KATA PENGANTAR
Seraya memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya Modul Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Terpadu untuk Pelatihan Teknis Dasar I bidang pengembangan wilayah dapat diselesaikan dengan baik.
Modul Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Terpadu ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dan pelatihan di bidang pengembangan infrastruktur wilayah. Pelatihan Teknis Jabatan Dasar I Pengembangan Infrastruktur Wilayah yang diselenggarakan merupakan persyaratan jabatan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya di Badan Pengembangan Wilayah (BPIW) dan secara umum untuk ASN Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Namun demikian, peserta dapat berasal dari kalangan ASN pada Satuan Kerja Pemerintah Daerah meskipun tidak menjadi persyaratan teknis jabatan.
Modul Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Terpadu ini disusun dalam 5 (lima) bab yang terdiri dari Pendahuluan, Materi Pokok, dan Penutup.
Penyusunan modul yang sistematis dan disampaikan dalam bahasa yang jelas diharapkan mampu mempermudah peserta pelatihan dalam memahami segala kebutuhan terkait pengembangan infrastruktur wilayah.
Akhirnya, ucapan terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada tim penyusun atas usaha dan kerja kerasnya yang dicurahkan untuk mewujudkan pelatihan ini. Penyempurnaan maupun perubahan di masa mendatang senantiasa terbuka dan dimungkinkan mengingat akan perkembangan situasi, kebijakan dan peraturan yang terus menerus terjadi. Harapan kami tidak lain pelatihan ini dapat memberikan manfaat.
Bandung, Desember 2017
Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Jalan, Perumahan, Permukiman, dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... I DAFTAR ISI ... II DAFTAR GAMBAR ... IV DAFTAR TABEL ... V PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL ... VI
Deskripsi ...vi
Persyaratan ...vi
Metode ... vii
Alat Bantu/Media ... vii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 2
Kompetensi Dasar ... 2
Tujuan Pembelajaran ... 3
Materi dan Submateri Pokok ... 3
Estimasi Waktu ... 4
BAB 2 PENGANTAR PERENCANAAN INFRASTRUKTUR TERPADU ... 5
Indikator keberhasilan ... 6
Pengertian Perencanaan Terpadu ... 6
Pengertian Infrastruktur Terpadu ... 8
Lingkung Perencanaan Infrastruktur terpadu ... 9
Latihan ... 12
Rangkuman ... 12
BAB 3 ANALISIS KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR PUPR DAN NON PUPR ... 14
Indikator Keberhasilan ... 15
Permasalahan dan Isu Strategis Infrastruktur ... 15
Peran dan Fungsi Infrastruktur ... 17
Infrastruktur Bidang PUPR ... 21
Infrastruktur Bidang Non PUPR ... 37
Keterkaitan Pengembangan Infrastruktur PUPR dengan Infrastruktur Non PUPR ... 59
Latihan ... 65
Rangkuman ... 66
BAB 4 PENYUSUNAN MASTER PLAN ... 67
Indikator keberhasilan ... 68
Proses Penyusunan Master Plan ... 68
Cara Menentukan Kebutuhan dan Kelayakan Pengembangan Infrastruktur Wilayah ... 78
Cara Menentukan Strategi Pengembangan Infrastruktur Wilayah ... 86
Contoh Laporan Penyusunan Master Plan ... 89
Latihan ... 95
Rangkuman ... 95
BAB 5 PENUTUP... 97
Simpulan ... 98
Tindak Lanjut... 98
DAFTAR PUSTAKA ... 99
GLOSARIUM ... 102
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Sistem Jaringan Jalan Primer ... 29
Gambar 2 Sistem Jaringan Jalan Sekunder... 30
Gambar 3 Skema Jaringan Air Minum ... 31
Gambar 4 Skema Sistem Pengelolaan Sampah ... 34
Gambar 5 Skema Sistem Tenaga Listrik ... 51
Gambar 6 PLTMH ... 52
Gambar 7 PLTA ... 52
Gambar 8 PLTU ... 53
Gambar 9 PLTG ... 53
Gambar 10 PLTGU ... 54
Gambar 11 PLTP ... 54
Gambar 12 PLTD ... 55
Gambar 13 PLTN ... 55
Gambar 14 PLTS ... 56
Gambar 15 Ilustrasi Network Infrastructure Conectivity... 62
Gambar 16 Jalur Rencana Pelabuhan Hub dan Pelabuhan Feeder ... 65
Gambar 17 Skema Pengerjaan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) ... 74
Gambar 18 Proses Penyusunan Pengembangan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) ... 75
Gambar 19 Skema Penyusunan Rencana Pengembangan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) ... 76
Gambar 20 Wilayah Pengembangan Strategis ... 81
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kelas Jalan Kereta Api ... 41
Tabel 2 Jenis ANgkutan Sungai Tradisional dan Modern ... 44
Tabel 3 Cakupan Wilayah PT. Pelindo ... 48
Tabel 4 Pembangunan Jaringan Gas Kota ... 58
Tabel 5 Rencana Pembangunan Jaringan Gas Tahun 2015-2019 ... 58
Tabel 6 Perusahaan Pemasok Jaringan Gas Kota ... 59
Tabel 7 Contoh Ultimate Goals ... 82
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL
Deskripsi
Modul Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Terpadu terdiri dari tiga kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar pertama membahas Pengantar Perencanaan Infrastruktur Terpadu dengan submateri: pengertian perencanaan terpadu, pengertian infrastruktur terpadu, dan lingkup perencanaan infrastruktur terpadu. Kegiatan belajar kedua membahas Analisis Kebutuhan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR, dengan pembahasan mengenai peran dan fungsi infrastruktur, infrastruktur bidang PUPR, infrastruktur bidang non-PUPR, serta keterkaitan pengembangan infrastruktur PUPR dengan infrastruktur non- PUPR. Kegiatan belajar ketiga membahas Proses Penyusunan Master Plan, dengan submateri: tahap penyusunan master plan, cara menentukan kebutuhan dan kelayakan pengembangan infrastruktur wilayah, serta cara menentukan strategi pengembangan infrastruktur wilayah.
Peserta pelatihan mempelajari keseluruhan modul ini dengan cara yang berurutan. Pemahaman setiap materi pada modul ini sangat diperlukan karena materi ini menjadi dasar pemahaman sebelum mengikuti pembelajaran modul- modul berikutnya. Hal ini diperlukan karena masing-masing modul saling berkaitan. Setiap kegiatan belajar dilengkapi dengan latihan atau evaluasi.
Latihan atau evaluasi ini menjadi alat ukur tingkat penguasaan peserta pelatihan setelah mempelajari materi dalam modul ini.
Persyaratan
Dalam mempelajari modul ini peserta pelatihan dilengkapi dengan peraturan perundangan yang terkait dengan materi dalam modul ini, antara lain:
1. Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
2. Undang-Undang No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan;
3. Undang-Undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
4. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan;
5. Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan Dan Kawasan Permukiman;
6. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2008, Tentang: Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
7. Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
8. Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Dan Sampah Sejenis;
9. Peraturan Presiden No. 2 tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019.
Metode
Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, metode yang dipergunakan adalah dengan kegiatan pemaparan yang dilakukan oleh Widyaiswara, adanya kesempatan tanya jawab, curah pendapat, serta latihan membuat master plan yang dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok.
Alat Bantu/Media
Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran ini, diperlukan alat bantu/media pembelajaran tertentu, yaitu :
1. LCD/projector 2. Laptop
3. Papan tulis atau whiteboard dengan penghapusnya 4. Flip chart
5. Bahan tayang
6. Modul dan/atau Bahan Ajar 7. Laser pointer
BAB 1
PENDAHULUAN
Pendahuluan
Latar Belakang
Pelaksanaan keterpaduan pembangunan infrastruktur di Indonesia dewasa ini belum terlaksana dengan baik dan cenderung mengalami berbagai permasalahan, termasuk dalam rangka pengembangan infrastruktur pada wilayah pengembangan strategis (WPS).
Keterpaduan rencana infrastruktur merupakan suatu kunci agar terciptanya pembangunan kawasan yang berkelanjutan. Permasalahan keterpaduan rencana infrastruktur antara lain belum fokusnya sasaran wilayah/kawasan yang akan didorong pembangunan infrastrukturnya, belum sinergisnya program pembangunan infrastruktur dengan lembaga/instansi yang terkait pengembangan infrastruktur, dan belum efektifnya sistem penganggaran pemerintah dalam pengembangan infrastruktur.
