• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indonesia di Bawah Ancaman dan Tantangan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Indonesia di Bawah Ancaman dan Tantangan"

Copied!
119
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Pengantar

Lebih dari setahun silam, atau persisnya dijelang akhir tahun 2010, yaitu setelah kunjungan Presiden AS Barack Obama ke kawasan Timur Tengah dan Uni Emirat Arab, dunia internasional menafsirkan kunjungan kenegaraan tersebut merupakan pertanda mencairnya hubungan diplomatik Amerika Serikat dengan dunia Islam. Karena sebelum itu, atau tepatnya pada masa pemerintahan Presiden George Walter Bush, hubungan Pemerintah Amerika Serikat dengan beberapa negara di Timur Tengah sempat memanas. Misalnya konflik dengan Pemerintah Iran, akibat invasi militer ke Negara Irak, serta sikap keberpihakan Pemerintah AS yang mendukung Negara Israel dalam konflik di Jalur Gaza, bahkan masih banyak lagi alasan lainnya yang menunjukkan arogansi Amerika Serikat sebagai polisi dunia.

Maka tidak disangsikan, kunjungan Presiden Obama itu seakan membawa angin segar. Terlebih dalam berbagai pidato selama masa lawatannya , Presiden Obama selalu menyerukan pentingnya perdamaian dunia. Sangat simpatik dan mendapat respon positif. Sehingga dunia internasional ikut berlega hati. Terlebih lagi ketika Presiden Obama menyatakan janji akan menarik seluruh pasukan Amerika Serikat dari Negara Irak dan mengurangi peran intervensi negaranya dalam konflik di Afganistan. Semua itu memang menjadi pertanda baik.

(3)

itu, tiba-tiba saja kawasan Timur Tengah dilanda pergolakan politik. Isyu reformasi pemerintahan, penegakan demokrasi dan pemerataan ekonomi, menjadi pemicu aksi unjuk rasa rakyat di berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Semua negara yang bergejolak itu menuntut pergantian kepemimpinan nasional di negaranya.

Presiden Mesir Hosni Mubarak contohnya. Ia didesak mundur dari kursi kepresidenan Mesir oleh rakyat yang menentangnya. Dan ketika Presiden Mesir yang telah berkuasa selama 32 tahun itu mencoba mempertahankan kekuasaannya, maka pihak militer Mesir pun segera bertindak mengambil alih kekuasaan demi mencegah terjadinya konflik berkepanjangan di Negara Mesir.

Tidak berbeda dengan gejolak politik di Mesir, Yaman, Suriah dan sekitarnya, Negara Libya juga digoncang gejolak politik yang serupa. Sebagian rakyat Libya yang terhimpun dalam berbagai suku Arab, meminta agar Presiden Moammar Khadafi mundur dari jabatannya. Menyikapi tuntutan itu, Presiden Moammar Khadafi memilih berkonfrontasi dengan sebagian rakyat yang menentangnya. Maka tidak ada pilihan lain, Negara Libya pun dilanda perang saudara.

(4)

yang berkonfrontasi dengan Presiden Moammar Khadafi. Selanjutnya masih dengan alasan melindungi rakyat Libya yang beroposisi pada pemerintahan Presiden Khadafi, koalisi militer itu melakukan serangan terhadap instalasi militer pemerintah Libya sampai berakhir dengan tewasnya Presiden Moamar Khadafi. Sungguh tindakan yang tidak wajar tentunya.

Gambaran aktual di atas, menunjukkan bahwa menapak abad 21 atau millennium ke tiga, dinamika politik dunia banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Di antaranya adalah kompetisi antarnegara, antarbangsa. Kompetisi yang memperebutkan pengaruh di tingkat global. Kompetisi yang bertumpu kepada kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Sehingga negara yang paling memiliki kemajuan pesat di bidang teknologi dan pertumbuhan ekonomi, akan tampil sebagai Negara yang kuat dan paling berpengaruh.

(5)

Seiring perubahan dinamika politik global, negara-negara di dunia hanya mengenal dua jenis ancaman keamanan dan pertahanan nasional. Yaitu ancaman tradisional dan ancaman non tradisional. Ada pun yang dimaksud sebagai ancaman tradisional ialah invasi militer dengan kecanggihan sistem persenjataannya. Sehingga dalam upaya mengantisipasi ancaman tradisional itu, munculah kekuatan politik dan militer di dunia yang disebut sebagai Blok Timur dan Blok Barat ( SEATO dan NATO ). Persaingan yang menonjol dari kedua blok itu, ialah persaingan kecanggihan teknologi persenjataan, seperti senjata nuklir, senjata kimia, serta senjata pemusnah massal lainnya.

Militer Rusia misalnya, mempublikasikan kecanggihan teknologi persenjataannya melalui aksi invasi ke Republik Afganistan, kemudian mendukung armada militer Libya, militer Pakistan dan semacamnya. Di lain pihak, militer Amerika Serikat juga mempublikasikan satelit mata-mata, pesawat pengintai tanpa awak, pesawat pengebom yang tidak bisa dideteksi oleh radar, rudal-rudal jarak jauh, serta sistem persenjataan lainnya yang belum lama ini dibuktikan melalui invasi ke Kuwait, Irak dan negara-negara di Timur Tengah, Afrika dan sebagainya, atau bantuan persenjataan kepada Israel, Filipina, Korea Selatan serta lainnya. Bahkan sampai perlombaan menembus galaksi,dengan saling mengunggulkan berbagai satelit ruang angkasa yang berhasil diproduksi oleh negara-negara adi daya itu.

(6)

Malaysia dengan Indonesia. Ancam – mengancam dengan memamerkan kekuatan sistem persenjataan memang sedang terus berlangsung.

Paska Perang Dunia II atau paruh abad 20, kompetisi dalam kancah keamanan tradisional diterjemahkan sebagai Perang Dingin ( Cold War ). Kalangan militer menyebut Perang Dingin itu sebagai perang intelijen dan spionase. Maka pada masa itu lembaga-lembaga intelijen seperti CIA, KGB, M16, MOSSAD dan sejenisnya merupakan lembaga intelijen paling kondang di tingkat dunia. Mereka terlibat dalam kancah perang di balik suasana damai. Sedangkan yang menarik dari kancah Perang Dingin itu, targetnya bukan semata-mata penguasaan informasi tetapi juga untuk perlombaan senjata serta pengaruh internasional. Bahkan sasaran akhir dari Perang Dingin tersebut ialah menanamkan pengaruh atas kemajuan teknologi dan penguasaan ekonomi.

(7)

Singkat kata masih banyak kasus lainnya yang sampai saat ini tetap tersimpan menjadi arsip dokumen rahasia di Badan Intelijen Negara ( BIN ).

Pada lain pihak, yang tak kalah penting juga tentunya, ialah ancaman non tradisional atau nir militer yang mulai berkembang sejak akhir abad 20. Yakni ketika munculnya aksi terorisme sebagai perjuangan politik dan ideologi. Misalnya aksi teror yang dilakukan para pejuang pembebasan Irlandia dari Pemerintah Inggris. Aksi pejuang Libya yang menentang Raja Kemal Idris ditahun 1960-an serta melawan penetrasi Pemerintah Amerika Serikat, hingga gerakan pembebasan Palestina terhadap invasi Israel. Bahkan kini, terorisme yang membawa isyu pertentangan agama kian menjadi ancaman non tradisional bagi banyak negara di dunia, khususnya paska Tragedi 11 September 2002 di kota New York. Meskipun kemudiannya, ada sejumlah sumber informasi menyebutkan bahwa isyu pertentangan agama hanyalah sebagai “kedok” atau manipulasi atas berbagai aksi terorisme . Karena ternyata aksi-aksi tersebut merupakan produk intelijen Pemerintah AS untuk menjadi alasan melaksanakan invasi militer kepada negara-negara di Timur Tengah yang dianggap sebagai jaringan kegiatan aksi teroris. Kenapa ? Karena negara-negara di kawasan tersebut merupakan sumber penghasil minyak dan gas terbesar di dunia.

(8)

pertarungan antarnegara, tetapi juga pertarungan para aktor intelektual yang sangat berpengaruh karena memiliki dukungan teknologi super canggih serta kekuatan finansial yang sangat besar. Para aktor intelektual itu umumnya adalah kalangan pemilik modal yang tujuan utamanya adalah mencari keuntungan ekonomi yang sebanyak-banyaknya dengan menghalalkan berbagai cara.

Alhasil kegiatan aksi ancaman non tradisional menjadi sangat rumit dan sulit dideteksi. Yakni siapa melawan siapa ? Kenapa dan untuk apa ? Karena antara kepentingan pengaruh suatu negara terhadap negara lain. menjadi rancu bagai lingkaran setan dengan kepentingan aktor-aktor intelektual yang juga memainkan peran di balik kancah ancaman non tradisional tersebut. Sebagai contoh, ada seorang pedagang senjata yang cukup kondang di dunia internasional yaitu : Adnan Kashogi.

Untuk kepentingan berbagai bisnisnya , tokoh yang bernama Adnan Kashogi tersebut mampu mendanai lahirnya suatu pemberontakan bersenjata dalam suatu negara, khususnya negara miskin atau pun negara berkembang.

(9)

Kondisi ancaman non tradisional tersebut – mau tidak mau – juga berlangsung di Indonesia, negeri yang kita cintai ini. Sehingga untuk itu perlu digalang dukungan kekuatan seluruh komponen bangsa demi menunjang pertahanan dan keamanan nasional yang disebut sebagai Kesadaran Bela Negara sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 27, Ayat 3. Bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak dan wajib turut serta dalam kegiatan pembelaan Negara terhadap ancaman dan serangan musuh, dari dalam mau pun luar negeri.

