• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah etika Komunikasi Bisnis (12)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah etika Komunikasi Bisnis (12)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana persiapan presentasi bisnis dilakukan ? 2. Bagaimana cara pengembangan presentasi bisnis ? 3. Apa seni penyampaian dalam presentasi bisnis ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui persiapan presentasi bisnis

2. Untuk mengetahui cara pengembangan presentasi bisnis 3. Untuk mengetahui seni penyampaian dalam presentasi bisnis

(2)

PEMBAHASAN

2.1 Persiapan Presentasi

Persiapan untuk berbicara atau presentasi relative sama dengan persiapan dalam menyusun pesan terulis yang akan dikirimkan dengan audiens. Persiapan dimulai dengan menentukan tujuan penulisan pesan, analisis audiens, menentukan ide pokok, dan memilih saluran beserta medianya.

Media presentasi menggunakan saluran komuniskasi lisan. Mengingat bahwa pesan harus disampaikan secara lisan, maka perlu dipersiapkan beberapa teknik komunikasi khusus yang berbeda dengan komunikasi tertulis.

1. Menentukan tujuan

Di dalam bisnis secara umum, tujuan komunikasi bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu untuk memberikan informasi, untuk memengaruhi (persuasi) dan untuk memaksa atau memberikan instruksi. Masing-masing tujuan komunikasi diatas akan mendaji dasar dalam menentukan isi pesan, gaya presentasi, dan tingkat interaksi antara pembicara dengan audiens. Berukut adalah hubungan antara tingkat interaksi pembicara-audiens dengan tujuan presentasi.

a. Memberikan informasi

Salah satu tujuan komunikasi bisnis adalah memberikan informasi. Harapan dan pemberian informasi adalah pemberian umpan balik setelah informasi sampai pada orang yang dituju seperti yang diharapkan pembicara. Misalnya menimbulkan perubahan sikap, pendapat, perilaku, dan partisipasi.

Presentasi dengan tujuan memberikan informasi atau menganalisis situasi terjadi jika pembicara dengan audiens berinteraksi pada tingkat sedang. Biasanya, setelah presentasi berakhir atau pada saat presentasi berlangsung, audiens akan mengajukan beberapa komentar atau pertanyaan. Pembicara kemudian akan menanggapi komentar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan.

b. Memengaruhi (persuasive)

Asumsi dasar dalam proses memengaruhi/ membujuk adalah bahwa pembicara dan audiens dengan sengaja berkomunikasi untuk saling memengaruhi. Dalam hal ini, sikap, pendapat, perilaku, dan partisipasi dapat dipengaruhi.

(3)

c. Memberikan instruksi

Salah satu cara agar orang berubah seperti yang diinginkan adalah dengan memberikan instruksi. Pemberian instruksi hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki wewenang, seperti contoh Direktur Utama memberikan instruksi kepada Manajer bidang, Presiden yang memberikan instruksi kepada Menteri, dan Dosen memberikan istruksi kepada Mahasiswanya.

2. Menganalisis audiens

Secara umum, analisis audiens yang pertama kali dilakukan akan menyangkut latar belakang seperti pendidikan, usia, pekerjaan, pengalaman, hobi, dan lain-lain. Dari latar belakan tersebut dapat diketahui kebutuhan dan keinginan audiens. Pemahaman kebutuhan dan keinginan audiens selanjutnya akan digunakan untuk menentukan gaya atau pendekatan dan isis presesntasi yang tepat. Setelah ditentukan latar belakangnya, kemudian dianalisis ukuran atau jumlah, komposisi, dan reaksi.