Untuk memecahkan masalah-masalah yang ada maka dilakukan tahap penyusunan rencana pembangunan infrastruktur wilayah terpadu yang disesuaikan dengan potensi dan hakekat wilayah, serta dilakukan analisis yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan suatu wilayah/kawasan. Analisis ini nantinya akan menghasilkan rencana yang terintegrasi, selanjutnya rencana ini menjadi poin penting untuk merumuskan program dan pembiayaan dalam pengembangan infrastruktur yang terpadu pada suatu wilayah/kawasan..
Kompetensi Dasar
Mata pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai penyusunan rencana pembangunan infrastruktur wilayah terpadu dalam rangka pengembangan wilayah pengembangan strategis (WPS), melalui materi pengertian dan lingkup perencanaan infrastruktur terpadu, analisis kebutuhan infrastruktur PUPR dan non-PUPR, serta proses penyusunan master plan (rencana pembangunan infrastruktur wilayah terpadu).
Mata pelatihan ini disajikan melalui metode ceramah, curah pendapat, diskusi dan latihan dalam bentuk diskusi kelompok. Keberhasilan peserta dinilai dari
kemampuannya dalam memahami tentang penyusunan Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Terpadu.
Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dari modul ini adalah untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyusun rencana pembangunan infrastruktur terpadu dan program infrastruktur untuk pengembangan wilayah yang berbasis rencana tata ruang yang telah disusun.
1. Kompetensi Dasar
Setelah mengikuti pembelajaran ini para peserta diharapkan mampu memahami dan menjelaskan tentang penyusunan rencana pembangunan infrastruktur wilayah terpadu.
2. Indikator Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta mampu:
1. Menjelaskan tentang perencanaan infrastruktur terpadu
2. Menjelaskan analisis kebutuhan infrastruktur PUPR dan Non PUPR 3. Menjelaskan proses penyusunan master plan
Materi dan Submateri Pokok
Materi dan submateri pokok dalam mata pelatihan ini adalah:
Pengantar Perencanaan Infrastruktur Terpadu, dengan submateri pokok:
1) Pengertian Perencanaan Terpadu 2) Pengertian Infrastruktur Terpadu
3) Lingkup Perencanaan Infrastruktur Terpadu
Analisis Kebutuhan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR, dengan submateri pokok:
1) Permasalahan dan Isu Strategis Infrastruktur 2) Peran dan Fungsi Infrastruktur
3) Infrastruktur Bidang PUPR 4) Infrastruktur Bidang Non PUPR
5) Keterkaitan Pengembangan Infrastruktur PUPR dengan Infrastruktur Non PUPR
Penyusunan Master Plan, dengan submateri pokok:
1) Proses Penyusunan Master Plan
2) Cara menentukan kebutuhan dan kelayakan pengembangan infrastruktur wilayah
3) Cara menentukan strategi pengembangan infrastruktur wilayah Contoh Laporan Penyusunan Master Plan (Jabodetabekpunjur) Estimasi Waktu
Untuk mempelajari mata pelatihan Rencana Pembangunan Infrastruktur Wilayah Terpadu ini, dialokasikan waktu sebanyak 10 (sepuluh) jam pelajaran.
BAB 2
PENGANTAR
PERENCANAAN INFRASTRUKTUR TERPADU
Pengantar Perencanaan Infrastruktur Terpadu
Indikator keberhasilan
Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan pengertian dan lingkup perencanaan infrastruktur terpadu.
Pengertian Perencanaan Terpadu
Perencanaan adalah rangkaian tindakan sistematis yang didasarkan pada kerangka pemikiran tertentu dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi hingga saat ini untuk mencapai tujuan atau penyelesaian persoalan-persoalan di masa datang.
Pengertian perencanaan (planning) dalam https://en.wikipedia.org/wiki/
Planning yaitu:
Planning (also called forethought) is the process of thinking about and organizing the activities required to achieve a desired goal.
It involves the creation and maintenance of a plan, such as psychological aspects that require conceptual skills.
Planning has a specific process and is necessary for multiple occupations (particularly in fields such as management, business, etc.). In each field there are different types of plans that help companies achieve efficiency and effectiveness.
Dengan demikian perencanaan, disebut juga “pemikiran yang mendalam”, adalah proses berpikir dan mengatur aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan memiliki proses yang spesifik dan diperlukan untuk beberapa pekerjaan (terutama di bidang seperti manajemen, bisnis, dll.).
Friedman dalam Robinson (2005:4) mendefinisikan perencanaan sebagai berikut, planning is primarly a way of thinking about social and economic problem, planning is oriented predominantly toward the future, is deeply concerned with the relation of goals to collective decisions and strieves for comprehensiveness in
policy and program”. Menurut Friedman, perencanaan adalah cara berpikir mengatasi permasalahan sosial ekonomi, untuk menghasilkan sesuatu di masa depan. Sasaran yang dituju adalah keinginan kolektif dan mengusahakan keterpaduan dalam kebijakan dan program. Friedman melihat perencanaan memerlukan pemikiran yang mendalam dan melibatkan banyak pihak sehingga hasil yang diperoleh dan cara memperoleh hasil itu dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini berarti perencanaan sosial dan ekonomi (kedua hal tersebut termasuk dalam tujuan pembangunan) harus memperhatikan aspirasi masyarakat dan melibatkan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Di setiap bidang ada berbagai jenis rencana yang membantu institusi/lembaga mencapai efisiensi dan efektivitas.
Dapat disimpulkan bahwa perencanaan terpadu harus mengutamakan aspek keterpaduan, sebagai berikut:
Terpadu berarti ada unsur-unsur yang dipadukan, dimana setiap unsur tentu memiliki keunikan, tetapi ada bagian yang dapat disamakan atau disetarakan dengan unsur lainnya.
Terpadu karena setiap unsur bermuara pada suatu tujuan yang sama.
Pernyataan tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam pendekatan perencanaan pengembangan wilayah/kawasan.
Perencanaan terpadu mengandung 4 (empat) aspek, yaitu:
Pertama, penerapan perencanaan partisipatif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Kedua, mengefektifkan perencanaan pada tataran sektor atau di lingkungan pemerintah daerah.
Ketiga, sinkronisasi national planning maupun regional planning.
Keempat, sinkronisasi planning dengan budgeting.
Kriteria perencanaan terpadu, mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Adanya suatu tujuan bersama
2. Adanya keterkaitan antar sasaran dalam pencapaian tujuan bersama
3. Penerapan multi disiplin keilmuan
4. Terkait dengan multi pemangku kepentingan
5. Terjadinya sikap proaktif pada setiap pemangku kepentingan 6. Keterkaitan antar tahap proyek dalam Siklus Proyek
7. Adanya satu kesatuan wilayah 8. Keterkaitan antar input sumber daya 9. Keterkaitan antar output kegiatan
10. Penerapan pendekatan sistem berkelanjutan
11. Pengelolaan masing-masing unsur secara efisien dan efektif 12. Terjadinya sinergi dalam pengelolaan masing-masing unsur 13. Keterkaitan dalam penyusunan dan antar program
14. Keterkaitan dalam sistem monitoring dan evaluasi 15. Terjadinya koordinasi dan sinkronisasi
16. Penerapan pendekatan holistik (ekosistem) 17. Perhatian pada daya dukung alam
Pengertian Infrastruktur Terpadu 1. Prinsip Keterpaduan
Secara teknis, pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan perkembangan wilayah sekitar, keterpaduan pembangunan secara spatial serta antar sektor, misalnya keterpaduan pelayanan air bersih, drainase, jaringan jalan dsb, ataupun menyangkut wewenang otonomi yang berbeda.
Pengembangan infrastruktur diarahkan untuk menunjang pembangunan wilayah dan kota.
Beberapa kegiatan kota seperti sebagai tempat kerja, tempat tinggal, tempat rekreasi, membutuhkan jenis infrastuktur yang sesuai dengan kegiatan tersebut.
2. Prinsip Muatan Lokal
Karakteristik kota dengan fungsi seperti kota industri; kota pendidikan;
kota jasa, dsb. membutuhkan infrastruktur spesifik yang perlu disesuaikan dengan fungsi kota yang bersangkutan.
Tingginya keaneka-ragaman satu wilayah dengan wilayah lainnya, maka menuntut kepekaan terhadap kondisi lokal dari berbagai wilayah/kota terkait.
pembangunan pada akhirnya diarahkan untuk mensejahterakan seluruh masyarakat, seluruh lapisan maupun strata yang ada di lingkungan masyarakatnya serta diupayakan dapat berlanjut untuk masyarakat pada generasi mendatang (sustainability development).
