• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLES NON EXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACAPEMAHAMAN PADA MURID KELAS V SDN NO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLES NON EXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACAPEMAHAMAN PADA MURID KELAS V SDN NO"

Copied!
163
0
0

Teks penuh

(1)

i

PADA MURID KELAS V SDN NO. 105 INPRES PA’BUNDUKANG KECAMATAN PATTALASSANG

KABUPATEN TAKALAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh : RINNIATI NIM K.10540 5689 12

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

APRIL 2015

(2)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama : Rinniati

NIM : K. 10540 5689 12

Jurusan/Prodi : Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti ulang, setelah memenuhi syarat untuk mengikuti ujian skripsi.

Makassar, April 2015

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. Dra. Hj. Muliani Azis, M.Si.

Mengetahui

Dekan FKIP Ketua Jurusan

Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. Sulfasyah S, M.A..Ph.D.

NBM: 858 625 NBM: 970635

Judul : Penerapan Model Pembelajaran examples non examples untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman pada Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.

Atas nama :

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN Nama Mahasiswa : RINNIATI

Nim : K.10540 5689 12

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran examples non examples untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman pada Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.

Telah diperiksa dan diteliti secara seksama maka skipsi ini sudah layak diajukan pada Jurusan S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Makassar, April 2015

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Dra. Hj. Muliani Azis, M.Si.

Mengetahui

Universitas Muhammadiyah Makassar. Ketua Prodi PGSD Dekan FKIP

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Sulfasyah, MA., Ph. D

NBM : 858 625 NBM : 970 635

(4)

iv

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : RINNIATI NIM : K. 10540 5689 12

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Judul

Skripsi

: Penerapan Model Pembelajaran examples non examples untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman pada Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.

Dengan ini menyatakan bahwa:

Skripsi yang saya ajukan di depan TIM adalah ASLI hasil karya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuat oleh siapapun.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, April 2015 Yang Membuat Pernyataan

RINNIATI

(5)

v

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : RINNIATI

Nim : K. 10540 5689 12

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar ( PGSD) Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini. Saya yang menyusun sendiri skripsi saya ( tidak dibuatkan oleh siapa pun).

2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing, yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan ( plagiat ) dalam menyusun skripsi saya.

4. Apabila saya melanggar perjanjian saya seperti butir 1, 2, dan 3, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, April 2015 Yang Membuat Perjanjian,

RINNIATI

(6)

vi

Moto

Keberhasilan butuh kesabaran.

Lakukan sesuatu yang lebih bernilai

Orang yang memperbaiki niat, maka akan diperbaiki kehidupannya……..

” Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Maka Apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”

(QS Al-Insyirah ayat 6-7)

Persembahanku

kupersembahkan karya sederhana ini

sebagai ungkapan rasa cinta dan banggaku sebagai seorang anak

atas segala pengorbanan dan kasih sayang ibundaku dan ayahandaku,

Suamiku serta putriku yang tercinta, saudara-saudariku, serta

keluargaku yang senantiasa mendoakanku .

(7)

vii

Rinniati. 2015. Penerapan Model Pembelajaran examples non examples untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman pada Murid Kelas V SDN No.

105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Skripsi.

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh A. Sukri Syamsuri dan Muliani Azis.

Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitain tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan membaca pemahaman melalui Model examples non examples pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang mencakup empat kali pertemuan. Subjek penelitian ini adalah murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar sebanyak 24 murid yang terdiri atas 13 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Teknik pengumpulan data adalah observasi, tes (evaluasi), dan dokumentasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.

Hasil penelitain menunjukan adanya peningkatan keterampilan membaca pemahaman murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata hasil belajar membaca pemahaman pada siklus I 58,9 dan yang tuntas 8 murid atau 33,33%, dan skor rata-rata hasil belajar keterampilan membaca pemahaman murid pada siklus II meningkat menjadi 75 dan yang tuntas sebanyak 20 murid atau 83,33%. Di samping itu juga, data hasil observasi disetiap siklus menunjukan adanya perubahan sikap murid kearah positif.

Dari hasil analisis tersebut disimpulkan bahwa hasil belajar keterampilan membaca pemahaman murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dapat ditingkatkan melalui Model examples non examples.

.

Kata kunci: Keterampilan Membaca Pemahaman, Model examples non examples.

(8)

viii

Syukur Alhamdulillah, penulis ucapkan kehadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. sehingga skripsi yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran examples non examples untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Pemahaman pada Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.” ini dapat terselesaikan dengan baik.

Shalawat dansalam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, Nabi yang bertindak sebagai rahmatan lilalamin.Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkahmu.

Segala daya dan upaya telah Penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini dalam memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.Selama penulisan skripsi ini, segala hambatan dan kekurangan Penulis telah mendapat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak.

Segala hormat Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua ayahanda Palassai Dg Siama dan Ibunda Nannu Dg Bulaeng yang telah berjuang, mendoa’akan, mengasuh, mendidik, dorongan, kasih sayang dan perhatiannya selama ini.

Selanjutnya Penulis menyampaikan ucapan terima kasih, penghormatan dan penghargaan kepada bapak Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum pembimbing I dan ibu Dra. Hj. Muliani Azis, M.Si pembimbing II yang sabar, ikhlas meluangkan waktu,

(9)

ix

berharga kepada Penulis selama penyusunan skripsi. Pada kesempatan ini juga Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada : Dr. Irwan Akib, M.Pd.Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulfasyah, MA., Ph. D. Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) serta seluruh dosen dan staf pegawai prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, Ibu St. Syohra, S.Pd serta Ibu Sitti Hasnah, S.Pd guru kelas V serta staf guru-guru SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar yang telah memberikan izin dan bantuan selama pelaksanaan penelitian ini.

Teristimewa Penulis haturkan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada teman-teman kelas Konversi 12 A.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin, yarrobal ’alamin.

Billahi fisabilil haq fastabiqul khaerat.

Makassar, April 2015

Penulis

(10)

x

Halaman

HALAMAN JUDUL... i

HALAMAN PENGESAHAN... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Hasil Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS 8 A. Tinjauan Pustaka ... 9

1. Penelitian yang Relevan ... 9

a. Konsep Keterampilan Membaca ... 10

b. Peningkatan Keterampilan Membaca ... 14

c. Tujuan dan jenis-Jenis Membaca ... 14

d. Proses Membaca... 17

e. Membaca Pemahaman ... 18 2. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples . 25

(11)

xi

Examples Non Examples ... 27

c. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples ... 29

B. Kerangka Pikir ... 30

C. Hipotesis Tindakan ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

A. Jenis Penelitian ... 33

B. Fokus Penelitian ... 33

C. Setting dan Subjek Penelitian ... 34

D. Prosedur Penelitian ... 35

E. Teknik Pengumpulan Data... 39

F. Teknik analisis Data... 40

G. Indikator Keberhasilan ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42

A. Hasil Penelitian ... 42

1. Siklus I ... 42

a. Perencanaan ... 42

b. Implementasi Tindakan Siklus I... 42

c. Observasi dan Evaluasi ... 45

d. Refleksi Tindakan Siklus I ... 50

2. Siklus II ... 51

a. Perencanaan... 51

b. Implementasi Tindakan Siklus II ... 51

c. Observasi dan Evaluasi ... 55

d. Refleksi Tindakan Siklus II... 60

e. Hasil Observasi Keterampilan Membaca Pemahaman……… 62

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 64

(12)

xii

A. Kesimpulan ... 70 B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA ... 72 LAMPIRAN

PERSURATAN RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii

Tabel 3.1 Kategori Keberhasilan... 40 Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil observasi aktifitas murid kelas V

SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang selama penerapan model pembelajaran examples non examples pada Siklus I

Pertemuan I, Pertemuan II, dan Pertemuan III... 46 Tabel 4.2 Nilai Statistik Pemahaman Membaca Pemahaman

Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang setelah penerapan Model pembelajaran Jigsaw

pada siklus I ... 47 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Membaca Pemahaman

Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang

setelah penerapan model pembelajaran examples non examples pada siklus I... 48 Tabel 4.4 Persentase Ketuntasan Membaca Pemahaman Murid

Kelas V setelah penerapan Pembelajaran examples non examples pada siklus I ... 49 Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil observasi aktifitas murid kelas V

SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang selama penerapan Model pembelajaran examples non examples pada Siklus II

Pertemuan I, Pertemuan II, dan Pertemuan III ... 55 Tabel 4.6 Nilai Statistik Membaca Pemahaman Murid Kelas V

SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang

setelah penerapan Model pembelajaran examples non examples pada siklus II ... 57 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Membaca Pemahaman

Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang

setelah penerapan model pembelajaran examples non examples pada siklus II ... 58 Tabel 4.8 Persentase Ketuntasan Membaca Pemahaman Murid

Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang

setelah penerapan Pembelajaran examples non examples

pada siklus II ... 59

(14)

xiv

Tabel 4.10 Hasil Observasi Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus II 63 Tabel 4.11 Persentasi pencapaian hasil belajar membaca pemahaman

murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang setelah penerapan model examples non examples

pada siklus I dan II……… 68

(15)

xv

Gambar Halaman

2.1. Bagan Kerangka Pikir ... 32 4.1 Diagram Batang Hasil evaluasi Siklus I ... 49 4.2 Diagram Batang Hasil evaluasi Siklus II ... 58 4.3 Diagram batang Presentasi pencapaian hasil belajar membaca

Pemahaman siklus I dan II ... 59

(16)

xvi Lampiran A

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Lampiran B

1. Lembar Kerja Murid Siklus I 2. Lembar Kerja Murid Siklus II 3. Tes Siklus I

4. Tes Siklus II Lampiran C

1. Hasil Evaluasi Siklus I 2. Hasil Evaluasi Siklus II

3. Kategori Skor Hasil Belajar Murid Lampiran D

1. Lembar Observasi Guru 2. Lembar Observasi Murid 3. Daftar Hadir Murid Lampiran E

1. Dokumentasi Penelitian

(17)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Kantot: JL Suhan Aloaddin Na 259, Telp. Qa10-86613 Makossat2, Fax (0111)-860132

Nma Mahasiswa

NIM

Junrsan Fakultas

Jrdul Slripsi

PERSETUJUAI\I PEMBIMBING RII\INIATI

K. 10540 568912

Pendidikan Gunr'Sekolah Dasar S1

Tim Penguji skripsi Faku Makassar'.

Keg4rmr dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan

Sembelrjaran Example non Example untuk Kcterampilan Membaca Pemahaman pada

m V SDN No. 105 Inpres

Pa'bundukang f attallasceng Kabupaten Takelar

*tipri

ini dinyatakan telatr diujikan di hadapan

t**pk-

Ugrver$tas Muhammadiyatr

Makassar, Mei 2015

ffitfrd

oleh:

Pembimbing II

'--?.^w^

Dra. Hi. Muliani Azis. M.Si.

Mengetahui

iii

(18)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Kantor: JL Sultan Alauddln No. 259, Telp. (0111)-86613 Makassor2, Fox. (0111)-860132

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi atas nama RINNIATI, NIM. K. 10540 5689 t2 telah diterima dan disahkan

.rleh panitia

ujian

skripsi, Fakultas Keguruan

dan Ilmu

Pendidikan Universitas

\,fuhammadiyah Makassar. Berdasarkan

surat

keputusan

Rektor

Universitas

\{uhammadiyah Makassar Nomor: 040/Tahun 1436ll/2015 M, tanggal 07 Mei 2015 M/18 R.ajab 1436H, sebagai salah satu syarat girna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Sl

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar pada hari Rabu tanggal 13 Mei 2015

Makassar, 24 Raiab 1436 H 13 Mei 2015 M Panitia Ujian :

1.

Pengawas Umum

2.

Ketua

3.

Sekretaris

1.

Dosen Penguji

Dr.II" Irwan Akib, M.Pd.

Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.

Khaeruddin, S.Pd., M.Pd.

2. Andi Adam. S.Pd., M.Pd.

3. Drs. H. M. Amier, S.Pd., M.Pd.

4. Dr. Abdul Munir Kondongan, M.Pd.

:.1..J' ...)

\/

...)

(19)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagai satu lembaga pendidikan formal, sekolah bertanggung jawab untuk mendidik dan menyiapkan murid agar berhasil menyesuaikan diri di masyarakat dan memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya. Sekolah tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan masyarakat dan mempunyai tanggung jawab untuk membantu murid dalam memberikan pelajaran terutama berbahasa dengan baik.

Pengajaran bahasa berusaha untuk mengembangkan perbendaharaan bahasa anak didik atas dasar perbendaharaan bahasa yang telah dimilikinya. Yang dimaksud dengan perbendaharaan bahasa disini bukan hanya jumlah kata dan kalimat saja melainkan keseluruhan kemampuan, kemahiran dan kecakapan bahasa, baik potensial maupun aktual yang dimiliki seorang murid.

Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupannya. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis, dan sistematis. Sunarto (dalam Aqib, dkk, 2010:29). Berkenaan dengan hal tersebut fungsi pengajaran bahasa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan dan meningkatkan kemampuan, keterampilan, teknik bahasa dalam hubungannya dengan kecerdasan akademiknya, kemampuan komunikatifnya, serta sikap yang diperlukan bagi pembangunan nasional.

1

(20)

Keterampilan berbahasa yang dipelajari di sekolah berdasarkan kurikulum meliputi lima aspek, yaitu mendengarkan atau menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan apresiasi sastra. Hal ini menunjukkan bahwa kelima aspek tersebut sangat berperan penting dalam pengajaran suatu bahasa di sekolah. Salah satu diantaranya adalah keterampilan membaca.

Membaca sangat membantu proses belajar menjadi lebih efektif, karena anak akan memperoleh informasi baru dari bacaan yang dibacanya.

Oleh karena itu, dengan adanya perolehan bahasa tersebut maka kemampuan membaca sangat penting dimiliki seseorang, khususnya masyarakat terpelajar, sebab dalam kehidupan bermasyarakat kemampuan ini akan semakin kompleks. Seluruh aktivitas sehari-hari selalu melibatkan kemampuan membaca. Mulai dari tanda-tanda di jalan raya sampai beribu judul buku dan surat kabar yang diterbitkan setiap hari.

Banyaknya informasi ini menimbulkan tekanan bagi para pendidik agar lebih selektif dalam menyiapkan bacaan yang sesuai untuk murid-muridnya. Melihat begitu pentingnya kemampuan membaca bagi murid, maka membaca merupakan modal utama dalam proses belajar. Dengan bekal kemampuan membaca, anak akan memperoleh pengetahuan, serta mempermudah pola pikirnya untuk berpikir lebih kritis.

Melalui pembelajaran membaca, murid diharapkan dapat tanggapan yang tepat pada informasi yang telah dibaca. Selain itu, membaca dapat menjadi kunci pembuka ilmu pengetahuan. Dan dengan kunci tersebut murid akan mampu mendalami berbagai ilmu dan mengambil manfaat sebagai usaha mengoptimalkan tujuan belajar yang sesungguhnya untuk itu, pembelajaran membaca harus dilaksanakan secara terpadu.

