PERAWATAN SEHARI-HARI PASIEN STROKE
TESIS
Oleh
RIZALDI NANDA WIGUNA
177046043/KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
THESIS
By
RIZALDI NANDA WIGUNA
177046043/ MEDICAL SURGICAL NURSING
MASTER IN NURSING SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF NURSING
UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN
2021
TERHADAP PERAWATAN SEHARI-HARI PASIEN STROKE
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memeperoleh Gelar Magister Keperawatan (M.Kep)) dalam Program Studi Magister Ilmu Keperawatan
Minat Studi Keperawatan Medikal Bedah pada Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara
Oleh
RIZALDI NANDA WIGUNA
177046043 / KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
KOMISI PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. dr. Kiking Ritarwan, Sp. S(K)MKT Anggota : 1. Nur Asnah Sitohang, S.Kep., Ns., M.Kep
2. Prof. Dr. dr. Ridha Darmajaya, Sp.BS
3. Dr. dr. Rr. Suzy Indharty, M.Kes., Sp. BS (K)
i
Pengaruh Edukasi Berbasis Efikasi Diri Terhadap Perawatan Sehari-Hari Pasien Stroke
ABSTRAK
Pasien stroke umumnya mengalami gangguan perawatan diri sehari-hari karena penurunan kemampuan motorik. Efikasi diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan merawat diri sehari-hari dan termotivasi untuk dapat mandiri. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Desain penelitian yang digunakan adalah quasy experiment dengan metode nonequivalent control group preposttest only design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien stroke iskemik di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Tehnik sampling dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling jenis convenience sampling dan jumlah sampel sebanyak 36 orang.
Instrumen dalam penelitian ini adalah Barthel Index. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji paired t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan diri sehari-hari sebelum dilakukan intervensi ketergantungan total 69 %, ketergantungan berat 30,6 %. Perawatan diri sehari-hari setelah dilakukan intervensi ketergantungan sedang 47,2 %, ketergantungan ringan 11,1 %, mandiri 13,9 %, ketergantungan total 2,8 %, ketrgantungan berat 25,0 %. Hasil analisis data diperoleh nilai pValue=0,001(<0,05), maka dapat disimpulkan bahwa edukasi berbasis efikasi diri secara signifikan memiliki pengaruh terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke. Penelitian ini membuktikan bahwa edukasi berbasis efikasi diri berpengaruh terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan salah satu intervensi dalam merawat pasien stroke iskemik untuk meningkatkan kemandiriannya dalam melakukan perawatan diri sehari-hari.
Kata Kunci : Barthel Index, Edukasi, Efikasi Diri, Perawatan Diri, Stroke Perawatan Sehari-Hari Pasien Stroke
Nama Mahasiswa : Rizaldi Nanda Wiguna Nomor Induk
Mahasiswa
: 177046043 Progaram Studi
Minat Studi : :
Magister Keperawatan (M.Kep) Keperawatan Medikal Bedah
Tahun : 2021
ii
Effects of Self-Efficacy Based Education on the Daily Care of Stroke Patients
ABSTRACT
Stroke patients generaly have daily self-care disorders and low motor ability. Self- efficacy is one of the factors affecting daily self-care ability and motivating to be independent. The objective of this research is to identify the effects of self-efficacy based education on the daily care of stroke patients at Haji Adam Malik Hospital Medan. This is a Quasy experiment research with nonequivalent control group pretest posttest design. The population in this study were all ischemic stroke patients at Haji Adam Malik Hospital Medan. The sampling technique in this study was non-probability sampling with convenience sampling type and the number of samples was 36 people. The instrument in this study is the Barthel Index. Data analysis was performed using paired t-test. The results showed that daily self-care before the intervention was carried out total dependence 69 %, heavy dependence 30.6%. Daily self-care after intervention was 47.2% moderate dependence, 11.1%
mild dependence, independent 13.9%, total dependence 2.8%, severe dependence 25.0%. The results of data analysis obtained pValue = 0.001 (<0.05), it can be concluded that self-efficacy based education has a significant effect on the daily self-care of stroke patients. This study proves that education based on self-efficacy affects the daily self-care of stroke patients. It is hoped that the results of this study can be used as an intervention in the treatment of ischemic stroke patients to increase independence in performing daily self-care.
Keywords : barthel index, education, self-efficacy, self-care, stroke Name of Student : Rizaldi Nanda Wiguna
Student ID No. : 177046043 Study Program
Major
: :
Master of Nursing Science Surgical Medical Nursing Academic Year : 2021
iii
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan taufiq dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Edukasi Berbasis Efikasi Diri Terhadap Perawatan Sehari-hari Pasien Stroke ”. Penulisan tesis ini merupakan persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan di Program Studi Magister Ilmu Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini, penulis banyak memperoleh bantuan, bimbingan, arahan, saran, masukan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Pimpinan Fakultas Keperawatan USU dan segenap jajarannya, yaitu: Dudut Tanjung, M.Kep., Sp.KMB selaku Dekan Fakultas Keperawatan USU beserta jajarannya yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas untuk melanjutkan studi kejenjang Magister Keperawatan.
2. Bapak dan Ibu pembimbing, yaitu: Prof. Dr. dr. Kiking Ritarwan, SpS(K)., MKT, selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, motivasi, arahan dengan sabar, dan masukan yang berharga untuk kesempurnaan tesis ini. Nur Asnah Sitohang, S.Kp., Ns., M.Kep, selaku pembimbing II yang telah memberikan kontribusi yang bermakna berkaitan dengan penulisan dan substansi penelitian.
3. Bapak dan Ibu penguji, yaitu: Prof. Dr. dr. Ridha Dharmajaya, Sp.BS, selaku penguji I yang telah banyak memberikan dukungan, saran dan masukan substansi keperawatan dan metodologi penelitian. Dr. dr. Rr. Suzy Indharty, M.Kes, Sp.Bs (K), selaku penguji II atas segala saran dan masukannya kepada penulis, baik pada saat ujian maupun diluar ujian.
iv
Adam Malik yang telah mengijinkan dan membantu dalam pelaksanaan penelitian. Terima kasih kepada perawat yang telah melakukan intervensi.
Saya akan selalu mengingat bantuan dan semangat teman sejawat dalam mendukung penelitian ini.
5. Bapak/Ibu/Saudara yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.
Semoga keikhlasan yang anda berikan dapat berkontribusi untuk ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Penulis mendoakan semoga Allah SWT selalu memberikan kesehatan dan perlindungan bagi anda dan keluarga.
6. Ibu dan Ayah kandung saya, Kaminur dan Zulyadin, yang selalu mendoakan dan memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan studi ini.
Semoga Allah SWT melimpahkan kasih sayang untuk mereka.
Kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu dan telah membantu dalam penyelesaian pendidikan Magister ini, penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya atas semua doa, dukungan dan bantuan yang telah diberikan.
Semoga Allah menjadikan segala kebaikan ini menjadi amal soleh pemberat timbangan amal di akhirat nanti.
Medan, 26 Juni 2021 Penulis,
Rizaldi Nanda Wiguna
v
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR SKEMA ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Perumusan masalah ... 3
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis ... 4
Manfaat Penelitian ... 5
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Konsep Stroke ... 6
Definisi ... 6
Etiologi ... 6
Klasifikasi stoke ... 7
Tanda dan gejala stroke ... 7
Faktor resiko stroke ... 7
Konsep Efikasi Diri ... 7
Definisi ... 8
Aspek-aspek efikasi diri ... 8
Beberapa hal yang memperngaruhi efikasi diri ... 8
Konsep Perawatan Diri Sehari-hari ... 10
Definisi ... 10
Faktor-faktor dasar yang mempengaruhi self care ... 10
Alat ukur perawatan diri sehari-hari... 11
Konsep Edukasi ... 12
Definisi ... 12
Tujuan edukasi ... 12
Hubungan efikasi diri dengan perawatan diri sehari-hari... 12
Teori Keperawatan ... 13
Kerangka Teori ... 14
Kerangka Konseptual ... 15
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian ... 16
Lokasi danWaktu Penelitian ... 17
Populasi dan Sampel ... 17
Metode Pengumpulan data ... 19
Variabel dan Definisi Operasional ... 22
Metode Pengukuran ... 23
Metode Analisa Data ... 24
Pertimbangan Etik ... 25
BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ... 28
vi
Saran ... 40 DAFTAR PUSTAKA ... 42 LAMPIRAN
vii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Variabel dan Definisi Operasional... 22 4.1 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin, Usia,
Pendidikan, Status Pernikahan, Jenis Stroke dan Status
Serangan Stroke ... 29 4.2 Distribusi Frekuensi Perawatan Sehari-hari Sebelum dan
Sesudah Dilakukan Edukasi Berbasis Efikasi Diri .. ... 30 4.3 Perawatan Sehari-hari Sebelum dan Sesudah Dilakukan
Edukasi Berbasis Efikasi Diri... 31 4.4 Pengaruh Edukasi Berbasis Efikasi Diri Terhadap
Perawatan Sehari-hari pada Pasien Stroke ... 32
viii
Skema Halaman
2.1 Kerangka Teori ... 14
2.2 Kerangka Konseptual ... 15
3.1 Rancangan Penelitian ... 16
3.2 Proses pengambilan sampel ... 21
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Izin Penelitian
Lampiran 2 Surat Keterangan Selesai Penelitian Lampiran 3 Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 Kuesioner Data Demografi
Lampiran 5 Skala Barthel Indeks
1
Latar Belakang
Stroke merupakan penyakit disertai menurunnya fungsi otak secara mendadak serta menyebabkan berhentinya kehidupan (WHO, 2014). Stroke adalah penyakit yang sangat lazim dengan konsekuensi kematian dan morbiditas. Stroke salah satu penyebab kecacatan permanen dan kematian di seluruh dunia (Silva., dkk. 2019).
Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 15 juta orang menderita stroke pada tiap tahun yaitu 5 juta cacat permanen dan 5 juta orang meninggal dunia.
Sstroke meningkat dengan cepat seiring bertambahnya usia, terjadi peningkatan dua kali lipat pasca usia 55 tahun. Pada orang dewasa usia 35-44 tahun, kejadian stroke adalah 30-120 dari 100.000 pertahun dan untuk mereka yang berusia 65-74 tahun, kejadiannya adalah 670-970 dari 100.000 per tahun.
Prevalensi stroke di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat berkisar antara 1,5% di Italia hingga 3% di Inggris dan Amerika Serikat. Di negara-negara Asia, prevalensi stroke telah dilaporkan dalam kisaran 45-471 per 100.000 (Shaheen., dkk. 2019). Seluruh Rumah Sakit yang ada di wilayah Indonesia dengan angka kematian sekitar 15,4%. Penyakit stroke merupakan penyebab kematian utama pada pasien stroke. Pada tahun 2013 prevalensi penyakit stroke sekitar 7% sedangkan tahun 2018 terjadi peningkatan yaitu 10,9%.
Tenaga kesehatan telah melakukan diagnosa terhadap penyakit stroke sebanyak 57,9%. Seiring bertambahnya usia, Prevalensi penyakit stroke terjadi peningkatan. Stroke tertinggi adalah usia diatas 75 tahun (50,2%) dan terendah pada usia 15-24 tahun (0,6% ) (Riskesdas, 2018). Prevalensi penyakit stroke pada umur
≥15-44 tahun 2018 di Sumatera Utara terjadi peningkatan (Riskesdas, 2018).
Data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM), jumlah pasien stroke di Januari - Desember 2019 tercatat sebanyak 520 orang yang rawat inap dan 108 orang rawat jalan.
Penderita stroke dengan usia yang lebih tua biasanya merawat diri sehari-hari mereka tidak mampu/mandiri (Harris dkk, 2016). Menurut laporan dari Pei dkk (2016) dari 152 responden yang terkena cacat ringan 8,6%, responden. cacat sedang 38,8% dan responden terkena cacat berat setalah serangan stroke 52,6%. Pasien yang mandiri merupakan pasien yang melakukan ADL secara mandiri tanpa bantuan dari orang lain (Noorkasiani, 2009). Hasil riset Morone dkk (2015) menunjukkan bahwa pasien yang dinyatakan telah sembuh dari stroke adalah pasien yang mampu dengan mandiri memenuhi ADL.
Pasien stroke yang belum mandiri merasa terasingkan dan beban bagi keluarga (Pei., dkk. 2016). Pasien stroke yang mandiri dalam melakukan perawatan diri sehari-hari dipengaruhi oleh dua unsur yaitu eksternal dan internal. Unsur eksternal (support keluarga, adanya fasilitas kesehatan dan kesanggupan sosio ekonomi) sedangkan internal (umur, tingkat keparahan stroke, dan efikasi diri).
(Singhpoo., dkk. 2012). Penelitian Froze dkk (2015), tentang self care self efficacy dengan metode cross-sectional dapat meningkatkan efikasi diri (70%). Korelasi moderat signifikan yang ditemukan antara self care self efficacy untuk kemerdekaan pada Badl (P=0,001), IADL (P=0,001) dan partisipasi (P=0,005).
Sakamoto dkk (2014), mengemukakan tentang edukasi yaitu pengaruh pendidikan stroke menggunakan kartun animasi dan manga pada anak-anak sekolah dasar. Hasil riset ini memperlihatkan adanya peningkatan pengetahuan secara signifikan sebelum intervensi P<.001 dan setelah intervensi P=.007. Penelitian oleh
Eller dkk (2016) dengan pendekatan analisis, penelitian dapat memandu pengembangan intervensi yang ditargetkan untuk meningkatkan efikasi diri perawatan diri pasien, sehingga mengurangi biaya, dan membantu orang untuk mencapai kesehatan yang optimal.
Penelitian Ismatika (2017), tentang efikasi diri menyebutkan jika semakin baik efikasi diri klien maka perilaku self care juga semakin baik. Kesimpulan dari beberapa penelitian diatas yaitu efikasi diri mempunyai pengaruh terhadap perawatan sehari-hari pasien stroke. Di RSUP HAM tidak memiliki intervensi khusus atau spesifik untuk meningkatkan perawatan sehari-hari pasien stroke.
Informasi ini diperoleh dari wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti.
Peneliti merasa penting untuk mengadakan suatu kegiatan edukasi khusus untuk meningkatkan kemampuan perawatan sehari-hari pasien stroke.
Berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa efikasi diri memiliki dampak yang besar terhadap perawatan sehari-hari. Berdasarkan uraian tersebut peneliti meneliti tentang pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke di RSUP HAM.
