Kualitas Pelaporan Keuangan dan Asimetri Informasi
di Industri Manufaktur Indonesia
Erna Setiany 1), dan Ayu Wulandari 2)
Abstract
The purpose of this research is to examine the effect of inancial reporting quality on economic
consequences. The inancial reporting quality was measured by value relevance. As for the economic consequences was measured by the asymmetric information. Sample was taken based on purposive sampling method from manufactured companies listed on Indonesia Stock Exchange in the year 2010 to 2012. The inal samples consist of 107 companies. This study used multiple linear regression method for testing the hypothesis. This study found that inancial reporting quality had a negative and signiicant relationship with the asymmetric information. It means that high inancial reporting quality will decrease the asymetrric information betwen irms and their investor.
Key words : Financial reporting quality, value relevance, asymmetric information.
PENDAHULUAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh kualitas pelaporan keuangan terhadap asimetri informasi sebagai konsekuensi ekonomi dari laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2010-2012. Dalam penelitian ini kualitas pelaporan keuangan diproksikan dengan relevansi nilai, dan asimetri informasi diproksikan ke dalam bid-ask spread. Penelitian ini juga menggunakan dua variabel kontrol, yaitu ROA sebagai wujud informasi laba perusahaan dan Total Aset sebagai representasi dari ukuran perusahaan.
Masalah keagenan muncul ketika investor selaku prinsipal mendelegasikan pengelolaan usahanya pada agen. Kondisi ini mengakibatkan potensi ekspropriasi oleh agen atas biaya prinsipal (Jensen dan Meckling, 1976). Kondisi pemisahan fungsi prinsipal dan agen juga berakibat pada munculnya masalah asimetri informasi. Salah satu bentuk asimetri
informasi adalah adverse selection. Adverse selection merupakan kondisi asimetri informasi yang dialami investor sehingga berpotensi salah dalam mengambil keputusan investasi (Scott, 2012). Investor sebagai pengguna pelaporan keuangan, membutuhkan informasi yang berkualitas. Sebagaimana dinyatakan oleh Copeland dan Galai (1983) dan Fanani (2009) bahwa kualitas pelaporan keuangan signifkan menurunkan asimetri informasi.
Karakteristik fundamental yang harus dipenuhi suatu laporan keuangan adalah relevance dan faithful representation. Informasi keuangan yang disajikan perusahaan bisa menjadi tidak berguna apabila tidak memenuhi karakteristik tersebut, karena relevansi nilai (value relevance) dapat digunakan untuk melihat gambaran accounting quality suatu laporan keuangan (Yuni dan Rohma, 2013). Kasus kecurangan yang terjadi antara lain mark-up laporan keuangan PT. Kimia Farma yang overstated, mengindikasikan rendahnya tingkat konservatisme sebagai
EFEKTIF Jurnal Bisnis dan Ekonomi Vol 6 No. 2 Desember 2015 17-24
1 Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
salah satu atribut kualitas pelaporan keuangan yang diterapkan oleh perusahaan dalam menyusun laporan keuangannya dan kurangnya implementasi mekanisme corporate governance yang baik (Tjager, Djemat, dan Sembodo, 2003).
