• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumen Strategi Komunikasi Tata Ruang d

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dokumen Strategi Komunikasi Tata Ruang d"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

BAB 1: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembelajaran 1.2 Tujuan Penulisan Dokumen 1.4 Metodologi

BAB 2: KERANGKA KAJIAN 2.1 Referensi Komunikasi 2.3 Hasil Asesmen Komunikasi

BAB 3: PENYUSUNAN STRATEGI KOMUNIKASI TRP 3.1 Ruang Lingkup

3.2 Regulasi Yang Mendukung

3.3 Penyusunan Strategi Komunikasi TRP 3.3.1 Penentuan Tujuan Komunikasi

3.3.2 Identifikasi Target Audiens dan Isu Strategis 3.3.3 Menetapkan Perilaku Sesuai Tujuan Komunikasi 3.3.4 Menentukan Pendekatan Komunikasi

3.3.5 Merangkai Pesan / Message

3.3.6 Menyeleksi Media/Saluran/Chanels Yang Akan Digunakan 3.3.7 Merancang Monitoring dan Evaluasi Program Komunikasi BAB 4 :KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEGIATAN

1 2 2

4 7

18 18 19 19 21 22 23 25 28 31 32

DAFTAR ISI

(4)
(5)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 -2019 termasuk ke dalam informasi publik yang bersifat terbuka. Sebagai dokumen publik, RPJMN 2015 -2019 harus disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Penyediaan informasi publik ini merupakan ekspresi dari upaya memenuhi hak atau kemerdekaan masyarakat untuk memperoleh informasi (public right to know). Sedangkan fungsi

penyebaran informasi merupakan ekspresi dari kewajiban pemerintah dan negara untuk menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan

kehidupan masyarakat (obligation to tell). Disisi lain rencana

Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 telah mengangkat isu–isu strategis bidang tata ruang dan pertanahan

melahirkan sasaran yang harus dicapai, serta arah kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan terkait di pemerintahan.

Bidang Tata Ruang dan Pertanahan melibatkan hayat hidup orang banyak, dan sangat terkait dengan sektor utama dalam kehidupan publik seperti antara lain pertanian, pertambangan, infrastruktur, dan perumahan. Dalam implementasinya di lapangan, bidang ini berpotensi menjadi isu sensitif dan sangat rawan konflik. Penting kiranya diperlukan suatu strategi komunikasi dan informasi yang tepat sasaran, sehingga isu, arahan dan kebijakan tata ruang dan pertanahan dapat dipahami dengan baik para pengambil kebijakan, pemangku kepentingan dan dukungan publik terhadap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian

pemanfaatan tata ruang diseluruh wilayah Indonesia.

Disisi lain hal tersebut juga sebagai salah satu upaya untuk memberikan dukungan penyebaran informasi khususnya terkait dengan arah dan kebijakan bidang tata ruang dan pertanahan maka diperlukan strategi komunikasi tata ruang dan pertanahan untuk dikomunikasikan kepada

para pihak (stakeholders) dan masyarakat luas. Oleh karena itu, komunikasi dalam rangka mendukung koordinasi dan sinergi antar pengambil kebijakan menjadi mutlak karena bidang ini bersifat lintas sektor.

Melihat kebutuhan diatas maka adanya strategi komunikasi dan

informasi yang tepat sasaran menjadi kebutuhan penting bagi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (Dit TRP), Kementerian PPN/Bappenas dan juga Kementerian/Lembaga (K/L) terkait yang tergabung dalam Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN). Hal tersebut sangat terkait dengan tugas melaksanakanpenyiapan perumusan kebijakan, koordinasi, sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan

pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya, termasuk didalamnya fungsi informasi dan sosialisasi. Direktorat TRP Bappenas dibawah Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, mempunyai Sub Direktorat Informasi dan Sosialisasi (Subdit Infosos) yang mempunyai tugas mengumpulkan data dan informasi tata ruang dan pertanahan, melaksanakan inventarisasi kebijakan di bidang tata ruang dan pertanahan serta melakukan sosialisasi dalam pelaksanaannya.

Untuk itu penting kiranya disusun suatu strategi komunikasi dan informasi yang tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan pemanfaat. Penjajakan atau asesmen perlu dilakukan untuk memperoleh gambaran, pemetaan, serta masukan dari unit kerja direktorat di lingkungan Kedeputian Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah serta

kementerian/lembaga terkait yang tergabung dalam BKPRN. Dengan demikian strategi komunikasi yang disusun ini bisa menjadi platform bersama dan digunakan untuk mengkomunikasikankebijakan tata ruang dan pertanahan.

BAB 1

PENDAHULUAN

1 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

(6)

Melalui Program Protarih (Proyek Tata Ruang dan Investasi Hijau) yaitu program kerjasama antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Kerajaan Inggris melalui UK CCU memberikan dukungan fasilitasi terhadap Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas . Fasilitasi tersebut terkait dengan penyusunan strategi komunikasi melalui penyediaan tenaga konsultan komunikasi. Kegiatan yang dilakukan adalah menyusun dokumen srategi komunikasi, termasuk didalamnya laporan asesmen /penjajakan dan panduan singkat strategi komunikasi tata ruang dan pertanahan.

1.2 TUJUAN PENULISAN DOKUMEN

Secara umum kegiatan ini bertujuan memberikan dukungan terhadap penyusunan dokumen strategi komunikasi bidang tata ruang, sehingga Dit TRP dan 2 (dua) K/L dari anggota BKPRN yaitu Kementerian Agraria Tata Ruang/BPN dan Kementerian Dalam Negeri dapat melaksanakan tupoksi terkait sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan kebijakan

perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang dengan sinergi lintas sektor dan pelibatan pemangku kepentingan.

Tujuan dari strategi komunikasi kebijakan pembangunan jangka menengah 2015 -2019 bidang TRP adalah:

o Mendapatkan gambaran mengenai upaya-upaya komunikasi yang dilakukan terkait bidang tata ruang dan pertanahan;

o Menjadi panduan/rujukan bagi seluruh staf Direktorat TRP dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi maupun sharing

pengetahuan/informasi, terutama mengenai kebijakan pembangunan bidang TRP;

o Menjadi acuan bagi Subdit Informasi dan Sosialisasi TRP dalam merencanakan, memantau, mengevaluasi, dan mengukur pencapaian media informasi dan kegiatan sosialisasi TRP.

1.3. KELUARAN

Dari proses yang dilakukan oleh konsultan dari beberapa tahapan yang telah dilakukan telah menghasilkan output sebagai berikut:

o Rumusan kebutuhan lembaga berkaitan dengan strategi komunikasi tata ruang & pertanahan dari hasil penjajakan kebutuhan melaui asesmen

o Rencana aksi kegiatan atau tindak lanjut sosialisasi dan koordinasi terkait strategi komunikasi tata ruang & pertanahan berdasarkan hasil dari workshop review draft strategi komunikasi yang telah dilakukan (Januari 2016) o Dokumen strategi komunikasi tata ruang dan pertanahan

yang tepat sasaran, disertai panduan singkat ( cara menyusun dan menggunakan strategi komunikasi TRP)

1.4. METODOLOGI

Upaya dukungan terhadap strategi komunikasi tata ruang dilaksanakan dengan metode partisipatif dan inquiry approach dengan keterlibatan penuh dari Dit TRP, direktorat di lingkungan Kedeputian Pengembangan Regional dan 2 (dua) K/L dalam anggota BKPRN melalui tahapan-tahapan berikut:

o Asesmen kepada Dit RTP, direktorat di lingkungan Kedeputian Pengembangan Regional dan 2 (dua)

kementerian terkait dalam BKPRN. Asesmen terdiri dari dari 3 tahap: inventarisasi kegiatan komunikasi yang sudah berjalan, tinjauan efektifitasnya, analisis kondisi dan serta diskusi mengenai kebutuhan strategi komunikasi ke depan; o Pemetaan dan analisis pemangku kepentingan tata ruang

(7)

o Review strategi komunikasi tata ruang dalam lingkup direktorat TRP (termasuk komponen kegiatan, materi, dan rencana kerja) berdasarkan hasil poin 1 dan 2;

o Pengembangan metode penilaian efektifitas

komponen-komponen strategi dan pengembangan strategi sesuai kebutuhan secara spesifik yang disesuaikan dengan kebutuhan target audiens; dan

o Perumusan bersama kebutuhan kelembagaan strategi komunikasi tata ruang, termasuk poin-poin penyesuaian rencana tahunan, anggaran, dan tupoksi / pembagian kerja kementrianterkait dalam bentuk rencana aksi dan rekomendasi

1.5 TARGET AUDIENS

o Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas o Direktorat terkait dibawah Deputy Regional Bappenas

o K/L Anggota BKPRN (Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional)

3 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

(8)

BAB 2

KERANGKA KAJIAN

2.1. REFERENSI KOMUNIKASI

Deifinisi komunikasi menurut Harold Lasswell, suatu proses dari

sumber/komunikator (Who) bertukar atau menyampaikan pesan (What) melalui Media (Chanel) kepada target audiens (Whom) sehingga

mendapatkan Respon/tindakan tertentu Effect). Tergambar dalam skema dibawah ini:

who says what in which channel to whom whit what effect

Who

(speakers) (message)What Channel(medium) or listener)Whom(Audience

EFFECT

Lasswell mengatakan cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What in Which Channel to Whom with What Effect.

Who --- siapa? (latar belakang siapa yang mengatakan)

Says what --- mengatakan apa? (materi yang ingin disampaikan)

To whom --- kepada siapa? (sasaran yang dituju)

With what channel --- dengan saluran apa? (dengan saluran/media yang digunakan)

With what effect --- dengan akibat apa? (efek yang diinginkan)

Sedangkan bagi Robbins, tidak ada kelompok yang dapat eksis tanpa komunikasi (pentransferan makna di antara anggota-anggotanya). Hanya lewat pentransferan makna dari satu orang ke orang lain informasi dan gagasan dapat dihantarkan. Komunikasi bukan sekedar menanamkan makna tetapi harus juga dipahami (2002 : 310).

Menurut Onong Ujana Effendy, komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam situasi tertentu komunikasi menggunakan media tertentu untuk merubah sikap atau tingkah laku seorang atau sejumlah orang sehingga ada efek tertentu yang diharapkan (2000 : 13).

Komunikasi digunakan saat orang-orang saling berinteraksi, hal ini dilakukan sebagai langkah awal terciptanya sebuah organisasi. Mereka saling bertukar ide dan juga pendapat, lalu mereka menyusun sebuah tujuan bersama yang selanjutnya menjadi fokus utama mereka dalam membentuk sebuah organisasi. 5 (lima) unsur komunikasi diatas apabila dikelola bertahap didalam strategi komunikasi.

Strategi komunikasi adalah pembuatan program-program komunikasi yang dirancang untuk mempengaruhi dan mendukung perubahan secara sukarela pada kelompok sasaran dan pemangku kepentingan yang relevan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan (Communication for

Development Support, Manfred Oepen, GTZ, 2003)

Berdasarkan pengertian di atas, maka strategi komunikasi adalah

perencanaan dan manajemen cara berkomunikasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Berhasil tidaknya kegiatan komunikasi secara efektif, banyak ditentukan oleh strategi komunikasi. Untuk mencapai tujuan

2.1.1 Konsep Dasar Komunikasi

(9)

tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya

menunjukkan arah saja, melainkan harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.

Strategi pada hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan

manajemen (management) untuk mencapai suatu tujuan. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak hanya berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan taktik operasionalnya. Demikian pula dengan strategi komunikasi yang merupakan panduan perencanaan komunikasi (communication planning) dengan manajemen komunikasi (communication management) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan

bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) bisa berbeda sewaktu-waktu tergantung pada situasi dan kondisi (Effendy, Onong Uchjana, 2007: 32).

Sebagai suatu proses manajemen maka skema atau tahapan proses menyusun strategi komunikasi dapat dilihat dalam table dibawah ini.

Assesment-Research

Focus on Target Audience

Develop Strategy

Program Implement-tation

Monitoring Evaluation/ Impact

Untuk mampu mempengaruhi dan mendukung perubahan secara sukarela dari kelompok sasaran dan pemangku kepentingan lainnya, bukanlah suatu hal yang dapat dilakukan dala proses singkat satu atau dua kali pertemuan. Namun memerlukan suatu riset atau asesmen untuk menggali informasi dari kelompok sasaran maupun pihak terkait lainnya, sehingga ada data dan fakta sebagai pijakan pertimbangan penyusunan strategi. Dan bukan sekedar asumsi semata dari tim penyusun strategi komunikasi. Maka riset atau asesmen adalah langkah awal yang harus dilakukan di awal program komunikasi.

Tujuan komunikasi sebaiknya dinyatakan secara tegas sebelum komunikasi dilaksanakan, sebab menyangkut khalayak sasaran (target audience) yang dalam strategi komunikasi secara makro dibagi-bagi lagi menjadi kelompok sasaran (target groups). Pengelompokan masalah

target audience dan target groups berkaitan erat dengan aspek-aspek sosiologis, psikologis dan antropologis, termasuk dalam hal ini politis dan ekonomis

Dalam definisi komunikasi pembangunan, secara makro strategi komunikasi dikaitkan dengan proses pencapaian suatu tujuan pembangunan baik dari sisi untuk mempercepat akselerasi maupun sustainability program itu sendiri. Adapun mengenai teori komunikasi untuk pembangunan adalah sebagai berikut:

o Dalam arti sempit, pengertian komunikasi pembangunan adalah segala upaya, cara dan teknik penyampaian gagasan dan keterampilan pembangunan yang berasal dari pihak yang memprakarsai pembangunan kepada masyarakat yang menjadi sasaran, agar dapat memahami, menerima, dan berpartisipasi dalam pembangunan

( http://mohanfelani.wordpress.com/2010/05/17/difusi-inovasi-pada-komunikasi-sosial-pembangunan)

o Sedangkan dalam arti yang luas, komunikasi pembangunan meliputi peran dan fungsi komunikasi (sebagai suatu aktivitas pertukaran pesan secara timbal balik) di antara semua pihak yang terlibat dalam usaha pembangunan, terutama antara masyarakat dengan pemerintah, sejak dari proses

perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap pembangunan (Nasution, 1996:92)

5 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

2.1.3 Peran Komunikasi dalam Pembangunan

(10)

Dari pendapat diatas menunjukkan bahwa bagi masyarakat yang ingin maju memerlukan wawasan yang luas sebagai titik tolak untuk

mendorong dan mengembangkan hasrat mengubah kehidupan ke arah kemajuan. Perhatian masyarakat perlu difokuskan pada upaya

pembangunan sehingga diharapkan kreasi, aspirasi dan keikutsertaan masyarakat dapat didayagunakan secara lebih bermanfaat.

Dibahas dalam teori Difussi Inovasi bahwa masyarakat yang menerima suatu inovasi tidak terjadi secara serempak. Ada yang memang telah memiliki kesiapan, karena menyadari adanya kebutuhan dan ada yang baru menerima setelah meyakini benar keuntungan-keuntungan inovasi bahkan ada pula yang tetap bertahan atau menolak inovasi yang

bersangkutan (Roger dan Shoemaker dalam Nasution, 1996:112). Dalam menerima suatu inovasi, biasanya seseorang akan melalui sejumlah tahapan, sebagai berikut:

1) Tahap Pengetahuan. Tahap ketika seseorang sadar, tahu, bahwa ada sesuatu inovasi.

2) Tahap Bujukan.Tahap ketika seseorang sedang

mempertimbangkan atau sedang membentuk sikap terhadap inovasi yang telah diketahuinya tadi, apakah ia menyukainya atau tidak.

3) Tahap Putusan. Tahap ketika seseorang membuat putusan apakah menerima atau menolak inovasi yang dimaksud.

4) Tahap Implementasi. Tahap ketika seseorang melaksanakan keputusan yang telah dibuatnya mengenai sesuatu inovasi. 5) Tahap Pemastian. Tahap ketika seseorang memastikan atau

mengkonfirmasikan putusan yang telah diambilnya tersebut.

Melihat hal diatas maka dalam konteks pembangunan apapun bidangnya strategi komunikasi digunakan atau sangat berperan dalam merubah perilaku target audiens (target group) dalam rangka intervensi perubahan perilaku. Hal ini sesuai dengan pendapat Onong Udjana Effendy bahwa: Komunikasi pembangunan adalah proses penyebaran pesan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada khalayak guna mengubah sikap, pendapat dan perilakunya dalam rangka meningkatkan kemajuan lahiriah dan kepuasan batiniah, yang dalam keselarasannya dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat (Effendy, 2005: 92)

Dalam prosesnya di era tahun 2000 para pelaku pemberdayaan atau pengembangan masyarakat maupun dari pihak pemerintah menyebut sebagai proses perubahan perilaku atau KAP (Knowledge-Attitude- Practice) sebagai berikut:

o Knowledge : Mengubah pemahaman (to change the opinion) o Attitude : Bagaimana mengubah sikap (how to change the

attitude), termasuk dalam Memotivasi untuk melakukan tindakan (motivation)

o Practice : Mengubah perilaku (to change behavior)

(11)

AUDIENS PERILAKU PESAN MEDIA UMPAN BALIK Siapa yang menjadi penerima

pesan atay sasaran komunikasi (target group)

Perilaku yang terjadi sekarang

Versus

Perilaku yang diharapkan dari sasaran setelah terjadinya komunikasi

Pesan dan tema apa

yang akan disampaikan Media/yang tepat/cocok chanel /tools apa digunakan. Dikaitkan dengan

pendekatan/metode komunikasi

Bagaimana cara memas kan bahwa pesan diterima dengan baik (* monev)

Peristiwa dalam mengelola unsur penting dalam perencanaan komunikasi diatas melibatkan tiga kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang komunikator (sumber /penyampai pesan) yaitu kemampuan sebagai konseptor (conception skill), teknis komunikasi (technical skill) dan komunikator dengan segala kemampuan komunikasi (communication skill) untuk mempengaruhi komunikan.

Penyusunan strategi komunikasi masuk dalam ranah conception skill, kemudian dukungan berbagai aspek teknis terkait dengan pembuatan media /tools/chanel /perangkat teknologi dan aspek praktis

operasionalnya adalag masuk dalam aspek technical skill. Sedangkan kemampuan untuk menggunakan kedua hal diatas, hal ketiga yang dibutuhkan seorang komunikator adalah communication skill yaitu seni persuasi atau teknik mempengaruhi orang lain menjadi faktor

keberhasilan komunikasi.

Dalam dokumen ini model komunikasi yang telah direferensikan diatas, menjadi acuan dalam penyusunan strategi komunikasi untuk bidang tata ruang dan pertanahan. Model dasar menggunakan teori laswell dan penerapannya menggunakan metode dari terori dasar adalah menggunakan Laswell dan Wilbur Scram, dari sisi pembangunan

menggunakan teori komunikasi - diffussi inovasi Menurut Roger dan Shoemaker (dalam Nasution, 1996:112) . Dan pada penerapannya bisa menggunakan metode “ 5 Communication Decision Making ” yang lebih mendekati pada model komunikasi untuk suatu reformasi kebijakan dan pembangunan. Model ini pernah dikembangkan untuk mengangkat isu sektor air minum dan sanitasi sejak tahun 2006 yang dikombinasikan dengan teori BCC untuk salah satu aspek perubahan perilaku target group.