Dalam suatu presentasi, jimlah audiens dapat hanya terdiri dari beberapa orang saja, puluhan orang dan bahkan ratusan. Presentasi dengan jumlah audiens yang berbeda menuntut penggunaan pendekatan yang berbeda. Pada presentasi dengan beberapa orang audiens dimungkinkan adanya diskusi, Tanya jawab, dan pengambilan kesimpulan secara bersama-sama. Namun, presentasi dengan audiens yang semakin banyak akan menyulitkan dilakukannya pendekatan seperti pada penjelasan diatas. Hal yang paling mengkin dilakukan adalah pendekatan satu arah, yaitu pembicara berbicara atau bercerita kepada audiens.

Hal terakhir dalam analisis audiens adalah bagaimana reaksi audies terhadap materi yang dipresentasikan. Secara umum, reaksi audiens bisa digolongkan menjadi tiga yaitu menolak, menerima, dan tidak bereaksi. Sebelum presentasi dimulai, pembicara harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ketiga kemungkinan reaksi audiens tersebut. Meskipun reaksi audiens dapat diperkirakan atau diprediksi sebelumnya, tetapi reaksi mereka atau sebagian dari mereka kadang-kadang tidak seperti yang diperkirakan. Oleh karena itu, pembicara harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ketiga kemungkinan tersebut.

Secara garis besar, persencanaan presentasi sama dengan perencanaan dalam pesan tertulis. Dimulai dengan menentukan idea tau pokok, menyusun garis besar yang akan di presentasikan, menentukan panjang presentasi dan menentukan gaya atau pendekatan. a. Menentukan ide pokok

Idepokok merupakan penyingkatan dari keseluruhan presentasi menjadi satu kalimat deklaratif bersamaan dengan penentuan tujuan dan analisis khalayak, pembicara menentukan ide pokok atau tema presentasi. Jika tujuan merupakan sesuatu yang harus diraih, atau menjadi sasaran, maka ide pokok adalah cara untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, ide pokok harus sesuai dengan tujuan

(4)

Langkah kedua dalam merencanakan presentasi adalah menentukan garis besar atau pokok-pokok pikiran presentasi. Garis besar atau pokok pikiran presentasi akan membentuk kerangka pesan yang akan disampaikan. Sikap pokok pikiran harus mendukung, menggambarkan, atau memperjelas ide pokok. Pesan harus disampaikan secara rinci dan langsung pada intinya. Penyampaian pesan yang berulang-ulang dan penyampaian pesan yang tidak bermanfaat akan membosankan bahkan membingungkan audiens. Selain itu, harus dipilih kata-kata yang sederhana agar maknanya mudah dimengerti.

c. Memperkirakan panjang atau lamanya presentasi.

Untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam suatu presentasi dapat digunakan kerangka atau garis besar presentasi. Caranya, kerangka atau garis besar yang sudah disusun dicoba untuk di presentasikan. Pada umumnya, presentasi yang singkat membutuhkanwaktu sekitar 10 menit, sedangkan presentasi yang panjang membutuhkan waktu sekitar 60 menit. Presentasi yang terlalu singkat misalnya kurang dari 10 menit, menyebabkan materi tidak dapat disampaikan secara lengkap dan tidak memungkinkan terjadinya interaksi antara pembicara dan audiens. Sementara itu, presentasi yang terlalu lama menyebabkan presentasi tidak menarik lagi dan pembicara kehilangan perhatian dari para audiens. Hal ini yang perlu diperhatikan, baik presentasi dalam waktu singkat, maupun presentasi dalam jangka waktu lama adalah bahwa presentasi harus mengandung unsure pendahuluan, isi atau batang tubuh dan penutup. Jika memungkinkan dilakukan Tanya jawab dengan audiens.

3. Menentukan gaya atau pendekatan

Secara umum, presentasi bisa dilakukan dengan pendekata formal maupun informal. Presentasi dengan pendekatan formal digunakan untuk menyampaikan hal-hal penting. Misalnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham, direktur sedang mempresentasikan kinerja perusahaan selama satu tahun.

