“PERAN PROGRAM PENGEMBANGAN USAHA
AGRIBISNIS PERDESAAN (PUAP) MELALUI SEKTOR
PERTANIAN DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN
PETANI DI KABUPATEN TULUNGAGUNG”
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah“Seminar Proposal Skripsi”
Dosen Pengampu:
Rokhmat Subagiyo, S.E., M.E.I
Disusun Oleh:
Muhammad Miftahul Khoir Rahmatullah
(17402153027)
EKONOMI SYARIAH (VI/A)
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang umumnya berada di pedesaan. Dengan demikian, sudah sewajarnya masyarakat desa sebagai petani menjadi sasaran utama dalam upaya meningkatkan kemajuan pertanian. Tingkat kemajuan pertanian dapat diwujudkan mulai dari pembangunan pertanian, yang dijalankan melalui program-program daerah. Pembangunan pertanian ditujukan dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama petani dan pelaku usaha pertanian. Dalam pencapaian tujuan tersebut, kegiatan pembangunan pertanian menuntut termanfaatkannya seluruh potensi yang ada di masyarakat, baik potensi sumber daya alam, manusia, teknologi, dan juga sumber daya institusi secara optimal, menguntungkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.
Pengembangan sektor pertanian diharapkan tidak hanya dapat menyediakan sumber pangan dan bahan baku industri, melainkan juga akan menyokong pembangunan nasional dalam hal pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), Penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pemicu pertumbuhan ekonomi di pedesaan, perolehan devisa, maupun sumbangan tidak langsung melalui penciptaan kondisi kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lain.1
Memperbincangkan pembangunan, khususnya di negara berkembang, tidak bisa lepas dari wilayah perdesaan. Sebabnya sederhana saja, sebagian besar penduduk di negara berkembang bermukim didaerah perdesaan dan mayoritas masih dalam kondisi miskin. Di luar itu, wilayah perdesaan karena lokasinya jauh dari pusat kota/pembangunan dicirikan oleh terbatasnya infrastruktur ekonomi, sedikitnya kesempatan kerja diluar pertanian (
farm), dan jauh dari pasar.2 Kondisi wilayah tersebut bisa dikatakan merupakan mniatur dari keadaan kehidupan masyarakat perdesaan di banyak negara dunia ketiga. Wilayah perdesaan di dunia ketiga biasanya di deskripsikan sebagai tempat bagi orang-orang untuk bekerja di sektor pertanian. Sementara itu dalam pengertian yang sempit, desa adalah suatu masyarakat para petani yang mencukupi hidup sendiri (swasembada).3
Masalah paling dasar bagi sebagian besar petani Indonesia adalah masalah keterbatasan modal yang dimiliki oleh para petani. Permasalahan yang dihadapi dalam permodalan pertanian berkaitan langsung dengan kelembagaan selama ini, yaitu lemahnya organisasi tani, sistem dan prosedur penyaluran kredit yang rumit, birokratis dan kurang memperhatikan kondisi lingkungan sosial budaya perdesaan, sehingga sulit menyentuh kepentingan petani yang sebenarnya. Dalam rangka menanggulangi permasalahan tersebut, dicanangkan program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Program ini bertujuan untuk membantu mengurangi tingkat kemiskinan dan menciptakan lapangan pekerjaan di perdesaan serta membantu penguatan modal dalam kegiatan usaha di bidang pertanian sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Kehadiran program PUAP diharapkan dapat mengatasi masalah kesulitan modal yang dihadapi petani.4
Di Kabupaten Tulungagung, program PUAP juga sudah terlaksana dari tahun 2008 melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung. Masyarakat anggota gapoktan yang menggunakan modal pinjaman PUAP tersebut masih belum tersosialisasi dan masih mempunyai kesadaran yang kecil, mereka meminjam dana tersebut tanpa mengembalikannya dan kebanyakan anggota gapoktan meminjam dana tersebut bukan untuk permasalahan petaniannya tetapi untuk hal-hal yang lain seperti kebutuhan rumah tangga dan lain-lain, sehingga dana PUAP tersebut tidak berjalan maksimal.
2 Ahmad Erani Yustika, Rukavina Baks. Konsep Ekonomi Kelembagaan Perdesaan, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan. (Malang: Empat Dua, 2015). hal. 1
3 Ibid. hal. 2
Berdasarkan fenomena yang terjadi tersebut, penulis akan membuat penelitian yang berjudul “Peran Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Melalui Sektor Pertanian Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Petani Di Kabupaten Tulungagung”.
B. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan fokus penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana pengertian dari program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)?
2. Bagaimana mekanisme program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)?
3. Bagaimana peran program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dalam meningkatkan pendapatan petani padi anggota gapoktan di Kabupaten Tulungagung?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui pengertian dari program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
2. Mengetahui mekanisme program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
3. Mengetahui peran program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dalam meningkatkan pendapatan petani padi anggota gapoktan di Kabupaten Tulungagung.
Penelitian ini mencakup tentang peningkatan pendapatan pada masyarakat khususnya para petani di kabupaten Tulungagung dengan adanya program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di sektor pertanian padi, dan juga mekanisme pelaksanaannya (PUAP) di beberapa wilayah di kabupaten Tulungagung.
Untuk menghindari pembahasan yang meluas serta kesalah pahaman, maka perlu adanya pembatasan terhadap penelitian dengan penentuan variable-variabel penelitian secara jelas. Variabel yang hendak diteliti adalah program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP), kondisi sektor pertanian di beberapa wilayah kabupaten Tulungagung, dan peran program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dalam meningkatkan pendapatan masyarakat petani anggota gapoktan di Kabupaten Tulungagung.
Untuk keperluan data penelitian, peneliti akan mencari data-data yang menyangkut dengan topik penelitian di beberapa desa di kabupaten Tulungagung yang mempunyai potensi lahan pertanian padi dan pada masing-masing gapoktan yang ada di desa tersebut.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah khazanah keilmuan, khususnya dalam upaya meningkatkan perekonomian masyarakat petani padi di kabupaten Tulungagung melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di sektor pertanian.
b. Sebagai acuan peneliti berikutnya dalam mengkaji upaya meningkatkan perekonomian masyarakat petani padi di kabupaten Tulungagung melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di sektor pertanian.
2. Manfaat Praktis
c. Bagi lembaga, dapat dijadikan sebagai tambahan khazanah pengetahuan dan menjadikan sumbangan referensi bagi penelitian berikutnya terkait upaya meningkatkan perekonomian masyarakat petani padi di kabupaten Tulungagung melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di sektor pertanian.
d. Bagi masyarakat, agar lebih mengetahui secara transparan, mengenai peningkatkan perekonomian masyarakat petani padi di kabupaten Tulungagung melalui program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) di sektor pertanian.
F. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami skripsi yang berjudul “Peran Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Melalui Sektor Pertanian Dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Di Kabupaten Tulungagung”, maka penulis memandang perlu untuk menegaskan istilah-istilah yang terdapat dalam judul, yaitu sebagai berikut:
1. Penegasan Konseptual
b. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)
Bentuk fasilitas bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).
c. Sektor Pertanian
Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
d. Pendapatan
Jumlah uang yang diterima oleh pelaku usaha dari aktivitasnya, kebanyakan dari penjualan produk dan/atau jasa kepada pelanggan atau konsumen.
Secara operasional penelitian dimaksudkan untuk mengetahui “Peran Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Melalui Sektor Pertanian Guna Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Petani Di Kabupaten Tulungagung”, yang dimaksud adalah mengetahui prosedur dan peran dari Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) melalui sektor pertanian guna meningkatkan pendapatan masyarakat petani di kabupaten Tulungagung.
KAJIAN PUSTAKA A. KerangkaTeori
1. Pengertian Sektor Pertanian Perdesaan
Sektor pertanian merupakan andalan untuk meningkatkan kesejahteraan sebagian masyarakat Indonesia karena sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di desa dan bekerja di sektor pertanian. Negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena besarnya luas lahan yang digunakan untuk pertanian yaitu kurang lebih 74,52% dari keseluruhan luas lahan yang ada di Indonesia.5 Pengembangan sektor pertanian melalui strategi
peningkatan nilai tambah (value added) komoditas hasil pertanian diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan para petani dan mengembalikan pamor sektor pertanian sebagai salah satu sektor andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.6
Memperbincangkan pembangunan, khususnya di negara berkembang, tidak bisa lepas dari wilayah perdesaan. Sebabnya sederhana saja, sebagian besar penduduk di negara berkembang bermukim didaerah perdesaan dan mayoritas masih dalam kondisi miskin. Di luar itu, wilayah perdesaan karena lokasinya jauh dari pusat kota/pembangunan dicirikan oleh terbatasnya infrastruktur ekonomi, sedikitnya kesempatan kerja diluar pertanian ( non-farm), dan jauh dari pasar.7 Kondisi wilayah tersebut bisa dikatakan