Terkait dengan penyusunan strategi komunikasi bidang tata ruang dan pertanahan, melalui dukungan kegiatan Protarih, maka telah dilakukan serangkaian kegiatan untuk mendapatkan input/masukan berbagai informasi mengenai komunikasi dalam pelaksanaan bidang tata ruang dan pertanahan yang telah dilakukan selama ini dalam kegiatan asesmen. Asesmen melibatkan direktorat di lingkup kedeputian Pengembangan Regional, Kementerian PPN/Bappenas baik dari Sesmen, Direktorat TRP, Direktorat Pengembangan Wilayah, Direktorat Otonomi Daerah,

Direktorat Perkotaan dan Perdesaan, Dit. KKDT (Kawasan Khusus Daerah Tertinggal), Dit. Pengembangan Wilayah, Biro Humas dan Pusdatin

7 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

2.3 HASIL ASESMEN KOMUNIKASI

(12)

Bappenas dan Dit. Perencanaan tata Ruang, Kemendagri.

Metode yang dilakukan untuk mendapatkan dataya adalah melalui serangkaian wawancara, FGD , desk review dan terakhir dilakukan workshop /lokakarya membahas hasil asesmen dan draft strategi komunikasi TRP . Lokakarya mengundang pihak terkait baik dari

direktorat dibawah deputy regional, biro humas dan pusdatin kementrian Bappenas serta kementerian anggota BKPRD.

Dari hasil desk review, didapatkan data bahwa terkait dengan dokumen strategi komunikasi pada tahun 2010, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Bappenas telah menyusun strategi sosialisasi kebijakan pembangunan jangka menengah bidang tata ruang dan pertanahan untuk RPJMN 2010 – 2014. Rekomendasi dari hasil kajian ini salah satunya memasukkan materi-materi RPJMN ke dalam kurikulum pendidikan sebagai salah satu bentuk sosialisasi yang sangat efektif untuk

meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum. Oleh karena itu, untuk materi RPJMN 2015 – 2019 yang sudah ada, Direktorat TRP akan melakukan strategi komunikasi yang merupakan bagian dari sosialisasi kebijakan pembangunan menengah 2015 -2019 bidang tata ruang dan pertanahan. Diharapkan dengan adanya strategi sosialisasi yang sudah ada dan dilanjutkan dengan penyusunan strategi komunikasi di tahun 2015 dalam implementasi kebijakan pembangunan jangka menengah 2015 – 2019 tersebut, akan memberikan informasi dan pengetahuan serta pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat umum.

Secara lengkap hasil asesmen TRP yang juga mengupas masing-masing direktorat tertulis dalam Lampiran Laporan Asesmen. Dalam dokumen strategi komunikasi ini hanya mengupas bidang tata ruang dan

pertanahan, dan secara ringkas hasilnya adalah sebagai berikut:

Ruang lingkup strategi komunikasi dibidang TRP dari hasil asesmen adalah mencakup kegiatan mengkomunikasikan muatan RPJMN 2015 -2019 kepada para pihak termasuk di dalamnya Sub Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan yang berada dalam tupoksi Direktorat TRP, anggota BKPRN serta termasuk didalamnya direncanakan informasi publik yang bersifat terbuka. Dengan demikian, dokumen RPJMN tersebut dapat

tersampaikan kepada target group .

Adapun ruang lingkup komunikasi melihat lingkup relasi TRP adalah meliputi :

o Internal Relations, yaitu komunikasi yang dilakukan dalam rangka menyeleraskan informasi dan komunikasi terkait TRP yaitu Direktorat, Kedeputian terkait di Bappenas

o Government Relations , upaya komunikasi antara TRP dengan dengan pihak dari pemerintah seperti anggota BKPRN -K/L terkait, Pemerintah Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/kota, termsuk dalam hal ini membina hubungan baik

o Community Relations, yaitu upaya komunikasi kepada mitra non pemerintah , dalam rangka membangun ke sepemahaman, meningkatkan kepedulian dan komitmen di bidang TRP. Dalam kasus ini TRP tidak ada kaitan langsung dengan komunitas-warga secara langsung

o Media Relation, dari hasil asesmen kontak langsung dengan mass media melalui Humas Bappenas sesuai dengan prosedur

kementrian

Target group atau target audiens TRP dari hasil asesmen dapat diklasifisikan dalam 3 jenis target audiens yaitu target group primer, sekunder dan tertier yang dipandang dari sisi prioritasisasinya mengacu pada ruang lingkup komunikasi diatas adalah sbb:

2.3.1 Ruang lingkup komunikasi TRP

(13)

PUBLIK

FORUM

STAKEHOLDER ASOSIASI

PROFESI

BADAN-BADAN TERKAIT

PEMDA

KAB/KOTA MASS MEDIA PEMDA

PROVINSI

INTERNAL DIT. BAPPENAS KEMENTRIAN / KL

DALAM BKPRN

UNIVERSITAS

MITRA TERKAIT DONOR / NGO

KEMENKO

KEMENTRIAN / LEMBAGA TERKAIT

1) Target group primer adalah target group yang terkait langsung dalam koordinasi & sinkronisasi untuk pengambilan keputusan ( internal relation)

2) Sekunder adalah target group yang terkait langsung dalam Implementasi kebijakan TRP (government relation)

3) Tersier: adalah target group berperpengaruh dalam mendukung capaian tujuan dan implementasi TRP ( community relation dan media relation)

Semua tujuan komunikasi diatas bermuara pada satu tujuan yaitu dalam rangka untuk mendukung pencapaian RPJMN Nasional ke -3 ditahun 2015-2015. Oleh karenanya hal yang penting dibidang tata ruang adalah arahan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan tata ruang, dalam rangka memantapkan kelembagaan dan kapasitas penataan ruang dan ketersediaan infrastruktur sesuai rencana.

Secara umum isu strategis tata ruang dan pertanahan adalah sebagai berikut:

o RTR belum digunakan sebagai acuan dari berbagai sektor o Rendahnya pemahaman bahwa TRP terkait dengan

kesejahteraan masyarakat

o Persepsi hanya terbatas pada peningkatan pelayanan publik (misal tata ruang hijau/RTH)

SPM For All (belum terpenuhi di daerah karena rendahnya komitmen & skill di pelaku )

Secara khusus dilihat dari cakupan relasi komunikasi isu terkait tata ruang dan pertanahan dapat dideskripsikan sebagai berikut:

(1) Internal Communication

o Belum adanya owner kepemilikan komunikasi dan mekanisme bagan alir informasi dan komunikasi antar direktorat . Walaupun sudah ada hirarki komunikasi vertikal dari menteri, eselon 1 dan eselon 2 mengkomunikasi content apa, tetapi mekanisme horisontal internal antar direktorat belum ada platformnya.

9 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

2.3.5 Identifikasi Tantangan dan Peluang

(14)

o Terkait dengan Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan: fungsi komunikasi horisontal telah terjadi karena adanya Subdit Informasi dan Sosialisasi yang menjalankan fungsi distribusi informasi dan mengkomunikasikan content teknis sektoral. Terlebih lagi adanya penggunaan dalam sistim knowledge management internal yang dijalankan.

(2) Gorvernment Communcation

o Komunikasi antar KL belum efektif walau sudah dibentuk BKPRN sebagai wadah komunikasi di bidan tata ruang. Tetapi sampai pada level pelaksana antar anggota belum optimal dalam melakukan sinergi msial dalam hal ini data dan informasi. Antar KL terutama dirasakan Bappenas kesulitan mendapatkan data dan informasi terkait termasuk dalam hal Tata Ruang dan Pertanahan dari KL terkait.

o Forum komunikasi yang intensif lebih kepada Rakernas BKPRN, dan yang menjadi tantangan 2 tahun ke depan adalah

pembagian tugas dan tanggung jawab antar KL.

o Terkait isu lemahnya pengarusutamaan kebijakan Tata Ruang dan Pertanahan untuk diadopsi daerah menjadi regulasi (perda) sehingga pedoman RT/RW belum maksimal direalisasikan (UU Pemerintah Daerah no 23/2015).

o Terkait peran dan fungsi pengawasan koordinasi, sinkronisasi dan pengawasan khususnya penguatan kapasitas kelembagaan dan peran provinsi kepada pemda kabupaten/kota (kepanitiaan BKPRD yang bersifat ad hoc dan kesemunya terdiri dari SKPD lebih berfungsi sebagai mediasi saja tetapi tidak mempunyai peran kontrol dan advisor)

(3) Community Relation

o Belum adanya mekanisme pelibatan komunitas/masyarakat dalam penataan tata ruang wilayah dimana pada dasarnya tentang hak dan kewajiban sudah diatur dalam UUPR n0. 26/2007 dan Permen PU no.15/PRT/M/2009 terkait keterlibatan masyarakat dalam tata ruang wilayah.

o Forum stakeholder belum banyak dibentuk, dan kalaupun sudah ada belum optimal dalam melakukan fungsi sinergi dan

sinkronisais program di daerah

(15)

No. Nama Media Keterangan Media Frekuensi Terbit

Jumlah yang Telah

Terbit

Target Pembaca

1. Buletin Tata Ruang dan Pertanahan (TRP)

Berisi isu-isu hangat mengenai Tata Ruang dan Pertanahan, pandangan dari pakar, baik dari sisi pemerintah, praktisi, akademisi swasta dan LSM. Memuat juga profil daerah, kegiatan

Direktorat TRP, ringkas buku.

2. Majalah Agraria Indonesia

Berisi isu-isu dan kebijakan Bidang Reforma Agraria.

2 edisi/

tahun

1 edisi (sejak 2014)

Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi/Akademisi, DPR, dan DPRD.