(21)

Selama ini pengalaman menunjukkan bahwa pengajaran pemahaman (lanjut) di sekolah dasar cenderung diabaikan. Banyak anggapan pengajaran membaca telah berakhir ketika seorang murid dapat membaca dan menulis permulaan yang dilaksanakan di kelas I dan III sekolah dasar. Pada jenjang yang lebih tinggi pengajaran membaca lanjut belum mendapat perhatian serius, sedangkan bagi murid kelas V seharusnya telah melewati kemampuan recording dan decoding yaitu pada tingkat memahami makna (meaning). Karena kemampuan membaca tidak sekedar menyuarakan bunyi-bunyi bahasa dalam suatu teks bacaan, tetapi membaca melibatkan pemahaman, memahami apa yang dibaca, apa maksudnya dan apa implikasinya. Ketika murid mengalami kesulitan memahami suatu teks bacaan, tugas membaca semakin kompleks. Sebab suatu teks dapat dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan, jika murid dapat memahami isinya.

Pemahaman seseorang terhadap bacaan dapat dipengaruhi berbagai hal, diantaranya adalah kemampuan membaca seseorang itu sendiri, tingkat konsentrasi, perbendaharaan kosa kata, dan sebagainya. Begitu halnya dengan murid, ketiga aspek-aspek di atas sangat mempengaruhi daya pemahamannya. Telah banyak diketahui bahwa penerapan strategi membaca sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman seseorang. Untuk itu dipilihlah penelitian ini sebagai usaha untuk memperbaiki kurangnya kemampuan membaca pemahaman murid, juga sebagai acuan bagi para pendidik khususnya guru agar dapat menyesuaikan bahan yang diberikan pada murid.

Seorang murid sering membaca buku-buku pelajaran dengan cara yang sama senang membaca buku-buku tersebut, dimulai dengan halaman pertama bab dan

(22)

membaca di bagian akhir bab, tanpa henti. Sehingga hal ini dibutuhkan metode yang tepat untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi murid dalam membaca pemahaman.

Berdasarkan hasil observasi awal peneliti di kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar, diperoleh informasi bahwa walaupun murid kelas V semuanya telah memiliki keterampilan membaca yang bersifat mekanis, seperti: pengenalan huruf, pengenalan unsur linguistik, pengenalan hubungan pola ejaan dan bunyi, dan memiliki kecepatan membaca.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia di sekolah tersebut, diperoleh informasi bahwa rata-rata skor hasil belajar Bahasa Indonesia murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar pada saat dilaksanakan ulangan harian semester ganjil tahun ajaran 2014/2015 adalah 61, berada di bawah nilai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan di sekolah tersebut yaitu 70 dari skor ideal 100. Terdapat sekitar 45 persen murid yang masih rendah keterampilan membaca pemahaman. Hal ini ditandai dengan kecenderungan murid membaca dengan bersuara sehingga murid jarang membaca dalam hati (tidak bersuara), dan masih rendah kemampuannya membuat rangkuman bacaan.

Faktor lain yang diduga menjadi penyebab rendahnya pemahaman murid terhadap isi bacaan adalah guru tidak sepenuhnya melakukan kegiatan yang mendukung proses pembelajaran pada saat pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini, ketergantungan guru tehadap penilaian hasil belajar masih tinggi. Sementara itu,

(23)

penilain proses belajar belum dikembangkan secara maksimal. Padahal, idealnya ada keseimbangan antara penilaian proses dan penilaian hasil dalam pembelajaran.

Fakta di atas menuntut guru untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran Membaca Pemahaman. Dalam hal ini diperlukan strategi lain yang tepat untuk digunakan dalam membelajarkan murid pada aspek tersebut. Strategi pembelajaran yang memberi harapan bagi pemecahan masalah tersebut adalah strategi yang memilki ciri (1) mengarahkan guru untuk memperlakukan murid secara individual dan kelompok, (2) adanya interaksi kelas dalam pembelajaran, baik interaksi antara murid, maupun antara guru dan murid,dan (3) menempatkan penilaian proses dan penilaian hasil belajar sebagai hal yang sama pentingnya dalam pembelajaran

Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka perlu dicari solusi yang dapat mengatasi masalah-masalah tersebut, dalam hal ini guru dituntut untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi murid yang memungkinkan murid semakin terlatih/terbiasa dalam membaca. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan dapat menarik minat murid dalam belajar adalah model examples non examples sebagai salah satu usaha untuk memperbaiki rendahnya pemahaman membaca murid.

Model examples non examples ini merupakan strategi untuk pengajaran membaca pemahaman.

Hari Kurniadi (2010 : 1) menyatakan bahwa “Model pembelajaran examples non examples atau biasa juga disebut examples non-examples merupakan model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini disusun dan dirancang agar anak dapat menganalisis gambar

(24)

tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada di dalam gambar”.

Penerapan model pembelajaran examples non examples ini di dalam pembelajaran membaca pemahaman murid dapat meningkat. karena bacaan mudah terserap oleh murid dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Maka peneliti memilih model pembelajaran examples non examples untuk membantu peningkatan keterampilan membaca pemahaman murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.

Alasan utama dipilihnya SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar sebagai objek penelitian karena berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan diketahui bahwa murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar masih mengalami kesulitan dalam memahami isi bacaan. Murid di sekolah baru dapat menjawab pertanyaan atau melakukan tugas membaca pemahaman dengan baik pada tingkatan pemahaman literal. Sementara itu, kemampuan mereka pada tingkatan pemahaman yang lebih tinggi masih rendah. Kesulitan mereka pada tingkatan pemahaman itu ditemui pada beberapa butir pembelajaran membaca pemahaman, yaitu (1) menentukan tema dan ide pokok, (2) menentukan ide penjelas dalam bacaan, dan (3) menyimpulkan isi bacaan. Fakta itu menuntut dilakukannya tindakan dalam pembelajaran Membaca Pemahaman.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis terinspirasi untuk mengkaji melalui penelitian tindakan kelas tentang keterampilan membaca pemahaman, dengan judul

“Penerapan Model Pembelajaran examples non examples untuk Meningkatkan

(25)

Keterampilan Membaca Pemahaman pada Murid Kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka rumusan permasalahan adalah sebagai berikut:

Bagaimanakah penerapan model pembelajaran examples non examples dapat meningkatkan keterampilan membaca pemahaman pada murid kelas V di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar?

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan umum penelitian ini adalah : Untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman melalui penerapan pembelajaran model examples non examples murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar .

D. Manfaat Hasil Penelitian 1. Manfaat Teoretis

Dengan tulisan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang cara-cara melatih pemahaman bacaan dan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar anak.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi murid: Meningkatkan aktivitas belajar murid karena murid dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran.

(26)

b. Bagi Guru: Dapat memperbaiki dan meningkatkan keterampilan Membaca Pemahaman di kelas sehingga permasalahan yang dihadapi oleh murid maupun oleh guru dapat diminimalkan.

c. Bagi Sekolah: Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah serta memberikan masukan dalam mengefektifkan pembinaan dan pengelolaan proses belajar mengajar dalam pelaksanaan pendidikan.

d. Bagi Peneliti: Hasil penelitian dapat menambah pengalaman dan pengetahuan khususnya dalam mencari model pembelajaran yang sesuai dengan keterampuilan Membaca Pemahaman.

7

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Tinjauan Pustaka

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Banyak penelitian terkait dengan model examples non examples yang sudah berhasil, namun penulis mengambil tiga contoh penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagai acuan dalam penulisan proposal ini.

1. Darliani (2012) “Penerapan Model examples non examples Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Dengan Menggunakan Media Suku Kata Di Kelas II SD Negeri 056022 Payaperupuk Kecamatan Tanjung Pura”. Model examples non examples ini dapat meningkatkan keterampilan membaca karena dapat dilihat meningkatnya persentase jumlah murid yang mampu membaca dengan baik murid menjadi senang mengikuti kegiatan berlangsung baik aktifitas mandiri maupun aktifitas kelompok.

2. Ma’rifatus (2012) “Meningkatkan Hasil Belajar Menulis Narasi Ekspositoris Murid Kelas V SD Negeri 5 Gambirono Melalui Model examples non examples”. Berdasarkan hasil penelitian ini, diketahui bahwa model examples non examples mempengaruhi hasil belajar murid hal tersebut dapat dilihat dari ketuntasan belajar murid secara klasikal. Terjadi peningkatan hasil belajar murid yang menunjukkan peningkatan kompetensi belajar murid pula.

9

(28)

3. Setiyarini (2014) “Peningkatan Keterampilan Membaca Lancar dan Melengkapi Cerita Rumpang Melalui Model Cooperative Learning Tipe examples non examples Tema Kegiatan Sehari-hari Murid Kelas II SD 4 Karang Malang”. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar murid kelas II SD 4 Karang Malang Kudus dapat meningkat dan berhasil dengan baik setelah digunakannya model pembelajaran cooperative learning tipe examples non examples.

a. Konsep Keterampilan Membaca

Pengertian keterampilan membaca sampai sekarang sangat banyak jumlahnya. Bentuk, isi, dan sifatnya pun beraneka ragam. Smith dalam Rahim (2006:63) membatasi membaca sebagai suatu proses dengan tujuan tertentu pengenalan, penafsiran, dan penilaian terhadap gagasan yang berkenaan dengan bobot mental atau kesadaran total diri pembaca. Hal ini merupakan suatu proses yang kompleks atau rumit yang tergantung pada perkembangan bahasa pribadi, latar belakang pengalaman, kemampuan kognitif dan sikap terhadap bacaan.

Kemampuan membaca merupakan akibat penerapan faktor tersebut dalam hubungannya dengan upaya mengenali, menginterpretasi, dan mengevaluasi gagasan atau ide dalam bahan tertulis. (Tarigan, 1991: 42) Hal ini sejalan dengan pendapat Subiyakto (1993: 164), yang mengatakan bahwa membaca merupakan suatu aktivitas yang rumit atau kompleks karena sangat bergantung pada tingkat penalaran pembaca dan keterampilan berbahasanya. Dua pandangan tersebut dipertegas lagi oleh Rahim (2006: 17), yang menerangkan bahwa membaca

(29)

efektif melibatkan proses mental yang tinggi. Membaca melibatkan pengingatan kembali, penalaran, penilaian, pembayangan, pengorganisasian, penerapan, dan pemecahan masalah. Membaca yang baik memerlukan berpikir yang baik.

Berkaitan dengan hubungan membaca dengan proses berpikir, Said (2001: 10) menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses berpikir. Tindakan dalam membaca untuk mengenal kata memerlukan interpretasi dari simbol yang tertulis dengan melibatkan proses berpikir dan bernalar. Untuk memahami suatu bacaan dengan sempurna, seorang harus dapat menggunakan semua informasi yang ada untuk membuat simpulan, untuk menyelami maksud penulis, atau juga untuk mengevaluasi gagasan yang disajikan. Semua keterampilan tersebut melibatkan proses berpikir dan bernalar.

Pernyataan pakar tersebut didukung oleh pernyataan Burhan (1980: 73) bahwa membaca lebih dari sekadar mengenali kata-kata untuk memicu ingatan.

Membaca melibatkan respons berpikir yaitu, merasakan dan menentukan kebutuhan, mengidentifikasi suatu pemecahan yang sesuai dengan kebutuhan, memilih cara-cara yang tersedia, bereksperimen dengan pilihan tersebut, menolak ataupun mempertahankan cara yang dipilih, dan menentukan alat untuk mengevaluasi hasilnya.

Tarigan (1995: 23) menyatakan bahwa membaca adalah menyerap huruf atau simbol grafis yang kemudian diubah menjadi ucapan atau proses pengertian dalam otak. Membaca bukan hanya persepsi visual melainkan kemampuan menyerap makna simbol grafis dan kemampuan mereaksi terhadap simbol grafis tersebut. Membaca adalah pengenalan kata dan pemahaman isinya. Sementara itu, Loew (1984: 31)

(30)

menyatakan bahwa membaca adalah suatu proses psikolinguistik kemana pembaca menggunakan kemampuan untuk menyimpulkan arti yang dimaksudkan oleh penulis.

Berbeda dengan pendapat di atas, Miller (dalam Rahim 2006: 20) menegaskan bahwa membaca adalah suatu permainan terkaan interaksi antara pikiran dan bahasa.

Membaca merupakan diskusi jarak jauh antara pembaca dan pengarang, yang di dalamnya terdapat interaksi antara bahasa dan pikiran. Dengan kata lain, pengarang atau penulis menyandikan pikirannya ke dalam bahasa, sedangkan pembaca menguraikan sandi bahasa, tersebut ke dalam pikirannya.

Membaca merupakan suatu proses yang kompleks. Sebagai proses yang kompleks maka dibutuhkan kemahiran pembaca untuk dapat melihat pada seperangkat tanda-tanda grafis dan menangkap pesan yang disampaikan penulis.

Pendapat ini tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Kennedy (dalam Rahim 2003:52), bahwa dalam membaca dibutuhkan kemampuan untuk dapat mengenali bentuk visual, yang menghubungkan bentuk-bentuk itu sehingga dapat ditarik maknanya dan berusaha untuk mengerti dan menginterpretasikan makna tersebut. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam proses membaca terdapat beberapa komponen yaitu komponen pondasi atau dasar, komponen latar belakang, komponen pengenalan, komponen pemahaman, dan komponen penggunaan.

Secara rinci setiap komponen yang dikemukakan oleh Kennedy, dapat diuraikan bahwa komponen dasar atau pondasi terdiri atas kapasitas mental, kemampuan bahasa, dan penyegaran. Komponen yang kedua adalah latar belakang yang terdiri atas pengetahuan langsung dan pengetahuan tidak langsung atau

(31)

terwakili, sedangkan kategori diskriminasi, asosiasi, penerimaan dan reproduksi dikategorikan sebagai komponen pengenalan. Komponen yang keempat adalah pemahaman yang terdiri atas kemampuan membedakan, interpretasi, penerimaan, dan pengungkapan, sedangkan komponen yang terakhir adalah penggunaan yang terdiri atas reaksi terhadap konsep atau ide, integrasi dan pemahaman terhadap fakta, serta penilaian terhadap konsep yang ada.

Pandangan yang agak berbeda dikemukakan oleh Hardjono (1998: 49) bahwa membaca merupakan aktivitas komunikatif, yang di dalamnya terdapat hubungan timbal balik antara si pembaca dan isi bacaan atau teks tersebut. Selanjutnya, dijelaskan bahwa membaca tidak hanya satu aktivitas mentransfer teks tertulis ke dalam bahasa lisan, tetapi lebih ditekankan pada aktivitas yang komunikatif dan dalam proses tersebut terjadi hubungan fungsional dan multidimensi.

Dengan mempertimbangkan bahasan terhadap berbagai pengertian atau definisi membaca seperti yang telah dipaparkan, dapat dikemukakan beberapa aspek mendasar yang dapat disepakati. Pertama, membaca merupakan kegiatan berinteraksi dengan bahasa yang telah dituangkan dalam bentuk bahasa tulis. Kedua, hasil interaksi dengan bahasa tulis berupa pemahaman. Ketiga, kemampuan membaca berkaitan erat dengan kemampuan berbahasa lisan. Keempat, membaca merupakan suatu proses yang aktif dan berkelanjutan yang secara langsung dipengaruhi oleh interaksi antara individu dengan lingkungannya.

Berdasarkan pandangan tersebut, hakikat keterampilan membaca diartikan sebagai kecekatan seseorang dalam hubungannya dengan pendayagunaan semua fungsi mental kognitifnya untuk memahami berbagai lambang atau simbol bahasa

(32)

(seperti kata, frasa, kalimat) yang terdapat pada bacaan atau teks bahasa Indonesia, dengan tepat, baik secara tersurat maupun tersirat. Pemahaman yang tepat tersebut dibuktikan dengan adanya kesamaan antara maksud penulis dengan interpretasi yang dilakukan oleh pembaca.

b. Peningkatan Keterampilan Membaca

Mengembangkan serta meningkatkan keterampilan membaca para pelajar maka sang guru mempunyai tanggung jawab berat, paling sedikit enam hal utama, yaitu:

1. Memperluas pemahaman para pelajar sehingga mereka akan memahami keadaan dan seluk beluk kebudayaan.

2. Mengajarkan bunyi-bunyi bahasa dan makna kata-kata baru 3. Mengajarkan hubungan bunyi bahasa dan lambang atau symbol

4. Membantu para pelajar memahami struktur-struktur (termasuk struktur kalimat yang biasanya tidak begitu mudah bagi para pelajar bahasa).

5. Mengajarkan keterampilan-keterampilan pemahaman kepada para pelajar.

6. Membantu para pelajar untuk meningkatkan kecepatan dalam membaca

c. Tujuan dan jenis-jenis membaca 1. Tujuan membaca

Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi memahami makna bacaan. Makna atau meaning erat sekali hubungannya dengan tujuan atau intensif kita dalam membaca

(33)

Seseorang melakukan aktifitas membaca agar dapat memberi respons yang akurat terhadap berbagai sumber informasi yang disampaikan penulis melalui bacaan. Adapun informasi tersebut dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu:

1. Informasi grafofonik, yakni informasi yang menyangkut hubungan antara lambang-lambang grafis dan bunyi bahasa

2. Informasi sintaksis, yakni informasi yang berkenaan dalam hal-hal implicit didalam struktur gramatikal bahasa.

3. Informasi semantic, yakni informasi yang mengarah pada terpenting yang merupakan esensi membaca, yakni pemahaman makna.

Selain yang dikemukakan diatas Ada juga pendapat yang mengatakan tujuan membaca meliputi sebagai berikut:

a. Mendapat alat tertentu yaitu membaca untuk tujuan memperoleh sesuatu yang bersifat praktis , cara membuat masakan, cara membuat topi dan sebagainya.

b. Mendapat hasil yang berupa prestise, yaitu membaca dengan tujuan ingin mendapat rasa lebih dibanding dengan orang lain dalam lingkungan pergaulannya.

c. Memperkuat nilai-nilai pribadi atau keyakinan misalnya membaca untuk mendapat kekuatan keyakinan, pada partai politik yang kita anut, memperkuat keyakinan agama mendapat nilai-nilai baru dari sebuah buku filsafat dan sebagainya.

(34)

d. Membaca untuk menghindarkan diri dari kesulitan, ketakutan atau penyakit tertentu.

2. Jenis-jenis membaca

a. Membaca nyaring adalah suatu aktifitas atau kegiatan yang merupakan alat bagi guru, murid atau pembaca bersama-sama dengan orang lain atau pendengar untuk menangkap serta memahami informasi, pikiran dan perasaan seorang pengarang

b. Membaca dalam hati yaitu, kita hanya mempergunakan ingatan visual yang melibatkan pengaktifan mata badan ingatan untuk memperoleh informasi. Secara garis besar membaca dalam hati terbagi atas:

1. Membaca eksentif, yaitu membaca secara luas obyeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin.

2. Membaca eksentif terdiri dari: membaca survey yaitu meneliti terlebih dahulu apa-apa yang kita telaah, membaca sekilas yaitu sejenis membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi atau penerangan, membaca dangkal yang bersifat luaran yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan.

Membaca supercifical ini biasanya dilakukan bila kita membaca demi kesenangan, membaaacaaa ringan yang mendatangkan kebahagiaan di waktu senggang, misalnya cerita pendek, novel ringan dan sebagainya.

(35)

3. Membaca intensif adalah suatu studi seksama telaah teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan didalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari.

Termasuk dalam kelompok membaca intensif ialah:

a. Membaca telaah isi. Membaca telaah isi bacaan menuntut ketelitian, pemahaman, kekritisan berpikir, serta keterampilan menangkap ide-ide yang tersirat dalam bahan bacaan. Jenis membaca ini terdiri atas: membaca teliti, Membaca Pemahaman, membaca kritis dan membaca ide.

b. Membaca cepat, yaitu membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaannya.

c. Membaca pelan dan membaca garis besarnya saja d. Proses Membaca

Proses membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi otak manusia. Secara teoritis membaca adalah suatu proses rumit yang melibatkan aktifitas auditif dan Vsual, untuk memperoleh makna dari symbol berupa huruf atau kata.

Membaca pada dasarnya mengomonikasikan formulasi pesan yang ditentukan oleh system bahasa dan system lambing yang terdapat didalam suatu lambang. Pada waktu membaca terjadi proses mental meskipun hanya kita yang berperan. Proses mental dimaksudkan berupa penafsiran kode-kode sehingga mampu memahami apa yang dibaca. Proses membaca dapat pula dilihat sebagai proses komunikasi. Didalam proses komunikasi tertulis terdapat komponen-komponen berupa sumber pesan

a. m e m b a c a

t e l a a h

b

(36)

berupa tulisan, kode atau symbol, pembaca dan proses pemahaman. Yap (1978:110) menggambarkanb proses membaca sebagai proses komunikasi.

Adapun aktifitas membaca meliputi dua proses yaitu: proses membaca teknis dan proses memahami bacaan.

Proses membaca teknis adalah suatu proses pemahaman hubungan antara huruf dengan bunyi atau suara dengan mengubah symbol-simbol tertulis berupa huruf atau kata menjadi system bunyi. Proses ini disebut sebagai pengenalan kata.

Proses memahami bacaan merupakan kemampuan anak untuk menangkap makna kata yang tercetak. Pada waktu melihat tulisan. Penguasaan kosakata sangat penting dalam memahami kata-kata dalam bacaan.

e. Membaca Pemahaman

Setelah diuraikan beberapa pandangan tentang hakikat keterampilan membaca, berikut dijelaskan pengertian tentang pemahaman. Hal ini penting, mengingat esensi membaca pada hakikatnya adalah pemahaman terhadap isi bacaan.

Kata pemahaman atau comprehensiaon diartikan sebagai penafsiran atau penginterpretasian pengalaman; menghubungkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahui; menemukan jawaban atas pertanyaan kognitif dalam bacaan.

Sementara itu, Tarigan (1995:43) menjelaskan bahwa pemahaman merupakan proses pembentukan interpretasi atau pembentukan pengertian. Lebih lanjut diungkapkan bahwa proses pemahaman dapat dibedakan menjadi dua yang disebut dengan construction process dan utilization process. Proses pertama adalah pembentukan pengertian yang berdasarkan atas kalimat yang diperoleh (dibaca) dari bacaan,

17

(37)

sedangkan proses kedua adalah proses bagaimana pengertian yang telah dibentuk itu dipakai sebagai tindak lanjut (aplikasi) dari pengertian yang diperoleh.

Pendapat lain mengenai Membaca Pemahaman juga dikemukakan oleh Asrori, (1998:68) bahwa membaca merupakan aktiVtas memahami arti dalam suatu bahasa melalui tulisan atau bacaan. Apabila diperhatikan, pendapat tersebut menekankan dua hal pokok, yaitu bahasa dan simbol grafis. Hanya orang yang telah menguasai bahasa dan simbol grafislah yang dapat melakukan kegiatan Membaca Pemahaman. Hal ini adalah wajar, sebab serangkaian informasi dalam bacaan disampaikan penulis melalui tulisan. Lebih lanjut dikatakan bahwa proses memahami pesan itu berlapis, interaktif, dan terjadi proses pembentukan dan pengujiaan hipotesis. Pesan digali melalui lapisan makna yang terdapat di dalam teks tersebut, pembaca membuat dan menguji hipotesis. Hasil dari pengujian hipotesis dapat dipakai sebagai dasar untuk menarik simpulan bagi pembaca mengenai pesan informasi yang dimaksud dan ingin disampaikan penulis.

Kegiatan pemahaman terjadi apabila terdapat satu ikatan yang aktif antara daya pikir pembaca dengan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman membaca. Karena itu, kemampuan membaca tidaklah semata-mata merupakan kemampuan dalam hal mengartikan sebuah teks perihal kalimat-kalimatnya dan kata- katanya, tetapi juga kemampuan menyadari kebermaknaan dan tujuan informasi dalam diri pembaca.

Analisis terhadap proses pemahaman terhadap isi teks atau bacaan tidak lepas dari kemungkinan penerapan dua konsep pendekatan yang berbeda, yakni pendekatan

(38)

bottom-up dan top-down. Kennedy, (dalam Rahim, 2006:38) Dalam pendekatan

“bottom-up” (dari detail ke keseluruhan), membaca dipandang sebagai suatu proses menguraikan isi (decoding) simbol tertulis, dimulai dari unit yang lebih kecil (huruf) ke unit yang lebih besar (kata, klausa, dan kalimat). Dengan kata lain, pembaca mengunakan strategi untuk menguraikan isi (decode) bentuk-betuk tertulis agar sampai pada makna. Pendekatan ini mendapat kritikan dari Smith berpendapat bahwa membaca sebelutulnya bertolak belakang dengan apa yang dikemukakan dalam pendekatan “bottom-up”. Dengan kata lain, pembaca perlu memahami makna agar bisa mengidentifikasi kata, dan perlu mengenal kata untuk mengetahui huruf.

Pendekatan ini disebut pendekatan dari keseluruhan ke detail (top-down).

Berkaitan dengan kedua pendekatan tersebut, dalam buku yang lain Nunan, (1884:91) menerangkan bahwa pendekatan top-down ini lebih menekankan pada konstruksi makna daripada sekadar penafsiran bentuk sandi bahasa. Interaksi antara pembaca dan teks merupaka inti dari kegiatan membaca karena dalam interaksi ini pembaca akan membawa pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya tentang subjek yang dibacanya. Pembaca juga akan memanfaatkan pengetahuan kebahasaannya, memotifasi minat, dan sikap terhadap isi teks. Dalam pendekatan top-down ini, pembaca tidak lagi menerjemahkan setiap simbol, atau bahkan tiap kata, tetapi akan membentuk hipotesis tentang unsur yang terdapat dalam teks, dan kemudian menggunakan teks tersebut sebagai semacam sampel untuk menentukan betul tidaknya hipotesis yang telah diajukannya.

Namun, kedua pendekatan di atas juga tidak lepas dari kelemahan masing- masing. Kelemahan utama dalam pendekatan bottom-up terletak pada asumsinya

(39)

bahwa inisiatif (pengajuan) proses pemahaman makna dalam tataran yang lebih tinggi, seperti pemanfaatan pengetahuan latar, harus menunggu proses penafsiran (decoding) simbol-simbol sandi bahasa, seperti huruf dan kata, yang berbeda pada proses tataran yang lebih rendah. Di sisi lain, pendekatan top-down kurang memberikan peluang pada proses tataran yang lebih tinggi, seperti pemahaman makna global lewat pemanfaatan pengetahuan latar. Oleh karena itu, Vandoren, (1986:6) mengajukan alternatif model pendekatan inractive-compensatory, yang merupakan integrasi dari kedua pendekatan sebelumnya. Dalam pendekatan ini, pembaca akan memproses teks dengan memanfaatkan semua informasi yang tersedia secara simultan dari berbagai sumber, yang meliputi pengetahuan fonologis, leksikal, sintaksis, maupun pengetahuan tentang wacana itu sendiri.

Sebenarnya masih banyak keterampilan lain yang disebut apresiasi.

Keterampilan memuntut seluruh dimensi kognitif yang terdapat keterampilan lain yang sudah disebut di atas. Apresiasi melibatkan benturan psikologis dan estetis yang terdapat pada teks bacaan, sehingga mencakup pengetahuan dan tanggapan emosiaonal terhadap struktur, gaya, bentuk, dan teknik penulisan. Dalam praktik, keterampilan ini jarang dilatihkan kecuali untuk telaah karya sastra pada mahamurid tingkat lanjut. Jadi, keterampilan Membaca Pemahaman yang umumnya dilatihkan hanya meliputi pemahaman literal, penyusunan kembali (reorganisasi) atau penafsiran kembali (reinterpretasi), pemahaman inferensial, dan evaluasi.

Berbeda dengan pendapat terdahulu, Daves (1982:167) membuat taksonomi dan rincian aktivitas membaca ke dalam empat kategori, yaitu; (1) acuan langsung

(40)

(direct reference); kategori ini diklasifikasikan lagi menjadi (a) kemampuan memahami arti kata, istilah/ungkapan; (b) kemampuan menangkap informasi dalam kalimat; dan (c) kemampuan menjelaskan istilah; (2) menyimpulkan (inference);

kategori ini diklasifikasikan menjadi; (a) kemampuan menemukan hubungan suatu ide; (b) kemampuan menagkap isi bacaan, baik tersurat maupun tersirat; (3) dugaan (supposition); kategori ini diklasifikasikan menjadi: (a) kemampuan dalam menduga pesan yang terkandung dalam bacaan; (b) kemampuan menghubungkan isi teks dengan situasi komunikasi; dan (4) penilaian (evaluation); kategori ini diklasifikasikan menjadi: (a) kemampuan menilai isi teks bacaan/ bahasa yang dipergunakan dalam bacaan; (b) kemampuan menilai ketepatan organisasi bacaan;

(c) kemampuan menilai ketepatan dalam mengungkapkan informasi.

Berpijak pada beberapa pengertian dan pemaparan konsep teoretik di atas hakikat keterampilan Membaca Pemahaman dapat disimpulkan sebagai suatu kecekatan pembaca (dalam hal ini murid) dalam mendayagunakan seluruh fungsi kognitif/mentalnya untuk memahami lambang/simbol bahasa tertulis seperti kata, frase, kalimat yang terdapat dalam bacaan, baik secara tersurat (pemahaman literal) maupun tersirat (pemahaman interpretatif, kritis, kreatif) dengan tepat.

Dalam kegiatan Membaca Pemahaman, pembaca akan melibatkan dirinya secara aktif dalam bacaan, mengolah informasi visual dan nonvisual, serta merekonstruksikan isi tersurat dan tersirat apa-apa yang terkandung dalam bacaan.

Membaca Pemahaman melibatkan beberapa kemampuan, seperti kemampuan linguistik, psikologis, perseptual. Dalam kaitamnya dengan kajian penelitian ini, pemahaman yang dinilai mencakupi: (1) pemahaman literal, (2) pemahaman

(41)

interpretatif, (3) pemahaman kritis, dan (4) pemahaman kreatif. Sementara itu, aspek yang diukur dari setiap pemahaman di atas dikembangkan peneliti dengan bersumber pada teori atau konsep yang telah dipaparkan.

Membaca Pemahaman ada beberapa aspek penting dalam penilaian membaca adalah pemahaman isi bacaan. Adapun alat ukur yang paling tepat digunakan untuk menguji kemampuan membaca murid SD, yaitu tes pemahaman kalimat dan tes pemahaman wacana. Tes membaca dimaksudkan untuk mengukur kemampuan dalam memahami suatu bacaan

1. Macam-macam Tes kemampuan membaca

Beberapa jenis tes yang dapat dimanfaatkan untuk mengukur kemampuan membaca yaitu:

a. Tes Cloze

Tes cloze dapat dimanfaatkan untuk penilaian tingkat keterbacaan dan tingkat kesulitan teks, penilaian kemampuan Membaca Pemahaman. Penelaahan kendala-kendala yang ada alam teks, penilaian kelancaran berbahasa, dan penilaian efektifitas pengajaran.

b. Teknik meringkas

Untuk mengukur kemampuan pemahaman baik lisan maupum tulisan c. Tes meringkas

Untuk mengukur kemampuan pemahaman testi yang bersifat global, sebab tes ini banyak melibatkan schemata dalam sebuah teks. Tes ini menuntut testi

(42)

untuk dapat memahami secara rinci dan mengungkapkan kembali pemahamannya secara ringkas

d. Tes Subjektif

Merupakan tes yang banyak digunakan dalam mengukur kemampuan membaca. Tes subjektif yang dimaksud adalah tes jawabannya berupa uraian dan penyekorannya dilakukan dengan mempertimbangkan benar salahnya uraian yang diberikan testi.

e. Tes objektif

Tes objektif adalah tes yang cara pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif yang dilakukan dengan cara mencocokkan kunci jawaban dengan hasil pekerjaan testi. Tes ini terdiri atas butir-butir tes yang dapat dijawab dengan sepatah atau beberapa patah kata atau memilih alternative jawaban yang telah disediakan. Tes objektif memungkinkan testi untuk menjawab banyak pertanyaan dalam waktu yang relative singkat. Sehingga bahan atau materi yang diajukan dapat menjangkau sebagian besar bahan yang akan diujikan. Tes objektif dapat dibedakan menjadi 4 (empat) macam, yaitu: penyempurnaan, benar salah, penjodohan, dan pilihan ganda.

1. Para murid membagi tugas dan berbagai tanggung jawab di antara para anggota kelompok.

2. Para murid diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang ikut berpengaruh terhadap evaluasi kelompok.

(43)

3. Para siwa berbagai kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

4. Setiap murid akan diminta mempertanggung jawabkan secara individu meteri yang ditangani dalam kelompok.

Belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang tediri atas empat atau enam orang murid, dalam keterampilan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri atas campuran atas keterampilan murid, jenis kelamin dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih murid menerima perbedaan dan bekerja sama dengan teman yang berbeda latar belakang.

2.Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif

Rusman (2010:202) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran kelompok yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan para ahli pendidikan untuk digunakan. Slavin (1995) mengemukakan dua alasan, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar murid sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan

(44)

kebutuhan murid dalam belajar berpikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Dari dua alasan tersebut, maka pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan.

Istilah model dapat diartikan sebagai tampilan grafis, prosedur kerja yang teratur dan sistematis, serta mengandung pemikiran bersifat uraian atau penjelasan berikut saran. Uraian atau penjelasan menunjukkan bahwa suatu model disain pembelajaran menyajikan bagaimana suatu pembelajaran dibangun atas dasar teori- teori belajar, pembelajaran, psikologi, komunikasi, sistem, dan sebagainya. Tentu saja semua mengacu pada bagaimana penyelenggaraan proses belajar dengan baik.

Sebagai saran, disain pembelajaran mengandung aspek bagaimana sebaiknya pembelajaran diselenggarakan atau diciptakan melalui serangkaian prosedur serta penciptaan lingkungan belajar. Selain itu, desain pembelajaran terdiri atas kegiatan- kegiatan yang perlu dilaksanakan untuk suatu proses belajar.

Pembelajaran tidak diartikan sebagai sesuatu yang statis, melainkan suatu konsep yang bisa berkembang seirama tuntutan kebutuhan dengan hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu dan teknologi yang melekat pada wujud pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Pada dasarnya seorang guru tidak hanya melahirkan daya tarik yang membangun semangat anak didik dari aspek pribadi semata. Namun, seorang guru juga harus mampu

mendesain suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi semua anak didik.

Hal yang penting dalam model pembelajaran kooperatif adalah bahwa murid dapat belajar dengan cara bekerja sama dengan teman. Bahwa teman yang

(45)

lebih mampu dapat menolong teman yang lemah. Dan setiap anggota kelompok tetap memberi sumbangan pada prestasi kelompok. Para murid juga mendapat kesempatan untuk bersosialisasi.

b. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples

Hari Kurniadi (2010 : 1) “model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples atau juga biasa disebut examples and non-examples adalah model yang menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong murid untuk belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan”.

Hari Kurniadi (2010 : 2) menyatakan bahwa “Penggunaan model pembelajaran examples non examples ini lebih menekankan pada konteks analisis murid. Biasanya lebih dominan digunakan di kelas tinggi, dapat juga digunakan di kelas rendah dengan menekankan aspek psikologis dan tingkat perkembangan murid kelas rendah seperti; kemampuan berbahasa tulis dan lisan, kemampuan analisis ringan, dan kemampuan berinteraksi dengan murid lainnya”.

Buehl (dalam Hary Kurniadi, 2010: 1) “Model pembelajaran examples non examples menggunakan gambar dapat melalui OHP, Proyektor, ataupun yang paling sederhana adalah poster. Gambar yang kita gunakan haruslah jelas dan kelihatan dari jarak jauh, sehingga anak yang berada di belakang dapat juga melihat dengan jelas”.

(46)

Buehl (dalam Hary Kurniadi, 2010: 5) menyatakan bahwa “Model pembelajaran examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan defenisi konsep”.

Jadi, examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.

Dengan memusatkan perhatian murid terhadap examples dan non examples diharapkan akan dapat mendorong murid untuk menuju pemahaman yang lebih dalam mengenai materi yang ada.

Menurut Buehl (dalam http://sirakbarkurniawan.blogspot.com) keuntungan dari model pembelajaran examples non examples antara lain:

1) Murid berangkat dari satu defenisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.

2) Murid terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari examples non examples.

3) Murid diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non examples yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian examples.

Adapun kekurangan Model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples adalah:

(47)

1) Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.

2) Memakan waktu yang lama.

Tennyson dan Pork (dalamhttp://sirakbarkurniawan.blogspot.com) menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan, yaitu:

1) Urutkan contoh dari yang gampang ke yang sulit.

2) Pilih contoh-contoh yang berbeda satu sama lain.

3) Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh.

Berdasarkan hal di atas, maka penggunaan model examples non examples pada prinsipnya adalah upaya untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada murid untuk menemukan konsep pelajarannya sendiri melalui kegiatan mendeskripsikan pemberian contoh dan bukan contoh terhadap materi yang sedang dipelajari.

c. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples

Adapun Langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples seperti dikutip dalam http:/raharjo.wordpress.com adalah:

1) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2) Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP/in focus.

(48)

3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar.

4) Melalui diskusi kelompok 4-5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.

5) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.

6) Mulai dari komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai

7) Kesimpulan.

B. Kerangka Pikir

Membaca merupakan aktivitas memahami arti dalam suatu bahasa melalui tulisan atau bacaan. Proses memahami pesan itu berlapis, interaktif, dan terjadi proses pembentukan dan pengujiaan hipotesis. Pesan digali melalui lapisan makna yang terdapat di dalam teks tersebut, pembaca membuat dan menguji hipotesis. Hasil dari pengujian hipotesis dapat dipakai sebagai dasar untuk menarik simpulan bagi pembaca mengenai pesan informasi yang dimaksud dan ingin disampaikan penulis.

Kegiatan pemahaman terjadi apabila terdapat satu ikatan yang aktif antara daya pikir pembaca dengan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman membaca. Karena itu, kemampuan membaca tidaklah semata-mata merupakan kemampuan dalam hal mengartikan sebuah teks perihal kalimat-kalimatnya dan kata- katanya, tetapi juga kemampuan menyadari kebermaknaan dan tujuan informasi dalam diri pembaca. Sementara itu,kemampuan mereka pada tingkatan pemahaman yang lebih tinggi masih rendah. Kesulitan mereka pada tingkatan pemahaman itu

(49)

ditemui pada beberapa butir pembelajaran Membaca Pemahaman, yaitu (1) menentukan tema dan ide pokok, (2) menentukan ide penjelas dalam bacaan, dan (3) menyimpulkan isi bacaan. Fakta itu menuntut dilakukannya tindakan dalam pembelajaran Membaca Pemahaman.

Model pembelajaran examples non examples menuntut pro aktif murid dalam memahami konsep materi pelajaran melalui serangkaian kegiatan mengamati hal-hal tertentu yang menjadi fokus materi pelajaran dan kemudian coba dideskripsikan oleh murid melalui pemberian contoh-contoh yang relevan dan membandingkannya dengan yang bukan contoh dari materi pelajaran. Dengan demikian diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples pada pembelajaran keterampilan membaca pemahaman murid kelas V di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dapat ditingkatkan, karena pembelajaran ditekankan pada aspek guru, dan guru tidak lagi memonopoli proses pembelajaran, tetapi ada keterlibatan aktif dari murid itu sendiri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

(50)

Gambar 2.1. Skema Kerangka Pikir

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka hipotesis tindakan pada penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Melalui model pembelajaran kooperatif tipe examples non examples, maka keterampilan membaca pemahaman murid Kelas V di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dapat meningkat.

Kondisi Awal

Guru:

Cara penyajian materi yang kurang menarik, hanya berceramah terus.

Murid:

Keterampilan membaca pemahaman rendah

Menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples.

Kondisi akhir Tindakan

Keterampilan Membaca Pemahaman

Meningkat

Siklus I

Siklus II KTSP 2006

(51)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian tindakan kelas (PTK).

Hal ini sesuai dengan pendapat Sanjaya (2010: 26) menyatakan bahwa PTK diartikan sebagai pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.

Secara singkat penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai proses pengkajian dari berbagai kegiatan pembelajaran, yang bertujuan bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan solusi berupa tindakan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut.

B. Fokus Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar pada murid kelas V, yang difokuskan pada dua aspek yaitu:

1. Penerapan model examples non examples dalam pembelajaran Membaca Pemahaman untuk meningkatkan kerjasama dan keaktifan belajar murid sehingga mampu meningkatkan motivasi serta hasil belajarnya.

33

(52)

2. Hasil belajar murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Hasil belajar tersebut merupakan implikasi dari kegiatan belajar yang berupa terjadinya perubahan pengetahuan atau kognitif serta keterampilan dan sikap murid setelah terjadinya proses pembelajaran.

C. Setting dan Subjek Penelitian 1. Setting Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Alasan pemilihan sekolah ini sebagai lokasi penelitian karena sekolah tersebut belum pernah digunakan sebagai tempat (objek) dalam penelitian, selain itu juga berdasarkan dari hasil observasi peneliti di lapangan, terdapat permasalahan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Sehingga penelitian ini dilaksanakan di ruang kelas V.

2. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas V serta semua murid kelas V SDN No. 105 Inpres Pa’bundukang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar dengan jumlah murid sebanyak 24 orang murid yang terdiri dari 13 orang laki-laki dan 11 orang perempuan. Tindakan ini dilakukan oleh guru kelas V sedangkan peneliti sendiri bertindak sebagai observer.

(53)

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terbagi dalam dua siklus dengan empat tahapan yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan/observasi dan refleksi sebagaimana yang ditunjukkan gambar berikut:

Gambar 3.2. Model Penelitian Tindakan Kelas (Supardi;2006) Penelitian tindakan kelas ini dibagi kedalam dua siklus, yaitu:

1. Siklus I berlangsung selama 2 minggu (3 kali tatap muka) 2. Siklus II berlangsung selama 2 minggu (3 kali tatap muka)

Sesuai dengan hakekat penelitian tindakan kelas, siklus II merupakan perbaikan siklus I selanjutnya secara terperinci penelitian tindakan kelas ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

PERENCANAAN SIKLUS 1 OBSERVASI/EVALUASI

REFLEKSI PELAKSANAAN

SIKLUS 2 PERENCANAAN

REFLEKSI PELAKSANAAN

OBSERVASI/EVALUASI

SIKLUS N

Gambar

Tabel 3.1 Kategori Keberhasilan...............................................................
Tabel 4.10 Hasil Observasi Keterampilan Membaca Pemahaman Siklus II 63 Tabel 4.11 Persentasi pencapaian hasil belajar membaca pemahaman
Gambar Halaman
Gambar 2.1. Skema Kerangka Pikir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Forum Musyawarah Produksi Gula Wilayah yang selanjutnya disebut FMPW adalah wadah yang beranggotakan petani tebu dan instansi terkait dalam merencanakan kegiatan

[r]

 Siswa dapat mengakui adanya Allah swt melalui ciptaan alam semesta raya dan seisinya melalui dalil aqli  Siswa dapat. mengenal Allah melalui keindahan alam semesta

Aktivitas biologi dan isolasi senyawa flavonoid Dari ekstrak etil asetat kayu akar nangka (artocarpus heterophyllus lamk).. 1 Waktu dan

Keasaman air atau nilai pH nya sangat mempengaruhi apakah jumlah amonia yang ada akan bersifat racun atau tidak.Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui kandungan Amonia

RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM YANG TERSEDIA UNTUK RISIKO KREDIT. DAN RISIKO PASAR (VI : IX)

Sosialisasi pada anak: pengenalan istilah gizi, mewarnai, menyanyi, dan games Kerjasama Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini dan Ilmu Komunikasi membahas permasalahan

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, dibuatlah denah dengan citra 3 dimensi tentang gedung atau bangunan yang ada di UMP untuk memudahkan dalam penerimaan informasi.