Prinsip Utama Pembangunan Infrastruktur Terpadu, yaitu:
1. Optimalisasi Penggunaan Dana
Mengoptimasikan penggunaan dana utk pembangunan prasarana dan sarana perkotaan melalui proses keterpaduan program lintas sektoral yang didasarkan pd prioritas daerah.
2. Desentralisasi
Keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah Kabupaten/Kota, pemerintah daerah Provinsi dari tahap perencanaan sampai pembangunan infrastruktur
3. Kesepakatan
Kesepakatan dan komitmen antar pihak-pihak yang terlibat dalam program pembangunan perkotaan yang diusulkan
4. Mobilisasi Sumber Dana
Penggalian dan mobilisasi berbagai sumber dana di daerah Lingkung Perencanaan Infrastruktur terpadu
Apa yang dimaksud dengan “RENCANA INFRASTRUKTUR TERPADU (Integrated Infrastructure Planning)?”
William Gumede dalam Comparative Delivery System, Development Bank of Southern Africa, 2011, menguraikan bahwa :
Infrastruktur terpadu diperlukan untuk mendapatkan keuntungan dari skala ekonomi, memajukan keamanan keseluruhan produk dan layanan infrastruktur, dan meningkatkan daya saing secara keseluruhan
Pendekatan terpadu secara holistik, meliputi kebijakan, institusi, harapan finansial dan sosial, pengelolaan berbagai pemangku kepentingan, serta kemitraan publik-swasta, kombinasi SOE (State- Owned Enterprise)/BUMN / DFI (Development Finance Institution) / publik / swasta, dll.
Mengelola kompleksitas 'crowding-in (keroyokan) dan mengkoordinasikan beberapa pelaku dari sektor publik dan swasta' (Scott, 2008).
Tidak terfokus pada satu proyek secara terpisah, bukan sebagai bagian dari strategi ekonomi atau industri jangka panjang yang lebih luas.
Berbeda dengan penanganan masalah infrastruktur hanya pada saat terjadi krisis.
Memindahkan 'di luar mentalitas proyek untuk membangun jaringan terpadu, handal dan efisien yang mengantisipasi tuntutan masa depan, dan memungkinkan investasi pada infrastruktur baru yang penting secara tepat waktu dan inovatif' (Saha International, 2007).
Karakteristik utama: 'interoperabilitas dan interkonektivitas' (Kukobat, 2010).
Infrastruktur harus di-deliver sebagai 'sistem' yang lengkap.
Integrasi pembangunan infrastruktur PUPR secara khusus ditujukan untuk mendukung 14 kawasan industri prioritas dan 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dimana 3 KSPN ditetapkan sebagai prioritas, 12 kawasan strategis metropolitan, 40 kawasan pedesaan prioritas, 13 provinsi Lumbung Pangan Nasional, dan pengembangan kawasan perbatasan di Kalimantan, NTT, Papua dan 10 PKSN. Dalam kurun waktu 2015- 2019, Kementerian PUPR menargetkan pembangunan 65 bendungan untuk mendukung ketahanan air dan ketahanan pangan meliputi pembangunan lanjutan 16 bendungan yang belum selesai pada 2014 dan 49 bendungan baru.
Untuk mengurangi disparitas antar wilayah, dilakukan rekonstruksi 7 (tujuh) Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di tiga daerah perbatasan Indonesia, yaitu Papua, Kalimantan Barat dan NTT. Pembangunan 7 (tujuh) PLBN dan penataan kawasan disekitarnya sejalan dengan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan arah kebijakan RPJMN 2015-2019 untuk membangun Indonesia dari pinggiran dengan mengembangkan kawasan perbatasan melalui pendekatan keamanan (security) dan peningkatan kesejahteraan (prosperity). Selain merenovasi bangunan utama dan pendukung yang ada di kawasan PLBN tersebut, pemerintah juga menata
What is integrated infrastructure planning?
• Infrastructure integration necessary to benefit from economies of scale, advance the overall security of infrastructure products and services, and increase the overall competitiveness
• Holistically integrated approach: policy, institutions, financial and social expectations, managing diverse stakeholders, public-private partnerships, combinations of SOE/DFI/public/private, etc
• Managing complexities of ‘crowding-in and coordinating multiple role- players from the public and private sectors’ (Scott, 2008)
• Not focusing on one project in isolation, rather than as part of a broader long-term economic or industrial strategy
• As opposed to just addressing infrastructural issues only when in crisis
• Moving ‘beyond a project mentality towards building an integrated, reliable and efficient network that anticipates future demands, and allows for investment in critical new infrastructure in a timely and innovative way’
(Saha International, 2007)
• Key characteristic: ‘inter-operability and inter-connectivity’ (Kukobat, 2010)
• Infrastructure must be delivered as a complete ‘system’
kawasan pemukiman, sanitasi dan membangun pasar sebagai sentra perputaran ekonomi lokal disekitar kawasannya.
Untuk terus meningkatkan layanan infrastruktur dan daya saing Indonesia, Kementerian PUPR melakukan 5 (lima) inovasi utama dalam akselerasi pembangunan infrastruktur, yakni kerangka hukum dan perundangan yang kondusif, inovasi pembiayaan dan pendanaan pembangunan infrastruktur, kepemimpinan yang kuat, koordinasi antar lembaga yang solid, serta penerapan hasil penelitian dan teknologi terbaru.
Latihan
1. Jelaskan pengertian perencanaan terpadu menurut beberapa ahli dan kriteria perencanaan terpadu.
2. Jelaskan prinsip-prinsip dalam pembangunan infrastruktur terpadu, mencakup prinsip keterpaduan, prinsip muatan lokal dan prinsip utama.
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “Rencana Infrastruktur Terpadu (Integrated Infrastructure Planning)?” menurut William Gumede dalam Comparative Delivery System, Development Bank of Southern Africa, 2011.
Rangkuman
Perencanaan berkaitan dengan faktor-faktor produksi atau sumber daya alam yang terbatas, untuk dimanfaatkan mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Untuk itu, perencanaan infrastruktur harus menerapkan prinsip keterpaduan dan prinsip muatan lokal.
Secara teknis, pembangunan infrastruktur harus mempertimbangkan perkembangan wilayah sekitar, keterpaduan pembangunan secara spatial serta antar sektor, misalnya keterpaduan pelayanan air bersih, drainase, jaringan jalan dsb, ataupun menyangkut wewenang otonomi yang berbeda. Pengembangan infrastruktur juga diarahkan untuk menunjang pembangunan wilayah dan kota.
Karakteristik kota dengan fungsi seperti kota industri; kota pendidikan; kota jasa, dsb. membutuhkan infrastruktur spesifik yang perlu disesuaikan dengan fungsi kota yang bersangkutan.
Pembangunan pada akhirnya diarahkan untuk mensejahterakan seluruh masyarakat, seluruh lapisan maupun strata yang ada di lingkungan masyarakatnya serta diupayakan dapat berlanjut untuk masyarakat pada generasi mendatang (sustainability development).
BAB 3
ANALISIS KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
PUPR DAN NON PUPR
Analisis Kebutuhan Infrastruktur PUPR dan Non PUPR
Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan mampu menjelaskan analisis kebutuhan infrastruktur PUPR dan non PUPR.
Permasalahan dan Isu Strategis Infrastruktur
Permasalahan infrastuktur sangat kompleks perlu dipengaruhi dari berbagai macam aspek untuk menyelesaikannya. Permasalahan infrastruktur dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Infrastruktur dan Ekonomi
Permasalahan yang dihadapi bidang Infrastruktur yang berhubungan langsung dengan ekonomi antara lain (1) rendahnya pertumbuhan pembangunan bidang infrastruktur, (2) pertumbuhan bidang Infrastruktur belum mampu melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional, dan (3) belum meratanya pembangunan prasarana dan sarana yang selama ini masih terfokus di pulau Jawa dan Sumatera. Oleh karena itu, tantangan bidang Infrastruktur adalah (1) meningkatkan aksesibilitas akibat ketidaktersediaan prasarana dan sarana infrastruktur, (2) kesiapan bidang infrastruktur dalam ASEAN, dan (4) kesiapan bidang Infrastruktur dalam menghadapi globalisasi di bidang ekonomi.
2. Infrastruktur, Kependudukan, dan Urbanisasi
Tantangan dan permasalahan yang dihadapi pembangunan bidang Infrastruktur dalam menghadapi pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang adalah (1) rendahnya aksesibilitas masyarakat terhadap pelayanan angkutan massal yang murah dan nyaman, terutama masyarakat perkotaan; (2) rendahnya aksesibilitas pelayanan infrastruktur di wilayah-wilayah terluar, tertinggal, dan perbatasan;
(3) pembangunan infrastruktur terbentur dengan permasalahan ketersediaan lahan yang berkompetisi dengan sektor-sektor lain termasuk properti (perumahan dan permukiman); (4) kebutuhan infrastruktur perumahan dan
permukiman, serta (5) belum memadainya ketersediaan daya listrik serta masih banyaknya penduduk di wilayah terpencil dan perbatasan yang belum memiliki akses terhadap daya listrik.
3. Infrastruktur dan Kesenjangan Wilayah
Kesenjangan wilayah ini menjadi problematika klasik dari pembangunan Indonesia. Hal yang sangat mendasar dari situasi ini adalah terkait dengan permasalahan-permasalahan: (1) belum meratanya pembangunan infrastruktur di wilayah Timur, (2) tingkat pendidikan yang masih rendah dibandingkan dengan wilayah Barat, (3) rata- rata pendapatan perkapita yang masih rendah, (4) masih banyak wilayah-wilayah di Timur Indonesia yang belum tersedia fasilitas infrastruktur yang memadai; (5) belum memadainya peran infrastruktur dalam mengurangi kesenjangan wilayah Barat dan Timur, (6) belum optimalnya konektivitas baik di dalam koridor ekonomi utama maupun aksesibilitas ke wilayah terpencil, perbatasan, dan perdalaman; serta (7) belum meratanya distribusi pelayanan infrastruktur dasar di wilayah timur.
4. Infrastruktur, Energi, dan Lingkungan
Permasalahan infrastruktur terkait dengan hal energi dan lingkungan antara lain:
(1) diversifikasi, konservasi energi, dan sistem multimoda yang belum optimal;
(2) kemacetan di kota-kota besar dan menengah serta rusaknya banyak jaringan jalan di daerah menambah parah dan buruknya emisi gas buang dan di sisi lain infrastruktur juga rentan terhadap dampak perubahan iklim sehingga perlu adanya adaptasi maupun mitigasi perubahan iklim; (3) polusi yang tinggi penyebab utama dari Gas Rumah Kaca (GRK); serta (4) belum memadainya penyediaan infrastruktur yang ramah lingkungan dan responsif terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrim.
5. Infrastruktur dan Lobalisasi
Permasalahan infrastruktur dalam menghadapi globalisasi: (1) belum memadainya dukungan infrastruktur dalam mendukung penyelenggaraan sistem logistik nasional; serta (2) belum terwujudnya integrasi sistem logistik nasional yang efisien dan mampu terkoneksi secara global.
Secara garis besar, permasalahan infrastruktur pokok adalah:
a. Kondisi jalan daerah kurang memadai
b. Pembangunan infrastruktur kereta api masih sangat terbatas c. Kinerja pelabuhan masih kurang kompetitif
d. Rasio elektrifikasi masih rendah, yaitu masih terjadi krisis energi e. Kapasitas cadangan air masih terbatas, yaitu masih terjadi krisis air.
Peran dan Fungsi Infrastruktur
Infrastruktur memiliki peran yang sangat luas dan mencakup berbagai konteks dalam pembangunan, baik dalam konteks fisik-lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan konteks lainnya. Peran ini tentunya akan mengalami perbedaan untuk tiap jenis infrastruktur khususnya besaran pengaruhnya yang disebabkan oleh beragamnya fungsi infrastruktur dalam setiap konteks.
Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Dari alokasi pembiayaan publik dan swasta, infrastruktur dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. Secara ekonomi makro ketersediaan dari jasa pelayanan infrastruktur mempengaruhi marginal productivity of private capital, sedangkan dalam konteks ekonomi mikro, ketersediaan jasa pelayanan infrastruktur berpengaruh terhadap pengurangan biaya produksi (Kwik Kian Gie, 2002 pada Abdul Haris, 2009).
Infrastruktur merupakan salah satu driving force dalam pertumbuhan ekonomi.
Begitu banyak dan besarnya peran infrastruktur sehingga dalam sebuah studi yang dilakukan di Amerika Serikat (Aschauer, 1989 dan Munnell, 1990) menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi, adalah sebesar 60%. Bahkan studi dari World Bank (1994) disebutkan elastisitas PDB (Produk Domestik Bruto) terhadap infrastruktur di suatu negara adalah antara 0,07 sampai dengan 0,44. Hal ini berarti dengan kenaikan 1 (satu) persen saja ketersediaan infrastruktur akan menyebabkan pertumbuhan PDB sebesar 7% sampai dengan 44%, variasi angka yang cukup signifikan. Secara empiris jelas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan infrastruktur berpengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi (secara makro dan mikro) serta perkembangan suatu negara atau wilayah.
Menurut Blaug (1997) menyatakan pula bahwa investasi infrastruktur akan dapat memicu pengembangan perekonomian wilayah.
Pertumbuhan ekonomi sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan sektor Industri, perdagangan dan jasa, pariwisata, perikanan, tanaman pangan, perkebunan, pertambangan, dan sektor-sektor lainnya, akan membutuhkan
infrastruktur untuk mempercepat pendistribusian sumber daya dan pelayanan publik akibat kegiatan pertumbuhan ekonomi.
Sebagai contoh jenis infrastruktur ekonomi di perkotaan dalam Sheffield City Region Integrated Infrastructure Plan, 2016, terdiri dari 2 (dua) kelompok, yaitu:
1. Infrastruktur kawasan permukiman, mencakup infrastruktur lahan dan properti komersial, pengendalian banjir, telekomunikasi, limbah, perumahan, utilitas, dan energi.
2. Infrastruktur transportasi, mencakup transport, jalan raya, jaringan trem, angkutan lokal, penerbangan, dan angkutan kargo.
Infrastruktur lahan dan properti komersial, mencakup lokasi yang berkontribusi terhadap tujuan pengembangan strategis kota, berada di kawasan pertumbuhan prioritas atau pusat perkotaan, atau alokasi strategis yang tercantum dalam rencana daerah. Investasi adalah kunci untuk mendukung bisnis dalam mempertahankan staf, memperluas atau untuk menarik bisnis baru.
Infrastruktur transportasi meliputi jaringan jalan utama, layanan kereta api antar regional dan regional, jaringan trem, layanan bus frekuensi tinggi ('rute bus utama', dan infrastruktur transportasi yang diperlukan untuk memfasilitasi penyebaran lokasi strategis. Memperbaiki konektivitas transportasi yang lebih baik akan menciptakan keuntungan dan aglomerasi ekonomi.
Infrastruktur pengamanan banjir mencakup sistem asset pengendalian banjir yang menyediakan standar proteksi terhadap banjir dari sungai dan/atau pasang surut. Pertahanan dalam mengatasi banjir adalah kunci untuk meningkatkan kepercayaan investor yang berkelanjutan dan memulihkan atau membuka lahan baru untuk pertumbuhan.
Infrastruktur utilitas mencakup aset dan/atau kapasitas jaringan yang memfasilitasi transmisi utama dan distribusi utama gas, listrik dan air. Asset air strategis termasuk yang digunakan untuk suplai dan pembuangan air limbah.
Pasokan listrik yang stabil dan mudah tersedia sangat penting untuk menciptakan pengembangan.
Infrastruktur telekomunikasi dan konektivitas digital meliputi koneksi kabel, telepon atau internet akan meningkatkan produktivitas bisnis dan daya saing, broadband yang lebih cepat semakin menjadi penentu utama bagi orang yang ingin menetap atau bertempat tinggal.
Infrastruktur limbah meliputi fasilitas pengelolaan limbah dalam jumlah besar, seperti 'energi dari limbah' dan sanitary landfill. Teknologi ini menawarkan kesempatan untuk menghasilkan pendapatan dari pengolahan limbah dan penjualan energi.
Infrastruktur energi mencakup aset dan/atau proses yang memfasilitasi pembangkit, pengumpul dan pemanfaatan energi (termasuk langkah efisiensi energi) dan mengendalikan opsi bahan bakar dan emisi yang dihasilkan, termasuk karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya. Investasi energi bisa menurunkan biaya berbisnis.
Peranan infrastruktur dalam pengembangan wilayah ditinjau dari berbagai aspek, adalah sebagai berikut:
Dari aspek perekonomian, karakteristik dan ketersediaan infrastruktur akan mempengaruhi marginal productivity of private capital, mengurangi biaya produksi, memberikan dampak struktural terhadap demand dan supply, memberikan dampak siginifikan terhadap elastisitas pertumbuhan ekonomi (untuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 %, maka diperlukan dukungan investasi pada infrastruktur sebesar 1 % dari PDB).
Dari aspek peningkatan kualitas hidup, karakteristik dan ketersediaan infrastruktur akan:
- menciptakan amenities terhadap lingkungan
- meningkatkan kesejahteraan, mencakup: nilai konsumsi, produktivitas tenaga kerja, dan akses terhadap lapangan kerja.
- Mempengaruhi lingkungan makro, dampak terhadap stabilitas makro ekonomi, mencakup: keterkaitan fiscal dan keterkaitan dengan pasar kredit.
- peningkatan daya saing, yaitu meningkatkan attractiveness wilayah sebagai lokasi investasi, dan mempengaruhi tingkat harga
- keterkaitan terhadap pasar tenaga kerja.
Peran infrastruktur sangat penting dalam mewujudkan pemenuhan hak dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, rasa aman, pendidikan, dan kesehatan.
Selain itu, infrastruktur juga memegang peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan daya saing global.
Pengarusutamaan pembangunan berkelanjutan merupakan upaya penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan secara seimbang dan sinergis dalam memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan diperlukan keterpaduan antara 3 (tiga) pilar yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan yang kemudian diperkuat dengan dimensi kelembagaan. Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan secara umum tercermin dalam indikator–indikator antara lain: (1) indikator ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi dan dampak ekonomi; (2) tingkat partisipasi masyarakat pelaku pembangunan, partisipasi masyarakat marginal/minoritas (kaum miskin dan perempuan), dampak terhadap struktur sosial masyarakat, serta tatanan atau nilai sosial yang berkembang di masyarakat; dan (3) dampak terhadap kualitas air, udara dan lahan serta ekosistem (keanekaragaman hayati). Pembangunan infrastruktur wilayah dituntut untuk lebih dapat berkesinambungan atau berkelanjutan dalam aspek ekonomi, sosial-budaya-politik, dan lingkungan (sustainable economically, socially-culturally-politically-equity, and environmentally) – menuntut pendekatan multi-disiplin yang membutuhkan kerjasama profesi dari berbagai disiplin ilmu.
Dukungan infrastruktur PUPR terhadap Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) antara lain:
1. Konektivitas, yaitu menghubungkan antara cluster (urban, industri, hub) untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, pelayanan logistik nasional, dan untuk mengurangi disparitas.
2. Daerah Perkotaan dan Industri, yaitu mendukung pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam pembangunan dan pengoperasian, sekaligus menciptakan lapangan kerja.
3. Hinterland, yaitu memfasilitasi produksi primer dan keterkaitannya dengan pemrosesan dan layanan.
Komunitas, yaitu untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kehidupan, memfasilitasi penyediaan perumahan rakyat dan pengembangan kapasitas, serta memfasilitasi keterkaitan dan kesesuaian antara pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja dan industri.
Infrastruktur Bidang PUPR
Beberapa pengertian infrastruktur menurut para ahli, yaitu:
- Grigg (1988) : Infrastruktur sebagai fasilitas fisik untuk kepentingan publik yang sering disebut sebagai public works.
- World Bank (1994) membedakan infrastruktur menjadi:
a. public utilities: listrik, telekomunikasi, sistem perpipaan, sanitasi, dan persampahan.
b. public works: jalan drainase bendungan dan, drainase, bendungan, dan prasarana transportasi lainnya, seperti pelabuhan dan airport.
- American Public Works Association mendefinisikan infrastruktur sebagai struktur dan fasilitas fisik yang dikembangkan oleh badan pemerintah untuk menjalankan fungsi pemerintah dalam menyediakan air, tenaga, penanganan limbah, transportasi, dan layanan sejenisnya untuk memfasilitasi pencapaian tujuan social dan ekonomi (Hudson, et.al, 1997).
- Associated General Contractors of America, infrastruktur adalah suatu sistem fasilitas umum, baik yang didanai oleh pemerintah maupun swasta yang menyediakan pelayanan yang penting dan mendukung pencapaian standar kehidupan (Hudson, et al., 1997).
- Hudson (1997) mengelompokkan aset-aset infrastruktur menjadi:
• transportasi
• air bersih dan air limbah
• persampahan
• produksi energi dan distribusinya
• bangunan fasilitas umum dan social
• fasilitas rekreasi (olahraga dan ruang terbuka)
• telekomunikasi (jaringan telekomunikasi, televisi, satelit, dan teknologi informasi).
Infrastruktur PUPR terdiri dari:
1. Sistem Jaringan Sumber Daya Air 2. Sistem Prasarana Pengendalian Banjir 3. Sistem Prasarana Jalan
4. Sistem Prasarana Permukiman, mencakup air minum, air limbah, pengelolaan sampah, dan drainase
5. Perumahan dan Kawasan Permukiman 1. Sistem Jaringan Sumber Daya Air
Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, baik untuk kebutuhan langsung seperti bahan baku air minum, air industri, sanitasi maupun keperluan tidak langsung seperti irigasi, peternakan, pembangkit listrik tenaga air maupun kebutuhan lainnya. Sumber daya air merupakan sumber kehidupan dan penghidupan yang sangat penting, oleh karena itu potensi air yang melimpah di Indonesia harus diberdayakan semaksimal mungkin, baik untuk bidang pertanian maupun tenaga listrik. Perancangan pemanfaatan air sungai memerlukan adanya konsep untuk mencapai efisiensi yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan di masa mendatang.
Bangunan air adalah bangunan yang digunakan untuk memanfaatkan dan mengendalikan air di sungai maupun danau.
Jenis Bangunan Air, mencakup:
1) Bangunan air untuk irigasi, terdiri dari:
- Bangunan Pengambil Bebas
- Bangunan Bendung: Bendung Pelimpah (Bendung Tetap) dan Bendung Gerak (Pintu Air dan Bendung Karet)
2) Bendungan
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Fungsi bendungan yaitu untuk pengendalian banjir, irigasi, PLTA, industri, air minum, perikanan, rekreasi dan lain-lain.
Bangunan irigasi, meliputi:
1) Bangunan utama, yaitu penyadap dari suatu sumber air untuk dialirkan ke seluruh daerah irigasi yang dilayani, berupa bendung, pengambilan bebas, pengambilan dari waduk, dan stasiun pompa.
2) Bangunan pembawa, berfungsi untuk membawa/mengalirkan air dari sumbemya menuju petak irigasi, berupa saluran primer, saluran sekunder, saluran tersier dan saluran kwarter.
3) Bangunan bagi dan sadap, yaitu bangunan yang terletak pada saluran primer, sekunder dan tersier yang berfungsi untuk membagi air yang dibawa oleh saluran yang bersangkutan.
4) Bangunan pengatur dan pengukur, berfungsi untuk mengatur muka air sampai batas-batas yang diperlukan untuk dapat memberikan debit yang konstan dan sesuai dengan yang dibutuhkan.
5) Bangunan drainase, berfungsi untuk membuang kelebihan air di petak sawah maupun saluran. Kelebihan air di petak sawah dibuang melalui saluran pembuang, sedangkan kelebihan air di saluran dibuang melalui bangunan pelimpah.
6) Bangunan pelengkap, adalah sebagai pelengkap bangunan-bangunan irigasi, berfungsi untuk :
a. memperlancar para petugas dalam eksploitasi dan pemeliharaan.
b. dapat juga dimanfaatkan untuk pelayanan umum.
Jenis-jenis bangunan pelengkap antara lain: jalan inspeksi, tanggul, jembatan penyeberangan, tangga mandi manusia, sarana mandi hewan, serta bangunan lainnya.
2. Sistem Prasarana Pengendalian Banjir Pengertian dan Faktor Penyebab Banjir
Banjir adalah kondisi debit pada saluran / sungai atau genangan yang melebihi kondisi normal yang umumnya terjadi sehingga terjadi luapan air dari sungai/saluran ke lahan yang biasanya kering. Prediksi kondisi debit ini untuk keperluan perencanaan pengendalian banjir dibagi dalam tiga klasifikasi yaitu:
klasifikasi perencanaan banjir 10 tahun, klasifikasi perencanaan banjir 25 tahunan dan klasifikasi perencanaan banjir 50 tahunan.
Faktor-faktor penyebab banjir adalah perlakuan manusia terhadap sungai dan wilayah pengaruhnya, baik yang berada di daerah hulu, tengah, maupun hilir yang merupakan satu kesatuan sistem aliran sungai, disebut Satuan Wilayah Sungai. Meluasnya dampak banjir sangat dipengaruhi oleh kondisi daerah aliran sungai, terutama kondisi daerah resapan airnya (catchment area), sedimentasi badan-badan air dan kondisi waduk/danau/situ sebagai penahan air (water retention). Tingkat urbanisasi yang tinggi di kota-kota besar semakin mengurangi daerah resapan air dan penahan air tadi serta semakin menyempitnya bantaran
sungai dan drainase karena tumbuhnya daerah permukiman terutama pada daerah bantaran sungai. Pengaruh perubahan pemanfaatan ruang terhadap kuantitas banjir juga cukup besar karena perubahan tataguna lahan memberi andil besar terhadap kenaikan debit air sungai secara tajam.
Belajar banjir, kita perlu mengetahui siklus hidrologi dimana hujan terbentuk dari pengembunan uap air laut dan air lainnya. Hujan jatuh ke bumi ada tiga lanjutannya yaitu pertama air kembali menguap dari permukaan bumi, kedua air meresap kedalam tanah dan ketiga air mengalir melalui badan air seperti saluran atau sungai menuju kelaut. Pada daerah perdesaan dimana belum banyak perkerasan/ pembetonan lahan maka air yang terserap kedalam tanah lebih besar dari volume air yang mengalir melalui badan air. Sebaliknya untuk daerah perkotaan air hujan yang meresap kedalam tanah volumenya lebih kecil dari volume air yang masuk kebadan air (saluran/sungai).
Manfaat Pengendalian Banjir
Tujuan pengendalian banjir kota adalah untuk mengatasi banjir yang terjadi di kawasan perkotaan yang disebabkan oleh meluapnya air sungai dimana daya tampung badan sungai sudah tidak mampu lagi menampung debit air yang mengalir di dalamnya.
Prinsip Pengendalian Banjir
Perencanaan pengendalian banjir kota memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut:
a. Perlu dilihat dan diperhatikan rencana induk sistem pengelolaan sungai yang melintas pada kota tersebut (kalau sudah ada);
b. Perlu ada sinkronisasi dengan perencanaan pembangunan drainase yang tujuannya untuk mengatasi genangan kota; dan
c. Perencanaan pengendalian banjir kota perlu ditangani secara komprehensif mulai dari hulu, tengah dan hilir.
Bentuk-bentuk program pengendalian banjir kota dapat berupa normalisasi sungai yaitu menormalkan badan sungai di wilayah perkotaan dari akupasi perumahan badan sungai tersebut dapat berfungsi optimal. Program pengendalian banjir kota yang lain adalah pembangunan pintu-pintu air termasuk pembangunan manajemen operasional pintu air untuk mengatur debit air yang mengalir pada badan sungai. Program yang lain adalah melaksanakan
perbaikan lingkungan didaerah hulu dengan penghijauan untuk sebanyak mungkin menahan debit air yang masuk ke sungai.
Teknologi Pengendalian Banjir
Teknologi pengendalian banjir adalah adalah kumpulan teknologi/metode/
teknik yang dapat diterapkan baik pada skala persil lahan maupun pada skala kawasan, dikutip dari berbagai sumber, antara lain:
3. Sistem Prasarana Jalan
Salah satu infrastruktur transportasi yang memiliki peran penting agar transportasi dapat berjalan adalah prasarana jalan. Jalan merupakan suatu jalur dimana terjadinya perpindahan atau pergerakan dari manusia ataupun barang dari suatu tempat menuju tempat lain sesuai dengan tujuannya.
Berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan, definisi jalan adalah suatu prasarana darat dalam bentuk apapun, meliputi segala jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. Sistem jaringan jalan adalah satu kesatuan
jalan yang saling menghubungkan dan mengikat pusat-pusat pertumbuhan dengan wilayah yang berada dalam pengaruh pelayanannya dalam satu hubungan hirarkis.
Manfaat Pembangunan Infrastruktur Jalan
Manfaat pembangunan infrastruktur jalan adalah memperlancar arus distribusi barang dan jasa dengan mempermudah pengiriman sarana produksi dan mempermudah pengiriman hasil produksi ke pasar dengan memberikan aksesibilitas; membuka isolasi kawasan; meningkatkan aksesibilitas jasa pelayanan sosial termasuk kesehatan, pendidikan dan penyuluhan. Dampak manfaat jalan yang tidak langsung adalah bahwa dengan adanya pembangunan jalan maka harga tanah disekitar jalan tersebut dapat meningkat karena akan tumbuh kegiatan ekonomi sekitar ruas jalan. Adapun peran pembangunan jaringan jalan adalah sebagai prasarana distribusi dan sekaligus pembentuk struktur ruang wilayah. Di samping itu penyediaan infrastruktur jalan merupakan bentuk pelayanan kepada pengguna jalan (road user) dan pemanfaat jalan (road beneficiary).
Salah satu kebijakan pembangunan infrastruktur jalan adalah bahwa pembangunan jalan harus sejalan dengan strategi pembangunan ekonomi nasional dan lingkungan yaitu: pro growth, pro jobs, pro poor dan pro green artinya pembangunan infrastruktur jalan harus memperhatikan secara bersamaan kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan dari kawasan yang dikembangkan termasuk daerah perkotaan di sekitarnya.
Klasifikasi Jalan
Sistem jaringan jalan diklasifikasikan berdasarkan fungsi, status kewenangan dari pengelolaan jalan dan kelas jalan tersebut.
a. Klasifikasi Jalan berdasarkan Fungsi
1) Sistem Jaringan jalan primer adalah jaringan jalan yang menghubungkan antar pusat-pusat kegiatan. Jalan Primer dibagi dalam jaringan jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, jalan lingkngan, jalan strategis nasional.
Jalan Arteri Primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan antar pusat- pusat kegiatan Nasional, dan. jalan-jalan yang menghubungkan antara pusat kegiatan nasional (PKN) dengan pusat kegiatan wilayah (PKW), dan antar pusat kegiatan wilayah.
a. Jalan Kolektor Primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan antar pusat kegiatan wilayah, antara pusat kegiatan nasional atau pusat kegiatan wilayah dengan pusat kegiatan local (PKL).
b. Jaringan jalan lokal primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan antar pusat kegiatan lokal, dan antara pusat kegiatan lokal dengan pusat kegiatan lingkungan (PKLingk).
c. Jaringan Jalan Lingkungan Primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan antar psat kegiatan lingkngan, dan antara psat kegiatan lingkngan dengan parsil. Jaringan jalan strategis nasional adalah jalan-jalan yang menghbngkan ke kawasan strategis nasional.
2) Jaringan jalan sekunder adalah jaringan jalan kawasan perkotaan yang menghubungkan kawasan-kawasan di perkotaan, yaitu kawasan primer, sekunder I, sekunder II, dan sekunder III. Kawasan primer adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi pelayanan, baik untuk kawasan perkotaan maupun untuk wilayah diluarnya;
a. Kawasan Sekunder I adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi pelayanan seluruh wilayah kawasan perkotaan yang bersangkutan;
b. Kawasan Sekunder II adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi pelayanan yang merupakan bagian dari pelayanan kawasan fungsi sekunder kesatu; dan
c. Kawasan Sekunder III adalah kawasan perkotaan yang mempunyai fungsi pelayanan yang merupakan bagian dari pelayanan kawasan fungsi sekunder kedua.
3) Jalan Kolektor Primer adalah jalan-jalan yang menghubungkan antar pusat kegiatan wilayah, antara pusat kegiatan lingkungan denganpusat kegiatan wilayah dan antara persil dan pusat kegiatan wilayah. Sistem jaringan jalan sekunder yang terdiri dari jalan arteri sekunder, jalan kolektor sekunder dan jalan lokal sekunder adalah jalan-jalan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan pada kawasan sekunder perkotaan. Jalan arteri sekunder adalah jalan yang menghubungkan kawasan sekunder dengan kawasan primer, jalan yang menghubungkan antar kawasan sekunder I. Jalan kolektor sekunder adalah jalan yang menghubungkan antar kawasan sekunder II, dan jalan yang menghubungkan kawasan sekunder III dengan kawasan sekunder II. Jalan
lokal sekunder adalah jalan yang menghubungkan antar kawasan perumahan dan antara kawasan sekunder III dengan kawasan perumahan.
b. Klasifikasi Jalan berdasarkan Status Kewenangan Pengelolaannya
1) Jalan nasional adalah jalan-jalan yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah pusat. Jalan-jalan yang masuk klasifikasi jalan nasional terdiri atas jalan arteri primer dan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi. Jalan-jalan khusus yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat meliputi jalan Toll dan jalan strategis nasional. Jalan Tol pada umumnya dibangun dan dikelola oleh swasta dengan pengawasan dari Pemerintah.
2) Jalan Provinsi adalah jalan yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah provinsi. Jalan-jalan yang termasuk jalan propinsi meliputi jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kota, dan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten atau kota. Jalan strategis Provinsi dan jalan- jakan di daerah khusus Jakarta masuk jalan Provinsi kecuali jalan Tol dan jalan strategis nasional.
3) Jalan Kabupaten adalah jalan yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah Kabupaten. Jalan-jalan yang masuk jalan Kabupaten adalah sebagai berikut:
- Jalan kolektor primer yang tidak termasuk jalan nasional dan provinsi;
- Jalan Lokal primer yang menghubungkan ibukota Kabupaten dengan ibukota kecamatan, dan pusat desa;
- Jalan Lokal primer yang menghubungkan antar ibukota kecamatan, ibukota kecamatan dengan desa, serta antar desa;
- Jalan Sekunder yang tidak termasuk jalan provinsi, dan jalan sekunder dalam kota; dan
- Jalan strategis Kabupaten.
4) Jalan Kota adalah jaringan jalan sekunder didalam kota. Jalan desa adalah jalan lingkungan primer dan jalan lokal primer yang tidak termasuk jalan kabupaten didalam kawasan perdesaan, dan merupakan jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antar permukiman didalam desa. Jalan Khusus adalah jalan yang dibangun dan dipelihara oleh orang
atau instansi untuk melayani kepentingan sendiri seperti antara lain:
jalan perkebunan, jalan pertanian, jalan kehutanan, jalan inspeksi saluran, jalan sementara pelaksanaan konstruksi, jalan kawasan industry, pelabuhan dan kawasan berikat dan jalan kawasan permukiman yang belum diserahkan kepada penyelenggara jalan umum.
Gambar 1 Sistem Jaringan Jalan Primer
Gambar 2 Sistem Jaringan Jalan Sekunder
Klasifikasi jalan menurut Kelas Jalan meliputi jalan kelas I yaitu jalan dengan kekuatan konstruksi yang bisa menahan beban dengan muatan sumbu terberat lebih besar 8 ton; jalan kelas II adalah jalan yang kekuatan konstruksi yang bisa menahan beban dengan muatan sumbu terberat 10 ton. Jalan kelas III A, B dan C adalah jalan yang kekuatan konstruksinya bisa menahan beban muatan sumbu terberat 8 ton.
4. Sistem Prasarana Permukiman
SIstem prasarana permukiman, terdiri dari:
a. Sistem penyediaan air minum/air bersih b. Sistem pengelolaan air limbah
c. Sistem pengelolaan sampah d. Sistem drainase
Sistem Penyediaan Air Minum
Sistem penyediaan air minum tidak sebatas pada lingkup sistem distribusi air bersih/minum dan tingkat pelayanannya, tetapi juga pada air baku bagi pasokan produksi sistem. Penyediaan air minum sangat tergantung pada sumber daya pendukung dan lingkungan suatu wilayah itu sendiri.
Kebutuhan air bersih/minum berdasarkan basic needs, adalah kebutuhan air yang digunakan untuk menunjang kegiatan manusia, meliputi air bersih domestik yaitu keperluan rumah tangga dan non domestik yaitu untuk industri, pariwisata, tempat ibadah, tempat sosial dan tempat-tempat komersial atau tempat umum lainnya (Kodoatie, 2005). Kinerja sistem air bersih/minum menjadi parameter penilaian sebuah kota.
Contoh sistem jaringan air minum, dapat dilihat pada skema di bawah ini.
Gambar 3 Skema Jaringan Air Minum
Sistem Pengelolaan Air Limbah
Sistem pengelolaan limbah cair meliputi : 1. Sistem penyaluran limbah cair, 2. Pengolahan limbah cair, dan 3. Pengolahan lumpur.
Berdasarkan sumber timbulan limbah, air limbah perkotaan dibagi menjadi dua yaitu:
1. Limbah cair domestik, adalah limbah cair yang berasal dari kegiatan permukiman atau usaha rumah makan, hotel, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama. Jenis dari limbah cair ini berupa tinja (black water), air seni, limbah kamar mandi, dan juga sisa kegiatan dapur rumah tangga (grey water). Sifat limbah cair domestic yaitu organo-mikrobiologis dan mengandung detergen.
Karakteristik air limbah yang berasal dari perumahan, (menurut Winnerberger, 1969), terbagi atas:
- Greywater, yaitu air cucian yang berasal dari dapur, kamar mandi, laundry, dan lain-lain tanpa faeces dan urin.
- Blackwater, yaitu air yang berasal dari pembilasan toilet (faeces dan urin dengan pembilasan/penyiraman.
- Yellowwater, yaitu urin yang berasal dari pemisahan toilet dan urinals (dengan atau tanpa air untuk pembilasan)
- Brownwater, yaitu blackwater tanpa urin atau yellowwater.
2. Limbah cair industri, adalah limbah cair yang berasal dari kegiatan industri, kegiatan rumah sakit, kegiatan pertanian dan peternakan, kegiatan pertambangan, dan instalasi nuklir. Sifat limbah cair industri sangat spesifik, tergantung dari jenis industrinya.
Sistem pelayanan air limbah, berdasarkan lokasi/tempat pelayanannya terdapat dua jenis pelayanan yaitu pertama, sistem pelayanan on-site adalah sistem pelayanan air limbah dimana penghasil limbah mengolah limbah tersebut secara individu ditempat lokasi timbulnya limbah tersebut. Kedua, sistem off-site adalah sistem pelayanan dimana air limbah disalurkan melalui sewer (saluran pengumpul air limbah) kemudian masuk ke instalasi pengolahan secara terpusat.
Secara lebih detail proses pelayanannya sebagai berikut: mulai dari produk
masuk kedalam user interface kemudian masuk kedalam sarana pengumpulan, penampungan dan pengolahan awal, kemudian diangkut ke instalasi pengolahan akhir secara terpusat kemudian masuk ke saluran untuk didaur ulang atau saluran pembuangan akhir.
Sistem Pengelolaan Sampah
Sampah adalah sesuatu yang sudah tidak dapat digunakan lagi, tidak terpakai, tidak disenangi dan sesuatu yang sudah dibuang yang berasal dari aktifitas manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya (American Public Health Association, 1976).
Sampah adalah limbah yang bersifat padat yang berasal dari zat organik dan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak mengganggu lingkungan.
Menurut FKM UI (1989) pada prinsipnya batasan pengertian sampah adalah : 1. Adanya sesuatu bahan atau benda padat.
2. Adanya hubungan langsung atau tidak langsung dengan kegiatan manusia.
3. Bahan atau benda yang sudah tidak disenangi.
4. Bahan atau benda yang dibuang dengan menggunakan cara- cara umum.
Sampah perkotaan berdasarkan pada sumber timbulan sampahnya dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu: pertama, sampah domestik adalah sampah yang sumbernya dari rumah tangga. Kedua, sampah non domestik adalah sampah yang sumbernya bukan dari sampah rumah tangga seperti dari industri, komersial, daerah pelabuhan dll.
Pelayanan persampahan perkotaan mengikuti proses mulai dari pewadahan, proses pengumpulan, pengangkutan, proses penampungan sementara, proses pengakutan sampai proses pembuangan akhir. Pelayanan persampahan perkotaan dapat dibedakan: pertama, pelayanan persampahan sistem setempat yaitu proses pelayanan persampahan perkotaan sedekat mungkin dari sumbernya artinya mulai dari pewadahan, pengumpulan sampai dengan pemusnahan sampah di dekat sumbernya. Kedua, pelayanan persampahan sistem terpusat adalah sistem pelayananan persampahan skala kawasan perkotaan mulai dari pewadahan, pengumpulan, penampungan, pengangkutan sampai dengan pembuangan akhir.
Gambar 4 Skema Sistem Pengelolaan Sampah
Sistem Drainase
Sistem Drainase kota adalah jaringan drainase yang mempunyai daerah layanan di dalam wilayah kota. Adapun sistem pengendali banjir kota adalah sungai- sungai yang ada, yang mempunyai daerah pengaliran di luar kota dan mempengaruhi terjadinya banjir/genangan di wilayah kota tersebut.
Tujuan Sistem drainase dan pengendalian banjir, yaitu untuk melindungi seluruh aset perkotaan baik material maupun non material akibat hujan, erosi, banjir dan bencana lain, maupun polusi yang diakibatkan dari sanitasi dan perencanaan yang kurang memadai. Sedangkan tujuan sistem drainase perkotaan, yaitu untuk mengendalikan aliran permukaan dalam melindungi tanah permukaan yang porous dan elemen lingkungan lain yang memiliki resiko kerusakan yang diakibatkan oleh aliran air permukaan.
Pengertian Drainase Kota yaitu Jaringan pembuangan air yang berfungsi mengeringkan bagian-bagian wilayah administrasi kota dan daerah urban dari genangan air, baik dari hujan lokal maupun luapan sungai yang melintas di dalam kota” (Kepmen PU No. 239/KPTS/1987 Tentang Pedoman Umum Mengenai
Pembagian Tugas, Wewenang dan Tanggung Jawab Pengaturan, Pembinaan dan Pengembangan Drainase Kota).
Terdapat perubahan paradigma konsep penanganan drainase, yaitu pada konsep lama pematusan dengan cara mengalirkan air secepatnya ke badan air penerima terdekat. Konsep baru drainase berwawasan lingkungan yaitu air limpasan ditampung dan diresapkan terlebih dahulu, kemudian kelebihan air dialirkan ke badan air penerima dengan memelihara kualitasnya.
5. Perumahan dan kawasan Permukiman Pengertian Rumah, Perumahan, Permukiman
Rumah adalah bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang layak huni, sarana pembinaan keluarga, cerminan harkat dan martabat penghuninya, serta aset bagi pemiliknya.
Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.
Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan.
Bentuk Rumah
Bentuk rumah dibedakan berdasarkan hubungan atau keterkaitan antarbangunan, sebagai berikut ;
- Rumah Tunggal
Rumah yang mempunyai kaveling sendiri dan salah satu dinding bangunan tidak dibangun tepat pada batas kaveling.
- Rumah Deret
Beberapa rumah yang satu atau lebih dari sisi bangunan menyatu dengan sisi satu atau lebih bangunan lain atau rumah lain, tetapi masing-masing mempunyai kaveling sendiri.
- Rumah Susun
Bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal, dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian, yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama.
Berdasarkan UU 1/2011 dikenal tipologi rumah sebagai berikut:
1) Rumah komersial adalah rumah yang diselenggarakan dengan tujuan mendapatkan keuntungan.
2) Rumah swadaya adalah rumah yang dibangun atas prakarsa dan upaya masyarakat.
3) Rumah umum adalah rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
4) Rumah khusus adalah rumah yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan khusus.
5) Rumah Negara adalah rumah yang dimiliki negara dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga serta penunjang pelaksanaan tugas pejabat dan/atau pegawai negeri.
Sebagai kumpulan rumah, berdasarkan tipologi rumah tersebut, maka dapat dikenali tipologi perumahan berikut: perumahan komersial (seperti yang dibangun oleh developer swasta dengan harga rumah ditentukan oleh mekanisme pasar); perumahan swadaya (seperti yang dibangun secara kooperatif oleh komunitas); perumahan umum (seperti perumahan yang dibangun perumnas atau pemerintah daerah untuk masyarakat berpenghasilan rendah, umumnya berupa rumah sewa); perumahan khusus; dan perumahan negara (perumahan dinas).
Kawasan Permukiman
Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. (UU No 1/2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman). Yang dimaksud penghidupan adalah pemeliharaan hidup melalui kegiatan yang diarahkan untuk menghasilkan pendapatan, sedangkan perikehidupan adalah perihal/kondisi hidup yang
meliputi berbagai hal di luar kegiatan pencarian pendapatan (Poerwadarminta).
Jadi, kawasan permukiman berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat bekerja, serta tempat kegiatan sosial lainnya. Artinya ‘perumahan’ (tempat tinggal) merupakan bagian dari kawasan permukiman. Dengan demikian, fungsi dalam kawasan permukiman meliputi:
1) Lingkungan hunian atau tempat tinggal;
Tempat kegiatan pendukung perikehidupan dan penghidupan: penghidupan adalah kegiatan yang diarahkan untuk menghasilkan pendapatan (kegiatan ekonomi); perikehidupan adalah perihal/kondisi hidup yang meliputi berbagai hal di luar kegiatan pencarian pendapatan (kegiatan sosial-budaya).
Infrastruktur Bidang Non PUPR
Dalam mengembangkan wilayah/kawasan, infrastruktur lain di luar infrastruktur PUPR atau disebut infrastruktur non PUPR, antara lain terdiri dari:
1. Sistem Jaringan Perhubungan:
Sistem Angkutan Massal Berbasis Jalan
Sistem Jaringan Jalur Kereta Api
Sistem jaringan angkutan sungai, danau dan penyebrangan (ASDP).
Tatanan Kepelabuhanan
Tatanan Kebandarudaraan
2. Sistem Pembangkit Energi dan Sumber Daya Mineral:
Sistem Jaringan Transmisi Listrik
Sistem Jaringan Pipa Migas 3. Sistem Jaringan Telekomunikasi 1. Sistem Jaringan Perhubungan
Sistem jaringan perhubungan termasuk dalam sektor transportasi yang merupakan salah satu sektor yang sangat berperan dalam pembangunan ekonomi yang menyeluruh. Perkembangan sektor transportasi akan secara langsung mencerminkan pertumbuhan pembangunan ekonomi yang berjalan.
Namun demikian sektor ini dikenal pula sebagai salah satu sektor yang dapat memberikan dampak terhadap lingkungan dalam cakupan spasial dan temporal yang besar. Transportasi sebagai salah satu sektor kegiatan perkotaan,
merupakan kegiatan yang potensial mengubah kualitas udara perkotaan.
Transportasi juga merupakan tolok ukur dalam interaksi keruangan antar wilayah dan sangat penting peranannya dalam menunjang proses perkembangan suatu wilayah.
Di bidang transportasi darat, pembangunan prasarana jalan dan jembatan telah meningkatkan jasa pelayanan produksi dan distribusi yang penting dan banyak berperan dalam menunjang per-tumbuhan ekonomi nasional, mendorong terciptanya pemerataan pembangunan wilayah dan stabilitas nasional, serta meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan pembangunan sangat dipengaruhi oleh peran transportasi sebagai urat nadi kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
Sistem jaringan transportasi dapat dilihat dari segi efektivitas, dalam arti selamat, aksesibilitas tinggi, terpadu, kapasitas mencukupi, teratur, lancar dan cepat, mudah dicapai, tepat waktu, nyaman, tarif terjangkau, tertib, aman, rendah polusi serta dari segi efisiensi dalam arti beban publik rendah dan utilitas tinggi dalam satu kesatuan jaringan sistem transportasi.
Sistem Angkutan Massal Berbasis Jalan
Mass Rapid Transit, juga disebut sebagai Angkutan umum, adalah layanan transportasi penumpang, biasanya dengan jangkauan lokal, yang tersedia bagi siapapun dengan membayar ongkos yang telah ditentukan. Angkutan ini biasanya beroperasi pada jalur khusus tetap atau jalur umum potensial yang terpisah dan digunakan secara eksklusif, sesuai jadwal yang ditetapkan dengan rute atau lini yang didesain dengan perhentian-perhentian tertentu, walaupun Mass Rapid Transit dan trem terkadang juga beroperasi dalam lalu lintas yang beragam. Ini dirancang untuk memindahkan sejumlah besar orang dalam waktu yang bersamaan. Contohnya antara lain: Bus Rapid Transit, heavy rail transit dan Light Rail Transit.
Berdasarkan UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pengertian Angkutan Massal Berbasis Jalan adalah suatu sistem angkutan yang menggunakan mobil bus dengan lajur khusus yang terproteksi sehingga memungkinkan peningkatan kapasitas angkut yang bersifat massal.
Angkutan massal berbasis jalan tersebut merupakan bagian dari Bus Rapid Transit. Angkutan massal harus didukung dengan: