalu saya membaca artikel Muslim yang

mana tidak wajib nikah ulang bagi kami (sesuai riwayat Al-Imam Asy-Syafi’i dan Abu Hanifah, yang membolehkan, dan tidak berlaku masa iddah).

Yang ingin saya tanyakan, apakah haram pernikahan kami? apakah harus menikah ulang? riwayat/dalil mana yang harus kami ikutin?

kalau diwajibkan nikah ulang, bagaimana persyaratannya (termasuk wali nikah, karena keluarga istri di luar pulau). Terimakasih, Wassalamu’alaikum

o admin

August 16, 2013 at 11:46 am · Reply Wa’alaykumussalaam warahmatullah,

Diantara silang pendapat ulama, insya Allah yang kuat adalah tidak sahnya nikah dalam keadaan hamil. Karena ketidaktahuan akan hukum itu dan nikah dilakukan setelah taubat,

maka itu termasuk nikah syubhat, dalam nikah syubhat ini hukum anak-anak hasil pernikahan tsb (setelah taubat) sebagaimana anak dalam nikah yg sah, nisbah kepada

ayahnya. Adapun anak sebelumnya (karena zina) maka nisbah kepada ibunya. Dan hendaknya melaksanakan akad nikah ulang. Wallohu a’lam.

 abdul

August 15, 2013 at 5:07 pm · Reply Assalamu’alaikum.

saya mau bertanya. Apakah sah nikah seseorang yg sudah cukup umur, tetapi untuk walinya mengambil wali hakim, karena walinya tidak memberikan izin kepada siapapun untuk

menikahkannya. mohon jawabannya….

wassalam…

o admin

August 16, 2013 at 11:42 am · Reply

Wa’alaykumussalaam, wali nikah adalah syarat sah nikah, selama ada wali nikah maka harus nikah dengan wali. Perwalian itu dari jalur ashabah yang laki-laki:

1. Bapak. 2. Kakek 3. Bapak kakek dst. 4. Saudara kandung. 5. Saudara sebapak.

6. Paman kandung (saudara kandung ayah). 7. Paman sebapak (saudara bapak sebapak beda ibu).

8. Anak paman kandung. 9. Anak paman sebapak. 10. Paman ayah kandung. 11. Paman ayah sebapak.

(18)

permasalahan yang ada, dan hendaknya pihak wali tidak menzholimi perempuan dalam perwaliannya dengan menahan pernikahan mereka.

Wallohu a’lam.

awan

August 31, 2013 at 7:42 pm · Reply Assalamualaykum,

Admin, sy mau tanya. Saat ini ada kawan sy yang hamil di luar nikah. Bapak si anak dalam kandungan ini sebenarnya sudah bersedia bertanggung jawab untuk menikahi teman saya tapi

teman saya tidak mau dengan alasan dia bukan pria baik-baik, dll. Lalu ada yang bersedia memberikan suaka sampai dia melahirkan untuk menghindari aib masyarakat. Dia sebenarnya sudah dinasihati untuk sebaiknya menerima saja tawaran si pria, tapi tetap keukeuh tidak mau. Saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan pria lain dan kalau dilihat

tampaknya serius menuju ke pernikahan. Lalu bagaimana hukumnya kalau teman saya ini menikah setelah melahirkan tapi dia belum bertaubat?

Mohon pencerahannya. Wassalamualaykum

o admin

September 18, 2013 at 3:40 pm · Reply Wa’alaykumussalaam warahmatullah,

Hendaknya dia menunggu hingga kelahiran anaknya, barulah menikah. Dan hendaknya dia bertaubat dengan benar atas kemaksiatannya yang lalu. Mungkin saja dia melahirkan lalu

menikah, tapi jika dia belum bertaubat maka apakah dia merasa aman dari adzab Allah?

 Asy Syamarani October 19, 2013 at 7:09 pm · Reply

Ijin Mencopy dan Menyebarkan Artikel. Amir Prambudi Asy-Syamarani

Rina

October 23, 2013 at 11:16 pm · Reply

Salam. Mazhab Syafie sangat berbeza. Adakah patut ikut mazhab syafie? Sebab di Malaysia ikutannya mazhab syafie. Berdosa tak?

o admin

October 31, 2013 at 8:31 pm · Reply

(19)

sendiri telah berkata (secara makna) ” jika perkataanku tidak sesuai sunnah maka lemparkan saja ke tembok” yaitu maksudnya tidak usah dipakai. Jika tidak mengikuti Imam

Syafii kita ga berdosa, yang berdosa adalah jika tidak mengikuti Alquran dan Sunnah. Wallohu a’lam.

 Fakhruddin February 9, 2014 at 11:53 am · Reply

Bagaimana jika anak hasil dari perzinahan itu apabila seorang anak laki-laki apakah boleh menjadi wali nikah bagi anak gadisnya?

o admin

February 12, 2014 at 6:12 am · Reply

Anak lelaki hasil perzinahan itu tetap sah jika ia menikah walaupun tanpa wali si lelaki, karena syarat wali hanya bagi wanita. sehingga dia bisa menjadi wali nikah dari anak

gadisnya (jika lahir dari pernikahan yang sah si lelaki tsb). Wallohu a’lam.

 ammar izzatulloh March 19, 2014 at 11:41 pm · Reply

Sukron katsiron stadz. rasanya uraian diatas sudah sangat jelas sekali.(u/ yg belum jelas!! Coba cara membacanya gunakan coret2 bentuk skema jika perlu analisa alasan tessis anti tessis

kemudian jangan lupa memohon perlindungan dari syaiton dan memohon rahmat Aulloh) Hendaknya kecintaan terhadap mahzab tidak berada diatas tuntunan alQur,an & alHadist (penting karena rujukan kita berislam) InsyaAulloh Aulloh ta alla melindungi kita, saudara2 dan

anak keturunan kita Aamiiin. Lebih kurangnya hamba dhoif ini mengaturkan mohon maaf lahir dan batin

 vivi

March 30, 2014 at 8:29 pm · Reply

Ass….q punya swdara cew dia hamil di luar nikah,sebenarnya saudaraq tau sblum menikah tu anak harus lahir dulu baru nikah di tau klo mnikah dalam k adaan hamil itu tdk sah,dia terpaksa menikah karena takut di bilang hamil tanpa bpk.akhirnya dia mnikah,saat dia lahiran dia berkata

kpda suaminya”pa,sbnernya menikah pada saat bunda hamil tu g boleh,harus nunggu lahiran dulu baru,nglangsungin akad nikah”tp si suami menyepelakan itu”y besok kita akad nikah lgi” smpai sekarang jwbn suaminya sprti itu,dari pihak istri dia bingung mau jelasin k suaminya sperti

apa,karena susah di bilangi.tiap bulan saudaraq d beri nafkah oleh suaminya,ssbgai ttggung jawab seorang bpk.saudaraq bingung min,ada yg bilang harus masa iddah 3 quru’,3 quru itu 3x

haid ta min?

Sbnernya dy g tega pisah sm suaminya takut di bilang ada apa2 di balik pisahnya dia ma saudaraq(negative thinking)pdhal saudaraq takut yg dilakukan slama ini cuma sia2 dan malah tmbah dosa klo di terusin,please min bantu y,sikap seperti apa yg harus dilakuin saudaraq ttu k

(20)

o admin

March 31, 2014 at 4:00 pm · Reply

semua ketakutan dan kekhawatiran kepada manusia/orang haruslah tunduk dibawah ketakutan kepada Allah, jadi bagaimanapun harus teguh menjalankan tuntunan syariat.

keridhoan orang tidaklah ada artinya jika Allah tidak ridho. jika meyakini kebenaran penjelasan di artikel di atas karena dalil-dalil yang mendasarinya, maka laksanakan dengan

ikhlas mengharap ridho Allah, sekalipun jadi bahan pembicaraan orang orang itu bukanlah hambatan bagi siapa saja yang benar-benar lebih mencintai syariat Allah daripada omongan

manusia. karena yang memelihara, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, adalah hanya Allah saja sesuai kehendak dan ketentuannya, maka selayaknya kita lebih taat

kepada Allah daripada mengikuti apa kata orang yang bertentangan dengan syariat.

 mela

June 13, 2014 at 11:21 am · Reply

assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh admin,

alhamdulillah dengan artikel ini saya mendapat pencerahan hingga mengetahui yang haq dan bathil namun saya memiliki pertanyaan mengenai status anak dari hasil zina, sebagaimana yang

saya ketahui bahwa anak tersebut bukan anak haram melainkan perbuatan orang tuanyalah yang haram nah untuk lebih jelasnya saya mohon admin dapat memberikan sedikit penjelasan yang disertai dalil termasuk nasab, waris, perwalian saat menikah bagi perempuan maupun jika

anak tersebut laki-laki bagaimana jika ia menjadi wali nikah bagi saudaranya ataupun anaknya baik perempuan yang melahirkan anak tersebut menikah dengan orang yang telah menzinainya

ataupun orang lain.

syukron, wasalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh

 Wahyuni July 18, 2014 at 10:03 pm · Reply

Assalamu’alaikum

Saya mau tanya “pernikahan saya sdh berjln 9th dan sudah dikaruniai 2 putra. Saya menikah krn hamil dluan krn dlu sya blm tau hukum haram menikah krn hamil sya ttap mnjlankanya. Sudah 2 thn ini sya bkrja di jepang dan krn sya penasan mka sya temukan

artikel ini. Dan saya baru sadar ternya pernikahan saya tidak sah. Tahun dpan sya akn plng ke indonesia.

Yg sya tnya kan 1. Apa yg hrus sya lkukan apakah sya hrus melakukan pernikahan ulang?? 2. Klo hrs nikah ulang apkh persyaratanya sama sprti prtma x melkukan ijab qobul??

Dan itu berarti sya mempunyai 2 buku nikah.

3. Klo seandainya saya hnya melakukan nikah siri apakah itu sah pernikahanya?? Jazakumullah…

o admin

July 27, 2014 at 6:51 pm · Reply wa’alaykumussalaam warahmatullah,

(21)

syariat Allah karena hawa nafsunya dan ketidaktahuannya akan agama Allah 2. lakukan pernikahan ulang, boleh saja nikah siri yang penting memenuhi syarat-syarat

nikah sehingga sah, silakan dibaca kembali penjelasan di artikel mengenai kondisi dan syarat2nya.

Wallohu a’lam.

 rere

August 8, 2014 at 11:04 am · Reply Admin saya mau tnya…

jika mmg prnikahan zina harus di ulang lgi, apakah hrus dgn wali nikah wnta yg laki2 atau bisa dgn wali nikah lain sprti nkah siri, krn org tua mrka tdk tau bhwa mrka tlah brzina dan pda saat mrka mnikah, si wnta jg tdk tau klo sdg hmil dan keguguran yg dikira adalah darah haid saat

itu… dan si lelaki mrasa prnikahan itu sah krn dia tdk tau saat itu si wnta sdg hmil… mhon infonyaa krn mrka saat ini sdg 2thn mnkah dan si wnta jg sdh mnjlaskannya tpi si lelaki msh ttp

pda pndiriannya bhwa itu sah… trma kasih….

o admin

September 11, 2014 at 7:51 pm · Reply

insya Allah sah nikahnya karena pada saat itu yang mereka ketahui bahwa wanita tidak dalam keadaan hamil, terlebih lagi trnyata disadari bahwa saat itu adalah keguguran yang ini adalah batas masa iddah yang artinya setelah itu wanita boleh dinikahi. yang dimaksud dalam pembahasan tulisan di atas bukan menikah setelah zina tapi menikah dalam keadaan

hamil karena zina, terlarang kecuali sudah selesai iddahnya. masa iddah adalah masa meyakinkan bahwa rahim kosong yaitu dgn batasan telah haidh atau melahirkan (termasuk

keguguran). maka jika mereka zina, lalu keguguran, lalu menikah, maka nikahnya sah dan tidak terkena larangan menikah dalam masa iddah. yang wajib bagi mereka adalah

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...