ŚALIĤA | Vol. 2 No. 1, Januari 2019 69
Penanaman Karakter Anak Usia 5-6 Tahun di TK Pertiwi Pakualaman (Studi Kasus pada Taman Kanak-Kanak Pertiwi Pakualaman Yogyakarta,
tahun 2018)
Novianti Retno Utami(1), Windi Wulandari Iman Utama(2) PG PAUD, Universitas PGRI Yogyakarta
PG PAUD, Universitas Pelita Bangsa
Abstract: This research aims to describe a process attachment of character early childhood education in kindergartens PERTIWI PAKUALAMAN YOGYAKARTA. Subject at this research are 13 of early childhood for 5-6 years old and 2 teachers. Data were collected through a observation, interview, and documentation. The data were analyzed use Miles and Huberman Models are reduction, data serving, and verification. The research result are as follows: (1) java’s culturu
“pitutur jawa” that was attached as a method for shaping behavior in children. (2) java’s culture can shaping positive behavior. (3) positive behavior that appear from the children are patient, fortunately, brave, seriously to take something, responsible, low profile.
Keywords: character, culture, and early childhood
Pendahuluan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0, teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan secara fundamental telah mengubah cara manusia hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Pada era digital saat ini, mengharuskan masyarakat untuk bisa aktif dan mampu mengikuti perkembangan zaman sehingga dapat terus survive kelangsungan hidupnya. Indonesia termasuk salah satu negara yang dengan mudah menerima pengetahuan maupun informasi dari luar, sehingga perlu upaya yang serius dalam memfilter informasi tersebut dari diri sendiri, masyarakat, maupun pemerintah.
Keterkaitan dengan perkembangan di era golbalisasi ini, anak sangat rentan terpengaruh budaya dari luar, secara tidak langsung dapat mengkikis budaya yang telah dimiliki sejak zaman dahulu. Budaya merupakan nilai-nilai luhur kehidupan yang harus dilestarikan, sehingga menjadi karakteristik bangsa. Anak usia dini berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental yang sangat pesat, sehingga pendidikan anak usia dini memiliki fungsi utama mengembangkan semua aspek perkembangan anak, meliputi perkembangan kognitif, bahasa, fisik (motorik halus dan motorik kasar), sosial, dan emosional. Kelima aspek perkembangan anak tersebut juga memberikan kontribusi untuk pembentukan dasar kepribadian anak. Dalam
banyak situasi masih sering terlihat dimana anak mengalami emosi yang berlebihan dan berperilaku seperti menangis, bertengkar dengan teman, kurangnya kesabaran pada diri anak serta sifat dan sikap lainnya yang dapat berdampak negatif pada perkembangan perilaku atau kepribadian anak.
Pendidikan anak usia dini berperan sebagai peletak kemampuan dasar bagi persiapan anak dalam menghadapi perkembangan anak selanjutnya. Tidak hanya dalam hal akademik melainkan juga harus mengembangkan kemampuan dan membentuk watak yang berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan cakap secara sosial. Dalam hal pendidikan, pendidikan di Indonesia lebih banyak mengacu pada sumber-sumber yang dikembangkan oleh bangsa lain. Padahal bangsa Indonesia memiliki banyak sekali kearifan lokal yang syarat akan makna. Dalam kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia terdapat unsur ajaran budi pekerti luhur untuk menjalani kehidupan. Oleh karena itu kearifan lokal dapat dipilih atau dianggap sebagai sebuah pilihan untuk mengembangkan kepribadian anak.
Penanaman budaya Jawa pitutur luhur yang dilakukan oleh guru setiap hari akan lebih mengena pada anak. Anak-anak yang mengenal dan memiliki pengalaman secara langsung tentang pemahaman nilai-nilai yang terkandung dalam pitutur luhur akan mempunyai dasar yang kuat dalam bersikap atau berperilaku. Taman Kanak-kanak Pertiwi Pakualaman Yogyakarta sebagai lembaga pendidikan anak usia dini, yang berada di pusat kota Yogyakarta memiliki kekhasan dalam mengedepankan sistem belajar sambil bermain dengan penanaman budaya Jawa pitutur luhur menjadi perhatian peneliti.
Terkait dengan penanaman budaya Jawa pitutur luhur, berdasarkan pengamatan awal yang telah dilakukan menunjukkan terdapat perilaku positif yang ditunjukkan oleh anak-anak TK Pertiwi Puro Pakualaman dan peran aktif guru dalam melakukan penanaman budaya Jawa pitutur luhur kepada anak-anak. Budaya Jawa pitutur luhur merupakan kearifan lokal yang syarat akan makna yang di dalamnya terdapat ajaran budi pekerti luhur yang sangat bermanfaat untuk membangun perilaku positif anak sebagai bekal anak untuk menjalani kehidupannya. Hal ini menjadi fenomena yang menarik untuk di teliti karena di zaman sekarang terdapat kecenderungan bahwa banyak orangtua dan sebagian pendidik mulai terfokus hanya pada hasil akademis anak, padahal ada yang harus diupayakan sejak usia dini yaitu perilaku yang akan mendasari kesadaran anak untuk berinteraksi dalam kehidupan serta sebagai dasar pokok dalam melaksanakan pembelajaran.
Konsep Kebudayaan
Kebudayaan, oleh Taylor didefinisikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta
kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.96 Kebudayaan adalah pemahaman tentang dunia dan bagaimana seorang individu harus berperilaku. Kebudayaan dipelajari sejak kecil, melalui pengalaman yang panjang. Dalam proses pemahaman budaya, terdapat faktor-faktor yang berperan yaitu orangtua, keluarga, teman, tetangga dan media masa. Jika dilihat lebih dalam, faktor-faktor ini mewakili lingkungan budaya dimana individu berkembang. Seperti yang dijelaskan oleh Brovendrenner bahwa seorang anak akan berkembang mulai dari lingkungan terkecilnya sampai lingkungan terluas. Perkembangan manusia bersifat dinamis didalamnya terhadap proses interaktif antara individu dan lingkungannya, misalnya keluarga, sekolah, teman-teman dan sebagainya.97 Kebudayaan mengajarkan tentang sebuah perilaku.
Kebudayaan dapat ditamankan pada anak secara turun menurun melalui lingkungannya karena penanaman budaya melalui lingkungan terdekatlah yang akan lebih mengena untuk anak.
Shiraev & Levi menyatakan Budaya adalah suatu set dari sikap, perilaku, dan simbol-simbol yang dimiliki bersama oleh manusia dan biasanya dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.98 Lebih lanjut Matsumoto& Juang menyatakan bahwa budaya dapat mempengaruhi seseorang dalam memecahkan masalah. Dalam hal ini budaya berperan bagi seseorang untuk mengenali konteks permasalahannya. Peran budaya dapat dilihat dalam pengalaman, keberartian dan relevansi dari masalah terhadap kehidupan seseorang.99 Budaya adalah suatu sikap dan perilaku yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Hasil pemikiran manusia untuk kelangsungan hidup serta berpengaruh dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh manusia.
Lebih lanjut Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa kebudayaan mengandung arti keharusan untuk memelihara nilai dan bentuk kebudayaan nasional. Dalam memelihara kebudayaan nasional itu yang pertama dan terutama ialah membawa kebudayaan nasional kearah kemajuan yang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan dunia, untuk kepentingan hidup rakyat lahir dan batin sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kemajuan dunia serta sesuai dengan perkembangan alam dan zamannya.100 Dengan kata lain kebudayaan merupakan hasil pemikiran atau kognisi manusia. Sebagai masyarakat yang berbudaya mempunyai kewajiban untuk menjaga nilai dan bentuk budaya
96 Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu. (Jakarta: Sinar Harapan, 2009),h.261.
97Ibid.,h.45.
98Hurip Danu Ismadi. Pendidikan Karakter dalam Prespektif Kebudayaan. (Jakarta:
PT.Gading Inti Prima. 2014). h. 3
99Jujun S. op.cit., h.36.
100Sarlito W. Warsono.Psikologi Lintas Budaya. (Jakarta: Raja Grafindo, 2015).h.12.
nasional supaya tetap terjaga kelestariannya ditengah perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman.
Berdasarkan pengertian-pengertian yang dipaparkan dapat disimpulkan bahwa budaya adalah hasil pemikiran manusia berupa sikap dan perilaku yang diwariskan secara turun menurun dari generasi ke generasi untuk bertahan hidup dalam proses menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Budaya mengajarkan sebuah perilaku dalam berinteraksi dengan masyarakat dan alam. Budaya mengajarkan tentang pengendalian diri atau mengolah rasa serta memecahkan masalah yang terjadi dalam hidup manusia. Penanaman budaya dilakukan secara turun menurun melalui lingkungan dan orang-orang terdekat seperti orangtua, tetangga, guru dan media masa. Misalnya orangtua kepada anak, guru kepada murid, pemerintah kepada masyarakat, dan lain sebagainya.
Kebudayaan dan Pendidikan
Kebudayaan nasional Indonesia adalah kebudayaan yang berdasarkan kepribadian bangsa Indonesia, sebagai buah pemikiran manusia indonesia dan merupakan hasil perjuangan hidup yang berlangsung terus-menerus yang memberi kemajuan dalam mewujudkan hidup tertib-damai, salam, dan bahagia. Kebudayaan asli merupakan puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang tumbuh di daerah-daerah serta hasil penciptaan dan penemuan baru merupakan kekayaan bangsa indonesia.101 Kebudayaan daerah merupakan dasar bagi perkembangan identitas bangsa Indonesia, oleh sebab itu harus dibina dan dikembangkan.
Pengembangan budaya daerah akan memberi sumbangan bagi perkembangan rasa persatuan bangsa Indonesia yang menunjang kearah identitas bangsa yang kuat dan benar.102 Dengan kata lain Indonesia merupakan bangsa dengan aneka ragam budaya yang tumbuh di daerah- daerah yang ada di Indonesia. Kebudayaan daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang harus tetap dijaga kelestariannya supaya tetap menjadi identitas bangsa yang kuat, agar kekayaan budaya Indonesia tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang akan merugikan bangsa karena jika nilai-nilai budaya dilupakan maka tidak menutup kemungkinan banyak pihak akan dengan mudah mengklaim kekayaan budaya yang ada di Negara Indonesia.
Nilai-nilai budaya hampir dilupakan begitu saja, jika kita tidak memulai untuk mengingatkan dan mengenalkannya kembali. Secara efektif melalui bangku sekolah dapat memasukkan dalam mata pelajaran tentang kebudayaan, atau dapat pula melalui pendidikan non formal. Bahkan jika orangtua punya pemahaman baik tentang sebuah budaya yaitu kesenian dapat diajarkan kepada anak-anaknya secara informal sebagai pewarisan
101Ibid., h.13.
102H.A.R.Tilaar. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia.
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya: 2002).h.5.
secara turun temurun di lingkungan keluarga.103 Lebih lanjut Jujun menyatakan bahwa kebudayaan sangat erat dengan pendidikan, sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia secara sadar lewat proses belajar. Lewat kegiatan belajar inilah diteruskan kebudayaan dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya.104 Dengan kata lain dalam menanamkan nilai-nilai budaya dapat pula dilakukan melalui lingkungan terdekat yaitu orangtua. Orangtua memegang peranan penting dalam mengenalkan budaya kepada anak agar nilai-nilai budaya tidak memudar dan tetap terjaga dari generasi ke generasi. Faktor lain selain orangtua dalam menanamkan nilai-nilai budaya pada anak adalah guru.
Melalui pendidikan formal maupun informal, guru juga mempunyai peran penting dalam penanaman budaya kepada anak karena guru termasuk orang terdekat anak yang akan dengan mudah mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak.
Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan multiculture adalah pendidikan yang mengedepankan pentingnya pengembangan identitas manusia yang berakar dari keluarga serta budaya lokal. Adanya hubungan personal antarmanusia hingga terbentuknya identitas etnis dan identitas bangsa indonesia. Proses pendidikan terjadi di dalam habitus dan sentripetal (berpusat dari budaya lokal dan berangsur-angsur meluas ketingkat nasional yang disebut dengan multiculture).105 Lebih lanjut Sarlito menyatakan bahwa pendidikan atau penanaman budaya dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif.106 Dari uraian ini dapat diartikan bahwa pendidikan budaya lokal perlu dilakukan untuk penanaman dan pengembangan identitas manusia yang berkarakter sesuai nilai-nilai budayanya sebagai anggota masyarakat yang berguna bagi negaranya. Untuk mempertahankan budaya yang dimiliki serta menjaga kelestarian budaya di era globalisasi ini.
Pendidikan adalah kebudayaan yang bermaksud memberi bimbingan dalam hidup dan tumbuh kembangnya jiwa raga anak didik, agar dalam menjalani garis kodrat pribadinya serta dalam menghadapi pengaruh lingkungannya mendapat kemajuan hidup lahir dan batin.107 Melalui lingkungan pendidikan, penanaman budaya dilakukan guna memberi bekal untuk anak didik agar dapat menghadapi pengaruh lingkungan agar memperoleh kemajuan hidup.
103 Hurip Danu Ismadi, op.cit., h.125.
104 Jujun S. Suriasumantri. op. cit., h.263.
105 Hurip Danu Ismadi, Op.Cit., h. 126.
106 Sarlito w. Warsono, Op.Cit., h.7.
107 Suwardi Endraswara, Buku Pinter BudayaJawa. (Yogyakarta: Gelombang pasang, 2005).h.15.
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan dan pendidikan saling berkaitan. Pendidikan kebudayaan dilakukan guna melestarikan budaya sebagai identitas bangsa. Melalui pendidikan dan penanaman nilai-nilai budaya yang dilakukan secara langsung akan memberi bimbingan dalam hidup dan tumbuh kembang jiwa - raga anak didik dalam menjalani kehidupannya untuk menghadapi pengaruh lingkungan dan perkembangan zaman. Penanaman budaya dapat dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti orangtua atau guru di sekolah.
Guru dapat menyisipkan penanaman-penanaman budaya dan nilai- nilai luhur yang terkandung dalam budaya dalam aktivitas atau kegiatan- kegiatan yang dilakukan di sekolah. Seyogyanya anak dikenalkan dan ditanamkan nilai-nilai budaya daerah yang dimiliki di tempat tinggalnya.
Anak perlu memahami dahulu mengenai nilai-nilai budaya daerah yang dimiliki, setelah benar-benar paham akan budaya lokal yang dimiliki di daerahnya, maka akan mudah nantinya untuk mempelajari berbagai macam budaya-budaya daerah yang ada di Indonesia. Ada berbagai budaya daerah yang ada di Indonesia diantaranya budaya Jawa, budaya Batak, budaya Sunda, budaya Minangkabau, budaya Bali dan lain sebagainya. Misalnya anak yang berada di Jawa perlu ditanamkan nilai-nilai budaya Jawa agar anak benar-benar paham seluk beluk lingkungannya. Budaya Jawa merupakan salah satu budaya tertua yang ada dan sangat perlu dilestarikan karena didalamnya terdapat nilai-nilai budaya sebagai tatanan hidup yang sangat berguna bagi masyarakat Jawa.
Budaya Jawa
Daerah kebudayaan Jawa itu luas, yaitu meliputi daerah tengah dan timur dari pulau Jawa. Ada daerah-daerah kolektip sering disebut dengan kejawen. Sebelum terjadi perubahan-perubahan status wilayah seperti sekarang, daerah itu ialah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Malang dan Kediri. Daerah diluar itu dinamakan pesisir dan Ujung Timur.
Sehubungan dengan hal itu maka dalam keseluruhan rangka kebudayaan Jawa ini, dua daerah bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah pada tahun 1755 yaitu Yogyakarta dan Surakarta adalah merupakan pusat dari kebudayaan tersebut. Tentu di antara sekian banyak daerah tempat kediaman orang Jawa ini terdapat berbagai variasi dan perbedaan- perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya, seperti perbedaan berbagai istilah, dialek bahasa dan lain-lain. Variasi- variasi yang berbeda tersebur apabila diteliti masih menunjukkan pola ataupun satu sistem kebudayaan Jawa.108 Lebih lanjut Budaya Jawa yaitu orang Jawa percaya dan berlindung kepada Sang Pencipta, Dzat Yang Maha Tinggi, penyebab dari segala kehidupan, adanya dunia dan seluruh alam semesta dan hanya ada Satu Tuhan, Yang awal dan Yang akhir. Orang Jawa yakin manusia adalah bagian dari kodrat alam. Manusia dan kodrat alam
108 Koentjoroningrat. Manusia dan Budaya di Indonesia, (Jakarta: Djembatan, 2007).h.329.
senantiasa saling mempengaruhi, namun sekaligus manusia harus sanggup melawan kodrat untuk dapat mewujudkan kehendaknya, cita-cita, ataupun fantasinya untuk hidup selamat sejahtera dan bahagia lahir batin. Hasil perjuangannya (melawan kodrat) berarti kemajuan atau pengetahuan bagi lingkungan atau masyarakatnya, maka terjalinlah kebersamaan dan hidup rukun, dengan rasa saling menghormati, tenggang rasa (tepa-slira), budi luhur, rukun damai, hingga mawas diri. Rukun damai berarti tertib pada lahirnya dan damai pada batinnya, sekaligus membangkitkan sikap luhur dan perikemanusiaan. Orang Jawa menjunjung tinggi amanat berupa sa- santi atau semboyan memayu hayuning bawana (memelihara kesejahteraan dunia). Amanat itu merupakan kunci pergaulan antarbangsa dengan saling menghargai kemerdekaan masing-masing.109
Kebudayaan Jawa memiliki nilai yang tinggi tidak terlepas dari sisi moralitas sebagai salah satu aspek/unsur pendukung utama. Moralitas tetap saja harus diakui sebagai tonggak kebudayaan yang penting karena tidak saja dilihat dari sisi psikologis dan historis melainkan merupakan cerminan sikap hidup dan budaya yang lebih menyeluruh.110 Orang jawa memiliki paradigma batin yang luhur. Dasar hakiki kebudayaan Jawa mengandung unsur-unsur yang ada kesamaannya dengan kebudayaan daerah lain di Indonesia, bahkan adapula unsur-unsur universal. Unsur- unsur budaya Jawa meliputi : adat-istiadat, sopan santun, kaidah pergaulan (etik), kesusastraan, kesenian, keindahan (estetika), mistik, ketuhanan, falsafah dan apapun yang termasuk unsur kebudayaan pada umumnya.111 Pada dasarnya dalam budaya Jawa terdapat unsur-unsur yang sama dengan kebudayaan lain yang berada di Indonesia.
Sebagai etnik besar, Jawa memiliki falsafah. Falsafah-falsafah tersebut tersebar dalam berbagai dimensi kehidupan seperti etika dan “tata karma”
pergaulan, hubungan orangtua dan anak, hukum, keadilan dan kebenaran, ilmu pengetahuan dan pendidikan, hubungan sosial, kekerabatan dan gotong royong, kepercayaan dan religiositas, kewaspadaan dan introspeksi dan masih banyak lagi.112 Ciri khas dari pandangan hidup orang Jawa adalah realitas yang mengarah pada pembentukan kesatuan antara alam nyata, masyarakat dan alam adikodrati yang dianggap keramat. Orang Jawa percaya bahwa kehidupan mereka telah ada garisnya, mereka hanya menjalankannya saja.113 Orang jawa mempunyai falsafah sebagai pandangan hidup guna menjalani kehidupannya.
109 Suwardi Endraswara. op. cit., h.2.
110 Yana MH. Falsafah dan Pandangan Hidup Orang Jawa. (Yogyakarta:
Bintang Cemerlang, 2012). h.133.
111Ibid., h.3.
112 Ki Nardjoko Soeseno. Falsafah Jawa Soeharto dan Jokowi. (Yogyakarta:
Araska, 2013). h.11.
113 Yana MH. op. cit,. h.17.
Sejak dahulu kala orang jawa memiliki ajaran luhur tentang hidup yang di dalam aplikasi sehari-hari sering disebut dengan adat kebiasaan atau tradisi, yang menata kehidupan orang Jawa. Berdasarkan ajaran luhur tersebut, orang Jawa menata hidupnya, kehidupan dan interaksi sosial, lingkungan, leluhur serta terhadap Sang Pencipta Alam Semesta.114 Lebih lanjut pengasuhan Jawa mempunyai kekuatan dalam penanaman pemahaman rasa, yang sebenarnya merupakan dasar dalam menjalani kehidupan. Pepatah mengatakan “urip iku ngecakake rasa”.Kepekaan rasa merupakan dasar pembentukan karakter luhur dan kekuatan intuisi yang sangat bermanfaat dalam menghadapi berbagai masalah hidup.115 Pengasuhan Jawa juga menekankan pada harmonisasi dan pembagian peran antar anggota keluarga. Kehidupan keluarga yang penuh dengan kasih sayang serta didasari saling menghormati tenggang rasa dan saling tolong menolong.116 Artinya orang Jawa mempunyai tradisi yang menata kehidupan dengan masyarakat, alam dan Sang Pencipta. Orang Jawa menekankan pada kepekaan rasa untuk menghadapi berbagai masalah hidup yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa yang dianut oleh masyarakat Jawa khususnya masyarakat bagian tengah dan timur. Unsur budaya jawa meliputi bebagai pandangan hidup yaitu hubungan individu dengan Sang Pencipta serta pandangan hidup untuk bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar lingkungannya serta berinteraksi dengan alam. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari.
Pitutur Luhur
Budaya adalah produk dari kognisi yang muncul dari berbagai bentuk, seperti norma, keyakinan, pendapat nilai dan lain sebagainya.
Budaya sebagai kognisi yaitu sebuah sistem informasi dan bermakna khusus dipakai bersama-sama oleh manusia dan diwariskan secara turun menurun, yang memungkinkan sekelompok orang memenuhi kebutuhan dasarnya untuk bertahan hidup, mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memperoleh kebermaknaan dalam hidup.117 Ajaran hidup orang Jawa memiliki tiga aras dasar utama. Tiga aras tersebut yaitu aras sadar ber- Tuhan, aras kesadaran semesta dan aras keberadaan manusia. Aras keberadaban manusia implementasinya dalam wujud budi pekerti luhur.
Maka di dalam falsafah ajaran hidup Jawa ada ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah) keutamaan. Dalam piwulang keutamaan juga diajarkan pengenalan budi
114Nelly Tristiana, et. al.,Pola Asuh Balita Berbasis Tradisi Jawa. (Yogyakarta:
BPPM Daerah Istimewa Yogyakarta, 2013).h.3.
115Ibid.,h.3
116Ibid.,h.3.
117 Sarlito w. Warsono, op. cit,.h.3
luhur dan budi asor dimana pilihan manusia hendaknya pada budi luhur.
Dengan demikian setiap individu akan terpandu untuk menjalani hidup bermasyarakat secara benar, baik, dan pener atau bener.118 Lebih lanjut butir-butir budaya Jawa mengandung pesan-pesan moral yang mengarah pada sebuah kehidupan hakiki manusia. Bahwa manusia dalam hidup dan kehidupannya selalu diliputi keinginan yang luhur, yakni untuk menggapai totalitas kesempurnaan hidup yang diiringi dalam langkah bijak dari para leluhur dalam wujud “pitutur luhur”, yakni sebuah fenomena pembelajaran kehidupan, dalam rangka mencapai total kualitas hidup.119 Dalam ajaran Jawa terkandung nilai-nilai luhur yang disebut dengan pitutur luhur guna mencapai kualitas hidup yang baik.
Salah satu kearifan lokal budaya Jawa adalah berbagai ajaran keutamaan atau petunjuk dalam menjalani kehidupan yang dalam bahasa Jawa disebut sebagai pitutur luhur.120 Lebih lanjut pitutur luhur pada hakekatnya merupakan nilai-nilai luhur yang lahir di bumi pertiwi, sebagai salah satu wujud kebudayaan bangsa. Melalui penghayatan yang benar dan mempraktekkannya secara sungguh-sungguh maka akan terwujud sifat- sifat budi luhur seperti kearifan yang menjadikan manusia selalu dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa dan mampu mewujudkan kedamaian, kesejahteraan, keselamatan dan keindahan dunia beserta seluruh isinya.121 Pitutur luhur merupakan kebudayaan bangsa sebagai ajaran keutamaan dalam menjalani kehidupan yang akan menghasilkan budi luhur jika dihayati dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Masyarakat Jawa dikenal mudah bersikap “nrima ing pandum”
menerima keadaan dirinya tanpa bergantung pada pihak lain. Bukan berarti hanya pasrah menerima takdir, tetap berjuang dan berusaha keras memperbaiki kehidupannya. Namun dalam pandangan mereka hidup hanya tinggal menjalani sehingga mereka lebih bersikap legawa “ikhlas”.
Sikap seperti ini akan muncul jika nilai-nilai pitututr luhur dihayati, dipahami, dan dilakukan dengan sungguh-sungguh.122 Lebih lanjut Bangun Jiwa menyatakan pitutur luhur merupakan nasehat-nasehat dari leluhur untuk membentuk wujud sebuah sikap dan tindak yang indah dan tetap menjadi teladan kehidupan. Namun umumnya orang sekarang berorientasi pada diri dan keluarganya, tidak kepada lingkungannya.123 Pitutur luhur adalah wujud sebuah sikap yang menjadi teladan kehidupan.
118 Ki Nardjoko Soeseno. op. cit,. h.57.
119 Yana MH. op. cit,. h.74.
120 Ibid.,h.9.
121 Himpunan Pitutur Luhur. Himpunan Pitutur Luhur, (Jakarta: DepKebPar, 2007), h.6.
122 Gunawan Sumodiningrat, Pitutur Luhur Budaya Jawa.(Yogyakarta: Pustaka Narasi), 2014, h. 3
123 Ki BanguJiwo, Belajar Spiritual bersama The Thinking General, (Yogyakarta:
JogjaBangkitPlubisher, 2009), h. 258.
Pitutur luhur merupakan petuah luhur agar berpegang paugeraning urip – tata cara kehidupan luhur yang secara tradisi selalu dilaksanakan dan dihormati seluruh warga dengan sadar dan mantap.124 Pitutur luhur sebagai tata cara kehidupan secara tradisi yang dilakukan individu secara sadar untuk mencapai kehidupan yang baik.
Pitutur luhur adalah ajaran utama dalam bersikap agar selamat lahir dan batinnya. Ada dua puluh satu watak utama yang harus diupayakan untuk dimiliki manusia yaitu: ngadeg (takwa), sabar (sabar), sokur (syukur), narima (tulus ikhlas), sura (berani), mantep (mantap hati), temen (bersungguh- sungguh), suci (suci), enget (inget), sarana (sarana), istiyar (ikhtiar), prawira (perwira), dibya (bijaksana), swarjana (cerdas), bener (lurus hati), guna (pandai), kuat (kuat), nalar (nalar), gemi (hemat), prayitna (waspada) lan (dan) taberi (rajin).125
1) Ngadeg (takwa),
ngadeg urip paugeran ngagesang : berdiri berarti hidup sesuai dengan ketentuan hidup
2) Sabar (sabar),
sabar lereh mubarang satitah tan rekasa : sabar berarti tenang dalam menghadapi segala hal dan mengikuti kodrat agar tidak susah dihati.
3) Sokur (syukur),
maknane wong sokur, uning panduming Ywang Suksma : makna orang bersyukur adalah tahu pemberian Tuhan.
4) Narima (tulus ikhlas),
wong narima asaking pasihan pinetri, keh kedhik pira-pira : orang menerima dengan rasa syukur berarti bersedia menerima pemberian kasih, baik banyak atau sedikit, semua dirawat dengan sungguh- sungguh.
5) Sura (berani),
sura kenceng purunya : berani berarti kuat kemauannya.
6) Mantep (mantap hati),
mantep nora keguh : tetap hati berarti tidak ragu-ragu.
7) Temen (bersungguh-sungguh),
temen tan lirweng sesame : lurus hati berarti tidak menyepelekan sesama.
8) Suci (suci),
suci, tan glah ing kalbu ; suci berarti tidak kotor di hati.
9) Enget (inget),
enget, tan lupa jalaraning sih : ingat berarti tidak melupakan pada pemberian kasih, tidak lupa terhadap kesanggupan, dan tidak mengingkarinya.
10) Sarana (sarana),
124 Suryono. Etika Orang Jawa. (Yogyakarta: Jagad, 2009).h.23.
125 Nelly Tristiana. op. cit.,h.103
serana, sangkep pinrantos pekakasing pakewuh : sarana berarti mengupayakan peralatan yang lengkap untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan.
11) Istiyar (ikhtiar),
iktiyare dennya mersudi, pangupayaning aripuh : ikhtiar berarti mau berusaha mengupayakan segala hal untuk menghadapi kekuatan musuh.
12) Prawira (perwira),
wong prawira landhep ampuh amanasi, misani wong durjana : perwira berarti cepat tanggap, ampuh dan mau membasmi tuntas para penjahat.
13) Dibya (bijaksana),
dibya amumpuni agal rungsit : dibya berarti mau menguasai permasalahan kasar maupun halus yang berbahaya.
14) Swarjana (cerdas),
swarjana ngundageni sanekya : swarjana berarti menguasai berbagai keahlian.
15) Bener (lurus hati),
bener, tindak nora bengkok : benar berarti bertingkah lurus.
16) Guna (pandai),
gunantya bujangga sestra, ing kalangwan mar madu lambing, kekawin kanyut asmara wigya : guna berarti mampu bak pujangga yang menguasai sastra, sehingga dapat menciptakan dan memahami keindahan puisi serta kakawin.
17) Kuat (kuat),
kuwat iku santoso ing galih, lir ning panyegah minangka tapa : kuat itu berarti teguh, mampu mencegah hawa nafsu seperti orang yang sedang bertapa.
18) Nalar (nalar),
nalar naluri kang tinon, saking parentah Ywang Agung, ala becik jinum lan adil : bernalar berarti mampu mengolah naluri dan kenyataan berdasarkan pertimbangan terhadap baik dan buruk untuk dipilih atas dasar keadailan sesuai dengan perintah Tuhan.
19) Gemi (hemat),
ngugemi reraos : gemi, mampu memegang teguh perkataan.
20) Prayitna (waspada) lan (dan)
yitna wungu kang manah, weka siang dalu : awas berarti selalu tanggap sehingga selalu berhati-hati di siang maupun malam.
21) Taberi (rajin)
taberi iku wekasan, sebab ing kang salikur norataberi, mesti wudhar sedaya : taberi / rajin merupakkan penutup, karena jika jika yang dua puluh satu tidak disertai rajin pasti terlepas semua.
Dengan menerapkan karakter setradi atau pitutur luhur terus menerus meski hanya sebagian akan memperoleh kemuliaan. Kualitas karakter seseorang dipengaruhi oleh kedalaman sestradinya dalam
kehidupan sehari-hari, oleh sebab itu ajaran sestradi disampaikan sejak anak di usia dini hingga tua.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Pitutur luhur adalah pedoman bersikap untuk mengendalikan diri dan mengolah rasa yang harus diupayakan untuk dipahami oleh setiap individu agar mampu mengendalikan diri dan mengolah kepekaan untuk menjaga hubungan baik dengan Tuhan, manusia dan alam. Nilai-nilai yang terkandung dalam pitutur luhur jika dipahami dan diterapkan dengan baik dan benar maka akan membentuk perilaku baik dalam diri manusia.
Anak Usia Dini
NAEYC (National Association for The Education Young Children) menyatakan bahwa anak usia dini atau early childhood adalah anak yang berada pada usia nol hingga delapan tahun. Sementara itu, Subdirektorat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) membatasi pengertian istilah usia dini pada anak usia nol sampai dengan enam tahun: yakni hingga anak menyelesaikan masa Taman Kanak-Kanak.126 Dengan kata lain anak usia dini adalah anak dengan rentang usia nol sampai dengan menyelesaikan masa Taman Kanak-kanaknya. Masa ini merupakan usia yang penting bagi perkembangannya dimana semua pertumbuhan dan perkembangan potensinya tumbuh dan berkembang dengan pesat.
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia. Anak adalah manusia kecil yang memiliki potensi yang masih harus dikembangkan. Anak memiliki karakteristik tertentu yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa, mereka selalu aktif, dinamis, antusias dan ingin tahu terhadap apa yang dilihat, didengar, dirasakan.127 Lebih lanjut Fred Ebbeck yang berpendapat bahwa usia dini merupakan masa pertumbuhan yang paling hebat dan sekaligus paling sibuk. Perkembangan pada usia ini mencakup perkembangan fisik dan motorik, perkembangan kognitif, perkembangan sosial emosional, dan perkembangan bahasa. maka masa usia dini merupakan masa yang fundamental dalam memberikan dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, kemampuan, keterampilan pada anak dan masa yang tepat untuk mengembangkan segala aspek perkembangan anak.128
126Tadkiroatun Musfiroh. Bercerita Anak Usia Dini. (Jakarta : Departemen PendidikanNasional. 2008).h.1
127Ratna Pangastuti. Edutaintment PAUD.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014).
h. 15.
128Masitoh, Ocih Setiawan&Heny Djoehaeni. Pendekatan Belajar Aktif di Taman Kanak-Kanak.(Jakarta:Depdiknas.2005).h.7.
Sejalan dengan hal itu Montessori menyatakan bahwa rentan usia lahir sampai dengan 6 tahun anak mengalami masa keemasan (the golden age) yang merupakan masa dimana anak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannya baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.129 Lebih lanjut Sudarna menyatakan bahwa perkembangan anak usia dini dipengaruhi oleh faktor dari orangtua (gen) dan ada faktor lingkungan seperti asupan gizi yang diterima dan faktor psikologis. Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas, baik secara fisik, psikis, sosial, moral, masa ini masa yang paling penting sepanjang usia hidupnya. Sebab masa iini merupakan masa yang paling baik pembentukan fondasi dan dasar kepribadian yang akan menentukan pengalaman anak selanjutnya.130
Dari beberapa paparan di atas dapat disimpulkan bahwa anak usia dini adalah individu yang sedang mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Banyak potensi yang harus dikembangkan pada masa ini karena anak usia dini memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Dengan berkembangnya rasa ingin tahu dapat membuat anak untuk lebih banyak pertanyaan dan melakukan interaksi dengan lingkungannya yang akan membantunya untuk memahami sebuah peristiwa dan menemukan pengetahuan baru bagi hidupnya.
Karakteristik Anak Usia 5-6 Tahun
Montessori menyatakan bahwa rentan usia lahir sampai dengan 6 tahun anak mengalami masa keemasan (the golden age) yang merupakan masa dimana anak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannya baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.131 Adapun aspek-aspek yang dapat dikembangkan pada masa keemasan ini meliputi aspek perkembangan anak antara lain fisik-motorik, kognitif, moral, sosial, emosional, bahasa dan kreativitas.132
a. Aspek perkembangan fisik-motorik
Perkembangan fisik motorik meliputi perkembangan badan, otot kasar dan otot halus yang selanjutnya disebut motorik kasar dan motorik halus. Perkembangan badan meliputi empat unsur yaitu : kekuatan, ketahanan, kecekatan, dan keseimbangan.
b. Aspek perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi sehingga anak berpikir. Anak-anak memiliki
129 Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta:
Indeks, 2009), h.2.
130 Sudarna, Pendidikan anak usia dini berkarakter, (Yogyakarta: Genius Publisher). h.1
131 Yuliani Nurani Sujiono, op. cit,. h.2.
132 Slamet Suyanto, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional, 2005), h.51.
pola perkembangan kognitis melalui empat tahapan yaitu: sensori- motor (0-2tahun), pre-operasional (2-7 tahun), konkret-operational (7-11 tahun), dan formal-operasional (11 tahun ke atas).
c. Aspek perkembangan moral
Perkembangan moral anak ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami aturan, norma dan etika yang berlaku. Menurut Kolhberg, perkembangan moral anak meliputi tiga tahap: preconventional (premoral); perilaku anak sangat dipengahuri oleh konsekuensi fisik maupun hedonistic yang diterima anak sebagai balasan atas perilakunya, conventional ; anak mendasarkan perilakunya atas harapan setiap anggota keluarganya, dan postconventional ; pada tahap ini anak sudah memiliki berbagai pertimbangan dari segi moral, aturan dan konsekuensi atas suatu perbuatan.
d. Aspek perkembangan sosial - emosional
Perkembangan sosial anak dimulai dari sifat egosentrik memandang dari satu sisi yaitu dirinya sendiri, selanjutnya anak mulai berinteraksi dengan anak lain. Anak mulai bermain bersama dan tumbuh sifat sosialnya.Muncul kemampuan mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat dan menghargai keragaman sosial dan budaya.
e. Aspek perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa akan berlangsung sepanjang hidup manusia aktif dan sepanjang tersedianya lingkungan belajar. Hasil belajar yang seharusnya dicapai adalah kemampuan menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar.
f. Aspek perkembangan kreativitas
Kreativitas pada anak pra sekolah dapat identifikasi dari ciri-ciri berikut: senang menjajaki lingkungannya, mengamati dan memegang segala sesuatu, rasa ingin tahunya besar, suka berpetualang, bersifat spontan menyatakan pemikirannya, suka melakukan eksperimen, jarang merasa bosan, mempunyai daya imajinasi yang tinggi.
Allen&Marotz menyatakan bahwa anak usia 5-6 tahun berada dalam pengendalian yang baik terhadap dirinya secara fisik dan emosional, sebagian besar anak usia lima tahun berada dalam fase yang cukup tenang dan semakin tinggi rasa percaya dirinya dan rasa untuk mengandalkan dirinya. Dunia mereka berkembang diluar rumah, keluarga, sekolah, atau tempat penitipan anak.133 Anak usia 5-6 tahun sudah memiliki kontrol atau pengendalian terhadap dirinya sendiri selain itu anak sudah mempunyai kepercayaan diri yang cukup, sehingga anak mampu untuk berinteraksi
133 Allen&Marotz, Profil Perkembangan Anak. (Jakarta: Indeks, 2010),h.148- 163
dengan lingkungannya. Lebih lanjut menurut M.Ramli karakteristik anak TK adalah:134
a. Masa usia TK adalah masa yang berada pada usia prasekolah.
Masa usia empat sampai enam tahun disebut prasekolah karena pada masa ini anak pada umumnya belum masuk sekolah dalam pengertian yang sebenarnya.
b. Masa usia TK adalah masa prasekolah
Masa usia TK di sebut masa prakelompok karena pada masa tersebut anak-anak belajar dasar-dasar keterampilan yang diperlukan untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial kelompok.
c. Masa usia TK adalah masa meniru
Pada masa ini anak suka sekali menirukan pola perkataan dan tindakan orang-orang di sekitarnya. Dengan meniru itulah anak-anak dapat mengembangkan perilaku mereka sehingga dapat berinteraksi dengan lingkungan secara lebih baik.
d. Masa usia TK adalah masa bermain
Anak pada usia prasekolah suka sekali bermain untuk mengeksplorasi lingkungannya, meniru perilaku oranglain, dan mencobakan kemampuan dirinya. Pada masa tersebut, anak juga menghabiskan sebagian besar waktu untuk bermain dengan mainannya.
e. Anak pada masa usia TK memiliki keragaman
Anak-anak pada masa usia TK beragam tidak hanya dari segi individualitas mereka tetapi juga dari segi latar belakang budaya asal anak-anak tersebut. Meskipun anak-anak pada usia ini sama-sama memiliki karakteristik sebagai anak pra kelompok, suka bermain, meniru, gemar menghabiskan waktu untuk bermain, anak-anak tersebut mewujudkannya berdasarkan keragaman budayanya.
Masa usia dini merupakan masa yang berbeda dari masa-masa yang lain. Bredekamp & Copple mengatakan karakteristik anak usia dini adalah135 :
a. Ranah perkembangan anak fisik, sosial, emosional, bahasa, dan kognitif saling berkaitan. Perkembangan pada satu ranah mempengaruhi dan di pengaruhi oleh perkembangan pada ranah yang lain.
b. Perkembangan terjadi berdasarkan urutan yang relatif teratur dengan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan berikutnya dibangun berdasarkan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang telah dicapai sebelumnya.
c. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berbeda lebih dari satu anak kepada anak yang lain demikian juga pada saat setiap bidang perkembangan bagi setiap anak.
134 M.Ramli. Pendamping Perkembangan Anak Usia Dini.(Jakarta : Departemen Pendidkan Nasional. 2005).h.185.
135 Ibid,.h.68.
d. Pengalaman awal memiliki pengaruh kumulatif dan pengaruh tunda terhadap perkembangan anak secara individual.
e. Perkembangan berlangsung berdasarkan arah yang dapat diprediksi ke arah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang semakin besar.
f. Perkembangan dan belajar terjadi di dalam dan dipengaruhi oleh berbagai konteks sosial dan budaya.
g. Anak-anak adalah pembelajar yang aktif, mereka mengambil pengalaman fisik dan sosial langsung dan pengetahuan yang tersebar melalui budaya untuk membentuk pemahamannya tentang dunia di sekitar kita
h. Perkembangan dan belajar berasal dari interaksi kematangan biologis dan lingkungan yang meliputi dunia fisik dan sosial tempat anak hidup.
i. Bermain merupakan suatu alat yang penting bagi perkembangan sosial, emosi, kognitif, dan bahasa anak demikian pula refleksi perkembangannya.
j. Perkembangan maju saat anak-anak memiliki kesempatan mempraktikkan keterampilan yang baru diperoleh demikian pula saat mereka mengalami tantangan di atas tingkat pengusaannya sekarang.
k. Anak-anak menunjukkan cara-cara mengetahui dan belajar yang berbeda-beda demikian pula cara-cara yang berbeda dalam mewujudkan pengetahuan mereka.
Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada usia taman kanak-kanak anak tidak hanya berkembang dari segi dirinya sendiri karena anak mulai berinteraksi dengan lingkungan yang beragam. Pada masa ini anak memiliki kepekaan dalam menerima stimulus-stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Berbagai potensi dapat dikembangkan secara maksimal termasuk dalam membimbing dan mengarahkan anak dalam mengendalikan dirinya secara fisik maupun emosi. Perkembangan yang terjadi dalam diri anak pada masa-masa ini dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan budaya.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memahami secara mendalam fokus dan subfokus penelitian mengenai penanaman budaya Jawa pitutur luhur pada anak Taman Kanak-kanak Pertiwi Pakualaman Yogyakarta yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
mengetahui peran guru dan proses dalam penanaman budaya Jawa pitutur luhur di taman kanak-kanak Pertiwi, Pakualaman, Yogyakarta. Mengetahui perilaku positif yang muncul pada anak saat penanaman budaya Jawa pitutur luhur.
Data dan Sumber Data
Menurut Lofland (1984:47) sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.136 Data sendiri merupakan sesuatu yang belum memiliki arti dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data dapat berupa keadaan atau situasi, gambar, suara, huruf, angka, matematika ataupun simbol-simbol lainnya yang biasa digunakan sebagai bentuk bahan untuk melihat lingkungan, objek, kejadian, ataupun suatu konsep. Pada umumnya data diperoleh melalui pengamatan dan wawancara. Untuk mendapatkan data yang bermakna dan dipercaya, peneliti menggunakan gabungan dari beberapa sumber data
Sumber-sumber data dari penelitian ini antara lain anak-anak di TK Pertiwi Puro Pakualaman, Kepala TK, guru, orang tua dan lingkungan anak.
Selanjutnya, data-data diperoleh melalui observasi langsung, dokumentasi, dan wawancara.
Metode dan Prosedur Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu prosedur penelitian menghasilkan data deskriptif, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data tersebut berasal dari wawancara, catatan lapangan, foto, tape recorder, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan data- data yang berasal dari wawancara, catatan lapangan, foto, dan dokumen resmi. Berdasarkan definisinya, penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miler adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergabung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya. Selain itu David Williams menulis bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah.137 Pada definisi ini, jelas bahwa penelitian kualitatif mengutamakan latar alamiah dan pengamatan dilakukan pada manusia.
Untuk lebih spesifik lagi, dalam penelitian ini penulis menggunakan tipe penelitian studi kasus. Studi kasus merupakan suatu tipe kajian penelitian yang memfokuskan pada suatu objek tunggal, seperti sebuah program, individu, suatu kelompok, suatu institusi atau lembaga, suatu organisasi.138 Pendekatan studi kasus membuat peneliti dapat memperoleh pemahaman utuh dan terintegrasi mengenai berbagai fakta dan dimensi dari kasus khusus tersebut. Peneliti menggunakan tipe studi kasus intrinsik;
penelitian ini dilakukan untuk memahami secara utuh suatu kasus, tanpa
136Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 157
137Ibid,.h. 4-5
138Punji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan & Pengembangan, (Jakarta:
Kencana, 2013), h. 51
harus dimaksudkan untuk menghasilkan konsep-konsep/teori serta tanpa adanya upaya menggeneralisasi.
Sifat atau jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan teknik penelitian yang memberikan informasi dari data yang dimiliki dan tidak bermaksud untuk menguji hipotesis. Jenis penelitian ini bertujuan memberikan gambaran secara terperinci mengenai suatu gejala sosial tertentu. Penelitian deskriptif dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran yang cermat mengenai suatu fenomena sosial tertentu. Dalam penelitian ini, penulis mengembangkan suatu konsep dan mengumpulkan data-data yang relevan. Hal ini dilakukan hendaknya seperti orang merajut sehingga setiap bagian ditelaah satu demi satu. Pertanyaan dengan kata mengapa, alasan apa dan bagaimana terjadinya akan senantiasa dimanfaatkan oleh peneliti. Dalam penelitian ini peneliti ingin mendapatkan suatu gambaran mengenai penanaman budaya Jawa anak Taman Kanak-kanak ditinjau dari penanaman budaya Jawa di sekolah dan perilaku positif yang muncul pada anak.
Alur penelitian yang akan diteliti diawali dengan peneliti yang akan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari lingkungan sekitar dengan cara wawancara, observasi serta catatan-catatan lapangan. Data yang telah didapatkan akan dianalisa dengan mereduksi data, penyajian data dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang didapat. Seluruh data yang didapat dan disajikan dan disimpulkan kemudian akan dilakukan pengabsahan data, jika pada saat pengabsahan data peneliti menemukan adanya data yang kurang, maka akan dilakukan alur penelitian dimulai dari tahap yang pertama hingga terakhir dan seterusnya berulang-ulang sampai dirasa cukup melakukan penelitian.
Observasi
Observasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu observasi pasrtisipasi dan non-pasrtisipasi. Observasi partisipasi dilakukan apabila peneliti ikut terlibat secara langsung, sehingga menjadi bagian dari kelompok yang diteliti. Sedangkan observasi non-partisipan adalah observasi yang dilakukan dimana peneliti tidak menyatu dengan yang diteliti, peneliti hanya sekedar sebagai pengamat.139 Dalam penelitian nantinya peneliti menggunakan observasi partisipasif, dalam kegiatan observasi peneliti akan terlibat dengan kegiatan sehari-hari sumber data dan subjek penelitian.140 Observasi dilakukan di TK Pertiwi Puro Pakualaman. di TK Pertiwi PA terdiri dari 13 peserta didik dan 2 guru kelas serta Kepala TK.
Selain itu, observasi dilakukan untuk memperoleh sebanyak mungkin informasi yang diperlukan dalam penelitian. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang Budaya Jawa pitutur luhur yang ditanamkan sebagai sarana pembentuk perilaku. TK Pertiwi Puro Pakualaman Yogyakarta merupakan sekolah yang mengimplementasikan budaya Jawa
139Bambang Rustanto, op.,cit, h. 62.
140 Sugiyono, op. cit., h.64
pitutur luhur sestradi. Budaya Jawa membentuk perilaku positif. Proses penanaman budaya Jawa pitutur luhur pada anak. Perilaku positif yang muncul setelah dilakukan penanaman budaya Jawa pitutur luhur. Faktor pendukung dalam penanaman budaya Jawa pitutur luhur. Dalam observasi partisipasif ini alat yang digunakan adalah pedoman observasi. Lembar observasi ini digunakan untuk menulis data yang telah diperoleh dalam kegiatan proses belajar di kelas, serta kegiatan yang lain yang berkaitan dengan fokus penelitian.
Wawancara
Wawancara adalah proses keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara.141 Esterberg dalam Sugiyono mengemukakan beberapa macam wawancara yaitu wawancara terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur. 142 Jenis wawancara yang menjadi pilihan adalah wawancara tidak terstruktur. Dalam wawancara tidak terstruktur suasana tanya jawab mengalir sendiri seperti interaksi percakapan sehari-hari.
Wawancara dilakukan kepada pihak-pihak yang mampu memberikan data sesuai dengan fokus yang diteliti. Hal ini informan tidak akan terkesan diwawancarai secara dekat. Alat bantu yang dipergunakan dalam wawancara tidak terstruktur ini adalah pedoman wawancara dimana isi dari pedoman wawancara berfungsi sebagai acuan garis besar fokus penelitian. Adapun teknik wawancara yang dilakukan peneliti yaitu dengan mengumpulkan data terkait tentang peran guru dan proses dalam penanaman budaya Jawa pitutur luhur, kemudian perilaku anak yang muncul pada saat penanaman budaya Jawa pitutur luhur berlangsung serta pengaruh atau dampak yang muncul setelah dilakukan penanaman budaya Jawa pitutur luhur pada anak. Data-data ini didapatkan dari wawancara terhadap guru, kepala sekolah, orang tua serta lingkungan.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan menggunakan dokumen atau bahan-bahan tertulis/cetak/rekaman peristiwa yang berhubungan dengan hal yang diteliti.143 Dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan dokumen penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap. Pengumpulan dokumentasi nantinya dilakukan untuk memvisualisasikan perilaku anak sehari-hari di sekolah. Semua dokumen
141H. M. Burhan Bungin.Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 108
142 Ibid., h.319
143 Bambang Rustanto, op.,cit, h.60
yang terkumpul selanjutnya akan dianalisis kemudian digunakan untuk memperkuat data hasil pengamatan dan wawancara.
Prosedur Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama lapangan dan setelah selesai lapangan. Dalam hal ini peneliti melakukan survey pada anak-anak di TK Pertiwi Puro Pakualaman. Analisis data merupakan proses yang dilakukan sejak merumuskan masalah, sebelum peneliti terjun kelapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian kemudian memutuskan untuk diceritakan kepada orang lain.144
Dalam penelitian kualitatif, tekhnik analisis data lebih banyak dilakukan peneliti bersamaan dengan pengumpulan data. Dalam penelitian ini, analisis data yang dipakai adalah model Miles and Huberman145 sebagai berikut:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Diartikan sebagai suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan.
2. Penyajian Data
Dalam kegiatan analisis data, alat terpenting kedua adalah penyajian data. Penyajian dilakukan sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.
3. Menarik Kesimpulan/Verifikasi
Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seorang analisis mulai mencari arti catatan pola penjelasan, konfigurasi yang mungkin alur sebab dan proposisi. Kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin pemikiran singkat dari peneliti selama menulis, tinjauan ulang tentang catatan lapangan, atau mungkin menjadi bertukar pikiran dengan teman sejawat. Untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif, atau dapat juga berupa upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang telah diperoleh. Lebih jelasnya dapat dilihat pada
144Lexy Moleong,Op.Cit.,m h.48
145Tjetjep Rohendi Rohidi, Terjemahan dari Mathew B. Miles, A. Michael Huberman, AnalisisData Kualitatif,(Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1992), h. 15- 21
Gambar di bawah ini:
Gambar 3
Komponen-komponen Analisis Data: Model Interaktif146 Memeriksa Keabsahan Data
Pelaksanaan teknik pemeriksaan keabsahan data dapat dilakukan berdasarkan kriteria tertentu, 147 yaitu:
1. Uji Kredibilitas
Pengujian ini berfungsi untuk melaksanakan kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.
a) Memperpanjang Pengamatan
Peneliti dalam teknik derajat kepercayaan menggunakan beberapa cara, yaitu dengan memperpanjang keikutsertaan dalam proses kegiatan pembelajaran di TK Pertiwi Puro Pakualaman Yogyakarta dari awal sampai akhir pembelajaran.
b) Ketekunan Pengamatan
Dalam hal ini ketekunan pengamatan dilakukan dengan tekhnik melakukan pengamatan yang teliti, rinci, dan terus menerus selama proses penelitian berlangsung yang diikuti dengan kegiatan wawancara secara intensif terhadap subjek agar data yang dihasilkan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
c) Triangulasi
Triangulasi method digunakan untuk meningkatkan nilai keabsahan penelitian. Triangulasi atau trigulasi merupakan tekhnik pengecekan kebasahan data yang didasarkan pada sesuatu di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada.148 Triangulasi yang digunakan adalah triangulasi
146Ibid. h. 20
147 Lexy J. Moleong, op. cit., h. 324.
148Ibid, h. 307
Pengumpulan Data
Reduksi Data Kesimpulan-kesimpulan:
Penarikan Kesimpulan/Verifikasi
Penyajian Data
dengan sumber, yaitu membandingkan data hasil observasi, wawancara dan studi kasus.
d) Pengecekan Sejawat
Pengecekan teman sejawat/kolega dilakukan dalam bentuk diskusi mengenai proses dan hasil penelitian dengan harapan untuk memperoleh masukan baik dari segi metodelogi maupun pelaksanaan. Dalam penelitian sejawat peneliti melakukan diskusi dengan teman-teman sebaya dan yang memiliki pengetahuan sama tentang perkembangan anak usia dini. Peneliti memilih melakukan diskusi dengan teman sebaya ini menghindarkan dari suasana saat berdiskusi. Hal tersebut dengan tujuan agar data sementara yang diperoleh peneliti dapat di analisis kembali. Dengan pengecekan teman sejawat ini peneliti akan dapat membuka wawasan dan jika ada data yang keluar dari fokus dan tujuan masalah dapat diperbaiki kembali.
e) Pengecekan Anggota
Peneliti melakukan pengecekan anggota informan setiap hari.
Setiap pendapat salah satu informan, peneliti meminta tanggapan dari informan yang lain. Demikian pula sebaiknya, setiap tanggapan salah satu informan di cek dengan tanggapan informan lainnya.
2. Transferabilitas
Generalisasi suatu penemuan dapat berlaku pada semua konteks dalam populasi yang sama atas dasar penemuan yang diperoleh pada sampel yang secara representative mewakili populasi. Dalam penelitian ini data yang diambil telah dapat mewakili data secara umum.
3. Dependabilitas
Kriteria ini dilakukan dengan mengadakan replikasi studi atau pengulangan studi. Apabila memiliki hasil yang sama maka keabsahan data tercapai. Dalam penelitian ini, dependability dilakukan dengan cara mengambil data pada situasi dan keadaan yang sama sehingga hasil data penemuan yang didapatkan akan sama.
4. Konfirmabilitas
Sesuatu atau data dikatakan objektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan. Pada penelitian kualitatif kepastian pada data tersebut, bukan lagi kembali pada data informannya. Peneliti melakukan hal yang hampir sama, yaitu menguji hasil penelitian dengan proses yang telah dilakukan selama pengambikan data. Jadi tahap kepastiaannya terdapat pada data yang diambil dari informan, sehingga tidak perlu kembali meminta tanggapan dari informan lagi.
Hasil Penelitian
Dasar Pembelajaran TK Pertiwi Puro Pakualaman
a. Ngerti, Ngrasake, Nglakoni (mengerti, merasakan, dan menjalankan) Untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran maka anak perlu menguasai pengetahuan yang sedang dipelajari (ngerti), mengambil sikap positif terhadap sesuatu yang dipelajari (ngrasa), dan mempraktikkan apa yang dipelajari (nglakoni).
b. Wiraga, wirama, wiroso(dengan bergerak, dengan nada, dengan rasa) Pembelajaran pada anak semestinya menggerakkan raga, menyelaraskan raga dengan nada, dan menemukan jiwa denngan cita rasa emosi terdalam didalam dirinya.
c. Neng, Ning, Nung dan Nang (kesucian pikiran dan kebatinan didapat dengan ketenangan hati)
Pikiran yang terang hanya ada dalam batin yang tenang.Kebeningan pikiran ada karena kemampuan diri untuk menenangkan dirinya.Pikiran layaknhya tamu yang datang dan pergi di dalam diri (tamu). Tanpa mengenali siapa yang menunggui rumah diri kita (dalem), kita akan terpontang panting menyikapi kehidupan. Sebab setiap pikiran yang menyeret diri kita dalam kilasan perasaan yang bergantian datang dan pergi.
d. Nontoni, Niteni, Niroake, Nambahi (melihat, memperhatikan, mencontoh dan menambahkan)
Proses pembelajaran ada dengan urutan anak harus melihat terlebih dahulu, memperhatikan (atau pengamatan yang lebih mendalam), kemudian mencontih atau menirukan dari apa yang sudah dilihat dan diamatinya, dan sesudahnya menambahi sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya.
e. Pemahaman bahwa anak itu unik dan berbeda
Setiap anak itu unik dan berbeda. Keunikan dan keberadaan yang tidak untuk disamakan, namun untuk dikenali dan dikembangkan agar setiap keunikan mendapatkan kemanfaatan dan keselamatan bagi diri, keluarga, lingkungan, masyarakat, bangsa dan Negara.
f. Pembelajaran yang memperhatikan proses tumbuh kembang anak Pembelajaran diselenggarakan dengan memperhatikan tahapan- tahapan perkembangan anak. Pembelajaran juga merupakan proses stimulasi terhadap proses tumbuh kembang yang sedang berlangsung dalam tingkatan usianya.
g. Proses pembelajaran yang menggembirakan, bermakna dan menggerakkan
Proses pembelajaran yang dilakukan membuat setiap yang terlibat didalamnya akan merasa bergembira, akan dipenuhi makna dan akan menggerakkan setiap orang pada penemuan mengenai dirinya.
Pembelajaran seperti ini hanya dapat dilahirkan oleh sosok guru yang
penuh penerimaan terhadap dirinya, sehingga dia akan sepenuhnya mampu menerima anaknya (nampa bocah apa anane, nampa kahanan apa anane).
Temuan Penelitian
Hasil penelitian berikut memaparkan budaya Jawa yang ditanamkan dalam proses pembelajaran, proses penanaman budaya Jawa pitutur luhur di TK Pertiwi Puro Pakualaman, juga perilaku positif yang muncul setelah ditanamkan budaya Jawa pitutur luhur pada anak.
1. Budaya Jawa Pitutur Luhur yang ditanamkan sebagai sarana pembentuk perilaku di TK Pertiwi Puro Pakualaman Yogyakarta
Berdasarkan hasil pengamatan, budaya Jawa yang ditanamkan dalam proses pembelajaran di TK Pertiwi Puro Pakualaman Yogyakarta, sebagai berikut:
a. Tembang
Tembang adalah lirik atau sajak yang mempunyai irama nada atau biasa disebut sebagai lagu jawa. Tembang jawa sarat dengan berbagai ajaran-ajaran mulia dan nasihat kehidupan yang berguna bagi yang melantunkan dan yang menghayati setiap syair yang ada didalamnya. Nembang sebelum kegiatan dilakukan dengan tujuan untuk memfokuskan anak pada kegiatan yang akan dilakukan, baik kegiatan bermain maupun akan berdoa atau ketika akan melakukan kegiatan lainnya. Untuk memfokuskan konsentrasi anak, pamong akan mengajak anak untuk nembang Siji Loro Telu. Tembang “siji loro telu” selain untuk mengenalkan konsep berhitung juga menyampaikan pesan agar anak fokus dalam menerima ilmu yang disampaikan pamong di sekolah.
b. Dolanan Anak
Melalui dolanan, anak didik diajarkan berbagai nasihat baik dengan tanpa disadari secara langsung oleh anak yang bermain.
Berbagai dolanan tradisional Jawa mempunyai makna untuk mendidik anak secara tidak langsung. Dolanan Pasaran melatih berbahasa anak, menstimulasi gerakan motorik anak (memotong, menjepit, menjumput) serta melatih hubungan sosial anak dengan teman sebayanya. Alat yang digunakan dan cara dolanan pasaran sangat sederhana, yaitu sebagai berikut:
▪ Daun pelepah pisang, berbagai jenis dedaunan dan bunga, tanaman pagar dan segala sesuatu yang dapat diambil di lingkungan sekitar.
▪ Perlengkapan untuk bermain memasak dan jual beli.
▪ Potongan kertas atau bungkus permen bekas untuk mata uang.
2. Taman Kanak-kanak Pertiwi merupakan satu-satunya sekolah yang menggunakan budaya Jawa pitutur luhur sestradi.
TK Pertiwi Puro Pakualaman merupakan bagian dari Tepas Pawiyatan (bagian bidang pendidikan) Kadipaten Puro Pakualaman.
yang dalam proses pembelajarannya mengacu pada serat sestradi milik dinasti pakualaman. Sestradi adalah sari pitutur luhur (ajaran keutamaan) yang dijadikan sebagai pedoman bersikap oleh para raja Jawa agar selamat lahir batinnya. Ajaran ini disampaikan secara turun menurun oleh dinasti Pakualaman dan diabadikan dalam sejumlah besar naskah skriptorium Pakualaman, terutama pada periode Paku Alam I sampai dengan Paku Alam V (1813-1900). Hal ini menjadikan TK Pertiwi Puro Pakualaman merupakan satu-satunya TK yang menanamkan makna ajaran sestradi dalam kegiatan pembelajarannya. Ajaran sestradi adalah ajaran leluhur sebagai penuntun hidup. Keseluruhan ajaran sestradi didasarkan pada kesungguhan, kebersihan hati dan cinta kasih.
Ajaran sestradi menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat hati menghadapi berbagai masalah.
3. Budaya Jawa pitutur luhur dapat membentuk perilaku positif.
Pada dasarnya budaya Jawa pitutur luhur yang ditanamkan kepada anak mengandung makna positif untuk membentuk perilaku positif.
Unsur budaya Jawa meliputi bebagai pandangan hidup yaitu hubungan individu dengan Sang Pencipta, pandangan hidup untuk bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar lingkungannya serta berinteraksi dengan alam. Budaya Jawa memiliki ajaran sestradi atau pitutur luhur sebagai pedoman dalam bersikap agar selamat lahir dan batin. Budaya Jawa yang ditanamkan kepada anak sebagai sarana pembentuk perilaku yang sesuai dengan ajaran sestradi diantaranya adalah tembang, dolanan anak, dongeng, dan bahasa. Dari sarana-sarana yang telah disebutkan, masing-masing mengandung ajaran baik untuk membentuk perilaku positif pada anak.
Tembang, dolanan anak, dongeng dan bahasa dijadikan sebagai sarana untuk menanamkan budaya Jawa pitutur luhur pada anak. Hal tersebut ditanamkan secara terus menerus setiap hari kepada anak. Saat anak mengingat dan terbiasa dengan sarana-sarana yang berisi ajaran baik tersebut, maka dapat memberikan nilai tersendiri dalam dirinya.
Hati dan pikiran akan tertuju pada makna dari kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan sehingga akan berpengaruh pada perilaku anak. Jadi dapat disimpulkan bahwa budaya Jawa pitutur dapat membentuk perilaku positif karena budaya Jawa pitutur luhur ditanamkan secara terus menerus setiap hari, menjadi kebiasaan sehingga terbentuklah perilaku positif.
4. Proses Penanaman Perilaku Positif Budaya Jawa Pitutur Luhur pada Anak Usia Dini di TK Pertiwi Puro Pakualaman Yogyakarta
a. Proses Pembelajaran yang Terintegrasi Budaya Jawa
Budaya untuk anak di TK Pertiwi Puro Pakualaman Yogyakarta mencakup sikap berbudaya. Budaya yang dimaksud tidak seluas budaya dalam pemahaman budaya secara global.Unsur budaya yang dikembangkan di TK meliputi nilai-nilai luhur, nasionalisme, sosial,