5 Imamudin Yuliadi. Perekonomian Indonesia Masalah dan Implementasi Kebijakan. (Yogyakarta: UPFE-UMY, 2007). hal. 179
6 Ibid.
merupakan mniatur dari keadaan kehidupan masyarakat perdesaan di banyak negara dunia ketiga. Wilayah perdesaan di dunia ketiga biasanya di deskripsikan sebagai tempat bagi orang-orang untuk bekerja di sektor pertanian. Sementara itu dalam pengertian yang sempit, desa adalah suatu masyarakat para petani yang mencukupi hidup sendiri (swasembada).8
2. Pengertian Agribisnis
Agribisnis sebagai sebuah sistem dan budaya baru mengelola bisnis berbasis sumber daya alam sebenarnya sudah dikenal di Indonesia sejak akhir 1970-an. Namun, karena esensi utama suatu sistem agribisnis sebagai keterkaitan seluruh komponen dan subsistem agribisnis, tidaklah mudah untuk merumuskan suatu strategi pengembangan yang terintegrasi, apalagi dengan faktor eksternal yang sukar dikendalikan. Hal ini pun sangat berhubungan dengan karakter utama komoditas agribisnis yang mengandung resiko dan ketidakpastian cukup tinggi.9
Agribisnis sendiri bukan sekedar proses kegiatan pertanian yang berbasis lahan, tetapi merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh pelaku pertanian yang menyiapkan input, proses menuju output, dan transportasi untuk menjual produk ke konsumen. Dengan definisi seperti itu, strategi agribisnis setidaknya terdiri dari empat subsistem yang terintegrasi secara fungsional, yaitu sebagai berikut.
a. Subsistem agribisnis hulu (up-stream agribusiness) berupa ragam kegiatan industri dan perdagangan sarana produksi pertanian primer, seperti industri pupuk, obat-obatan, bibit/benih, alat dan mesin pertanian, dan lain-lain.
b. Subsitem usaha tani primer (on- farm agribusiness) yang menghasilkan komoditas pertanian primer.
8 Ibid. hal. 2
c. Subsistem agribisnis hilir (down- stream agribusiness) yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik dalam bentuk siap untuk dimasak/siap disaji/siap untuk dikonsumsi beserta kegiatan perdagangannya di pasar domestik dan internasional.
d. Subsistem jasa layanan pendukung, seperti lembaga keuangan, transportasi, penelitian dan pengembangan, asuransi, kebijakan pemerintah, dan lain-lain.10
Keseluruhan kegiatan subsistem tersebut saling terkait dalam sebuah rangkaian sistem yang terintegrasi dan komprehensif. Terintegrasi disini bukan dimaksudkan seluruh kepemilikan sejak dari hulu sampai hilir harus berada dalam satu kelompok tertentu. Justru yang di harapkan adalah kepemilikan tersebut terdistribusi secara proporsional diantara pelaku ekonomi yang berkecimpung dalam proses agribisnis, sehingga di antara mereka tercipta hubungan yang sepadan dan tidak saling merugikan. Dengan begitu, sebagai strategi pembangunan ekonomi sistem agribisnis hendak menekankan bahwa tanpa perkembangan di seluruh subsistem, berbagai upaya untuk meningkatkan pendapatan petani akan menemui kendala-kendala yang serius.11
Sektor agribisnis telah terbukti mampu bertahan dari terpaan badai krisis moneter. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia tidak dapat sepenuhnya tergantung pada sektor industri dan jasa saja, tetapi juga pada sektor agribisnis. Oleh karena itu semestinya para pengambil kebijakan baik dari tingkat pusat, provinsi sampai ke tingkat kabupaten dalam pembangunan ekonomi di wilayahnya masing-masing perlu memberikan prioritas pada sektor agribisnis karena mampu meningkatkan pendapatan para pelaku agribisnis, menyerap tenaga kerja, meningkatkan perolehan devisa, dan mampu mendorong munculnya industri yang lain.12
10 Ahmad Erani Yustika, Rukavina Baks. Op. Cit. hal. 46-47 11 Ibid. Hal. 47
3. Pengertian Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)
PUAP merupakan bentuk fasilitas bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan produktif budidaya ( On-farm) dan kegiatan non budidaya (Off-farm) yang terkait dengan komoditas pertanian yaitu industri rumah tangga pertanian, pemasaran hasil pertanian dan usaha lain berbasis pertanian.13
Dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan, bapak Presiden RI pada tanggal 30 April 2007 di Palu, Sulawesi Tengah telah mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M), Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian pada tahun 2008 dilakukan secara terintegrasi dengan program PNPM-M. Untuk pelaksanaan PUAP di Departemen Pertanian, Menteri Pertanian membentuk tim Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan melalui Keputusan Menteri Pertanian (KEPMENTAN) Nomor 545/Kpts/OT.160/9/2007.14
Prosedur Pencairan Dana BLM-PUAP
Dana BLM-PUAP yang disalurkan dari Kementerian Pertanian kepada Gapoktan dimanfaatkan sebagai modal usaha, diharapkan dikelola dengan baik dan berkelanjutan oleh pengurus Gapoktan sesuai dengan Rencana Usaha Bersama (RUB) yang telah disusun Gapoktan. Prosedur penarikan dana BLM-PUAP dari Gapoktan kepada Kelompoktani dan petani anggota serta pemanfaatannya sebagai berikut.
