• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled Document

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Untitled Document"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat di

berbagai sektor khususnya di bidang perekonomian. Hal ini sesuai yang

diamanatkan Pancasila dan Undang-Undang 1945 dalam rangka mensejahterakan

rakyat. Guna menopang pertumbuhan perekonomian maka negara membutuhkan

sumber daya keuangan besar baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Adapun sumber daya keuangan yang berasal dari dalam antara lain adalah pajak,

bea, cukai, dan migas. Sehingga untuk mencapai tujuan dalam pembangunan

nasional dilakukan upaya meningkatkan penerimaan khususnya penerimaan pajak,

karena pajak dianggap sebagai sumber penerimaan negara yang paling dominan

dalam membiayai penyelenggaraan negara guna menuju pada kemandirian dalam

pembangunan sehingga Indonesia tidak terus menerus bergantung pada pinjaman

dari negara lain.

Berbagai Strategi diupayakan dalam rangka untuk meningkatkan

penerimaan dari sektor pajak, baik peraturan perundang-undangan perpajakan,

sistim pemungutan pajaknya, maupun aparatur pajaknya dalam hal ini adalah

Kantor Pelayanan Pajak. Terutama dalam rangka mengoptimalkan penerimaan

pajak, sistem perpajakan Indonesia mengalami perubahan pada tahun 1984 dari

official assessment system menjadi self assessment system dalam pemungutan pajak, dimana Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk menghitung, menyetor, dan

(3)

dengan Surat Pemberitahuan (SPT) dan Surat Setoran Pajak(SSP) sesuai dengan

tempat tinggal dan tempat kedudukan Wajib Pajak. Sebagai konsekuensi

pemberian kepercayaan tersebut, wajib pajak wajib menyampaikan surat

pemberitahuan berikut keterangan dan/atau dokumen yang harus dilampirkan

yang telah diisi secara benar, lengkap dan jelas.

Self assesment system ini dapat berjalan secara efektif melalui keterbukaan dan pelaksanaan penegakan hukum (law enforcement) yang merupakan hal yang paling utama. Kepercayaan yang sangat besar dari pemerintah kepada wajib pajak

untuk menghitung sendiri pajak yang harus dibayarnya harus diimbangi dengan

upaya penegakan hukum dan pengawasan yang ketat atas kepatuhan wajib pajak

dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Penegakan hukum ini dapat

dilakukan dengan adanya pemeriksaan atau penyidikan pajak dan penagihan

Dalam pelaksanaan self assessment system, Wajib Pajak dapat melakukan kesalahan atau kelalaian seperti terlambat menyampaikan SPT, terlambat

menyetor pajak yang terutang, serta tidak membuat faktur pajak atau membuat

faktur pajak tidak tepat waktu sebagai Pengusaha Kena Pajak(PKP), sehingga

Direktorat Jenderal Pajak menerbitkan Surat Tagihan Pajak (STP).

Begitu juga dengan pajak yang terutang yang kurang atau lebih dari

seharusnya dilaporkan oleh Wajib Pajak, Direktorat Jenderal Pajak juga akan

menerbitkan Surat ketetapan Pajak (SKP) yang dilakukan setelah pemeriksaan.

Di dalam pelaksanaanya Penerbitan SKP dan STP dapat terjadi karena

kesalahan manusia (human error) seperti kesalahan hitung, kesalahan tulis, dan kesalahan dalam penerapan undang-undang yang mengakibatkan SKP dan STP

(4)

mengenai Penerbitan Kembali SKP dan STP sehingga hak dan kewajiban Wajib

Pajak dan Negara terpenuhi sesuai dengan peraturan undang-undang yang

berlaku.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik memaparkan topik dalam laporan

Praktik Kerja Lapangan Mandiri (PKLM) yang berjudul Mekanisme

Penerbitan Kembali SKPKB, SKPKBT, dan STP di KPP Pratama Medan

Timur” .

1.2. Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan ini adalah :

1. Mengetahui Mekanisme Penerbitan kembali SKPKB, SKPKBT, dan STP di

KPP Pratama Medan Timur.

2. Untuk dapat mempelajari serta membandingkan teori yang dipelajari dengan

(5)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pajak

2.1.1. Pengertian Pajak

Para ahli dalam bidang ekonomi memberikan berbagai defenisi pajak

yang pada hakekatnya mempunyai pengertian dan tujuan yang sama. Untuk lebih

memahami pengertian pajak, maka dikemukakan beberapa defenisi pajak.

Undang-undang No. 16 Tahun 2009, Pasal 1 angka 1 tentang perubahan

keempat atas Undang-undang No.26 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan

Tata Cara Perpajakan (KUP) bahwa “Pajak adalah kontribusi Wajib Pajak kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa

berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung

dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya untuk kemakmuran

rakyat”.

Menurut Rochmat Soemitro, bahwa “Pajak adalah iuran rakyat kepada kas

negara berdasarkan undang-undang (yang dipaksakan) dengan tiada mendapat

jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan

untuk membayar pengeluaran umum”.

Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki

unsur-unsur sebagai berikut:

1. Iuran dari rakyat kepada negara

Yang berhak memungut pajak hanya negara. Iuran tersebut berupa uang

(6)

2. Berdasarkan undang-undang

Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta

aturan-aturan pelaksanaannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi

Tanpa jasa timbal balik ataupun kontraprestasi dari negara yang secara

langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan

adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara yaitu

pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

2.1.2. Fungsi Pajak

Adapun yang menjadi fungsi pajak menurut Prof. Dr. Mardiasmo, MBA.,

Ak adalah sebagai berikut:

a. Fungsi Penerimaan (Budgetair)

Yaitu fungsi yang bertujuan untuk memasukkan uang

sebanyak-banyaknya ke kas negara untuk keperluan pengeluaran rutin dan

pengeluaran pembangunan dan bila ada sisa (surplus) akan digunakan

sebagai tabungan pemerintah atau investasi pemerintah.

b. Fungsi Mengatur (Regulerend)

Pajak sebagai alat pengatur kehidupan ekonomi dengan jalan

mempengaruhi produksi, konsumsi, perdagangan dan perkembangan

(7)

2.1.3. Jenis-jenis Pajak

Dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu: menurut golongan, sifat,

dan lembaga pemungutnya.

1. Menurut Golongan

a. Pajak Langsung

Yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak

dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

Contohnya: Pajak Penghasilan (PPh)

b. Pajak Tidak Langsung

Yaitu Pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan

kepada orang lain.

Contohnya: Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

2. Menurut Sifatnya

a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada

subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

Contohnya: Pajak Penghasilan (PPh)

b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya tanpa

memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

Contohnya: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang

Mewah (PPN dan PPnBM)

3. Menurut Lembaga Pemungutnya

Jenis pajak dapat dibagi menjadi dua, yaitu: jenis pajak yang

dipungut oleh pemerintah pusat (pajak pusat) dan jenis pajak yang

(8)

Pajak Pusat adalah jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat

yang dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Departemen Keuangan yaitu

Direktur Jenderal Pajak. Hasil dari pemungutan pajak pusat merupakan

bagian dari Penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(APBN).

Jenis pajak pusat yang dikelola oleh Direktur Jenderal Pajak

adalah:

a. Pajak Penghasilan (PPh)

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

c. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

d. Bea Materai (BM)

Berdasarkan keterangan diatas, maka akan dijelaskan secara rinci

mengenai pajak pusat sebagai berikut :

a. Pajak Penghasilan (PPh)

Peraturan mengenai Pajak Penghasilan diatur dalam

Undang-undang No. 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan

Undang-undang No. 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.

Pengertian penghasilan dalam undang-undang pajak penghasilan

tidak memperhatikan adanya penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada

adanya tambahan kemampuan ekonomis. Tambahan kemampuan

ekonomis yang diterima oleh wajib pajak merupakan ukuran terbaik

(9)

memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin dan

pembangunan.