(10)

diselenggarakan secara total, terpadu, terarah dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman.

Ada pun tujuan dari penulisan buku ini, tak lain hanya untuk kembali mengingatkan kepada semua komponen bangsa Indonesia, agar senantiasa bersatu padu memperkuat pertahanan negara dari segala bentuk ancaman, baik ancaman dari luar mau pun ancaman dari dalam negeri sendiri. Karena bila melihat perkembangan dunia internasional saat ini, selayaknya kita mewaspadai segala hal yang sedang berlangsung di seluruh penjuru dunia.

Di Afrika dan khususnya lagi di kawasan Timur Tengah, sedang berlangsung gejolak politik. Bahkan gejolak politik yang terjadi di Libya, justru mengundang keterlibatan koalisi militer asing terhadap negara Lybia tersebut. Sudah bisa diterka tentunya, apa kira-kira motivasi koalisi asing turut serta ambil peran terhadap gejolak politik di negeri Lybia.

(11)

kebutuhan negara-negara di dunia. Misalnya sumberdaya minyak bumi, gas alam, emas, batubara, bauksit, mangan, timah, uranium dan sebagainya. Termasuk juga dari sumberdaya hasil perkebunan, hutan belantara, kekayaan laut serta banyak lagi. Sehingga tidak diragukan, banyak negara kuat atau pun aktor-aktor intelektual di jaringan internasional yang memiliki banyak kepentingan terhadap negeri kita ini.

Maka sebelum apa yang diperkirakan itu akan terjadi, selayaknya seluruh komponen bangsa digalang untuk bersatu padu menghadapi segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi menimpa negeri ini. Segala sesuatu yang berpotensi merongrong dan menodai kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seperti kata Bung Karno dulu ; Bersatu kita kuat, kuat karena bersatu !”. Dan untuk mencapai persatuan Indonesia, hendaknyalah di antara para pemimpin bangsa membangun kembali rasa saling percaya-mempercayai, mengabaikan segala kecurigaan dan menjauhkan sikap kemaruk terhadap kekuasaan.

(12)

Teguh Santosa S.IP. yang juga kerap menjadi teman bertukar pikiran. Semoga Allah SWT membalas amal kebaikan yang telah diberikan selama ini. Amin.

Semoga buku ini akan memberi manfaat dan menggugah kembali semangat kebangsaan kita, bangsa Indonesia yang berdaulat.

Bandung, 2011.

Salam penulis :

(13)

DAFTAR ISI

- Pengantar Penulis

- Daftar Isi

- Bergulirnya Reformasi 98

- Kondisi Politik Nasional Paska Reformasi

- Islam Radikal dan Terorisme

- Gerakan Komunisme

- Memahami Neo Liberalisme

- Menyikapi Ancaman dan Tantangan

Abad 21

(14)

Bergulirnya Reformasi 98

Saat itu di penghujung tahun 1997, paska PEMILU yang dimenangkan oleh GOLKAR. Suasana politik masih dalam eforia kemenangan yang sangat menakjubkan. Program “kuningisasi nasional” mencapai sukses luar biasa. Konon, GOLKAR memperoleh hampir 75% suara pemilih. Sangat fantastis, tapi begitulah adanya. Ketika itu Pak Harto selaku Ketua Dewan Pembina GOLKAR sangat senang, sementara Pak Harmoko yang menjabat sebagai Ketua Umum GOLKAR saat itu mengembangkan senyum kebanggaan di panggung politik nasional. Kondisi tersebut seakan menjadi puncak suksesi kepemimpinan Presiden Soeharto selama masa Orde Baru. Kemenangan GOLKAR dalam PEMILU 1997 juga akan dijadikan sebagai titik awal program tinggal landas.

Awal krisis reformasi

(15)

diperkirakan mencapai 82,2 milyar dolar Amerika sebagai pembengkakan hutang yang dibuat sejak tahun 1975.

Di saat bersamaan, dunia dilanda krisis moneter. Bursa saham di Wallstreet mengalami penurunan, demikian juga di tempat-tempat penjualan saham lainnya di belahan dunia ini, termasuk di Indonesia tentunya. Maka secara pelan dan pasti, Indonesia pun mulai dilanda krisis ekonomi nasional.

Cadangan dolar AS di pasar uang nasional mau pun di Bank Sentral menipis. Para pengusaha swasta berlomba-lomba memburu dolar untuk memenuhi kewajiban pembayaran hutang luar negeri mereka. Kondisi demikian menjadikan nilai tukar dolar Amerika terhadap mata uang rupiah bergerak cepat yaitu dari 2.500 rupiah per satu dolar Amerika, meningkat pesat menjadi 3.500 rupiah per satu dolar Amerika, terus bergeser lagi menjadi 6000 rupiah per satu dolar Amerika sampai akhirnya mencapai puncaknya yaitu 16 ribu rupiah per satu dolar Amerika. Demikian pula halnya dengan hutang luar negeri Pemerintah Orde Baru yaitu senilai 65,7 milyar dolar Amerika untuk hutang bilateral/multilateral dan 972,2 trilyun rupiah untuk hutang obligasi.

(16)

seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia dan sejenisnya. Maka aksi PHK pun kian merebak.

Industri dan perdagangan, khususnya yang menyangkut produk ekspor, mengalami kelesuan fatal. Di sisi lain, cadangan devisa di Bank Indonesia pun kian menipis. Di saat inilah nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika, makin merosot tajam dari waktu ke waktu. Pada paruh pertengahan tahun 1998 misalnya, ketika nilai tukar rupiah mencapai 16 ribu rupiah per dolar AS menjadi puncak krisis ekonomi di Indonesia.

Keterpurukan ekonomi nasional

Tingginya demand dan rendahnya suplay, khususnya dalam hal pengadaan sembako dan kebutuhan hidup harian lainnya, menimbulkan kepanikan masyarakat. Biaya hidup menjadi mahal. Jika sebelumnya dengan uang sepuluhribu rupiah, masyarakat menengah bawah bisa dua sampai tiga kali belanja ke warung, maka sekarang dengan uang limapuluh ribu rupiah hanya bisa satu kali berbelanja ke warung untuk kebutuhan yang sama. Ya, bayangkan saja harga minyak goreng curah yang semula hanya tiga ribu rupiah per kilogramnya bisa melambung menjadi duabelas ribu rupiah per kilogramnya.

(17)

Kondisi perekonomian nasional semakin memburuk lagi, ketika IMF ( International Monetary Fund ) mengajukan usul 50 butir kesepakatan kepada Pemerintah R.I. untuk mengatasi krisis ekonomi nasional. Karena dari 50 butir kesepakatan yang diusulkan itu, ternyata sebagian besar menempatkan posisi Indonesia dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan bahkan makin melemahkan perekonomian nasional. Di antaranya dengan penghapusan subsidi BBM yang sekaligus memberi peluang masuknya modal perusahaan multinasional seperti Shell. Kemudian menekan kebijakan pemerintah untuk melakukan privatisasi BUMN seperti Indosat, Telkom, BNI, PT.Tambang Timah, PT.Aneka Tambang hingga Perusahaan Listrik Negara dan sebagainya,

Akhirnya untuk mengatasi perekonomian nasional yang kian terpuruk karena ketidak mampuan para pengusaha swasta nasional di hulu, Pemerintah pun menetapkan kebijakan yang sangat beresiko tinggi. Melalui Departemen Keuangan, Pemerintah me-likwidasi 15 bank swasta nasional yang sedang mengalami krisis keuangan. Masyarakat yang menjadi nasabah kelimabelas bank swasta nasional tersebut panik. Kepanikan pun menjalar. Banyak nasabah dari berbagai bank, swasta mau pun pemerintah, yang mulai menarik simpanannya. Rush terjadi dimana-mana.

Munculnya gerakan moral

Berawal dari krisis ekonomi tadi, gejolak sosial pun mulai muncul. Para pekerja mulai melakukan aksi unjuk rasa karena menjadi korban PHK dan perusahaan tidak mampu membayar pesangon mereka selayaknya ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku.

(18)

aksi protes mereka kepada Pemerintah. Sampai akhirnya, karena krisis yang sudah menjelma menjadi lingkaran setan itu, gelombang aksi protes kepada Pemerintah datang dari berbagai penjuru, semakin membesar dan meluas.

Dimulai dari aksi unjuk rasa di dalam kampus, berlanjut hingga ke luar kampus yaitu ke jalan dan ke tempat publik lainnya. Para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri mau pun swasta menggalang kekuatan bersama. Aksi unjuk rasa yang terorganisir makin meluas dan mengancam stabilitas keamanan nasional. Para investor asing semakin mencemaskan keadaan sosial dan politik di Indonesia, lalu memutuskan hengkang dari negeri ini. Demikian pula para nasabah bursa saham, melepas sahamnya dengan harga murah memilih mengalihkannya ke negara lain.

Indonesia semakin dilanda berbagai krisis. Krisis ekonomi, krisis politik dan krisis sosial Bahkan krisis kepercayaan dari dunia internasional. Banyak warga keturunan dan warga asing melakukan eksodus besar-besaran karena merasa di Indonesia sudah tidak aman lagi.

(19)

Pergantian kepemimpinan nasional

Dinamika sosial yang berlangsung saat itu, mencapai puncaknya pada tanggal 12 Mei 1998. Yaitu ketika 4 (empat) orang mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak peluru tajam yang entah dari mana asalnya. Massa mengamuk dan mulai bertindak anarkhis. Penjarahan terjadi di berbagai tempat. Pusat perbelanjaan Toko Yogya di kawasan Klender – Jakarta Timur terbakar dan meminta banyak korban jiwa. Demikian pula dengan pusat perbelanjaan di Glodok Plaza serta tempat-tempat publik lainnya. Massa yang datang bergelombang, makin mengamuk dan merusak berbagai fasilitas umum mau pun fasilitas sosial. Beberapa lokasi penting di sekitar kota Jakarta menjadi titik rawan aksi massa dan menjadi ajang konflik horizontal 1998, setelah gagal membentuk Dewan Reformasi, akhirnya Presiden Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya. Inilah puncak gejolak sosial yang berlangsung di masa proses reformasi tersebut. Kepimpinan nasional diganti oleh Wakil Presiden BJ.Habibie yang kemudian dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, menggantikan Presiden Soeharto yang mengundurkan diri.

(20)

ulang. Selain itu Presiden BJ Habibie juga merombak susunan kabinet yang baru satu tahun berselang dibentuk oleh Presiden Soeharto sebagai hasil PEMILU 1997.

Namun dari tanggal 23 Mei 1998 sampai bulan Mei1999, atau selama satu tahun Presiden BJ Habibie menjabat menggantikan Presiden Soeharto, ternyata ada beberapa masalah besar yang menyudutkan posisi Presiden BJ Habibie di masa pemerintahannya itu. Pertama, mengenai korupsi Dana BULOG yang menyeret Ir.Akbar Tanjung selaku Mensesneg dan Ketua Umum GOLKAR menjadi tahanan Kejaksaan Agung R.I. lalu yang ke dua, ialah lepasnya Propinsi Timor Timur yang kalah dalam jajak pendapat rakyat Timor Timur. Bahkan pada setahun masa pemerintahannya, Presiden BJ.Habibie juga melakukan pinjaman dana internasional yang cukup besar dibanding pinjaman di masa pemerintahan Presiden Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun. Maka karena sejumlah hal itu pula yang membuat Laporan Pertanggung Jawaban Presiden BJ. Habibie dikecam keras oleh anggota MPR/DPR R.I. hasil PEMILU 1999.

Kemelut politik era reformasi

Sidang MPR/DPR R.I. hasil PEMILU 1999, akhirnya memilih dan memutuskan Kyai Haji Abdurachman Wahid sebagai Presiden R.I. menggantikan Prof.DR.Ir BJ.Habibie, lalu Megawati Soekarnoputri ( Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ) sebagai Wakil Presiden R.I. Sementara Prof.DR.H.Amien Rais ( Ketua Partai Amanat Nasional ) menjadi Ketua MPR R.I. dan Haji Matori Abdul Djalil ( Ketua Partai Kebangkitan Bangsa) menjadi Ketua DPR R.I.

(21)

menjadi Presiden RI menggantikan Presiden BJ.Habibie, Gus Dur melikwidasi Departemen Penerangan dan Departemen Sosial. Kemudian menyusul PT Dirgantara Indonesia dan PT PAL. Padahal kedua perusahaan BUMN itu dibangun Presiden Soeharto pada masa pemerintahannya, sebagai perusahaan industri strategis.

Tindakan Gus Dur mendapat kecaman keras dari banyak pihak, termasuk dari lembaga legislatif. Demikian pula dengan kebijakan-kebijakannya yang lain, yang dinilai kontroversil dan menyimpang dari cita-cita serta tujuan reformasi.

Akhirnya konflik Gus Dur dengan lembaga legislatif mencapai puncaknya. Sidang Istimewa MPR RI memutuskan memberhentikan Gus Dur sebagai Presiden R.I. lantas melantik Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI dan Drs.H.Hamzah Haz( Partai Persatuan Pembangunan ) sebagai Wakil Presiden. Pada masa pemerintahannya itu, Departemen Penerangan yang telah dilikwidasi Gus Dur menjadi Badan Informasi dan Komunikasi Nasional ( BIKN ), dibentuk kembali dengan nama Kementerian Komunikasi dan Informasi. Departemen Sosial diselenggarakan kembali, demikian pula halnya dengan kegiatan PT. Dirgantara Indonesia serta PT.PAL, kembali diaktifkan namun disesuaikan dengan kapasitas dan kondisinya.

(22)

Babak transisi dari Orde Baru ke Orde Reformasi berakhir di sini. Pasangan SBY dan MJK yang diusung Partai Demokrat, yang dalam PEMILU 2004 masih berada pada peringkat ke tujuh, mampu mengusung pasangan tersebut menjadi Presiden serta Wakil Presiden R.I. Padahal PEMILU legislatif yang diselenggarakan sebelumnya, menempatkan Partai GOLKAR dan PDIP pada urutan pertama dan ke dua. Tetapi baik Partai GOLKAR mau pun PDIP tidak berhasil mengusung CAPRES dan CAWAPRESnya dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, yang baru pertama kali diselenggarakan di republik ini. Seiring itu pula dinamika politik nasional di Indonesia telah mengalami perubahan besar.

(23)

Kondisi Politik Nasional Paska Reformasi

Pembahasan tentang kondisi politik nasional paska reformasi dibatasi pada kurun waktu antara tahun 1999 sampai 2011. Dalam rentang waktu selama duabelas tahun itu, akan tergambarkan dengan jelas seperti apa kondisi politik nasional dan perbandingannya dengan kondisi sebelum reformasi atau pada masa Orde Baru.

Eforia reformasi politik

(24)

Demokrasi Indonesia sebagai hasil fusi partai-partai yang berhaluan nasionalis dan non muslim.

Namun pada masa eforia reformasi itu , terbentuk sebanyak 48 partai politik yang menjadi peserta PEMILU tahun 1999. Partai Demokrasi Indonesia yang mengalami perpecahan karena konflik antara kubu Drs.Suryadi dengan kubu Megawati Soekarnoputri yang akhirnya bermuara pada Peristiwa 27 Juli 1997 telah melahirkan tandingannya yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP ) yang dibentuk oleh Megawati Soekarnoputri bersama para pendukungnya. Di lain pihak, GOLKAR yang dipimpin oleh Ir.Akbar Tandjung mengubah formatnya dari organisasi massa menjadi organisasi politik dengan nama Partai GOLKAR sebagai perwujudanGOLKAR BARU. Partai Persatuan Pembangunan masih tetap dalam format sebelumnya walau sempat dilanda konflik kepemimpinan partai yaitu antara DJ Naro dengan KH.Ismail Hasan Mentarum. Sementara ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama melahirkan organisasi politik dengan nama Partai Kebangkitan Bangsa ( PKB ), demikian pula halnya dengan Muhammadiyah melahirkan organisasi politik dengan nama Partai Amanat Rakyat ( PAR ) lalu berganti nama menjadi Partai Amanat Nasional ( PAN ). Singkat kata, banyak sekali partai politik bermunculan. Bahkan partai-partai politik yang dimasa pemerintahan Presiden Soeharto telah difusikan, kini muncul kembali, memisahkan diri dari partai hasil fusi. Contohnya Partai Nasional Indonesia (PNI), memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia. Partai Syarekat Islam Indonesia memisahkan diri dari Partai Persatuan Pembangunan dan banyak lagi. Sungguh tahun yang disemaraki eforia reformasi.

(25)

Budiman Soedjatmiko. Pada awal reformasi ia menjadi aktifis yang diburu aparat keamanan karena sikap ideologinya yang kekiri-kirian, bersama sejumlah aktifis mahasiswa pendukungnya dengan persepsi ideologi yang sama. Bersamaan itu muncul pula Partai Keadilan (PK) yang selanjutnya menjadi Partai Keadilan Sejahtera ( PKS ). Partai politik yang dibentuk oleh para pemuda aktifis mesjid di kampus-kampus seluruh Indonesia itu, menampilkan para intelektual muda muslim yang kritis dan memiliki persepsi politik Islam yang modern tapi bukan sekular.

Partai politik di negara mana pun di belahan bumi ini, adalah suatu lembaga yang menjadi wadah penyalur aspirasi rakyat dalam kehidupan berdemokrasi, sekaligus sebagai “alat” untuk mencapai kekuasaan. Oleh karena itu, dalam suatu negara demokrasi, partai politik memiliki peranan yang sangat penting. Dan untuk membangun eksistensi suatu partai politik, dibutuhkan dukungan dari rakyat sebagai para konstituennya. Tanpa dukungan rakyat, partai politik tidak berarti apa-apa. Sedangkan dukungan rakyat akan berhasil diperoleh oleh partai politik, melalui mekanisme demokrasi yang bernama PEMILU.

PEMILU tahun 1999, ramai disemaraki kurang lebih 48 partai politik. Sangat berbeda jauh dengan PEMILU pada masa Orde Baru yang hanya diikuti oleh 2 (dua) partai politik dan 1 (satu) golongan karya.

(26)

memiliki hak pilih, seakan memang lebih percaya dan memilih GOLKAR sebagai wadah aspirasi politiknya saat itu.

Sedangkan pada PEMILU tahun 1999, jauh berbeda dengan PEMILU pada masa Orde Baru. Ada 48 partai politik ikut ajang PEMILU untuk memperebutkan kursi di legislatif. Maka tidak salah tentunya, jika pertarungan demokrasi politik dalam PEMILU 1999 itu disebut sebagai “perang” antar partai politik. Di sisi lain, eforia reformasi masih kental mewarnai dinamika politik nasional saat itu.

Masyarakat memang sedang merasakan kebebasan berdemokrasi. Kebebasan yang tidak dialami di masa Orde Baru. Tetapi disadari atau tidak disadari, kebebasan itu menjadi kebablasan. Etika berkampanye mulai diabaikan. Antar kader dan jurkam dari masing-masing partai politik peserta PEMILU, mulai tidak segan atau tidak sungkan mengecam dan memburuk-burukkan lawan politiknya dengan berbagai pernyataan kepada publik umum. Mungkin itu yang disebut sebagai “perang syaraf” ( phsywar ) dalam peperangan demokrasi politik era reformasi.

Akhirnya PEMILU 1999 dimenangkan oleh PDIP yang menempati urutan teratas yaitu memperoleh 33,7% suara pemilih, kemudian Partai GOLKAR menempati urutan ke dua dengan perolehan suara sebanyak 22,3 %, PKB menempati urutan ke tiga dengan perolehan suara sebanyak 12,6%, menyusul PPP di urutan ke empat dengan perolehan suara 10,7% dan PAN pada urutan ke lima dengan jumlah suara sebanyak 7,2%. Itulah lima partai besar dalam PEMILU 1999.

(27)

suara sebanyak 22,3%, Masyumi 20,9%, Nahdlatul Ulama 18,4% dan Partai Komunis Indonesia 15,4%. Maka baik pada PEMILU 1955 yang diikuti 172 partai, dan PEMILU 1999 yang diikuti oleh 48 partai, tidak ada partai yang menunjukkan kemenangan meyakinkan. Karena pada umumnya, perolehan suara masih di bawah 50%. Jika menurut kalkulasi politik, hasil PEMILU 1999 itu menjadi fenomena kondisi politik yang kurang positif.

Kendati PDIP merupakan partai pemenang PEMILU 1999, namun pada saat diselenggarakan sidang paripurna MPR/DPR R.I. memilih Presiden dan Wakil Presiden R.I., ternyata PDIP tidak mampu mengusung Ketua Umumnya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden R.I. Bahkan yang mendapat dukungan suara lebih banyak adalah K.H.Abdurahman Wahid yang di lembaga legislatif saat itu duduk di Fraksi Utusan Golongan.

Konspirasi di legislatif

Kekalahan PDIP dalam sidang paripurna tersebut, karena kecerdasan Prof.DR.Amien Rais yang memprakarsai penggalangan suara di legislatif melalui poros tengah, yaitu partai-partai peserta PEMILU 1999 di luar PDIP dan Partai GOLKAR, berkoalisi untuk mendukung KH.Abdurahman Wahid sebagai Presiden R.I. Koalisi partai di legislatif ini memang terbukti berhasil. Partai pemenang PEMILU yang memiliki jumlah kursi terbanyak di legislatif, tidak mampu mengusung Ketua Umumnya sebagai Presiden R.I.

(28)

Presiden R.I. mendampingi KH.Abdurahman Wahid. Begitulah yang terjadi dalam ajang demokrasi politik nasional saat itu.

Pada periode tahun 1999 sampai tahun 2004, dinamika politik nasional masih tetap hangat. Terlebih pada awal Gus Dur dilantik jadi Presiden R.I., kebijakan sang Kyai Presiden itu sering mendapat kritik dan cercaan dari para anggota legislatif. Sampai pada tahun 2001, situasi politik nasional berada di titik rawan dalam perseteruan antara Presiden Gus Dur dengan lembaga legislatif. Presiden Gus Dur mengancam akan melakukan dekrit pembubaran legislatif seperti yang pernah dilakukan Presiden Soekarno pada tanggal 5 Juli 1959, yaitu dekrit membubarkan konstituante. Namun lembaga legislatif tidak ambil peduli, bahkan akhirnya mereka melengserkan Presiden Gus Dur lalu menggantikannya dengan Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden R.I.

Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri berlangsung dari tahun 2001 sampai 2004. Selama rentang waktu tiga tahun itu, suhu politik nasional tidak sepanas seperti sebelumnya. Kecuali meningkatnya masalah korupsi di lingkungan pemerintahan dan legislatif , aksi teror, kenaikan BBM sampai tiga tahap, berlanjutnya konflik bersenjata di Aceh, konflik bersenjata di Papua dan semacamnya.

Korupsi, terorisme, dan bencana alam.

(29)

Dalam kegiatan kampanye PILPRES 2004, SBY dan MJK sama-sama mengangkat isyu akan memberantas korupsi sampai ke akar-akarnya. Untuk itu tidak ada pola tebang pilih, atau penindakan diskriminatif terhadap pemberantasan korupsi. Siapa pun yang memang terbukti bersalah, pasti ditindak tanpa kecuali. Hukum - demikian isyu yang disampaikan saat kampanye - akan menjadi Panglima Keadilan.

Demi mewujudkan janji kampanye tersebut, Presiden SBY dan wakilnya JK, mendukung dan memperkuat eksistensi KPK ( Komisi Pemberantasan Korupsi) suatu lembaga ad hoc yang dibentuk pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Satu demi satu para petinggi dari berbagai daerah seperti Bupati, Walikota dan Gubernur, mulai diajukan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi ( TIPIKOR ). Begitu pula halnya dengan para politisi yang terlibat konspirasi korupsi dengan pejabat pemerintah dan kalangan pengusaha, satu demi satu mulai dihadapkan ke Pengadilan TIPIKOR.

Namun demikian, ternyata “penyakit” korupsi belum bisa diberantas habis seperti yang dijanjikan dalam isyu kampanye. Tidak sedikit pihak LSM ( Lembaga Swadaya Masyarakat ) dan pengamat yang menilai bahwa pihak KPK masih melakukan pola tebang pilih dalam melaksanakan perannya. Artinya masih ada tindak pidana korupsi yang jauh lebih besar dan sangat merugikan negara, tapi justru belum disentuh oleh lembaga KPK tersebut. Mungkin karena pengaruh tekanan pihak-pihak yang berkuasa, atau memang lembaga tersebut tidak memiliki keberanian karena kesantunan adat Timur.

(30)

hukuman pidana, begitu juga halnya dengan para anggota legislatif terkait kasus tersebut juga dikenakan sanksi pidana yang tidak jauh berbeda.

Satu tahun berikutnya, tahun 2010, masalah korupsi yang menjadi sorotan publik ialah kasus pengadaan alat komunikasi di Kementerian Kehutanan R.I. yang mengusung nama Anggoro, pemilik perusahaan PT.MASARO sebagai pengusaha yang memenangkan tender tidak sah di kementerian tersebut. Mencuatnya kasus itu karena terungkapnya upaya Anggodo, adik Anggoro, yang melakukan perbuatan “makelar kasus” yaitu berupa percobaan penyuapan terhadap pimpinan KPK. Bahkan pada penghujung tahun 2010, masyarakat kembali dihebohkan dengan kasus korupsi di Bank Century serta perbuatan korupsi yang dilakukan oleh pegawai Ditjen Pajak yaitu Gayus Tambunan. Hingga awal tahun 2011 ini, semua kasus tersebut belum kunjung tuntas. Proses penyidikan masalah kasus-kasus korupsi itu, tidak lagi semata-mata menjadi fokus ranah hukum tetapi juga sudah menjadi masalah politik.

Pada awal bulan April 2011, tiba-tiba mencuat kasus penggelapan dana nasabah Citibank yang dilakukan oleh Inonk Melinda Dee, supervisi manager gold card Citibank.

(31)

dari tahun 2001 hingga tahun 2011 ini, aksi teror yang meresahkan masyarakat tidak kunjung berhenti. Karena kegiatan terorisme yang melakukan aksi peledakan bom dan meminta banyak korban luka mau pun tewas, terus saja terjadi.

Nama DR.Azahari, Noordin M Top, Dul Matin, Hambali, Al-Faruq, Imam Samudra, Amrouzi, Ali Imron, Abu Dujana dan sebagainya menjadi nama-nama yang dikaitkan dengan aksi-aksi teror tersebut. Bahkan belakangan ini nama Uztad Haji Abu Bakar Ba’asyir juga mencuat menjadi tersangka yang mendukung dan merencanakan berbagai aksi terorisme itu. Khususnya dalam hal pendanaan pelatihan teroris di Aceh Besar.

Terlepas dari masalah ideologi yang menjadi latarbelakang aksi terorisme itu, namun yang terang aksi-aksi teror tersebut sangat memberi pengaruh besar terhadap kondisi politik nasional pada paska reformasi. Karena upaya-upaya aksi teror yang bertujuan menimbulkan keresahan dan kepanikan masyarakat, telah berhasil mengganggu stabilitas keamanan mau pun ketahanan nasional. Sehingga pada akhirnya masalah terorisme itu pun menjadi bahasan ranah politik di lembaga legislatif atau pun lembaga-lembaga partai politik. Khususnya ketika membahas masalah anggaran pembiayaan penanggulangan masalah terorisme itu.

(32)

Selain masalah korupsi dan terorisme, ternyata musibah bencana alam juga terus beruntun melanda negeri ini, menambah daftar panjang pengaruh terhadap kondisi politik nasional di paska reformasi. Bencana Tsunami di Propinsi Daerah Istimewa Aceh Nanggro Darussalam, gempa bumi di berbagai daerah yang menelan korban nyawa dan kerugian material cukup besar. Misalnya gempa bumi di Sumatera Barat, banjir bandang di Wasior, tanah longsor, letusan gunung api, semua menjadi rangkaian bencana yang terus-menerus terjadi sepanjang tahun 2004 sampai 2010.

Berbagai musibah bencana alam yang melanda negeri ini, merupakan pengaruh dari perubahan iklim global yang menjadi perhatian di seluruh dunia. Yaitu terjadinya peningkatan pemanasan global akibat terjadinya kebocoran di lapisan ozon, membuat lapisan es di Kutub Utara mencair dan menimbulkan perubahan iklim di bumi. Kondisi demikian disebut sebagai pemanasan global ( global warming ).

Perubahan iklim yang mempengaruhi kondisi bumi, juga terasa pengaruhnya di Indonesia. Selain bencana alam yang terus menerus terjadi, gangguan terhadap kelangsungan pertanian dan peternakan juga menjadi masalah yang serius. Sehingga mempengaruhi produksi pangan dan ketahanan pangan nasional. Harga-harga bahan pangan di pasar-pasar di seluruh Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Harga cabai misalnya, bisa mencapai 50 ribu hingga 90 ribu rupiah per kilogramnya. Demikian pula dengan harga beras terendah, mencapai 7.500 rupiah per kilogramnya. Harga daging ayam, daging sapi, ikan tawar mau pun ikan laut, juga mengalami kenaikan yang mengejutkan.

(33)

masalah-masalah ekonomi, juga para pelaku ekonomi tentunya, saling berpolemik tentang kondisi sosial dan ekonomi yang dilanda pengaruh perubahan iklim global itu.

Maka setelah mencermati uraian tadi, akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa kondisi politik nasional paska reformasi berlangsung dinamis dan senantiasa diwarnai konflik di tingkat elit. Sementara di sisi lain, aktifitas terorisme dan berbagai kejahatan lintas negara lainnya, terus saja terjadi menimbulkan keresahan dan ketakutan di masyarakat. Indonesia memang masih gelisah….***

Islam Radikal dan Terorisme

Tanggal 20 Oktober 2004. Jenderal TNI Purnawirawan DR. Haji Soesilo Bambang Yudhoyono dan Drs. Haji Muhammad Jusuf Kalla, baru saja dilantik oleh Ketua MPR.R.I. Drs.Haji Hidayat Nur Wahid, menjadi Presiden dan Wakil Presiden R.I. hasil PILPRES langsung tahun 2004 yang baru pertama kali diselenggarakan di Indonesia. Dan selang beberapa bulan kemudian, DR.Azahari – gembong teroris yang paling dicari di republik ini – tewas dalam suatu baku tembak dengan aparat Kepolisian R.I. di Kota Batu – Malang, Jawa Timur. Petualangan warga Malaysia itu berakhir tragis. Namun demikian, meskipun sang gembong telah tewas, aksi terorisme masih saja terus berlangsung hampir di setiap tahun.

(34)

muncul pula fenomena kekerasan yang meng-atasnamakan agama. Dimulai dari bulan Agustus 2001, terjadi ledakan bom berdaya ledak besar di depan rumah Duta Besar Filipina. Kemudian menyusul ledakan bom di Gereja Kathedral – Jakarta, persis di saat malam Natal ketika para umat Katolik sedang melaksanakan ibadahnya. Begitulah seterusnya, bom berdaya ledak besar meletus di berbagai tempat. Di Bali, Jakarta, Makassar dan sebagainya. Menurut data yang ada, tercatat sejak tahun 1998 sampai tahun 2004 sudah terjadi 61 kasus ledakan bom teroris di Indonesia.

Masyarakat yang tidak bersalah dan tidak tahu menahu dengan ideologi radikal, terpaksa menjadi korban. Ada yang tewas, luka parah, cacat seumur hidup, dan sebagainya. Perjuangan mengatas-namakan agama, dengan kekerasan yang sulit dimaafkan, menumbuhkan keresahan di segenap warga bangsa ini.

(35)

Indonesia dikenal sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia.

Dalam suatu acara talkshow di stasiun televisi swasta, KH.Said Agil Syirad, Ketua PB.Nahdlatul Ulama ( NU ) meyitir tentang isi dan makna Piagam Madinah di masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Piagam tersebut mencerminkan sikap moderat kepemimpinan Nabi Muhammad SAW terhadap kehidupan masyarakat yang demokratis, dan upaya menciptakan tata nilai yang damai atau darussalam menghindari pertikaian mau pun kekerasan dalam perbedaan. Pada saat yang bersamaan di dalam acara talkshow tersebut, Prof.DR.H.Syafi’i Ma’arief, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, membenarkan penjelasan KH.Said Agil Syirad dengan mempertegas kesamaan nilai antara Piagam Madinah dan Pancasila yang digagas Bung Karno. Boleh jadi, dengan perkataan lain, Bung Karno menggagas dasar negara Republik Indonesia yaitu Pancasila, justru bersumber dari Piagam Madinah tersebut.

Namun pada tahun 1980-an, wajah Islam di Indonesia mulai mengalami perubahan yang terus berlanjut. Jika semula Islam merupakan agama yang kompromi kepada budaya lokal sehingga menghasilkan budaya Islam Abangan, pada era 1980-an itu mulai berubah d1980-an menjelma menjadi Islam y1980-ang taat. Islam yang berpijak kepada syari’at. Para cendekiawan muslim dari kalangan akademisi di Indonesa, mulai menegakkan Islam yang modern dan taat pada ajarannya yang sangat rasional. Maka seiring itu pula sikap kompromi kepada budaya lokal pun mulai mengalami perubahan demi perubahan.

Proses berkembangnya gerakan Islam radikal

(36)

pandangan yang rasional. Visi itu diterapkan dalam berbagai kegiatan ceramah agama di mesjid-mesjid, di kelompok-kelompok pengajian, penerbitan buku-buku Islami dan sebagainya. Sehingga secara luwes pula, penerapan nilai-nilai ajaran Islam pun mulai bergeser menjadi lebih rasional dan menyesuaikan diri dengan perspektif modernitas zaman namun tetap dalam koridor syari’at.

Tetapi pada sisi lain, seiring upaya mengubah visi dari pandangan yang tradisional menjadi lebih modern dan rasional, muncul pula gerakan Islam yang membawa paham radikal. Yaitu Islam dengan pengamalan ajarannya yang absolut dan kaku, atau disebut juga sebagai Islam fundamentalis. Sehingga untuk menegakkan sikap fundamentalis itu - jika perlu - harus dengan menggunakan kekerasan yang ekstrim. Maka, mau atau tidak mau, pandangan yang absolut dan radikalis itu akhirnya dapat mengerdilkan nilai asasi dari Islam itu sendiri. Islam selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu bersikap egaliter, pluralis dan melarang penggunaan cara-cara kekerasan.

Gerakan Islam radikal itu mulai muncul sejak awal kemerdekaan Republik Indonesia. Yaitu ketika Presiden Soekarno mengumumkan dekrit pembubaran konstituante pada tanggal 5 Juli 1959 dan kembali kepada prinsip Undang-Undang Dasar 1945. Kebijaksanaan Presiden Soekarno saat itu dinilai mengabaikan usulan Piagam Jakarta yang menegaskan Islam sebagai agama resmi negara, dan syarat menjadi Presiden RI haruslah seorang muslim serta kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi semua pemeluknya.

(37)

dalam TNI harus memenuhi persyaratan-persyaratan baku yang telah ditetapkan. Maka kebijakan rasionalisasi militer itu pun menyebabkan sebanyak 300.000 orang milisi Hizbullah di Jawa Barat yang dipimpin Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo terpaksa kehilangan eksistensinya, demikian pula milisi Hizbullah di daerah-daerah lainnya di Indonesia juga mengalami kekecewaan yang sama. Para anggota milisi yang tidak mampu memenuhi persyaratan baku, meskipun dikenal berani dan sangat berjasa dalam bertempur melawan penjajah, terpaksa tidak bisa disertakan bergabung dalam TNI.

Puncak kekecewaan itu pun akhirnya mendorong SM. Kartosuwiryo menyatakan sikap protes dengan memproklamirkan terbentuknya Darul Islam atau Negara Islam Indonesia dan Tentara Islam Indonesia ( DI/TII) di Jawa Barat pada bulan Agustus 1949.

(38)

Sembilan tahun kemudian, atau persisnya di tahun 1940, bersamaan awal pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II, SM Kartosuwiryo memanfaatkan peluang “saudara tua” yang diisyukan tentara Jepang dalam awal pendudukannya di Jawa Barat. Maka dengan menawarkan dua alasan ; agama dan politis, SM Kartosuwiryo meminta kesediaan pasukan Jepang memberi pelatihan militer bagi kaum Islam militan yang menjadi pengikutnya. Sementara itu pimpinan Pasukan Jepang menyetujui permohonan tersebut dengan alasan, sebagai pendekatan kepada kaum muslim di Jawa Barat sekaligus membangun dukungan kekuatan pertahanan dalam menghadapi serangan Sekutu. Proyek win-win solution itu pun terlaksana.

Ketika Perang Dunia II berakhir dan pertempuran melawan Belanda akan dimulai lagi, para pengikut Kartosuwiryo telah memiliki kekuatan bersenjata yang tersebar di seluruh pelosok Jawa Barat. Sehingga selama perang kemerdekaan itu, pasukan Kartosuwiryo yang menamakan dirinya : Laskar Hizbullah, kerap terlibat pertempuran sengit melawan pihak penjajah. Mereka membentuk aliansi bebas dengan para gerilyawan nasionalis yang kemudian membentuk pasukan TNI dengan nama Divisi Siliwangi. Namun kedua pihak itu tidak pernah lupa, bahwa kerjasama tersebut merupakan kerjasama yang saling membutuhkan tapi memiliki kepentingan yang berbeda. Maksudnya jika pihak gerilyawan nasionalis bertempur demi tujuan kemerdekaan membentuk negara sekuler, sementara pejuang agama yang dipimpin Kartosuwiryo bertempur untuk nantinya membentuk suatu negara non sekuler yang berlandaskan hukum Islam.

(39)

Berikutnya pada tanggal 7 Agustus 1953, milisi Hizbullah di Sulawesi Selatan menyatakan bergabung ke dalam DI/TII, kemudian pada tanggal 21 September 1953 milisi Hizbullah di Aceh menyusul ikut bergabung dengan DI/TII. Selanjutnya, lima tahun berikutnya atau persisnya di tahun 1958, muncul pula gerakan pemberontakan bersenjata di Sumatera Barat dengan nama Pemerintahan Revolusioner R.I. (PRRI) dan pemberontakan bersenjata di Sulawesi Utara dengan nama Piagam Perjuangan Semesta ( PERMESTA ). Pemberontakan bersenjata pun dimulai. Di balik perlawanan bersenjata itu, ternyata CIA ( Central Intelegent of America ) ikut ambil peran mendukung para pemberontak yaitu dengan memberi bantuan persenjataan, dana, serta pelatihan para militer. Ambil peran itu karena Pemerintah Amerika Serikat tidak menyukai gaya politik Presiden Soekarno yang tidak sepenuhnya bisa berkompromi dengan Pemerintah Amerika Serikat. Akhirnya tak terhindarkan lagi, Indonesia yang baru merdeka itu, sudah harus mengalami perang saudara.

Tanggal 4 Juni 1962, SM Kartosuwiryo berhasil ditangkap oleh pasukan Siliwangi. Namun ternyata, walau pada akhirnya Pemerintah RI berhasil menewaskan para pimpinan DI/TII dan memenjarakan para pengikutnya. Sisa-sisa gerakan tersebut bagai api dalam sekam.

(40)

yang bersifat non struktural. Kepemimpinan gerakan tersebut dilaksanakan secara kolegial oleh Kadar Shalihat dan Djadja Sudjadi, dua tokoh mantan petinggi DI/TII. Didukung oleh menumbuhkan inspirasi tersendiri bagi kalangan intelijen Pemerintah Orde Baru yang saat itu sedang gencar-gencarnya membasmi kaum komunis berserta semua jaringan organisasinya di Indonesia. Yaitu dengan memanfaatkan atau mengekploitasi para mantan DI/TII yang sedang membangun gerakan baru untuk menjadi “alat” membasmi kaum komunis. Maka pendekatan intelijen kepada para mantan DI/TII itu pun dimulai.

Produk intelijen pemerintah orde baru

Dengan reputasinya sebagai seseorang yang terbiasa berpikir dan bersikap kontroversil, May.Jend.TNI Ali Moertopo yang pada awal 1965 menjabat sebagai Komandan Divisi Opsus ( Operasi Khusus ) BAKIN ( Badan Koordinasi Intelijen Negara ), segera melakukan pendekatan dengan para mantan DI/TII yang sedang memulai gerakan baru. Orang pertama yang didekati adalah Danu Muhammad Hasan. Seorang eksponen DI/TII yang bersikap moderat dan terlihat mudah didekati. Ternyata upaya awal itu berhasil. Danu Muhammad Hasan membuka diri terhadap pendekatan Opsus, sekaligus menyatakan kesediaannya untuk membantu mendistribusi informasi tentang gerakan baru NII ini.

(41)

almarhum ayahnya. Dalam pertemuan tersebut disepakati untuk menghidupkan kembali visi Darul Islam demi mewujudkan Indonesia sebagai negara non sekuler dan hanya berdasarkan hukum Islam. Saat itulah terbentuk organisasi baru dari sejumlah mantan DI/TII dengan nama : Komando Jihad.

Jika NII Fillah menjadi manifestasi kebangkitan gerakan DI/TII yang baru dengan meninggalkan karakter militeristik dan non struktural karena lebih berfungsi menggerakan kaum ulama Darul Islam, Komando Jihad mengambil langkah strategi yang berbeda. Organisasi Komando Jihad justru masih bertumpu pada karakter militeristik dan akan mengedepankan gerakan perjuangan yang bersifat militer. Sebagai Ketua Komando Jihad dipercayakan kepada Adah Djaelani mantan “tangan kanan” SM Kartosuwiryo.

Dalam konsep gerakannya, Komando Jihad membagi 7 (tujuh) wilayah perjuangan yang menyerupai struktur organisasi Darul Islam sebelumnya. Dari tujuh wilayah komando tersebut, yang terpenting justru wilayah komando 3 di Jawa Barat yang kepemimpinannya dipercayakan kepada Danu Muhammad Hasan yang telah lama menjadi informan Opsus.

(42)

Pendekatan Letkol Pitut membuahkan keberhasilan. Dengan menawarkan konsensus sebagai agen pendistribusian minyak tanah dan sembako kepada para petinggi DI/TII tersebut, para pimpinan Komando Jihad bersedia membantu memperjuangkan pemenangan GOLKAR dalam PEMILU 1971. Sejak itu pula Komando Jihad menjadi binaan team opsus Orde Baru. Tidak saja digunakan untuk penggalangan massa demi pemenangan GOLKAR dalam PEMILU demi PEMILU, tetapi juga untuk menjadi “alat” menumpas sisa-sisa kelompok komunis dan jaringan organisasi bawah tanahnya di seluruh Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sementara pada saat yang sama, yaitu di tahun 1971-1973, Ali Moertopo juga “menggarap” kelompok Islam Jama’ah yang dipimpin oleh Nurhasan al-Ubaidah.

Kelompok NII Fillah juga berhasil didekati, dibentuk menjadi LEMKARI ( Lembaga Karyawan Islam Indonesia ) sebagai salah satu organisasi sayap GOLKAR. Selanjutnya LEMKARI berubah nama menjadi LDII ( Lembaga Dakwah Islam Indonesia ) sampai sekarang.

(43)

Namun paska berakhirnya Orde Baru, terlebih setelah wafatnya Ali Moertopo, gerakan-gerakan binaan tersebut menjadi kehilangan kendali. Pertama, karena sudah terlalu lama terputusnya komunikasi regular antara pihak intelijen pemerintah dengan mereka. Ke dua, bergulirnya reformasi yang membawa perubahan politik di Indonesia, termasuk perubahan dalam pola pembinaan sistem keamanan nasional.

Di balik aksi teror bom

Teror bom yang terjadi di Jakarta, Bali, Bandung dan Makassar sejak tahun 2001, bisa diindikasi sebagai kebangkitan gerakan Neo NII yang memiliki jaringan internasional. Misalnya dengan organisasi Al Qaeda yang menjadi musuh nomor satu Pemerintah AS beserta sekutunya.

Namun di sisi lain, perlu juga dicurigai bahwa aksi teror yang terjadi pada paska reformasi ini, tidak semata-mata berhubungan dengan kebangkitan gerakan Neo NII. Artinya, bisa saja aksi-aksi teror tersebut dicurigai sebagai rangkaian “serangan musuh” dari luar yang menyusup dan mampu menembus pertahanan nasional . Kemudian menggunakan dan menggerakan berbagai kelompok Islam radikal untuk melakukan rangkaian kegiatan terorisme. Yaitu targetnya menimbulkan kepanikan, kecemasan masyarakat, melumpuhkan kegiatan perekonomian, menciptakan polemik di kalangan elit politik dan pemerintah, atau menerbitkan citra buruk kondisi keamanan Indonesia di mata dunia internasional, serta masih banyak kemungkinan lainnya. Singkat kata, target utamanya adalah melumpuhkan sistem keamanan dan pertahanan nasional serta memporak porandakan kedaulatan NKRI.

(44)

Jakarta dan daerah-daerah lainnya. Meskipun sejumlah pimpinan teroris itu sudah tertangkap, bahkan sudah ada yang dieksekusi mati, namun kegiatan tersebut masih saja terus berlangsung. Artinya, di kalangan jaringan teroris itu selalu ada regenerasi ( kaderisasi ) dan selalu ada aliran dana yang membiayai mereka.

Pertanyaannya sekarang, siapakah yang berada di belakang aksi terorisme itu ? Apakah musuh dari luar atau justru musuh dari dalam negeri sendiri ? Pertanyaan itu memang harus dijawab oleh pengelola keamanan negeri ini, khususnya lagi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT ) dan pihak Kepolisian RI, terutamanya lagi DENSUS 88.

Sejumlah pengamat intelijen dan pengamat terorisme yang kerap menjadi narasumber dalam acara talkshow televisi, berpendapat bahwa gerakan terorisme yang berlangsung selama ini merupakan gerakan yang terpisah-pisah dan tidak memiliki hubungan organisasi antara satu dan lainnya, namun memiliki tujuan ideologi yang sama yaitu membentuk negara dengan pemerintahan non sekuler. Artinya, gerakan-gerakan itu, meskipun terpisah-pisah, adalah pergerakan kaum Islam radikal. Namun apakah semua itu murni sebagai gerakan kaum Islam radikal yang memperjuangkan ideologi mendirikan negara non sekuler ?

(45)

Masih banyak hal yang menjadi pertanyaan, dan pasti akan sulit mencari jawaban kebenarannya. Satu contoh lain yang menjadi keunikan misterius, ialah ketika setiap kali tim DENSUS 88 melakukan penggeledahan di tempat-tempat persembunyian para teroris itu. Pasti selalu ditemukan sejumlah VCD tentang doktrin Islam radikal, buku-buku mengenai ke-Islam-an atau musuh-musuh Islam, amunisi atau senjata api serta dokumen-dokumen lain yang juga nyaris sama. Dan selalu pula, kegiatan kelompok-kelompok teroris tersebut terkait dengan kegiatan kelompok pengajian, kelompok aktifis mesjid atau semacamnya.

Maka kembali kepada pertanyaan tadi, apakah kesamaan itu karena bersumber pada satu hal, atau karena memang kebetulan ada kesamaan ? Analisa yang lebih tajam, akan saya sampaikan pada bagian akhir dari buku ini.

(46)

(47)

Ibnu Hajar, tokoh DII/TII saat akan diadili oleh

(48)
(49)

Gerakan Komunisme

Komunisme ( communism ) dalam arti luas adalah suatu teori atau sistem organisasi yang berdasarkan pada kepemilikan bersama atas harta kekayan, serta alat-alat produksi. Dalam arti yang lebih spesifik, merujuk kepada seperangkat doktrin bagi gerakan revolusioner yang bertujuan menghapuskan kapitalisme. Karena menurut pandangan komunis, semua harta benda dimiliki bersama dan segala aktifitas ekonomi direncanakan serta dikontrol bersama.

Istilah komunisme pertama kali dilontarkan oleh Etienne Cabet pada tahun 1848, paska revolusi Perancis. Istilah tersebut diperkenalkan melalui bukunya yang berjudul “Voyage en Icarie”. Yaitu menawarkan gagasan tentang komunisme damai ( peaceful communism ) yang sudah ada sejak masa kekaisaran Yunani-Romawi. Maka pada abad 17 sampai abad 18 berkembang pemikiran tentang masyarakat ideal yang merata, tidak mengenal kemiskinan dan hidup dalam kedamaian. Pemikiran tersebut kemudian dikenal sebagai pemikiran sosialis utopis karena tidak pernah terwujud.

(50)

Menyadari mimpi menciptakan masyarakat yang hidup dalam pemerataan ekonomi itu telah gagal diwujudkan, munculah gagasan baru yang disebut komunisme revolusioner ( revolutionary communism ). Pencetusnya adalah Gracchus ( Francois Noel ) Babeuf. Pria ini memimpin perlawanan terhadap Direktori Prancis ( French Directory ) pada tahun 1796, namun gagal hingga setahun setelah itu hidupnya berakhir tragis di guillotine.

Masih belum jera, upaya Babeuf dilanjutkan kembali oleh Auguste Blanqui di antara tahun 1836 – 1839 dengan membentuk masyarakat rahasia Paris ( secret society of Paris ). Di dalam kelompok rahasia inilah istilah komunisme mulai diperkenalkan dan dipopulerkan. Blanqui berpendapat, kelas pekerja harus mengorganisir kekuatan untuk membentuk kediktatoran. Tujuannya adalah me-reorganisasi Prancis berbasis kaum republik dan komunis. Tapi seperti pada pendahulunya, upaya Blanqui belum juga mencapai hasil.

Teori komunisme modern dirumuskan oleh Karl Marx dan sahabatnya Friedrich Engels. Dari pemikiran kedua orang tersebut, gerakan komunis menemukan landasan ideologi yang saintifik dan rasional. Maka wajarlah jika kemudian ajaran Karl Marx dan Engels disebut sebagai sosialisme ilmiah yang membedakannya dari sosialisme barat serta sosialisme utopis.

Kolaborasi Karl Marx dan Friedrich Engels melahirkan sejumlah karya tulis terkenal dan menjadi rujukan gerakan komunis internasional yaitu The Communist Manifesto ( 1848 ), Class Struggle in France ( 1850 ), Das Kapital ( 1867 ), The Civil War in France ( 1871 ) dan Critique of the Gotha Programme ( 1875 ).

(51)

pemikiran utama yaitu Filsafat Jerman ( Hegel ), Sosialisme Utopia Prancis dan Teori Ekonomi Klasik Inggris. Dalam karyanya yang berjudul Economic and Philosophical Manuscript, Karl Marx sudah memperkenalkan teori tentang alienasi individu. Bahwa sistem kelas dan ekploitasi kelas bawah ( lower class) yang dilakukan oleh kelas atas ( upper class ), telah mengasingkan individu manusia dari asal-usul sejatinya.

Dalam sistem kapitalisme - menurut Karl Marx – para individu buruh menjadi terpisah serta tidak selaras dengan diri mereka sendiri. Keluarga, teman dan pekerjaan mereka. Contohnya, buruh menjual kekuatan berupa tenaga, keahlian dan waktunya, kepada sang majikan yang mengekploitasinya. Oleh sebab itu, buruh sebagai indvidu tidak lagi memiliki dirinya secara utuh dalam melaksanakan pekerjaan dari sang majikan. Karena ia telah “menjual” individunya sebagai pekerja pada sang majikan. Artinya, jika sang majikan berkata ; “Anda saya bayar untuk pekerjaan itu !” maka makna dari ucapan tersebut menempatkan bahwa diri individu sang buruh telah “dibeli” oleh sang majikan untuk pekerjaan yang ditetapkannya.

(52)

benda. Manusia harus hidup dulu baru berpikir. Oleh sebab itu, Karl Marx berpendapat, bukan pikiran atau cita-cita yang mengubah sejarah melainkan cara berproduksi.

Latarbelakang lahirnya paham komunis di Indonesia

Ideologi komunis mulai berakar di Indonesia sejak akhir abad 19, yaitu ketika datangnya para tokoh komunis Belanda seperti Hendrick Sneevliet, J.A.Bransteder, Ir.A.Baars, DR.Rinkers, C.Hartogh dan lainnya. Para tokoh komunis Belanda itu memperkenalkan ajaran Karl Marx melalui berbagai media massa yang terbit di Hindia Belanda masa itu. Hingga pada tahun 1924, ideologi komunis melembaga dalam bentuk Partai Komunis Indonesia ( PKI ).

Pada tahun 1926, organisasi PKI telah melakukan aksi boikot dalam pemberontakan buruh perkebunan yang dikenal dengan sebutan Peristiwa Afdeling B di Garut – Jawa Barat. Menyusul pemberontakan boikot para buruh keretaapi di Semarang – Jawa Tengah, pemberontakan boikot buruh perkebunan karet di Sumatera Utara dan seterusnya.

Selama berkiprah di Hindia Belanda, tokoh-tokoh komunis Belanda itu telah berhasil mendidik kader dari beberapa akifis Syarekat Islam pimpinan HOS.Tjokroaminoto. Kader-kader itu antara lain adalah Semaun, Alimin, Darsono dan sebagainya. Beberapa di antaranya ada yang menjadi aktifis kader Comintern ( komunis internasional ), termasuk Tan Malaka tentunya. Hingga akhirnya, tiga tahun setelah proklamasi kemerdekaan R.I., atau persisnya di tahun 1948, PKI melancarkan aksi pemberontakan menentang pemerintahan Presiden Soekarno di Madiun.

(53)

pengusaha penjajah dengan buruh boemi poetra. Misalnya dalam hal pemberian upah kerja serta jaminan-jaminan sosial lainnya. Sehingga komunis menjadi suatu teori perjuangan bagi hak kaum buruh yang tertindas di masa itu.

TNI AD versus PKI

Namun pada tahun 1960-an, ketika komunis semakin melembaga sebagai organisasi politik dalam demokrasi Indonesia saat itu, tujuan ideologinya sudah berubah. Jika sebelumnya tujuan ideologi komunis adalah untuk membela hak kaum pekerja atau buruh, maka pada saat komunis menjadi organisasi politik, tujuannya adalah untuk memperoleh kekuasaan sama halnya dengan partai-partai politik lainnya. Hal itu terbukti dengan semakin kuatnya posisi Partai Komunis Indonesia pada PEMILU 1955 yang menempati urutan ke empat terbesar.

Menurut penuturan Jenderal TNI Yoga Sugama (sekarang alm), pada tahun 1960-1961 pengaruh PKI sudah menyusup ke dalam tubuh Angkatan Darat, khususnya di Teritorium IV ( KODAM VII – DIPONEGORO ). Sejumlah perwira menengah sudah terpengaruh, dan sudah menunjukkan sikap bertentangan dengan para perwira lain yang tidak setuju dengan PKI.

(54)

Empat tahun kemudian, Jenderal Yoga diangkat sebagai Kepala Intelijen Kostrad. Pada tahun yang sama Presiden Soekarno menyatakan, Indonesia keluar dari keanggotaan PBB karena pihak PBB menerima Malaysia menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.

Sikap Presiden Soekarno yang menentang kebijakan PBB menerima Malaysia yang masih menjadi jajahan Inggris, menjadi bagian dari Dewan Keamanan PBB, dinilai sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat merupakan sikap yang keliru dan membahayakan keadaan negara. Karena potensi berkonfrontasi dengan Malaysia sangat besar kemungkinannya akan terjadi. Padahal – menurut para petinggi TNI Angkatan Darat saat itu – Indonesia tidak perlu berkonfrontasi dengan Malaysia.

Sementara Presiden Soekarno disibukkan dengan ambisinya berkonfrontasi dengan Malaysia, tanpa disadari gerakan penyusupan PKI di lingkungan TNI dan Pemerintah, sudah semakin meluas dan kuat. Terlebih ketika diperoleh informasi, bahwa Asmu selaku Ketua Barisan Tani Indonesia ( BTI ) meminta senjata untuk para sukarelawan yang akan dikirim ke Malaysia. Permintaan tersebut sejalan dengan janji Pemerintah Cina yang akan menyumbangkan 100.000 pucuk senjata untuk para sukarelawan yang akan menyerbu Malaysia.

(55)

Maka kekuatan pengaruh PKI semakin meluas ketika terselenggaranya hubungan yang mesra antara PKI dengan BPI ( Badan Pusat Intelijen ) yang dipimpin langsung oleh Drs.Soebandrio, salah satu orang “dekat’ Presiden Soekarno. Agen-agen intel BPI dikerahkan untuk membantu mendistribusikan berbagai informasi yang terkait dengan konfrontasi terhadap Malaysia.

Sementara Presiden Soekarno masih sibuk dengan kemarahannya terhadap Amerika dan Inggris yang ditudingnya sebagai Nekolim yaitu Neo Kolonialisme dan Imperialisme. Ia juga menuding Malaysia sebagai antek nekolim. Permusuhan PKI dengan Angkatan Darat semakin meruncing pula. Sampai kemudian terdengar isyu adanya Dewan Jenderal yang akan mengambil alih kekuasaan pemerintahan sebagai manifestasi penolakan mereka terhadap Presiden Soekarno yang akan menyerang Malaysia.

Pada bulan Juli 1965, Presiden Soekarno beserta rombongan bertemu Perdana Menteri Cina Chou En Lai di Shangai. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan dibentuknya hubungan yang berporos Jakarta – Pnom Penh – Peking, serta rencana pelaksanaan pemberian bantuan senjata untuk Angkatan Ke Lima di Indonesia.

(56)

akan mengambil alih kekuasaan pemerintahan yang syah, lalu mengubah ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Pancasila menjadi negara komunis.

Seiring tumpasnya PKI beserta seluruh jaringannya di seluruh Indonesia, kepemimpinan nasional pun berganti. Presiden Soekarno dilengserkan pada tahun 1966, dan May.Jend.TNI. Soeharto tampil sebagai penggantinya. Orde Lama berganti dengan Orde Baru.

Gerakan kader komunis muda

Dra.Markonina Hartisekar dan Drs.Akrin Isjani Abadi, menulis dalam bukunya : Mewaspadai Kuda Troya Komunisme, bahwa perjuangan kaum komunis untuk mengubah dasar negara Indonesia dari Pancasila menjadi negara komunis, tIdak kunjung padam. Selama kurun waktu yang panjang, dari paska peristiwa Madiun tahun 1948, menyusul peristiwa-peristiwa lainnya hingga paska peristiwa tahun 1965, kaum komunis terus melaksanakan gerilya ( gerakan bawah tanah ) demi mencapai tujuan perjuangannya itu, ialah menegakkan ajaran komunis dan menentang kapitalisme.

Ada keunikan tersendiri bila mencermati proses perkembangan perjuangan ideologi di Indonesia ini. Misalnya, seperti disebut oleh sejumlah sumber referensi, pada dekade tahun 1980-an pengamalan ajaran Islam yang semula bersifat kompromi dengan budaya lokal, mulai mengalami perubahan.

(57)

radikal muncul dengan gaya dan tujuan perjuangan yang berbeda dengan Islam rasional.

Jika ajaran Islam rasional lebih menekankan kepada pengamalan ibadah yang rasional, serta keyakinan keimanan kepada Allah SWT dengan pemahaman serta pemujaan yang rasional. Maka pemahaman bagi gerakan Islam radikal di Indonesia, lebih menekankan kepada pembentukan negara non sekuler yaitu Negara Islam Indonesia dengan landasan penegakan syari’at Islam. Jika gerakan Islam rasional dilaksanakan secara persuasif dan intelektual, gerakan Islam radikal justru dengan aksi kekerasan dan terorisme.

Pada kurun waktu yang sama, yaitu dekade tahun 1980-an juga, gerak1980-an kaum komunis muda memulai keb1980-angkit1980-annya dengan aksi gerilya dan penyusupan ke berbagai lembaga sosial kemasyarakatan demi tujuan ideologinya. Selanjutnya melalui kelompok-kelompok lembaga sosial kemasyarakatan itu, kaum komunis muda melakukan provokasi dengan kegiatan unjuk rasa sebagai aksi protes kepada pemerintah. Misalnya unjuk rasa tentang masalah perburuhan, unjuk rasa atas pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup, pelanggaran hak azasi manusia ( HAM ) dan sebagainya. Bisa dalam bentuk unjuk rasa pengerahan massa yang persuasif kondusif, namun bisa pula dalam bentuk gerakan yang anarkhis.

(58)

Kembali menyitir pendapat Dra.Markonina Hartisekar dan Drs.Akrin Isjani Abadi yang menulis dalam bukunya : Mewaspadai Kuda Troya Komunisme, bahwa sejak tahun 1980-an yaitu dimasa jayanya Orde Baru hingga bergulirnya reformasi 1998, kaum komunis muda yang didukung oleh komunis senior eksponen Tapol PKI, di dalam negeri mau pun pada jaringan internasional, melakukan berbagai aktifitas pergerakan yang penuh dedikasi dan militansi terhadap ideologinya itu. Membentuk sel-sel perjuangan dengan melalui berbagai organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat, menyusup masuk ke dalam organisasi partai politik yang legal. Maka seperti halnya gerakan Islam radikal, gerakan kaum komunis muda ini juga memiliki berbagai agenda perjuangan demi mencapai tujuan perjuangannya.

(59)
(60)
(61)

(62)

(63)

Memahami Neo Liberalisme

Liberalisme adalah suatu paham kebebasan yang menjunjung hak kebebasan individu dalam mengekspresikan dirinya di segala kegiatan kehidupan. Paham tersebut menjadi ideologi di negara-negara kapitalis yang memiliki kemapanan ekonomi seperti di Eropa dan Amerika Serikat . Paham ini sangat bertentangan dengan paham sosialis yang sangat menjunjung hak dan kepentingan dalam kebersamaan suatu masyarakat.

Hukum dalam masyarakat liberal, berperan sebagai instrument yang mengatur tatanan individu dalam masyarakat. Artinya, bilamana ada pelanggaran atas hak individu, apa pun bentuknya, sanksi hukum yang diatur oleh undang-undang akan berlaku. Sedangkan di negara sosialis, hukum merupakan instrument yang mengatur tatanan masyarakat dalam kebersamaan. Sehingga bila terjadi pelanggaran atas hak dalam kebersamaan, maka sanksi hukum akan berlaku sesuai undang-undang yang ditetapkan. Perbedaan yang signifkan tentunya.

(64)

menganggap bahwa nilai-nilai itu menghadapi ancaman bukan saja oleh fasisme, komunisme dan kediktatoran, tetapi oleh segala bentuk campur tangan negara yang memakai idealisme kolektif untuk menekan kebebasan individu.

Neoliberalisme sering disamakan artinya dengan fundamentalisme pasar ( market fundamentalism ) yang menjadi istilah populer saat ini. Menjelaskannya tidak mudah, tetapi kalau ada kata lain yang bisa dipakai untuk menggantikannya agar mudah dipahami secepat kilat, maka pilihannya mungkin jatuh pada kata “kemerdekaan” atau “kebebasan” ( freedom ). Ada alasannya, karena Milton Friedman, penerima nobel tahun 1976 dan penulis buku “Capitalism and Freedom” yang dianggap sebagai penggagas ide-ide neoliberalisme, menjadikan freedom sebagai hal paling pokok dalam gagasan-gagasannya. Di buku tersebut, dia menandaskan bahwa kemerdekaan ekonomi adalah keharusan menuju kemerdekaan politik.

Tetapi freedom adalah kata yang juga bisa menimbulkan multi tafsir, yaitu tergantung siapa yang menafsirkan. Pada tahun 2005 misalnya, ada sekelompok kelas menengah terpelajar di Jakarta yang memanfaatkan ruang terbuka reformasi, yang dengan bebas memasang iklan mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, sebagai program di bawah payung neoliberalisme. Itu adalah freedom, sebagai contoh sederhana tentang kemerdekaan berpendapat dan tergantung siapa yang melakukannya.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan oleh laba perusahaan yang menurun dikarenakan muncul pesaing baru dan adanya biaya (beban pajak) yang harus dibayar perusahaan. Hasil perhitungan return

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEARAH NUSA TENGGARA BARAT RESOR LOMBOK TIMUR. DATA SOP INISIATIF BAESKRIM POLRI SATRESKRIM SEMESTER 2

[r]

Seperti halnya pada pengujian ALT, kadar kreatinin pada kelompok perlakuan memiliki pola yang relatif sama dengan kontrol (Gambar 4.F), sehingga dapat disimpulkan bahwa filtrat

Dalam perkuliahan ini dibahas konsep dasar tata rias wajah dan penampilan diri, pengetahuan, perawatan dan pemeliharaan jenis-jenis kulit muka dan jenis- jenis

Pengamatan terhadap guru yang dilakukan pada perencanaan siklus ke satu pertemuan ke satu ini: (1) Merumuskan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan dalam hal

Pengujian sistem dilakukan setelah aplikasi selesai dibuat. Pengujian sistem merupakan proses menjalankan dan mengevaluasi sebuah perangkat lunak. Pengujian yang

To provide graduates with contextual knowledge and technical skills in order to formulate fashion design.. solutions responsive