Untuj presentasi dengan audiens yang jumlahnya sedikit, cukup digunakan pendekatan informal. Antara pembicara dengan audiens maupun antara audiens dengan audiens dapar berintteraksi secara langsung sehingga penggunaan penndekatan informal menjadi lebih efektif.

(5)

Di dalam presentasi bisnis, audiens pada umumnya sudah siap untuk mendengarkan apa yang akan dipresentasikan seperti halnya laporan tertulis, sebagian besar presentasi bisnis dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi dari audiensnya. Meskipun presentasi bisnis bisa mengandung unsur humor tetapi presentasi bisnis tidak semata-mata dimaksudkan untuk memberi hiburan. Secara umum format presentasi terdiri dari 3 bagian yaitu bagian pembukaan, bagian isi, dan bagian penutup.

1. Bagian pembuka

Bagian pembuka bertujuan mendapatkan perhatian audiens membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan audiens. Oleh karena itu, bagian pembuka harus dibuat semenarik mungkin agar audiens tertarik dan siap menerima presentasi.

a. Menarik perhatian audiens

Mendapatkan perhatian audiens merupakan factor penting dalam kesuksesan presentasi. Oleh karena itu, sebaik apapun persiapan presentasi yang telah dilakukan, tanpa perhatian dari audiens presentasi tidak ada maknanya. Perhatian yang dibutuhkan dalam presentasu adalah perhatian yang menyenangkan. Menarik perhatian yang menyenangkan diibaratkan seperti melempar umpan untuk mendapatkan ikan. Apabila umpannya tepat, akan diperoleh ikan. Namun jika umpannya tidak tepat, ikan tidak akan didapat. Dalam hal ini beberapa factor penarik perhatian audiens antara lain:

- Intensitas

Sesuatu yang lain dari hal-hal yang ada disekitarnya akan menarik perhatian. Contohnya cahaya, suara, bau, dan obyek. Cara menarik perhatian dengan intensitas dapat dilakukan dengan menampilkan objek yang tidak dibawa atau tidak dimiliki audiens.

- Gerakan

Objek yang bergerak biasanya lebih menarik dari pada objek yang diam. Seorang pembicara yang tadinya duduk kemudian membuat gerakan berdiri akan lebih menarik perhatian audiens.

- Keakraban

Jika pembicara dapat mengenal audiens, baik dalam hal nama, jabatan, atau prestasi, maka pembicara tersebut lebih menarik perhatian audiens daripada tidak mengenal sama sekali. Hal yang seringkali ditemui dalam presentasu adalah menyebut beberapa nama atau jabatan, atau prestasi audiens sebelum membahas materi.

- Humor

Humor akan menarik perhatian audiens karena humor akan menurunkan ketegangan, baik dari audiens maupun dari pembicaranya. Namun demikian, humor dalam presentasi bisnis harus relevan dan dengan cita rasa yang baik. Selain itu, karena humor ini hanya untuk menarik perhatian audiens, maka jumlahnya relative kecil.

(6)

Situasi yang diciptakan dengan kesan tegang juga dapat menarik perhatian audiens. Namun demikian, situasi tegang itu sebaiknya segera diakhiri agar audiens segera menangkap materi dan memberikan umpan balik, baik dengan pertanyaan maupun dengan komentar-komentar.

- Membangun kredibilitas

Pembicara yang memiliki kredibilitas tinggi lebih diterima audiens daripada yang berkredibilitas rendah. Bagaimana cara membangun kredibilitas ? penanmpilan yang rapid an serasi akan meningkatkan kredibilitas pembicara. Pada umumnya, orang yang memiliki kompetinsi paling baik dalam materi yang dipresentasikan akan mendapat kredibilitas yang lebih tinggi.

- Peninjauan audiens

Pada bagian awal presesntasi perlu dilakukan peninjauan oleh audiens, yaitu membiarkan audiens memahami apa yang akan dipresentasikan dengan membacakan judul presentasi atau membacakan tujuan presentasi. Pemahaman judul atau tujuan presentasi akan membantu audiens memahami isi presentasi secara keseluruhan.

b. Bagian Isi (Body)

Bagian isi atau sering disebut batang tubuh merupakan bagian terpenting dari presentasi, sedangkan bagian pembukaan dan bagian pentup merupakan sarana yang mendukung bagian isi. Pada bagian isi semua latar belakang, pokok pikiran, alas an-alasan, dan keseimpulan dikemukakan. Oleh karena itu. Bagian isi harus memiliki struktur yang jelas, dengan urutan-urutan pembahasan yang mudah dipahami dan berusaha mempertahankan perhatian audiens.

1. Penekanan struktur/formal

Di dalam komunikasi tertulis, struktur penulisan bagian isi lebih mudah diidentifikasi dengan melihat judul paragraf, jarak antarparagraf, dan daftar yang ada. Di dalam sbuah presentasi, format/struktur itu relatif sulit diidentifikasi. Untuk melihat struktur/format presentasi, audiens dapat menggunakan transisi. Transisi adalah kata-kata atau kalimat yang menghubungkan kalimat-kalimat atau bagian-bagian dalam presentasi (curties at.al. 1996:316). Sebagai contoh, untuk menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lain dapat digunakan kata sambung karena, oleh karena itu, lebih dari itu, kebalikan, sebagai contoh, namun demikian, atau akhirnya. Sementara untuk menghubungkan paragraf satu dengan paragraf lain atau menghubungkan pokok pikiran satu dengan pokok pikiran lain dapat digunakan transisi seperti sekarang akan dibahas masalah A, pembahasan kita sekarang adalah B, selanjutnya akan dibahas pokok pikiran Z, atau berikut adalah kesimpulan yang dapat diambil.

(7)

tidak dapat memhami tanda baca untuk membantu membedakan ide pokok satu dengan ide pokok yang lain. Secara umum, transisi memiliki tiga tujuan: (1) transisi menunjukan bahwa ide pokok/gagasan tercapai (2) transisi memberikan hubungan kepada ide pokok berikutnya; dan (3) transisi meninjau ide pokok yang akan datang (curties et.al.316)

2. Urutan-urutan bagian isi

Bagian isi harus memiliki urutan yang jelas dan logis untuk mempermudah audien dalan memahami presentasi. Urutan-urutan bagian isi akan berhubungan dengan pola organisasi pokok pikiran. Seperti telah dibahas di depan, pola organisasi pokok pikiran dapat dibedakan menjadi kronologis, spasial, topical, kausal, pemecahan masalah, dan antiklimaks.

Setelah pembicara menentukan pola organisasi atas pokok pikiran yang sesuai, maka urutannya akan mengikuti pola tersebut. Misalnya, untuk presentasi pengajuan anggaran promosi. Departemen Pemasaran tahun 2005, manajer personalia menggunakan urutan kronologikal. Dengan demikianm urutan-urutan bagian isi adalah:

a) Membahas anggaran promosi tahun 2004 b) Membahas anggran promosi tahun 2005 c) Membahas anggaran promosi tahun 2006

Apabila pembicara memilih pola organisasi pokok pikiran yang lain, maka urutan pembahasannya mengikuti pola tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pembiacara memilih satu pola organisasi yang sesuai dengan tujuan, audiens, dan situasinya. Dengan demikian, baik pembiacara maupun audiens bisa mencapai tujuannya.

3. Mempertahankan minat audiens

Apabila di bagian awal pembicara perlu menarik perhatian audiens, maka pada bagian isi atu batang tubuh, pembicara harus dapat mempertahankan perhatian audiens. Perhatian pada bagian isi sangat penting karena di sinilah ide-ide pokok presentasi disampaikan. Menarik perhatian pada bagian pembukaan, dimaksudkan sebagai ”pancingan” agar audiens lebih dahulu tertarik dengan presentasinya. Sementara tahap selanjutnya berada pada isi presentasi.

Berikut beberapa petunjuk yang dapat digunakan untuk mempertahankan perhatian audiens: menghubungkan topik presentasi dengan kebutuhan audiens; menggunakan bahasa yang jelas, dan menjelaskan hubungan antara tujuan presentasi dengan ide-ide pokoknya. (Bovee&Thill,1995:604).

4. Menghubungkan topik presentasi dengan kebutuhan audiens

(8)

tertentu, dan pada saat topik yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut dikemukakan, maka mereka memandang mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Misalnya, seorang ibu rumah tangga sedang berencana untuk menggunakan mesin cuci ELECTRO LUX, maka tersebut akan mempertahankan presentasi itu. Meskipun demikian apakah ibu tersebut membeli mesin cuci ELECTRO LUX tau merek lain, itu persoalan yang berbeda

5. Menggunakan bahasa yang jelas

Penggunaan bahasa yang tidak jelas akan membuat audiens cepat merasa bosan. Demikian juga dengan penggunaan istilah khusus (jargon) yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu. Oleh karena itu, gunakan bahasa yang mudah dipahami atau yang ”familiar”. Usahakan untuk tidak menggunakan istilah khusu (jargon). Apabila harus mengunakannya, berikan juga makna dari jargon tersebut. Contohnya, seorang penyuluh pertanian menjelaskan kepada para petani bahwa penggunaan driyer merupakan solusi bila panen dapat diganti dengan kata mesin pengering. Namun juka kata riyer tetap ingin digunakan, penjelasan mengenai artinya harus disertakan.

6. Menjelaskan hubungan topik dengan ide-ide yang familiar

Audiens tidak selalu terdiri dari orang yang tidak tahu apa-apa mengenai topik yang akan dipresentasikan. Seringkali presentasi dilakukan dengan audiens yang sudah cukup memahami topik yang dipresentasikan atau bahkan memahami topik lebih baik dari pembicara. Dalam presentasi dengan audiens yang sudah sedikit memahami, cukup memahmi, dan sangat memahami, pembicara perlu menghubungkan topik dengan ide-ide yang sudah mereka kenal sebelumnya. Hal tersebut bukan hanya mempermudah audiens dalam memahami, tetapi juga memungkinkan audiens untuk menghubungkannya dengan apa yang sudah melekat di dalam ingatan audiens. Dengan demikian, presentasi akan lebih menarik minat audiens.

c. Bagian penutup

Bagian penutup harus terstruktur sehingga audiens memahami ide pokok yang disampaikan. Lebih dari itu, apada bagian ini pembicara harus memperhatikan tiga hal berikut: (1) meringkas dan mengulang pokok pikiran; (2) mengaris bawahi tahap selanjutnya; dan (3) menutup dengan pesan positif. (Bovee&Thill,1995:604).

1. Meringkas pokok pikiran

(9)

2. Menggaris bawahi tahap selanjutnya

Secara umum, tujuan presentasi bisnis adalah menginginkan audiens untuk melakukan perubahan tertentu, seprti dalam hal sikap, perilaku, tindakan, nilai, dan kepercayaan. Oleh karena itu, pembiacara harus menekankan tindakan yang harus dilakukan audiens setelah presentasi berakhir. Tindakan yang diinginkan harus cukup jelas. Jika ada, pertanyaan bisa diajukan secara bergiliran baru kemudian dijawab. Ada kemungkinan pertanyaan terlupakan atau kurang dipahami betul intinya sehingga penanya mengkin kurang merasa puas.

Hal tersebut tidak secara langsung menimbulkan situasi konfrontatif antara audiens dengan pembicara. Dalam menjawab pertanyaan audiens pembicara harus bersifat objektif, sabar dan tidak berkesan merendahkan. Dengan demikian, sesi tanya-jawab itu dapat membantu pembicara dalam mencapai tujuan presentasi, bukan malah sebaliknya.

2.3 Seni Penyampaian Presentasi Bisnis 1. Penggunaan Visual Aid

Dalam presentasi bisnis yang bersifat formal, pembicara memerlukan visual aid. Beberapa manfaat penggunaan visual aid adalah

 Dapat menyederhanakan materi yang kompleks sehingga mudah dipahami audiens  Visual aid dapat membantu, baik pembicara maupun audiens untuk mengingat

informasi penting dari presentasi itu.

 Dimaksudkan untuk menambah atau menciptakan daya tarik presentasi. Setelah membahasa beberapa materi, pembicara kemudian menunjukkan visual aid yang telah dipersiapkan agar presentasi tidak terasa monoton.

A. Menyusun Visual Aid

Dalam presentasi, pembicara dapat menggunakan dua jenis visual aid, yaitu: Visual aid dalam bentuk tulisan (text visual aid).

Pada umumnya, visual aid dalam bentuk tulisan digunakan untuk menunjukkan suatu kesimpulan presentasi atau untuk menunjukkan garis presentasi.

Visual aid dalam bentuk grafik (graphic visual aid)

Visual yang termasuk visual aid grafik antara lain grafik garis, diagram lingkaran, grafik batang, diagram organisasi, dan diagram peta. Penggunaan masing-masing visual aid dalam bentuk grafik disesuaikan dengan kebutuhannya.

(10)

B. Memilih Media Visual Aid

Setelah memahami dua bentuk visual aid, yaitu tertulis dan grafik, selanjutnya adalah memilih media untuk menyampaikannya dalam suatu presentasi. Media yang dapat digunakan untuk menyampaikan visual aid tersedia dari yang paling sederhana seperti handout sampai yang modern, yaitu komputer. Berikut akan dibahas masing-masing media secara singkat.

 Handout

Handout merupakan visual aid yang paling sederhana dan mudah pembuatannya sehingga banyak digunakan. Media handout memungkinkan pembicara untuk mempersiapkan, baik visual aid tulisan maupun grafik ke dalam tulisan kemudian digandakan dan dibagikan kepada audiens (biasanya sebelum presentasi dimulai). Handout berisikan ringkasan materi presentasi, kesimpulan, dan grafik-grafik yang membantu pemahaman audiens.

 Papan tulis dan whiteboard

Papan tulis da whiteboard merupakan media visual aid yang sederhana dan praktis. Dalam suatu presentasi yang dihadiri tidak terlalu banyak orang, media papan tulis dan whiteboard dapat digunakan. Namun untuk presentasi dengan audiens yang banyak, tentu saja penggunaan media itu tidak efektif. Contoh presentasi dengan media papan tulis dan whiteboard adalah presentasi yang dilakukan oleh Manajer Pemasaran tentang cara-cara memasrkan produk baru kepada stafnya.

2. Ketrampilan Praktis dalam presentasi

Disamping persiapan dalam hal materi dan media, pembicara perlu memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan presentasi. Kemudian faktor-faktor tersebut disebut keterampilan praktis dalam presentasi, diantaranya sebagai berikut:

a) Cara berpakaian

Dalam presentasi formal, cara berpakaian menentukan kredibilitas. Cara berpakaian menunjukkan citra diri orang tersebut. Oleh karena itu, hal ini perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Berikut beberapa tipsnya:

a. Pakaian dipilih yang serasi, baik warna maupun bentuk/modelnya.

b. Memperhatikan kelengkapan pakaian, seperti resleting, kaos kaki, sepatu dan lain-lain.

c. Memeriksa kerapian atau kesempurnaan berpakaian, seperti kerah baju, kancing baju, tali sepatu dan lain-lain.

d. Untuk pembicara perempuan, perhatikan penggunaan make up. Make up tidak perlu tebal, dan tidak boleh juga tidak memakai make up sama sekali karena akan terlihat citra kurang profesional.

b) Pandangan mata

(11)

dapat memandang satu-persatu, tetapi tidak boleh lama, dan juga tidak dibenarkan mamandang ke lantai, ke atap, atau pada cacatan secara terus menerus pada saat berbicara.

 Presentasi dengan sikap tubuh berdiri

Sikap tubuh pada saat presentasi adalah berdiri tegak dengan kaki sedikit terbuka. Tujuannya agar dapat berdiri dengan kokoh, tetapi sedikit terbuka. Tangan bisa digunakan untuk menekankan pembicaraan,dan dapat pula untuk mengatur jalannya presentasi, misalnya menulis di papan tulis, membuka file presentasi, atau yag lain. Sikap yang harus dihindari adalah memasukkan tangan ke dalam saku atau melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu secara terus-menerus, seperti memegang dasi, taplak meja atau bahkan menggaruk-garuk kepala.

 Suara

Suara merupakan faktor yang sangat penting. Oleh karena itu, harus mendapatkan perhatian besar. Agar presentasi dapat berjalan dengan baik, maka pembicara harus berlatih. Latihan mencakup mengeluarkan suara dengan jelas, tidak menoton, dengan tekanan yang tepat dan bersemangat.

 Suara jelas dan keras

Pengucapan kata harus jelas agar makna mudah ditangkap. Selain itu, kata-kata juga harus diucapkan cukup keras agar dapat didengar oleh seluruh audiens.

 Suara tidak menoton

Kalimat harus diberi tekanan-tekanan tertentu agar suara tidak menoton. Kata-kata tertentu yang dirasa penting diberi tekanan yang lebih keras dan Kata-kata lain dapat lebih lemah.

 Suara bersemangat

Suara yang bersemangat lebih tercermin pada pengucapan yang bersemangat. Presentasi tidak akan menarik jika pengucapan kata-katanya tidak dilakukan tanpa semangat. Selain itu, pembicara juga harus menghindari pengucapan kata dengan bergumam dan merendahkan suara di akhir kalimat.

 Bahasa

(12)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Presentasi bisnis bagi para staf manajer pada semua level semua level atau tingkatan dalam suatu perusahaan menengah dan besar merupakan hal yang biasa, baik dalam hal pemasaran, keuangan, personalia, produksi, dan teknologi informasi. Dalam melakukan presentasi bisnis seorang pembicara sebaiknya melakukan persiapan dimulai dengan menentukan tujuan penulisan pesan, analisis audiens, menentukan ide pokok, dan memilih saluran beserta medianya. Secara umum, presentasi bisnis harus mencangkup 3 format presentasi yaitu bagian pembukaan, bagian isi, dan bagian penutup. Dan salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam presentasi bisnis adalah bagaimana berupaya untuk selalu menumbuhkan rasa percaya diri dan berlatih melakukan presentasi bisnis yang baik.

(13)

Sebagian besar orang yang bekerja di dunia bisnis, bahkan di sebagian besar organisasi, pasti sudah mengenal presentasi. Membuat presentasi adalah kegiatan yang nyaris terpisah dari tujuan utama sebuah organisasi. Kemampuan membuat presentasi yang baik adalah sebuah keterampilan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan bisnis manapun, tapi kalau anda benar-benar harus membuat presentasi, di bawah ini ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, pikirkan dengan hati-hati tentang harapan para pemirsa anda. Mengapa presentasi ini diperlukan, mengapa anda membuatnya, informasi apa ingin anda sampaikan? Rancanglah presentasi anda agar hanya berisi informasi yang paling baik disampaikan secara lisan. Sebagian besar informasi mendetail akan jauh lebih baik bila disampaikan lewat tulisan. Jadi, buatlah handout, dan berikan kepada pemirsa anda setelah presentasi selesai.

Kedua, pikirkan tentang peranan alat bantu visual. Kalau anda benar-benar yakin bahwa kata-kata anda akan makin jelas atau kuat bila dibantu dengan visual, maka buatlah visual tersebut. Tapi, ingat selalu bahwa kata-kata anda lebih penting dari visual tadi. Salah satu alat untuk menciptakan visual adalah Microsoft PowerPoint.

Penggunaan PowerPoint yang salah dapat menjadi penyebab rusaknya presentasi, jauh lebih banyak dibandingkan penyebab lain. Kita manusia sangat pandai memahami gambar dengan cepat, dan sebaliknya, kita tidak begitu cepat membaca tulisan. Makin banyak kata yang harus kita baca, makin lama waktu yang dibutuhkan, dan semakin besar pula gangguan terhadap pemahaman kita akan apa yang sedang diucapkan. Nah, sekarang pikirkan tentang aspek fisik pemirsa anda. Bayangkan orang yang ada di paling belakang. Seberapa besar ukuran huruf anda agar mudah terbaca dari belakang? Jangan sampai anda harus berkata “Maaf, barangkali ada beberapa orang yang tidak bisa membaca tulisan ini….”

Ketiga, latihlah apa yang ingin anda ucapkan. Hitung waktu yang anda butuhkan, dan pastikan bahwa waktu tersebut lebih rendah dari jatah yang anda miliki. Ketika anda menyajikan presentasi, anda akan bicara lebih lambat, dan butuh waktu lebih lama dibandingkan saat latihan.

Keempat, tulislah teks akhir anda, buatlah ringkasan dengan bullet-point, dan berlatihlah menyajikan presentasi memakai catatan tadi. Bila anda merasa visual bisa meningkatkan kesan atau pemahaman, berlatihlah menggunakan visual. Jangan pernah satu kalipun berbicara ketika anda sedang menatap visual. Selalu tatap pendengar anda ketika berbicara. Milikilah kepercayaan diri: jangan pernah menatap visual anda.

Kelima, ingat bahwa anda perlu memulai presentasi anda dengan ringkasan berisi apa yang akan anda bicarakan, dan akhiri dengan ringkasan tentang apa yang telah anda ucapkan. Kalau pemirsa anda mendengarnya hingga tiga kali, mereka mungkin akan ingat sebagian di antaranya!

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Sutrisna. 2007. komunikasi Bisnis. Yogyakarta: C.V Andi Offset. Miller, Michael. 2008. Business Plans. Jakarta: Prenada Media Group http://aimjakarta.com/blog/enam-tips-dalam-membuat-presentasi-bisnis

http://id.shvoong.com/social-sciences/1915656-langkah-profesional-menyampaikan-presentasi-bisnis/

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan, besarnya tingkat inflasi yang digunakan dalam menghitung proyeksi jumlah kebutuhan investasi sektor pertanian dalam penelitian ini didasarkan pada target

untuk pekerja hiburan malam karena Host bekerja di tempat yang sama dengan. mereka sehingga mereka mengenal jenis stress dan masalah wanita-wanita

Ikon menu kontrol Excel 2007 sangat berbeda dengan Excel 2003 yang hanya berisi instruksi-instruksi untuk mengubah posisi jendela. Dalam Excel 2007, isi perintah-perintah ikon

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan lebih menarik karena pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang

Efek lain dari giberelin yaitu menyebabkan perkembangan buah partenokarpi (tanpa biji) pada beberapa spesies, yang menunjukkan fungsi normalnya dalam pertumbuhan

Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa mahasiswa semester 2 Pendidikan Fisika Universitas Jambi yang melakukan praktikum kalor jenis logam

Alternatif lain yang mampu mendeteksi secara dini, pada hal ini memanfaatkan intensitas cahaya, karena api adalah sumber cahaya, maka intensitasnya dapat diukur dan

Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan penyampaian materi TIK adalah pembangunan software media pembelajaran berbasis multimedia interaktif yang dapat digunakan oleh