Karena undang-undang pajak penghasilan menganut pengertian

penghasilan yang luas maka semua jenis penghasilan yang diterima atau

diperoleh dalam satu tahun pajak digabungkan untuk mendapatkan Dasar

Pengenaan Pajak (DPP). Yang menjadi objek pajak adalah penghasilan

yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima oleh wajib

pajak baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang

dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang

bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apa pun.

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Peraturan mengenai Pajak Pertambahan Nilai diatur dalam

Undang-undang Nomor 8 Tahun 1984 sebagaimana telah diubah terakhir

dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Pajak

Pertambahan Nilai.

Karakteristik Pajak Pertambahan Nilai yang dikemukakan oleh

Ben Terra dapat dirincikan sebagai berikut :

1. PPN merupakan pajak tidak terutang

Dari sudut pandang ekonomi PPN dapat dikatakan pajak tidak

langsung karena beban pajak dialihkan kepada pihak lain yaitu

pihak yang akan mengkonsumsi barang atau jasa yang menjadi

objek pajak. Sedangkan dari yuridis, tanggung jawab pembayaran

(10)

memikul beban pajak. Apabila pembeli atau penerima pajak jasa

telah membayar pajak terutang kepada penjual atau pengusaha jasa,

pada hakikatnya sama dengan telah membayar pajak ke kas negara.

2. Pajak Objektif

Merupakan suatu jenis pajak yang saat timbulnya

kewajiban pajak ditentukan oleh keadaan, peristiwa atau

perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak.

3. Multi Stage Tax

Merupakan karakteristik PPN dikenakan pada setiap

jalur produksi maupun jalur distribusi.

4. PPN adalah jenis pajak atas konsumsi umum dalam negeri.

5. PPN bersifat netral.

6. Tidak menimbulkan dampak pengenaan pajak berganda (P3B).

c. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

Pajak Penjualan Atas Barang Mewah memiliki karateristik yang

sedikit berbeda dengan Pajak Pertambahan Nilai, yaitu :

1. PPnBM dipungut merupakan pungutan tambahan disamping PPN.

2. PPnBM hanya dipungut satu kali yaitu pada saat impor barang

kena pajak (BKP) yang tergolong mewah, atau atas penyerahan

barang kena pajak yang tergolong mewah yang dilakukan oleh

Pengusaha Kena Pajak (PKP) pabrikan dari BKP yang tergolong

(11)

3. PPnBM tidak dapat dikreditkan dengan PPN.

4. Meskipun demikian apabila eksportir mengespor BKP yang

tergolong mewah, PPnBM yang dibayar pada saat perolehannya

dapat diminta kembali.

Yang di maksud dengan BKP tergolong mewah :

1. Bahwa barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan

pokok.

2. Barang tersebut di konsumsi oleh masyarakat yang berpenghasilan

tinggi.

3. Barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukan status.

4. Apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral

masyarakat serta menganggu ketertiban masyarakat seperti

minuman berakhohol.

Pengembalian kelebihan pembayaran PPnBM terjadi karena

diberikannya fasilitas PPnBM yang terlanjur dipungut. Oleh karena itu

PPnBM atas perolehan tersebut barang kena pajak yang

penyerahannya mendapat fasilitas tersebut bisa diminta kembali oleh

(12)

d. Bea Materai (BM)

Diatur dalam UU nomor 13 tahun 1985 tentang Bea Materai. Bea

Materai merupakan pajak atas dokumen. Dalam undang-undang ini

yang dimaksud dengan :

1. Dokumen adalah kertas yang berisian tulisan yang mengandung

arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi

seorang atau pihak-pihak yang berkepentingan.

2. Benda Materai adalah materai tempel dan kertas materai yang

dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia.

3. Tandatangan adalah tandatangan sebagaimana lazimnya

dipergunakan termasuk pula taraf, teraan, cap tandatangan atau

cap paraf, teraan cap nama atau tandatangan lainnya sebagai

pengganti tandatangan.

4. Pemateraian kemudian adalah suatu cara pelunasan bea materai

yang dilakukan oleh pejabat pos atas permintaan pemegang

dokumen yang bea materainya belum dilunasi sebagaimana

mestinya.

2.1.4. Tarif Pajak

1. Tarif Sebanding/Proporsional

Tarif berupa presentasi tetap terhadap berapapun yang dikenai pajak

sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya

nilai yang dikenai pajak. Semakin besar penghasilan, semakin besar pajak

(13)

2. Tarif Tetap

Tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang

dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.

3. Tarif Progresif

Persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai

pajak semakin besar.

4. Tarif Degresif

Persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai

pajak semakin besar.

2.1.5. Asas Pemungutan Pajak

Untuk mencapai tujuan pemungutan pajak perlu memegang teguh

asas-asas pemungutan dalam memilih alternatif pemungutannya. Sehingga terdapat

keserasian pemungutan pajak dengan tujuan dan asas yang masih diperlukan lagi

yaitu pemahaman atas perlakuan pajak tertentu. Menurut W.J. Langen, asas

pemungutan pajak adalah sebagai berikut.

1. Asas daya pikul: besar kecilnya pajak yang dipungut harus berdasarkan

besar kecilnya penghasilan wajib pajak. Semakin tinggi penghasilan maka

semakin tinggi pajak yang dibebankan.

2. Asas manfaat : pajak yang dipungut oleh negara harus digunakan untuk

kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk kepentingan umum.

(14)

4. Asas kesamaan: dalam kondisi yang sama antara wajib pajak yang satu

dengan yang lain harus dikenakan pajak dalam jumlah yang sama

(diperlakukan sama).

5. Asas beban yang sekecil-kecilnya: pemungutan pajak diusahakan

sekecil-kecilnya (serendah-rendahnya) jika dibandinglan sengan nilai obyek pajak.

Sehingga tidak memberatkan para wajib pajak.

2.1.6 Syarat Pemungutan Pajak

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan,

maka pemungutan pajak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Pemungutan pajak harus adil (syarat keadilan)

Sesuai dengan tujuan hukum yaitu mencapai keadilan,

undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam undang-

perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta

disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, sedangkan adil dalam

pelaksanaannya yaitu dengan memberikan hak bagi wajib pajak untuk

mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan

banding kepada Pengadilan Pajak.

b. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (syarat yuridis)

Di Indonesia pajak harus diatur dalam UUD 1945 Pasal 23

ayat (2), hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan

baik bagi negara maupun warganya.

c. Tidak mengganggu perekonomian (syarat ekonomis)

(15)

produksi maupun perdagangan sehingga tidak menimbulkan kelemahan

perekonomian masyarakat.

d. Pemungutan pajak harus efisien (syarat finansial)

Sesuai dengan fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak

harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya.

e. Sistem pemungutan pajak harus sederhana

Sistem pemungutan yang sederhana ini akan memudahkan

dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.

2.1.7. Sistem Pemungutan Pajak

a. Official Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada

pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh

wajib pajak.

b. Self Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada

wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

c. With Holding System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada

pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan)

(16)

2.1.8. Timbul dan Hapusnya Utang Pajak

a. Ajaran Formil

Utang pajak timbul karena dikeluarkannya surat keterangan pajak oleh

fiskus. Ajaran ini diterapkan pada official assessment system.

b. Ajaran Material

Utang pajak timbul karena berlakunya undang-undang. Seseorang dikenai

pajak karena suatu keadaan dan perbuatan. Ajaran ini diterapkan pada

self assessment system.

