• Tidak ada hasil yang ditemukan

ii JUBILEUM MEI 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ii JUBILEUM MEI 2021"

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Dok: RD. Agustinus Tri Budi Utomo

Redaksi

Dari

Tahun Berdiri : Maret 2000

Pendiri : Mgr. Johannes Hadiwikarta (alm.) dan RD. Yosef Eko Budi Susilo Pelindung : Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono

Penasihat : RD. Yosef Eko Budi Susilo dan AM Errol Jonathans Pemimpin Umum : RD. Agustinus Tri Budi Utomo

Pemimpin Redaksi : RD. Alphonsus Boedi Prasetijo Sekretaris Redaksi : S. Vondy Kumala

Redaktur Pelaksana : G. Adrian Teja, S. Vondy Kumala, Yung Setiadi Editor : Yung Setiadi, Amelia Clementine

Layout & Desain : M. C. Stefani D. P., Angelina Nina Arini Putri, Agatha Felicia Distribusi : Yohanes Warsilan

Alamat Redaksi : Jl. Mojopahit 38-B Surabaya 60265

Telepon : (031) 5624141, (031) 5665061 ext. 21, 0812 5296 8051 Email : [email protected]

Rekening Bank : Mandiri - 140-00-1692964-9

Atas Nama : Pers Keuskupan Surabaya Gereja, Cabang Gedung Sampoerna Penerbit : Pusat Pastoral Keuskupan Surabaya

Redaksi menerima artikel yang dilengkapi foto(minimal 10 MP)dari kontributor, dilengkapi data diri, alamat dan No. Rekening.

SUSUNAN REDAKSI

Pada pertengahan Januari lalu, Paus Fransiskus menyampaikan pesan dengan tema Datang dan Lihatlah. Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya dalam perayaan Hari Komunikasi Sosial ke 55 pada 16 Mei 2021. Melalui perayaan ini, kita disadarkan untuk mewartakan nilai-nilai Injil melalui kemajuan sarana teknologi dan media komunikasi modern (bdk. Inter Mirifica 1, 18).

Ada nuansa optimisme pada pesan tersebut bahwa pandemi Covid-19 akan berakhir. Mungkin akan tiba saatnya social distancing, lockdown, karantina, hingga work from home berkurang, lalu kita (kembali) “pergi, melihat, dan berbagi”. Dengan semangat “pergi, melihat, dan berbagi” itu kita akan mengetahui ada hal-hal positif dari orang-orang yang baru kita kenal, di tempat yang belum pernah kita datangi sebelumnya. Sebagaimana kita yang baru sekarang ‘mengenal’ sosok seperti Mbah Sungkem yang konsisten, rendah hati, taat, dan percaya pada Yesus Kristus selama puluhan tahun.

(4)

D AF T AR I S I

COVER STORY

04

Mbah Sungkem, Putri Anawim dari Kuasi Paroki Ngrambe

OBROLAN CAK KLOWOR

08

Mengenal Yesus Melalui Bunda Maria

MIMBAR

10

"Datang dan Lihatlah" Bersama Bunda Maria

KATEKESE

15

Santo Yosef: Si Tulus yang Menjadi Pendamping Bunda Maria

20

Apa yang Dikatakan-Nya Kepadamu, Perbuatlah Itu

LAPORAN UTAMA

23

Kerygma dalam Ranah Digital

Model Kaver : Mbah Sungkem

Fotografer : RD. Agustinus Tri Budi Utomo

(5)

LINTAS PAROKI

29

Gubernur Khofifah dan Walikota Ery Cahyadi Kunjungi Katedral Surabaya

32

Redemptor Mundi Rayakan Paskah di Tengah-Tengah Kewaspadaan

37

Baksos On The Road OMK Ratu Pencinta Damai

LINTAS KOMISI

39

Koordinasi Rutin untuk Wujudkan Sinergi Antar Komisi

KOLOM FILSAFAT

41

Empat Kebutuhan Manusia pada Masa Pandemi

SERBA-SERBI

46

Bunda Maria Menemani Proses Beriman dan Bermasyarakat

54

Dengan Aplikasi Juali Beli Buku Bekas, Mahasiswaa UKDC Raih Emas Dalam Kompetisi Internasional

SEMINARIUM

58

Menjadi Taat seperti Abraham

UNIVERSALIA

62

Datang & Lihatlah. Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus Pada Hari Komunikasi Sosial ke-55, 16 Mei 2021

72

Umat Kristiani (Katolik) dan Umat Muslim: Saksi-saksi untuk Sebuah Harapan

OBITUARI

77

Putra Manggarai Telah Berpulang

RESENSI BUKU

79

Apa itu Sukses, Sejahtera, dan Bahagia?

KOMIK

80

Berani Menanggapi Panggilan

(6)

Mbah Sungkem,

Putri Anawim dari Kuasi Paroki Ngrambe

Setiap orang Katolik di Stasi Ngrambe, bahkan dari stasi sekitar - misalnya:

Ngroto, Sidomulyo, Jogorogo, Walikukun dan Ngrendeng, mengenal Mbah Sungkem.

Para Romo yang pernah berkarya di Paroki Ngawi, khususnya yang melayani Ngrambe pasti mengetahuinya.

Apakah dia seorang tokoh Jemaat, public figure ataukah pengurus umat ? Bukan!

Ataukah dia seorang aktivis keorganisasian?

Juga bukan. Apakah dia penggerak kegiatan sosial kemasyarakatan? Sekali lagi, bukan!

Lalu dia itu siapa?

Setiap orang yang dimintai komentar tentang Mbah Sungkem, selalu saja mereka memiliki kesan positif tentang Mbah Sungkem. Tak sedikit orang yang mengakui bahwa hidup rohani mereka diteguhkan dan dimotivasi oleh diri Mbah Sungkem.

Aura kerohanian dan kesederhanaan Mbah Sungkem seolah menerangi dan menasihati setiap orang yang melihatnya meski dalam sunyi-tanpa-kata hikmat.

Jarang orang bercakap-cakap dengan dia. Demikian juga Mbah Sungkem jarang sekali berbicara banyak. Paling banyak satu kalimat yang didapat setiap orang bertanya atau menggali info dari dia. Mbah Sungkem pribadi sunyi, tak banyak bunyi. Orang kecil sederhana tak pandai wicara.

Jikalau orang ditanya, “Siapakah Mbah Sungkem?” Jawaban yang kita peroleh hampir serempak sama: Seorang tua berpakaian kumal, membawa tas, yang selalu hadir di setiap peribadatan, misa ataupun kegiatan lingkungan paling tidak satu sampai dua jam sebelum acara di mulai.

Cover

Story

Mbah Sungkem dan senyum khasnya.

Dok: RD. Agustinys Tri Budi Utomo

(7)

Saat misa harian di Gereja Kristus Raja, Ngrambe di mulai jam 05.30 , maka sudah pasti Mbah Sungkem duduk membungkuk khusuk di bangku gereja sekitar deretan nomor tiga dari depan, sejak pukul 04.00 dini hari. Dia berangkat dari rumah sekitar pukul setengah tiga atau jam tiga pagi. Ketika hari masih gelap.

Sambil membawa lampu senter (kalau dulu membawa obor bambu, sebelum diberi senter) tangan ringkihnya masih sempat membawa beberapa until hasil kebun atau pisang hasil pekarangannya, untuk di cantolkan di pintu rumah umat yang di laluinya, sebelum mereka semua bangun. Dia berbagi dari kekurangannya.

Ketika dikenal lebih jauh, menurut kesaksian Paulus Budi Hartono, Ketua bidang formasi Dewan Kuasi Paroki Ngrambe yang rumahnya setiap pagi subuh di lewati Mbah Sungkem, dikisahkan bahwa Mbah Sungkem adalah orang yang tidak pernah mengeluh. Hidup penuh kepasrahan mengandalkan bantuan belas kasih tetangga serta umat lingkungannya. Tidak pernah khawatir akan kekurangan dan kelaparan ataupun sakit dan keamanan. Hanya satu hal yang dia yakini, “Nderek Gusti Yesus mesti slamet”(Ikut Tuhan Yesus pasti selamat).

Ketika diajukan pertanyaan nakal padanya, “Mbah jikalau diberi uang ratusan juta supaya tidak usah pergi ke gereja lagi, apakah mau?” Dia hanya menggelengkan kepala sambil senyum. Pergi ke gereja adalah hidupnya. Itulah devosinya. Itulah keyakinannya yang tak bisa digoyahkan oleh apapun dan siapapun.

Tidak ada teologi yang rumit dalam benaknya. Diuji dengan pertanyaan apapun, hanya satu jawaban yang keluar dari mulutnya, lirih namun tegas, "Ikut Tuhan Yesus pasti selamat!" Dia tidak tahu dengan aneka rumusan doa. Dia tidak

Mbah Sungkem, saat diantar pulang oleh Paulus Budi Hartono, Ketua Bidang Formasi Dewan Kuasi Paroki Ngrambe.

Dok: RD. Agustinys Tri Budi Utomo

(8)

tahu tentang aneka devosi.

Meskipun di depan gereja ada gua Maria, yang sering dipakai orang berdoa, ternyata Mbah Sungkem belum pernah doa di gua Maria. Ketika ditanya mengapa, dia menunjuk dadanya dengan jarinya yang sudah keriput, “Ibu Maria dan Tuhan Yesus ada di sini!”

Ternyata hanya doa Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan dan Terpujilah saja yang dia tahu dan hafalkan. Itulah yang terus dia ulangi di sepanjang jalan dari rumah hingga ke gereja.

Hanya doa itulah yang dia daraskan ketika duduk di bangku gereja sambil mata terbuka memandang Salib dan Tabernakel.

Pendengaran sudah sangat berkurang, itulah sebabnya dia tidak pernah tahu apa yang dikhotbahkan oleh Romonya. Dia tidak terlalu dengar suara lagu yang dinyanyikan paduan suara. Yang dia ketahui hanyalah apa yang dikatakan Romo pasti baik, yang diajarkan para guru pasti baik. Semua umat Katolik baik. Semua orang yang dia jumpai adalah baik. Kalau diolok atau digoda orang diperjalanan, dia hanya tersenyum. “Kalau aku baik, Yesus pasti menyelamatkan.”

Mbah Sungkem dan Rumahnya.

Dok: RD. Agustinys Tri Budi Utomo

(9)

Seringkali kalau ada giliran Doa Lingkungan atau Pendalaman Iman di rumah warga, Mbah Sungkem selalu tahu jadwalnya dan selalu sudah datang di depan rumah orang tersebut, tak kurang dari satu jam sebelum acara di mulai. Duduk khusuk menunduk, bibir komat kamit tanpa suara, mendaraskan dalam hatinya doa Bapa Kami, Salam Maria, Kemuliaan dan Terpujilah.

Tentang akhir hidup dan hidup setelah kematian, tak pernah terbersit dalam pikiran Mbah Sungkem akan kekhawatiran bagaimana kalau mati dan keinginan masuk surga. Dia tidak mencemaskannya. Setiap dikejar dengan pertanyaan tentang kematian atau bagaimana hidup kelak, dia menggelengkan kepala. Lalu tersenyum.

Lalu kembali keluar kata mantra dari mulut keriputnya, ”Pokoknya, nderek Gusti Yesus mesti slamet.”

Orang Katolik percaya akan Yesus Kristus atau Isa Almasih, apakah artinya? Mbah Sungkem memiliki jawabannya: Percaya dengan sepenuh hati, segenap jiwa dan kekuatan bahwa ikut Yesus pasti selamat.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama terdapat ungkapan bahasa Ibrani

‘anawim’ untuk menggambarkan seorang miskin di hadapan Allah, yang lemah bagi dunia tetapi selalu sumarah kepada Tuhan di sepanjang hidupnya. Istilah ini diberikan kepada sekelompok orang Israel yang kembali ke Yerusalem sesudah masa pembuangan berakhir. Mereka disebut kelompok ‘anawim,’ dalam Bahasa Ibrani di zaman Perjanjian Lama berarti: sekelompok ’orang miskin’ yang tetap setia kepada Allah sekalipun berada di dalam kesulitan. Mereka ini adalah orang-orang yang lemah lembut dan rendah hati, yang merupakan sisa-sisa Israel yang setia kepada Allah, mereka adalah orang-orang yang takut kehilangan penyertaan-Nya.

Kelompok anawim ini juga yang paling siap menerima pewartaan Kabar Gembira Keselamatan yang disampaikan oleh Yesus karena hati yang terbuka dalam Iman, Harapan dan Kasih Allah.

Paus Emeritus Benediktus XVI pernah dalam sambutan audiensi dengan begitu indah mengajarkan spiritualitas ‘anawim’, bunyinya demikian: “Orang- orang beriman yang tidak hanya mengakui diri mereka sebagai ‘miskin’ dalam arti terlepas dari semua berhala kekayaan dan kekuasaan, tetapi juga dalam kerendahan hati yang mendalam dari hati yang dikosongkan dari godaan terhadap kebanggaan dan terbuka untuk kelimpahan rahmat keselamatan Ilahi.”

Spiritualitas anawim ditunjukkan oleh Maria dalam Magnificatnya, sebagai ungkapan dari mereka yang telah datang untuk memahami bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk membuka diri untuk menerima kelimpahan karunia keselamatan Allah yaitu dengan menawarkan hati yang penuh cinta, terbakar cinta pada Tuhan… Hati yang Rendah Hati, Taat dan Percaya. Umat Kuasi Paroki Ngrambe lebih dari 25 tahun mengenal spiritualitas anawim yang begitu nyata melalui iman dan sikap yang dihidupi Mbah Sungkem setiap hari. (JUB/Modik)

(10)

Obrolan

Cak Klowor

Iman kepercayaan kita menyebut bahwa Yesus adalah Allah dan manusia, maka pada dasarnya Allah adalah misteri tetapi sekaligus pribadi yang mudah diketahui dan dikenal. Pengetahuan kita dan pengenalan kita akan Allah itu terjadi sejauh Allah itu sendiri menyatakan diri-Nya kepada manusia.

“Pengetahuan kita dan pengenalan kita akan Allah sejauh Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia? Bagaimana, Cak, maksudnya? Kalau Allah tidak menyatakan Diri berarti kita tidak bisa mengenal Allah ya, Cak?” Tanya Cik Lily. Bagi Cik Lily yang sehari-harinya bersentuhan dengan sembako dan uang, memang sulit untuk memahami. Bagaimana dengan orang yang selalu bilang mencari Tuhan?

“Iya, Cik saya juga baru ngeh, karena mustahil manusia mengetahui Allah dari daya pikirannya yang terbatas, karena Allah itu tidak terbatas, dibandingkan akal manusia yang sangat terbatas. Aku ingat khotbahnya Pastor Christopher, ceritanya ketika ada satu orang Kudus, sebut saja Santo Agustinus sedang berjalan- jalan di pantai, ia melihat seorang anak, pulang balik membawa cinthung mengambil air dari laut lalu di bawa ke tempat di mana ia membuat lubang di pantai yang ternyata dari pasir. Melihat tingkah anak itu, Santo Agustinus merasa heran, sedang apakah anak itu? Begitu pikirnya. Sehingga Santo Agustinus mendekati anak kecil itu dan bertanya, “Nak, kamu sedang melakukan apa?’ Anak itu menjawab, “Aku mau memasukkan air di laut itu ke lubang yang saya buat itu.” Santo Agustinus pun menjawab, “Itu hal yang tidak mungkin, Nak. Lubang yang kecil itu akan kamu masuki air laut yang begitu banyak.” Lalu Santo Agustinus menjelaskan bahwa seperti halnya pikiran manusia itu terbatas, tidak akan mampu untuk menjelaskan misteri Allah yang tidak terbatas. “Itu ceritaku saja, tidak sempurna, Cik. Itu juga menunjukkan keterbatasan kemampuanku, ha ha ha!” Cak Klowor menjelaskan panjang lebar, sampai mengingat kembali cerita kotbah pastornya waktu dia masih kecil.

Sumber gambar : unsplash.com

Mengenal Yesus

Melalui

Bunda Maria

(11)

“Tetapi menurutku, kita ini bersyukur ya, Cak. Karena Sang Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Maka kita bisa melihat, meraba dan mengenal Allah di dalam diri Putra-Nya Yesus,” sambung Cak Robert. “Itu pun karena Allah menghendaki ya, Cak?”

“Lha, kehendak Allah itu terjadi karena iman Bunda Maria, seperti pada Injil Lukas. Ketika Malaikat Tuhan memberi tahu Bunda Maria bahwa dia akan mengandung oleh Roh Kudus, Bunda Maria mengatakan, ‘Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.’ Bunda Maria berani mengatakan seperti itu karena imannya yang sangat kokoh.”

“Oh, begitu ya, Cik. Memang Cik Lily ini kuat sekali devosinya kepada Bunda Maria. Kalau aku pikir ya, Cik, sebenarnya Bunda Maria itu kan manusia biasa sama seperti kita. Tetapi perannya di dalam rencana keselamatan sungguh luar biasa meski boleh dikatakan unik. Kalau dipikir lebih jauh, apa ada perempuan yang melahirkan Yesus Sang Juru selamat, kalau bukan Bunda Maria? Lha, karena perannya yang sangat khusus itu, Bunda Maria juga digelari sebagai Bunda Allah.

Coba kita baca di Injil Matius 1:23. Di sana tertulis, ‘Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, Allah menyertai kita’. Tidak lain dan tidak bukan yang disebut anak dara itu, ya Bunda Maria. Itu menurutku,” kata Cak Widodo.

“Lha dalam Injil Lukas 1:35 bisa kita baca juga, ‘Kata malaikat itu… sebab anak yang akan dilahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah’. Dari hal ini juga bisa dikatakan karena yang dilahirkan Maria adalah Anak Allah, maka Maria disebut Bunda Allah,” sambung Cak Klowor.

“Ya, karena iman Bunda Maria sungguh istimewa, maka Maria dipilih menjadi sarana untuk melahirkan Allah yang menjelma menjadi manusia. Itu pendapatku yang sederhana, dengan pengetahuan yang terbatas,” kata Cak Robert.

“Tentu saja karena Bunda Maria sudah mengandung Yesus, apalagi di samping imannya yang kokoh, dia adalah Ibu yang baik dan saleh. Sebagai ibu, tentu dia mempunyai hubungan bukan hanya hubungan psikologis, bahkan mempunyai hubungan spiritual dengan Yesus yang pernah dikandungnya. Tidak mengherankan bahwa banyak umat yang mempunyai keyakinan memohon sesuatu kepada Allah melalui Bunda Maria banyak yang dikabulkan,” ungkap Cik Lily yang tidak pernah lupa berdoa Rosario, dan malam Jumat Legian di Gua Maria Pohsarang. Namun karena peristiwa pandemi Covid-19 ini, Cik Lily sudah lama tidak ikut Jumat Legian.

Itulah yang membuat kerinduan sangat mendalam untuk ikut merayakan misa Jumat Legian. Cik Lily sangat yakin bahwa Bunda Maria sangat mengenal Yesus Putra-Nya. Karena memang menurut sharing Cik Lily, selama ini pengalaman imannya dalam berdevosi kepada Bunda Maria sering memberi solusi dalam meniti perjalanan hidup, yang kadang harus menyangga beban. Maka di tasnya, pasti ada Rosario, meski kadang malah tidak ada uangnya. (EBS)

(12)

Mimbar

"Datang dan Lihatlah!"

Bersama Bunda Maria

RD. Alphonsus Boedi Prasetijo

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Surabaya

Tinggal di Pastoran Santo Yusup Karangpilang, Surabaya

“Datang dan Lihatlah!”

Bersama Bunda Maria mengenal Yesus.

Setidaknya ada lima lingkungan yang kami kunjungi dengan bersepeda untuk berdoa “Jalan Salib Sehat” (JSS) bersama

“Tim Lima” yang setia mendampingi.

Yang pertama di lingkungan G-5, Santo Dominikus, Citra Harmoni, Trosobo, Kab. Sidoarjo, Paroki Sayuka (Santo Yusup Karangpilang) pada hari Jumat, 26 Februari 2021 jam 06.00-07.30 WIB. Selanjutnya tiga lingkungan E-1, E-2, E-3 pada hari Selasa, 2 Maret 2021 dengan pembuka dan penutup di TK

St. Mary, Babatan Mukti, Wiyung; lalu lingkungan D-5, Santo Felix di Taman Pondok Jati (TPJ) Sepanjang, Kab.

Sidoarjo, Paroki Sayuka pada hari Sabtu, 13 Maret 2021, kemudian di lingkungan F-8, Santo Thomas Aquino, Puncak Anom, Driyorejo, Kab. Gresik, Paroki Sayuka, Minggu, 14 Maret 2021, dan akhirnya di lingkungan G-4, Santa Maria Bunda Allah, Citra Harmoni, Trosobo, Kab. Sidoarjo, Paroki Sayuka, pada hari Kamis, 25 Maret 2021 bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita Maria.

(13)

JSS di Lingkungan G-5, Citra Harmoni

JSS di Lingkungan JSS di Lingk D-5, Taman Pondok Jati

JSS di lingkungan F-8, Puncak Anom Driyorejo

JSS di Lingkungan E-1,E-2,E-3 Babatan Mukti

Tim 5 JSS di halaman Katedral Surabaya

JSS di lingkungan G-4, Citra Harmoni

(14)

Ilustrasi Yesus berjumpa dengan ibu-Nya. Sumber: 4.bp.blogspot.com

Jalan Salib Sehat Prapaskah

Doa Jalan Salib Sehat Prapaskah Bersama Bunda Maria ini kami mulai setelah Doa Angelus (Malaikat Tuhan) tepat jam 06.00 WIB dengan menyanyikan Lagu Pembuka “Ya Namamu Maria”. Syairnya berbunyi:

“Ya namamu Maria, Bunda yang kucinta Merdu menawan hati segala anakmu Patutlah nama itu hidup di batinku Dan nanti kuucapkan di saat ajalku.

Bila hatiku risau dan dirundung duka Kuingat nama Ibu yang pasti menghibur Patutlah nama itu hidup di batinku Dan nanti kuucapkan di saat ajalku”.

Tepatlah bila di masa Pandemi Covid-19 ini kita mengenal Yesus bersama Bunda Maria dalam Doa Jalan Salib Sehat Prapaskah, baik secara pribadi maupun dengan Kelompok Kecil Umat (KKU) sekitar 5-10 orang dengan tetap menjaga protokol kesehatan (Prokes): Ingat 3 M, yakni Memakai Masker, Mencuci Tangan, dan Menjaga Jarak.

Doa Jalan Salib Sehat ini selain kita adakan dengan kunjungan bersepeda dari rumah ke rumah umat di lingkungan yang sudah kita hubungi, kami memutuskan untuk berkunjung dan berdoa hanya di depan pintu atau di teras rumah umat. Jadi tidak perlu masuk ke rumah umat.

Tentu saja Prokes 3 M harus dipatuhi, baik oleh peserta maupun umat yang kita kunjungi. Setiap renungan Doa Jalan Salib kita akhiri dengan Doa Bapa Kami dan Salam Maria, serta Kemuliaan. Sebagai penutup, Romo

(15)

Ilustrasi Yesus berjumpa dengan ibu-Nya. Sumber: 4.bp.blogspot.com

akan memberikan berkat khusus bagi keluarga yang kita kunjungi.

Yesus Berjumpa dengan Ibu-Nya Bunda Maria adalah pribadi yang setia kepada Yesus, Putranya dalam suka dan duka. Sementara para murid-Nya lari tunggang langgang karena takut, Bunda Maria kedapatan setia mengikuti Yesus di Jalan Salib- Nya bersama Rasul Yohanes.

Pada perhentian ke-4 kita diajak merenungkan perjumpaan Yesus dengan Maria, ibu-Nya. Sungguh peristiwa yang luar biasa indah dan penuh iman. Di tengah derita yang berat dan kejam, kita mengenal siapakah Tuhan kita Yesus Kristus yang dengan taat dan berani memikul salib-Nya yang berat. Setelah Yesus jatuh pertama kalinya (Perhentian ke- 3), kita merenungan bagaimana Yesus berjumpa dengan Ibu-Nya. Doa puisi pendek yang saya tulis:

“Ya Tuhan Yesus.

Engkau berjumpa dengan Bunda-Mu Bunda yang hadir di Jalan Salib-Mu Yang setia dalam duka hidup-Mu Ajarlah kami setia menjadi murid-Mu.”

Pada perhentian ke-12, saat Yesus wafat di kayu salib, sejenak kita merenungkan bersama Bunda Maria yang setia mengikuti Jalan Salib Putranya, di saat-saat kristis Yesus sebelum wafat-Nya di kayu salib.

Dengan penuh kasih Yesus menatap Ibu-Nya dan berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah, ibumu!”

(Injil Yohanes 19:25-26). Tuhan Yesus

(16)

telah menyerahkan Bunda Maria, Ibu- Nya kepada para murid dan kita semua untuk menjadi Bunda kita.

Bulan Mei ini adalah Bulan Maria. Kesempatan bagi kita untuk semakin mengenal Tuhan Yesus bersama Bunda Maria dalam renungan misteri hidup Yesus yang kita bawa dalam Doa Rosario. Ad Jesum Per Mariam, Menuju Yesus dengan perantaraan Bunda Maria. Inilah saat yang indah untuk semakin mengenal Yesus bersama Maria dalam devosi dan perjumpaan antar pribadi dengan Prokes: Ingat 3 M.

“Datang dan Lihatlah!”

Perjumpaan Yesus dan Bunda Maria, ibu-Nya membawa sukacita bagi murid-murid Yesus dan kita semua.

Memang, kita dapat mengenal Yesus lebih dalam lewat perjumpaan, seperti dipesankan oleh Bapa Suci Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 yang akan kita peringat pada

hari Minggu, 16 Mei 2021, yakni:

“Datang dan Lihatlah” (Yohanes 1:47) Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya. Kita semua dipanggil menjadi saksi kebenaran:

untuk pergi, melihat dan berbagi.

Paus Fransiskus menulis, “Kita perlu bergerak, pergi melihat sendiri, tinggal bersama orang-orang, mendengarkan kisah mereka dan mengumpulkan pelbagai pendapat atas realita yang akan selalu mengejutkan.”

Ternyata, Doa Jalan Salib Sehat dengan kunjungan umat bersepeda di lingkungan-lingkungan pada masa Prapaskah yang lalu menjadi “embrio”

pemenuhan amanat Bapa Suci pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 55 tahun 2021 ini. Dan Bapa Suci Fransiskus sendiri ternyata juga telah memberi contoh dengan kunjungan perdananya ke luar negeri, yakni ke Irak pada awal bulan Maret 2021.

Ayo… “Pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku” (Matius 28:19).

“Jalan Salib Sehat a la Romo Boedi”

bersama Bunda Maria:

Jalan Salib Sehat bersama Bunda Maria di Lingkungan D-5, Santo Felix, Taman Pondok Jati, Sepanjang, Paroki Santo Yusup Karangpilang.

Jalan Salib Sehat dengan Semangat Santo Yusup di Lingkungan A2 dan A3, Paroki Santo Yusup, Karangpilang.

Jalan Salib Sehat bersama Bunda Maria di Lingkungan F-8, Puncak Anom, Driyorejo, Paroki Santo Yusup Karangpilang.

Scan Me

(17)

Mulai 8 Desember 2020 hingga 8 Desember 2021, Paus Fransiskus mempromulgasikan periode ini sebagai tahun Santo Yosef dengan Surat Apostolik

“Patris Corde” untuk memperingati 150 tahun pemakluman Santo Yosef sebagai Pelindung Gereja Semesta oleh Beato Paus Pius IX (1792-1878).

Munculnya promulgasi tahun Santo Yosef oleh Bapa Suci ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan tetapi memberikan angin segar bagi Gereja untuk merenungkan siapa Santo Yosef yang kurang dikenali dengan baik oleh umat karena pada umumnya Santo Yosef hanya dikenal sebagai suami Bunda Maria dan seorang tukang kayu, padahal peran Santo Yosef bagi Gereja sungguh besar, apalagi dia adalah ayah dari Tuhan Yesus.

Sesungguhnya, sosok Yosef memang tidak banyak dibahas dalam Kitab Suci. Injil hanya memberikan catatan pendek tentang dirinya seperti memberikan gambaran siapa itu Santo Yosef mulai dari silsilah Yesus Kristus (Matius 1:1-17), kisah kelahiran Yesus Kristus dalam Injil Matius (Matius 1:18-25), penyingkiran ke Mesir, keluarga Kudus kembali dari Mesir dan pada waktu Yesus dipersembahkan di Kanisah serta Yesus diketemukan di Bait Allah. Selain itu, Injil juga menunjukkan bahwa Yosef adalah seorang tukang kayu. Meskipun demikian, kisah Santo Yosef bukan kisah “pinggiran” tetapi kisah yang membuka lembaran baru peristiwa keselamatan yang dilaksanakan oleh Allah dalam diri Putra-Nya, Yesus Kristus.

Katekese

RD. Yohanes Benny Suwito

Dosen Institut Teologi Yohanes Vianney (IMAVI) Surabaya

Santo Yosef:

SI tUlUS YANg MENjADI PENDAMPINg BUNDA MARIA

Kisah Perjalanan Pelindung Gereja dalam Kitab Suci

(18)

Keluarga Kudus. Sumber gambar : lh3.googleusercontent.com

(19)

Secara singkat, Santo Yosef dapat disebut sebagai pribadi yang unik. Injil mencatatnya sebagai keturunan Daud, sebagai pemenuhan janji Allah bahwa Mesias akan dilahirkan dari keturunan Daud. Berdasarkan Injil pula, satu keunggulan yang dimilikinya, sebagai seorang pria adalah “ketulusan hati” (Matius 1:19). Kepribadian ini menghantar Santo Yosef menjadi pendamping bagi seorang gadis lugu yang diberi kabar oleh Malaikat Gabriel untuk melahirkan Yesus Kristus, Putra Allah. Ia tidak mau melukai Maria yang waktu itu dikabarkan mengandung sehingga tanpa ragu-ragu sebelum Malaikat Tuhan menyampaikan kepadanya “untuk tidak takut mengambil Maria sebagai istrinya karena anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus” (bdk. Matius 1:20), Yosef mengambil keputusan untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Keputusan ini diambil oleh Yosef karena dia tahu resiko yang akan dihadapi Maria kalau masyarakat tahu Maria mengandung tanpa seorang ayah; Maria akan mendapatkan hukuman rajam karena dianggap melakukan zinah.

Pribadi yang sederhana seperti Santo Yosef, yang menjadi ayah bagi Tuhan Yesus, tidak sekedar pendamping Bunda Maria. Dia sungguh-sungguh beriman, penuh kasih dan harapan sehingga dia tahu tugas dan perutusannya. Santo Yosef mengenal apa yang dikehendaki Allah dalam hidupnya. Dia menemani, mendampingi dan menjaga Bunda Maria sebagaimana ketika dia bersama Bunda Maria pergi ke Bethlehem untuk menjalani sensus sesuai amanat Kaisar Agustus (bdk. Lukas 2:1-3). Santo Yosef pribadi yang taat, tidak memberontak walaupun kesulitan dia hadapi ketika membawa Maria yang sedang hamil besar. Bahkan, Santo Yosef harus mengambil keputusan ketika tidak ada penginapan untuk tinggal saat Bunda Maria merasakan waktunya untuk bersalin (bdk. Lukas 2:6). Dia membawa Maria ke tempat yang bisa dipakai meskipun hanya di suatu tempat yang menyediakan palungan dan memastikan bahwa kelahiran Bunda Maria itu aman. Santo Yosef sungguh pribadi yang tulus; tidak pernah resah pada panggilan hidupnya. Ia hanya tahu bahwa dia harus menjaga Maria, istrinya yang telah dipilih oleh Allah menjadi Ibu Yesus Kristus.

Dia sungguh-sungguh beriman, penuh kasih dan harapan sehingga dia tahu tugas dan perutusannya. Santo Yosef mengenal apa yang

dikehendaki Allah dalam hidupnya.

(20)

Ketulusan Santo Yosef sebagai pria, suami Maria dan ayah bagi Sang Mesias, membuatnya tanpa takut harus menghadapi kesulitan dan rintangan, terutama ketika mendapatkan ancaman bahaya dari Raja Herodes. Malaikat memintanya untuk pergi ke Mesir dalam mimpi: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia” (Matius 2:13). Maka, Yosef tanpa pikir panjang melakukan apa yang Malaikat kabarkan kepada dia, dengan sergap membawa Sang Putra dan ibu-Nya ke Mesir. Inilah Santo Yosef. Dia pribadi yang peduli pada panggilannya, bukan pada dirinya saja. Maka pantaslah Santo Yosef diangkat sebagai “Pelindung Gereja Katolik” oleh Pius XII.

Tanpa ragu-ragu pula, ketulusan Santo Yosef dapat ditunjukkan dalam kisah hidupnya ketika dia menghantar Maria mempersembahkan Yesus di Kanisah. Injil bahkan tidak menyebut namanya secara eksplisit. Akan tetapi, sebagai seorang ayah, Santo Yosef dapat dipastikan mendampingi Maria karena Injil Lukas menyatakan:

“mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan”

(Lukas 2:22); dan “bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia” (Lukas 2:33) oleh Simeon, seorang yang telah dinyatakan oleh Roh Kudus untuk menantikan Mesias sebelum dia menutup mata (bdk Lukas 2:26).

Ilustrasi malaikat meminta Santo Yosef dalam mimpinya untuk membawa Bunda Maria dan Yesus ke Mesir. Sumber gambar : cdn.britannica.com

(21)

Santo Yosef bukan orang yang ingin mendapatkan pujian atau popularitas.

Sebagai orang yang tulus, dia adalah orang yang tahu apa yang harus dikerjakannya sebagai seorang suami dan pendamping Bunda Maria, ibu dari Yesus Kristus, Sang Mesias. Santo Yosef membesarkan Yesus bersama dengan Bunda Maria sehingga Yesus pun juga “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Lukas 2:40).

Dan karakter khas Santo Yosef, sebagai pribadi yang tulus ini sungguh tampak ketika Yesus kecil tiba-tiba menghilang saat pergi dari Yerusalem pada hari raya Paskah. Yosef dengan tenang menemani Bunda Maria yang gelisah mencari Yesus. Ia peduli dan setia serta tanpa rasa geram menemani Maria yang kuatir akan Tuhan Yesus. Tiga hari lamanya mereka “kebingungan” menemukan Yesus.

Kemudian, pada waktu Yesus ditemukan di Bait Allah yang sedang berbincang dan berdialog dengan alim ulama, Sang Putra tampak tidak peduli pada Yosef dan Maria. Maria bertanya pada Yesus: “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau” (Lukas 2:48).

Jawaban Yesus sungguh tidak menyenangkan hati mereka karena Dia mengatakan:

“Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49). Santo Yosef tidak berkomentar apa-apa, hanya tinggal dalam kebingungan seperti Bunda Maria. Namun, ketulusannya pada Maria dan Sang Putra membuat dia tetap mendampingi mereka dengan setia karena Yesus ada dalam asuhan mereka (bdk. Lukas 2:51).

Sungguh, Santo Yosef tidak pernah diragukan sebagai Si Tulus yang menjadi pendamping bagi Bunda Maria dan tentu juga Tuhan Yesus. Dia bukan pribadi yang menonjol tetapi dia pribadi yang selalu ada dan menyertai perjalanan Yesus kecil sehingga pantaslah jika dia dijadikan pelindung bagi Gereja. Santo Yosef adalah tulus dan ketulusan ini adalah wujud dari imannya yang mendalam sebagai orang yang diutus oleh Allah. Maka, tidak salah dan pantaslah Paus Fransiskus menyatakan: “Santo Yusuf tidak bisa tidak menjadi Penjaga Gereja karena Gereja adalah kepanjangan Tubuh Kristus dalam sejarah, dan sekaligus keibuan Maria tercerminkan dalam keibuan Gereja” (Patris Corde, 5).

Akhirnya, keteladanan dan karakter Santo Yosef ini, sebagai pribadi yang tulus, menjadi pendamping bagi Bunda Allah, pantas kita bawa dalam doa untuk pertobatan kita sebagai pribadi seperti yang telah ditulis oleh Paus Fransiskus dalam Patris Corde:

Salam, Penjaga Sang Penebus,

Suami Perawan Maria yang Terberkati.

Kepadamu Allah mempercayakan Putra tunggal-Nya;

Kepadamu Maria menaruh kepercayaannya;

bersama denganmu Yesus menjadi manusia O Yosef yang terberkati,

Perlihatkanlah dirimu sebagai seorang bapa juga bagi kami, dan bimbinglah kami di sepanjang perjalanan hidup.

Perolehkanlah bagi kami rahmat, belas kasih dan keberanian, dan lindungilah kami dari segala yang jahat. Amin.

(22)

Katekese

Apa yang Dikatakan-Nya Kepadamu, Buatlah Itu

Tanlala Olin

Katekis Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya

Ilustrasi mukjizat air berubah menjadi anggur saat pernikahan di Kana.

Sumber gambar : www.karismatikkatolik.org

(23)

Bulan Mei ini, kita memasuki bulan Maria. Gereja Katolik secara istimewa mengarahkan perhatian untuk meneladani Bunda Maria, Ibu Yesus Kristus. Ada percikan sinar keutamaan hidup yang terpancar dari Sang Bunda, salah satunya adalah teladan pemuridan.

Kisah Perkawinan di Kana

Salah satu kisah tentang pemuridan dalam Kitab Suci yang dapat kita renungkan adalah kisah perkawinan di Kana yang bisa kita baca dalam Injil Yohanes 2:1-11. Dalam kisah ini kita akan mendapati relasi yang amat dekat antara Tuhan Yesus dengan Maria ibu-Nya. Diceritakan, Yesus dan murid-murid-Nya diundang ke acara perkawinan di Kana. Dalam acara itu, si tuan rumah kehabisan anggur.

Padahal dalam acara perkawinan Yahudi selalu dimeriahkan dengan perjamuan dan tari-tarian. Maka masalah kehabisan anggur ini bisa menimbulkan rasa malu bagi tuan rumah atau penyelenggara acara apabila bila yang mereka hidangkan tidak mencukupi. Ketika mereka kekurangan anggur, Maria yang juga hadir dalam pesta perkawinan itu menghampiri Yesus.

Maria tahu siapa Yesus, Maria punya harapan dan kepercayaan pada Yesus Putranya, bahwa Ia tidak akan berpangku tangan. Yesus pasti membantu pasangan yang sedang kekurangan anggur ini. Maria datang kepada Yesus seraya berkata,

“Mereka kehabisan anggur”. Yesus memberikan sebuah reaksi yang lebih dalam. Ia berkata, “Mau apakah engkau dari pada-Ku ibu, saatku belum tiba”. Tanggapan ini seolah-olah berarti sebuah penolakan terhadap informasi yang diberikan kepada Dirinya. Padahal maksud tindakan Maria meminta kepada Yesus bukanlah tindakan kesombongan atau ketidaktaatan kepada Allah. Namun sebaliknya Maria tahu apa yang harus dia perbuat. Ia mengetahui apa yang Tuhan Yesus maksud sehingga ia tetap menempatkan diri sebagai seorang murid yang taat pada perkataan Allah (Bdk. Lukas 1:38). Oleh karena itu Maria mengatakan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5).

Pernyataan “Mau apakah engkau dari pada-Ku ibu, saat-Ku belum tiba,” dari Yesus sebenarnya mau mengajak Bunda Maria jangan berhenti hanya sebatas ibunya saja, tetapi mengajak Maria untuk punya relasi jauh lebih dalam, yaitu sebagai murid Yesus. Luar biasanya, Maria memahami apa yang dikehendaki oleh Yesus Putranya. Maria mengajarkan kepada para pelayan di sana dengan berkata apa yang dikatakan Yesus, lakukanlah. Ini adalah teladan ketaatan dan pemuridan yang diungkapkan Maria kepada kita umat beriman.

Dalam dialog singkat Maria dengan Yesus mencerminkan kedalaman relasi saling memahami. Maria memahami ajaran dan kehendak Yesus Puteranya, sehingga apa yang dipikirkan, dilakukan dan diminta oleh Maria senantiasa sesuai dan sejalan dengan kehendak Allah. Jadi Maria dan Yesus Kristus mempunyai hubungan yang begitu murni. Hal inilah yang menjadikan Maria punya posisi istimewa dalam kaitan dengan karya keselamatan Yesus Kristus Puteranya.

Mukjizat Air Menjadi Anggur

Ditengah pesta yang kehabisan anggur, dikatakan di situ ada disediakan enam tempayan pembasuhan yang menurut adat orang Yahudi masing-masing isinya 2 hingga 3 buyung. Yesus berkata kepada para pelayan supaya mengisi

(24)

Maria memberikan teladan kepada kita untuk memiliki relasi mendalam dengan Yesus Puteranya.

Relasi tersebut kita wujudkan melalui kesetiaan dalam mendengarkan dan

melaksanakan firman Tuhan.

tempayan-tempayan itu penuh dengan air. Para pelayan pun melaksanakan apa yang dikatakan Yesus. Sebagaimana Yesus tidak menolak informasi dari Maria.

Yesus memberikan bantuan seperti apa yang diharapkan oleh Maria. Setelah semua tempayan tadi dipenuhi air, Yesus kemudian menyuruh para pelayan supaya mencedok air dalam tempayan tadi dan membawanya kepada pemimpin pesta. Para pelayan pun kembali melakukan apa yang Yesus perintahkan, mereka mencedok dan membawa kepada pemimpin pesta. Saat pemimpin pesta mengecap air tadi, ia merasakan anggur dengan kualitas terbaik. Anggur yang membuat para undangan yang hadir di pesta amat takjub. Sehingga pesta perkawinan tidak jadi mendapat malu. Kekurangan anggur telah diatasi oleh campur tangan Tuhan Yesus.

Makna Mariologis Perkawinan di Kana

Peristiwa perkawinan di Kana memberikan refleksi di bulan Maria ini. Maria memberikan teladan kepada kita untuk memiliki relasi mendalam dengan Yesus Puteranya. Relasi tersebut kita wujudkan melalui kesetiaan dalam mendengarkan dan melaksanakan firman Tuhan. Niscaya kehidupan kita tidak akan tawar dan dipenuhi rasa kemuliaan-Nya.

(25)

Kerygma (pewartaan) merupakan salah satu dari Pancatugas Gereja selain Liturgia (Liturgi), Diakonia (pelayanan), Martyria (kesaksian), dan Koinonia (persekutuan). Kerygma adalah pewartaan awal kabar sukacita kepada masyarakat.

Pewartaan awal inilah yang menggugah orang untuk menyerahkan diri pada keselamatan Allah melalui Putra-Nya.

Di antara Pancatugas Gereja tersebut, kerygma menduduki nomor urut pertama (bdk. Kisah Para Rasul 2: 42-47). Pengajaran para rasul adalah pelayanan utama pada jemaat perdana. Dari pewartaan mengalir dan berbuah kepada aspek- aspek lain dari hidup Gereja awal.

Ada 5 alasan mengapa keryma mengawali kegiatan para rasul: (1.) merupakan model perjumpaan Yesus yang selalu mengajar, (2.) Merupakan perintah dalam perutusan (bdk. Matius 28:19-20), (3.) Dipraktekkan oleh Gereja perdana (bdk. Kisah Para Rasul 2:42), dan (4.) Diperkuat dalam Surat-surat Pastoral (Paulus mendorong Timotius dan Titus untuk mengabdikan diri pada pelayanan mewartakan dan mengajarkan Sabda Allah).(5) Pewartaan merupakan media yang paling efektif untuk mengantarkan dan menanamkan nilai Kerajaan Allah ke dalam hati jemaat . Melalui kerygma Sang Sabda mengunjungi dan menyelamatkan UmatNya.

KERYgMA

dalam

Ranah Digital

RD. Agustinus Tri Budi Utomo Vikaris Pastoral Keuskupan Surabaya

Perkembangan Digitalisasi. Sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/

Laporan

Utama

(26)

Berbagai Ensiklik yang mengiringi perkembangan teknologi informasi

Pewartaan merupakan aktivitas vital Gereja, dalam mewujudkan mandat sakramental bagi dunia. Model pewartaan pun seiring dengan perkembangan jaman. Pada tahun 1930-an misalnya, pada saat itu dunia layar lebar sedang marak.

Media berupa film bioskop memiliki dampak positif maupun ekses negatif. Hal itulah yang membangkitkan kesadaran pentingnya film bioskop sebagai media pewartaan yang luar biasa. Tahun 1936, Paus Pius XII menerbitkan ensiklik Vigilanti Cura yang menjelaskan pentingnya katekese, pengajaran pewartaan penginjilan menggunakan sarana film. Hal itulah yang memacu produksi film bioskop bergenre rohani di tahun-tahun setelahnya seperti The Ten Commandments (rilis 1956), dan Jesus of Nazareth (1977).

Pada tahun 1957, saat radio dan televisi mulai dinikmati masyarakat. Paus Pius XII menerbitkan ensiklik Miranda Prorsus yang membahas ladang pewartaan melalui sinema, televisi, dan radio.

Memasuki tahun 1960, perkembangan media cetak yang menyusul popularitas sinema, televisi, dan radio. Perkembangan media menjadi tantangan sekaligus peluang pewartaan. Dalam rangkaian Konsili Vatikan II, dirilis dokumen Inter Mirifica pada 4 Desember 1963 yang membahas integrasi media komunikasi sosial dalam karya pastoral gereja.

Dalam dokumen Communio et Progressio yang dirilis 23 Mei 1971, Gereja memandang media komunikasi sebagai anugerah Tuhan. Walau media komunikasi (lagi-lagi) memiliki efek negatif, kita tidak bisa bersikap masa bodoh, tapi bagaimana kita menggunakan secara positif sebagai media pewartaan.

Pada tanggal 8 Desember 1975, Paus Paulus VI mengeluarkan anjuran apostolik Evangelii Nuntiandi. Pada dokumen tersebut dijelaskan juga pentingnya penggunaan berbagai media katekese.

Memasuki dekade 80-an, muncul revolusi baru dalam teknologi komunikasi.

Setelah diluncurkan satelit, TV kabel mulai digunakan seiring teknologi serat optik.

Disusul teknologi komputer micro processor sehingga personal computer bentuknya semakin compact dan digunakan banyak orang.

Kemajuan teknologi satelit, komputer, dan internet mendorong semakin maraknya media komunikasi, Paus Yohanes Paulus II, pada tahun 1990 menyebutnya sebagai “Aeropagus baru”. Sebutan itu merupakan perumpamaan dari fenomena yang di alami oleh Paulus saat berada di kota Athena di Aeropagus dengan pasar yang menjual aneka produk, dihuni manusia dengan aneka latarbelakang, karakter, tujuan, suku, kepentingan, dan budaya. “Aeropagus baru“ terjadi dalam era internet, sebuah global village dimana kita bisa menemui banyak orang dalam ruang digital tanpa keluar jalan kaki atau mengayuh sepeda.

Paus Yohanes Paulus II, pada tanggal 22 Februari 1990 merilis ensiklik Aetatis Novae yang menyebutkan bahwa era baru mulai dimasuki. Dalam Redemptoris Missio no. 37 disebutkan bahwa revolusi teknologi membuat Gereja tidak sekedar menggunakan media digital sebagai sarana, melainkan harus “mengintegrasikan

(27)

pesan” dalam kebudayaan baru, cara-cara baru, bahasa baru, teknik baru, dan psikologi baru. Sekarang pertanyaannya, dengan era baru ini mengapa dan bagaimana Gereja menggunakan media digital? Siapakah sasaran pewartaan saat ini?

Siapa sasaran pewartaan dengan media digital?

Di mana umat berada, maka disana Gereja melayani. Itu adalah prinsip pastoral dan tentu saja terutama dalam pewartaan. Paus Fransiskus berpesan bahwa “Jadilah gembala yang berbau lengus domba”. Itu berarti menjadi gembala yang memahami situasi dan kondisi umatnya karena datang ke kandang di mana domba berada. Sekarang di mana posisi umat atau sasaran pewartaan saat ini?

Sebelum melangkah lebih lanjut mengenai konten. Ada baiknya kita perhatikan beberapa infografis berikut:

Infografis pengguna internet di Indonesia tahun 2020 (Sumber: NAS Consulting & Research)

(28)

Infografis penetrasi pengguna internet di Indonesia tahun 2014 (Sumber: APJII)

Infografis penetrasi pengguna internet berdasarkan usia di Indonesia tahun 2016 (Sumber: APJII)

(29)

Kembali ke pertanyaan di atas, di mana posisi umat atau sasaran pewartaan saat ini? Melihat 3 infografis di atas. Jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2020 adalah 272,1 juta jiwa. Pengguna internet sebanyak 175,4 juta. Artinya lebih dari 50% penduduk adalah pengguna internet. Pengguna internet paling banyak adalah masyarakat di bawah usia 44 tahun. Nah, data ini menyadarkan adanya ruang perjumpaan baru yang cukup signifikan bagi pewartaan. Dapat kita simpulkan bahwa pewartaan untuk segmen usia di bawah 44 tahun akan berjalan efektif dan lebih massif jika disampaikan melalui internet.

Lalu dengan apa kita menjumpai mereka? Dari data yang ada, media sosial yang banyak digunakan oleh masyarakat (baca: umat) di urutan pertama adalah Youtube, 95% warga pengguna internet di Indonesia ini membuka Youtube.

Berturut-turut berikutnya Whatsapp, Instagram, Facebook, dan Twitter. Youtube menjadi sarana pewartaan baru yang mestinya kami perhitungkan.

Infografis media sosial paling populer di Indonesia sepanjang tahun 2020-2021 (Sumber: Berita Satu)

(30)

Ada hal penting yang harus kita pahami bahwa siapa yang akan menerima pewartaan ini dan bagaimana konteks kekiniannya. Agar apa yang kita sampaikan melalui media digital itu bisa menyapa atau menyentuh pengalaman hidup orang dalam konteks kekiniannya. Jangan sampai media digital justru mengaburkan essensi kebenaran Ekaristi tersebut. Situasi, pergulatan, dan pemahaman orang di era digital saat ini sangat mempengaruhi pola rasa dan cara penangkapan terhadap ajaran-ajaran iman yang di sampaikan kepada mereka. Lebih dari itu tampilan visual grafis layar gadget/medsos memiliki psikologinya sendiri yang terintegrasi dan mempengaruhi daya pikat pengakses media. Kontent yang berharga, benar dan agung tak akan menarik dikunjungi jikalau tidak dikemas dalam visual grafis yang asal-asalan.

Sebelum membuat konten pewartaan, disamping kita harus menentukan siapa sasaran yang dituju secara spesifik juga tetap menjaga essensi ajaran yang telah diwariskan berabad-abad ini dalam kemasan visual grafis yang menarik bagi umat jaman ini. Jangan sampai kita “memberikan mutiara kepada orang yang tidak membutuhkannya” dan jangan sampai membungkus/menawarkan mutiara secara tidak menarik sehingga mutiara berharga yakni nilai-nilai Kerajaan Allah tak lagi diminati.

Ilustrasi Pewartaan Kristus di Jaman Digital. Sumber gambar: www.katolisitas.org

(31)

Gubernur Khofifah dan Walikota Ery Cahyadi

Kunjungi Katedral Surabaya

Lintas

Paroki

Gubernur Khofifah Indar Parawansa bersama Walikota Surabaya Ery Cahyadi serta jajaran Forkopimda Jatim, di antaranya Kapolda Jatim Nico Arfinta, Irdam V Brawijaya Arie Subekti, dan Plh. Sekdaprov Heru Tjahjono meninjau persiapan Paskah di Katedral Hati Kudus Yesus (HKY), Jl. Polisi Istimewa pada hari Jumat, 2 April 2021.

Rombongan tiba pukul 10.30 WIB dan diterima Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya RD. Yosef Eko Budi Susilo dan Kepala Paroki Hati Kudus Yesus RD.

Yuventius Fusi Nusantoro.

Beberapa agenda kedatangan di antaranya adalah memantau pengamanan gabungan dan protokol kesehatan selama rangkaian kegiatan hingga Paskah di HKY, serta menyerahkan bantuan sosial untuk penanganan Covid-19. Bantuan yang diberikan berupa masker, face shield, hand sanitizer, thermometer gun, alat rapid test, alat swab antigen, desinfektan, vitamin, dan sembako.

Saat jajaran Forkopimda Jatim dan awak media meninjau bagian dalam gereja, Romo Fusi menjelaskan bahwa pelaksanaan ibadat disertai protokol kesehatan yang ketat.

“Kapasitas tempat duduk di dalam ruangan seharusnya untuk 800 orang.

Tapi selama masa pandemi hanya diisi tidak sampai 200 orang,” lanjutnya.

Terkait dengan adanya teror bom bunuh diri di Katedral Makassar pada hari Minggu lalu (28 Maret 2021), pengamanan dan ketertiban ditingkatkan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai Densus 88, Brimob, Gegana, Dinas Perhubungan, Satpol PP, Linmas, dan Pramuka. Pada halaman gereja, tampak siaga tank milik TNI.

Dalam sambutan singkatnya, Gubernur Khofifah berharap rangkaian kegiatan Paskah berjalan dengan baik, aman, dan disertai protokol kesehatan secara ketat. “Kami yakin masyarakat Jatim menghormati proses

Ilustrasi Pewartaan Kristus di Jaman Digital. Sumber gambar: www.katolisitas.org

(32)

ibadah Paskah. Saling menghargai dan melindungi satu sama lain,” tegas Khofifah.

Atas bantuan dari Pemprov Jatim, Romo Eko mengucapkan terima kasih dan akan menindaklanjutinya dengan membagikan bantuan tersebut pada paroki-paroki lain di kota Surabaya.

Dalam Press Release, Romo Fusi menyatakan bahwa rangkaian perayaan Paskah kali ini dilaksanakan dengan suasana khidmat dan waspada.

Khidmat karena ini adalah puncak perayaan iman Umat Kristiani. Waspada

karena rangkaian perayaan iman dilaksanakan di tengah keprihatinan situasi pandemi Covid-19 yang belum usai, serta keprihatinan atas tindakan terorisme dan radikalisme di tengah bangsa Indonesia yang sedang membangun kesehatan masyarakat dan perekonomian yang terpuruk karena Pandemi.

Kunjungan Gubernur dan Walikota berakhir sekitar jam 11.30 WIB karena rombongan Forkopimda akan melanjutkan kunjungannya ke Gereja Katedral Bunda Maria dari Gunung Karmel, Malang.

Dari kiri ke kanan: Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya RD. Yosef Eko Budi Susilo, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Walikota Surabaya Ery Cahyadi, Kapolda Jatim Nico Arfinta, Irdam V Brawijaya Arie Subekti, Plh. Sekdaprov Heru Tjahjono, dan Kepala Paroki Hati Kudus Yesus RD. Yuventius Fusi Nusantoro. Saat kunjungan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Jawa Timur ke Katedral Hati Kudus Yesus, Surabaya pada Jumat pagi, 2 April 2021. Dok: Komisi Komsos Keuskupan Surabaya.

(33)

Kedatangan Gubernur beserta jajarannya ke Katedral HKY kali ini mengingatkan rekan pengurus dan relawan Komisi Komsos Keuskupan Surabaya pada pesan Paus Fransiskus yang disampaikan pertengahan Januari lalu, yaitu “Datang dan Lihatlah.

Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya”. Pesan tersebut disampaikan dalam rangka menyambut Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-55 yang jatuh pada tanggal 16 Mei 2021 mendatang.

Scan Me:

Kunjungan Gubernur Jawa Timur di Katedral Surabaya

(JUB/Yung Setiadi)

(34)

Ujian demi ujian terus menghantui umat manusia akhir-akhir ini. Masa pandemi belum berakhir, kini Indonesia dikejutkan lagi dengan aksi teror bom bunuh diri sekitar pukul 10:30 WITA di Gereja Katedral Hati Yesus Yang Mahakudus, Makassar, pada Minggu (28/3) 2021 bertepatan dengan perayaan Minggu Palma dalam rangkaian awal Pekan Suci. Gereja yang dibangun sejak tahun 1898 dan mulai digunakan tahun 1900 ini menjadi buah bibir di seluruh penjuru dunia.

Akibat dari kejadian itu ada yang mengutuk aksi teror dan banyak yang menyayangkan mengapa harus terjadi lagi aksi-aksi yang mencelakakan dan mengorbankan manusia. Bagi umat Kristiani, kejadian bom di rumah ibadat ini terjadi untuk kesekian kalinya. Pengeboman terakhir terjadi pada 13 Mei 2018 di tiga gereja, yaitu: 1) Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) di Jl. Ngagel Madya; 2) Gereja

Pantekosta di Jl. Arjuno; dan 3) Gereja GKI di Jl. Diponegoro. Ketiga lokasi pengeboman terjadi di gereja-gereja di Surabaya.

Bagi umat Kristiani, khususnya dalam situasi Pekan Suci Paskah, kondisi ini bagai makan buah simalakama. Di satu sisi gereja harus memperhatikan keselamatan umatnya dari ancaman penyebaran virus Covid-19 dengan mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah, yang secara praktis menghentikan perjumpaan tatap muka dalam ibadat harian maupun ibadat mingguan. Di sisi lain, Gereja harus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman aksi bom bunuh diri, yang terkadang menjadikan Gereja sebagai target.

Bagaimana dengan kesiapan Gereja dalam mempersiapkan umatnya untuk menghadapi situasi ini?

Salah satu paroki yang begitu cepat

REDEMPtOR MUNDI RAYAKAN PASKAH

di Tengah-tengah Kewaspadaan

Herman Yos Kiwanuka

Sie Komsos Paroki Redemptor Mundi Surabaya

Lintas

Paroki

(35)

pergerakannya adalah Gereja Katolik Redemptor Mundi, di Jln. Dukuh Kupang Barat I No. 7, Surabaya. Beberapa menit setelah bom bunuh diri mengguncang Gereja Katedral Makassar, pastor kepala paroki Redemptor Mundi, Romo Adrian Adiredjo, OP, langsung mengirimkan pesan singkat via WA grup kepada Pengurus DPP/BGKP, para pengurus wilayah, lingkungan dan para karyawan paroki dan meminta agar semua pihak berhati-hati. “Berhati- hati semua,” adalah pesan singkat beliau yang sangat dalam artinya, meminta kepada semua pihak untuk berjaga-jaga dan tidak lengah, ikut

mengamankan bangunan gereja dan keselamatan umat, memperhatikan secara serius akan gerak-gerik yang baru maupun tidak wajar, terutama wajah pendatang yang mencurigakan.

Semua pihak bersiap-siaga.

Terlebih pada Pekan Suci, dimulai Kamis Putih, hingga Minggu Paskah, terdapat momen perayaan setiap hari. Bapak AM. Handoko selaku Wakil Ketua DPP / BGKP Paroki dari Gereja yang akrab disebut Gereja RM ini, langsung mengusulkan ke Romo Adrian untuk mengubah sistem pengamanan di Gereja khusus selama Pekan Suci. (denah terlampir)

Denah Analisa Area keamanan lokasi Paroki Redemptor Mundi saat perayaan Paskah 2021 (Dok. Komsos RM)

(36)

Mengikuti Protokol Kesehatan

Pastor Kepala Paroki dan Pengurus DPP/BGKP serta panitia Paskah tahun ini memang dibuat kerja keras.

Ada dua hal yang wajib dilakukan, yaitu penerapan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah demi memutus mata rantai penyebaran virus Corona, sekaligus mengutamakan keamanan dan keselamatan umat yang hendak mengikuti rangkaian Pekan Suci.

Ketua DPP Bidang Formatio Gereja RM yang merangkap tugas dalam kepanitian Paskah, Bapak Eustachius Sukardiono, beliau mengatakan bahwa selama Pekan Suci para panitia dan pengurus benar-benar menerapkan protokol kesehatan, mengingat bahwa virus Covid-19 hingga kini masih merebak, apalagi hingga saat ini Kota Surabaya masih berada di zona oranye meski jumlah pasien yang terpapar tiap hari kian berkurang. “Meski begitu, kami tetap waspada dan meminta umat untuk mengikuti aturan pemerintah. Ini untuk keselamatan kita semua, jadi tolong dipatuhi,” tegas beliau, yang akrab disapa Bapak Kardiono ini.

Seperti apa penerapannya? Bapak Kardiono menjelaskan, panitia sudah menyiapkan tempat cuci tangan di beberapa sudut maupun pintu. Setiap umat yang masuk area gereja oleh panitia diminta lebih dulu mencuci tangan dengan sabun, mengenakan masker dengan benar, dilanjutkan tes suhu badan. Panitia menyediakan kursi yang ditata secara terukur dengan jarak satu meter antar kursi.

Saat menerima komuni, alur umat diatur sedemikian rupa dengan sekat tambahan antara imam dan umat. Penerimaan Tubuh Kristus tidak lagi dengan kedua tangan terangkat ke atas tetapi mengarah ke celah yang terpasang di sekat.

Ketika meninggalkan gereja, panitia mengarahkan umat untuk tidak keluar secara bergerombol, sehingga antar satu umat dengan yang lain tetap berjarak dengan teratur dan rapi.

Ditanya tentang jumlah kursi yang disiapkan, Bapak Kardiono menjelaskan kapasitas maksimal di masing- masing ruangan. Area dalam gereja dialokasikan 138 kursi, area teras timur 30 kursi, area teras barat 39 kursi, tenda parkir timur 75 kursi dan di dalam balai paroki sejumlah 53 kursi. Semua umat wajib membawa undangan yang ditanda-tangani ketua lingkungan. Penempatan area cuci tangan disiapkan di 13 lokasi, dengan penempatan di balai paroki 1 tempat, teras timur 2 tempat, teras utara 4 tempat,

(37)

Suasana komuni Paroki Redemptor Mundi saat Jumat Agung, 2 April 2021 (Dok. Komsos RM)

(38)

tenda timur 2 tempat, teras barat 2 tempat dan belakang gereja 2 tempat cuci tangan.

Paling Sigap

Tiga bulan menjelang perayaan Paskah, pengurus Paroki RM telah membentuk kepanitiaan. Hal ini mutlak diperlukan sehingga persiapannya lebih menyeluruh, apalagi saat itu hanya memikirkan bagaimana umat bisa mengikuti misa dengan nyaman.

Nyaman maksudnya, terkonsentrasi dan tidak di bawah bayang-bayang ketakutan akan virus Covid-19. Maklum umat yang datang misa tentu membawa kegelisahan, ketakutan jangan-jangan terpapar virus setelah mengikuti perayaan di Gereja.

Namun kejadian bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar membuat panitia makin waspada. Akan tetapi, bagi panitia Paskah Paroki RM yang beberapa bulan lagi genap berusia 25 tahun, hal ini tidak terlalu risau.

“Kami sudah antisipasi sebelumnya.

Jadi, tidak masalah buat kami,” kata Bapak Aloysius Y. Soewanto, salah satu anggota seksi keamanan panitia Paskah beberapa waktu lalu. Menurut Bapak Soewanto, dalam beberapa tahun terakhir ini, seksi keamanan menjadi fokus utama mengingat beberapa kejadian yang menimpa Gereja. “Kami harus sigap. Kami harus siap dan fokus untuk keamanan Paskah dan Natal,”

tuturnya.

Efek dari kejadian di Makassar 28 Maret lalu, pengurus DPP dan Panitia Paskah di bawah komando Romo Adrian selaku Pastor Kepala Paroki, langsung mengadakan briefing singkat terkait personil keamanan dan sistem

keamanan. Wakil Ketua DPP/BGKP, AM Handoko mengusulkan kepada Romo Adrian untuk menyesuaikan sistem pengamanan di gereja. Menurut Bapak Soewanto, untuk Pekan Suci tahun ini, sejumlah personil keamanan disiagakan dengan format sebagai berikut: 8 orang dari Korps Brigade Mobil (Brimob); 10 polisi; 8 satpam;

3 pramuka; 1 Komando Rayon Militer (Koramil); dan 1 Bintara Pembina Desa (Babinsa). Selain itu dari Intel Polda 2 orang, Kodim 1 orang dan Intel Polres 2 orang. Panitia juga melibatkan Polsek dan tim kesehatan, Banpol 2 orang dan tim medis 5 orang. Sejumlah 3 polisi bersenjata lengkap berjaga setiap hari untuk mengantisipasi kejadian- kejadian yang tidak diinginkan. Pada hari Sabtu siang sebelum perayaan Minggu Palma tim Gegana melakukan pemeriksaan menyeluruh di Gereja RM. “Penyisiran dilakukan sekali pada awal atau menjelang Pekan Suci,” ujar Bapak Soewanto.

Terkait area parkir, khususnya ruas-ruas jalan di luar bangunan Gereja RM, keseluruhan pengaturan dan penempatan unit akomodasi umat diserahkan penuh kepada warga sekitar. Menurut Bapak Soewanto, pengaturan yang demikian dapat dikoordinasikan lebih baik, lebih cepat dan lebih aman. Keseluruhan hal ini diatur sedemikian rupa sehingga umat dapat merayakan Pekan Suci secara tatap muka dengan aman dari penyebaran virus Covid-19, dan rasa aman dari tindakan-tindakan yang mengancam keselamatan jiwa. Dengan demikian, Paroki RM senantiasa siap, sigap dan waspada merayakan Paskah di tengah kewaspadaan.

(39)

Sebagaimana tahun lalu, mengingat masih dalam kondisi pandemi Covid-19, pendalaman Aksi Puasa Pembangunan (APP) Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Ratu Pencinta Damai (RPD) tahun ini juga berlangsung secara online. Sebagai perwujudan niat baik yang dibangun selama masa prapaskah, Pengurus OMK Paroki RPD sepakat untuk mengadakan Bakti Sosial on the road.

Mulai tanggal 12 hingga 27 Maret 2021, panitia mengumpulkan sembako untuk dibagikan pada saat baksos.

Paket sembako yang akan dibagikan sejumlah 38 kantong yang berisi 1 kg beras, 1 kg gula pasir, 5 bungkus mie instan, 1 botol kecap manis 250 ml, 1 pasta gigi, dan 2 batang sabun. Selain itu beberapa dari panitia juga membantu pengurus Serikat Sosial Vincentius (SSV) Santa Louisa de Marillac untuk

menyiapkan nasi bungkus yang akan dibagikan bersama paket sembako.

Setelah rampung dengan tugas dalam Perayaan Ekaristi Minggu Palma, 28 Maret 2021, panitia baksos berkumpul untuk mendengarkan arahan dari pengurus. Sedari awal, pengurus mewanti-wanti agar semua panitia memperhatikan dan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku;

mulai dari menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan tidak berdekatan satu dengan yang lain. Jumlah total panitia baksos kali ini hanya 25 orang.

Kurang lebih pukul 11.30 siang, panitia berangkat sesuai kelompok dan rute masing-masing meliputi sepanjang Jalan Kedung Cowek, Randu, Tenggumung, Jalan Mrutu, Kalianyar, dan Kenjeran. Paket sembako dan nasi bungkus kami bagikan secara acak kepada tukang becak, polisi

BAKSOS

ON THE ROAD

OMK Ratu Pencinta Damai

Nicholas Ardy Wibisana

Sie Sosial OMK Paroki Ratu Pencinta Damai, Pogot, Surabaya

Lintas

Paroki

(40)

cepek, pengemis, dan pemulung yang kami temui di sepanjang perjalanan.

“Meskipun capek, panas, keringetan, tapi seru juga kok, keren deh pokoknya,”

kata Briggita Bella Saffira, seorang peserta ketika sesi sharing sesudah bakti sosial usai.

Pendamping OMK RPD, Nicolas Tibo berharap semoga kedepannya

Panitia Baksos On The Road memberikan paket sembako pada seorang tuna netra yang ditemui di pertigaan Jl. Tenggumung, Surabaya (Dok. Panitia)

anggota OMK RPD tetap solid dan bersemangat dalam pelayanan.

Stefania Sylvia Setyono dan saya selaku koordinator kegiatan kali kegiatan menyampaikan terima kasih atas partisipasi aktif seluruh anggota OMK RPD pada bakti sosial kali ini. Salam OMK!

(41)

Untuk mewujudkan pola pastoral berbasis persekutuan, sejak awal tahun 2020 diadakan pertemuan rutin setiap Senin dan Selasa, jam 9-12 WIB.

Pertemuan pada hari Senin membahas dinamika dan kegiatan Komisi, diikuti oleh seluruh insan Pusat Pastoral Komisi. Sedangkan pertemuan hari Selasa membahas siklus tema katekese berbasis Ardas, diikuti oleh tim Komisi Katekese (Komkat). Pertemuan kebanyakan bertempat di ruang rapat, lantai 4 Wisma Komisi, Jl. Mojopahit 38b dan Aula Paroki Santo Aloysius

KOORDINASI RUtIN

UNtUK

RD. Agustinus Tri Budi Utomo Vikaris Pastoral Keuskupan Surabaya

Lintas

Komisi

WUjUDKAN

SINERgI ANtAR KOMISI

Gonzaga, Jl. Satelit Indah I Bl HN No.1 Surabaya.

Pertemuan ini dilakukan untuk membangun sinergi seluruh insan Komisi, agar program pastoral berbasis formatio dapat berjalan dengan baik. Jika dulu masing-masing Komisi berjalan sendiri, sekarang lebih memungkinkan kerjasama antar Komisi. Ada program yang dikerjakan bersama. Salah satu contohnya adalah Kursus Bahasa Isyarat. Merupakan program kerja bareng Pastoral Difabel dan Komisi Kepemudaan (Komkep),

(42)

serta didukung oleh Institut Teologi Yohanes Maria Vianney, Surabaya (Imavi).

Sebagai penunjang koordinasi antar Komisi, disusun pula bagan Plotting jadwal pertemuan – koordinasi rutin Tim Pusat Pastoral dan Tim

Suasana pertemuan insan Pusat Pastoral pada tanggal 15 Maret 2021 di ruang rapat, lantai 4 Wisma Komisi. (Dok.: Puspas/

Modik)

Plotting jadwal pertemuan – koordinasi rutin Tim Pusat Pastoral dan Tim Komisi (Dok.: Puspas)

Komisi. Dengan Plotting jadwal ini semua insan Pusat Pastoral Komisi bisa saling mengetahui jadwal pertemuan atau rapat masing-masing. Jadi anggota Komisi satu bisa hadir pada rapat Komisi lainnya.

(JUB/Modik)

(43)

Pengantar

Sudah lebih dari setahun pandemi Covid-19 melanda dunia.

Kondisi pandemi membawa berbagai dampak psikologis; stres, khawatir, takut, resah, merasa kehilangan kebebasan dalam beraktivitas, dan sebagainya. Ada empat kebutuhan krusial yang perlu mendapatkan perhatian dalam masa pandemi ini, yaitu kesehatan, pendidikan, ekonomi, serta perlindungan perempuan dan anak.

Kesehatan

Kesehatan adalah salah satu kebutuhan mendasar manusia.

Kebanyakan orang menganggap kesehatan hanya berarti fisik badaniah saja. Padahal kesehatan juga berarti mencakup dimensi mental dan sosial.

Seorang filsuf Jerman bernama Martin Buber mengatakan bahwa hubungan satu orang dengan sesama haruslah bersifat timbal-balik dan didasari oleh cinta. Setiap orang akan merasakan bahwa di dalam kehidupan ini bukan

EMPAt

KEBUtUHAN MANUSIA

PADA

MASA PANDEMI

(Sebuah Refleksi Filosofis)

Fr. Yohanes Yupiter Alexander

Formandi Seminari Tinggi Providentia Dei, Surabaya

Kolom

Filsafat

(44)

hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk sesama. Setiap orang dituntut untuk memiliki sikap altruis, berkorban bagi sesama atau tidak mementingkan diri sendiri. Aksi nyata berkorban bagi sesama dalam masa pandemi dapat dimulai dari hal-hal kecil, misalnya mengajak teman-sahabat, keluarga, kekasih, dan sesama untuk selalu memakai masker; saling menjaga jarak;

mengingatkan untuk selalu mencuci tangan; dan memberi masker pada mereka yang membutuhkan.

Pendidikan

Berbicara mengenai pendidikan. Ada dua metode pelajar (atau manusia) mendapatkan ilmu pengetahuan. Pertama, menurut R.S Peters, yakni imanen; di mana manusia mempelajari segala sesuatu atau mendapatkan ilmu pengetahuan menurut pengalaman diri mereka sendiri. Beberapa contohnya adalah kegiatan membaca buku, melihat berita di televesi, memaknai film atau sinetron, membongkar atau merakit mainan dan sebagainya. Dapat dikatakan, ilmu pengetahuan yang diperoleh dari sudut pandang peserta didik. Kedua, metode transitif menurut Thomas Aquinas, yang dimana manusia mendapatkan ilmu pengetahuan itu dari seorang pengajar, seperti guru, dosen, tokoh agama, orang tua, kakak, teman sebaya atau orang-orang yang di sekelilingnya.

Ini adalah ilmu pengetahuan dari sudut pandang pendidik.

Dalam sekolah formal (PAUD/TK, SD, SMP, dan SMA) saat masa normal atau sebelum pandemi, metode kedua lebih dominan diterapkan. Seringkali para pelajar mengalami bosan dan

lelah jika pengajar hanya menjejalkan Ilustrasi Empat Kebutuhan Manusia pada Masa Pandemi.

Sumber gambar: freepik.com

Kesehatan

(45)

pendidiKan

eKonomi

perlindungan perempuan dan

anaK

Empat Kebutuhan Manusia pada

Masa Pandemi.

(46)

ilmu pengetahuan yang mereka miliki tanpa memahami psikologis anak didik. Sedangkan, dua metode harus dijalankan dengan seimbang. Kondisi sekolah saat ini adalah guru semakin intens memberi tugas siswanya melihat siaran PJJ di TVRI dan mendengarkan penjelasan melalui Zoom maupun Google Meet. Pelajar diharapkan lebih proaktif mencari keterkaitan atau menyatukan antara ilmu pengetahuan yang telah di dapatkan dari pengajar dengan pengalaman mereka sendiri.

Oleh karena itu, penting adanya kerja sama antara pengajar dengan wali murid supaya siswa dapat mempelajari ilmu pengetahuan dengan baik dan menyenangkan.

Ekonomi

Masa pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis ekonomi global.

Produksi berjalan, tetapi tingkat konsumsi menurun. Menurut John Maynard Keynes keadaan seperti ini tidaklah ideal karena ketika semua orang menahan uang, bisa terjadi pengangguran besar-besaran.

Seharusnya uang terus berputar, tingkat konsumsi meningkat, dan roda perekonomian berjalan supaya tidak terjadi deflasi. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ada guna menunjang peningkatan tingkat konsumsi. Kebijakan sudah dibuat sedemikian rupa untuk menciptakan kehidupan bersama lebih baik, tetapi apakah setiap orang memiliki kesadaran bahwa relasi dengan sesama bukanlah seperti relasi dengan benda-benda yang hanya soal manfaat saja? Relasi antar manusia harus ada timbal-balik dan di dasari oleh cinta. Jika setiap orang dalam

masa pandemi masih mementingkan diri sendiri, maka tidak akan membawa perubahan terutama dalam hal perekonomian. Menurut Adam Smith, terdapat tiga unsur penting dalam pasar bebas, yakni freedom, self-interest, and competition. Sejatinya ada satu unsur yang lain yang tidak bisa dilupakan, yakni cooperation. Dengan adanya kerja sama, self-interest tidak akan mengarah pada selfisness. Melainkan akan menumbuhkan kesadaran bahwa hidup dalam kerja sama sesuai dengan ciri khas kehidupan manusia yakni sebagai makhluk sosial.

Perlindungan Perempuan dan Anak Pandemi Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan perekonomian saja, melainkan juga berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terutama kepada perempuan dan anak. Peristiwa KDRT terjadi karena memiliki beberapa persoalan atau penyebab, misalnya, karena kondisi ekonomi, stress harus melakukan pekerjaan ganda, selain bekerja juga mendampingi anak belajar saat PJJ.

Menurut pandangan seorang filsuf eksistensialis yakni Martin Buber, seharusnya di dalam keluarga harus membangun relasi yang bersifat timbal-balik (mutual-reciprocal) dan berpondasi pada cinta kasih satu sama lain. Karena membangun hidup berkeluarga bukan atas dasar egois melainkan altruis, yang di mana tingkah laku yang selalu ditampakan, dilakukan dan dihayati yaitu terarah kepada yang lain demi yang lain. Sebagai seorang kepala rumah tangga memberikan dirinya sepenuhnya kepada istri serta anak dan begitu pula sebaliknya tiap- tiap anggota keluarga seharusnya.

Gambar

Ilustrasi Yesus berjumpa dengan ibu-Nya. Sumber: 4.bp.blogspot.com
Ilustrasi Yesus berjumpa dengan ibu-Nya. Sumber: 4.bp.blogspot.com
Ilustrasi malaikat meminta Santo Yosef  dalam mimpinya untuk membawa Bunda  Maria dan Yesus ke Mesir
Ilustrasi mukjizat air berubah menjadi anggur saat pernikahan di Kana.
+5

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal karya tulis ilmiah ini dengan judul “ Penerapan

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, anugerah, serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir serta

Sriwahyuni, Anastasia. Pengaruh penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan mengevaluasi dan mencipta pada mata pelajaran IPA SD Kanisius Sengkan

Suatu organisasi harus memastikan bahwa mereka memiliki perangkat yang diperlukan, baik perangkat keras maupun perangkat lunak, serta sumber daya untuk membantu

Kenaikan produksi kedelai pada tahun 2014 terjadi di 6 (enam) Kabupaten, yaitu: Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Bengkulu

Dari pengertian tentang anak tunarungu dan karakteristik anak tuna- rungu oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa anak tunarungu merupakan anak yang memiliki

Tata tulis: ukuran kertas, tipografi, kerapian ketik, tata letak, jumlah halaman 8b. Kesesuaian data dan informasi yang digunakan sebagai acuan

Pada dasarnya sifat hidrolika tanah dalam keadaan tidak jenuh digambarkan oleh fungsi konduktivitas hidrolika tanah dan fungsi retensi air tanah (Klute 1986)... 2.2.1 Fungsi