PENGARUH KEPEMIMPINANKEPALA SEKOLAH DAN KREATIVITAS KINERJA GURU TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA MENGAJAR GURU PADA SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN CIHIDEUNG KOTA TASIKMALAYA pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

Teks penuh

(1)

iv DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... …. i

KATA PENGANTAR ... …. ii

DAFTAR ISI ... …. iii

DAFTAR TABEL ... …. v

DAFTAR GAMBAR ... …. vii

DAFTAR LAMPIRAN ... …. xi

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... …. 1

B. Identifikasi Masalah ... …. 6

C.Perumusan Masalah ... …. 7

D.Tujuan Penelitian ... …. 8

E. Kegunaan Penelitian ... …. 9

1. Kegunaan Penelitian ………... 9

2. Kegunaan Praktis ………. 9

F. Kerangka Penelitian ... …. 10

1. Kerangka Berpikir ……… 10

2. Paradigma Penelitian ……… 10

G.Asumsi Penelitian ... …. 10

H.Hipotesis ... …. 11

I. Definisi Operasional ... …. 11

J. Metode Penelitian ... …. 12

K.Populasi dan Sampel ... …. 13

(2)

v

1. Pengertian Administrasi pendidikan ……… 15

2. Pendekatan admistrasi Pendidikan ………. 18

3. Sistem Organisasi Pendidikan ... …. 23

B. Konsep Kepemimpinan Pendidikan ... …. 24

1. Pengertian Administrasi Pendidikan ………... 24

2. Fungsi Administrasi Pendidikan ………. 27

3. Substansi Manajemen dan Kepemimpinan ………. 29

4. Teori Kepemimpinan ……….. 33

5. Gaya dan perilaku Kepemimpinan Pendidikan .…………. 36

6. Kepemimpinan Efektif ……… 41

C.Kepemimpinan Transformasional ... …. 43

1. Pengertian Kepemimpinan Transformasional ……… 43

2. Karakteristik Kepemimpinan Transformasional ………… 46

3. Faktor yang mempengaruhi persepsi terhadap gaya kepe - pemimpinan Transformasional ………... 48

D.Konsep Efektivitas Kinerja Guru ... …. 50

1. Pengertian Kreativitas ………. 50

2. Pengertian Kinerja ……… 53

3. Faktor yang Berpengaruh terhadap Kinerja ……… 55

4. Proses Kreativitas Kinerja Guru ... …. 57

E. Konsep Efektivitas Kinerja Mengajar Guru ……….. 62

1. Pengertian Efektivitas ……….. 62

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kinerja …… 67

3. Pengertian Mengajar ………. 69

4. Karakteristik Kinerja Mengajar Guru ……….. 72

5. Studi yang relevan ……… 88

BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian ... …. 90

(3)

vi

1. Lokasi Penelitian ……… 91

2. Populasi ………. 91

3. Sampel ……… 92

C. Teknik Pengumpulan Data ... …. 92

1. Penelitian Kepustakaan………. 94

2. Penelitian Lapangan ……….. 94

D. Instrumen Penelitian ... … 95

1. Skala Pengukuran ………. 95

2. Penyusunan Instrumen ………. 96

E. Uji Coba Instrumen ... ... 97

1. Responden Uji Coba ……… 97

2. Tujuan Pelaksanaan Uji Coba ………. 97

3. Validitas Intrumen ……….. 98

4. Hasil Uji Validitas Instrumen ……… 98

5. Hasil Uji Reabilitas Instrumen……… 99

6. Tahap penyebaran dan pengumpulan Angket ………… 103

F. Teknik Analisis Data ... . 105

1. Analisis Data Deskriptif ………. 106

2. Pengujian Persyaratan Analisis ………. 107

3. Menguji Hipotesis Penelitian ………. 108

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 113

1. Hasil Analisis Data Deskriptif ……….. 133

2. Pengujian Persyaratan Analisis ……… 117

3. Hasil Pengujian Hipotesis ………. 122

4. Interpretasi Hasil Analisis ………. 135

B. Pembahasan ... 137

(4)

vii

2. Gambaran Kreativitas Guru pada SD di Kecamatan

Cihideung Kota tasikmalaya ………. 146

3. Gambaran Efektiktivitas Kinerja mengajar Guru di Ke- camatan Cihideung Kota Tasikmalaya ……… 150

4. Analisis Pengaruh Pengaruh Kepemimpinan Transfor- masional terhadap Efektiktivitas Kinerja mengajar Guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya… 153 5. Analisis Pengaruh Pengaruh Kepemimpinan Transforma- sional terhadap Kreativitas Kinerja mengajar Guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya………. 153

6. Analisis Pengaruh Kepemimpinan Transformasional terhadap Efektiktivitas Kinerja mengajar Guru dan Kreati- vitas Kinerja mengajar Guru pada SD di Kecamatan Cihi- deung Kota Tasikmalaya………. 154

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan ... …. 154

B. Implikasi Hasil Penelitian ... …. 156

C. Rekomendasi ... …. 157

DAFTAR PUSTAKA……….. 199

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(5)
(6)

1

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Berdasarkan hasil studi PERC (Political and Economy Risk Consults)

2001 tentang pendidikan, Indonesia menempati urutan terakhir dari 12 negara

di Asia. Dalam hal ini Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, dan sebagainya

lagi-lagi berada di atas kita (Uno, 2006:130). Dengan demikian, menunjukkan

bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia masih rendah. Rendahnya

kualitas sumber daya manusia merupakan masalah mendasar yang dapat

menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Dampak

dari rendahnya kualitas sumber daya manusia juga menjadi penghambat bagi

suatu bangsa dalam persaingan mutu di era globalisasi. Muara dari fenomena

tersebut, sebuah bangsa bisa tidak berdaya dalam percaturan global.

Pengaruh globalisasi melahirkan suatu persaingan ketat guna meraih

keberhasilan di pasar bebas. Untuk dapat bersaing di pasar bebas diperlukan

sumber daya manusia yang kompetitif dalam penguasaan ilmu pengetahuan

dan teknologi. Realita menunjukkan, sampai saat ini Indonesia masih tertinggal

dengan negara tetangga dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Wacana tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan memiliki peranan penting

dalam peningkatan sumber daya manusia. Dengan pendidikan, sumber daya

manusia dapat berkembang dan ekonomi secara makro dapat tumbuh pesat.

Manusia merupakan sumber daya terpenting dalam mencapai

keberhasilan organisasi pendidikan. Sumber daya manusia akan terwujud

(7)

2

dalam karya, bakat, kreativitas, dan efektivitas kinerja sebuah organisasi.

Secanggih apa pun program, baik yang menyangkut aspek pendidikan,

ekonomi, maupun teknologi, tanpa adanya sumber daya manusia yang handal,

tujuan organisasi pendidikan mustahil tercapai. Oleh karena itu, peningkatan

serta pengembangan sumber daya manusia memiliki peran strategis dalam

peningkatan mutu organisasi.

Sumber daya manusia dalam organisasi diharapkan mampu

menunjukkan perilaku profesionalisme yang tinggi dan sifat kepemimpinan

yang harmoni, sehingga manajemen dalam organisasi mampu menciptakan

kreativitas dan efektitivitas kinerja yang tinggi.

Berkenaan dengan hal tersebut, kepemimpinan seorang kepala sekolah

sedikit banyak dapat mempengaruhi pendidikan di lingkungan sekolah.

Sekolah juga membutuhkan figur seorang pemimpin yang siap bekerja keras

untuk dapat memajukan sekolah demi peningkatan mutu pendidikan di

lingkungan sekolah yang dipimpinnya. Faktor lain yang berperan

mempengaruhi pendidikan adalah kinerja guru. Seorang guru dituntut untuk

dapat memberikan andil yang besar terhadap pendidikan di lingkungan sekolah

terutama dalam hal belajar. (http://one.indoskripsi.com/node/3359)

Dalam hal ini, kepemimpinan dapat berperan melindungi beberapa isu

pengaturan organisasi yang tidak tepat, seperti: distribusi kekuasaan yang

menjadi penghalang tindakan yang efektif, kekurangan berbagai macam

sumber, prosedur yang dianggap buruk, dan sebagainya. Oleh karena itu,

peranan sentral kepemimpinan dalam organisasi dan dimensi-dimensi

(8)

3

terkoordinasi sehingga peranan kepemimpinan dapat dilaksanakan secara

efektif.

Saat ini pembangunan pendidikan nasional belum mencapai hasil sesuai

yang diharapkan. Depdiknas selaku pemegang amanah pelaksanaan sistem

pendidikan nasional memiliki kewajiban untuk mewujudkan misi

pembangunan. Perspektif pembangunan pendidikan tidak hanya ditujukan

untuk mengembangkan aspek intelektual saja melainkan juga watak, moral,

sosial dan fisik perserta didik, atau dengan kata lain menciptakan manusia

Indonesia seutuhnya.

Seiring dengan pesatnya perkembangan masyarakat dan

meningkatnya tuntutan akan mutu pendidikan. Depdiknas bersama dengan

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) selaku badan yang

melakukan perencanaan nasional, berusaha menuangkan program-program

Depdiknas kedalam 15 program. Dalam Rencana Pembangunan Jangka

Panjang (RPJP) Tahun 2005-2025, Pemerintah mencanangkan peningkatan

kemampuan manusia bangsa ini, sehingga memiliki daya saing yang seimbang

dengan bangsa-bangsa lain di dunia (Renstra Depdiknas, 2005).

Fenomena di atas merupakan upaya pemerintah dalam menata sumber

daya manusia, baik dari aspek intelektual, spiritual, kreativitas, moral, maupun

tanggung jawab. Mulyasa (2004:4) menyatakan: “Penataan sumber daya

tersebut perlu diupayakan secara bertahap dan berkesinambungan melalui

sistem pendidikan yang berkualitas baik pada jalur pendidikan formal,

informal, maupun non formal, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan

(9)

4

Lebih lanjut beliau mengemukakan tentang pentingnya pengembangan

sistem pendidikan yang berkualitas. Karena berbagai indikator menunjukkan

bahwa pendidikan yang ada belum mampu menghasilkan sumber daya yang

sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhan pembangunan.

Sementara itu, Sardiman (2005:125) mengemukakan:

Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan. Guru merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam hal ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang melakukan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik yang melakukan transfer nilai-nilai sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahkan dan menuntun siswa dalam belajar. Kelengkapan dari jumlah tenaga guru dan kualitas guru tersebut akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar, yang berujung pada peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu guru dituntut lebih profesional dalam menjalankan tugasnya.

Tugas Keprofesionalan Guru menurut Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 pasal 20 (a) Tentang Guru dan Dosen adalah

merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang

bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok

guru yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar serta tugas-tugas guru

dalam kelembagaan marupakan bentuk kinerja guru. Apabila kinerja guru

meningkat, maka akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas keluaran

atau output-nya. Oleh karena itu, perlu dukungan dari berbagai pihak untuk

meningkatkan kinerja guru. Kinerja guru akan menjadi optimal bilamana

diintegrasikan dengan komponen sekolah, baik itu kepala sekolah, iklim

sekolah, guru, karyawan maupun anak didik. Pidarta (dalam Saerozi, 2005:2)

(10)

5

dalam melaksanakan tugasnya yaitu : a ) Kepemimpinan kepala sekolah, b )

Iklim sekolah, c ) Harapan-harapan, dan d ) Kepercayaan personalia sekolah”.

Dengan demikian, tampak bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan

iklim sekolah akan ikut menentukan baik buruknya kinerja guru.

Keberhasilan pendidikan di sekolah sangat ditentukan oleh keberhasilan

kepala sekolah dalam mengelola tenaga kependidikan yang tersedia di sekolah.

Mulyasa (2004:25) mengemukakan:

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang berpengaruh dalam meningkatkan kinerja guru. Kepala sekolah bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya, dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Hal tersebut menjadi lebih penting sejalan dengan semakin kompleksnya tuntutan tugas kepala sekolah, yang menghendaki dukungan kinerja yang semakin efektif dan efisien.

Di samping itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta

seni dan budaya yang diterapkan dalam pendidikan di sekolah juga cenderung

bergerak semakin maju, sehingga menuntut penguasaan secara profesional.

Menyadari hal tersebut, setiap kepala sekolah dihadapkan pada tantangan untuk

melaksanakan pengembangan pendidikan secara terarah, berencana dan

berkesinambungan. Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi yang sangat

berpengaruh dan menentukan kemajuan sekolah harus memiliki kemampuan

administrasi, memiliki komitmen tinggi, dan luwes dalam melaksanakan

tugasnya.

Kepemimpinan kepala sekolah yang baik harus dapat mengupayakan

peningkatan kinerja guru melalui program pembinaan kemampuan tenaga

kependidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus mempunyai kepribadian

(11)

6

memimpin sebuah lembaga pendidikan. Dalam perannya sebagai seorang

pemimpin, kepala sekolah harus dapat memperhatikan kebutuhan dan perasaan

orang-orang yang bekerja sehingga kinerja guru selalu terjaga. Selain

dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah, kinerja guru juga dipengaruhi

oleh iklim sekolah. Iklim sekolah adalah suasana bekerja, belajar,

berkomunikasi, dan bergaul dalam organisasi pendidikan (Pidarta, 1988:176).

Dengan terciptanya iklim sekolah yang kondusif, maka guru akan

merasa nyaman dalam bekerja dan terpacu untuk bekerja lebih baik. Hal

tersebut mencerminkan bahwa suasana sekolah yang kondusif sangat

mendukung peningkatan kreativitas dan kinerja guru.

Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat benang merah antara

kepemimpinan kepala sekolah, kreativitas guru, dan efektivitas kinerja guru di

suatu lembaga pendidikan. Selaras dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah

dan Kreativitas Kinerja Guru terhadap Efektivitas Kinerja Mengajar Guru

pada Sekolah Dasar di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya”.

B.Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini difokuskan kepada

masalah kepemimpinan, kreativitas guru, dan efektivitas kinerja guru. Dengan

demikian, masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana persepsi guru tentang kepemimpinan kepala sekolah pada SD di

Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

2. Bagaimana kreativitas kinerja guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

(12)

7

3. Bagaimana efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan

Cihideung Kota Tasikmalaya?

4. Bagaimana kepemimpinan transformasional dapat mempengaruhi

efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya?

5. Bagaimana kreativitas kinerja guru mempengaruhi efektivitas kinerja

mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

6. Bagaimana kepemimpinan transformasional dan kreativitas kinerja guru

mempengaruhi efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan

Cihideung Kota Tasikmalaya?

7. Seberapa besar pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap

efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya?

8. Seberapa besar pengaruh kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja

mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

9. Seberapa besar kepemimpinan transformasional dan kreativitas kinerja guru

berpengaruh terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di

Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

C.Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, secara umum, penulis merumuskan

masalah sebagai berikut: “Seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala

sekolah dan kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar

guru?”

(13)

8

1. Bagaimana gambaran kepemimpinan transformasional pada SD di

Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

2. Bagaimana gambaran kreativitas kinerja guru pada SD di Kecamatan

Cihideung Kota Tasikmalaya?

3. Bagaimana gambaran efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di

Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

4. Seberapa besar pengaruh kepemimpinan transfomasional terhadap

efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya?

5. Seberapa besar pengaruh kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas

kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya?

6. Seberapa besar pengaruh kepemimpinan transfoemasional dan kreativitas

kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di

Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya?

D.Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah:

1. Untuk mengetahui gambaran nyata tentang kepemimpinan transformasional

pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

2. Untuk mengetahui gambaran nyata tentang kreativitas kinerja guru pada SD

di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

3. Untuk mengetahui gambaran nyata tentang efektivitas kinerja mengajar guru

(14)

9

4. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kepemimpinan transformasional

terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan

Cihideung Kota Tasikmalaya

5. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kreativitas kinerja guru terhadap

efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya.

6. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kepemimpinan transformasional dan

kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD

di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya

E.Kegunanaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan baik secara

teoritis maupun praktis sebagai berikut :

1. Kegunaan Teoritis

Penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan bagi

Ilmu Administrasi Pendidikan dan pengembangan institusi Sekolah

Dasar khususnya pada bidang kepemimpinan transformasional, kreativitas

guru dan efektivitas kinerja mengajar guru Sekolah Dasar di Kecamatan

Cihideung Kota Tasikmalaya.

2. Kegunaan Praktis

a. Penelitian ini juga dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi kepala

SD, guru SD, pengawas satuan TK/SD serta stakeholders pendidikan

dalam memimpin dan berkomunkasi guna meningkatkan kinerja guru.

b. Hasil penelitian ini juga dapat memberikan masukan bagi peneliti

(15)

10

Indonesia (UPI) pada umumnya tentang pentingnya pengembangan

kepemimpinan transformasional dan kreativitas agar kinerja guru lebih

baik.

F. Kerangka Penelitian 1. Kerangka Berpikir

Efektivitas kinerja mengajar guru (Y) dipengaruhi oleh kepemimpinan

kepala sekolah (X1) dan kreativitas guru (X2).

2. Paradigma Penelitian

Bertolak dari uraian kerangka penelitian, maka paradigma penelitian dapat

digambarkan sebagai berikut :

Gambar 1.1 : Hubungan antar variabel

G. Asumsi Penelitian

Penelitian ini berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut:

1. Efektivitas Kinerja Mengajar guru berkaitan erat dengan Kepemimpinan

Kepala Sekolah.

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH

(X1)

EFEKTIVITAS KINERJA MENGAJAR

GURU (Y) KREATIVITAS

(16)

11

2. Efektivitas Kinerja Mengajar guru berpengaruh terhadap Kreativitas

Kinerja Mengajar Guru

3. Kepemimpinan kepala sekolah dan kreativitas kinerja mengajar guru

secara simultan berhubungan terhadap efektivitas kinerja mengajar guru

4. Efektifitas diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian

tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan perihal efektivitas kerja

guru dapat dilihat sejauh mana kinerja tersebut dapat memberikan

pengaruh kepada anak didik.

H.Hipotesis

Sugiyono (1997:39) menyatakan bahwa hipotesa dapat dinyatakan

sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian. Adapun

hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap efektivitas

kinerja mengajar guru.

2. Terdapat pengaruh kreativitas kinerja guru terhadap efektivitas kinerja

mengajar guru.

3. Terdapat pengaruh kepemimpinan transformasional dan kreativitas

kinerja guru secara simultan terhadap efektifitas kinerja mengajar guru.

I. Definisi Operasional

1. Kepemimpinan kepala sekolah adalah bentuk perilaku seorang pemimpin

dalam melaksanakan fungsi-fungsi kepemimpinan, baik yang berhubungan

dengan pencapaian tujuan pembelajaran maupun dalam menciptakan iklim

sekolah yang kondusif dan menumbuhkan kreativitaas dan efektivitas

(17)

12

2. Kreativitas kinerja guru adalah cara berpikir baru yang ada pada diri guru

dalam pembelajaran yang optimal dan dimanifestasikan dalam keterampilan

(a) aptitude, (b) rasional , (c) evaluasi ,(d) Pengelolaan pembelajaran

3. Efektivitas kinerja mengajar guru adalah uraian tentang tingkat pencapaian

pelaksanaan mengajar untuk mewujudkan tujuan. Efektivitas kinerja

mengajar guru berorientasi pada kemampuan pengelolaan pembelajaran

yang meliputi : (a) Penyusunan rencana pembelajaran (b) Pelaksanaan

interaksi belajar mengajar, (c) Penilaian prestasi belajar peserta didik, (d)

Pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik.

4. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki

karakteristik keahlian dan tindakan mendahulukan kepentingan

bersama), Idealized Influence (kemampuan mempengaruhi disertai

penekanan nilai dan moral), Inspirational Motivation (kemampuan

memotivasi dan menginspirasi), Intelectual Stimulation (kemampuan

mengasah kreativitas bawahan), dan Individualized Consideration

(kemampuan menghargai dan memperhatikan bawahan).

J. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksplanatori dengan

pendekatan kuantitatif. Metode eksplanatori bertujuan menerangkan dan

mengungkapkan secara sistematis antara dua variabel atau lebih, sekaligus

menguji satu atau beberapa hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk

melaksanakan suatu penelitian deskriptif ini dilakukan melalui survei, sehingga

(18)

13

sekaligus. Sedangkan metode kuantitatif adalah data penelitian berupa

angka-angka dan analisis menggunakan statistik.

Kerlinger (Riduan, 2006:49) mengatakan: “Penelitian survey adalah

penelitian yang dilakukan pada populasi besar atau kecil, tetapi data yang

dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga

ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan hubungan antar

variabel sosiologis dan psikologis”. Metode analisis kuantitatif menggunakan

analisis regresi dan korelasi yang bertujuan untuk menggambarkan hubungan

antara variabel independen.

K.Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan guru SD di

Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya sebanyak 104 orang.

Menggunakan guru sebagai sumber data karena mereka terlibat langsung

dalam pengelolaan pendidikan di sekolah.

2. Sampel

Yang dimaksud dengan sampel dalam penelitian ini adalah sebagian

populasi yang diambil untuk dijadikan sumber data dan dianggap mewakili

keseluruhan populasi secara representatif. Adapun teknik yang digunakan

dalam pengambilan sampel adalah probability sampling.

Sugiyono (2008:120) menyatakan:

(19)

14

dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam golongan populasi tersebut dan dilakukan karena anggota populasinya homogen.

Rumus yang digunakan untuk menentukan besarnya sampel yang

akan dijadikan objek dalam penelitian ini adalah rumus yang dikemukakan

oleh Rakhmat (1989:82), yaitu sebagai berikut :

N

N ² 1

Keterangan:

n = ukuran sampel minimal N = ukuran populasi

d = presisi

(20)

BAB III

PROSEDUR PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan

pendekatan kuantitatif. Metode deskriptif analisis yaitu bertujuan menerangkan dan

mengungkapkan secara sistematis antara dua variabel atau lebih, sekaligus menguji

satu atau beberapa hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk melaksanakan suatu

penelitian deskriptif ini dilakukan melalui survei, sehingga prediksi dan keeratan

hubungan antara variabel yang diteliti dapat diukur sekaligus. Sedangkan metode

kuantitatif adalah data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan

statistik.

Dengan metode ini diharapkan dapat menggambarkan hubungan variabel

yang satu dengan variabel yang lain dengan menggunakan statisik sehingga dapat

menjelaskan keadaan dengan benar. Sugiono (2005:11) mengemukakan: “Ciri

penelitian kuantitatif diantaranya bertujuan menunjukkan hubungan antar variabel

dengan teknik survey serta instrumen penelitiannya berupa angket”.

Milan (2001:50) menjelaskan bahwa penelitian survey memiliki ciri

memilih sebuah sampel responden dan membuat sebuah kuesioner atau melakukan

wawancara untuk mengumpulkan informasi mengenai variabel yang sedang diteliti.

Data yang tekumpul digunakan untuk mempelajari sikap, keyakinan, prilaku,

pendapat, kebiasaan, gagasan, dan informasi lainnya yang berkenaan dengan

perilaku manusia.

(21)

91

B. Wilayah Penelitian, Populasi, dan Sampel 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya, dengan responden guru pada SD Gunungkoneng, SD Cieunteng IV,

SD Gunungpereng 1, SD Gunungpereng 2, SD Gunungpereng 3, SD

Gunungpereng 4, SD Gunungpereng 5, SD Nagarawangi 1, SD Nagarawangi 2,

dan SD Nagarawangi 3.

2. Populasi

Sugiyono (2005:49) mengemukakan bahwa populasi dalam penelitian

merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek dan subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.

Menurut Sasmoko (2004:54), populasi merupakan wilayah generalisasi

penelitian yang terdiri atas subjek atau objek pengamatan yang ditetapkan peneliti

untuk mengambil kesimpulan. Penentuan populasi merupakan tahapan penting

dalam penelitian yang dapat memberikan informasi atau data yang berguna bagi

suatu penelitian. Tanpa populasi, penelitian tidak mungkin dilakukan.

Sementara itu, Sanafiah Faisal (1982: 324) mengemukakan: “Populasi

adalah sekelompok individu tertentu yang memiliki satu atau lebih karakteristik

umum yang menjadi pusat perhatian penelitian. Populasi bisa berupa semua

individu yang memiliki pola kelakuan tertentu atau bagian dari kelompok itu”.

Dengan demikian, populasi dalam penelitian ini adalah guru SD Kecamatan

(22)

92

Tabel 3.1 Populasi

NO SEKOLAH DASAR JUMLAH

1 SD Gunungkoneng 14

2 SD Gunungpereng 1 12

3 SD Gunungpereng 2 14

4 SD Gunungpereng 3 9

5 SD Gunungpereng 4 10

6 SD Gunungpereng 5 8

7 SD Cieunteung 4 12

8 SD Nagarawangi 1 8

9 SD Nagarawangi 2 9

10 SD Nagarawangi 3 8

JUMLAH 104

3. Sampel

Riduan (2007:56) mengemukakan: “Sampel adalah bagian dari populasi.

Suatu pertimbangan apabila subyek kurang dari 100, maka lebih baik diambil

semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, jika subyeknya

besar dapat diambil antara 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih”. Berkaitan

dengan teknik pengambilan sampel, Nasution (1991:135) mengemukakan: “.. mutu

penelitian tidak selalu ditentukan oleh besarnya sampel, akan tetapi oleh kokohnya

dasar-dasar teori, desain penelitian (asumsi-asumsi statistik), serta mutu

pelaksanaan dan pengolahannya”.

Mencermati dari kedua teori tersebut secara kebetulan peneliti dihadapkan

pada suatu masalah terhadap populasi. Dari 14 jumlah sekolah yang seharusnya

penulis teliti, hanya 10 sekolah yang dapat penulis jadikan sampel. Sedangkan

(23)

93

tersebut penulis menggunakan teknik sampling aksidental

Sampling aksidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu

sejumlah populasi yang mungkin dapat dijadikan sampel penelitian sebagai sumber

data.

a. Menentukan ukuran sampel

Untuk menentukan besarnya atau ukuran sampel digunakan rumus Taro

Yamane (Riduan, 2008: 65), yaitu :

.

1

Keterangan:

n = jumlah sampel

N = jumlah populasi

d = presisi atau penyimpangan terhadap populasi

1 = angka konstan

Dalam penelitian sosial besarnya presisi biasanya antara 5% sampai

dengan 10%, pada penelitian ini peneliti mengambil presisi sebesar 10%

sehingga diperoleh nilai n sebagai berikut:

. ² 1

104 104 . 0.1² 1

104

2.04 50.98

Jadi jumlah sampel penelitian sebanyak 51 orang (dibulatkan), jumlah ini

menjadi responden penelitian. Jumlah sampel tersebut jika diprosentasekan

adalah 51/104 x 100% = 49,03%

b. Menentukan subjek penelitian

Teknik yang digunakan dalam menentukan sampel adalah teknik simple

(24)

94

Tabel 3.2 : Penyebaran Sampel

No. Nama Sekolah Jumlah Jumlah Sampel

1. SD Gunungkoneng 14 14 x 51/104 = 7

2. SD Gunungpereng 1 12 12 x 51/104 = 6

3. SD Gunungpereng 2 14 14 x 51/104 = 7

4. SD Gunungpereng 3 9 9 x 51/104 = 4

5. SD Gunungpereng 4 10 10 x 51/104 = 5

6. SD Gunungpereng 5 8 8 x 51/104 = 4

7. SD Cieunteung 4 12 12 x 51/104 = 6

8. SD Nagarawangi 1 8 8 x 51/104 = 4

9. SD Nagarawangi 2 9 9 x 51/104 = 4

10 SD Nagarawangi 3 8 8 x 51/104 = 4

Jumlah 104 51

C. Tenik Pengumpulan Data

Tujuan mengumpulkan data adalah menghimpun informasi tentang subjek

penelitian. Sugiyono (2005:62) menjelaskan bahwa pengumpulan data merupakan

langkah langkah yang paling strategis dalam penelitian karena memiliki tujuan

yaitu mendapatkan data.

Untuk mendapatkan data yang lengkap dalam penelitian ini data yang

digunakan adalah :

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research)

Studi pustaka diperlukan sebagai satu tahap tersendiri yaitu studi

pendahuluan untuk memahami gejala baru yang terjadi dalam masyarakat dan

diyakini data pustaka tetap andal untuk menjawab persoalan penelitiannya

(http://history2001.multiply.com/journal/item/44)

2. Penelitian Lapangan (Field Research)

Untuk memperoleh data primer dalam penelitian ini, penulis mengajukan

(25)

95

jawaban. Dengan skala Likert, penulis berharap dapat memperoleh gambaran

tentang kepemimpinan transformasional, kreativitas guru, dan efektivitas kinerja

guru pada sekolah dasar di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur

fenomena alam ataupun sosial yang dapat diamati (Sugiyono, 2008:102).

Sedang-kan Riduan (2008:71) mengemukaSedang-kan: “Instrument penelitian menjelasSedang-kan semua

alat pengambilan data yang digunakan, proses pengumpulan data, dan teknik

penentuan kualitas instrument (validitas dan reliabilitas)”.

Berdasarkan teori di atas, maka untuk memperoleh data tentang

kepemimpinan transformasional, kreativitas guru dan efektivitas kinerja guru maka

digunakan alat pengumpul data berupa kuesioner (angket) dengan terlebih dahulu

membuat kisi-kisi instrument. Angket yang telah disusun, diuji coba untuk

mengetahui validitas dan reliabilitasnya.

1. Skala Pengukuran

Dalam penyusunan kuesioner, peneliti menggunakan skala likert. Skala

likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau

sekelompok orang tentang fenomena tertentu (Sugiyono, 2008:93). Dengan skala

likert ini dapat diketahui bagaimana gambaran kepemimpinan transformasional,

kreativitas kinerja guru, dan efektivitas kinerja mengajar guru. Instrumen yang

digunakan dalam kepemimpinan transformasional adalah Sangat Setuju (SS),

Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Sedangkan pengumpulan data dari variabel kreativitas kinerja guru, dan

efektivitas kinerja mengajar guru dalam penelitian ini adalah angket skala likert

dengan 5 (lima) alternatif jawaban, yaitu: Selalu (SL), Sering (SR), Kadang-kadang

(26)

96

Pemberian bobot untuk masing-masing kontinum berturut-turut untuk

pernyataan-pernyataan positif diberi bobot: 5 – 4 – 3 – 2 – 1. Sedangkan untuk

pernyataan-pernyataan negatif diberi bobot: 1 – 2 – 3 – 4 – 5.

2. Penyusunan Instrumen

Instrumen penelitian ini disusun berdasarkan indikator-indikator dari setiap

variabel (X , X , dan Y). Untuk mendapat kesahihan yang konstruktif, maka

dilakukan melalui pendefinisian dan studi kepustakaan serta konsultasi dan diskusi

dengan pembimbing. Instrumen pada masing-masing indikator disusun dengan

langkah-langkah sebagai berikut: 1) membuat kisi-kisi, 2) menyusun butir-butir

pernyataan, dan 3) melakukan analisis rasional untuk melihat kesesuaian dengan

indikator serta ketepatan dalam menyusun angket.

Tabel 3.3

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

Variabel Sub Variabel Indikator No. Item

(27)

97

- Penyajian pembelajaran 7 - 17 - Pelaksanaan Evaluasi 18 - 23

Instrumen penelitian yang telah disusun diuji-cobakan terlebih dahulu untuk

mengetahui kesahihan dan kehandalannya melalui prosedur sebagai berikut:

1. Responden Uji Coba

Instrumen penelitian diuji cobakan pada responden yang tidak termasuk

sampel penelitian. Jumlah responden uji coba sebanyak 30 (tiga puluh) orang guru.

Jumlah 30 orang ini dianggap sudah memenuhi syarat untuk uji-coba instrumen.

2. Tujuan Pelaksanaan Uji Coba

Pelaksanaan uji-coba instrumen ini dimaksudkan untuk mengetahui

kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang mungkin terjadi pada

item-item angket, baik dalam hal redaksi, alternatif jawaban yang tersedia, maupun

dalam pernyataan dan jawaban tersebut. Uji-coba dilakukan untuk analisis terhadap

instrumen sehingga diketahui sumbangan butir-butir pernyataan terhadap indikator

(28)

98

memperoleh butir pernyataan yang valid dan reliabel maka dilakukan pengujian

validitas dan reliabilitas.

3. Uji Validitas Instrumen

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arikunto (Akdon, 2008:143) bahwa

validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kehandalan atau

kesahihan suatu alat ukur.

Sugiyono (Akdon, 2008:143) mengemukakan: “Jika instrumen dikatakan

valid maka instrumen itu menunjukkan alat ukur untuk mendapatkan data yang

valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang

seharusnya diukur”. Selanjutnya, Arikunto (2002:145) mengungkapkan bahwa

tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukkan sejauh mana variabel data yang

terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud.

Validitas instrumen dapat diketahui melalui perhitungan dengan

menggunakan rumus pearson product moment terhadap nilai-nilai antara variabel

X dengan variabel Y. Adapun rumus yang digunakan adalah seperti yang

dikemu-kakan Sugiyono (Akdon, 2008:144), sebagai berikut:

! . "! . "

Keterangan:

= Jumlah responden

= Jumlah perkalian X dan Y = Jumlah skor tiap butir

= Jumlah skor total

² = Jumlah skor X dikuadratkan

(29)

99

Selanjutnya dihitung dengan uji t atau uji signifikansi. Uji ini untuk

menentukan apakah variable X signifikan terhadap variable Y. Akdon (2008:144)

mengemukakan penggunaan rumus uji signifikansi sebagai berikut:

# √ 2

1 ²

Keterangan:

= koefisien korelasi

= banyak populasi

Distribusi (table t) untuk %=0,05 dan derajat kebebasan (dk) = n – 2 dengan

keputusan sebagai berikut: jika # > #&'() berarti valid. Sebaliknya, jika

# < # &'() , berarti tidak valid.

5. Hasil Uji Validitas Instrumen

Dalam penelitian ini, uji validitas menggunakan bantuan computer dengan

program SPSS versi 12 for window. Dengan demikian, untuk mengetahui tingkat

validitas instrument maka dapat melihat angka pada kolom corrected item-total

correlation yang merupakan korelasi antara skor item dengan skor total item (nilai

) dibandingkan dengan nila &'(). Jika > &'() maka item tersebut

valid. Sebaliknya, jika < &'() maka item tersebut tidak valid.

a. Validitas Variable +, (Kepemimpinan Kepala Sekolah)

Dengan perhitungan menggunakan rumus tersebut di atas, maka untuk

variabel X yang terdiri dari 24 item pernyataan, dinyatakan valid 23 item, dan

tidak valid 1 item, yaitu nomor 20. Dengan keputusan bahwa untuk item yang tidak

valid tidak digunakan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada table berikut:

(30)

100

10 0.442 0.361 Valid Digunakan

11 0.469 0.361 Valid Digunakan

12 0.595 0.361 Valid Digunakan

13 0.654 0.361 Valid Digunakan

14 0.455 0.361 Valid Digunakan

15 0.500 0.361 Valid Digunakan

16 0.485 0.361 Valid Digunakan

17 0.655 0.361 Valid Digunakan

18 0.719 0.361 Valid Digunakan

19 0.813 0.361 Valid Digunakan

20 -0.031 0.361 Tidak Valid Ditolak

21 0.398 0.361 Valid Digunakan

22 0.385 0.361 Valid Digunakan

23 0.414 0.361 Valid Digunakan

24 0.731 0.361 Valid Digunakan

b. Validitas Variable +- (Kreativitas Guru)

Variabel X terdiri dari 32 item pernyataan. 31 item pernyataan valid dan 1

item pernyataan tidak valid, yaitu nomor 10. Untuk jelasnya, dapat dilihat pada

table berikut:

Table 3.5: Hasil Uji Validitas variable +- (Kreativitas Guru)

Nomor

Item %=0,05, n=30 &'() Keterangan Keputusan

1 0.641 0.361 Valid Digunakan

2 0.412 0.361 Valid Digunakan

(31)

101

10 -0.471 0.361 Tidak Valid Ditolak

11 0.576 0.361 Valid Digunakan

12 0.654 0.361 Valid Digunakan

13 0.741 0.361 Valid Digunakan

14 0.547 0.361 Valid Digunakan

15 0.483 0.361 Valid Digunakan

16 0.462 0.361 Valid Digunakan

17 0.594 0.361 Valid Digunakan

18 0.476 0.361 Valid Digunakan

19 0.501 0.361 Valid Digunakan

20 0.457 0.361 Valid Digunakan

21 0.741 0.361 Valid Digunakan

22 0.547 0.361 Valid Digunakan

23 0.483 0.361 Valid Digunakan

24 0.675 0.361 Valid Digunakan

25 0.642 0.361 Valid Digunakan

26 0.558 0.361 Valid Digunakan

27 0.745 0.361 Valid Digunakan

28 0.462 0.361 Valid Digunakan

29 0.594 0.361 Valid Digunakan

30 0.400 0.361 Valid Digunakan

31 0.632 0.361 Valid Digunakan

32 0.576 0.361 Valid Digunakan

c. Validitas Variabel Y (Efektivitas Kinerja Guru)

Untuk variabel Y yang terdiri dari 30 item pernyataan, terdapat 26 item

pernyataan yang valid dan 4 item pernyataan yang tidak valid, yaitu nomor: 2, 26,

27 dan 30. Untuk jelasnya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 3.6: Hasil Uji Validitas Variabel Y (Efektivitas Kinerja Guru)

Nomor Item

&'()

%=0,05, n=30 Keputusan Keterangan

1 0.493 0.361 Valid Digunakan

(32)

102

10 0.426 0.361 Valid Digunakan

11 0.590 0.361 Valid Digunakan

12 0.546 0.361 Valid Digunakan

13 0.717 0.361 Valid Digunakan

14 0.737 0.361 Valid Digunakan

15 0.402 0.361 Valid Digunakan

16 0.483 0.361 Valid Digunakan

17 0.575 0.361 Valid Digunakan

18 0.643 0.361 Valid Digunakan

19 0.664 0.361 Valid Digunakan

20 0.592 0.361 Valid Digunakan

21 0.436 0.361 Valid Digunakan

22 0.391 0.361 Valid Digunakan

23 0.414 0.361 Valid Digunakan

24 0.494 0.361 Valid Digunakan

25 0.430 0.361 Valid Digunakan

26 0.195 0.361 Tidak Valid Ditolak 27 -0.102 0.361 Tidak Valid Ditolak

28 0.626 0.361 Valid Digunakan

29 0.626 0.361 Valid Digunakan

30 0.169 0.361 Tidak Valid Ditolak

4. Uji Reliabilitas Instrumen

Arikunto (2002:154) menyatakan: “Reliabilitas menunjuk pada suatu

pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai

alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik”.

Dalam penelitian ini, langkah-langkah pengujian reliabilitas angket

mengikuti pendapat Akdon (2008:148-151) sebagai berikut:

a. Menghitung total skor

(33)

103

! . "! . "

Keterangan:

= Jumlah responden

= Jumlah perkalian X dan Y

= Jumlah skor tiap butir

= Jumlah skor total

² = Jumlah skor X dikuadratkan

² = Jumlah skor Y dikuadratkan

c. Menghitung reliabilitas seluruh item dengan rumus Spearman Brown berikut:

2 ' 1 '

d. Mencari &'() apabila dengan % = 0.05 dan derajat kebebasan (dk) = n – 2.

e. Membuat keputusan dengan membandingkan dengan &'() . Adapun

kaidah pengambilan keputusannya adalah sebagai berikut: Jika > &'()

maka item angket reliable. Sebaliknya, jika < &'() berarti item angket

tidak reliable.

5. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen

Uji reliabilitas dengan bantuan computer (program SPSS versi 12 for

Windows) dapat diketahui pada baris Guttman Split-Half Coefficient sebagai nilai

kemudian dibandingkan dengan nilai &'(). Jika > &'() maka item

tersebut reliable. Sebaliknya, jika < &'() maka item tersebut tidak

(34)

104

Tabel 3.7 : Reliability Statistics

X1 X2 Y

Correlation Between Forms .845 .926 .753

Spearman-Brown Coefficient

Equal Length

.916 .961 .859

Unequal Length .916 .961 .859

Guttman Split-Half Coefficient 0.916 0.959 0.847 a.The items are: no1, no2, no3, no4, no5, no6, no7, no8, no9, no10, no11, no12. b.The items are: no12, no13, no14, no15, no16, no17, no18, no19, no20, no21,

no22, no23.

Hasil analisis reliabilitas diperoleh untuk variable Kepemimpinan

Transformasional (X ) mencapai 0.916, untuk variable Kreativitas Guru (X )

sebesar 0.959, dan untuk variable Efektivitas Kinerja Guru (Y) sebesar 0.847.

Ketiga koefisien reliabilitas tersebut melebihi &'() = 0.370 yang berarti bahwa

ketiga instrument reliable. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.8: Butir-butir yang ditolak dari masing masing variable

No. Variabel / Sub 1 Kepemimpinan Transformasional (X )

a.Stimulasi

(35)

105

3 Efektivitas Kinerja Guru (Y) a.Pengelolaan

6. Tahap Penyebaran dan Pengumpulan Angket

Penyebarkan angket kepada responden (sampel) sebanyak 51 angket. Setiap

paket berisi:

a. Variabel kepemimpinan transformasional (X ) sebanyak 23 item

b. Variabel kreativitas guru (X ) sebanyak 31 item

c. Variabel efektivitas kinerja guru (Y) sebanyak 26 item

Dengan demikian, jumlah total item kuesioner (angket) penelitian ini

(36)

106

F. Teknik Analisis Data

Data yang telah terkumpul dianalisis melalui statistic untuk uji normalitas

data, uji homogenitas, uji linieritas, uji persamaan korelasi dan regresi sederhana,

serta korelasi dan regresi ganda, dan uji hipotesis. Pengolahan dan analisis data

dilakukan dengan tujuan agar data yang telah terkumpul mempunyai arti serta

dapat disimpulkan sebagai jawaban dari permasalahan yang diteliti. Oleh karena

itu, peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Analisis Data Deskriptif

Analisis data deskriptif dimaksudkan untuk melihat kecenderungan

distribusi frekuensi variable dan menentukan tingkat ketercapaian responden pada

masing-masing variable. Adapun gambaran umum dari setiap variable

digambarkan dalam bentuk skor rata-rata yang diperoleh dengan menggunakan

teknik Weighted Means Scored (WMS), dengan rumus:

.

Keterangan:

. = Skor rata-rata yang dicari

= Jumlah skor gabungan (hasil kali frekuensi dengan bobot nilai untuk setiap alternative jawaban)

N = Jumlah responden

Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel criteria dan penafsiran

(37)

107

Tabel 3.9: Kriteria Skor Rata-rata Variabel

Rentang Nilai Pilihan Jawaban Kriteria

4,01 – 5,00 Selalu Sangat tinggi

3,01 – 4,00 Sering Tinggi

2,01 – 3,00 Kadang-kadang Cukup

1,01 – 2,00 Jarang Rendah

0,01 – 1,00 Tidak Pernah Sangat Rendah

2. Pengujian Persyaratan Analisis

Sebelum melakukan analisis regresi maka dilakukan uji normalitas dan uji

linieritas data, sebagai berikut:

a. Uji Normalitas Distribusi Data

Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui penyebaran data dari

setiap variable apakah normal atau tidak. Untuk uji normalitas, disamping dapat

menggunakan program computer (SPSS versi 12), juga dapat menggunakan

rumus Chi Kuadrat, sebagai berikut:

/

0 123 42

42

Keterangan:

/

= Chi kuadrat yang dicari

5 = frekuensi hasil penelitian

6 = frekuensi yang diharapkan

Untuk menentukan keberartian /

adalah dengan cara membandingkan

/ dengan /&'() dengan kriteria sebagai berikut: Distribusi data dikatakan

normal apabila / < /&'() dan distribusi data dikatakan tidak normal

apabila / > /&'().

(38)

108

Uji linieritas dilihat pada nilai signifikansi dari deviation of linierity

untuk X terhadap Y dan X terhadap Y. Apabila nilai signifikansi > 0,05 maka

dapat disimpulkan bahwa hubungannya bersifat linier.

3. Menguji Hipotesis Penelitian

Teknik yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah untuk hipotesis

1 dan 2 diuji dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi sederhana,

sedangkan hipotesis 3 diuji dengan menggunakan teknik korelasi dan regresi

ganda.

a. Analisis Korelasi Sederhana

Analisis korelasi adalah untuk mengetahui derajat hubungan antara

variable X dengan variable Y. Dalam penelitian ini, ukuran yang digunakan

untuk mengetahui derajat hubungan adalah koefisien korelasi dengan

menggunakan rumus, sebagai berikut:

! . "! . "

Keterangan:

= Jumlah responden

= Jumlah perkalian X dan Y

= Jumlah skor tiap butir

= Jumlah skor total

² = Jumlah skor X dikuadratkan

² = Jumlah skor Y dikuadratkan

Dari rumus di atas dapat dijelaskan bahwa 78 merupakan koefisien

(39)

109

membandingkan dengan &'() pada tingkat kepercayaan 95%. Bila

> &'() dan bernilai positif, maka terdapat pengaruh yang positif. Akdon

(2008:188) menyatakan bahwa untuk memudahkan penafsiran harga koefisien

korelasi maka dapat menggunakan tabel berikut:

Tabel 3.10

Tolok Ukur Koefisien Korelasi Nilai Koefisien Kriteria

0.80 – 1,000 Sangat Kuat

0,60 – 0,799 Kuat

0,40 – 0,599 Sedang

0,20 – 0,399 Rendah

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

1) Uji Signifikan

Dalam penelitian ini, uji signifikan dimaksudkan untuk menentukan

apakah variable X berkontribusi secara signifikan terhadap variable Y. Akdon

(2008:188) mengemukakan rumus uji signifikansi, sebagai berikut:

# √ 2 √1

Keterangan:

= koefisien korelasi

= banyak sampel

Untuk menguji tarap signifikansi yaitu dengan membandingkan harga

# dengan # &'() pada tingkat kepercayaan tertentu dengan dk = n – 2.

(40)

110

2) Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana

derajat hubungan kontribusi yang diberikan oleh variable X terhadap variable Y,

dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

9: / 100%

Keterangan:

9: = koefisien determinasi yang dicari

= koefisien korelasi

b. Analisis Regresi Sederhana

Untuk mengetahui hubungan fungsional antar variable penelitian, maka

dalam penelitian ini, digunakan rumus sebagai berikut:

Ŷ = >

Keterangan:

Ŷ = nilai taksir Y (variable terikat) dari persamaan regresi

= = konstanta (apabila harga X = 0)

> = koefisien regresi (besarnya perubahan yang terjadi pada Y jika satu unit perubahan terjadi pada X)

= harga variable X.

Adapun langkah-langkah pengujiannya adalah sebagai berikut:

1) Mencari harga yang akan digunakan dalam menghitung koefisien a dan b

dengan menggunakan rumus yang dikemukakan Akdon (2008:197),

yaitu:

=

(41)

111

>

² ²

2) Menyusun pasangan data untuk variable X dan variable Y

3) Mencari persamaan untuk koesfisien regresi sederhana.

c. Analisis Korelasi Ganda

Dalam penelitian ini, analisis korelasi ganda berfungsi untuk mencari

besarnya hubungan antar variable bebas (X₁ dan X₂) dan secara simultan

(bersama-sama) berkontribusi terhadap variable terikat Y. Analisis korelasi

ganda menggunakan rumus: Rx₁x₂y. Sedangkan untuk mencari signifikansi

digunakan rumus A dibandingkan dengan A&'(). Untuk kesimpulan, jika

A ≥A&'() maka Ho ditolak artinya signifikan. Sebaliknya, jika A ≤

A&'() maka Ho diterima, artinya tidak signifikan.

d. Analisis Regresi Ganda

Dalam penelitian ini, analisis regresi ganda merupakan alat peramalan

nilai kontribusi dari kedua variable bebas terhadap variable terikat untuk

membuktikan ada atau tidak adanya hubungan kausalitas (fungsi kausal).

Untuk itu, digunakan rumus analisis regresi ganda, sebagai berikut:

Ŷ = > / > / E

Keterangan:

Ŷ = nilai taksir Y (variable terikat) dari persamaan regresi

= = nilai konstanta

> = nilai koefisien regresi /

(42)

112

= variable bebas

= nilai koefisien regresi

E = predictor (pengganggu)

Untuk membantu menganalisis data, maka dalam penelitian ini

menggunakan program SPSS (Statistical Package of Social Science) sehingga

dapat diperoleh perhitungan statistic deskriptif, seperti: mean, standar deviasi,

(43)

157

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

A.Kesimpulan

Merujuk kepada rumusan masalah, tujuan penelitian, hasil penelitian, dan

pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Kepemimpinan transformasional pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya, yang diukur melalui: (1) Stimulus intelektual, dan (2)

Pertimbangan individual, (3) Motivasi Inspirasi, dan (4) Pengaruh ideal,

termasuk kategori “Baik”. Hal ini ditunjukkan oleh skor rata-rata kepemimpinan

transformasional yang berada pada kategori “Baik”.

2. Kreativitas kinerja guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya,

yang diukur melalui: (1) Kemampuan berpikir kreatif (Aptitude), dan (2)

Kemampuan berpikir afektif (Non aptitude), termasuk kategori “Sangat Tinggi”.

Hal ini ditunjukan oleh skor rata-rata jawaban responden tentang kreativitas

kinerja guru yang berada pada kategori “Sangat Tinggi”.

3. Efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya, yang diukur melalui: (1) Pengelola pembelajaran, dan (2)

Pengembangan potensi, termasuk kategori “Tinggi”. Hal ini ditunjukan oleh skor

rata-rata jawaban responden tentang efektivitas kinerja mengajar guru yang

berada pada kategori “Tinggi”.

4. Terdapat pengaruh yang signifikan dari kepemimpinan transformasional

terhadap efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung

Kota Tasikmalaya sebesar 42,1%. Ini berarti bahwa tingkat efektivitas kinerja

(44)

158

mengajar guru dapat diberikan oleh kepemimpinan transformasional sebesar

42,1%.

5. Terdapat kontribusi yang signifikan dari kreativitas kinerja guru terhadap

efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya sebesar 17,4%. Ini berarti bahwa tingkat efektivitas kinerja

mengajar guru dapat diberikan oleh kinerja sebesar 17,4%.

6. Terdapat kontribusi yang signifikan dari pengaruh kepemimpinan

transformasional dan kreativitas kinerja guru (secara simultan) terhadap

efektivitas kinerja mengajar guru sebesar 45,2%. Ini berarti bahwa tingkat

efektivitas kinerja mengajar guru dapat diberikan oleh pengaruh kepemimpinan

transformasional (secara simultan) sebesar 45,2%. Sedangkan sisanya sebesar

54,8% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak dikaji dalam penelitian ini.

B.Implikasi

Hasil penelitian membuktikan bahwa pengaruh kepemimpian

transfor-masional dan kreativitas kinerja guru berpengaruh secara signifikan terhadap

efektivitas kinerja mengajar guru. Hal ini berarti bahwa efektivitas kinerja mengajar

guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya dapat ditingkatkan

melalui pembaikan kepemimpinan transformasional dan peningkatan kreativitas

kinerja guru. Dengan demikian, implikasi dari penelitian ini akan terkait dengan

variable penelitian, sebagai berikut:

1. Efektivitas kinerja mengajar guru

Efektivitas kinerja mengajar guru dipengaruhi oleh beberapa faktor baik

(45)

159

guru akan berhasil jika ditopang oleh kemampuan kepemimpinan transformasional

kepala sekolah dalam mengelola sekolah yang dipimpinnya. Disamping itu,

efektivitas kinerja mengajar guru akan berhasil jika didukung oleh kreativitas

kinerja guru. Untuk itu, dalam kontek efektivitas kinerja mengajar guru, tingkat

dukungan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan pembelajaran di sekolah dapat

mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

2. Kepemimpinan Transformasional

Kajian kepemimpinan transformasional berorientasi kepada empat dimensi,

yaitu: (1) stimulus intelektual, (2) pertimbangan individual, (3) motivasi inspirasi,

dan (4) pengaruh ideal. Melalui pendekatan ini, kepala sekolah dalam konteks

efektivitas kinerja mengajar guru, memiliki peran penting sehingga dapat

mempengaruhi kualitas pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di

sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu memperbaiki kepemimpinannya,

sehingga efektivitas kinerja mengajar guru dapat meningkat. Dengan

meningkatkannya efektivitas kinerja mengajar guru, diharapkan mampu

meningkatkan kualitas pembelajaran pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

Tasikmalaya.

3. Kreativitas Kinerja Guru

Tingkat efektivitas kinerja mengajar guru dipengaruhi pula oleh faktor

kreativitas kinerja guru. Tingkat pengaruh dapat diukur dari indikator kreativitas,

dimana jika kreativitas guru menurun maka dapat menyebabkan menurunnya

efektivitas kinerja mengajar guru. Dengan demikian, tingkat pengaruh kreativitas

(46)

160

C.Rekomendasi

Berdasarkan temuan hasil penelitian, kesimpulan dan implikasinya, maka

penulis merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Dengan pendekatan kepemimpinan transformasional, kepala sekolah dapat lebih

dinamis memimpin sekolah dengan menciptakan hubungan stimulus intelektual

dan hubungan emosional antar personal secara simultan sehingga dapat

membangkitkan gairah kerja dalam suasana kebersamaan.

Dengan demikian, melalui pendekatan kepemimpinan transformasional, penulis

merekomendasikan bahwa kepala sekolah dapat menjadi pendorong (stimulant)

untuk mengeksplorasi potensi guru sehinga dapat menemukan cara-cara baru

dalam pengelolaan pembelajaran di sekolah. Disamping itu, kepala sekolah

memiliki tenggang rasa (konsiderasi) dalam membina hubungan yang dapat

mendukung pengikutnya sehingga jalur komunikasi tetap terbuka dan

pengikutnya merasa bebas untuk berbagi ide kepada pemimpinnya.

Terkaitnya dengan motivasi inspirasi, kepala sekolah diharapkan mampu

mengartikulasikan pengalamannya sehingga pengikutnya mampu mencapai

tujuan pembelajaran yang dikelolanya.

2. Idealnya kreativitas kinerja guru dapat membantu menyelesaikan berbagai

permasalahan pembelajaran di dalam kelas, sehingga mampu

menumbuh-kembangkan suatu produk pembelajaran untuk menghailkan out put

pembelajaran yang diharapkan. Disamping itu, guru mampu menentukan

patokan penilaian dan mengambil keputusan atas gagasan yang dicetuskannya.

3. Terkait dengan efektivitas kinerja mengajar guru adalah bahwa tugas guru

(47)

161

yang dilakukan, sehingga terjadi keseimbangan yang dinamis antara kualitas dan

kuantitas pembelajaran dengan memanfaatkan surnber dana dan daya yang

tersedia. Dengan demikian, perlu peningkatan aspek kejelasan tujuan yang

hendak dicapai, kejelasan strategi pencapaian tujuan, proses analisa dan

perumusan kebijakan yang mantap, perencanaan yang matang, penyusunan

program yang tepat, tersedianya sarana dan prasarana kerja, pelaksanaan yang

efektif dan efisien, dan sistem pengawasan dan pengendalian yang mendidik. Hal

ini akan terkait dengan variabel-variabel lain yang turut mempengaruhi

efektivitas kinerja mengajar guru pada SD di Kecamatan Cihideung Kota

(48)

162

DAFTAR PUSTAKA

---. (2002). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

---. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatifdan R&D. Bandung: Alfabeta.

Akdon. (2008). Aplikasi Statistik dan Metode Penelitian untuk Administrasi & Manajemen. Bandung: Dewa Ruchi.

Arikunto, Suharsimi. (1996). Prosedur Penelitian Suatu Pengantar Praktis, Edisi Revisi II. Jakarta: Rineka Cipta.

Danim. (2007). Manajemen dan Kepemimpinan Transformasional Kekepala- sekolahan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Danim. (2007 ). Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Dasuqi. (1992). Wawasan Dasar Pendidikan dan Wawasan Dasar Administrasi Pendidikan dalam Administrasi Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung.

Departemen Pendidikan Nasional. (2001). Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Depdiknas.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Standar Kompetensi Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

Dosen, Tim. (2008). Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan.

Effendy. (1997). Ilmu Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Engkoswara. (2001). Paradigma Manajemen Pendidikan. Bandung: Yayasan Amal Keluarga.

Handayaningrat. (1996). Pengentar Ilmu Administrasi dan Manajemen. Jakarta: Gunung Agung.

Hoy, Miskel. (2004). Transformational Leadership, Characteristics and Criticism. New Jersey: Prenitce Hall.

Hoy, Miskel. (2001). Educational Administration Theory, Research, And Practice6th ed., International Edition. Singapore: McGraw-Hill Co.

(49)

163

http://community.siutao.com/showthread.php/1684-Leadership-Teori-Kepemimpinan.

http://edu-articles.com/pakem-1/#more-91.

http://etd.eprints.ums.ac.id/669/ kreativitas.

http://id.wikipedia.org/wiki/Efektivitas).

http://id.wikipedia.org/wiki/Kepemimpinan.

http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/psikologi-umum/kreativitas.

http://one.indoskripsi.com/jusul-skripsi/ekonomi-manajemen/peranan-gaya-kepemimpinan-terhadap-kinerja-karyawan.

http://othenk.blogspot.com/2008/11/pengertian-tentang-efektivitas.html.

http://sambasalim.com/pendidikan/konsep-efektivitas-pembelajaran.html.

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/01/tipe-tipe-kepemimpinan.html.

http://www.duniaguru.com/index.php?option=com_content&task=view&id=329 &Itemid=40.

http://www.pdfqueen.com/ ciri-kreativitas /html.

http://umum.kompasiana.com/2009/05/28/guru-kreatif-yang-rekreatif.

http:www.ui.edu/post/promosi-doctor-lily-sudharto-id.html.

Luthans, F. (1992). Organizational Behavior. Singapore: McGraw Hill.

Majid, Abdul. (2005). Perencanaan Pembelajaran, Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa, E. (2003). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyasa . (2008) Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Munandar, SCU. (1999). Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

(50)

164

Riduan. (2004). Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta.

Riduan, dan Akdon. (2006). Rumus dan Data dalam Aplikasi Statistik. Bandung: Alfabeta.

Riduan. (2009). Metode dan tenik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung : Alfabeta.

Rivai. (2008). Kepemimpinan dan perilaku Organisasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rohiat. (2001). Manajemen Sekolah. Bengkulu: Refika Aditama.

Rusyandi. (1996). Menjadi Guru Teladan. Jakarta : CV Argita.

Sagala, Syaiful. (2005). Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta.

Siagian, Sondang, P. (1992). Kerangka Dasar Ilmu Administrasi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Soekarso. (2010). Teori Kepemimpinan. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Sufyarma. (2003). Manajemen Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Sugiyono. (1998). Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

Sururi. (2007). Belajar SPSS for Windows. Bandung: Dewa Ruchi.

Sutisna, Oteng. (1993). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktis Profesional. Bandung: Angkasa.

The Liang Gie,. (1992). Administrasi Perkantoran Modern. Yogyakarta: Liberty.

Timpe. (2002). Seri manajemen Sumber daya Manusia Kepemimpinan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Uno, H. Hamzah. (2002). Profesi Kependidikan. Jakarta: P.T. Bumi Aksara.

Uno, H. Hamzah. (2007). Profesi Kependidikan Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

(51)

165

Walgito, B. (2002). Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi.

Wibowo. (2009). Manajemen Kinerja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Jurnal:

Atit Suryati. (2009) Implementasi Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Kreativitas Siswa. Bandung : Juli 2009

Csikszentmihalyi, (2008) The Creative Personality published on July 01, 1996

Ekosiswoyo. (2007). Kepemimpinan Kepala Sekolah Yang Efektif Kunci Pencapaian Kualitas Pendidikan. Vol 14, No 2 (2007)

I Wayan Suwiyarsa. (2009). Pengaruh kualifikasi pendidikan guru, kepemimpinan kepala sekolah, kecerdasan emosional guru terhadap kinerja guru kelas Sekolah Dasar di Kota Metro. Metro : 5 Juli 2009

Kaihatu, Thomas Stefanus. (2007). Kepemimpinan Transformasional dan Pengaruhnya terhadap Kepuasan atas Kulaitas Kehidupan Kerja, Komitmen Organisasi, dan Perilaku Ekstra Peran. Surabaya: 03/03/2007.

Koesmono. (2007). Pengaruh Kepemimpinan dan Tuntutan Tugas. Surabaya: 03/03/2007.

Surjana, Andyarto. (2010). Efektivitas Pengelolaan Kelas. Jakarta: 28/07/2010.

Sutisna, Oteng. (1991). Profesionalisme Tenaga Kependidikan Kepala Sekolah. IKIP Bandung.

Thoyib, Armanu. (2005). Hubungan Kepemimpina, Buday, Strategi, dan Kinerja. Malang: 03/03/2005.

Tim Dosen. (1995). Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Jurusan Administrasi Pendidikan UPI.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2007). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Wahab, Abdul Azis. (2008). Anatomi Organisasi dan Kepemimpinan Pendidikan Telaah terhadap Organisasi dan Pengelolaan Organisasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

(52)

166

Dokumen:

Depdiknas. (2005). Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.

Figur

Gambar 1.1 : Hubungan antar variabel

Gambar 1.1 :

Hubungan antar variabel p.15
Tabel 3.1 Populasi

Tabel 3.1

Populasi p.22
Tabel 3.2 : Penyebaran Sampel

Tabel 3.2 :

Penyebaran Sampel p.24
Tabel 3.3 KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

Tabel 3.3

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN p.26
Tabel 3.4: Hasil Uji Validitas Variabel +,

Tabel 3.4:

Hasil Uji Validitas Variabel +, p.29
Table 3.5: Hasil Uji Validitas variable +- (Kreativitas Guru)

Table 3.5:

Hasil Uji Validitas variable +- (Kreativitas Guru) p.30
Tabel 3.6: Hasil Uji Validitas Variabel Y (Efektivitas Kinerja Guru)

Tabel 3.6:

Hasil Uji Validitas Variabel Y (Efektivitas Kinerja Guru) p.31
Tabel 3.8: Butir-butir yang ditolak dari masing masing variable

Tabel 3.8:

Butir-butir yang ditolak dari masing masing variable p.34
Tabel 3.10  Tolok Ukur Koefisien Korelasi

Tabel 3.10

Tolok Ukur Koefisien Korelasi p.39

Referensi

Memperbarui...

Outline : Rekomendasi