Beberapa penelitian di Indonesia telah menguji hubungan antara kualitas pelaporan keuangan terhadap informasi asimetri salah-satunya adalah Indriyani dan Khoiriyah (2010) pada perusahaan manufaktur di BEI tahun 2004-2008. Pada penelitian ini kualitas pelaporan keuangan diukur dengan proksi pelaporan keuangan yaitu relevansi nilai, ketepatwaktuan, dan konservatisme, namun hasil penelitian ini tidak berhasil membuktikan adanya pengaruh yang signiikan terhadap asimetri informasi. Penelitian serupa dilakukan oleh Santoso (2013) pada perusahaan manufaktur di BEI tahun 2006-2010 menggunakan variabel kualitas pelaporan keuangan dengan proksi relevansi nilai menunjukkan pengaruh positif tidak signiikan antara kualitas pelaporan keuangan dengan informasi asimetri yang diukur menggunakan bid-ask spread.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Kusuma, Agusti, dan Al Azhar (2014) yang memperoleh hasil penelitian dengan variabel independen kualitas pelaporan keuangan dan kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap asimetri informasi pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2008-2012. Penelitian Fanani (2009) menunjukkan bahwa kualitas pelaporan keuangan yang diukur dengan relevansi nilai, ketepatwaktuan, dan konservatisme berpengaruh negatif dan signiikan terhadap informasi asimetri pada perusahaan manufaktur tahun 2001-2006 di BEI. Berdasarkan sejumlah penelitian terdahulu di Indonesia yang inkonklusif, maka penting untuk dilakukan pengujian kembali untuk memperjelas keterkaitan antara pengaruh kualitas laporan keuangan dan asimetri informasi pada perusahaan di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas peneliti merumuskan masalah penelitian yaitu, apakah relevansi nilai sebagai proksi dari kualitas pelaporan keuangan berpengaruh terhadap asimetri informasi?
KERANGKA TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
Asimetri Informasi
Teori keagenan mengimplikasikan adanya asimetri informasi antara manajer (sebagai agen) dengan investor (sebagai prinsipal). Teori keagenan mengasumsikan bahwa pada dasarnya manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri (self interest), terbatas rasionalitasnya (bounded rationality), dan menghindari resiko (risk aversion) (Eisenhardt, 1989). Kondisi tersebut mendorong masalah keagenan yang timbul dikarenakan agen mempunyai informasi lebih terhadap transaksi potensial dalam perusahaan dibandingkan pihak prinsipal, yang disebut sebagai asimetri informasi (Watts dan Zimmerman, 1986). Dengan demikian, mengingat penyajian informasi keuangan oleh perusahaan akan muncul konsekuensi ekonomi bagi perusahaan dan investornya (Zeff, 1978), maka penyajian informasi yang berkualitas diharapkan akan berkonsekuensi pada menurunkan asimetri informasi antara perusahaan dan investornya (Cohen, 2003)
Kualitas Pelaporan Keuangan
laba. Sementara penelitian Indriani dan Khoiriyah (2010) dan Fanani (2009) menggunakan atribut-atribut kualitas pelaporan keuangan berbasis pasar yang terdiri dari relevansi nilai, ketepatwaktuan, dan konservatisme.
Pada penelitian ini menggunakan atribut kualitas pelaporan keuangan berbasis pasar karena diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai konsekuensi ekonomi dari informasi keuangan yang disajikan perusahaan melalui respon pasar.
Relevansi Nilai
Relevansi nilai dideinisikan oleh Beaver (2002) sebagai kemampuan informasi akuntansi untuk menjelaskan nilai perusahaan. Terdapat dua tipe model penilaian yang dapat digunakan untuk menginvestigasi hubungan tersebut yaitu model harga (hubungan harga saham dengan nilai buku dan earnings) dan model return (hubungan return saham dengan earnings dan perubahan earnings). Francis et al. (2004) menjelaskan bahwa relevansi nilai pada dasarnya adalah kemampuan laba dalam menjelaskan variasi pada return, dengan ekpektasi laba tersebut mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk menjelaskan variasi return yang terjadi. Scott (2012) menjelaskan tentang konsep relevansi nilai akuntansi sesungguhnya menjelaskan mengenai bagaimana investor bereaksi terhadap pengumuman informasi akuntansi. Reaksi yang terjadi membuktikan bahwa kandungan informasi akuntansi merupakan isu yang sangat penting menjadi pertimbangan penting dalam proses pengambilan keputusan investasi yang bermanfaat bagi investor (Scott, 2012).