13 Septria I. Rajagukguk, Menenth Ginting, dan Emalisa, Partisipasi Petani Dalam Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), (Fakultas Pertanian USU, E-Journal, pdf), hal. 2
a. Pengurus Gapoktan PUAP menginformasikan kepada seluruh petani anggota melalui Kelompoktani bahwa dana BLM-PUAP telah masuk ke rekening Gapoktan.
b. Pembekalan pengetahuan PUAP dilakukan oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dan atau PMT, sebelum dana dicairkan kepada Kelompoktani atau petani anggota.
c. Pengurus Gapoktan meminta kepada seluruh Kelompok tani untuk menentukan jadwal penarikan sesuai dengan Rencana Usaha Kelompok (RUK).
d. Pengurus Kelompok tani meminta kepada seluruh petani anggota untuk menentukan jadwal penarikan sesuai dengan Rencana Usaha Anggota (RUA).
e. Penarikan/Pencairan dana BLM PUAP dari Bank diketahui oleh Tim Teknis PUAP Kabupaten/Kota, dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan jadwal pemanfaatan yang disepakati pada Rapat Anggota.
Prosedur Pemanfaatan Dana BLM-PUAP
a. Dana BLM-PUAP dimanfaatkan sebagai
modal usaha produktif agribisnis sesuai dengan RUB/RUK/RUA yang telah disepakati.
b. Setiap transaksi dilaksanakan secara
transparan dan dibukukan serta bukti transaksi harus disimpan secara tertib oleh Bendahara Gapoktan.
c. Pemanfaatan Dana BLM-PUAP yang tidak
d. Dana BLM PUAP merupakan modal dasar bagi Gapoktan yang dapat dimanfaatkan oleh petani, dan harus ditumbuhkembangkan secara berkelanjutan menjadi LKM-A.
e. Apabila terjadi penyimpangan terhadap
penyaluran dan pemanfaatan dana BLM-PUAP, maka Tim Teknis agar melakukan pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan yang dinyatakan dengan Berita Acara penyelesaian Permasalahan (BAP).15
4. Pengertian Pendapatan
Tujuan kebijakan ekonomi adalah menciptakan kemakmuran. Salah satu ukuran kemakmuran terpenting adalah pendapatan. Kemakmuran tercipta karena ada kegiatan yang menghasilkan pendapatan. Ada juga pendapatan dari harta, tetapi harta adalah akumulasi dari kegiatan sebelumnya.16
Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun berupa barang yang berasal dari pihak lain maupun hasil industri yang dinilai atas dasar sejumlah uang dari harta yang berlaku saat itu. Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan penghidupan seseorang secara langsung mau pun tidak langsung.17
B. Penelitian Terdahulu No Judul/Penulis/
Tahun
Masalah Penelitian Tujuan Penelitian
Sampel & Teknik Sampling
Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data
Hasil penelitiannya adalah bahwa program PUAP
15 Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Petunjuk Teknis Verifikasi Dokumen Administrasi dan Penyaluran Dana Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (BLM-PUAP) Tahun 2015. (Jakarta: TP, 2015) Hal. 17-18
AN USAHA Siregar & Gustami Harahap, Evi Erawati & Yudha Andriansyah Putra/2013
terhadap pendapatan petani sebelum dan sesudah program PUAP
primer diperoleh secara langsung melaui
wawancara kepada sampel dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) dan data sekunder diperoleh dari lembaga atau instansi-instansi terkait dengan penelitian.
Teknik sampling yang digunakan adalah
purposive sampling.
Metode penelitian yang dipergunakan adalah kuantitatif dengan jenis deskriptif tani, serta dapat mempengaruhi sikap
Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder.
berpedoman pada daftar pertanyaan (kuisioner) meliputi identitas penerima
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa pendapatan
perkapita perbulan sebelum dan setelah program
PUAP menunjukkan hasil yang nyata. Hal ini dapat terlihat bahwa nilai p value
kurang
menurut petani
dana PUAP yaitu umur, tingkat pendidikan, pengalaman usaha, jumlah anggota keluarga, jenis dan luas lahan, luas dan status kepemilikan lahan. Sedangkan data sekunder meliputi gambaran umum atau keadaan daerah, iklim, luas daerah, jumlah penduduk, tingkat pendidikan dan sumber mata pencaharian penduduk dan data-data yang berhubungan dengan
program PUAP, yang diperoleh dari instansi-instansi terkait, seperti Kantor Kecamatan, BPS, penyuluh dan penyelia gapoktan.
Teknik sampling yang digunakan adalah
stratified purposive sampling.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan program PUAP dan setelah dilaksanakan
analisis deskriptif,
Importance Performance Analysis (IPA),
menggunakan rumus menurut Soekartawi (1995) yang selanjutnya menggunakan uji statistik
1) Mengetahui jenis usaha.
2) Mengetahui pendapatan bersih dari usaha sumber dana PUAP.
Data yang diambil terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer di peroleh langsung dari anggota Gapoktan. Data sekunder di
peroleh dari instansi terkait dan dinas Pertanian kota Pekanbaru.
Teknik sampling yang digunakan adalah
purposive sampling.
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian ini adalah bahwa dana bantuan PUAP telah dapat meningkatkan pendapatan
keluarga. Melalui usaha tani, petani telah memperoleh
usaha, dan juga perlu pelatihann dan pendampingan dari tersebut meliputi data primer dan data sekunder. Data Primer yakni data yang bersumber
langsung dari penerima dan yang
tidak mendapatkan BLM-PUAP di
Kabupaten Barito Kuala, yang
sekunder yang diperoleh dari berbagai sumber, seperti hasil-hasil penelitian, dan
publikasi-publikasi yang
diterbitkan
oleh instansi yang berwenang, yaitu: Badan Pusat Statistik,
Pemerintah Desa, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Kabupaten, instansi terkait dan kepustakaan yang relevan dengan kegiatan
penelitian.
Teknik sampling yang digunakan adalah
purposive sampling.
Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif
C. Kerangka Konseptual
Berdasarkan rumusan masalah, landasan teori dan juga kajian
penelitian terdahulu, Skema hubungan antar variabel atau kerangka berfikir
Sektor Pertanian Padi
Gapoktan
Program PUAP
D. Proposisi
1. Penerapan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat petani di kabupaten Tulungagung.
2. Faktor-faktor yang menghambat dan mendorong program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat petani di kabupaten Tulungagung.
3. Penerapan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) sebagai upaya meningkatkan pendapatan masyarakat petani di kabupaten Tulungagung dalam perspektif ekonomi Islam.
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pendekatan yang diambil dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi.18
18 Rokhmat Subagiyo. Metode Penelitian Ekonomi Islam: Konsep dan Penerapan. (Jakarta: Alim’s Publishing, 2017). Hal. 232
Mekanisme Pelaksanaan
PUAP
Faktor Penghambat /kendala dan
Solusi
B. Tempat Penelitian
Adapun tempat penelitian yang akan diteliti adalah di beberapa Gapoktan yang ada di daerah Kabupaten Tulungagung. Selain itu, peneliti juga akan menggali informasi di dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung yang beralamatkan di Jl. Ki Mangunsarkoro, Beji, Tulungagung PO.BOX. 117.
C. Instrumen Pengumpulan Data
Pada dasarnya ada tiga teknik dalam pengumpulan data yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumentasi.
1. Observasi
Observasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah observasi terlibat yang dilakukan dalam tiga tahapan, yaitu pengamatan deskriptif, pengamatan terfokus, dan pengamatan selektif.
a. Pengamatan deskriptif
yaitu pengamatan dimana saat memasuki situasi social tertentu sebagai obyek penelitian, pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti.19 Yang dimaksud adalah peneliti datang hanya meneliti secara umum tentang letak geografis dari beberapa gapoktan di daerah Kabupaten Tulungagung, mengenai apakah gapoktan-gapoktan tersebut masih aktif dalam menjalankan administrasi pelaksanaan pertanian. Dan juga peneliti akan meneliti mengenai peran dari dinas pertanian Kabupaten Tulungagung.
b. Pengamatan terfokus
yaitu dimana peneliti sudah mempersempit observasi menjadi fokus tertentu. Yang dimaksud adalah peneliti sudah mulai menarik pengamatan umum menjadi lebih sempit. 20 Antara lain adalah apakah beberapa gapoktan tersebut sudah mendapatkan dana program BLM-PUAP dan apakah sudah tersosialisasi mengenai mekanisme pelaksanaannya oleh dinas pertanian kabupaten Tulungagung.
c. Pengamatan selektif adalah peneliti telah menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya menjadi lebih rinci.21 Dalam observasi kali ini peneliti telah benar-benar fokus meneliti mengenai seberapa besar peran program BLM-PUAP dalam meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani padi pada beberapa gapoktan yang ada di kabupaten Tulungagung.
2. Studi Dokumentasi
Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data dari sumber-sumber non-insani yakni berupa dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang terkait dengan fokus dan sub fokus penelitian.22
3. Wawancara
Yang dimaksud wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan tatap muka secara langsung antara pewawancara dengan narasumber dimana pewawancara mengajukan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab secara lisan oleh narasumber.23 Adapun dalam wawancara ini peneliti akan menggali informasi dari ketua gapoktan, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan dari pihak dinas pertanian kabupaten Tulungagung mengenai pelaksanaan dan dampak dari program BLM-PUAP terhadap produktivitas dan pendapatan petani Tulungagung.
D. Teknik Analisis Data
Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum peneliti memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan focus penelitian. Namun focus penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.24
21 Ibid
Analisis selama di lapangan yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman yaitu menggunakan analisis data reduction (reduksi data) yaitu merangkum data. Merangkum adalah memilih hal-hal pokok, mmefokuskan pada hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.25
Langkah selanjutnya yaitu data display (penyjajian data). Dalam penelitian kualitatif yaitu dengan bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu dengan teks bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi
merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami. Selain dengan cerita narasumber juga berupa grafik, matrik dan chart.26
Langkah terakhir yaitu conclusion drawing/ verivication, yaitu menarik kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.27
DAFTAR PUSTAKA
o Arifin, Bustanul. 2007. Diagnosis Ekoonomi Politik Pangan dan Pertanian. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007).
o Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. 2015. Petunjuk Teknis Verifikasi Dokumen Administrasi dan Penyaluran Dana Bantuan Langsung Masyarakat Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (BLM-PUAP) Tahun 2015. (Jakarta: TP)
25 Ibid. Hal. 236 26 Ibid
o http://www.hestanto.web.id/pengertian-pendapatan/
o Menteri Pertanian, Pedoman Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan,
(Peraturan Menteri Pertanian, Nomor 16/Permentan/OT.140/2/2008, pdf).
o Nur Tyas, Ike Wahyu. Evaluasi Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Di Desa Jetis Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk. (Fakultas Ilmu Sosial, UNESA, E-Journal, pdf.).
o Rajagukguk, Septria I dkk. Partisipasi Petani Dalam Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). (Fakultas Pertanian USU, E-Journal, pdf).
o Sagala, Zagaruddin. Dampak Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Terhadap Pendapatan Petani. (Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB, Skripsi, pdf.)
o Subagiyo, Rokhmat. 2017. Metode Penelitian Ekonomi Islam: Konsep dan Penerapan. (Jakarta: Alim’s Publishing).
o Tarigan, Robinson. 2015. Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi. (Jakarta: Bumi Aksara).
o Yuliadi, Imamudin. 2007. Perekonomian Indonesia Masalah dan Implementasi Kebijakan. (Yogyakarta: UPFE-UMY).
o Yustika, Ahmad Erani & Baks, Rukavina. 2015. Konsep Ekonomi Kelembagaan Perdesaan, Pertanian, dan Kedaulatan Pangan. (Malang: Empat Dua).