3. Newletter TRP Berisi kegiatan Direktorat TRP.

1 edisi/bulan 15 edisi (sejak 2014)

Berisi ringkasan peraturan perundang-undangan Bidang TRP, bertujuan untuk

memudahkan pemahaman.

4 peraturan/ tahun

14 peraturan/ leaflet (sejak 2009)

Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan DPRD.

5. Leaflet Media Informasi dan Publikasi Direktorat TRP

Berisi media informasi online yang dikembangkan oleh Direktorat TRP.

1 kali 3 leaflet Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi/Akademisi, DPR, dan DPRD.

6. Buku Saku RPJMN 2015 -2019

Berisi informasi kebijakan, sasaran, pencapaian kegiatan tata ruang dan pertanahan tahun 2015 -2019

1 kali 1 buku Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi/Akademisi, DPR, dan DPRD.

11 | Str

atk

om TRP | Bappenas-Pr

ot

arih

Dok

(16)

o Mekanisme informasi dan pengaduan terkait UU KIP n0 14/2008 belum banyak dipahami oleh

masyarakat, PPID belum berfungsi secara optimal. Disisi lain UU KIP (Kebebasan Informasi Publik) rasa berat dan membingungkan oleh semua

KL/Kementrian maupun pemda dalam penerapannya

Strategi komunikasi yang dijalankan di Direktorat TRP didukung oleh keak fan sub direktorat yang ada di bawahnya, yaitu sub direktorat Tata Ruang, sub direktorat Pertanahan, sub direktorat Informasi dan Sosialisasi, Reforma Agraria Nasional (RAN), serta Sekretariat Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN). Di se ap kegiatannya, Direktorat TRP selalu menyiapkan goodybag

yang berisi informasi Tata Ruang dan Pertanahan termasuk di dalamnya mengenai peraturan terkait. Media yang dimiliki Direktorat TRP adalah:

No. Alamat Akun Keterangan Akun

1. trp.or.id Berisi berita kegiatan-kegiatan Dit.TRP, profil dan produk yang dihasilkan oleh Dit.TRP, serta peraturan Bidang TRP.

2. tataruangpertanahan.com Berisi berita dan kliping mengenai tata ruang dan pertanahan skala nasional, kumpulan data dan informasi bidang tata ruang dan pertanahan. 3. v2.bkprn.org Sebagai media informasi dan publikasi Badan

Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN). Berisi kegiatan, profil, serta data dan informasi. 4. landspatial.bappenas.go.id/km Kumpulan data dan informasi bidang tata ruang

dan pertanahan yang di dapat dari hasil rapat internal maupun eksternal serta informasi buku-buku koleksi terbaru Dit.TRP.

5. Facebook: Trp Bappenas Media informasi dan komunikasi secara informal mengenai bidang TRP.

6. Milis Tata Ruang dan Pertanahan (email:

[email protected])

Media komunikasi dan jejaring dengan para mahasiswa, masyarakat, dan pemangku

kepentingan di bidang tata ruang dan pertanahan. 7. Pustaka virtual TRP: id.scribd.com/Tata

Ruang dan Pertanahan

Kumpulan data dan informasi bidang tata ruang dan pertanahan.

(17)

Selain media-media tersebut, ada pula Media Visual berupa CD Interaktif yang memuat regulasi, makalah, paparan, dan informasi lainnya terkait bidang tata ruang dan pertanahan. Informasi yang disampaikan dan media informasi yang digunakan sudah disesuaikan dengan target sasaran. Namun, informasi yang disampaikan kepada masyarakat belum menggunakan strategi komunikasi sehingga tidak dapat dipastikan apakah masyarakat memahami informasi tersebut. Selain itu, informasi yang disampaikan kurang fokus dan sifatnya satu arah.

Berdasarkan hasil assesment yang telah dilakukan melalui wawancara dan diskusi kelompok terfokus maka dihasilkan analisa sebagai berikut:

Strengthen

o Ada tupoksi subdit Informasi dan Sosialisasi yang dilembagakan menjalankan fungsi distribusi informasi dan mengkomunikasikan content teknis sektoral.

o Sudah terbangunnya sistim knowledge management internal yang dijalankan. o Adanya perangkat regulasi untuk mendukung

komunikasi kepada public/masyarakat

Opportunity

o Forum komunikasi yang intensif multistakeholder mengingat cukup banyaknya mitra terkait ( non

pemerintah) dan masyarakat sipil yang belum terpetakan

o Rakernas BKPRN, dan menjadi tantangan 2 tahun ke depan adalah pembagian tugas dan tanggung jawab antar KL.

Weaknesses

o Belum adanya owner kepemilikan komunikasi dan mekanisme bagan alir inormasi dan komunikasi antar direktorat . Walaupun sudah ada hirarki komunikasi vertikal dari menteri, eselon 1 dan eselon 2 mengkomunikasi content apa, tetapi mekanisme horisontal internal antar direktorat belum ada platformnya.

o Komunikasi antar KL belum efektif walau sudah dibentuk BKPRN sebagai wadah komunikasi di bidan tata ruang. Tetapi sampai pada level pelaksana antar anggota belum optimal dalam melakukan sinergi msial dalam hal ini data dan informasi. Antar KL terutama dirasakan Bappenas kesulitan mendapatkan data dan informasi terkait termasuk dalam hal Tata Ruang dan Pertanahan dari KL terkait.

Threat

o Terkait isu lemahnya

pengarusutamaan kebijakan Tata Ruang dan Pertanahan untuk diadopsi daerah menjadi regulasi (perda) sehingga pedoman RT/RW belum maksimal direalisasikan (UU Pemerintah Daerah no 23/2015). o Terkait peran dan fungsi

pengawasan koordinasi, sinkronisasi dan pengawasan khususnya

penguatan kapasitas kelembagaan dan peran provinsi kepada pemda kabupaten/kota (kepanitiaan BKPRD yang bersifat ad hoc lebih berfungsi sebagai mediasi saja)

13 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

2.3.7 Analisis SWOT kegiatan komunikasi TRP

(18)

Dari hasil FGD dan wawancara, yang terlihat dalam SWOT diatas dapat dirangkum bahwa sisi beberapa hal penting yang perlu digarisbawahi dalam komunikasi yang dialami oleh para pelaku bidang tata ruang dan pertanahan adalah sbb:

a. Pengemasan Message Komunikasi Kebijakan

- Mengkomunikasikan kebijakan (sosialiasi) yang sifatnya adalah perencanaan, perlu diikuti dengan mendapatkan respon dari stakeholder. Selama ini yang telah dilakukan adalah distribusi informasi (komunikasi satu arah, dan belum dijajaki sejauh mana efektifitasnya melalui monev);

- Beberapa isu dan tema yang diangkat baik tata ruang maupun bidang lain dalam kedeputian pengembangan regional sifatnya adalah konsep perencanaan bukan sekedar penyediaan sarana fisik, dan ini tidak mudah dalam perumusan pesannya. Hal ini pernah terjadi pada subdit pertanahan pernah gagal membuat tagline karena sulit dalam merumuskannya.

- Kekuatan pengemasan message dalam

mengkomunikasikan kebijakan adalah begitu banyaknya produk kebijakan yang ada dan bagaimana pesan –pesan dalam kebijakan tersebut dapat bermanfaat untuk mendukung kinerja dimasing-masing direktorat. b. Desain Strategi Komunikasi Kementrian & Mekanismenya

- Perlu adanya strategi komunikasi untuk menterjemahkan kebijakan kepada mitra internal dan eksternal,

mengingat begitu banyak dan luasnya cakupan isu dan bidang di Kementrian PPN/Bappenas (semacam grand desain strategi yang bisa diacu oleh Direktorat

didalamnya).

- Perlu adanya ownership bidang komunikasi secara internal dan eksternal serta mekanismenya dalam internal Bappenas, terutama sektor teknis yang belum terwadahi .

- Belum adanya kejelasan mekanisme baik akses maupun pendistribusian data dan informasi baik internal maupun eksternal. Padahal hampir tiap saat banyak kajian yang dihasilkan dari sektor kebijakan maupun sektor teknis. Tetapi bagaimana mendistribusikan dan juga mengakses dari direktorat lain masih bersifat parsial dan belum ada sistim knowledge management antar direktorat. Hanya direktorat yg mempunyai tugas dan fungsi dalam melakukan pengumpulan data dan informasi seperti subdit infosos, Dit.TRP yang pada akhirnya

mengembangkan sistim knowledge manajement dan IT (aplikasi program terkait tata ruang dan pertanahan). - Masing-masing direktorat sudah menjalankan fungsi

komunikasi yang dibangun berdasarkan karakteristik masing-masing direktorat. Dengan menggunakan media dan saluran yang sudah ditetapkan.

c. Penguatan Forum untuk sinkronisasi dan koordinasi program - Forum seperti BKPRN idealnya terus dimaksimalkan

(19)

d. Pengelolaan Produk Pengetahuan

- Banyaknya produk pengetahuan, pedoman, kajian yang dapat dimanfaatkan menjadi bahan data komunikasi yang memperkaya informasi untuk masing-masing direktorat. Dan tentunya bagi user akan mempermudah memdapat informasi dari banyaknya produk

pengetahuan, pedoman, kajian.

- Banyak produk pengetahuan, pedoman, kajian yang saling tumpang tindih dan setelah selesai dibuat didistribusikan oleh masing-masing direktorat. Dari sisi

user (daerah) kadang hal ini membingungkan. Belum lagi pedoman yang dibuat oleh KL lain, dalam satu bidang tetapi tahapan berbeda.

- Tantangan pengelolaan produk pengetahuan

kedepannya menjadi tanggung jawab bersama antar direktorat dengan membangun sinergi tentang produk pengetahuan, pedoman, kajian dengan standarisasi serta mekanisme yang jelas.

e. Penguatan kapasitas SDM dibidang strategi komunikasi - Kekuatan pada SDM yang ada di masing-masing

direktorat merupakan SDM yang terpilih dan memiliki kemampuan meningkatkan kapasitas diri khususnya untuk di bidang komunikasi.

- Masih lemahnya kapasitas PIC dan vocal person di masing-masing direktorat dalam bidang komunikasi publik maupun pengemasan sarana informasi

/komunikasi keluar. Dan ada beberapa penunjukkan PIC komunikasi yang menjadi informan di Humas kurang sesuai kapasitas dan bidangnya

- Hal diatas juga terkait dengan minimalnya fungsi informasi yang terus dijalankan, infrastruktur sudah dibangun misal dalam hal ini website tetapi pada prosesnya tidak berjalan atau tidak di update. Selain kesibukan staff yang bersangkutan dalam pekerjaan sehari-hari di direktoratnya.

- Penguatan kapasitas SDM di bidang strategi komunikasi menjadi tantangan masing-masing direktorat kedepan bahwa strategi komunikasi dapat menjadi salah satu ketrampilan untuk membantu mewujudkan tujuan masing-masing direktorat mengkomunikasikan produk komunikasi yang dimiliki kepada user (daerah)

Pada dasarnya sudah ada prosedur mekanisme komunikasi dalam hal ini distribusi data dan informasi dilingkup Dit. TRP, karena adanya bidang khusus yang menangani. Hanya mekanisme dari Dit TRP kepada lingkup kementrian yang dirasa belum ada platform yang jelas dari sisi bagan alir data, informasi dan komunikasi kepada publik secara luas dikarenakan mekanisme tersebut ditangani biro yang lain yaitu melalui Humas Bappenas. Sehingga mekanisme komunikasi yang terjadi adalah partial menurut kebutuhan dan kebutuhan audiens yang membutuhkan ( passive )

15 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

2.4 MEKANISME KOMUNIKASI BIDANG TRP

(20)

Alur/mekanisme komunikasi yang telah ada

Teknik Sektoral

Subdit Infosos

Direktorat TRP - K/l Terkait- BKPRN

Direktorat &

Kedeputian Humas & Pusdatin

- KL/Kementrian - Masyarakat/Publik - Mass Media

- Internal Bappenas - K/L Pemda Prov & Kab/Kota

Kementrian Sesmen

Kebijakan Sektor

Kebijakan Nasional

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fungsi informasi Dit TRP kepada target group Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota)dan public sudah dijalankan bersifat terbatas memberikan informasi dan akses melalui website. Sedangkan komunikasi Publik belum dijalankan.

Dari proses asesmen yang telah dilakukan selama 2 (dua) bulan, dapat disimpulkan bahwa bidang TRP telah melakukan proses komunikasi dengan menerapkan unsur-unsur komunikasi hanya dari sisi strategi dan dasar pengambilan keputusan sejak penentian audiens dan perilakunya yang perlu dilakukan, sehingga tahapan selanjutnya dari sisi menentukan keputusan terhadap tema/key message yang akan diangkat, mass media dan juga merancang tools monitoring & evaluasi mempunyai pijakan dari kebutuhan dan perilaku eksisting dari target group yang akan disasar. Dari hasil desk review, didapatkan data bahwa terkait dengan dokumen strategi komunikasi pada tahun 2010, Direktorat Tata Ruang dan

Pertanahan, Bappenas telah menyusun strategi sosialisasi kebijakan pembangunan jangka menengah bidang tata ruang dan pertanahan untuk RPJMN 2010 – 2014. Rekomendasi dari hasil kajian ini salah satunya memasukkan materi-materi RPJMN ke dalam kurikulum pendidikan sebagai salah satu bentuk sosialisasi yang sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat secara umum. Oleh karena itu, untuk materi RPJMN 2015 – 2019 yang sudah ada, Direktorat TRP akan melakukan strategi komunikasi yang

merupakan bagian dari sosialisasi kebijakan pembangunan menengah 2015 -2019 bidang tata ruang dan pertanahan. Diharapkan dengan adanya strategi sosialisasi yang sudah ada dan dilanjutkan dengan penyusunan strategi komunikasi di tahun 2015 dalam implementasi kebijakan pembangunan jangka menengah 2015 – 2019 tersebut, akan memberikan informasi dan pengetahuan serta pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat umum.

Sedangkan pada tahun 2015, media informasi dan sosialisasi Direktorat TRP semakin bertambah dan berkembang. Informasi yang disampaikan dan media informasi yang digunakan sudah disesuaikan dengan target sasaran. Namun, informasi yang disampaikan kepada masyarakat belum menggunakan strategi komunikasi sehingga tidak dapat dipastikan apakah masyarakat memahami informasi tersebut. Selain itu, informasi yang disampaikan kurang fokus dan sifatnya satu arah. Dengan

disusunnya strategi komunikasi bidang TRP pada tahun 2015, diharapkan seluruh masyarakat dapat memahami informasi mengenai kebijakan pembangunan jangka menengah 2015 -2019 bidang tata ruang dan pertanahan.

(21)

o Kebutuhan Grand Design Strategi Komunikasi Bappenas yg bisa menjadi acuan bagi direktorat terkait untuk merumuskan strategi komunikasi dimasing-masing sektor , termasuk penanganan pengelolaan produk: data, informasi dan pengetahuan . Dalam hal ini kerjasamanya dengan Biro terkait HUMAS Bappenas akan menjadi kebutuhan kedepan.

o Sisi lain pihak Bappenas sendiri seperti diangkat dalam lokakarya mempunyai K=kebutuhan mengemas Message Komunikasi Kebijakan menjadi sesuatu pesan yang populer dan

medium/channel yang mudah diakses publik , termasuk

memperkenalkan institusi Bappenas itu sendiri yang mulai jarang dikenal untuk era generasi muda sekarang ini.

o Perlunya tahapan ke depan menggunakan asesmen atau riset sederhana dalam mementukan keputusan langkah-langkah membangun startegi komunikasi TRP. Hal ini perlu dilatihkan dalam program penguatan kapasitas SDM dibidang strategi komunikasi sektor , bukan hanya ketrampilan teknis atau ketrampilan penunjang saja missal cara membuat media info grafis, teknik public speaking atau jurnalistik tetapi pemahaman komunikasi sevagai strategi yang wholistik . Hal ini sangat diperlukan oleh PIC di masing-masing direktorat agar dapat menerapkan di direktorat masing-masing

o Perlunya Bappenas sebagai secretariat BKPRN, melakukan dorongan ke daerah dalam rangka pembentukan/penguatan forum untuk sinkronisasi dan koordinasi program , termasuk pengarusutamaan isu tata ruang tidak hanya dikalangan

pemerintah semata tetapi multi/lintas stakeholder yang mewakili representasi masyarakat sipil.

17 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

2.6 KEBUTUHAN KE DEPAN TERKAIT STRAKOM KOMUNIKASI TRP

(22)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 termasuk ke dalam informasi publik yang bersifat terbuka. Sebagai dokumen publik, RPJMN 2015 – 2019 harus disampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Penyediaan informasi publik ini merupakan ekspresi dari upaya memenuhi hak atau kemerdekaan masyarakat untuk memperoleh informasi (public right to know). Sedangkan fungsi

penyebaran informasi merupakan ekspresi dari kewajiban pemerintah dan negara untuk menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan

kehidupan masyarakat (obligation to tell). Lebih lanjut, kebijakan nasional seperti RPJMN 2015 -2019 yang mendasari kebijakan lokal juga perlu dipahami secara umum oleh masyarakat seperti target dan sasaran umum pembangunan untuk setiap masa pemerintahan Presiden yang dipilih langsung oleh masyarakat.

Dalam RPJMN 2015 – 2019 Bidang Tata Rruang dan Pertanahan (TRP), terdapat 3 (tiga) isu strategis bidang tata ruang, yaitu: (i) pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang; (ii) kelembagaan penyelenggaraan penataan ruang; dan (iii) RTR sebagai acuan pembangunan berbagai sektor; dan 4 (empat) isu strategis bidang pertanahan, yakni: (i) jaminan kepastian hukum hak atas tanah; (ii) ketimpangan pemilikan, penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah (P4T) serta kesejahteraan

masyarakat; (iii) ketersediaan tanah bagi pembangunan untuk

kepentingan umum; dan (iv) kinerja pelayanan pertanahan. Seluruh isu tersebut melahirkan sasaran yang harus dicapai, serta arah kebijakan dan strategi yang akan dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan terkait di pemerintahan.

BAB 3

STRATEGI KOMUNIKASI TRP

Periode 2016-2019

Ruang lingkup Strategi Komunkasi TRP 2015-2019 meliput semua kegiatan perencanaan komunikasi untuk mendorong agar kebijakan tata ruang dan pertanahan menjadi acuan dan diimplementasikan oleh pemangku kepen ngan melalui proses intervensi perubahan perilaku target group sesuai arahan RPJMN Nasional ke-3 (2015-2019)

Upaya untuk menyusun dokumen srategi komunikasi tata ruang dan pertanahan menjadi hal penting mengingat beberapa regulasi telah diturunkan dalam upaya memperbaiki kualitas penyajian informasi dan membangun komunikasi yang bersifat dua arah, dalam rangka melibatkan partisipasi semua pihak pemangku kepentingan dan masyarakat sipil. Adapun beberapa regulasi/peraturan terkait dengan strategi komunikasi adalah sebagai berikut:

o UU. No. 26 Tahun 2007; PP. 15/2010 dan PP. 68/2010, serta Permen PU No.15/PRT/M/2009 terkait keterlibatan masyarakat dalam penyusunan tata ruang wilayah.