Hapusnya utang pajak dapat disebabkan beberapa hal:

- Pembayaran

- Kompensasi

- Daluarsa

- Pembebasan dan penghapusan

2.1.9. Hambatan Pemungutan Pajak

a. Perlawanan Pasif

Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak yang dapat disebabkan antara

lain:

1. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.

2. Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat.

(17)

b. Perlawanan Aktif

Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara

langsung ditunjukkan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari

pajak.

Bentuknya antara lain:

1. Tax avoidance, usaha meringankan beban pajak dengan tidak

melanggar undang-undang.

2. Tax exasion, usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar

undang-undang (menggelapkan pajak).

2.2. Surat Pemberitahuan (SPT)

Berdasarkan Pasal 1 angka 16 UU KUP, Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan/atau

pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, harta dan kewajiban,

sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2.2.1. Fungsi SPT

Bagi wajib pajak, penghasilan sebagai sarana untuk melaporkan dan

mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang

dan untuk melaporkan tentang :

a. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/atau

melalui pemotongan atau pemungutan pihak lain dalam 1 (satu) Tahun

Pajak atau Bagian Tahun Pajak.

(18)

c. Harta dan kewajibannya.

d. Pembayaran dari pemotong atau pemungut tentang pemotongan atau

pemungutan pajak orang pribadi atau badan lain dalam 1 (satu) Masa

Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Bagi Pengusaha Kena Pajak, fungsi Surat Pemberitahuan adalah

sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang

sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :

a. Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran.

b. Pembayaran atau pelunasan pajak dan/atau melalui pihak lain dalam satu

Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

perpajakan.

Bagi pemotong dan pemungut pajak, fungsi Surat Pemberitahuan

adalah sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan

pajak yang dipotong atau dipungut, dan disetorkannya.

2.2.2. Jenis Surat Pemberitahuan

Adapun jenis SPT dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Surat Pemberitahuan Masa adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa

Pajak, yang meliputi :

a. SPT Masa PPh pasal 15

b. SPT Masa PPnBM pasal 22

c. SPT Masa PPh pasal 21/26 dan 23/26

d. SPT masa PPh pasal 25 dan 29

(19)

2. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah Surat Pemberitahuan untuk suatu

Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak, yang meliputi :

a. SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi termasuk Orang Pribadi

yang melakukan pekerjaan bebas atau kegiatan usaha dan Orang

Pribadi Karyawan yang tidak melakukan pekerjaan bebas yang

menerima penghasilan dari satu pemberi kerja, atau menerima

penghasilan dalam negeri lainnya dan yang dikenal penghasilan

bersifat final.

b. SPT Tahunan Wajib Pajak Badan.

2.2.3. Syarat Penyampaian SPT

Wajib pajak mengisi Surat Pemberitahuan dengan benar, lengkap, dan

jelas dalam Bahasa Indonesia dengan menggunakan huruf latin, angka arab,

satuan mata uang rupiah dan menandantangani serta menyampaikannya ke kantor

Direktorat Jenderal Pajak tempat wajib pajak terdaftar atau dikukuhkan atau

tempat lain yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak.

Yang dimaksud dengan pengisian secara benar, lengkap, dan jelas

adalah :

1. Benar adalah benar dalam penghitungan, termasuk benar dalam penerapan

ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dalam penulisan

dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

2. Lengkap adalah memuat semua unsur-unsur yang berkaitan dengan objek

(20)

3. Jelas adalah melaporkan asal-usul atau sumber dari objek pajak dan

unsur-unsur lain yang harus dilaporkan dalam SPT.

2.2.4. Batas Jangka Waktu dan Sanksi Penyampaian SPT

Berdasarkan Pasal 3 ayat (3) UU KUP, batas jangka waktu SPT :

1. Untuk SPT Masa, paling lama 20 (dua puluh) hari setelah akhir masa

pajak.

2. Untuk SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi, paling lama 3 bulan setelah

akhir tahun pajak.

3. Untuk SPT Tahunan PPh WP Badan, paling lama 4 bulan setelah akhir

tahun pajak.

Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu yang

telah ditetapkan makanya akan dikenai sanksi administrasi berupa denda yang

berdasarkan Pasal 7 ayat (1) UU KUP :

a. SPT Masa PPN denda Rp 500.000

b. SPT Masa lainnya denda Rp 100.000

c. SPT PPh WP Badan denda Rp 1.000.000

d. SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi denda Rp 100.000

2.3. Pemeriksaan Pajak

2.3.1. Pengertian Pemeriksaan Pajak

(21)

a. Mulyadi menyatakan bahwa ”Pemeriksaan (auditing) sebagai suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif

mengenai pernyataan- pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi,

dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan – pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah di tetapkan, serta

penyampaian hasil –hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.” b. Agoes menyatakan bahwa “Pemeriksaan (auditing) sebagai suatu

pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang

independent, terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen,

beserta catatan - catatan pembukuan dan bukti - bukti pendukungnya,

dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran

laporan keuangan tersebut.”

c. Pemeriksaan pajak yang berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun

2009 Pasal 1 angka 25, tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara

Perpajakan menyatakan, bahwa : “Pemeriksaan pajak adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan dan/atau bukti yang

dilaksanakan secara objektif dan professional berdasarkan suatu standar

pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan

dan/atau untuk tujuan lain”.

2.3.2. Dasar Hukum Pemeriksaan Pajak

1. Undang-undang nomor 6 Tahun 1983 tentang KEtentuan Umum dan

Tata Cara perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

1983 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

(22)

Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 (Lembara Negara Republik

Indonesia Tahun 2009 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4999)

2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 tentang Tata

Cara Pemeriksaan, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Menteri Keuangan Nomor 82/PMK.03/2011 tentang Tata Cara

Pemeriksaan Pajak.

3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomro PER-19/PJ/2008 tentang

Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan.

4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor Per-20/PJ/2008 tentang

Petunjuk Pelaksaan Pemeriksaan Kantor.

5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-9/PJ/2010 tentang

Standar Pemeriksaan untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan

Kewajiban Perpajakan.

2.3.3 Tujuan Pemeriksaan

a. Tujuan pemeriksaan menurut undang-undang dalam menguji kepatuhan

pemenuhan kewajiban perpajakan untuk memberikan kepastian hukum,

keadilan, dan pembinaan kepada wajib pajak, yang dapat dilakukan dalam

hal :

1) Surat Pemberitahuan menunjukan kelebihan pembayaran pajak,

termasuk yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan

pajak.

(23)

3) Surat Pemberitahuan tidak disampaikan atau disampaikan tidak ada

waktu yang telah ditetapkan.

4) Surat Pemberitahuan yang memenuhi kriteria seleksi yang

ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak.

5) Ada indikasi kewajiban perpajakan selain kewajiban tersebut tidak

dipenuhi.

b. Tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan

perundang-undangan perpajakan, yang dapat dilakukan dalam hal :

1) Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak

2) Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak

3) Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

4) Wajib Pajak mengajukan keberatan

5) Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Penghitungan

Penghasilan Netto (NPPN)

6) Pencocokan data dan alat keterangan

7) Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil

2.3.4. Jenis Pemeriksaan

Jenis pemeriksaan pajak dipengaruhi oleh ketidakpatuhan dari wajib pajak yang diperiksa serta ruang lingkup pemeriksaan. Pemeriksaan untuk

menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujuan lain

(24)

1. Pemeriksaan Lapangan yaitu pemeriksaan yang dilakukan di tempat

kedudukan, tempat usaha atau pekerjaan bebas, tempat tinggal wajib

pajak atau tempat lain yang ditentukan oleh Direktur Jenderal Pajak.

2. Pemeriksaan Kantor yaitu pemeriksaan yang dilakukan di kantor

Direktorat Jenderal Pajak.