Perumusan Hipotesis
Konsekuensi ekonomis kualitas informasi pelaporan keuangan yang ditimbulkan bagi penilaian investor dapat berupa informasi asimetri (Cohen, 2003). Copeland dan Galai (1983) menemukan bahwa kualitas informasi akuntansi mengalami peningkatan, maka asimetri informasi asimetri akan mengalami penurunan atau dengan kata lain kualitas informasi akuntansi yang disampaikan melalui pelaporan keuangan
memiliki pengaruh negatif terhadap informasi asimetri. Fanani (2009) juga menemukan hasil yang sama dengan penelitian Copenlad dan Galai (1983) yaitu kualitas pelaporan keuangan berpengaruh negatif dan signiikan terhadap informasi asimetri. Sedangkan dalam penelitian Indriani dan Khoiriyah (2010), Kusuma et al. (2014), dan Santoso (2013) mendapatkan hasil yang berbeda bahwa kualitas pelaporan keuangan berpengaruh postif dan tidak signiikan terhadap informasi asimetri. Atas dasar pertimbangan di atas dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
Ha: Kualitas pelaporan keuangan (relevansi nilai) berpengaruh negatif terhadap informasi asimetri.
Kualitas Pelaporan
1. Proitabilitas
2. Ukuran Perusahaan
Gambar.1. Kerangka Pemikiran
METODOLOGI PENELITIAN
Sampel pada penelitian ini menggunakan metode purposive sampling, data selanjutnya diolah dengan menggunakan multiple regression. Penelitian ini dilakukan terhadap 107 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk dapat menjelaskan pengaruh relevansi nilai terhadap asimetri informasi digunakan data selama 3 (tiga) tahun yaitu tahun 2010-2012, yang bersumber dari
situs resmi BEI yaitu www.idx.co.id dan ICMD
(Indonesian Capital Market Directory).
Deinisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. Asimetri Informasi
pengukuran. Cohen (2003) mengukur informasi asimetri dengan proksi bid-ask spread. Leuz dan Verrecchia (2000) menyatakan bahwa bid-ask spread telah diketahui secara umum sebagai alat untuk mengukur asimetri informasi secara eksplisit. Alasannya adalah bahwa bid-ask spread menunjukkan masalah adverse selection yang timbul dari transaksi saham akibat adanya investor dengan asimetri informasi. Sebaliknya rendahnya asimetri informasi, berdampak pada rendahnya adverse selection, serta berdampak pula pada rendahnya bid-ask spread.
Askjt = harga permintaan tertinggi saham perusahaan
j yang terjadi hari t.
Bidjt = harga peanawaran terendah saham
perusahaan j yang terjadi pada hari t.
2. Kualitas Pelaporan Keuangan (Relevansi nilai)
Relevansi nilai diartikan sebagai kemampuan laba dalam menjelaskan variasi return dan variabel relevansi nilai di ukur dengan skema order nilai negatif dari adjusted R2 berdasarkan Francis et al. (2004). Pada penelitian ini relevansi nilai dihitung sebagai berikut.
Value Relevance = –R2
jt ... (2)
Adjusted R2 diperoleh dari persamaan berikut.
RETjt = β0 + β1Earning Sjt + β2∆Earning Sjt + εjt...(3)
Keterangan :
RETjt = Return rata-rata selama 15 bulan (bulan
Januari tahun t sampai Maret tahun t+1) perusahaan j tahun t
Earningsjt = Laba bersih sebelum pos-pos luar biasa
perusahaan j tahun t
3. Proitabilitas
Penelitian ini menggunakan proitabilitas sebagai salah satu variabel kontrol. Proitabilitas bertujuan untuk mengukur eisiensi aktivitas perusahaan dan kemampuan
perusahaan untuk memperoleh keuntungan. Perusahaan dengan proitabilitas tinggi akan memberikan signal melalui pengungkapan laporan keuangan yang lebih detail mengenai kondisi perusahaan (Bernardi dan Assih, 2009). Untuk mengukur proitabilitas dapat digunakan rasio Return on Asset seperti pada penelitian Cohen (2003).
4. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan digunakan untuk membedakan antara perusahaan besar dan perusahaan kecil yang dapat dilihat dari total aset yang dimiliki. Hal ini dikarenakan perusahaan yang berukuran besar akan mengungkapkan informasi yang lebih banyak dibanding perusahaan kecil sebagai upaya mengurangi biaya keagenan (Jensen dan Meckling, 1976).
SIZE = Logo of Total Asset ... (5)
HASIL ANALISIS
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdistribusi normal dan lolos uji asumsi klasik. Pengujian selanjutnya menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan kesesuaian dengan teori dan dugaan yang dirumuskan dalam penelitian ini. Pada Tabel 1 nampak bahwa nilai signiikansi model regresi sebesar 0,004. Nilai ini lebih kecil dari signiicance level 0.05, dengan demikian berarti model regresi yang dibangun dapat digunakan untuk memprediksi Informasi Asimetri (bid-ask spread).
Tabel 1
Hasil Regresi Pengaruh Kualitas Pelaporan Keuangan Terhadap Asimetri Informasi
Variable Predicted Sign Coeficient p-value
Intercept 7,066 0.000
***,**,* menunjukkan koeisien signiikan pada 0,01; 0,05; 0,1 Model Persamaan
Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa nilai koeisien untuk variabel kualitas pelaporan keuangan sebesar -2,127. Nilai tersebut
menunjukan tingkat signiikansi (p value) sebesar 0,036 < 0,05 (taraf signiikansi). Maka dapat disimpulkan bahwa Ha diterima artinya variabel kualitas pelaporan keuangan (relevansi nilai) berpengaruh negatif signiikan terhadap informasi asimetri (SPREAD).
Berdasarkan Tabel 1 juga dapat diketahui bahwa variabel kontrol proitabilitas perusahaan (ROA) menunjukan nilai koeisien proitabilitas sebesar -2,413, juga signiikan pada 0,018.
Artinya variabel proitabilitas perusahaan (ROA) berpengaruh negatif signiikan terhadap informasi asimetri (SPREAD).
Hasil pengujian variabel kontrol ukuran perusahaan pada Tabel 1 menunjukkan nilai koeisien proitabilitas sebesar -0,521. Adapun nilai signiikansi ukuran perusahaan (SIZE)
sebesar 0,005. Artinya variabel ukuran perusahaan (SIZE) berpengaruh negatif signiikan terhadap informasi asimetri (SPREAD).
Hasil ini sesuai dengan dugaan peneliti yang dirumuskan berdasarkan teori yang mendasari penelitian ini. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Fanani (2009) yang menyatakan kualitas pelaporan keuangan berpengaruh negatif signiikan terhadap informasi asimetri. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan pendapat bahwa penyajian informasi yang berkualitas akan menurunkan asimetri informasi antara
perusahaan dan investornya, serta menekan biaya keagenan tersebut (Cohen, 2003). Namun demikian hasil ini bertolak belakang dengan hasil penelitian sebelumnya, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Santoso (2013) yang menyatakan kualitas pelaporan keuangan tidak berpengaruh terhadap informasi asimetri. Kusuma et al. (2014) dan Indriani dan Khoiriyah (2010) juga menemukan hasil yang dengan Santoso (2013) yang menemukan kualitas pelaporan keuangan tidak berpengaruh terhadap informasi asimetri.
Hasil penelitian ini memperkuat teori bahwa investor sebagai prinsipal menggunakan informasi keuangan. Masalah asimetri informasi yang berpotensi dialami investor dapat diatas dengan meningkatkan kualitas informasi keuangan yang dipublikasikan perusahaan. Dengan kualitas informasi keuangan yang lebih baik dapat dimanfaatkan investor untuk mengambil keputusan investasi dengan tepat.
KESIMPULAN, KETERBATASAN,
DAN SARAN
a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian di atas diperoleh bukti bahwa kualitas pelaporan keuangan (relevansi nilai) berpengaruh negatif signiikan terhadap informasi asimetri (SPREAD). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kualitas pelaporan keuangan terbukti berpengaruh negatif terhadap tingkat asimetri informasi. Hasil ini menunjukan bahwa peningkatan kualitas pelaporan keuangan terbukti mampu menurunkan tingkat asimetri informasi.
b. Keterbatasan Penelitian
Sebagaimana lazimnya suatu penelitian empiris, hasil penelitian ini juga mengandung beberapa keterbatasan, antara lain:
2. Periode penelitian yang digunakan hanya mencerminkan relevansi nilai laporan keuangan relatif pendek hanya selama 3 (tiga) tahun.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan penelitian di atas, maka rekomendasi yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya adalah sebagai berikut:
1. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
menguji kualitas pelaporan keuangan tidak hanya melalui pendekatan pasar, namun juga diukur melalui pendekatan akuntansi yaitu akrual, persistensi, prediktabilitas, dan perataan laba.
2. Penelitian selanjutnya disarankan dapat
menambah periode penelitian. Penelitian dengan jangka waktu yang lebih panjang diharapkan dapat lebih memberikan generalisasi hasil penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Bernardi, K. M dan Assih, S.P. (2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi luas pengungkapan dan implikasinya terhadap asimetri informasi. Simposium Nasional Akuntansi XII. Palembang
Beaver, W.H. (2002). Perspectives on recent capital market research, The Accounting Review, 77 (2): 453-474.
Cohen. A. D. (2003). Quality of inancial reporting choice : determinant and economic consequences. Working Paper. Northwestern University. http:// www.papers.ssrn.com, diakses 15 Maret 2014.
Copenland, T dan Galai, D. (1983). Information Effect on the Bid-Ask Spread, The Journal of Finance, 38 (5): 1457-1469.
Eisenhardt. M. K. (1989). Agency theory : an assesment and review. Academy of Management Review, 14 (1): 57-54.
Fanani, Z. (2009). Kualitas pelaporan
keuangan: berbagai faktor penentu dan konsekuensi ekonomi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 6 (1): 20-45.
Francis, J., LaFond, R., Olsson, P. M., dan Schipper, K. (2004). Costs of equity and earnings attributes. The Accounting Review, 79(4): 967-1010.
Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 20. Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Indriani, R., dan W. Khoiriyah. (2010). Pengaruh kualitas pelaporan keuangan terhadap asimetri informasi. Simposium Nasional Akuntansi XIII. Purwokerto.
Jensen. M, C. dan Meckling. W. H (1976). Theory of the irm: managerial behavior,agency cost and ownership structure. Journal of Financial Economics, 3 (4): 305-306.
Kusuma, T., Agusti, R., dan Al Azhar, L. (2014). Pengaruh kualitas pelaporan keuangan, kepemilikan institusional dan ukuran perusahaan terhadap asimetri informasi pada perusahaan perbankan yang terdaftar di bei tahun 2008-2012. Jurnal Online Mahasiswa (JOM) Bidang Ilmu Ekonomi, 1 (1), 1-15.
Leuz, C., dan Verrecchia, R. E. (2000). The economic consequences of increased disclosure (digest summary). Journal of accounting research, 38 (Supplement): 91-124
Pagalung, G. dan Sudibdyo, B. (2012). The determinant factors of earnings quality and economics consequences. Journal Economy, 16(1): 105-122.
Scott, W. R. (2012). Financial Accounting Theory. Edisi 6. New Jersey: Prentice Hall.
Tjager, I. N., Alijoyo, A., Djemat, H.R., dan Sembodo, B. (2003). Corporate governance: Tantangan dan kesempatan bagi komunitas bisnis Indonesia. Forum Corporate Governance in Indonesia (FCGI).
Wats, R dan Zimmerman, J. L. (1986). Positive Accounting Theory. International Edition. Prentice Hall : New York.
Yuni, R. dan Rohma, A. (2013). Dampak penerapan standar akuntansi keuangan (sak) pasca adopsi ifrs terhadap relevansi nilai dan asimetri informasi. Simposium Nasional Akuntansi XVI. Manado.