Rumusan Masalah
Stroke masih menjadi prioritas utama masalah kesehatan karena penyebab kematian ke dua di dunia. Umumnya Pasien stroke mengalami gangguan perawatan diri sehari-hari karena penurunan kemampuan motorik. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan merawat diri sehari-hari dan termotivasi untuk dapat mandiri adalah efikasi diri. Pendekatan yang ingin diuji salah satuya adalah pendekatan edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan sehari-hari pasien stroke. Dari latar belakang masalah di atas, maka dirumuskanlah masalah penelitian
dalam bentuk pertanyaan penelitian: “Bagaimana pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke ?”
Tujuan Penelitian Tujuan umum
Mengidentifikasi pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke di RSUP HAM.
Tujuan khusus
1) Mengidentifikasi karakteristik responden di RSUP HAM.
2) Mengidentifikasi perawatan diri sehari-hari pasien stroke di RSUP HAM sebelum dan sesudah intervensi.
3) Membandingkan pengaruh kemampuan edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke di RSUP HAM sebelum dan sesudah intervensi.
Hipotesis
Ha : Ada pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke di RSUP HAM.
Ho : Tidak ada pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke di RSUP HAM.
Manfaat Penelitian
Pelayanan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu intervensi dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien stroke iskemik untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri sehari-hari secara mandiri.
Penelitian
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai sumber literatur dan mengembangkan penelitian keperawatan yang berfokus pada kemampuan perawatan diri sehari-hari pada pasien stroke iskemik.
Pendidikan
Berperan mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan khususnya ilmu keperawatan medikal bedah serta hasil penelitian ini dapat memberi informasi baru atau menunjang teori-teori yang sudah ada tentang edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan diri sehari-hari pasien stroke.
6
TINJAUAN PUSTAKA Konsep Stroke
Definisi
Stroke merupakan sindrom klinis, ditandai dengan otak tidak berfungsi secara tiba-tiba dan menyebabkan berahirnya kehidupan (WHO, 2014). Stroke juga mengganggu suplai darah ke otak secara spontan (Stroke, center. 2017).
Etiologi
Faktor penyebab stroke antara lain: (Smeltzer dan Bare, 2012) yaitu : 1) Trombosis serebral dimana terjadinya pembekuan darah dalam pembuluh darah otak atau leher. Penyebab utama trombosis serebral adalah Ateriosklerosis serebral dan lambatnya sirkulasi serebral. Umumnya trombosis serebral tidak terjadi secara mendadak, awalnya kemampuan berbicara hilang sementara dan terjadi hemiplegia paratesia pada sebagian tubuh beberapa waktu atau beberapa hari sebelum terkena stroke, 2) Embolisme serebral dimana terjadi pembekuan darah yang dibawa ke otak dari anggota tubuh lain, 3) Iskemia yaitu adanya pengurangan suplai darah ke wilayah otak, 4) Hemoragik serebral yaitu perobekan pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak.
Klasifikasi
Klasifikasi stroke menurut American Heart Association (2015) : 1) Stroke hemoragik, 2) Stroke iskemik.
Tanda dan gejala stroke
Tanda dan gejala dari penyakit stroke berupa tekanan darah tinggi, hemiparesis, hemiplegia, disatria, migrant, pandangan kabur, gangguan
keseimbangan, mual muntah. (Smeltzer dan Bare, 2012) Faktor Resiko Stroke
Faktor resiko stroke dapat dihimpun menjadi 2 yaitu : 1) faktor yang tidak dapat di modifikasi yaitu : keturunan, ras, umur, jenis kelamin dan riwayat stroke sebelumnya, 2) faktor yang dapat dimodifikasi yaitu : kegemukan, tekanan darah tinggi, perokok, alkohol, pemakai obat terlarang, gaya hidup tidak sehat.
Konsep Perawatan Diri Sehari-hari Definisi
Dalam dunia kesehatan perawatan diri sehari-hari dikenal dengan istilah self care. Self care adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dalam menjalani kehidupan, mencapai kesenangan. Jika dilakukan dengan baik, upaya self care dapat memberi dampak positif bagi perkembangan manusia. Lazimya, orang dewasa secara alami akan merawat dirinya sendiri. Sedangkan bayi, lansia dan orang sakit memerlukan bantuan dalam memenuhi self carenya (Orem, 1995). Self care adalah kegiatan seseorang dalam mengupayakan kesehatan dan kesejahteraan (Christensen & Kennery, 2009).
Orem membentuk teori self care kedalam 3 teori yaitu : 1) Teori perawatan diri yaitu mendeskripsikan cara seseorang dalam merawat diri, 2) Teori defisit perawatan diri yaitu mendeskripsikan atau memaparkan kondisi seseorang yang memerlukan bantuan dalam merawat diri, diantaranya dari tenaga keperawatan, 3) Teori sistem keperawatan yaitu mendeskripsikan hubungan interpersonal yang harus dimilki dan dikuasai oleh perawat agar bisa produktif.
Faktor-faktor kondisi dasar yang mempengaruhi self care
Faktor kondisi dasar adalah faktor yang mempengaruhi semua orang.
Faktor-faktor dasar menurut Orem (1994) yaitu : 1) Usia, 2) Jenis kelamin, 3) Kondisi perkembangan yaitu mencakup kondisi seseorang baik secara fisik, fungsional, kognitif maupun kondisi tingkat psikososialnya, 4) Kondisi kesehatan yaitu mencakup kondisi kesehatan seseorang pada saat ini dan masa lalu serta persepsi mereka tentang kesehatannya secara pribadi, 5) Orientasi sosial budaya yaitu meliputi system yang ada dilingkungan seseorang, keyakinan spiritual, dan kesatuan keluarga, 6) Sistem perawatan kesehatan yaitu mencakup fasilitas dimana perawatan kesehatan mudah dijangkau oleh seseorang sebagai modalitas pemeriksaan serta pengobatan, 7) Faktor sistem keluarga yaitu mencakup peran atau pun hubungan antar anggota keluarga dan orang lain yang cukup berpengaruh, dan peran masing-masing orang dalam keluarganya, 8) Pola hidup yaitu mencakup kegiatan yang biasa dilakukan seseorang dalam kehidupannya sehari-hari, 9) Faktor lingkungan yaitu meliputi pengaturan tempat seseorang biasanya melakukan perawatan diri, dan lingkungan rumah yang ditempatinya, 10) Sumber daya yang tersedia yaitu mencakup termasuk kondisi ekonomi, tenaga, badan atau lembaga serta waktu yang tersedia.
Alat ukur perawatan diri sehari-hari
Alat ukur perawatan diri sehari-hari yaitu: 1) Barthel Index (BI) ditemukan oleh Mahoney dan Barthel tahun 1965 (Marvin, 2015).BI berguna dalam menilai kemampuan individu dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari tanpa dibantu orang lain. Setiap bentuk kegiatan yang dilakukkan seseorang dinilai seseorang kesanggupannya dengan skor 0, 5, atau 10. Skor Barthel Indeks dengan 10 kriteria,
seperti : makan, mandi, aktivitas di toilet, berpakaian, buang air besar, buang air kecil, menempatkan diri dan beranjak dari toilet, pindah dari kursi ke tempat tidur dan sebaliknya, berjalan di permukaan yang datar (jika tidak dapat berjalan, mendorong kursi roda), naik dan turun tangga.
Konsep Edukasi Definisi
Edukasi (pendidikan) merupakan sebuah agenda untuk mengubah persepsi orang lain baik personal, komunitas atau masyarakat sehingga mereka mengikuti segala hal oleh pelaku pendidikan (Notoadmojo, 2003). Edukasi merupakan upaya untuk mempengaruhi semua orang agar terlaksana perilaku hidup sehat (Setiawati, 2008). Dalam pandangan ilmu kesehatan atau keperawatan, edukasi merupakan bentuk perencanaan keperawatan secara mandiri dalam upaya mengatasi seluruh masalah pasien melalui edukasi kesehatan dalam hal ini perawat sebagai pendidik.
Adapun implementasi edukasi keperawatan ialah : anamnesa, menetukan diagnosa keperawatan, intervensi edukasi, tindakan edukasi, evaluasi edukasi, dan dokumentasi edukasi (Suliha, 2002).
Tujuan Edukasi
Tujuan dari edukasi antara lain: Notoatmodjo (1997) yaitu : 1) Kesehatan menjadi sesuatu yang berharga di masyarakat, 2) Menolong individu supaya bisa mandiri dalam beraktivitas untuk meraih hidup sehat, 3) Mendukung pengadaan fasilitas kesehatan.
Model-Model Metode Edukasi
Metode yang dapat diterapkan dalam pemberian edukasi baik yang berupa edukasi pada individual, kelompok maupun massa (Notoatmodjo, 2007).
Metodeedukasi individual
Metode ini sangat cocok untuk seseorang yang menginginkan suatu perubahan sikap yang baru. Adapun metode ini yaitu : 1) edukasi dalam bentuk arahan dan penyuluhan. Pada edukasi seperti ini petugas dapat menjalin hubungan dan menyelesaikan permasalahan klien, 2) Wawancara. Metode ini dapat menggali dan memberikan edukasi secara mendalam terkait perubahan perilaku klien.
Metodeedukasi kelompok
Metode edukasi kelompok yaitu : 1) Metode ceramah yaitu metode yang baik untuk sasaran yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Kunci dan keberhasilan metode ini adalah penceramah harus menguasai materi dan sasaran ceramah. Seorang penceramah harus bersikap dan berpenampilan meyakinkan, suara hendaknya cukup keras dan jelas, pandangan harus tertuju kepada seluruh peserta, berdiri di depan atau di tengah dan menggunakan alat-alat bantu lihat semaksimal mungkin. Metode ceramah mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan (Sudjana, 2011).
Kelebihan metode ceramah antara lain : Metode ini relative murah dan mudah untuk dilaksanakan karena tidak memerlukan persiapan dan peralatan- peralatan yang rumit, dapat menyajikan materi secara luas, artinya materi yang banyak dapat dirangkum dan dijelaskan pokok-pokoknya dalam waktu yang singkat, dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai, melalui metode ini keadaan kelas dapat dengan mudah dikontrol, ceramah tidak memerlukan seting kelas yang beragam.
Kelemahan metode ini antara lain : Materi yang dikuasai klien terbatas pada apa yang dikuasai oleh pemateri, ceramah yang tidak disertai peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme yaitu tahu kata tapi tidak tahu maknanya, ceramah sering dianggap metode yang membosankan, sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti dengan apa yang telah dijelaskan atau belum.
2) Metode demonstrasi yaitu metode pembelajaran yang memperagakan dan mempertunjukan kepada peserta mengenai suatu proses, situasi, atau benda tertentu baik berupa benda sebenarnya maupun hanya sekedar benda tiruan.
Proses penerimaan klien atau peserta terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam, sehingga membentuk pengertian dengan baik dan sempurna, selain itu peserta dapat mengamati dan memperhatikan apa yang diperlihatkan selama pelajaran berlangsung. Kelebihan metode demonstrasi yakni : Menghindari terjadinya verbalisme karena peserata langsung memperhatikan bahan pelajaran atau materi yang dijelaskan, proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tidak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi, dengan pengamatan secara langsung maka peserta dapat membandingkan antara teori dan kenyataan sehingga mereka akn meyakini kebenaran materi yang disampaikan.
Kelemahan dari metode demonstrasi yakni : Memerlukan persiapan yang lebih matang, sebab tanpa persiapan yang memadai metode ini menjadi tidak efektif, memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah, 3) Diskusi kelompok dimana pengaturan formasi duduk para peserta harus diatur sedemikian rupa sehingga mereka dapat saling berhadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya bentuk lingkaran atau segi empat, agar para peserta dapat bebas berpartisipasi dalam diskusi, 4) Curah pendapat dimana metode ini pada
dasarnya sama dngan metode diskusi kelompok.
Metode ini pada awal diskusi pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah, kemudian tiap peserta memberikan tanggapan atau jawaban. Setiap tanggapan atau jawaban yang diberikan ditulis di papan tulis. Setelah semua peserta mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan pada akhirnya terjadi diskusi, 5) Permainan peran yaitu dilakukan dengan permainan peran oleh beberapa anggota kelompok. Contohnya sebagai masyarakat dan penyuluh kesehatan.
Metode edukasi massa (publik)
Metode ini ditunjukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik.
Sasarannya bersifat umum yaitu tidak membedakan umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, status sosial ekonomi. Pendekatan ini biasanya untuk menggugah perhatian atau kesadaran masyarakat akan suatu inovasi. Adapun beberapa bentuk pendekatan yang dapat dilakukan adalah ceramah umum, pidato- pidato diskusi, simulasi melalui televisi atau radio, dan tulisan-tulisan dimajalah atau koran.
Media Edukasi
Media edukasi dibagi menjadi tiga macam berdasarkan fungsinya (Notoatmodjo, 2003) : 1) Media cetak yaitu Boocklet merupakan media penyampaian pesan dalam bentuk buku. Leaflet,merupakan media penyampaian informasi atau pesan-pesan kesehatan melalui lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam bentuk kalimat atau gambar atau kombinasi keduanya. Flyer, seperti leaflet tetapi tidak dalam bentuk lipatan. Flipchart, biasanya dalam bentuk buku dimana tiap lembar berisi gambar peragaan dan baliknya berisi kalimat sebagai
pesan atau infromasi terkait gambar.
Rubric, atau tulisan-tulisan pada surat kabar, jurnal, atau majalah, 2) Media elektronik yaitu televisi, merupakan penyampaian pesan atau informasi kesehatan melalui televisi dapat berupa sandiwara, sinetron, forum diskusi atau tanya jawab, quiz, atau cerdas cermat. Radio, merupakan penyampaian pesan dapat berupa obrolan, ceramah, radio spot. Video, merupakan penyampaian pesan atau informasi kesehatan dapat melalui video. Media ini dapat memberikan realita yang mungkin sulit direkam oleh mata dan pikiran sasaran, serta dapat memacu diskusi mengenai sikap dan perilaku. Slide, merupakan media yang cocok digunakan untuk sasaran yang jumlahnya relative besar, dan pembuatannya relative murah dan mudah digunakan.
Konsep Efikasi Diri Definisi
Efikasi diri adalah keyakinan seseorang bagaimana merasa, berpikir, memotivasi diri dan berbuat sesuatu. Seseorang yang memiliki efikasi diri yang tinggi dapat meningkatkan kesuksesan, sanggup menyelesaikan masalah yang rumit. Biasanya orang yang memiliki efikasi diri yang tinggi, mudah untuk bangkit dari keterpurukan dan memiliki komitmen tinggi untuk menggapai sesuatu.
Bandura (dalam Jess & Feist, 2010). Efikasi diri adalah bagian dari aspek pengetahuan diri dalam kehidupan manusia sehari-hari. Efikasi diri sangat mempengaruhi seseorang dalam menentukan tujuan untuk meraih sesuatu termasuk dapat memprediksi berbagai kejadian yang akan dihadapi. Bandura. (dalam Santrock, 2007). Alwisol (2009), mengungkapkan bahwa efikasi diri sebagai
pandangan pada diri sendiri mengenai seberapa besar kemampuan diri dapat berfungsi dalam keadaan tertentu.
Aspek-aspek efikasi diri
Bandura (dalam Jess & Feist, 2010) Ada tiga dimensi efikasi diri, yaitu:
Tingkat (level)
Dimensi ini memunculkan perasaan seseorang mampu untuk menyelesaikan suatu tugas meskipun tugas yang dihadapi tersebut sulit. Pada dimensi ini seseorang akan melakukan suatu tugas yang ia merasa mampu menyelesaikannya dan menolak atau menghindari tugas diluar kemampuannya.
Kekuatan (strength)
Dimensi ini berhubungan dengan seberapa besar harapan atau keyakinan pada kemampuannya sendiri. Apabila harapan seseorang lemah maka akan dikalahkan oleh pengalaman sebelumnya yang tidak baik. Namun, harapan yang kuat akan mendorong seseorang untuk bertahan menyelesaikan tugasnya.
Generalisasi (generality)
Dimensi ini berhubungan dengan keyakinan seseorang untuk menyelesaikan masalah.
Hal yang mempengaruhi efikasi diri
Bandura (dalam Jess & Feist, 2010), Empat hal membentuk efikasi diri : Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experience)
Kekuatan yang diperoleh atau dibentuk dari pengalaman masa lalu. Secara garis besar, pengalaman baik dari masa lalu akan meningkatkan efikasi diri seseorang, sementara pengalaman pengalaman yang tidak baik bisa menurunkan efikasi diri. Efikasi diri yang semakin kuat melalui keberhasilan, sehingga bisa
mengurangi efek dari kegagalan. Bahkan kegagalan mampu dihilangkan dari perasaan seseorang apabila ia menguatkan motivasi diri disertai usaha secara kontinu.
Modeling sosial
Mencontoh kesuksesan orang lain dan membuat dia termotivasi untuk menyelesaikan tugas sebagaimana orang tersebut. Begitu juga sebaliknya, menginspeksi kegagalan orang lain akan menurunkan rasa percaya diri dan mengurangi minat dalam menyelesaikan tugas tersebut.
Persuasi sosial
Seseorang diberikan saran atau nasehat dari orang lain sehingga menimbulkan kesadaran diri untuk menyelesaikan tugas atau masalah yang dihadapi. Seseorang yang dinasehati secara langsung memiliki kecendrungan untuk berusaha keras meraih kesuksesan. Meskipun demikian, pengaruh persuasi tidak menjamin karena sifatnya hanya berupa saran atau nasehat yang tidak disertai pengalaman lansung yang dialami oleh seseorang. Ketika dalam kondisi sulit atau gagal terus menerus, maka saran atau nasehat dari orang lain akan lenyap dari diri seseorang.
Kondisi fisik dan emosional
Umunya Emosi tinggi dapat mengurangi kualitas seseorang. Ketika seseorang dalam kondisi cemas begitu tinggi atau stress berat, cenderung efikasinya rendah.
Tingkat efikasi diri seseorang dalam menyelesaikan tugas atau masalah berbeda- beda atau beragam. Semua itu ditentukan oleh persepsi masing-masing oleh setiap orang. Bandura (dalam Anwar, 2009), terdapat berbagai hal yang mempengaruhi efikasi diri diantaranya : 1) Budaya, 2) Jenis kelamin, 3) jenis masalah, 4) Insentif
eksternal, 5) Kedudukan seseorang di lingkungan, 6) Citra diri.
Hubungan edukasi berbasis efikasi diri dengan perawatan sehari-hari Merawat diri merupakan kemampuan dalam usaha menolong diri, antara lain fisik, psikis serta sosial mampu beradaptasi dan berperan dilingkungannya.
Perawatan diri yang dilakukan dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan mental (Orem, 1995). Adanya gangguan sistem muskulo skeletal atau gangguan saraf seperti penyakit stroke mempengaruhi perawatan diri dalam kehidupan sehari-hari (Pei L dkk, 2016). Edukasi berbasis efikasi diri dapat meingkatkan kemampuan dalam melakukan perawatan sehari-hari pasien stroke.
Teori Keperawatan
Teori Orem merupakan teori yang digunkan dalam teori keperawatan. Teori ini mengupayakan individu mempunyai kemampuan mempertahankan dan menguatkan peran yang maksimal (Tomey & Alligood, 2006). Perawatan diri pada pasien stroke mencakup meliputi kesanggupan seseorang untuk mengoptimalkan status kesehatan terkait penyakit stroke yang dialami, seperti: pemenuhan ADL, kebutuhan terapi pengobatan (Moorhea dkk, 2014).
Curtin dkk (2005) menyatakan pasien yang terkena stroke perlu penilaian pada perawatan diri sehari-hari (selfcare activity) seperti kemampuan untuk memenuhi ADL, mampu bersosial, mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan, memilih fasilitas kesehatan secara suka rela, mengenali masalah kesehatan dan melaporkan. Aplikasi teori keperawatan model self care activity dari Orem relevan digunakan untuk meningkatkan efikasi diri pasien dalam beraktivitas, meningkatkan kesehatan melalui nursing system: suportif edukatif yakni pemberian
e d u k a s i untuk membantu memenuhi pengetahuan dalam meningkatkan efikasi diri pasien.
Kerangka Teori
Sumber: Albert Bandura Theory dalam Frost dkk, (2015).
Skema 2.1 Kerangka Teori
Edukasi berbasis efikasi diri Penyebab stroke
iskemik:
1. Embolisme serebral 2. Trombosis
serebral
1.
Stroke
Gangguan perawatan diri sehari- hari
Kebutuhan perawatan diri (Barthel index):
1. Makan 2. Mandi 3. Berpakaian 4. Berjalan 5. Berpindah dari
kursi roda 6. Aktifitas di
toilet
7. Menempatkan diri dan beranjak di toilet
8. Naik dan turun tangga
9. Mengontrol BAB 10. Mengontrol
BAK
Mandiri : Tidak bergantung pada orang lain, hidup baik, tidak mengalami depresi,
dan harga diri baik
2.
Tidak Mandiri : Relative bergantung pada
oranglain, lemah, harga diri
rendah dan terisolasi
3. Penurunan fungsi
neurologis : 1. Perubahan
perfusi jaringan serebral 2. Gangguan
komunikasi 3. Gangguan
perssepsi 4. Gangguan
kognitif dan efek
psikologis 5. Penurunan
kekuatan dan ketahanan otot
Kerangka Konseptual
Skema 2.2 Kerangka Konseptual Edukasi berbasis fikasi diri:
1. Pemberian informasi stroke (defenisi stroke, etiologi stroke, klasifikasi stroke, tanda dan gejala stroke, area penumbra, testimoni pasien stroke)
2. Latihan motorik halus dan motorik kasar 3. Latihan duduk disisi
tempat tidur, latihan berjalan dengan bantuan dari tempat tidur, latihan berjalan mandiri dan latihan berpakaian
Perawatan sehari-hari : Barthel Index Variabel Independen Variabel Dependen
Variabel Perancu
1. Durasi pemberian edukasi 2. Media edukasi yang digunakan
20
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain quasi experimental dengan metode nonequivalent control group preposttest only design dimana suatu penelitian terdapat dua kategori responden, data dikumpulkan sebelum dan sesudah menerapkan suatu intervensi (Polit & Beck, 2012). Pada penelitian responden diberikan edukasi menggunakan media visual, diskusi, latihan kemampuan motorik, sugesti agama dan latihan okupasi setelah dilakukan intervensi untuk melihat pengaruh edukasi berbasis efikasi diri sebelum dan sesudah intervensi. Adapun perlakuan yang diberikan kepada responden adalah edukasi berbasis efikasi diri. Pengukuran perawatan diri sehari-hari pasien dilakukan sebelum (P1), sesudah (P2) diberikan edukasi dan perawatan sehari-hari pasien dalam bentuk video dan menggunakan alat ukur kuesioner.
Desain penelitian ini digambarkan dalam skema sebagai berikut:
Pre Test Intervensi Post Test
P1 I P2
Skema 3.1 Rancangan Penelitian
Keterangan:
P1 : Pre Test
P2 : Post Test
I : Edukasi berbasis efikasi diri Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di unit stroke RSUP HAM pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2021.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien stroke iskemik rawat inap di RSUP HAM. Jumlah populasi pasien stroke iskemik pada Februari-Maret 2021 tercatat sebanyak 40 orang (Stroke Corner, 2021).
Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan nonprobability sampling jenis convinience sampling yaitu pemilihan sampel yang ada serta memenuhi kriteria inklusi sehingga jumlah sampel yang ditentukan dapat terpenuhi (Polit & Beck, 2012). Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang memenuhi kriteria inklusi yakni:1) pasien stroke iskemik, 2) paralisis dengan kekuatan otot nol hingga empat, 3) bisa membaca, 4) kooperatif, 5) pasien dengan kesadaran compos mentis, 6) bersedia menjadi responden.
Sedangkan kriteria eksklusi adalah: 1) stroke haemoragik, 2) kebutaan, 3) ketulian, 4) gangguan kognitif yang signifikan yang mengganggu kemampuan untuk
memahami, menanggapi perintah, informasi sederhana, 5) tidak bersedia menjadi responden (Thompson., dkk. 2018).
Perhitungan besar sampel menggunakan rumus dan perhitungan sederhana yaitu dengan menggunakan rumus Slovin. Adapun rumus yang dikutip dalam bukunya Husein Umar (2002) :
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁(𝑒)2 Dimana :
n = Jumlah sampel/jumlah responden N = Jumlah populasi
E = Presentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa ditolerir; e=0,05%
Penghitungan untuk besar sampel adalah sebagai berikut : n = 𝑁
1+𝑁𝑒2
n = 40
1+40𝑥0.052
n = 40
1.1 = 36.4 ≈ 36 sampel
Dengan formula diatas, maka dapat dihitung jumlah subyek yang diteliti (n’) = 36 orang. Total jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 36 responden.
Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data dilakukan dalam dua tahap yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.
Tahap persiapan
Tahap persiapan pertama yaitu menyiapkan instrumen untuk pengumpulan data yang berhubungan dengan karakteristik responden yaitu umur, status pernikahan, pendidikan, jenis stroke, serangan stroke dan lembar observasi perawatan diri sehari-hari yaitu Barthel Index. Tahap persiapan kedua yaitu prosedur administratif berupa surat ijin pengambilan data. Selanjutnya peneliti mengajukan surat lulus uji etik (ethical clearance), kemudian peneliti mengajukan surat ijin permohonan untuk melaksanakan penelitian. Setelah surat ijin penelitian dikeluarkan, peneliti mangajukan permohonan ijin untuk melaksanakan penelitian ke Direktur RSUP HAM.
Tahap berikutnya peneliti mengidentifikasi sampel penelitian berdasarkan kriteria yang telah dibuat. Peneliti menjelaskan kepada perawat dan dokter yang bertugas di unit stroke terkait tujuan dan penelitian yang akan dilakukan di unit stroke RSUP HAM, setelah menjelaskan hal tersebut peneliti melakukan kolaborasi dengan bantuan perawat dalam menentukan sampel dengan pasien stroke, Pengumpulan sampel dilakukan sesuai dengan kriteria inklusi sampel, seterusnya sampai jumlah sampel didapatkan yaitu sebesar 36 responden.
Tahap Pelaksanaan
Cara melakukan penelitian ini yaitu: 1) Peneliti menemui pasien stroke yang sesuai kriteria inklusi untuk menjadi objek penelitian, 2) Peneliti meminta persetujuan pasien berupa penandatanganan lembar Informed Consent untuk bersedia menjadi responden, 3) Peneliti meminta responden untuk mengisi kuesioner Pre Test dengan menggunakan lembar data demografi dan Barthel Index, 4) Peneliti memberikan intervensi yaitu edukasi berbasis efikasi diri. Responden
diberikan intervensi edukasi berbasis efikasi diri selama 30 menit perhari, 3 hari seminggu, selama 6 minggu, 5) Peneliti meminta responden untuk mengisi kuesioner Post Test dengan menggunakan lembar data demografi dan Barthel Index.
Skema 3.2 Pelaksanaan penelitian Subjek bersedia jadi responden
n= 36
Pretest:
- Data demografi
- Mengukur perawatan sehari-hari
Edukasi berbasis efikasi diri:
Hari 1: Pemberian informasi stroke
Hari 2: Latihan motorik halus dan motorik kasar
Hari 3: Latihan duduk disisi tempat tidur, latihan berdiri disisi tempat tidur, latihan berjalan dengan bantuan dari tempat tidur, latihan berjalan mandiri dan latihan berpakaian
Post test:
Mengukur perawatan sehari-hari Populasi penelitian
Pasien stroke
Pengolahan dan analisis data
3.1 Variabel dan Definisi Operasional Tabel 3.1 Variabel dan Defenisi Operasional
No Variabel Penelitian
Definisi
Operasional Alat Ukur Cara
Pengukuran
Hasil Pengukuran
Skala Ukur 1. Variabel
independen:
edukasi berbasis efikasi diri
Intervensi yang dilakukan dengan pemberian informasi stroke dan sugesti agama, latihan motorik halus dan motorik kasar, latihan duduk disisi tempat tidur, latihan berdiri disisi tempat tidur, latihan berjalan dengan bantuan dari tempat tidur, latihan berjalan mandiri dan latihan berpakaian pada pasien yang mengalami stroke di ruang Instalasi Rindu A (Stroke Corner, Rindu A, Paviliun) RSUP HAM untuk menilai kemampuannya dalam merawat diri selama 1 kali sehari setiap sesi 30 menit selama 3 hari dalam 1 minggu, Selama 6 minggu.
- - - -
2. Variabel dependen:
perawatan sehari-hari
Perawatan sehari-hari merupakan aktivitas pasien stroke iskemik di di ruang Instalasi Rindu A (Stroke Corner, Rindu A, Paviliun) stroke RSUP HAM tentang perawatan diri sehari-hari.
Barthel Index terdiri dari 10 item pertanyaan
Pemberian Kuesioner, Observasi
Skor Responden Rasio
Metode Pengukuran Instrumen
Instrumen pengumpulan data terkait karakteristik responden yaitu umur, status pernikahan, pendidikan, jenis stroke, lama stroke, serangan stroke dan lembar observasi perawatan diri sehari-hari yaitu Barthel Index terdiri dari 10 item pertanyaan.
Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas data
Uji validitas merupakan standar ke validan (keabsahan instrumen).
Penelitian ini akan menggunakan validitas konten (content validity). Penilaian expert (tenaga ahli) penentu terhadap konten yang valid dinyatakan dengan Content Validity Index (CVI) (Polit & Beck, 2012). Penelitian ini menggunakan lembar observasi Barthel Index yang sudah baku dan reliabel. Kuesioner Barthel Index yang dibuat oleh Flowrence I. Mahoney dan Dorothea W. Barthel dengan hak Maryland State Medical Society (MedChi) sebagai pemegang hak cipta. Uji validitas Barthel Index pernah dilakukan di Indonesia oleh Iskandar Agung pada 100 responden dengan hasil ICC tiap butir pertanyaan sangat baik yakni lebih dari 0,75, kecuali pada pertanyaan mengontrol rangsang buang air besar mendapatkan hasil ICC 0,645 yang masuk kedalam kategori baik (Agung, 2006).
Uji reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan indikator prioritas dalam menentukan kualitas suatu instrument. Uji reliabilitas yang dipakai ialah internal consistency dimana uji ini dipakai sebagai uji coba satu kali, selanjutnya data dianalisis sesuai nilai
Cronbach alpha. Instrumen yang sudah valid selanjutnya dilakukan pilot study (Polit & Beck, 2012).
Metode Analisis Data Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah melalui empat tahapan : Editing
Melakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan, kejelasan dan relevansi daftar isian kuesioner perilaku merawat diri pasien stroke sesuai dengan kebutuhan penelitian. Semua tindakan dilapangan sehingga jika terjadi kesalahan data atau kosong maka perlu peninjauan ulang.
Coding
Aktivitas klarifikasi data, mencantumkan kode pada tiap-tiap kelompok pada data yang didapatkan dari sumber data yang telah dikoreksi. Semua data baik numerik maupun kategorik di dicantumkan dalam skor yang telah ditentukan peneliti.
Entry Data
Setelah pengkodean data dilakukan maka aktivitas selanjutnya melakukan entry data dari instrument penelitian perilaku merawat diri sehari-hari pasien stroke ke dalam komputer melalui program statistik.
Cleaning
Mengoreksi kembali data yang sudah di entry apakah ada yang salah atau tidak.
Analisa data Analisa univariat
Analisis univariat sebagai penjabaran tiap variabel penelitian. Lazimnya hasil analisis ini hanya memperoleh distribusi dan presentase dari tiap variabel. Setelah memperoleh data sekunder, kemudian data diolah atau dilakukan analisis secara deskriptif untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif yang dibuat dalam bentuk tabel di persentase serta diberikan keterangan.
Ukuran yang dipakai ialah nilai minimal, maksimal, rata-rata standar deviasi, distribusi frekwensi dan persentase. Analisis data univariat berfungsi untuk mendeskripsikan responden yang meliputi gender, usia, status pernikahan, pendidikan, jenis stroke, dan serangan stroke. Hasil analisis univariat berupa data kategorik dan numerik.
Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan dengan uji komparatif (Uji beda) untuk menguji perawatan diri sehari-hari pasien stroke, uji beda dalam penelitian ini dilakukan dengan menguji perbedaan perawatan diri sehari-hari pasien stroke iskemik sebelum dan sesudah diberikan edukasi berbasis efikasi diri yaitu uji paired t test karena data yang diperoleh berdistribusi normal.
Pertimbangan Etik
Pertimbangan etik terkait penelitian ini dilakukan melalui persetujuan dari komite etik penelitian kesehatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Asas manfaat (beneficience)
Asas manfaat merupakan aspek yang paling menjadi tolak ukur, oleh karena itu peneliti harus menghindari segala macam resiko yang dapat berdampak negatif serta mengutamakan manfaat bagi responden penelitian (Polit & Beck, 2012).
Bebas dari kerugian dan ketidaknyamanan
Dalam penelitian, peneliti harus menghindari serta menghambat kerugian dan ketidaknyamanan baik fisik, emosional, sosial serta keuangan responden (Polit
& Beck, 2012). Sebelum melakukan penelitian, pertama peneliti meminta persetujuan (informed concent) pasien atau keluarga sebagai salah satu langkah peneliti untuk mencegah hal-hal yang dapat merugikan atau menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien.
Bebas dari eksploitasi
Responden yang terlibat pada saat berpartisipasi, member informasi serta data dari responden tidak menyebabkan kerugian dimasa depan (Polit & Beck, 2012). Peneliti memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga bahwa informasi dan data yang diberikan hanya untuk kepentingan penelitian dan hasil yang didapatkan digunakan untuk peningkatan kepentingan pelayanan kesehatan.
Asas menghargai hak asasi manusia (Respect for human dignity)
Asas menghargai hak asasi manusia meliputi hak untuk membuat keputusan dan hak untuk memperoleh informasi.
Hak untuk membuat keputusan (the right to self determination).
Responden dalam suatu penelitian ialah seseorang punya hak untuk menentukan aktifitas yang akan dilakukan dalam artian bahwa responden punya wewenang dalam memutuskan serta berhak menarik diri dari proses selama
penelitian berlangsung tanpa adanya rasa khawatir mendapatkan sanksi atau tuntutan hukum, bebas dari paksaan serta ancaman (Polit & Beck, 2012). Saat proses penelitian berlangsung, peneliti sangat mengapresiasi segala keputusan pasien yang dalam hal ini diwakilkan oleh keluarga sehingga pasien atau keluarga terlibat dalam penelitian secara sukarela.
Hak untuk memperoleh informasi (the right to full disclosure)
Dalam penelitian responden mempunyai hak dalam membuat suatu keputusan serta mendapatkan informasi terkait penelitian yang akan menjadi dasar penting dalam pembuatan surat persetujuan (Polit & Beck, 2012). Peneliti harus memberikan penjelasan tentang penelitian yang akan diikuti oleh pasien dan pasien atau keluarga diberikan kesempatan untuk bertanya serta memutuskan apakah pasien dapat terlibat dalam penelitian.
Asas keadilan (Justice)
Asas keadilan terdiri dari 2 bagian yaitu hak memperoleh keadilan dan hak untuk mendapatkan privasi.
Hak untuk mendapatkan tindakan yang adil (the right to fair treatment) Memilih responden sesuai kriteria sampel. Responden harus diperlakukan sama tidak boleh ada diskriminasi. Peneliti harus memahami segala perbedaan (Polit & Beck, 2012). Pada aplikasi penelitian kriteria sampel telah diidentifikasi terlebih dahulu sehingga pasien yang dipilih adalah pasien yang memang memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan.
Hak untuk mendapatkan privasi (the right to privacy)
Dalam penelitian ini peneliti menghargai privasi pasien, untuk menjaga privasi tersebut pada lembar pengumpulan data pasien tidak perlu mencantumkan nama.
32
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan hasil penelitian pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan sehari-hari pasien stroke di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Pengumpulan data dilakukan pada Februari sampai dengan bulan Maret 2021.
Analisis Univariat
Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian merupakan pasien stroke iskemik yang berada di Ruang Rawat Inap Instalasi Rindu A, Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
Karakteristik responden yang diteliti dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, status pernikahan, jenis stroke dan status serangan stroke di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan dapat dilihat pada Tabel 4.1:
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan, 2021 (n=36)
No Variabel Karakteristik Responden
Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Jenis Kelamin
Laki-laki 22 61,1
Perempuan 14 38,9
Total 36 100,0
2 Usia (tahun)
Dewasa awal 26-35 tahun Dewasa akhir 36-45 tahun Lansia awal 46-55 tahun
3 5 14
8,3 13,9 38,9 Lansia akhir 56-65 tahun
Manula > 65 tahun
10 4
27,8 11,1
Total 36 100,0
3 Pendidikan SMP SMA
8 26
22,2 72,2
Sarjana 2 11,1
Total 36 100,0
4 Status Pernikahan Belum Menikah Menikah
5 23
13,9 63,9
Janda/Duda 8 22,2
Total 36 100,0
5 Jenis Stroke Stroke Hemoragik Stroke Iskemik
0 36
0,0 100,0
Total 36 100,0
6 Status Serangan Stroke
Serangan pertama 34 94,4
Serangan sekuel 2 5,6
Total 36 100,0
Berdasarkan tabel 4.1. dapat dilihat bahwa jenis kelamin responden sebagian besar laki-laki sebanyak 22 orang (61,1%). Usia responden sebagian besar lansia awal usia 46-55 tahun sebanyak 14 orang (38,9%), pendidikan responden sebagian besar pendidikan sekolah menengah atas sebanyak 26 orang (72.2%), Kemudian status pernikahan responden sebagian besar menikah sebanyak 23 orang (63.9%), jenis stroke responden secara keseluruhan stroke iskemik sebanyak 36 orang (100%) dan status serangan stroke responden sebagian besar serangan pertama sebanyak 34 orang (94.4%).
Perawatan Sehari-hari Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi
Perawatan sehari-hari merupakan aktivitas pasien stroke iskemik di di ruang Instalasi Rindu A (Stroke Corner, Rindu A, Paviliun) stroke RSUP HAM tentang perawatan diri sehari-hari. Perawatan diri sehari-hari yang diteliti dalam penelitian ini meliputi makan, mandi, aktivitas toilet, berpakaian, buang air besar, buang air kecil, menempatkan diri beranjak dari toilet, pindah dari kursi ke tempat tidur berjalan permukaan datar dan naik dan turun tangga di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan dapat dilihat pada Tabel Tabel 4.2:
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Perawatan Sehari-hari Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Edukasi Berbasis Efikasi Diri
pada Pasien Stroke, 2021 (n=36)
No Variabel Sebelum Sesudah
f % f %
1 Makan
Bantuan total Membutuhkan beberapa bantuan Mandiri
29 7 0
80,6 19,4 0
2 13 21
5,6 36,1 58,3 2 Mandi
Bantuan total Membutuhkan beberapa bantuan
35 1
97,2 2,8
9 27
25,0 75,0 3 Aktivitas Toilet
Bantuan total Membutuhkan beberapa bantuan
35 1
97,2 2,8
8 28
22,2 77,8 4 Berpakaian
Bantuan total Membutuhkan beberapa bantuan Mandiri
28 8 0
77,8 22,2 0
2 17 17
5,6 47,2 47,2 5
6
7
8
9
10
Buang Air Besar Bantuan total Membutuhkan bantuan orang lain Mandiri
Buang Air Kecil Bantuan total Membutuhkan bantuan orang lain Mandiri
Menempatkan Diri Beranjak dari Toilet Bantuan total Membutuhkan beberapa bantuan Mandiri
Pindah dari Kursi ke Tempat Tidur Bantuan total Bantuan besar Bantuan kecil Mandiri
Berjalan permukaan datar
Bantuan total Bantuan besar Bantuan kecil Mandiri Naik dan Turun Tangga Bantuan total Membutuhkan bantuan orang lain
11 8 17 27 6 3
27 9 0
20 14 2 0
21 13 2 0
33 3
30,6 22,2 47,2 75,0 16,7 8,3
75,0 25,0 0
55,6 38,9 5,6
0
58,3 36,1 5,6
0
91,7 8,3
1 2 33
5 1 30
1 14 21
1 6 19 10
3 7 17
9
4 25
2,8 5,6 91,7 13,9 2,8 83,3
2,8 38,9 58,3
2,8 16,7 52,8 27,8 8,3 19,4 47,2 25,0
11,1 69,4
Mandiri 0 0 7 19,4
Total 36 100 36 100
Berdasarkan tabel 4.2. dapat dilihat bahwa perawatan diri sehari-hari sebelum dilakukan intervensi edukasi berbasis efikasi diri sebagian besar dengan bantuan total dan setelah dilakaukan intervensi menunjukkan bahwa sebagian besar mandiri.
Perawatan diri sehari-hari sebelum dan sesudah dilakukan intervensi edukasi berbasis efikasi diri pada pasien stroke di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan dapat dilihat pada Tabel 4.3:
Tabel 4.3
Perawatan Sehari-hari Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi Edukasi Berbasis Efikasi Diri
pada Pasien Stroke, 2021 (n=36) No Perawatan
Sehari-hari
Sebelum Sesudah
f % f %
1 Ketergantungan Berat 11 30,6 9 25,0
2 Ketergantungan Total 25 69,3 1 2,8
3 Mandiri 0 0 5 13,9
4 Ketergantungan Ringan
0 0 4 11,1
5 Ketergantungan Sedang
0 0 17 47,2
Total 36 100 36 100
Berdasarkan tabel 4.3. dapat dilihat bahwa perawatan diri sehari-hari sebelum dilakukan intervensi edukasi berbasis efikasi diri sebagian besar dengan ketergantungan total sebanyak 25 orang (69,3%) dan Ketergantungan berat 11 orang (30,6 %).
Hasil Penelitian perawatan diri setelah dilakukan intervensi menunjukkan bahwa responden dengan perawatan sedang sebanyak 17 orang (47,2 %), ketergantungan ringan 4 orang (11,1 %), mandiri 5 orang (13,9 %) , ketergantungan total hanya 1 orang (2,8 %), ketergantungan berat 9 orang (25,0 %).
Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat pengaruh sebelum dan sesudah intervensi edukasi berbasis efikasi diri pada pasien stroke dengan analisis paired t test pada batas kemaknaan perhitungan statistik p-value=0,001(<0,05).
Pengaruh Edukasi Berbasis Efikasi Diri Terhadap Perawatan Sehari-hari Untuk melihat pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan sehari-hari pasien stroke dapat dilihat pada Tabel 4.4:
Tabel 4.4
Pengaruh Edukasi Berbasis Efikasi Diri terhadap Perawatan Sehari-hari pada Pasien Stroke, 2021 (n=36)
Variabel Mean Std.
Deviation
Mean Difference
95% Convidence Interval
Lower Upper Nilai P
Edukasi berbasis efikasi diri:
Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi
-56,806 22,270 3,712 64,340 - 49,271 0,001
Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan atau pengaruh perawatan sehari-hari sebelum dan sesudah intervensi edukasi berbasis efikasi diri setelah dianalisis dengan uji paired t test diperoleh bahwa p-value= 0,001 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, artinya ada pengaruh edukasi berbasis efikasi diri terhadap perawatan sehari-hari pasien stroke di Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan.
Pembahasan Penelitian
Fokus bahasan penelitian ini adalah penjelasan hasil penelitian:
mengidentifikasi responden, mengidentifikasi efikasi diri responden sebelum dan sesudah intervensi, mengidentifikasi perawatan diri sehari-hari pasien stroke sebelum dan sesudah intervensi, membandingkan pengaruh kemampuan edukasi