Kriteria pemeriksaan merupakan alasan dilakukannya pemeriksaan

terhadap wajib pajak. Terdapat 2 (dua) kriteria pemeriksaan yang mendasari

dilakukannya pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban

perpajakan wajib pajak, yaitu :

1. Pemeriksaan Rutin merupakan pemeriksaan yang dilakukan terhadap

wajib pajak sehubungan dengan pemenuhan hak dan/atau pnelaksanaan

kewajiban perpajakannya atau karena diwajibkan oleh undang-undang

Ketentuan Umum Perpajakan (KUP).

Contoh : Pemeriksaan lebih bayar PPN, Pemeriksaan lebih bayar PPh

Badan/Orang Pribadi.

2. Pemeriksaan berdasarkan resiko (risk based audit) yang selanjutnya

disebut dengan pemeriksaan khusus merupakan pemeriksaan yang

dilakukan berdasarkan hasil analisis resiko terhadap ketidakpatuhan

wajib pajak dapat dilakukan secara komputerisasi atau secara manual.

Contoh : Pemeriksaan khusus berdasarkan analisis komputerisasi dari

(25)

2.3.5. Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Penerbitan Surat Ketetapan Pajak merupakan hasil pemeriksaan terhadap

wajib pajak yang disebabkan oleh ketidakbenaran dalam pengisian Surat

Pemberitahuan atau karena ditemukannya data fiskal yang tidak dilaporkan wajib

pajak sehingga menimbulkan kekurangan atau kelebihan pembayaran pajak yang

sebenarnya terutang. Menurut undang-undang perpajakan jenis SKP adalah

sebagai berikut :

1. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)

SKPKB diatur dalam Pasal 13 ayat (1) Undang-undang Ketentuan

Umum dan Tata Cara Perpajakan, dalam jangka waktu 5 tahun setelah saat

terutangnya pajak/berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau

Tahun Pajak.

SKPKB diterbitkan dalam hal berikut :

a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak

yang terutang tidak/kurang dibayar.

b. Apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dan setelah ditegur secara tertulis

tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam

surat teguran.

c. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain mengenai

PPN dan PPnBM ternyata tidak seharusnya dikompensasikan selisih

(26)

d. Apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dan Pasal

29 tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang

terutang.

e. Apabila kepada wajib pajak diterbitkan NPWP dan/atau dikukuhkan

sebagai PKP secara jabatan.

Penerbitan SKPKB disertai pengenaan sanksi yang berdasarkan

Pasal 13 Ayat (2) yang menyatakan bahwa atas jumlah kekurangan pajak

yang terutang dalam SKPKB tersebut ditambah dengan sanksi administrasi

bunga sebesar 2% per bulan paling lama 24 bulan dihitung sejak saat

terutanganya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak,

atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya SKPKB. Dan atas jumlah

kekurangan pajak dalam SKPKB yang diterbitkan berdasarkan Pasal 13

ayat (1) ditambah dengan sanksi administrasi kenaikan menurut Pasal 13

ayat (3) UU KUP sebesar :

a. 50% dari PPh yang tidak atau kurang dalam 1 tahun pajak.

b. 100% dari PPh yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau kurang

dipungut, tidak atau kurang disetor, dan dipotong atau dipungut

tetapi tidak atau kurang disetor.

c. 100% dari PPN barang dan jasa dan PPnBM yang tidak atau kurang

(27)

2. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB)

Berdasarkan Pasal 17 UU KUP, Direktorat Jenderal Pajak

setelah melakukan pemeriksaan, dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak

Lebih Bayar apabila :

a. Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak lebih besar

daripada jumlah pajak yang terutang.

b. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah kredit pajak lebih besar

daripada jumlah pajak yang terutang. Jika terdapat pajak yang

dipungut oleh Pemungut Pajak Pertambahan Nilai, jumlah pajak

yang terutang dihitung dengan cara jumlah Pajak Keluaran

dikurangi dengan pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak

Pertambahan Nilai tersebut.

c. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah apabila jumlah pajak yang

dibayar lebih besar daripada jumlah pajak yang terutang.

SKPLB akan diterbitkan jika ada permohonan wajib pajak

secara tertulis kepada Kantor Pelayanan Pajak dan penerbitan SKPLB

paling lambat 12 bulan sejak permohonan diterima, kecuali untuk kegiatan

tertentu yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Apabila jangka

waktu 12 bulan telah lewat, maka permohonan wajib pajak dianggap

diterima dan wajib pajak berhak memperoleh pengembalian atas kelebihan

pajaknya. Apabila berdasarkan pemeriksaan ternyata pajak yang dibayar

lebih besar dari kelebihan pembayaran pajak yang telah ditetapkan, maka

(28)

3. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)

Berdasarkan Pasal 1 ayat (18) UU KUP, SKPN diterbitkan

dalam hal sebagai berikut :

a. Pajak Penghasilan apabila jumlah kredit pajak sama dengan pajak

yang terutang atau pajak yang tidak terutang dan tidak ada kredit

pajak.

b. Pajak Pertambahan Nilai apabila jumlah kredit pajak sama dengan

jumlah pajak yang terutang, atau pajak tidak terutang dan tidak ada

kredit pajak. Jika terdapat pajak yang dipungut oleh Pemungut Pajak

Pertambahan Nilai, jumlah pajak yang terutang dihitung dengan cara

jumlah Pajak Keluaran dikurangi dengan pajak yang dipungut oleh

Pemungut Pajak Pertambahan Nilai tersebut.

c. Pajak Penjualan Atas Barang Mewah apabila jumlah pajak yang

dibayar sama dengan jumlah pajak yang terutang atau pajak tidak

terutang dan tidak ada pembayaran pajak.

4. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)

Penerbitan SKPKBT dilakukan apabila ditemukan data baru

yang mengakibatkan penambahan jumlah pajak yang terutang setelah

dilakukan tindakan pemeriksaan. Yang dimaksud dengan “data baru”

adalah data atau keterangan mengenai segala sesuatu yang diperlukan

untuk menghitung besarnya jumlah pajak yang terutang oleh wajib pajak

(29)

baik dalam Surat Pemberitahuan dan lampiran-lampirannya maupun dalam

pembukuan yang diserahkan pada waktu pemeriksaan

SKPKBT diterbitkan apabila ada kemungkinan seperti berikut ini :

a. Adanya SKPKBT yang telah ditetapkan ternyata lebih rendah

daripada perhitungan yang sebenarnya.

b. Adanya proses pengembalian pajak yang telah ditetapkan dalam

SKPKBT yang seharusya tidak dilakukan lagi.

c. Adanya pajak terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN)

yang ditetapkannya lebih rendah.

Kemudian SKPKBT tidak akan mungkin diterbitkan sebelum

didahului dengan penerbitan surat ketetapan pajak. Penerbitan SKPKBT

dilakukan dengan syarat adanya data baru termasuk data yang semula

belum terungkap yang menyebabkan penambahan pajak yang terutang

dalam surat ketetapan pajak sebelumnya. Dalam hal masih ditemukan lagi

data baru termasuk data yang semula belum terungkap pada saat

diterbitkannya SKPKBT dan/atau data baru termasuk data yang semula

belum terungkap yang diketahui oleh Direktur Jenderal Pajak, SKPKBT

masih dapat diterbitkan lagi dengan ditambah sanksi administrasi berupa

kenaikan 100% dari jumlah pajak kurang dibayar.

2.3.6. Surat Tagihan Pajak

Berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007, Pasal 1 angka 20

tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan menyebutkan bahwa Surat

(30)

administrasi berupa bunga atau denda. Dalam Pasal 14 ayat (2) Undang-undang

Nomor 28 Tahun 2007 bahwa Surat Tagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum

yang sama dengan Surat Ketetapan Pajak, sehingga dalam hal penagihannya dapat

juga dilakukan dengan Surat Paksa.

Berdasarkan Pasal 14 ayat (1) Undang-undang no. 28 Tahun 2007 Surat Tagihan

Pajak diterbitkan dalam hal sebagai berikut :

a. Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar.

b. Dari hasil penelitian terdapat kekurangan pembayaran pajak sebagai

akibat salah tulis dan/atau salah hitung.

c. Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda dan/atau bunga.

d. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak

(PKP), tetapi tidak memuat faktur pajak atau membuat faktur pajak,

tetapi tidak tepat waktu.

e. Pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP yang tidak mengisi

faktur pajak secara lengkap.

f. PKP melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan

faktur pajak.

g. PKP yang gagal berproduksi dan telah diberikan pengembalian Pajak

Masukan.

Jumlah kekurangan pajak terhutang yang dimaksud dengan ayat

(1) huruf a dan huruf b akan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar

2% per bulan untuk paling lama 24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak

atau berakhirnya Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai

(31)

Terhadap pengusaha atau PKP sebagaimana yang dimaksud dengan ayat

(1) huruf d, huruf e dan huruf f , selain wajib menyetor pajak yang terutang,

dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% dari Dasar Pengenaan Pajak.

Begitu juga dengan PKP pada (1) huruf g akan dikenai sanksi bunga sebesar 2%

per bulan dari jumlah pajak yang ditagih kembali, dihitung dari tanggal penerbitan

Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai dengan

tanggal penerbitan Surat Tagihan Pajak, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1

(satu) bulan.

2.4. Penerbitan Kembali SKP dan STP

Berdasarkan Pasal 16 ayat (1) UU KUP, atas permohonan wajib pajak

dan/atau karena jabatan, Direktur Jenderal Pajak dapat membetulkan Surat

Ketetapan Pajak dan Surat Tagihan pajak yang dikarenakan sebagai berikut :

a. Kesalahan tulis, antara lain kesalahan yang dapat berupa nama,

alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), nomor surat ketetapan

pajak, jenis pajak, Masa Pajak atau Tahun Pajak dan tanggal jatuh

tempo.

b. Kesalahan hitung, yaitu kesalahan yang berasal dari penjumlahan

dan/atau pengurangan dan/atau pembagian suatu bilangan.

c. Kekeliruan dalam penerapan ketentuan tertentu dalam peraturan

perundang-undangan perpajakan, yaitu kekeliruan dalam penerapan

tarif, kekeliruan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), kekeliruan

penghitungan pajak Penghasilan dalam tahun berjalan, dan

(32)

Berdasarkan keterangan diatas wajib pajak dalam hal permohonan

pembetulan SKP dan STP tersebut Direktur Jenderal Pajak harus memberikan

keputusan dalam jangka waktu paling lama 6 bulan, apabila melewati batas waktu

tersebut maka permohonan wajib pajak dianggap dikabulkan.

Selain itu Direktur Jenderal Pajak juga dapat membetulkan SKP dan STP

yang kurang tepat secara jabatan. Wajib Pajak yang telah mendapatkan SKP dan

STP tersebut dapat mengajukan permohonan penerbitan kembali apabila SKP dan

STP tersebut diketahui rusak, tidak terbaca, hilang, tidak ditemukan atau sebab

lain sebagai pengganti asli Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan

Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan/atau Surat Tagihan Pajak.

Penerbitan kembali SKP dan STP dapat dilakukan sepanjang terdapat data

dan/atau informasi yang terkait dengan penerbitan asli surat ketetapan pajak

kurang bayar, surat ketetapan pajak kurang bayar tambahan, dan/atau surat

tagihan pajak di dalam administrasi Direktorat Jenderal Pajak.

2.4.1 Pihak yang terkait

1. Kepala Kantor Pelayanan Pajak

2. Kepala Seksi Penagihan

3. Kepala Seksi Pelayanan

4. Pelaksana Seksi Penagihan

5. Pelaksana Seksi Pelayanan

6. Bidang Pemeriksaan, Penyidikan, dan Penagihan Pajak (Kantor

(33)

2.4.2. Prosedur Penerbitan kembali

Dalam penerbitan kembali SKPKB, SKPKBT, dan STP yang

sebagaimana diketahui rusak, tidak terbaca, hilang, atau tidak diketemukan lagi

dilakukannya prosedur. Prosedur ini dilakukan sekali dalam setahun pada awal

tahun. Berikut merupakan prosedur penerbitan kembali secara garis besar :

a. Meneliti data dan/atau informasi yang terkait dengan penerbitan asli

SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP di dalam administrasi Diektorat Jenderal

Pajak.

b. Menuangkan hasil penelitian sebagaimana dimaksud huruf a dalam berita

acara disertai dokumen pendukung yang diperlukan.

c. Menerbitkan kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP berdasarkan berita

acara sebagaimana dimaksud huruf b dengan ketentuan sebagai berikut :

1. Isi dari SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP hasil penerbitan kembali

sama dengan asli SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP dengan

mencantumkan frasa “penerbitan kembali”

2. SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP hail penerbitan kembali disahkan

(34)

BAB III

GAMBARAN UMUM KANTOR PELAYANAN PAJAK (KPP) PRATAMA MEDAN TIMUR

3.1. Sejarah Singkat Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) ada pada masa penjajahan Belanda yang

pada saat itu bernama Belasting. Akan tetapi setelah kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, nama itu berubah menjadi Kantor Inspeksi

Keuangan. Setelah itu berubah lagi menjadi Kantor Inspeksi Pajak dengan induk

organisasinya atau berada dibawah naungan Direktorat Jenderal Pajak Keuangan

Republik Indonesia.

Pada tahun 1978 di Sumatera Utara berdiri tiga Kantor Inspeksi Pajak,

yakni:

1. Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan

2. Kantor Inspeksi Pajak Medan Utara

3. Kantor Inspeksi Pajak Pematang Siantar

Akan tetapi pada tahun 1978 Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan

dipecah menjadi dua, yakni Kantor Inspeksi Pajak Medan Selatan dan Kantor

Inspeksi Pajak Kisaran. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pelayanan kepada

wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, dan dengan semakin

cepatnya pertumbuhan ekonomi, maka didirikanlah Kantor Inspeksi Pajak Medan

Timur.

Dalam meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat dalam hal

(35)

Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 267/KMK.01/1989, diadakanlah

perubahan secara menyeluruh pada Direktorat Jenderal Pajak yang mencakup

reorganisasi Kantor Inspeksi Pajak yang diganti menjadi Kantor Pelayanan Pajak

sekaligus dibentuknya Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan.

Terhitung sejak tanggal 1 April 1994 Kantor Pelayanan Pajak Pratama

berubah menjadi empat wilayah kerja yaitu:

1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan Timur

2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan Barat

3. Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan Utara

4. Kantor Pelayanan Pajak Pratama (KPP) Medan Binjai

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

443/KMK.01/2001 tentang “Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Direktorat

Jenderal Pajak” dimana Kantor Pelayanan Pajak di Kotamadya Medan menjadi 6 wilayah kerja, yaitu:

1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur, dengan ruang lingkup

wilayah kerja meliputi:

a. Kecamatan Medan Timur

b. Kecamatan Medan Area

c. Kecamatan Medan Tembung

d. Kecamatan Medan Perjuangan

2. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Barat, dengan ruang lingkup

wilayah kerja meliputi:

a. Kecamatan Medan Barat

(36)

c. Kecamatan Medan Petisah

d. Kecamatan Medan Helvetia

3. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Medan Pratama Kota, dengan ruang lingkup

wilayah kerja meliputi:

a. Kecamatan Medan Kota

b. Kecamatan Medan Denai

c. Kecamatan Medan Johor

d. Kecamatan Medan Amplas

4. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Polonia, dengan ruang lingkup

wilayah kerja meliputi:

a. Kecamatan Medan Polonia

b. Kecamatan Medan Maimun

c. Kecamatan Medan Baru

d. Kecamatan Medan Tuntungan

e. Kecamatan Medan Selayang

5. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Belawan, dengan ruang lingkup

wilayah kerja meliputi:

a. Kecamatan Medan Belawan

b. Kecamatan Medan Marelan

c. Kecamatan Medan Labuhan

d. Kecamatan Medan Deli

6. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Binjai, dengan ruang lingkup wilayah

(37)

a. Kota Binjai

b. Kabupaten Langkat

7. Kantor Pelayanan Pajak Medan Petisah yang beralamat di Jalan Asrama no. 7A,

dengan ruang lingkup meliputi wilayah ;

a. Kecamatan Medan Helvetia

b. Kecamatan Medan Petisah

8. Kantor Pelayanan Pajak Lubuk Pakam yang beralamat di jalan P.Diponegoro

No.42-44 Lubuk Pakam , dengan ruang lingkup meliputi wilayah :

a. Kabupaten Deli Serdang

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur berdiri pada tahun

1994 yang berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

276/KMK.01/1989 tentang Organisasi dan Tata Kantor Wilayah Direktorat

Jenderal Pajak, Kantor Pelayanan Pajak, Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan

Bangunan, Kantor Pemeriksaan dan Penyidikan Pajak dan Kantor Penyuluhan dan

Pengamatan Potensi Perpajakan.

Sesuai dengan Surat Edaran (SE) No. 32/SE-19/PJ/2007 tentang Persiapan

Penerapan Sistem Administrasi Perpajakan Modern pada Kantor Wilayah

(Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan pembentukan Kantor Pelayanan

Pajak (KPP) Pratama diseluruh Indonesia tahun 2007 sampai pada tahun 2008.

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama adalah jenis Kantor Pelayanan Pajak

(KPP) sebagaimana yang terdapat pada Peraturan Menteri Keuangan No.

(38)

Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Induk dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

Pemecahan.

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) mempunyai tugas dan bidang pelayanan

pengawasan administratif, pemeriksaan sederhana terhadap wajib pajak dibidang

Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas

Barang Mewah (PPnBM) dan pajak tidak langsung lainnya dalam wilayah

wewenang. Sehubungan dengan rencana penerapan Sistem (modernisasi)

Administrasi Modern pada beberapa kantor wilayah Direktorat Jenderal Pajak

(DJP) dan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama serta Kantor Pelayanan

Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) diseluruh Indonesia tahun 2007

sampai dengan tahun 2008, ada beberapa hal yang perlu disampaikan, yaitu:

1. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama adalah jenis Kantor Pelayanan Pajak

(KPP) sebagaimana terdapat pada Peraturan Menteri Keuangan No.

132/PMK/2006. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama dibagi menjadi dua

bagian, yakni Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Induk dan Kantor

Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pemecahan.

2. Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) adalah

unit vertikal sebagaimana terdapat pada Peraturan Menteri Keuangan No.

132/PMK/2006, yang berada dan bertanggungjawab langsung kepada Kepala

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama.

3. SIDJP adalah aplikasi Sistem Informasi Direktorat Jendral Pajak yang

menggabungkan seluruh aplikasi perpajakan yang ada di Direktorat Jenderal

(39)

4. Konversi Data adalah kegiatan yang meliputi back up data dan melengkapi kode KLU dan kode wilayah.

5. Migrasi Data adalah kegiatan yang menyesuaikan basis data yang ada ke

dalam struktur basis data Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP).

3.2. Lokasi dan Letak Geografis Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur yang beralamat di

jalan Sukamulia No. 17 A Medan. Keberadaan Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

Pratama Medan Timur ini diharapkan akan memudahkan pengawasan dan

pemberian pelayanan kepada wajib pajak yang berkaitan dengan hak dengan

kewajiban perpajakannya.

3.3. Ruang Lingkup Wilayah Kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

Adapun yang menjadi ruang lingkup wilayah kerja Kantor Pelayanan

Pajak (KPP) Pratama Medan Timur, yaitu:

1. Kecamatan Medan Timur

2. Kecamatan Medan Area

3. Kecamatan Medan Tembung

(40)

3.4. Deskripsi Fungsi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

Dalam melaksanakan tugas, Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama

Medan Timur menyelenggarakan fungsi, yaitu:

1. Melakukan pengumpulan dan pengolahan data, penyajian informasi

perpajakan, pengamatan potensi perpajakan dan ekstensifikasi wajib pajak.

2. Melakukan penelitian dan penatausahaan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

dan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa wajib pajak.

3. Melakukan pengawasan pembayaran Masa Pajak Penghasilan (PPh), Pajak

Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

4. Melakukan penatausahaan piutang pajak penerimaan, penagihan, penatausaha

banding, dan peneyelesaian restitusi pajak.

5. Melakukan pemeriksaan pajak.

6. Melakukan penyelesaian permohonan, penyampaian dan permohonan

penghapusan sanksi administrasi pajak.

7. Melakukan penagihan pajak.

8. Melakukan penyuluhan konsultasi pajak.

9. Pelaksanaan administrasi Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

3.5. Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan

Timur

Sebagaimana diketahui bahwa setiap instansi tentu mempunyai struktur

organisasi, demikian juga halnya dengan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama

Medan Timur. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur ini dipimpin

(41)

beberapa seksi. Masing-masing seksi dipimpin oleh seorang kepala seksi yang

bertugas melaksanakan kegiatan operasional pelayanan dalam daerah

wewenangnya berdasarkan teknis yang telah diterapkan oleh Direktorat Jenderal

Pajak.

Adapun jenis struktur organisasi yang digunakan pada Kantor Pelayanan

Pajak (KPP) Pratama Medan Timur adalah Struktur Organisasi Linier dan staf

yang berada dibawah seoarang koordinasi Kepala Kantor Wilayah (Kanwil)

Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I, dimana seluruh pegawainya adalah

Pegawai Negeri Sipil yang berada dibawah naungan Departemen Keuangan

Republik Indonesia.

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dapat digolongkan menjadi 2 (dua) tipe,

yaitu tipe A dan tipe B. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tipe A merupakan Kantor

Pelayanan Pajak (KPP) yang tergolong dalam skala besar dan biasanya berada di

ibukota propinsi, sedangkan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tipe B merupakan

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang wilayah kerjanya tidak melebihi dari wilayah

kerja dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tipe A, dan biasanya berada di

kotamadya dan atau ibukota kabupaten. Sehingga berdasarkan penjelasan diatas,

maka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur dapat digolongkan ke

dalam Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tipe A karena wilayah kerjanya yang berada

dan atau berkedudukan di ibukota propinsi Sumatera Utara.

Namun berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik

Indonesia No. 162/KMK.01/1997 tanggal 10 April 1997 tentang Peningkatan

(42)

surat keputusan tersebut maka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) tipe B tidak ada lagi

di Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pajak Sumatera Utara I.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

94/KMK.01/1994 tanggal 29 maret 1994 tentang Susunan Organisasi Departemen

Keuangan, maka Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur dipimpin

oleh seorang kepala kantor, membawahi 1 sub bagian, 8 seksi dan 1 kantor

penyuluhan ditambah kelompok tenaga funsional (yang berada diluar struktur

organisasi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur) yang terdiri

dari:

1. Sub Bagian Tata Usaha

2. Seksi Tata Usaha dan Perpajakan (TUP)

3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI)

4. Seksi Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi

5. Seksi Pajak Penghasilan (PPh) Badan

6. Seksi Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan (PPh)

7. Seksi Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

8. Seksi Penagihan

9. Seksi Penerimaan Keberatan

10.Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan

Namun setelah adanya modernisasi perpajakan (tahun 2006 – tahun 2008) yang berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, maka Kantor Pelayanan Pajak

(KPP) Pratama dibagi menjadi beberapa seksi, yakni:

1. Kepala Kantor : Morland Lumban Tobing

(43)

3. Seksi Pengolahan Data dan Informasi : Nurida dwiningrum

4. Seksi Pelayanan : Hasiolan Sidabutar

5. Seksi Penagihan : Herry T.H Sitompul

6. Seksi Pemeriksaan : Bangkit Cahyono

7. Seksi Ekstensifikasi : Riris Bagus Mustofa

8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I : Romel Lumban Batu

9. Seksi Penagawasan dan Konsultasi II : Febner Pilimon Simatupang

10. Seksi Pengawasan dan Konsultasi III : Sakti Bonar Daeng Mapoji

11. Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV : Ferdinan Sembiring

12. Kelompok Jabatan Fungsional

Supervisor I : Richard Wilson Hutagalung

Supervisor II : Deni Achmad Nurulaen

Supervisor III : M. Taufik

3.6. Tugas dan Prosedur Standard Kerja Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

1. Sub Bagian Umum (Subbag Umum)

Membantu menunjang kelancaran tugas kepala kantor dalam

mengkoordinasikan tugas dan fungsi pelayanan kesekretariatan terutama dalam

hal pengaturan kegiatan tata usaha dan kepegawaian, keuangan, rumah tangga dan

perlengkapan. Sub Bagian Umum mempunyai prosedur standard kerja sebagai

(44)

a. Penerimaan Dokumen.

b. Pemrosesan dan penatausahaan dokumen masuk.

c. Pelaksanaan pelantikan, dan serah-terima jabatan serta pengambilan

sumpah Pegawai Negeri Sipil.

d. Pelaksanaan pembayaran tagihan melalui mekasnisme langsung

kepada rekanan.

e. Pemusnahan dokumen, penyusunan laporan berkala Kantor Pelayanan

Pajak (KPP).

f. Penyusunan tanggapan/tindak lanjut terhadap Surat Hasil Pemeriksaan

(SHP), Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Direktorat Jenderal

Pajak, Departemen Keuangan dan/atau Menteri Keuangan, Badan

Pemeriksa Keuangan (BPK) maupun unit fungsional pemeriksaan

lainnya.

2. Seksi Pengolahan Data dan Informasi (PDI)

Membantu Kepala Kantor dalam mengkoordinasikan pengumpulan

pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, perekaman dokumen

perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan, pengolahan data dan

penatausahaan bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan Bea Perolehan

Hak atas Tanah dan Bangunan, pelayanan dukungan teknis komputer, pemantauan

aplikasi e-SPT dan e-Filling serta penyimpanan laporan kinerja dengan teknologi yang ada sehingga dapat mempermudah pekerjaan Seksi Pengolahan Data dan

(45)

Seksi Pengolahan Data dan Informasi mempunyai prosedur standard kerja

sebagai berikut:

a. Penyusunan rencana penerimaan pajak berdasarkan potensi perpajakan

serta perkembangan ekonomi.

b. Penatausahaan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) non

elektronik.

c. Pemrosesan dan penatausahaan dokumen masuk.

d. Pembuatan dan penyampaian surat penghitungan dokumen dan kirim

langsung ke Kantor Pelayanan Pajak yang dituju.

e. Pembentukan dan pemanfaatan bank data dan lain-lain.

3. Seksi Pelayanan

Membantu tugas kepala kantor dalam mengkoordinasikan penetapan dan

penerbitan produk hukum perpajakan, penyusunan administrasi dokumen dan

berkas perpajakan, penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan (SPT) dan

surat lainnya, penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi wajib pajak serta

kerjasama perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Seksi Pelayanan mempunyai prosedur standard kerja sebagai berikut:

a. Penatausahaan dokumen-dokumen, dan laporan wajib pajak pada

Tempat Pelayanan Terpadu (TPT).

b. Penyelesaian pemindahan wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak

(KPP) yang lama dan yang baru.

c. Penyelesaian pengukuhan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP).

(46)

e. Penyelesaian permohonan perpanjangan jangka waktu penyampaian

dan atau pelaporan Surat Pembeitahuan (SPT) Tahunan Pajak

Penghasilan (PPh).

f. Penerbitan Surat Teguran terhadap wajib pajak yang tidak memenuhi

kewajiban perpajakannya.

g. Pelaksanaan pemenuhan permintaan konfirmasi dan klarifikasi tentang

informasi perpajakan.

4. Seksi Penagihan

Membantu tugas kepala kantor dalam mengkoordinasikan pelaksanaan dan

penatausahaan penagihan aktif, piutang pajak, penundaan dan angsuran serta

tunggakan pajak, usulan penghapusan pajak serta penyimpanan

dokumen-dokumen penagihan. Seksi Penagihan mempunyai prosedur standard kerja

sebagai berikut:

a. Melaksanakan pemrosesan dan penatausahaan dokumen-dokumen

yang masuk.

b. Melakukan Penatausahaan Surat Ketetapan Pajak (SKP) dan Surat

Tagihan Pajak (STP) beserta bukti pembayarannya.

c. Penyelesaian usulan pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak.

d. Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) bunga penagihan, Surat Teguran

Penagihan, Surat Paksa dan Surat Perintah melaksanakan Penyitaan

(SPMP) Serta Keputusan Pencabutan Sita.

e. Pembuatan usulan pencegahan dan penyanderaan terhadap wajib pajak

(47)

5. Seksi Pemeriksaan

Seksi Pemeriksaan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan rencana

pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan, penerbitan dan

penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan Pajak serta administrasi pemeriksaan

perpajakan lainnya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 426/PMK.01/2007

dijelaskan tentang Uraian Jabatan Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Pajak,

yakni:

“Tugas dan kegiatan Kepala Seksi Pemeriksaan antara lain menyusun daftar nominatif dan atau lembar pemeriksaan wajib ajak yang akan diperiksa,

membuat usulan pembatalan nominatif dan atu lembar penugasan pemeriksaan

wajib pajak diperiksa dan mengkaitkan serta menyalurkan Surat Perintah

Pemeriksaan Pajak (SP2), Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Pajak dan Surat

Pemanggilan Pemeriksaan Pajak”.

Seksi Pemeriksaan mempunyai prosedur standard kerja sebagai berikut:

a. Penyelesaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Pajak Penghasilan

(PPh) yang lebih bayar.

b. Penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

c. Penatausahaan laporan pemeriksaan pajak dalam Nota Penghitungan.

d. Pengamatan Kantor Pelayanan Pajak (KPP), Pemeriksaan Kantor,

(48)

6. Seksi Ekstensifikasi

Mempunyai tugas melakukan pengamatan potensi perpajakan, pendataan

subjek dan objek pajak, pembentukan dan pemuktahiran basis data nilai objek

pajak dalam menunjang ekstensifikasi. Seksi Ekstensifikasi mempunyai prosedur

standard kerja sebagai berikut:

a. Pendaftaran objek pajak yang baru dengan terlebih dahulu melakukan

penelitian kantor maupun lapangan.

b. Penerbitan surat himbauan untuk ber-NPWP.

c. Pencarian data potensi perpajakan dalam rangka pembuatan monografi

fiskal.

d. Penyelesaian permohonan penundaan pengembalian SPOP dan mutasi

sebagian atau seluruh subjek dan objek pajak Pajak Bumi dan

Bangunan (PBB).

7. Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon I, II, III, IV)

Seksi Pengawasan dan Kosultasi (Waskon I, II, III, IV) mempunyai tugas

melaksanakan pengawasan kepatuhan kewajiban perpajakan wajib pajak,

bimbingan dan atau himbauan kepada wajib pajak dan konsultasi teknis

perpajakan, penyusunan profil wajib pjajak, analisa kinerja wajib pajak,

melakukan rekonsiliasi data wajib pajak dalam rangka melakukan intensifikasi,

usulan pembetulan ketetapan pajak, usulan pengurangan Pajak Bumi dan

Bangunan (PBB) serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

(49)

Seksi Pengawasan dan Konsultasi (Waskon I, II, III, IV) mempunyai

prosedur standard kerja sebagai berikut:

a. Penyelesaian permohonan pengunaan nilai buku dalam rangka

penggabungan usaha, pengambil-alihan usaha dan atau pemekaran

usaha.

b. Penerbitan Surat Perintah Membayar kelebihan Pajak (SPMKP) dan

Surat Perintah Membayar Imbalan Bunga (SPMIB).

c. Penyelesaian permohonan pembetulan ketetapan pajak.

d. Konfirmasi lapangan untuk wajib pajak baru.

e. Penyelesaian permohonan Surat Ketetapan Bebas (SKB) pemotongan

Pajak Penghasilan (PPh) atau Bunga Deposito dan Tabungan serta

Diskonto serta Diskonto SBI yang diterima atau diperoleh Dana

Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.

f. Pembuatan Surat Pemberitahuan perubahan besarnya angsuran Pajak

Penghasilan (PPh) pasal 25.

g. Pemindahan wajib pajak dan atau Pengusaha Kena Pajak Orang

Pribadi.

h. Penerimaan Permohonan keberatan.

i. Penyelesaian pengembalian kelebihan pembayaran PPh, PPN, PPnBM

kepada wajib pajak, pengembalian kelebihan pembayaran pajak

terlebih dahulu diperhitungkan utang pajak (PPh, PPN, PPnBM)

melalui potongan SPMKP atau transfer pembayaran.

j. Penelitian persyaratan permohonan keberatan wajib pajak.

(50)

8. Kelompok Jabatan Fungsional

Kelompok jabatan fungsional ini terdiri dari sejumlah jabatan fungsional

masing-masing yang melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan fungsionalnya

masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan. Setiap kelompok

tersebut dikoordinasikan oleh pejabat fungsional senior yang ditunjuk langsung

oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) dan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

Pratama yang bersangkutan sesuai dengan bidang keahliannya.

3.7. Visi dan Misi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

1. Visi

Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur mempunyai Visi

yakni menjadi instansi pemerintahan yang menyelenggarakan sistem administrasi

perpajakan yang efektif, efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan

invidualisme yang tinggi.

2. Misi

Mengembangkan penerimaan pajak Negara berdasarkan Undang-undang

Perpajakan, mampu mewujudkan kemandirian pembiayaan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara (APBN) melalui sistem administrasi perpajakan yang efektif

(51)

3. Nilai

a. Integritas

Menjalankan tugas dan pekerjaan dengan selalu memegang teguh kode

etik dan prinsip-prinsip moral yang diterjemahkan dengan bertindak jujur,

konsisten, dan menepati janji.

b. Profesionalisme

Memiliki kompetensi dibidang profesi dan menjalankan tugas dan

pekerjaan sesuai dengan kompetensi, kewenangan, serta norma-norma

profesi, etika dan sesuai dengan kompetensi norma-norma profesi etika

sosial.

c. Inovasi

Memiliki pemikiran yang bersifat terobosan atau alternatif pemecahan

masalah yang kreatif dengan memperlihatkan aturan dan norma yang

berlaku.

d. Team Work

Memiliki kemampuan untuk bekerjasama dengan orang/pihak serta

(52)

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Prosedur Penerbitan Kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP di KPP Pratama Medan Timur.

4.1.1. Dasar Hukum

1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tanggal 31 Desember 1983 tentang

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah

terakhir menjadi Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009

2. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor

189/PMK.03/2007 tanggal 28 Desember 2007 tentang Tata Cara

Penerbitan Surat Tagihan Pajak sebagaimana telah diubah terakhir menjadi

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 84/PMK.03/2010

3. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 23/PMK.03/2008

tanggal 6 Februari 2008 tentang Tata Cara Penerbitan Surat Ketetapan

sebagaimana telah diubah terakhir menjadi Peraturan Menteri Keuangan

Republik Indonesia Nomor 83/PMK.03/2010

4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-36/PJ/2010 tanggal 30 Juli

2010 tentang Prosedur Penerbitan Kembali Surat Ketetapan Pajak Kurang

Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, dan/atau Surat

Tagihan Pajak.

5. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-82/PJ/2010 tanggal 30

Juli 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak

(53)

Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar

Tambahan, dan/atau Surat Tagihan Pajak.

4.1.2. Tata Cara Penerbitan Kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP di Seksi Penagihan.

1. Pelaksana pada Seksi Penagihan meneliti data SKPKB, SKPKBT dan/atau

STP pada sistem informasi yang digunakan, selanjutnya menelusuri fisik

SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP.

2. Jika fisik SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP diketemukan dalam kondisi

tidak rusak dan dapat terbaca, tidak perlu dilakukan usulan penerbitan

kembali SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP.

3. Jika fisik SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP tidak diketemukan atau

diketemukan dalam kondisi rusak dan/atau tidak terbaca, Pelaksana Seksi

Penagihan melakukan penelitian atas data, informasi dan/atau fisik

dokumen pendukung melalui sistem informasi yang digunakan maupun

dengan penelusuran kepada pihak terkait.

4. Penelusuran fisik dokumen pendukung melalui sistem informasi yang

digunakan maupun dengan penelusuran kepada pihak terkait, antara lain :

- Seksi Pelayanan atau Seksi Pengawasan dan Konsultasi KPP untuk

dokumen berhubungan dengan penerbitan SKPKB, SKPKBT, dan/atau

STP.

- Seksi Pemeriksaan KPP atau Bidang Pengurangan Keberatan dan

Banding Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak, untuk dokumen

(54)

SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP, seperti Nota Penghitungan,

Laporan Hasil Pemeriksaan, atau Kertas Kerja Pemeriksaan.

- Dalam hal wajib pajak pindah, konfirmasi juga dilakukan ke Kantor

Pelayanan Pajak tempat SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP.

Data dan/atau dokumen pendukung meliputi :

a. Data dan/atau dokumen pendukung sebelum penerbitan SKPKB,

SKPKBT dan/atau STP, seperti Nota Penghitungan, Laporan Hasil

Pemeriksaan, atau Kertas Kerja Pemeriksaan.

b. Data dan/atau dokumen pendukung setelah penerbitan SKPKB,

SKPKBT dan/atau STP, seperti data tindakan penagihan aktif

antara lain berupa Surat Teguran dan/atau Surat Paksa.

5. Berdasarkan hasil penelitian dan penelusuran sebagaimana dimaksud pada

angka 3 dan 4, Pelaksana Seksi Penagihan menentukan kategori informasi

yang diperoleh dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Kategori I, jika diketemukan data dan dokumen pendukung sebelum

dan setelah penerbitan SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP pada sistem

informasi dan/atau secara fisik.

b. Kategori II, jika hanya diketemukan data dan dokumen pendukung

sebelum penerbitan SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP, pada sistem

informasi dan/atau secara fisik.

c. Kategori III, jika hanya diketemukan data dan dokumen pendukung

setelah penerbitan SKPKB, SKPKBT, dan/atau STP, pada sistem

Gambar

Tabel 4.1

Referensi

Dokumen terkait

Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, serta Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding atau

(2) Dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan untuk Tahun Pajak 2008 dan sesudahnya,

Direktur Jenderal Pajak tetap dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat

Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan

(2) Direktur Jenderal Pajak tetap dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud pada

(2) Direktur Jenderal Pajak tetap dapat menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan sebagaimana dimaksud pada

c. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan yang telah disetujui dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, dan Surat Keputusan Keberatan

”Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, serta Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan