• Tidak ada hasil yang ditemukan

APAKAH HUKUM ITU mempunyai sebarang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "APAKAH HUKUM ITU mempunyai sebarang "

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

APAKAH HUKUM ITU?

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum

Oleh :

1. Intan Putri Setia

(172050075)

2. Anisa Hendriani Sariputri

(172050076)

3. Silvy Khaera Ummatin

(172050086)

4. Alya Riyafani

(172050088)

5. Desi Oktaviani

(172050258)

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILM SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana yang berjudul “Apa Hukum Itu ?”.

Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi dan menambah wawasan pengetahuan kepada kita semua tentang Pengertian Hukum. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, Sehubungan dengan hal ini, kritik dan saran dari para pembaca yang bersifat membangun tentu saya harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah senantiasa Meridhoi segala usaha kita. AMIN.

Bandung, 24 Februari 2018

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan Penulisan...1

BAB II...2

PEMBAHASAN...2

A. Kesulitan Pendefinisan Hukum...2

B. Perlukah Hukum Didefinisikan?...4

C. Bagaimana Membuat Definisi Hukum Yang Baik...4

D. Beberapa Definisi Hukum...6

E. Pandangan Islam Tentang Hukum...9

BAB III...11

PENUTUP...11

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hukum merupakan seperangkat norma atau kaidah yang berlaku di masyarakat yang terdapat suatu larangan dan mengontrol tingkah laku masyarakat agar tifak melanggar serta agar dapat hidup sejahtera. Peranan hukum di dalam masyarakat khususnya dalam menghadapi perubahan masyarakat perlu dikaji dalam rangka mendorong terjadinya perubahan sosial. Pengaruh peranan hukum ini bisa bersifat langsung dan tidak langsung atau signifikan atau tidak. Hukum memiliki pengaruh yang tidak langsung dalam mendorong munculnya perubahan sosial pada pembentukan lembaga kemasyarakatan tertentu yang berpengaruh langsung terhadap masyarakat. Di sisi lain, hukum membentuk atau mengubah institusi pokok atau lembaga kemasyarakatan yang penting, maka terjadi pengaruh langsung, yang kemudian sering disebut hukum digunakan sebagai alat untuk mengubah perilaku masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan Hukum ?

2. Bagaimana pengertian hukum menurut para pakar ? 3. Bagaimana pandangan islam tentang hukum ?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian Hukum

(5)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kesulitan Pendefinisan Hukum

1. Kesulitan dari Sifat Intern Hukum

Pandangan yang dikemukakan oleh Radcliff-Brown yang menyatakan ; in this sense some simple societies have no law merupakan sesuatu yang tidak dapat kita terima. Adapun pandangan Prof. Van Apeldoorn lebih dapat kita terima, seperti dinyatakan berikut ini.

Recth is over de gehele wereld, overall waar een samenleving van mensen is”

(Hukum terdapat di seluruh dunia, di mana terdapat suatu masyarakat manusia).

Juga, pandagan Logemann yang menyatakan:

“Nu is men het eens, dat recht op de een of andere wijze op de menselijke amenleving is betrokken”. Pandangan umum telah menyepakati bahwa bagaimanapun hukum itu ada hubungannya dengan masyarakat. Namun kemudian menimbulkan pertanyaan baru, yaitu hukum itu apa?

Mr. Dr. I Kisch mengemukakan:

Doorat het recht onwaarneembaar is onstaat een moeilijkheid bij het vinden on een algemeen bevredigente definitie. (Karena hukum tidak dapat ditangkap oleh pancaindra, maka sulit untuk membuat suatu definisi tentang hukum yang dapat memuaskan orang pada umumnya).

Hukum pada hakikatnya sesuatu yang abstrak, meskipunn dalam manifestasinya bisa terwujud konkret. Pertanyaan tentang hukum merupakan pertanyaan yang jawabannya tidak mungkin satu. Dengan kata lain, persepsi orang tentang hukum itu beraneka ragam, tergantung dari sudut mana mereka memandangnya. Kalangan hakim akan memandang hukum itu dari sudut pandang profesi sebagai hakim; kalangan ilmuwan hukum akan memandang hukum itu dari sudut pandang profesi keilmuan mereka; dan rakyat kecil akan memandang hukum dari sudut pandang mereka, dan sebagainya.

(6)

identikan sebagai hukum tuhan/hukum agama. Ketika masyarakat tiba pada tahap perkembangan dimana pranata peradilan sangat difungsikan, orang lantas menidentikan hukum dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan peradilan.

Selain sifatnya yang abstrak tadi, penyebab kesulitan dalam mendefinisikan hukum ialah karena cakupan yang diatur oleh hukum luas sekali. Secara normatif dan dogmatik, dapat dikatakan bahwa hukum mengatur hampir seluruh segi kehidupan manusia, mulai dari sebelum manusia dilahirkan sampai sesudah manusia meninggal. Namun didalam kenyataannya, tidak semua segi kehidupan diatur dan harus diselesaikan oleh hukum. Ada hal-hal tertentu yang dalam kenyataannya tidak membutuhkan campur tangan hukum.

2. Kesulitan dari Segi Kata-Kata

Terlepas dari penyebab intern, yaitu keabstrakan hokum dan keinginan hukum untuk mengatur hampir seluruh kehidupan manusia, kesulitan pendefinisian juga bisa timbul dari faktor ekstern hukum, yaitu faktor bahasa itu sendiri. Jangankan hukum yang memang bersifat abstrak, sesuatu yang konkrit pun sering sulit untuk di definisikan dengan hanya satu definisi.

Terlihat jelas bahwa Paton, persoalan pendefinisian tidaklah sesederhana seperti apa yang biasa dipikirkan orang. Secara logis, terlebih dahulu harus dicari genus dari persoalan yang ingin di definisikan dan dicara pada genus yang mana res itu termasuk. Setelah itu, dicari lagi sifat-sifat khas yang membedakannya dengan spesies lain pada genus yang sama. Sebagai contoh : sendok, garpu, dan piring adalah spesies yang semuanya termasuk dalam genus alat untuk makan.

Dalam keanekaragaman manusia yang tak terbatas, hukum dikedepankan untuk menghadapinya, meskipun hanya dengan sumber-sumber bahasa yang terbatas. Hukum senantiasa mencoba untuk mengatasi kehidupan dan pekerjaan yang kompleks, dengan menyederhanakannya dengan wujud kategori-kategori. Banyak perdebatan yang terjadi dalam ilmu hukum, dimana sebenarnya hanya merupakan perdebatan yang beragumentasikan tentang makna kata-kata. Akhirnya Paton menuliskan bahwa pengujian yang sesungguhnya terhadap suatu definisi adalah apakah definisi tersebut bermanfaat bagi tujuan-tujuan tertentu yang ada dalam pikiran penulisnya. Namun perbedaan tentang suatu definisi dapat timbul sebagai akibat dari perbedaan pandangan tentang aliran filsafat hukum yang dianutnya.

L.B. Curzon (1979:24-28) mengemukakan pendapat yang melihat kesulitan pendefinisian hukum terletak pada kesulitan dari segi kata-kata. Beberapa sifat khusus yang menyulitkan pendefinisian menurut Curzon ialah sebagai berikut :

a. Penggunaan kata-kata yang sangat dibatasi. b. Penggunaan kata-kata yang sangat spesifik.

(7)

hukum” dengan arti kata atau istilah yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari diluar dunia ilmu hukum.

d. Sejarah perubahan dalam konteks ilmu hukum sendiri. Sebagai contoh, Curzon mengemukakan adanya perbedaan arti tentang istilah “burglary” (pencurian dengan pembongkar) sebelum dan sesudah diundangkannya peraturan tentang pencurian tahun 1968.

B. Perlukah Hukum Didefinisikan?

Suatu definisi hukum dibutuhkan sebagai pegangan, dengan tetap menyadari keterbatasan definisi tersebut. Dalam hal ini, Arnold mengemukakan bahwa meskipun ada yang menganggap hukum tidak akan pernah dapat didefinisikan, tetapi Arnold menyadari bahwa bagaimanapun hukum tidak akan pernah menghentikan perjuangan mereka untuk mendefinisikan hukum. Sebab, bagi mereka merupakan suatu bagian yang esensial dan dianggap rasional dan mampu untuk mendefinisikan hukum tersebut.