Dijelaskan bahwa bahwa bentuk peran serta masyarakat sesuai pasal 65 Undang-Undang Penataan Ruang No 26 Tahun 2007 adalah partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang,

pemanfaatan ruang dan dalam pengendalian pemanfaatan ruang. Dari tiga (3) poin peran masyarakat, secara implisit maupun eksplisit juga terkandung bahwa pelibatan masyarakat adalah berupa:

1. Menyampaikan usulan rencana. 2. Menyebarluaskan hasil rencana.

3. Melakukan persiapan-persiapan untuk mendukung upaya mewujudkan rencana penataan kawasan seperti yang termuat dalam RTRW Provinsi.

4. Memanfaatkan RTRW Provinsi sebagai acuan atau pedoman dalam melakukan kegiatan pembangunan fisik.

5. Memanfaatkan RTRW Provinsi sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan investasi.

6. Melakukan kontrol terhadap berbagai bentuk pembangunan fisik yang dilakukan.

7. Memenuhi ketentuan pembangunan yang termuat dalam dokumen RTRW Provinsi.

3.1 RUANG LINGKUP STRATEGI KOMUNIKASI TRP

UNTUK 2015-2019

(23)

o UU Nomor 14 Tahun 2008: Keterbukaan Informasi Publik Terbitnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang

Keterbukaan Informasi Publik menjadi pembuka era keterbukaan informasi dan transparansi pengelolaan pemerintahan dan keuangan. Keterbukaan dan transparansi informasi akan mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat atau pemangku kepentingan terkait. Hadirnya Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik ini juga memberikan kebebasan masyarakat untuk mengakses informasi yang seluas-luasnya, baik mengenai kebijakan Pemerintah atau Badan Publik maupun penyelenggaraan pemerintahan.

Keterbukaan membuat akses masyarakat akan informasi menjadi semakin luas, namun seringkali informasi yang tersedia masih tumpang tindih dan tidak terstruktur, sehingga membingungkan. Untuk itu, penting bagi pemerintah terutama Kementerian/Lembaga untuk menyajikan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat, seperti informasi tentang kebijakan dan program-program

pembangunan yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat lebih efektif dan efisien, serta memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Untuk itu, penting bagi pemerintah terutama Kementerian/Lembaga untuk menyajikan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat, seperti informasi tentang kebijakan dan program-program

pembangunan yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah. Dengan demikian, informasi yang disampaikan dapat lebih efektif dan efisien, serta memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

o Arahan dan kebijakan RPJMN 2015-2019

Dimana didalamnya mengangkat tentang Keterbukaaninformasi dan komunikasi, meningkatkan partisipasi (forum-konsultasi publik), Pengawasan pelayanan publik dalam rangka meningkatkan aspek pengetahuan, awareness dan skill. Salah satu intervensi dalam arahan

RPJMN menyebutkan lugas bahwa dalam rangka isu pembangunan berkelanjutan berfokus pada peningkatan peduli alam dan

lingkungan. Sedangkan dari sisi isu gender menyebutkan setiap sektor pembangunan hendaknya mempunyai penerbitan media informasi& komunikasi dari gender responsif

o Permen Bappenas tentang Peran dan fungsi Infosos .

Dimana sesuai tupoksinya, Direkorat Tata Ruang dan Pertanahan bertugas melaksanakan penyiapan perumusan kebijakan, koordinasi,sinkronisasi pelaksanaan penyusunan dan evaluasi perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan serta pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. Adapun satu fungsi dari Dit.TRP yang terkait dengan kegiatan komunikasi adalah (point 2)

Sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan kebijakan perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang, dan pertanahan;

Penyusunan dokumen strategi komunikasi berlandaskan pada regulasi antara lain UU Keterbukaan Informasi Publik nomor 14/2008 pasal 65 Undang-Undang Penataan Ruang No 26 Tahun 2007 tentang peran serta masyarakat

Secara umum Direktorat TRP sejak tahun 2015 telah menyusun draft strategi komunikasi yang merupakan bagian dari sosialisasi kebijakan pembangunan menengah 2015 -2019 bidang tata ruang dan pertanahan. Secara umum diharapkan dengan adanya strategi komunukasi akan memberikan informasi dan pengetahuan serta pemahaman yang baik dan benar kepada masyarakat umum. Adapun dari hasil asesmen tujuan

19 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

3.3 TAHAPAN PENYUSUNAN STRATEGI KOMUNIKASI TRP

3.3. 1 Menetapkan Tujuan komunikasi

(24)

umum tersebut kemudian difokuskan pada isu besar permasalahan yang disepakati semua pihak menjadi permasalahan prioritas untuk

mendukung arahan dan kebijakan strategi RPJMN 2015-2019:

Tujuan komunikasi bidang tata ruang dan pertanahan adalah

mendorong agar kebijakan nasional tata ruang dan pertanahan menjadi acuan dan diimplementasikan oleh para pemangku kepen ngan

Tujuan diatas untuk mendukung amanat wewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman,produktif dan berkelanjutan (pasal 3, UU 26/2007) serta RPJMN 2015-2019 yaitu Kapasitas kelembagaan tata ruang yang mantap dan ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan rencana tata ruang.

Dimana Tata Ruang mempunyai isu srategis untuk (1) RTR sebagai acuan pembangunan berbagai sektor, (2) Pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan tata ruang; serta (3)Kelembagaan penyelanggaraan tata ruang.

Sedangkan untuk isu strategis pertanahan adalah (1) Jaminan kepastian hukum Hak Masyarakat atas tanah, (2) Ketimpangan P4T serta

kesejahteraan masyarakat, (3) Kinerja Pelayanan Pertanahan, serta 4) Ketersediaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum Skema antara goals dan perumusan tujuan komunikasi TRP tergambar dalam skema dibawah ini:

ARAHAN RPJMN 2015-2019

Kapasitas kelembagaan tata ruang yang mantap dan ketersediaan infrastruktur yang sesuai dengan

rencana tata ruang

Target Group Tersier: Memperluas pemahaman publik

dan pemangku kepentingan terkait

Tujuan komunikasi Tata Ruang

Mendorong agar kebijakan TRP menjadi acuan, diadopsi dan diimplementasikan oleh pemangku kepentingan

Target Group Primer: Singkronisasi dan Sinergi

Target Group Sekunder: Kebijakan TRP menjadi acuan dari berbagai sektor

ISU STRATEGIS TATA RUANG

RTR sebagai acuan pembangunan berbagai sektor Pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan tata ruang Kelembagaan penyelenggara tata ruang

ISU STRATEGIS PERTAHANAN

Jaminan kepastian hukum Hak Masyarakat atas tanah Ketimpangan P4T serta kesejahteraan masyarakat Kinerja Pelayanan Pertanahan

(25)

Berdasar isu diatas dan pemetaan target group atau target audiens dipetakan ada 3 (tiga) tingkatan group yang perlu dilakukan intervensi komunikasi karena keberadaan mereka sangat terkait dengan

pencapaian tujuan diatas. Klasifikasi dari target group adalah tercantum dalam tabel 1 sebagai berikut:

JENIS AUDIENS PRIMER

Target Group ISU STRATEGIS

AUDIENS PRIMER Target group yang terkait langsung dalam koordinasi & sinkronisasi untuk pengambilan keputusan ( internal relation)

1. Internal Bappenas meliputi ; Direktorat terkait dalam Deputy Regional Bappenas, Humas dan Pusdatin kementrian Bappenas

2. Kementrian terkait dalam BPKPRN (terutama

KEmendagri dan Kemen ATR)

Sinkronisasi dan Sinergi lintas sektor

AUDIENS SEKUNDER

Target group yang terkait langsung dalam Implementasi kebijakan TRP (government relation)

1. Kementerian/lembaga terkait 2. Pemda Provinsi

3. Pemda Kabupaten/Kota 4. Mitra non pemerintah

Kebijakan TRP menjadi acuan untuk berbagai sektor

AUDIENS TERSIER

Target group berperpengaruh dalam mendukung capaian tujuan dan implementasi TRP ( community relation dan media relation)

1. Publik/masyarakat umum 2. Institusi mass media 3. Sektor Swasta

Peningkatan pemahaman publik dan pemangku kepentingan terhadap TRP

Dari cakupan masing-masing target group, setiap isu startegis diatas terkait dengan permasalahan dari masing-masing yang didapat dari hasil asesmen dan lokakarya dengan skema sebagai berikut:

Internal KL/Lembaga

terkait

Komunitas terkait Program & Forum

Pemda & Mitra Non Pemerintah

Mass Media Publik

Masih kurangnya pemberitahuaan / informasi untuk pembangunan komitmen & pemikiran kritis publik / masyarakat Rendahnya pemahaman terhadap TRP karena kurangnya informasi

Tingkat penyelesaian RT/RW belum banyak dipahami dan diimplementasikan RTR belum menjadi acuan dalam proses pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang (ego sektoral) Lemahnya koordinasi dalam rangka integrasi dan singkronisasi program

Hasil dari perumusan identifikasi tersebut diklasifikasikan dari proses selama asesmen dan lokakarya dari yang dilihat dari sudut pandang pelaku tata ruang baik dari bidang TRP, dan direktorat lain dibawah deputy regional Bappenas. Dari sisi substansi sektor tentu saja berbeda, tetapi dari sisi kondisi eksisting perilaku target group. Yang cukup penting adalah bagaimana mengkomunikasikan dokumen perencanaan berdasarkan kebutuhan yang bisa ditarik dari “perilaku eksisting “ target group. Dan perilaku ini idealnya didapatkan dari proses riset kepada target group.

Tabel 1. Target Group dan Isu Strategis

21 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

3.3.2 Mengidentifikasi Target Audiens/Group dan Isu Strategis

(26)

Komunikasi dalam konteks pembangunan adalah metode untuk

perubahan perilaku target group ke arah perilaku yang diharapkan (sesuai tujuan program ). Perilaku ini menjadi dasar pengambilan

keputusan terhadap tahap berikutnya. Perilaku target group seperti terdapat dalam referensi kajian komunikasi menjadi faktor penting pembangunan. Target perubahan perilaku dalam konteks TRP adalah mengarahkan target group untuk mewujudkan arahan kebijakan TRP yang telah dirumuskan dalam tujuan yaitu: mendorong agar kebijakan nasional tata ruang dan pertanahan menjadi acuan, diadopsi dan diimplementasikan oleh pemangku kepentingan

Knowledge

Attitude

Practice

Intervensi

Komunikasi dalam konteks pembangunan adalah metode untuk perubahan perilaku target group ke arah perilaku yang diharapkan (sesuai tujuan program)

Intervensi dilakukan kondisi eksisting melalui asesmen, Survey KAP (Knoeledge-Attitude-Practice) / KAM kepada target group

Artinya diperlukan metode intervensi untuk mampu merubah perilaku target group dengan berpijak pada kondisi eksisting perilaku saat ini , lalu dikaitkan dengan perubahan perilaku apa yang diharapkan kedepan. Temuan perilaku sekarang/kondisi eksisting bisa didapatkan dari proses asesmen untuk mengukur tingka KAP ( Knowledge-Attitude- Practice) /

KAP dari target group seperti yang dijelaskan dalam bab 2 referensi komunikasi) .

Dari hasil asesmen singkat yang telah dilakukan, bahwa masing-masing dari target group atau per segmen berbeda-beda tingkat perilakunya . Dapat dipetakan dalam tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2. Perilaku target group/audiensTRP

TARGET GROUP PERILAKU SEKARANG

PERILAKU YANG DIHARAPKAN

INTERVENSI

Internal Bappenas mencakup Direktorat terkait dalam Deputy Regional dan Biro terkait di Bappenas

Masih lemahnya kesadaran /sikap untuk memperbaiki koordinasi dalam rangka integrasi dan sinkronisasi program

Sikap kooperatif untuk memperbaiki

koordinasi dalam rangka integrasi dan sikronisasi

Meningkatkan kesadaran/sikap/ motivasi

K/L anggota BKPRN

Kementerian/lembaga terkait

Belum menggunakan RTR sebagai acuan dalam proses pemanfaatan & pengendali-an pemanfaatan ruang

Bersedia dan mampu menggunakan RTR sebagai acuan di sektornya

Mendorong perubahan kebijakan /keputusan

Pemerintah Provinsi Lemahnya kemampuan melakukan advokasi regulasi TRP kepada kabupaten/kota

Mampu melakukan advokasi untuk mendorong penyusunan regulasi RTRW /implementasi ke kabupaten/kota

Membujuk/mendo rong perubahan kebijakan /pengambilan keputusan

3.3.3 Menentukan Jenis Intervensi Komunikasi untuk

(27)

TARGET GROUP PERILAKU SEKARANG

PERILAKU YANG DIHARAPKAN

INTERVENSI

Pemerintah Kabupaten/kota

Lemahnya pemahaman dan kemampuan dalam mengimplementasukan RTRW sesuai kebijakan nasional

Paham & mampu mengimplementasika n RTRW sesuai acuan kebijakan nasional

Menginformasikan dan memampukan kabupaten/kota untuk mempunyai skill (implementasi RTRW)

Stakeholder terkait –mitra non pemerintah

Rendahnya

pemahaman tentang keterlibatan masyarakat sipil dalam

perencanaan-implementasi dan pengawasan TRP

Rendahnya kemampuan mengakses kurangnya informasi (dan dari sisi lain informasi TRP masih jarang )

Paham dan

mendorong pelibatan multi

pihak/masyarakat sipil untuk

berpartisipasi dalam perencanaan, implementasi dan pengawasan TRP

Mendorong sikap kritis penntingnya pelibatan multi pihak dalam melakukan fungsi kontrol

Masyarakat dampingan/masyara kat sipil

Paham dan bisa mengakses informasi TRP

Meningkatkan pemahaman dan memampukan akses masyarakat akses informasi TRP

Mass media & publik secara umum

Masih kurangnya pemberiitaan /informasi yg membangun komitmen & pemikiran kritis publik

Paham dan mampu mengembangkan beritaan/Informasi yg melibatkan opini publik

Menggerakkan motivasi yang lebih luas

Setelah melakukan analisa intervensi komunikasi untuk merubah dari situasi perilaku sekarang (eksisting) menjadi kearah perilaku yang diharapkan. Maka langkah berikutnya adalah pemilihan

pendekatan-approach dari kegiatan komunikasi yang akan dilakukan. Secara garis besar beberapa jenis pendekatan/metode komunikasi terkait dalam komunikasi pembangunan adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Jenis pendekatan komunikasi

Dari beberapa hal diatas apabila melihat kebutuhan intervensi untuk strategi komunikasi TRP (tabel …..) maka ada 3 (tiga) pendekatan yang direkomendasikan untuk digunakan untuk merealisasikan

/memvisualisasikan intervensi komunikasi dari tabel sebelumnya. Dibawah ini adalah opsi 3 pendekatan komunikasi dalam kaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai di bidang TRP sebagai berikut:

Untuk pencapaian tujuan strategi bidang TRP, diperlukan pendekatan yang tepat adalah :public campaign, advokasi, mobilisasi sosial dan disertai dengan penguatan kapasitas (training/lokakarya) melihat beberapa permasalahan di daerah adalah rendahnya kemampuan mengimplementasikan RTRW.

mitr

Pendekatan Advokasi - membangun komitmen

rangka singkronisasi dan sinergi, srta mendorong RTR sebagai acuan dalamkebijakan sektor serta implementasi RT/RW

Pendekatan Campaign - membangun pemahaman dan

kesadaran publik/masyarakat tentang pentingnya implementasi RT/RW untuk pelayanan publik (RTH) dan kesejahteraan masyarakat

Pendekatan Mobilisasi Sosial - membangun jaringan

kemitraan dan aliansi didaerah berbagai simpul, kelembagaan potensial untuk membangun sikap kritis dan kesadaran mesyarakat terhadap pentingnya TRP

23 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih 3.3.4 Memilih Pendekatan(approach Komunikasi

(28)

Setelah merumuskan pendekatan komunikasi berdasarkan pijakan perlaku dan tujuan besar komunikasi TRP, maka dilakukan pemetaan pendekatan/metode berdasar masing-masing segmentasi atau target group pada tabel 4 dibawah ini:

TARGET GROUP INTERVENSI PENDEKATAN/

METODE DESKRIPSI INTERVENSI Internal Bappenas

meliputi ; Direktorat terkait dalam Deputy Regional dan Biro terkait di Bappenas

K/L anggota BKPRN

Meningkatkan kesadaran (sikap kooperatif)

Meningkatkan kemampuan/skill komunikasi

Advokasi Mendorong sikap lebih kooperatif untuk sinkronisasi dan integrasi

Penguatan kapasitas

/training/lokakarya

Memampukan /melatih skill komunikasi yang lebih komprehensif dalam rangka peningkatan koordinasi

kooperatif melalui peningkatan skill (metode,

infrastruktur dalam komunikasi & koordinasi

Tabel 4. Intervensi dan pendekatan komunikasi untuk bidangTRP

TARGET GROUP INTERVENSI PENDEKATAN/

METODE

Advokasi Mendorong penggunaan RTR sebagai acuan dalam kebijakan sektor masing-masing

Pemerintah Provinsi Meningkatkan kesediaan/memotiv asi

Meningkatkan kapasitas/skill

Advokasi Mendorong keputusan/kebijakan didaerah untuk menggunakan RTR sebagai acuan dalam kebijakan se serta implementasi RTRW

Pemerintah konflik wilayah terkait tata ruang dan pertanahan Stakeholder terkait

–mitra non pemerintah

Meninggerakkan motivasi yang lebih luas

(29)

TARGET GROUP INTERVENSI PENDEKATAN/ METODE

DESKRIPSI INTERVENSI Masyarakat

dampingan/masyarakat sipil

Meningkatkan pemahaman dan kemampuan

Public Campaign Meningkatkan kesadaran /mendorong perubahan untuk aktif berpartisipasi dalam implementasi RTRW diwilayahnya

Mass media & publik secara umum

Masih kurangnya pemberiitaan /informasi yg membangun komitmen & pemikiran kritis publik

Mobilisasi Sosial –Triger Mass Action

Menggerakkan motivasi yang lebih luas untuk

membangun pemahaman publik

Public Campaign Membangun sikap kritis tentang pentingnya pemahaman dan partisipasi public untuk penataan ruang di wilayahnya

Pada dasarnya message atau pesan adalah suatu isi atau substansi yang akan disampaikan kepada target sasaran/target group untuk

menggerakkan perilaku kearah yang diharapkan. Pengunaan pesan yang ideal dirancang secara khusus (tailored message) untuk khalayak yang spesifik, dan tidak bisa disama ratakan kepada semua kecuali pesan yang bersifat sangat umum (biasanya untuk pesan komersial)

Dibawah ini adalah beberapa hal yang penting dalam penyusunan pesan . Dikatakan oleh Lyn Cogswell dalam bukunya 10 step promotion toolkits (USAID 2010) , ada 2 (dua) syarat dalam pengemasan pesan bahwa pesan itu harus mempunyai daya tarik (appeals) dan ada janji ( promise) atau menunjukkan manfaat dan dampak yang bisa dipahami oleh target audiens sehingga terdorong melakukan perubahan dalam dirinya. Secara umum untuk memastikan komunikasi yang efektif maka antara pesan dan komunikator (pengirim pesan) , pemilihan media /

saluran/chanel serta target audiensnya harus saling berkaitan seperti tertuang dalam tabel dibawah ini:

25 | Stratkom TRP | Bappenas-Protarih

3.3.5 Merangkai Message /pesan

(30)

TARGET GROUP METODE/KEGIATAN INTERVENSI KEY MESSAGE

Internal Bappenas meliputi ; Direktorat terkait dalam Deputy Regional dan Biro terkait di Bappenas

K/L anggota BKPRN

Advokasi Mendorong

terjadinya perubahan sikap kooperatif untuk memperbaiki koordinasi dan sinkronisasi

Sikap kooperatif , kunci koordinasi dan sinkronisasi

PEnguatan kapasitas Memampukan /melatih skill komunikasi efektif dan komprehensif dalam rangka peningkatan koordinasi

Komunikasi efektif , koordinasi dan kinerja antar K/L meningkat

Kementerian/lembaga terkait

Advokasi Mendorong penggunaan RTR sebagai acuan dalam kebijakan sektor masing-masing

RTR , kunci

keberlanjutan semua sektor pembangunan

Pemerintah Provinsi Advokasi Mendorong

keputusan/kebijakan didaerah untuk menggunakan RTR sebagai acuan dalam kebijakan se serta implementasi RTRW

RTRW, untuk perencanaan yang lebih baik

Menggunakan RTRW , investasi daerah terjamin

Tabel 5. Key message perumusan key message

Str

atk

om TRP | Bappenas-Pr

ot

arih | 26

Dok

(31)

TARGET GROUP METODE/KEGIATAN INTERVENSI KEY MESSAGE

Pemerintah Kabupaten/kota

Advokasi dan penguatan kapasitas

Memampukan daerah menyelesaikan konflik wilayah terkait tata ruang dan pertanahan

Implementasi RTRW baik, konflik teratasi

RTRW, mengurangi kesenjangan dan konflik wilayah

Stakeholder terkait –mitra non pemerintah

Moblisasi Sosial Memperkuat kemitraan dan aliansi untuk melakukan kontrol melalui pembentuka forum

Kemitraan kuat, kontrol RTRW meningkat

Masyarakat

dampingan/masyarakat sipil

Public Campaign Penguatan kapasitas

Mendorong perubahan untuk aktif berpartisipasi dalam implementasi RTRW diwilayahnya

Partisipasi masyarakat sipil, kunci keberlanjutan

Mass media & publik secara umum

Mobilisasi Sosial –Triger Mass Action

Menggerakkan motivasi yang lebih luas untuk

membangun pemahaman publik terhadap manfaat adaanya RTRW

Perkuat opini publik kuatkan kontrol sosial

Public Campaign Membangun sikap kritis tentang pentingnya pemahaman dan partisipasi publik untuk penataan ruang di wilayahnya

RTRW untuk

kesejahteraan warga, pahami dan mulai berpartisipasi.

Tag Line atau kata kunci utama untuk memayungi semua message dalam tabel 5 diatas direkomendasikan sebagai berikut : (1) Tata ruang yang baik, investasi pembangunan berkelanjutan ; (2) Tata Ruang untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia

27 | Str

atk

om TRP | Bappenas-Pr

ot

arih

Dok

(32)

Penggunaan media sangat pen ng dalam proses dan pencapaian tujuan komunikasi. Pemilihan media sangat tergantung pada siapa, karakter dan perilaku target audiens dan jangka waktu pencapaian tujuan komunikasi. “No one size fits for all” adalah prinsip dalam pemilihan media.

Alat/media/saluran yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi agar lebih mudah ditangkap sasaran, dikelompokkan atas:

- Media Visual, media komunikasi yang dapat ditangkap melalui penglihatan

- Media Audio, media komunikasi yang dapat ditangkap melalui pendengaran

- Media Audio Visual, media komunikasi yang dapat ditangkap melalui penglihatan dan pendengaran.

- Mul Media adalah gabungan dari keseluruhan sifat media diatas

Penentuan media yang sesuai untuk se ap pesan dan target audiens sangat tergantung dari hasil assessment. Pada beberapa kasus, khususnya pada komunikasi pembangunan memerlukan proses uji coba efek fitas penggunaaan media komunikasi.

Proses uji coba efek fitas penggunaaan media komunikasi sebelum media tersebut di distribusikan kepada target sasaran audiens apalgi kepada publik atau khalayak yang besar. Langkahnya disebut dengan Pre-test untuk mengukur apakah contentnya bisa ditangkap dengan baik sesuai tujuan komunikasi, dan apakah kemasannya menarik untuk kemudian menjadi perha an dari audiens. Hasil dari pre-test ini kemudian menjadi masukan untuk perbaikan sebelum pada akhirnya di finalisasi dan didistribusikan.

Pemilihan media juga pen ng untuk memper mbangkan kesiapan audiens dan kemampuan mengakses media /tools yang akan digunakan. Ada dua cakupan media untuk menjangkau khalayak yaitu:

(1) Above the line (dimana media ini menggunakan kekuatan teknologi, berskala luas. Target audiensnya adalah massa/publik secara umum. Media massa baik print, radio, televisi masuk dalam kategori ini, termasuk mul media), Media luar ruang (spanduk, baliho). lainnya konferensi pers/press release, doorstop, dll

(2) Below the line (adalah media yang diproduksi dengan lebih sederhana, skala tertentu dn targetnya adalah komunitas atau kelompok tertentu. Bentuknya bisa berupa media visual seper poster, brosur, cergam yang lebih bersifat group media/media untuk kelompok). (1) Media tatap muka (seminar/diskusi publik, FGD, pameran diseminasi/sosialisasi) Booklet, flyer)

(3) Through The Line melalui media sosial (situs, facebook, twi er, dll)

Dasar pemilihan media seper disebutkan dalam tabel tentang sangat ditentukan oleh karakter audiens/target group teriutama kemampuan akses dan minatnya, kemudian per mbangan berikutnya ditentukan karakteris k pesan /message termasuk dalam hal ini adalah

(33)

TARGET GROUP METODE KEY MESSAGE MEDIA/CHANEL

Internal Bappenas meliputi Direktorat terkait dalam Deputy Regional dan Biro terkait di Bappenas

K/L anggota BKPRN

Advokasi

*advokasi informal bisa dilakukan dalam pertemuan

motivasional seperti gathering,outing/outbo nd

Kooperatif , kunci koordinasi dan sinkronisasi

Group media (below the line) seperti :

-Milis, website - Motto bersama /grafis/poster -Medsos dalam group -video

motivasi/teamwork

Lokakarya/pelatihan *bisa berbentuk lokakarya/pertemuan gathering informal

Komunikasi efektif , koordinasi dan kinerja antar K/L meningkat

-Modul

training/panduan strategi komunikasi TRP

-Milis, wasap group -material training /video

Kementerian/lembaga terkait

Advokasi *Seminar, rapat koordinasi

*Informal lobbying

RTR , kunci keberlanjutan disemua sektor pembangunan

-Infografis

-Factsheet /dokumen pembelajaran -Case studi -Website -Sosmed

/bulletin/milis lintas K/L

Pemerintah Provinsi Advokasi *Road show * Rapat Koordinasi

RTRW, untuk perencanaan yang lebih baik

Adanya RTRW , investasi daerah terjamin

-Panduan -Contoh material advokasi /fact sheet /video dll

Penguatan Kapasitas Kegiatan bisa berupa: *Roadshow

*Lokakarya

*Horisontal learning antar

Pemda

*Sharing knowledge * Award

*Studi Banding

Implementasi RTRW baik, konflik teratasi

RTRW, mengurangi kesenjangan dan konflik wilayah

-Case Studi -Factsheet -Kajian-ringkasan kajian

- Video documenter - Opini di mass media - Bulettin

-Website

Tabel 6. Menyeleksi Media/Saluran/Chanel

29 | Str

atk

om TRP | Bappenas-Pr

ot

arih

Dok

Gambar

Tabel 1. Target Group dan Isu Strategis
Tabel 2. Perilaku target group/audiensTRP
Tabel 3. Jenis pendekatan komunikasi
Tabel 4. Intervensi dan pendekatan komunikasi untuk bidangTRP
+4

Referensi

Dokumen terkait

Strategi komunikasi instruksional khususnya di sekolah dasar yang terletak di desa tertinggal sangatlah berbeda dengan daerah yang sudah maju. Karateristik sasaran sangat

Judul skripsi : Strategi Komunikasi Politik Calon Legislatif Partai PDIP pada Pemilu Legislatif Periode 2014-2019 (Studi Deskriptif mengenai Strategi Komunikasi Politik Calon

Uraian yang menjelaskan turunan atau rincian dari strategi berupa jenis materi konten dan media komunikasi publik serta khalayak sasaran secara spesifik sesuai dengan materi konten

Tesis ini mengangkat judul tentang Strategi Komunikasi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Banjar dalam Memperoleh Penghargaan Wahana Tata

Tim pengabdian menjelaskan bagaimana menyusun strategi branding yang dapat meningkatkan minat dan pengetahuan konsumen kemudian materi selanjutnya terkait komunikasi

2019: Strategi Komunikasi Massa Wisata BUNDER (Bangsring Underwater) Banyuwangi Dalam Peningkatan Pendapatan Masyarakat Lokal. Komunikasi terjadi dalam bidang kehidupan,

Dengan menggunakan pendekatan dan jenis penelitian yang tepat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang strategi komunikasi yang efektif dalam

Penelitian ini menggunakan strategi pemasaran komunikasi yang dilakukan oleh Jam Tangan Matoa sebagai objek yang diteliti, dalam jangka waktu Oktober 2019–Desember 2019, dengan