Dari pernyataan dan komentar pakar, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut .

a. Beberapa yuris telah menunjukan cara pendefinisian yang mereka anggap benar. b. Kita tidak dapat mengatakan bahwa hukum itu tidak mungkin didefinisikan sebab,

definisi hanyalah suatu ekspresi belaka dari pengakuan simbol-simbol suatu fenomena/konsep

c. Dimungkinkan untuk memuat definisi tentang objek dari suatu penyelidikan “tanpa mengantipasi hasil”. Kita dapat memulai dengan teori-teori lanjutan tentang sifat dari hukum dan mencoba untuk memastikan konteks dari kebenaran teori-teori itu.

d. Usaha-usaha untuk membuat suatu definisi yang tepat merupakan aspek yang penting didalam ilmu hukum.

e. Sangat penting untuk mengetahui apa yang ada dalam pikiran seseorang penulis ketika dia menggunakan kata-kata seperti “law” suatu definisi, meskipun hanya bersifat perkiraan, tetapi dapat ditarik kesan suatu sikap fundamental. Artinya, dari definisi kita dapat menarik sikap fundamental apa yang dianut oleh penulis itu tentang hukum.

C. Bagaimana Membuat Definisi Hukum Yang Baik

(8)

Beberapa pakar mengemukakan way out untuk keluar dari kesulitan itu. Antara lain dapat ditemukan dalam bukunya Curzon (1979 : 24-28) :

1. Note the importance, in considering the problem of defining the term”law”, of Wittgentein’s comment :

“For a large class of statement-though not all in which we employ the word ‘meaning’ it can be defined thus: the meaning of word is its use the language.”

2. Hart criticize the word of Austin so as to emphasize the importance of searching to definitions: “We are looking not merely at words… but also at the realities we use words to talk about. We are using a sharpened awarenedd of words to sharpen out perception of the phenomena.”

Dari apa yang dikemukakan oleh beberapa pakar diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Di dalam mendefinisikan hukum , guanakan saja arti yang dikenal dalam bahasa yang bersangkutan.

2. Hendaknya kita tidak semata-mata terpaku pada persoalan kata-kata saja, melainkan seharusnya melihat kenyataan-kenyataan dalam hal apa kata-kata itu digunakan.

3. Seharusnya kita menggunakan pertanyaan arti dari kata-kata yang hendak didefinisikan. Untuk mempertajam persepsi kita mengenai fenomena-fenomena yang bersangkutan.

4. Kita pun dapat menjawab pertanyaan tentang definisi hukum dengan memilih salah satu dari tiga cara berikut.

a. Kita dapat membuat suatu definisi yang bersifat eksplisit atau ekuivalen, dengan cara menetapkan kata-kata yang dapat digunakan sebagai pengganti.

b. Kita dapat membuat suatu definisi dengan menggunakan serangkaian evuialensi yang menunjukkan penggunaan kata di dalam jenis-jenis kalimat yang berbeda-beda.

c. Kita membuat suatu gambaran dengan menjelaskan sifat-sifat khas dan umum tentang apa arti dari kata-kata yang bersangkutan.

5. Di dalam definisi tentang istilah-istilah khusus yang dibuat oleh para penulis, kita tidak boleh mengabaikan faktor-faktor seperti ideologi yang dianut pembuat definisi ataupun lingkungan sosialnya.

6. Bagaimanapun definisi tidaklah penting, kecuali pengekspresian dan mengetahui pasti tentang arti kata. Definisi yang beraneka ragamlah yang dibutuhkan.

(9)

1. Sesuai sifat-sifatnya yang mendasar, logis, religius ataupun etis 2. Menurut sumbernya, yaitu kebiasaan, preseden, atau undang-undang 3. Menurut efeknya di dalam kehidupan masyarakat

4. Menurut metode pernyataan formalnya atau pelaksanaan otoritasnya 5. Menurut tujuan yang ingin dicapainya.

D. Beberapa Definisi Hukum

1. Pakar yang Berpaham Sosiologis a. Definisi Hukum dari Roscoe Pound

Roscoe Pound membedakan hukum dalam dua arti, yaitu

1. Hukum dalam arti sebagai tata hukum yang mempunyai pokok bahasan : a) Hubungan antara manusia dengan individu lainnya, dan

b) Tingkah laku individu yang memengaruhi individu lainnya atau yang memengaruhi tata sosial/tata ekonomi

2. Hukum dalam arti kumpulan dasar-dasar kewenangan dari putusan-putusan pengadilan dan tindakan administrative mempunyai pokok bahasan, yaitu harapan-harapan atau tuntutan-tuntutan oleh manusia sebagai individu atau kelompok yang memengaruhi hubungan mereka atau menentukan tingkah laku mereka.

b. Definisi Hukum dari H.J. Hamaker

“Hukum bukan suatu perangkat kaidah dan hukum bukan merupakan perangkat aturan yang memaksa orang bertingkah laku menurut tata tertib masyarakat. Namun hukum merupakan seperangkat aturan yang menunjuk kebiasaan orang dalam pergaulannya dengan pihak lain didalam masyarakatnya (regel die aangeven hoe mensen zich togonever elkaar plegen te gedragen in de’samenleving).”

c. Definisi Hukum dari J.H.A. Logemann

“Nu is men her eens dat recht op de een of andere wijze on de menselijke amenleving is betrokken”. (Telah diterima oleh pandangan umum bahwa bagaimanapun hukum itu sangat berkaitan dengan masyarakat). Hukum adalah semata mata suatu “social-phychisch gebeuren” (peristiwa yang bersifat psiko sosial). (Logeman,1948:2).

2. Pakar yang Berpaham Realis (Curzon, 1979:27) a. Definisi Hukum dari Holmes

Pendiri aliran realis adalah Holmes, seorang hakim agung USA yang berpengalaman selama 30 tahun sebagai hakim.

“The propheeies of what the court will do … are what I mean by the law.” (Apa yang diramalkan akan diputuskan oleh pengadilan, itulah yang saya artikan sebagai hukum).

b. Definisi Hukum dari Lewellyn

What official do about disputes is the law its self.” (Apa yang diputuskan oleh seorang hakim tentang suatu persengketaan adalah hukum itu sendiri).

c. Definisi Hukum dari Lunstedt

(10)

(Hukum sunguh-sungguh berwujud eksistensi dari fakta-fakta sosial yang secara keseluruhan gudang aturan, dimana para hakim mendasarkan putusannya).

Demikian juga Gluckman, meskipun ia memasukkan pengadilan sebagai salah satu unsur hukumnya, tetapi ia lebih menekankan pada unsur keseluruhan gudang aturan.

b. Definisi Hukum dari Paul Bohannon

Law is that body of binding obligation which has been reinstitutionalised within the legal institution.” (Hukum merupakan himpunan kewajiban yang telah dilembagakan dalam pranala hukum).

c. Definisi Hukum dari Pospisil

Law is rules or modes of conduct made obligatory by some sanction which is imposed and enforced for their violation by controlling authority.” (Hukum adalah aturan-aturan dan mode-mode tingkah laku yang dibuat menjadi kewajiban melalui sanksi-sanksi yang dijatuhkan terhadap setiap pelanggaran dan kejahatan melalui suatu otoritas pengendalian).

4. Pakar yang Berpaham Historis

Definisi hukum dari Karl von Savigny

All law is organally formed by custom and popular feeling, that is, by silently operating forces. Law is rooted a people’a history: the roots are ted by the consciousness, the faith and the custom of people.” (Keseluruhan hukum sungguh-sungguh terbentuk melalui kebiasaan dan perasaan kerakyatan, yaitu melalui pengoperasian kekuasaan secara diam-diam. Hukum berakar pada sejarah manusia, dimana akarnya dihidupkan oleh kesadaran, keyakinan, dan kebiasaan masyarakat.)

5. Pakar yang Berpaham Marxist

“Law is an expression of the general economic relation withinsociety at agiven stage of development.” (Adalah suatu pencerminan dari hubungan umum ekonomis dalam masyarakat pada suatu perkembangan tertentu.)

6. Pakar Berpaham Hukum Alam

a. Definisi Hukum dari Thomas Hobbes (Abad XVII)

“The Civil Laws are the command of him who is endued with supreme power in the city concerning the feature action of his subject.” (Civil Law adalah perintah-perintah hukum yang didukung oleh kekuasaan tertinggi di negara itu, mengenai tindakan-tindakan di masa datang yang akan dilakukan oleh subjeknya).

b. Definisi Hukum dari John Locke (Abad XVII)

(11)

whether they be virtues or vices. (Hukum adalah sesuatu yang ditentukan oleh masyarakat pada umumnya tentang tindakan-tindakan mereka, untuk menilai/mengadili mana yang merupakan perbuatan yang jujur, dan mana yang merupakan perbuatan curang. Dalam pandangan saya (Locke) hukum itu terdiri dari tiga jenis : (1) hukum agama; (2) hukum negara; (3) hukum opini atau reputasi. Hukum agama menilai mana tindakan yang berdosa dan mana tindakan yang wajib dilakukan. Hukum negara menilai mana tindakan kriminal dan mana tindakan yang tidak kriminal. Hukum opini atau reputasi menilai mana tindakan yang luhur dan mana yang perbuatan yang buruk (secara kesusilaan).)

7. Pakar yang Berpaham Positivis dan Dogmatik a. Definisi Hukum dari John Austin

“Law is a command set, either directlyor circuitously, by a sovereign individual or body, to a member or member of some independent political society in which his authority is supreme.” (Hukum adalah seprangkat perintah, baik langsung maupun tidak langsung, dari pihak yang berkuasa kepada masyarakatnya yang merupakan masyarakat politik yang independen, dimana otoritasnya (pihak yang berkuasa) merupakan otoritas yang tertinggi). b. Definisi Hukum dari Blackstone (Abad XVIII)

Law is a rule of action prescribed or dictated by some superior which some interior is bound to obey.” (Hukum adalah suatu aturan tindakan-tindakan yang ditentukan oleh orang-orang yang bekuasa bagi orang-orang-orang-orang yang dikuasai untuk ditaati)

c. Definisi Hukum dari Hans Kelsen

“Law is a coercive order of human behavior… it is the primary norm which stipulates the sanction”. (Hukum adalah suatu perintah memaksa terhadap tingkah laku manusia. hukum adalah kaidah primer yang menetapkan sanksi-sanksi).

8. Beberapa Definisi Hukum dari Kamus a. Definisi Hukum dari Cassell’s Dictionary

Law is a rule of conduct imposed by authority or accepted by the community as binding” (Hukum adalah aturan tingkah laku yang dipaksakan melalui otoritas atau diterima oleh masyarakat sebagai suatu yang mengikat).

b. Definisi Hukum dari Oxford English Dictionary

Law, is the body ofrules wheter formally enacted or costumary, which a state or community recognizes as binding on its members or subjects.” (Hukum adalah kumpulan aturan ,perundang-undangan, atau hukum kebiasaan, di mana suatu negara atau masyarakat menagkuinya sebagai sesuatu yang mempunyai kekuatan mengikat terhadap warganya) 9. Definisi Hukum dari Literature Berbahasa Indonesia

a. Definisi hokum dari Mr.M.E.Algra,et al.

“Pendiri(pendapat) menyatakan bahwa undang undanglah yang memberikan hukum,sudah lama ditinggalkan.secara menyeluruh,dapat dikatakan bahwa sebagian besar undang undang diterima sebagai aturan hukum.selanjutnya, hanyalah aturan hukum yang tidak terdapat dalam undang undang (misalnya: aturan hukum kebiasaan dan aturan yang dibentuk dalam keputusan pengadilan).”

b. Definisi Hukum dari E.Utrecht

(12)

“Hukum adalah himpunan petunjuk hidup,perintah,dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Karena pelanggaran petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa masyarakat itu.

E. Pandangan Islam Tentang Hukum

Bagi kalangan muslim,jelas yang dimaksud sebagai hukum adalah hukum islam,yaitu keseluruhan aturan hukum yang bersumber pada Al-Quran. Untuk kurun zaman tertentu,lebih dikonkretkan oleh Nabi Muhammad dalam tingkah laku beliau,yang lazim disebut sunah rasul. Kaidah kaidah yang bersumber dari Allah SWT lebih di konkretkan dan diselaraskan dengan kebutuhan zamannya melalui ijtihad atau penemuan hukum oleh para mujtahid dan pakar di bidangnya masing masing.

Prof .Dr.T.M. Hashi Ash-Shiddieqy (1975:26) menurut beberapa pandangan ulama tentang hukum islam ini.

1. Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazzali berpendapat bahwa:

‘Fiqh itu bermakna paham dan ilmu. Akan tetapi, bagi para ulama, fiqh telah menjadi suatu ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara tertentu bagi perbuatan-perbuatan para mukalaf, seperti wajib, haram, mubah, sunah, makruh, sahih, fasid, batil, qadis, dan yang sepertinya.”

Unsur –unsur yang harus ada bagi hukum harus ada bagi hukum sebagai kaidah, yaitu : 1. Harus ada seperangkat kaidan atau aturan yang tersusun dalam satu sistem

2. Perangkat kaidah itu menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh warga masyarakat

3. Berlaku bagi manusia sebagai masyarakat dan bukan manusia sebagai individu

4. Kaidah itu bersumber, baik dari masyarakat sendiri maupun dari sumber lain, seperti otoritas negara ataupun dari Tuhan (hukum agama)

5. Kaidah itu secara nyata benar-benar diberlakukan oleh masyarakat (sebagai satu kesatuan) di dalam kehidupan mereka, yakni sebagai living law

(13)

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

(14)
(15)

Referensi

Dokumen terkait